BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

JENDELA

IchibaraIchibara Iron
edited August 2016 in BoyzStories
Silahkan membaca :3
Mohon bimbingannya :)

Dan kembali dirumah, dan kembali diam, dan kembali tak bersuara.
Satu, Dua, Tiga, Empat, Jarum hitam di jam bulat kembali berputar. Cahaya diluar menembus dari balik jendela diantara kelambu putih.
Kembali aku dengar, di setiap waktu aku dirumah suara mereka, kembali mereka pecahkan sesuatu, kembali dia menangis dan mengepak barang-barang, kembali aku menekuk lutut dan memeluknya di kursi, dan seperti kaset tua yang kembali diputar, kembali Ibu pergi dengan mata lebam.

2 Januari 2015
Pukul 11 siang, langit biru cerah dan angin lembab bertiup dari selatan. Ibu telah pergi sekitar 1 minggu lalu dan monster tua perokok itu tak khawatir sama sekali dengannya. Aku terlalu takut untuk mencoba menghubungi ibu diam-diam menggunakan dial-up telephone karena ayah selalu tau aku melakukannya entah dia mengecek dari recall atau apa namun jika ayah tahu aku mencoba menelfon ibu, aku akan tidur di kamar hukuman semalam-duamalam.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apa aku yang salah? atau mereka? memang keluarga ini tidak bercerai, namun ini kurasa lebih buruk dari perceraian. Aku tak bisa kembali mendengar jeritan ibu, atau pekikan emosi ayah. Selalu aku akan duduk di tempat yang sama tak melakukan apapun memandang keluar jendela terkadang hujan, terkadang berembun, atau berkabut namun suara pertengkaran itu tak bisa kuhindari dengan mengalihkan pandangan atau dengan berubahnya cuaca.
Di beberapa pertengkaran hebat seperti seminggu lalu, ibu akan pergi entah kemana dan dia akan kembali sekitar beberapa hari setelahhnya, yang menyakitkan adalah disaat ibu kembali ayah tak pernah menanyainnya, ayah hanya akan diam merokok dan ibu akan menanyaiku pertanyaan yang sama "Apa kau sudah makan?" dengan air mata, senyum tipis, dan tangan gemetar
Aku merasa bahwa ibu kembali, hanya karena ada aku dirumah. Aku pernah menyuruhnya bercerai beberapa kali namun ibu selalu menjawab "Perceraian tak semudah itu, kau akan mengerti saat dewasa"

9:30 Malam menjelang dan ibu tak kunjung pulang, ayah pergi keluar dan entah kemana, biasanya dia tak akan kembali hingga besok siang.
Setelah beberapa pesan yang ku kirim seseorang telah berdiri di depan pintuku, ada sedikit rasa senang yang menyakitkan menggumpal di teggorokan.
kembali pintu kubuka dan dia datang mendaratkan kecupan hangat. nafas yang kembali berpacu sesaat dan tangan yang akan merangkul di tengah malam. memecahkan malam dengan kehangatan dan milyaran cinta dan disaat dia tertidur disampingku, benar-benar tertidur penuh keringat, aku akan melihat wajahnya dan kembali berfikir, menghela nafas panjang, menatap dalam kearah matanya yang terpejam dengan penuh kenyamanan cinta
"Mengapa dia harus seorang...
Pria?"

Ayahku sendiri seorang homophobic, dia sangat mengutuk hubungan gay atau semacamnya. disetiap ada berita soal gay dan sejenisnya dia selalu menanyaiku
"Kau bukan gay kan?" aku tak berani membayangkan marahnya jika dia tahu sebenarnya aku

fikiran itu akan terus berputar dengan semua masalah yang akan ikut muncul yang akan menghantarku kembali tidur, dengan kuhitung Satu, Dua, Tiga, Empat... detik itu akan kembali menghantarkanku kedalam mimpi, dimana semuanya jauh lebih indah

9 Januari 2015
Ibu kembali kemarin malam, dia benar benar pucat, aku mengkompresnya lebih dari dua jam dan beberapa obat telah menurunkan demamya. Dia tak pernah bercerita dimana ia tinggal selama ia pergi. Ayahku juga kembali memulai pertengkaran bahkan hanya berselang satu malam setelah kedaatangan ibu. Ibuku terlalu baik untuk menjadi istrinya, dia tak mau melaporkan ke polisi untuk kekerasan yang ia terima namun entahlah.

