BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

°•¤ THE STARS ¤•°

tamagokilltamagokill ✭✭ Silver
edited March 2015 in BoyzStories
°•¤ The Stars (Act 01) ¤•°





"Maaf ya Bu... Nanti saya ganti deh gelas dan piringnya. Sekarang saya lagi gak bawa duit banyak" ucapku memelas pada Bu Riyah, ibu Kantin di sekolahku.

"Ya gak papa. Lain kali hati-hati" katanya sambil tersenyum ramah.

Beruntung yang jadi ibu kantin di sekolahku itu Bu Riyah. Aku tidak berani membayangkan kalau yang menjadi ibu kantin di sekolahku adalah Mamaku. Kalau aku memecahkan satu buah piring, pasti aku disuruh mengganti selusin piring! Dan uang jajan bulananku dipotong 50%. Sedangkan tadi aku memecahkan lebih dari satu buah piring.

Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku meremang. ("__)

Memang aneh sekali. Hari ini Jakarta hujan lebat. Tapi sedari tadi aku terus saja berkeringat dan terus saja merasa resah. Masih untung aku bisa berkonsentrasi mengerjakan soal ujianku sampai hari terakhir. Yap! Hari ini hari terakhir aku ujian. Dan rencananya aku akan berangkat ke Bali.

Mungkin aku merasa resah karena sampai hari ini aku tidak bisa menjenguk Bang Toya. Kata bli Syaka, bang Toya sedang di opname akibat kecelakaan lalu lintas saat sedang berboncengan dengan bang Zaki.

Entah sejak kapan aku mendadak menjadi akrab dengan bli Syaka. Mungkin karena dia orang yang ramah dan selalu mau menemaniku jalan-jalan tiap kali aku datang ke rumah bang Toya.

Ahhh... Aku jadi semakin kangen dengan bang Toya. Gara-gara permintaannya beberapa waktu lalu, kami jadi jarang berkomunikasi lagi.

Bukan salah dia juga. Aku masih marah karena permintaannya yang kuanggap egois itu. Masa dia bisa punya pacar sekece bang Zaki, lalu aku disuruh berhenti jadi gay? Mana mungkin bisa? Padahal waktu aku coming out, dialah orang pertama yang memberiku support. Aku jadi kesal dan tidak membalas semua pesan yang dia kirim melalui semua messengerku. Termasuk emailnya tempo hari sebelum peristiwa kecelakaan itu.

Ahh... Perutku rasanya penuh. Meskipun aku tidak makan banyak tadi. Akibat aku memecahkan piring, sampai tiga piring dan dua gelas yang kupakai tadi. Handphone didalam saku celanaku bergetar. Kurogoh dan kulihat kelayar handphoneku.

Tiki.

Baru saja aku akan menerima panggilan telepon darinya, dia sudah memutus panggilannya.

"TAKA!!"

Aku terperanjat dan menoleh kebelakang. Disitu berdiri Tiki dan bang Bayu.

Ngapain mereka kemari? Tanyaku dalam hati. Tuh kan! Kami jadi pusat perhatian. Cuma Zulfikar yang tau kalau kami kembar identik. Jadilah sekarang aku mendadak menjadi medan magnet dilorong sekolahku. Hehehe...!

BUGH!!!

Aku jatuh tersungkur akibat dihantam Tiki. Sial! Tepat diwajahku pula!

"KENAPA ELO GAK MAU TERIMA TELPON GUE?! DASAR BEGO!! TOLOL!"

Ia memakiku didepan banyak orang. Baru saja aku akan membalas meninju wajahnya, aksiku terhenti akibat melihat Tiki menangis.

Heh? Ada apa nih? Aku jadi bingung sendiri.

"Ki... Elo kenapa?" tanyaku bingung lalu membalas pelukannya.

Tiki memelukku erat dan hanya menyebut nama bang Toya berulang kali.

"Taka... Tiki... Kalian ngapain?"

Aku memandang Zulfikar yang datang dari koridor disebelah bang Bayu. Wajahnya masih saja bersemu tiap kali melihat bang Bayu. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka bertatap muka. Waktu dirumah bang Toya aja, mereka sering kali berbincang seru masalah pertandingan sepak bola.

