BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

STEVEN & AGRA

Ini ada cerita baru dari gw, smoga suka, mohon masukannya. Selamat membaca!!
@lulu_75 @rahmad1 @Aurora_69 @Riyand @awi_12345 @kurniaeric

Eps 1

Entah kenapa aku merasa ada hal yang janggal pada diriku sendiri, bukan pada fisik tapi pada hal yang sulit sekali untuk kumengerti. Bukan soal keluarga ataupun temanku, ya ini tentang diriku sendiri. Sudah sejak lama mungkin sejak aku masih duduk dibangku sekolah dasar, aku sudah merasakan hal aneh seperti ini. Apa ini takdir? Ataukah ini salahku sendiri? Aku tidak tahu itu, yang ku tahu sekarang aku menjadi seperti ini dan aku iklhas menerimanya.

Setelah aku solat subuh kurapikan tempat tidurku dan segera ke kamar mandi, tutatap wajahku sendiri kearah pantulanku di cermin, begitu bersih tanpa cacat apapun, tapi kenapa otakku seperti ini, perasaanku yang tidak wajar membuatku seolah olah tidak pantas mendapatkan wajah sesempurna ini. Kubasuh wajahku dengan air kran yang mengalir deras di wastafel dan menatap cermin kembali, begitu segar air ini. Ak mulai menanggalkan pakaianku dan berendam di bathtab. Begitu hangat airnya menembus kulitku, aku pun memejamkan mataku dan menenangkan diriku sebelum aku masuk ospek hari ini, ya aku memang baru saja diterima di universitas terkemuka di jakarta dan hari ini adalah hari pertama ospek dan aku masih tinggal dirumah pamanku karena belum menemukan kos kosan yang cocok dan nyaman serta dekat dengan kampus. Rencana hari ini setelah ospek langsung mencari kos kosan yang dekat kampus dan nyaman.

“Stev! Kamu ngapain aja kok lama banget mandinya, ayo cepetan sarapan udah jam stengah lima lo nanti telat berangkatnya” suara dari balik pintu itu membuyarkan lamunan dan relaksasiku

“iya bude, bentar lagi udah selesai kok” jawabku seadanya dan segera mengeringkan tubuhku dan memakai pakaian ganti
Setelah semuanya selesai aku pun menuruni anak tangga dan segera mengambil satu helai roti dan selai kacang kesukaanku. Bude menatapku dengan tatapan memelas seperti ingin mengatakan sesuatu.

“ada apa bude? Kok natap steven kayak gitu,” kataku sambil mengunyah roti tawar selai kacang

“enggak, bude kawatir kesehatan kamu belum pulih, apa kamu beneran mau pergi?”

“iya bude tenang aja, steven kan udah bawa obatnya, entar pasti steven minum kok” jawabku dengan senyuman manis, bude tersenyum tipis dan mengelus rambutku yang sedikit pirang

“udah bude steven brangkat dulu, salam buat pakde ya, masih molor kan” ujarku bersalaman dengan bude

“siapa bilang pakde molor, denger kamu ngoobrol sama bude kamu ya pakde gk bisa tidur, kamu beneran mau berangkat le?” kata pamanku yang biasa kupanggil pakde dari arah kamarnya

“oh iya pakde, maaf ganggu tidurnya hehe” jawabku sambil tertawa kecil dan menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal

“ah gak papa le, hati hati yo, cari temen yang baik, bergaul sama orang yang jauh dari narkoba sama miras, sekarang kan anak jakarta banyak yang kelakuannya kayak gitu le, pakde harap kamu gak kepuncut sama hal hal seperti itu” nasihat pakde yang duduk di kursi makan sambil mengambil satu helai roti dan melahapnya habis dengan satu gigitan

“iya pakde, siap” jawabku sambil hormat seperti prajurit yang mau perang

“yaudah pakde, steven pamit dulu, da bude da pakde” aku pun melangkahkan kakiku keluar dari rumah pamanku dan menuju ke halte bis, berharap ada bis yang cepat datang mengantarkanku ke kampus, ospek dimulai setengah enam karena ospek kali ini tidak ada bullying atau hal negatif seperti tahun lalu yang bertindak seenaknya sesuai keinginan seniornya, ospek kali ini hanya memperkenalkan kampus kepada mahasiswa dan mahasiswi baru supaya lebih paham dan mempunyai planning yang matang ketika berada di kampus dan setelah lulus.

Tak lama sekitar lima menitan akhirnya bis jurusan ke kampusku sudah datang dan akupun segera menaikinya, kulihat banyak sekali anak muda yang sudah ada didalamnya, yang kuperkirakan juga mahasiswa baru sepertiku. Aku mencari tempat duduk dan menemukan tempat yang masih kosong di urutan terakhir sebelah kanan disamping pintu bis. Ada seorang pria yang duduk mengenakan headset dan memakai jaket MCR (My Chemical Romance) Grup Rock Asal Amerika bewarna hitam pekat dan bercelana biru tua. Aku pun tersenyum kearahnya ketika hendak duduk disampingnya. Dia kelihatan sibuk mengotak atik smartphone ditangannya seperti mengetik sesuatu, aku pun hanya sekear melihatnya sekilas dan berpaling kearah lain dan melihat beberapa anak muda didepan sedang asik bercanda gurau, sepertinya mereka sudah saling kenal atau dari tempat yang sama, entahlah.

Akhirnya bis berhenti diperempatan gerbang kampusku dan ternyata orang yang duduk disebelahku tadi juga anak baru dikampus ini, ini terlihat dari caranya berpakaian, dia membuka jaketnya dan memasukkannya kedalam tasnya dan terlihat memakai baju kasual dan masih kelihatan bigung dengan tempat yang ia pijaki sekarang. Aku melihatnya dengan lucu, aku tersenyum sesaat melihatnya melihat lihat pemandangan fajar ibukota yang masih agak sepi dari macetnya. Dia menatap kearahku dan menghampiriku.

