BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Preman Pasar : The Outside of Madness

SefaresSefares ✭✭ Silver
Hi :)

Sudah empat tahun saya berselancar di tempat ini. Saya masih ingat saat itu seragam saya masih putih biru (esempe) kelas satu dan banyak hal yang saya dapatkan di forum ini tentang pembelajaran hidup. Saya yang saat itu merasa denial akan orientasi, kini mulai bisa menerima. Akhirnya di tahun 2018 saya kembali. Saya tahu, banyak dari teman-teman saya saat itu satu per satu sudah mulai meninggalkan forum ini. Entah karena akses untuk menuju forum ini di block, atau mereka sudah punya lembaran baru di kehidupan nyata. Saya hanya ingin berkata, saya rindu. Saya rindu teman-teman saya di sini dulu. Saya rindu Andystar, Geo Micho, Onew, Nayaka, Rendi, Erick Hidayat, Dekisugi dan lain-lain. Dan sekarang saya akan mencoba mempublish cerita saya yang entah akan dibaca atau tidak. Cerita ini sudah hampir rampung. Saya hanya memublish ulang cerita ini di BF. So, enjoyed!

Bukan cerita cowok cantik.

Cerita ini akan membuat anda nangis.

Cerita ini bertema Gay.

Dilarang membuat rusuh, jika pun jari kalian gatal ingin merusuh, auto delete.

Selamat datang di cerita saya. Cerita sederhana ini hanya fiksi belaka. Cerita ini disertai unsur foto dengan tempat yang nyata. Jadi, semoga betah deh.
«1

Komentar

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    edited January 8
    Part 0

    "Tapi nggak bisa gitu juga kan, Pa. Aku masih kuliah, teman-temanku ada di sini, pokoknya aku nggak mau pindah."

    Papa memandang diriku dengan tatapan horor. "Apapun keputusanmu, Papa nggak peduli. Kalau perlu kamu Papa gusur pake tali terus Papa ikat di belakang mobil."

    Mataku menanap marah, sementara Papa masih tidak mengendurkan pertahanannya. "Aku bisa cari kerja di sini, aku nggak akan minta uang sepeser pun, jadi please aku nggak mau pindah!" Nada suaraku mulai meninggi rupanya.

    "Tapi Papa butuh kamu, curut! Sawah dan kebun yang akan kita garap memang kecil, tapi Papa sudah nggak kuat lagi! Kamu tega hah kalau Papa mati saat membasmi tuh ulat bulu?"

    Mataku melunak. Papa memang bukan Papa kandungku, tetapi aku sangat menaruh hormat padanya. Keluargaku telah meninggal beberapa puluh tahun silam dan Papa adalah orang asing yang rela memungutku dengan penuh kasih sayang.

    "Kalau Papa mampu, Grey. Papa nggak akan ragu membelikanmu planet Pluto. Tapi saat ini Papa nggak punya uang. Papa di PHK, rumah akan disita karena Papa tak mampu membayar hutang dan sekarang harta paling berharga yang Papa punya ya kamu."

    Pertahananku runtuh. Bukannya Papa mengada-ngada, meskipun umur Papa masih kepala 3--kalau nggak salah 1 minggu lagi umur Papa 39 tahun--kemudian Papa memiliki tubuh tegap bak binaragawan, tetapi kemampuan berjalan Papa mengendur sejak kecelakaan motor yang menimpa Papa gara-gara ulah nakalku.

    "Ya sudah, Pa. Grey ikut Papa. Tapi beri waktu Grey satu minggu buat say goodbye ke temen-temen Grey."

    Papa menatapku dengan tampang sumringah. Dia berjalan ke arahku untuk memelukku kemudian dia mencium keningku kuat. Papa memang gitu, dia selalu saja menganggapku masih anak kecil padahal seharusnya Papa sadar otot di tangan dan perutku tidak menginginkan hal itu. Tapi ya sudahlah toh mulut Papa terlihat segar dan wangi. Nggak kayak sahabat dekatku Reyhan.
  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Bab 1 : Pergi

    Teman-temanku sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka adalah sahabat dekat yang aku punya. Biasanya kerjaan kami kalau bukan nongkrong ya membuat video gak jelas di tempat-tempat yang ada di Indonesia. Ah, aku pasti akan merindukan mereka, terutama Reyhan. Dia adalah sahabat karib sejak SMA sampai sekarang.

    Kulihat Papa sedang mengemas barang-barang di kamar. Gurat wajah lelahnya terlihat jelas oleh mataku. Ya Tuhan, aku merasa berdosa tidak bisa membantu Papa meringankan masalahnya. "Teman-temanmu sudah datang, Grey?"

    Bersamaan dengan ucapan tanya Papa, bel rumah berbunyi nyaring. "Sepertinya mereka sudah datang."

    Aku berjalan menuju pintu depan rumah dengan perasaan gugup. Bagaimanapun juga mereka harus tahu kebenaran kepindahanku. Tetapi ... ya Tuhan! Bagaimana aku harus memulainya? Aku tidak pernah membicarakan masalah pribadiku pada mereka. Jadi tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk pacarku sendiri, Aura. Mereka pasti marah. Itu pun jika mereka merasa kehilangan atas kepergianku. Shit. Akan langsung kupukul muka mereka satu-satu kalau mereka berkata, 'Pergi sana, ada tidaknya kamu di geng kita, nggak akan berpengaruh apa-apa.'

    "Halo sayang," kata Aura. Dia langsung nyelonong masuk tanpa permisi.

    "Ada apa, Grey? Ganggu saja kamu. Aku kan lagi ada tugas menyelidiki alat kelamin putri duyung. Pokoknya karena kamu sudah ganggu aku, kamu harus membantu, awas saya ya kalau nolak." Reyhan, pria yang mempunyai mulut kayak Ema-ema ini mengikuti langkah Aura. Sisanya adalah teman-temanku yang lain. Ada Rizky, Angga, Bima, Dewi, Anggun dan Dimas. "Motor kamu di mana? Kok nggak ada di depan," lanjutnya.

    "Langsung ke kamar aku saja. Oh ya, Rey, bantu aku bawa makanan di dapur."

    Rey memandang diriku bosan. "Awas saja kalau nggak ada keripik pedas buatan ayah kamu."

    Senyumku mengembang. Justru keripik pedas itu ada lima keler, sengaja ayah siapkan buat salam perpisahan. Oh ya, aku juga menyuruh Angga untuk membantuku membawa makanan. Dia adalah ketua senat di kampus. Tubuhnya kerempeng, kulitnya coklat bersih dan matanya sipit kayak pantat bayi. Dia tidak terlihat mengkhawatirkan di bulan puasa. Tapi meskipun begitu, Angga memiliki jiwa pemimpin yang sangat hebat.

    Sesampainya di kamar, mereka semua memandangku bingung. "Barang-barang kamu kok tinggal dikit? Poster cewek setengah bugil di sana ke mana? Terus akuarium kecil di sana ke mana? Ish, kolor kamu yang ijo itu masih ada. Buang ke tong sampah apa susahnya sih, Grey. Mana sudah bolong-bolong lagi," ucap Dewi.

    Aku tidak menjawab pertanyaannya. Lagi pula aku bingung harus menjawab pertanyaan pertama dia. Barang-barang itu sudah aku jual, daripada menambah rentetan pertanyaan yang lain, lebih baik aku diam saja.

    "Jadi sekarang kita mau ngapain?" tanya Aura.

    "Main King and Queen!"

    "Ya ampun jadi kamu maksa kita ke sini cuma mau ngajak main King dan Queen sialan itu? Tapi boleh juga sih. Aku lagi pengen makan yang pedes-pedes. Jadi, kenapa kita harus memainkan permainan itu?"

    Dahiku berkerut ke atas. "Errrr ... buat ... seru-seruan, lah."

    Aura memicingkan matanya 5 detik kemudian mengedik tidak peduli.

    Permainan King and Queen adalah permainan untuk memperebutkan posisi raja. Ketika permainan selesai, akan ada pemenang yang mempunyai gelar raja. Raja itu bebas meminta apapun yang dia minta. Itu mengapa, aku berharap aku memenangkan permainan ini, berharap mereka mau mendengarkan dan menerima keputusanku--khususnya Aura.

    Cara bermainnya cukup mudah. Permainan ini diciptakan oleh kami dengan tujuan menyiksa pemain. Tahu ular tangga? Yes! King and Queen adalah permainan ular tangga, tetapi kami buat banyak ularnya. Setiap ada pemain menginjak ular, dia harus turun lalu makan keripik pedas sesuai baris yang dia lewati ketika turun. Lalu apa maksudnya kata Queen dalam permainan ini? Oh percayalah. Dia hanya numpang nama! Reyhan tidak mau menyebutnya permainan ular tangga. Dia ingin menyebut permainan ini King and Queen supaya kesannya lebih keren gitu.

    Sontak kami semua duduk melingkar. Aura memandang tumpukan keripik pedas itu dengan tatapan horor. "Siap?" kataku. Mereka semua mengangguk. "Baiklah ... ayo kita mulai."

    Aku kebagian melempar dadu terakhir. Reyhan sangat menyukai permainan ini karena dia suka makanan pedas. Aku? Sejujurnya aku nggak suka. Makanan iblis itu selalu membuat perutku mulas dan mencairkan benda lunak panjang yang keluar dari pantatku. Ah ... semoga saja kali ini perutku bisa dikompromi.

    "Ya ampun aku turun tiga baris!" seru Dewi. Hukumannya, dia harus makan tiga kali kunyahan keripik pedas level dewa buatan Papa.

    Tiga puluh menit pun berlalu. Mulutku rasanya sudah kebakar. Permainan ini memang sedikit gila. Selain banyak ularnya, Reyhan membuat 5 kota di depan raja penuh dengan ranjau ular. Mending kalau turun 2 atau tiga baris. Tapi nyatanya? Turun sampai ke baris paling bawah! Hukumannya? Dua kali lipat. Baris permainan ada lima. Itu berarti, harus makan 10 kali kunyahan. Dan hal itu terjadi padaku.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Bab 1.1 : Pergi

    "Kamu pasti curang ya!" seru Dewi sedikit keras.

    Yes! Sedikit lagi aku menang. Aku mengambil dua buah dadu itu kemudian mengocoknya pelan sampai keluar cairan kental berwarna-lupakan. Ngomong-ngomong kudaku sekarang ada di kotak yang sama dengan Reyhan.

    "Haha yes! Kamu belum saatnya menang sayang," balas Reyhan. Sial! Dia menang.

    Permainan telah usai. Kami yang kalah harus memakan keripik pedas itu kemudian harus mengabulkan permintaan yang menang.

    "Gue sebenarnya gatal ingin bertanya, jadi sekarang saja deh. Kamu harus jawab jujur, ada apa sebenarnya? Lo ngebuntingin si Aura?" tanyanya membuat tanganku impuls meninju baju cekingnya.

    Baiklah mungkin ini saat yang tepat. Padahal, harusnya aku langsung bilang saja. Tidak usah ada drama. Drama itu membuat seorang pria kehilangan kejantanannya, lho.

    "Aku akan pindah rumah," kataku.

    "Gitu doang? Oh aku tahu! Jadi kamu ingin kita bantu-bantu membereskan rumah kan? Pantas saja barang-barang di kamar kamu pada ilang," sahut Dewi.

    Reyhan masih memandangku lekat. Aku tahu dia menunggu aku melanjutkan kalimatku. Memang seharusnya begitu, dia kan sudah mengenalku cukup lama, jadi dia pasti tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu.