"Kalian semua... Ikut gue!" bang Bayu memberi aba-aba agar kami mengikutinya. Aku dan Zulfikar merangkul Tiki lalu mengikuti bang Bayu. Saat kami tiba di depan ruang kepala sekolah, aku melihat Tika disana sedang menangis dalam pelukan Mamaku.

Ada apa nih? Kenapa semuanya...?

Tunggu dulu!

Bang Toya! Pasti ada kaitannya dengan dia!

"Ki... Ada apa sama bang Toya...?" tanyaku lirih. Tiki kembali menangis dan memelukku erat. "Ki... Jangan bilang kalo keadaan bang Toya makin parah..."


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


Aku terkejut saat melihat bang Zaki mendadak jatuh terduduk disebelahku.

"Toya..." panggilnya lemah sesaat setelah aku membantu menurunkan jasad bang Toya ke liang lahat. "Kenapa kamu tega ninggalin Abang Toya...? Toya..."

Bahkan seorang Zaki yang tabah dan kuat pun bisa goyah seperti ini? Tanyaku dalam hati.

Kulingkarkan tanganku dari bawah lengannya. Tiki yang berdiri disamping kanan bang Zaki langsung refleks melakukan hal yang sama terhadap Bang Zaki. Ia hampir saja melompat ke arah bang Toya.

"Bang... Ikhlasin Bang..." bisikku ditelinga bang Zaki. Meskipun hatiku sendiri masih sulit melakukan hal tersebut. Tapi aku tidak mau bang Zaki melakukan hal bodoh dengan meluncur masuk kedalam liang kubur bang Toya. Kupeluk erat bang Zaki. Ia terus meronta dan butuh sekitar enam orang untuk memeganginya saat jenasah bang Toya perlahan terkubur sempurna oleh tanah merah. Dan yang terlihat kini hanya gundukan besar.

"Toya... Maafin Abang Toya... Abang yang salah..." aku hanya bisa berdiri mematung dibelakang bang Zaki. Sudah satu jam lebih, bang Zaki terus saja memeluk erat kayu bertuliskan nama bang Toya. Suara tangisnya serasa menyayat relung hatiku.

Sama halnya dengan bang Zaki, aku juga merasa sangat kehilangan. Dia adalah kakak kesayanganku. Orang yang selalu kupuja dan selalu kurindu. Tetapi bang Zaki... Dia adalah orang yang selalu ada disisi bang Toya. Kalau sekarang hatiku merasa sedang ditimpa badai maha dahsyat, aku tidak bisa membayangkan dengan yang dirasakan bang Zaki saat ini.


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


Suasana dirumah ini sangat sepi. Semua orang hanya berdiam diri. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dari tadi yang kudengar hanya suara isak tangis Mamaku dengan tante dari teras belakang. Sementara aku sedari tadi mencoba menyibukan diri dengan melihat semua foto dipigura yang dipajang dilemari kaca diruang tv.

Dadaku terasa sesak. Terasa sangat sakit. Kini senyum bang Toya cuma bisa kulihat dari foto-foto ini. Belum banyak yang aku ketahui tentang bang Toya sejak perpisahan kami dulu. Terlebih aku masih sekolah di Jakarta. Walaupun sesekali aku nekat main kemari saat akhir pekan. Tentunya dengan "sedikit" memaksa nebeng pada bang Bayu.

Dipigura terakhir, aku melihat foto bang Toya yang sedang memasak di dapur warungnya. Dia nampak cute dengan apron berwarna merah yang selalu ia pakai tiap kali di warung. Sementara dibelakangnya bang Zaki sedang merangkulnya. Satu tangan bang Zaki terlihat sedang membelai kepala bang Toya.

"Candid by Syaka" kubaca lirih tulisan yang tertera dipojok kanan bawah foto.

PRAANG!!

Aku sampai lompat saking terkejutnya mendengar suara piring yang jatuh. Sepertinya sengaja dibanting. Suara itu berasal dari dalam kamar bang Zaki. Tergesa-gesa aku melangkahkan kakiku kesana.

