BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

DILEMA CINTA(short story)

DifferentDifferent ✭ Bronze
edited July 2012 in BoyzStories
Hiii nice meet you again,this's my second story,ordinary hope is mine can make you happy...
«1

Komentar

  • adaceritaadacerita ✭✭✭✭ Platinum
    pertamax :)
    Pustaka Pelangi
  • RakselLEERakselLEE ✭✭ Silver
    TS nya kalah cepet sama papa @adacerita :D

    ( Just [COLOR="Red"]Ordinary[/COLOR] Boy )

    " [COLOR="Green"]祝你天天开心 [/COLOR]"
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    ###DILEMA CINTA###


    Untuk kesekian kali,mas Beni tak menepati janji.Ada negosiasi soal promosi produk di Makassar.Ia tidak bisa pulang hingga esok hari.Minggu lalu,ada meeting super penting dengan menejer divisi lain.Entah minggu depan apalagi alasannya.Meski masih ada bagian kecil hati kecilku membenarkan toh mas beni selama ini bekerja untukku,tp pikiran negative megalihkan semuanya,ingin rasanya aku berteriak kalau aku butuh dia banyak bukah materi banyak.Dulu,sebelum mas Beni diangkat menjadi menejer utama divisi pemasaran, ia tak sesibuk ini. Selalu da waktu luang di hari minggu untuk kita bersama, Tapi sekarang?





    **
    kuhembuskan napas kesal, Kupencet remote TV,berharap ada acara menarik yang dapat melunturkan kesal di hati.Kemacetan di beberapa tol daerah jakarta seakan tak ada menurukan pamornya dilayar kaca,"BASI!!",Beralih channel lagi:musisi papan atas yang sudah menghirup udara segar atas kasus pornografi"dimana-mana bak jamur di musim hujan,kok kasus itu-itu trus jd sorot".Ah....gila! Bisa bertambah pusing kepalaku. Kumatikan TV dan bangkit menuju lemari es di dapur.
    "Eh tuan sudah pulang?"
    "iya nih.Mbok,apa mas benni perna telpon?
    "
    "g' tuan.oh ya, coto makassarnya sudah Si Mbok angetin.Silahkan kalau mau makan malam,mumpung masih anget,"cerocosnya.
    Membayangkan harus makan malam lagi tanpa mas beni,nafsu makanku langsung menguap.
    Pelan kulangkahkan kaki kekamar,kupandangi tempat tidar yang menjadi saksi betapa indah hari yang sudah kami lalui,poto diatas meja mengenyuhkan hatiku betapa kurindu wajah yang dihiasi senyum itu.
    "sabar y,papa kan kerja sayang,nyari duit."kata yang selalu menjadi pemungkas mas beni.




    ***
    Sebelum memutuskan tinggal bersamanya,bersama dua rekan,aku mendirikan biro konsultan arsitektur.saat bersama mas benni,aku bertekan mengabdikan diriku padanya,atas balasan bahagia yang aku rekuh darinya.Tapi lama-lama aku jenuh dan merasah sayang kalau bakat dan kemampuanku dibidang ini disia-siakan,toh jawal kerjanya fleksibel dan mas beni tak setiap hari dirumah.
    Suara ringtone HP-ku mengalun. Itu pasti dari mas beni yang tahu kalau aku masih marah. Huh...malas aku mendenar rayuannya. Bergegas aku ke ruang keluarga dan menyambar Nokia-ku. Tanpd berpikir dua kali, ingin aku reject panggilan. Tapi bukan nama mas beni yang tertera dilayar.ternyata Mbak nani,rekanku di kantor.
    "Halo Mbak,ada apa nih?"sapaku riang.
    "Heh, lama banget sih,diangkatnya, ke mana sih?,lagi berduaan y?"terdengar protes diujung sana.
    Diingatkan sama mas Beni,sewotku kambuh.
    "Huh,boro-boro berduaan,Dia semenjak naik jabatan,kerjaan melulu yang diurusin,Aku mah dianggurin.
    Terdengar tawa diujung sana"Ih jangan begitu,nggak baik,Mas benimu kerja kan ya buat kamu juga."
    "iya sih Mbak."aku terenyum getir.
    Harus kuakui Mas beni adalah lelaki yang baik,kelemahannya cuma satu,WORKAHOLIC alias gila kerja.
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    Sorry y uda ke' cerber,tp nguantek banget entar g bs bngun sahur,jd besok y dilanjutin,insyallah dikelarin.
    @ada cerita,pertamanya "DUA KEJORA"kykx ada dpage ke-2.kamu cepat bngt y ngeluluin aku...
    @aksele,iya ni Q nya yg la~lo kali ya...
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    "ada apa sih Mbak? Kayaknya ada yang penting."
    "itu,soal lomba Arsitektur yang kita ikuti 4 bulan lalu. Nah...besok itu pengumuman pemenangnya,"terang Mbak nani.
    "kamu sama Mala, besok pergi kesana,ya,tiketnya juga sudah aku pesan,siapa tahu kita menang. Proyek besar, tuh."
    "o..oke Mbak."jawabku dengan sedikit tergagap
    "Di menado cuma tiga hari kok,aku paham...kalau kamu mau mas beni boleh kesana juga kok."terang Mbak.
    Memang tidak terlalu lama. tapi esok dia pulang entah aku bisa bertmu sepulangku nanti.