“eh lu yang tadi di bis kan?” tanyanya tiba tiba setelah berada kurang lebih satu meter didepanku

“iya emang kenapa?” tanyaku heran

“mm gak papa sih, lu juga mahasiswa baru di sini?” tanyanya lagi, kali ini dia kelihatan excited

“iya, lu?” aku tanya balik

“iya lah, wah ngambil apa?” tanyanya makin bersemangat

“ngambil sastra”

“sama dong, eh kita belum kenalan, nama gw Agra Fuhrer” dia mengulurkan tangannya, aku pun menyambut jabatan tangannya

“gw steven John, panggil aja steve” jawabku dengan memberi senyuman kearahnya, dan akhirnya kita menuju ke kampus bersama dan saling ngobrol tentang beberapa hal seperti asal dan tujuan kuliah di kampus ini.
Ternyata dia adalah keturunan Aceh campuran dengan portugis dari alm. Ayahnya. Dia memutuskan kuliah dijakarta karena bosan dengan lingkungannya disana dan ingin mendapatkan pengalaman baru. Ini pertama kalinya dia kejakarta, pantas saja dia kelihatan heran dan bingung dengan jakarta. Dia juga bilang kalo tidak punya saudara dari jakarta tapi dia yakin bisa mendapatkan saudara di jakarta, sungguh mengherankan tapi itulah informasi yang kudapatkan dari Agra, nama fuhrer berasal dari Alm ayahnya yang bernama Devis Fuhrer Johnson tidak heran matanya terlihat agak kebiru biruan dan rambut coklat serta bibir merah muda, postur tubuhnya juga sama denganku sekitar 185 cm dan tidak terlalu kurus juga tidak gemuk, warna kulitnya putih sama denganku, yang membedakan hanyalah aku berasal dari campuran jakarta dan amerika, dan keluargaku masih utuh.

«13456789

Komentar

  • RiyandRiyand ✭✭ Silver
    Lanjut. Kayak e seru
  • entah diawal ceritanya kebetulan atau gimana rasanya sama yang saya alamin dulu..hmm saya bingung ketika bis berhenti di perempatan itu penumpangnya udah pada turun semua atau masih didalam ? jadi seperti ga ada keterangannya
  • kurniaerickurniaeric ✭ Bronze
    lanjut brooo...
  • rahmad1 menulis: »
    entah diawal ceritanya kebetulan atau gimana rasanya sama yang saya alamin dulu..hmm saya bingung ketika bis berhenti di perempatan itu penumpangnya udah pada turun semua atau masih didalam ? jadi seperti ga ada keterangannya

    biar lebih ringkas bro, jadi disingkat aja langsung ke poin nya, makasih koreksinya
  • StevenBeastStevenBeast ✭ Bronze
    edited August 2016
    @lulu_75 @rahmad1 @Aurora_69 @Riyand @awi_12345 @kurniaeric @albyLf

    Eps 2


    Seharian ospek lumayan capek juga, aku menghela nafasku dan duduk di taman kampus dan menenggak air mineral yang aku beli tadi. Aku melihat orang yang baru aku kenal tadi pagi melambai kearahku menandakan ingin dihampiri. Aku pun bangun dan melangkah kearahnya, kulihat dia kelihatan kebingungan dengan ekspresi kelelahan, mungkin dia juga merasakan sama seperti yang aku rasakan, lelah diospek seharian.

    “Steve, lu ngekos dimana?” tanya Agra dengan nada canggung

    “Mm, gw belum ngekos, ini baru mau nyari nyari deket sini, kali aja ada. Emang kenapa?” aku bertanya balik

    “wah kebetulan banget, gw juga mau nyari kos” kata Agra bersemangat

    “beneran? Gw kira lu udah ngekos. Terus lu dari kemaren tinggal dimana?” tanyaku lagi

    “hehe gw nebeng temen gw, kan kalo lama lama gk enak” jawabnya cengengesan

    “kenapa nggak ngekos bareng temen lu aja?”

    “ya maunya sih gitu, tapi kosnya udah penuh sama anak lama smua, jadi terpaksa gw cari kos lain. Terus lu tinggal dimana? Kok ngekos?” Agra tanya balik

    “Gw tinggal sama bude pakde gw di bekasi, soalnya kalo langsung dari rumah gw bakalan lama nyampe sini, sekitar 3 jam an, kalo plus macet nggak kebayang kan berapa lamanya. Gw mau cari kos karena gw juga nggak enak sama pakde bude gw ngerepotin terus” jawabku panjang lebar

    “kok alasan kita hampir samaan yaa, jangan jangan jodoh hahaha” celetuk Agra

    “aneh aneh aja lu gra haha, yaudah yuk nyari kos bareng” kataku sambil berjalan meninggalkan Agra yang masih dibelakangku

    “eh tunggu kali, nyelonong aja kayak bajaj” celetuknya lagi, dari situlah aku tahu dia orang yang humoris dan supel mudah mencari teman dan membuat suasana menjadi ceria.

    Aku dan Agra pun berjalan menyusuri ramainya remang remang ibukota dan mendapat tontonan gratis yaitu macetnya ibukota pada jam maghrib. Setelah berkeliling sana sini belum menemukan kos kosan yang pas, ketika ketemu tempat kos malah penuh, dan yang kedua mahal banget, dan yang ketiga malah kos kosan cewek. Aku dan Agra hampir putus asa dan kita memutuskan untuk makan malam dulu disebuah warung makan kecil pinggiran atau yang biasa disebut warteg.

    “eh Steve, lu pesen apaan?” tanya Agra saat kita sudah duduk lesehan di dalam warteg yang lumayan ramai

    “Mmm, pesen nasgor aja deh” jawabku singkat

    “oke deh, bang nasgor dua yaa, gpl” teriak Agra memanggil pemilik warteg

    “oke bos, abis kuliah yaa, kok bawa tas” tanya abang pemilik warteg

    “iya bang, lagi nyari kos nih” jawab Agra lesu

    “wah kebetulan nih bos, tuh ada kos kosan dibelakang warung, coba tanya aja disitu kemaren kalo nggak salah ada kamar yang masih kosong” ujar abang itu sambil menggoreng nasgor pesananku dan Agra

    “wiih beneran nih bang, o deh makasih infonya bang” kata Agra yang kembali semangat

    “iya makasih bang infonya” ujarku sama memberi ucapan terima kasih

    “jangan panggil bang dong bos, panggil mang diman aja, biar akrab hehe, nih nasgornya” kata mang diman sambil menyajikan dua nasgor + telor + kerupuk

    “hehe iya kang. Mang diman asal bandung yaa?” tanyaku menebak nebak sambil meratakan nasi gorengku yang masih panas

    “iya bos, keliatan logatnya ya, hehe padahal saya udah berusaha biar kayak orang jakarta” kata Mang diman sambil tertawa meringis menunjukkan gigi gigi mungilnya

    “iya mang, keliatan banget, gak usah kayak orang jakarta lah, orang bandung kan gak jauh beda. Lagian orang bandung kan hebat hebat ngapain harus niru logat orang jakarta” kataku nyerocos sambil menyantap nasi gorengku ang mulai hangat

    “iyak tul, mending jadi diri sendiri aja mang, kalo ada yang gk suka biarin aja. Toh nggak ngeruiin orang lain” sambung Agra

    “iya ya, wah kalian ini memang mahasiswa bener bener cerdas pemikirannya. Udah ganteng baik, sopan sama orang tua jarang jarang ada anak muda seperti kalian datang kemari. Makasih sarannya yaa, jadi mulai sekarang teh mang diman bakalan seperti dulu lagi aja ngomongnya, biar keliatan orang bandungnya hehe” kata mang diman sambil memberi dua jempolnya kearahku dan Agra. Aku dan agra pun hanya bisa tertawa kecil dan dilihat beberapa pengunjung yang lain tersenyum kearah kami.

