BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Vanila, Cangkul, Sianida

01
***
Dunia terkadang terlalu konyol dan bodoh untuk dipahami. Bagaimana tidak, aku yang baru sehari menginjakan kaki di sekolah jahanam ini, sudah digoda oleh lebih dari enam cowok. Dan yang paling luar biasa dari semua itu adalah mereka semua ganteng dan keren-keren euyy!! Aku tak tahu apa yang mereka lihat dariku, tapi yang jelas, aku pasti kelihatan sangat menarik.

Aku menarik kursiku dan duduk di atasnya setelah memesan makanan di kantin. Saat ini jam istirahat, kantin sedang ramai-ramainya, dan semua mata yang ada di ruangan ini tertuju padaku. Aku berusaha bersikap biasa saja saat mengaduk mie baksoku. Aku bisa melihat dua cowok di depanku saling sikut dan menunjuk-nunjuk diriku dengan telunjuknya. Dasar ABG.

"Hai, boleh aku duduk di sini?" saat sedang asyik menyantap mie bakso, suara seorang cowok menginterupsiku. Aku menoleh dan melihat sosok jangkung bermandikan senyum manis dengan balutan putih abu berdiri di sampingku. Aku bisa melihat betapa atletisnya cowok ini dari balik seragamnya. "Yang lain penuh,"

"Oh, boleh," kataku mengiyakan, dan sebetulnya sangat girang. Entah keberuntungan macam apa yang membawaku bertemu dengan cowok ganteng ini. "Duduk aja di sebelahku,"

"Makasih," katanya senang. Dia lalu mengambil tempat duduk tepat di depanku. Wah, aku jadi nggak konsen nih makannya. "Kamu anak baru, ya? Aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya,"

"Iya, aku murid pindahan, dan baru mulai sekolah hari ini," kataku agak gugup.

"Nama kamu siapa? Aku Hendra," katanya lebih jauh dengan memperkenalkan dirinya sendiri. "Aku kelas XII,"

"Rian, kelas XI," oh, cowok ini kakak kelasku ternyata. Nggak nyangka aku bakal punya kakak kelas seganteng ini.

"Rian, nama yang bagus, kayak orangnya," katanya tiba-tiba. Aku langsung tersedak detik itu juga.

Hendra buru-buru memberikan air minumnya buatku dan dengan rakus, kuminum semua es jeruknya itu. Semua orang sekarang memandang kami sambil berbisik-bisik dan tertawa. Wajahku pasti semerah kepiting rebus sekarang ini.

"Kamu nggak apa-apa? Makannya jangan buru-buru, dong," kata Hendra, seolah ini semua salahku. Padahal kan ini semua salah dia. Ngapain juga dia gombalin aku kayak tadi?

"Kok aku? Ini salah kamu tau!" kataku membela diri. Aku mengambil tisu dan melap wajahku yang agak basah karena es jeruk, air mata, dan keringat.

"Kenapa malah jadi salah aku sih?"

"Kamu tadi gombalin aku, aku akan terkejut tiba-tiba digombalin gitu," aku menjelaskan. Dia malah nyengir kuda. "Pokoknya kamu harus bayarin makan siang aku hari ini, semuanya!"

"Bayarin makan siang kamu? Siapa takut? Nambah lagi juga nggak apa-apa," katanya sambil tertawa. "Ambil aja sesuakmu, biar aku yang bayar semuanya,"

Aku nyengir kuda dan melanjutkan makanku. Dia mengacak rambutku dengan gemas lalu ikut menyantap makan siangnya.

***

Aku memperhatikan Pak Herman, guru Sejarahku, yang sedang mereview PD 1 dan 2. Aku sebisa mungkin menangkap semua yang dia ucapkan, biarpun pikiranku saat ini sedang keliaran kemana-mana. Sejujurnya, aku sudah pernah mempelajari materi ini, dan rasanya agak membosankan saat harus mengulangi sesuatu yang sudah aku hapal di luar kepala. Untuk mengusir kejenuhan aku memandang ke luar jendela.

