BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!




Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Semua Tentang Kita

1235717

Komentar

  • Aku update nih, keep reading yaa
    Beberapa pertandingan sudah dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan, dan menyisakan dua kelas yang akan bertanding di babak final. Kelas yang bertanding di babak final adalah kelasku dengan Arsya perwakilannya, juga kelas VIII-C dengan Kak Ardit perwakilannya. Aku yang masih duduk di tempat yang sama dari tadi melihat ke arah lapangan, disana terlihat Kak Ardit yang tersenyum kearahku, aku teringat bahwa aku harus mendukung dia siapapun lawan mainnya, dan aku dengan bodohnya aku malah meng iyakan permintaannya.aku gak berfikir bahwa Kak Ardit bakalan masuk babak final dan bertanding melawan kelasku. Karena selama ini kata Kak Erwan, Kak Ardit gak pernah mengikuti setiap acara yang di adakan disekolah. Sebenarnya aku ingin mendekat kearah lapangan biar bisa melihat babak final dengan lebih jelas. Tapi aku bakalan bingung buat dukung siapa nanti disana. Yang satu aku sudah janji buat dukung dia, yang satu lagi adalah Arsya perwakilan kelasku yang notabene aku suka dia. Makanya aku memutuskan untuk tetap berada disini melihat pertandingan mereka dengan jarak yang cukup jauh.
    Pertandingan final dimulai, aku bisa melihat mereka sama-sama kuat, Arsya dan Kak Ardit sama-sama lincah menangkis ataupun memberika pukulan. Cukup waktu yang lama untuk menyelesaikan babak pertama yang akhirnya dimenangkan oleh Kak Ardit. Aku melihat kekecewaan di wajah Arsya, aku beranjak dari tempatku hendak menghampirinya, aku membawa air minum yng aku sempat beli tadi pas sebelum babak final berlangsung. Ku lihat Arsya melangkah kearahku, namun tertahan sama para fansnya. Aku menghentikan langkahku karena melihat kejadian di depanku. Aku yang berniat kembali terhalang karena seseorang memanggilku, aku melihat ke arah dia.
    “Lo, bawaain ini buat gue ya?” tanya Kak Ardit mendekat dan langsung ngambil air minum yang aku pegang.
    “Eh..”tanpa nunggu penjelasan dariku, Kak Ardit langsung meminum minuman yang aku bawa.
    “Aaah, thanks ya!” ucapnya mengembalikan botol minuman yang tinggal setengahnya. “Oh, iya gue harap Lo gak lupa buat dukung gue meski gue lawan temen lo” ucapnya sambil meninggalkanku. Aku hanya menatap kepergiannya menuju lapangan. Aku melirik ke arah Arsya, kini dia sedang bersiap untuk lanjutin pertandingan babak kedua. Aku bisa mlihat aura kesedihan di wajah Arsya, mungkin karena dia kalah di babak pertama. Aku terus menatapnya hingga dia menoleh dan menatapku, cukup lama kita saling bertatapan, aku tersenyum padanya tanda bahwa aku percaya dia pasti bisa menang. Diapun membalas senyumanku. Aku senang bisa melihatnya tesenyum. Aku harap dia bisa memenangkan pertandingan.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    cemburu ya ka Ardit ...
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    wow ... kiss ...
  • Makasih @lulu_75 udah setia comment ...
    Sharee ke temen2nya yaa
    Makasih
  • Aurora_69Aurora_69 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Ditunggu kelanjutannya... ;)
  • Aurora_69Aurora_69 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Udah bom like malah. :wink:
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
  • Makasih @Aurora_69
    @lulu_75 makasih juga udh comment, ajak temennya read yu, biar Al semangat nulisnya
  • Dua minggu sudah berlalu, masa libur semester satu sudah berakhir, semua kegiatan sekolah mulai kembali normal. Selama masa liburan, aku gk kemana-mana. Aku hanya diam dirumah, mencoba menghubungi Arsya, namun nomornya gak aktiv. Mau menghampirinya di rumahnya aku gak tahu alamatnya. Aku juga gak punya kontak si Dadan yang kemungkinan besar tahu rumah Arsya. Aku bingung harus gimana, aku merasa sangat bersalah sama Arsya. Dia sudah bela-belaan latihan badminton agar bisa masuk final dan membatalkan taruhan konyol si Kak Ardit, tapi aku malah nyalahin dia karena dia mukul Kak Ardit.aku benar-benar menyesal. Jika saja aku tahu soal taruhan itu, Arsya gak perlu bela-belain latihan badminton hanya demi aku. Huh... Soal Kak Ardit, semenjak aku tahu kelakuan dia, aku gak pernah lagi mau kenal sama dia. Aku benar-benar marah sama dia. Saat bertemu di sekolahpun aku mencoba menghindarinya. Lagi pula saat setelah kejadian ciuman itu dia juga sepertinya menjauhiku. Aku hanya marah karena malu atas kebodohanku sendiri yang mudah percaya sama tingkah laku si Kak Ardit.
    Selama pelajaran di kelas, Arsya sama sekali gak melihat kearahku, dia mengabaikanku. Aku selalu menatap kearahnya dan mencoba mencari perhatiannya, namun tetap saja dia mengabaikanku. Pokoknya dia harus bicara sama aku, dan aku harus minta maaf sama dia. Ku lihat dia sedang mengobrol dengan teman-temannya, termasuk salah satunya Dadan. Dadan sempat melirik padaku dengan tatapan tajam. Aku hanya menghela nafas. Aku memberanikan diri menghampiri mereka, semoga Arsya mau ngomong sama aku.
    “Sya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” ucapku saat sampai di depan mereka. Arsya masih tak mau melihat kearahku. Dia mengabaikanku. aku gak mau menyerah, aku ingin kesalah fahaman antara aku sama Arsya terselesaikan secepatnya. Yang pentig aku sudah minta maaf sama dia, mau dia maafin atau tidak itu urusan dia. Aku mendekat kearah Arsya dan memegang tangannya lalu menarik dia untuk berdiri, dia sempat berontak dan menghempaskan tanganku dari tangannya. Namun aku kembali memegang tangannya dan menariknya, mambawanya ke belakang sekolah. Awalnya dia sempat meronta, namun akhirnya dia mengikuti langkahku. Setelah sampai aku melepaskan peganganku. Dia kemudian menatap kearahku sambil melipatkan tangannya di dadanya. Kita masih terdiam seribu bahasa, aku hanya menunduk, bingung harus mulai darimana pembicaraan ini.
    “Kalau Lo gak mau ngomong apa-apa, gue pergi” Ucap Arsya setelah lama diam,aku tersentak saat dia menggunakan kalimat Lo-Gue, karena selama ini dia selalu berbicara halus sama aku. Aku menahan tangannya saat dia hendak pergi.
    “Aku minta maaf” ucapku, dia hanya diam sambil terus menatap tajam kearahku. “Aku tahu aku salah, aku sudah buat kesalaham, aku sudah tahu soal taruhan itu, soal pertandingan badminton itu, dan soal Kak Ardit yang men...” Arsya menaruh telunjuknya di bibirku, aku terdiam dan menunggu apa yang akan dia ucapkan. Namun Arsya hanya tersenyum dan lekas pergi meninggalkanku sendiri.
1235717
Sign In or Register to comment.