    Setelah selesai makan malam aku dan Agra pun memutuskan untuk menuju tempat rekomendasi mang diman, setelah membayar nasgor mang diman juga mengantarku dan Agra ke tempat kos kosan itu.

    “makasih ya mang udah dianter sampe sini” ujarku sambil bersalaman dengan mang diman

    “iya jangan sungkan sungkan atuh sama saya, santai aja kayak dipantai hehe. Yaudah mang diman mau balik ke warteg dulu yaa” ujar mang diman

    “iya mang makasih ya” ujar Agra

    “iya sama sama” jawab mang diman sambil terus melangkah menjauh dari tatapanku dan Agra.

    Aku dan agra mendatangi tempat kos kosan itu dan bertanya kepada beberapa anak kos yang ada diemperan kos tempat pemilik kos. Setelah mengetuk pintu pemilik kos pun keluar dari rumahnya yang terletak bersebelahan dengan kos kosan yang menurutku lumayan gede karena terdapat 30 kamar kos dengan 3 lantai. Pemilik kos itu keluar dengan menggunakan sarung dan bertelanjang dada sambil menempelkan rokok dimulut hitamnya.

    “Ada apa dek? Mau ngekos ya?” tanya pemilik kos itu dengan suara yang menggelegar

    “iya pak, kami sedang cari kos, kira kira ada kamar kos yang masih kosong nggak?” tanya Agra

    “ada sih tapi cuma satu dilantai tiga paling ujung” ujar pak kos itu

    “waduhh kok Cuma satu, gimana nih steve” tanya Agra kepadaku

    “gimana yaa, apa kita satu kamar aja. Kan bisa ngirit uang juga” jawabku sekenanya

    “iya bisa juga tuh dek, entar saya kasih satu kasur dan satu lemari lagi, didalam kamar udah ada kamar mandinya, santai aja” sahut pak kos seperti bisa membaca pikiranku dan Agra

    “boleh juga tuh, kamarnya gede gk pak” celetuk Agra, kebiasaannya yang mulai aku hafal

    “hehe kalo soal besar sih relatif orangnya dek, nanti cek aja. Mau ngekos sekarang juga bisa, kan udah malem. Nanti saya bawain kasur sama lemarinya keatas, soal harga saya samain aja deh sama yang lain. Gimana?” tawar panjang lebar pak kos

    Agra tampak berpikir, aku pun tidak merasa kawatir toh juga bisa menghemat uang dan masalah kamar yang paling atas, berpikir positif aja itung itung olah raga.

    “gimana Steve? Aku sih yes” kata Agra seperti Anang hermansyah

    “Mmm gue sih oke oke aja, lagian tempatnya juga deket sama kampus kan” jawabku seadanya

    “jadi gimana? Mau ngekos sekarang atau besok? Soalnya kalo besok saya nggak bisa janji kalian bisa dapet kos, kan mahasiswa baru banyak kan” tawar pak kos lagi

    “ok deh pak, kita jadi ngekos” jawabku mantap, Agra pun mengangguk angguk tanda setuju dengan ucapanku

    “oke, saya catet nama kalian dulu ya, siapa namamu dek?” tanya pak kos menunjuk kearahku

    “nama saya Steven John”

    “kalo kamu?” pak kos menunjuk kearah Agra

    “Agra Fuhrer pak” kata Agra mantap

    “ok, nama saya Sudirman, kalian bisa panggil saya pak irman. Kalian masuk dulu aja kerumah saya, udah makan?” tanya pak dirman

    “udah kok pak” jawabku sungkan

    “oh baiklah, kalian duduk aja dulu saya mau ngambil kasur sama lemari dulu” suruh pak irman

    “Oh kalo gitu kita bantu aja pak bawanya, iya kan gra” usulku sambil menengok kearah Agra

    “iya betul pak, kita bantu aja pak, lagian pak irman kan udah baik sama kita ngasih harga sama dengan fasilitas beda hehe” celetuk Agra lagi lagi membuatku dan pak irman tertawa

    “haha ok deh kalo itu mau kalian” jawab pak irman.

    Kami pun berjalan mengikuti pak irman dan membantu membawa kasur dan lemari kelantai teratas di kos kosan.

    Setelah selesai pak irman menyuruhku dan Agra untuk beristirahat di kamar kos kami dan menyuruh kami membayar uang kosnya besok saja setelah membawa semua barang kami ke kos.

    “Gw gak nyangka hari ini bener bener ajaib ya steve. Pertama kita bertemu didalam bis, kedua kita satu kampus dan jurusan, ketiga kita satu kos kosan. Bener bener hal yang WARBIAZAAAH” kata Agra sambil menirukan gaya iklan di tv

    “haha lebay lu Gra,” ujarku sambil melempar bantal kearah Agra dan mengenai wajahnya yang sedang berbaring menatap langit langit. “tapi bener juga yaa, hari ini aneh plus nggak diduga. Semoga ini adalah awal yang baik deh” sambungku lagi

    Agra menatapku dan tersenyum tipis, “iya gw harap juga gitu steve, hehe udah ah, ngantuk banget nih udah jam setengah sepuluh, besok masih masuk pagi tauk, tidur yukk” ajak Agra

    “ok deh, gw matiin lampunya ya” tanyaku

    “jangan, biarin aja nyala, gw nggak bisa tidur kalo lampunya mati” cegah Agra

    “haha ternyata lu takut sama kegelapan yaa” kataku dengan nada mengejek

    “bukan begitu, yaa nggak tau sih dari kecil memang kebiasaan kalo mati lampu gak bisa tidur” kata Agra dengan wajah cemberut

