BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Semua Tentang Kita

2456713

Komentar

  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    oh gitu ... oke ...
  • Aku membawa berbagai macam keperluanku saat aku harus menginap di sekolah, mulai dari jaket, sandal, sarung buat ibadah, makanan dan juga obat-obatan yang mungkin nanti aku butuhkan. Kita di suruh masuk ke ruangan masing-masing. Semua siswa akan tidur di ruangan lantai 2 dengan 3 ruangan yang di pakai,dan para siswi di lantai 1 dengan 5 ruangan yang di pakai. Aku dan kelompokku yang cowok masuk disalah satu ruangan di lantai 2 dan menyimpan barang barang bawaan kami disana lalu istirahat sebentar, aku duduk di pojokan seperti biasa karena pada dasarnya aku tak memiliki teman untuk bisa di ajak ngobrol, jadi lebih baik aku diam di pojokan.
    “hei, Dan. Gue kok gak lihat si Arsya?” tanya seseorang ke si Dadan, aku yang dari tadi juga menanyakan hal itu namun dalam pikiranku sendiri langsung pasang telinga ku harap aku bisa tahu keberadaan Arsya.
    “si Arsya sakit, dia gak bisa ikut acara nginap ini” jawabnya.
    jadi dia sakit? Aku hanya terdiam setelah mendengar jawaban si Dadan tadi. Gak lama ada seseorang masuk dan ternyata Kak Erwan, oh iya setelah kejadian suap menyuap, aku sama Kak Erwan jadi jarang ngobrol, aku sih biasa aja, kalau dia tanya juga aku jawab, tapi kayaknya dia gak mau tanya aku duluan, jadi akupun sama gak mau tanya dia duluan.
    “Perhatian semuanya, kalian di tunggu di lapangan untuk menerima penataran dari ketua pelaksana tentang kegiatan apa saja yang akan kita lakukan nanti” ucap Kak Erwan dan lekas pergi keluar ruangan setelah sebelumnya dia melirik ke arahku, aku yang diliriknya pun langsung menundukan kepalaku.
    Setelah semua orang pergi dari ruangan menuju lapangan, akupun langsung mengikuti mereka dan masuk ke barisan kelompokku. Kami disuruh duduk di lapangan itu dan satu persatu panitia masuk ke lapangan di pimpin oleh Kak Hendra yang paling depan lalu mereka berjajar di hadapan kami.
    “Selamat sore semuanya, ini adalah hari terakhir kegiatan MOS sebelum kalian di nyatakan di terima sebagai siswa-siswi di sekolah ini secara resmi” ucap Kak Hendra.
    Sekian banyak penuturan yang di ucapkan oleh Kak Hendra yang intinya kami di suruh mengikuti permintaan apapun yang diminta panitia, juga kami harus berhati-hati supaya menjaga ucapan kami agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,entah maksudnya apa, namun aku hanya nurut saja. Berbagai kegiatan berlangsung mulai dari shalat magrib berjamaah, ngaji, shalat isya, makan malam, permainan, dan lain sebagainya hingga kami disuruh untuk istirahat tidur hingga tepat tengah malam, kami akan di bangunkan untuk acara api unggun.
    Aku tidur di bagian pojok ruangan, setelah sekian lama aku terlelap ada sesuatu yang mengusikku, sebuah tangan menyentuh kepalaku, aku biarkan saja dia dengan pura-pura tidur, dia mengangkat sedikit kepalaku hingga ada sebuah kain menempel di bagian mata, seseorang itu sedang mencoba menutup mataku dengan sehelai kain dan dia mengikatkan kain itu di belakang kepalaku, aku mulai takut dan mencoba meronta, tapi sebuah jari menempel di bibirku tanda aku harus diam.
