BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Cowok Aneh Itu Pacarku

akina_kenjiakina_kenji ✭✭✭ Gold
edited January 2016 in BoyzStories
Hai..Guys.! mau coba nulis di sini juga nih...tapi harap maklum ya jika ceritanya berasa flat, karena masih baru nih dalam menulis cerita fiktif...sebelumnya pernah nyoba nulis sih di blog, tapi tentang kisahku sendiri. yah boleh di diary lah, tapi udah di tinggal blog-nya. dan karena sering baca cerita gay, aku jadi ke pengen nulis cerita juga....|sebenarnya cerita ini belum mau aku post karena sempat pesimis, dan karena ingat sekarang tanggal 1 awal tahun, jadi aku coba post aja sebagai pengingat bagiku kalau pertama kali ceritaku terbit di sini...ternyata bikin cerita fiktif itu susah juga daripada kisah kisah sendiri *jadi mikir keras*....|semoga banyak yang baca dan suka sama ceritaku yang sangat biasa-biasa ini. mohon bimbingannya dan komentar yang positif ya.

******

Part. 1


‘I hate Monday’

Itu adalah kata-kata keramat yang sering di ucapkan oleh banyak orang jika hari Senin datang, termasuk diriku. Ya, sekarang adalah hari Senin, hari di mana semua aktifitas di mulai lagi setelah menghabiskan waktu libur di hari Minggu. Aku segera memasukkan buku-buku yang aku butuhkan ke dalam tas ranselku, setelah semuanya selesai aku bergegas menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mengisi perutku dengan sarapan, jika tidak mamaku yang cantik itu akan mengomeliku kalau tidak menyentuh sarapanku. Sampai di meja makan aku sudah melihat kakakku, Hendra. Aku segera mendekatinya dan bermanja-manja duduk di sebelahnya, itulah kebiasaanku dari kecil kala kakakku sedang makan. Aku membuka mulutku dan bersiap menerima suapan darinya, satu sendok nasi goreng berhasil ku lahap dari suapannya, aku mengunyah dengan nikmat tanpa sedikitpun merasa bersalah.

“Andri, jangan ganggu kakakmu makan!” Seru Mama yang datang dari arah dapur sambil geleng-geleng kepala melihat aku yang selalu minta di suapi oleh kakakku.

“Ish, Mama nggak asik” dengusku lalu membalikan piring yang ada di depanku dan mengisinya dengan nasi goreng. Kak Hendra hanya tersenyum melihatku dan mengacak rambutku pelan. “Kak Inka dan Papa mana Ma?” Tanyaku setelah Mama duduk di depan kami ikut menyantap makanannya.

“Kak Inka sudah berangkat bareng Papa, mereka ada meeting pagi ini.” Aku hanya ber ‘ooo’ panjang setelah mendengar jawaban dari Mama dan segera menghabiskan sarapanku.

Seperti biasa sebelum berangkat, aku mencium tangan dan pipi Mama dengan lembut. Wanita yang sudah bertahun-tahun mengurus kami anak-anaknya ini membalas dengan mencium keningku. Mama tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggang kakakku yang mulai mengemudikan motornya dengan hati-hati.

“Daah Mama.” Wanita mulia itu masih ku lihat tersenyum saat aku melambaikan tanganku.
Saat melewati pintu gerbang Kak Hendra mulai mengendarai motornya dengan kecepatan ‘sedang’ katanya. Tapi aku tak pernah protes dengan kecepatannya membawa motor, karena aku merasa nyaman saat berada dalam boncengannya walaupun dengan kecepatan yang membuatku semakin mengeratkan pelukanku.

*

Ku serahkan helm yang ku pakai ke tangan Kak Hendra.

“Belajar yang rajin, jangan nakal.” Katanya seraya menyisir rambutku yang sedikit berantakan dengan jemari tangannya.

