BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

1001 Samsara: Immortal Ascension

"Come hurt with me, Scipio."

Agra merasa putus asa dengan hidupnya. Dia mengalami kondisi klinis yang disebut sindrom Immortal. Kini tak ada lagi yang bisa mempertahankan keinginannya untuk hidup. Tidak orang tuanya. Tidak juga Sylvia, pacarnya. Lalu Corilus hadir dengan imajinasinya yang tidak biasa.

Cowok itu empat tahun lebih muda, berwajah sama persis seperti Agra, dan suka melontarkan kalimat-kalimat ajaib, misalnya mengaku-ngaku sebagai abang Agra. Awalnya Agra pikir bocah sinting itu sangat menyebalkan, namun lambat laun hubungan mereka pun menjadi dekat.

"That's okay, we can hurt together... Cori..."

notes: cek wattpad gue ya https://www.wattpad.com/396488565-1001-samsara-immortal-ascension-part-satu

Komentar

  • edited March 7
    (1)

    Aku ingin mati, tapi orang tuaku tidak mengijinkan.

    I'm broken and I'm barely breathing..

    Agra Scipio Guntara. Lumayan tinggi. Lumayan ganteng. Kulit warna gading. Rambut hitam yang terlihat gaya dengan poni ke atas. Aku bukan keturunan Indo. Bukan pula outsider. Tidak, aku asli pribumi, inlander sejati. Kata Ayah, nenek moyang kami berasal dari bagian selatan pulau Andalas, sebuah tempat yang tak lagi bisa kamu temukan di peta dunia.

    Tapi itulah namaku. Sedikit berbau Indo, seolah aku seorang ningrat. Karena Ayah menaruh harap padaku, mimpi kosongnya bahwa suatu saat nanti, di bawah kepemimpinanku, keluarga Guntara bisa naik kasta dari sekedar pedagang kaya raya menjadi ningrat.

    Harapan palsu. Karena sebentar lagi aku akan mati.

    Sementara Ayah terbelenggu Undang-Undang Populasi untuk sekedar memberiku adik, atau baginya, ahli waris sejati. Seorang yang bisa berumur panjang. Yang bisa diandalkan. Bukan mahluk pemurung yang separuh kakinya terperosok ke liang kubur seperti aku.

    Baiklah. Apa aku terdengar seperti sedang mengasihani diri sendiri? Itu lah faktanya.

    I'm falling cuz my heart stopped beating..

    Usiaku dua puluh satu, mahasiswa tahun terakhir. Dan kurasa, ini juga bakal jadi tahun terakhir hidupku.

    Sebetulnya sudah lama aku ingin mengakhiri ini, hidupku yang tidak berarti. Tentu saja Ayah tidak mengijinkan. Bunda tidak memberiku restu. Mereka terus berharap keajaiban turun dari langit.

    Tapi apakah kamu tahu esensi dari keajaiban? Hal yang mustahil terjadi. Karena kalau itu terjadi, orang-orang tidak akan menyebutnya keajaiban. Aneh kan?
    Cukup. Aku mulai melantur. Mungkin aku cuma ingin semua ini segera berakhir. Mungkin aku cuma ingin menutup mata dan tak perlu lagi membukanya. Apakah harapanku yang sederhana ini kelewat batas?

    Hei, ini hidupku, iya kan?

    Harusnya aku lah yang paling berhak menentukan.

    If this is how it all goes down tonigh..

    Mereka menyebutnya sindrom Immortal. Kami menyebutnya Immortal Ascencion. Semula aku tidak paham kenapa dinamakan begitu. Tapi setelah delapan tahun hidup berdampingan dengannya, kurasa tak ada yang lebih mengerti hal ini dibanding aku. Tidak Ayah. Tidak Bunda. Tidak pula dokter-dokter bertabur gelar di balik dinding megah Royal Hospital Oosthaven.

    Mereka tidak tahu apa yang kualami. Tidak tahu apa yang kurasakan. Karena itu mereka tidak mengijinkan aku mati.

    If this is how you bring me back to life..

    Aku memeluk diriku sendiri di atas ranjang. Mereka tidak pernah lagi mengikatku saat aku mendapat serangan. Sekarang rasa sakitnya begitu hebat hingga aku cuma bisa bergelung seperti bola dan gemetar. Aku bahkan tidak lagi menangis.

    Dulu aku masih ingat bagaimana mereka mengikat dan menyumpal mulutku dengan kain supaya aku tidak menggigit lidahku sendiri sampai putus atau menjenturkan kepalaku ke tembok. Waktu itu usiaku tiga belas.

    Dulu rasa sakitnya tidak tertahankan. Sekarang jauh lebih parah.

    Aku tak lagi punya tenaga ekstra untuk mengamuk. Jadi aku cuma bisa diam dan berdoa agar malaikat turun dan mengambil napasku. Ya, aku memang seputus asa itu. Intinya aku cuma ingin mati.

    This is what it's like when we collide..

    Siapa pun itu.. tolong panggilkan Thanatos dan biarkan kematian mengecup bibirku. Atau tanyakan pada Hypnos, apakah dia bersedia memelukku ke dunia mimpi yang tak pernah berakhir. Tidur panjang yang tak perlu lagi terbangun. Kumohon, biarlah putra-putra malam menghapus sakit ini dari tubuhku.
    Aku tenggelam dalam bait-bait lagu yang menggema di penjuru kamar, diputar berulang-ulang seperti kaset rusak. Ini lagu yang selalu kuputar setiap kali mendapat serangan.

    If this is how you bring me back to life..

    Bait ini kutunjukkan untuk Ayah dan Bunda yang pastilah sedang menungguiku di balik pintu. Aku sudah lelah berjuang. Aku lelah berkali-kali dipaksa kembali dari kematian.

    Kenapa sih mereka tidak bisa merelakan aku pergi?
  • (2)

    Pagi itu aku bolos kuliah. Ini sudah menjadi ritual. Sehari setelah serangan, aku bebas berbuat semauku, kecuali terjun dari lantai sepuluh gedung rumah sakit.

    Seperti biasa aku memilih duduk di sebuah bangku kayu. Di sini lah aku menemukan surgaku. Di sebuah sudut di taman kota, tepat di depan Air Mancur Keabadian.

    Entah siapa yang pertama kali menyebutnya begitu. Air Mancur Keabadian. Terdengar megah dan angkuh, iya kan? Sangat kontras dengan batu pualam yang kini dilapisi lumut dan memberi kesan kuno di hadapanku.

    Kudengar air mancur ini sudah ada sejak batu pondasi pertama Oosthaven diletakkan, tepat sebelum eternal ice age melanda Bumi dan menyapu peradaban, meninggalkan empat buah kota musim panas sebagai benteng terakhir umat manusia.

    Aku duduk termenung, asik mendengarkan kicauan burung dan gemericik air.

    Lalu kudengar suara itu. Suara orang menghela napas.

    "Bahkan Immortal pun gak bisa hidup selamanya."

    Sebuah siluet menimpa tubuhku. Seorang anak laki-laki. Poninya yang mencuat sedikit bergetar ditiup angin. Mata gelapnya menatapku lekat, seperti mengintip relung jiwaku. Dia berseragam SMA. Sebuah tas gitar kelabu menggantung di punggung.

    Aku terhenyak melihatnya. Dia mirip sekali denganku. Bagai pinang dibelah dua. Apa tanpa kami tahu, Ayah selingkuh dengan wanita lain dan menabur benih?

    "Corilus."

    Cowok itu menyodorkan tangan.

    Aku terus mematung dan menatapnya tidak percaya. Apa aku sedang menatap cermin dan melihat diriku di masa lampau?

    "Hei, loe gak denger ya?"

    Aku terkesiap dan, nyaris tanpa sadar, menyambut tangannya.

    "Agra.. "

    "Bukan. Loe Scipio!" tukasnya.

    Aku kembali tersentak. Kok dia tahu namaku? Jangan-jangan dia benar adik tiriku yang selama ini disembunyikan Ayah? Tapi Undang-Undang Populasi..

    Aku menghela napas. Bodohnya aku! Tentu Ayah punya caranya sendiri untuk menyumpal mulut para birokrat, iya kan?

    Hatiku serasa diiris. Ayah tentu menyiapkan seorang pewaris gimanapun caranya. Dia tak akan diam saja melihat sejarah ratusan tahun keluarga Guntara terhenti di tanganku. Yang aku tidak suka, kenapa selama ini Ayah dan Bunda menyembunyikan fakta ini dariku?

    Tunggu dulu. Kira-kira Bunda juga tahu soal ini atau tidak? Apa dia anak Bunda juga? Bayi tabung mungkin? Otakku mulai kalut. Tidak, tidak, tidak! Ini tidak mungkin!

    Aku berusaha menenangkan diri. Pasti bukan bayi tabung! Ayah tidak akan semencolok itu melanggar aturan. Pasti ada wanita lain yang terlibat. Fix, dalam hati, aku sudah melabeli bocah ini sebagai anak haram ayahku.

