BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Obsession..?

akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
Ini cerita kedua yang aku posting di sini. Walaupun 'cowok aneh itu pacarku' belum tamat, hehe. Namun, aku harap, kalian yang membaca cerita ini, menyukainya.
Sebelum aku update di sini. Cerita 'Obsession' ini aku ikutkan pada event di 'way6969' (wattpad). Tapi karena ceritanya sangat sederhana, jadinya gak menang deh, hehehe. Dan karena event-nya sudah selesai. Aku coba update di sini :smile:

Selamat membaca ya. Semoga suka..


*******

Part 1



Apa yang lebih membahagiakan selain punya pacar yang setia, pengertian, selalu ada untukmu dan sangat mencintaimu. Coba kalian beritahu apa yang lebih membahagiakan selain itu? Dan apakah kalian memiliki kekasih yang seperti itu? Bagaimana rasanya? Aku yakin kalian akan berpikiran sama dengan pemuda ini. Bahagia. Itulah yang dia rasakan. Tentu kalian juga merasakan hal yang sama. Apalagi dalam percintaan kaum gay. Sangat susah mendapatkan seorang kekasih yang seperti itu. Dan pemuda ini mendapatkannya. Ya, dia mendapatkan seorang kekasih yang sangat mencintainya, juga setia.

Sebut saja namanya Revie Christian Alexan. Kalian boleh memanggilnya, Revie. Saat ini dia tengah menunggu sang kekasih yang beda kampus dengannya. Revie duduk pada sebuah bangku yang terletak tak jauh dari gerbang kampusnya.

Mahasiswa kedokteran itu begitu asyik memainkan ponsel pintarnya. Membaca sebuah cerita dari penulis favoritnya. Jika sudah membaca karya dari penulis favoritnya itu, Revie takkan peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga sebuah tangan mengelus punggungnya dengan nakal, membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan ponsel kesayangannya ke tanah. Dengan cepat dia menolehkan kepala ke samping untuk melihat siapa yang mengagetkannya, dan dia menemukan sosok pemuda yang sudah hampir dua puluh menit ditunggunya.

Pemuda di samping Revi itu tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah memohon maaf yang dibuat seimut mungkin agar sang kekasih memaafkannya. Namun, ekspresi dari pemuda itu sukses membuat Revie tertawa. Lalu memukul pelan bahunya.

“Kamu gak cocok berekspresi seperti itu, tau gak?” komentar Revie, sambil memperbaiki duduknya. Pemuda itu memanyunkan bibirnya, kemudian tersenyum menatap wajah bersih Revie.

“Aku lagi cemburu, tau,” kata pemuda itu merajuk.

“Hah! Kamu cemburu sama siapa? Aku gak ada dekat-dekat dengan cowok lain, kok,” jelas Revie panik. Takut pemuda di sampingnya itu salah paham. Dalam pikirannya sudah membayangkan hal-hal negatif seperti, pemuda itu marah dan akhirnya mereka bertengkar. Tapi kenyataannya, pemuda itu malah tertawa melihat tingkah sang pacar yang suka panikan.

“Sayang.. aku cemburu sama ini,” ujarnya sambil mengambil dan mengangkat ponsel Revie ke hadapan wajahnya. Namun hal itu malah membuat Revie bingung, kenapa pacarnya ini bisa cemburu dengan ponselnya.

“Kok kamu cemburu sama ponselku?” tanya Revie dengan wajah polos.

Pria itu mencubit pipi pacarnya itu gemas, lalu menjelaskan perihal kenapa dia cemburu.

“Aku cemburu, karena tiap kali kamu membaca cerita si Cupu ini, kamu pasti bakal lupa sama orang-orang di sekitarmu, termasuk aku,” terang pemuda itu sambil menunjuk layar ponsel Revie yang masih menyala dan menampilkan foto profil penulis favoritnya. Revie memanyunkan bibir dan merebut ponsel yang dipegang pemuda itu.

“Radit sayang... yang di foto ini bukan dia. Dia gak cupu tauk,” protes Revie kepada pacarnya yang dipanggil, Radit. Sementara Radit hanya tersenyum mendengar protesan sang pacar.

“Sekarang sudah sore. Kita langsung pulang?” mendengar pertanyaan Radit, Revie segera menggelengkan kepalanya.

“Karena seorang Raditya Adam sudah membuatku menunggu lama. Jadi dia harus mentraktirku makan,” jawab Revie sambil menepuk-nepuk perut datarnya. Radit bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Revie.

