BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Lanjutan Ada Cerita Cinta di Asrama Eps. 14

Malam Gaes, Maaf nih Ada Cerita Cinta Di Asrama terhenti sangat lama, dikarenakan banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Saat ini cerita yang saya tulis di awal tahun 2015 itu sudah dilanjutkan kembali.

Episode 14

Para remaja belasan tahun duduk dalam barisan dengan tertib dan rapi. Aula Pertemuan ini terasa begitu sunyi, padahal ada 202 orang siswa kelas XI di dalamnya, termasuk aku, Reno dan Idris. Kami berada dalam satu barisan, suasana hening dan tegang, tak ada satupun siswa yang menoleh kiri kanan seperti pertemuan-pertemuan biasanya, tak ada juga suara hiruk pikuk dan bisik-bisik dari para siswa yang terdengar. Semua fokus dan pandangannya satu arah ke depan, tepat kepada seorang pria berperawakan tegap dan berambut cepak, berumur empat puluhan, dia adalah Pak Armen, Kepala Pengasuh. Di samping kirinya berdiri Pak Romi, aku ingat beliau adalah staf Pengasuh di kampus ini, dia dari Pacitan dan punya tampang galak, dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini tidak akan berharap untuk berurusan dengan kedua orang itu, kecuali hari ini.

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam kehidupan berasrama kami. Tahun ini kami semua telah menjadi siswa kelas XI, siswa senior, dan tepat hari ini sebagian dari siswa kelas XI yang ada dalam ruangan ini akan mendapatkan tugas tambahan baru, yaitu sebagai pengurus asrama. Tanggung jawab ini merupakan proses pembelajaran kepemimpinan di Sekolah ini. Kami semua berharap dapat menjadi bagian dari kepengurusan asrama, meskipun hanya setengah dari kami yang akan dipanggil.

Gosip dan informasi intelejen telah beredar beberapa hari ini. Informasi itu menyebar begitu cepat di kalangan siswa kelas XI, Semuanya masih simpang siur dan kadang berubah-ubah. Di antara kami tentu saja menjadi pengurus asrama adalah suatu kebanggaan, apalagi kalau jadi kepala asrama, maka akan lebih bangga rasanya. Namun dengan jumlah 14 asrama yang tersedia tentu hanya 130 an siswa saja yang akan ditunjuk sebagai pengurus, sisanya akan menjadi pengangguran, begitu umumnya siswa menyebut kelas XI yang bukan pengurus asrama.

Jabatan pengurus asrama begitu diminati karena pengurus asrama mendapat fasilitas khusus, baik kamar, kantor, kamar mandi dan fasilitas-fasilitas lainnya. Selain itu juga pengurus asrama mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk membina dan mengurusi siswa di luar jam sekolah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Selain fasilitas, Pengurus asrama juga mendapat perlakuan khusus, terutama dari para junior dan anggota asrama. Seluruh siswa kelas X ke bawah harus berperilaku sopan dan santun terhadap pengurus asrama bila tidak mau dihukum, selain itu pengurus asrama juga dapat menghukum seluruh anggota yang ada di asramanya masing-masing.

Menjadi pengurus asrama adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan di sekolah ini, sebagaimana pesan Direktur dan Kepala Sekolah, pendidikan tidak hanya didapatkan dari pelajaran di kelas, tapi juga dari semua aspek yang ada di kampus ini, bahkan tidur pun ada nilai pendidikannya. Dulu aku sempat tidak percaya tidur ada pendidikannya. Belakangan aku baru paham ternyata yang dimaksud tidur ada pendidikannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu tidur secara efektif, karena hal itu akan menjadi kebiasaan setelah keluar dari sekolah ini, setidaknya itu menurut pemahamanku saat ini.

Bicara tentang tidur, dengan menjadi pengurus asrama waktu tidur akan semakin sedikit. Seorang pengurus asrama tidur sedikit lebih lambat dari siswa pada umumnya. Karena pengurus asrama harus mengecek anggota-anggota asramanya mulai dari mengabsen setiap kamar, berkeliling mengawasi kondisi anggota, mengecek seluruh sudut asrama dan tugas-tugas lainnya. Bila semua sudah beres dan aman, baru pengurus dapat tidur. Selain itu sekali dalam seminggu pengurus asrama akan berjaga tidak tidur sampai pagi, menjaga kondisi asrama dari berbagai macam gangguan.

"Rick, namamu dipanggil tuh! ayo buruan maju" Ucap Reno mengejutkanku. Aku tidak sadar ternyata Pak Armen sudah mulai memanggil calon-calon pengurus asrama satau per satu.

Dengan sedikit canggung aku berdiri, sambil melirik ke kiri dan ke kanan, sebagian siswa tampaknya sudah dari tadi memandangku, ada yang senyum-senyum, ada juga yang bertampang sinis. Hmmmm, suasana yang sudah biasa. Perlahan aku berjalan maju masuk dalam barisan teman-temanku yang sudah dipanggil pertama kali. Ada sekitar 7 orang siswa, heran juga ternyata aku dipanggil lebih awal dari dugaanku.

Hampri 2 jam kegiatan itu berjalan. Idris dan Reno pun sudah dipanggil ke depan. Kami semua jadi pengurus asrama. Aku kebagian jadi pengurus di asrama Alhambra, asrama yang pernah aku diami beberapa tahun lalu. Bersama 24 orang lainnya kami akan menjaga 250 an siswa kelas VIII sampe kelas X, lumayan juga. Ada semangat baru yang muncul, kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh kami tentunya akan sedikit berubah, maklum saja kami harus menjaga wibawa dan nama baik asrama yang dengan susah payah diperjuangkan oleh pengurus-pengurus sebelum kami.

Dhani Cahyadi, siswa kelas XI.C IPA dari Pekanbaru Riau yang menjadi kepala asrama kami. Pada dasarnya dia bukan bos kami sih, karena siswa kelas XI tidak membawahi sesama siswa kelas XI, Kepala asrama hanya mengkoordinir kami semua untuk mengurus siswa yang ada di asrama ini, dan menjadi penanggungjawab terhadap seluruh anggota asrama yang kami bina. Aku tidak terlalu kenal dengan Dhani, meski beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Sekilas tampak anak itu cukup smart dan kalem, selebihnya akan aku nilai berjalan dengan waktu.

Sebelum kami bubar, Pak Armen memberikan wejangan kepada kami, terutama tentang bagaimana kami harus mampu menjadi tim yang baik dan kompak.

"Kuncinya ada di komunikasi antar pengurus" jelas Pak Armen.

"Semua siswa kelas XI punya banyak tugas, sebagian besar dari adik-adik semua adalah anggota inti di klub olahraga, kesenian, bahasa dan klub-klub lainnya. Selain itu juga ada yang merangkap menjadi pengurus perwakilan daerah, belum lagi ada juga yang menjadi ketua kelas. Jadi dengan banyak kesibukan dapat menambah stres akibatnya akan susah mengontrol emosi." sambung Pak Armen.

