BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Vision

Mau berbagi cerita disini xD, udah lama ga main disini hwhw.
Ini cerita sebenernya gue post di wattpad, tapi yang baca kaga ada jadi gue post disini aja sapatau ada yang baca. y g ?
btw this my wattpad https://www.wattpad.com/user/butbecause

-----------


Masih bersiteru dengan Laptopnya.
Hari ini, dia sedang menyendiri di cafe. Matanya sibuk menatap layar, tangan tidak berhenti mempermainkan 'tikus' dan papan ketik-nya. Huruf demi huruf tersusun menjadi kata, yang kemudian tumbuh menjadi kalimat dan besar menjadi paragraf. Alurnya tidak selalu lancar, beberapa kali salah dan kemudian hapus. Seperti itulah kegiatannya saat setelah sampai di cafe 4 Jam lalu.
Sekarang adalah Senin, dia seharusnya berada dikantornya hari ini. Tetapi dengan tidak peduli pada padatnya pekerjaan di hari Senin, diabaikanlah tugas tersebut untuk hari esok saja. Karena harus mengejar gelar 'Sarjana' lah maka dia berani.

'Drrrtttt,drrrrttt' suara getar yang dihasilkan oleh ponsel pintarnya. Ada panggilan masuk.

"Halo, iya kenapa?" Tembaknya.
~
"Oh, iya masih gue kerjain.
Ini gue lagi kerjain, gue ambil cuti buat ini tugas.
Sial emang tuh dosen." Balas dia dengan cukup kesal.
~
"Lu udah selesai ?
Belum juga kan ?" Balas dia kali ini dengan bertanya balik.
~
"Oh yang itu, iya..." dia menjelaskan apa yang ditanya oleh si lawan bicara.

Dengan tanpa sadar suaranya cukup keras, tidak terlalu nyaring memang. Tapi cukup di dengar oleh mereka yang sedang berada di cafe tersebut. Bahkan, yang baru masuk cafe langsung memusatkan pandangan ke padanya karena cukup terkejut dengan suara yang sangat jelas itu. Reaksi mereka berbagai macam, ada yang menahan tawanya, ada yang acuh, melirik atau menengok sesekali karena penasaran apa yang dibicarakan sampai semenarik itu, dan bahkan ada yang cukup terganggu walau berusaha tidak peduli.
Cukup lama pembicaraannya lewat ponsel pintar berlogo buah yang sudah digigit itu.
"Ok deh siap! Semangat ya lu! Biar bisa lulus bareng kita!
Sip!"
Penanda sebagai penutup pembicaraannya tadi yang bahkan hampir semua yang ada di cafe tahu apa yang dibicarakan.

...

Masih dengan aktivitasnya yang sama, dia masih menghasilkan suara yang cukup banyak dari pertemuan jemari dengan papan ketiknya.
Pekerjaannya hampir selesai, tapi bukan berarti benar. Saat sudah sampai bagian tertentu, kadang dia baru sadar bahwa ada bagian yang salah pada bagian sebelumnya. Dia bukan orang yang mengkoreksi salahnya saja, tapi dia menghapus sampai bagian yang salah tersebut. Jadi dia bisa mengoreksi lebih leluasa dan melanjutkan bagian yang lain. Memang kurang tepat dan tidak cepat jika melakukannya seperti itu. Tapi itu adalah caranya untuk mengkoreksi sampai tidak ada yang salah.

Sudah lebih dari 2 jam lalu dia menerima panggilan dari temannya, bahkan sekarang jam makan siang sudah hampir selesai. Dia tidak menyadari bahwa 1 jam terakhir cafe yang dia berada tersebut ramai dan hampir penuh, karena memang sifatnya yang cukup cuek.
Saat jam makan siang semua meja diisi oleh para pekerja kantor disekitar cafe tersebut untuk beristirahat dan bersenda gurau sebentar, biasanya cafe akan penuh saat pukul 12.25 dan mulai sepi kembali 1 jam setelahnya. Pada setiap meja terdapat 2 sampai 4 kursi, semuanya diisi oleh mereka yang butuh nutrisi tambahan untuk bekerja sampai sore hari nanti.
Dia duduk di meja yang hanya terdpat dua kursi, dan hanya kursi itu yang kosong. Karena orang lain lebih memilih tempat yang lain daripada harus duduk berhadapan orang yang tidak dikenalnya.
Beberapa orang sudah ada yang selesai dengan hidangannya dan langsung meninggalkan tempatnya, tapi ada juga yang baru datang. Ya, karena jam Istirahat tidak semuanya sama untuk perkantoran, cukup fleksibel memang.
Waktu berlalu, keadaan cafe mulai sepi kembali. Tapi, tiba - tiba saja ada seorang pria yang menempati kursi didepannya. Dia belum menyadarinya karena masih sibuk dengan yang ada di laptonya, pria tersebut pun tampak santai walau sebenarnya dia bisa duduk di tempat lain.
Dia sesekali mencoba untuk melihat wajah pria di depannya itu. Tapi, pria itu masih sibuk membaca buku menu yang menutupi hampir 3/4 wajahnya.
Dia pun tidak terlalu memperdulikan pria tersebut, walau ada fikiran yang terlintas untuk meminta pria itu pergi.
Tanpa peduli lagi dengan pria yang masih sibuk dengan buku menunya, dia melanjutkan tugasnya dengan cukup tenang dan berusaha untuk tidak terusik dengan pria di depan.
Tapi, beberapa menit berlalu dia menjadi grogi dan sesekali melirik ke ponselnya. Pikirannya tidak fokus pada apa yang dikerjakan, walau sebelumnya dia tampak santai.
Dia penasaran dengan pria didepannya, sebelumnya dia sesekali melirik dan mulai tidak fokus dan memaksakan memaku pandangan dan fikiran pada tugasnya.
Dia pun mencoba memejamkan matanya untuk menenangkan fikirannya sebentar, lalu menghela nafasnya. Dengan hitungan detik, dia langsung menegakkan lehernya meluruskan padangan ke pria didepannya dan menaham nafas untuk beberapa detik. Belum ada yang disadari, sampai pria tersebut selesai dengan hidangannya dan mengakkan kepalanya juga.
Suasana menjadi berubah ketika pandangan mereka yang hanya terhalangi kacamata yang dipakai pria itu bertemu.
Matanya terbelalak, menyadari siapa yang ada didepannya. Matanya terus terkunci dengan mata si pria yang juga tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Pria tersebut memasang senyum pada wajahnya, senyum yang sama seperti dulu. Raut wajah dia masih sama, cukup kaget dan dengan pandangan mata yang mulai kabur.
"Apa kabar ?" Ucap si pria dengan maksud merubah suasana canggung itu.
Dia mengedipkan matanya agar pandangannya tak lagi kabur, mencoba untuk menyadarkan diri pada pejaman mata yang hanya sepersekian detik tadi.
"Baik." Balasnya, cukup dijeda dengan kecanggungan
Si pria hanya membalas senyum dari jawaban itu, senyum yang hangat walau wajahnya terlihat kelelahan.
"Kamu ?" Potong dia.
Si pria masih dengan senyumnya dan belum ingin menjawab. Suasana masih cukup canggung dan hening, sampai dia memotong lagi. "Sudah lama ya."

