BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

The First Greets

Halo teman-teman semua. Summersnow hadir kembali setelah vakum cukup lama. hoho. Ini cerita baru saya yang bisa dibilang kelanjutan berupa prequel dari When Holiday Greets yg dapet respon cukup positif dari kawan semua. Cerita ini sebenarnya sudah direncakanan sejak lama, bahkan sebelum WHG tamat. Cuma waktu itu konsep ceritanya masih klise dan kurang bagus. Akhirnya, setelah dapat konsep cerita yang pas, saya garap cerita ini. Intinya cerita tentang Ibel saat SMA. Sebenarnya saya agak tergelitik karena 'seseorang di masa SMA' Ibel sempat disentil beberapa kali di cerita WHG, cuma anehnya gak ada yang sadar dan gak ada yang nanya apa yang sebenarnya terjadi di masa SMA Ibel. Well, enjoy the story!:)
«1

Komentar

  • inutileinutile ✭ Bronze
    Chapter 1 #Consider

    “Good Morning, My Holiday.”

    Aku merasakan ada sesuatu bergerak lembut di bibirku lalu berpindah ke pipiku. Sebuah salam pagi berbentuk ciuman yang selalu kudapatkan darinya setiap hari. Setidaknya setiap aku tidur di kamarnya, karena kadang kala ada saja rasa bosan sehingga ingin tidur sendiri, di kamarku sendiri.

    Mataku masih agak ngantuk untuk terbuka tapi kupaksakan. Kulihat pangeranku menatapku dengan lembut dan tersenyum. Entah bagaimana, setelah tiga tahun bersama, senyuman itu tetap saja membuat hatiku bergetar hebat. Menyalurkan energi positif yang membuat aku semangat setiap harinya. Membuatku merasa bahagia setiap harinya. Aku pun tersenyum menatapnya.

    Kami terus bertatapan dan saling senyum sampai dua menit lebih. Dia sama sekali tidak berkata apa-apa sementara aku semakin lama semakin merasa aneh. Ya, tingkahnya ini sudah termasuk aneh. Kami tidak pernah saling tatap dan senyum seperti pasangan gila sampai selama ini. Dari yang sudah-sudah, kalau dia bertingkah seperti ini pasti ada yang dia mau dariku.

    “I won’t go,” tukasku sambil menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Kuakhiri aksi saling tatap kami dan duduk di kasur menghadap ke jendela kamar apartemen, memunggunginya. Di luar sudah lumayan terang sehingga aku berasumsi sekarang sudah lewat dari jam 7 pagi. Dia benar-benar sedang ingin merayuku, karena sampai jam segini sama sekali belum siap-siap untuk ke kantor.

    Aku menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu kiriku. Dapat kudengar dengan jelas suara hembusan nafas dari hidungnya. Pelukannya cukup erat, dia melingkarkan tangannya di dadaku sehingga aku dan dia sama-sama bisa merasakan detak jantung masing-masing. Kurasakan irama detak jantungnya seirama dengan hembusan nafasnya. Oke, tingkahnya makin aneh. Tapi keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin pergi.

    “Please, Bel,” bisiknya lembut di telinga kiriku, lalu tanpa diminta mencium pipiku sekali. Aku menggeleng pelan sebagai jawabannya, dan dia malah memelukku makin erat. Ah kalo makin erat kan aku juga yang keenakan, Vin.

    Akhirnya aku menghela nafas cukup panjang. Kuraih lengannya yang melingkari dadaku dan mengelusnya perlahan. Aku tahu dia tersenyum sekarang karena rasa nyaman dalam pelukan ini yang sama-sama kami bagi satu sama lain. Dan saat dia sudah merasa cukup nyaman, dengan nakal langsung kucubit lengan kanannya dan begitu saja pelukannya lepas. Aku langsung berdiri lalu berbalik menghadapnya yang sedang duduk di kasur, memegangi lengannya yang baru saja kucubit.