Dengan antusias seluruh siswa yang terpilih jadi pengurus asrama mengangguk-anggukan kepalanya, sebagian siswa yang tidak terpilih tampak tidak memperhatikan, mungkin ada rasa kecewa dalam diri mereka. Aku pun akan berperasaan sama bila tidak terpilih, tapi gimana lagi, tidak mungkin semuanya bisa jadi pengurus, toh dalam kehidupan sehari-hari proses seleksi adalah hal yang akan kita hadapi sehari-hari.

"Maka itu dalam mengelola asrama dibutuhkan keterbukaan antar pengurus. Kepala Asrama tidak boleh membuat kebijakan seenaknya, harus dimusyawarahkan antar sesama pengurus. Bila ada yang tidak berkenan harus menyampaikannya dalam rapat-rapat pengurus, agar tidak saling dongkol. Selain itu harus mampu menjaga rasa di antara adik-adik sekalian. Yang sedang bertugas jaga harus melaksanakannya dengan sebaiknya. Seperti yang adik-adik ketahui, Bagian Keamanan OSIS tidak akan segan menghukum seluruh pengurus asrama meski yang lalai hanya satu atau dua orang saja. Ini bertujuan untuk mendidik adik-adik sekalian agar bertanggung jawab dengan tugas yang diamanahkan." jelas Pak Armen lagi.

Aku dan beberapa siswa saling pandang mendengar penjelasan itu, seakan-akan kami semua merasa kurang puas bila kami harus dihukum hanya karena keteledoran beberapa orang.

"Jangan kecewa dulu" tambah Pak Armen, yang entah mengapa seakan tau apa yang sedang ada di pikiran kami.

"Itu sebabnya adik-adik harus mampu membangun komunikasi yang baik antar pengurus. Bila semua pengurus kompak, komunikasi lancar dan leadership Kepala Asramanya juga kuat, maka adik-adik akan mampu mengelola asrama tanpa banyak kendala dan masalah." tambah Pak Armen lagi.

Aku sangat setuju dengan arahan Pak Armen. Membayangkan 25 orang harus bekerjasama dalam tim untuk mengurusi 250 anggota yang masing-masing punya watak berbeda-beda tentu tugas yang sangat berat. Selama menjalani kehidupan asrama aku sudah merasakan bagaimana hubungan antar sesama teman kamar yang jumlahnya hanya 4 orang. Kadang kami saling diam, tersinggung dan bahkan pernah juga berkelahi. Apalagi kalau jumlahnya 25 orang, tentu lebih rumit lagi hubungannya.

"Dan satu hal yang paling penting, Yayasan melarang adik-adik menghukum anggota asrama dengan hukuman fisik atau hukuman lainnya yang dapat menyebabkan cedera fisik" kali ini raut Pak Armen tampak lebih serius ketika menjelaskan aturan ini.

"Pimpinan Yayasan sangat menekankan hal ini. Bila ada yang kedapatan main pukul atau menghukum anggota sampai menyebabkan cidera, hukumannya sangat berat. Bapak Direktur sudah menyampaikan, yang main pukul akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat." jelas Pak Armen.

Kami bergidik mendengarnya. Dikeluarkan pada saat-saat seperti ini bukan pilihan yang bijaksana. Aku jadi teringat cerita Dion beberapa tahun silam, tentang pengurus yang dikeluarkan dari sekolah karena menganiaya anggota asrama atau pengurus lainnya, aku lupa persisnya, yang jelas pengurus itu dikeluarkan dari sekolah.

Akhirnya setelah hampir 30 menit arahan Pak Armen kami dapat bubar dan kembali ke asrama kami masing-masing. Aku, Idris dan Reno ngobrol sebentar membahas apa saja kira-kira yang akan kami lakukan esok hari, hari pertama dimana kami akan dipanggil "kak" oleh ratusan siswa binaan kami. Ada rasa bangga dan juga rasa cemas, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi setidaknya kami akan mencoba berusaha untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Lagian, kami juga sudah mulai dewasa.

*************

Aku sedang mencatat nama-nama siswa yang belum pulang ke asrama hingga lebih dari jam 10.00 malam. Dan lagi-lagi nama anak ini ada di daftarku. Aku masuk menuju kamar 207 dan mengecek mungkin dia sudah pulang dan belum sempat melapor, tapi hasilnya nihil. Tahun ajaran ini baru saja dimulai, tidak mungkin juga walikelasnya memberikan jam belajar tambahan. Hmmm, memang kadang siswa kelas 3 SMP dan 1 SMA agak sulit diatur, apalagi sebagian dari mereka adalah teman-teman sekamar kami tahun lalu.

"Kak?" panggilan seseorang membuat aku terkejut. Entah sudah berapa lama aku tertidur diatas tumpukan daftar yang tadi aku isi. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pukul 12.01 dini hari.

Aku menatap anak yang membangunkanku tadi dengan sedikit kesal, lalu menyodorkan absen ke arahnya. Dengan tanpa rasa bersalah dia mengisinya, sekilas kulihat dia tersenyum. Sebenarnya aku bisa saja menghukumnya dengan push up atau lari keliling asrama, atau juga membersihkan toilet besok pagi. Tapi aku lebih memilih mengabaikannya, mungkin disebabkan rasa kantukku atau juga akau belum sepenuhnya sadar dari tidurku tadi.


"Kamu dari mana?" tanyaku ketus.

"Belajar kak" jawabnya tegas.

"Sampe jam segini? Sama siapa?" tanyaku masih dengan nada yang sama.

"Sendiri." jawabnya singkat.

"Kenapa kamu tidak ijin dulu?" tanyaku kesal.

"Maaf kak, aku malas pulang ke asrama dulu. Kalau sudah di asrama malah nanti pengennya langsung tidur". jawabnya dengan sangat ramah.

Perlahan kekesalanku mulai menurun, padahal aku ingin marah lagi "Jangan bohonglah kamu, sekarang kan masih awal tahun ajaran, masa sudah belajar. UN juga masih jauh. Saya dulu waktu kelas 3 SMP tidak sebegitunya, saya juga kelas 3B tau gak. Apalagi jawaban kamu yang malas pulang ke asrama dulu, kelihatan banget kamu ini tidak patuh aturan dan sombong."

Kata-kata itu sudah terangkai dalam kepalaku untuk dikeluarkan, alih-alih tersampaikan malah yang keluar basi-basi norak yang gak jelas.

"Wah rajin banget, pantes kamu naik kelas 3B"

Aku saja malu mencerna kata-kataku tadi, apalagi anak ini. Ekspresinya tidak mencerminkan dia merasa dipuji dengan kata-kata itu, malah kesannya dia tau aku lebay.

