BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Bukan Sekedar Cinta

VeneNaraVeneNara ✭ Bronze
edited January 2014 in BoyzStories
Hai, mau coba nulis disini... gak bagus sih tapi semoga bisa menghibur dan mohon bimbingannya.

salam Nara.


Bagian I


Rasa tidak nyaman mulai menguasai tidur Gugun. Dia terlihat gelisah. Tentu saja, jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat dan sebagai orang yang selalu bangun pagi jelas matanya sedang berontak minta dibuka. Tapi dia malah mengabaikan semua itu dan meneruskan tidurnya.
Sayup antara sadar dan tidak, Gugun mendengar suara pintu terbuka kemudian tertutup kembali. Keinginannya untuk bangun pun tergugah saat samar-samar aroma kopi menggelitik indra penciumannya yang pasti sangat nikmat kalau diminum pagi-pagi begini.
Sebuah sentuhan lembut di keningnya pun kian membuat Gugun tak sabar untuk membuka mata lalu menatap wajah manis pemilik tangan yang sedang mengusap pelan kepalanya.

“Pagi sweetheart!” Sapa Gugun parau sebelum matanya terbuka penuh.

“Pagiii...” Balas Ogi dengan sedikit desahan membuat suaranya terdengar seksi ditelinga Gugun. Dia bahkan mendekatkan bibirnya ketelinga Gugun sampai gugun tersenyum menahan geli oleh hembusan nafasnya.

Tak perlu menunggu lama, hanya dalam satu gerakan Gugun sudah membawa Ogi dalam pelukannya. Dia yang masih berbaring membiarkan Ogi menumpukan berat badannya yang tidak seberapa diatasnya. Dengan penuh cinta Gugun menatap takjub pria yang sedang ada dalam dekapannya tersebut, dia sangat tidak ingin kehilangan pria ini.
Harus diakui, debaran itu akan setia memeriahkan dada Ogi setiap kali ditatap seperti ini oleh Gugun. Dan jika sudah begini dia tidak ingin Gugun mengalihkan pandangan darinya. Dia ingin memiliki Gugun... sepenuhnya.

Adegan tatap menatap itu pun berlanjut. Tanpa paksaan, mengikuti naluri, mereka mendekatkan wajah masing-masing hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman hangat namun menggairahkan. Lama mereka berciuman sebelum akhirnya Gugun menghentikan kehangatan itu. Dengan hati-hati dia mendorong wajah Ogi menjauh, Ogi menatap memelas padanya, yang berarti dia tidak menginginkan ciuman itu berakhir sekarang.

Gugun tersenyum lembut sebagai permintaan maaf. Sambil mengusap pelan wajah yang begitu dia kagumi itu, wajah yang telah membuatnya gila, gila untuk melakukan hal gila.

“Aku harus pulang, kita lanjutkan nanti ya?”

“Kapan?” Tanya Ogi manja.

“Secepatnya”

Kata Gugun seraya mengecup singkat ujung hidung Ogi kemudian bangun dari rebahan menuju kekamar mandi.

Ogi mendengus pelan menelan rasa kecewa yang baru dia dapatkan. Mau bagaimana lagi, memang sudah waktunya Gugun pulang mereka sudah dari kemarin menghabiskan waktu bersama. Ditambah waktu ekstra tadi malam. Seharusnya dia bersyukur, karena Gugun benar-benar menunjukkan keseriusan terhadapnya. Bukankah selama ini mereka memang sering menghabiskan waktu bersama? Jadi apa yang dia kecewakan? Gugun bilang secepatnya, dan itu pasti berarti ‘secepatnya’.

Gugun keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan handuk. Ogi mengernyit heran.

“Kamu gak mandi dulu?”

“Gak, aku udah telat. Nanti aja mandinya dirumah”

Lagi-lagi Ogi mendengus, dia sampai menundukkan wajahnya. Seperti anak kecil sekarang dia sedang memainkan kedua kakinya dilantai.
Hanya sebentar Gugun sudah selesai dengan pakainnya dan terlihat rapi seperti biasa. Meski baju yang dia kenakan adalah baju kemarin tapi tak sedikitpun mengurangi pesonanya.

CUP!

Ogi mendongakkan kepala ketika sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Senyuman Gugun seketika menenangkan hatinya, seakan semua kekecewaan tadi menguap begitu saja. Ogi balas tersenyum.

“Minum kopinya dulu!” Ogi mengambilkan kopi yang dia bawa tadi dan sudah diletakkannya dengan manis di atas meja dekat tempat tidur.

Gugun tidak menolak, dengan patuh dia menyeruput kopi tersebut hingga hanya tersisa seperempatnya saja. Kemudian kembali menatap Ogi.


“Aku pergi”

“Hati-hati!”

CUP!
Lagi-lagi sebuah kecupan kali ini dikening Ogi diberikan Gugun dengan penuh cinta.

“Dah!”

Tidak ada jawaban, Ogi terdiam lesu, matanya mengikuti gerak Gugun yang berjalan menjauh dan menghilang dibalik pintu. Tangannya memegang erat cangkir kopi yang diminum Gugun barusan. Dia menyusuri mulut cangkir menggunakan jarinya yang lentik.
Perlahan Ogi mendekatkan cangkir tersebut kemulutnya, meminum sedikit kopi sisa tepat dibagian Gugun menenpelkan bibirnya tadi.

“Setidaknya makanlah dulu sarapan yang sudah aku siapkan untukmu”

Setelah berucap begitu Ogi berjalan keluar dari kamar sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa.

Gugun berjalan pelan saat menyusuri ruang tamu, sepi. Tapi dia tidak mau bersenang dulu dengan mengira kalau rumah ini benar-benar sedang sepi.
Setiap indranya bekerja aktif untuk mendengar, melihat, mencium dan merasakan kalau-kalau ada kehidupan disana. Dan benar saja semakin jauh dia memasuki rumah, suara dentingan yang seperti berasal dari gelas dan piring serta guyuran air terdengar jelas berasal dari dapur.

“Hai” Sapa Gugun pada Ian yang sedang sedang sibuk mencuci piring. Sesaat dia memperhatikan keadaan dapur yang bersih rapi. Bagus pikirnya, berarti Ian tidak menunggunya.

“Hai” Balas Ian sedikit menoleh dan tersenyum tanpa menghentikan aktivitasya.