  • “tenang, Al. Ini Erwan” setelah mendengar suara itu aku diam kembali. Mungkin ini yang dimaksud acara kejutan, mereka bilang sih jeritan malam, karena disini para siswa baru akan di bawa ke tempat yang menyeramkan. “ikut aku, Al” ucap Kak Erwan, akupun berdiri dan mengikuti langkahnya dengan mata tertutup kain, setelah beberapa langkah, Kak Erwan berhenti akupun hampir nabrak dia, karena dia gak beri aba-aba untukku berhenti.
    “Kok berhenti, Kak?” tanyaku bingung
    “kita sampai di tangga, kamu hati-hati ya jalannya” Mendengar itu aku takut jatuh nanti, aku berniat buka itu penutup mata, tapi seseorang menahanku, aku yakin itu Kak Erwan. “Kamu tenang aja, aku pegangin kok, Al” ucapnya meyakinkanku. Akupun mulai melangkah menuju anak tangga, sampai ditangga terakhir aku bersyukur karena aku masih selamat, aku terus berjalan hingga akhirnya aku disuruh berhenti, dan tangan Kak Erwan lepas dari tanganku, selanjutnya adalah seseorang memegang tanganku dan menaruhnya di suatu benda yang sedikit empuk, aku memijat-mijat benda itu, menerka apa sesuatu yang aku pegang itu
    “hei pijitanmu enak” suara itu aku kenal, aku langsung menyingkirkan tanganku dari benda yang aku pikir itu pundak si pemilik suara. “Kenapa kamu melepas peganganmu? Nanti kamu tertinggal, ini aja aku lagi pegang pudak seseorang” ucapnya lagi. Aku yang udah tahu siapa pemilik suara itupun dengan ragu memegang pundaknya lagi, males sih harus bersentuhan sama si nyebelin Dadan, tepatnya aku yang nyentuh dia. “Lanjutin mijatnya” aku fikir kenapa dia bisa bersikap lembut ya bicaranya? Mungkin dia gak tahu kalau yang memegang pungaknya adalah aku. “kamu ko diam aja? Bicara dong, kamu siapa?” aku hanya berdehem dan “Itu Lo, Al?” dia sepertinya apal banget suaraku padahal aku hanya berdehem, akupun berdehem lagi tanda mengiyakan, tapi dia tak ada suara lagi hingga akhirnya terdengat seseorang berbisik.
    “Al, kamu tenang ya, jangan takut ini hanya tipuan, Kok” bisikan orang itu yang aku yakin itu Kak Erwan. Tapi kenapa dia ngasih tahu aku kalau ini tipuan? Tak lama kita mulai berjalan mengikuti langkah orang yang di depan, entah kemana ini tapi yang jelas kita hanya berputar-putar di tempat yang sama, hingga akhirnya seseorang memaksaku melepaskan peganganku dari pundak si Dadan, dan membawaku dengan kasar ke arah yang entah dimana, tangan kasar itu terus membawaku, dan aku hanya diam karena menganggap ini hanya tipuan. Tapi semakin kasar dia membawaku, menarik-narik tanganku hingga aku merasa ada yang tidak beres. Aku melepaskan kain yang menutup mataku dengan sebelah mataku, dan kagetnya aku karena aku melihat seseorang yang dengan kasar menyeretku dan orang itu aku gak kenal tapi aku pernah melihatnya sebelum kejadian di toilet waktu itu.
  • “Hei, kamu mau bawa aku kemana?” tanyaku
    “Kamu diam aja, ini akan menyenangkan”jawabnya dengan senyuman tepatnya seringaian, belum sempat aku berteriak ingin minta tolong seseorang sudah mendekap mulutku dari belakang, hingga aku tak bisa bersuara. Mereka membawaku ke sebuah lapangan kecil di belakang gedung sekolah disini gelap tak ada penerangan sama sekali. Mereka menyuruhku duduk di kursi yang sudah di siapkan, dengan kasar mereka mengikat tanganku di belakang dan membekam mulutku dengan perekat. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku, aku mencoba meronta namun hasilnya nol, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku diam saja mencoba mencari celah atau menikmati apa yang akan terjadi nanti, karena mereka tadi bilang bahwa ini akan menyengkan. Melihatku diam mereka pun tersenyum jahat kembali.