“Dengan senang hati, My Lord,” katanya sambil membungkuk layaknya seorang pelayan istana. Revie tersenyum lebar melihat tingkah Radit. Ikut berdiri, diapun merangkul pundak Radit, berjalan meninggalkan kampus yang selalu didatanginya setiap hari.

Namun tanpa mereka sadari, seseorang memandang kepergian mereka dengan tatapan penuh kemarahan dan meremas buku yang dipegangnya dengan kuat. Dia sudah dari tadi memperhatikan Revie, semenjak pemuda itu mendudukan pantatnya pada bangku yang ditempatinya tadi.

“Aku akan memilikimu,” ujarnya dingin, masih terus memandang kepergian Revie yang sudah masuk ke dalam mobil Radit.

Setalah mobil Radit menghilang dari pandangannya. Pemuda itu berjalan melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang terletak di parkiran tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Sambil menuju parkiran, pikirannya sibuk mengatur rencana untuk mendapatkan Revie.

***

Revie dan Radit memasuki sebuah restoran yang bernuansa cozy. Beruntung restoran yang mereka datangi tidak begitu ramai, jadi mereka bisa memilih tempat yang tidak terlalu mencolok.

Mereka begitu menikmati menu yang kini terhidang di hadapan mereka. Sifat Radit yang penuh perhatian menjadikan sosok yang selalu dibangga-banggakan Revie kepada penulis favoritnya. Seperti sekarang ini, Radit tidak segan-segan melap sudut bibir Revie yang suka berlepotan jika makan makanan berkuah atau saus. Diperlakukan seperti itu membuat Revie merasa begitu dicintai oleh kekasih yang sudah dua tahun berhubungan dengannya. Tapi acara makan mereka jadi terganggu karena kehadiran seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di depan meja mereka.

“Revie sayang, aku kangen sama kamu.” Gadis itu membungkukkan badannya dan memeluk Revie yang sudah menghentikan makannya sejenak.

“Hai Mir, apa kabar?” tanya Revie membalas pelukan gadis yang dipanggil Mira itu.

“Aku baik. Dan dari yang kulihat, kelihatannya kamu juga baik,” balas Mira yang sudah melepas pelukannya, “Boleh aku bergabung dengan kalian?” tanyanya, memandang mereka bergantian.

“Oh boleh,” jawab Revie tanpa meminta persetujuan dari Radit karena Revie tahu, Radit tidak akan melarang teman SMAnya ini makan bareng dengan mereka. Gadis cantik itu juga teman satu kampus Radit, jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain.

Mira mendudukan dirinya pada salah satu kursi dan memesan menu kepada pelayan restoran. Sambil menunggu pesanannya datang, Mira membuka obrolan dengan menanyakan tentang hubungan Radit dan Revie. Gadis itu begitu antusias mendengar cerita Revie tentang Radit.

“Oh ya, pacarmu gimana kabarnya, Mir?” tanya Revie setelah berhenti bercerita.

“Dia, kabarnya baik kok. Tar malam kami mau ngerayaiin anniversary hubungan kami yang udah satu tahun,” balas Mira dengan ceria. Mira melirik Radit yang dibalas dengan senyuman lembut kepadanya.

“Wah selamat ya, Mir,” ujar Revie ikut senang melihat aura kebahagiaan di wajah temannya itu.

“Makasih, Rev,” balas Mira senang. Mereka membicarakan banyak hal tentang kuliah, serta liburan setelah UAS nanti.

...

Revie menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Perasaannya begitu bahagia karena hubungannya dengan Radit semakin romantis. Mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, Revie membuka aplikasi wattpad di ponsel tersebut. Kembali melanjutkan cerita yang tadi belum selesai dibacanya. Dia tersenyum-senyum sendiri membaca cerita dari penulis favoritnya itu sambil membayangkan kalau dia dan Radit yang menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Selesai membaca, tak lupa dia memberikan vote dan komentar. Dia juga mengirimkan sebuah pesan untuk sang penulis.

[Ar ar, lagi apa?]

[Lagi ngetik, Re.]

[Aku ganggu dong.]

[Gak kok. Dikit lagi juga selesai.]

[Buat next chapt ya?]

[Iya. Btw gimana kencanmu hari ini, Rere?] Revie tersenyum membaca balasan dari pemilik akun ‘i am_ar’ tersebut.

[Hehehe, kamu tahu aja aku habis pulang kencan,] balasnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, walaupun sang penulis tidak dapat melihatnya, [Hari ini kami kencan ke tempat pertama kali dia nyatain cintanya padaku. Dia juga ngasih aku sesuatu.]