“Mau ku bantu?” Tanya Gugun datar, yah sekedar basa basi mungkin.

Ian menoleh lagi dan masih seperti tadi memberikan senyum terbaiknya. Dia menggeleng “Kamu kan baru pulang? Ganti baju sama istirahat dulu gih!”

Gugun pun tidak memperpanjang lagi percakapan mereka. Dia segera berlalu menuju kamar yang dia tempati bersama Ian.

Sepeninggal Gugun kesunyian itu kembali menyerang Ian. Ekspresinya mendadak berubah murung sangat kontras dengan yang dia perlihatkan pada Gugun barusan. Dengan tidak semangat Ian mematikan keran dengan gerakan perlahan. Hilangnya suara guyuran air menambah kesunyian, yang tersisa hanyalah beberapa piring dan gelas yang entah berapa kali sudah disabuni meski benda-benda itu tidak pernah kotor sama sekali.
Ian mematung beberapa saat lamanya hingga rasa nyeri dari tangan kiri membuatnya kembali hidup.

“Berdarah lagi!” Katanya parau.

Ian menghela nafas lelah, dia lalu menyelesaikan terlebih dahulu dengan piring bersih tadi, membilas lalu mengeringkannya. Barulah kemudian dia merawat luka seperti sayatan ditangan kiri yang tadi sempat berdarah kembali meski sedikit.

Ian menyimpan kembali kotak P3K kedalam lemari tepat didekat tempat lilin yang lilinnya sudah habis terbakar. Disana juga ada vas bunga kecil dan dengan beberapa bunga cantik didalam.
Sebenarnya Ian sudah mempersiapkan segalanya untuk tadi malam. Beberapa macam makanan menggugah selera terhidang dengan indahnya diatas meja makan -yang sekarang sebagiannya telah berada dikulkas dan sebagiannya lagi ditempat sampah- dengan lilin dan juga bunga dalam vas kecil. Semua tertata dengan cantik.

Kemarin, Ian menerima gaji pertamanya ditempat kerjanya yang baru. Dan dia ingin merayakan hal tersebut bersama kekasihnya.
Ian dikeluarkan dari pekerjaannya dulu karena satu dan lain hal, baru setelah berbulan-bulan dia akhirnya menemukan pekerjaan baru, meski hanya sebagai pelayan restoran. Sangat berbalik dengan pekerjaannya dulu sebagai karyawan kantor perusahaan ternama dengan gaji yang lebih dari cukup.
Dan tidak sedikitpun dia ceritakan hal itu pada Gugun.

Namun sepanjang malam kekasihnya tak pulang tanpa kabar, bahkan telpon darinya tak dijawab dan pesan darinya tak kunjung dibalas. Menunggu dalam bosan karena ketidakpastian mengantarnya pada rasa ngantuk hingga Ian pun terlelap di meja makan. Dia terjaga dari tidur terpaksa saat subuh menjelang, dan betapa kecewa Ian mengetahui Gugun tidak juga datang.
Setelah kotak itu tersimpan, Ian mengambil tempat sampah yang barusan dia gunakan untuk membuang beberapa kapas bekas obat dan membawanya keluar rumah. Disana dia akan membuang kembali sampah tersebut bersama dengan makanan semalam yang tidak termakan.
Selesai!

Dikamar gugun kembali terlelap dibawah selimutnya. Ian tersenyum lembut lalu mendekat. Tangannya terulur membetulkan letak selimut kekasihnya. Dia mengusap pelan lengan Gugun yang berbalut selimut, bahkan sudah tidak ada keberanian baginya walau untuk sekedar mencium kening Gugun. Tingkah Gugun yang seakan menghindar dipahami betul oleh Ian sebagai penolakan halus terhadapnya.

Lama Ian diam memandangi wajah orang yang sudah hidup selama hampir tiga tahun bersamanya. Disini, dirumah mungil mereka, karena Ian sendiri yang memintanya. Dia tidak mau tinggal dirumah besar, karena hanya akan membawa kesepian, apalagi disaat Gugun sedang bertugas diluar kota.

Dirumah mungil ini saja dia kerap disiksa kesepian, tak bisa dibayangkan bagaimana penyiksaan yang akan dia terima jika tinggal dirumah besar.
Masih jelas terekam dimemori Ian ketika pertama kali Gugun memberi kejutan sebuah rumah untuknya, rumah ini. Gugun bahkan sampai menutup mata Ian waktu itu. Dan ketika ikatan mata Ian sudah terbuka, dia begitu terpana mendapati dirinya berada didepan sebuah rumah mungil yang cantik dengan beberapa macam bunga dan pohon hias lainnya. Rumput dihalaman lebat dan rapi. Gugun sungguh tau kesukaannya.

Dan satu lagi, Gugun ternyata bersungguh-sungguh dengan ucapannya ingin hidup bersama.
Memasuki ruang tamu, ian ternganga sampai berkaca-kaca. Mata indahnya pun memandang Gugun dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan.
Gugun lalu membimbing tangan Ian menyusuri ruangan demi ruangan yang telah dihiasi bunga-bunga. Baik itu didinding, sudut ruangan dan bagian-bagian lain, meja bahkan kursi terdapat bunga yang sudah dirangkai dengan indah. Ian menutup mulutnya sendiri melihat apa yang di persembahkan di depan matanya.

Langkah mereka kemudian berhenti tepat didepan taburan dari kelopak bunga yang membentuk sebuah hati ukuran besar, sangat besar. Gugun menuntun Ian masuk kedalam hati tersebut. Disana Gugun tiba-tiba merendahkan tubuhnya, menekuk satu kaki tanpa melepas genggaman pada tangan Ian.

“Seperti keinginanmu. Inilah rumah mungil yang pernah kita bicarakan dulu. Dan sekarang disini, di rumah mungil ini, maukah kamu menghabiskan hari-harimu bersamaku?”

Ian tak bisa berkata lagi, hanya anggukan yang mampu ia berikan sebagai jawaban. Sangking bahagianya dia sampai tidak sadar ada lelehan bening yang sedang melintasi pipinya. Gugun tersenyum, dia bangkit dan mengusap pelan air mata Ian.

“Ku mohon jangan menangis!” Gugun lalu mendekap tubuh Ian erat. “Aku membawamu kemari untuk melihatmu bagahagia, bukan melihatmu menangis”
Ian balas memeluk lebih erat.

