BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

My Lovely Breakers - End Chapter

greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
edited September 2013 in BoyzStories
My Lovely Breakers -

#2 - Anjas si Zayn Malik -

Hari ini memang begitu melelahkan bagi Oen. Dua Tahun setelah ceritanya bersama Blaine tidak berjalan mulus, Ia harus berjuang untuk mengusir segala kenangan buruk. Karena bagi Oen, kenangan manis itu memang harus selalu berada dengan baik dan diabadikan di dalam Album yang indah pula. Kisah cinta dan Blaine berakhir karena keputusan Blaine untuk memilih seorang wanita yang memang sudah cukup dikenal oleh Oen. Oen tidak pernah melarang Blaine untuk berhubungan dengan siapapun, karena tidak ada gunanya untuk terus melarang dengan kecemburuan yang tidak beralasan.

Sampai pada suatu saat Oen harus mengetahui bahwa Blaine telah jatuh cinta kepada seorang wanita yang selama ini dikenalnya. Wanita yang memang berada satu tempat latihan dengan Oen dan Blaine. Entah kenapa itu terjadi begitu saja, dan Blaine memberanikan dirinya mengatakan hal itu kepada Oen. Oen sejak awal tidak pernah memaksakan perasaan Blaine kepada dirinya. Memang akhirnya akan begini, tapi Oen sudah cukup senang karena ia pernah dicintai oleh seorang Blaine.

Mungkin cukup begini saja kisah Oen dan Blaine. Sekarang Oen telah mencapai proses pemulihan rasa yang begitu mengganjal setelah ia berpisah dengan Blaine. Oen memang anak yang cukup tegas dan begitu dewasa, meski memang dia begitu terluka, sangat terluka. Tapi dia tetap memikirkan bahwa apakah dia memang harus terus menerus bersedih? Jawabannya pasti adalah tidak. Oen menerima segala keputusan yang ada, bukan menyerah tapi memang itu konsekuensinya berpacaran dengan seorang yang awalnya normal (straight).

Oen masih latihan di Museum, dan dia masih bertemu dengan Blaine. Karena menurut Oen, grup Blaine mungkin tidak akan berpindah tempat dalam waktu dekat. Tapi itu bukan masalah oleh Oen. Oen sampai saat ini tidak pernah merasakan perasaan yang aneh kembali mengenai getaran-getaran cinta yang mungkin saja bisa direnggut kembali oleh orang lain. Dia begitu menikmati latihan rutin yang ia lakukan bersama teman-temannya di Museum beberapa waktu ini. Ia tak pernah memikirkan sedikitpun tentang perasaanya yang dulu. Meski memang terkadang Oen merasa sedikit kesepian.

Saling pandang, saling menatap masih saja berlangsung pada saat mereka latihan. Karena hal itu sungguh tidak bisa diindahkan karena jarak yang memang dekat.

Sore ini Oen berencana mengajak Tata untuk ke Hypermart membeli kebutuhan mingguan.

“Halo, Tata..” Sapa Oen.

“Ya, ada apa kakak ku sayang?” Sahut Tata manja. Lol.

“Hueeeekk, apa-apaan kamu? Jangan pernah bicara seperti itu lagi. By the way, Aku mau mengajak mu pergi ke Hypermart. Mungkin sekitar sehabis siang ini.”

“Uhmm,, mau tidak ya? Aku terlalu sibuk syuuuuutiiiingg nih. Hahahahaha” Gelak Tata dan membuat Oen geram.

“Horrghhhh, awas, aku jemput kamu pukul 2 nanti.”

“Okay, I’ll be waiting for ya handsome.” Manjanya.

“Muntah…” jawab Oen.

Setelah pembicaraan yang tidak begitu penting tadi, Oen kembali mengistirahatkan badannya di ranjang kesayangannya. Saat itu baru menunjukkan pukul 12.15 siang hari dan sangat panas. Oen pun tidak bisa menahan rasa kantuk yang begitu berat dan akhirnya ia terlelap.

###
«13456789

Komentar

  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    edited September 2013
    silahkan dinikmati dan dibaca,,,
    kesan dan komennya ditunggu...