Revie menceritakan kebahagiaannya hari ini kepada penulis favoritnya itu. Betapa dia sangat mencintai kekasihnya dan berharap selalu bersama dengannya.

Sementara di tempat lain seorang pemuda terlihat sangat serius mengerjakan sesuatu di laptopnya. Sesekali dia tersenyum di depan laptop tersebut. Tidak lama dia mematikannya, kemudian beralih ke ponsel pintarnya. Membuka galeri foto, dan terseyum ketika melihat foto seseorang yang sangat ingin dimilikinya.

“Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Aku akan membuatmu berpisah dengan pria itu.” Pemuda tersebut mengelus wajah yang ada di dalam ponselnya. Menatapnya penuh damba, kemudian menciumnya sebelum dia menutup mata menuju alam mimpi, berharap bertemu dengan sang pujaan hati.



If you are going to be bad...Invite Me!
«1

Komentar

  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    wow ... jadi penasaran ...
  • akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
    Makasih udah baca @lulu_75
    If you are going to be bad...Invite Me!
  • Titip tanda klo update
  • akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
    edited April 6
    Part 2



    Ini sudah kesembilan kalinya Revie menghubungi nomor Radit, tapi tetap tidak ada jawaban. Pemuda itu sudah berjanji akan menjemput Revie pada pukul enam, setelah rapat senat yang membahas kegiatan sitoplasma yang dihadiri Revie selesai. Namun, sudah dua jam rapat senatnya selesai dan Revie menunggu di tempat duduk biasa. Radit tak kunjung datang menjemputnya.

    Berulang kali juga Revie melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukan pukul delapan malam. Dia mencari kontak lain yang ada di dalam ponselnya, nomor Mira. Pada panggilan pertama Mira tidak menjawab. Namun pada panggilan kedua dai menjawab telpon dari Revie. Segera saja dia memberondong Mira dengan pertanyaan.

    “Mira. Apa kamu tahu keberadaan Radit?” tanyanya tidak sabaran.

    “Ada apa? Dia tidak memberimu kabar?” Mira balik bertanya dengan napas yang berat di seberang sana.

    “Tidak. Dia udah janji akan menjemputku. Tapi dia gak datang dan telponku gak diangkat. Karena kamu sekelas dengannya, jadi aku menghubungi kamu. Aku terjadi sesuatu padanya,” jawab Revie gelisah. Dia sudah menghubungi rumah Rradit, tapi mamanya mengatakan kalau Radit belum pulang. Dia takut Radit kenapa-kenapa.

    “Kamu tenang aja. Aku yakin dia baik-baik aja, jadi jangan khawatir,” ujar Mira menenangkan Revie, “Kamu masih menunggunya?” tanya lagi. Suara Mira terdengar aneh saat bertanya barusan, membuat Revie mengernyitkan keningnya. Tapi dia tak ambil pusing, dia lebih memikirkan Radit sekarang.

    “Iya, aku masih menunggunya,” jawabnya dengan suara lemah. Karena sudah dua jam dia menunggu, tapi sang kekasih tidak datang-datang.

    “Sebaiknya kamu pulang aja sekarang. Nanti ak...ahhh.”

    Revie tambah mengernyitkan keningnya saat suara Mira berubah menjadi sebuah desahan. Setelahnya, mata Revie terbelalak begitu sadar kalau temannya itu pasti sedang bercinta dengan pacarnya yan belum diperkenalkan kepada Revie dan Radit.

    “Mira. Jangan bilang kalau kamu sedang bercinta dengan Didi, sekarang?” tebak Revie langsung.

    “Hehe, sorry Rev...aku gak...ahhh...” Mira kembali mendesah di seberang sana. Membuat Revie kembali mengernyit dan risih sendiri mendengar suara desahan temannya itu.

    “Aku ngerti. Silahkan kamu lanjutkan. Dan jangan lupa minggu depan kamu harus memperkenalkan Didi padaku dan Radit. Gak ada penolakan.” Revie cepat-cepat mengakhiri panggilannya dengan Mira. Dia tidak ingin mendengar suara aneh itu lagi.

    Revie masih sempat mendengar kekehan kecil dari Mira dan jawaban ‘iya’ sebelum dia mematikan telponnya. Dia menghembuskan napas berat dan memandang kesekelilingnya, sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang berjalan menuju parkiran bersiap-siap untuk pulang. Revie kembali menghembuskan napas berat dan memandang layar hitam pada ponselnya. Lebih baik dia segera pulang, daripada tambah kemalaman. Memasukan ponselnya ke dalam tas, Revie berdiri dari duduknya.

