BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

DAMAR WAHYUDI

sar_elsar_el ✭ Bronze
Mohon dimaklumi kalau ceritanya jelek dan tak beraturan, karena ini cerita pertama yang saya buat. Ternyata susah ya bikin cerita, apalagi kalau ceritanya fiksi.



“Damar?!” Ujarnya heran dengan lelaki yang duduk disamping kiri ranjangnya itu.

Lelaki yang ia panggi Damar itu rupanya tak banyak berubah, dari penampilan hingga wajahnya. Wahyudi, lelaki yang tergolek di ranjang itu melotot keheranan menatap sosok yang belasan tahun tak ditemuinya itu. Bukan tanpa alasan jika Wahyudi tak menengok lelaki yang menjadi pacarnya ketika SMA, melainkan keinginan dari Damar itu sendiri yang melarang Wahyudi untuk menjenguknya selama ia di penjara. Terlebih setelah Damar dipindahkan ke daerah lain yang kontan saja membuat ia semakin sulit untuk di jenguk. Ya, Damar pernah menjadi pesakitan akibat kasus pembunuhan yang dilakukannya. Namun tak disangka oleh Wahyudi jika Damar akan bebas dalam waktu secepat ini.

“Damar!” Wahyudi sekali lagi memanggil, kali ini ia berteriak dengan suara yang tertahan karena rasa sakit yang terasa hingga seluruh organ dalam, kali ini Damar menyahut dan bergegas menghampirinya.

“Hei... Jangan banyak gerak dulu, badanmu masih remuk,” jawab Damar tenang.

“Cepat sekali kau bebas dari penjara, kau melarikan diri?” Tanya Wahyudi yang masih heran dengan keberadaan Damar.

“Aku dapat remisi, karena aku baik hati seperti ibu peri,” Ujarnya sembari tersenyum.

“Hahahahah!” Wahyudi tertawa dengan tetap memegang perut dan dadanya yang terasa nyeri, sementara Damar hanya menatapnya dengan sorot mata kerinduan yang teramat sangat.

“Aku rindu padamu, Yudi. Kau tak banyak berubah setelah belasan tahun lamanya kita tak bertemu,” sorot mata Damar masih menggambarkan cinta yang sama seperti sebelum ia menghuni hotel prodeo. “Tapi sepertinya waktu kita miliki tidak lama,” tambahnya kemudian.”

“Kau mau kemana? Menyelesaikan dendammu? Kau akan membunuh lagi?” tanya Wahyudi heran.

“Tidak, dendamku sudah selesai, aku pun tak akan membunuh lagi. Tapi kau yang harus pulang kepada isteri dan anak-anakmu.”

“Tidak, aku tidak akan kembali lagi, perempuan itu bukan lagi isteriku. Kami telah bercerai.”

Tiba-tiba Wahyudi teringat kembali pada isterinya yang meminta cerai darinya demi menikahi lelaki yang jauh lebih kaya darinya ternyata adalah teman masa kuliahnya itu. Dan yang lebih menyakitkan lagi hal itu didukung penuh oleh semua pihak keluarga sang isteri meski statusnya masih memiliki suami. Walau hal itu membuat sedih kedua anak mereka, akhirnya tetap Wahyudi mengiyakan saja permintaan isterinya meski ia seperti sedang dikuliti hidup-hidup setelah bertengkar berkali-kali.
Mengetahui hal itu, Damar bingung harus bersikap seperti apa. Apakah ia harus senang karena punya kesempatan untuk memiliki lelaki itu seutuhnya, ataukah harus bersedih hati karena lelaki yang dicintainya itu kehilangan wanita yang diperjuangkan mati-matian.

“Maksudmu?” Damar menuntut penjelasan lebih lanjut.

Wahyudi kemudian menceritakan keadaan rumah tangganya yang telah porak-poranda sejak tahun kedua pernikahan karena mantan kekasih isterinya muncul lagi dan merongrong pernikahan mereka. Hanya saja saat itu ia dan isterinya sepakat untuk memperbaiki kembali hubungan mereka walau tak pernah berhasil. Namun selalu ada celah yang membuat pengikat tali cinta mereka merenggang.

“Kau harusnya senang mengetahui hidupku saat ini,” ujarnya menyikapi reaksi Damar yang dengan seksama mendengarkan ia bercerita.

“Kenapa aku harus senang sedangkan lelaki yang aku cintai sedang kesusahan?”

“Karena itu artinya kita memiliki kesempatan untuk bersama. Zaman semakin maju, Damar. Orang-orang di kota besar pun semakin tak mengindahkan satu sama lain. Itu artinya kita bisa dengan nyaman tinggal serumah tanpa takut dengan perkataan orang.”

“Bisa aku minta tolong padamu?” kata Wahyudi dengan tatapan yang tetap tertuju pada mata Damar.

“Apa pun itu, katakan saja,”

“Bisakah kau meletakkan bibirmu ke sini?” jawabnya sambil menunjuk bibir Damar lalu kemudian menunjuk bibirnya sendiri.

Damar tersenyum mendengar permintaan lelaki terkasihnya itu, namun begitu ia menurut saja.

“Apakah itu artinya kau setuju dengan ideku?” Tanya Wahyudi kemudian.

“Ide apa?” Damar mengernyitkan dahi tak mengerti.

“Kita akan tinggal bersama,” Wahyudi memperhatikan wajah Damar dengan seksama, terlihat ada keraguan di wajahnya. “Memang tak ada ikatan pernikahan diantara kita, tapi cintamu dan cintaku telah terikat disini selamanya,” lanjutnya kemudian sembari meraih tangan Damar lalu meletakan di dadanya.

Damar yang sedari tadi hanya menyimak saja, kini memeluk Wahyudi dengan perasaan bahagia.

“Aku sayang kamu, Yudi,”

“Aku juga sayang kamu, Damar,” jawab Wahyudi sambil mengusap kepala Damar, ada semacam kilatan yang kemudian menyatu ke dalam darahnya.

“Lalu bagaimana dengan anakmu? Aku tak mau mereka kehilangan ayahnya dan aku juga tak mau menjadi penghalang antara ayah dan anak,” Damar menatap mata Wahyudi lekat-lekat.

“Kita bisa bertemu mereka di sekolah,”

“Di sekolah? Kau tak akan menengok mereka ke rumahnya?”

“Aku tak akan lagi ke rumah itu setelah apa yang mereka lakukan kepadaku. Kau lihat keadaanku sekarang? Ini akibat ulah mereka, perempuan itu dan keluarganya. Aku tak tahu apa salahku lalu mereka menghakimiku atas hal yang aku tak paham sama sekali, padahal aku sudah setuju untuk bercerai dengan pelacur sialan itu,” katanya dengan berapi-api menjelaskan hal yang Damar tak ingin tanyakan sebelumnya karena takut Wahyudi akan enggan membahasnya.

“Kau tahu tempat yang akan kita tempati nanti? Atau kau punya gambaran kedepannya nanti kita akan bagaimana?” tanya Damar kemudian setelah keheningan yang cukup lama.

“Aku memiliki penginapan di lereng gunung sana yag kubangun dua tahun lalu, kurasa kita bisa mengandalkannya untuk masa depan kita. Kita juga bisa menempati rumah kita yang dulu, aku masih merawatnya dengan baik karena terkadang aku menginap di sana untuk memastikan bahwa rumah itu tidak benar-benar mati. Aku selalu melihat wajahmu di sana, jiwamu dan juga cintamu menyatu di rumah kita. Aku tak pernah tertarik untuk menjualnya kepada siapa pun untuk alasan apa pun sampai kapan pun,”

Damar yang sejak tadi menyimak tak mampu berucap apa pun, hanya getar bibirnya yang menjelaskan semuanya.

“Aku sempat melewati rumah itu dan memang tak ada banyak perubahan di sana, aku melewatinya saja karena kupikir kau telah menjualnya,”

Damar sempat meminta Wahyudi untuk menjual rumah yang sempat mereka tempati bersama beberapa tahun sebelum akhirnya Wahyudi menikah dan ia dipenjara. Dakwaan 25 tahun penjara bukanlah waktu yang sebentar, dari itulah Damar meminta Wahyudi untuk untuk melupakan kisah mereka berdua. Karena siapa tahu nanti dirinya tak panjang umur karena kekejaman para penghuni penjara itu yang cukup melegenda.

“Aku tak akan menjualnya, karena disana sejarah kisah kita tercatat dan aku tak akan menghapus catatan hidup kita. Apalagi setelah kau menolak untuk menemuiku dan meminta dipindahkan tanpa memberi tahuku kemana kau akan dipindahkan.”

“Aku sengaja melakukannya karena kita sama-sama tahu kalau kau paling cengeng, lebih cengeng dari pada perempuan malahan. Kau ingat waktu orang tuaku meninggal karena pembunuhan waktu itu? Kaulah yang banyak menangis dan bersedih, padahal aku sama sekali tak menangis meski aku sedih dan sangat kehilangan,” ujar Damar mengingat kejadian masa SMA yang merenggut nyawa kedua ornag tuanya tersebut, yang mau tak mau juga membuka luka lama dan juga amarah yang membuat dadanya panas.

“Aku ingat,” jawabnya tersipu. “Saat itu kau yang menenangkanku dan memintaku untuk berhenti menangis, aku tak tahu seperti apa jadinya jika aku yang diposisimu saat itu. Mungkin aku akan bunuh diri,” ia melanjutkan.

“Aku tak akan membiarkanmu melakukannya, karena masih ada aku yang akan terus mendampingimu. Disisimu juga di hatimu, selamanya,”

“Penjara mengajarkanmu menjadi orang yang romantis?” kata Wahyudi yang heran dengan perubahan Damar dari sebelumnya yang kaku dan sama sekali tak memiliki jiwa romantis.