    Hei, apa itu artinya.. dia adik tiriku?

    "Seneng ketemu loe lagi, Scipio.. "

    "Loe.. emang siapa?"

    "Corilus."

    "Gue tau nama loe Corilus. Tadi kan udah loe sebut! Maksud gue, loe tuh siapa? Anak tetangga? Sepupu jauh? Anak haram bokap gue? Kok bisa kenal sama gue?"

    "Anak haram bokap loe?" ulang si bocah sambil meringis. Dia garuk-garuk kepala. "Loe selalu lupa, Scipio.. tapi gue ini abang loe."

    "Hah?"

    Aku menatap cowok SMA di depanku seolah dia sudah gila. Jelas-jelas aku lebih tua, dan dia mengaku-ngaku sebagai abangku? Apa namanya kalo bukan sinting?

    "Enam ratus enam puluh enam kehidupan. Enam kali peradaban berulang. Lingkaran samsara tanpa akhir. Dan di sinilah kita sekarang. Semua kembali ke awal. Eternal ice age.. masa yang sama sebelum kita dulu berpisah."

    Corilus menatapku lekat.

    "Loe dari dulu gak pernah berubah, Scipio.. loe tuh selalu jadi adek kesayangan gue," ungkapnya tersenyum lebar. "Kita gak lagi terlahir bareng, tapi itu gak bisa ngerintangin jalan gue untuk bisa nemuin loe."

    Aku kehabisan kata-kata. Apa sih maksud bocah ini?

    "Otak loe konslet apa gimana?" tukasku akhirnya.

    Corilus menaikkan alis dan tertawa. "Loe bakal tau sendiri nanti."

    Melihat bocah misterius yang mukanya sama denganku dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal ini duduk begitu dekat hingga lengan kami bersentuhan, langsung membuatku merasa tidak nyaman.

    Hebat sekali. Dalam sekejap mata, pagiku yang tenang ini berubah menjadi badai. Ya, Tuhan, apa sih salahku?

    "Mau loe apa sih?"

    Apa bocah ini mau menerorku?

    "Gue cuma pengen duduk."

    Aku hilang sabar.

    "Dari sekian banyak kursi, kenapa loe milih duduk di samping gue?" seruku seraya menunjuk bangku-bangku kosong di sekeliling air mancur.

    "Karena gue pengen duduk deket loe."

    Aargh! Sumpah. Rasanya aku pengen menjenturkan kepala bocah ini ke dinding. Lama-lama aku bisa kena stroke saking gemasnya. Aku menghela napas, berusaha mengabaikan bocah yang telah merusak suasana hatiku.

    "Scipio?" panggilnya lirih.

    Aku pura-pura tidak dengar.

    "Scipio?"

    Abaikan saja.

    "Scipio?"

    "Kenapa lagi sih?" geramku.

    "Loe keliatan sedih, Scipio. Sini ceritain masalah loe sama gue."

    Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa. Yang jelas-jelas punya masalah di otaknya itu dia, tapi sempat-sempatnya dia menanyakan masalahku? Kenapa aku bisa punya adik tiri sinting begini? Apa ini karma burukku? Mungkin di kehidupan sebelumnya, aku suka menjahili adikku hingga dia mati bunuh diri?

    "Gue gak sedih. Gue cuma kesel sama loe!" semburku murka.

    Corilus menunjukkan mimik terluka.

    "Gue cuma pengen bantu," gumamnya lirih.

    "Bagus. Kalo bener loe mau bantu, mending loe angkat kaki dari sini. Kepala gue pusing ngadepin loe!" tukasku.

    Corilus tersentak. Tangannya sedikit gemetar. Dia menahan napas, lalu mengangguk.

    "Semoga hari loe menyenangkan, Scipio. Gue cabut dulu kalo gitu."

    Bocah itu berlalu tanpa melirik ke belakang.

    Aku menatap punggung seragam yang dia kenakan dan bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang baru saja terjadi? Saat itu aku tidak sadar, tapi aku baru saja melewatkan momen paling penting dalam hidupku.
  • (3)

    "Tadi Sylvia dateng nyariin kamu."

    Siv itu pacarku. Aku menoleh Bunda dengan tatapan bertanya.

    "Dia bawain kamu empek-empek, katanya sih bikinan sendiri," terang Bunda.

    "Ditaro mana, Bun? Empek-empek buatan Siv enak banget," kataku antusias mengobrak-abrik isi dapur.

    "Ah, kamu, kalo denger makanan enak aja, langsung beringas kayak singa gak dikasih makan satu bulan." Bunda tertawa.

    Aku membawa piring berisi empek-empek dan duduk di depan Bunda. Bunda mengamatiku menyikat habis isi piringku dalam hitungan menit. "Makannya pelan-pelan, nanti kamu tersedak, Bunda yang repot."

    Aku menyeringai. "Ayah gak balik ya, Bun?"

    Biasanya Ayah selalu menyempatkan diri untuk pulang dan makan siang bareng Bunda. Maksudku, penthouse kami kan hanya satu lantai di atas ruang kantornya.

    Bunda menggeleng. "Ayah lagi ada meeting sama Duke Pernong." Melihat ekspresiku yang mendadak tegang, Bunda cepat-cepat menambahkan, "Urusan kerjaan."

    Aku tersenyum miring. "Dokter Nababan diundang sekalian?"

    Sama sepertiku, putra kedua Duke Pernong juga menderita sindrom Immortal. Dokter Nababan ilmuwan paling tersohor di bidang ini. Mereka bilang terobosan yang dia lakukan adalah yang terdepan. Menurutku itu omong kosong. Dia tidak bisa menolongku. Tidak ada yang bisa. Aku sudah tidak tertolong lagi. Sesederhana itu.

    "Agra!" Bunda terlihat gusar.

    "Bunda gak mau berpikir ulang soal permintaanku?"

    "Cukup. Bunda gak mau bahas itu lagi sama kamu!"

    "Tapi Agra udah capek, Bun!" keluhku merana.

    Seperti biasa, kata-kataku membuat Bunda menangis. Dia selalu bercucuran air mata jika aku mengangkat topik ini, soal permintaanku disuntik mati. Bunda selalu menolak. Begitu pula Ayah. Dan Dokter Nababan. Mereka berkonspirasi menahan hidupku!

    "Agra.. Agra.. " Bunda berujar pedih sambil membelai-belai rambutku. Aku diam saja meskipun dalam hati protes karena Bunda membuat poniku yang keren menjadi rusak. "Kamu mending telepon Sylvia, dia khawatir sama kamu."

    "Nanti Agra telepon," janjiku. "Tapi sebelum itu.. " Aku meragu.

    Jariku mengetuk-ngetuk meja makan. Gelisah. Aku kembali teringat pada bocah SMA tadi pagi. Ingin kubahas soal itu sama Bunda, tapi tidak yakin harus mulai darimana.

    "Ada yang mau Agra tanya sama Bunda," kataku hati-hati.

    "Kamu mau tanya apa?" Kening Bunda berkerut saat membalas tatapanku.

    "Apa Bunda bakal marah kalo Ayah poligami dan punya anak lagi?"

    Bunda melotot. "Ayah kamu gak bakal poligami," jawab Bunda yakin.

    "Tapi gimana kalo misalnya itu terjadi?" Aku berkeras.

    Bunda menghela napas.

    "Itu gak mungkin, Agra.. karena setelah kamu didiagnosa waktu itu.. " Bunda terdiam.

    "Bunda ngebahas soal itu sama Ayah.. kamu harus ngerti, Agra. Ayah kamu butuh seseorang untuk mewarisi nama keluarga. Dia gak bakal bisa menatap wajah para leluhur kalo garis keturunan Guntara terhenti di tangannya.. "

    "Terhenti di tanganku," aku meralat.

    Bunda tersenyum lemah. Tangannya membelai dahiku.

    "Ayah kamu menolak mengambil istri kedua." Ucapan Bunda di luar dugaan. "Kalau memang terpaksa, selalu ada opsi adopsi. Tapi sekarang lebih baik kita tidak membicarakan ini. Karena Bunda yakin kita semua bisa melewatinya."

    Aku terdiam. Apa Bunda tak tahu menahu soal bocah tadi pagi? Kalau Bunda memang tidak tahu, aku tidak berniat membuatnya sedih dengan mengemukakan teoriku soal anak haram. Percakapan kami membuat hatiku semakin berat.

    Ayah.. dia tak mungkin kan main di belakang Bunda? Toh Bunda dulu sudah menyetujui opsi terburuk.

    Lalu bocah tadi pagi.. dia itu siapa?
  • edited March 7
    (4)

    Keesokan harinya aku kembali membolos. Ini jarang kulakukan. Menurutku bolos dua hari berturut-turut cuma akan mengurangi rasa nikmatnya. Sama seperti kebanyakan makan es krim. Itu cuma akan membuat kita sakit perut.

