BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

I Just Wanna Love You

kaka_elkaka_el ✭✭ Silver
Iseng posting cerita ini, syukur-syukur kalo ada yang baca...Cerita ini juga aku post di wattpad dan baru sampai chapter 5...

PROLOG


"Kamu di mana?"

"Aku di rumah lagi sibuk. Telpon nanti saja."

Bona meremas ponselnya setelah sambungan itu diputus sepihak. Hatinya terluka. Ia memaki kelemahannya. Kenapa harus mencintai kekasihnya terlalu dalam. Tio. Orang itu bukannya berada di rumah. Ia masih dalam jangkauan mata Bona, berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Bona jelas mengenali wajah itu, terlalu familiar untuk luput dari ingatannya.

Memutuskan berbalik dan keluar dari dalam cafe, Bona mengurungkan niat membelikan kue pesanan adiknya. Ia melangkah cepat. Menghindari bayangannya tertangkap oleh pemuda yang tengah sibuk mengumbar kemesraan bersama orang lain.

Bona bukannya nggak tahu kekasihnya itu selingkuh. Ia paham betul. Ia hanya belum siap kehilangan. Dalam tiga tahun hubungan mereka berjalan, Bona sadar, perasaan Tio terhadapnya sudah nggak sama lagi. Cinta itu memudar. Waktu seolah mengikisnya dengan pasti. Sedikit demi sedikit.

****

Oya, beberapa karakter dari ceritaku yang sebelumnya "Lu Lagi" akan masuk dalam cerita ini...
«1

Komentar

  • kaka_elkaka_el ✭✭ Silver
    PART



    Jika ada yang lebih hebat daripada cinta, maka jawabannya adalah waktu

    Bona menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk milik sahabat enam tahunnya ini. Nggak banyak yang berubah dari kamar Desmond. Perabotannya masih sama, kecuali ada beberapa barang yang disingkirkan dan barang baru yang menjadi tambahan. Jam gitar ini contohnya, terakhir minggu lalu Bona kemari benda itu masih belum ada.

    "Lu baru beli?" tanyanya, menunjuk benda cantik itu dengan dagunya.

    Desmond tersenyum. Ia mengambil jam itu lalu mengusapnya dibeberapa bagian seolah benda itu benda keramat. "Ini dari Toby. Dia beliin gue waktu ke Jogja kemarin. Bagus ya."

    Bona hanya bergumam. Ia iri. Bukan pada sahabatnya, tetapi pada perhatian yang diberikan kekasihnya. Tio nggak begitu. Bona lupa kapan terakhir kekasihnya itu memberikan sebuah hadiah. Di hari ulang tahunnya dua bulan lalu saja, Tio nggak memberi apapun, bahkan sekedar ucapan selamat. Dada Bona sesak mengingat hari itu.

    "Lu ada masalah, Bon?" Desmond menghampiri sahabatnya itu, ikut berbaring di sebelahnya. Dari dulu Desmond selalu bisa menebak ekpresi wajah yang Bona tampilkan. "Lu ribut sama Tio?"

    Kalau tentang Tio selingkuh disebut masalah, maka jawabannya 'Iya'. Akan tetapi mereka nggak bertengkar. "Gue nggak ribut sama Tio."

    "Terus kenapa muka lu kusut. Lu tahu kan kalau lu itu nggak pernah bisa bohong sama gue!"

    Bona tertawa kecil. Sahabatnya itu terlalu percaya diri. Ia ingat semasa SMA ia pernah naksir sahabatnya ini, dan Desmond nggak pernah tahu kalau bukan Bona sendiri yang mengaku. Tapi itu dulu. Sekarang perasaan cintanya tertanam di satu orang. Orang yang bahkan nggak membalas pesan yang ia kirim dua jam yang lalu sementara ponselnya masih aktif.

    "Nggak ada apa- apa, Mond. Nanti kalau ada sesuatu gue pasti cerita."

    "Oke. Tapi jangan coba-coba bohongin gue. Kalau itu sampai terjadi, gue bakal tuntut lu dengan pasal penipuan. Ancamannya lima tahun. Jangan sampai hidup lu berakhir di penjara. Lu bakal menyesal."

    Bona mengernyit. Sahabatnya ini gila. Tapi kemudian ia tertawa, Desmond selalu punya cara yang aneh untuk menghiburnya. Mereka perang bantal setelah itu. Kelakuan keduanya persis seperti cewek abg alay.

    "Apa aku ganggu?" Toby menampakan diri dari balik pintu saat mereka masih asik saling pukul dengan bantal dan guling. Wajah Desmond langsung berseri. Ia bangun mendekati kekasihnya itu. "Nih. Aku belikan martabak. Aku tadi melewati penjualnya dan ingat kemaren kamu pengen beli ini tapi kehabisan."

    Desmond meraih kresek itu dengan senyum lebar. "Kamu tunggu sebentar, aku bikin minum dulu."

    "Nggak usah, Yang. Aku buru-buru mau ke bandara. Ayah sudah nungguin." Desmond mengangguk dan dihadiahi ciuman di kening oleh Toby sebelum ia pamit untuk pergi.

    Bona memalingkan wajahnya. Dadanya kembali sesak. Kisah cintanya dan Desmond seolah berbanding terbalik. Meski diawal masa pacaran Toby dan Desmond sempat putus nyambung, sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih sehidup semati. Apalagi kedua orangtua mereka sudah menerima hubungan kekasih itu.

    Sedang Bona? Ia bahkan nggak tahu Tio saat ini berada di mana. Yang paling miris, Bona bahkan sudah lama nggak mendengar kata sayang dari kekasihnya itu.

    "Mond, gue pulang dulu ya." Bona ingin memikirkan kisah cintanya yang miris di rumah saja. Ia ingin sendiri. Meski terselip keinginan mendatangi rumah kekasihnya itu. Bona menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Ia merasa seperti pengemis.

    "Lah! Ini martabaknya gimana?"

    "Itu kan martabak lu, bukan martabak gue. Ya terserah mau lu apain. Lagian kan ada Rendra. Adek lu itu kan doyan martabak. Gue pulang, ya."

    "Ya udah, hati-hati."

    Meski Desmond tahu sahabatnya itu sedang bermasalah, ia sadar Bona bukanlah orang yang akan mengeluh atau merengek minta dikasihani. Sahabatnya itu akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Bona tegar. Tapi ketegarannya itulah yang membuat Desmond khawatir. Bona menyimpan rasa sakitnya sendirian.