-Bersambung-

Komentar

  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    di lanjut ... jadi penasaran ...
  • BananaflaBananafla ✭ Bronze
    Masih hening dalam tatapan 1 sama lain. Suasana kafe sudah mulai redup dari bisingnya mereka yang lapar. Tidak ada yang memperhatikan mereka berdua, 2 orang pria yang sedang saling tatap namun terhalang kacamata pria yang terlihat lebih dewasa itu. Mungkin pada setiap pandangannya ada siratan yang ingin disampaikan, mereka baru bertemu setelah 4 tahun tidak berkabar. Pertemuan yang tidak pernah diduga sama sekali, pertemuan yang bahkan tidak ingin diharapkan lagi, pertemuan yang seharusnya tidak  perlu terjadi saja. Tapi Tuhan selalu punya rencananya sendiri, tidak perlu ditanyakan kenapa lagi karena ini adalah Takdir dan kuasa dariNya.

    "Maaf.." Dengan tiba - tiba si Pria berkacamata memecah hening.
    "..." Dia masih diam, belum bisa menenangkan pikirannya.
    "Maaf, Aku harus kembali bekerja. Sampai ketemu lagi ya." Kata si Pria diakhiri dengan senyum ramahnya dan menepuk kepala dia sekilas lalu beranjak pergi.
    Dia tersadar setelah kepalanya ditepuk oleh pria tadi, dia menatap pria itu menjauh dari mejanya. Pria yang dia kenal dulu sekali, Pria yang namanya dijadikan kata sandinya, Pria yang membuat dia bercita - cita kembali, Pria yang membuat dia hangat kala itu, Pria yang membuatnya percaya diri, dan Pria yang membuat dia melangkah sampai sejauh ini. Pria itu adalah Edwin, seorang yang dia kenal sudah lama sekali dan dia cintai bahkan sampai saat ini. Walau entah rasa itu sudah membatu dengan baik dihatinya atau padam disana.
    Dia adalah seorang laki - laki, yang sedang menjalankan pendidikan Sarjananya di Jurusan Psikologi. Tahun ini adalah tahun terakhirnya, dia sedang mempersiapkan diri untuk tugas akhirnya yang sudah dia susun dan siapkan dari lama. Dia juga adalah seorang karyawan diperusahaan swasta. Namanya Bora, Laki - laki berumur 23 tahun bertubuh rata - rata pria Indonesia dengan perawakan yang cukup rapih namun kurang beraturan.

    Edwin ? Dia Pria bertubuh 5 cm  lebih tinggi dari Bora, perawakannya tampan  dan beraturan tetapi cukup mengejutkan saat bersama dia. Edwin adalah seorang yang cukup penting di perusahaan dia bekerja, pekerjaannya cukup menyita waktunya. Jarang sekali ada waktu luang baginya untuk bersantai atau berjalan - jalan. Dia Pria yang mandiri, Jujur dan berwibawa. Setidaknya begitulah gambaran Mereka, Laki - laki & Pria yang tiba tiba takdirnya bertemu kembali.

    "Ya, silahkan pergi. Sekarang bukan waktunya untuk mengobrol denganku, kamu harus bekerja, sama seperti dulu juga aku tidak masalah disini sendiri." Gumam Bora, setelah Edwin berjalan menjauh untuk kembali ke kantornya.
    "Semangat!..." Sambung Bora sambil menghela nafasnya.

    -Bersambung-



    Lanjut dikit 😬
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    oh ... cinta lama bersemi kembali ya ... ?
  • BananaflaBananafla ✭ Bronze
    > @lulu_75 menulis:
    > oh ... cinta lama bersemi kembali ya ... ?
    Bersemi kembali ??? 🤭🤭🤭 akankah ?
  • BananaflaBananafla ✭ Bronze
    > @lulu_75 menulis:
    > oh ... cinta lama bersemi kembali ya ... ?
    Bersemi kembali ??? 🤭🤭🤭 akankah ?
  • BananaflaBananafla ✭ Bronze
    > @lulu_75 menulis:
    > oh ... cinta lama bersemi kembali ya ... ?
    Bersemi kembali ??? 🤭🤭🤭 akankah ?
Sign In or Register to comment.