    Aku kembali duduk di depan Air Mancur Keabadian. Perasaanku campur aduk. Entah kenapa aku setengah berharap bisa bertemu lagi dengan bocah sinting kemarin.

    Tak kusangka detik itu juga harapanku terkabul.

    "Achieve the Dao, gain eternity.. failure, never be reborn.. "

    Suara itu! Ocehan ngaco itu!

    Aku mendongak dan langsung merasa deja vu. Ini terulang lagi. Masih mengenakan seragam putih-biru, Corilus berdiri di depanku dengan senyum terulas.

    Kami saling menatap dan sama-sama menahan napas. Dia terlihat muda dan tampan. Well, kurasa aku sedang memuji diri sendiri, tapi apa peduliku? Itu lah faktanya.

    Setelah beberapa saat aku membuang muka dan tidak menanggapi ocehannya yang tidak masuk akal. Seperti kemarin, Corilus mengambil tempat di sebelahku. Tas gitar kelabu tersandar di lengan bangku. Kali ini aku tidak mengusirnya.

    Aku penasaran dengan identitasnya. Maksudku, wajahnya mirip sekali denganku. Pasti ada apa-apanya, iya kan?

    Setelah beberapa saat berdiam-diaman, akhirnya aku tidak tahan lagi.

    "Loe tiap hari bolos apa gimana?" tuduhku.

    "Loe juga."

    Aargh! Sumpah, ini bocah ngeselin banget!

    "Gue kan mahasiswa, hari ini gue gak ada kelas."

    "Loe bohong!"

    Aku melotot padanya.

    "Gue kenal loe gak cuma sepuluh, dua puluh ribu tahun, Scipio. Gue selalu hadir di enam ratus enam puluh enam kali kehidupan loe. Jadi gue udah hapal kapan loe bohong atau enggak."

    Pelipisku berdenyut-denyut. Bisakah dia berhenti melontarkan ucapan yang tidak masuk akal? Sepuluh-dua puluh ribu tahun? Enam ratus enam puluh enam kehidupan? Bocah ini beneran konslet rupanya!

    "Emang loe gak dicariin di sekolah?" Aku mengabaikan ucapannya tadi.

    "Kenapa harus dicariin?"

    "Karena loe bolos?"

    "Loe juga bolos. Apa loe ada yang nyariin?"

    Ya, Tuhan. Biarkan aku mencekik bocah ini!

    "Terserah loe aja. Gue juga gak kepengen tau. Gue nanya cuma basa-basi!"

    Aku mendengus dan berusaha mengabaikannya.

    "Loe ngambek ya, Scipio?"

    Aargh! Tempat ini sepi kan ya? Kurasa tidak akan ada yang tahu jika aku mencelupkan kepala bocah ini ke kolam? Terus kumutilasi sekalian!

    "Ngapain gue ngambek! Lagian nama gue tuh Agra! AGRA! Jadi loe berhenti manggil-manggil gue Scipio! Aneh dengernya, tahu gak!"

    "Gue lebih suka manggil loe Scipio. Karena itu nama sejati loe."

    Aku menoleh ke arahnya. Kalau sorot mata bisa membunuh, bocah ini sudah mati seribu kali. Saat aku hendak beranjak bangun dan mencekiknya, Corilus mengeluarkan gitar dari ransel. Senyum polos di wajahnya berhasil meredakan emosiku.

    Aku mendesah kalah. Bokongku kembali menempel bangku. Mungkin mencekik bocah ini bukan tindakan pintar?

    Corilus memetik gitarnya. Melodi lembut mengalun di telingaku. Entah musik apa yang dia mainkan. Aku tidak familiar, tapi intro gitarnya bagus.

    Setelah beberapa saat, dia mulai bernyanyi. Suara tenor yang indah dan membuat tubuhku bergetar.

    "You say you are fine, but I see pain behind, behind those eyes.. "

    Tatapan kami bertemu dan aku membuang muka.

    "You play the game by the rigid rules, but you cheated yourself.. "

    Bocah itu kini menatap kejauhan, pada langit biru di cakrawala. Ujung rambutnya bergetar ditiup angin. Aku tidak mengira suaranya sangat bagus.

    "There ain't nothing you can say, to scare me away. I got history too, and it's never to late. Share a secret today, I reciprocrate. Baby I got you.. "

    Aku merinding mendengar liriknya. Ada sesuatu pada caranya bernyanyi yang menghantam hingga ke relung jiwaku.

    "So hurt with me, I'll hurt with you. Baby you know we can hurt together.. "

    Corilus terus menatap cakrawala. Raut wajahnya penuh kesedihan. Entah kenapa, aku seolah merasa lagu ini menyuarakan duka yang ditanggungnya selama berabad-abad. Bulu kudukku meremang. Ini sesuatu yang cuma kurasakan saat melihat reruntuhan kota kuno diluar dinding Oosthaven. Perasaan hampa saat menjadi saksi berakhirnya sebuah peradaban. Bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan sungai pun bisa surut dan gunung pun tergerus.

    "I've been where you've been. I've seen what you've seen. So hurt with me, we can hurt together.. "

    Tanganku terkepal erat. Kenapa hatiku mendadak terasa campur aduk begini?

    "Come hurt with me.. come hurt with me.. "

    Aku terkesiap.

    Corilus berhenti memetik gitarnya, lalu wajah penuh duka itu menengadah padaku.

    "Come hurt with me, Scipio."

    Sudut mataku berair. Tanpa kata aku bangun dan beranjak pergi, meninggalkan seorang bocah dan gitarnya duduk melamun di sebuah bangku kayu.
  • (5)

    "Apa Ayah punya anak yang lain?"

    Ayah belum sempat komentar setelah aku nyaris menerjang masuk ke dalam ruang kerja dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan.

    "Agra?"

    Aku tidak bergeming, menatap penuh resolusi. Apapun faktanya, aku harus tahu saat ini juga!

    "Jawab Agra, Yah!" tuntutku.

    Ruangan itu kosong. Hanya ada kami berdua, aku dan Ayah. Aku sengaja tidak bertanya soal ini di rumah karena tak ingin Bunda tahu.

    Melihat kondisiku yang berantakan, Ayah berusaha sabar. "Maksud kamu apa, Agra?"

    "Agra cuma pengen tahu, apa Agra punya adek tiri?"

    Kening Ayah berkerut. "Darimana kamu punya pikiran begitu?"

    Aku memelototi Ayah dengan rahang terkatup.

    Ayah menghela napas dan memijat pelipisnya. "Ayah gak tahu kamu ini kenapa, tapi soal pertanyaan kamu tadi, jawabannya jelas tidak. Ayah gak pernah punya anak lain selain kamu. Cuma kamu seorang! Kamu tahu kan Undang-Undang Populasi.. "

    "Banyak orang bisa mencurangi itu!" potongku.

    "Tidak banyak," Ayah menukas.

    Alisku terangkat.

    "Tidak banyak. Tapi kamu benar. Selalu ada yang melanggar aturan." Dengan berat hati Ayah mengakui. "Tapi Ayah bukan salah satunya. Ayah sangat bersukur punya kamu sama Bunda. Ayah gak akan pernah menukar kalian dengan apapun juga. Kamu harus tahu itu."

    Aku tercenung dan membisu.

    "Ayah tahu semua ini berat untuk kamu, Agra. Ini berat untuk kita semua. Tapi Ayah mohon sama kamu, berjuang lah sampai akhir. Jangan pernah berpikir tidak-tidak, oke?"

    "Maap, Yah. Agra gak tau kenapa, tapi pikiran Agra lagi kacau."

    Ayah mendesah. "Kita udah lama gak kumpul bareng. Kamu mau undang Sylvia buat makan malam di rumah?"

    "Nanti Agra tanya, Yah."
  • (6)

    "Kamu udah denger beritanya?"

    Siv menghambur ke pelukanku saat aku menutup pintu apartemen studionya. Cewek itu terdengar panik.

    "Soal apa?"

    "Sudvictorie hilang dari peta! Mereka merahasiakannya dari minggu lalu! Terjadi insiden dan dinding plasmanya jebol. Kota itu langsung dilalap eternal ice age! Sepuluh juta orang tewas seketika. Ini sungguh mengerikan!"

    Siv gemetar dan mulai menangis. Mata birunya kini tergenang air mata.

    "Hei, tenang lah sweetheart."

    Aku meremas bahu dan mengusap rambutnya yang keemasan. Siv separuh outsider. Nenek moyangnya dulu berasal dari sebuah negara super power di utara. Tentu saja sekarang tempat itu tak lebih dari puing-puing peradaban yang terkubur hamparan salju.

    Siv, sebagai keturunan outsider, hidupnya tidak pernah mudah.

    "Sssh.. jangan panik, Siv. Kita bahkan gak tau kalo berita itu benar."

    Aku berusaha menenangkan pacarku. Hal yang sulit, karena aku sendiri sangat terguncang.