23 Januari 2015
Malam saat itu, hujan deras merundung dan petir yang beberapa kali bersambut. Aku baru datang dari kampusku. Ada suara khas dari dapur dan di hari kedua paska ulang tahunnya pertengkaran hebat kembali dimulai. Kali ini aku tak duduk di tempat yang sama aku berdiri di depan pintu dapur. aku menahan tangan ayah yang membawa botol sirup. Ibu tersudut di samping meja dia hidup dia masih bernafas. Entahlah aku bisa melihat lengan kanannya bengkok darah benar benar keluar deras dari mulut dan hidungnya. darah dimana mana, mengular dari lantai ke dinding, ibu meninggalkan jejak dengan darah saat ia berusaha mundur, menghindar tanpa daya mengunakan tangan kirinya yang masih berfungsi. Aku mendorong ayahku hingga terjatuh, mengeluarkan pisau lipat dan menodongkannya, dia tersenyum sinis dan berusaha merebutnya namun itu berhasil membuat telapaknya tersayat. dia mengangkat tangan dan ambulan datang sekitar 15 menit kemudian.

Di lorong rumah sakit, seseorang kembali datang dan mengembangkan sedikit senyum. Kecupan hangat di tengah keramaian. Dia bertanya bagaimana keadaan ibuku dan aku menjawab "Lengan kanan Patah di kedua segmem dan trauma pada tendon persendian, trauma otak medium, pendarahan dalam di kepala dan perut, dokter berkata keadaannya sangat parah"
Aku berkaca-kaca dan aku melihatnya, menatap dalam kearah kenyamanan di matanya. dia tersenyum kearahku, begitu hangat dan menenangkan meletakkan tubuhku di pelukannya, begitu nyaman, nyaman, dan menyesakkan, menyakitkan...

2 Februari 2015
Aku berdiri di pemakaman, ibu dimakamkan 2 hari lalu karena trauma otak menyebabkan berbagai kegagalan fungsi saraf otonom. Bunga lili masih segar dan berpendar. Dia disampingku menggenggam tanganku, berkata semua akan baik-baik saja sementara Ayah sedang persiapan reka kejadian dirumah, aku juga harus kesana beberapa menit lagi.

Polisi berjajar di rumah, ayah mengenakan baju oranye dan wajah yang pucat di tengah kerumunan. Monster itu sudah saatnya ditahan fikirku. reka kejadian dilakukan dengan sempurna.

Polisi memberi waktu agar aku dapat berbicara sebentar dengan ayah,

"Ayah minta maaf" katanya dari balik langit biru dan awan. dia menatapku dengan penuh arti dan berkaca-kaca,
"Jadilah anak yang baik, jangan tiru ayahmu ini, hiduplah dirumah pamanmu dan jadilah sukses cari istri dan rawatlah dia"

aku tak menjawabnya, aku memanggil seseorang untuk datang, dia datang dan kami bergandengan tangan. Ayahku dan semua orang melihat kearah kami. Aku menangis saat itu, seseorang itu mendaratkan kecupan hangat kearaku di depan mata ayahku yang terbuka, dia mencumbuku saat itu. Aku membalas ciumannya dalam dan menatap ayahku yang nampak benar-benar terluka dari sudut mataku.
Aku melepaskan pelukan dan ciumannya,
Melihat kearah ayahku yang terpaku, luka itu menganga dari caranya melihat kami
Melihat Anaknya

Air mata menetes dari aku dan ayah,
Aku memeluk ayahku, dia tak membalas pelukanku, dia terpaku dan tubuhnya dingin

"Selamat, aku tak akan mempunyai seorang istri, aku tak akan jadi anak yang kau harapkan, keluarga kita rusak yah, dan anakmu ini juga
kau tak sadar kau telah merusaknya sedikit demi sedikit... dan waktunya bagiku untuk pergi sekarang, kau akan mengerti rasanya menjadi rusak ayah, kau akan tahu itu"

aku melepaskan pelukan darinya, dia tetap terpaku disana, semua orang disana memandang kearah kami dengan cibiran, kearahku. Aku mengajak seseorang itu "Pria" yang aku cintai pergi dengan senyum, senyum yang begitu menyakitkan

Satu, dua, tiga, empat ku hitung langkahku menjauhi jendela itu, langkah yang akan menghantarkanku ke sesuatu yang lain, Sudut yang berbeda....

Bromo, 4 Agustus 2016

Komentar

Sign In or Register to comment.