    .

    .

    Nyatanya hati dan akal Bona berjalan nggak seimbang. Ia justru berada di depan rumah besar ini meski pikirannya mengatakan kalau ia bodoh. Tangannya baru akan bergerak untuk menyentuh bel rumah ketika pagarnya mendadak terbuka, Tio dengan motor besarnya keluar dari dalam. Ia nggak sendiri. Cewek yang tempo hari Bona lihat bersama Tio di cafe duduk menempel di boncengannya.

    "Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?" ucapan Tio menyentaknya dari menatap cewek yang tersenyum manis ke arahnya.

    "Aku sudah mengirim pesan tadi."

    Tio menghela napas dalam, matanya memandang Bona seolah orang asing yang datang bertamu. "Kamu tunggu di dalam. Aku anterin Mika dulu."

    Tio berlalu setelah itu. Menyisakan Bona dengan dada berdegup sakit. Ia menarik napas berkali-kali. Sesak itu datang lagi. Tenggorokannya tercekat. Bona tahu Tio memang bisek. Dan sekarang ia semakin ketakutan. Cewek yang Tio panggil Mika itu makin dekat dengan kekasihnya. Ia bersaing dengan seseorang yang bisa memberi Tio masa depan cerah. Sedangkan ia....

    Bona menatap lagi jalanan yang dilewati kekasihnya, bayangan Tio semakin menjauh dan menghilang dipertigaan jalan. Dadanya bergemuruh. Bukan Bona yang Tio bonceng tetapi orang lain yang melingkarkan tangan di pinggangnya dengan posesif.

    "Ini apa, Yo?"

    "Itu namanya kalung."

    "Nenek jompo juga tahu!"

    "Hahaha ... aku beli yang couple. Satu buat kamu satu buat aku. Supaya kamu selalu ingat bahwa Tio Adhyasta Prananda akan selalu cinta pada Bona Dwi Anggara."

    "Makasih...."

    "Apa sih yang nggak buat kamu."


    Bona meremas kalung yang masih menggantung manis di lehernya. Bayangan masa lalu semakin membuatnya tercekat. Perutnya bergejolak. Kekasihnya itu sudah membuatnya jatuh terpuruk dalam cinta. Apa Tio masih merasakan hal yang sama seperti dulu, sedikit saja?

    .

    .

    "Dia ... siapa?"

    Bona nekat bertanya meski hatinya dilanda kekalutan. Kalau saja Bona nggak terlalu mencintai kekasihnya ini, akan jauh lebih mudah baginya. Tapi takdir seolah mempermainkannya. Bona nggak sanggup kalau harus melepas Tio sekarang.

    "Teman kampus. Apa kamu lapar? Ayo kita makan di luar."

    Bona mengangguk. Ia enggan bertanya lebih jauh. Biarkan saja seperti ini, paling nggak Tio masih berada di sisinya sekarang. Bona akan bertahan sekuat yang ia bisa, ia berharap suatu hari Tio yang begitu mencintainya akan kembali.

    Mereka mendatangi rumah makan yang dulu sering mereka datangi. Bona ingat, dulu Tio menyatakan cintanya di tempat ini. Bayangan manis itu membuatnya tersenyum tipis.

    "Kamu mau makan apa? Yang biasa?"

    "Iya." Bona tersenyum lagi, seenggaknya Tio masih ingat makanan yang selalu ia pesan jika mereka makan di sini.

    Tio menyebutkan pesanan mereka pada pelayan sementara mata Bona sibuk menjelajah rumah makan ini. Matanya bertumbuk pada pemuda berjarak tiga meja darinya. Tanpa sadar Bona tertawa kecil. Pemuda seumurannya itu mengipasi mulutnya dengan tangan. Wajahnya memerah. Kepedasan. Entah berapa banyak sambal yang ia makan.

    "Kamu ke rumah ada apa?"

    Bona kembali tersentak. Ia menatap kekasihnya yang juga sedang menatapnya dengan alis berkerut. "Aku hanya ingin ketemu. Apa nggak boleh? Akhir-akhir ini kamu selalu nggak punya waktu."

    "Kamu tahu kan aku sibuk kuliah."

    "Aku juga kuliah, Yo. Kita satu kampus kalau kamu lupa."

    "Tapi jadwalku lebih padat."

    Bertemu cewek tadi bisa!

    Bona ingin berteriak seperti itu. Tapi suaranya tertahan di tenggorakan. Bona mencoba memahami. Sebagai anak kedokteran Tio memang lebih sibuk darinya. Tapi apa itu bisa dijadikan alasan? Bona pacarnya. Apa Tio harus diingatkan lagi?

    "Sudahlah," Bona malas berdebat. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Tio bukannya malah meributkan hal yang nggak jelas. "Oh iya, minggu ini kamu bisa nemenin aku nonton konser musik nggak? Aku sudah beli dua tiket soalnya."

    Tio menghentikan gerakan tangannya memegang sendok. Matanya kembali melirik Bona. "Sorry, aku nggak bisa. Aku ada acara keluarga." Tio menolaknya dengan tegas.

    Bona menghela napas kecewa. Meremas sendok di tangannya. Selalu seperti ini. Minggu lalu Tio juga menolak ajakannya ke bioskop dengan alasan sibuk. Tio seakan menjaga jarak. Bona sadar itu. Sikap Tio sudah banyak berubah.

    "Iya. Nggak apa-apa. Lain kali aja kalau gitu."

    Bona merutuki dirinya yang nggak bisa protes sama sekali. Tapi kalau ia melakukannya, Tio mungkin akan semakin menjauhinya. Bona nggak mau itu terjadi. Ia masih ingin mempertahankan Tio di sisinya. Sesakit apapun itu.

    Nggak ada lagi yang bicara setelahnya. Mereka makan dalam diam. Meski nafsu makan Bona sudah menghilang, ia memaksakan diri memasukan makanan itu ke mulutnya. Mengunyah secara perlahan. Seolah menikmati dengan khusyu. Sebenarnya makanan itu seenak biasanya, hanya perasaan Bona lah yang membuatnya terasa hambar.