    "Aku akan pindah ke Bandung. Jadi-"

    "Ya ampun sayang! Kamu apa-apaan sih bercandanya nggak lucu deh!" Aura bersedekap, mulutnya bergerak-gerak, sementara kulihat teman-temanku yang lain tertawa masam.

    Dewi memukul-mukul punggung Aura pelan. "Paling dia pindah ke kompleks sebelah. Jangan percaya, Ra."

    "Pindah ke mana? Ke Bandung? Terus kuliah kamu gimana?" tanya Reyhan.

    "Aku kuliah di Bandung," bohongku. Aku terpaksa melakukannya karena jika aku jujur soal masalah keuanganku, pasti Aura bersikeras akan membantuku. Juga dengan teman-temanku yang lain.

    Reyhan tertawa masam kemudian duduk di atas tempat tidurku. Seketika suasana berubah menjadi hening. Sementara Aura, kulihat pacar kekanak-kanakanku itu matanya berkaca-kaca. Aku memeluknya, meyakinkan sekaligus memberitahunya bahwa aku sedang tidak bercanda. Ketika kukatakan, "Aku sayang kamu, Ra. Kamu sudah tahu itu kan?" Tangisnya pecah.

    "Jadi ini salam perpisahan dari kamu?" tanya Dewi pelan.

    Aku mengangguk. "Apa alasannya?" tanya Bima.

    "Ayahku dipecat. Ayah masih punya ladang dan kebun di kampung, jadi kami berdua akan tinggal di sana."

    Aura semakin erat memelukku. "Tapi kamu bisa ngekos di sini-"

    "Aku nggak bisa!" ucapku nyaris berteriak. "Kamu tahu kan keadaan ayahku? Untuk naik tangga saja beberapa kali terjatuh, apalagi kalau harus mengurus ladang." Hening. "Dia ... satu-satunya keluarga yang aku punya."

    Reyhan bangkit, bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. "Kalau begitu, kita akan merindukanmu, badebah! Haha. Apalagi yang perlu dibereskan? Melihat runah ini hampir kosong, besok pastu berangkatnya ya?"

    "Terimakasih. Kukira, akan berjalan penuh drama kayak di teve," balasku sambil tertawa. "Sudah dong jangan nangis. Kamu kan masih bisa kirim surat."

    Bima dan Dewi tertawa renyah. "Drama kayak gimana maksud kamu? Haha sudah jelas bukan kami sedih dan ... sedikit syok. Cuma aku bingung harus bersikap gimana. Aku kesal juga sebenarnya. Tapi aku nggak mungkin ngelarang kan? Kamu memang harus ikut. Kasihan Ayah kamu. Kapan-kapan kami pasti akan mengunjungimu ke sana, jadi jangan lupa keripik singkongnya!" sahut Dewi panjang lebar.

    Bima menepuk bahuku dan bahu Aura. "Lagi pula aku pernah mengalami hal seperti ini. Sialnya dia pindah rumah tanpa memberi tahuku, bahkan sekarang aku nggak tahu dia ada di mana. Jika kamu memberitahu kami, berarti kamu menganggap kita adalah teman. Benar-benar teman."

    "Nah ini ini yang aku maksudkan dengan drama haha."

    Aura mulai melepaskan pelukannya. "Grey," katanya pelan. "Jangan selingkuh! Awas ya kalau aku memergoki kamu sedang berduaan sama tante-tente yang kulitnya liat kayak daging tapir."

    Syukurlah mereka mau melepasku. Namun kurasa tidak semuanya, ketika aku menangkap Reyhan hari ini banyak diamnya padahal mulut dia kayak Emak-emak, aku pun tahu satu hal : dia melarangku pergi.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Kota Berkabut #1

    Kupandangi sekali lagi gurat wajah Ayah. Dia sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca bus. Sudah hampir empat jam berlalu, dan kami masih ada di tengah perjalanan. Sebenarnya aku juga ngantuk, tetapi rasa kantuk itu mendadak hilang ketika pikiranku teringat kembali perkataan Reyhan.

    Kamu sahabatku, Grey. Kamu boleh bilang aku kolot atau semacamnya. Tapi bagiku kamu adalah sahabat sekaligus keluarga buatku. Sekarang aku harus ke mana jika Ibu dan Ayahku memukulku lagi?

    Argh!

    Aku mendiamkannya saat itu. Aku membiarkan dia menumpahkan semua unek-uneknya. Setelah dia tenang, aku berkata, "Masih ada mereka. Aku yakin mereka bisa meringankan masalahmu seperti yang selalu aku lalukan."

    Reyhan mengangguk. Wajah cerianya langsung menghilang saat itu juga. Satu-satunya hal yang meringankanku saat ini adalah wajah Ayah. Ketika melihatnya lelah, aku tahu tak ada yang lebih penting di dunia ini selain menjamin kebahagiaannya.

    Sore berubah menjadi malam. Aku memang pergi sekitar jam 2 sore. Ketika bus sampai di Ledeng kami turun kemudian melanjutkan perjalanan naik angkot.

    "Ayah masih merasa nggak enak sama kamu, Nak." Ini adalah kalimat pertama yang ayah lontarkan padaku sejak keberangkatan kami.

    Aku memandang mata hitammya. Oh, dan juga rambut yang mulai memutihnya. "Rambut ayah sudah mulai memutih?" tanyaku sambil terkekeh.

    "Itu tidak menjawab pertanyaan Ayah."

    "Tapi itu juga tidak menjawab pertanyaan Grey." Kami berdua saling pandang kemudiam tertawa.

    Tepat jam 8 malam kami sampai. Macet yang membuat kami berlama-lama di dalam perjalanan. "Ini daerah Cikidang, Grey. Dulu ayah dibesarkan di sini." Aku manggut-manggut. Ayah mendorong koper miliknya dengan langkah tertatih-tatih.

    "Sini biar Grey saja yang bawa." Kami memang tidak membawa banyak barang. Sisanya dibawa menggunakan kol buntung milik Bima. "Suhu di sini dingin banget ya, Yah. Padahal Grey sudah pakai jaket tebal."

    "Memang dingin sekali, Grey. Apalagi kalau hujan sudah turun di malam hari. Selimbut tebal sekalipun tidak bisa membuat tubuhmu hangat." Sekarang kami memasuki jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh dua motor. "Tapi di pagi hari," katanya. "udara di sini sejuk sekali. Tidak dingin tidak juga panas. Ayah yakin kamu akan segera terbiasa."

    Lagi, aku manggut-manggut. Udara sejuk memang susah ditemukan di Jakarta. Kalau begitu baguslah. Aku pasti akan betah tinggal di tempat dingin seperti ini. Terlebih meskipun gelap, aku banyak melihat bukit dan gunung berjajar membentuk deret melingkar. Pasti di siang hari pemandangan di tempat ini indah sekali.

    Akhirnya sampai juga di rumah baruku. Kulihat cukup besar, tetapi karena tidak terawat, jadi terlihat kumuh dan kotor. Terasnya masih disemen, dindingnya berwarna abu-abu muda, dan ketika aku masuk ke dalam, hampir 80 % rumah ini terbuat dari kayu.

    "Kamu nggak masalah kan tinggak di tempat seperti ini?" Ayah memandangku khawatir.

    "Maksud Ayah apa? Tinggal di gubuk tua pun Grey nggak masalah. Ya Tuhan, kumohon Yah, jangan mengkhawatirkan Grey, nanti sakit kepalanya kambuh lagi, lho. Asalkan Ayah nggak meninggalkan Grey, Grey nggak masalah."

    Ayah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha untuk pertama kalinya kamu bilang gitu ke ayah." Mendengar Ayah berucap hal memalukan kayak barusan, kurasa wajahku memerah kayak tomat. "Kamar di rumah ini ada dua. Silahkan pilih kamar yang menurutmu bagus. Atau kamu mau tidur bareng sama Ayah?" Mata Ayah naik turun dengan pandangan mesum.

    Aku misuh-misuh. "Ayah apa-apaan sih. Aku kan sudah gede masa tidur bareng sama Ayah?"

    "Sudah gese tapi takut cemeti dewa?" Ayah terkikik.

    "Apaan tuh?"

    "Kamu ini masa cemeti dewa saja nggak tahu. Itu lho, petir."

    Aku mendesah. "Itu lain lagi ceritanya. Lagian wajar lah manusia takut petir. Bunyinya kan bisa membuat manusia—"

    "Alesan!"

    "Ya sudah jadi nggak akan sekamar sama Ayah?"

    "NGGAK!"

    "Ya sudah. Tapi kamu nggak takut hantu juga kan?" Sial! Mulai keluar deh sifat jahil ayah. Seharusnya sekali-kali aku jahili balik, misalnya menyembunyikan kancut Ayah saat dia sedang tidak ada. Biar tahu rasa! Penderitaan pria tidak pakai kancut kan lumayan menyiksa. Si otongnya jadi gubal-gabel bak penari tiang.
  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Kota Berkabut #2

    Aku memilih kamar paling belakang dengan jendela menghadap ke pekarangan belakang rumah. Kurasa aku akan membereskan barang-barangku besok pagi. Sekarang aku ingin tidur, atau setidaknya istirahat rebahan di atas kasur terbuat dari dipan berwarna coklat tua ini.

    Tanpa kusadari jam menunjukan waktu tengah malam. Aku masih terjaga. Apa yang sedang dilakukan teman-temanku ya? Lalu kulihat kalender yang menempel di samping lemari. Sabtu, 03 Januari 1998. Sungguh awal tahun yang penuh kejutan.

    Aku menggeragap bangun dari tempat tidurku kemudian mematikan lampu temaram yang sejujurnya tak mampu menerangi seisi kamar ini barang setengah bagian pun. Tak masalah. Aku suka. Atau lebih tepatnya, aku berusaha menyukai tempat ini.

    Ketika lampu mati, aku pun bisa mengistirahatkan tubuhku. Pukul 6 pagi Ayah membangunkanku. Katanya, di hari pertama bukan waktunya diriku untuk malas-malasan di kamar. Aku harus membereskan barang-barang di koper, sarapan pagi, lalu setelahnya bertegur sapa dengan warga kampung.

    Bertegur sapa? Ya Tuhan, aku paling malas melakukan hal itu. Bukan karena aku tidak suka mereka, tetapi ... aku tidak mau saja. Aku hidup dan dibesarkan di kota jadi mana bisa aku berinteraksi dengan mereka? I mean, aku takut kebiasaan tingkah lakuku dan kebiasaan mereka  berbeda sehingga aku akan dikucilkan di sini.

    "Nasi goreng spesial buatan Ayah sudah jadi!" serunya dari dapur. Aku tertawa pendek. Daripada menjadi sosok seorang Ayah, aku lebih sering menjadikannya sebagai sosok seorang Kakak. Umurnya masih muda, sih. Lalu tingkah hiperaktifnya.

    Aku makan nasi goreng buatan Ayah dengan lahap. Sejak dari Jakarta sampai Bandung memang aku belum makan secuwil nasi. Ditambah masakan Ayah kan nggak ada duanya. "Kepedesan, Yah," kataku.

    Ayah terkekeh. "Sengaja. Coba punya Ayah nih." Ayah menyodorkan nasi gorengnya. Pas.

    "Ayah curang!" Tawanya memyembur saat itu juga. Aku berusaha menukar nasi goreng di piringku dengan piringnya, sialnya tangan Ayah gesit menghindar.

    Baiklah tak masalah. Lagi pula perutku sudah kebal sejak aku sering memainkan permainan ular tangga biadab itu.