Diambang pintu aku terkesiap melihat bang Zaki. Baru sekali ini aku melihat sorot mata dingin bang Zaki. Dan tatapan matanya itu ia arahkan kepada om Samudra.

"Keluar!"

"Mari om... Kita keluar..." kudengar ajakan Tiki yang tau-tau saja sudah berada disebelah om Samudra. Tangannya melingkar dibahu Om Samudra. Saat keduanya melintas dihadapanku, bisa kulihat kedua tangan Om Samudra gemetaran. "Taka! Elo bersihin gih sono!" perintah Tiki dengan suara berbisik.

Tapi lagi-lagi aku kalah cepat. Bli Syaka sudah berada didalam kamar. Memunguti pecahan piring dan membereskan semuanya dalam hitungan detik. Sementara aku masih saja terpaku membalas tatapan dingin dimata bang Zaki. Sekujur tubuhku terasa beku.

Kalau saja Zulfikar tidak menyeretku menuju tangga dekat ruang tv, pasti aku masih berdiri terpaku disana.

Saat aku menoleh kearah pintu kamar, disana berdiri Bli Putu yang berdiri memunggungi pintu kamar yang sudah tertutup. Dengan punggung tangannya, dia mengusap air matanya. Aku masih saja menatap punggung bli Putu yang melangkah ke pintu depan. Sampai akhirnya kedua tangan Zulfikar memegang wajahku dan mengarahkanku untuk menatapnya.

Saat mata kami bertemu, kupejamkan kedua mataku, dan memeluknya erat. Perlahan aku teringat pertengkaranku dengan bang Toya beberapa minggu lalu.

"Ini permintaan pertama dan... terakhir..." ujarnya terisak.

"Ngaco!! Omongan lo ngaco!" aku memotong dengan cepat. Sewot? Jelas aja!!

"Tolong putus dengan Zulfikar. Berhenti jadi gay. Bahagiakan Tante... maksudku... Mama kita..."

"Elo jangan egois gitu dong Bang! Seenaknya elo ngajuin permintaan berat kayak gitu!" aku mulai naik pitam. Aku tidak percaya, orang yang pertama kali mendukung keputusanku sebagai gay, malah berucap seperti itu. "Gue paham nih. Elo nyuruh gue putus sama si Fikar, sementara elo pengen enak-enakan sama Bang Zaki. Gitu kan maksud lo?! Gue gak nyangka elo sepicik itu Bang!"

Aku bangkit berdiri dan berlalu pergi meninggalkan bang Toya sendirian diteras belakang.

"Ini permintaan pertama dan... terakhir..."

"Ini permintaan pertama dan... terakhir..."

"Ini permintaan pertama dan... terakhir..."

Kalimat itu terus saja bergaung dalam kepalaku.


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


"Elo yakin sama keputusan lo ini Ka?"

Aku tersenyum tipis dan memandang Tiki yang berdiri hanya sekitar 30cm dihadapanku.

"Gue tau, kepergian bang Toya gak cuma jadi pukulan berat buat elo. Tapi buat kita semua. Terutama bang Zaki" Tiki terus aja nyerocos.

Dua hari yang lalu, kami baru saja selesai melaksanakan pengajian seribu hari kepergian bang Toya, bukan hanya Tiki yang kulihat menangis saat melafalkan doa. Disudut ruangan, aku pun melihat bang Zaki terus saja meneteskan air mata dalam sikapnya yang diam dan berusaha terlihat tegar. Tapi dinding ketegaran yang kubangun, seolah meleleh saat melihat air mata bang Zaki yang deras membasahi pipinya.

Aku hanya salah satu dari semua orang yang merasa kehilangan. Kehilangan salah satu orang yang paling kami sayangi.

"Minimal elo bisa pamitan dulu kan sama dia? Minimal elo harus menghargai perasaannya Ka"

Aku hanya menggeleng pelan.

"Gue udah bulat sama keputusan gue ini Ki... Gue udah mengakhiri hubungan gue ma dia..." ucapku dengan suara yang agak sengau. "Gue... Udah jalanin permintaan terakhir bang Toya..."

