BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

oh akhirnya aq trnyata juga terindikasi gay... kisah dr forum sebelah

“ Ya Ampun buuuk, putranya imut banget
ya, putih, kayak cewek”
Kalimat itu masih terngiang di telingaku, 27
tahun yang lalu, mungkin saat itu aku masih
duduk di kelas TK. Saat ibuku membawaku
pergi kesebuah pesta pernikahan.
Kalimat-kalimat kagum (baca; melecehkan)
dari mulut para tetangga disekiling rumahku
seperti kalimat diatas, tidak sekali dua kali
aku dengar, tetapi sangat sering. Saking
seringnya hingga suatu saat ketika aku
sudah menginjak kelas 2 SD, teman-teman
disekolahpun selalu mengejekku, kalau aku
seperti banci.
Masih teringat pulak, aku mengarang cerita,
saat teman-temanku bertanya kenapa aku
seperti cewek ?
Aku beralasan, kalau sebenarnya dulu ibuku
pingin punya anak perempuan, eh ternyata
yang lahir anak laki-laki. Tepatnya laki-laki
tidak normal.
Semakin dewasa, saat pertama kali aku
mimpi basah. Saat pertama kali aku
membayangkan berhubungan badan
dengan seseorang. Layaknya anak baru
baligh melakukan masturbasi/onani,
anehnya aku tidak membayangkan tubuh
seorang perempuan, tetapi aku
membayangkan tubuh seorang laki-laki.
Saat itu aku begitu mengagumi ketua
kelasku sendiri, sebut saja namanya Ma’ruf
Wahyudi. Cowok paling ganteng di SMP saat
itu.
Aku masih belum paham dengan keadaan
perasaaku saat itu. Ketika usiaku sudah
menjelang 17 tahun, aku baru menyadari
bahwa ada yang berbeda dalam diriku,
tepatnya perasaanku.
Saat aku melihat semua teman laki-lakiku
sudah pandai berpacaran dengan teman-
teman perempuannya.
Saat aku sadari mereka bahkan ada yang
sudah melakukan hubungan badan diluar
nikah dengan pacarnya, hingga akhirnya
dinikahkan saat usia muda.
Saat aku sadari hanya aku yang berbeda,
dan hanya aku yang tertarik dengan sesama
lelaki.
Saat itu aku meronta, berontak, menangis.
Bahkan terlintas ingin bunuh diri.
Ya 13 tahun silam, saat usiaku genap 18
tahun aku jatuh cinta. Jatuh cinta dengan
seorang lelaki. Lelaki sejati. Hatiku terasa
sangat sesak. Berupaya aku menahan diri,
tetapi semakin hari semakin menjadi.
Hingga akhirnya aku membuat pengakuan
dengannya. Sebut saja namanya Bayu.
Semenjak pengakuan itu, bayu mulai
menjauhi kehidupanku. Tetapi entah karena
kasihan atau bagaimana akhirnya bayu
suatu saat menemuiku. Berbicara lebih dari
satu kata. Bercanda lebih dari biasanya.
Aku berpikir dia telah berubah pikiran.
Bahwa dia akan menerimaku. Menerimaku
sebagai pacar tepatnya. Aku begitu sangat
berharap. Hingga aku lupa dan akhirnya aku
merasa sangat dekat dengannya.
Hingga satu saat aku beranikan diri untuk
menyentuh tubuhnya. Bayu terhenyak,
marah tiada tara. Aku ditampar.
“ Aku mendekatimu, karna menganggapmu
sebagai sahabat, karena aku tau kamu
membutuhkan aku, membutuhkan penguat
jiwamu. Tetapi bukan untuk menjadi
pelampiasan nafsumu “. Bayu mendorongku
keras. Aku ditinggalkan dalam kepedihan.
Kami berpisah, lama, lama sekali. Hingga
suatu ketika, aku dipondokan.
Pikiranku gelisah, manakala suatu saat sang
ustads mengkajikan dalil mengenai kaum
nabi luth. Hatiku pedih, hatiku perih, sakit
tak terkira.
Sore itu, saat semua santri bersantai-santai
dibawah pohon, di samping gedung putra.
Aku menyapukan pandanganku
kesembarang tempat. Beberapa saat
kemudian aku melihat sosok laki-laki yang
sepertinya tidak asing. Ia mengenakan kaos
bola juventus. Ya aku kenal laki-laki itu.
Dadaku berdetak. Bercampur dengan segala
macam perasaan. Aku memberanikan diri
untuk mendekatinya.
Ia sama sekali tidak menyadari kalau aku
sudah berada di sampingnya, tepatnya
dibelakang pundaknya. Ku beranikan diri
untuk menyapanya.
“ Bay ...”
Ia menoleh, menatapku kaget. Ingin rasanya
aku peluk dan aku cium dia saat itu, tetapi
aku berupaya sekuat tenaga untuk tidak
meneteskan air mata. Bayu menyalamiku
lembut. Dia bahkan tidak marah dan
menyuruhku duduk disampingnya. Ia
berbasa-basi terlebih dahulu, layaknya
setiap orang pertama kali bertemu setelah
sekian lama terpisah. Kami bicara lebih dari
satu menit. Berlanjut hingga dua menit.
Semenjak pertemuan itu, kami menjadi
sering bertemu. Baik dalam saat pengajian,
atau saat istirahat sekolah. Kami bahkan
sering bermain bersama. Makan bersama.
Dan bercerita tentang suka duka tinggal di
pondok. Ia bahkan tidak pernah
membicarkan kekesalannya lagi. Ia bahkan
telah melupakan kejadian memalukan itu.–
Sign In or Register to comment.