BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

[Ini blognya Budi] Pacaran, Romantisme, dan Mencintai "Apa Adanya" (@ page 19)

1131415161719»

Komentar

  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    Biar blogku isinya gak pacaran terus juga sih lagian. Ahahahaha.
    Ini pas banget ada cerita lain.

    @Lebes
    Universe begin with U
  • iussiuss ✭✭✭✭✭ Diamond
    Bibi gak terlalu sering cerita.
    Kebanyakan gue yg ngomong

    iya, ketauan dari komentar2nya kok.
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    Tapi emang dasarnya dia gak pernah online di sini juga sih. Hahaha @iuss
    Universe begin with U
  • Adrian69Adrian69 ✭✭✭✭ Platinum
    inibudi menulis: »
    Beberapa waktu belakangan ini, aku sering nongkrong sama temen temen baruku.
    Teman teman sesama LGBT (kami lebih suka menyebut diri kami queer, which is sebuah "payung besar" untuk menyebut orang orang non-hetero seksual).
    Kumpul kumpul 'reguler' sebenernya hari minggu tiap dua minggu sekali, tapi karna lagi libur jumat-sabtu, aku jadi gak bisa ikutan dateng lagi. Jadi ketika ada temen yang baru join gak bisa kenalan.

    Untungnya ada grup whatsapp.
    Jadi tiap ada kegiatan apa pun, kami saling berbagi info.
    Beberapa dari kami dateng ke acara apaaa aja.
    Dari mulai pembacaan puisi, bedah buku, diskusi, pemutaran film, sampai aksi aksi, baik aksi buruh, aksi gerakan perempuan, termasuk aksi 'matinya keadilan' (yang mana, di situ kami memaknainya bahwa hukumnya yang bermasalah, bukan (semata) fokus pada tokoh). Pokoknya selama masih gratis, sebisa mungkin kami datangi.
    Setelah dari acara acara, gak jarang kami lanjut nongkrong dan ngobrol ngobrol. Pernah bahkan lanjut karaoke.

    Kelompok pertemanan ini sangat menyenangkan.
    Kami sering ngobrol isu isu serius dengan santai, tapi becandanya juga gak kalah sering.
    Kami sering membahas soal isu gender, stigma yang ada dan kami dapat (bukan hanya dari orang hetero tapi juga dari sesama gay dan/atau lesbian), keadaan politik dan hukum terkini baik yang berkaitan dengan queer issues maupun gak, 'queer lifestyle' (music, movies, etc), juga diselingi dengan bercandaan yang sebenernya receh tapi tetep aja mengundang tawa.
    Sejujurnya aku males ya membeda bedakan atau menganggap seolah queer friends are better than my heterosexual friends, tapi yaaahh I have to admit that that's true.

    Walau kecil, walau sebenarnya teman teman pasti gak melihat ini di aku, tapi jujur aku sering agak minder karna apa yang aku tau itu gak sebanyak mereka.
    Mereka tau banyak sekali (bukannya sok tau tp memang tau) tentang hal hal yang sudah aku sebutkan di atas.
    Bacaan mereka banyak.
    Obviously a lot more than me.
    Tontonan dan musik yang mereka dengarkan juga jauh lebih banyak.
    Untungnya sih, ini gak lantas bikin aku jadi melongo dan gak tau cara merespon. Tapi aku tetep berpikiran bahwa rupanya masih banyak yang harus aku pelajari.
    di antara mereka banyak yang kurang lebih seumuranku. Ada malah yang lebih muda. Makanya aku masih suka agak minder.
    Tapi aku bersyukur karna aku aware dengan keadaan ini. Karna rupa rupanya aku cocok dengan mereka. Karna mereka pun cocok denganku. Karna aku justru jadi termotivasi untuk meningkatkan kualitas diriku.

    Setiap sama mereka, aku pasti ke sana sama pacarku.
    Dan kami lebih sering duduk terpisah daripada samping sampingan.
    Kata dia, dia mau aku punya kenalan baru dan blending dengan kelompok atas usahaku sendiri. Bukan karna nimbrung sama dia yang udah aku kenal.
    "Oh yeah, believe it or not, THAT is what I want!"
    Walau awalnya gak nyaman, memang begitu yang aku mau. Aku gak mau sekedar jadi 'plus one'-nya pacarku, tapi aku mau dilihat sebagai diriku sendiri oleh teman teman.
    Dan rasanya jadi menyenangkan ketika orang baru tau kami pacaran setelah nanya dengan agak terkejut "oh kalian pacaran?" atau "oh dia pacarmu?"
    Sekarang ketika lebih dekat dengan mereka, aku bisa dengan sangat nyaman ikutan nimbrung. Gak melarikan diri melalui percakapan berdua aja dengan pacarku (untungnya belum pernah dan emang sepertinya gak akan. haha).