“Siap Boss.!” Aku memberikan hormat padanya layaknya seorang prajurit yang hormat kepada komandannya. Dia terkekeh lalu mengacak rambutku yang sudah di rapikannya tadi. “Aish Kak Hendra, berantakan lagi kan!” omelku, dia hanya tertawa pelan mendengar omelanku.

“Segitu aja manyun, jelek tau pagi-pagi udah manyun.” Katanya yang masih tertawa. Aku hanya mendengus pelan sambil menggembungkan pipiku. “Kakak pergi dulu,” katanya yang kemudian menghidupkan lagi motornya.
“Hati-hati!” aku mengingatkan dia, lalu berjalan menuju gerbang sekolah yang sudah mulai ramai di masuki oleh siswa-siswi berseragam putih abu-abu.

Baru saja aku memasuki kelas, aku sudah di kagetkan oleh Andre yang tiba-tiba merangkulku. Sahabatku yang satu ini memang seperti pocong muncul secara tiba-tiba. Kami berjalan berbarengan menuju tempat duduk kami, aku duduk di bangku urutan ketiga dekat dinding, dan Andre duduk di bangku urutan keempat tepat di belakangku. Sebenarnya aku duduk bareng Andre sebelumnya, tapi semenjak Tora muncul aku jadi terpisahkan dari Andre, huhuhu.

Tora adalah murid baru di kelasku, dia baru satu bulan sekolah di sini, dan karena saat itu Andre lagi nggak masuk akhirnya dia duduk di bangku sebelahku yang lagi kosong. Dia sangat aneh, saat aku memperkenalkan diri padanya dia hanya menatapku lama dan terus menatapku hingga pelajaran berakhir. Dia selalu memperhatikanku hingga membuatku risih. Saat aku tanya kenapa dia selalu melihatku dia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke depan. Dia juga tidak mau bicara padaku, juga pada teman-teman yang lain. Hari ini sepertinya dia belum datang karena aku tidak melihat tasnya, ah biarkan saja, lagian apa peduli ku coba dan akan sangat bagus jika dia tidak masuk.

“Sepertinya tetangga lu nggak masuk hari ini,” kata Andre ketika kami sudah mendudukkan pantat kami di kursi masing-masing.

“Bagus deh kalo dia nggak masuk,” kataku sedikit memiringkan dudukku menghadap meja Andre.

“Keliatannya dia suka lu deh,” ujarnya yang tiba-tiba membuatku kaget.

“Hah, dia suka gue? Ada-ada aja lu mikirnya, demi apa coba dia bisa suka sama gue,” kataku mengernyitkan keningku.

“Lu tentu tahu kan dia sering liatin lu mulu, dan gue sering mergokin dia yang selalu melihat lu. Saat di parkiran juga, gue liat dia merhatiin lu terus, bahkan kemaren saat Bang Hendra jemput lu, dia natap tajam ke arah kalian kayak orang marah gitu.” Jelasnya panjang lebar.

“Serius lu? Masa segitunya dia liatin gue. Ah, bodo ah, terserah dia mau suka sama gue atau nggak, peduli apa gue. Dia orangnya aneh, diajak ngomong nggak nyahut, saat gue marah ketika dia liatin gue, dia diam juga dan malah ngeloyor pergi entah kemana. Amit-amit dah jika dia jadi pacar gue, ck.” Aku bergidik ngeri membayangkan dirinya.

“Dan lu tentu ingat juga setiap gue dan yang lain ngerangkul lu, dia pasti akan memisahkan kita kan?” Andre mengingatkanku tentang kejadian yang pernah ku alami.

Ku ingat-ingat lagi beberapa kejadian yang aku alami karena dia. Saat Andre memeluk pinggangku, Tora akan menarik tanganku dan mendorong Andre agar menjauh dariku. Saat Sari, anak kelas sebelah menggandeng tanganku, dia juga memisahkan kami, berjalan di antara kami dengan alasan kami menghalangi jalan. Bahkan saat Kak Ridho ketua OSIS kami merangkul dan memegang pipiku dengan gemas, dia langsung melayangkan bogemnya ke Kak Ridho. Aku sempat marah saat dia menarik tanganku menjauhi Kak Ridho, aku menghentakkan tanganku yang di pegangnya dan menanyakan dia punya masalah apa denganku dan teman-temanku, tapi dia malah bilang “Aku tidak menyukainya.” Lalu berlalu pergi meninggalkanku dengan kebingunganku.