    “mmmmmmmm” hanya itu yang dapat aku keluarkan, maksudku adalah aku pengen pipis.
    “Lo mau apa?”
    “mmmmmm”
    “Oh iya lupa, gue akan buka penutup mulut lo asal lo janji lo gak akan teriak” pintanya dan ku balas dengan anggukan. Merekapun membuka penutup mulutku dan akhirnya aku bisa bernafas.
    “aku pengen pipis, Kak” ucapku
    “Bohong, kamu pasti bakal kabur kan?”
    “eng...” belum sempat aku meneruskan ucapanku, aku mendengar suara teriakan di arah sekolah, entah suara siapa tapi suara itu banyak, kayak orang yang ketakutan. Mungkin ini maksudnya jeritan malam, banyak orang yang menjerit di malam hari. Tapi kenapa mereka menjerit-jerit.
    “Lo diam disini sampai gue bolehin lo keluar dari sini”
    “Tapi aku pengen pipis” Lanjutku. Dia melepas ikatan tanganku dan akupun berdiri hendak menuju ke sekolah, tapi seseorang menahanku.
    “Tuh kan lo kabur” ucap orang yang menahan tanganku.
    “enggak, kak. Aku kan pengen pipis, jadi aku mau ke toilet”
    “Lo pipisnya disana tuh, Lo kan cowok jadi gak masalah kalau Lo pipis disana” ucapnya sambil menunjuk salah satu pohon besar yang ada disana.
    “Tapi, kak. Aku takut, anter”
    “Adeuh, ya suadah ayo” aku melangkahkan kakiku menuju pohon tadi dan pipis disana sedangkan Kakak yang ngenter aku berdiri di belakangku membelakangiku. Selesai pipis aku kembali ke tempatku disekap tadi dan orang yang mengantarku mengikat tanganku dan menutup mulutku lagi, aku hanya diam dan menghela nafas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama seseorang datang dengan membawa makanan dan juga minuman, dia orang yang ku lihat sebelum kejadian toilet juga.
    “Nih” dia menyodorkan makanan sama minuman nya itu, makanan nya nasi goreng yang kelihatannya enak banget. Kemudian dia membuka penutup mulutku pelan-pelan beda sama temannya yang tadi, dia kasar. Aku hanya melihatnya dengan tatapan bingung. Apa sih yang sedang terjadi disini?. “Lo abisin tuh makanan” ucap orang yang bawa makanan tadi sambil membuka ikatan tanganku, aku berdiri dan hendak pergi dari tempat itu, namun orang yang membawa makanan tadi menahan tanganku dan menyuruhku duduk kembali.
    “Kakak siapa sih? Apa yang mau Kakak lakukan sama aku?” tanyaku dengan nada kesal
    “gue gak nyuruh lo bicara, gue hanya nyuruh lo makan itu, jadi makanlah dengan cepat sebelum para panitia goblok itu datang dan liat lo sedang makan enak disini sedangkan peserta yang lain sedang menjerit-jerit ketakutan”. Aku hanya terdiam dan gak mau menyentuh makanan atapun minuman itu, karena aku takut makanan atau minuman itu beracun. Tapi dia dengan cepat memakan nasi goreng dan meminum minuman yang dia bawa. “tuh gue udah makan dan minum, gue gak masukin racun sedikitpun ke makanan atau minuman itu. Jika iya itu beracun, maka gue akan mati duluan” ucapnya dan aku mulai makan nasi goreng itu dengan lahap, entah enak atau lapar aku menghabiskan semua nasi gorengnya dengan cepat dan minum minumannya, tanpa menghiraukan orang-orang tadi hingga seseorang lagi datang.
  • “Al, kamu ngapain disini?” tanya orang yang baru datang itu, Kak Erwan.
    “Aku lagi makan, Kak” jawabku polos
    “kamu dapat darimana nasi goreng itu?”
    “dari orang in...” aku menunjuk ke arah samping tapi tidak ada seseorangpun disana, aku mengedarkan pandanganku namun tak ada orang lain selain aku sama Kak Erwan.