    @Ricky89
    @Ozy_Permana
    @caetsith
    @pokemon
    @Syeoull
    @abang_jati
    @yan_to0
    @ramadhani_rizky
    @n0e_n0et

    juga teman2 lain yg sempat berkunjung ke sini ya...
    terima kasih sekali lgi
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    Terdengar suara ketukan pintu di kamar Oen. Membuat Oen terbangun dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Setelah membuka pintu kamar, ia mendapati Tata sedang menangis. Oen membesarkan matanya dan membenarkan letak wajahnya. Lol

    “Ada apa dengan wajah sembab mu? Kau kacau sekali.” Tanya Oen sambil merangkul pundak Tata dan menggiringnya untuk duduk di lantai bersenderan tepi ranjang.

    “Ilyas, Kak! Aku melihat dia berciuman dengan teman dekat ku. Aku baru saja dari taman depan untuk mencari makanan ringan, tapi setelah melihat itu, aku langsung pergi dan menuju  ke rumah kakak.”

    “Laki-laki atau perempu…”belum selesai ia melanjutkan kalimatnya, ia mendapatkan jitakan dan mata yang melotot besar.

    “pe-rem-pu-an!!!!” Tata kesal

    “Oh My Goodness. Kakak tidak tahu harus berkata apa. Kenapa kamu tidak menunggu ku di rumahmu saja?”

    “Aku bosan di rumah, Ibu dan Ayah sedang pergi ke rumah teman Ayah. Maka aku putuskan sendiri untuk ke rumah kakak.” Jawab Tata sambil sesenggukan.

    “Sudah. Cukuplah kau membuang air mata mu. Lupakan saja orang seperti itu, mungkin kamu akan menemukan orang lain yang lebih baik.” Oen berusaha bijak.

    Tata sudah tidak menangis lagi, sekarang ia sedang sibuk dengan tumpukkan buku-buku novel yang bertengger dengan indah di lemari khusus kumpulan buku-buku novel dan komik yang dikoleksi oleh Oen.

    “Hey, aku mendengar kabar bahwa para breakers yang biasanya latihan di depan kita akan diusir dari Museum.” Ucap Tata yang membuat Oen menjatuhkan beberapa buku di atas meja belajarnya.

    “Apa? Kenapa? Dari mana kamu mendapatkan beritanya? Bagaimana sekarang?” cecar Oen.

    “Uwoooowww, coba tenang lah sedikit. Begini, berita itu aku dapatkan dari seorang satpam yang biasa menjaga di sekitar Museum. Beliau menjelaskan bahwa ada beberapa anak breakers tersebut yang selalu ngebut-ngebutan. Dan itu membuat pihak museum sedikit terganggu. Jadilah isunya mereka akan diusir dari Museum.” Tata menjelaskan sambil melihat-lihat buku.

    “Oh ya? Memang mereka itu selalu begitu. Tidak melihat tempat, ketika ingin memacukan kendaraannya. Patut saja mereka mendapatkan sanksi dari pihak Museum. Iya kan?” Oen merasa sedikit pusing mendengar berita itu.

    “Ya, baiklah, sepertinya kita tidak perlu membahas mereka panjang lebar? Ayo kita pergi sekarang, selagi aku sudah bisa mengumpulkan semangat ku.” Ajak Tata berbinar.

    “Tunggu, I have to change my pant, first.”

    Setelah Oen menyelesaikan ritual berdandan yang membuat Tata muak. Lol. Mereka pun akhirnya pergi menggunakan mobil Oen.

    Sesampainya di tujuan, mereka memisahkan diri ketika masuk di Hypermart. Baru memasuki lorong yang akan Oen jelajahi bendanya, mata Oen tertuju pada satu sosok yang membuatnya belum pernah seperti ini, merasakan panas dingin, pusing, keringat dingin dan merasakan perutnya sedikit mual. Oen bukan bertemu dengan sosok makhluk astral, ia bertemu dengan makhluk ciptaan Tuhan yang begitu Indah bagi Oen.

    Belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya. Oen segera berbalik arah dan menuju lorong yang lain untuk mencari benda incaran selanjutnya. Sebenarnya itu adalah cara untuk mengalihkan rasa gugup yang berlebihan.