Teman-temanku, bahkan beberapa kakak kelas, termasuk Kak Ridho yang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri sering memperlakukanku seperti itu, mereka memelukku, merangkul, mencubit pipiku gemas, bahkan menggandengku kayak orang pacaran. Mereka bilang aku cute dan menggemaskan. Aku juga tidak pernah marah saat mereka memperlakukanku begitu, selama mereka senang dan tidak menganiaya aku, yah, aku woles aja hehehe. Tapi semenjak Tora ada di sekolah ini, dia sering bersikap seolah-olah aku ini miliknya yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun. Dan sialnya, aku tidak pernah bisa murka ataupun membencinya walaupun dia sudah bertindak keterlaluan seperti itu.

“Dan lu hanya diam melihat dia memperlakukan gue seperti itu! Ck.” Aku berdecak kesal ke arahnya.

“Ya gue maklumi aja, dia seperti itu karena cemburu.”

“Kenapa dia harus cemburu, gue bukan pacarnya.” Aku masih memasang wajah kesal.

“Tapi sebenarnya lu suka juga kan sama dia?” Goda Andre gaje sambil menaik-naikkan kedua alis matanya tanpa mempedulikan wajah kesalku, aku jadi sedikit salah tingkah mendengar pertanyaannya.

“What! Gue suka dia? Gue aja nggak kenal sama dia, gimana dia, masa gue suka sama dia.” Kataku sewot dan langsung membalikan badanku menghadap ke depan agar Andre tidak melihat wajahku yang saat ini pasti sudah memerah.

Sebenarnya aku sempat suka dengan Tora saat pertama kali dia berdiri di depan kelas memperkenalkan diri, tapi saat dia hanya diam dan tak mau berbicara denganku yang mencoba untuk akrab dengannya, aku memutuskan untuk tidak menyukainya lagi.

“Woles Bro! Kalau lu nggak suka dia, nggak usah sewot gitu. Atau lu beneran suka dia ya?” Andre tambah menggodaku lagi. Ngomongnya malah jadi ngelantur.

“ANDREE!!” Aku memukul-mukulkan bukuku ke bahunya, dia malah tertawa keras. Saat aku asyik memukul Andre tiba-tiba Tora datang berjalan mendekat, sontak aku menghentikan pukulanku. Andre yang mengetahui aku telah berhenti memukulnya langsung paham dan segera berbisik ke arahku.

“Pujaan hati lu datang tuh,” godanya lagi di belakangku.

“Kampret lu.!” Umpatku sambil memukul lagi bahunya dengan bukuku, sementara dia hanya cengengesan.

“Gue ke toilet bentar,” pamitnya, akupun mengangguk pelan.

Sialan nih anak aku di tinggal sendirian ck. Tora menatapku tajam, aku segera mengalihkan pandanganku darinya. ‘kenapa dia harus masuk sekolah sih, kenapa nggak libur aja’ kataku dalam hati. Dapat ku lihat dari sudut mataku dia sudah duduk di sebelahku. Tak lama bel masukpun berbunyi dan pelajaran segera di mulai saat Bu Dewi guru Fisika kami sudah masuk ke dalam kelas. Sesekali aku melihat ke arah pintu, tapi sosok Andre belum juga kelihatan, ‘kemana nih anak’ pikirku.

“Kamu liatin siapa?” Suara Tora tiba-tiba membuatku kaget.

“Hah,,eh,,oh, Andre dia belum masuk,” jawabku sedikit terbata. ‘mimpi apa aku semalam, tumben nih anak ngomong’ batinku, sambil tetap melihat ke arah pintu.

“Segitu pentingkah dia, hingga kamu memperhatikannya?” Tanyanya lagi dengan dingin.