    Tio mengajak Bona pulang seusai acara makan malam yang hening itu. Melewati jalan yang padat, hujan turun secara mendadak. Tio menghentikan motornya di depan sebuah ruko yang tutup. Mereka berteduh bersama beberapa orang yang juga menghindari hujan.

    Tio merapatkan jaketnya, sementara di sebelahnya Bona memeluk dirinya sendiri. Ia menggigil. Kemeja basahnya nggak sanggup menghalau dinginnya angin yang berhembus menusuk tulang.

    "Pakai ini. Kamu kedinginan, kan?" Jaket hangat Tio mendarat di tubuh Bona.

    "Memangnya kamu nggak kedinginan?" Bona menatap Tio yang sekarang hanya menggunakan kaos lengan pendek. Kekasihnya itu tersenyum ke arahnya.

    "Aku nggak apa-apa. Aku seribu kali lebih rela kedinginan daripada nanti kamu yang sakit."


    "Ayo." Panggilan Tio kembali menyadarkan Bona. Ia seperti terkurung di masa lalu.

    Hujan sudah berhenti. Bona naik dengan perlahan ke jok motor Tio. Tangannya melingkari pinggang Tio untuk beberapa detik sebelum kekasihnya itu kembali mematahkan hatinya. "Lepasin, Bon. Nggak enak diliat orang."

    Bona menarik tangannya dengan perasaan sedih luar biasa. Dulu Tio lah yang memaksa Bona memeluknya, nggak perduli walau orang-orang di sekitar mereka menandang aneh.

    Tio mengantarkan Bona ke rumahnya sebab ia menggunakan angkutan umum saat menyambangi rumah kekasihnya tadi. Setelah Bona turun dari motornya, Tio hanya berpamitan lalu memacu kendaraanya.

    Nggak ada lagi usapan di kepala. Nggak ada lagi tangan yang suka mencubit hidungnya. Nggak ada lagi ciuman curi-curi di kening. Apalagi ciuman nekat di bibir. Semuanya sudah nggak ada lagi. Bona merindukan kekasihnya itu.

    Setetes cairan bening mengalir di pipinya. Bona menghapusnya dengan cepat. Dia nggak akan menangis karena ini. Dia akan bertahan sekuat mungkin.

    ***

  • RaraSopiRaraSopi ✭ Bronze
    Ini yang ada di wattpad kan? Tapi kmrn notif nya kan baru hiatus. Atau mau lanjut di sini saja? Apapun itu, yang penting di lanjut...hehehe

    Semangat :)
  • kaka_elkaka_el ✭✭ Silver
    @RaraSopi kalo udah baca nggak perlu di baca lagi... hehe... Intinya sih cerita ini sebisa mungkin akan ditamatkan, tapi cepat atau lambatnya aku nggak janji :D
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    ditunggu lanjutannya ya ... penasaran nih ...
  • 3ll03ll0 ✭✭✭ Gold
    galau poool nasib si Bona.
    #cekekTio
  • kaka_elkaka_el ✭✭ Silver
    edited July 2016
    PART 2


    Hal yang sekarang bagimu sangat berharga, di masa yang akan datang bisa jadi tidak berarti lagi


    Dua tiket konser musik itu masih di berada genggaman Bona. Ia berpikir haruskah memberikannya kepada orang lain atau ia saja yang pergi menonton, sementara ia sudah susah payah mendapatkannya. Bona mengagumi band luar negeri yang menggelar konser kali ini. Ia salah satu dari jutaan penggemar yang mungkin akan bernyanyi mengiringi suara merdu sang vokalis. Tapi jika pergi seorang diri saja ....

    Ide menghubungi Desmond terlintas begitu saja di otaknya. Bona mengunggu sampai sahabatnya itu menjawab panggilan telepon hingga dering ketiga. "Halo, Mond. Malam minggu ini lu sibuk nggak? Gue ada tiket konser nih, Tio nggak bisa ikut. Temenin gue dong ...."

    "Emang konser apaan? Soalnya gue sama Toby juga mau nonton konser malam minggu ini?"

    "Bon Jovi."

    "Nah ... kebetulan banget, tuh. Kita nonton bareng aja kalau gitu. Gue sama Toby rencananya mau naik motor, macet kalau harus pakai mobil. Kita janjian di rumah gue aja. Gimana?"

    "Iya deh. Malam minggu gue ke rumah lu." Bona menaruh ponselnya ke atas meja belajarnya setelah itu. Nggak ada salahnya menghibur diri dari pikirannya yang carut-marut belakangan ini.

    Bona terdiam sesaat, tangannya lalu bergerak dengan perlahan menarik laci meja belajar itu dan mengambil sebuah handycam yang biasa ia gunakan saat sedang liburan bersama teman ataupun keluargannya. Juga dengan kekasihnya.

    Handycam ini ia beli saat masih berada di kelas 11 SMA dengan hasil tabungannya sendiri. Bona membolak-balik benda itu sebelum memasukannya kembali ke dalam laci. Ia beralih pada laptop di atas mejanya dan membawa gadget itu bersamanya ke atas kasurnya yang empuk. Bona menyandarkan punggungnya sembari menekan tombol power pada laptop itu.

    Ia membuka folder rekaman begitu proses booting selesai. Matanya memindai satu-persatu hingga pilihannya jatuh pada video kelulusannya. Wajah yang tampil pertama kali adalah Iren. Saudara kembar Toby itu menarik kerah baju seragam Desmond sampai sang empunya tercekik. Desmond balas menjepit kepala Iren di ketiaknya hingga cewek cantik itu berteriak histeris.

    Bona tertawa kecil. Kekonyolan teman-temannya ini membuatnya merindukan masa SMA-nya. Ada yang masih menjadi temannya hingga saat ini, namun banyak pula yang menghilang dari lingkup pergaulannya.

    Adegan selajutnya menampilkan Toby mencoret-coret seragam milik Anto dan Desmond secara bergantian, lalu bergeser pada cewek cantik teman sekelasnya sekaligus mantan Bona dulu, Nara, yang melambai ke kamera juga teman-teman sekelasnya yang lain.

    Senyum Bona masih mengembang. Sampai pada layar monitor yang menampakan sosok Tio berdiri menghadap kamera dengan senyuman lebar. Kekasihnya itu bergoyang ala breakdance. Lalu tariannya berhenti dan Tio mengakhiri aksinya dengan tangannya menyatu membentuk simbol hati diikuti gerakan mulutnya yang bisa dibaca dengan mudah oleh Bona.