Damar menatap kaca jendela yang berkabut akibat hujan semalaman, sedangkan awan masih menghiasi langit hingga siang ini. Meski pun hujan tak lagi mengguyur bumi, tapi udara masih sangat dingin dan jalanan pun becek.

“Kita dimana? Jauhkah dari rumah kita?” tanya Wahyudi kemudian.

“Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 1 Kilometer, kita bisa berjalan kaki kesana kalau kau kuat,” Damar bangkit dari tempat tidur lalu mengulurkan tangannya kepada Wahyudi.

“Gendong,” ujar Wahyudi dengan nada manja.

Damar tak menjawab rengekan manja Wahyudi, ia hanya menatapnya dengan wajah datar. Sadar guyonanannya tak mendapat sambutan, Wahyudi lantas beranjak dari ranjang dan segera menuju pintu, keluar dari ruang yang menyanderanya sejak kemarin sore. Beberapa ruang yang dilewatinya memanglah terasa asing, beberapa perabotan di rumah itu pun telah usang dan cenderung tak tersentuh sama sekali. Bahkan tiang penyangga dan atap juga tinggal menunggu ajal.
Wahyudi berjalan dengan meringis karena nyeri yang ia rasakan di paha kirinya, Damar yang mengiringi hanya merangkul pundaknya. Sembari tertawa, meraka sedikit bernostalgia tentang awal mereka pacaran yang sembunyi-sembunyi karena takut akan orang tua masing-masing.

“Bagaimana keadaan orang tuamu? Adik-adikmu? Mereka sehat? Aku masih takut dengan ibumu,” tanya Damar sembari mengenang masa lalunya yang pernah dihardik oleh ibu Wahyudi karena pertemanan mereka yang memanglah tak lazim.

“Mereka tahu kisah rumah tanggaku seperti apa, aku juga pernah bercerita tentang hubungan kita. Meski mereka sempat terkejut dan marah, tapi sepertinya sekarang mereka mulai mengerti. Dan aku akan membuat mereka merestui hubungan kita yang tak lazim ini,”
«13

Komentar

  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    menarik ... penasaran juga ... dilanjut ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    > @lulu_75 menulis:
    > menarik ... penasaran juga ... dilanjut ...

    Saya nggak kepikiran lanjutannya malahan, heheee. Nanti saya pikirin. Makasih sudah mampir.
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    Mereka telah sampai rumah yang mereka tuju. Ada banyak dedaunan yang berserakan di halaman, Wahyudi memang malas menyapu dan membersihkannya. Lagi pula hal itu tidak dipermasalahkan oleh Damar, setidaknya untuk saat ini. Perlahan Wahyudi membuka pintu, lalu mereka masuk kedalam.

    Sontak saja Damar teringat masa yang telah lewat belasan tahun lalu, termasuk pertengkaran pertamanya dengan Wahyudi. Saat itu Damar marah karena Wahyudi pulang larut malam bersama teman yang turut serta bersamanya, yang mana temannya itu sama sekali tak dikenal oleh Damar. Pertengkaran pun tak terelakkan. Wahyudi mengatakan bahwa Aris, teman yang bersama Wahyudi saat itu, hanya teman biasa. Tapi Damar tak dapat percaya begitu saja, apalagi cara Aris dan Wahyudi bercakap-cakap hingga tatapan mata keduanya sangatlah tak biasa. Karena amarah yang tak dapat ditahan lagi, Damar serta merta meminta Aris meninggalkan rumah mereka juga memperingatkannya agar tak berhubungan dengan Wahyudi apa pun alasannya.

    “Dimana-mana orang jatuh cinta sama saja, Yudi! Laki-laki, perempuan, gay, lesbian, straight semua sama! Aku paham apa yang dia rasakan waktu dia sedang bersamamu, dan apa yang kau pikirkan saat dengannya! Semua jelas terlihat dari bagaiman kalian bercakap-cakap sampai kalian bersentuhan! Pertemanan antar lelaki tidak seperti kalian, Wahyudi!” Damar dengan amarah yang masih memuncak berbicara dengan lantang, ia tak perduli dengan suaranya yang mungkin saja akan dengan jelas didengar oleh tetangga.

    “Aris memang pernah mengatakan kalau dia menyukaiku, tapi itu dulu. Sudah lama sekali. Seperti yang kau lihat, aku memilihmu karena aku mencintaimu,” jawab Wahyudi kemudian. “Maaf kalau aku membuatmu marah, maaf juga kalau aku tak menceritakan tentang Aris kepadamu. Kupikir tak perlu menceritakan apa pun karena dia pindah sekolah ke daerah yang aku pun tak mau tahu sama sekali kemana dia pindah. Jadi aku angap dia menghilang dari kehidupanku. Faktanya dalah aku mencintamu apa pun yang terjadi.” lanjutnya.

    Damar tersenyum mengingat bagaimana dirinya mudah sekali dibujuk oleh lelakinya itu. Wahyudi kemudian menggandeng Damar menuju kamar yang dulu menjadi tempat peraduan dan pergumulan mereka, dan sekarang mereka akan memulai pergumulan itu lagi. Atau setidaknya sampai Wahyudi sembuh total. Mereka lalu menuju kamar yang terletak di lantai atas. Melewati anak tangga yang tak sepertinya tak berubah sama sekali membuat Damar merasa sedang memainkan piano dengan alunan lagu yang membuat matanya berbinar-binar.

    “Di kulkas sepertinya masih ada beberapa makanan yang bisa kau makan. Coba kau lihat saja di dapur,” ujar Wahyudi membuyarkan lamunannya, rupanya mereka telah sampai di kamar.

    “Kau lapar?” tanya Damar.

    “Tidak, aku tidak lapar. Perutku masih belum tertarik untuk diisi,” jawabnya.

    “Tapi kau harus makan,”

    “Tidak usah, aku masih tak selera,”

    “Baiklah kalau itu maumu, bagaimana kalau minuman saja. Ada teh atau kopi?” Tanya Damar kemudian.

    “Ada jahe bubuk di rak didekat kulkas, lihat saja di dalam toples kaca,”

    Damar kemudian berlalu meninggalkan Wahyudi menuju dapur. Ia menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu, jelas sekali suara derap kakinya setiap ia melangkah. Interior rumah ini tak berubah sama sekali. Lantai keramik coklat dan dinding dengan warna cat senada, photo dirinya bersama Wahyudi pun masih terlihat jelas dengan bingkai yang sama seperti dulu. Bahkan lukisan yang dulu mereka beli di pameran juga masih diposisinya. Tampaknya memang Wahyudi sangat teliti dalam merawat rumah ini kecuali pekarangan, tentu saja.

    Damar telah kembali ke kamar dengan dua gelas jahe panas, cocok dengan suasana siang ini yang masih mendung dan dingin. Wahyudi yang sedari tadi membaca buku tampak tersenyum saat Damar datang. Segera saja ia meminumnya yang ternyata benar-benar panas.

    “Mm!” seru Wahyudi saat gelasnya baru saja menyentuh bibir.

    “Kenapa?” tanya Damar.

    “Panas, air mendidih ya?”

    “Iya,” jawab Damar santai.

    “Bukankah ada stok air panas di termos?”

    “Airnya sudah dingin, jadi aku panaskan kembali,”

    “Jadi, bagaimana kehidupanmu di penjara?” tanya Wahyudi sesaat setelah menaruh gelasnya di meja yang terletak disebelah ranjang.

    Damar yang merasa tak nyaman dengan pertanyaan itu langsung terdiam. Tentu saja ia berat jika harus mengingatnya untuk saat ini juga.

    “Aku sebenarnya sangat khawatir dengan pertanyaanmu itu, karena jawabannya adalah kesakitan yang akan aku rasakan kembali,” jawab Damar dengan mata menerawang jauh, sementara Wahyudi yang tak benar-benar mengerti masih menatapnya dengan seksama sembari berharap penjelasan lebih lengkap atas jawaban yang baru saja ia terima. “Akan kuceritakan padamu esok hari, atau lusa atau mungkin keesokan harinya lagi,” lanjutnya dengan tatapan berharap pengertian dari Wahyudi.

    “Baiklah, tak apa kalau kau belum ingin menceritakannya saat ini. Kau butuh menenangkan hati dan juga pikiranmu. Kau dapat menceritakannya padaku kapan saja, aku akan mendengarnya dengan baik,” jawabnya dengan senyum yang ia harapkan dapat menenangkan hati Damar. “Habiskan minumanmu, lalu kita tidur,” imbuhnya.

    “Tidur?” tanya Damar heran.

    “Ya, tidur. Kenapa? Karena ini masih siang lalu kita tak boleh tidur? Lagi pula aku sudah lama sekali tak mencium ketiakmu yang bau busuk itu.”

    Damar hanya tersenyum kecil, lalu menuruti perkataan lelakinya itu. Ada perasaan khawatir dan yang mengikutinya dan hal itu membuatnya tidak tenang.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    ahirnya dilanjut ...^^ tetep penasaran ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    @lulu_75 Makasih penasarannya, semoga ceritanya tetap konsisten dan nggak ngelantur. Hehehe
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    Sore sudah datang bersama langit yang memerah bata di ujung barat sana. Damar yang sejak tadi tak bisa tidur langsung membuka jendela dan menatap keluar, ada semacam kerinduan akan kejadian yang sepertinya telah ia lupa. Dimana dan kapan terjadi? Damar enggan memikirkan terlalu keras. Yang ia rasakan saat ini adalah memorinya yang hilang beberapa bagian, sedang sebagian yang lain seperti terletak dalam bilik kaca berembun di dalamnya. Ia tak dapat melihat jelas ada apa di dalam bilik tersebut, hanya bisa menerka-nerka saja.