    ***
    Pukul 8 lebih lima menit aku dan Mala sampai di gedung pertemuan. Gedung itu sudah ramai. Sebagian mereka dari kalangan pengusaha,arsitek yang ikut lomba,pebisnis yang mengendus peluang usaha,petinggi waralaba syamroy,beberapa guru besar ilmu arsitektur yang bertindak sebagai dewan juri,orang-orang pemda,wartawan dari berbagai media,hingga mahasiswa jurusan arsitektur dari berbagai universitas. Selebihnya,masyarakat kebanyakan yang ingin tahu. Aku sama sekali tak menyangka,digedung ini nantinya,aku akan bertemu dengan seseorang dari masa lalu yang sangat berarti dalam hidupku.
    Ada sekitar 30 maket peserta lomba. Aku menemukan maketku diletakkan dekat pintu masuk. Keistimewaan rancangan kami adalah memadukan unsur daerah dan modern. Gedung dua tingkat kami rangcang sepintas seperti rumah panggung,tapi menggunakan gaya minimalis yang cukup kental. Di beberapa tempat kami hias dengan ukiran.
    Kelebihan lain ada pada fungsinya. Dengan keterbatasan ruang,kami atur sedemikian rupa sehingga ada arena bermain untuk anak. Begitu banyak ibu yang ingin berbelanja tapi direpoti anaknya. Nah inilah solusinya. Di sampingnya ada pujasera(pusat jajanan selera rakyat)yang lumayan kompit.
    Di lantai dua,counter untuk pakaian,segala pernik atau aksesoris berbagai produk,stationary,seperti mall pada umumnya. Disepanjang dinding kami pajang aneka lukisan berbagai aliran. Harapan pengunjung dapat menikmati karya seni sambil berbelanja. Rancangan kami juga menampilkan balkon,indah dengan pengamanan tingkat tinggi. Di sepanjang balkom disediakan meja-meja empat kursi untuk keluarga yang ingin istirahat sehabis berbelanja.
    Aku melihat hasil karya arsitek lain.bagus-bagus. Membuatku tak yakin menang. Karena itu aku melagak kaget ketika biroku didaulat menjadi juara pertama,yang berarti memenangkan tender pembangunan toko waralaba syamroy diseluruh kawasan sulawesi.. Tapi yang lebih mengejutkanku adalah ketika Dirut toko itu berdiri didepanku. Ku pandangi lelaki itu dengan mulut menganga. Bukankah dia..... Yoga?
    "selamat ,ya,"ucapnya pelan.
    Tatap matanya memerangkapku begitu dalam. Kenangan itu berputar dalam ingatanku. Dua belas tahun,rentang waktu dimana kutinggalkan kenangan itu.tapi masih sama seperti dulu,jantungku berdetak cepat setiap kali melihatnya. Benarkah pepatah FIRST LOVE NEVER DIE?
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    ***
    saat itu aku baru kelas satu SMA. Suatu hari karena bangun kesiangan,aku mengejar bus seperti orang gila. Hampir saja kakiku terpeleset di pintu bis. Untung saja,sebuah tangan erat menangkapku.
    Ketika kuangkat wajah,jantungku berpacu kencang. Dia bak arjuna yang menitis dalam rupa anak muda!,sebagi seorang gay aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajah kami begitu dekat hingga dapat kurasakan desahan nafasnya. Wajahku memanas. Kami hanya saling diam. Dari seragam yang dikenakannya, aku tahu dia bersekolah di sebuah STM yang sejurusan dengan bus yang kutumpangi.