    I love you ... Bona.

    Bona mengusap wajah Tio di layar itu. Dadanya bergemuruh. Ia nggak hanya merasakan rindu namun juga kesedihan. Bona bangun dan meraih ponsel pintarnya, mengetikan deretan huruf tersebut lalu mengirimnya ke satu orang. Sayangnya hingga satu jam berlalu dan Bona jatuh ke alam mimpi, ia tak kunjung menerima balasan. Atau mungkin ngga akan menerima balasan.

    I love you, Yo.

    Kamu di mana?

    18.36


    Di tempat lain Tio membaca pesan itu. Hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Ia memasukan kembali ponselnya ke saku celana dan fokus mengendarai motor. Di belakangnya, Mika menyandarkan pipi ke punggung Tio, sedang tangannya melingkari pinggangnya dengan erat. Cewek itu begitu menikmati kebersamaan mereka. Menikmati hubungan yang melapisi hubungan lain yang sudah ada.

    .

    .

    Bona mengendarai motor menyusuri jalanan menuju kampus yang nyaris setiap hari ia lewati. Ia hapal betul seluk-beluknya, namun ternyata hal itu nggak berpengaruh jika nasip sial mengikutinya hari ini. Motor Bona oleng dan jatuh ke trotoar ketika ia kaget saat sebuah motor lain mendadak berbelok di depannya.

    Kakinya terjepit body motor dan sikunya luka karena gesekan dengan bahu jalan. Bona mengaduh. Ia meringis. Untungnya orang tadi nggak kabur begitu saja. Ia menjauhkan motor yang menindih Bona.

    "Maaf ya ... maaf. Lu nggak apa-apa?"

    Bona menatap wajah orang itu. Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu saat ia makan malam bersama Tio. Pemuda ini ialah pemuda yang makan di rumah makan yang sama dengan mereka. Pemuda yang mengipasi mulutnya karena kepedasan.

    "Lain kali bawa motor hati-hati dong. Sakit nih!" Bona nggak bisa menyembunyikan kekesalannya. Pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya ini malah cengengesan.

    "Ya makanya gue minta maaf."

    "Maaf aja, nih?"

    "Ya terus?" ia malah menggaruk kepalanya dengan wajah kebingungan. Melihat responnya yang lambat Bona mendengus semakin kesal. Rupanya ia sedang dihadapkan dengan orang yang kapasitas otaknya dibawah rata-rata.

    "Lu nggak liat, nih! Nih!" Bona menunjuk luka di tangannya dan spion motornya yang pecah. "Gue perlu obat. Dan ini perlu diganti. Pokoknya lu harus tanggung jawab, gue nggak mau tahu."

    "Lah! Kenapa harus gue? kan lu jatuh sendiri?"

    "Lu bego, ya? Gue jatuh karena lu, kampret! Lu belok sembarangan nggak reting pula. Itu bikin gue kaget." Melihat orang pemuda ini masih diam dengan wajah oon, Bona menarik leher bajunya. "Gue bilang ganti. Atau lu mau gue bikin bonyok?!"

    "Iya ... iya ... gue ganti." Bona melepaskan cengkramannya dan membiarkan pemuda itu mengambil dompetnya di saku. "Tahu gini gue tinggalin tadi," cicitnya dan kembali ciut ketika Bona bersuara nyaring.

    "Gue denger!"

    Pemuda itu mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada Bona, "Cukup kan? Habis sudah uang jajan gue hari ini."

    Bona enggan mengomentari keluhan pemuda itu dan memilih menjalankan motornya lagi setelah mengantongi uang tadi. Ia akan mampir ke apotik sebentar, membeli obat untuk lengannya yang berdarah. Juga akan mambir kebengkel motor, membeli spion baru menggantikan spionnya yang kini pecah.

    "Hei ... nama lu siapa? Gue Aldo."

    Bona hanya melirik sepintas dan nggak berniat menyahut sedikit pun. Bertemu Aldo membuatnya sial. Ia nggak punya keinginan bertemu lagi di kemudian hari. Cukup hari ini saja. Di sini. Jangan lagi di tempat lain. Bona nggak ingin berurusan dengan pemuda itu.

    .

    .

    Alunan musik menggema diseantero gedung pertunjukan. Para penikmat musik di sini, termasuk Bona, larut dalam alunan lagu yang dimainkan oleh band aliran musik rock ini. Riuh suara penonton mengiringi suara apik sang vokalis. Melantunkan bait demi bait lirik yang menyentuh hati. Meski diantaranya lagu lawas yang mereka bawakan, semua orang seakan terhipnotis dan ikut bernyanyi secara bersama-sama.

    And I will love you, baby always
    And I'll be there forever and a day, always
    I'll be there till the stars don't shine
    Till the heavens burst and
    The words don't rhyme
    And I know when I die, you'll be on my mind
    And I'll love you always


    Bona senang karena bisa menyaksikan konser band favoritnya secara langsung. Namun ditengah kegembiraannya, terselip rasa sedih. Ia kesepian diantara lautan manusia. Di sebelahnya, Desmond dan Toby saling bergenggaman tangan. Sejoli itu sedang dimabuk cinta. Bona iri. Tio-nya sibuk dengan acara keluarga sampai nggak bisa menemaninya.

    Seenggaknya anggapan itu berlangsung sampai separuh konser terlewati. Di barisan lain, di tribun yang lebih rendah darinya, Bona menangkap wajah pemuda mirip Tio diantara ribuan penonton yang memadati tempat itu. Bona enggan mempercayai penglihatannya. Mungkin hanya ilusinya saja.

    Ia meraih ponselnya dan menghubungi nomor kekasihnya. Gerakan tangannya mengambil ponsel oleh pemuda yang jadi pusat perhatian Bona itu, seirama dengan nada dering panggilan Bona ke nomor Tio. Pemuda itu hanya menatap layarnya sekilas lalu menyimpan kembali ponselnya, bertepatan dengan sambungan Bona yang diriject.

    Hati Bona mencolos. Penglihatannya nyata. Tio kembali berbohong padanya. Hingga konser itu berlangsung sampai akhir, sedikit pun Bona nggak bisa lagi menikmatinya. Matanya terpaku menatap kekasihnya bersama cewek itu. Bona akan memalingkan wajahnya tiap kali Tio mengusap rambut Mika.