    Hujan telah benar-benar berhenti entah sejak kapan, pikirannya yang melayang bersama pertanyaan Wahyudi tentang kehidupannya di penjara membuat ia tak tenang dan tak memperhatikan cuaca dengan seksama. Damar menoleh ke belakang, dilihatnya lelaki yang kembali menjadi kekasihnya itu masih tertidur pulas. Wajah yang datar dan bersih itu seharusnya membuat ia tenang dan bahagia setelah belasan tahun tak terlewat. Ingin sekali ia mencumbunya dengan beringas sebab nafsu yang tertahan sejak lama sekali, namun ada hal lain yang menahan Damar untuk tidak melakukannya. Damar dilema akan hal itu, ingin sekali ia berteriak histeris atau setidaknya menangis terisak. Pada akhirnya semua ia tahan sendiri sampai waktunya nanti ia ungkapkan.

    Damar kembali menatap ke luar jendela, ia biarkan cahaya sore hari merasuki jiwanya. Rasa gundah yang menggelayuti dirinya perlahan mulai memudar, dan Damar berharap selamanya kegelisahan hatinya menghilang. Sejanak jelas ia rasakan perut dan dadanya tersentuh hal aneh yang justru membuatnya semakin nyaman, dan ia membiarkannya menjalar keseluruh tubuh. Tengkuknya kemudian terasa bergidik.

    “Yudi? Kau sudah bangun?” rupanya lelaki yang tadi tidur pulaslah yang membuat hatinya terasa damai.

    “Hm,” Yudi hanya menjawab singkat sambil terus memeluk Damar dari belakang.

    “Bau badanmu tak berubah sama sekali, bau mulutmu juga,”

    Wahyudi hanya tersenyum kecil, dilihatnya lagi pipi Damar tepat berada didekat hidungnya. Ada beberapa luka yang membekas di sana, mungkin kenangan dari penjara. Wahyudi menempelkan hidungnya ke pipi Damar, sedangkan Damar yang merasakan hal itu hanya tersenyum tipis. Digigitnya pula pipi Damar dengan bibirnya, kali ini Damar menarik nafas panjang. Terasa pula senyum yang tertarik hingga ke pipi.

    Telapak tangan kanan Wahyudi masih menempel di dada Damar, sedangkan tangan kiri dengan tenang berada di pinggangnya. Kini Damar merasakan kalau lehernya tak lagi aman, sebab penjajah telah mendaratkan bibir dan lidahnya di sana. Basah lehernya oleh air liur Wahyudi terasa sangat seksi, gairah yang sempat ia khawatirkan sepertinya kini telah pudar seketika. Badannya ikut menegang bersamaan dengan adik kecilnya yang telah memberi respon entah sejak kapan. Perlahan Wahyudi menurunkan tangan kirinya menuju selangkangan Damar, terasa bulu-bulu kasar menyapu telapak tangannya begitu ia menelusup ke dalam celana. Benda tumpul yang telah lama tak ia sentuh itu kini terasa sangat jelas, urat yang menjalar ke seluruh kemaluan itu pun terasa semakin keras saja.

    Desahan Damar semakin kuat terdengar, hal itu membuat Wahyudi setengah mati mengendalikan diri. Tentu ia tak ingin terburu-buru menikmati permainan yang telah lama sekali tak ia lakukan. Wahyudi tak berhenti mencium dan menjilati leher Damar, sementara ia sendiri semakin gemas karena kedua tangan kekasihnya itu berkeliaran entah kemana. Ia terus memainkan kemaluan Damar yang membatu, terasa cairan kental membasahi telapak tangannya yang masih bersembunyi dibalik celana jeans yang dikenakan Damar.

    Damar terhenyak sesaat setelah Wahyudi mengehentikan permainannya. Ditatapnya lekat-lekat mata Wahyudi menandakan ia sedang mencari penjelasan atas pengentian sepihak. Ia tak puas dengan aksi Wahyudi, terasa aneh karena tak tuntas. Kemaluannya yang telah ereksi sempurna pun menyusut seketika. Tanpa aba-aba Wahyudi membuka kaos lengan panjang yang dikenakan Damar, celananya juga. Sekarang ia telanjang bulat dibuatnya.

    “Sekarang baru terasa sempurna,” ujar Wahyudi tersenyum mesum melihat tubuh bugil di depannya itu.

    Damar pun membuka pakaian Wahyudi dengan terburu-buru, ia ingin secepatnya menangkap birahi yang sempat terbang entah kemana.

    “Inilah yang paling sempurna,” ujar Damar sembari tersenyum yang tak kalah mesumnya.

    Mereka lalu berciuman dengan beringas. Damar lalu membopong Wahyudi ke ranjang, dirasakannya penis tegang Wahyudi menempel ke perutnya. Lendir bening Damar terus mengalir dari penisnya, birahinya kini kembali lagi. Setelah menghempaskan tubuh Wahyudi, ia menikmati lagi tubuh bugil kuning langsat itu. Bulu-bulu yang menyeruak dari kemaluannya hingga ke pusar lalu menjalar ke dada menambah nilai seorang Wahyudi. Dipegangnya kemaluan Wahyudi yang telah menegang itu. Terasa hangat. Wahyudi yang menggelinjang seketika itu membuat penisnya seperti sedang mengantarkan arus listrik ke seluruh tulang belulang hingga otaknya. Damar kemudian mendekatkan wajahnya ke dada wahyudi. Dilepasnya penis Wahyudi yang sontak saja membuatnya sedikit kecewa. Memainkan puting Wahyudi adalah awal dari permainan, dan Damar ingin mengendalikan permainan kali ini. Tak seperti dahulu, saat penjara belum menjadi sekolah baginya, ia hanya menurut saja perkataan Wahyudi.

    Dan matahari sore yang semakin tak terlihat itu menjadi saksi pergumulan antara dua lelaki saat senja berlalu begitu saja.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    wow ... tapi penasaran dengan masa lalu mereka berdua ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    @lulu_75 Sedang di persiapkan masa lalu-nya. :blush:
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    edited May 1
    Hari benar-benar gelap, tapi belum cukup larut. Jam di dinding menunjukkan pukul 8 lewat 10 menit. Entah berapa lama mereka berbergulat di ranjang. Seingat Wahyudi, begitu selesai mereka lalu mengatur nafas sejenak dan terlelap kemudian. Dipandanginya wajah Damar yang masih tertidur di sampingnya. Wajahnya mengalami banyak perubahan. Dari sebelumnya yang putih mulus tanpa cela, sekarang ini terlihat sawo matang dengan gurat wajah tua yang merekat. Maklumlah, karena mereka kini telah menginjak usia 40 tahun. Dan dirinya pun kini mungkin memiliki gurat sama itu di wajahnya juga. Sejenak Wahyudi meraba-raba wajahnya untuk memastikan dirinya lebih mulus dari pada Damar, ia lalu tersenyum tipis mendapati tingkah konyol dirinya sendiri. Wahyudi kemudian beranjak menuju dapur hanya dengan celana dalam yang menempel di badan. Udara dingin tak dipedulikan olehnya meski sebenarnya cukup menusuk tulang. Sembari bersiul ia berjalan santai dengan membawa dua gelas kosong bekas minum tadi siang.

    Setelah membereskan dapur, ia lalu mengitari rumah untuk menyalakan lampu di berbagai penjuru. Sayup-sayup terdengan olehnya suara percakapan beberapa orang yang terdengar cukup keras. Perlahan ia mendekati arah suara tersebut yang ternyata berada disebelah kanan rumahnya, semakin dekat dan suara itu semakin jelas berada diluar pagar. Pagar rumahnya yang berbentuk tembok dengan ukiran relief ala candi Hindu-Budha itu cukup menyembunyikan dirinya juga si pemilik suara tersebut. Dengan tangga yang ia bawa, Wahyudi lalu melongok ke luar pagar yang adalah jalan kecil menuju perumahan. Entah apa yang mereka bicarakan, wajah mereka pun tersamarkan oleh topi dan posisinya yang memunggungi lampu jalan. Tapi suara salah satu dari mereka sangat dikenali oleh Wahyudi.

    “Damar?!” salah satu suara yang ia kenali itu terdengar jelas olehnya lalu berlari menjauh. “Damar sudah keluar penjara! Ayo pergi!” lanjutnya kemudian sembari terus berlari bersama dua yang lainnya.

    “Kok Damar? Dia siapa ya, sepertinya aku kenal,” Wahyudi bergumam heran. “Argh!” Wahyudi berteriak kaget ketika ia membalikkan badannya dan mendapati Damar berdiri tepat di belakangnya sembari tersenyum. “Aku tak tahu jika kau mengikutiku,” lanjutnya sembari menuruni tangga.

    “Kulihat kau membawa tangga, dan caramu berjalan terlihat seperti pencuri. Jadi aku mengikutimu,” jawabnya

    “Kau mengenal mereka? Atau salah satunya mungkin? Aku mengenal suaranya, tapi lupa siapa namanya.”

    “Endrian, dia yang menyebut namaku tadi,” Damar menjelaskan denga wajah datar.

    “Endrian, aku ingat sekarang. Dia yang menjadi musuhmu saat SMA dulu. Mengapa mereka takut padamu?” Wahyudi bertanya lagi.

    “Kami pernah berkelahi sebelum aku tangkap polisi, dia menyukaimu dan aku tak akan membiarkan lelaki mana pun menjadi kekasihmu selain aku. Aku mematahkan tangan kirinya dan rahangnya juga,” Damar menjelaskan perkaranya dengan Endrian.

    “Itu sebabnya kau melarangku bekarja sama dengan perkebunan milik ayahnya?”

    Damar hanya mengangguk, ia lalu duduk di sofa ruang tangah yang juga masih sama seperti dulu sebelum ditinggalkannya. Berwarna coklat tua dan berbulu halus, mungkin memang bukan yang dulu tapi diganti dengan model dan corak yang sama.