Dari ruang kelasku, aku bisa melihat langsung ke arah lapangan yang letaknya di tengah sekolah. Di sana ada sekelompok kakak kelas yang sedang bermain bola, satu yang aku kenal adalah cowok jangkung berotot yang baru saja mencetak gol dan sedang melakukan high five bersama teman-temannya. Dia adalah Hendra, dan entah kenapa aku menyukainya sejak pertama kali bertemu di kantin tadi. Tanpa dapat kutahan aku tersenyum memperhatikannya.

Tiba-tiba Hendra menoleh ke arahku dan tersenyum balik. Dia melambaikan tangannya dan aku balas melambaikan tangan.

"Iya, Rian, ada apa?" Pak Herman tiva-tiba bertanya, aku menoleh tak mengerti.

"Ada apa dengan apa, pak?"

"Tadi kamu mengangkat tangan kamu, apa ada yang mau kamu sampaikan?"

DEG! Astaga! Betapa bodohnya diriku ini. Semua orang menatapku sekarang, lagi.

"Eh, nggak pak. Tadi ada lalat terus saya tepis pake tangan,"

"Oh, ya sudah. Biar saya lanjutkan pelajaran kalau begitu,"

"Iya, pak. Silahkan,"

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Beberapa teman sekelasku tersenyum padaku dan aku cuma bisa menunduk malu. Diam-diam aku melirik ke arah lapangan lagi. Hendra sudah kembali bermain bersama teman-temannya.
Tagged:

Komentar

  • 02
    ***
    Jarak antara kosan dan sekolahku tidak terlalu jauh sebenarnya, setengah jam berjalan sambil melamun juga sampai. Kalau nggak pake ngelamun cuma lima belas menit. Karenanya aku memutuskan untuk tidak membawa kendaraan pribadi ke kota ini. Aku lebih suka menggunakan kaki atau kendaraan umum saja.

    Saat bel pelajaran berbunyi aku langsung berjalan meninggalkan sekolah dan berbelok ke kanan setelah melewati gerbang. Aku juga mengucapkan sampai jumpa pada beberapa teman yang aku kenal, atau yang kenal padaku dan menyapa duluan.

    Aku berbelok lagi ke kanan setelah sampai di pertigaan. Saat itu seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku langsung menoleh dengan santai dan serasa kesetrum saat melihat orang yang telah menepuk pundakku itu.

    Dia adalah seorang laki-laki, jangkung seperti Hendra, tapi jelas lebih tua dari kakak kelasku itu. Entah berapa tepatnya tapi mungkin takkan lebih dari 25 tahunan. Kebetulan, sesuai informasi yang aku dapat dari beberapa teman, dia adalah guru olahragaku. Wah, apa aku baru saja melakukan kesalahan?

    "Eh, iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku gugup, benar-benar gugup. Di sekolah lamaku aku cukup akrab dengan semua guru. Tapi aku baru sehari di sekolah ini, dan Pak Guru yang satu ini benar-benar mengintimidasiku. Lihatlah bagaimana sorot matanya yang tajam itu! Atau bibirnya yang seperti jarang sekali dipakai tersenyum.

    "Nama kamu Rian, kan? Buku kamu tadi jatuh deket gerbang," katanya sambil menyodorkan sebuah buku bersampul hitam dan lumayan tebal padaku. Itu kan...

    "Iya, pak. Itu buku saya," kataku sambil merampas buku itu dari tangannya. Duh, semoga dia nggak membaca isi buku jahanam ini. "Maaf, ya pak... Jadi ngerepotin,"

    "Nggak apa-apa," katanya datar. "Lain kali hati-hati kalau naruh barang. Saya pergi duluan,"

    "Iya, pak. Sekali lagi makasih," aku mencoba tersenyum, bersikap ramah padanya, menunjukan bahwa aku sangat berterima kasih karena dia telah mengembalikan bukuku.