"Maksud lo?" Tiki mengerutkan dahinya. Alisnya kini seolah saling bertautan.

"Elo inget waktu malem-malem gue nelpon elo kan? Gue bilang, kalo gue kesel banget ama bang Toya..." suaraku mendadak serak. Aku tidak mampu meneruskan kalimatku. Aku berdeham keras. "Elo sendiri gimana? Udah bulat ama keputusan lo?" kini aku berbalik bertanya. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Iya... Tapi gue masih harus belajar dulu..." jawab Tiki setelah menghela nafas panjang. Dengan punggung tangannya, Tiki mengusap kedua sudut matanya.

"Good luck Ki..." kupeluk Tiki erat. "Elo bantu doain gue ya Ki. Kan elo tau gue telmi banget kalo disuruh belajar bahasa asing. Jangankan bahasa Perancis, bahasa Inggris aja gue gagu bin gagap Ki..." ucapku lirih, agak memelas. Tiki mengeratkan pelukannya. Lalu memukul punggungku lumayan keras.

"Doa gue gak bakal mujarab kalo elo sendiri gak mau berusaha"

Kulepaskan pelukanku. "Elo gak pernah ngerasain jadi orang bego kan, Ki?!" aku berseru dan menatap serius Tiki yang terkekeh.

"Elo kagak bego, Taka... Elo itu cuma males!!" ia balas berseru dan meninju bahu kiriku. "Ati-ati aja deh lo disana. Tika lebih galak dari gue kalo ngadepin orang males" ia meneruskan sambil mengacak-acak rambutku. Kami menoleh kearah Tika yang berdiri tak jauh dari kami. Sedari tadi dia memang terus memperhatikan kami.

Tika tersenyum sinis sambil memainkan kedua alisnya naik turun. Sementara aku cuma bisa meringis dan mengacungkan kedua jariku. Memberinya simbol 'Peace'. Tika menggerakkan jari telunjuknya satu arah dibagian lehernya yang tertutup jilbabnya yang berwarna hijau toska. Memberiku simbol 'You Are Dead, Big Bro!'

"Aakkhhh... Belom apa-apa gue udah nyesel duluan kalo gini caranya" aku berseru dengan suara semelas mungkin.

Tapi dengan sadis, Tiki dan Tika, juga Mama dan Papaku, malah terbahak-bahak. Seolah menertawaiku.

Setelah kami bergantian memeluk Tiki, kutarik resleting jaketku sampai kebawah daguku, dan meninggalkan Tiki diruang tunggu penumpang. Disana dia berdiri melambaikan tangannya sambil tersenyum simpul.

Kami meninggalkan Tiki sendirian di Jakarta, sementara kami semua pergi ke rumah Papa di Paris.

Tapi Tiki tinggal di Jakarta cuma dua hari. Karena rencananya dia akan tinggal di Bali. Tiki bilang, dia ingin menemani bang Zaki mengelola warung peninggalan bang Toya.






•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•







•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•






"Assalamu'alaikum..." aku memberi salam diambang pintu rumah yang sepertinya sengaja dibiarkan terbuka. Setelah melepaskan sepatu dan kaos kaki, lalu meletakkan sepatuku dibawah kursi kayu yang berada di teras depan rumah, aku melangkah masuk. Sekali lagi aku memberikan salam. Tapi tidak juga kudengar sahutan.

Kutempelkan daun telingaku dipintu kamar bang Zaki. Mencoba mendengarkan suara didalam kamarnya. Barang kali dia sedang mandi. Tapi...

BRUGH!!

Baru saja daun telingaku akan menempel, pintu kamar langsung berayun terbuka dan aku langsung menabrak tubuh bang Zaki.

"Ugh! Abang!! Disalamin gak nyaut, tau-tau maen buka pintu aja" aku merutuk kesal.

Sebenarnya bukan 100% kesal. Tapi 100% malu!!! Tapi aku gengsi dong kalau sampai terlihat tersipu malu. Karena kepalaku tepat jatuh di... Ehem!!... Dada bidang bang Zaki!!!