    “iya iya deh lampunya nggak gw matiin, gitu aja manyun haha” ejekku lagi

    “sialan su steve” kata Agra sambil melempar balik bantal yang tadi kulempar dan berhasil kutangkap. Kami pun bercanda sampai larut dan tertidur..................................
  • wah, udah satu kos :D akan kah ada kejadian ena-ena d chap selanjutnya?? hmmm
    koreksi dri gw mungkin ada beberapa typo, ya.. tp cma dikit kok!! semangat bikin chap ena-enanya!! *eh?
  • albyLf menulis: »
    wah, udah satu kos :D akan kah ada kejadian ena-ena d chap selanjutnya?? hmmm
    koreksi dri gw mungkin ada beberapa typo, ya.. tp cma dikit kok!! semangat bikin chap ena-enanya!! *eh?

    haha maunya... iya entar juga ada partnya.. tapi ditengah" ini kan masih awal banget striping masih lama hahaha...
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    wah serba kebetulan ... seru ... dilanjut ...
  • Eps 3
    1/4 Shot


    “Steve, ayo bangun, udah jam setengah lima nihh!!” teriak Agra yang memekakan telingaku, aku pun mengerjapkan mataku dan menguceknya beberapa kali

    “Huaa, Ngapain lu bugil?!!” teriakku melihat sosok Agra yang telanjang dada dan mengenakan handuk biru dipinggangnya, ternyata tubuhnya lumayan berbentuk, ada six packnya dan juga lengan yang berotot walaupun sedikit

    “Biasa aja kali, kayak gk pernah liat cowok telanjang aja... Hmm jangan jangan lu napsu liat badan gw yang hot yaa” kata Agra sambil tersenyum jahil dan menaikkan satu alisnya seperti di film Playboy

    ”Gila lu, ngapain gw napsu liat badan lu, gw kaget aja pagi pagi lu udah bugil kayak gitu, abis coli yaa?!!” balasku dengan senyuman yang tak kalah jahil

    “Enak aja, gw abis mandi tau, udah gi mandi sana, entar lu telat lagi” Perintah Agra yang keliahatan sok tegas, aku pun tersenyum lagi, dan kupalingkan wajahku kearah jam dinding yang ada ditembok kamar

    “Setengah lima? Kan kemaren kata kakak senior jam enam aja. Kenapa harus buru buru?” tanyaku memalingkan wajahku lagi kearah Agra dan mengerutkan dahiku menandakan keheranan

    “Yaudah kali, emang lu kalo bangun jam berapa?” Agra balik tanya

    “Jam setengah enam an sih dulu waktu SMA, emang napa?”

    “Yahh, keliatan males lu yaa. Mandi jam segini tuh bagus buat kesehatan tau, udah gi mandi sana. Abis itu terserah lu mau ngapain asal jangan balik tidur lagi” lagi lagi Agra memerintah layaknya majikan memerintah ART nya

    “iya iya, bawel amat sih lu. Eh tapi itu handuk dari mana?” tanyaku bingung karena aku tau kemaren aku dan Agra belum membawa apa apa

    “hehe, gw ambil dari jemuran, paling juga belum ada yg bangun kan anak kos. Lagian pinjem bentar doang” jawab Agra sambil cengir kuda, aku pun menggelenge gelengkan kepala

    “yaudah deh gw pinjem handuk itu aja”

    “iya bentar kali gw ganti baju dulu, nafsu amat liat badan gw” celetuk Agra

    “iya iya, entar lu taruh aja di pintu kamar mandi dah” jawabku seadanya mengalah dengan perdebatan dengan Agra, karena bakalan lama kalo gk ngalah. Aku seperti sudah akrap dengan agra, padahal baru saja aku mengenalnya kemaren tapi sekarang sudah seperti sahabat lama. Tanpa canggung, mungkin karena sikap Agra yang selalu mencairkan suasana yang membuatku menjadi nyaman dan tidak canggung untuk berkomunikasi dengannya.

    Baru saja aku melucuti bajuku dan mencantolkannya ke gantungan kamar mandi, dan pintu kamar mandi terbuka mendadak

    “Huaa” aku berteriak histeris karena kembali dikagetkan dengan keberadaan Agra

    “Waahh, gede banget punya lu, nih handuknya” kata Agra santai seperti tanpa dosa, dan memberikan handuk biru kepadaku, aku pun grogi saat Agra melihatku dengan tatapan aneh, dan aku pun langsung memakai handuk biru itu dan kulingkarkan dipinggangku

    “ah gila beneran lu Gra, buka pintu sembarangan!!” sewotku

    “hehe, lagian pintunya gak lu kunci sih.... yaudah mandi sana” jawabnya cengengesan, aku pun segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Masih terasa detak jantungku yang tak karuan dan badanku yang masih sedikit gemetar gara gara sudah dua kali dikagetkan oleh Agra. Aku sedikit bingung dengan kelakuan Agra barusan, di satu sisi dia kocak tapi disisi lain dia tak tau malu dan berbuat seenaknya.

    ************************

    Hari kedua ospek sudah berlalu, para mahasiswa bertebaran menghilang dari gerbang kampus, aku dan Agra pun duluan pergi karena harus mengabil barang barangku dirumah paman dan Agra yang mengambil barang barangnya di kos kosan temannya.

    “Steve, rumah paman lu dimana sih?” Tanya Agra sambil menenggak sedikit minuman kaleng penambah ion

    “Gak jauh kok, muter dikit aja dari sini, di komplek B, emang kenapa?” tanyaku balik

    “Mm gw boleh ikut lu ke rumah paman lu setelah ke kos kosan paman gw?” tanya Agra lagi dengan nada memelas, aku heran dan mengerutkan dahiku

    “kok lu mau ke rumah paman gw, kan lu bisa langsung ke kos kosan”

    “kan enakan balik bareng Steve, kalo gw balik sendirian kan entar gk rame di kos bosen kan nugguin lu sendirian” jawab Agra, aku berhenti berjalan sejenak, dan agra pun juga mengikutiku berhenti

    Hmm, gimana kalo gini aja, gw ikut ke kos kosan temen lu, entar kita ke rumah paman gw bareng bareng, biar lu gk kesasar cari alamat paman gw. Lu kan baru disini”

    “oh iya iya, cerdas amat sih lu. Oke deh kalo gitu” Agra tersenyum renyah

    “ah lebay lu” aku menyenggol pudaknya, kita pun tertawa bersama

    ****************

    “Gra?”

    “iya”

    “Beneran ini tempat kos kosan temen lu?”

    “iya lah, emang kenapa?”