    Rasanya menyenangkan ketika kami bisa saling berkata kepada satu sama lain "aku tuh seneng banget deh bisa kenal dan berteman dengan kalian".
    Menyengkan bahwa kami bisa saling memberi influence yang positif dan itu terucap! Terutama karna beberapa di antara kami berada di tengah keadaan yang sangat pelik, beberapa masih sulit untuk membuka hati, beberapa masih ada yang kesepian.
    Rasa rasanya, ini bukan cuma kelompok pertemanan biasanya, tapi seperti (unofficial) support group.
    Terlebih karna, di tengah obrolan yang mungkin cukup serius dan berat, kami masih saling berbagi tentang masalah personal, terutama di pertemuan reguler.

    Wow @inibudi :love:

    Sounds like you have found your niche!

    Emang sih sebenernya banyak straight di luar yang enak buat temen nongkrong dan ngobrol. Tapi kalau dengan temen2 sehati yang punya background sama - pastinya lebih banyak pendapat yang bisa nyambung dan bikin pembicaraan lancar dan menyenangkan.

    Perasaan bahwa orang lain tahu lebih banyak dari kita pasti selalu ada. Gw aja udah setua ini kalau ngobrol sama orang lain pasti banyak hal yang gw belum tahu dan dia lebih tahu dari gw.
    Jangan jadiin ini issue - justru opportunity buat kita jadi tahu lebih banyak informasi baru. Bisa jadi good lead buat bertanya pada ybs "Wah gw belum tahu nih - bisa educate gw soal ini?"
    Dan pembicaraan akan berlangsung lancar dan enak, ybs bisa punya chance to self-actuate buat share his/her knowledge, dan elo belajar hal baru.

    Bagus banget elo sama Bibi @UrsaMayor mau split dan mingle dan socialize sendiri2. Jadi masing2 bisa be himself, dan dapet informasi dan bahan diskusi dari sumber yang berbeda2.
    Good for sharing session antara kalian berdua - bikin subject for more open communication and discussion so it will never be boring!

    Bagus juga kalau sekali2 mingle as a couple - jadi kalian bisa langsung denger dari sumbernya, dan bisa ngerti bahwa biarpun berdua denger dari sumber yang sama, persepsi of what's going on bisa berbeda2.

    Good to hear that! I just wish that type of community can exist here in Boyzforum dan can extend to gatherings, biar bisa adding value and more meaningful buat members.
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    I wish the same thing, actually. Mengingat situasi dan kondisi di Indonesia saat ini, terutama juga yang berkaitan dengan komunitas homoseksual, grup ini jadi agak agak tertutup, jadi gak bisa "sembarangan" nerima orang baru gitu aja. Setidaknya udah kenal dulu sama member yang lebih dulu join.
    Takutnya mata mata, lalu kelompok kami terancam bubar. Nah makanya, jadi aku cuma berharap temen temen boyzforum bisa punya kelompok yang kurang lebih sama dengan kelompok pertemananku, tapi belum bisa ngundang salah satu atau beberapa dari mereka ke sana.
    Plus, hampir sebagian besar dari kami udah "out" sebelumnya (dalam artian, keluar kumpul kumpul ke sesama teman teman LGBT, walau beberapa sih cuma ke sesama gay atau ke sesama lesbian), dan, menurut levelnya masing masing, ngerti bahwa berkumpul kayak gini ini penting. Lebih dari sekedar berteman, lebih dari sekedar 'siapa tau dapet jodoh'. It's beyond that!
    Jadi lebih mudah bagi kami untuk blending.

    Bahkan satu dua teman teman aktivis yang juga join pun nyaman di situ karna gak ada hierarki. Semuanya setara. Literally!! Mereka seringkali juga join obrolan yang serius, mengedukasi, tanpa terasa menggurui. Malah obrolan seriusnya bukan mereka yang mulai.

    Soal perbedaan 'pengetahuan', aku pun juga masih berpikiran kayak yang om Adrian bilang kok. Aku merasa ini kesempatanku juga untuk tau lebih banyak dengan cara yang lebih mudah.