    “Dia masih mengenali wajahmu,”

    “Ia pernah dipenjara dua tahun lalu dan satu sel denganku. Tapi dia hanya sepuluh hari di penjara karena kasus ringan,” jelas Damar. “Kau mengganti sofa dengan warna yang sama?” tanyanya.

    “Ya, semua yang rusak kuganti dengan model dan warna yang sama. Agar jika suatu ketika kau kembali, kau tak merasa asing dengan rumahmu sendiri. Dari mana kau tahu jika Endrian suka padaku?” tanyanya yang masih penasaran.

    “Dia bertanya banyak hal tentang kau karena dia tak tahu jika kita telah berpacaran. Dari sana aku dapat menebak kalau ia menyukaimu. Aku peringatkan padanya agar menjauh darimu, lalu terjadilah perkelahian itu,”

    “Pembunuhan yang kau lakukan membuat ia semakin takut padamu, aku sudah lama sekali tak bertemu dengannya,” kata Wahyudi sambil membetulkan posisi duduknya. “Setelah mereka tahu kau keluar penjara, lalu apa?” tanya Wahyudi yang hanya dijawab dengan gelangan oleh Damar.

    “Kita lihat nanti sajalah,” jawab Damar terdengar datar dan pasrah. “Aku lapar,” kali ini terdengar manja.

    “Kita cari makan di luar?”

    “Boleh, kau pakailah bajumu,”

    Wahyudi lalu beranjak meninggalkan Damar yang telah berpakaian lengkap dengan kaos biru dan celana jeans pendek berwarna hitam pekat. Damar menciumi ketiaknya sebentar untuk memastikan bahwa bau badannya tidaklah sebusuk yang diucap Wahyudi tadi siang. Apalagi ia belum mandi seja kemarin, ditambah lagi pertempuran sore tadi yang menguras tenaga dan keringat.

    “Apa aku harus mandi dahulu? Aku sudah beberapa hari ini belum mandi,” tanyanya pada Wahydi yang telah selesai berpakaian.

    “Tidak usah, besok saja kau mandi,” jawab Wahyudi santai.

    Dengan berjalan kaki mereka meninggalkan rumah. Wahyudi ingin mengajak Damar ke pedagang pinggir jalan, tempat dimana mereka dulu pernah bekerja sebagai tukang cuci piring dan pelayan untuk memenuhi kebutuhan ‘rumah tangga’ yang baru mereka bangun selepas lulus SMA. Saat itu mereka ingin membuktikan diri pada orang tua Wahyudi bahwa mereka tidak main-main dengan cinta yang mereka jalani. Terdengar konyol memang, tapi hal itu memberikan banyak pelajaran bagi keduanya tentang bagaimana harus bertahan hidup tanpa bantuan orang tua. Apalagi ayah Damar yang hanya seorang buruh dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga, jadi mereka tidak meningalkan warisan apa pun.

    Daerah yang mereka tuju telah di depan mata, yaitu bundaran kecil di pusat kota kecil ini. Semua pedagang kaki lima tumpah ruah di area ini. Damar yang menyaksikan keramaian ini semakin takjub. Suasananya memang jauh berbeda dengan dulu saat awal mereka pindah kemari. Lampu jalan yang dulu hanya dengan petromak, kini telah ada lampu jalan yang lebih modern. ‘Tempat ini benar-benar kota’, gumamnya dalam hati.

    “Bu Lita masih jualan di sini?” tanya Damar pada Wahyudi.

    Bu Lita adalah pedagang kaki lima yang mangkal di daerah sini, tempat mereka dulu bekerja selepas lulus SMA.

    “Masih, mau ke tempat Bu Lita?”

    “Boleh,” jawab Damar mantap.

    Damar lalu mengikuti Wahyudi yang berjalan di sisi kirinya.

    “Sini,” ujar Wahyudi sambil menarik lengan Damar. “Bu Lita...” wanita yang di panggil bu Lita itu menoleh sambil memicingkan mata.

    “Mas Wahyu?” sahut Bu Lita dengan diiringi senyum.

    “Iya, Bu. Masih ingat sama dia?” katanya sambil menepuk pendak Damar.

    “Siapa ya?” jawabnya sambil mencoba mengingat-ingat. “Ya Tuhan, Damar?!” ujarnya kemudian setengah terpekik menyadari siapa lelaki yang dihadapannya tersebut.

    Bu Lita menghampiri Damar lalu memeluknya, naluri seorang ibu mungkin.

    “Ayo silahkan duduk, kalian mau makan apa?” kata Bu Lita dengan semangat.

    Sambil menunggu makanan yang ia pesan datang, mereka lalu bercerita panjang lebar tentang banyak hal, termasuk kebiasaan Wahyudi yang selalu mampir hanya untuk berkeluh kesah perihal rumah tangga yang ia jalani. Wahyudi cemberut sebentar ketika mendengar bu Lita mengungkit kebiasaan cengengnya itu, sementara Damar hanya tersenyum sambil mengusap punggung Wahyudi yang didiringi derai tawa bu Lita.

    “Suamimu ini tak banyak berubah, hanya kulitnya saja yang bertambah kerutan juga usia yang bertambah banyak. Tapi sikapnya tetap seperti dulu,” kata bu Lita melanjutkan ceritanya tentang apa saja yang terjadi ketika Damar di penjara.

    “Sudahlah, Bu,” ujar Wahyudi yang tampak malu mendengar cerita wanita yang dihormatinya itu.

    Damar dan Wahyudi melahap makanan mereka setelah cukup lama mereka menungu. Bu Lita masih terus bercerita tentang apa saja, sementara mereka berdua menyahuti dengan senyum saja.

    “Wahyu?” suara wanita memanggilnya.

    Wahyu dan Damar sontak menoleh ke arah sumber berasal. Adalah seorang wanita yang tampak masih muda menatap Wahyudi dengan tersenyum lembut. Baik Wahyudi maupun Damar sama-sama memicingkan mata untuk memastikan siapa wanita itu. suaranya memang telah ia lupa, tapi gurat wajahnya masih ia hafal. Ia hanya lupa siapa tepatnya wanita itu, Wahyudi seperti merasakan bahwa wanita itu pernah menjadi bagian dari kisah cintanya. Bu Lita pun ikut menatap wanita itu dengan penasaran. Wanita itu duduk dengan sangat anggun tanpa dipersilahkan. Rambut yang tergerai panjang menambah keanggunannya.

    “Coba tebak, aku siapa?” tanyanya dengan tersenyum.

    “Siapa ya?” ujar Wahyudi masih belum mengenali wanita tersebut lalu menoleh kearah Damar, sementara Damar hanya menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.

    “Masso,” katanya kemudian memberi sedikit petunjuk. “Ingat waktu kita di Masso? Yang bajumu basah kena minuman soda yang kubawa?” lanjutnya sembari tersenyum.

    Wahyudi ikut tersenyum masam, ada rasa takut bahwa Damar akan marah besar.

    MONGGO KRITIK DAN SARANNYA...
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    banyak misteri di Damar ... penasaran ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    edited April 21
    “Aris?” ujar Wahyudi heran bukan kepalang sementara wanita di depannya kembali tersenyum berbinar-binar sambil mengangguk cepat. “Kau...” lanjutnya masih tak habis pikir.

    “Iya, aku sekarang jadi perempuan. Aku bahagia seperti menjadi seperti ini. Walau banyak sekali pertentangan, tapi aku lebih tenang dengan menjadi perempuan. Aku tidak mau menutup diri lagi, aku juga tak mau menjadi palsu.”

    “Oh iya. Kau masih ingat dengan dia?” kata Wahyudi sambil menepuk pundak Damar. “Dia Damar,” katanya kemudian.

    Damar lalu mengulurkan tangannya pada Aris, sedangkan Aris menjabat tangan Damar dengan perasaan tak enak.

    “Maaf ya, aku bukan untuk mengganggu hubungan kalian berdua. Aku hanya kebetulan saja ada di sini, lagi pula aku sudah memiliki pacar. Aku memang jatuh cinta dengan Wahyu, tapi itu dulu.” ujar Aris lirih.

    “Tidak apa-apa. Lupakan saja. Lagi pula kita telah memiliki kehidupan masing-masing,” jawab Damar memastikan bahwa dirinya baik-baik saja dengan kehadiran Aris.

    “Lalu bagaimana dengan pacarmu? Dia baik padamu? Pernah kasar?” tanya Wahyudi penasaran dan sedikit khawatir.
    “Pacarku mengerti kondisiku, dia baik sekali,” jawabnya dengan tersenyum.

    “Baguslah. Kau kemanakan kumis, jambang dan jakunmu?” tanya Wahyu sambil mengusap janggutnya sendiri.
    “Zaman sudah semakin maju, apa pun dapat dilakukan dengan teknologi,”

    “Lalu... Adikmu?” kali ini Wahyudi bertanya sambil tersenyum sambil menunjuk kearah selangkangan Aris.

    “Aku keringkan lalu kujadikan jimat, hahahaaa,” jawab Aris dengan derai tawa yang diikuti tawa yang lainnya juga. “On iya, namaku sekarang Miranti,”

    “Hohohooo, cantik sekali namamu itu,”

    “Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa,” kemudian ia berlalu meninggalkan warung Bu Lita.

    “Lho kok terburu-buru. Santailah sejenak, kau pesan makan sekalian. Kita makan bersama-sama.”

    “Tidak usah, terima kasih. Aku hendak ke Surabaya malam ini. Terima kasih waktunya,” jawabnya lalu berpamitan pada Wahyudi dan Damar.

    “Cantik ya dia, tak tampak seperti waria,” ujar Bu Lita setelah Miranti menghilang dibalik kerumunan.

    Damar dan Wahyudi mengangguk setuju.

    “Masso itu apa?” tanya Bu Lita kemudian.