Bang Zaki hanya tersenyum simpul melihat tingkahku. Segera saja aku ngeloyor pergi kearah dapur. Kurasakan wajahku memanas. Aku tidak mau bang Zaki melihat wajahku yang semerah udang rebus.

"Udah makan Ki?" tanya bang Zaki yang berjalan mengekor dibelakangku.

Aku menggeleng pelan. Tapi aku tidak mau menoleh. Sekilas, saat aku melihat bang Zaki akan menarik kursi di meja makan, aku segera saja ngeloyor kearah teras belakang.

"Bli Syaka mana, Bang? Kok rumah sepi gini, tapi pintu depan dibiarin ngablak begitu?" tanyaku dengan suara sedikit lantang. Mencoba menepis rasa maluku.

"Gak tau Ki. Mungkin masih mandi dikamar mandi atas" jawab Abang dari dalam. "Ngomong-ngomong, itu tadi pintunya barusan Abang buka. Tapi karena Abang kebelet pipis, Abang lupa nutup lagi" lanjutnya, menjawab semua pertanyaanku.

Aku duduk bersila diteras. Menikmati terpaan angin sore yang menyejukan tubuhku. Hufff... Aku tidak pernah habis pikir. Padahal dikosanku, pohon-pohonnya jauh lebih rindang dari pada disini. Tapi tetap saja disini sepuluh kali lipat lebih sejuk dari pada dikosanku.

Tapi kalau sedang musim hujan, daerah dikosanku sana memang bisa berubah lebih dingin. Makanya selama empat tahun aku tinggal di Nusa Dua sana, aku tidak mau memasang AC dikosanku. Selain pengiritan, aku tidak mau mendadak terkena flu kalau nekat menyalakan AC, padahal udara diluar kamarku sedang berubah 180 derajat menjadi dingin sedingin-dinginnya.

"Ki...!!! Makan dulu nih... Tadi bli Syaka abis beliin Ayam Betutu kesukaan kamu nih" panggil Abang dari dalam.

"Belum laper Bang" aku menyahut.

"Yahh... Padahal Abang nungguin kamu dari tadi..." suaranya terdengar sedih. Jadi gak enak hati deh, batinku.

Akhirnya aku bangkit dan beranjak masuk ke dalam. Kutarik kursi diseberang Abang. Sekarang kami duduk saling berhadapan.

Salah satu kebiasaan Abang yang tidak berubah sejak pertama kali aku tinggal disini, Abang selalu saja mengambilkanku nasi beserta lauk pauknya dan menghidangkannya dihadapanku. Seiring berjalannya waktu, Abang sudah hapal seberapa banyak porsi makanku. Aku tidak terlalu suka makan banyak. Cukup satu centong nasi. Dan dikelilingi lauk pauk saja.

Gitu kok bilang gak suka makan banyak, Ki?!, protesku dalam hati menyadari kelakuanku sendiri.

"Kawu wulai apan bindah mayi?"

"Hah? Telen dulu napa Bang. Baru nanya" aku berucap saat bersiap-siap melahap satu sendok penuh nasi dan ayam suwir kesukaanku. Ayam betutunya selalu kumakan belakangan tanpa nasi. Hehehe...

"Kamu mulai kapan pindah kemari? Kan seminggu yang lalu kamu sudah diwisuda"

Aku mulai mengunyah dan memberikan ekspresi seolah-olah sedang berpikir. Seolah aku sulit memberikan kepastian. Padahal sih...

"Gak mau tinggal sama Abang ya?" tanya Abang sambil menunduk. Wajahnya terlihat sedih. Sebenarnya itu tadi bukan pertama kalinya Abang bertanya padaku. Bukan pertama kalinya Abang memintaku tinggal bersamanya. Jauh sebelum aku di wisuda pun, Abang sudah sering bertanya padaku.

"Woi!! Koper sapa nih? Geletakan gitu aja di teras"

Majirodok!!! Suek emang nih makhluk satu ini! Belum juga aku puas godain Abang, dia udah nyelonong aja membawa masuk koper yang sengaja kuletakan diteras!!

Aku cuma bisa nyengir sambil mengunyah, saat melihat tatapan penuh selidik Abang kearahku.