    Dia cuma tersenyum tipis, tipis sekali, lalu berlalu setelah mengucek rambutku yang agak panjang. Aku memperhatikan punggungnya sampai menghilang di belokan depan.

    ***

    Aku masuk ke kamar kosku dan langsung menjatuhkan semua bebanku ke kasur. Kupeluk buku bersampul hitamku dan menghela nafas. Ini adalah buku diary pribadiku, isinya curhatanku tentang mantan-mantan cowokku yang semuanya brengsek dan tak bisa dipercaya. Bagaimana kalau tadi pak.. Siapa namanya? Aku lupa bertanya tadi.. Membaca semua isi buku ini? Membaca halaman pertama pun dia pasti bakal langsung sport jantung.

    "Kok aku bodoh banget sih," kataku, mengutuk diriku sendiri yang teledor dan pelupa. "Harusnya nggak aku bawa buku ini ke sekolah, pake acara jatuh segala lagi,"

    Tapi, untung tadi pak guru itu menemukan dan berbaik hati mengambilkannya untukku. Dan ngomong-ngomong soal pak guru itu.. Ingat tidak saat dia tadi tersenyum tipis? Astaga! Kalau kalian melihatnya kalian pasti akan lemas seketika!

    Senyuman itu menyiratkan misteri, dominasi, delusi, kontraksi, abstarksi, mastrubasi, eh? :3 pokoknya saat dia tersenyum itu seluruh dunia rasanya berhenti berputar. Waktu seolah membeku seketika dan aku seperti terhipnotis karena senyumannya. Tiba-tiba aku merasa sangat ingin berlutut di depannya, menjilat tiap inchi tubuhnya, sesuai dengan perintahnya! I want to be his slave!

    Tapi lalu saat senyum itu memudar, rasa gugup kembali menyapaku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku, kenapa aku bisa jatuh cinta pada cowok-cowok yang baru aku temui? Aku benar-benar bermental jablay.

    Gemas, kututup wajahku dengan bantal, lalu berteriak di sana. Aphrodite, dosa apa diriku sampai kau membuat alur asmara sebodoh ini?!

    ***

    Karena aku juga manusia, aku membutuhkan yang namanya makanan, sama seperti kalian. Beruntung malam itu ada tukang nasi goreng yang lewat di depan kosanku. Dengan sigap kuhentikan dia dan segera memesan nasi goreng suuuper romantis. Eh, nggak ding, maksudnya super enak. (Maaf, Rian memang korban iklan..)

    Seseorang ikut keluar dan memesan bersamaku. Kalau tidak salah dia ngekos di tempat yang sama denganku, dan kalau tidak salah juga, dia menempati kamar paling ujung di kosanku. Dia beraroma mie dan kopi, rambutnya berantakan, kurus tapi tidak kerempeng, memakai celana boxer pendek dan kaos tanpa lengan. Aku memperhatikannya, dia juga memperhatikanku.

    "Apa?" tanya, seperti anjing mengantuk yang diganggu orang asing. "Ngapain lihat-lihat?"

    "Nggak apa-apa," kataku jutek. Lalu memilih memperhatikan abang nasi goreng bekerja.

    Cowok itu diam saja sampai pesananku selesai dan aku menbayarnya. Tanpa menunggu dia bicara aku langsung memutar tumitku dan berjalan kembali ke dalam.
  • nice story...
    lanjutt
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    tertarik sama judulnya ... penasaran ...
  • 03
    ***
    Esoknya aku kembali ke sekolah dengan berjalan kaki. Sebelum berangkat, aku mengunci pintu kosan dan memastikan semuanya baik-baik saja dan ada di tempat seharusnya. Oke, kelihatannya aman! Aku berbalik dan langsung sport jantung saat melihat cowok urakan semalam sedang menjemur celana dalam di depan mataku.