    Setelah makan, Ayah memang benar-benar mengajakku keliling kampung. Ketika kakiku melangkah keluar dari pintu, mulutku dibuat menganga melihat kabut tebal menyelimuti perumahan di pedesaan. Kabut berwarna putih ini terasa dingin ketika menyentuh wajahku. Lalu kulihat jaketku, di sana banyak bulir-bulir kecil yang jika kusentuh, telapak tanganku langsung basah. Ini tempat yang hebat! Jadi, sampai sisa umurku habis, aku akan tinggal di sini?

    Ayah menunjuk kebun tidak terlalu besar di depan rumah. Meskipun tersamarkan oleh kabut, aku bisa melihat dengan jelas gundukan tanah yang menyembul, sepertinya baru ditanami benih memandang ke arah pohon besar yang terlihat aus dimakan usia.

    "Pohon itu sudah lama ada ya?"

    "Dari mana kamu tahu?" tanya Ayah. "Memang benar. Pohon itu sudah ada sejak Ayah kecil. Mungkin juga, sudah ada sejak Nenek masih bayi."

    Kami segera pergi menembus kabut di depan kami. Aku semakin mengeratkan jaketku, dingin yang tadinya tidak seberapa kini semakin menghujami tubuhku. Kabut masih tebal menutupi. Namun aku tahu, seiringnya matahari bergerak, lamat-lamat kabut mulai menipis.

    "Jadi kita mau ke mana?"

    "Kita akan pergi ke warung makan kesukaan Ayah, sekaligus menemui sahabat Ayah dulu."

    Aku mengernyit. "Bukankah kita sudah makan ya?"

    Ayah menatapku dengan alis terangkat. "Memangnya siapa yang bilang kita akan makan?" Sebelum aku menjawab, Ayah melanjutkan kalimatnya, "Warung makan bukan berarti yang dijajakan nasi semua. Ada makanan ringan kayak ciu, combro, ranginang, sampeu, katimus, nagasari, gorengan dan banyak lagi." Dari semua kalimatnya, aku cuma tahu makanan gorengan. Selebihnya aku nggak tahu makanan apa itu.

    Tiba-tiba ...

    BRUK!

    Aku terjatuh, terjerembab ke sekokan. Seseorang telah menabrakku. Lalu setelahnya aku mendengar suara anjing menggong-gong. Tetapi bukan, sesuatu yang menabrakku bukan anjing, tetapi seorang pria yang kini sedang menindihku. "WHAT THE HELL! FUCK! SAKIT, BAHLUL!" teriakku keras. Pria yang menindihku terperanjat. Serta-merta dia bangkit, lalu setelahnya menyodorkan tangan dengan muka pias.

    "Punten, tadi aya anjing ngudak. Jadi we kuring lumpat kucar-kacir terus nabrak ... sareng saha ieu?"

    Aku menepis tangannya. Aku memang susah akrab dengan orang asing, terutama jika orang asing itu telah mencari masalah denganku. "Kamu bilang apa hah!?" Rahang tegasnya kembali menegang. Aku bisa melihat otot di lengannya karena dia memakai kaus oblong, kurasa ototku masih lebih besar darinya, lalu jambang tipisnya. Jambang itu lebih lebat dariku, mungkin sudah beberapa bulan belum dicukur.

    "Kamu teh gak bisa bahasa Sunda?"

    Malah balik nanya! Sungutku dalam hati.

    "Kamu teh Grey kan? Yang dari Jakarta itu?" Amarahku langsung terhenti saat ini juga. "Sini atuh ikut saya. Eh ada Pak Dean, punten Pak teu katinggal," ucap pria aneh di depanku kemudian menyalami ayah.

    "Ayah saya sudah nunggu dari kemarin-kamarin. Mari saya antar." Pria sialan itu pun pergi bersama Ayah, meninggalkan diriku yang sedang kesakitan dan sulit berjalan karena lututku ... berdarah!
  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Kota Berkabut #3


    Akhirnya dengan susah payah aku mengikuti pria sialan itu dari belakang. Dia sedang mengobrol dengan ayah. Kurasa mereka berdua sudah saling mengenal. Memangnya aku peduli? Yang aku pedulikan sekarang hanya satu : aku harus membalas perbuatan dia. Lihat saja nanti.

    Kabut kini sudah sepenuhnya menghilang. Sudah kuduga, pemandangan pedesaan di sini begitu menakjubkan. Sepanjang mata memandang aku melihat gunung membentuk deret melingkar, bukit dan pepohonan. Oh ya, aku juga melihat gunung batu. Lalu aktivitas masyarakat di sini mulai b erjalan. Ada yang membuka warung, pergi membawa cangkul ke kebun, ada juga anak berseragam putih merah berlarian riang di tepi jalan.

    Kami berjalan masuk ke daerah perumahan, jalan setapak, lalu sampai di rumah kecil yang bagian depannya dibuat warung. Ketika melihat kami, si mpu-nya rumah langsung menjamu kami. Sepertinya laki-laki yang sedang berbincang dengan ayah adalah sahabat lamanya.
    “Lho ini anak kamu, Dean?” pria bertubuh tambun menanyaiku.
    Ayah mengangguk. “Iya ini anak kesayangan saya.”

    “Kamu seharusnya bawa kenalkan dia sama kampung halamanmu sejak dulu.” Aku tersenyum ketika teman ayah ini tersenyum sopan. “Bersih sekali anakmu. Beda sekali sama kamu.”

    “Apep, ambilkan minum di dapur. Ambilkan juga jagung, ubi dan gula merah,” ucap perempuan berkerudung putih di depanku lembut. Jadi pria sialan yang menabrakku tadi namanya Apep? Akan aku ingat. Orang bernama Apep itu mengangguk.

    Di sini aku hanya menyimak obrolan ayah dan temannya meskipun sesekali mereka bertanya soal kehidupanku di Jakarta. “Dulu ini ayah kamu bandel lho Grey.” Baru ketika pak Ujang—teman ayah—berbicara soal masa lalu ayah, aku mulai menyimak super serius. “Dulu sekali saya sama ayah kamu sering main ke kebun orang, ngambil jeruk atau tomat di sana, padahalkan saya anaknya baik-baik. Tapi ayah kamu ini ngotot—”

    “Tapi kamu senang kan?” potong ayah.

    “Haha iya senang. Tak hanya sampai di situ, kami berdua kadang jalan sepanjang dua kilo meter demi mendapatkan buah nangka. Masa kecil kami memang ditemani oleh alam. Selain bermain, kami juga sudah mengenal kerja keras sejak kecil. Kedua orang tua kami mengharuskan kami bekerja dari siang sampai pagi, entah mencari rumput untuk makan sapi, atau mencari kayu bakar untuk keperluan di dapur.” Pantas saja lengan dan kakinya penuh tonjolan otot. Kalau aku sih disuruh jalan dua kilo meter saat umurku di bawah angka 10 pasti sudah mati di tengah jalan.

    “Kamu masih ingat nggak Jang? Saat kita disangka maling gara-gara malam-malam berkeliaran di kampung sebelah mencari kucingmu yang hilang?”

    Aku tertawa keras ketika mendengar ucapan ayah. “Serius?” kataku.
    “Ingat-ingat. Ya maklum lah itu kucing bulunya lebat kayak kaki ayah kamu, jadi kan kalau hilang sayang sekali. Lagian besok pagi tuh kucing mau aku jual ke saudagar kayak di kota sebelah. Jadi mau tidak mau saya harus mencarinya. Lalu berangkatlah saya ke rumah ayah kamu.”

    “Padahal saat itu aku sedang mimpi dapat ikan paus. Dasar pengganggu.”
    “Ya, saya mengganggu tidur ayah kamu.” Makanan yang dibawakan Apep datang. Sebelum melanjutkan cerita, pak Ujang menyuruh kami untuk menyantap makanan di depan kami. “Nah akhirnya kami pergi tuh nyari kucing. Kami mencarinya di sempanjang jalan kampung, melewati kampung sebelah, juga memeriksa setiap halaman depan setiap rumah. Kucing kan suka berkeliaran di malam hari. Sialnya, gara-gara ayah kamu ini, kami hampir digebukin hansip.”

    Aku mengambil jagung rebus lalu memakannya secara perlahan-lahan. “Pep, ngapain kamu di sini? Sana jaga warung!” titah ibunya. Dia merenggut.

    “Lalu?” kataku.

    Kali ini bukan pak Ujang yang melanjutkan cerita tetapi ayah. “Ayah melihat hewan bersembunyi di belakang pot. Ayah yakin itu kucing jadi ayah naik pagar lalu pergi ke sana. Karena ayah takut, akhirnya ayah mengajak teman ayah buat masuk menaiki pagar. Sialnya baru saja kaki kami menginjakan tanah, hansip datang sambil membawa senter. ‘MALING!’ tuh hansip beloon berteriak. Disangka maling jelas ayah kalang kabut. Akhirnya ayah lari tunggang-langgang meninggalkan teman ayah sendirian di sana. Ternyata, teman ayah juga berhasil kabur.”

    “Saya memang berhasil kabur! Tapi beberapa menit kemudian saya berhasil ditangkap. Untung saat itu saya masih kecil jadi nggak langsung dipukuli,” jelasnya.

    “Ya tapi kenapa harus menyeret namaku, hah?” tanya ayah. Aku tersenyum melihat mereka berdua. “Kan saya ke sananya sama kamu. Lagian kalau saya bohong, kata hasil itu titit saya akan langsung dipotong saat itu juga.”

    Kalimat terakhir tadi sukses membuatku tertawa terbahak-bahak. Tak hanya sampai disitu, pak Ujang juga bercerita soal kehidupan asmara ayah. Merasa terlalu membeberkan informasi, ayah mengalihkan topik menjadi pembicaraan bosan orang dewasa. Bahkan aku menguap beberapa kali saking bosannya. Sepertinya pak Ujang mengerti aku tidak tertarik dengan obrolan ini jadi dia berkata, “Apep ajak Grey keliling kampung. Dia pasti masih bingung sama lingkungan di sini.”

    For God’s sake!

    Haruskah aku menolak? Ketika aku akan berbicara, kulihat mata ayah menanap melihatku. Sial!

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Kota Berkabut #5

    Dari sini aku melihat seorang perempuan sedang berlari kecil ke arah kami. "Ren, antar Neng beli samping ke depan. Sepedanya ada kan? Yuk keburu yang jualannya pergi—eh itu siapa, Ren?"

    Gila! Ternyata benar apa kata Reno. Pacarnya cantik banget, dua kali lenih cantik dari Aura! Kecantikan dia alami, tanpa make up. Meskipun kulitnya coklat langsat, tetapi karena dia memiliki bola mata bundar dan lesung pipi di wajahmya, membuat dia nampak indah dan berkilauan. Tubuh semampainya, rambut lurus tergerainya, dan ... buah da—sudah lupakan. Aku sudah mempunyai Aura.

    "Dia teh teman saya. Kenalin, Grey ini pacar saya Enok. Dan Enok, kenalin ini teman saja Grey." Teman dari mananya!

    Kami berjabat tangan sambil melemper senyum. Eh? Kok lama banget sih. Aku bukannya tidak mau berlama-lama salaman sama dia, tapi kan aku sudah mempunyai Aura.

    "Eh eh eh kamu tangan kamu teh lepasin atuh, Grey!" kata Reno. Matanya memandangku tajam. Awalnya aku ingin berkata, 'Dari tadi sudah ingin aku lepaskan, oon!' Tapi tidak jadi karena bagaimanapun aku menyukainya.

    "Ya sudah nanti saja, No. Aku balik saja, jalannya masih ingat kok," kataku.

    Alis Enok terangkat-angkat. "Memangnya kalian mau ke mana?"