“Hah! Emang kenapa jika aku memperhatikan dia.” Balasku sambil menatapnya heran dengan pertanyaannya barusan.

“Mulai sekarang jangan terlalu memperhatikannya lagi.” ujarnya dingin tanpa melihat ke arahku sedikitpun.

“Maksud kamu apa? Kenapa ka...”

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menghentikan ucapanku, ternyata Andre sudah berdiri di depan pintu.

“Maaf Bu saya terlambat, tadi saya ke toilet sebentar,” ucap Andre dengan sopan ke Bu Dewi.

“Oh, silahkan masuk,” kata Bu Dewi yang kembali fokus pada papan tulis di hadapannya. Untung guru Fisika kami ini sangat baik. Setelah mengucapkan terima kasih, Andrepun berjalan ke arah bangkunya yang ada di belakangku.

“Ngapain aja lu di toilet? Lama amat,” kataku sambil berbisik ke arah Andre.

“Habis dari toilet gue ke kantin bentar, lapar gue,” jawabnya yang juga berbisik ke arahku.

“Bisakah kalian diam?” Ucapan dan tatapan Tora menghentikanku yang ingin bicara lagi kepada Andre. Aku menatapnya sebentar lalu fokus menatap papan tulis dan menyalin catatan yang diberikan Bu Dewi.

Oh ya sedikit informasi, Tora ini mirip dengan Robert Pattinson *itu kata teman-temanku* tapi aku juga setuju sih dengan mereka walaupun aku tidak mengidolakan Robert Pattinson, eh. Di tambah kulitnya yang juga putih pucat, aku jadi membayangkan Edward Cullen si vampir yang di perankan oleh Robert Pattinson tersebut. Nah seperti itulah Tora. Bagi kalian yang mengidolakan Robert Pattinson yang pucat itu pasti akan melting jika berhadapan dengan Tora, seperti saat pertama kali dia memperkenalkan diri di depan kelas, para siswi langsung berbisik-bisik membicarakan dia dan bilang kalau dia mirip dengan si vampir itu. Ada juga loh siswa dan siswi yang mengatakan kalau dia itu aneh kerena tidak mau bicara dengan orang lain, dan aku sebagai teman sebangkunya setuju dengan pendapat ini. Namun banyak juga yang suka dia, entah apa yang mereka sukai dari si Robert Pattinson KW itu, aku tidak tahu. Oke, oke, dia cakep, tapi....ah mungkin dia punya sesuatu yang menarik, makanya tuh cewek-cewek pada suka sama dia. Oh iya, aku juga pernah suka sama dia saat pertama dia masuk, ckckck. -_-

*

Sepulang sekolah aku, Andre, Doni, Resti, dan Reno memutuskan main dulu ke mall, itung-itung cuci mata. Kami naik menuju ke arena permainan yang terletak di lantai atas, main sepuasnya ngilangin stress. Langsung saja kami bermain Pump It Up karena terlihat kosong. Saat kami asik bermain secara bergantian, banyak pengunjung yang mengelilingi kami, mereka bersorak, bertepuk tangan saat melihat aksi Andre dan Doni yang begitu mahir dalam permainan tersebut. Setelah puas kami beralih ke permainan balap. Di sini Reno paling jagonya, sementara aku dan Resti hanya menjadi penyemangat mereka bertiga. Sesekali aku tertawa melihat tingkah Doni yang sering mengumpat karena selalu tertabrak.

Puas dengan beberapa permainan kami memutuskan untuk mencari makan. Andre merangkulku dengan cuek, walaupun aku sudah sering protes tapi dia tetap melakukannya.

“Sayang kamu laper nggak? Aku udah laper nih,” tanya Andre saat kami sudah berada di luar arena permainan.

“Restiii..!” aku menjitak kepala Andre dan memanggil Resti yang berada di sebelah Reno. Tanda mengerti Resti langsung menarik tangan Andre agar mendekat ke arahnya.