    “Gedung besar disamping kantor gubernur sana yang sekarang berubah menjadi Mall Kota. Itu perusahaan milik bule, kami dulu sempat bertemu disana,” jelas Wahyudi sambil meneruskan makan.

    Setelah mereka menyelesaikan makannya, Damar lalu beranjak dari kursi lalu diikuti oleh Wahyudi. Damar meminta langsung pulang, padahal Wahyudi ingin sekali mengajak Damar keliling sambil bernostalgia. Namun nampaknya Damar telah kehilangan kegembiraannya, mungkin sejak kedatangan Aris yang telah menjadi Transgender dengan paras yang amat menawan. Jujur saja ia takut jika Wahyudi nekat mencari Aris, lalu secara diam-diam mereka menjalin kasih.

    “Kau tak apa-apa?” tanya Wahyudi yang melihat perubahan pada wajah kekasihnya itu.

    Damar hanya menggeleng walau pun banyak sekali hal yang menggelayut di hatinya. Ia hanya tak mau merusak suasana malam ini yang sedikit rusak oleh kehadiran Aris secara tiba-tiba dan tak terduga sama sekali. Damar pun tak ingin memperlihatkan kecemburuannya yang sulit sekali dikendalikan olehnya.

    “Tapi kau tampak tak baik-baik saja,” terang saja Wahyudi berkata demikian, wajah Damar menunjukkan hal yang berlainan dengan ucapannya sendiri.

    Perjalanan pulang menjadi sedikit kacau, Wahyudi menceritakan banyak hal sedangkan Damar hanya mengangguk atau mengiyakan saja. Tak ada tanggapan lain walau hanya sekedar menimpali perkataan Wahyudi. Memasuki rumah, Damar langsung menuju kamar dan melepas semua atribut yang menempel di badan, ia telanjang bulat. Itu adalah kebiasaan sedari kecil, bahkan sebelum ia menalin hubungan dengan Wahyudi. Sedangkan Wahyudi menyusul kemudian setelah mematikan beberapa lampu dalam rumah untuk menghemat listrik. Wahyudi pun turut melepas semua pakaiannya sebelum beranjak tidur, ia mengusap-usap sebentar adik kecilnya lalu menindih Damar yang telah meringkuk didalam selimut.

    “Hmmm...” kata Damar sambil menggoyangkan badannya untuk mengusir Wahyudi.

    “Kau kenapa, sayang? Tampaknya ada yang kau sembunyikan dariku. Katakanlah, usah kau pendam sendiri,” Wahyudi masih penasaran.

    “Sejujurnya, aku takut kau masih mencintai Aris. Apalagi ia sekarang semakin cantik. Jika kau masih memendam perasaan padanya, lebih baik kau memutuskannya sekarang,” jelas Damar, ada kelegaan di hatinya walau rasa sakit juga ia rasakan.

    “Damar, aku sudah memilih kau sebagai satu-satunya lelaki yang menjadi kekasihku mau pun menjadi teman tidurku. Tak ada yang lain. Hubunganku dengan Aris hanya sebatas teman, dari dulu sampai sekarang dan bahkan selamanya. Kalau ia menaruh hati padaku, aku tak perduli. Karena aku telah meletakkan kau dihatiku, kau abadi dan tak akan ada yang mempu menggantikan posisimu disana. Percayalah padaku,” kata Wahyudi meyakinkan, ada harapan yang sangat dari caranya menatap Damar.

    “Maafkan jika aku selalu cemburu pada siapa pun yang menjadi temanmu,” raut muka sedih tampak jelas diwajah Damar Saat ini.

    “Aku mencintamu, Damar. Aku mencintaimu dengan kebahagiaan, kebahagiaan pula yang ingin aku dapat dari cinta kita. Kau hanya harus percaya padaku bahwa tak ada cinta yang lain selain cintamu,” ia melanjutkan.

    Cukup sulit memang jika meyakinkan Damar, sama seperti dulu saat ia mengatakan padanya bahwa ia lelaki normal yang mencintai wanita. Bukan pria.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    siapa Aris ...? waduh Wahyudi juga misterius ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    edited April 22
    Maaf agak lambat, karena sambil baca RINTIHAN MALAM-nya Bang @Turney hehehee.


    Malam ini mereka tidur dengan perasaan lega, Wahyudi mampu menenangkan Damar. Dan sebaliknya, Damar pun mampu menguasai diri. Hingga pagi menjelang, Damar telah bangun lebih dulu seperti biasanya. Sedangkan Wahyudi masih terlelap dengan selimut yang telah berubah posisi. Tangannya membentang hingga memperlihatkan ketiaknya yang lebat oleh bulu, begitu pula dadanya yang bidang itu sedikit tertutup oleh rambut yang menjalar hingga kemaluannya. Penis yang lemas itu tertidur di antara semak-semak rimbun selangkangannya.

    Ditatapnya lagi lelaki yang masih tergolek itu, ada kedamaian di wajahnya yang sangat ia rindukan. Nafasnya teratur dengan bau badannya yang khas seorang Wahyudi. Kali ini diusapnya pipinya, lalu perlahan dikecupnya bibir Wahyudi yang masih terlelap. Damar berbaring kembali. Kali ini bukan untuk tidur, kelainkan memandangi wajah pulas kekasihnya tersebut. Damar tersenyum ketika tiba-tiba Wahyudi terbangun sambil tersenyum simpul.

    “Selamat pagi cintaku...” ucap Wahyudi dengan senyum yang semakin lebar.

    “Selamat pagi juga kekasihku...” jawab Damar tak kalah gombalnya.

    “Mimpi apa kau semalam? Aku mimpi menikahimu...” ujarnya sambil tertawa pelan.

    “Mulutmu bau busuk,” kata Damar yang hanya dijawab dengan tawa oleh Wahyudi.

    Setelah saling tatap, Wahyudi mengecup bibir kekasihnya itu lama sekali. Dirasakannya kembali getaran cinta yang telah lama menghilang. Selesai dengan kecupan, mereka lalu beranjak dari ranjang menuju ruang bawah. Wahyudi langsung ke dapun untuk membuat sarapan, sedangkan Damar duduk sambil membaca majalah yang terletak di meja tak jauh dari sofa.

    “Agenda hari ini kita ke sekolah anak-anakku, aku ingin mengenalkan kau pada mereka. Lalu kemudian ke rumah orang tuaku!” teriak Wahyudi dari dapur.

    “Hari ini juga?! Tidak menunggu besok atau lusa?!” sahut Damar.

    “Tak baik menunda-nunda! Lebih cepat lebih baik!”

    Damar lalu menyusul Wahyudi ke dapur, majalah yang sedari tadi dibaca ia tinggalkan di meja. Fokusnya kini telah berubah. Penjara tak mengubah rasa segannya kepada keluarga Wahyudi. Seperti kata Wahyudi beberapa hari lalu, bahwa ia telah menjelaskan kepada orang tuanya tentang hubungan mereka berdua, tapi perasaan takut masih mengelayut di hatinya.

    “Aku masih takut sama orang tuamu,” kata Damar sambil memeluk Wahyudi dari belakang.

    “Tak apa, nanti setelah kau bertemu mereka semua akan berubah. Sekarang tenangkan dirimu. Kau hanya perlu mencoba,” kata Wahyudi mencoba yang menenangkan.

    Damar diam saja sambil terus memeluk Wahyudi, pelukan itu cukup mampu menenangkan hatinya. Wahyudi terus meracik bumbu untuk membuat sarapan sambil bersiul dan sedikit bernyanyi. Suaranya cukup enak didengar. Aneka hewan pun ikut bernyanyi dengan Wahyudi, mereka riang sekali. Tapi tentu suaranya tak seeboh suara perut Damar yang turut bernyanyi.

    “Sabar ya, sayang. Tak lama lagi sarapannya matang,” kata Wahyudi smabil tertawa lirih.

    Damar hanya tersyenyum saja, konsentrasinya masih pada orang tua Wahyudi. Sedang anaknya tak membuatnya risau. Mereka belum pernah bertemu, jadi masih dapat dikondisikan. Apalagi anak jaman sekarang yang kata Wahyudi telah berubah sama sekali.

    “Dari ketiga anakmu, siapa yang seperti ayahnya?” tanya Damar.

    “Maksudmu?” Wahyudi tak mengerti.

    “Mungkinkah diantara mereka ada yang suka jenisnya sendiri? Seperti ayahnya,” jelas Damar.

    “Yang sulung, sekarang dia kelas 2 SMA. Dia pernah membawa teman menginap di rumah. Feelingku mengatakan kalau mereka bukan sekedar teman biasa. Apa pun pilihan mereka, aku berharap mereka tidak main-main. Karena dunia kita sulit untuk dijalani,” jawabnya sambil terus memasak.

    Aroma nasi goreng menyeruak seperti sedang mengoyak rongga hidung tanpa ampun. Perut Damar pun semakin menjadi-jadi. Setelah Wahyudi membaginya menjadi dua piring, Damar langsung saja menyambar yang telah menjadi bagiannya. Ternyata tak hanya urusan ranjang saja, Wahyudi puan terasa semakin lihai dalam urusan dapur.

    “Kau semakin pandai memasak, belajar dimana?” kata Damar sambil terus menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya diikuti oleh kerupuk udang yang sepertinya telah beberapa hari teronggok di meja dalam toples bening.

    “Dari Bu Lita, dari buku dan dari internet juga,”

    “Oh ya, siapa nama anakmu?”

    “Ardi dia kelas 2 SMA dan Ian kelas 3 SMP. Yang bungsu Cindy, dia kelas 1 SMP.”

    “Aku khawatir jika mereka tak ramah kepadaku, apalagi jika mereka tahu kalau kita tak seperti lelaki umumnya,” Damar mengungkapkan kekhawatirannya.