    Saat aku akan menjawab, Reno lebih dulu menjelaskan. "Kita akan pergi ke sungai. Dia itu pindahan dari Jakarta, jadi dia masih belum tahu daerah sini. Jadi—"

    "Alah siah. Gening kamu teh dari Jakarta. Pantes saja kulit kamu teh meni bodas, bersih, teu poek joga si Reno." Oke, kalimat dia banyak yang tidak aku mengerti. Kayaknya mulai dari sekarang aku harus menggunakan bahasa Sunda. "Kalau gitu saya ikut ah. Beli sampingnya nanti saja, besok lagi. Yuk!"

    "Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Nggak masalah kan?" tanyanya ke arahku. Aku menggeleng. "Kalau gitu baiklah ayo kita pergi."

    Kami bertiga pun pergi sembari mengobrol satu sama lain. Kata Enok, dia ingin sekali pergi ke Ibu Kota tapi abahnya tidak pernah mengijinkan dia. Katanya takut diculik. Memangnya penculikan hanya terjadi di Jakarta? Oh ayolah. Aku semakin memutar bola mata ketika dia terus membrondongku dengan pertanyaan muskil.

    "Itu gunung apa?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

    "Itu bukit tunggul. Kamu pengen ke sana?" tanya Reno. Aku mengangguk. "Di sana katanya banyak kera putih. Kalau kamu mau hayu sama saya dianter. Tapi jauh pisan, saya ge kadang suka nggak kuat kalau jalannya dari sini. Medannya turun naik."

    "Kera putih? Bahaya?"

    Reno mengibaskan tangannya. "Nggak kok. Tapi katanya kerjaannya suka menculik orang. Tingginya hampir setinggi manusia. Terus dia suka mengalihkan jalur pendakian biar tersesat."

    "Itu mah bahaya atuh, Ren." Aku mencoba menambahkan kata 'mah' dan 'atuh' seperti yang selalu dia lalukan.

    "Tapi kan nggak ngebunuh." Bola mataku semakin memutar.

    "Hehe nggak ah. Dia nggak ngebunuh."

    "Memangnya kamu pernah lihat?"

    Garis wajah Reno mengkerut, nampak berpikir. "Belum sih."

    "Nah jadi ...." jadi apa? Memangnya aku ingin ke sana? Reno saja bilang kadang tidak kuat apalagi aku.

    "Tapi hayulah sama saya ditemenin. Tapi berdua saja ya. Banyak yang nggak kuat soalnya. Kalau kamu nggak kuat jadi saya ngegendong kamunya nggak terlalu capek. Kan satu orang."

    Mendengarnya entah kenapa hatiku melonjak senang. Maka dari itu tanpa ragu kukatakan padanya aku ingin pergi ke sana. Gunung itu nampak indah. Serius, pohon hijau bertebaran di mana-mana. Belum pemandangan di arah sebaliknya tak kalah indah. Ini akan menjadi pendakian paling berkesan dalam hidupku.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Ternyata jarak sungai yang kami tuju cukup jauh. Di sepanjang jalan aku banyak melihat kuda dan keretek. Jarang sekali ada motor atau mobil. Lingkungan baru, pikirku.

    Di tengah perjalanan Enok bertemu dengan temannya. Karena hal itulah dia tidak bisa ikut ke sungai. Ada hal penting yang harus diurus dan aku tidak peduli sama sekali jadi tidak kutanya lebih jauh.

    Sekarang jalan memasuki area hutan. Jalan yang kupijak dibawahnya ada aliran sungai, jernih sekali. Kukira kami sudah sampai tetapi ternyata aku harus jalan terus ke depan. Sesampainya di sana, aku tidak serta-merta turun ke bawah, takutnya permukaan sungai itu dalam.

    Baru ketika Reno membuka baju dan celananya, aku mulai berani turun ke bawah. Sejujurnya aku kaget ketika dia dengan tidak tahu malunya hanya mengenakan kolor berwarna merah yang sedikit ada bolongnya dibagian pantat. Tuh, kan! Gara-gara kolor bolong itu aku bisa melihat bulu lebat kaki dan pantatnya.

    "Celananya buka saja, Ren!" teriaknya.

    "Gila! Ogah, aku malu."

    "Ish kok malu? Malu sama siapa? Kita kan sama-sama cowok!" serunya lagi. Baiklah, satu lagi hal yang harus aku biasakan, laki-laki di kampung ini tidak punya urat malu. Jangan-jangan kalau mandi juga bersama-sama lagi.

    Pakaian yang berhasil aku tanggalkan cuma baju. Sisanya masih melekat di tubuhku. Melihatku masih ragu, Reno naik lagi ke permukaan, matanya memicing menyuruhku untuk menanggalkan celana, hingga akhirnya aku menyerah. Lagian kalau Reno terus-terusan berdiri di depanku mataku rasanya ingin terus melihat gundukan bak gunung di balik kolor merahnya itu.

    Perlahan aku memelorotkan celana levis yang kupakai. Demi apapun di dunia ini, sebenarnya aku merasa malu. Ini kali pertama dalam hidupku tampil di depan umum hanya memakai kolor saja. Aku malu bukan hanya kepada Reno, tetapi kepada wanita tua yang sedang menggendong sesuatu di punggungnya, juga kepada remaja yang terlihat sedang menangkap belut di belakang sana.

    Celana levis ini pun terlepas. Ketika aku berdiri tegak seraya menatap Reno, ada binar kekaguman di matanya yang coklat itu. "Gila! Kamu teh punya titit yang gede gening! Tidak, tetapi sangat gede!" ucapnya dengan mata berbinar. Mendengarnya berucap seperti tadi, aku kembali mengampil celanaku. "Eh eh eh kok dipakai lagi? Sudah ah hayu."

    Angin menerpa tubuhku kencang membuatku menggigil kedinginan. Luka akibat terjatuh tadi sudah mengering lalu basah kembali ketika kakiku masuk ke dalam aliran sungai. Dingin. Tetapi aku merasa kesejukan mengalir lalu menyebar.

    SLAAAT!

    Reno menyipratkan air ke mukaku. Sial! Tepat ke dalam mataku, kampret. Kubalas dua kali lebih kejam darinya, dia balas lebih kejam empat kali dariku.

    Melihatnya membabi buta menyipratkan air, aku berjalan ke arah Reno kemudian memelintir kepalanya. Dia berontak. "Rasain!" ucapku sambil tertawa. Reno berhasil membalikan keadaan. Dia langsung memegang kepalaku kemudian dia arahkan ke ketiaknya. Sial! Tenaganya lebih besar dariku jadi aku tidak bisa lepas dengan mudah. Untunglah Reno menginjak batu sehingga aku bisa lolos dari pitingannya.

    "Aduh!" Reno mengaduh ketika posisiku ada di belakang dia.

    Takut Reno lolos dari genggamanku, kedua tanganku mengunci lehernya. Diam diam. "Nyerah?" kataku.

    "I-iya lepasin saya, Grey." Aku masih mempertahankan posisi ini dengan senyum mengembang.

    "Makanya jangan cari gara-gara sama aku," balasku. Senyumku dari tadi mengembang lebar.

    "I-iya ampun. Sekarang lepasin saya."

    "Nggak!"

    "Harus!"

    "Kenapa?"

    "Itu titit gede kamu ada di pantat saya. Pantasan dari tadi ada yang kenyal-kenyak gitu, ternyata itu titit kamu."

    Mendengarnya sontak senyumku menghilang seketika. Darahku naik ke atas, membuat mukaku memerah seperti tomat. Aku mendorong tubuh Reno hingga dia terjatuh tersungkur ke sungai.

    "KAMU TEH APA-APAAN SAKIT TAHU!" teriaknya. "Kamu mau ke mana!? Kok malah kamu yang marah!" serunya nyaris menjerit.

    ***

    Sekarang aku ada di rumah. Ayah sedang pergi ke pasar, sementara aku duduk termanggu menatap kebun di teras pekarangan depan rumahku.

    Sial!

    Aku masih memikirkan kejadian tadi di sungai. Entah kenapa aku marah padahal seharusnya Reno yang marah karena tubuhnya aku dorong hingga terjerembab ke sungai. Hal itu membuat sikutnya berdasar. Tetapi karena dia melihat mukaku memerah, akhirnya dia yang meminta maaf dan keadaan kembali ke semula. Namun bukan itu permasalahannya! Kalau dipikir-pikir, Reno mempunyai pantat yang kenyal.

    'Ya sudah saya minta maaf. Mendingan ayo kita pulang.'

    Lalu dia menanggalkan kancutnya, menampilkan pisang sebesar jari jempol yang terlihat kecil bersembunyi di balik semak belukar berdaun hitam itu. Dia sini juga aku bisa melihat bulu lebat di pantatnya.

    'Kamu juga copot saja kolornya. Nanti celanamu basah.'

    Matahari kini bersinar di ufuk barat. Sore telah tiba. Lagi-lagi, hari ini aku dibuat terkejut ketika kabut tiba-tiba turun. Pandanganku hanya bisa melihat kebun, sisanya putih pekat. Kota berkabut? Semoga saja bukan kota berhantu.

    "Ini saya bawakan goreng pisang. Kata ayah saya kamu lagi sendiri di rumah." Reno tiba-tiba datang, lagi, lagi dan lagi mengangetkanku. "Oh ya, ayah kamu bakal pulang malam, jadi saya dirusuh jaga kamu."

    Aku tidak menjawab kalimat Reno. Mulutku ... sibuk memakan pisang goreng darinya dengan sekelumit pertanyaan yang membuatku bingung. Reno, aku harus menjauhinya.

    Berlanjut ke part Hujan di Bulan Januari.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    # Hujan di Bulan Januari

    Aku dan ayah pergi ke pasar untuk membeli pupuk dan bibit. Rencananya—karena di depan rumah ayah ada dua lahan untuk bertanam—ayah memutuskan untuk menanam cabe gondol yang jangka panennya tidak terlalu lama, juga tidak hanya sekali panen. Aku tidak mengerti urusan begini jadi aku hanya ngikut saja.

    Pasar di sini ramai sekali. Tak hanya siang, juga di malam hari. Jika siang dikhususkan untuk penjual rempah-rempah berskala kecil, misalnya untuk keperluan warung, sedangkan malam hari dikhususkan untuk penjual berskala besar misalnya membeli sayuran atau rempah-renpah lebih dari sekarung. Meskipun ada juga yang membeli dengan skala kecil. Biasanya dibeli oleh penjual warung yang tidak mempunyai waktu untuk belanja di siang hari. Atau setidaknya itulah yang kupikirkan, aku tidak begitu mengerti.

    Saat kami pergi cuaca sudah mendung. Kumpulan awan berwarna abu-abu tua menggelanyut di atas langit-langit bak kapas yang tertebaran.

    "Yah, kok mereka melihat terus ke arah Grey?" tanyaku.

    "Karena muka kamu ganteng," jawabnya.

    "Aku tanya serius, Yah."

    "Ayah juga jawab serius. Mungkin kulit dan cara berpakaian kamu beda sama orang-orang di sini. Padahal kamu harusnya tiru ayah. Di sini kan ayah pake pakaian ala orang-orang di sini," jelasnya. Baiklah aku mengerti. Tapi masa iya sih aku harus menyesuaikan cara berpakaian juga?

    Kami memasuki pasar area dalam. Penjual pakaian, mainan, sayuran, rempah-rempah, toko emas, semuanya ada di sini. Orang-orang berlalu-lalang, setiap kami bertatap muka pasti mereka menyunggingkan senyum. Aku terkesima. Sebenarnya tak hanya di sini, di kampung juga sama. Setiap aku melihat ke arah mereka, pasti mereka lebih dulu senyum ke arahku. Kebiasaan yang sungguh langka.