    Namun, baru saja dia berdiri, seseorang menepuk pundaknya pelan yang sukses membuatnya terlonjak kaget. Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, berdiri dibelakangnya menampilkan senyumnya yang menawan ditambah lesung pipi di kedua pipinya memberikan nilai plus bagi pemuda itu. Arfandi Hakim. Ketua senat sekaligus teman satu kelas dengan Revie.

    “Eh, Arfan. Kamu belum pulang?” tanya Revie heran karena ketuanya itu masih berada di kampus pada jam segini.

    “Tadi aku ada urusan bentar sama anak-anak mapala,” jawabnya sambil memperbaiki letak tas ranselnya, “Kamu sendiri kenapa belum pulang? Dari tadi kuperhatikan kamu hanya duduk diam di sini.” Pemuda berkulit sawo matang itu menatap Revie tajam.

    “Oh itu...aku lagi nunggu dijemput,” balas Revie sambil menggaruk tengkuknya.
    “Pacar?” tanya Arfan to the point. Revie jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Arfan. Dengan kikuk dia mengangguk memberi jawaban.

    “Cowok macam apa yang membiarkan pacarnya menunggu sampai dua jam,” gumam Arfan dengan kesal.

    “Kamu tahu kalau aku....” Revie tidak meneruskan ucapannya. Wajahnya berubah pucat mendengar ucapan Arfan barusan. Dia tak menyangka kalau ketua senatnya ini mengetahui tentang orientasi seksualnya.

    “Aku sudah lama mengetahuinya, Rev.” Arfan menatap Revie serius. Revie menundukan kepalanya, tidak berani menatap mata Arfan.

    “Ka..kamu gak ji—”

    “Haha, sudah malam. Sebaiknya kamu pulang. Aku akan mengantarmu,” potong Arfan sebelum Revie menyelesaikan ucapannya. Arfan merangkul Revie menuju motornya.

    Revie tidak menolak ajakan Arfan. Dia mengikuti dan membiarkan Arfan merangkulnya hingga ke parkiran. Besok, dia akan menanyakan alasan Radit yang tidak memberikan kabar padanya.

    Sementara itu di tempat lain, Mira memandang kekasihnya dengan tatapan sedih setelah bicara dengan Revie barusan.

    “Kasian Revie, Di. Dia nunggu sampai malam gini,” katanya dengan wajah sendu. Sedangkan Didi yang berada di atas tubuhnya, menghentikan aktifitasnya begitu mendengar ucapan Mira.

    “Jangan pikirin Revie dulu. Lebih baik pikirin kebersamaan kita saat ini,” balasnya, kemudian menurunkan wajahnya mencium bibir Mira dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Mira menggeliat dan mengalungkan kedua tangannya ke leher sang kekasih.

    “Revie kembali memintaku untuk mengenalkan pacarku padanya. Bagaimana?” tanya Mira pada pemuda yang berada di atas tubuhnya.

    “Nanti kita bicarakan,” jawab Didi. Membungkam mulut Mira dengan bibirrnya, pemuda itu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Mira. Menyatukan apa yang harusnya disatukan di bawah sana, membuat Mira kembali mengeluarkan suara-suara yang memancing gerakan si pemuda semakin cepat.

    ...

    Arfan menghentikan motornya. Memandang bangunan di depannya sejenak, kemudian beralih kepada pemuda yang mau turun dari boncengannya. Revie yang baru turun, melepaskan helmnya dan menyerahkannya kepada Arfan sambil tersenyum.

    “Makasih ya, Fan, atas tumpangannya,” kata Revie sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit kusut setelah memakai helm. Sementara Arfan hanya diam memandang Revie tanpa berkedip.

    “Fan..Arfan!” seru Revie sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Arfan. Arfan gelagapan setelah sadar akan sikapnya barusan.

    “Ah, iya Rev. Aku senang bisa ngantar kamu pulang,” balasnya tersenyum canggung.

    “Kalau gitu aku balik ya?” pamit Revie ke Arfan. Namun baru saja mau melangkah, Arfan sudah menahan tangannya, membuat Revie harus menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Arfan dengan wajah bingung.

    “Aku mau ngomong sesuatu,” ujar Arfan serius.