    “Awak jahat!” rengeknya, bibirnya membusur terbalik. Ah, ini mah pura-pura sedih. Aku sudah tahu semua gayanya, tahu mana yang betulan mana yang pura-pura. Dan kali ini hanya pura-pura, supaya hatiku luluh dan mau ikut pergi dengannya. Perjalanan bisnisnya.

    Aku melewek lalu berjalan meninggalkan kamarnya sambil berkacak pinggang. Aku yang berkuasa pagi ini. Aku melewati pintu kamarnya tanpa menoleh sedikitpun. Dan seperti yang sudah kuduga dia mengikutiku dari belakang seperti anak kecil yang sedang ingin kemauannya dituruti oleh orang tuanya.

    “Ayolah, Bel. Demi saya nih,” pintanya. Meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, masih saja logat melayunya tidak hilang. Ah aku juga tidak ingin hal itu hilang. Logatnya itu yang membuatku makin suka dengannya. Gak ngebosenin.

    Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke dapur untuk membuat teh.

    “Saya nak kopi, Bel,” teriaknya yang ternyata sudah duduk manis di meja makan. Kurang ajar, lagi ngerajuk malah nyuruh-nyuruh. Dasar! Tapi ya apa mau dikata, demi ‘suami’ tercinta akhirnya kubuatkan juga. Sambil menunggu aku menyiapkan kopinya, dia menyalakan TV seolah lupa kalau sedang merayuku untuk ikut pergi dengannya.

    “Nih kopinya,” kataku sambil duduk di kursi sebelahnya. Dia meraih cangkir kopi hangatnya sambil tersenyum manis yang menurutku seperti dipaksakan.

    Entah kenapa dia sepertinya lupa dengan apa yang dia inginkan dariku. Beberapa detik dia terhenyak dalam tayangan televisi, lalu ketika aku mulai ikutan menonton, jleb, TV dia matikan. Aku memandangnya dengan penuh tanda tanya. Oh, sepertinya dia ingat lagi sekarang.

    “Awak ingat waktu saya pergi ke Australia sepekan dan awak tak ikut, saya jadi demam disana. Panas tinggi,” matanya membelalak, menatapku serius, tapi aku menilainya agak hiperbola, seolah-olah sakit demam itu adalah kanker stadium akhir. Aku mendengarkan saja karena aku tahu kalimat hiperboliknya masih belum selesai. “Sepekan tak jumpa awak je, saya dah sakit. Apalagi ini, dua pekan bakal tak bersua awak. Bisa stroke mungkin badan ni.”

    Aku langsung memukul tangannya pelan. Apa-apaan sih ngomong sampai begitu, nyumpahin diri sendiri. Dia tidak bereaksi atas kelakuanku. “Jangan ngomong gitu ah. Ngeri tau ngebayanginnya!” omelku.

    Dia nyengir yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh. “Makanya, ikut lah Bel ke KL. Biar saya ada kawan disana. Terutama tiap malam, hehe.” Dan kali ini dia menyeringai bodoh.

    Segera kuambil sehelai tisu makan di meja dan melempar ke arah mukanya. Dia malah tertawa sendiri. Bodoh. Ini orang serius gak sih ngerayu biar ikut? Sebenarnya aku mau saja ikut, tapi ini bukan perjalanan wisata. Dia akan pergi ke Kuala Lumpur untuk urusan pekerjaan. Perjalanan dinas. Itu artinya, ketika jam kerja aku bakal sendirian menunggu dia di hotel atau pilihan lainnya yaitu jalan-jalan sendiri di kota yang sama sekali tidak kukenali.