    Sudvictorie.. jatuh?

    Satu dari empat kota musim panas, benteng terakhir manusia, runtuh dalam hitungan detik? Ini lebih dari sekadar mengerikan. Semua orang tahu soal ancaman yang mengintai di luar sana, bencana yang dikenal sebagai eternal ice age. Tapi tak sedikit pula yang menganggapnya angin lalu. Maksudku, selama ini kami selalu aman terlindung di dalam dinding plasma Oosthaven, iya kan?

    Cuma butuh satu insiden untuk menghapus seperempat populasi manusia dari muka bumi. Bukankah ini sedikit berlebihan? Apa berita ini cuma hoax?

    "Aku denger sendiri dari Minerva! Dia punya sepupu di Sudvictorie. Sepupunya itu selamat karena sedang bepergian menggunakan kapsul plasma. Kata Minerva, cowok malang itu kini setengah gila!"

    Minerva putri kedua Marquis Fenrir.

    Menurut Undang-Undang Populasi, hanya keempat Duke, sepuluh Marquis, dan enam belas Count yang boleh memiliki dua orang anak. Mereka keturunan ningrat. Darah bangsawan. Ini sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

    Aku tidak kenal dengan Minerva. Bahkan melihat wajahnya pun aku belum pernah. Keturunan ningrat punya lingkaran pertemanan mereka sendiri. Mengenai sejarah pertemanan Minerva yang ningrat dan pacarku yang outsider, Siv tidak pernah cerita padaku, dan aku juga tidak merasa perlu untuk bertanya.

    Intinya kalau berita ini berasal dari Minerva, maka aku percaya ini bukan hoax. Secara oligarki, House of Lords pemegang tampuk kekuasaan di Oosthaven. Jadi berita yang berasal dari salah satu keluarga ningrat bisa dipastikan benar adanya.

    "Apa yang harus kita lakukan?" Siv kembali histeris.

    Jika insiden semacam itu bisa terjadi di Sudvictorie, tentu itu juga bisa terjadi di Oosthaven. Kalau itu terjadi, kami bakal mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dari apa yang dialami sepuluh juta orang di Sudvictorie. Tewas membeku dan hancur menjadi serpihan es.

    "Siv," gumamku membelai pipinya. "The dangers of life are infinite, but among them is safety, ingat? Kita gak perlu fokus pada hal buruk yang mungkin terjadi, karena kalau begitu, kita gak akan bisa menikmati hidup. Kita gak akan bisa mensukuri apa yang kita punya. Biarkan maut menjadi rahasia yang di atas, oke?"

    "Aku takut, Gra," bisiknya lirih.

    "Aku juga takut, tapi kita bisa melalui ini."

    Selama ini aku ingin mati, namun begitu mendengar kabar mengerikan ini, nyaliku ternyata langsung ciut.
  • (7)

    Aku bertemu Corilus untuk ketiga kalinya. Tidak seperti yang kalian kira. Bukan di pagi hari. Dan bukan pula di depan Air Mancur Keabadian.
    Berita baiknya, kami juga tidak sedang membolos.

    Aku baru saja selesai membayar belanjaanku, daging sapi dan rempah untuk masakan Bunda nanti malam. Kami jadi mengadakan jamuan keluarga, namun tanpa kehadiran Siv. Ternyata pacarku sudah ada janji makan malam di rumah Minerva.

    Sebagai cowok pengertian, aku tak ingin menempatkan Siv dalam posisi sulit untuk memilih antara sahabat atau pacarnya. Jadi aku tidak mengatakan apa-apa soal undangan Ayah.

    Selesai mengambil uang kembalian, aku berbalik dan bocah aneh itu menabrakku. Corilus jatuh dengan pantat terlebih dahulu di atas lantai swalayan.

    "Maap," kataku otomatis, membantunya berdiri.

    Cowok itu malah menyeringai.

    "Scipio!" serunya gembira. "Loe ngapain di sini?"

    "Belanja," jawabku singkat.

    Itu sudah jelas kan? Ini kan pasar swalayan, bukan bioskop. Aku paling malas menanggapi pertanyaan retoris semacam ini.

    "Gue tau loe belanja, tapi belanja apa?" Cowok itu cengengesan.

    "Bahan makanan."

    "Bagus. Gue juga belum makan malem."

    Alisku terangkat sebelah. "Terus?" Emang gue pikirin, tambahku dalam hati.

    "Undang gue makan tempat loe!"

    Alisku terangkat semakin tinggi.

    "Males amat!"

    "Scipio, gue mau liat rumah loe!" Bocah itu mengiba. Hadeh. Kelakuan macam begini kok berani mengaku-ngaku sebagai abangku?

    "Keluarga gue gak kenal sama loe. Malah, gue juga gak kenal sama loe! Loe gak takut nantinya bakal canggung?"

    "Kenapa harus takut? Kan ada loe."

    Aku mengusap wajah dengan sabar. Aku tidak mungkin membawa Corilus makan di rumah. Apa nanti reaksi Ayah sama Bunda jika melihat bocah yang mukanya sama denganku ini? Bisa-bisa aku dituduh melakukan tindakan kloning ilegal!

    Belum lagi kalau Bunda salah paham sama Ayah. Setelah pembicaraan kami tadi siang, aku jadi yakin Ayah tidak pernah selingkuh. Bocah aneh ini pasti bukan adik tiriku! Lalu dia ini siapa sih? Apa dia ini jelmaan iblis yang suka bikin orang kena serangan jantung? Inkarnasi doppelganger? Si kembaran jahat dalam legenda?

    Tanpa komentar panjang lebar aku meninggalkannya, seperti yang aku lakukan tadi pagi di atas bangku taman. Bedanya, kali ini Corilus mengekor di belakangku.

    "Loe ngapain ngikutin gue segala? Mau jadi stalker?"

    "Gue mau makan di rumah loe, Scipio."

    "Lama-lama gue hajar juga ni bocah!" gumamku frustrasi.

    "Loe gak bakalan tega."

    "Jangan coba-coba!" Aku menaikkan lengan baju.

    Kesabaranku habis sudah! Meskipun terkena sindrom Immortal, aku dua belas tahun ikut beladiri. Menghajar bocah SMA bagiku perkara mudah. Jadi kutinju saja rahangnya.

    Kupikir Corilus akan menghindar karena aku sengaja memberi celah supaya dia bisa mengelak. Tidak kukira bocah itu cuma mematung menatapku. Aku berusaha menarik kembali bogemku, tapi sudah terlambat. Bocah itu kembali jatuh. Kali ini di atas trotoar. Dan karena aku tinju.

    "Cori, loe gak papa?" Aku buru-buru menghampirinya.

    Hidungnya berdarah-darah.

    "Loe beneran ninju gue," bisiknya takjub.

    "Sori, gue gak maksud betulan, cuma mau gertak loe doang. Lagian kenapa loe gak ngindar?" gerutuku. Sekarang aku jadi repot karena insiden konyol ini.

    "Kalo gue ngindar, gue gak bakal mimisan begini," jawabnya lugu.

    Ya, Tuhan, bocah ini mulai lagi! Apa selain sinting dia juga masokis?

    Melihat wajahku yang frustasi, Corilus tertawa dan menyentuh pipiku.

    "Kalo idung gue gak berdarah, loe gak bakal manggil gue Cori," jelasnya lembut. "Loe mungkin lupa, tapi itu panggilan sayang loe buat gue. Selalu begitu. Ini udah kesekian ratus kalinya kita bertemu, pada akhirnya loe selalu manggil gue Cori."

    "Bisa gak gue panggil loe bocah sinting aja?"

    Aku menahan keinginan untuk kembali meninju muka polosnya.

    "Kalo loe bisa mengintip ke balik samsara, loe gak bakal bisa lagi ngebedain antara ilusi dan kenyataan," katanya tidak jelas.

    "Loe beneran sinting, dosa apa sih gue sampe harus ketemu mahluk kayak loe gini," gumamku seraya membersihkan darah di hidungnya dengan sapu tangan.

    "Gue minta ganti rugi!" Corilus tahu-tahu menodongku.

    Dahiku berkerut.

    "Idung loe gak kenapa-napa, cuma mimisan dikit doang. Tapi kalo loe mau dibawa ke dokter, ayok gue anter."

    "Gue gak mau ke dokter."

    "Terus? Loe mau uang?" Aku siap-siap mengeluarkan dompet.

    "Gue gak butuh materi," terang bocah itu. "Gue pengen diajak makan di rumah loe. Kalo loe nolak, gue bakal ke kantor polisi dan buat pengaduan. Harusnya loe malu! Udah gede berani menganiaya anak kecil!"

    "Hah?"

    Apanya yang anak kecil? Setidaknya cowok ini sudah tujuh belas. Lagian bukankah baru kemarin dia mengaku-ngaku sebagai abangku?

    "Gue serius."