“Yaahh, Yang, kok aku di tarik-tarik sih?” Andre mencoba protes saat Resti memegang erat lengannya.

“Lu resek kalo lagi laper.” Sontak kami bertiga tertawa mendengar kata-kata Resti yang menirukan sebuah iklan di tv.

Kami memilih restoran Jepang Sushi Bar, karena Resti lagi ke pengen makan Sushi katanya. Setiap kami hangout yang memutuskan di mana kami akan makan selalu Resti, karena dia perempuan satu-satunya jadi kami selalu membiarkan dia yang memilih tempat untuk makan. Saat kami tengah asyik bercanda, aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku begitu intens, ketika aku menoleh padanya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Saat aku berhasil menangkap basah dia yang selalu memperhatikanku, dia tersenyum. Senyum yang tak bisa aku artikan seperti apa. Aku tidak membalas senyumnya, segera beralih ke teman-temanku dan pesananku yang baru saja di letakkan oleh seorang waiter di hadapanku. Kami makan sambil bercengkrama saling membahas tentang gebetan masing-masing. Reno yang lagi galau karena sampai saat ini masih belum berani mendekati Tiara, cewek yang kelasnya sebelahan dengan kelas kami. Kami memberikan semangat kepadanya agar berani mengungkapkan perasaannya kepada gadis tersebut, yang kami yakini dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Reno. Kenapa kami sangat yakin? Karena kami sering melihat Tiara memperhatikan Reno main basket.

Dan Doni, dia lagi bahagia karena baru jadian dengan salah seorang teman lesnya, dia sangat antusias menceritakan kepada kami kalau pacarnya itu sangat perhatian padanya dan tahu apapun tentang Doni. Ah manusia kalo lagi berbunga-bunga akan selalu bersemangat menceritakan gebetannya. Sementara Andre dan Resti, mereka asyik saling suap-suapan sambil mendengarkan cerita Doni. Lalu aku? Tidak ada cerita dariku karena aku lagi jomblo, sama dengan Reno, bedanya saat ini Reno punya gebetan yang ingin dia dekati, sedangkan aku tidak ada. Yah, pasca putus dari mantanku lima bulan yang lalu, hingga saat ini aku malas mencari pacar lagi. Mereka sering menjodohkan aku dengan beberapa cowok kenalan mereka yang sama sepertiku, tapi aku selalu menolak.

Saat kami berjalan hendak keluar, tiba-tiba Doni berhenti di depan meja cowok yang dari tadi memperhatikanku, ternyata dulu mereka satu SMP. Tadi Doni memang tidak melihat cowok itu, karena dia duduk membelakangi cowok tersebut. Setalah Doni memperkenalkan kami kepada temannya itu dan berbasa-basi sebentar, kamipun pamit dan berlalu dari mejanya.

**

Aku sedang asyik membaca komik kesukaanku detektif conan, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan saat melihat ke arah sosok yang berdiri di depan pintu seketika membuatku kaget, bagaimana dia bisa tahu rumahku dan membuka pintu kamarku tanpa mengetuk pintu. Kekagetanku belum hilang saat dia tersenyum dengan manisnya kepadaku, wajah pucat yang tak pernah tersenyum itu sekarang memperlihatkan senyumnya yang...ah senyumannya sangat menawan. Dia tidak seperti vampir lagi sekarang. Andai saja dia selalu tersenyum seperti itu, aku tak akan pernah bosan melihatnya. Tapi tunggu dulu, apa tujuannya datang ke sini? Ada apa dengan senyumannya itu?.

“T..Tora, dari mana kamu tahu rumahku? Dan ada apa kamu datang kesini?” dengan sedikit gugup, kaget dan entah apalah namanya, aku bertanya kepada sosok yang masih berdiri di sana.

“Boleh aku masuk?” dia bertanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Aku mengangguk perlahan tanda mengizinkannya masuk. Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidurku.

“Sekarang beritahu aku kenapa kamu bisa datang ke rumahku?”

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Bicara tentang apa?”

