BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

[L A C U N A]

INTERLUDE

Lacuna [n] a blank space on a form, the missing page, a void, a hole in your knowledge of someone.

Tau rasanya kehilangan? Enggak enak sama sekali kan? Seperti ada yang tidak lengkap. Setahan apapun, kita pasti butuh penggantinya. Tapi, bukan aku namanya kalau bersikap baik-baik saja tidak bisa. Okay, satu kalimat kebhongan baru meluncur dengan sangat lancar, tapi kenapa aku masih bisa tersenyum?

Setiap orang pasti punya lacuna-nya masing-masing. Bahkan kadang tanpa kita sadari, ternyata kita adalah lacuna-nya seseorang. Seperti kamu, satu nama yang menghuni ulu hati, menanamkan perasaan tertentu, tapi kenapa aku malah merasa hampa?

Aku mencari terus tanpa henti. Dari satu orang ke orang lainya. Lantas, sekeras apapun aku mencoba mengisinya, ruang itu tetaplah kosong. Kuputuskan cara lain, membiarkannya tertutup, using, hingga berdebu, tapi kenapa rasanya tetap tidak nyaman?

Kamu mendominasi seperdua dunia mimpiku. Kamu menjelma menjadi langit-langit kamar yang selalu kupandang, lalu aku ingat kamu lagi. Suaramu ada dalam harmoni detik-detik jam dinding yang menggema ke sudut kamarku. Padahal kan kamu hilang, tapi kenapa keberadaanmu terasa nyata?

Tidak ada yang tau tentang eksistensi lakuna ini. Sebab ada yang cukup kujadikan sebagai rahasia saja, selamanya. Tak masalah kalau aku yang sakit, asal bukan kamu. Kini, aku menutup rapat-rapat hatiku. Biarlah, aku belum ingin terluka lagi.

Komentar

  • kikyokikyo ✭✭ Silver
    Selamat datang, agak blank mungkin karena lagi pusing. Jadi ntar aja deh dibca lgi. Semangat, moga sampai tamat yahhhhh
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Menarik ...penasaran ...
  • 070689_070689_ Virgin
    Rutinitasku setiap pagi adalah mampir ke sebuah coffee house untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Hampir setiap pagi aku sarapan di tempat yang sama, dengan menu yang sama, di meja yang sama. Tapi kali ini, ada satu hal yang berbeda. Aku datang kesini bukan sekedar untuk sarapan, tetapi aku menunggu seseorang.

    Aku mengetukan jari ku di atas meja berulang-ulang. Gelisah. Menatap nanar secangkir kopi hitam yang dari tadi belum aku sentuh. Mataku sesekali mengintip jarum jam di dinding melalui ujung mata. Aku semakin gelisah, bersandar lemas pada kursi, merapatkan kedua tangan dan tertunduk lesu. Pelan-pelan aku menghitung kancing kemeja ku. Belum genap ku hitung sampai 4, tiba-tiba ada yang menyentuh bahu ku.

    “maaas…” suara perempuan yang aku kenal betul pemiliknya.

    “Hai Lid.” Kataku sambil menoleh.

    “Loh, sarapannya belum dateng?” Tanyanya sigap, sambil siap-siap berlalu ke belakang.

    “No.” Aku meraih tangannya. “Gue nunggu temen dulu.”

    “Temen?” Tatapnya penuh curiga, dengan seringai dibibirnya.

    Aku menghela nafas dalam, lalu tersenyum, “Gue gak mungkin blind date sepagi ini kan, Lidya.”

    “It looks like you do.” Jawabnya sinis sambil berlalu.

    “C’mon!” Teriakan ku pecah, diiringi beberapa pasang mata yang menatap aku dan Lidya.

    Lidya adalah pemilik dari coffee house ini, dan aku semacam regular customer yang candu sama kopi hitamnya. Lokasinya yang searah dengan perjalanan ke kantor, terlebih aku memang mengenal sosok Lidya, jadi alasan utama kenapa aku gak bisa pindah ke lain tempat. Aku mengenal sosok Lidya sudah cukup lama. Tepatnya sejak kami dijodoh-jodohkan oleh orang tua beberapa tahun silam. Untungnya, kami bedua sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan itu. Pertama, karena Lidya sudah memilih lelaki yang dicintainya. Kedua, karena aku tidak dapat memaksakan hati untuk menyukai perempuan, dan Lidya memahami itu semua.

    “Hai.” Suara husky memecah lamunanku. Sosoknya sudah menempati kursi kosong di depanku.

