Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, tekan saja salah satu tombol ini!

Sign In with Facebook Masuk dengan Google Masuk dengan OpenID Masuk dengan Twitter
Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!

Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Contact us at admin@boyzforum.com

Kisah Serpihan Hidupku - Pulau Tidung Part.22 (hal.59)

2456760

Komentar

  • AnonymousAnonymous Posts: 8,695
    sTaLk3R menulis:
    Nah inniih... Bahasanya lugas dan jelas...
    Lalu terdapat alinea...
    Pemisahan Dialog...
    Subjek dan Objek yang jelas...
    Cetak miring...
    Bagus bGt...

    Biar Pendek postingnya, tapi rapi. :wink:

    iya..
  • feffendy menulis:
    Stallion muda gagah perkasa,
    tenaga besar nafsu membara,
    tiada lawan mampu menghadang,
    koboi ditendang, palang diterjang.


    Mungkin puisi di atas bisa menggambarkan kondisiku saat itu. Horni banget! Ada 3 majalah masih terbungkus plastik yang bikin gw penasaran setengah mati. Tempat manakah yang aman untuk menikmatinya?

    “TING! TING! Toilet mall!” bola lampu pijar muncul di atas kepala seperti kartun Lang Ling Lung di album Donal Bebek.

    Dalam hitungan detik gw dah ada di dalam toilet di mall puncak bukit.

    Kantong plastik kuremas-remas.
    Kertas kubolak balik dengan keras hampir lepas-lepas.
    Semua keindahan Timur telah di-scan sesuai dengan aslinya ke otakku puas-puas.
    Koneksi antara tangan, batang dan gairah menghasilkan muncratan dan tembakan bebas lepas.
    Akhirnya gw tersenyum dengan lemas, mas, maaaaas......
    :lol: :lol: :lol:

    NAH!!!...
    Ini dia,salah satu cerita yang menurutku SANGAT LAYAK DIBACA alias BAGUUU...S BANGET!

    ceritanya KOMPLIT...PIT...PIT...

    yang bikin aku MAKIN SALUT adalah PENCERITAAN tentang ADEGAN "PORNO" yang ditulis dengan cara CERDAS.
    GAK HARUS VULGAR!!!

    pERTAHANKAN YA MAS.
  • Breaking info :

    Lan Kwai Fong berisi pic2 co Thai bugil, tampaknya replikasi dari majalah di Thai yg diterbitkan kembali di HK. Isinya sebagian besar bisa kita dapatkan juga di situs gay Thailand tempo dulu seperti go.to/tguy. Co2 yg ditampilkan tampan, atletis dan seksi.

    Yiling berisi pic2 co Tionghoa bugil, ditampilkan sendirian atau bersama2. Ga ada adegan ml, jadi burungnya yg rata2 ga disunat jg letoy semua he3... Dilengkapi dengan banyak artikel dengan tulisan Hanzi tradisional.

    Xiongfeng atau Allguy juga berisi co lokal HK, juga berisi banyak artikel. Namun sayangnya memang co yg ditampilkan kalah cakep dibanding dengan co Thai.
  • Xianggang part.8

    Gw merangkak keluar dari toilet. He3, salah, harusnya kalimatnya : gw keluar dengan gagah perkasa dari toilet. Hasrat yg sudah lama tertahan sudah terpuaskan. Kubasuh wajahku dan kurapikan rambutku dengan air wastafel yg dingin-dingin segar.

    Majalahku telah terselip di belakang punggungku. Masih menyolok, karena cukup tebal.

    “Kriuk, kriuk, kriuk,” perutku sudah menuntut pemenuhan nafsu berikutnya, yaitu makan. Dengan santainya gw melewati rombongan pelajar sekolah menengah yg baru pulang dengan kaca mata mereka yg tebal-tebal dan wajah yg tegang kusut. Stres kali ya mereka jadi pelajar di HK.