    Tanpa kuduga aku berpisah dengan ayah. Gila! Padahal tadi aku dan dia cuma berpisah dengan jarak tak lebih dari 5 meter. Tetapi karena jalan yang dilalui sempit semua, yang berarti tak memungkinkan untuk menyusul, aku pun terpisah dengan ayah. Gimana ini?

    Aku memutuskan untuk belok ke kanan. Pasti ayah ke sana. Tetapi bagaimana jika bukan? Mana cabang di sini banyak banget lagi! Oh Tuhan! Aku tersesat! Ini kali pertama orang sepertiku masuk ke dalam pasar, jadi aku nggak tahu, atau lebih tepatnya belum terbiasa. Semoga saja secepatnya aku bertemu dengan ayah.

    Feeling-ku mengatakan untuk belok ke kanan, jadi kakiku melangkah ke sana. Bagian pasar di kota Bandung Barat sepertinya dibagi menjadi beberapa distrik. Khusus pakaian, rempah-rempah, sayuran, kain, mainan, perabotan dapur dan sebagainya. Dan, sekarang aku ada di distrik ... daging dan beras? Oh shit! Harusnya aku berada di belakang ayah. Jadinya kan gini.

    Tidak ada.

    Aku melanjutkan pencarian ke berbagai arah. Aku sudah belok dua kali ke kanan, lima kali ke kiri, lurus, lalu ke kanan lagi. Ayah masih tidak berhasil kutemukan. Kira-kira sudah tiga puluh menit aku berjalan. Di pinggir penjual beras aku istirahat sebentar. Sial sial sial! Aku tidak tahu ada di mana, lalu untuk kembali pun aku tidak tahu harus ke mana.

    Di saat aku mengatur nafas, sudut mataku melihat seorang pria berbadan tegap, penuh otot di mana-mana, lebih besar dari badan ayah bahkan Reno, sedang menatapku. Muka dia tidak setampan Reno, tetapi karena garis wajahnya begitu menakutkan, seakan tatapan tajam itu bisa menembus apapun di dunia ini, aku pun bergidik ngeri. Berurusan dengan orang sepertinya adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan, bahkan kalau bisa aku tidak ingin berurusan dengannya.

    Aku tak kuat. Tatapan dia begitu mengintimidasi. Kujatuhkan pandanganku ke tanah, berusaha mengalihkan pikiran aneh yang menggeranyangi pikiranku.

    Mungkin sekarang dia sudah pergi. Kepalaku kembali bergerak ke atas. "Shit!" spontan aku mengumpat ketika laki-laki itu masih memperhatikanku.

    Kali ini aku menjatuhkan pandanganku lebih lama lagi. Mungkin sekitar lima menit. Lalu setelah aku yakin dia sudah pergi, aku kembali menatap ke depan. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang ketika dia masih menatapku sambil ... tersenyum. Senyum itu terasa lain. Senyum seorang psikopat? Bulu kumisku meremang seketika. Aku takut!

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Baiklah, aku harus segera pergi. Mungkin senyuman pria yang tampilannya kayak preman di sana hanya untuk bersikap ramah, seperti yang semua orang di kampung ini lakukan.

    Pada akhirnya, ayah tidak berhasil kutemukan. Kurasa aku harus menyerah. Kuputuskan untuk pergi ke luar—masih seperti tadi tanya sana-sini—sialnya masih sulit kutemukan juga jalan ke luarnya. Mereka hanya memberitahuku harus belok ke kiri, belok ke kanan, lurus terus, tetapi setelah 20 menit aku berjalan masih belum juga kutemukan. Aku tahu mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, jadi akan susah untukku ke luar. Sial!

    Aku haus. Nahasnya, aku tidak punya uang satu peser pun. Kalau gini caranya mending aku menolak ajakan ayah untuk pergi ke pasar. Aku marah. Nafasku memburu karena marah dan capek. Aku ingin menonjok seseorang. Aku memang payah dalam menghafal jalan. Di Jakarta saja untuk mengingat di mana letak rumah Aura harus 10 kali balikan supaya aku ingat. Apalagi kalau di pasar!? What the fuck! Cabangnya banyak sekali, jalannya sempit sekali dan baunya? Jangan tanya!

    "Haus?" kata seseorang sambil menyodorkan satu kantung es kelapa.

    "Iya haus. Makasih, bang," kataku. Setelah kulihat wajahnya aku terlonjak kaget kayak anak perempuan yang hendak diperkosa oleh sekumpulan aki-aki. Demi apapun, aku ingin pergi sekarang juga! Pria sangar itu, kini ada di hadapanku! Baiklah aku harus tenang. Semua orang di kampung ini ramah, jadi mana mungkin mereka tega menyakitiku? "Kok nggak di minum?"

    Tubuhku makin kikuk ketika dia tersenyum dengan mata seakan hendak menelanjangiku. "Eh i-iya, bang." Aku minun es kelapa pemberiannya lalu tersenyum canggung. Gila, aku takut banget.

    "Pasti bukan asli orang sini ya?" katanya sambil mengeluarkan rokok. Dia sulut rokok di jarinya kemudian menawariku benda jahanam itu. Aku memang tidak suka merokok dan orang perokok soalnya asapnya bisa membuat nafasku sedikit sesak. Kepalaku menggeleng untuk menolak pemberiannya

    "Iya, bang. Kok bisa tahu?"

    Dia malah tertawa renyah. Suaranya yang ngebass dan laki banget terdengar seram di telingaku. "Jelas, lah. Kamu beda sama orang-orang di sini. Kalau dilihat-lihat juga, kamu bukan asli warga pribumi. Mungkin darah campuran kamu diwarisi oleh salah satu dari kedua orang tuamu."

    Benarkah? Kurasa memang benar. Ayah yang melahirkanku mempunyai mata hijau kecoklatan meskipun wajahnya tidak seperti bule. Tipe-tipe wajah ayah sama seperti negara jiran, mubgkin Bunei, mungkin juga Thailand. Entahlah aku tak sempat menanyakan itu semua.

    "Mungkin."

    Pria sangar ini menyesap rokoknya kemudian dia hembuskan ke mukaku. Aku batuk-batuk. Sejurus kemudian mukaku memerah karena marah! Dasar tidak sopan! Tetapi apa yang harus aku lakukan? Rasanya marah pun percuma karena aku takut sama badan dan pembawaannya.

    "Mukamu memerah," katanya sambil tertawa. "Siapa namamu?" tanyanya. Haruskah kujawab? Tidak. Aku tak akan menjawabnya. Kakiku melangkah pergi, namun sialnya terhenti ketika dia berucap, "Si-a-pa na-ma ka-mu!" Penuh penekanan, penuh maksud terselubung, seakan dia adalah raja dan aku selirnya—maksudku budaknya.

    Aku menciut. "Aku Grey." Aku pun pergi.

    "Abu-abu." Dasar orang aneh. "Tertarik pergi ke tempatku?" Memangnya siapa orang waras yang ingin pergi ke sarang buaya?

    Syukurlah ketika kakiku memasuki distrik mainan anak kecil, kulihat dari kejauhan aku melihat Reno sedang lari menuju ke arahku. "Kamu teh apa-apaan sih! Bikin khawatir saja! Kamu tahu ayah kamu sampe panik nyariin kamu. Kalau mau pergi bilang dong! Tapi kamu nggak papa kan? Ada luka? Tuh keringat kamu banyak banget kamu habis apa hah? Grey! Dengerin kalau saya lagi ngomong! Gimana kalau kamu diculik  terus diperkosa! Tu-tunggu dengerin saya!"

    Aku terus berjalan ke depan. Rentetan pertanyaan Reno membuatku kesal. Ini kan tempat umum, banyak orang yang lihat, jadi aku malu! Huh, ternyata Reno bisa bersikap menyebalkan juga. Tu-tunggu, dia memang menyebalkan dari sananya!

    Fuck.

    Vote kalau suka, nggak juga nggak papa.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    "Kamu mau ke mana! Grey bukan ke situ arahnya!" Langkah kakiku terhenti. Bukan ke sini? Bukankah Reno berasal dari jalan sini ya? "Sini ikut saya. Kamu teh harus inget atuh tadi kamu belok ke mana. Untung saya teh bisa nemuin kamu, kalo nggak pasti saya dimarahin sama ayah saya."

    Aku mengikuti Reno. Kali ini aku berusaha menjaga jarak, maksudku tetap ada di dekatnya, bahkan sekarang kukalungkan lenganku ke lehernya supaya aku tak lagi terpisah dan tersesat di dalam pasar sialan ini. Reno tidak menolak. Justru dia makin merapatkan tubuh hangatnya ke tubuhku.

    "Kenapa tubuh kamu teh wangi? Kayak bunga sepatu." Reno makin mendekatkan hidungnya ke tubuhku, bahkan ketiakku. Dasar sudah gila! Aku menjauh darinya. "Orang Jakarta mah aneh ya. Suka pake parpum ke pasar juga."

    "Siapa yang pake parfum!" kataku tak terima.

    "Terus kenapa tubuh kamu wangi?" Dia bertanya. Matanya lucu kalau dia sedang bingung. Aku mencium aroma tubuhku sendiri. Hmm wangi dari mananya? Nggak ada aromanya sekali! "Sudah kamu teh ke sini. Nanti ilang lagi baru tahu rasa." Kali ini bukan lenganku yang mengalung ke lehernya, tetapi tangannya yang mengalung ke leherku. "Saya teh khawatir tahu," katanya tiba-tiba, tepat di depan hidungku.

    "Orang sini kalau ngomong jaraknya harus 5 cm ya?" kataku risih.

    "Lho memangnya masalah?"

    "Ya iyalah masalah! Gimana kalau mulut orang itu--"

    "Jadi mulut saya teh bau!?" jeritnya kayak anak perawan.

    "Ya nggak. Maksudnya--"

    "Syukurlah. Saya teh meni rewas."

    "Ih pertanyaan saya teh belum dijawab sama kamu. Kenapa tubuh kamu teh wangi. Kamu mandinya pake kembang tujuh rupa?"

    Aku menjitak kepala Reno. Dia mengaduh kesakitan. Well, aku memang menjitaknya dengan kekuatan hampir penuh  "Enak saja! Ini keringatku dodol!"

    Semakin lama aku semakin risih. Obrolan ini tidak membuatku nyaman. Sialnya, tetap saja aku ingin menyumpali mulut menggodanya. Tu-tunggu. WHAT! Apa yang telah kupikirkan!? "Wangi kamu asem!" kataku.

    "Ih ya gak papa atuh. Itu teh ciri-cirinya saya lalaki tulen, nggak kayak kamu. Nggak ada aroma lalaki pisan!" Lagi, aku menjitak kepalanya. "Aw! Sakit Grey! Kamu teh hampang leungen gening. Sudah ah, saya pergi duluan. Awas jangan tertinggal!"

    Ketika tangan Reno terlepas di leherku, entah kenapa aku merasa kehilangan. Aroma tubuhnya masih kuingat dengan jelas. Aroma yang katanya disebut dengan aroma kelelakian, yang sialnya terasa nyaman di hidungku. Aku ... ingin membauinya lagi. Memang terdengar tidak sehat, tetapi kurasa aroma itu bagai candu. Sial!

    Sesampainya di luar kukihat tangan ayah bersedekap marah ketika melihatku. "Kamu menghilang selama 1 jam!" Baiklah, ayah termasuk orang posesif. Jadi, percuma aku menjelaskan panjang lebar soal jalan sempit itu. "Papa nggak akan ngajak kamu lagi," tambahnya. "Sekarang sana pulang. Papa masih ada urusan sama Reno."

    Aku mengangguk. "Naik apa?"

    "Naik delman, lah."

    "Aku nggak bisa naiknya."