    “Kamu cari siapa?”
    “tadi ada orang lain disini, 2 orang membawaku kesini secara paksa dan satu orang lagi datang membawa makanan dan menyuruh aku makan ini, tapi kemana mereka?” Kak Erwan terlihat bingung dan mencari orang yang aku maksud, tapi memang di tempat ini gak ada siapa-siapa.
    “kamu kenal sama mereka?”
  • Itu part 1 ya man teman...
    Tunggu part selanjutnya yaa
  • Untuk sementara kasih bintang 3 dulu ya? Kalo ntar mostingnya lebih cepet ntar ku tambahin bintangnya
  • Makasih @Yadim6595 stay tune di STK yaaa jangan lupa like and comment
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    ka Erwan aneh ...? itu siapa ya ...
  • Part. 2. Ternyata Dia
    Sudah seminggu sejak berakhirnya MOS aku mulai sekolah disini, di minggu pertama kegiatan KMB tidak tidak begitu efektif, di hari pertama yaitu pembagian kelas, aku berada di kelas VII-C dan dengan senangnya aku masuk di kelas itu karena di kelas itu juga ada siswa yang bernama Arsya meski agak kecewa karena si nyebelin Dadan juga turut satu kelas sama kita. Di kelas aku gak menjabat sebagai apapun karena mungkin aku lebih pendiam di banding yang lainnya, ketua kelasku namanya Erik, dia orangnya jail, slengean dan semua hal-hal negatif ada di dirinya, dia kepilih jadi ketua kelas karena hanya dia yang mengacungkan tangannya ketika wali kelas bertanya siapa yang berkenan menjadi ketua kelas. At least dia yang jadi ketua kelas. Aku duduk di barisan ke 2 dari belakang dan aku duduk sendiri, gak ada teman sebangku tapi aku suka itu karena memang pada dasarnya aku lebih suka sendiri. Di kelas aku banyak kena jailan teman-teman sekelasku, mulai dari kursi dudukku di umpetin hingga aku harus nyari kursi lagi di gudang belakang sekolah, tragedi terkunci di wc season 2, dan banyak hal-hal buruk lainnya yang menimpaku. Jariku pernah sampai berdarah karena terjepit pintu wc saat seseorang yang dengan sengaja menutup pintu dengan kencang dan hasilnya tanganku yang memegang ujung pintu terjepit hingga berdarah. Aku sempat berteriak saat itu namun tak ada seorangpun yang peduli hingga aku memutuskan untuk pergi ke UKS. Di UKS aku bertemu dengan Kak Nurul, dia sedang membawa kotak P3K.
    “Tangan kamu kenapa, Al?” tanya dia menghampiriku dan menatapku dengan khawatir
    “kejepit pintu, Kak”
    “Kebetulan aku baru saja melengkapi kotak P3K, sini aku obatin” ujarnya memegang tanganku yang berdarah sambil sesekali meniup tanganku itu,aku hanya diam sambil sesekali meringis saat cairan merah itu menyentuh lukaku, jariku yang terluka sudah di perban dengan rapih oleh Kak Nurul dan aku mengucapkan terimakasih sama dia lalu pamit ke kelasku.
    Suasana di kelasku sangat kacau dan ricuh, gak ada satupun yang bisa tenang kecuali saat guru hadir, aku bosan di kelas ini, banyak yang menjailiku bahkan tak ada seseorangpun yang membantuku, ketua kelasnya aja urakan, apalagi siswa-siswinya. Aku hanya bisa menghela nafas setiap kali ada Erik and the gank menjailiku, Erik punya Gank yang senantiasa menjailiku setiap harinya mereka berjumlah 4 orang termasuk Erik salah satunya, Gank lain yang suka menjahiliku adalah Dadan dan kawan-kawannya tapi lebih tepatnya hanya si Dadan yang suka menjahiliku, yang lainnya hanya ikut tertawa atau sekedar tersenyum seperti yang selalu aku lihat di wajah temannya si Dadan, Arsya.