“Kenapa sekarang jadi begini Gun?” Lirih Ian didekat Gugun yang terlelap dengan dengkuran manisnya. Ian tersenyum pelan memandangi kekasihnya yang sekarang tidur membelakanginya.

“Dia pasti orang yang sangat istimewa, sampai bisa merubahmu sedemikian asing untukku”
suara Ian yang lebih terdengar seperti gumaman. Bisa dipastikan meski saat ini Gugun sedang terbangun, hanya Ian saja yang bisa mendengar kata-katanya barusan.

Gugun bangun saat mendengar ponselnya berdering, dengan rasa kantuk yang masih menguasainnya dia berusaha meraih dimana ponsel tersebut berada.
Sekilas dia melirik layar ponsel dan sedikit terlonjak. Buru-buru dia menjawab.

“Halo!”

“Kok lama? Pasti tidur lagi, udah makan?” Sembur suara diseberang.

“Iya aku tidur lagi sampai kemari, belum aku belum makan”
Ogi mendengus dalam hati dia mengutuk ‘Seharusnya kamu sarapan dulu tadi baru pulang’

“Kenapa nelpon, untung aku yang angkat kalau sampai Ian yang angkat gimana?”

“Tinggal aku bilang aja temen kerja kamu” jawab Ogi cuek. “Lagian kamu kok masih tidur bukannya ntar jam satu kamu ada janji ketemu klien? Udah jam sebelas lho ini” Gerutu Ogi agak manja.

Gugun menepuk jidatnya, “Aku hampir lupa”
Dia segera berhamburan kemar mandi, selain untuk mandi tentunya juga untuk mencari tempat yang agak jauh dari pintu. Mungkin saja sekarang Ian sedang berada disana kan.

“Sudah kuduga, makanya aku menelpon. Buruan bangun dan siap-siap dan jangan tidur lagi!”

“Iya iya, pangeranku…”
Ogi tersenyum malu mendengar Gugun memenggilnya seperti tadi.

“Ah bisa aja, kenapa sih kamu tidur lagi?”

“Lho kok nanya aku. Yang bikin aku kurang tidur karena desahan-desahannya siapa? Dan siapa yang terus menggodaku dengan wajah imutnya agar diciumi?”

“Aaahhh i-itu kan… i-itu… itu…” Ogi gelagapan.

“Itu kenapa?” Desak Gugun sangat betah mengganggu Ogi, pasti wajahnya sangat memerah sekarang.

“Kenapa kamu mau?” Akhirnya Ogi menemukan pembelaan.

“Kamu mau tau?” Tanya Gugun.

“Iya, beritau aku kenapa kamu semalam mau kalau sekarang malah menyalahkanku?” Ogi masih berlagak sok jutek padahal sudah tidak tahan menahan malu. Dia jadi terbayang bagaimana kejadian semalam. Ohh sungguh malam yang indah.

Gugun mengambil posisi yang nyaman sebelum mengucapkannya. “Karena aku menginginkanmu pangeranku, selalu! I love you”

Ogi terdiam tak mampu berkata-kata lagi, dia memang tidak bisa melihat wajah Gugun saat mengucapkan kalimat barusan. Tapi dia amat yakin Gugun bersungguh-sungguh.

“Kok diem?” Tanya Gugun

“Ck! Kamu tuh ya paling bisa… Udah ah Siap-siap sana”
Tawa Gugun menggema didalam kamar mandi. “Bisa apa sih maksudnya?”

“Ya itu…”

“Itu apa?”

“Ck, kalau mau tau temui aku malam ini”

Gugun terkekeh “Iya deh. Udah ya. Btw thanks udah bangunin. Love You!”

“Me too!”

Selesai dengan penampilannya, Gugun bergegas keluar untuk pamit. Dia masih setia dengan rutinitas satu ini.

“Hei, udah rapi? Aku lagi bikin makan siang. Aku buatkan udang goreng tepung, kesukaanmu” kata Ian bersemangat.

“Aku harus pergi sekarang, ada janji dengan klien”

“Tapi kamu kan belum makan dari pulang tadi. Makan aja dulu sedikit ya?” Bujuk Ian.

“Gak deh, aku makan dijalan aja. Kalau emang gak keburu sekalian waktu jumpa klien aja. Aku pergi”

Hanya seperti itu, Gugun langsung berjalan pergi. Tak ada ciuman perpisahan seperti dulu, tak ada belaian lembut di kepala Ian sebelum akhirnya sebuah ciuman mendarat dikeningnya. Tak ada lagi hal-hal seperti itu sekarang.

Ian menunduk lesu, “Sejauh itukah posisiku sudah tergeser sekarang?” Ucapnya getir.
Ian memejamkan mata, menahan rasa sakit didada kiri yang kian menjadi.

Dia kemudian mematikan api kompor tak lagi melanjutkan menggoreng udang tepung. Udang yang masih dalam minyak, setengah matang, diangkatnya dan dibuang ke tong sampah. Untuk apa disimpan, tidak ada yang akan memakannya. Ian alergi udang sejak dia lahir, bahkan sebelumnya dia bahkan tidak pernah bersentuhan dengan makhluk satu ini. Satu-satunya alasan dia mau melakukannya itu hanya karena Gugun. Dia menyukainya. Dan meski Gugun menyukainya tetap tak ada gunanya disimpan, karna Gugun pasti pulang telat lagi seperti biasa, atau mungkin… dia tidak akan pulang.


“Ian!” Panggil Bimo. Dia datang dengan sebuah nampan berisi pesanan pelanggan. “Tolong antarkan ini pada meja no 12” Ujarnya.

Ian menerima nampan tersebut dan sebuah anggukan menjadi jawaban darinya.
Sebulan bekerja disana, Ian sudah lebih lues untuk menjalakan tugasnya. Dia sudah jauh lebih terampil dari saat pertama kali bekerja. Banyak kekacauan yang terjadi dihari pertama, dari salah mengantar pesanan, hampir menabrak pelayan lain ketika berjalan, sampai menumpahkan minuman di kemeja seorang pria yang ternyata adalah direktur sebuah perusahaan yang merupakan pelanggan tetap direstoran ini. pelanggan yang menyebalkan juga sedikit menakutkan.