    “Kau tenang saja, mereka tidak seperti ibunya. Dari itu kita harus lebih cepat menemuai mereka. Aku tak mau mereka khawatir tentang keadaan ayahnya,” katanya yang telah menyelasaikan sarapannya.

    Damar yang masih belum selesai terus berusaha menyusul dengan menghabiskan sarapannya. Wahyudi lalu menuju dapur dan membersihkan semua perangkat masak dengan keadaan kotor. Setelah membersihkan semuanya, tibalah Damar menyusul.

    “Kita mandi lalu ke rumah Bapak,” kata Wahyudi setelah semuanya beres. “Dari tatapanmu, aku tahu apa maumu. Tapi kita sedang kenyang, tak baik kalau kita teruskan. Nanti perut akan terasa sakit,” Damar menurut saja, lagi pula yang diucapkan Wahyudi memang benar adanya jika berhubunan seksual saat perut kenyang maka akan tak nyaman.
    Akhirnya mereka berdua mandi berlama-lama, bermain-main dengan sabun dan semua yang bisa memancing gairah seksual masing-masing. Sepertinya Wahyudi telah melupakan banyak hal dari Damar, termasuk wanita yang dulu pernah jatuh cinta kepada kekasihnya itu. Walau wanita itu telah menikah, tapi mungkin rasa cintanya punya tidaklah berkurang sedikit pun. Dan celakanya, wanita itu tinggal tak jauh dari rumah mereka tinggal kini. Wahyudi baru mengingat hal itu.

    “Kau ingat Elia?” Wahyudi berhati-hati menanyakan hal itu disela-sela mereka ‘bersabun’.

    “Elia?” Damar tak mengerti.

    “Ya, gadis yang pernah menyukaimu saat SMA dulu. Kau ingat?”

    “Oh, ya. Dia memberiku surat cinta. Wangi sekali baunya, tapi aku tak membacanya sama sekali. Langsung kubakar saja saat di rumah karena aku tak mencintainya,”

    “Dia pernah menanyakan padamu perihal surat itu?” Wahyudi masih penasaran.

    “Iya, kujelaskan padanya bahwa aku tak mencintai siapa pun di dunia ini. Dan kau pasti paham kalau aku berbohong padanya, sebab aku mencintaimu,” jawab Damar dengan santai.

    “Dia tinggal di dekat sini, di seberang mini market ujung jalan sana,” pancing Wahyudi yang ingin tahu reaksi Damar selanjutnya.

    “O ya? Bagaimana kabarnya? Berapa anaknya sekarang? Apakah dia masih secantik dulu?” Damar tampak bersemangat.

    Tapi semangat itulah yang membuat dada Wahyudi panas dan bergemuruh seketika. Sejenak ia beranggapan bahwa penjara mungkin tak hanya merubah perangainya, tapi juga orientasi seksualnya. Mungkin ia salah telah mengingatkan Damar akan Elia, tapi ia juga tak ingin ada skandal antara Damar dengan Elia. Bisa saja cinta Damar pada Elia tumbuh secara perlahan, dan dengan perlahan pula ia akan kehilangan cinta darinya.

    “Baik, dia baik-baik saja. Suaminya seorang pejabat provinsi, anak mereka ada dua. Yang sulung telah kuliah dan dia masih secantik dulu,” jawabnya dengan perasaan tak nyaman.

    “Pasti dia suka main serong, wanita kaya banyak yang seperti itu apalagi isteri seorang pejabat,”

    “Dan kau tertarik menjadi selingkuhannya?”

    “Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya senang mendengar kabar teman-teman yang sudah lama tak berjumpa,” jawabnya cepat.

    Saat masa sekolah dulu, Damar sebenarnya bukanlah salah satu siswa yang paling tampan, ia juga tidak masuk jajaran murid yang cerdas. Tapi dia memiliki pesonanya sendiri, tampilannya menunjukkan aura seksi seorang pria. Keahliannya bermain takraw menjadi nilai lebih yang banyak digilai oleh siapa saja, termasuk Wahyudi. Gaya cuek dan terkesan jutek justru membuat banyak para siswi berharap menjadi kekasihnya. Namun Wahyudi bisa berbangga hati karena menjadi pelabuhan cinta Damar, sekaligus was-was dan cemburu berkepanjangan karena terus saja menjadi nara sumber bagi siapa saja yang jatuh hati padanya.

    Terutama si binal Erin, perempuan itu tak sungkan untuk menanyakan seberapa besar penis Damar, kalau ereksi bisa tahan berapa lama dan tertarikkah Damar pada wanita yang memiliki payudara dengan ukuran jumbo seperti dirinya. Tak henti-hentinya Erin mendekatinya hanya untuk merasakan tubuh Damar setidaknya sekali seumur hidup. Ingin rasanya ia mengatakan kepada Erin; ‘Damar homo! Jadi jangan berharap jika dia akan jatuh kepelukanmu walau semalam saja!’. Tapi itu semacam bunuh diri, jadi urung ia lakukan. Atau dirinya juga bisa mengatakan; ‘Akan aku wujudkan keinginanmu untuk bersetubuh dengan Damar asalkan kau memberiku jatah untuk bersetubuh denganmu juga’. Tapi itu juga urung ia lakukan karena jika Erin menagih janjinya sedangkan Damar tak mampu ereksi dengan wanita, dan kacaulah semuanya. Mengingat Erin sama-sekali tak bisa dipegang kata-katanya.

    Wahyudi memandang lekat-lekat wajah Damar yang masih terus memainkan penisnya, sejenak ia berfikir tentang apa yang membuat ia jatuh cinta pada Damar. Cup... Tiba-tiba Damar mencium bibirnya dan melumatnya dengan lembut. Rupanya inilah yang membuatnya jatuh cinta kepada Damar. Bukan karena spontanitas darinya, tapi ciuman itu.

    Dulu saat mereka sama-sama kelas 1 SMA, Damar secara tak terduga menyatakan cinta padanya. Wahyudi yang terkejut hanya diam saja, termasuk saat Damar mencium bibirnya begitu saja. Dan ajaibnya, dari ciuman itulah cinta Damar mengalir seluruh tubuhnya. Darah dalam tubuhnya pun serasa mengalirkan nama Damar ke otak dan memerintahkan hatinya untuk mencintai Damar saja seumur hidupnya. Agak berlebihan memang, Tapi itulah yang ia rasakan saat. Bahkan hingga kini Damar menjadi doping untuk keseluruhan langkah hidupnya. Dan sejak saat itu seksualitas Wahyudi berubah seketika. Walau sempat merasa gamang dengan dirinya sendiri, tapi ia akhirnya menerimanya meski harus perang dengan gejolak jiwa yang tak sebentar. Bahkan saat ia menyetubuhi isterinya dulu, yang ada dalam pikirannya hanyalan Damar. Dan itu cukup ampuh untuk membangkitkan libidonya terhadap wanita.

    “Aku pakai baju yang ini saja ya,” pinta Damar pada Wahyudi sembari menenteng kaos putih dan kemeja jeans berwarna hitam.

    “Iya,” jawab Wahyudi singkat.

    Penis Damar yang menggantung sebenarnya membuat Wahyudi tak tahan. Hatinya gelisah karena hal itu. ‘Apa aku harus mencumbunya saat ini?' gumamnya dalam hati. Damar yang menyadari perubahan pada kekasihnya itu lalu memeluknya.

    “Ada apa? Kau tampak gelisah. Bukankah kau yang mengatakan padaku kalau anak-anakmu dan kedua orang tuamu bisa menerima kita? Lalu apa yang kau cemaskan?

    “Aku malu telah menolakmu untuk bersetubuh saat sebelum mandi tadi, tapi saat ini aku menginginkannya,”

    “Hahahaha...” tawa Damar yang menggelegar memecah kesunyian pagi ini. “Kau seperti anak perawan, kau bisa memelukku lalu menciumku dan kita akan teruskan. Bukankah itu yang biasanya kita lakukan? Ada apa dengan kau ini?”

    “Iya...” jawab Wahyudi tersenyum malu.

    Damar benar, ada apa dengan dirinya? Mungkin ia harus mengurangi nostalgia. Damar lalu memulai dengan mencium leher Wahyudi dan meninggalkan warna merah disana.
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    sedikit demi sedikit mulai terbuka ...
  • sar_elsar_el ✭ Bronze
    edited April 24
    Hari mulai beranjak siang, teriknya matahari cukup tersamarkan oleh rimba di pingir kota ini juga oleh pepohonan yang untungnya masih sangat banyak menghiasi jalanan dan rumah-rumah penduduk. Mereka berlalu dengan sedan hitam milik Wahyudi dan si empunya jugalah yang menjadi sopir mobil ini.

    “Sampainya kita di sekolah nanti bersamaan dengan jam istirahat ke dua mereka. Anak-anak kita bersekolah di tempat yang sama,” ujar Wahyudi menjelaskan.

    ‘Anak-anak kita?’ Damar membatin, ada senyum yang terukir di bibirnya. ‘Semoga mereka benar-benar mau menerimaku sebagai ayah tirinya,’ kini ia sedikit gusar.

    “Tempat yang sama? Maksudmu sekolah mereka ada SMP dan SMA?”

    “Ya, dari TK sampai SMA semua ada di sana, dan kita nanti kita jalan-jalan mengelilingi taman sekolah yang cukup luas,”

    "Pasti sekolah mahal,”

    “Kurasa itu sepadan dengan kualitas yang mereka punya. Fasilitas komplit dan para pengajar yang mumpuni,”

    Mereka telah sampai ke sekolah. Benar memang yang dikatakan oleh Wahyudi, sekolah ini sangat luas. Seperti taman kota saja. Rupanya mereka belum istirahat. Wahyudi mengandeng Damar, ia mengajaknya menuju tampat yang biasanya dipakai untuk pacaran oleh para murid. Dan ia ingin melakukan hal sama dengan kekasihnya itu sambil menunggu para siswa sekolah ini keluar kelas.