"Ada yang lain kak?" tanya anak itu, dan dia mengabaikan kata-kataku tadi seakan-akan itu hanya angin lalu yang nggak penting.

"Cukup, kamu bisa istirahat." jawabku datar.

"Terimakasih kak" ucapnya, lalu meninggalkanku dengan setumpuk daftar yang tadi jadi alas tidurku.

"Leo, tunggu!" tiba-tiba saja mulutku berbunyi tanpa menunggu perintah. Aku bingung mau ngomong apa.

"Iya kak Ricko?" Leo menoleh.

"Jangan diulangi lagi, setidaknya kamu harus belajar menaati aturan yang ada. Pengurus yang lain mungkin akan menghukummu bila tidak absen malam. Kamu bisa masuk kamarmu sekarang." ucapku dengan lancar. Leo sesaat tertegun, dia tidak kesal tapi malah tersenyum.

"Iya kak, aku hanya terlambat saat kakak yang piket jaga kok. Selamat malam." ucapnya, meninggalkanku yang masih bingung mendengar jawabannya.

Aku bergegas mengambil daftar hadir siswa dari bulan pertama dan mengeceknya satu per satu, dan benar saja Leo tidak pernah terlambat, kecuali setiap kali aku menjadi petugas piket. Apa dia sengaja? Kenapa dia melakukannya?

Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku. Apakah aku tidak punya wibawa sehingga anggota asramaku tidak takut melanggar bila aku yang sedang berjaga? Atau karena aku jarang menghukum adik-adik asramaku menjadikan mereka tidak menggangapku?

Aku sekali lagi membaca daftar-daftar itu. Kelihatannya tidak seperti dugaanku tadi, karena hanya Leo saja yang melanggar dan siswa lain tidak. Artinya tidak ada masalah dengan pribadiku sebagai pengurus. Lagian aku bukan tipe orang yang gila hormat. Tapi untuk Leo yang selalu saja tidak absen malam, kenapa? Entahlah. Mungkin dia punya alasan sendiri dan aku harus memberinya kesempatan menjelaskannya ketika dia sudah siap.

"Mikirin apa Rick?" Rangga berdiri di depan pintu kamar pengurus asrama. Dia nyaris membuatku terkejut, semenjak kapan dia berdiri disitu, bikin kaget aja.

"Oh, nggak ada. Cuma lagi merekap absensi. Kamu belum tidur?" aku balik bertanya.

"Belum ngantuk. Emang siapa yang terlambat tadi?" Tanya Rangga sambil berjalan ke arahku.

"Oh, Leo anak kamr 207". jawabku datar.

"Yang dari Kalimantan itu ya?" tanya Rangga lagi.

"Iya. Dia selalu tidak absen malam setiap kali aku jaga" ucapku ketus.

Rangga tertawa. Dia duduk di sofa di samping meja pengurus.

"Kayaknya dia anak baik. Beberapa kali aku keliling waktu piket dia ada di kamarnya. Mungkin dia sengaja kali Rick" ucap Rangga sambil menguap.

"Nggak mungkinlah. Ngapain sengaja melanggar dan ketahuan. Katanya sih dia dari belajar, dan kayaknya dia gak bohong. Dia anak kelas 3B, wajar saja dia rajin belajar." sanggahku.

"Sekarang kan masih awal tahun, masa sih sudah belajar. Pasti dia bohong tuh. Apa mungkin dia keluar kampus?" pernyataan dan pertanyaan Rangga bikin aku terkejut.

"Gak mungkin lah, dia masih kelas 3 SMP. Dia tidak akan berani" belaku.

Rangga terdiam, dia rada terkejut dengan jawabanku yang terkesan membela Leo. Aku malah jadi salah tingkah, kenapa juga aku menjawab begitu. Bagaimana kalau seandainya Leo benar-benar keluar kampus?

"Iya juga sih, anak SMP nggak bakal berani melakukan pelanggaran berat begitu. Apalagi kelas 3. Resikonya gede, kalau dikeluarkan susah mau cari sekolah yang mau nerima."

Aku mengangguk-ngangguk mendengar respon Rangga, temanku sesama pengurus asrama, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya. Pikiranku masih penasaran dengan aktivitas Leo.

"Rick, masak mi isntan yuk. Aku laper nih" ucap Rangga menukar topik pembicaraan.

"Kamu ambil air panas di dapur ya, soalnya kalau pake dispenser lama nunggunya, belum lagi yang panas palingan cuma segelas." jawabku dengan penuh semangat, jujur saja aku juga lapar apalagi sudah hampir jam 1 malam.

"Siap bos. Kamu siapkan mie nya ya" ucap Rangga seraya berdiri mencari termos air dan menuju dapur.

Kami menghabiskan masing-masing 2 bungkus mie instan dan bercerita berbagai macam hal hingga pukul 3 shubuh sebelum akhirnya Rangga tertidur di atas sofa di ruang rekreasi asrama. Sedang aku harus berjaga sampai jam 5 pagi, karena Pengurus yang piket malam tidak diperkenankan tidur hingga pagi. Tapi ada gantinya, setidaknya aku tidak akan masuk kelas pada jam pelajaran pertama dan kedua sebagai ganti tidurku tadi malam.

************

"Kok nggak pada makan" tanyaku beberapa anggota asrama yang sedang santai di ruang rekreasi.

"Kami sudah kak, kakak belum makan?" salah seorang anak kelas 1 SMA balik bertanya.

"Ini baru mau makan" jawabku ramah. Aku sekarang sudah terbiasa dengan keramahan, maklum aku kan pengurus asrama (GEER).

"Leo belum makan kak. Ayo Leo bareng kak Ricko aja" celetuk anak kelas 1 SMA tadi.

Leo berdiri dari sofa dan menuju ke arahku. Aku rada kaget juga, aku baru sadar dia ikut kumpul sama anak-anak itu, jadi nyesal nyapa mereka.

"Ayo kak." ajak Leo sopan. Teman-temannya tersenyum cekikikan.

Aku diam sesaat, memperhatikan anak ini, dengan pakaian yang seringkali berantakan. Berkulit kuning terang, Hidungnya mancung, rambut hitam dengan style spike, giginya putih dan rapi, bermata cokelat gelap, posturnya slim dan lebih pendek bebrapa centi dariku.

"Ayo kak, keburu belajar malam loh" ucap Leo lagi.

"Iya, mari" ajaku meninggalkan asrama menuju ruang makan. Di belakang kami masih terdengar suara cekikikan anak-anak yang tadi nongkrong di ruang rekreasi.

"Kenapa kamu tidak makan bareng mereka?" tanyaku sekedar berbasa-basi. Aku menebak anak ini akan menjawab dia tadi belajar dulu. hahaha.