Orang itu mengucapkan terima kasih dengan cara yang sangat menyebalkan pada Ian saat itu terjadi, mengejek tentu saja. Dan tatapannya itu… menakutkan.

Nasib baik, bos tidak memecatnya walau telinga Ian panas mendengar omelan.
Ian segera meletakkan pesanan untuk meja sembilan dan sesaat dia terpana karenanya. Orang itu tak jauh berbeda, dia malah lebih terlihat terkejut. Ian berusaha bersikap sewajar mungkin, tersenyum kemudian meletakkan pesanan tersebut dan berlalu dari sana.

‘Jika dia disini kemungkinan Gugun juga disini. Bagus, sudah saatnya aku mendengar penjelasannya. Tapi kenapa dia melihatku seperti itu, apa dia mengenalku?’ Ian bertanya-tanya dalam hati.

Orang yang tidak Ian ketahui siapa namanya itu tapi wajah manis miliknya melekat erat dikepala Ian. Dia menoleh untuk melihat orang itu sekali lagi, tapi orang itu terlihat sedang menelpon dan dengan tergesa-gesa mengeluarkan dompet untuk kemudian meletakkan beberapa lembar uang diatas meja. Setelah itu dia pergi sebelum menyentuh pesanannya.

Sigh!!!

Ian menghela nafas mendekati meja yang ditinggalkan pemuda tadi untuk mengambil mengambil kembali pesanan tadi sekalian dengan bayarannya. Sudah bisa dipastikan dia tidak akan kembali.

“Halo sayang!” Sapa Gugun dari seberang.

“Kamu jangan kesini, kita ketempat lain aja?”

“Lho emang kenapa? Aku udah diparkiran ini”

“Ya udah tetap disitu, aku kesana sekarang”

“Kok gitu, emang ada kenapa sih?”

“Ck, disini ada Ian!” Kata Ogi sedikit menekankan nama Ian. Dia sedikit kesal dengan kekasihnya bukannya ikut perintah malah banyak tanya.

“Ian… Ian disana? Kok bisa? Halo… halo”

Tut tut tut

Diluar Gugun sudah menunggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bingung seperti kenapa Ian bisa berada disana. Bukankah ini jam kerjanya, dan setahu Gugun letak kantor Ian sangat jauh dari restoran ini. Makanya dia memilih restoran ini untuk bertemu dengan Ogi.

“Kamu yakin itu Ian?” Tanya Gugun begitu Ogi sudah berada dalam mobil.

“Maksud kamu aku salah liat gitu?”

“Bisa jadi kan?” Kata Gugun mengangkat bahu. Dia mulai menjalankan mobilnya.

“Gak, aku gak mungkin salah. Lagian aku udah pernah liat Ian sebelumnya”

“Kamu liat dia cuma di foto yang ada di ponsel aku” Kata Gugun.
Ogi mendelik pada Gugun, mendengus kesal mendengar omongan kekasihnya barusan. Gugun seolah bersikap Ogi ini anak kecil yang tidak bisa mengenali orang yang ada difoto dan dunia nyata dengan baik.

“Aku emang cuma liat Ian di foto yang ada di ponsel kamu, tapi bukan berarti aku gak bisa mengenali orang dengan baik. Itu Ian!” Tegas Ogi. “Atau kamu mau masuk untuk memastikan?” Tantang Ogi.
Kengerian seketika menyelimuti Gugun, bagaimana kalau ternyata itu benar-benar Ian. Apa yang harus dia katakan nanti? Ah, sebaiknya dia mendengar kata-kata Ogi.

“Trus kita mau kemana sekarang?” Tanya Gugun.

“Kenapa? Kamu gak mau balik buat ngecek dulu? Siapa tau kan aku salah” Balas Ogi sewot.
Gugun menoleh pada Ogi yang masih terlihat kesal, perlahan dia mengelus pipi Ogi yang selalu saja terasa halus ditangannya.

“Aku percaya kok sama kamu. Aku cuma heran kenapa Ian bisa berada disana, ini kan bukan lagi jam istirahat. Dan kantor dia juga jauh dari sini, lagian Ian itu orangnya gak suka keluar jauh-jauh dari kantornya hanya untuk makan”

Ogi tercekat, dia seperti mengingat sesuatu. Benar, Gugun sudah pernah cerita kalau Ian itu karyawan kantor. Jadi kenapa tadi…

“Gun, tapi Ian disana bukan untuk makan deh kayaknya, dia… kerja. Soalnya aku liat dia pakai seragam pelayan”

Gugun menoleh dengan alis yang nyaris bersatu “Maksud kamu?”

“Ya, aku lihat dia pakai seragam seperti pelayan lain. Berarti kan dia… kerja disana”
Gugun menggeleng kuat. “Ian gak mungkin kerja disana. Dia punya pekerjaanya sendiri yang lebih layak. Ingat kan aku pernah cerita” Bantah Gugun tegas.

“Ya… Iya sih, tapi…”

“Sudah lah. Kalau pun benar dia disana untuk bekerja, berarti kita harus masukkan restoran tadi kedalam list tempat yang tidak boleh kita datangi lagi, meski aku sendiri gak ngerti kenapa dia
mau kerja disana padahal jelas dia punya job dengan penghasilan yang lebih menjamin”

“Mungkin dia dipecat?”

Gugun segera menggeleng “Ian itu karyawan dengan kinerja yang bagus, butuh alasan yang logis untuk memecatnya”

“Itu kan cuma menurutku!”
Gugun melihat lagi pada Ogi yang sedang memasang wajah polosnya, dia menggenggam lembut tangan Ogi dengan tangan kirinya. “Kita ketemuan untuk makan kan, jadi kita udahin aja ya pembahasan ini. soal Ian biar nanti aku cari tau kepastiannya. Oke?”

Ogi mengangguk paham masih dengan wajah polosnya. Gugun terkekeh, sesekali dia melihat kejalan namun tangan kirinya sekarang berpindah mengelus lembut kepala Ogi.

“Sekarang kita mau makan dimana?”

“Terserah kamu aja!”
Gugun kembali tersenyum kemudian melajukan mobinya lebih cepat.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya Gugun saat dia sudah berbaring disamping Ian yang masih asik dengan bacaannya.
Dari sejak Gugun pulang, dia sudah mendapati Ian bersandar pada ranjang dengan sebuah buku ditangan.