    Tiba di apartemen Ayi, hari sudah gelap. Sinar matahari telah digantikan dengan sinar berbagai macam lampu yang menerangi seantero kota HK.

    Ayi, wa teng lou!”(Ayi, saya sudah pulang!)
    Hong a, co hok ku to hue hng, tou khun bwe?” (Hong, dah lama duduk di taman, dah lapar belon?)

    Ayi muncul dari dapur sambil tersenyum ramah. Makanan sudah disiapkan di meja dan Ayi memasak sup haisim (teripang) kesukaan gw.

    “Ai-ya, lapar banget, Ayi!”
    “Yuk, kita makan bareng!” kata Ayi sambil menepuk-nepuk punggungku dan ups, majalahku juga tertepuk.

    Ayi tahu gw menyembunyikan sesuatu, tapi dia tetap bersikap tenang dan pura-pura tak tahu. Dia menyerahkan semangkok nasi ke gw dan gw cepat2 mengalihkan pembicaraan.

    “Haisim-nya enak banget, Ayi, Kamsia ya, Ayi begitu baik!”
    He he he . . . Ciak pui-pui ha, Hong!” (Makan yang kenyang ya Hong).
  • Xianggang part.9

    Di ketinggian bukit kutengadah
    Memandang bintang berkelip indah
    Di ketinggian bukit kulihat ke bawah
    Kota Hongkong indah tiada tara


    Malam terakhir di HK, gw berada di puncak tertinggi di Pulau Hongkong. Kawasan ini bernama The Peak, mencapainya menggunakan tram kuno sejak jaman kolonial Inggris, yang arahnya miring 30 derajat ke atas.

    Semua gedung tinggi masih kalah tinggi dengan The Peak. Lampu-lampu papan reklame dan gedung-gedung membuat suasana HK sangat hidup. Dari jauh tampak kapal2 indah memancarkan sinar lampu beraneka warna. Angin bertiup lebih kencang dan dingin, kurapatkan jaketku untuk melindungi tubuhku yang kurus.

    Kukeluarkan harmonika dan kutiup lagu Nearer my God to Thee, itu lagu saat kapal Titanic hampir tenggelam. Entah kenapa di tempat seperti ini gw merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta.

    Nearer my God, to Thee,
    Nearer to thee,
    Even though it be a cross,
    That raiseth me.

    Still all my song shall be,
    Nearer my God to thee.

    Nearer my God, to Thee,
    Nearer to thee.


    Alunan dan getaran suara musik mengalir pelan, menghanyutkan suasana tenang dan hening yang sudah tercipta. Tampaknya beberapa pengunjung yang datang juga menikmati permainan musikku.

    Tanpa terasa air mataku menetes, maksudku air mata di hatiku yang menetes. "Pria sejati pantang meneteskan air mata, sesulit dan sesusah apa pun kondisinya mesti tegar", demikian yang selalu diajarkan mamaku saat gw masih kecil.

    Gw selama ini selalu ‘memaksa’ Tuhan untuk ‘menyembuhkan’ diriku, lewat doa-doaku yang tiada hentinya tiap malam dan tiap Minggu di gereja. Tapi kini gw sadar, gw harus menerima kondisi diriku apa adanya. Menjadi gay adalah anugerah Tuhan untukku, sesuatu yang hingga sekarang belum kuketahui apa hikmahnya, tapi yang kutahu adalah apa pun dari Tuhan semua baik adanya dan segala sesuatu akan indah pada waktunya. Doaku mulai malam ini berubah menjadi permohonan agar Tuhan membimbingku dan membantuku menjalani hidup ini dengan benar. Gw tak perlu disembuhkan lagi, karena gw memang tak sakit :)
  • Jeruju part.1

    “Hong, ayo pulang !” teriak mamaku dari dalam rumah.
    “Bentar, Mam !” sahutku dengan sekenanya karena gw masih asyik bermain.
    “Dah malam nih!” teriak Mama lagi.
    “Ntar waa, Mam !” (Bentar lagi, Mam !)