"Wuiiikkk!!! Ayamnya enak nih!"

PLAK!!

"SUWEK!! Itu punya gue! Mau gadoin sikut gue lo ye?!" kupukul punggung tangan si suwek yang songong mau menyomot ayam kesayangan yang tersaji dihadapanku.

"Yaelah! Galak amat Bang? Bagi dikit napah? Please..." pintanya memelas padaku.

"Kalian ini... Selalu aja kayak Bruno ketemu Sharon" celetuk Bang Zaki. "Duduk dulu..." Bang Zaki menyilahkan duduk si Suwek yang songong ini untuk duduk. Tanpa diminta dua kali, si Suwek ini langsung duduk di sebelahku.

Sebagai catatan, Bruno itu nama anjing peliharaan bli Putu. Dan Sharon itu nama kucing Persia milik mbak Donna. Dan mereka itu selalu saja ribut lalu kejar-kejaran kalau sudah dipertemukan di istana 3 Dara. :))

"Lo tu ye! Kebiasaan amat, dateng gak kasi salam. Gak permisi. Maen nyelonong masuk aje. Gue laporin bli Ngurah, tau rasa lo" ancamku pada si suwek.

Bli Ngurah itu nama Pecalang paling killer di Banjar sini. Selain memiliki tinggi 185cm dan otot disana sini, bli Ngurah juga punya berbagai tato macan disana sini. Nah, si Suwek ini paling takut kalau udah ngeliat bli Ngurah. Padahal dimataku, bli Ngurah itu super cool. Soalnya meskipun sangar, diliat sepintas aja, muka bli Ngurah itu emang cakep banget. Cuma jarang senyum aja sih. Itu yang bikin si Suwek sering keder sendiri.

"Haduh!! Itu mah rasanya membuat saya sedih Bang... Kalo udah sama Beliau, gue milih Peace aja dah Bang..." si suwek langsung memberiku simbol peace dikedua tangannya.

"Nih... Abisin! Nanti kalo kurang ambil sendiri ya"

"Yaelah Bang Zaki!! Bikin si suwek tambah ngelunjak aja" protesku. Tapi Bang Zaki malah tersenyum sambil melanjutkan makannya.

"Eit eiiittt... Abang ipar gak boleh protes" si suwek merangkul pundakku. "Ulala... Ai loph yu pull Bang Jaki!!! Muah muah!"

Ucapan si suwek langsung saja membuat bang Zaki tersedak. Buru-buru aku bangkit mengambilkan air minum untuk Bang Zaki. Lalu menjitak keras kepala si suwek.

"Hahahaha!!! Kalian ini ya... Bener-bener..." Bang Zaki tertawa setelah menenggak habis segelas air yang kusodorkan tadi. "Bikin Abang keingetan terus sama si Bruno dan Sharon. Udah. Lanjutin makannya"

"Hih! Pe'a lu!" aku menyikut si suwek yang makan dengan sangat lahap. Seperti orang yang belum makan selama sebulan penuh.

"Peace bang ipar" si suwek mengacungkan simbol peace-nya lagi dengan tangan kiri. Tapi tangan kanannya tidak berhenti menyuapi mulutnya.


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


Aku baru saja selesai memindahkan semua pakaianku dari koper kedalam lemari. Lalu si suwek nyelonong masuk ke dalam kamar dan duduk bersimpuh dilantai. Sementara aku duduk dipinggir kasur didepannya.

"Bang Ki... Abang beneran pindah kemari?"

"Bang Ki... Bang Ki... Panggil gue Kiki!! Ato Tiki sekalian!"

"Tapi elo kan Abang ipar gue Bang..." sahutnya mencoba protes.

"Sejak kapan? Elo udah lama dicerai!" aku menyahut galak.

Si suwek langsung menghela nafas panjang dan kali ini dia benar-benar menunjukan ekspresi sedih diwajahnya.

"Sorry... Omongan gue keterlaluan ya...?"

Dia menggeleng pelan. Kali ini menunduk semakin dalam. Seolah sedang mengheningkan cipta.