“Baik” Senyumnya manis seperti biasa.

“Kamu masih kerja ditempat dulu kan?”
Pertanyaan bodoh.

“Tidak, aku tidak bekerja lagi disana”

“Kenapa?” Tanya Gugun menunjukkan rasa penasaran.

“Aku dipecat!”

“Dipecat?” Gugun terkejut, dia tidak percaya ternyata tebakan asal Ogi tadi benar. “Bagaimana bisa? Setauku kinerjamu bagus”

‘Itu setaumu, tapi sadarkah kamu kalau banyak hal yang sebenarnya tidak kamu ketahui?’ Batin Ian pahit. “Semua bisa terjadi kan? Aku juga tidak mau membahasnya lagi. Bisa kita ganti topik saja?”

“Ya sudah” Gugun tidak memperpanjang mengorek informasi kenapa Ian bisa sampai dipecat.

“Trus sekarang kamu kerja dimana?”

“Aku kerja direstoran”

“Oh pantas saja tadi temanku bilang seperti melihatmu direstoran”
Sekarang pernyataan yang bodoh.

Ian melirik Gugun kemudian tersenyum pahit.

“Teman yang mana? Apa aku kenal?”

“Tidak, kau tidak mengenalnya”

“Ooo….!”

Ian kembali pada bacaannya, tapi dua menit kemudian dia menutup buku bacaannya secar tiba-tiba. Ian mendekat ke Gugun lalu memeluk Gugun perlahan. Dia memposisikan kepalanya dilekuk leher Gugun, menghirup aroma segar sabun yang menyeruak dari tubuh Gugun.

“Kamu sendiri, bagaimana pekerjaanmu?”

“Lancar” Jawab Gugun singkat.

“Syukurlah!”
Keduanya terdiam.

“Gun!” Panggil Ian pelan. Sebuah kecupan mendarat dirahang Gugun. “I love You!”

“Gugun tersenyum tipis “I know, ayo istirahat aku capek!”

Ian diam sejenak kemudian mengangguk. Dia pun turun dari ranjang untuk mematikan lampu, setelah itu kembali ke pembaringan didekat Gugun yang sudah lebih dulu tidur membelakanginya.
Dipandangi punggung Gugun dengan seribu perasaan berkecamuk didadanya. Sudah tidak ada yang tersisa dari hati Gugun untuknya, semuanya sudah menjadi milik orang itu. Ian harus menerima kenyataan tersebut.

Tapi Sampai kapan? Sampai kapan ini akan berlangsung? Sampai kapan Ian berada dalam ketidakpastian, diantara Gugun dan orang itu?
Kenapa dengan Gugun? Bukankah sebaiknya dia jujur tentang perasaannya. Kalau memang Ian sudah tak ada dalam hatinya. Dimana kejujuran yang Gugun janjikan dulu. Tidak taukah dia Ian sudah sangat tersiksa?

Dan terlepas dari semua itu, dimana ketegasan Ian? Seharusnya dia marah dan langsung menuntut Gugun untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya. Seharusnya dia memaki Gugun dan menghajar pria itu, toh dia sudah tau semuanya. Seharusnya dia meninggalkan Gugun saja. Semua pasti akan lebih mudah.
Tapi Sayang! Ian bukanlah seorang seperti itu.
Dia tidak punya keberanian seperti orang lain, keberanian yang paling besar yang dia miliki hanya memaki dalam hati, mengutuk ketika sendiri. Mungkin dia juga tidak tau bagaimana caranya marah pada orang lain.

Bagian II

“Gun, gak apa kamu ajak aku kemari?” Ogi memandang kerumunan orang-orang yang ada dipesta
kolega Gugun malam ini.

“Maksud kamu?” Tanya Gugun tidak mengerti.


“Entahlah, tiba-tiba aku merasa sepertinya Ian lebih pantas untuk kamu ajak kemari” Kata Ogi tulus, mengalihkan pandangannya dari kerumunan pada satu orang saja, Gugun.
Gugun mengernyit, kenapa Ogi jadi bicara seperti itu.

“Bukankah seharusnya kamu mengajak pasanganmu?”

“Apa yang kamu bicarakan? Kamu pasanganku” Gugun mendekat dan menggenggam tangan Ogi erat.

Ogi menunduk sebentar dan mengangkat kembali wajahnya menatap Gugun dengan tatapan dalam.

“Tapi beda Gun!”

“Beda apanya?”

“Dia pasanganmu yang sebenarnya. Sedangkan aku…”

“Sssst… aku gak suka kamu ngomong begitu”

“Lagi pula jika ada temanmu yang melihat kamu akan dapat masalah”

“Aku gak peduli, kalau itu terjadi berarti memang sudah saatnya terbongkar”
Ogi masih menunduk, aneh karena mendadak dia jadi sensitif seperti sekarang.

“Dan siapa bilang kamu bukan pasanganku? Kamu lebih dari pasangan, kamu belahan jiwaku” Lanjut Gugun seraya mendekatkan kepalanya pada Ogi
Ogi mengangkat wajahnya takjub.

“Dan kamu tau apa itu pasangan sesungguhnya?”
Ogi tidak menjawab dia menunggu Gugun mengatakn maksudnya.

“Pasangan sesungguhnya adalah orang yang memiliki hati kita dan kembali memberi hatinya dengan tulus. Aku tidak tau bagaimana Ian. Tapi jelas hatiku sudah menjadi milikmu. Jadi apakah kamu pasanganku yang sesungguhnya? Hanya kamu yang tau”

Ogi cepat membenarkan posisinya dan mebelai bahu Gugun, dia sebenarnya ingin melakukan lebih hanya saja tidak mungkin jika ditempat seramai ini.

“Tentu saja hatiku sudah menjadi milikmu, bahkan sebelum kamu menyatakan perasaanmu hatiku sudah menjadi milikmu” Kata Ogi menjelaskan dengan semangat. Seakan penjelasan itu menyangkut hidup dan mati.

“Kalau begitu jelas kan?”
Ogi mengangguk cepat, sekarang matanya sudah sedikit berair tapi sekuat tenaga dia tahan agar tidak mengalir. Tangan Ogi masih berada dibahu Gugun.

“Gun!”

“Hmm?”

“Kita kekamar mandi sebentar yuk!” Kata Ogi sedikit ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
Senyum gugun mengembang.