    Aku bukannya tidak pernah ikut dengannya dalam perjalanan bisnis. Setahun yang lalu ketika aku baru saja lulus kuliah, dia mengajakku ke Bangkok. Aku nurut saja karena aku belum ada tanggung jawab apa-apa setelah lulus. Dan karena dia melakukan perjalanan dinas, aku hanya menunggunya pulang di hotel karena tidak berani keliling kota Bangkok sendirian. Hari pertama dan kedua sih baik-baik saja, tapi hari selanjutnya aku jadi bosan. Apalagi dia seringnya pulang lewat jam 9 malam, saat aku sudah ingin tidur. Untungnya hanya seminggu. Karena trauma dengan kejadian di Bangkok itulah aku tidak mau diajak ikut olehnya ke Australia beberapa bulan lalu, meskipun ini hanya seminggu.

    Lah ini ke Kuala Lumpur selama dua minggu? Mau jadi apa aku disana?

    Perkara lainnya, sekarang aku sudah membuka usaha toko baju distro sendiri di salah satu mal di kawasan Kelapa Gading. Aku sudah punya tanggung jawab. Jadi daripada aku ikut dengannya dan hanya ngendok di hotel selama dua minggu, mending aku ngurusin tokoku yang masih tahap merintis itu. Itulah kenapa aku keukeuh tidak mau ikut dia ke KL.

    “No, I also have a business to do here,” tukasku. Sengaja menggunakan bahasa inggris sebagai tanda bahwa aku sudah sangat serius tentang hal ini. Dulu kami punya semacam perjanjian, bila kalimat salah satu dari kami sulit dipahami, kami akan menggunakan bahasa inggris. Dan aku seringkali memanfaatkan hal itu untuk memberi penegasan karena kuanggap dia tidak paham maksudku ketika aku mengatakannya dalam bahasa Indonesia.

    Dia langsung manyun, memajukan bibirnya seperti anak kecil. Dia menatapku dengan mata yang dibesar-besarkan supaya terlihat seperti anak kecil yang sedang memelas. Ah bodo amat. Udah bulet keputusanku untuk tidak ikut.

    Dengan cuek kuambil remote yang berada di dekat tangannya dan menyalakan televisi. Kufokuskan mataku menatap TV meskipun di sudut pandanganku aku tahu dia masih menatapku dengan tatapan memelas tadi. Kalau dipikir-pikir dia memang makin imut dengan tatapan begitu. Tapi kini aku sudah kebal dengan tatapan itu. Dulu memang langsung luluh, tapi sekarang seiring bertambahnya tingkat kedewasaan, duilee, aku tahu kapan harus luluh kapan tidak.

    “Kamu gak ngantor?” tanyaku membuka topik pembicaraan lainnya.

    “Tak nak,” cetusnya dengan nada kesal seperti anak kecil. Haha dia ngambek betulan. Bibirnya masih manyun ketika aku melirik ke arahnya. Aku terkikik sendiri melihat raut mukanya yang ngambek seperti itu.

    “Kenapa?”

    “Tak ada selera ke kantor lah. Bisa cuti pula saya hari ini. Bisa alasan siap-siap besok nak bertolak ke KL,” jawabnya tanpa sedikitpun menatapku. Matanya menatap lurus ke televisi yang sedang menayangkan iklan.

    “Mau dimandiin?” aku bertanya dengan nada nakal. Godaanku sukses membuat raut wajahnya berubah seketika. Matanya langsung memandangku seolah bertanya apa aku serius bertanya seperti itu. Aku menaik-turunkan kedua alisku berkali-kali dan mengedip nakal padanya. Ya, aku serius. Begitulah kira-kira isyarat yang kuberikan.

    Dia tidak bersuara tapi mengangguk cepat kegirangan. Ah strategi ini bukan hal yang baru tapi selalu berhasil memenangkan hatinya ketika dia ngambek bohongan. Kalau ngambek yang betulan sih beda lagi cara hadapinnya. Senyum langsung merekah dibibirnya. Dia mengangkat kedua tangannya keatas, isyarat bahwa dia minta dibukakan bajunya dulu. Ah kalau dia lagi manja begini makin gemes. Hatiku selalu berdesir hebat dibuatnya. Adrenalin seperti melesat dengan cepat ke seluruh tubuh membuatku semakin bergairah.