    “Kita ke kantin sambil menunggu anak-anak keluar, bagaimana?” kata Damar setelah keliling taman sekolah elit ini.
    “Boleh,” jawab Wahyudi singkat.

    Kali ini mereka menuju kantin sekolah yang menyatu dengan area sekolah. Tangan Damar masih digenggam oleh Wahyudi hingga seorang guru yang berpapasan dengan mereka memberi isyarat agar tak lagi bergandengan. Wahyudi lalu melepaskannya lalu mereka tersenyum. Wahyudi memang sedang bahagia saat ini karena ia akan mengenalkan cinta sejatinya kepada anak-anak.

    Para murid langsung keluar kelas secara bergerombol tak lama setelah Wahyudi dan Damar duduk menikmati jus mangga yang mereka pesan. Rupanya mereka langsung pulang. ‘Cepat sekali?’ Wahyudi membatin. Tak dilihat ada anak-anaknya diantara para murid yang berhamburan memenuhi halaman sekolah dan parkiran. Seketika Wahyudi gelisah. Apakah anak-anaknya tak ke sekolah hari ini?

    “Dek, kenal Ardi? Dia kelas 2 SMA,” tanya Wahyudi pada salah satu siswi yang ditemuinya di parkiran.

    “Oh, dia ada di kantor guru,” jawab siswi tersebut.

    “Terima kasih, ya,” jawab Damar kemudian berlalu.

    Wahyudi lalu kembali ke kantin. Karena ketiga anaknya selalu pulang bersama-sama, jadi pasti Ian dan Cindy pasti pasti akan menunggu kakaknya selesai. Kecuali jika kakaknya itu meminta mereka untuk pulang terlebih dahulu. Benar saja, tak lama tampaklah Ian dan Cindy berjalan menuju kantin.

    “Ian! Cindy!” sorak Wahyudi melihat kedua anaknya itu.

    Sontak saja mereka langsung bersorak pula melihat ayahnya yang tak ada kabar setelah beberapa hari.

    “Papaaa!!!” sahut Ian dan Cindy yang langsung saja memeluk Wahyudi kegirangan.

    “Kenalkan, ini Om Damar,” kata Wahyudi sambil menepuk pundak Damar.

    “Aku Cindy, Om,” si bungsu ini tarsenyum lebar.

    “Aku Ian, terima kasih sudah selamatkan Papaku,”

    “Sama-sama, Ian. Itulah gunanya teman,” ya, teman hidup, gumam Damar dalam hati.

    “Kau tahu dari mana kalau Om Damar yang menyelamatkan Papa?” tanya Wahyudi keheranan.

    “Aku yang melihatnya langsung. Om gagah ini yang melerai perkelahian waktu ini, tapi Ian tak boleh ikut Om Damar. Ian sempat dikurung semalaman oleh Mama,” jelas Ian.

    “Lalu kenapa kau bersikap seolah-olah tak tahu apa yang terjadi saat aku mulai siuman saat itu?” tanya Wahyudi pada Damar.

    “Aku hanya ingin tahu rekasimu? Bagaimana kau dengan keluargamu, jika kau masih ada kesempatan untuk kembali pada mereka maka aku akan melepaskanmu,” jawab Damar dengan dada sesak, panas juga ia rasakan.

    Sementara Ian dan Cindy hanya melongo mendengar jawaban Damar. Mereka tak mengerti sama sekali apa maksud dari perkataan ayah dan temannya ini.

    “Abang masih lama?” tanya Wahyudi pada kedua anaknya untuk mengalihkan pikiran mereka.

    “Coba aku lihat ke kantor sebenar ya,” kata Ian kemudian berlalu meninggalkan kantin yang dijawab dengan anggukan oleh ayahnya.

    “Pa, Cindy ikut Papa ya. Cindy tak mau lagi tinggal dengan Om itu,” ujar Cidy seketika.

    “Ada apa memangnya? Dia kasar padamu?” tanya Cindy menyelidik.

    “Sekarang rumah sudah seperti pasar, kalau malam jadi diskotik,” jawab Cindy dengan wajah sedih.

    “Kebiasaan lama,” ujar Wahyudi lirih. “Nanti Papa akan bantu kalian memindahkan semua barang kalian ke rumah kita. Kau tak keberatan kalau merak tinggal bersama kita?” jawab Wahyudi kemudian, Damar hanya menggeleng dengan senyum lebar terukir di bibirnya.

    “Asyiiik!!!” Cindy bersorak kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya keudara.

    Bagaimana ia bisa keberatan, sedangkan dipikirannya ada bayangan jika mereka akan menjadi keluarga bahagia yang utuh. Sepasang suami-suami dan anak-anak mereka, lalu bagaiman ia mampu menolak kesempurnaan itu? Setidaknya dirinya atau pun Wahyudi tak perlu hamil. Damar tersenyum lagi membayangkan momen kebahagiaan mereka kedepannya. Tapi ia kemudian sedih setelah membayangkan betapa sulitnya mewujudkan pernikahan sepasang lelaki.

    “Papaaa!!!” dialah Ardi, seorang lelaki yang berperawakan seperti Wahyudi.

    Remaja ini lebih mirip Wahyudi ketimbang kedua adiknya.

    “Nah, kenalkan ini anakku yang sulung,” kata Wahyudi.

    Mereka lalu berjabatan tangan sambil menyebut nama masing-masing.

    “Jadi kita kerumah Om Damar?” tanya Ardi setelah mobil mereka melaju.

    “Iya, tapi nanti malam atau besok kita ke sana. Sekarang kita menuju rumah Paman,” jawab Wahyudi.
    Rumah yang ditinggali orang tua Wahyudi adalah milik kakak lelakinya yang belum menikah meski kini usianya telah menginjak 50 tahun. Alasannya apalagi jika bukan karena kakaknya itu adalah seorang homoseksual, sama seperti adiknya. Tapi bedanya adalah Wahyudi lebih beruntung karena berani secara terus terang mengandeklarasikan seksualitasnya kepada keluarga besarnya. Meski kemudian disambut dengan kontroversi layaknya Nikita Mirzani yang selalu bertingkah aneh. Terlebih lagi saat itu ia masih terikat pernikahan. Meski begitu, Wahyudi masih menutup diri dari ketiga anaknya.

    “Maafkan kalau kami mengganggu di rumah Om nantinya,” kata Ardi tiba-tiba yang sontak saja membuat Damar dan Wahyudi melongo.

    “Tidak apa-apa. Sehari-hari Om hanya tinggal sendiri dan Papamu sesekali menginap. Om sediakan kamar khusus untuk Papamu. Nanti kita akan lengkapi kamar kalian disana. Om akan senang nanti ada kalian meramaikan rumah kita nanti,” jawab Damar yang disambut senyum oleh Wahyudi yang sedang menyetir.

    “Bukannya Om Damar baru keluar penjara ya?” kata Ian yang langsung saja membuat semua terkaget-kaget.

    “Darimana kamu dapat info itu?” tanya Wahyudi dengan was-was.

    “Dari Paman. Kata Paman juga kalau Om Damar dipenjara karena pembunuhan. Dan dari Paman juga cerita kalau Om Damar sama Papa pacaran sejak SMA,” ujar Ian dengan santai.

    Deggg!!

    Dada Damar dan Wahyudi bergemuruh seketika. Cepat sekali ini terjadi, padahal ia dan Damar akan menjelaskan hal ini suatu hari nanti. Tapi tidak dalam waktu dekat ini karena ia belum siap dengan reaksi anak-anaknya setelah mengetahui ayahnya adalah seorang homoseksual.

    “Kapan Paman mengatakan hal itu?” tanya Wahyudi lagi.

    “Waktu pesta sunatnya Arfan,” kali ini Ardi yang menjawab.

    Pesta sunatnya Arfan? Itu artinya sudah cukup lama. Karena kini bocah itu telah kelas 3 SD. Wahyudi merasa ada yang aneh, betapa tidak. Dirinya tak kemana-mana tapi ia malah tak tahu apa-apa.

    “Kalian menyembunyikan hal ini dari Papa? Ada apa sebenarnya?” tanya Wahyudi kepada ketiga anaknya.

    “Tidak ada apa-apa. Kami takut untuk mengatakannya kepada Papa saat itu, karena pasti akan ada waktu Papa akan menjelaskan semuanya kepada kami. Dan saat ini semuanya terlihat jelas,” jawab si sulung Ardi dengan tegas.

    “Kalian tak malu memiliki ayah homo?” ada rasa perih di hatinya ketika menyebut kata homo. “Atau marah mungkin?”

    “Dulu sedih. Tapi waktu bangun tidur besoknya aku sudah lupa,” jawab Ian seperti biasa, santai tanpa beban.

    Damar tersenyum geli mendengar jawaban anak tengah dari pacarnya itu.

    “Cindy sama kayak Bang Ian, lupa semuanya waktu bangun tidur,” ujarnya sambir tertawa kecil.

    Kali ini Damar tahu pasti kalau si bungsu berkata bohong. Pasti ia menyimpan amarah dan benci dalam waktu yang lama. Namun sepertinya semua itu hilang perlahan bersama dengan ketidakharmonisan ayah ibunya yang terus terjadi hingga saat ini. Si sulung Ardi masih terdiam, Damar mengartikannya sebagai perasaan bimbang. Antara bahagia dan ingin segera mengatakan kepada semua orang kalau dirinya juga seorang homoseksual seperti yang dikatakan Wahyudi tadi pagi, juga takut kalau akan menimbulkan keributan di keluarganya. Mungkin saja ia takut kalau ia tak diakui oleh seluruh keluarganya jika dia seorang homoseksual seperti ayahnya.