    Tak terdengar lagi teriakan Mama. Gw pun asyik kembali bermain dengan teman-temanku yang tersisa 3 orang. Memang hari sudah malam, tapi teman-temanku masih ingin melanjutkan game terakhir kejar-kejaran.

    Gw pikir tak masalah juga kalau pulang malam sedikit, karena rumahku persis di samping gang, yang dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak-anak setiap sore hari. Mulai dari kejar-kejaran, lompat tali, lompat tinggi, sampai kelereng dan judi kecil-kecilan dengan kartu. Dan gw sendiri amat sangat menikmati semua permainan yang ada, maklumlah, namanya juga anak-anak. Kadang saking asyiknya main gw sampai lupa bikin pe-er, karena kuanggap cetek (gampang). Kadang juga saking asyiknya main gw tak perduli lagi dengan luka-luka di lutut dan siku akibat sering jatuh.

    Udah ah, dah gelap, esok ja’ kite maen agi’!” (Sudah malam, besok saja kita main lagi) kata Kundil yang anak Melayu.
    Teman-teman pada bubaran, gw pun akhirnya terpaksa pulang. Gw baru tersadar juga Mam pasti marah besar dari tadi gw cuekin panggilannya.

    “Tok tok tok !” dengan perlahan gw mengetuk pintu belakang rumah, yang bisa langsung akses ke gang. Beberapa kali gw ketok, pintu tak dibuka.
    Mam, khui meng a! Wa teng lou!” (Mam, buka pintu, saya sudah pulang !) akhirnya gw coba manggil lebih keras, takutnya Mam tak dengar.

    Tiba-tiba pintu terbuka. Dengan tenangnya gw melangkah masuk. Tanpa terkira tanpa disangka tiba-tiba, “Dar! Dar! Dar!”
  • Jeruju part.2

    Haruskah kuceritakan,
    Kelamnya sang kenangan,
    Yang tiada bisa terbuang,
    Walau sang kala telah melihatku berjuang.

    Ah, kenangan tetaplah kenangan!
    Walau bagiku sangat menyakitkan,
    Tapi kuingin janganlah terulang,
    Pada siapa pun yang menjadi ‘tersayang’.
  • feffendy menulis:
    “Hong, ayo pulang !” teriak mamaku dari dalam rumah.
    “Bentar, Mam !” sahutku dengan sekenanya karena gw masih asyik bermain.
    “Dah malam nih!” teriak Mama lagi.
    “Ntar waa, Mam !” (Bentar lagi, Mam !)

    Tak terdengar lagi teriakan Mama. Gw pun asyik kembali bermain dengan teman-temanku yang tersisa 3 orang. Memang hari sudah malam, tapi teman-temanku masih ingin melanjutkan game terakhir kejar-kejaran.

    Gw pikir tak masalah juga kalau pulang malam sedikit, karena rumahku persis di samping gang, yang dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak-anak setiap sore hari. Mulai dari kejar-kejaran, lompat tali, lompat tinggi, sampai kelereng dan judi kecil-kecilan dengan kartu. Dan gw sendiri amat sangat menikmati semua permainan yang ada, maklumlah, namanya juga anak-anak. Kadang saking asyiknya main gw sampai lupa bikin pe-er, karena kuanggap cetek (gampang). Kadang juga saking asyiknya main gw tak perduli lagi dengan luka-luka di lutut dan siku akibat sering jatuh.

    Udah ah, dah gelap, esok ja’ kite maen agi’!” (Sudah malam, besok saja kita main lagi) kata Kundil yang anak Melayu.
    Teman-teman pada bubaran, gw pun akhirnya terpaksa pulang. Gw baru tersadar juga Mam pasti marah besar dari tadi gw cuekin panggilannya.