    "Loe gila! Otak loe konslet! Sarap!" aku memaki-maki.

    "Kalo loe udah puas bersikap histeris, ayo kita pulang. Gue laper."

    Aku melirik bocah SMA di depanku putus asa. Rasanya aku ingin melompat dari atas jembatan!
  • (8)

    "Ini Cori.. Corilus," aku memperkenalkan bocah di sebelahku dengan perasaan campur aduk. Astaga, aku baru sadar aku bahkan tidak tahu siapa nama lengkapnya!

    "Cori Corilus?" Ayah mengerutkan kening.

    Itu jelas nama yang aneh. Tapi aku tak berniat meluruskan salah paham ini karena aku sendiri tidak tahu siapa nama lengkap Cori. Ehem, aku mulai menyebutnya Cori karena menurutku ejaan Corilus terlalu panjang dan sulit diucapkan. Jangan salah paham. Ini bukan panggilan sayang atau apa, oke!

    "Corilus Deva Sanjaya," Cori mengoreksi. "Ayah sama Bunda bisa panggil aku Cori."

    Aku ternganga. Belum apa-apa bocah ini berani memanggil kedua orang tuaku Ayah Bunda? Minta kuhajar lagi?

    Ayah dan Bunda bertukar pandang. Sebenarnya, aku cukup menikmati raut terkejut di wajah mereka saat pertama kali melihat Cori. Melihat betapa miripnya kami.

    Jika ada tetangga yang lihat, bocah ini pasti dikira adikku. Bisa-bisa Ayah berurusan dengan polisi populasi karena salah paham.

    "Dia mirip banget sama Agra," Bunda berbisik, entah pada Ayah atau pada dirinya sendiri. Dia menyentuh pipi Cori dengan takjub.

    "Rasanya kayak ngeliat Agra empat tahun lalu, waktu dia masih SMA," Ayah menimpali.

    Aku berdehem.

    "Bisakah kita ngelanjutin ini di meja makan?" usulku. "Seenggaknya Bunda bisa sambil masak atau apa. Agra gak mau ngurusin Cori kalo sampe dia pingsan kelaperan."

    "Ya, ampun! Bunda sampe lupa, masakan Bunda!" Bunda memekik dan buru-buru kembali ke dapur.

    Aku dan Ayah bertukar senyum kecut. Bunda selalu lupa soal masakannya. Kami sudah biasa makan makanan hangus. Padahal masakan Bunda enak, dengan catatan tidak gosong, yang sayangnya jarang terjadi.

    Ayah memimpin kami ke ruang makan. Cori menggandeng lenganku seperti bocah. Aku menepisnya dan dia cemberut padaku.

    Sepanjang jamuan, Ayah dan Bunda terus melirik Cori dengan tatapan aneh. Bocah itu tampak tidak peduli dengan perhatian yang dia terima.

    "Cori.. tinggal dimana?" tanya Bunda kepo.

    "Gak jauh dari sini, Bun. Tiga blok dari stasiun metro Baturaja."

    "SMA kelas berapa?" Kali ini giliran Ayah.

    "Baru naik kelas sebelas, Yah."

    "Umurnya berapa?" tanya Bunda lagi.

    "Tujuh belas, Bun."

    Aku menggertakkan gigi, berusahan menahan diri untuk tidak menjitak kepala Cori setiap kali dia menambahkan kata Bun atau Yah di akhir kalimat.

    "Scipio, boleh gak aku nginep sini?" Cori menoleh dan memintaku dengan sopan. Dia bahkan ber-aku-kamu di depan orang tuaku! Mengerikan! Dasar mahluk bermuka dua!

    "Boleh kok," Bunda yang menjawab untukku. Rasanya aku pengen melotot sampai bola mataku keluar!

    "Besok sekolah dari sini aja. Biar Agra yang nganterin kamu. Tapi telepon dulu orang tuamu biar mereka gak cemas," tambah Ayah.

    Ya, Tuhan. Kedua orang tuaku bersikap seolah aku baru saja punya adik! Cori benar-benar sukses mencuri hati mereka.
  • (9)

    "Scipio?"

    "Hmmm?" Aku menyahut setengah hati. Sebetulnya aku malas meladeni bocah ini, tapi kalau tidak kutanggapi dia pasti bakal memanggil namaku berulang kali sampai aku kena serangan jantung saking emosinya.

    "Dulu loe suka kesel karena loe lebih muda empat menit dari gue. Loe selalu pengen jadi abang. Padahal loe tuh manja gak ketolongan!"

    "Loe mulai ngelantur lagi bro," gumamku.

    "Di akhir samsara, gue mutusin buat ngabulin keinginan loe. Makanya sekarang loe lebih tua empat tahun dari gue." Cori sama sekali mengabaikan ucapanku.

    "Terus gue harus bilang waw gitu?" tukasku sebal.

    Cori tertawa. "Gue cuma pengen bilang kalo tadi itu gue menikmati jadi adek loe. Tapi loe gak usah kegeeran dulu. Karena pada akhirnya selalu gue yang lebih dewasa di antara kita."

    "Terserah loe aja. Gue ngantuk."

    Kurasakan tangan Cori berpindah membelai rambutku.

    "Loe ngapain?" Aku menepisnya.

    Bocah itu angkat bahu. "Loe suka diusap-usap kepalanya waktu tidur."

    "Jangan ngaco! Gue gak suka diusap-usap!" bantahku jengkel. "Dan jangan aneh-aneh! Gue risih, tahu! Lagian kenapa juga loe mesti tidur di kasur gue? Padahal rumah ini punya empat kamar tamu yang selalu kosong!"

    Ini gara-gara Bunda, jadi aku tidak bisa menolak.

    "Dulu loe suka minta dipeluk sama gue. Loe takut sama gelap."

    "Loe kebanyakan ngayal bro! Stop it, oke?"

    "Gue lupa waktu itu kita sembilan atau sepuluh tahun."

    Ya, Tuhan! Dimana aku menaruh lakban kemarin setelah beres-beres? Kira-kira bocah ini bakal mati tidak kalau aku sumpal pake bantal?

    "Scipio?"

    "Hmmm?" Aku jengkel. Pake banget.

    "Gue sayang sama loe."

    Aku menahan napas. "Loe jangan ngaco. Kita sama-sama cowok!"

    "Gue gak peduli. Lagian mau cowok atau cewek gak ada bedanya. Gue bakal sayang sama semua adek gue."

    "Sori, gue bukan adek loe."

    "Suatu saat loe bakalan ngerti. Kalo saat itu tiba, loe harus tau kalo gue bakal selalu sayang sama loe, meskipun gue gak bisa nemenin loe selamanya."

    Fix, besok aku bakal mencari alamat psikiater nomor satu di Oosthaven dan menyeret bocah ini ke meja kerjanya!
  • edited March 7
    (10)

    "Apa yang kamu rasakan, Agra?"

    "Nothing," bohongku.

    "Panik? Cemas?"

    "Sedikit."

    Hei, wajar kan kalau aku sedikit panik? Maksudku, sebentar lagi aku bakal mengalami serangan mingguanku! Siapa yang tidak panik kalau harus mengalami neraka yang sama setiap minggu? Lagi dan lagi.

    Dokter Nababan memberiku senyum menguatkan. "Masih inget apa yang kita omongin minggu lalu?"

    Aku mengangguk.

    "Secara fisik, gak ada yang salah dengan kamu, Agra. Tubuh kamu gak sakit apa-apa, kamu tahu ini kan?"

    Pembicaraan ini lagi. Dokter Nababan menyebutnya terapi jiwa. Mungkin dikiranya aku gila atau suka berhalusinasi?

    "Kamu pernah berpikir gak kenapa seranganmu itu selalu terjadi tiap Kamis?"

    "Pernah. Minggu lalu dokter sudah menanyakan itu padaku. Bahkan setiap minggu aku ditanya hal yang sama. Jadi setiap minggu pula aku memikirkannya," jawabku sebal.

    Alih-alih marah, Dokter Nababan malah tertawa. "Kamu masih belum mendapat jawaban atas pertanyaan tadi, jadi dokter tanya lagi ke kamu sekarang. Hei, siapa tahu kamu dapat inspirasi seminggu ini?"

    Inspirasi dari Hongkong? Yang ada aku direcoki terus sama bocah sinting bernama Corilus Deva Sanjaya!

    "Mungkin aku cuma takut sama hari Kamis?" desahku.

    Penderita sindrom Immortal mengalami serangan mingguan. Setiap individu punya jadwal yang berbeda. Aku misalnya, mengalami serangan setiap Kamis siang. Lucian, putra kedua Duke Pernong, tiap Rabu sore.

    "Gak ada penyakit yang bisa menyerang dengan jeda yang persis sama, kamu tahu?"