  • Suatu hari aku baru saja masuk ke kelas, mungkin aku kepagian karena belum ada seorangpun di kelas, aku menuju kursi tempat dudukku dan menyimpan tasku di belakang tempat dudukku, hingga aku mendengar ada suara dari luar, suara cekikikan 2 atau 3 orang sepertinya aku kenal suara ketawa mereka, aku menoleh keluar jendela melihat siapa yang tertawa di luar, aku kaget saat melihat tiga orang itu, mereka adalah Kak Ardit, Kak Lukman, dan Kak Dedi siswa kelas VIII yang dulu sempat memberiku nasi goreng pas acara terakhir MOS. Aku tahu nama mereka dari Kak Erwan.
    #flashback on
    “Kamu kenal sama mereka?” Tanya Kak Erwan
    “Enggak, Kak” jawabku
    “apa kamu berhalusinasi?”
    “mana mungkin aku berhalusinasi, aku sadar, Kak. Buktinya itu bekas nasi goreng yang tadi aku makan” sambil menunjuk kertas nasi goreng dan minuman yang tadi aku minum
    “ciri-ciri mereka seperti apa?”
    “mereka ada 3 orang, yang 1 agak pendek, yang satu tinggi dan yang terakhir agak tinggi, mereka menyebut satu sama lain dengan panggilan, Ded untuk si pendek, Uluk buat si Tinggi dan Dit buat si tampan, eh maksudku si sedang” ujarku
    “aku kenal sama mereka, mereka adalah Dedi, Lukman, sama Ardit, mereka adalah 3 serangkai yang suka bikin onar di sekolah. Tapi untuk apa mereka membawamu kesini dan memberikanmu makanan. Aku harus laporkan kejadian ini ke pembina kesiswaan”
    “jangan Kak, jangan laporkan mereka, lagi pula aku gak apa-apa, kan? Aku baik-baik saja.”
    “tapi...”
    “udahlah Kak, lupain aja”
    #flashback off
    Aku menghampiri mereka bertiga, dan mereka malah melihat dengan tatapan aneh padaku.
    “mau apa, Lo?” ucap Kak Lukman
    “aku mau berterima kasih sama kakak semua atas nasi goreng waktu itu”
    “Hanya terima kasih?” tanya Kak Ardit sambil mendekat ke arahku dan tersenyum
    “maksud Kakak?” tanyaku melangkahkan kakiku ke belakang
    “Lo takut?” tanyanya dan aku hanya menelan ludah
    “a..aku” aku bingung harus berkata apa, jujur aku takut melihat mereka bertiga apalagi dengan tatapan Kak Ardit yang seakan akan memakanku
    “Al” panggil seseorang di belakangku, aku tahu itu Arsya. Aku menoleh kebelakang saat dia menghampiriku. “Ada apa nih?” tanya Arsya pada Kak Ardit. Namun Kak Ardit hanya melihatku dan tersenyum lalu pergi. Aku bingung dengan sikapnya Kak Ardit. “Al, kamu gak apa-apa, kan?” tanya Arsya lagi. Aku hanya mengangguk cepat dan masuk ke kelas. Arsya mengikuti langkahku masuk kelas dan duduk di kursinya.
    Aku hanya menunduk tak berani menatap mata si Arsya yang dari tadi memandangku. Tak butuh waktu lama suasana langsung berubah karena satu persatu siswa sekelasku datang juga si Erik dan komplotannya. Aku menatap mereka sekejap dan langsung menundukan kepala lagi. Tiba-tiba seseorang ada yang berdiri di depan mejaku dan aku yakin itu pasti Erik, aku menatapnya dan dia tersenyum, aku bingung dengan arti senyuman itu. Dia mendekat dan duduk di kursi sebelahku. Aku hanya diam terpaku dan entah apa yang harus aku lakukan, aku yakin setelah ini ada kejadian buruk yang akan menimpaku, aku tinggal hanya menunggunya saja.