"Aku masih nulis surat tadi untuk ibu di rumah" jawabnya singkat.

"Oh gitu. Ayah dan ibumu sering kesini?" tanyaku asal saja.

" Gak pernah" jawabnya singkat.

"Sibuk ya? Emang ayah dan ibu kamu kerja dimana?" tanyaku sambil menatap Leo.

Dia tidak membalas tatapanku, hanya berjalan beriringan dengan langkah yang tidak terlalu cepat.

"Ayah sudah nggak ada, Ibu di rumah jaga toko dan adik-adik. Jadi ibu gak bisa jenguk-jenguk ke sini, soalnya adik-adik gak ada yang jaga di Banjarmasin." jawabnya lirih.

Perutku berasa mual dan sesuatu yang berat seperti menghantam kepalaku. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhku. Aku malu dan merasa bersalah telah bertanya hal yang sensitif kepada Leo.

Aku berhenti, Leo pun ikut berhenti. Aku malu dengan diriku, kutatap wajahnya. Tidak ada sedikit pun raut kesedihan di dalamnya. Tersirat ketegaran dan ketabahan. Lalu dia tersenyum.

"Nggak usah sungkan kak, Ayahku meninggal dari aku kecil kok. Ayo gih kita ke ruang makan keburu telat belajar malamnya." Leo menarik tanganku.

Aku menurut saja. Pikiranku masih melayang. Aku membayangkan semua anak-anak di sekolah ini sama sepertiku yang masih punya papa dan mama. Ada rasa sesal dalam diriku. Aku sudah belajar jauh dari orang tua hampir 5 tahun, tapi sikap manjaku masih ada. Aku membandingkan kedewasaanku dengan Leo, mungkin belum ada apa-apanya diriku ini. Melihat ketegarannya dalam menghadapi kenyataan hidup, harus sekolah jauh dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal dunia, mungkin bila ini terjadi padaku, rasanya aku tidak akan sanggup.

Kami makan malam tanpa banyak bicara lagi. Leo menyantap makanannya dengan lahap, aku mamandanginya sambil tersenyum. Tidak ada beban dalam hidupnya, mungkin kalau tidak tahu latar belakang keluarganya orang akan beranggapan dia tidak punya masalah apapun.

"Kak Ricko, aku boleh minta sesuatu" tiba-tiba Leo memecah lamunanku.

"Er, iya. Kamu mau apa, ini kalau mau telornya ambil aja. Aku gak suka telor soalnya" jawabku sambil mengaduk piringku yang dari tadi nyaris tidak tersentuh.

"Bukan makanan'. jawabnya sopan.

"Oh, lalu apa?" tanyaku penasaran.

"Tolong jangan mengasihaniku." jawabnya dengan ramah.

Aku terdiam mendengar jawabannya. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu membuka mulutku.

"Aku tidak mengasihanimu. Tapi aku tidak tahu mau bersikap dan bereaksi bagaimana. Aku kagum padamu yang tegar menghadapi masalahmu. Jujur saja Leo, awalnya aku bingung juga dengan sikapmu yang kadang-kadang bikin jengkel. Suka telat absen malam, apalagi kalau aku lagi piket jaga. Di lain pihak kamu anak yang cerdas, sopan, berani dan kadang nekat. Aku bingung mau menilaimu bagaimana, yang jelas bagiku, untuk anak kelas 3 SMP kamu cukup dewasa.' ucapku panjang lebar.

Ucapan itu jujur keluar dari hatiku. Saat ini penilaianku tentang Leo berubah 360 derajat. Apakah karena ayahnya sudah meninggal? mungkin saja, tapi tentu itu bukan satu-satunya alasan. Toh banyak juga orang lain yang sudah ditinggal ayahnya.

Tapi Leo berbeda. Aku tidak bisa membacanya, memahaminya dan mencerna apa yang ada padanya. Entahlah.

"Rata-rata anak kelas 3 SMP di sini memang sudah dewasa kak, setidaknya sudah mimpi basah." celetuk Leo cengengesan.

"Tidak juga, aku belum sedewasa kamu saat kelas 3 SMP" ucapku datar.

"Siapa bilang, buktinya kakak sudah pacaran kan saat itu?" jawabnya asal.

Aku terkejut dengan ucapan Leo. Berani-beraninya dia ngomong begitu. Aku ini pengurus asramanya.

Aku menarik nafas panjang, aku tidak tau harus bersikap bagaimana, yang jelas bagiku anak ini unik. Kadang dia sopan, kadang juga lancang. Kadang dia sangat taat aturan tapi kadang juga dia melanggarnya tanpa ada rasa bersalah.

"Kamu sudah selesai makannya? Ayo kita ke asrama! sebentar lagi belajar malam, nanti kamu dihukum walikelasmu lagi karena terlambat" ucapku tanpa menghiraukan ucapan Leo tadi.

"Iya sudah nih, ayo kita pulang" jawabnya singkat.

Kami berdua berjalan menyusuri halaman luas yang setiap sudutnya berjejer gedung-gedung asrama. Sebagian di antara asrama-asrama itu adalah tempat tinggalku tahun-tahun lalu. Di dalamnya ku kubur banyak kenangan, suka dan duka, sahabat-sahabatku yang telah meninggalkanku di sekolah ini, dan tentu saja cinta pertama dan pacarku Fikri.

"Kak, aku langsung ke kamar ya mau ngambil buku" ucap Leo sambil meninggalkanku.

"Iya, aku juga mau ngambil buku" balasku pelan.

Aku baru saja berjalan beberapa langkah ke kamarku ketika Leo kembali menghampiriku.

"Oh iya kak, aku boleh tanya?" Ucap Leo dengan pelan.

"Tanya apa?" jawabku rada malas.

"Menurut kakak, mungkin nggak pengurus asrama pacaran sama anggota asramanya?".

Aku tersedak mendengar pertanyaan Leo. Jangankan berusaha menjawabnya, mencernanya saja sulit. Ini pertanyaan paling konyol yang pernah aku dengar dari anggota asrama. Seumur hidup aku di sini tidak pernah terbersit menanyakan hal begitu kepada pengurus asramaku dulu.

"Kok diam?" Leo memandangku dengan lebih dekat.

"Pertanyaan aneh. Tapi menurutku sih gak elok, kalau pacaran sama anggota dari asrama yang berbeda masih bisa diterima." dengan susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu.

"Oh, begitu." ucap Leo sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.

"Kamu lagi mikirin apa?" tanyaku penasaran.

"Hmmmm, rencana pindah asrama" jawabnya dengan nada yang meyakinkan.

"Kenapa?" tanyaku bingung.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Leo meninggalkanku sambil tersenyum lebar.