    Dia cuma memakai handuk putih yang menutupi pinggang sampai lututnya. Bagian lainnya telanjang dan bisa aku lihat dengan jelas. Dia kurus, seperti yang sudah kalian ketahui, tapi tidak cungkring, berantakan, dan dia hanya punya satu hal menarik lain di tubuh kurusnya selain wajahnya yang lumayan ganteng.

    Tepat di bawah lehernya, di bagian belakang tubuhnya, aku melihat ada sebuah tato berbentuk aneh yang aku kenal dengan baik. Caduceus. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi jelas menarik perhatian. Entah apa maksudnya dia memasang tato itu. Apa dia salah satu pemuja Hermes? Aku tahu Hermes adalah salah satu dewa dalam mitologi Yunani, dia pengantar pesan para dewa, tapi apa hubungannya dewa Yunani dengan cowok ini?

    Tiba-tiba dia berbalik dan memergokiku yang sedang memperhatikannya. Aku tak sempat menghindar, jadi sia-sia saja pura-pura tak memperhatikan.

    "Kau lagi," katanya heran. Aku mendadak merasa sangat kesal. Kenapa? Aku kan tetanggamu! "Nggak bosen liatin aku terus?"

    Aku mendengus dan tanpa mengatakan sepatah kata pun pergi meninggalkannya yang masih sibuk dengan cucian basahnya. Dasar cowok sinting! Apa aku benar-benar harus bertetangga dengannya dua tahun ke depan?!

    ***

    Jalanan sedang ramai pagi ini. Kendaraan hilir mudik entah menuju kemana atau dari mana, aku tidak peduli. Kendaraan yang ditunggangi anak putih abu maupun putih biru juga berkeliaran bebas, seperti lalat pengganggu yang tidak disukai. Terbersit keinginan untuk membawa kendaraan juga, tapi aku menekan dorongan konyol itu kuat-kuat. Aku mau jadi anak baik-baik saja di sini.

    Saat sampai di gerbang sekolah aku langsung disapa segerombolan cewek kegatelan berpakaian agak ketat. Payudara mereka kelihatan menyembul, pantat mereka seolah sengaja dinaikan, dalam balutan rok mini mereka kelihatan mempesona. Kalau saja aku doyan cewek, sudah kugaet mereka satu-satu. Sayangnya neng, aku lebih suka dada rata yang keras dari pada yang lembek dan menyembul begitu.

    Di depan koridor aku digoda lagi oleh beberapa cowok sok ganteng. Aku cuma tersenyum saja mendengar gombalan mereka yang basi banget. Please, kalau gitu doang mah gw juga bisa wa! Nggak butuh dikasih orang lain!

    Sambil berjalan, aku memperhatikan rambutku di layar ponselku, membenarkan poniku yang seperti salah arah. Itu bukan keputusan bagus. Kau tau kan koridor sedang ramai-ramainya dan tolong jangan minta aku menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya.

    Bugh!

    Aku hampir saja jatuh menghantam lantai saat aku menabrak cowok ganteng itu. Ponselku masih aman di tangan tapi jiwaku jelas sedang dilanda gempa. Demi Penis Apollo, aku terkejut!

    Hendra kelihatan seperti habis kena puting beliung. Dia sedikit menunduk dan melihatku. Lalu tersenyum simpul, seolah tidak ada hal laih yang lebih membahagiakan selain bertemu denganku.

    "Eh, Rian," katanya dengan nada manis. Hatiku seperti dipermainkan gravitasi saat itu. "Selamat pagi,"

    "Pa-pagi," kataku yang mendadak gugup. Lidahku kelu, otakku beku. Aphrodite, bantu aku!

    "Kamu nggak apa-apa? Maaf aku nggak sengaja nabrak kamu," kata Hendra dengan wajah agak merona. Manis sekali. "Tadi aku lagi ngelamun,"

    "Nggak apa-apa, kok," kataku, yang sedang berusaha menguasai situasi. "Harusnya aku yang minta maaf,"

    "Asudahlah, lupain aja," katanya, akhirnya. "Kebetulan ketemu kamu, aku sekalian mau ngomong," Emang kamu sekarang lagi ngapain, Hendra-ku sayang? Pikirku sambil nyengir dalam hati.