    Sampai pelajaran kedua selesai, belum terjadi apa-apa sama aku, aku sedikit lega karenanya. Semua siswa keluar untuk istirahat, kecuali Erik sama aku. Aku gak berani melangkahkan kakiku melewatinya, karena hal buruk bisa saja terjadi padaku, sialnya aku duduk di pojok dekat tembok, at least aku gak bisa keluar sekarang. Lama aku tunggu si Erik gak juga kunjung pergi hingga aku beranikan diri untuk menatapnya, dan tenyata dia juga sedang menatap aku, aku diam tanpa ekspresi hingga dia pegang tangan aku kemudian di belakang ada orang yang menahan pundakku, dia temannya erik, tanganku yang lainpun di pegang dengan kuat, aku meronta saat itu mencoba melepaskan diri, tapi tak ada hasilnya.
  • “Diem, Al. Gue hanya akan ngasih tau pelajaran biologi aja” ucap si Erik mendekatkan wajahnya ke wajahku, saat aku akan teriak, teman si erik yang menahan sebelah tanganku menutup mulutku, hingga akhirnya Erik mengeluarkan sebuah handphone dan memperlihatkannya padaku, aku sekejap bingung karena untuk apa dia memperlihatkanku hpnya, tak lama kemudian dia memencet tombol dan keluarlah sebuah video yang tak pantas anak smp lihat, aku terbelalak dan menutup mataku, namun erik dengan paksa membuka mataku, aku membuka mataku karena dengan sengaja Erik menggigit bahuku. “Lo Liat tuh video, lo harus tau supaya lo tambah pinter, bukan hanya di mapel saja, tapi di biologi juga, supaya nanti pacar lo gak nyesAl menjadikan lo pacarnya” ucapnya. Aku memang cukup pintar di mata pelajaran, terutama matematika dan bahasa, tapi untuk masalah seperti ini aku benar-benar fasif, gak tau apa-apa.
    Aku yang tadinya berusaha menolak akhirnya terdiam, karena penasaran juga dengan adegan di video itu, hingga tanpa sadar mereka yang tadi memegang tanganku akhirnya melepaskan tangan mereka dariku, sekarang hp yang tadi di pegang erik, pindah ke tanganku, dan aku tidak melewatkan setiap adegan dari video itu. Aku melihat benda besar dan panjang itu masuk ke tubuh seorang wanita yang terlihat kesakitan tapi juga menikmatinya, burungku pun tanpa aku suruh sudah bangun dan celanaku sedikit sempit. Sedang asyik menonton video itu, tiba-tiba ada seseorang merebut hp erik dari tanganku, aku menoleh dan melihat kearah orang yang membawa hp itu dan betapa terkejutnya aku karena orang yang mengambil hp itu adalah wali kelasku, aku menoleh ke arah sekitar disini Erik dan komplotannya gak ada, sejak kapan mereka pergi. Aku menatap wajah wali kelasku dengan tatapan takut.
    “Al Erwandha ikut dengan ibu sekarang” perintahnya, aku yang ketahuan basah menonton film seronok itu hanya menurut dan menundukan kepala, saat keluar kelas, banyak pasang mata yang menatapku, diantaranya ada yang terlihat kasihan ada juga yang menertawakanku, di depan kelasku ada Erik dan komplotanya tersenyum puas. Aku yakin ini pasti rencana Erik, dia juga yang lapor ke wali kelas hingga wali kelas yang tidak ada jadwal mengajar datang ke kelas. Aku hanya bisa menghela nafas dan menahan air mata, ingin rasanya aku nangis tapi aku gak bisa. Aku terus melangkah mengikuti wali kelasku, tapi kita melewati ruang BP, kita menuju ruang UKS. Aku bingung kenapa aku dibawa ke ruangan ini, bukannya ke ruang BP. Wali kelasku masuk diikuti olehku, kemudian dia menutup pintu UKS dan menyuruhku duduk di kasur.
  • “Ini HP siapa?” tanya wali kelasku dengan tatapan marah.