Apa maksud anak itu? Entahlah, mungkin dia menyukai pengurus asramanya, dan itu bukan urusanku.


Para remaja belasan tahun duduk dalam barisan dengan tertib dan rapi. Aula Pertemuan ini terasa begitu sunyi, padahal ada 202 orang siswa kelas XI di dalamnya, termasuk aku, Reno dan Idris. Kami berada dalam satu barisan, suasana hening dan tegang, tak ada satupun siswa yang menoleh kiri kanan seperti pertemuan-pertemuan biasanya, tak ada juga suara hiruk pikuk dan bisik-bisik dari para siswa yang terdengar. Semua fokus dan pandangannya satu arah ke depan, tepat kepada seorang pria berperawakan tegap dan berambut cepak, berumur empat puluhan, dia adalah Pak Armen, Kepala Pengasuh. Di samping kirinya berdiri Pak Romi, aku ingat beliau adalah staf Pengasuh di kampus ini, dia dari Pacitan dan punya tampang galak, dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini tidak akan berharap untuk berurusan dengan kedua orang itu, kecuali hari ini.

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam kehidupan berasrama kami. Tahun ini kami semua telah menjadi siswa kelas XI, siswa senior, dan tepat hari ini sebagian dari siswa kelas XI yang ada dalam ruangan ini akan mendapatkan tugas tambahan baru, yaitu sebagai pengurus asrama. Tanggung jawab ini merupakan proses pembelajaran kepemimpinan di Sekolah ini. Kami semua berharap dapat menjadi bagian dari kepengurusan asrama, meskipun hanya setengah dari kami yang akan dipanggil.

Gosip dan informasi intelejen telah beredar beberapa hari ini. Informasi itu menyebar begitu cepat di kalangan siswa kelas XI, Semuanya masih simpang siur dan kadang berubah-ubah. Di antara kami tentu saja menjadi pengurus asrama adalah suatu kebanggaan, apalagi kalau jadi kepala asrama, maka akan lebih bangga rasanya. Namun dengan jumlah 14 asrama yang tersedia tentu hanya 130 an siswa saja yang akan ditunjuk sebagai pengurus, sisanya akan menjadi pengangguran, begitu umumnya siswa menyebut kelas XI yang bukan pengurus asrama.

Jabatan pengurus asrama begitu diminati karena pengurus asrama mendapat fasilitas khusus, baik kamar, kantor, kamar mandi dan fasilitas-fasilitas lainnya. Selain itu juga pengurus asrama mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk membina dan mengurusi siswa di luar jam sekolah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Selain fasilitas, Pengurus asrama juga mendapat perlakuan khusus, terutama dari para junior dan anggota asrama. Seluruh siswa kelas X ke bawah harus berperilaku sopan dan santun terhadap pengurus asrama bila tidak mau dihukum, selain itu pengurus asrama juga dapat menghukum seluruh anggota yang ada di asramanya masing-masing.

Menjadi pengurus asrama adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan di sekolah ini, sebagaimana pesan Direktur dan Kepala Sekolah, pendidikan tidak hanya didapatkan dari pelajaran di kelas, tapi juga dari semua aspek yang ada di kampus ini, bahkan tidur pun ada nilai pendidikannya. Dulu aku sempat tidak percaya tidur ada pendidikannya. Belakangan aku baru paham ternyata yang dimaksud tidur ada pendidikannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu tidur secara efektif, karena hal itu akan menjadi kebiasaan setelah keluar dari sekolah ini, setidaknya itu menurut pemahamanku saat ini.

Bicara tentang tidur, dengan menjadi pengurus asrama waktu tidur akan semakin sedikit. Seorang pengurus asrama tidur sedikit lebih lambat dari siswa pada umumnya. Karena pengurus asrama harus mengecek anggota-anggota asramanya mulai dari mengabsen setiap kamar, berkeliling mengawasi kondisi anggota, mengecek seluruh sudut asrama dan tugas-tugas lainnya. Bila semua sudah beres dan aman, baru pengurus dapat tidur. Selain itu sekali dalam seminggu pengurus asrama akan berjaga tidak tidur sampai pagi, menjaga kondisi asrama dari berbagai macam gangguan.

"Rick, namamu dipanggil tuh! ayo buruan maju" Ucap Reno mengejutkanku. Aku tidak sadar ternyata Pak Armen sudah mulai memanggil calon-calon pengurus asrama satau per satu.

Dengan sedikit canggung aku berdiri, sambil melirik ke kiri dan ke kanan, sebagian siswa tampaknya sudah dari tadi memandangku, ada yang senyum-senyum, ada juga yang bertampang sinis. Hmmmm, suasana yang sudah biasa. Perlahan aku berjalan maju masuk dalam barisan teman-temanku yang sudah dipanggil pertama kali. Ada sekitar 7 orang siswa, heran juga ternyata aku dipanggil lebih awal dari dugaanku.

Hampri 2 jam kegiatan itu berjalan. Idris dan Reno pun sudah dipanggil ke depan. Kami semua jadi pengurus asrama. Aku kebagian jadi pengurus di asrama Alhambra, asrama yang pernah aku diami beberapa tahun lalu. Bersama 24 orang lainnya kami akan menjaga 250 an siswa kelas VIII sampe kelas X, lumayan juga. Ada semangat baru yang muncul, kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh kami tentunya akan sedikit berubah, maklum saja kami harus menjaga wibawa dan nama baik asrama yang dengan susah payah diperjuangkan oleh pengurus-pengurus sebelum kami.

Dhani Cahyadi, siswa kelas XI.C IPA dari Pekanbaru Riau yang menjadi kepala asrama kami. Pada dasarnya dia bukan bos kami sih, karena siswa kelas XI tidak membawahi sesama siswa kelas XI, Kepala asrama hanya mengkoordinir kami semua untuk mengurus siswa yang ada di asrama ini, dan menjadi penanggungjawab terhadap seluruh anggota asrama yang kami bina. Aku tidak terlalu kenal dengan Dhani, meski beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Sekilas tampak anak itu cukup smart dan kalem, selebihnya akan aku nilai berjalan dengan waktu.

Sebelum kami bubar, Pak Armen memberikan wejangan kepada kami, terutama tentang bagaimana kami harus mampu menjadi tim yang baik dan kompak.

"Kuncinya ada di komunikasi antar pengurus" jelas Pak Armen.

"Semua siswa kelas XI punya banyak tugas, sebagian besar dari adik-adik semua adalah anggota inti di klub olahraga, kesenian, bahasa dan klub-klub lainnya. Selain itu juga ada yang merangkap menjadi pengurus perwakilan daerah, belum lagi ada juga yang menjadi ketua kelas. Jadi dengan banyak kesibukan dapat menambah stres akibatnya akan susah mengontrol emosi." sambung Pak Armen.