    Soal my LGBT friends is better than my straight one, sebenernya kerasa banget sih. Terutama karna banyak temen temen straightku yang apatis terhadap.... apa pun.
    Masih seneng seneng aja sih, karna masih lumayan enak diajak becanda haha hihi, tp terkadang kebanyakan haha hihi lumayan melelahkan buatku.
    Belum lagi temen laki laki yang sexist dan misogynist.
    Dan buatku ini sangat mengganggu.
    Ya memang beberapa temen temenku yang gay dan lesbian juga masih ada yang begitu, tp gak sebanyak mereka yang straight.
    Ya gitu. Kerasa perbedaannya. Kerasa bahwa temen temen queer lebih baik.

    @Adrian69
    Universe begin with U
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    Sebenernya sih, soal split antara aku sama Bibi itu hal yang masih dilematis buatku. Aku seneng karna keliatan kayak hubungan yang dewasa banget gitu. Aku pun seneng ketika dateng sendiri, lalu temen nanya "lho Bibi mana?" lalu aku jawab "kami gak bareng, nanti dia nyusul kok". Atau "lho kalian gak pulang ke tempat yang sama?" (biasanya kalau pas weekday) dan aku jawab enggak.
    Jujur ada rasa rasa bangga dan senang karna kami gak harus selalu bareng.

    TAPI, di sisi lain aku masih sering banget manja. Kadang masih minta dia nginep bukan di hari yang 'dijadwalkan', atau bahkan ngeluh karna ketika udah masuk hari libur, selalu aku yang nanya duluan mau ketemu jam berapa, ketemu di tengah tengah atau di jemput.
    Masih sering merasa kebersamaan kami kurang.
    Maunya lebih lama lagi.
    Dan aku selalu mengekspresikan itu dengan cara yang kurang menyenangkan.

    Di satu sisi, aku merasa dewasa, di sisi lain aku merasa aku kayak 'stereotypical' cewek SMP.

    @Adrian69

    Tuh @Lebes sedikit cerita perkembangan pacaran akuuuu
    Universe begin with U
  • LebesLebes ✭✭✭ Gold
    Semoga langgeng kak, aku ga bisa memberi masukan kek om adrian, ikut berbahagia saja ya. Lavvvvvv
  • Adrian69Adrian69 ✭✭✭✭ Platinum
    Everything in moderation @inibudi . Everything in moderation.

    Nggak usah terlalu jauh2an, dan sekali2 perlu dong hanging out as a couple.

    Kamu sama Bibi kan sama2 adult yang punya responsibility dan kegiatan sendiri2.

    Kalau memang pengen nambah waktu bersama, ya bilang dong. Merajuk sama manja awal2 mungkin cute, tapi lama2 kan bisa bikin capek juga buat Bibi kalau dia nggak ngerti apa kamu mau.

    On the other hand, kamu juga sebaiknya bisa mengerti kegiatan Bibi, apa dia emang punya cukup waktu buat hang out atau dia lagi sibuk, dan adjust sama schedule dia juga.

    Communication is key biar kalian bisa langgeng.
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    Aku yang sering atur waktu.
    Dalam artian, aku tau jadwal dia, aku tau jadwalku, lalu aku nentuin kapan waktu yang baik buat ketemuan.
    Terakhir 'berantem' itu, karna aku terus yang begitu.
    Aku bilang bahwa aku lelah begitu terus dan pengen gantian dia yang sering.
    Untuk nunjukin, bahwa bukan cuma aku aja yang excited dalam hubungan kami.
    Bahwa bukan cuma aku aja yang kesannya lebih menginginkan dia.

    Trus dia bilang bahwa dia pacaran sama aku selama hampir 6 bulan, bukannya sama orang lain, itu juga sebenernya kan udah pertanda bahwa dia juga excited dan menginginkan aku

    Aku percaya banget sih dan aku pun berpikiran ke arah sana juga. Tapi aku bilang bahwa aku pengen dia juga mengekspresikan itu lebih sering lagi. Setidaknya di saat kami janjian mau ketemu lah.

    Kurangnya dia di situ sih.
    Agak kurang ekspresif dan kurang inisiatif.

    Aku selalu obrolin apa yang aku rasain.
    Komunikasi kami oke.
    Semua yang aku ceritain ke orang, atau ke forum ini, pasti udah pernah aku obrolin duluan semuanya sama dia.
    Tapi, beberapa kali masih agak sering balik ke situ situ lagi masalahnya.

    @Adrian69
    Universe begin with U
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    Ini repost dari Facebookku sendiri dan merupakan pelajaran yang kudapat selama 8 bulan ini sama pacar. Pakai bahasa baku, karna nyamannya begini.

    "When you love someone, you accept him/her unconditionally (which you think it's easy).
    When you're in relationship, you still do, but at some point you have to compromise, make adjustments and discuss so many things in order to grow." - Budi, 2017.