"Omongan lo bener kok... Gue emang udah dicerai... Dicerai dan ditinggalin gitu aja..." dia berujar lirih. Dan ucapannya membuatku semakin tak enak hati. "Kalo elu mau pindah kemari, gue gak bisa ngelarang... Tapi gimana nasib gue?"

"Maksud lo?" tanyaku bingung.

Sejenak dia nampak bimbang. Seperti ingin berucap, tapi dia tahan.

"Maksud lo apa wek?" tanyaku lagi. Mendesaknya agar segera bicara jujur.

Jujur saja, aku beneran tidak enak hati melihat sikapnya yang mendadak gundah gulana seperti sekarang ini.

"Gak ada... Gak ada yang bisa minjemin gue duit dooong kalo gue lagi bokeekk... Pada siapa lagi gue harus mengaduuu hu~hu~hu~??"

"SUWEEEKKKK PEE'AAAA...!!!"

Dan jurus seribu jitakan anti suwek bangke pun menghujani kepalanya yang dengan bodohnya dia sodorkan padaku.


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


Bli Syaka baru saja pamit berangkat menuju warung. Tadinya aku juga mau ikut, tapi dilarang Bang Zaki. Rupanya Bang Zaki mengajakku untuk mengangkut semua sisa barang yang masih berada dikosanku. Rencananya aku memang mau menginap malam ini. Tapi kata bang Zaki kalau melakukan sesuatu itu jangan setengah-setengah.

Dan rupanya, selama aku membereskan baju-baju dikoperku, ditambah habis menghajar si suwek dikamar atas yang mulai hari ini resmi jadi kamarku, bang Zaki sudah selesai memanaskan mobilnya.

Sejak kepergian bang Toya empat tahun lalu, bang Zaki selalu memakai mobil CRV berwarna putih yang belum sempat dipakai bang Toya, tapi sudah dibelinya tunai. Kalau kata mbak Donna, mobil ini memang sengaja dibeli bang Toya sebagai hadiah ulang tahun untuk bang Zaki. Tapi sejak dibeli bang Toya, mobil ini sengaja di 'sembunyikan' dirumah 3 Dara. Dan baru akan diberikan pada bang Zaki sebagai kejutan.

Tapi apa mau dikata, Tuhan berkehendak lain. Dan sesuai permintaan bang Toya, CRV putih ini baru diberikan tiga bulan kemudian. Tepat dihari ulang tahun bang Zaki.

Kebetulan waktu itu aku ada, saat proses pemberian kado terakhir bang Toya ini. Bukan cuma aku. Tapi semuanya memang sedang berkumpul.

Yang lebih mengejutkan, adalah saat bang Zaki menemukan sebuah amplop yang tertutup rapat, di dalam dashboard mobil. Kata mbak Donna, bang Toya pernah berpesan agar amplop berisikan secarik kertas itu dibuka saat mobil ini diberikan ke bang Toya.


^^ Semua orang pasti menginginkan akhir yang bahagia. Bener kan? Begitu pun aku.

Aku ingin sekali akhir cintaku dengan Bang Zaki akan berakhir bahagia. Tapi kebahagiaan kami memang hanya akan ada didunia kami sendiri.

Kami selalu angkuh meyakinkan diri kami sendiri, hanya kematianlah yang mampu memisahkan kami.

Tapi saat kematian sudah berada diujung jalanku, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan, supaya Ia memberikan kekuatan pada bang Zaki-ku. Agar bang Zaki bisa mengikhlaskanku pergi dengan tenang.

Selamat Ulang Tahun Abangku Tercinta.

Semoga Abang suka dengan kadoku ini.


PS. Maaf Bang, aku tidak bisa menemani Abang seperti yang selalu kita angankan bersama.

Dari yang selalu mencintaimu. Toya. ^^


Dari surat itu, aku membuat kesimpulan kalau bang Toya sudah lama mendapat firasat. Dan dia melakukan semuanya dengan sangat rapih.