    “serem”

    “haha emang sih, yaudah yukk masuk”

    Aku dan agra pun masuk melewati gerbang yang sudah berkarat hampir diseluruh bagian gerbang. Kos kosan temennya Agra bagaikkan rumah hantu. Lampu masih dop lama berwarna oren dan hanya ada beberapa saja padahal kos kosannya panjang. Tembok ko sbagian luar keliatan sangat tua dengan ada retakan sedikit disana sini. Sungguh mengerikan

    Agra mengetuk pintu kamar kos temannya beberapa kali tapi tidak ada respon, Agra pun membuka pintu kamar dan ternyata tidak dikunci, alangkah kagetnya aku dan Agra melihat apa yang ada didepan kami. Dua orang cowok sedang tidur dalam satu ranjang tanpa busana dan beberapa baju yang berserakan dilantai. Aku pun menghirup aroma pejuh yang menyengat didalam kamar itu. Aku dan Agra saling menatap

    “Gra, itu temen lu?”

    “iya steve, gila tuh anak, gituan gk dikunci pintunya” jawab Agra datar seolah olah dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.

    Aku pun terheran heran melihat Agra yang dengan tenangnya mengambil tas kopernya dan mengambil barang barang serta bajunya didalam lemari , aku masih tercengang dengan pemandangan yang ada didepan mataku. Dua orang cowok tidur berduaan tanpa busana dan terlihat sangat mesra. Apa mereka baru saja...
  • Aurora_69Aurora_69 ✭✭✭ Gold
    Baru saja 'ena2'.
    Wkwk lanjut...
  • RiyandRiyand ✭✭ Silver
    Wow.. Jgn2 agra udah sering
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    edited August 2016
    makin penasaran ... jangan-jangan dia mantannya Arga ...?
  • StevenBeastStevenBeast ✭ Bronze
    edited August 2016
    Eps 3


    @Apell @RinoDimaPutra @Aurora_69 @tuink @rama212 @lulu_75 @jeje00 @kurniaeric @RaraSopi @Riyand @rahmad1 @awi_12345 @albyLf

    ***********

    Aku melihat cahaya yang sangat terang, ya aku melihatnya. Ada sosok yang baru kukenal mendekat dari balik cahaya itu, mendekat dan semakin dekat kearahku. Dia tersenyum sangat manis dan melambai kearahku bertanda menyuruhku mendekat kearahnya. Aku pun melangkahkan kakiku tapi berat sekali rasanya seperti ada semen kering yang menempel dikakiku. Aku melihat senyumnya mulai luntur dan membalikkan badannya kearah cahaya itu, ingin aku berteriak memanggilnya tapi seolah olah mulutku dibungkam oleh kain ketat hingga sulit rasanya suaraku untuk keluar.

    “Steve, ayo bangun, udah jam setengah lima nihh!!” teriak Agra yang memekakan telingaku, aku pun mengerjapkan mataku dan menguceknya beberapa kali

    “Huaa, Ngapain lu bugil?!!” teriakku melihat sosok Agra yang telanjang dada dan mengenakan handuk biru dipinggangnya, ternyata tubuhnya lumayan berbentuk, ada six packnya dan juga lengan yang berotot walaupun sedikit

    “Biasa aja kali, kayak gk pernah liat cowok telanjang aja... Hmm jangan jangan lu napsu liat badan gw yang hot yaa” kata Agra sambil tersenyum jahil dan menaikkan satu alisnya seperti di film Playboy

    ”Gila lu, ngapain gw napsu liat badan lu, gw kaget aja pagi pagi lu udah bugil kayak gitu, abis coli yaa?!!” balasku dengan senyuman yang tak kalah jahil

    “Enak aja, gw abis mandi tau, udah gi mandi sana, entar lu telat lagi” Perintah Agra yang keliahatan sok tegas, aku pun tersenyum lagi, dan kupalingkan wajahku kearah jam dinding yang ada ditembok kamar

    “Setengah lima? Kan kemaren kata kakak senior jam enam aja. Kenapa harus buru buru?” tanyaku memalingkan wajahku lagi kearah Agra dan mengerutkan dahiku menandakan keheranan

    “Yaudah kali, emang lu kalo bangun jam berapa?” Agra balik tanya

    “Jam setengah enam an sih dulu waktu SMA, emang napa?”

    “Yahh, keliatan males lu yaa. Mandi jam segini tuh bagus buat kesehatan tau, udah gi mandi sana. Abis itu terserah lu mau ngapain asal jangan balik tidur lagi” lagi lagi Agra memerintah layaknya majikan memerintah ART nya

    “iya iya, bawel amat sih lu. Eh tapi itu handuk dari mana?” tanyaku bingung karena aku tau kemaren aku dan Agra belum membawa apa apa

    “hehe, gw ambil dari jemuran, paling juga belum ada yg bangun kan anak kos. Lagian pinjem bentar doang” jawab Agra sambil cengir kuda, aku pun menggelenge gelengkan kepala

    “yaudah deh gw pinjem handuk itu aja”

    “iya bentar kali gw ganti baju dulu, nafsu amat liat badan gw” celetuk Agra

    “iya iya, entar lu taruh aja di pintu kamar mandi dah” jawabku seadanya mengalah dengan perdebatan dengan Agra, karena bakalan lama kalo gk ngalah. Aku seperti sudah akrap dengan agra, padahal baru saja aku mengenalnya kemaren tapi sekarang sudah seperti sahabat lama. Tanpa canggung, mungkin karena sikap Agra yang selalu mencairkan suasana yang membuatku menjadi nyaman dan tidak canggung untuk berkomunikasi dengannya.

    Baru saja aku melucuti bajuku dan mencantolkannya ke gantungan kamar mandi, dan pintu kamar mandi terbuka mendadak
    “Huaa” aku berteriak histeris karena kembali dikagetkan dengan keberadaan Agra

    “Waahh, gede banget punya lu, nih handuknya” kata Agra santai seperti tanpa dosa, dan memberikan handuk biru kepadaku, aku pun grogi saat Agra melihatku dengan tatapan aneh, dan aku pun langsung memakai handuk biru itu dan kulingkarkan dipinggangku

    “ah gila beneran lu Gra, buka pintu sembarangan!!” sewotku

    “hehe, lagian pintunya gak lu kunci sih.... yaudah mandi sana” jawabnya cengengesan, aku pun segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Masih terasa detak jantungku yang tak karuan dan badanku yang masih sedikit gemetar gara gara sudah dua kali dikagetkan oleh Agra. Aku sedikit bingung dengan kelakuan Agra barusan, di satu sisi dia kocak tapi disisi lain dia tak tau malu dan berbuat seenaknya.