    Semenjak hari itu aku selalu menanti bus yang sama,hingga kami selalu berangkat bersama,entah kebetulan dia tidak pernah memakai jasa bus yang lain juga.kadang aku melirik,tapi takut dan malu-malu. Sebulan kemudian baru kami saling menyapa,berkenalan dan sedikit ngobrol. Namanya yoga,asli makassar. Pindah sekolah di kendari,karena menemani neneknya yang tinggal sendirian.
    Pernah di suatu hari,bus yang kami tumpangi menjadi sasaran tawuran pelajar.sebuah batu melayang kearahku tapi dengan tangkas yoga mendorongku kesamping. Walhasil lengan kanannya membiru terkena batu itu.
    "tidak apa-apa aku akan melindungimu." kelas tiga semester pertama,aku terkena cacar air . Seluruh tubuhku dipenuhi bintil-bintil cair yang menjijikan. Aku malu. Sangat malu. Obat dari dokter tak banyak membantu. Seminggu penuh aku mengurung diri di rumah. Ibu terus mengingatkan kalau sebentar lagi aku akan menjalani ujian kelulusan.
    Akhirnya berbekal jaket bertudung,aku berangkat ke sekolah. Aku mengambil rute memutar untuk menghindari yoga. Aku rindu padanya. Tapi aku tak mau dia melihatku dalam keadaan bopeng.
    Waktu melaju. Namun hingga kelulusan tiba,bopeng di wajahku belum juga pudar.Sebulan kemudian setelah bopeng ditubuhku mulai samar,aku berdiri ditempat bisa menunggu bus yang biasa kami pakai.tapi sia-sia. Aku tak pernah lagi bertemu dengannya.
  • yuzzyuzz ✭✭✭✭✭ Diamond
    Yeahh... Sedikit saran ya.. Itu tulisannya coba agak direnggangkan space nya, agar gk terlalu rapat n biar rapi dibacanya..
    Dan seharusnya bertemu org dr masa lalu tdk perlu diungkapkan, jadinya bikin gk surprise lagi.. Karna pembaca suka kejutan2... ;-)
    wkwkwk
  • yuzzyuzz ✭✭✭✭✭ Diamond
    Yeahh... Sedikit saran ya.. Itu tulisannya coba agak direnggangkan space nya, agar gk terlalu rapat n biar rapi dibacanya..
    Dan seharusnya bertemu org dr masa lalu tdk perlu diungkapkan, jadinya bikin gk surprise lagi.. Karna pembaca suka kejutan2... ;-)
    wkwkwk
  • yuzzyuzz ✭✭✭✭✭ Diamond
    edited May 2013
  • yuzzyuzz ✭✭✭✭✭ Diamond
    edited May 2013
  • yuzzyuzz ✭✭✭✭✭ Diamond
    edited May 2013
    Maap jd nyampah... Gk bs edit dr hp ya.. Ampun....
    wkwkwk
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    Masa kulia tiba. Papa mendesakku untuk memilih universitas yang akan kumasuki.kerinduan dan harapan untuk bertemu yoga,membuatku memilih kulia dimakassar. Dalam pikiranku,mungkin saja yoga telah kembali ke makassar. Tapi harapan tinggal harapan, aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku langsung menenggelamkan diri dalam kegiatan kampus.
    Ditahun kedua seorang asisten dosen menyatakan cintanya padaku. Aku tidak menanggapi,tapi sikapku tak membuatnya mundur,bahkan dia gigih menyatakan kesungguhannya.dia baik,cerdas dan lumayan tampan. Asli bugis. Dialah Mas beni. Sebulan setelah wisuda, ia jadi dosen sekaligus bekerja sebagai asisten menejer di sebuah perusahaan besar. Kariernya cemerlang dan bergerak naik dengan pasti.
    Meski begitu, Mas beni tak berubah. Selalu mengharap,ia tidak tahu dibalik kebekuanku oleh satu nama,yoga. Aku tak pernah sanggup melupakan kenangan tentangnya.
    Melihat kesungguhan mas beni,akupun luluh dan mengganguk tinggal bersamanya.