“Ayo!”
Dia segera menggamit tangan Ogi dan membawanya menuju kamar mandi.

Sepi!

Gugun segera menggunakan kesempatan itu untuk melumat habis bibir Ogi. Dia mendekap Ogi erat meniadakan jarak diantara mereka. Perlahan Ogi mendorong tubuh Gugun. Tapi dengan cepat Gugun menghentikan Ogi dangan mendekapnya semakin erat.

“Kamu membuatku mabuk sweetheart, jadi jangan menghalangiku”
Gugun bicara disela ciumannya, sehingga membuatnya tetap bisa merasakan bibir Ogi meski dia sedang bicara.

“Tapi.. mmphh, setidaknya… mmphhh… kita masuk ke bilik dulu… mmphhh… ini tempat umum… mmmmpphh… Siapa saja bisa dengan mudah menangkap kita” Ucap Ogi susah payah diantara serangan ciuman Gugun.

Gugun menghentikan sejenak ciumannya, Ogi segera mengangguk sebagai isyarat bahwa Gugun sebaiknya mengikuti sarannya. Gugun mengerling nakal pada Ogi. Dilumatnya kembali bibir ogi sambil menyeretnya kesalah satu bilik.

“Gun!”

Panggilan itu membuat Gugun menghentikan ciumannya dan melihat kepada sipemilik suara. Mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri sampai tidak sadar ada orang yang keluar dari bilik.

Reflek Gugun melepaskan begitu saja dekapannya pada tubuh Ogi yang mendadak memucat. Dia menatap Gugun penuh ketakutan. Sementara Gugun tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari seorang yang mengenakan seragam pelayan dipesta ini. Dia tidak akan bisa mengalihkan pandangannya.

Dia… Ian memandangi Gugun dan Ogi bergantian, ekspresinya sulit dijelaskan. Terluka? Kecewa? Sedih? Jelas. Tapi ada yang lain dari tatapan itu yang tidak bisa Gugun artikan. Bahkan selama menjalani hubungannya dengan Ian, Gugun belum pernah melihat tatapan yang seperti ini.
Keheningan diantara mereka sungguh menyiksa, terutama bagi Ogi yang sudah mulai gemetaran karena takut. Apa yang harus dia lakukan jika Ian menyerangnya? Oh tidak, habislah dia malam ini.

Gugun hanya mematung, dia ingin bicara mengatakan sesuatu tapi mulutnya tak bergerak. Mungkin dia pernah bilang tak peduli jika sampai ketahuan karna itu berarti sudah saatnya semua ini terbongkar, tapi nyatanya tak semudah itu untuk dihadapi. Apalagi kalau Ian sendiri yang memergoki.

“Kalian…” Ucapan Ian menggantung. Suaranya bergetar. “Maaf aku mengganggu!”
Ian segera pergi meninggalkan mereka dengan langkah kaku. Entah mengapa kakinya sangat sulit digerakkan. Ogi memandangi kepergian Ian dan Gugun yang hanya mematung.

“Kejar dia!”
Tak ada reaksi dari Gugun.

“Gun, kejar dia!” Ogi ingin berteriak karena panik tapi suara yang keluar malah isakan. Dan Gugun tetap bergeming.

Klik!

Gugun segera mengalihkan pandangan pada pintu yang terbuka. Tadi setelah insiden dipesta dia lebih memilih pulang, entahlah, dia berpikir akan lebih mudah jika menjelaskan peristiwa tadi dirumah pada Ian. Oleh karena itu dia tidak menghiraukan rengekan Ogi utnuk mengejar Ian.
Tapi apa Ian akan pulang setelah ini? Entahlah, Gugun tidak tau. Dia hanya bisa berdoa agar Ian pulang supaya dia bisa bicara padanya. Dan nasib baik memang berpihak pada Gugun, setelah tadi Ian tidak marah-marah, sekarang yang ditunggu sudah berada diambang pintu.
Ian melangkah pelan melewati ruang tamu yang temaram, melewati begitu saja Gugun yang sedang menunggunya disana. Entah dia memang tidak melihat Gugun atau pura-pura tidak melihat.

Wajar, jika Ian bersikap demikian.
Agak ragu Gugun mengikuti langkah Ian yang sudah hilang dibalik pintu kamar mereka. Keraguan kian besar saat Gugun sudah memegangi gagang pintu. Dengan hati-hari Gugun mendekatkan telinganya ke pintu mencoba dengar apa saja yang bisa ditangkap pendengarannya, mencari tau bagaimana kondisi didalam sana, jangan sampai saat dia membuka pintudia malah disambut oleh barang-barang keras yang melayang kewajahnya.

Senyap!

Gugun memberanikan diri membuka pintu, sepi, sayup-sayup terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Gugun sedikit lega paling tidak Ian tidak mengamuk seperti dalam bayangannya, atau belum?
Waktu berjalan sangat lambat saat ini, berbeda jauh dengan ketika Gugun bersama Ogi. Dimana waktu akan berjalan lebih cepat dari biasanya sehingga, waktu yang tersedia pun dirasa tidak akan pernah cukup oleh Gugun maupun Ogi untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan.
Betapa tersiksanya Gugun sekarang, disini, terperangkap dalam kegugupan yang membosankan dan harapan-harapan yang dia sendiri tidak yakin bisa terjadi.
Perlahan Gugun mendengar pintu kamar mandi terbuka, dia segera mengambil posisi yang pas, namun sial, tidak ada posisi yang dia rasa pas. Mendadak dia jadi salah tingkah, tadinya dia ingin duduk tapi malah berdiri didekat sebuah meja sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.
Sial, degupan ini seperti saat Gugun ingin menyatakan perasaannya dulu pada Ian.
Dari tempatnya berdiri Gugun memperhatikan dengan seksama tiap aktivitas Ian, dia menunggu waktu yang tepat. Entah waktu yang tepat seperti apa lagi yang ia tunggu.
Ian sudah selesai berpakaian, dia melihat sekilas pada gugun yang sedang begitu gugup.

Sigh!!!

“Jadi, siapa namanya?” Tanya Ian kemudian. Sumpah, bukan itu sebenarnya yang ingin dia katakan.

“Huh?” Tanya Gugun bego.