    Aku diam saja, membiarkan dokter Nababan menyelesaikan teori yang setiap minggu selalu kudengar. Menurutku ini bukan sesi terapi, tapi pencucian otak secara sistematis. Hanya saja aku terlalu lelah untuk berdebat, terlalu tegang untuk memikirkan hal lain selain penderitaan yang bakal segera kualami. Terserah dokter mau ngomong apa juga!

    "Jadi kita bisa ambil kesimpulan, otakmu mengirim sinyal yang salah, ini penyebab kamu merasa sakit meskipun tubuhmu baik-baik saja."

    "Maksud dokter aku ini gila?"

    "Tidak sesederhana itu, Agra." Dokter Nababan menggeleng.

    Ya, Tuhan, kalau gila saja bisa dikategorikan sederhana, lalu yang tidak sederhana itu seperti apa?

    "Kita masih terus menyelidiki apa penyebabnya, tapi dokter bisa bilang, kita sudah sangat dekat. Kamu harus tetap optimis, oke?"

    Aku mengangguk tanpa semangat. Sangat dekat versi dokter Nababan itu seberapa dekat? Sekali lagi, itu cuma persepsi, iya kan? Dan tiap orang punya persepsi yang berbeda. Mungkin dekat menurutnya, sangat jauh menurutku.

    Melihat wajahku yang apatis, dokter Nababan mendesah.

    "Kamu pasti bisa, Agra. Jika kamu terus berpikir positif, itu akan mengurangi intensitas serangan yang kamu rasakan. Kamu ingat kan dulu rasanya gak separah ini?"

    Aku mengangguk lesu.

    "Kamu tahu kenapa rasa sakitnya bertambah? Itu karena kamu kehilangan semangatmu." Dokter Nababan menjawab sendiri pertanyaannya. "Efeknya, di bawah sadar, kamu semakin takut pada hari Kamis. Dan imbasnya otakmu semakin banyak mengirim sinyal yang keliru. Karena itu lah rasa sakitnya semakin intens."

    Aku paham poin yang ingin dia sampaikan. Masuk akal juga sih. Tapi lalu aku harus apa? Emangnya gampang menghipnotis diri sendiri untuk tidak merasa takut?

    I will not fear. Fear is the mind killer. I will face my fear and let it pass through me. When the fear has gone, there will be nothing. Only I will remain!

    Mantra seperti itu cuma ada dalam dongeng, iya kan?
  • (11)

    "Loe bakalan baik-baik aja, Scipio." Cori mengacak rambutku.

    Aku sudah lelah menepis tangannya, jadi kubiarkan saja. Ya, setelah malam dia menginap di rumahku beberapa hari lalu, Cori selalu datang ke rumah setiap hari. Celakanya lagi, Bunda sangat senang melihat Cori berkeliaran di kamarku dan aku jadi tidak bisa menolak kehadiran bocah jinx satu ini.

    Dia emang pembawa sial. Aku jadi repot tiap hari harus mengantar jemputnya ke sekolah. Entah kenapa aku merasa seperti dijadikan sopir pribadi.

    "Loe tau gak sih, apa itu sindrom Immortal?" gumamku.

    Cori bilang aku bakal baik-baik saja? Dia mimpi di siang bolong. Atau otaknya yang konslet berhasil mengubah cowok itu jadi idiot. Tunggu dulu. Dia emang sinting dan idiot! Itu berita basi. Iya, aku tahu. Lagi-lagi aku mencoba bersikap sinis.

    "Gue udah pernah bilang sama loe, Scipio. Achieve the Dao, gain eternity.. failure, never be reborn!" Cori mengembangkan kedua tangan penuh semangat. "Itu lah esensi dari Immortal Ascencion."

    "Salah gue ngomong sama bocah sinting!" gerutuku.

    "Immortal Ascencion emang sulit, tapi bukan hal mustahil. Langit gak bakal menutup semua jalan, loe harus percaya itu!"

    Kuputar mataku dengan sinis. "Stres gue sama loe!"

    "Agra.. Cori kan cuma pengen ngibur kamu. Jangan ketus begitu!"

    Setelah seminggu menjadi 'adik angkatku', Ayah dan Bunda akhirnya sadar ada yang 'berbeda' dengan Cori. Tapi itu tidak membuat mereka jadi ilfil atau apa. Malah, mereka jadi lebih sayang sama Cori. Aku cuma bisa memutar mata tiap kali mereka membela Cori. Seolah aku ini cuma anak tiri, dan Cori lah putra kandung mereka.

    "Kalo Agra mati, Bunda nanti ngadopsi Cori aja!" gumamku sebal.

    "Agra!" Bunda sedikit histeris.

    "Aku cuma becanda."

    Bunda berkaca-kaca. Detik itu juga aku menyesali ucapanku yang keterlaluan. Cori menjitak kepalaku. "Loe jangan bikin Bunda nangis!"
    Aargh! Bocah ini! Beraninya dia menjitak kepalaku!

    "Gue pengen nemenin loe, Scipio."

    "Hah?"

    Aku sudah biasa menghadapi jalan pikiran Cori yang suka melompat-lompat, tapi kali ini aku tidak paham apa yang dia maksud.

    "Serangan kali ini.. gue mau nemenin loe di sini."

    "Enggak boleh!" tolakku mentah-mentah.

    Sejak SMA, aku tidak mengijinkan siapa pun berada di kamarku saat aku mendapat serangan. Termasuk Ayah dan Bunda. Aku tidak mau mereka merana melihat putra mereka menggeliat seperti sapi yang baru saja masuk ruang jagal.

    "Loe gak usah malu. Semua orang pasti punya momen dimana kita terlihat lemah. Itu lah fungsi keluarga, tempat loe berbagi suka dan duka. Gue selalu nerima loe apa adanya, Scipio. Lebih dan kurang loe. Karena gue abang loe, ingat?"

    "Ingat, gundulmu!" aku menggerutu sebal, tidak tahu lagi harus gimana meladeni bocah sarap satu ini.

    "Bunda setuju Cori nemenin kamu, Agra."

    "Agra gak mau, Bun!" aku berkeras.

    "Selama ini Dokter Nababan gak setuju kamu mengurung diri di kamar seorang diri saat kamu mengalami serangan." Kali ini suara Ayah.

    Dia tidak sedang ikut-ikutan menyudutkanku juga kan? Apa tidak ada lagi orang yang mau berpihak padaku?

    "Kamu mengusir semua dokter dan perawat, menyetel musik terkutuk itu keras-keras, meminta Ayah sama Bunda menunggu di luar. Selama ini Ayah selalu mengalah sama kamu," ucap Ayah lambat-lambat.

    "Tapi dokter bilang ini tidak bisa lagi dibiarkan. Harus ada yang nemenin kamu! Selama ini kamu gak perlu alat bantu karena rasa sakit itu sebetulnya cuma ada di otakmu aja.. "

    "Maksud Ayah, aku cuma mengada-ada?" potongku ketus.

    "Kamu tahu maksud ayah itu apa," balas Ayah tenang. "Jangan menuduh Ayah dan menjadikan itu alasan untuk menolak. Kami keluarga kamu, Agra. Ayah sayang sama kamu. Bunda juga. Dan ayah tahu, Cori pun begitu."

    Ayah melirik Cori dengan tatapan rumit.

    "Intinya kamu perlu bantuan medis. Kita gak tahu kapan tepatnya itu terjadi, tapi sinyal sakit berlebih dari otakmu bisa memacu komplikasi pada organ-organ lain. Jantungmu terutama. Jadi kamu pilih, kamu mau ditemani dokter, atau sama Ayah dan Bunda?"

    "Atau sama Cori?" Bunda memberi opsi tambahan.
  • (12)

    Aku memilih Cori.

    Jelas kan? Aku tidak mau kondisi naasku dilihat orang yang tidak kukenal. Ini merujuk pada dokter dan perawat rumah sakit. Sedangkan Ayah dan Bunda? Hatiku bakal hancur melihat keduanya bersedih. Aku tak ingin mereka merasa bersalah karena sudah bersikap egois dan terus menolak melepasku pergi.

    "Rasa sakit ini bukti kalo loe gak cuma hidup di dunia ilusi," Cori bergumam lirih.

    Perih menyita seluruh indraku. Tubuhku seperti dicabik-cabik. Aku sudah lama menyerah dan menanggalkan semua perlawanan.

    Aku ingin mati, tapi aku teringat kedua orang tuaku. Teringat pada Siv.. dan pada Cori. Aku tak ingin lagi bertahan, tapi ingatan tentang mereka menjaga nyala apiku yang semakin redup agar tidak padam.

    "Terus lah berjuang, Scipio! Gue tau loe bisa melewati ini. Gue udah ngelakuin semua hal yang gue bisa buat loe. Gue mencuri belasan kehidupan dari yang lain. Gue rela ngelakuin kejahatan gak termaafkan ini cuma buat loe. Karena itu loe harus berhasil. Cross Immortal Ascencion and gain eternity.. Gue cuma pengen loe hidup bahagia. Karena gue tau hidup bahagia selamanya itu gak cuma ada di dalam buku cerita. Loe juga bisa begitu."