    Revie menatap Arfan heran. Namun akhirnya dia tersenyum sekaligus ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh temannya ini. “Mau ngomong apa?” tanya Revie penasaran.

    “Aku menyukaimu. Aku ingin memilikimu,” jawab Arfan berusaha bersikap setenang mungkin. Dia tidak ingin terlihat gugup di hadapan orang yang disukainya.

    “Maaf, Fan, aku gak bisa. Kamu tahu sendiri kalau aku sudah punya pacar,” tolak Revie secara halus.

    “Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta hingga jadi milikku,” ujar Arfan pasti.

    “Maaf, Fan, aku gak bisa,” ulang Revie, “Aku mencintai Radit, dan tak ingin membuka hati untuk yang lain,” lanjutnya memberi jawaban atas pernyataan Arfan tadi.

    “Dia tidak baik untukmu, dan aku akan membuatmu menjadi milikku. Bagaimapun caranya,” ujar Arfan datar dan penuh keyakinan. Dia menghidupkan mesin motornya, lalu meninggalkan Revie yang menatapnya dengan tatapan tak percaya atas apa yang diucapkannya barusan.

    ***

    Revie membuka pintup pagar rumahnya dan mendapati Radit berdiri di samping mobil kesayangannya. Revie memandang Radit datar, kemudian menutup pintu pagar dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.

    Melihat Revie yang mengabaikannya, dengan cepat Radit mengejar dan menahan tangan Revie agar berhenti melangkah. Dia menuntun Revie masuk kedalam mobilnya. Begitu sampai didalam mobil, Radit memegang tangan Revie dan memangdang kekasihnya itu dengan perasaan bersalah.

    “Maafkan aku, Sayang. Aku lupa. Selesai ngampus kemarin, Mama juga nyuruh aku menjemput sepupu ke bandara. Dan setelah itu aku ketiduran. Jadi gak tahu kalau kamu menelpon,” alasan Radit kepada Revie. Dia benar-benar menyesal karena telah membiarkan kekasihnya itu menunggu sampai malam di kampusnya, “Maafkan aku ya?” lanjutnya. Dia begitu menyesal atas kebodohannya kemarin.

    Menghembuskan napas keras, Revie balas menatap mata Radit, “Oke. Kali ini aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi lagi. Aku menunggu sampai kelaparan tau!” balas Revie dengan cemberut. Dia kesal kepada kekasihnya itu, tapi dia tidak bisa marah.

    “Baiklah sayang, aku gak akan membuatmu menunggu terlalu lama lagi,” janji Radit, kepada Revie. Revie mengangguk sebagai tanda bahwa dia sudah menerima permintaan maafnya. Raditpun tersenyum sumbringah dan langsung memeluk sang kekasih.

    Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka, seseorang memperhatikan mereka dengan penuh emosi dan kebencian. Dia menggumamkan sebuah kalimat ‘Aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku’, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


    If you are going to be bad...Invite Me!
  • boyszkiboyszki ✭✭✭✭✭ Diamond
    Sip.

    Lanjut Yo kak kina
    ga ada otak nya
    confused.png
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    siapa itu, Arfan ...? Revie itu bi ...?
  • wih kok bisa gitu ya pacar q jg kuliah kedokteran loh,,, tapi q penasaran Revie itu kuliah jurusan apa,,,, kalau q sih keperawatan jd g beda kampus hehehe lanjut ya kak @akina_kenji
  • QudhelMarsQudhelMars ✭ Bronze
    Si didi itu radit kan ?

    Anjir kalo emang bener radit...
  • akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
    @lulu_75 kalo belum tau arfan, part berikutnya pasti tau, hee...revie pure uke.

    @boyszki sip

    @yandiChan revie kedokteran, radit bukan anak kedokteran. Makanya beda kampus..

    @QudhelMars radit ama didi mirip gitu?
    If you are going to be bad...Invite Me!
  • @akina_kenji itu si cowok anek knapa belum di update padahal q dah nunggu loh ,,, kangen + penasaran pake banget....
  • akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
    Lagi diusahakan @yandiChan
    Kemaren2 ini aku disibukan oleh kerjaan terakhirku...makanya ke pending cowok anehnya...tinggal dikit lagi kok...kemungkinan minggu bakal aku update. Sabar ya, hehe..
    If you are going to be bad...Invite Me!
  • terimakasih @akina_kenji usahakan sampai tamat ya... kan sayang cerita bagus kalau ngadat ... hehehe
  • @akina_kenji hari minggu kan ... hehehe
«1
Sign In or Register to comment.