    ************************

    Hari kedua ospek sudah berlalu, para mahasiswa bertebaran menghilang dari gerbang kampus, aku dan Agra pun duluan pergi karena harus mengabil barang barangku dirumah paman dan Agra yang mengambil barang barangnya di kos kosan temannya.
    “Steve, rumah paman lu dimana sih?” Tanya Agra sambil menenggak sedikit minuman kaleng penambah ion
    “Gak jauh kok, muter dikit aja dari sini, di komplek B, emang kenapa?” tanyaku balik

    “Mm gw boleh ikut lu ke rumah paman lu setelah ke kos kosan paman gw?” tanya Agra lagi dengan nada memelas, aku heran dan mengerutkan dahiku

    “kok lu mau ke rumah paman gw, kan lu bisa langsung ke kos kosan”

    “kan enakan balik bareng Steve, kalo gw balik sendirian kan entar gk rame di kos bosen kan nugguin lu sendirian” jawab Agra, aku berhenti berjalan sejenak, dan agra pun juga mengikutiku berhenti

    Hmm, gimana kalo gini aja, gw ikut ke kos kosan temen lu, entar kita ke rumah paman gw bareng bareng, biar lu gk kesasar cari alamat paman gw. Lu kan baru disini”

    “oh iya iya, cerdas amat sih lu. Oke deh kalo gitu” Agra tersenyum renyah

    “ah lebay lu” aku menyenggol pudaknya, kita pun tertawa bersama

    ***************************

    “Gra?”

    “iya?”

    “Beneran ini tempat kos kosan temen lu?”

    “iya lah, emang kenapa?”

    “serem”

    “haha emang sih, yaudah yukk masuk”

    Aku dan agra pun masuk melewati gerbang yang sudah berkarat hampir diseluruh bagian gerbang. Kos kosan temennya Agra bagaikkan rumah hantu. Lampu masih dop lama berwarna oren dan hanya ada beberapa saja padahal kos kosannya panjang. Tembok ko sbagian luar keliatan sangat tua dengan ada retakan sedikit disana sini. Sungguh mengerikan

    Agra mengetuk pintu kamar kos temannya beberapa kali tapi tidak ada respon, Agra pun membuka pintu kamar dan ternyata tidak dikunci, alangkah kagetnya aku dan Agra melihat apa yang ada didepan kami. Dua orang cowok sedang tidur dalam satu ranjang tanpa busana dan beberapa baju yang berserakan dilantai. Aku pun menghirup aroma pejuh yang menyengat didalam kamar itu. Aku dan Agra saling menatap

    “Gra, itu temen lu?”

    “iya steve, gila tuh anak, gituan gk dikunci pintunya” jawab Agra datar seolah olah dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
    Aku pun terheran heran melihat Agra yang dengan tenangnya mengambil tas kopernya dan mengambil barang barang serta bajunya didalam lemari , aku masih tercengang dengan pemandangan yang ada didepan mataku. Dua orang cowok tidur berduaan tanpa busana dan terlihat sangat mesra. Apa mereka baru saja...

    “Steve, kok bengong sih bantuin gw kali. Banyak nih baju gw” kata Agra membangunkanku dari lamunanku

    “Hmm iya” kataku masih terheran heran dan melangkah mendekati Agra yang sedang melipat pakaiannya dan memasukkannya kedalam tas kopernya

    Aku jongkok sambil membantu melipat baju baju Agra dan memasukkannya kedalam kopernya serta barang barangnya yg lain, sesaat aku memperhatikan dua orang yang sedang tidur sambil berpelukkan didalam ranjang mini disudut ruangan, aku memandangi Agra lagi dan dia terlihat masih sibuk melipat pakaiannya tanpa menghiraukan keadaan diruangan ini.

    “yukk berangkat, udah kelar nih” Kata Agra sambil menutup tas kopernya, aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar dari ruangan ini.

    Agra menutup pintu kamar itu dengan pelan sampai tidak ada suara sedikit pun dan memandangku dengan senyumannya
    “udah gak usah dipikirin, orientasi itu hal yang biasa. Kadang orang memilih jalannya dengan hatinya dan orang lain tidak bisa merubahnya” kata Agra

    Aku mengerutkan dahiku “maksudnya?”

    “Yang lu liat barusan Cuma secuil realita hidup steve, banyak realita yang lebih dari pada yang barusan lu liat, udah ah cabut yuuk” sambungnya

    “yuk” jawabku singkat

    “Gra” ujarku seraya berjalan menelusuri jalan tikus menuju halte bis

    “hem”

    “apa lu juga.....”

    “homo?” potongnya

    “nggak tau sih, tapi gw udah biasa liat gituan steve. Semenjak gw tinggal disitu selama 3 hari dia sering bawa cowok masuk dan gw disuruh keluar sebentar entah kemana, pas hari kedua gw mergokin dia ternyata gituan sama cowok dari situ gw punya niat buat ngekos sendiri, bukan karena apa apa sih, Cuma biar gk ganggu dia aja. Soalnya itu kan privasi walopun dia maksa buat gw tinggal bareng dia tapi gw tentu aja gk enak sama dia” jelas Agra panjang lebar

    “hmm gw ngerti, terus lu pernah...”

    “ngentot?” potong agra lagi, aku menoleh kebelakang kedepan lagi syukurlah tidak ada orang, Agra berbicara seolah olah tidak perduli keadaan sekitarnya.

    “selama disitu dia gk pernah ngomong apa apa soal itu” sambung Agra

    “oh gitu ok ok gw ngerti sekarang. Yaudah yukk naik” ajak ku saat aku dan Agra sudah sampai di halte dan ada bis yg berhenti tepat saat kita baru sampai di halte.

    Aku dan Agra pun segera naik ke dalam bis. Didalam bis sangat sesak penumpang tapi aku dan agra beruntung masih mendapat tempat duduk, didalam perjalanan ke rumah pamanku kami hanya diam dan dia menenakan headsetnya dan memainkan hp nya, mungkin sedang mendengarkan musik. Aku hanya memandangnya sesaat dan menoleh kedepan lagi dan memejamkan mata, relaksasi sebentar setelah berjalan lumayan jauh hingga tak terasa sudah sampai gang rumah pamanku, kami pun turun dari bis dan berjalan menuju rumah pamanku.

    “steve, jauh gak rumah paman lu, berat nih” tanya Agra sambil menggandeng tas kopernya yang menggunakan dua roda

    “yaelah koper lu kan ada rodanya, gk terasa kali” balasku seraya menatapnya yang terlihat kelelahan

    “iya lu sih nggak ngerasain, coba lu yang bawa pasti berat”

    “yee enak aja gw yang bawa tas punya lu enak di elu dong. Udah lah gk usah lebay gitu udah hampir sampe kok, tu rumahnya” balasku sambil menunjuk rumah berwarna biru muda bertingkat satu dengan banyak pot bunga didepan rumahnya dan memiliki gerbang tembok dan bersi coklat.