“Pria manis tadi, siapa namanya?” Tanya Ian lagi dengan senyum diwajahnya.
Gugun bergidik ngeri, dia menatap Ian dengan tatapan heran sekaligus menyelidik kemungkinan maksud dibalik senyum itu. Tapi Ian kelihatan tulus dengan senyum itu. Ada apa dengannya, apa dia tidak marah?

“Ogi, Namanya Ogi” Kata Gugun pelan.

Ian manggut-manggut “Nama yang bagus” Komentar Ian justru membuat Gugun semakin heran. Dan berikutnya pertanyaan Ian berhasil mengagetkan Gugun sampai dia kalang kabut berbicara.

“Hmmm…… sudah berapa lama hubungan kalian?”
Jelas ada kesedihan dalam kata-kata Ian tapi mati-matian dia sembunyikan.

“Aku… aku… ka-kamu…kenapa kamu bertanya begitu?”
Ian menunduk, “Aku hanya ingin tahu” Ian diam sejenak menarik nafas dalam seolah mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata berikutnya. “Maaf Gun, aku pernah tidak sengaja melihatnya, saat kamu sedang mandi dan ponselmu menyala tanpa dering. Aku melihat nama sweetheart muncul dilayarmu. Dan kamu memasang foto bersama seseorang disana, sangat mesra”

Gugun tercekat, seingatnya dia tidak lagi memasang foto panggilan, dia memasang foto tersebut saat awal-awal hubungannya dengan Ogi terajut. Jadi?
Ya Tuhan, ini tidak mungkin!

“Kapan kamu melihatnya” Gugun sebenarnya malas menanyakan hal ini. tapi dia perlu memastikan sesuatu.

“Sudah lama, waktu kamu pulang dari Surabaya untuk perluasan cabang perusahaanmu disana”
Gugun melebarkan matanya, saat itu berarti tahun lalu tepatnya satu minggu setelah dia jadian dengan Ogi. Berarti Ian sudah tahu sejak lama dan dia tidak mengatakan apapun.

“Aku…” Gugun tidak tahu harus bicara apa. Minta maafkah atau menjelaskan duduk perkaranya.

“Aku ingin minta penjelasan tapi lidahku kelu. Aku bertanya-tanya sendiri, apa yang telah kulakukan sampai membuatmu berpaling. Karena itu aku jadi sering minta maaf padamu”
Gugun membisu, susah payah dia mencerna kalimat ian. Minta maaf? Yah benar sejak kedatangannya dari Surabaya, Ian jadi mengucapkan kata maaf meski untuk hal yang sepele. Bahkan kata maaf itu tak hilang saat dia sedang memadu kasih dengan Ian, yang dia lakukan dengan kepura-puraan.

Belum habis Gugun mencerna Ian sudah bicara lagi. “Aku ingin marah, tapi jika itu kulakukan aku takut kalau ternyata akulah penyebabnya. Karena bisa saja kan, aku melakukan hal yang tidak kamu sukai tanpa aku sadari. Sehingga kamu mencari tempat lain untuk berlabuh. Aku takut akulah penyebabnya. Maka dari itu aku diam, tidak bicara sepatah katapun. Aku terus mencari letak salahku yang menyebabkan kekasihku mencari tempat lain untuk bersandar dan selama itu yang bisa kulakukan hanya bersikap sebaik mungkin. Memperbaiki setiap tingkahku berharap dengan begitu kamu bisa kembali padaku dan memaafkan kesalahan yang ku lakukan. Kembali menjadi Gugunku yang dulu. Gugun yang memintaku untuk hidup bersamanya.”
Gugun hanya terdiam, bukan karena tidak bisa bicara tapi karena sesuatu menghantam dadanya sangat kuat, sakit, rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan belati berkali-kali. Atau dihantam bongkahan batu besar. sakit.

Jadi selama ini Ian bukan hanya tau perselingkuhannya tapi juga menyalahkan dirisendir sebagai penyabab Gugun selingkuh. Kenapa? Seharusnya Ian marah, bakannya malah menyalahkan diri sendiri. Dan entah mengapa Gugun sangat tidak suka cara mereka membahas masalah ini, dia akan lebih senang jika Ian mengamuk sambil memakinya saja atau memukulnya sekalian.
Kenapa?

Dan sakit itu semakin menyesakkan, panas. Udara… Gugun butuh udara. Namun tubuhnya bagai lumpuh, sekuat apapun dia ingin bergerak, yang ada dia hanya mematung.

“Gun, kenapa kamu melakukannya padaku?” Tanya Ian, suaranya kini bergetar seperti menahan tangis. Tidak, sedari tadi dia sudah menahannya. Terbukti dari helaan nafas yang berat.
Gugun bergeming, pertanyaan barusan menyengatnya. Iya, kenapa? Kenapa dia melakukannya? Pesona Ogi, yah, itulah jawabannya. Pesona Ogi sungguh telah berhasil memalingkan hatinya. Tapi beranikah dia mengatkan hal tersebut pada Ian.

Gugun yang tak kunjung menjawab membuat Ian kembali bicara sendiri dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang menarik Gugun pada ruang gelap pengap tanpa udara.

“Pasti dia orang yang sangat istimewa, iya kan?” Ian mencoba tersenyum tapi justru air mata yang mengalir. Pertahanannya hancur sudah. “Dia pasti sangat istimewa sampai bisa mengambil Gugunku” Kata Ian pilu. “Tidak aku sangka ternyata aku tidak becus menjaga hubungan, bahkan upayaku untuk membawamu kembali sama sekali tidak membawakan hasil.”
Entah apa yang terjadi namun kelabat bayanganan masa lalu muncul seperti video yang diputar ulang dalam memori Gugun. Betapa hangatnya Ian dan perlakuan manisnya. Tidak peduli Gugun tidak menghubunginya atau tidak pulang kerumah karena sibuk dengan Ogi. Ian tidak pernah bertanya, hanya perhatian yang dia berikan serta senyuman itu.

Gugun merasa matanya panas.

“Maaf aku begitu buruk” Ucap Ian diantara tangisnya.

“Tidak, itu tidak benar” Untuk pertama kalinya Gugun bicara dan mengangkat wajahnya yang ternyata sudah basah.