Dengan antusias seluruh siswa yang terpilih jadi pengurus asrama mengangguk-anggukan kepalanya, sebagian siswa yang tidak terpilih tampak tidak memperhatikan, mungkin ada rasa kecewa dalam diri mereka. Aku pun akan berperasaan sama bila tidak terpilih, tapi gimana lagi, tidak mungkin semuanya bisa jadi pengurus, toh dalam kehidupan sehari-hari proses seleksi adalah hal yang akan kita hadapi sehari-hari.

"Maka itu dalam mengelola asrama dibutuhkan keterbukaan antar pengurus. Kepala Asrama tidak boleh membuat kebijakan seenaknya, harus dimusyawarahkan antar sesama pengurus. Bila ada yang tidak berkenan harus menyampaikannya dalam rapat-rapat pengurus, agar tidak saling dongkol. Selain itu harus mampu menjaga rasa di antara adik-adik sekalian. Yang sedang bertugas jaga harus melaksanakannya dengan sebaiknya. Seperti yang adik-adik ketahui, Bagian Keamanan OSIS tidak akan segan menghukum seluruh pengurus asrama meski yang lalai hanya satu atau dua orang saja. Ini bertujuan untuk mendidik adik-adik sekalian agar bertanggung jawab dengan tugas yang diamanahkan." jelas Pak Armen lagi.

Aku dan beberapa siswa saling pandang mendengar penjelasan itu, seakan-akan kami semua merasa kurang puas bila kami harus dihukum hanya karena keteledoran beberapa orang.

"Jangan kecewa dulu" tambah Pak Armen, yang entah mengapa seakan tau apa yang sedang ada di pikiran kami.

"Itu sebabnya adik-adik harus mampu membangun komunikasi yang baik antar pengurus. Bila semua pengurus kompak, komunikasi lancar dan leadership Kepala Asramanya juga kuat, maka adik-adik akan mampu mengelola asrama tanpa banyak kendala dan masalah." tambah Pak Armen lagi.

Aku sangat setuju dengan arahan Pak Armen. Membayangkan 25 orang harus bekerjasama dalam tim untuk mengurusi 250 anggota yang masing-masing punya watak berbeda-beda tentu tugas yang sangat berat. Selama menjalani kehidupan asrama aku sudah merasakan bagaimana hubungan antar sesama teman kamar yang jumlahnya hanya 4 orang. Kadang kami saling diam, tersinggung dan bahkan pernah juga berkelahi. Apalagi kalau jumlahnya 25 orang, tentu lebih rumit lagi hubungannya.

"Dan satu hal yang paling penting, Yayasan melarang adik-adik menghukum anggota asrama dengan hukuman fisik atau hukuman lainnya yang dapat menyebabkan cedera fisik" kali ini raut Pak Armen tampak lebih serius ketika menjelaskan aturan ini.

"Pimpinan Yayasan sangat menekankan hal ini. Bila ada yang kedapatan main pukul atau menghukum anggota sampai menyebabkan cidera, hukumannya sangat berat. Bapak Direktur sudah menyampaikan, yang main pukul akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat." jelas Pak Armen.

Kami bergidik mendengarnya. Dikeluarkan pada saat-saat seperti ini bukan pilihan yang bijaksana. Aku jadi teringat cerita Dion beberapa tahun silam, tentang pengurus yang dikeluarkan dari sekolah karena menganiaya anggota asrama atau pengurus lainnya, aku lupa persisnya, yang jelas pengurus itu dikeluarkan dari sekolah.

Akhirnya setelah hampir 30 menit arahan Pak Armen kami dapat bubar dan kembali ke asrama kami masing-masing. Aku, Idris dan Reno ngobrol sebentar membahas apa saja kira-kira yang akan kami lakukan esok hari, hari pertama dimana kami akan dipanggil "kak" oleh ratusan siswa binaan kami. Ada rasa bangga dan juga rasa cemas, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi setidaknya kami akan mencoba berusaha untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Lagian, kami juga sudah mulai dewasa.

*************

Aku sedang mencatat nama-nama siswa yang belum pulang ke asrama hingga lebih dari jam 10.00 malam. Dan lagi-lagi nama anak ini ada di daftarku. Aku masuk menuju kamar 207 dan mengecek mungkin dia sudah pulang dan belum sempat melapor, tapi hasilnya nihil. Tahun ajaran ini baru saja dimulai, tidak mungkin juga walikelasnya memberikan jam belajar tambahan. Hmmm, memang kadang siswa kelas 3 SMP dan 1 SMA agak sulit diatur, apalagi sebagian dari mereka adalah teman-teman sekamar kami tahun lalu.

"Kak?" panggilan seseorang membuat aku terkejut. Entah sudah berapa lama aku tertidur diatas tumpukan daftar yang tadi aku isi. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pukul 12.01 dini hari.

Aku menatap anak yang membangunkanku tadi dengan sedikit kesal, lalu menyodorkan absen ke arahnya. Dengan tanpa rasa bersalah dia mengisinya, sekilas kulihat dia tersenyum. Sebenarnya aku bisa saja menghukumnya dengan push up atau lari keliling asrama, atau juga membersihkan toilet besok pagi. Tapi aku lebih memilih mengabaikannya, mungkin disebabkan rasa kantukku atau juga akau belum sepenuhnya sadar dari tidurku tadi.


"Kamu dari mana?" tanyaku ketus.

"Belajar kak" jawabnya tegas.

"Sampe jam segini? Sama siapa?" tanyaku masih dengan nada yang sama.

"Sendiri." jawabnya singkat.

"Kenapa kamu tidak ijin dulu?" tanyaku kesal.

"Maaf kak, aku malas pulang ke asrama dulu. Kalau sudah di asrama malah nanti pengennya langsung tidur". jawabnya dengan sangat ramah.

Perlahan kekesalanku mulai menurun, padahal aku ingin marah lagi "Jangan bohonglah kamu, sekarang kan masih awal tahun ajaran, masa sudah belajar. UN juga masih jauh. Saya dulu waktu kelas 3 SMP tidak sebegitunya, saya juga kelas 3B tau gak. Apalagi jawaban kamu yang malas pulang ke asrama dulu, kelihatan banget kamu ini tidak patuh aturan dan sombong."

Kata-kata itu sudah terangkai dalam kepalaku untuk dikeluarkan, alih-alih tersampaikan malah yang keluar basi-basi norak yang gak jelas.

"Wah rajin banget, pantes kamu naik kelas 3B"

Aku saja malu mencerna kata-kataku tadi, apalagi anak ini. Ekspresinya tidak mencerminkan dia merasa dipuji dengan kata-kata itu, malah kesannya dia tau aku lebay.

"Ada yang lain kak?" tanya anak itu, dan dia mengabaikan kata-kataku tadi seakan-akan itu hanya angin lalu yang nggak penting.