    Dada Bona sesak. Matanya berkaca-kaca menyadari senyum Tio sudah bukan lagi untuknya. Dulu Tio memperlakukannya penuh cinta. Namun kini cinta itu bukan miliknya lagi. Dengan Mika, Tio bahkan lebih berani mengumbar kemesraan di depan umum. Nggak secanggung ketika bersamanya. Tentu saja, bagaimana pun Mika adalah seorang wanita.

    Saat Tio mencium kening cewek itu, seketika Bona menutup kedua matanya. Ia nggak akan membiarkan setetes air pun membasahi pipinya. Ini nggak seberapa. Bona masih sanggup. Bona akan tetap bertahan meski hatinya telah hancur.

    "Bon?" Bona mengacuhkan Desmond. Jiwanya seakan berada jauh di tempat lain yang nggak terjangkau. "Bobon?"

    Dua kali panggilannya dihiraukan, Desmond mengikuti arah pandang Bona yang sedari tadi nggak berubah. Rasa terkejut nampak jelas di mata Desmond saat matanya menangkap apa yang menjadi fokus sahabatnya ini.

    Desmond marah. Ia nggak menyangka Tio bisa sejahat itu. Bukannya tadi sahabatnya ini cerita bahwa Tio nggak bisa ikut karena acara keluarga? Lalu bagian mana dari memeluk seorang cewek di lokasi konser musik yang masuk dalam unsur acara keluarga?

    "Brengsek! Kurang ajar banget sih, Tio!"

    Mendengar nama kekasihnya dimaki, kesadaran Bona seolah ditarik kembali ke bumi. Ia menatap Desmond yang menunjukan kelakuan buruk Tio pada Toby di sebelahnya.

    "Kalian masih pacaran, kan?" kali ini Toby yang bertanya. Bona mengangguk lambat-lambat. "Berarti dia selingkuh?"

    Desmond mendengus. "Lu sabar ya, Bon ...."

    Desmond meraih pundak Bona dan meremasnya perlahan seakan menyalurkan kekuatan kepada sahabatnya melalui sentuhan itu. Bona membalasnya dengan senyum meski jauh dilubuk hatinya ia merasa sakit. "Gue nggak apa-apa."

    .

    .

    Konser itu berakhir. Orang-orang mengatakan betapa mereka puas dan bahagia malam ini. Band ini berhasil memuaskan dahaga penggemarnya untuk menikmati tontonan yang luar biasa. Akan tetapi hal itu nggak berlaku untuk Bona, ia hanya diam, enggan membahas apapun lagi. Dan yang terjadi pada Bona juga berlaku pada Desmond dan kekasihnya. Mereka memilih diam. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka bertiga.

    Hingga pada akhirnya Bona berjalan cepat dan meraih tangan salah satu penonton malam ini. Mika yang merasa patnernya ditarik paksa mencoba menahan Tio. Namun Tio justru menyuruhnya menunggu bersama Desmond dan Toby yang turut menghampiri mereka.

    Bona menggiring Tio ke salah satu sudut yang lebih sepi diantara lainnya. "Kenapa kamu bohong, Yo? Bukannya kamu bilang ada acara keluarga? Kenapa malah jalan dengan Mika?"

    Sedikit pun Tio nggak merasa kaget saat Bona memergokinya kini. Ia bersikap biasa saja. Bahkan kalimat yang terlontar dari bibirnya terkesan terlalu santai. "Mika ngajakin aku nonton. Jadi kuiyakan. Kenapa memangnya?"

    Kenapa katanya ....

    Bona ingin menjerit saat itu. "Lalu aku? Kamu menolakku mentah-mentah, Yo! Tapi kamu malah jalan sama orang lain. Aku mencoba percaya, tapi kamu malah berbohong. Kamu selingkuh, kan?!"

    "Kalau iya kenapa? Apa kita putus aja?" Tio mengucapkanya ringan tanpa beban, namun efeknya pada Bona sungguh luar biasa.

    Bona membeku. Hantaman di dadanya terasa begitu berat hingga mampu meloloskan setetes air mata yang Bona tahan sejak tadi. Ia menghapusnya dengan cepat namun tetap saja sempat tertangkap pandangan Tio. Bona sakit hati. Nggak sadar kah Tio bahwa Bona teramat mencintainya.

    "Tatap mataku, Yo ...." Tio memang enggan menatap mata Bona. Ia lebih tertarik melihat orang-orang berlalu-lalang di sekitar mereka. "Bilang bahwa kamu nggak punya rasa sedikit pun buatku."

    Kekasihnya itu masih diam. Tio kukuh memandang orang-orang yang nggak ia kenal sama sekali daripada memandang Bona di depannya.

    "Yo!"

    "Beib, apa kamu sudah selesai? Papa nyuruh kita pulang cepat soalnya." Panggilan Mika dan bagaimana caranya bermanja pada Tio nyaris membuat Bona hilang akal. Sesak, dan jantungnya serasa di remas membuatnya sulit bernapas.

    "Iya. Urusanku sudah selesai. Ayo pulang."

    Bona hanya sanggup menunduk saat kekasihnya itu memilih pergi bersama orang lain. Desmond yang terdiam menyaksikan kejadian tadi nggak tahu harus berbuat apa. Ia mengusap punggung sahabatnya itu. Dan yang paling menyakitkan Bona masih saja tersenyum saat mata mereka bertumbuk. Desmond tahu, Bona akan selalu menyimpan sakitnya sendirian.

    "Gue ngantuk. Gue pulang duluan, ya." Senyum itu langsung lenyap setelah Bona berbalik dari sahabatnya.

    Bona nggak perlu menunggu jawaban sahabatnya sebelum menaiki motor dan kembali ke rumahnya. Tubuhnya merosot tepat setelah ia menutup pintu kamarnya yang gelap-gulita. Bona terpuruk sendirian. Ucapan Tio bergema di kepalanya ....

    Kalau iya kenapa? Apa kita putus aja?

    Bona menyimpan wajahnya dilipatan tangan. Menyembunyikan kekalutan yang melanda pikirannya malam ini. Sesakit ini kah rasanya? Sungguh ... apa memang Bona sudah nggak berarti lagi bagi Tio? Nggak ada lagi kah secuil cinta yang dahulu menggebu-gebu. Semakin ia memikirkan, semakin sakit pula perasaanya.