    “itu HP Erik, Bu”
    “kenapa kamu bisa pegang HP dia lalu nonton hal yang seharusnya tidak kamu tonton?”
    “saya di paksa, Bu. Awalnya saya menolak, tapi lama kelamaan saya jadi keasyikan. Saya juga manusia, Bu. Saya khilaf. Maafkan saya, Bu” ujarku yang mulai meneteskan air mata
    “kenapa kamu menangis?”
    “karena saya sudah melanggar peraturan baik dalam sekolah ini maupun dalam agama saya, Bu”
    “jadi kamu sadar kalau kamu salah?” tanya beliau lagi dan aku hanya menganggukan kepala. Tak lama seseorang datang membuka pintu dan membawa segelas air putih.
    “Maaf,Bu. Saya hanya ingin memberikan ini sama Al” ucap orang itu.
    “iya, Wan” aku bingung kenapa ada Kak Erwan disini? apa dia tau tentang aku?
    “Ini Al, minum dulu biar kamu tenang” Kak Erwan memberikanku air minum yang ia bawa, dan aku meminumnya. “Kamu tenang aja, jangan khawatir, Kakak dan Ibu Fita sudah tau kalau kamu di jebak. Seseorang telah memberi tahu semua ini bahwa Erik dan komplotannya ingin menjebak kamu, dan untungnya teman si Erik lapornya ke bu Fita yang sebelumnya sudah Kakak kasih tahu perihal rencana Erik itu” jelas Kak Erwan, aku hanya melongo tak begitu kaget memang mendengar bahwa Erik dan komplotannya yang merencanakan semua ini, tapi siapa orang yang sudah memberitahu Kak Erwan perihal rencana Erik?
    “Ibu harap, kamu lebih berhati-hati lagi ya Al, kamu jangan lemah, kamu itu laki-laki jadi kamu harus bisa menjaga diri kamu sendiri” Ujar Bu Fita
    “Iya, Bu. Makasih”
    “Biar Erik sama komplotannya ibu yang urus, sekarang kamu jangan nangis, ibu percaya sama kamu” ucap Bu Fita. ”Wan, saya minta kamu jaga Al, ya. Kamu ajarin dia supaya dia gak mudah menyerah dengan keadaan, dan jangan sampai hal serupa terulang lagi, ibu percaya kamu bisa menjaga Al” ucap Bu Fita ke Kak Erwan.
    “Iya, bu. Siap” jawab Kak Erwan. Bu Fita lalu meninggalkan aku dan Kak Erwan di ruangan UKS ini. “Kamu jangan nangis lagi, jelek tahu” ucap Kak Erwan mencoba menghiburku
    “Kak, siapa orang yang ngasih tau kakak perihal rencana Erik?” tanyaku sedikit mendongakkan kepala menatap wajah Kak Erwan yang berada di Atasku
    “Kalau gak salah namanya Arsya” jawabnya. Aku agak terkejut mendengar nama itu, berarti hari ini Arsya sudah 2 kali menyelamatkanku, aku harus berterima kasih sama dia. “Al, kamu baik-baik saja,kan?” Tanya Kak Erwan yang melihatku sedang memikirkan sesuatu
    “Makasih ya,Kak” ucapku sambil tersenyum dan semakin erat memeluk tubuh Kak Erwan, begitupun dia yang mengeratkan pelukannya. Entah mengapa aku nyaman saat berada di dekatnya, meski kadang risih juga saat dia memperlakukanku seperti aku ini seorang perempuan, bahkan saat di depan banyak orang. Aku melepaskan pelukanku saat sadar ada seseorang yang memperhatikan kita, entah siapa dan dimana yang jelas orang itu memandang kearah aku dan Kak Erwan saat ini. Akupun bediri dan hendak pergi ke kelas kembali di ikuti oleh Kak Erwan dari belakang. Kak Erwan mengantarkanku hingga ke depan kelas dan dia pamit menuju kelasnya.
2456713
Sign In or Register to comment.