    Sesaat aku dan dia bisa melupakan topik yang menjadi perdebatan kami pagi ini, yang sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa hari. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke belakang kursinya. Kuraih ujung bawah kaos yang dia kenakan dan menariknya ke atas, membuka bajunya seperti membuka baju anak kecil yang selalu bersemangat kalau diajak mandi. Aku suka melakukan ini. Merawatnya membuatku merasa lebih berarti. Ini salah satu caraku untuk mempertahankan cinta yang telah kami jalin bertahun-tahun.

    Setelah kaosnya dibuka, kutarik dia untuk ke kamar mandi. Cara jalannya sengaja dibuat-buat seperti anak kecil, sedikit melompat kegirangan. Aku tertawa melihat tingkahnya. Dia selalu mempunyai cara untuk membuatku tersenyum dan tertawa. Sesampainya di kamar mandi, aku turut melepaskan semua pakaianku lalu membawanya ke bawah pancuran air.

    Keran air kubuka, tetesan air kecil-kecil menyirami tubuhnya yang sengaja pasrah tidak melakukan apa-apa, seperti anak kecil yang sedang dimandikan. Hanya berdiri menghadapku, menatapiku dengan penuh rasa sayang. Kadang aku merasa tidak enak dipandangi seperti itu olehnya. Seringkali jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya ketika dia melakukannya. Hatiku berdesir hebat, seperti saat ini. Tatapannya yang tajam dan tegas itu, selalu berhasil menerobos masuk lewat mata turun ke hati. Sehingga aku hanya sanggup curi-curi pandang ke matanya.

    “Bel,” panggilnya lembut saat aku mulai menyabuni tubuhnya.

    “Hmm?”

    “Please consider it again,” pintanya.

    Aku menghentikan pekerjaanku. Kutatap matanya yang dari tadi tidak lepas memandangiku. Aku tersenyum padanya, senyuman tanpa makna. Lalu perlahan kumajukan wajahku dan mencium bibirnya dengan lembut. Saat ini, aku tidak bisa memberikan jawaban tidak, tapi aku juga tidak bisa mengiyakan. Hanya ini yang bisa kuberikan. Ciuman penuh cintaku, karena apapun keputusanku aku tidak ingin sedikitpun membuatnya kecewa.

    ***
  • inutileinutile ✭ Bronze
    anyone who want to be mentioned, please write in ur comment. Thx :)
  • TsunamiTsunami ✭✭✭✭✭ Diamond
    Wahhh penulis fav gw muncul lg, setelah seribu taun bertapa .....
  • TsunamiTsunami ✭✭✭✭✭ Diamond
    as usual crt dr bro inutile selalu berkesan hidup ...
  • andi_andeeandi_andee ✭✭✭✭✭ Diamond
    Jangan lupa mention ya kak
    TAK ADA YANG ABADI
  • 3ll03ll0 ✭✭✭ Gold
    ada kelanjutannya nih.

    harus baca dulu cerita sebelumnya udah lupa soalnya.

    mention ya.
  • YirlyYirly ✭ Bronze
    kakoi, trnyata ad lnjutan ny, sya suka crita kmu bro, haha
    Mention me klo update y
  • Revel_ASRevel_AS ✭ Bronze
    keren.
    mention donk
  • CycloneCyclone ✭ Bronze
    pernah baca dulu waktu jadi silent reader, bagus kak tulisannya,suka :)
  • semangt buat authornya...
    bgus cerita nya
  • lulu_75lulu_75 ✭✭✭✭✭ Diamond
    ini lanjutan ... ? belum baca nih ... tapi menarik ceritanya ...
  • AgovaAgova ✭✭ Silver
    Lnjt,ti2p mention
  • o_komoo_komo ✭ Bronze
    Asiiikk... ada lanjutannya rupanya. Titip mention, ya?
  • Adi_Suseno10Adi_Suseno10 ✭✭ Silver
    Yey anjay saya titip mention❤❤❤
«1
Sign In or Register to comment.