    Saya memang seorang yang begitu mengagumi romantisme (mendambakannya, dan mengharapkannya terus muncul secara konsisten), tapi sejujurnya, saya masih belum memahami bagaimana ketika seseorang sedang merasa jatuh cinta, dia akan mulai... seperti saya (di masa lalu, dan mungkin juga masih sampai sekarang tapi dengan intensitas yang berbeda).
    Bahkan ketika keadaan menjadi sulit (misalnya karna tak berbalas, atau karna menjadi merasa tidak pantas), orang mencoba positif juga dengan menggunakan romantisme.
    Mencoba menghibur dengan berkata bahwa suatu saat akan ada yang menerima dia (atau mereka) apa adanya. Mereka yakin mereka akan mendapatkan cinta tak bersyarat (bahkan mungkin tanpa memaknai secara mendalam apa itu cinta tak bersyarat).
    Belakangan, setelah saya bertemu dan menjalin relasi dengan orang yang menerima saya lebih dari diri saya menerima diri sendiri, saya merasa bahwa pemikiran romantis mereka (bahkan juga saya sebenarnya) itu... tidak sehat.

    Cinta 'tak bersyarat' ini sesungguhnya punya batasan batasan. Kamu bisa jatuh cinta tanpa syarat. When you fall in love, the only reason why is because this person, and this person only. Tanpa alasan dan seolah tiba tiba. Kalau coba dijelaskan lebih detail lewat kata, rasanya seolah olah semua kata yang ada kurang pas (at least that's what happen to me).
    Tapi saya kira itu wajar. Namanya juga jatuh. When you fall, you just fall. You don't have plan for it, and you don't really have any reason. Kamu mungkin berhati hati dengan terus melihat ke bawah. Ujung ujungnya kepentok ranting pohon lalu jatuh.
    Kamu mungkin percaya diri dengan terus menengadah ke atas sambil terus berjalan. Ujung ujungnya tersandung batu lalu jatuh.
    Cinta itu, sesuatu kamu bilang tai, tapi saat ada ya dicium cium juga.
    TAPI saat saat setelahnya bisa jadi... tidak mudah. Kita kemudian pastilah menginginkan 'ikatan'. Silakan hujat istilah ini, tapi kamu yang menolak keras ikatan pun dalam tingkatan tertentu juga sebenarnya terikat. Selama masih hidup, kita adalah manusia yang terikat. Dan itu tidak (selalu) buruk.
    Ikatan bernama pacaran ini salah satu yang (bisa jadi) tidak buruk. Indah malah. Tergantung polanya tentu saja.
    Nah tapi, dalam relasi pacaran ini (yang akhirnya saya alami setelah melajang 24 tahun), saya yang... terpapar romantisme mencintai apa adanya lewat media apa pun, yang secara tak sadar memaknai bahwa Cinta dan romantisme adalah selalu sama, mengalami banyak "kejutan". Saya jadi melihat, dalam tahap menjalin ikatan ini lah, cinta tak bersyarat mengungkapkan batasan batasannya.
    Pacar saya tidak se-ekspresif waktu kita awal awal masa pendekatan dan pacaran. Romantisme yang saya rasakan berbeda. Berubah bentuk saja sebenarnya tapi terasa berkurang (padahal sebenarnya tidak).
    Lalu apa artinya dia tidak mencintai saya apa adanya seperti dulu? Tidak sebesar dulu? Walau lewat kata kata saya tidak berani mengatakannya, saya mengucapkannya lewat tingkah laku saya. Saya bertingkah seolah rasa cinta dia tak lagi sama.
    Padahal, sebenarnya lebih besar. Dan dia sangat sering mengingatkan saya. Dia yang setiap weekend menghabiskan waktu bersama saya. Dia yang, kalau saya libur weekday, juga menemani saya di malam hari, dan mau menerima tawaran saya untuk mengantarkannya ke tempat kerja. Dia yang menceritakan cerita pribadinya paling banyak ke saya. Dia lah orang yang saya peluk. Dia lah orang yang memeluk saya. Dia lah yang mencium saya. Dia lah yang saya cium. Dia lah yang mengkhawatirkan dan peduli pada saya. Dia lah yang berusaha keras untuk mewujudkan yang saya mau dan berhasil.
    Paparan romantisme yang saya terima, (yang sebelum pacaran, sebenarnya sudah sedikit saya kurangi) sangat saya yakini berpengaruh pada rasa tidak puas.
    di dunia sana, berapa kali saya baca kutipan yang kurang lebih berbunyi "tidak ada yang namanya terlalu sibuk. Yang ada adalah apakah dia jadi prioritasmu atau tidak" dan sedihnya (iya, belakangan ini saya sedih kalau menemukan kutipan itu) banyak orang setuju dengan kutipan itu, dan saya KADANG menyetujuinya.
    Nah kamu yang terpapar oleh kisah romantisme (terutama yang kekinian dan berasal dari teman temanmu), apa sanggup kalau whatsapp mu baru dibaca lebih dari sejam dan belum tentu langsung dibalas? Oh kadang saya sanggup, tapi kadang saya gak. Ini pun proses. Karna saya tau betul (sebenarnya) bagaimana kebiasaan pacar saya soal telpon genggamnya dan itu sangat wajar dan bisa dimaklumi, namun di sisi lain, saya sering merasa ingin diberi perhatian lebih (walau agak kurang masuk akal).
    Apakah pacar saya yang sibuk sampai slow respon itu pertanda dia tidak mencintai saya apa adanya? Apakah ketika saya menuntut, karna saya tidak mencintai dia apa adanya?
    Apa pula itu "apa adanya"?
    "Apa adanya" yang kamu lihat dari si dia hanya pada saat ini saja? Atau selama beberapa waktu? Selama berapa lama? Seminggu? Sebulan? 3 bulan? Setahun?