    “yahh lu sama temen gk care banget sih” sewot Agra

    “bukannya gk care, lu tuh yg lebay, badan bagus masak gk kuat sih ngangkat gituan doang” balasku juga sewot

    “ternyata lu masih bayangin badan gw yang hot yaa” kata Agra kali ini wajahnya tiba tiba berubah jahil

    “bukan bayangin, tapi kan gw udah pernah liat badan lu” jawabku seadanya sambil terus berjalan

    “hehe iya sih, gw juga udah liat badan lu bugil bulat, ahahaha” celetuknya

    “heh gila lu jangan kenceng kenceng kali ngomongnya, kalo diliatin orang entar salah sangka. Orang sini udah kenal gw smua” kataku berbisik agak pelan pas ditelinga Agra sambil menjewer telinganya

    “aduh aduh sakit steve, iya iya, aduh lepasin dong” teriak Agra, aku pun melepaskan tanganku dari telinganya yang keliatan memerah.

    Aku dan Agra pun sampai di rumah pamanku. Aku mengetuk pintu rumah seraya memanggil nama pamanku.

    “oh ternyata steven to, ini temennya yaa, yuuk masuk” kata budeku setelah membukakan pintu dan mempersilakan aku dan Agra masuk, agra hanya tersenyum dan aku menjabat tangan budeku dan menciumnya

    “oh iya bude, ini perkenalkan temen steven, namanya Agra”ujarku memperkenalkan Agra ke bude, bude pun menyambut jabatan tangan Agra, mereka saling tersenyum

    “oh temen kuliah yaa, cepet banget kamu le dapet temen, kamu ndak pake narkoba kan?” tanya bude kearah Agra, agra pun kaget dengan pertanyaan budeku.

    “ngg nggak lah tante, saya bersih kok. Nggak pernah pake gituan” jawab Agra agak canggung

    “hmm pinter kamu le cari temen. Ayok masuk bediri aja dari tadi” kata budeku

    “iya bude”, “iya tante” jawabku dan Agra bersamaan

    Kami pun masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu yang cukup besar, Agra melihat lihat sekelilingnya penuh dengan lukisan

    “steve, paman lu seniman yaa, kok lukisannya banyak banget” tanya Agra

    “iya, paman gw memang pelukis, hebat kan lukisannya ada yg kejual dua ratus juta”

    “beneran, wah hebat banget tuh, bokap gw aja gajian bulanan gak ada seperempatnya. Salut dah gw sama keluarga lu hebat hebat” kata Agra memuji muji sambil menunjukkan dua jempolnya kearaku

    “kumat lagi dah lebay nya” ujarku lemas

    “hehe beneran kali” kata agra cengengesan

    “eh pada ngomongin apaan sih kok serius amat, nih bude buatin jus buat kalian diminum yaa. Le kamu udah dapet kos kosan?” tanya bude seraya menaruh dua gelas jus diatas meja

    “iya bude, udah kok, makanya sekarang steven amu ngambil barang barang steven dikamar” jawabku seadanya

    “hmm ruangannya bersih ndak? Lingkungannya ndak ada yg pake narkoba to?” tanya bude sambil duduk disampingku

    “nggak lah bude, tenang aja semuany aman kok” jawabku sambil tersenyum kearah bude

    “hmmm bagus lah kalo gitu, terus Agra ngekosnya disamping kamarnya steven?” tanya bude menengok kearah Agra

    “bukan tante, emm...” jawab Agra ragu ragu

    “terus dimana?, kok jawabnya ragu gitu?” tanya bude melihat Agra dan semakin penasaran

    “sa saya sekamar sama Steven tante” jawab Agra terputus putus

    “oh sekamar, berarti bisa hemat dong, wah bagus deh kalo gitu, biar Steven gk kesepian, biar ada temen ngobrolnya, hihihi” ujar bude sambil menyenggolku, aku pun terkekeh mendengar perkataan bude.

    “hhehe iya tante, soalnya kan sekarang apa apa mahal” kata Agra yang mulai tidak canggung lagi dengan bude

    “iya betul itu, sekarang apa apa mahal, sembako aja mahalnya amit amit, yaudah bude tinggal dulu yaa, mmm agra kalo panggil saya bude aja biar akrab jangan tante, kan udah tua hehe” kata bude sambil berdiri dari sofa

    “iya tante, eh bude hehe” kata Agra sambil menenggak jus dan tersenyum lebar, bude pun balik tersenyum dan berjalan menuju dapur.

    “yaudah gw mau ngambil barang barang gwdikaram dulu, lu mau ikut gk?” tanya ku pada Agra

    “iya lah masak gw disini sendirian sih, entar gw pacaran dong sama bude lu haha” celetuk Agra

    “gila lu, yaudah ayo”

    Aku pun berdiri dan menaiki anak tangga kekamarku yang kusus dibuat untukku jika aku ingin menginap disini, karena bude dan pamanku tidak mempunyai anak makanya mereka sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri dan sangat protektif kepadaku hingga mencari teman pun harus diseleksi seperti tadi.

    Aku pun mengambil tas koperku yang berwarna coklat tua diatas lemari dan mulai memasukkan bajuku yang sudah rapi terlipat didalam lemari, Agra hanya duduk diatas kasurku yang empuk sambil celingak celinguk melihat ruangan kamarku.

    “kamar lu rapi juga yaa” kata Agra

    “ya iyalah yang bersihin bude gw, dia paling gk suka sama yg jorok jorok” jawabku seadanya sambil terus memasukkan bauju kedalam koper

    “hehe iya enak yaa jadi lu, semuanya serba ada” balas Agra

    “gk semuanya, ada beberapa hal yang nggak ada” balasku singkat tanpa melihat Agra

    “maksudnya?”