    "Ya Tuhan, Grey. Kamu ini udah gede masa naik gitu aja nggak bisa? Tinggal  tumpangi terus sebutin alamat rumah kamu."

    "Ya tapi kan."

    "Papa akan segera pulang. Lagian sebentar lagi hujan. Tolong semen di depan kandang ayam masukan ke dalam. Bye."

    Sesuai yang kuduga, ketika papa memberi ultimatum, maka tak ada cara lain selain mengikuti perintahnya. Aku berjalan menuju kumpulan delman di pinggir jalan. Hmmm biar enak aku cari yang kosong saja. Malu soalnya. Lagian di sana banyak remaja labil yang cekikilan ketika melihatku. Mana mungkin aku duduk sama mereka?

    10 menit aku menunggu delman masih belum juga jalan. Ini kenapa sih. Kudanya capek kah? Padahal kumpulan cewek tadi sudah pergi entah ke mana.

    20 menit aku menunggu delman belum juga berangkat. Sial! Aku berusaha memberanikan diri bertanya. "Mang, kapan berangkatnya?"

    "Eh ujang teh bade mulang? Naha atuh lain nyarios titatadi. Aa kira teh ujang lagi istrirahat." Oke, aku tidak mengerti kalimat pria di depanku. "Kalau mau pulang mah naik delman yang udah penuh di sana. Kalau cuma ujang saja ya nggak akan maju-maju."

    Eh? Tuh, kan! Untung Reno dan ayah tidak ada di sini. Kalau ada mereka akan mentertawakanku sampai mampus.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Dari sini aku melihat seorang perempuan sedang berlari kecil ke arah kami. "Ren, antar Neng beli samping ke depan. Sepedanya ada kan? Yuk keburu yang jualannya pergi—eh itu siapa, Ren?"

    Gila! Ternyata benar apa kata Reno. Pacarnya cantik banget, dua kali lenih cantik dari Aura! Kecantikan dia alami, tanpa make up. Meskipun kulitnya coklat langsat, tetapi karena dia memiliki bola mata bundar dan lesung pipi di wajahmya, membuat dia nampak indah dan berkilauan. Tubuh semampainya, rambut lurus tergerainya, dan ... buah da—sudah lupakan. Aku sudah mempunyai Aura.

    "Dia teh teman saya. Kenalin, Grey ini pacar saya Enok. Dan Enok, kenalin ini teman saja Grey." Teman dari mananya!

    Kami berjabat tangan sambil melemper senyum. Eh? Kok lama banget sih. Aku bukannya tidak mau berlama-lama salaman sama dia, tapi kan aku sudah mempunyai Aura.

    "Eh eh eh kamu tangan kamu teh lepasin atuh, Grey!" kata Reno. Matanya memandangku tajam. Awalnya aku ingin berkata, 'Dari tadi sudah ingin aku lepaskan, oon!' Tapi tidak jadi karena bagaimanapun aku menyukainya.

    "Ya sudah nanti saja, No. Aku balik saja, jalannya masih ingat kok," kataku.

    Alis Enok terangkat-angkat. "Memangnya kalian mau ke mana?"

    Saat aku akan menjawab, Reno lebih dulu menjelaskan. "Kita akan pergi ke sungai. Dia itu pindahan dari Jakarta, jadi dia masih belum tahu daerah sini. Jadi—"

    "Alah siah. Gening kamu teh dari Jakarta. Pantes saja kulit kamu teh meni bodas, bersih, teu poek joga si Reno." Oke, kalimat dia banyak yang tidak aku mengerti. Kayaknya mulai dari sekarang aku harus menggunakan bahasa Sunda. "Kalau gitu saya ikut ah. Beli sampingnya nanti saja, besok lagi. Yuk!"

    "Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Nggak masalah kan?" tanyanya ke arahku. Aku menggeleng. "Kalau gitu baiklah ayo kita pergi."

    Kami bertiga pun pergi sembari mengobrol satu sama lain. Kata Enok, dia ingin sekali pergi ke Ibu Kota tapi abahnya tidak pernah mengijinkan dia. Katanya takut diculik. Memangnya penculikan hanya terjadi di Jakarta? Oh ayolah. Aku semakin memutar bola mata ketika dia terus membrondongku dengan pertanyaan muskil.

    "Itu gunung apa?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

    "Itu bukit tunggul. Kamu pengen ke sana?" tanya Reno. Aku mengangguk. "Di sana katanya banyak kera putih. Kalau kamu mau hayu sama saya dianter. Tapi jauh pisan, saya ge kadang suka nggak kuat kalau jalannya dari sini. Medannya turun naik."

    "Kera putih? Bahaya?"

    Reno mengibaskan tangannya. "Nggak kok. Tapi katanya kerjaannya suka menculik orang. Tingginya hampir setinggi manusia. Terus dia suka mengalihkan jalur pendakian biar tersesat."

    "Itu mah bahaya atuh, Ren." Aku mencoba menambahkan kata 'mah' dan 'atuh' seperti yang selalu dia lalukan.

    "Tapi kan nggak ngebunuh." Bola mataku semakin memutar.

    "Hehe nggak ah. Dia nggak ngebunuh."

    "Memangnya kamu pernah lihat?"

    Garis wajah Reno mengkerut, nampak berpikir. "Belum sih."

    "Nah jadi ...." jadi apa? Memangnya aku ingin ke sana? Reno saja bilang kadang tidak kuat apalagi aku.

    "Tapi hayulah sama saya ditemenin. Tapi berdua saja ya. Banyak yang nggak kuat soalnya. Kalau kamu nggak kuat jadi saya ngegendong kamunya nggak terlalu capek. Kan satu orang."

    Mendengarnya entah kenapa hatiku melonjak senang. Maka dari itu tanpa ragu kukatakan padanya aku ingin pergi ke sana. Gunung itu nampak indah. Serius, pohon hijau bertebaran di mana-mana. Belum pemandangan di arah sebaliknya tak kalah indah. Ini akan menjadi pendakian paling berkesan dalam hidupku.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    Aku berlari menuju rumah. Kulihat Reno sedang berbicara dengan ayah di dapur. Ketika melihatku, Reno membuang mukanya. Sungguh lucu. Ah, melihat tingkahnya yang aneh itu kurasa membuat pandangan diriku kepadanya berubah 180°. Aku memang bukan tipe orang yang bersahabat, tetapi ketika melihat tingkahnya entah kenapa aku ingin berteman.

    Haruskah? Tentu saja harus. Cepat atau lambat aku harus punya teman di tempat baruku, tempat yang akan kutinggali mungkin seumur hidupku.

    Kami sarapan bersama. Aku menyarankan makan di bawah pohon besar yang kulihat saat pertama datang ke sini. Pohon tua yang aus di lekang masa. Sepertinya kalau pohon ini kubuat rumah pohon akan bagus dan nyaman ditempati. Maksudku, pemandangan alam di sini begitu menakjubkan. Akan sangat disayangkan kalau pohon besar ini dibiarkan begitu saja.

    Sehelai daun hinggap di kepala Reno. Tanganku impuls bergerak untuk mengambilnya. Sialnya ketika matanya melihat tanganku bergerak, tubuhnya awas sembari menghindar. "Kamu teh mau nampar saya lagi?" aku mendengus. Kuurungkan niat muliaku untuk mengambil daun itu dan beralih bergerak mengambil sambal buatan ayah yang enaknya membelah ketujuh negara.

    "Masakannya enak banget, Om," kata Reno.

    "Lebih enak masakan Grey, lho." Kali ini hidung Reno yang mendengus ketika namaku disebut. Melihat sikap kami berdua sontak ayah tertawa terbahak-bahak. "Ya Tuhan kalian ini kayak anak kecil saja. Maksudnya kalian teh lagi marah-marahan, gitu? Yang sering dilakukan oleh perempuan? Hahahahahahaha. Nggak pantes atuh sesama cowok marahan. Sudah ah ayo lanjutin makannya."

    Kami berdua sama-sama mendengus, membuat tatapan membunuh ayah keluar dari singgasananya. Selepas makan kami mulai bekerja lagi. Ternyata bekerja di kebun cukup menguras tenaga juga. Dilihat dari ketelatenan Reno, kurasa dia sering kerja sebagai petani. Buktinya tubuh dia terbentuk dengan sempurna. Tapi masa iya sih hanya dengan berkebun tubuhnya bisa sebagus itu? Oh aku hampir melupakan fakta bahwa dia asalnya bekerja sebagai pengangkut beras.

    "Kamu teh mau ikut?" tanyanya, masih dengan wajah cemberut. Akhirnya dia membuka suara juga. Sejujurnya aku tak tahan dengan aksi diamnya. Setiap kali aku bercerita selalu dia tanggapi dengan gumaman atau anggukan. Tetapi setelah dua jam kami bekerja lagi, rupanya dia menyerah juga untuk mendiamkanku. Memang seharusnya begitu. Kalau dia masih diam, akan kucium dia sampai dia buka suara. Kalau masih belum bicara juga, akan kucium dia sampai mati! Sial, aku memikirkan hal abnormal itu lagi.

    "Ke mana?" tanyaku.

    "Main bola."

    "Malu ah. Kamu saja sana yang pergi."

    "Bilang saja kamu teh nggak bisa main bola," ejeknya.

    Aku tak terima. Kata siapa aku tidak bisa main bola? Mungkin aku memang jarang bermain. Tapi untuk jadi kiper kayaknya bisa deh. "Sok tahu! Ayo aku ikut. Akan aku kalahkan kamu 10-0! Nah yang kalah harus nurutin permintaan yang menang, gimana?" tantangku. Aku tidak tahu Reno jago main bola atau tidak, tetapi nanti aku akan memilih tim yang cowoknya pada gahar semua. Senyum Reno tersungging yang aku yakini bermaksud mencemeeh.

    "Saya nggak takut," katanya. "Ya sudah nanti sore saya jemput."

    Jam 12 siang Reno pergi. Sekarang aku bingung harus ngapain. Daripada lama menunggu, akhirnya aku menghampiri ayah dan mengajaknya mengobrol membicarakan pertanian. Memang membosankan, tapi apa boleh buat. Pengetahuan itu akan sangat membantu untuk ke depannya.

    Ayah menjawab setiap pertanyaanku sambil mengoprek radio lawas yang tiba-tiba tadi pagi tidak berfungsi lagi. Radio itu adalah teman ayah ketika dia hendak tidur. Aku tidak terlalu suka dengan radio. Menurutku terdengar berisik dan sangat mengganggu. Aku suka keheningan saat sedang istirahat. Berbeda dengan ayah, katanya kalau tidak ada radio di sampingnya, dia tidak bisa tidur. Setiap orang memang mempunyai cara tersendiri untuk menghabiskan waktunya ya.

    "Jadi kamu ikut main main sama Reno?" tanya ayah.

    "Ya. Aku nggak punya sepatuya sih. Tapi kata Reno, anak-anak kampung biasanya main bola tidak pakai sepatu. Jadi syukurlah."

    Ayah tertawa seakan tidak percaya aku bisa main bola. "Kalau begitu akan ayah siapkan betadine sama kapas."

    "Nggak usah kali. Grey akan baik-baik saja."

    "Ya ya ya. Tapi tetap akan ayah siapkan."

    Menjelang waktu ashar Reno menjembutku dengan sepeda onthelnya. Ya ampun. Barang antik ini tidak pernah kulihat di Jakarta. Di bagian depan ada lampu untuk penerangan jalan sementara di bagian belakang ada tempat pemboncengan. Jadi aku akan pergi ke lapangan naik itu? Tidak! Sangat memalukan sekali. Kalau aku naiknya sama Aura sih tidak masalah. Kesannya kan romantis. Lah kalau sama Reno? Hatiku jadi gugup, kan.