“Perasaanku.”

“Perasaan?” aku heran dengan sikapnya yang tiba-tiba datang ke rumahku dan ingin bicara tentang perasaannya padaku. Perasaan apa itu.

“Aku...aku suka kamu, maukah kamu jadi pacarku?” aku terpana mendengar pernyataannya yang baru saja ku dengar. Dia menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lembut. “Kamu mau kan?” lanjutnya yang meminta jawaban atas pernyataannya barusan.

“Iya, aku mau.” Tanpa ragu aku memberikan jawaban yang pasti padanya. Sekali lagi aku melihat senyum itu, senyum yang membuatku terpana. Saat ini aku sudah berada dalam pelukannya. Nyaman. Itu yang ku rasakan. Aku membalas pelukannya dan membenamkan kepalaku di dadanya. Setelah dia melepaskan pelukannya, aku merasakan benda lembut mendarat di keningku. Ku pejamkan mataku merasakan kecupan yang di berikannya padaku. Saat aku membuka mata, aku sudah terbaring di kasurku dengan dia yang berada di atas tubuhku dan menatapku dengan tatapan yang lembut. Perlahan dia menundukan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan lagi pada kening, hidung dan terakhir di bibirku. Manis. Itu yang kurasakan saat bibir kami bersatu. Aku membalas dan mencoba mengimbangi ciumannya yang sudah mulai dalam dan...

Tok! Tok! Tok!

Klekk..

“Andri, mana.....”

Aku kaget mendengar suara pintu di buka dan melihat Kak Hendra yang berdiri di ambang pintu kamarku. Dia mengernyitkan keningnya melihat aku yang spontan langsung duduk melihat kehadirannya.

“Kak Hendra!?”

“Ngapain kamu meluk dan cium-cium guling seperti itu?” dia masih berdiri di tempatnya dengan kening yang masih berkerut. Aku menoleh ke sekitarku, namun aku tidak menemukan sosok itu. Sosok yang baru saja menyatakan cintanya padaku dan menciumku penuh cinta. Kemana dia, kenapa dia tiba-tiba hilang? Apa tadi itu cuma mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata. Aku mengarahkan pandanganku ke Kak Hendra yang masih berada di ambang pintu, namun mendadak dia tersenyum dan berjalan mendekatiku, membuatku jadi salah tingkah.

“Kamu lagi mimpi jorok ya?” tanyanya yang sudah duduk di tempat tidurku dengan senyum menggoda.

“Apaan sih Kak, aku nggak mimpi aneh kok.” Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya, rasanya wajahku sudah memerah sekarang.

“Bohong, pasti lagi mimpi jorok, ayo ngaku aja.” Dia masih saja menggodaku.

“Ishh Kak Hendra usil, aku nggak mimpi jorok Kak!” aku memasang wajah kesal padanya, tapi dia malah tertawa, ughh.

“Kalo nggak mimpi jorok ngapain kamu peluk-peluk dan cium-cium guling seperti itu.” Kali ini dia semakin menggodaku, pake colek-colek daguku lagi, ish.

“Udah ah, mau apa Kakak ke kamarku?”

“O iya, mana topi Kakak yang kamu pake kemaren?”

“Tuh di atas meja.” Aku menunjuk meja belajarku dan langsung mengusirnya keluar dari kamarku.

Ku baringkan lagi tubuhku dan mengingat lagi mimpiku barusan, rasanya seperti nyata. Ah, kenapa aku bisa memimpikan dia, dan ciumannya terasa begitu lembut dan penuh cinta. Aku menyentuh bibirku, kembali membayangkan kejadian di dalam mimpiku. Membayangkan dia yang tersenyum padaku bersama tatapannya yang sayu, seandainya dia selalu tersenyum mungkin aku akan selalu merasa nyaman duduk di sampingnya dan menghilangkan sebutan ‘aneh’ yang ku berikan padanya.

If you are going to be bad...Invite Me!
«13456767

Komentar

«13456767
Sign In or Register to comment.