    ***
    "kok melamun?"suara itu menarikku dalam dunia nyata.
    Aku kikuk. Untung mala datang menghampiri. Tiba-tiba mas beni menelpon,mengabari dia di menando untuk bisnisnya.
    "itu telepon dari teman kerja kamu?"terdengar nada menyelidik yoga.
    "o..o.h bukan"jawabku gugup
    "pak Davi saatnya kita pulang,"suara Mala memotong pembicaraan sekaligus menyelamatkanku.
    "oke sekali lagi, saya ucapkan selamat. Karya anda sangat mengagumkan. Sungguh.semoga kita dapat bekerjasama dengan baik."
    yoga mengulurkan tangan ke arahku dengan gaya formal.



    ***
    Seharian di hotel, aku seperti mengalami jetleg(pusing kepala karena terlalu lama naik pesawat). Setiap mengingat yoga, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Gila! Berkali-kali kutekankan pada diri sendiri bahwa aku telah memilih orang lain,bahkan mas beni berencana mengesahkan ikatan kami. Aku tak boleh sedikit pun, sungguh tak boleh memikirkan pria lain.

    Siang ini,rapat pertama kami untuk membicarakan proyek pembangunan toko waralaba syamroy. Entah kenapa,aku begitu gugup. Kantornya masih sepi ketika aku masuk.

    "Rupanya aku terlambat," ujar yoga pelan

    aku tersengat, "ah, tidak. Jadwal pertemuan kita masih 10 menit lagi. Pak Yanuar dari teknik pembangunan belum juga da...."

    "Aku terlambat menemukanmu,sehingga orang lain lebih beruntung dariku. Maaf kalau aku tidak perna berani bertanya langsung padamu."

    Dadaku sesak. Seperti ada segumpal daging menyumbat tenggorokan. Jangan ditanggapi.jangan. Antara aku dan dia hanya urusan bisnis. Dia klienku ,tandasku dalam hati. Tapi aku sungguh tak menyangka apa yang akan diucapkan lidahku.
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    "itu sudah 12 tahun berlalu. Semuanya tinggal kenangan. Toh ,tak ada janji atau ikatan apa-apa di antara kita."

    "12 tahun. Yah, selama itu tak pernah aku melupakanmu" suara Yoga datar.

    Aku melengak. "kumohon, jangan membuat semua jadi sulit," pekikku terjerat emosi.

    "Maafkan aku, Davi. Aku tak sanggup menahan diri." Yoga mengalihkan pandangan keluar jendela, menyembunyikan matanya yang tersaput air.

    " Kau bahagia davi? Oh tentu. Bisa kulihat. Hanya lelaki sempurna yang pantas mendapatkanmu." Hening sejenak.
    "Baiklah, asal kau bahagia, aku rela, Davi," lanjutnya kini mata itu basah.

    "satu hal yang sejak dulu ingin kuketahui darimu, tapi, tak pernah sanggup kutanyakan. Apakah kau pernah mencintaiku?"

    Jantungku serasa ambyar.

    " Untuk apa kau tanyakan, Yoga. Tak ada gunanya lagi sekarang. Apapun jawabanku, tidak akan mengubah keadaan. Seharusnya kita tidak membicarakan ini..."

    " Ini sangat penting baiku, Davi. Jawablah, agar aku bisa menoleh darimu dan belajar melupakanmu. Jawab saja ya atau tidak."

    " Ngg..."

    " Ya atau tidak ? "

    " Ya ." Bahkan hingga kini ,jerit hatiku. Mati-matian kutahan lidahku agar tak mengucapkannya. Aku bukan pengkhianat. Bagaimanapu Mas beni telah menjadi lelaki yang baik buatku. Akhirnya aku bernafas legah, ketika semenit kemudian pak Yanuar hadir.

    Rapat berakhir pukul 12 siang. Aku menolak ajakan makan siang bersama Yoga dan pak yanuar, karena telah janjian makan siang dikafe dengan Mala.


    Kususuri lapangan parkir dan kupilih paling ujung dengan honda jazz pasilitas dari yoga dikafe yang sudah dipesan Mala. Ketika keluar dari mobil Langkahku mendadak terhenti. Buru-buru aku bersembunyi di balik beton. Di depanku, berjarak lima mobik , kulihat Mas Beni tengah berpelukan dengan Yeni,sekertarisnya. Dadaku bergemuruh. Darahku mendidih. Kuraih ponsel, menekan tombol, berusaha menghubungi Mas beni untuk memastikan kejujurannya.

    Kulihat Mas Beni menggapai ponselnya.

    "Oh, hai honey. Ini, aku lagi meeting. Ada apa? Kangen ya? Aku kangen deh sama kamu," kata Mas Beni sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Yeni.

    Klik. Kumatikan ponsel. Air mataku tak kuasa ku tahan dan membanjir. Dunia serasa luruh dan hancur.
    Entah apa yang akan terjadi setelah ini.

    ### THE END ###
  • DifferentDifferent ✭ Bronze
    Sorry baru dlanjut...
    Kalau gantung monggo dilanjutkan.
    @akselee,
    @adacerita,
    @uchihakamui,
    @yuzz, thankz, insyallah the next story krn ini dburu2 bnget.

    @All reader,dont forget Ur comment.
Sign In or Register to comment.