    "Ayo naik!" titahnya.

    "Nggak! Aku takut jatuh," ucapku beralasan.

    "Nggak akan, Rei. Aku pembalap ulung di kampungku." Dia menyandarkan sepeda antinya di dinding rumah kemudian menghampiriku sembari berkacak pinggang. "Motorku dipakai ayah entah ke mana. Jadi mau naik atau jalan?"

    "Jalan!" kelitku.

    "Ih kamu teh meni susah diatur ya. Ya sudah atuh sepeda ini saya simpan di rumah kamu dulu. Yuk kita pergi sekarang."

    Nah kalau begini kan aku tidak malu padahal sebenarnya aku ingin naik tuh sepeda sih. Pasti akan asik. Tetapi bukannya aku bisa main sepeda sepulang dari main bola ya? Hihihihi, memikirkannya membuat bibirku menyungging lebar.

    Aku memukul Reno ketika baru saja jalan dua menit, kami sudah ada di lapangan desa. "Ngapain pakai sepeda, kampret! Jaraknya juga dekat begini," ucapku.

    "Sakit, Rei! Kamu kalau mukul jangan kelewatan dong. Mau saya cium, hah?"

    Eh? Mau nggak ya? Aku menggeleng kuat-kuat. "Enak saja!"

    Ternyata teman-teman Reno sudah sudah kumpul di lapangan dan sedang melakukan pemanasan. Kami berdua ikut bersama mereka. Setelah selesai, Reno menyuruhku untuk memperkenalkan diri. Tubuhku tidak terlalu kikuk karena mereka semua tipe orang supel, ramah dan murah senyum. Selain Reno, ada juga pria yang mempunyai otot besar. Kulitnya hitam, rambutku keriting, dan dia adalah pengecualian orang yang ramah yang kusebutkan tadi.

    "Semangat sayang! Kamu pasti bisa!" teriak Enok. Rupanya dia menonton pertandingan ini. Mataku melihat sosok ayu di sebelahnya. Seorang mojang berkulit sawo matang, berlesung pipi dan mempunyai lekukan tubuh yang sangat indah. Rambutnya tergerai ke bawah. Ketika mata kami bertemu, spontan aku tersenyum. Dia tersenyum balik. Harus kuakui ... dia lebih cantik dari Aura.

    "Cie cie, kamu teh suka sama si Ayu?" tanya Reno. Oh, jadi wanita cantik itu namanya Ayu. "Kalau mau sama saya dicomblangin. Dia itu masih sendiri, lho. Saya sering lihat orang-orang di kampung ini bahkan kampung sebelah pun kirim surat dan melamar di rumahya, tapi tak ada satu pun yang dia terima. Tapi kalau sama Rei saya yakin diterima jadi--"

    "Tidak," potongku. "Aku sudah punya pacar di Jakarta."

    "Ih ya sudah."

    Setelah tim terbagi menjadi dua, kami langsung bermain. Lapangan ini besar sekali. Ada dinding besar sebagai pembatan antara jalan raya dan lapangan. Baru saja aku bermain 5 menit, nafasku sudah ngos-ngosan. Oh ya, aku satu tim dengan Reno karena pembagian tim dilakukan dengan cara hompimpa alaium gambreng. Ma Icih pakai baju rombeng. What the hell! Siapa mak Icih? Kenapa dia pakai baju rombeng? Sudahlah. Karena di kampus aku sering main futsat sebagai pemain penyerang, maka kukatakan pada Reno aku ingin ada di depan. Dia mengangguk.

    Pelemparan koin dilakukan oleh Reno dan Dani. Selagi aku menunggu, sudut mataku melihat seorang pria sangar dengan tubuh besar sedang melihatku. Ya Tuhan! Pria itu adalah preman yang memberiku es kelapa saat aku tersesat di pasar. Dia memakai kaus obrong berwarna hitam, kalung berwarna silver entah bergambar apa dan celana pendek selutut yang membuatnya nampak menakutkan. Mata tajamnya terus melihatku sambil tersenyum. Mau tidak mau aku tersenyum balik. Tangannya melambai ke atas lalu detik berikutnya berubah menjadi acungan jempol memberiku semangat. Gila gila gila! Mendadak aku merasa terancam.

    "Kamu sedang lihat apa?" tanya Reno. "Ih kamu teh jangan lihat dia! Pokoknya kamu jangan berurusan sama dia. Dia teh preman yang pernah saya sebutkan, yang suka mencuri, membuat masalah dan paling ditakuti di kampung ini." Tuh benarkan.

    Kurasa don't judge book by it's cover tidak berlaku buat orang itu. Aku menelan ludah. Sial sekali, aku sudah berurusan dengannya. Dia telah memberiku es kelapa, itu berarti aku sudah berurusan, kan? "Aku nggak akan berurusan sama dia," ucapku pelan, nyaris bergetar.

    "Memang jangan karena dia ... pernah membunuh laki-laki seumuran kamu dua tahun yang lalu."

    DEG!

  • SefaresSefares ✭✭ Silver


    “Membunuh?” Reno mengangguk-angguk.

    “Asal kamu tahu ya, Rei. Demi apapun, termasuk hewan ganas yang bahkan ingin membunuh kamu dengan cara memperkosa anus kamu, dia tetap 100 kali lebih berbahaya daripada hewan itu.”

    Rasa takutku menghilang seketika, berubah menjadi perasaan dongkol. “Yang benar saja! Aku lebih baik diperkosa sama dia daripada diperkosa sama hewan, marmut!”

    “Ih jadi kamu teh ingin diperkosa sama dia?” Tanganku menjitak kepalanya yang bodoh itu.

    “Bukan itu maksudku! Kamu kan kasih pilihannya antara diperkosa sama dia dan diperkosa sama hewan ganas. Ya kalau ada pilihan lain aku mau yang lain saja.”

    “Jadi kalau sama si Ayu kamu teh mau diperkosa?” lagi, aku menjitak kepalanya namun kali ini lebih keras dari yang tadi. Reno mengerang kesakitan. Dua orang di depan kami memperhatikan dengan alis terangkat. Ah, pasti dia sedang berpikiran aneh-aneh. Pelajaran berharga hari ini, kalau mengobrol dengan Reno harus tahu situasi dan kondisi. “Oh jadi kamu teh mau diperkosa sama perempuan? Nggak mungkin terjadi atuh, Rei. Dia mah pendiam, ayu, nggak banyak tingkah kayak pacar saya jadi nggak mungkin dia merkosa ka—ARGH! Sakit kampret!” Untuk ketiga kalinya aku menjitak kepala dia.

    Mataku kembali melihat preman yang kini duduk di atas motor NSU Supermax. Teman ayahku pernah memakai motor itu ke rumah. Motor asal Jerman ini diproduksi pada perkiraan tahun 1956. Aku selalu ingin punya motor itu. Sepertinya kalau aku punya satu Reyhan akan iri kepadaku.

    Preman itu sedang mengobrol dengan seseorang. Tubuhnya tidak berorot tetapi dari sini aku bisa melihat di lehernya penuh tato berbentuk bunga. Pasti dia anak buahnya. Ketika preman itu melihatku lagi, kali ini dia tidak tersenyum, tetapi menatapku datar dengan pandangan yang sulit kuartikan apa maksudnya.

    Bulu kudukku meremang. Sebaiknya aku harus fokus main bola saja.

    Seperti kataku sebelumya, belum juga waktu berjalan 10 menit, nafasku sudah ngos-ngosan. Aku terbiasa main di lapangan kecil. Jadi main di tempat gede seperti ini hal baru bagiku. Setiap Reno melintas di depanku, hal yang selalu dilakukannya adalah mencemooh. Dasar cowok beloh! Awas saja kalau dia tidak mengoper padaku.

    Reno berlari kencang menerobos pertahanan lawan. Kakinya siap-siap menendang, hingga akhirnya bola itu melesat ke awah gawang dan—PRIIIIIIIIT! Terdengar suara peluit yang memekakan telinga. Kulihat pemain sepak bola berseragam datang memasuki lapangan, mengusir kami dengan tidak sopannya. Reno tak terima. Dia mendatangi salah satu pemain dengan nada tinggi.

    “Kita teh lagi main, kalian kenapa main nyelonong masuk ke lapangan?”

    Ah, itu dia sifat yang membuat jantungku berdegup dengan kencang. Sifat yang itu cocok sekali dengan muka dia. Keras, sangar, dan berani. Enok dan Ayu menghampiri Reno sambil bertanya apa yang sedang terjadi. “Kalian harusnya antre dong!” kata Enok setelah mendengar penjelasan dariku.

    “Maaf nih, kami sudah minta izin sama pihak balai desa untuk melaksanakan pertandingan di sini. Jadi kenapa kalian marah? Seharusnya saya yang marah karena pasti kalian tidak izin terlebih dahulu.”

    Mendengar penjelasan itu Reno nampak tak terima. “Heh ngapain saya musti izin segala? Memangnya ini tanah milik desa? Asal kamu tahu ya ini tanah teh punya orang di kampung sini. Pemiliknya sudah mengizinkan tanah ini teh buat dipake, jadi—”

    “Pokoknya saya sudah membuat jadwal. Jadi kalian yang pergi sana,” potongnya dengan nada mencemooh. Pria di depan Reno badannya cungkring, bahkan kurasa sekali sentil saja dia bakal terhempas angin dan nyangkut di baliho-baliho kota Lembang.

    “Sudah Ren kita lanjut besok saja,” kata teman Reno bernama ... siapa? Aku lupa lagi.

    “Ya saya teh nggak masalah kalau mereka mau main tapi harus yang sopan atuh. Masa kita teh dikebah-kebah kayak ayam. Belum nada suaranya, kesannya teh ngerendahin saya.”

    Ayo, Ren! Hajar saja sampai mampus! Eh? Haha aku juga ikut kesal sih melihat orang itu berbicara sambil tersenyum mentertawakan. Mendengar Reno berbicara seperti itu, laki-laki cungkring yang matanya kayak papan tripleks itu hendak bersuara, namun terhenti oleh seseorang yang kurasa adalah seorang pelatih. “Maaf, Jang. Kita lagi ada pertandingan sebentar lagi. Kita sudah mendapat izin, jadi, mohon pengertiannya. Selain itu karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa menunda lebih lama lagi—”

    Aku tahu menyela omongan yang lebih tua dari kita itu tidak sopan, tetapi aku tak tahan melihat pandangan Reno yang tajam itu. “Ya sudah, Pak. Maaf teman saya lagi datang bulan jadi, yuk pergi.” Aku menarik tangan Reno menepi ke sisi lapangan.

    “Saya teh meni emosi. Hayu ah Rei kira pulang!” Sifat anak kecilnya kembali lagi ternyata.

    “Ih ih ih kenapa malah pulang. Terus kita gimana?” tanya Enok. Di sampingnya masih ada Ayu.

    “Ya kalian juga pulang atuh!” sahut Reno.

    “Nggak!” Mata Enok memandang Reno tajam. “Kita berempat akan pergi ke kapling. Kalau kamu nggak mau kita putus.” Reno menghela nafas panjang sembari menatap Enok bosan. Sepertinya dia sudah sering mendapat kalimat itu darinya.

    Jadilah kita pergi ke kavling berempat. Aku tidak tahu tempat apa itu, tapi sepertinya tempat nongkrong anak-anak di kota ini.

    Reno membiarkan Enok dan Ayu mengobrol soal kain batik dan lebih memilih jalan di sampingku. “Maaf ya, Rei,” katanya.

    “Maaf untuk?”