    Dalam mimpiku, aku mendengar kalimat-kalimat aneh terlontar dari mulut Cori. Sesuatu yang tidak masuk akal seperti Immortal, reinkarnasi, Heavenly Dao, dan lain-lain. Pokoknya, hal-hal semacam itu, ucapan khas seorang Cori. Bocah sinting yang nasibnya dipertemukan denganku di sebuah bangku kayu di taman kota.

    Lalu dia mulai bercerita tentang kehidupan kami sebelumnya. Bagaimana di satu kehidupan kami terlahir dari sebuah telur angsa, tumbuh besar bersama, lalu jatuh cinta pada wanita yang sama pula. Seseorang membunuhku karena wanita tadi. Cori tidak terima. Dia meminta pada ayahnya yang seorang Immortal untuk mengubah kami menjadi bintang-bintang, agar kami hidup abadi di antara langit malam.

    Itu cerita gila yang sangat tidak masuk akal. Kalau saja aku tidak sedang kesakitan, aku pasti sudah mengejeknya tanpa ampun.
  • (13)

    Aku membuka mata. Napasku mulai normal. Telingaku berhenti berdengung.

    "Selamet dateng kembali dari kematian." Suara Cori lembut. "Ini udah keempat ratus empat puluh satu kalinya loe melewati fase life destruction. Yang terburuk akan segera lewat. Loe semakin dekat dengan keabadian."

    Tangan bocah itu mengusap-usap kepalaku. Tidak kurespon. Aku terlalu lelah menanggapi tingkah dan ocehannya yang sulit dicerna.

    Cori lalu menunduk dan mencium keningku.

    "Loe apaan sih?" tukasku gusar. Suaraku masih lemah.

    "Nyium dahi loe," jawab Cori lugu.

    "Gue bukan homo! Loe gak usah bikin gue risih!"

    "Siapa yang bilang loe homo?"

    Aaargh! Kenapa di saat aku menderita begini Cori masih saja tega menyiksaku?

    "Terserah! Gue capek!"

    "Scipio?" Cori terdengar sedih.

    Aku mendesah. "Apa lagi?"

    "Loe marah sama gue?"

    Itu dia tahu! batinku menjerit.

    "Gue gak marah, cuma sebel aja. Gue capek Cori. Kan loe sendiri tadi yang bilang. Gue tuh baru aja bangkit dari kematian. Tapi loe gak bisa berhenti bersikap ngaco. Loe seneng banget ganggu hidup gue."

    Oke, ini terdengar menyakitkan. Tapi aku beneran capek.

    "Loe mau denger gue nyanyi?" Seperti biasa, Cori mengacuhkan protesku.

    Anak bebal satu ini! Aku benar-benar speechless dibuatnya.

    "Enggak!"

    "Lagi-lagi loe bohong! Loe suka denger gue nyanyi. Loe selalu dengerin gue maen gitar. Akui saja, loe menikmati itu!"

    "Terserah loe aja, bocah sinting."

    Cori sama sekali tidak tersinggung. Dia malah tersenyum manis padaku lalu memetik gitarnya. Aku mendesah. Untuk satu hal, Cori memang benar. Aku suka sekali mendengarnya bermain gitar. Dan aku jatuh hati pada suaranya yang merdu.

    Lagu-lagunya tidak ada yang familiar di telingaku. Antik. Seperti kepribadiannya. Aku pernah bertanya apakah semua itu ciptaannya sendiri. Cori menggeleng dan bilang kalau aku sudah gila. Menurutnya lagu-lagu itu sangat populer dan aku saja yang kurang update.

    Jelas Cori salah. Lagu-lagunya tak pernah diputar di Oosthaven. Tapi aku malas mendebat karena segala sesuatu tentang Cori memang tidak biasa.

    "I don't know who's gonna kiss you when I'm gone.. "

    Dia menatapku dan aku merasa jengah karenanya. Cori selalu tahu gimana cara paling ampuh untuk membuatku merasa tidak nyaman.

    "So I'm gonna love you now, like it's all I have.. "

    Cori terlihat penuh emosi. Aku merasa seperti ada yang menghimpit dadaku. Seolah entah apa emosi yang kini dia rasakan melompat dan berpindah ke tubuhku.

    "I know it'll kill me when it's over.. I don't wanna think about it, I want you to love me now.. "

    Cori mengakhiri lagunya dan mendesah lirih, "Kalo nanti gue pergi, gue harap loe bisa nemuin kebahagiaan loe, Scipio."

    Aku menatapnya tanpa berkedip.

    "Loe sadar kan, kalo harusnya gue yang bilang begitu!" aku menukas.

    Jangan salah paham. Maksudku, yang sudah mau mati itu kan aku. Kenapa malah Cori yang bersikap seolah-olah akan pergi?

    "Lagian omongan loe aneh. Sekali lagi gue tegesin sama loe, gue bukan homo, jadi kalo loe nangkep sinyal yang salah, lebih baek kita hentikan semua ini dari sekarang!"

    Cori tersenyum miring.

    "Gue selalu sayang sama loe, Scipio. Dalem hati, loe pasti tau. Dan ini gak ada kaitannya sama homo atau bukan. Karena loe adek gue."

    Wajahku yang pucat karena kelelahan semakin memutih. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa sama Cori. Kurasa bocah sinting ini sudah tak punya harapan lagi untuk kembali waras! Yang membuatku takut, kadang kupikir kegilaannya itu menular padaku.
  • (14)

    Kondisiku memburuk.

    Aku tahu ini sangat parah karena sehari setelah serangan aku masih belum bisa bangun dari tempat tidur. Seolah api kehidupan dalam tubuhku merembes keluar. Ini baru pertama kali terjadi. Karena seperti yang dibilang Dokter Nababan, sindrom Immortal hanya menyerang pikiran. Seharusnya tubuhku baik-baik saja.

    Hebat. Penyakit keparat ini berhasil mencuri satu lagi hariku!

    "Agra, ini Bunda buatin kamu cheese tart panggang ala Noordgluck kesukaan kamu." Bunda berusaha menyogok dengan tart buatannya supaya aku berhenti bermuram durja. Itu tidak berhasil karena lagi-lagi masakan Bunda sedikit gosong.

    "Mereka mengimpor resep kue dari Noordgluck ke Oosthaven, menurutku itu konyol."

    Itu suara Cori. Tentu saja. Cuma dia yang bisa berkomentar tidak nyambung begitu. Dia kan sinting.

    "Tapi kalian gak punya lagu-lagu Sudvictorie di sini, atau drama-drama fenomenal Westrietje. Dari semua hal menarik yang bisa ditawarkan tiga kota musim panas lain, Oosthaven lebih memilih resep kue dibanding buah peradaban yang lebih berbobot! Ya, ampun. Ini benar-benar sebuah tragedi!"

    "Loe mau tau tragedi yang lebih parah? Kenapa gue harus dengerin ocehan loe yang ngaco ini!"

    Bunda tertawa di sebelahku. Dia sudah terbiasa melihatku adu mulut dengan Cori. Bahkan aku curiga menurut Bunda 'pertengkaran-antar-saudara' kami sangat manis.

    "Menurut gue Scipio, loe terlalu banyak mengeluh!"

    Aku memutar mata, lalu menoleh Bunda.

    "Kenapa sih Bunda gak ngelarang dia masuk? Bunda sengaja kan bikin aku darah tinggi? Lagian ini kan Jumat, kenapa dia gak sekolah?"

    Bunda terlonjak. Sepertinya Bunda baru ingat Cori masih SMA dan jadwal sekolahnya jelas dari Senin sampai Jumat.

    "Cori, kok kamu gak sekolah, Nak?"

    "Aku bolos, Bun," jawab Cori enteng, minta digeplak.

    "Cori! Ayo Bunda anterin kamu sekolah. Nanti kamu dicariin guru-guru kamu. Gimana kalo mereka lapor sama keluarga kamu? Terus kamu dihukum."

    "Aku mau nemenin, Scipio. Lagian gak bakal ada yang nyari juga," Cori berkeras.

    Bunda terus membujuk, dan Cori terus mengelak. Akhirnya Bunda kalah. Bocah itu emang mengerikan! Bunda saja bisa kalah berdebat. Padahal emak-emak adalah raja. Itu fakta yang sulit dipatahkan.

    "Bunda gak pergi arisan?" tanyaku.

    "Mana mungkin Bunda ninggalin kamu sendiri di rumah sakit."

    "Tapi kan ada Cori?"

    Bunda ragu-ragu. Terkadang insting sosialita yang mengalir di tubuhnya lebih besar dari rasa sayangnya untukku.

    "Aku gak papa kok," aku meyakinkan.

    "Bunda mau nemenin kamu aja. Arisan itu penting, tapi anak Bunda lebih penting lagi."