    “udahlah nggak penting juga” jawabku menghindari pertanyaan pertanyaan rumit dari Agra

    “udah yuuk cabut” ujarku ketka bajuku dan barang barangku sudah tertata rapi dan kututup dalam koperku yang lumayan besar. Agra pun mengangguk dan berjalan keluar kamar dan aku pun mengikutinya sambil menggandeng tas koperku

    Aku menuruni anak tangga hingga sampai ke ruang tengah dan mencari keberadaan budeku

    “bude, steven mau berangkat nihh” teriakku pelan memanggil bude yang entah dimana

    “loo kok mau berangkat sih, bude kira kamu mau nginep disini le” kata bude, terlihat kekecewaan dairaut wajah bude

    “iya bude soalnya bsok ada kuliah pagi, jadi harus berangkat sekarang, tapi lain kali steven janji bakalan nginep disini” jawabku dengan memberikan senyuman manis

    “iya udah kalo gitu, janji yaa. Ajak temenmu juga kalo mau biar rame” ujar bude

    “iya bude siap” jawabku singgat sambil memberi hormat pada bude

    “haha kamu itu. Udah sana temenmu udah nungguin didepan” kata bude sambil mendorongku pelan

    “pamit dulu yaa bude” kataku sambil bersalaman dengan bude

    “pamit dulu ya bude” kata Agra menirukan gayaku, menyebalkan

    “iya hati hati yaa,” jawab bude sambil tersenyum ramah kepadaku dan Agra, aku dan Agra pun membalas senyumnya dan mulai berjalan keluar rumah bude............

    **************************

    “Duh akhirnya kelar juga, banyak juga yaa ternyata barang gw, perasaan tadi dikit deh” kata Agra sambil berbaring dikasurnya setelah menaruh barang barangnya dilemari

    “iya lah, lu nata ulang lagi yaa keliatan banyakan” ujarku yang masih menata pakaianku serapi mungkin karena menghargai budeku yang sudah merapikannya sebelumnya an juga menyetrikanya.

    “lu lama amat sih nata gitu doang, gw laper nih, ke wartegnya mang diman yuuk” ujar Agra sambil mengelus elus perutnya

    “kalo mau cepet bantuin dong, ngomel aja dari tadi”

    “iya deh gw bantu, gw kan orang yg care banget” jawab Agra dengan nada menyindir

    “lu nyindir gw gara gara gak gw bantuin bawa koper lu tadi"

    “siapa yang nyindir, kan gw emang care sama lu steve”kata Agra yang mendekat kearahku

    “kalo lu care cepet bantuin dong, masih delapan lagi nih” perintahku

    “iya iya sabar kali,” jawabnya pasrah

    “duh jangan gitu dong ngelipetnya, nggak bener tuh yang bener kayak gini nih” kataku sewot melihat Agra melipat pakaianku dengan sembarangan

    “sama aja kali entar juga lu pake kan” jawab Agra seenaknya

    “iya tapi ngelipet lu biin lekukan dibajunya jadi gk rapi lagi, udah sini gw aja yang ngelipet” kataku sewot dan mengambil baju yang Agra lipat, tapi Agra menahannya

    “Apaan sih kan gw bantuin lu, biar gw aja yang lipetin” Cegah Agra masih memegang bajuku

    “duh jangan tu tarik dong entar lmolor tuh” kataku sambil terus berusaha mengambil bajuku dari tangan Agra

    “ah apaan sih, gw aja! “

    “gk usah biar gw aja!”

    “gw aja!”

    Kami pun saling menarik bajuku hingga aku terjatuh menindih Agra, kami saling bertatapan dan aku merasakan tangan Agra menyentuh pipiku, dia menatapku sayu. Dadaku pun berdebar kencang tak beraturan, aku merasakan hembusan nafas Agra semakin hangat dan...

    Tok tok tok

    Suara dari balik pintu mengagetkanku dan Agra, kami pun segera berdiri, Agra segera membuka pintu.

    “halo selamat malam, kalian penghuni baru yaa, ini gw bawain makanan” kata seorang cewek dari balik pintu dan terlihat ada dua lagi cewek dibelakangnya

    “oh kebetulan nihh, makasih yaa. Gw Agra, dan itu temen gw yang ganteng Steven” celetuk Agra sambil mengambil bungkusan plastik hitam dari tangan cewek itu, aku pun mendekat dan berjabatan dengan mereka

    “oh iya, salam kenal, gw Siska, ini temen gw susan dan yang satu lagi jeni, kita anak kos cewek disebelah kanan. Kita juga anak kos baru kok” jawab Siska sambil menunjuk kearah kos mereka

    “oh baru tau gw disini ada kos ceweknya, kok pak irman gk bilang yaa kalo ada kos cewek?” tanya Agra bingung sambil menggaruk garuk kepalanya

    “gk tau tuh, eh besok kan hari pertama kuliah, kalian ngambil apa?” tanya Susan dibelakang Siska

    “kita ngambil sastra, kalian ngambil apa?” aku tanya balik

    “gw ngambil TI” kata susan, “kalo gw ngambil Akutansi” kata jeni, “kalo gw sih ngambil sama kayak kalian” kata Siska

    Aku dan Agra saling menatap, “Yang bener?!!” , aku dan agra berkata bersamaan

    “haha iya, kalian kompak banget yaa,” jawab Siska sambil tertawa dibarengi susan dan jeni yang juga tertawa

    “kok kita gk pernah liat lu yaa” kata Agra, aku pun mengangguk

    “iya lah, kita kan baru nyampe di jakarta dari bandung. Oh iya ada satu lagi kan temen kita yang ngekos disini” kata jeni

    “siapa?” tanyaku penasaran

    “gw sih nggak terlalu kenal tapi dia anak akutansi, namanya rizky” jawab jeni seadanya

    “rizky? Gw juga baru denger sih soalnya gw baru hari ini ngekos jadi gk tau juga hehe, bsok aja deh kita cari, biar entar bisa nongkrong bareng” kata Agra panjang lebar

    “iya boleh juga tuh, kan yang ngekos disini kebanyakan anak senior jadi nggak seru malah tadi gw aja mau tanya tempat makan yang deket sini dicuekin, ngeselin kan. Untung aja mereka ngerombolan coba satu orang aja gw babat tuh cewek” kata Siska penuh amarah berapi api

    “eh eh sabar dulu neng, main babat aja emangnya rumput apa” celetuk Agra, kami semuapun tertawa termasuk Siska

    “Agra memang orangnya kocak lebih lucu dari pelawak” kataku sambil nyengir kuda

    “haha iya, awet muda dong lu steve sekarang ama Agra haha” kata susan yang masih tertawa ringan

    “iya tapi ya gitu kadang kadang ngeselin” jawabku sambil melirik Agra, agra terlihat sewot

    “enak aja lu tuh yg ngeselin” sewot Agra

    “haha udah ah, kita balik dulu yaa udah malem, bye” kata Siska, “bye” kata Susan dan Jeni

    “bye” jawabku dan Agra berbarengan lagi, mereka pun berjalan menjauh hingga tak terlihat lagi, Agra pun menutup pintu kamar setelah aku masuk kedalam........................................
«13456789
Sign In or Register to comment.