Hanya satu yang sangat kusayangkan. Kenapa bang Toya meminta Taka meninggalkan Zulfikar? Padahal waktu itu, kalau boleh aku mengaku, aku sangat cemburu melihat kemesraan saudara kembarku dengan Zulfikar. Memang kuakui, aku memiliki brother complex dengan Taka. Tapi aku tidak tega melihatnya tersenyum menahan luka didalam hatinya.


••• ~~ ••• ~~ ••• ~~ •••


Cahaya kilat menyadarkanku dari lamunan panjang. Tanpa terasa, mobil yang dikendarai bang Zaki sudah melewati pintu keluar jalur Tol Bali Mandara. Sekarang kami sudah berada di wilayah Nusa Dua. Dan sekitar 15 menitan lagi, kami akan tiba dikosanku.

Aku menoleh ke kanan. Mengamati wajah tampan bang Zaki yang sedang fokus menyetir mobil. Kemudian menoleh kebelakang. Aku menghela nafas panjang melihat si suwek yang sedang terlelap dikursi tengah.

"Ki..." panggil bang Zaki pelan. Kami sedang berhenti dilampu merah jalan By Pass Ngurah Rai dengan jalan Siligita dan jalan Pratama Raya.

"Iya Bang. Kenapa?"

"Kamu keberatan gak, kalo tinggal sekamar dengan Fikar lagi?" Tanya Abang. Raut mukanya sangat serius. "Abang enggak tega kalau dia masih harus ngekos sendirian. Kalau untuk kerjaan, Fikar bebas memilih. Bisa ikut diwarung atau ikut kerja dengan Abang di Ubud. Fikar sudah lumayan hapal dengam rute jalan kan?"

"Kayaknya sih udah sangat hapal Bang. Kan tiap ada waktu, kami sengaja jalan-jalan bareng bli Putu" jawabku.

"Trus... kalian tuh jadian ya selama beberapa tahun terakhir ini?"

What?! Gak salah denger nih? Tanyaku dalam hati.

"Gak lah bang!" Jawabku cepat. "Aku bukan replacement-nya Taka" kataku lagi. Bang Zaki tersenyum. Entah apa maksud senyumannya itu.

"Oooh gitu... ya sudah" hanya itu yang meluncur dari mulut bang Zaki, seiring dengan meluncurnya mobil saat lampu hijau. "Nanti sekalian bantuin Fikar beres-beresin baju dia ya. Sisa barang yang lain biar diangkut besok aja"

"Jadi sekarang kita cuma ngambil baju-bajunya si suwek ini?" Tanyaku. Bang Zaki mengangguk.

"Kamu pikir, apa alasan Fikar selalu mengikuti kemanapun kamu pergi, Ki?" Tanya bang Zaki lagi.

Sejenak aku berpikir. "Mungkin dia kesepian Bang" aku menjawab sekenaku saja.

"Hmmm... trus kenapa kamu kayaknya gak mau ngajak Fikar ikut pindah kerumah Abang?"

Aku cuma bisa terdiam. Sebagai jawabannya, aku cuma mengangkat bahuku. Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Aku belum punya alasan yang tepat.






•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•



Please don't see
Just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me
Reaching out for someone I can't see

Take my hand, let's see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I'll be damned, Cupid's demanding back his arrow
So let's get drunk on our tears

And God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?

Who are we?
Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me
If we're not careful turns into reality

But don't you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page, maybe we'll find a brand new ending
Where we're dancing in our tears

And God, tell us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and the lambs are on the run
We're searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?

and I thought I saw you out there crying
and I thought I heard you call my name
and I thought I heard you out there crying
But just the same

And God, give us the reason youth is wasted on the young
It's hunting season and this lamb is on the run
searching for meaning
But are we all lost stars trying to light up the dark?

And I thought I saw you out there crying
And I thought I heard you call my name
And I thought I heard you out there crying
But are we all lost stars trying to light up the dark?
Are we all lost stars trying to light up the dark?


[ Lost Stars - Adam Levine ]



•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•





•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•


..z Z
...z Z z
(”)_(”)_.-””-.,
` _ _ `; -._, `)_
( o_, )` __) `-._)



•.♥.•.♥.•.♥.•.♥.•.♥•.♥.•
«13456770

Komentar

«13456770
Sign In or Register to comment.