    Oke, kali ini insting keibuannya menang.
  • (15)

    Nyatanya Bunda tidak bisa menemaniku. Dokter Nababan mengecek kondisiku jam sepuluh tadi, memencet-mencet dada dan perutku dengan stetoskop di telinga, mengecek tekanan darahku, dan membuat mataku pedih karena senternya, lalu menyeret Bunda keluar, entah kemana, mungkin ke ruang kerjanya.

    Aku kembali berduaan dengan Cori di satu ruangan. Aku gelisah. Ini bukan firasat bagus. Aku tahu dia pasti bakal menyiksaku lagi.

    "Sisa waktu kita tinggal tiga minggu."

    Tuh kan benar! Cori mulai lagi bersikap aneh. Dan ngeselin.

    "Loe ngedoain gue cepet mati?" Aku melotot padanya.

    Cori terkekeh. "Loe gak semudah itu mati, Scipio. Gue gak bakal ngijinin itu. Jangan takut, oke? Loe bakal melewati Immortal Ascencion dan hidup selamanya. Gue janji!"

    Dia terlihat seperti penyembah berhala yang fanatik. Dan aku punya firasat aku lah berhalanya. Ini membuatku merinding. Aku sedikit ngeri. Kalau kalian tidak sadar apa yang kumaksud. Cori terkadang membuatku takut.

    Maksudku, orang sinting itu berbahaya, iya kan? Karena mereka tidak sadar melakukan hal-hal sinting yang tidak masuk akal. Tidak masalah kalau tindakan sinting itu cuma berakibat pada diri sendiri. Tapi gimana kalau di tengah kesintingannya, Cori tidak sadar melukai orang lain? Aku, misalnya.

    Mungkin di sini aku lah yang lebih sinting. Karena membiarkan bocah gila ini menyusup masuk ke dalam hidupku.

    Cori mengambil gitar dan kembali gejreng-gejreng.

    Aku selalu suka saat dia memegang gitar dan bernyanyi. Bukan cuma karena lagu-lagunya yang terdengar asing atau suaranya yang jernih. Tapi juga karena itu berarti aku tak perlu mendengar ocehannya yang tidak masuk akal.

    "I don't know who's gonna kiss you when I'm gone.. "

    Itu lagu kemarin. Aku suka musiknya, tapi tidak liriknya. Tidak kalau yang menyanyikan itu cowok yang mukanya sama denganku. Rasanya menjijikan!

    "Lagu tadi judulnya apa?" Aku sedikit penasaran. Mungkin Cori bisa mengajariku kuncinya dan aku bisa menyanyikan itu untuk Siv.

    Kurasa Siv bakal menyukainya. Dia bakal nangis dan mencubitku, berkata seakan aku tengah mengucapkan selamat tinggal untuknya. Tapi tetap saja dia akan menyukai lagu ini. Aku tahu pasti selera cewek itu seperti apa.

    "Love me now. John Legend. Lima minggu berturut-turut merajai chart pertama Sudvictorie 100. Gue suka banget irama gitarnya."

    Cori tiba-tiba diam.

    Aku jadi teringat kata-katanya kemarin. Kalian gak punya lagu-lagu Sudvictorie di sini. Semula aku tidak menyadarinya. Namun setelah kupikir lagi, semua ini emang terasa janggal. Kenapa baru sekarang aku melihat Cori, bocah yang mukanya sama denganku?

    Oosthaven kota besar, aku tahu. Tapi rumah Cori cuma empat blok dari sini. Setidaknya pasti ada teman, atau tetangga, atau siapa pun yang menyadari kemiripan kami. Orang-orang pasti mulai bergosip. Jadi kesimpulan logis yang bisa ditarik adalah Cori baru saja pindah kemari. Entah dari mana.

    Melihat perubahan raut wajahku, Cori semakin gelisah.

    "Ada yang salah?"

    "Loe.. dari Sudvictorie?" selidikku.

    Bocah itu memucat. Akhirnya dia cuma angkat bahu dan kembali memainkan gitarnya. Jelas Cori menghindari tatapanku.

    "Pantesan gue gak pernah denger lagu-lagu loe. Itu bukan lagu Oosthaven."

    Cori memilih tidak komentar.

    "Kapan loe pindah ke sini?"

    "Dua minggu lalu, kurang lebih."

    Jantungku berdegup kencang. Dua minggu lalu. Kira-kira waktu yang sama dengan insiden di Sudvictorie?

    "Seminggu ini loe sering banget nginep di rumah gue.. apa orang tua loe gak marah?" tanyaku berputar-putar.

    "Mereka udah gak ada.. jadi gak ada yang perlu marah sama gue."

    Mendengar jawaban bocah itu membuatku kaget. Apa dugaanku benar?

    "Loe di sini tinggal sama siapa?"

    Saat menanyakan ini, aku jadi sadar aku sama sekali tidak tahu menahu soal Cori. Bisa dibilang selama ini aku tidak peduli. Padahal Cori sudah sering menginap dan nyaris mengetahui semua hal tentang diriku. Bisa-bisanya aku seacuh ini padanya.

    "Gue sama sodara. Itu gak penting. Selama ini loe juga gak pernah nanya."

    Jawaban Cori membuatku tertohok.

    "Cori.. " panggilku.

    "Um?"

    "Sini pinjem gitarnya."

    Cori menurut dan menyerahkan gitar di tangannya. Aku sekilas mengacak rambutnya saat tangan kami bersentuhan.

    "Buat apa itu?" Cori melirikku.

    Selama ini selalu dia yang mengacak rambutku sambil mengaku-ngaku sebagai abangku. Aku sih risih. Cuma sekali ini aja aku membuat pengecualian.

    "Meski di kehidupan lalu loe bilang loe tuh abang gue. Sekarang gue lebih tua dari loe. Jadi loe harus terima kenyataan kalo sekarang gue abang loe."

    Seulas senyum tersungging di bibirnya.

    "Bilang aja kalo loe sayang sama gue. Gak usah basa-basi!"

    "Terserah loe, bocah sinting."

    Cori tertawa. "Gue belom pernah liat loe maen gitar," katanya.

    "Kalo gitu sekarang loe liat. Jangan terpesona tapi." Aku mengedipkan mata.

    Cori tertawa semakin lebar.

    Aku mulai gejreng-gejreng. Cori menahan napas. Dia menyadarinya. Lagu yang kini kumainkan. Kami saling bertatapan.

    "You say you are fine, but I see pain behind, behind those eyes.. "

    Cori memejamkan mata. Ya, ini lagu yang dulu dia mainkan ketika kami bertemu untuk kedua kalinya.

    "There ain't nothing you can say, to scare me away. I got history too, and it's never to late. Share a secret today, I reciprocrate. Baby I got you.. "

    Aku terus menatapnya, merasakan penyesalan mendalam atas keacuhanku selama ini.

    "So hurt with me, I'll hurt with you. Baby you know we can hurt together.. "

    Bahu bocah itu melorot dan bergetar. Aku mendengarnya terisak.

    "I've been where you've been. I've seen what you've seen. So hurt with me, we can hurt together.. "

    Suaraku serak. Entah kenapa, sejak pertama mendengarnya, lagu ini membuatku sedih. Rasanya begitu penuh makna.

    "Come hurt with me.. "

    Cori menyedot ingus. Dia menatapku hampa.

    "Loe salah. Loe belom pernah ngerasain apa yang gue rasain. Loe gak pernah ngeliat apa yang pernah gue liat," katanya hampa. "Dan gue bersukur, karena gue gak pengen loe ngerasain itu semua."

    Kuhapus tetesan air mata yang berlinang di pipinya.

    "I got history too, you know.. " bisiknya.

    "Ceritain sama gue," kataku lembut. "Loe kan pernah bilang, keluarga itu tempat berbagi suka dan duka, ingat?"

    Aku membawa kepalanya ke bahuku. Kami duduk bersandar pada kepala ranjang.

    "Abi sama Umi gue.. adek gue.. " tangisnya. "Gue ngeliat sendiri gimana kota gue berubah jadi neraka es. Gak ada yang selamet, Scipio! Semua orang yang gue kenal. Keluarga gue. Temen-temen gue. Guru-guru gue. Gak ada satu pun dari mereka yang tersisa!"

    Cori meraung penuh kesedihan.

    "Loe gak tau rasanya kehilangan semua orang yang loe kenal! Kebencian di hati gue karena jadi saksi atas pembinasaan satu kota!"

    Cori tersengal. Aku memeluknya erat. Mencium keningnya. Aku bukan homo. Dan masih bukan sampai sekarang.

    Tapi aku sayang sama Cori, entah sejak kapan, akhirnya aku menyadari itu.

    Mungkin takdir punya agendanya sendiri dalam mempertemukan kami, seorang cowok sekarat dan bocah sinting. Mungkin semesta merasa kasihan dan mengatur supaya kami bertemu dan berbagi kesedihan, untuk saling menguatkan.

    "That's okay, we can hurt together.. Cori.. "
Sign In or Register to comment.