"Cukup, kamu bisa istirahat." jawabku datar.

"Terimakasih kak" ucapnya, lalu meninggalkanku dengan setumpuk daftar yang tadi jadi alas tidurku.

"Leo, tunggu!" tiba-tiba saja mulutku berbunyi tanpa menunggu perintah. Aku bingung mau ngomong apa.

"Iya kak Ricko?" Leo menoleh.

"Jangan diulangi lagi, setidaknya kamu harus belajar menaati aturan yang ada. Pengurus yang lain mungkin akan menghukummu bila tidak absen malam. Kamu bisa masuk kamarmu sekarang." ucapku dengan lancar. Leo sesaat tertegun, dia tidak kesal tapi malah tersenyum.

"Iya kak, aku hanya terlambat saat kakak yang piket jaga kok. Selamat malam." ucapnya, meninggalkanku yang masih bingung mendengar jawabannya.

Aku bergegas mengambil daftar hadir siswa dari bulan pertama dan mengeceknya satu per satu, dan benar saja Leo tidak pernah terlambat, kecuali setiap kali aku menjadi petugas piket. Apa dia sengaja? Kenapa dia melakukannya?

Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku. Apakah aku tidak punya wibawa sehingga anggota asramaku tidak takut melanggar bila aku yang sedang berjaga? Atau karena aku jarang menghukum adik-adik asramaku menjadikan mereka tidak menggangapku?

Aku sekali lagi membaca daftar-daftar itu. Kelihatannya tidak seperti dugaanku tadi, karena hanya Leo saja yang melanggar dan siswa lain tidak. Artinya tidak ada masalah dengan pribadiku sebagai pengurus. Lagian aku bukan tipe orang yang gila hormat. Tapi untuk Leo yang selalu saja tidak absen malam, kenapa? Entahlah. Mungkin dia punya alasan sendiri dan aku harus memberinya kesempatan menjelaskannya ketika dia sudah siap.

"Mikirin apa Rick?" Rangga berdiri di depan pintu kamar pengurus asrama. Dia nyaris membuatku terkejut, semenjak kapan dia berdiri disitu, bikin kaget aja.

"Oh, nggak ada. Cuma lagi merekap absensi. Kamu belum tidur?" aku balik bertanya.

"Belum ngantuk. Emang siapa yang terlambat tadi?" Tanya Rangga sambil berjalan ke arahku.

"Oh, Leo anak kamr 207". jawabku datar.

"Yang dari Kalimantan itu ya?" tanya Rangga lagi.

"Iya. Dia selalu tidak absen malam setiap kali aku jaga" ucapku ketus.

Rangga tertawa. Dia duduk di sofa di samping meja pengurus.

"Kayaknya dia anak baik. Beberapa kali aku keliling waktu piket dia ada di kamarnya. Mungkin dia sengaja kali Rick" ucap Rangga sambil menguap.

"Nggak mungkinlah. Ngapain sengaja melanggar dan ketahuan. Katanya sih dia dari belajar, dan kayaknya dia gak bohong. Dia anak kelas 3B, wajar saja dia rajin belajar." sanggahku.

"Sekarang kan masih awal tahun, masa sih sudah belajar. Pasti dia bohong tuh. Apa mungkin dia keluar kampus?" pernyataan dan pertanyaan Rangga bikin aku terkejut.

"Gak mungkin lah, dia masih kelas 3 SMP. Dia tidak akan berani" belaku.

Rangga terdiam, dia rada terkejut dengan jawabanku yang terkesan membela Leo. Aku malah jadi salah tingkah, kenapa juga aku menjawab begitu. Bagaimana kalau seandainya Leo benar-benar keluar kampus?

"Iya juga sih, anak SMP nggak bakal berani melakukan pelanggaran berat begitu. Apalagi kelas 3. Resikonya gede, kalau dikeluarkan susah mau cari sekolah yang mau nerima."

Aku mengangguk-ngangguk mendengar respon Rangga, temanku sesama pengurus asrama, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya. Pikiranku masih penasaran dengan aktivitas Leo.

"Rick, masak mi isntan yuk. Aku laper nih" ucap Rangga menukar topik pembicaraan.

"Kamu ambil air panas di dapur ya, soalnya kalau pake dispenser lama nunggunya, belum lagi yang panas palingan cuma segelas." jawabku dengan penuh semangat, jujur saja aku juga lapar apalagi sudah hampir jam 1 malam.

"Siap bos. Kamu siapkan mie nya ya" ucap Rangga seraya berdiri mencari termos air dan menuju dapur.

Kami menghabiskan masing-masing 2 bungkus mie instan dan bercerita berbagai macam hal hingga pukul 3 shubuh sebelum akhirnya Rangga tertidur di atas sofa di ruang rekreasi asrama. Sedang aku harus berjaga sampai jam 5 pagi, karena Pengurus yang piket malam tidak diperkenankan tidur hingga pagi. Tapi ada gantinya, setidaknya aku tidak akan masuk kelas pada jam pelajaran pertama dan kedua sebagai ganti tidurku tadi malam.

************

"Kok nggak pada makan" tanyaku beberapa anggota asrama yang sedang santai di ruang rekreasi.

"Kami sudah kak, kakak belum makan?" salah seorang anak kelas 1 SMA balik bertanya.

"Ini baru mau makan" jawabku ramah. Aku sekarang sudah terbiasa dengan keramahan, maklum aku kan pengurus asrama (GEER).

"Leo belum makan kak. Ayo Leo bareng kak Ricko aja" celetuk anak kelas 1 SMA tadi.

Leo berdiri dari sofa dan menuju ke arahku. Aku rada kaget juga, aku baru sadar dia ikut kumpul sama anak-anak itu, jadi nyesal nyapa mereka.

"Ayo kak." ajak Leo sopan. Teman-temannya tersenyum cekikikan.

Aku diam sesaat, memperhatikan anak ini, dengan pakaian yang seringkali berantakan. Berkulit kuning terang, Hidungnya mancung, rambut hitam dengan style spike, giginya putih dan rapi, bermata cokelat gelap, posturnya slim dan lebih pendek bebrapa centi dariku.

"Ayo kak, keburu belajar malam loh" ucap Leo lagi.

"Iya, mari" ajaku meninggalkan asrama menuju ruang makan. Di belakang kami masih terdengar suara cekikikan anak-anak yang tadi nongkrong di ruang rekreasi.

"Kenapa kamu tidak makan bareng mereka?" tanyaku sekedar berbasa-basi. Aku menebak anak ini akan menjawab dia tadi belajar dulu. hahaha.

"Aku masih nulis surat tadi untuk ibu di rumah" jawabnya singkat.

"Oh gitu. Ayah dan ibumu sering kesini?" tanyaku asal saja.

" Gak pernah" jawabnya singkat.