    Bona membiarkan tubuhnya merasa kedinginan. Rasa dingin yang juga perlahan mengalir menyelimuti hatinya yang terluka.

    .

    Di sudut kamar lain yang berjarak puluhan kilometer, Tio berbaring di atas kasur empuknya sambil memegangi sebuah figura yang berisi foto kekasihnya selama tiga tahun ini. Ia merabanya secara perlahan seolah orang yang tersenyum dalam foto itu bisa merasakan sentuhannya. Malam ini, Tio menghancurkan senyum itu. Kilasan kekasihnya itu meteskan air mata membuatnya ingin menghajar dirinya sendiri.

    "Maaf ...."

    Tio menggumamkan kata itu berkali-kali. Bibirnya menciumi foto kekasihnya begitu lama hingga tanpa sadar berlabuh ke alam mimpi. Harinya sudah sangat berat. Dan kedepannya mungkin akan jauh lebih berat lagi.

    *****

  • Algibran26Algibran26 ✭ Bronze
    hallo @kaka_el ... Gue sangat suka cerita elu... gue suka cerita sedih kayak gini... gue suka... semoga segera dilanjut ya... kalo gak dilanjut berarti elu udah buat gue sedih... elu bisa dipidana karena sudah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan... #plak hahahahaha
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    kasihan ... duh Tio ...
  • Purnama_79Purnama_79 ✭✭✭ Gold
    Wah ternyata disini dipost juga ya. Nyimak ah.
    *JEALOUS*
  • RiyandRiyand ✭✭ Silver
    Lanjut ts.. Nyesek bget..
  • Di Wattpad, judulnya apa ya ?
  • RiyandRiyand ✭✭ Silver
    Sama aja dg judul trit ini. Search aja di google. Tambahkan kata 'bona' di akhir keywordnya supaya gampang nemuinnya
  • AgovaAgova ✭✭ Silver
    Lnjut...yah nyesek
  • kaka_elkaka_el ✭✭ Silver
    PART 3



    "Boleh aku minta sesuatu sebagai hadiah anniversary kita yang pertama?"

    "Apa? Tapi jangan yang aneh-aneh."

    "Enggak, kok. Aku cuma minta satu hal sama kamu ... kalau suatu hari nanti aku mau putus, tolong tahan aku sekuat mungkin."

    "Omonganmu nggak jelas, Yo. Lagian kenapa aku harus repot-repot? Itu kan hak kamu."

    "Karena pada dasarnya aku akan selalu cinta sama kamu. Jadi please ... Bona-ku tercinta, tolong lakuin aja."


    Bona mengerjapkan matanya. Ingatan masa lalu itu melintas begitu saja dipikirannya. Entah tolol atau amanah, Bona justru menjadikannya sebagai tekat untuk terus bersama Tio. Seenggaknya ia akan mencoba mempertahankan kekasihnya itu sekuat yang ia bisa.

    Bona menatap bayangannya di cermin, wajahnya tampak menyedihkan daripada biasanya. Rambutnya yang acak-acakan ia sisir dengan tangan. Lalu memanifulasi perasaan kalutnya dengan sebuah senyuman lebar. Ia menarik napas berkali-kali dan meyakinkan diri sendiri bahwa ia sanggup menemui Tio dan akan memperjelas status hubungan mereka.

    Bona mengambil tas ranselnya dan memakainya dengan cepat. Senyum bundanya menyambut Bona saat ia berpamitan. Setelah kuliah nanti ia akan menemui Tio di fakultasnya. Bona nggak tahu apa yang terjadi, tetapi ia akan mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk sekali pun.

    Saat memasuki area kampus dan memarkirkan motor bebeknya, seseorang tiba-tiba menepuk pundak Bona dari belakang. Bona kaget sampai helm yang akan ia gantung jatuh menggelinding ke depan kaki pemuda bertubuh tinggi itu. Bona merengut saat melihat pelakunya yang sekarang justru sedang cengengesan.

    "Ngapain sih lu! Kurang kerjaan banget."

    Aldo tetap saja cengengesan, lalu memungut helm Bona yang jatuh dan dengan segera menggantungnya ke stang motor Bona. "Sorry, gue nggak nyangka aja ternyata kita satu kampus. Gue belum pernah liat lu di sini soalnya. Eh ... btw, lu belum nyebutin nama lu kemarin. Gue Aldo Mahardika. Lu cukup panggil gue Aldo."

    Bona enggan menyambut uluran tangan Aldo, ia memilih bergegas mendatangi kelasnya. Bagi Bona Aldo itu menjengkelkan. Ia rupanya bukan hanya bego tetapi juga keras kepala. Aldo mengimbangi laju langkah kaki Bona, dan ngotot ingin tahu nama pemuda yang kemarin dibuat celaka olehnya karena berkendara kurang hati-hati.

    "Ayo lah ... nama panggilan juga nggak apa-apa."

    Bona menghentikan langkahnya dan langsung menghadap Aldo. "Ada urusan apa emangnya lu sama gue? Denger ya ... gue enek liat muka lu. So, lu jauh-jauh dari gue kalau nggak mau gue bikin babak belur. Sekedar info, gue ini pemegang sabuk hitam karate. Jadi kalau lu nggak mau wajah lu itu bonyok oleh gue, jangan coba-coba ganggu gue."

    Bona kembali melanjutkan jalannya dan meninggalkan Aldo yang terpaku. Hanya sebentar karena cowok itu ternyata juga cukup punya nyali. "Hei ... ayolah. Nama panggilan saja ... atau gue panggil manis aja?"

    Bona melotot seketika. Ia nggak menyangka pagi-pagi harus bertemu makhluk paling menyebalkan di dunia. "Gue Bona! Dan jangan berani-berani lu panggil gue manis."

    Bona berjalan ke kelasnya, sementara Aldo tersenyum sendiri di tempatnya berdiri. Ia tertarik pada pemuda bernama Bona itu. Manis tetapi galak. Aldo penasaran. Iya merasa tertantang untuk menaklukan pemuda itu.

    .

    .

    Tio duduk sendirian di area taman kampus setelah mengantar Mika ke fakultasnya.

    Dari kejauhan ia menyadari seseorang melangkah pelan ke arahnya. Ekor matanya menangkap sosok Bona yang berjalan ragu-ragu mendekatinya. Tio pikir Bona sudah nggak akan sudi lagi melihatnya. Atau nggak ia datang dengan emosi meledak dan marah-marah. Namun kenyataanya jauh dari bayangan. Kekasihnya ini masih bisa menyunggingkan senyum manis, membuat perasaan bersalah menggerogoti hati Tio dengan telak.