    “Tok tok tok !” dengan perlahan gw mengetuk pintu belakang rumah, yang bisa langsung akses ke gang. Beberapa kali gw ketok, pintu tak dibuka.
    Mam, khui meng a! Wa teng lou!” (Mam, buka pintu, saya sudah pulang !) akhirnya gw coba manggil lebih keras, takutnya Mam tak dengar.

    Tiba-tiba pintu terbuka. Dengan tenangnya gw melangkah masuk. Tanpa terkira tanpa disangka tiba-tiba, “Dar! Dar! Dar!”

    what did happen next?
  • Jeruju part.3

    Mam muncul dari balik pintu sambil melecut rotannya.
    “Ampun . . .!” Dar ! “Mam ! Ampun . . . ! ” Dar! Dar! Dar!
    “Rasakan nih!” Dar! “Dari tadi dipanggil tak mau pulang. . . “ Dar! “Makan nih rotan!”
    Hu hu hu . . . ,” tangisku sambil berusaha menutupi tubuhku dengan tangan. Kusambar majalah Bobo kesayangan gw sebagai tameng. Tapi semua usahaku sia-sia, Boboku sobek-sobek tak karuan, tanganku penuh dengan garis-garis merah kehitaman dan darah keluar dari beberapa bagian kulit yang sudah sobek, akibat pukulan rotan berkali-kali.

    Hu hu hu... ku ku em ka, Mam!” (Lain kali tak berani lagi, Mam!)
    “Rasakan ! Rasakan !” Dar ! Dar ! Dar !
    Pukulan masih bersarang di tubuhku sampai akhirnya Mam sendiri mulai kelelahan dan berhenti. Sambil terengah-engah Mam memandangku sedih.

    Diriku meringkuk di sudut dapur seperti tikus ketakutan yang tak berkutik. Badanku seperti zebra yang terluka, namun garis-garis badannya berwarna merah darah yang tidak beraturan arah dan alurnya.

    “Sudah berapa kali Mam panggil le (kamu), kenapa le tak mau pulang? Mam sedih melihat le begitu membangkang, nanti adik-adik meniru le gimana? Le kan tuahia (abang tertua), dah seharusnya patuh ama pe bou (orang tua). Udah, ga boleh nangis lagi! Pria sejati pantang meneteskan air mata, sesulit dan sesusah apa pun kondisinya mesti tegar!”

    Gw tak menjawab. Gw tak bisa bangun, badanku terasa sakit semua. Hidungku meneteskan ingus basah. Air mataku telah kering. Gw memang tak bisa menangis lagi.

    Kenapa Dikau begitu keras, Mam?
    Perlukah anak laki-lakimu dididik sekeras ini?
    Apakah jadi anak tertua mesti diperlakukan seperti ini?
    Siapakah orang jahat yang telah tega memberikan rotan kepadamu Mam, yang digunakan untuk memukul diriku?


    Badanku memang terluka, tapi hatiku jauh lebih terluka dan terus meneteskan air mata. Air mata hatiku terasa dingin, sedingin es, membuat hatiku menjadi istana beku bagi wanita!
  • Kupandang serpihan ini yang semakin memudar, bayang-bayangnya di jendela terhapus oleh aliran air hujan yang deras, membawa pergi kenangan tak terlupakan saat aku masih kelas 1 SD dan tinggal di daerah Jeruju, pinggiran Pontianak.

    Aku berjalan kembali ke tepi tempat tidur, di mana netbook-ku menemani keponakanku yang sedang tertidur pulas, setelah minum obat yang diantarkan perawat. Suasana Rumah Sakit Anugerah Bunda memang sangat tenang dan nyaman, sehingga keponakanku yang terserang muntaber semakin membaik. Sudah 2 hari penuh aku ikut menjaganya. Kini saatnya aku meneruskan kembali kisahku.