    Tapi kira-kira dia mau ngomong apa, ya? Kok aku jadi berdebar-debar begini? Apa dia mau nembak aku? Ngajak aku jadian?

    "Ngomong apaan?"

    "Gini, kamu kan baru, ya di kota ini," dia memulai sambil mengajakku berjalan bersamanya. Dia mengalungkan lengannya di pundakku dan aku mendadak merasa bodoh saat itu. "Jadi, aku mau ngajakin kamu jalan-jalan, aku sama kamu, keliling sekitar sini aja. Waktunya nanti sepulang sekolah atau kapan aja kamu maunya,"

    "Wah, boleh tuh," kataku, yang langsung semangat mendengar kata-kata 'aku sama kamu'. Hendra ketawa senang. "Nanti aja, sepulang sekolah. Tapi masalahnya aku nggak ada kendaraan,"

    "Kalau soal itu mah nggak usah dipikirin, naik motor aku aja," katanya. "Tapi bener, lho nanti sepulang sekolah?"

    "Iya, bener banget," kataku gemas. Dia seperti mau melompat tapi berhasil menahan diri. Sebagai gantinya, dia mencubit pipiku, yang memang lumayan enak buat dicubit.

    "Oke, nanti sekalian pulangnya sama aku ya," kata Hendra. Kami berhenti tepat di depan kelasku. "Tungguin aku di pos satpam,"

    "Siap, komandan!" kataku, bergaya memberi hormat. Hendra tertawa dan mengacak rambutku. Lalu setelah mengucap sampai jumpa dia pergi meninggalkanku. Aku memperhatikan sampai punggungnya menghilang di belokan depan.

    "Cie, yang udah bisa ngegaet cowo terganteng di sekolah," sebuah suara tiba-tiba menyergap pendengaranku. Aku menoleh ke sana kemari, sampai aku menemukan Dion di belakangku.

    "Dion!" kataku, terkejut. Dia teman sekelasku, teman sebangkuku, ketua kelasku juga. Potongannya agak pendek, lumayan manis sih, kalau saja dia bisa berhenti marah-marah dan bersikap cerewet. Dia memutar bola matanya dengan ekspresi sebal.

    "Deni, namaku Deni," cengo aku dibuatnya. Aku salah ngomong, ya?

    "Maaf, namanya mirip sih," kataku menjelaskan. Dia tidak kelihatan mendengarkan.

    "Terserah kau saja lah," kata Dion, eh, Deni dengan muka datar. "Aku cuma mau ngajuin satu pertanyaan aja saat ini,"

    "Apa itu?" tanyaku ingin tahu. Sebenarnya aku atau dia yang harusnya bertanya?

    "Ada hubungan apa kamu sama Kak Hendra?"

    Aku mengangkat sebelah alisku. Nggak salah denger nih?

    "Maksud kamu?"

    "Jangan pura-pura bego deh, Adrian Saputra," katanya gemas. "Kamu tahu benar apa maksud aku,"

    "Er, well.. Aku nggak tahu harus mulai dari mana, ya. Begini saja," saat itu bel pelajaran pertama berbunyi. Aku diselamatkan dari keharusan menjawab pertanyaan absurd itu. "Maaf, udah masuk. Nanti aja aku jawabnya,"

    Aku tak menunggu persetujuan Dion, aku langsung masuk ke kelas dan meninggalkannya di belakangku.
  • 04
    ***
    Tolong jangan tanya bagaimana hari keduaku di sekolah berjalan, karena seharian ini, sampai pulang sekolah, Dion terus saja merecokiku dengan berbagai pertanyaan tentang Hendra. Aku sampai amsyong dibuatnya.

    "Jadi, kamu sama Kak Hendra belum pernah kenal sebelumnya?"

    "Belum pernah,"

    "Sama sekali?"