    Aku seperti terhipnotis. Memandangi wajahnya yang tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Hanya saja, senyuman dibibirnya bukan senyuman bahagia yang aku kenal dulu. Aku tidak pandai membaca perilaku seseorang, tapi aku percaya bahwa senyuman itu sedikit dipaksakan ketika mata kami bertemu.

    “Apa kabar?” Tanyanya. Sekali lagi aku masih merasakan ada yang ganjil dari caranya bertanya.

    “Baik, alhamdulilllah.” Jawabku ragu. Karena sekarang aku tidak tau apakah aku benar-benar baik atau aku ingin terlihat aku baik-baik saja.

    “Mau pesan apa?” Tanyaku singkat.

    “Gak usah. I’ll make it quick.” Jawabnya sebelum sempat aku memanggil pelayan.

    Kami sama-sama terdiam, aku memaksa menatap matanya, mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang akan dikatakannya. Dia berkali-kali mencoba melepas pandanganku, mengatup-ngatupkan bibirnya meragu untuk mengatakan sesuatu. Membuang jauh pandangannya, sama seperti dulu dia membuang jauh aku begitu saja.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Jadi penasaran ... dilanjut ...
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Ada apa ya ... ?
  • iniombowiniombow ✭✭✭✭✭ Diamond
  • Beberapa tahun lalu, aku dan Deri baru saja merayakan anniversary kami yang ketiga. Pada saat itu, entah bagaimana caranya aku bisa bertahan begitu lama dengan sosok yang sangat dingin dan kaku seperti mesin. Walau kadang sikap romantisnya muncul, tetap saja aku merasa aneh dan janggal. Aku sendiri heran sampai ada orang seperti dia.

    Bahkan pada moment anniversary seperti inipun, dirinya masih duduk di belakang layar menyelesaikan pekerjaan kantor yang dibawa pulang. Inikah quality time yang dijanjikan dia beberapa hari lalu? Sayangnya harapanku terlalu jauh tinggi.

    “Coffee.” Aku meletakan secangkir kopi hitam di mejanya. Dia masih fokus dengan entah C++ atau C# aku tidak paham, dan bahkan sama sekali tidak melihat kearah ku.

    “Der.” Aku duduk di atas meja kerjanya. Menyeruput kopi milikku.

    “Kalau aku di Jogja nanti, kamu bakalan kangen gak sama aku?” Tanyaku membuka obrolan. Tapi, tetap saja, dirinya masih fokus pada pekerjaannya.

    Setelah lulus kuliah akhir tahun lalu, aku memutuskan untuk lanjut kuliah lagi. Tentunya bukan tanpa alasan aku membuat keputusan demikian. Pertama, aku menjawab tantangan yang diberikan oleh orang tua ku. Kedua, aku merasa perlu untuk memperdalam dan mengerucutkan ilmu yang ingin aku geluti. Setelah berdiskusi dengan orang tua, dan tentunya Deri sebagai pasangan, aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Jogja dan berhasil diterima. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Jogja nantinya setelah lama aku tinggal sejak aku lulus SMA.

    Sigh
    Deri menghela nafas panjang, merebahkan punggungnya pada kursi kerjanya. Matanya menatapku dalam.

    “Kenapa harus kangen? Ada telpon, ada WhatsApp. Kamu kan tau kalau aku selalu bisa dihubungi lewat manapun.” Jawabnya sambil meraih cangkir kopinya.

    Aku cuma bisa tersenyum. Senyum pahit yang aku paksakan untuk terlihat manis. Andai saja setiap telponku kamu jawab, andai saja setiap WhatsApp yang aku kirim selalu kamu balas, andai saja percakapan yang kita lakukan bukanlah percakapan singkat, andai saja …. Ah sudahlah. Aku tidak ingin menutup malam ini dengan pertengkaran.

    Setelah beberapa bulan aku di Jogja, dugaan ku benar. Apa yang Deri katakan waktu itu, rasanya cuma omong kosong untuk memuaskan pertanyaanku. Dari sekian banyak telpon, hanya sesekali dia menjawab, dan itu tidak berlangsung lama. Dari sekian kali aku kirim WhatsApp, hanya dibalas seperlunya dan singkat.

    Suatu kali aku punya kesempatan untuk pulang ke Jakarta, aku berusaha menemuinya. Mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk membahas masalah komunikasi yang mengganjal. Bagiku, komunikasi adalah masalah serius ketika kita menjalani hubungan. Aku rasa, Deri selalu menyepelekan hal tersebut.

    Aku memarkir mobil ku di depan rumah kost Deri, tepat di bawah pohon angsana besar. Deri bersiap membuka pintu, tapi aku berhasil mencegahnya. Tangan ku menahan pundaknya.