    Ketika kupandang layar netbook, serpihan lain bermunculan lagi, bahkan 2 sekaligus !
  • sTaLk3RsTaLk3R Posts: 436
    feffendy menulis:
    Ketika kupandang layar netbook, serpihan lain bermunculan lagi, bahkan 2 sekaligus !

    ape tuuh? :roll:
  • Arth4Arth4 Posts: 1,229
    feffendy menulis:
    Breaking info :

    Lan Kwai Fong berisi pic2 co Thai bugil, tampaknya replikasi dari majalah di Thai yg diterbitkan kembali di HK. Isinya sebagian besar bisa kita dapatkan juga di situs gay Thailand tempo dulu seperti go.to/tguy. Co2 yg ditampilkan tampan, atletis dan seksi.

    Yiling berisi pic2 co Tionghoa bugil, ditampilkan sendirian atau bersama2. Ga ada adegan ml, jadi burungnya yg rata2 ga disunat jg letoy semua he3... Dilengkapi dengan banyak artikel dengan tulisan Hanzi tradisional.

    Xiongfeng atau Allguy juga berisi co lokal HK, juga berisi banyak artikel. Namun sayangnya memang co yg ditampilkan kalah cakep dibanding dengan co Thai.

    Ho.... baru tau...hihihi bisa langganan dari indonesia gak yah ?!?!

    Btw ceritanya bagus bang !!!




    regards
    ~ART~
    z1.gif
  • sTaLk3R menulis:
    Nah inniih... Bahasanya lugas dan jelas...
    Lalu terdapat alinea...
    Pemisahan Dialog...
    Subjek dan Objek yang jelas...
    Cetak miring...
    Bagus bGt...

    Biar Pendek postingnya, tapi rapi. :wink:

    Dear Stalker, terima kasih pujiannya :D
  • elokahida menulis:
    feffendy menulis:
    Stallion muda gagah perkasa,
    tenaga besar nafsu membara,
    tiada lawan mampu menghadang,
    koboi ditendang, palang diterjang.


    Mungkin puisi di atas bisa menggambarkan kondisiku saat itu. Horni banget! Ada 3 majalah masih terbungkus plastik yang bikin gw penasaran setengah mati. Tempat manakah yang aman untuk menikmatinya?

    “TING! TING! Toilet mall!” bola lampu pijar muncul di atas kepala seperti kartun Lang Ling Lung di album Donal Bebek.

    Dalam hitungan detik gw dah ada di dalam toilet di mall puncak bukit.

    Kantong plastik kuremas-remas.
    Kertas kubolak balik dengan keras hampir lepas-lepas.
    Semua keindahan Timur telah di-scan sesuai dengan aslinya ke otakku puas-puas.
    Koneksi antara tangan, batang dan gairah menghasilkan muncratan dan tembakan bebas lepas.
    Akhirnya gw tersenyum dengan lemas, mas, maaaaas......
    :lol: :lol: :lol:

    NAH!!!...
    Ini dia,salah satu cerita yang menurutku SANGAT LAYAK DIBACA alias BAGUUU...S BANGET!

    ceritanya KOMPLIT...PIT...PIT...

    yang bikin aku MAKIN SALUT adalah PENCERITAAN tentang ADEGAN "PORNO" yang ditulis dengan cara CERDAS.
    GAK HARUS VULGAR!!!

    pERTAHANKAN YA MAS.

    Dear Elokahida, terima kasih pujian dan dukungannya :D
  • sTaLk3R menulis:
    feffendy menulis:
    Ketika kupandang layar netbook, serpihan lain bermunculan lagi, bahkan 2 sekaligus !

    ape tuuh? :roll:

    Dear Stalker, ditunggu aja ya kelanjutannya... Gw sekarang masih sibuk banget he3.... :D
Sign In or Register to comment.
Mengapa saya GAY?
Say hello with BoyzChat!
Besarkan

*klik 'refresh' untuk lihat pesan baru

Hebohkan di Twitter :

 Langganan RSS

BoyzForum Hot Topics!

Kirim ke email saya

Kontak admin@boyzforum.com

Review http://www.boyzforum.com on alexa.com
Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.