    "Ada apa?" tanyanya begitu langkah Bona berhenti satu meter di depannya.

    "Aku mau ngomongin masalah kemarin," Bona menghela napasnya. Kenapa sulit sekali lidahnya untuk bertanya? "Emm ... kamu ... jadi kamu dan Mika sudah pacaran?"

    Tio menarik napasnya dalam-dalam. Ia harus bicara sejelas mungkin pada kekasihnya ini. "Aku dan Mika sudah pacaran selama enam bulan. Sorry aku nggak bilang. Aku mencintai Mika." Tio menangkap ekspresi Bona yang berubah, wajah itu tampak jauh lebih murung. "Karena kamu sudah tahu semuanya, jadi terserah kamu. Termasuk kalau kamu mau kita putus sekarang juga."

    Meski bisa menebak, namun saat Bona mendengar pengakuan itu secara langsung dari orang yang ia cintai, tetap saja rasanya sangat menyakitkan. Bona sampai susah untuk bernapas. Hatinya seolah diremas-remas. Harusnya ia menyerah sekarang?

    Sayangnya Bona orang adalah yang susah move on dari masa lalu. Tiga tahun hubungan mereka berjalan nggak bisa ia lepas begitu saja. Bukankah Tio juga dulu pernah memintanya untuk bertahan?

    "Aku ... nggak mau kita putus. Aku ingin kita tetap pacaran."

    Katakan Bona manusia paling naif. Ia dengan bodohnya menceburkan dirinya sendiri ke dalam neraka dunia. Orang yang memandangnya pasti akan berkomentar kenapa hanya karena cinta ia rela diduakan? Hanya. Itulah yang orang lain lupa. Bona mencintai Tio terlampau dalam hingga sudah menyentuh taraf cinta buta.

    Tio nggak menyangka bahwa Bona bersikeras berada di sisinya. Hatinya sakit tetapi sukses ia tutupi dengan sikap seolah masa bodoh. Bukan ini yang Tio inginkan. Bukan ini tujuannya. Seharusnya Bona menyerah setelah sejauh mana Tio menyakiti hatinya dengan sadar. Bahkan dengan cara yang frontal.

    "Terserah kamu saja. Yang pasti Mika prioritasku sekarang. Aku mau kamu nggak terlalu menuntut kalau waktuku lebih banyak kuhabiskan bersamanya."

    "Iya ... aku mengerti."

    Yah. Bona segila itu. Meski ribuan umpatan atau keinginan memukuli Tio berputar-putar di kepalanya, semua itu tertahan oleh satu rasa cinta. Yang Bona tangkap adalah seenggaknya sampai saat ini Tio masih menjadi kekasihnya. Ia akan berusaha membuat Tio mencintainya lagi seperti dulu.

    Yang Bona nggak tahu adalah sedikit pun perasaan Tio padanya sama sekali nggak berkurang. Ia mencintai Bona sama besarnya seperti pertama kali ia jatuh cinta. Bahkan mungkin jauh lebih besar. Sayang Tio nggak bisa menempatkan Bona di sisinya. Tio hanya akan jauh lebih menyakiti Bona jika sampai ia melakukannya. Harusnya Tio berkata jujur. Tapi sesuatu seolah menahannya melakukan itu.

    .

    .

    "Jadi lu masih pacaran sama Tio?" anggukan Bona membuat Desmond mengumpat dengan keras. "Lu gila apa! Lu diduakan dan lu masih mau pacaran sama dia? Otak lu itu ada di mana sih, Bon!"

    Sekarang Desmond duduk dihadapan Bona dan memandangnya dengan gaya dramatis. Seseorang yang ditatap sahabatnya ini pasti akan menjadi salah tingkah, sebab tatapan melototnya itu nyaris tanpa berkedip.

    "Lo itu cowok, Bon!" Bona merengut. Nggak usah dibilangin juga Bona sudah paling tahu jenis kelaminnya sendiri. "Lu harus bisa menunjukan sama si kampret Tio kalau lu bisa dapat pacar yang jauh lebih baik dari dia. Bukannya malah mengemis cinta."

    Bona lagi-lagi merengut. "Bicara sih enak. Ini gue yang jalanin. Lu juga dulu ngemis cinta sama Toby, kan?!"

    "Enak aja! Toby yang ngemis cinta dari gue."

    "Sama aja."

    Mereka berdua terdiam. Hening menyapa tiba-tiba. Meski pembahasan mereka nggak menghasilkan apa-apa, namun Bona merasa jauh lebih ringan. Sesak yang tadinya menyelimuti dadanya kini sudah jauh berkurang. Dan Desmond juga paham, memaksa Bona bicara nggak bisa dalam satu waktu. Ia harus bertanya selama tiga hari berturut-turut sampai Bona akhirnya mengaku. Sifat Bona memang seperti itu, dan orang yang bisa memaksanya bicara hanyalah Desmond. Sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.

    Bona kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik sahabatnya ini, menatap langit-langit kamar yang dicat warna biru. Bona kembali menghela napasnya. Ia mengirimi Tio pesan dan kekasihnya itu menjawab sedang bersama Mika. Bona cemburu. Tentu. Bona bahkan nggak sanggup membayangkan apa yang mereka lakukan di sana, sementara ia merindukan Tio di sini.

    "Lu ingatkan waktu pertama kali kami jadian?"

    Mendengar pertanyaan Bona, Desmond menghentikan gerakan tangannya membalas pesan masuk dari Toby. Ia menerawang ke masa lalu. Bagaimana dulu mereka sering ngedate bareng. "Iya. Gue juga ingat gimana frustasinya lu sebelum jadian sama Tio. Lucu kalau ingat dia getol banget ngejar-ngejar lo."

    Sebuah senyum tipis mengembang dibibir Bona. "Iya. Dan gue harus nyerah karena gue juga suka sama dia. Lu ingat waktu gue masuk rumah sakit karena DBD awal kuliah dulu? Tio sampai rela harus bolak-balik kampus-rumah sakit hanya buat jagain gue ...."