Ian menggeleng kuat, air mata itu kian deras “Ini semua tidak akan terjadi jika aku menjaga hubungan ini dengan baik. Aku lengah, maafkan aku!”
Ya Tuhan, dia bahkan tidak ingin menyalahkan Gugun untuk kesakitan yang dia rasakan.

“Tidak, aku yang salah. Aku yang harus minta maaf”
Gugun kembali bicara sambil menggeleng panik ketika dia semakin menyadari kesalahannya yang telah menyakiti malaikat seperti Ian.
Malaikat!

Gugun sendiri yang memberi sebutan itu untuk Ian, dulu, karena sifatnya yang amat baik, lembut, dan selama mereka bersama Gugun berani jamin kalau dia tidak pernah melihat Ian marah sekalipun.

Begitu pun sekarang, dia bicara dengan berderai air mata tapi tidak sedikitpun menunjukkan kemarahan. Padahal kesetiannya telah dikhianati dan dia sadar penuh akan hal itu jauh-jauh hari, namun dia masih saja tersenyum dan bicara baik-baik.

“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
Gugun terdiam. Apa yang harus dia jawab?

Ian menarik nafas dalam menghembuskannya berat. Dia menyapukan tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi, begitu air mata itu hilang yang lain mengalir dengan lancar.

“Kamu mencintainya?”
Gugun mendongak terkejut mendengar pertanyaan ian.

“Mmm?” Kejar Ian.
Entah keberanian dari mana Gugun mengangguk mantap, seakan jawaban itu bukan apa-apa dan tidak akan menyakiti Ian.

“Melebihi aku?”

Gugun tercengang, demi bumi tempat dia berpijak dia tidak akan punya keberanian menjawab pertanyaan itu. Tidak seharusnya dia menyakiti Ian lebih dalam lagi dengan jawabannya, karna dia memang lebih mencintai Ogi ketimbang Ian?
Oh Tidak!

“Kenapa tidak dijawab? Apa kamu takut jawabanmu menyakitiku?” Ian menatap lekat kekasihnya yang kemungkinan sebentar lagi akan menjadi mantan.
Gugun tidak bereaksi meski lagi-lagi dia dibuat terkejut, dan kali ini dia mengira Ian bisa membaca pikirannya.

“Ternyata memang iya” Ian terkekeh menerima kenyataan pahit ini.

Hening!

Keadaan ini sungguh menyiksa Gugun, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.

“Baiklah, aku menyerah” Ian berkata dengan tersenyum diantara derai air mata, Gugun memberanikan diri melirik Ian. “Harus ada yang menyerah karena kita tidak mungkin menjalani hubungan seperti ini, aku tidak mau” Ian membalas tatapan takut-takut Gugun dengan lembut.

“Aku tidak ingin membencimu Gun, karena itu akan ku anggap ini kesalahanku yang tidak becus menjaga hubungan”

“Jangan lakukan itu…”

Ian menggeleng kuat sambil mengangkat tangannya sebagai tanda ‘stop jangan teruskan’, tangisnya kembali pecah.

“Lalu apa yang harus kujadikan alasan? Kekasiku berkhianat? Tidak. Aku masih ingin berhubungan baik denganmu setelah ini. Dan jika alasan tadi yang kupakai, aku akan sangat membencimu dan juga terluka. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin tetap bisa menjadi temanmu, dan dengan begitu kamu juga tidak perlu merasa bersalah, iya kan?”
Gugun memandang tak percaya. Bagaimana Ian bisa bicara begitu. “Ini Tidak benar!” desis Gugun tercekat.

“ Aku mohon Gun, supaya lebih mudah bagiku menerima kekalahan ini. Katakan kalau aku memang buruk”

Gugun hanya menatap nanar Ian, orang ini, dia sungguh malaikat dan Gugun telah menghancurkannya.

“Aku minta maaf!” Gugun tertunduk dan terisak hebat.

“Tidak, aku lah yang minta maaf karna tidak bisa menjaga hubungan kita. Maafkan aku!”
Tangis pun pecah, baik Ian maupun Gugun menangis hebat ditempatnya masing-masing. Sudah tidak mungkin berpelukan seperti dulu untuk menenangkan, karena saat Gugun mengatakan maaf mereka telah menjadi orang lain. Kini mereka tak lain selain orang yang hatinya telah dimiliki orang lain dan sisanya merupakan orang yang tersakiti karena hal tersebut.


Keesokan harinya, seperti biasa Ian menyiapkan sarapan untuk Gugun sebelum berangkat ke kantor. Gugun semakin tertohok rasa bersalah mendapat perlakuan demikian, dia ingin protes tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Tak sedikit pun Gugun menikmati sarapannya pagi itu, padahal tak ada yang berubah dari rasa masakan olahan tangan Ian, selalu saja nikmat. Gugun merasa menelan beling ketimbang dibilang nasi.

Hanya beberapa suap Gugun segera meninggalkan Ian tanpa kata-kata begitu pula dengan Ian, dia hanya memandangi tubuh Gugun yang menjauh dan menghilang dibalik tembok.
Inilah akhir!

Dipandanginya setiap sudut rumah tempat tinggalnya selama hampir tiga tahun dengan seksama. Perlahan tapi pasti Ian mulai bergerak untuk merapikan rumah, mencuci piring dan beberapa kain kotor, kemudian membersihkan bagian-bagian yang perlu dibersihkan. Beruntung dia sering membersihkan rumah tersebut sehingga dia tidak kerepotan sekarang.

Selesai dengan rumah Ian beranjak kedalam kamar. Dia mengeluarkan sebuah tas besar lalu memasukkan baju-baju miliknya kedalam tas tadi. Hanya pakaiannya, tak ada satu pun kenangannya dengan Gugun dia bawa serta, semuanya akan dia tinggal untuk terkunci disana.
Sebelum pergi Ian memandangi sekali lagi rumah kecilnya dengan pria yang begitu dia cintai. Potongan demi potongan memori saat dia datang berkelabat didepan matanya, dia seperti sedang menonton layar lebar. Rasa sakit yang sudah ada menjadi kian sakit. Sesak! Tapi Ian tidak akan menangis lagi, tidak disini. Karena itu sebelum butiran bening yang sudah bergelayutan dipelupuk matanya berjatuhan, Ian cepat melangkah pergi meninggalkan rumah cintanya yang tinggal kenangan.

-THE END-
«13456796

Komentar

«13456796
Sign In or Register to comment.