    “Der, we need to talk.” Ucapku diiringi nafas yang berat.

    “Tentang?” Tanyanya singkat.

    “Aku ngerasa akhir-akhir ini kamu berubah. Semakin sulit dihubungi. Aku ngerasa kita semakin jauh.” Aku masih berusaha mengatur nafasku.

    “Apalagi yang lebih jauh dari jarak Jakarta dan Jogja?”

    “Jarak hatimu dan hatiku yang entah bagaimana mengukurnya.” Ucapku pelan.

    “Kamu cuma kena sindrom orang LDR aja itu. Gak usah terlalu berlebihan.” Ujarnya enteng.

    “Aku bukan anak kecil lagi yang bakalan tenang kamu kasih jawaban kayak gitu. I desperately need to know the truth. What the hell is going on?” Aku berusaha menahan kekesalanku akibat akumulasi sikap Deri yang semakin dingin selama ini.

    “I met a girl!” Bentaknya keras. Masih menggema ditelingaku.

    Aku berusaha tidak terlihat kaget. Berusaha mencerna kalimat yang baru saja aku dengar. Keheningan menyekat antara aku dan Deri. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, dan hujan di luar sedikit demi sedikit mulai reda.

    “Sudah lama Der?” Tanyaku berusaha tenang.

    “Setahun.” Jawabnya lirih.

    “Kalau aku gak tanya, kapan rencananya bakalan bilang sama aku?” Aku mulai mengintimidasi.

    “Listen.” Deri menghela nafas panjang. “Aku sayang sama kamu, sayang banget. Tapi aku juga sayang sama perempuan ini. Aku selalu berpikir bagaimana caranya agar aku gak nyakitin kalian berdua.”

    “Itu cuma masalah waktu, cepat atau lambat kamu pasti menyakiti salah satunya. Dan terimakasih sudah memilih itu aku.”

    “Aku butuh waktu untuk sendiri dulu.” Jawabnya sambil bersiap keluar mobil.

    “Atau menghidari aku.” Balasku sinis.

    Aku berusaha mati-matian menahan air mata ketika Deri menutup pintu mobil. Aku gak bisa pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Aku menginjak pedal gas ku meninggalkan pohon angsana sendirian, mengambil beberapa lembar tisu dari dashboard, karena aku tidak sekuat yang aku pikirkan.

    Sejak kejadian itu, aku dan Deri sama sekali tidak saling menghubungi. Walau terkadang ada rasa kesepian, aku berusaha menahan untuk tidak menghubunginya. Aku mulai menyibukan diri dengan berbagai tugas-tugas di kampus. Ikut dalam beberapa penelitian dosen yang menyita banyak waktu. Menjadi pemakalah dalam seminar-seminar nasional dan internasional. Membangun pertemanan dengan anak-anak di kampus. Aku melewatinya selama dua tahun di Jogja. Dan setelah itu, aku lulus dengan sangat memuaskan.

    Setelah lulus dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta, aku diterima bekerja sebagai tenaga pendidik di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sudah sekitar satu tahun aku mengabdikan diri di kampus ini. Walaupun belum memiliki jenjang kepangkatan, posisiku cukup diperhitungkan di sini. The whole thing is just perfect, except this emptiness.

    Sampai pada kemarin pagi, sebuah panggilan tidak terjawab muncul di notifikasi handphone dari nomor yang tidak aku kenal. Dan sekali lagi panggilan masuk dari nomor yang sama pada saat jam makan siang. Aku berencana untuk tidak menjawabnya karena takut nomor penipu yang lagi ngetrend belakangan ini. Tapi aku pikir, menelpon dua kali dalam jeda waktu yang cukup lama, pasti ada sesuatu yang penting. Aku menggeser layar handphone ku.

    “Hey, it’s me.” Suara pria terdengar di ujung sana.

    “Sorry.” Balasku tidak yakin.

    “Deri.” Katanya singkat yang langsung meruntuhkan semua perasaan ku.

    Tidak banyak yang kami bicarakan. Aku canggung. Tidak! Bukan aku, tapi kami. Dia tau kalau aku sekarang di Jakarta. Dia tau kalau aku sudah bekerja. Tapi aku tidak tau apa-apa tentangnya. Sebelum telpon terputus, kami sepakat untuk bertemu besok, sebelum aku berangkat ke kantor. Tiba-tiba aku menjadi semangat. Aku penasaran seperti apa dia sekarang? Masihkah seperti yang dulu?
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    Jadi penasaran juga ...
Sign In or Register to comment.