    "Iya. Gue tahu dia cinta banget sama lu. Gue cuma nggak nyangka aja sekarang dia berubah. Bisa-bisanya dia malah selingkuh ..." Desmond bungkam seketika saat menyadari perubahan ekspresi Bona yang terluka. Ia menghela napas. Harusnya Desmond memberi semangat bukannya justru menabur garam diluka sahabatnya itu. "Bon ... kalau menurut lu, Tio untuk patut diperjuangkan, gue akan selalu support lu. Dan lu harus ingat, gue akan selalu ada buat lu."

    Bona terdiam. Ia mengolah rangkaian kata-perkata apa yang sahabatnya itu sampaikan. Seulah senyum tulus menyambangi bibirnya. Seperti Desmond yang merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bona, sebaliknya Bona pun merasa Desmond adalah sahabat terbaiknya.

    "Thanks."

    .

    .

    Bona mengaduk-aduk isi tas ranselnya dengan perasaan was-was. Ia juga sudah memeriksa semua kantong baju dan celananya, sayangnya benda yang ia cari nggak ada di manapun. Dompetnya hilang. Bona menghela napas. Ia menatap dua buku yang akan ia beli, sementara sang kasir masih berdiri menunggu uang pembayaran.

    Bona mendesah kecewa. Padahal ia sangat memerlukan buku itu besok. "Saya minta maaf ya, Mbak. Saya nggak jadi beli. Dompet saya hilang."

    Bona sudah akan berbalik saat seseorang menarik lengannya kembali ke kasir itu. "Berapa semuanya?"

    Kasir cewek itu agak kebingungan sebelum Tio menunjuk buku yang akan ia simpan kembali. "Oh ... Seratus lima belas ribu."

    Selagi Tio mengeluarkan dompetnya dan membayar sejumlah uang kepada kasir itu, Bona di sampingnya berdiri dengan perasaan yang sulit ia gambarkan. Hatinya menghangat. Ia masih sulit percaya bahwa Tio lah yang sekarang ada di sebelahnya.

    Tio menyerahkan kantong plastik berisi dua buku tadi kepadanya dalam diam.

    "Makasih ...." Bona tersenyum lebar. Ia sama sekali nggak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Harapannya melambung tinggi.

    Namun sayangnya harapan itu hanya bertahan dalam hitungan detik ketika cewek bernama Mika tiba-tiba saja datang dan bergelayut manja di lengan Tio. Tio nggak menolak sedikit pun apa, ia justru mengusap rambut panjang Mika dan dihadiahi ciuman di pipi oleh cewek itu.

    Bona meremas kantong plastik di tangannya, "Aku pergi duluan, ya ..."

    "Eh ... kita belum kenalan secara langsung." Ucapan Mika menahan langkah kaki Bona. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Aku Mika. Pacarnya Tio."

    Bona menghela napas. Ragu-ragu ia menjabat tangan cewek itu. Lembut. Berbeda jauh dengan tangan Bona yang bertekstur kasar. Mika cewek yang sempurna. Ia cantik, putih, dengan senyuman yang menawan. Hati Bona mencolos. Bagaimana ia bisa bersaing dengan cewek ini? Mika punya segala hal yang Bona nggak punya. Orang-orang nggak akan menganggap hubungan mereka aneh. Dan yang paling penting, Mika bisa memberikan Tio keturunan.

    "Bona." Juga pacar Tio. Miris karena ia hanya dapat melanjutkan kalimatnya dalam hati. "Aku duluan ya ..."

    Tadinya Bona berharap seenggaknya Tio memberikannya senyuman. Namun sepertinya keinginan Bona itu terlalu muluk. Tio cuek. Ia lebih fokus melingkarkan tangannya di pinggang ramping Mika. Mengecupi leher wanita itu. Sama sekali nggak peduli bagaimana perasaan Bona saat ini. Apalagi ketika ia dengan sengaja mencium bibir Mika. Bona merasa sakit. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Siap mengaliri kedua belah pipinya kapan saja.

    Sebelum itu terjadi, Bona sudah membawa langkahnya menjauh dari kekasihnya itu. Bona nggak akan menangis di depan Tio. Meskipun Tio menghancurkannya tanpa ampun. Menegaskan bahwa posisi Bona di hatinya sudah menghilang nyaris tanpa bekas.

    Jadi ... haruskah Bona menyerah sekarang?

    .

    .

    Tio berada di dalam mobilnya seorang diri. Setelah mengantarkan Mika, tanpa pikir panjang ia melajukan mobilnya kembali ke tempat semula. Matanya awas menatap pemuda yang belum beralih tempat sejak ia meninggalkannya tadi. Bona terjebak hujan. Tio yakin kekasihnya itu nggak membawa mantel.

    Hingga nyaris satu jam terlampaui, langit seolah enggan berenti menangis. Hujan itu masih sama derasnya. Tubuh kekasihnya itu berguncang. Bona menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tio tahu Bona sedang menangis. Dadanya terasa sakit luar biasa.

    Suara dering ponsel Tio mengalihkan perhatiannya sesaat sebelum kembali terpaku pada Bona di seberangnya. Ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan Ayahnya tanpa minat. "Halo?"

    "Apa kamu masih bersama Mika?"

    "Sudah Tio antarkan pulang."

    "Lalu sekarang kamu di mana?"

    "......"

    "Mengawasinya lagi? Jangan berharap yang tidak mungkin, Yo. Secepatnya akhiri hubungan kalian."

    "Tio tahu ...." Cairan bening lolos begitu saja membasahi pipinya. Tio menyapunya namun sekali lagi pipinya kembali basah. Kenapa segalanya harus begitu rumit? Kenapa ia nggak bisa memilih bersama orang yang dicintainya?

    Di seberang sana, Bona masih menutup wajahnya. Sesekali tangannya bergerak menyapu matanya yang basah. Tio meremas setir di kedua tangannya. Ia menahan sekuat mungkin hasrat untuk membawa kekasihnya itu kepelukannya. Ia mencintai Bona, namun yang ia lakukan hanya terus menyakitinya.

    Jika Bona masih tetap kukuh berada di sampingnya, maka Tio akan menyakitinya jauh lebih dalam lagi.

    *****

  • RiyandRiyand ✭✭ Silver
    Plis.. Nyerah aja bon. Biarin tio hidup normal dan raih kebahagiaanmu. Akan slalu ada obat untuk setiap rasa sakit..
«1
Sign In or Register to comment.