    "Sama sekali,"

    "Terus kok kelihatannya kalian udah deket banget?"

    Aku berusaha sabar dan menjawab semua pertanyaannya sebisa mungkin, biarpun terkadang jawabanku ngelantur dan nggak memuaskan. Aku memperhatikan, bila jawabanku kurang memuaskan, Dion akan mengulangi pertanyaan yang sama beberapa menit kemudian.

    Aku baru terlepas dari Dion saat jam pulang sekolah. Dia pulang dijemput oleh seorang laki-laki dengan motor hitam dan pakaian serba hitam. Bahkan aku memperhatikan kaos kaki yang dipakai lelaki itu juga berwarna hitam.

    "Besok kita ngobrol lagi, aku masih ingin tahu banyak," bisiknya di telingaku, sebelum menghampiri lelaki asing itu. Aku menggelengkan kepala saat Dion melaju bersamanya. Dasar banci binal!

    Kulangkahkan kakiku ke pos satpam dan duduk di bangku panjang yang disediakan. Yup! Aku sedang menunggu Hendra, sesuai dengan perintahnya. Seharian tadi aku tidak melihatnya di sekolah, entah kemana lenyapnya cowok ganteng itu. Di kantin nggak ketemu, di koridor nggak papasan, apa lagi di kelas, mustahil aku ketemu dia. Entah, ya kalau sekolah ini punya Ruang Kebutuhan, tapi aku tak melihat ada lantai ketujuh di sini. Dia mungkin sedang di perpustakaan, atau tempat lain yang aku tidak tahu.

    Sepuluh menit kemudian, seorang lelaki dengan motor merah besar berhenti tepat di depanku. Dia memakai helm fullface, jadi aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi dari postur tubuhnya kukira aku tahu siapa orang ini. Dia membuka helmnya dan benar saja dugaanku. Hendra tersenyum saat melihatku yang berdiri dengan mulut terbuka. Yang Mulia Zeus, lelaki ini tampan sekali!

    "Lama, ya nungguin aku?" tanyanya dengan suara khasnya yang indah dan jantan. Aku merasa organ dalamku mencair karena bara cinta yang mendadak menyala-nyala di dadaku. "Sori, tadi gurunya resek, nambah jam pelajaran,"

    "Nggak juga, bentar doang kok, nggak lama," jawabku sambil nyengir.

    "Ya, udah. Langsung aja, yuk!"

    "Ayo!"

    Aku naik ke boncengannya dan setelah berpegangan pada pinggang seksinya, Hendra melajukan motornya menuju ke jalanan.

    ***

    Kami mampir sebentar ke kosanku untuk mengambil jaket, karena aku tidak biasa naik motor tanpa memakai jaket. Pernah dulu aku belagu motor-motoran nggak pakai jaket, dan hasilnya aku malah masuk angin, mual, pusing dan muntah-muntah, kayak orang lagi hamil. Sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu memakai jaket jika hendak bepergian pake motor.

    Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah warung mie ayam yang katanya favorit anak-anak SMA di sini. Dan memang tidak salah, satu suapan saja aku langsung ketagihan dan berjanji pada diriku sendiri untuk datang ke sini sering-sering. Hendra bersikap manis sepanjang acara makan siang itu. Dia melap saos di sudut bibirku, menyuapkan mie padaku, mengambilkan air minum, dia bahkan memegang tanganku di bawah meja. Dia tidak kelihatan ragu atau takut bermesraan di tempat umum seperti ini.

    Setelah kenyang kami lanjutkan perjalanan ke alun-alun kota. Hendra bilang paling asyik ke sini pas malam minggu, soalnya suasanya jadi lebih rame karena banyak yang dagang dan pacaran di sini. Aku nyengir kuda ketika secara sengaja membayangkan aku dan Hendra pergi ke sini berdua pas malam minggu. Membeli berbagai jajanan enak yang ramah dompet, cuci mata lihat barang-barang menarik, cowok ganteng, hot daddy yang barang kali juga main ke sini..