"Sibuk ya? Emang ayah dan ibu kamu kerja dimana?" tanyaku sambil menatap Leo.

Dia tidak membalas tatapanku, hanya berjalan beriringan dengan langkah yang tidak terlalu cepat.

"Ayah sudah nggak ada, Ibu di rumah jaga toko dan adik-adik. Jadi ibu gak bisa jenguk-jenguk ke sini, soalnya adik-adik gak ada yang jaga di Banjarmasin." jawabnya lirih.

Perutku berasa mual dan sesuatu yang berat seperti menghantam kepalaku. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhku. Aku malu dan merasa bersalah telah bertanya hal yang sensitif kepada Leo.

Aku berhenti, Leo pun ikut berhenti. Aku malu dengan diriku, kutatap wajahnya. Tidak ada sedikit pun raut kesedihan di dalamnya. Tersirat ketegaran dan ketabahan. Lalu dia tersenyum.

"Nggak usah sungkan kak, Ayahku meninggal dari aku kecil kok. Ayo gih kita ke ruang makan keburu telat belajar malamnya." Leo menarik tanganku.

Aku menurut saja. Pikiranku masih melayang. Aku membayangkan semua anak-anak di sekolah ini sama sepertiku yang masih punya papa dan mama. Ada rasa sesal dalam diriku. Aku sudah belajar jauh dari orang tua hampir 5 tahun, tapi sikap manjaku masih ada. Aku membandingkan kedewasaanku dengan Leo, mungkin belum ada apa-apanya diriku ini. Melihat ketegarannya dalam menghadapi kenyataan hidup, harus sekolah jauh dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal dunia, mungkin bila ini terjadi padaku, rasanya aku tidak akan sanggup.

Kami makan malam tanpa banyak bicara lagi. Leo menyantap makanannya dengan lahap, aku mamandanginya sambil tersenyum. Tidak ada beban dalam hidupnya, mungkin kalau tidak tahu latar belakang keluarganya orang akan beranggapan dia tidak punya masalah apapun.

"Kak Ricko, aku boleh minta sesuatu" tiba-tiba Leo memecah lamunanku.

"Er, iya. Kamu mau apa, ini kalau mau telornya ambil aja. Aku gak suka telor soalnya" jawabku sambil mengaduk piringku yang dari tadi nyaris tidak tersentuh.

"Bukan makanan'. jawabnya sopan.

"Oh, lalu apa?" tanyaku penasaran.

"Tolong jangan mengasihaniku." jawabnya dengan ramah.

Aku terdiam mendengar jawabannya. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu membuka mulutku.

"Aku tidak mengasihanimu. Tapi aku tidak tahu mau bersikap dan bereaksi bagaimana. Aku kagum padamu yang tegar menghadapi masalahmu. Jujur saja Leo, awalnya aku bingung juga dengan sikapmu yang kadang-kadang bikin jengkel. Suka telat absen malam, apalagi kalau aku lagi piket jaga. Di lain pihak kamu anak yang cerdas, sopan, berani dan kadang nekat. Aku bingung mau menilaimu bagaimana, yang jelas bagiku, untuk anak kelas 3 SMP kamu cukup dewasa.' ucapku panjang lebar.

Ucapan itu jujur keluar dari hatiku. Saat ini penilaianku tentang Leo berubah 360 derajat. Apakah karena ayahnya sudah meninggal? mungkin saja, tapi tentu itu bukan satu-satunya alasan. Toh banyak juga orang lain yang sudah ditinggal ayahnya.

Tapi Leo berbeda. Aku tidak bisa membacanya, memahaminya dan mencerna apa yang ada padanya. Entahlah.

"Rata-rata anak kelas 3 SMP di sini memang sudah dewasa kak, setidaknya sudah mimpi basah." celetuk Leo cengengesan.

"Tidak juga, aku belum sedewasa kamu saat kelas 3 SMP" ucapku datar.

"Siapa bilang, buktinya kakak sudah pacaran kan saat itu?" jawabnya asal.

Aku terkejut dengan ucapan Leo. Berani-beraninya dia ngomong begitu. Aku ini pengurus asramanya.

Aku menarik nafas panjang, aku tidak tau harus bersikap bagaimana, yang jelas bagiku anak ini unik. Kadang dia sopan, kadang juga lancang. Kadang dia sangat taat aturan tapi kadang juga dia melanggarnya tanpa ada rasa bersalah.

"Kamu sudah selesai makannya? Ayo kita ke asrama! sebentar lagi belajar malam, nanti kamu dihukum walikelasmu lagi karena terlambat" ucapku tanpa menghiraukan ucapan Leo tadi.

"Iya sudah nih, ayo kita pulang" jawabnya singkat.

Kami berdua berjalan menyusuri halaman luas yang setiap sudutnya berjejer gedung-gedung asrama. Sebagian di antara asrama-asrama itu adalah tempat tinggalku tahun-tahun lalu. Di dalamnya ku kubur banyak kenangan, suka dan duka, sahabat-sahabatku yang telah meninggalkanku di sekolah ini, dan tentu saja cinta pertama dan pacarku Fikri.

"Kak, aku langsung ke kamar ya mau ngambil buku" ucap Leo sambil meninggalkanku.

"Iya, aku juga mau ngambil buku" balasku pelan.

Aku baru saja berjalan beberapa langkah ke kamarku ketika Leo kembali menghampiriku.

"Oh iya kak, aku boleh tanya?" Ucap Leo dengan pelan.

"Tanya apa?" jawabku rada malas.

"Menurut kakak, mungkin nggak pengurus asrama pacaran sama anggota asramanya?".

Aku tersedak mendengar pertanyaan Leo. Jangankan berusaha menjawabnya, mencernanya saja sulit. Ini pertanyaan paling konyol yang pernah aku dengar dari anggota asrama. Seumur hidup aku di sini tidak pernah terbersit menanyakan hal begitu kepada pengurus asramaku dulu.

"Kok diam?" Leo memandangku dengan lebih dekat.

"Pertanyaan aneh. Tapi menurutku sih gak elok, kalau pacaran sama anggota dari asrama yang berbeda masih bisa diterima." dengan susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu.

"Oh, begitu." ucap Leo sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.

"Kamu lagi mikirin apa?" tanyaku penasaran.

"Hmmmm, rencana pindah asrama" jawabnya dengan nada yang meyakinkan.

"Kenapa?" tanyaku bingung.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Leo meninggalkanku sambil tersenyum lebar.

Apa maksud anak itu? Entahlah, mungkin dia menyukai pengurus asramanya, dan itu bukan urusanku.

Bersambung.

Episode 15 dapat dibaca di wattpad https://www.wattpad.com/661626290-ada-cerita-cinta-di-asrama-by-leoverry-episode-15
Sign In or Register to comment.