    “Bang?” Wahyudi memanggil anak sulungnya untuk mendapatkan jawaban.

    “Hmmm...” jawab Ardi dengan nada tak nyaman, itu terdengar jelas sekali.

    “Kok hmm jawabnya?” tanya Wahyudi lagi.

    “Abang tak mau ada keributan yang lebih besar. Keluarga kita sudah sangat kusut,” jawabnya masih dengan nada tak tenang.

    “Katakanlah dengan jujur. Papa akan dengarkan baik-baik,” wahyudi tersenyum.

    “Apa lagi yang mau dikatakan? Abang tidak menyembunyikan apa pun,”

    “Yakin?” tanya Wahyudi lagi.

    “Langsung saja pada intinya. Tak perlu berputar-putar,” kata Damar yang menerka jika Wahyudi akan menyinggung tentang orientasi seksual Ardi.

    “Baiklah. Bagaimana hubunganmu dengan Navin?” kontan saja nama itu membuat ketiga anaknya tersentak.
    “Maksudnya?” tanya Ardi tergagap.
    “Papa tahu kalau diantar kalian pasti bukan sekedar teman,” ujar Wahyudi dengan tenang, tapi tidak dengan anak-anaknya.
    “Iya, Abang dengan Navin memang pacaran sejak kelas 3 SMP,” kali ini giliran Wahyudi yang kaget bukan kepalang.

    Karena ia pikir hubungan anaknya dengan Navin baru beberapa bulan belakangan.

    “Waaaw, sejak kelas 3 SMP?” sahut Ian keheranan. “Itu artinya disini cuma Ian yang lelaki normal!” soraknya girang.

    “Gay juga normal, Ian,” kata Damar.

    “Kok Gay normal? Kan kalau normal lelaki dengan perempuan, bukan lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan,” Ian tak mau kalah.

    “Kalau manusia dengan hewan, nah itu baru disebut tidak normal. Kalau sesama manusia masih normal apa pun jenis kelaminnya,” jawab Damar menyampaikan argumennya.

    “Seksualitas bukan prestasi, jadi tidak perlu di banggakan,” Cindy menimpali diplomatis.

    “Mmm...” Ian menutup wajahnya sambil menggelengkan kepalanya, ini biasa Ian lakukan jika ia merasa kalah atau malu.

    Semua tertawa dengan tingkah Ian, kecuali Ardi yang masih merasa aneh dengan perkataan ayahnya tadi.

    “Kenapa Bang Ardi tidak bilang sama Papa kalau Abang gay? Kan bisa sekaligus curhat dan tidak sembunyi-sembunyi kalau mau pacaran,” tanya Cindy tiba-tiba.

    Ardi terdiam tak tahu harus bicara apa dan memulai dari mana, sedangkan yang lain menunggu jawaban darinya.

    “Tak tahu. Mungkin merasa belum siap atau merasa aneh,” jawab Ardi sekenanya, karena ia sendiri pun tak tahu mengapa ia tak mengatakan kepada ayahnya yang jelas-jelas sama dengan dirinya.

    “Mungkin karena sudah terbiasa sembunyi-sembunyi, kemudian menjadi kebiasaan. Bukan hal yang buruk juga kan?” ujar Damar berasumsi.

    “Kenapa tadi cepat pulang?” tanya Wahyudi kepada anak-anaknya setelah cukup lama senyap.

    “Tidak tahu, Bu Guru langsung minta kami pulang,” jawab Ian.

    “Terus kenapa Abang tadi ke ruang guru?” tanya Wahyudi lagi.

    “Bantu Bu Yanti bawa buku sama,”

    “Kok lama?” kali ini Cindy yang bertanya.

    “Kami ngobrol sebentar,”

    Cindy hanya mengangguk-angguk. Kemudian tak ada lagi pembicaraan hingga mobil memasuki pekarangan rumah paman. Baik Wahyudi mau pun Damar mengatur nafas berkali-kali, sepertinya mereka akan menghadapi hal yang sebenarnya bukanlah perkara besar karena semua keluarga telah mengetahuinya. Ardi yang harusnya biasa saja pun kini menjadi ikut tak tenang. Terlebih setelah seksualitasnya terbongkar, ia merasa seperti seekor ayam yang sedang dikepung kawanan serigala.

    “Tak apa. Kalau kau belum siap, tak perlu kau ceritakan kepada siapa pun. Cukup kita saja yang tahu untuk saat ini,” kata Wahyudi menenangkan anaknya sambil mengusap punggungnya.

    “Iya, Pa,” jawab Ardi singkat.

    “Pamaaan!!!” Ian bersorak riang sambil berlari dan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

    Paman yang sedang duduk santai di teras rumah tampak langsung berdiri menyambut keponakan dan adiknya itu. Sejenak ia memicingkan mata mengamati siapa yang mengiringi adiknya tersebut. Ardi dan Cindy langsung ke dalam rumah setelah bersalaman dengan paman, sementara Ian telah lebih dulu ke dalam. Damar dan Wahyudi duduk di kursi dekat paman.

    “Apa kabar, Man?” tanya Damar pada kakak Wahyudi yang memang sehari-hari dipanggil paman itu, entah apa alasannya.

    “Baik. Tapi maaf sebelumnya, Abang ini siapa ya?” kata paman yang tak mengenali Damar, sementara Wahyudi hanya tersenyum saja melihat mereka berdua.
    “Damar,” jawabnya tersenyum lebar.
    “Ya Ampun Damar!” Paman setengah terpekik. “Kapan kau bebas?” tanya paman kemudian memeluk ‘Adik Ipar’-nya tersebut.

    “Beberapa hari yang lalu,” jawab Damar singkat.

    Tak lama kemudian Cindy membawa tiga cangkir teh beserta camilan. ABG satu ini memang cukup tahu pekerjaan rumah. Hal ini tak lepas dari wejangan dari si mbah yang rutin diberikan setiap kali mereka bertemu.

    “Bapak sama Ibu kemana, Mas? Tak terdengar suaranya,” tanya Wahyudi pada kakak lelaki satu-satunya itu.

    “Dari tadi pagi mereka ke danau,”

    Mereka lalu terlibat percakapan, tak lain dan tak bukan adalah tentang kehidupan Damar di penjara. Damar yang diberondong dengan pertanyaan seputar penjara hanya menjelaskan seperlunya saja. Tak banyak yang harus ia ceritakan kepada ‘Kakak Ipar’-nya ini. Cerita mendetail hanya ia kisahkan kepada Wahyudi, yang memang berhak atas keseluruhan hidup, hati dan cintanya tersebut.

    “Pa, kami ke danau, ya,” Ardi yang telah berganti pakaian dengan pakaian kakeknya meminta izin.

    “Silahkan,”

    Ardi lalu berjalan dengan diikuti oleh kedua adiknya. Ian yang juga memakai baju kakeknya tampak kedodoran karena badannya yang kecil. Sementara Cindy yang memakai daster neneknya tampak cukup pas di badan karena bagain tengah baju itu ia ikatkan ke pinggangnya.

    “Dari mana mereka dapat baju itu?” tanya Wahyudi heran.

    “Dari jemuran di belakang,” jawab Paman sambil mengunyah biskuit kelapa yang tadi dibawa oleh Cindy. “Kalian mulai membangun rumah tangga kembali?” tanya Paman kemudian.

    “Iya. Bantu do’a ya Man, agar tak ada masalah pelik,” ujar Wahyudi lirih.

    “Hmmm,” jawab paman.

    Damar diam saja sambil terus menikmati teh buatan anak tirinya.

    “Mau ke danau?” tanya Wahyudi kepada Damar yang sedang mengunyah biskuit.

    “Boleh,” jawab Damar singkat.

    Bapak dan ibu Wahyudi telah kembali dari danau tapi tidak bersama ketiga cucunya. Wajahnya tampak datar saja ketika memasuki rumah padahal Damar telah menyapa mereka.

    “Biar aku saja,” ujar Wahyudi pelan.

    Wahyudi lalu memasuki rumah dan menyusul kedua orang tuanya sementara Damar kembali duduk di teras bersama paman yang santai saja seolah tak terjadi apa-apa. Tentu Damar paham kalau dirinya belum sepenuhnya diterima oleh orang tua Wahyudi, dan paman pun jelas mengetahui hal itu. Terdengar jelas dari dalam percakapan damar dengan orang tuanya yang sedang berdebat. Apalagi kalau bukan tentang dirinya dan cinta mereka dinilai yang tak wajar. Hubungan yang tak pelak menjadi bahan gunjingan para tetangga, terlebih perceraian Wahyudi dengan isterinya yang bertele-tele dan sangat memakan waktu energi.

    “Sabar ya, Dam. Ada waktunya nanti kalian akan diterima Bapak sama Ibu,” kata Paman dengan gaya santai seperti biasanya.

    Dengan tersenyum getir Damar mengangguk pelan. Ada sedikit rasa pesimis di hatinya tentang masa depannya bersama Wahyudi. Walau anak-anak mereka dapat menerimanya, tapi tanpa restu orang tua Wahyudi pasti akan berat. Ditambah lagi nanti jika keluarga mantan isteri Wahyudi mengetahuinya, pastilah tambah runyam. Bisa saja mereka akan menuduh Damar yang telah meracuni Ardi dengan doktrin cinta sesama lelaki. Lalu tambah rumitlah jalan yang akan mereka lalui karena Wahyudi mungkin akan kehilangan hak asuh anak secara permanen. Semua itu tergambar jelas dimatanya. Ada beban yang tiba-tiba memenuhi rongga dada Damar saat ini. Matanya menjadi nanar. Menangis? Ya, itulah yang ingin ia lakukan seandainya tak malu dengan setatusnya sebagai lelaki dan mantan narapidana sekaligus. Tentu ada gengsi yang ia jaga.
«13
Sign In or Register to comment.