    Selanjutnya Hendra membawaku ke sebuah tempat yang luar biasa mengejutkan. Kubilang mengejutkan karena ini letaknya agak di pelosok, mungkin sebuah bukit. Tempatnya masih asri, banyak pohonnya, dan udaranya sejuk sekali. Artemis pasti sering main ke sini.

    "Gimana menurut kamu?" tanya Hendra setelah turun dan melepas helmnya. "Ini salah satu tempat favoritku kalo lagi bete,"

    "Indah banget, Ndra," kataku terpukau. Dikejauhan aku bisa melihat pemukiman dan bukit lain yang mengitarinya. "Suasanya juga enak, sejuk. Beda sama di tempat tinggal aku sebelumnya,"

    "Duduk di sini, yuk," Hendra mengajakku duduk di sebuah bangku beton yang sepertinya dibuat sebagai fasilitas tambahan tempat ini. Aku duduk di sampingnya dan tak lepasnya memandang sekeliling. "Aku paling suka kalo ke sini malem-malem, soalnya suka ada yang jualan jagung bakar dan rasanya enak banget,"

    "Kapan-kapan aku pengen dong nyobain jagung bakarnya,"

    "Boleh," kata Hendra. Dia melingkarkan lengannya di pundakku dan memangkas jarak di antara kami dengan brutal. Aku benar-benar menempel dengannya sekarang. "Tapi aku mau nanti, sudah ada kejelasan di antara kita saat kita ke sini lagi,"

    "Maksud kamu?"

    "Aku suka sama kamu Rian," katanya tanpa beban. Sekarang, aku tiba-tiba merasa seolah sedang mengangkat beban Atlas, entah kenapa. Rasanya ada yang mengganjal di hatiku. Padahal sebelumnya aku sangat mengharapkan moment ini. Ada apa denganku sebenarnya? "Aku mau kamu jadi pacar aku,"

    "Ta-tapi.. Ndra.. Ini,"

    "Terlalu cepat, aku tahu," potong Hendra, mendadak kelihatan galau. Dia menarik tangannya dari pundakku dan memandang ke kejauhan. "Tapi aku udah suka sama kamu sejak pertama kali ketemu kamu di kantin kemarin,"

    "Tapi ini konyol Ndra," kataku, berusaha mengumpulkan sisa-sisa akal sehatku yang berceceran di atas aspal. "Kita bahkan nyaris nggak saling kenal,"

    "Aku tahu, Yan," katanya lesu. "Aku cuma.. Aku cuma.. Berpikir kamu harus kuberitahu secepatnya sebelum orang lain mendahuluiku,"

    Aku menghela nafas lemah. Moment-moment menyenangkan telah berubah jadi abu dan makin abu lagi. "Maaf, aku nggak bisa nerima kamu saat ini,"

    "Kenapa?"

    "Kasih aku waktu. Maksudku, kita butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain dulu," aku menjelaskan sebisaku pada Hendra. Dia menatapku dengan tatapan memelas, yang membuatku tak tahan. "Aku tak bisa bilang ini yang terbaik, tapi aku tahu ini yang dibutuhkan oleh semua pasangan,"

    "Ya, sudahlah. Kalau itu maumu, aku menurut saja," kata Hendra, dengan sedikit senyuman. "Mungkin aku yang terlalu suka sama kamu, sampai jadi begini,"

    "Bego," kataku sambil tertawa. "Masih aja sempet gombal,"

    "Biarin, weee," Hendra menjulurkan lidahnya lalu ikut tertawa denganku. "Kali aja kamu berubah pikiran,"

    "Aku nggak bakal berubah pikiran secepat itu Hendra," kusentil ujung hidung mancungnya. "Nah, ayo! Kita lanjut aja jalan-jalannya,"
  • jeje00jeje00 ✭✭✭✭✭ Diamond
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
  • Aurora_69Aurora_69 ✭✭✭ Gold
Sign In or Register to comment.