    Dalam berelasi, saya baru baru ini tercerahkan bahwa ini bukan perkara mencintai "apa adanya" (seperti yang umumnya kita tau), apalagi mencintai lewat ekspresi romantis.
    Namanya juga relasi. Dalam relasi pacaran monogami, ini antar 2 orang. Saya kira nyaris mustahil kamu bisa 100% mencintai pasanganmu "apa adanya". Kamu tak akan pernah bisa jadi segalanya buat dia, begitu pun sebaliknya. Cobalah untuk terus berpikir dan berusaha begitu, you will fail !! Tapi bukan berarti kamu bisa 'gitu gitu aja' dalam artian benar benar hanya menjadi dirimu. Ini hubungan antar 2 orang. 2 kepribadian, 2 pikiran, 2 hati, 2 tubuh, 2 selera, 2 kantor, 2 waktu, 2 kehidupan. Untuk menyatukan yang 2, butuh penyesuaian, kompromi, diskusi.
    Yang mana, hal hal esensial ini akan kabur kalau kita terus menerus tenggelam dalam romantisme.

    Penyesuaian, kompromi, dan diskusi ini lah, sebenarnya, cara kita untuk mencintai apa adanya.
    Karna satu satunya yang keberadaanya pasti di dunia ini adalah perubahan.
    Orang pun berubah. Setiap waktu. Setiap detik (sungguh!).
    Mau mencintai seseorang apa adanya? Cintailah perubahannya. Caranya melalui penyesuaian, kompromi, dan diskusi.

    Tapi bagaimana jika masih lajang? Dengan siapa kita menyesuaikan diri, berkompromi, dan berdiskusi? Ya tentu dengan diri sendiri. Tubuh, pikiran dan jiwa. Ketiganya harus melakukan tiga hal tersebut.

    Falling in love is easy.
    Having relationship is challenging.
    Tidak selalu indah, tapi di situlah estetikanya.
    Universe begin with U
  • Adrian69Adrian69 ✭✭✭✭ Platinum
    Great job @inibudi !
    Bagus banget kamu udah mengerti bahwa sesudah jadi relationship (instead of "awal pacaran") bentuk perhatian berubah, bukan berkurang.
    Adaptasi itu harus. Kita nggak bisa keep a relationship kecuali kita adapt to what's happening.
    You're getting stronger, and keep on going! :heart:
  • inibudiinibudi ✭✭✭ Gold
    edited July 2017
    Makasih om @Adrian69 :kissing_heart:

    Aku pikir sulit bagiku untuk sampai ke pemikiran ini karna aku dulu orangnya hopeless romantic.
    Bahkan ketika sudah nyaman dan independen as a single gay man, trus berubah jadi manja pas pacaran.
    And it's my first relationship ever :joy:
    Transisi dari romantisme masa pendekatan dan awal pacaran menuju pacaran "gaya" casual itu gak mulus.
    Jadi aku kaget.
    And sometimes my boyfriend is not really good at explain things even when he is, I'm not good at listening and understanding him :joy:

    Tapi.... Setelah berantem yang terakhir, beberapa hari setelahnya ngobrol, and my meditation back on track, things feels different and so good.
    I even surprise about myself.
    Tinggal dijaga aja biar stabil


    Universe begin with U
1131415161719»
Sign In or Register to comment.