    “Main bolanya jadi gagal. Saya tahu kamu teh ingin banget main. Tapi ternyata ada mereka jadi ya, mungkin lain kali akan saya ajak lagi.” Oh jadi ini penyebab muka Reno jadi murung. Demi sempak kuda yang warnanya ijo, hatiku tersentuh. Senyumku mengembang menjawab permintaan maafnya, mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

    "Menurut kamu aku pantas nggak pacaran sama Ayu?"

    Kami menyusuri jalan raya yang banyak lubangnya. Di perempatan dekat dengan tukang ojek kami belok ke kanan, yang mana ada tanjakan curam hampir mendekati 90°. Mungkin ya.

    "Errrr nggak tahu atuh saya mah." Reno memandangku. Mata bundarnya menatapku lekat, memunculkan tanya yang tak dia pernah dia jawab.

    "Tapi kata kamu tadi aku pantes sama si Ayu."

    "Memangnya kamu teh ada niatan buat jadian sama dia?" tanyanya.

    "Iya--"

    "Kalau gitu nggak pantes!" sahutnya cepat, nadanya tinggi, dan ada gerak-gerik yang tidak kumengerti dari tubuhnya. He? Kenapa bisa? Bukankah dia bilang aku sama Ayu pantas ya? "Maksud saya teh ka-kamu nggak pan-tes sa-sama Ayu so-soalnya ka-mu sudah pu-punya pacar di Jakarta," lanjutnya terbata-bata. Mataku memicing, berusaha menyelidik sesuatu yang tidak wajar. Reno hanya menyunggingkan senyum lebar. Aku mengedikkan bahu apatis.

    Akhirnya kami sampai di kavling. Tempat ini adalah area terbuka, penuh dengan petak tanah, yang di setiap sisinya penuh dengan tumbuhan. Pandanganku mengedar hingga akhirnya aku menemukan view kota Bandung yang begitu indah. Dari sini, aku bisa memandang kota urban itu tanpa sekat. Ini luar biasa. Pasti kalau malam tumpukan bangunan itu akan mengeluarkan cahaya keluwung yang sangat indah.

    Suara cemeti dewa tiba-tiba menggelegar. Kami berempat terlonjak kaget. "Ih padahal kita teh baru saja sampe, malah mau turun hujan. Kita balik lagi aja, Rei," kata Reno.

    "Nggak papa atuh Ren! Kan hujannya juga belum turun!" teriak Enok lantang. Reno ... dia tetap berjalan pulang. Hmmm.

    Oke, foto kavlingnya nanti nyusul haha.

  • SefaresSefares ✭✭ Silver
    "Reno tunggu!" Tak henti-hentinya Enok berteriak.

    Sekeras batu karang di lautan samudra, pendirian Reno pun absolut. Dia pergi tanpa melihat ke belakang, menuju rumahku, kemudian membiarkan dirinya dibelai angin di atas teras itu. Aku mendekatinya sembari bertanya 'ada apa?' Dia hanya menghela nafas panjang.

    Ayah datang bergabung bersama kami. Dia bertanya apakah aku bisa mencetak gol atau tidak. Langsung kujelaskan saja apa yang kami alami di lapang desa. Ayah manggut-manggut. Akhirnya kami memgobrol di atas teras sambil makan ranginang, makanan khas Sunda yang sering dijadikan makanan penyambut tamu atau slametan.

    Kulihat awan di atas sana. Berwarna abu-abu tua, seakan di dalam awan itu penuh dengan tetes air yang siap menghujam. Desa ini desa hujan kah?

    Dingin. Lagi-lagi aku merasakan dingin yang tak tertahankan. Kabut mulai menepi ke daratan, membuat suasana kembali hening dan sedikit mencekam.

    2 jam pun berlalu. Sekarang pukul 7 malam dan Reno masih ada di sini, bersamaku yang sedang memandang gemerlap langit.

    "Saya mau nagih makanan saya," kata Reno.

    Ah iya aku hampir lupa. "Iya iya. Kamu mau makan apa? Biar aku yang traktir."

    Reno tersenyum lebar, retinanya memandang ke atas kemudian kembali menatapku sambil berkata, "Saya teh mau lotek buatan mang Ujang. Enak pisan siah, Rei."

    "Lotek?"

    "Itu lho, kalau di Jakarta dikenal dengan istilah gado-gado," jelasnya. Reno bangkit sambil membawa piring ke dapur kemudian mengajakku pergi. "Yuk. Kita naik sepeda saja biar cepet."

    Naik sepeda? Ah, tentu saja aku mau. Tapi kok rasanya malu. "Nggak, Ren. Jalan saja."

    Reno memutar bola mata sebal. "Ih kamu teh meni malu-malu segala. Nggak masalah atuh. Malu sama siapa, hah? Lagian ini teh sudah malam, orang-orang teh udah pada di rumah, jadi hayuk! Atau mau digendong sama saya?"

    Sejujurnya sekarang aku lebih tertarik digendong sama Reno, tetapi pikiran sehatku berkata 'tidak.' Jadi, untuk memuaskan rasa penasaranku aku memutuskan naik sepeda saja. Kapan lagi coba aku dibonceng sama sepeda onthel? Lagi pula kurasa aku harus membiasakan kehidupam di tempat ini. Mungkin saja boncengan berduaan sama cowok di Jakarta dianggap tidak wajar sementara di sini sah-sah saja.

    Sebelum pergi aku pergi menemui ayah memintan izin dan menyuruhnya untuk tidak menyiapkan makan malam. Mendengar kami akan pergi ayah ngotot ingin ikut, tetapi kutolak dengan keras, supaya ayah tidak melihat aksi memalukan naik sepeda kami berdua. Akhirnya dengan usaha sedikit ekstra, ayah pun menyerah.

    "Siap?" tanya Reno. Tangannya memegang stang sepeda, detik berikutnya dia menaiki sepeda itu sambil tersenyum lebar.

    TOT TOT!

    Ya Tuhan. Ternyata ada klaksonnya. Kukira hiasan di pinggir stang itu adalah bel yang bunyinya kring kring kring. "Ya aku siap." Aku naik di belakang Reno, duduk di tempat pemboncengan yang sudah ada busanya. Mungkin sepeda ini sudah dia rombak sedemikian rupa.

    "Pegangan," titahnya. Aku memegang pinggang Reno sedikit keras, takut jatuh. Tapi setelah Reno berhasil melaju tanpa guncangan yang berarti, aku melepaskan peganganku. "Ya ampun! Kamu teh meni berat! Oh saya teh tahu, pasti berat sama titit kamu. Titit kamu kan ukurannya segede--AW! SAKIT, REI! KENAPA SIH KAMU TEH HOBINYA MUKUL SAYA!"

    "Itu cubitan bukan pukulan!" teriakku balik. Tanpa kuduga sepeda oleng ke kiri, membuatku berpikir kami berdua akan jatuh seperti di sinetron-sinetron Cinta di Atas Sepeda.

    Ternyata ... dugaanku salah. Kaki Reno berhasil menahan berat badan tubuh kami. Well, ini kan bukan sinetron jadi mana mungkin kami ja--what the hell! Kami berdua jatuh beneran ketika kaki kanan Reno menginjak lubang cukup dalam. Sial! Tak henti-hentinya aku mengumpat kecerobohan dia.

    "Kalau berhenti tuh liat-liat kampret!" Awalnya aku ingin menjitak kepalanya, tetapi karena Reno sepertinya sudah tahu aku akan melakukan itu, cepat-cepat dia menghindar.

    "Salah kamu malah mukul saya tadi!"

    Aku bersedekap. Kulihat dia dari atas sampai bawah. Tidak ada luka. "Yuk ah cabut. Banyak orang yang lewat di sini mah."

    "Ya sudah kamunya naik lagi."

    Kepalaku menggeleng. "Malu ah banyak orang."

    "Ya elah. Makan tuh malu! Cepet ah. Eh eh eh eh kamu mau ke mana!? Rei?"

    Aku tetap berjalan. Fix. Urat malunya sudah putus!

    "Ren? Kamu mau ke mana!" Sekarang aku yang berteriak ketika melihat Reno melaju dengan cepat meninggalkanku sendirian di sini. Dasar cowok kampret! Aku setengah berlari mengejarnya, namun percuma. Dia melaju dengan kecepatan cahaya!

    Sip. Akan kukerjai balik dia.

    Aku bersembunyi di balik pohon. Pasti dia akan mencariku balik, kan? Dia kan orangnya khawatiran.

    1 menit ...

    Reno belum balik juga.

    2 menit ...

    Aku masih menunggu sambil bersedekap.

    3 menit ...

    Dasar sialan! Dia pasti sudah sampai di warung mang Ujang dan meninggalkanku sendirian di sini.

    4 menit ...

    Aku masih menunggu dengan dada bergemuruh.

    5 menit ...

    Aku akan menyusulnya balik! Nahasnya tepat ketika aku mulai berjalan, Reno datang dengan nafas terengah-engah. "Kamu teh meni lelet pisan!" Aku menggeram marah. Tanganku sudah mengepal kuat, bersiap-siap memukul dia. "Cepat naik atau saya tinggal lagi. Eh eh tunggu." Nafas Reno masih terengah-engah. "Karena saya sudah capek, jadi kamu yang nyupir."

    BUGH!

    Akhirnya pukulanku melayang juga. Dia mengerang kesakitan. Ah, aku sudah kelewatan kayaknya.

    BUGH!

    Reno memukul balik. Mataku membelalak tak percaya. Reno nyengir, menampilkan gigi seputih susunya. Aku menyerah. Kalau begini terus sampai kapanpun kami tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.

    Sekarang posisiku ada di depan jadi supir. Sialnya, baru saja jalan 1 menit aku sudah nggak kuat mengayuh. Seburuk itukah staminaku? Tidak, jalanan ini sedikit menanjak jadi energiku gampang terkuras. "Kamu teh meni lemah. Sini ah sama saya lagi nyupirnya." Gila. Meskipun nafas Reno ngos-ngosan dia tetap mengayuh, melaju menuji warung mang Ujang.

    Lagi, nahasnya, setelah sampai di sana warung mang Ujang sedang ... tutup! "Tutup, Ren. Terus gimana?" tanyaku.

    "Aih saya teh meni kesel pisan. Main bola nggak jadi, warung tutup, mana saya teh udah capek-capek ke sini! Dan JURIG BASEH SIAH! Hush hush jangan hujan! Awas kalau hujan nanti sama saya di kasih kentut--"

    JDAR!

    Hujan turun, kami pun terpaksa menepi di ruko yang sudah tutup. Oke, seharusnya kami tidak pergi ke mana-mana setelah tadi sore melihat awan mendung sekali.

    "Hujan?" tanyaku retoris.

    "Rei, saya teh pengen mukul seseorang." Reno menyandarkan sepedanya di dinding ruko kemudian menyilangkan kedua tangannya kuat-kuat.

    Hujan ... di bulan Januari? Kurasa, hujan ini adalah hujan paling dingin dalam hidupku. Aku menatap hujan di depanku lekat. Tetes itu masih terlingat di tengah gelapnya malam. Memecah, menyebar, hingga akhirnya menjadi genangan air untuk kemudian menjadi luapan air.

    Hal ini membuatku bertanya, kenapa hujan di bulan Januari adalah hujan paling dingin dalam hidupku? Satu-satunya yang kupikirkan adalah tubuhku merasa ingin dipeluk. Sialnya orang itu bukanlah Aura pacarku, Enok bahkan Ayu, melainkan sosok yang baru kutemui beberapa hari ini yang kini telah mengisi hari-hariku.

    Dia ... adalah cowok kampret yang sering membuatku kesal namun di sisi lain membuatku tersenyum.

«1
Sign In or Register to comment.