    Oen merasa jantungnya berdetak dengan kencang, sampai ia berusaha beberapa kali mencoba menarik nafas. Perasaan berkecamuk ini tidak bisa ia hilangkan, begitu mengerikan menurutnya. Selesai berkeliling, ia bertemu dengan Tata di salah satu lorong. Dan kemudian bersama-sama menuju kasir. Terdapat beberapa meja kasir namun hanya ada satu meja kasir yang cukup lengang dan di situ ada seseorang yang membuat Oen begitu pusing.

    Saat ini, Oen rasanya ingin sekali berbalik untuk meniti lorong kembali, tapi tangannya sudah ditarik oleh Tata menuju kasir itu, dan alhasil mereka antri dengan khidmat. Tata yang tidak menyadari kecanggungan Oen, bersikap biasa saja. Oen yang berusaha untuk tidak memandangi sosok itu tapi ia tidak bisa, ia menoleh kea rah sosok itu, dan sosok itu pun menyambut dengan senyum sejuta maut, yang membuat Oen langsung lemas.

    “Kenapa kak?” kata Tata yang mendengar Oen memekik kecil.

    “Tidak apa-apa. Ada semut.”Oen salah tingkah ketika dipandangi oleh sosok itu.

    Sosok itu kemudian mengambil barang belanjaanya dan segera berlalu menuju tempat lain, namun sebelumn ya ia sempat memalingkan wajahnya kea rah Oen dan tersenyum manis.

    “iiiiiggghhhhhhh!!!!!!! Senyumnya!!!!!” Oen memekik, membuat Tata tercengang dan membesarkan matanya.

    “Ada apa?! Kenapa kamu memekik tidak jelas?” Tata memandang ke segala arah.

    “Lihat, dia yang sedang berbicara dengan seorang petugas Mall, mengenakan kaos biru dengan lengan yang digulung dan bercelana pendek putih, dial ah yang berhasil membuat ku memekik.”

    “Astaga! Dia tampan sekali. Kalian saling kenal?”

    “Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan baru saja bertemu saat ini, di sini.” Jelas Oen sambil berbisik dan sesekali melirik kea rah sosok tampan yang belum juga beranjak dari tempatnya.

    “Ya sudah biarkan dia. Kita tidak perlu membuat gerak-gerik yang mencurigakan. Dia akan merasa aneh jika terus diperhatikan. Sekarang kita ke mana?” Tata membenarkan letak barang-barang yang sudah dibelinya.

    “Kita lebih baik bersantai di salah satu food court, lalu kita pulang. Aku benar-benar sangat haus akan cinta. Hahahahaha.” Oen mulai meracau aneh dan disambut dengan pukulan di kepala Oen.

    “Sudah cukup kau menyakiti hatimu sendiri.” Tegas Tata.

    Setelah memesan beberapa kue dan minuman yang ada di food court, mereka menyantap hidangan yang ada di depan mereka dengan begitu lahap. Tata sempat menatap jauh seseorang dan berkata dengan sedikit berbisik.

    “Bukankah dia yang tersenyum kepada kita tadi?” Tata menunjuk salah seseorang nun jauh di sana. Cukup jauh pula bagi orang itu, untuk bisa menemukan Tata dan Oen di tengah-tengah orang yang begitu banyak.

    Cukup lama mereka bersantai di sana, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Sudah terlalu lelah melihat begitu banyak pasangan muda-mudi yang bisa merusak mata. Itu hanya bagi Oen. Lol.

    ###

  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    Hari ini adalah hari jumat, akhir pekan yang begitu sibuk. Karena mereka akan melakukan pentas di beberapa event besar di daerahnya. Oen telah siap dengan beberapa materi yang akan disampaikan kepada teman-teman penari nanti.

    Sesampai di museum, Oen bersama Tina langsung menyiapkan beberapa peralatan untuk latihan seperti kabel dan Speaker. Beberapa menit kemudian, para penari sudah berkumpul dan mereka pun segera melakukan pemanasan dan Olah tubuh. Semakin sore, suasana Museum semakin riuh dengan semakin banyaknya berbagai kelompok yang berdatangan untuk berlatih. Tak terkecuali para brekaers yang selalu latihan di pelataran depan.

    Blaine dan Oen tetap menjalin pertemanan, apapun itu Oen tidak akan melibatkan lagi masalah perasaannya dalam pertemanan. Bagi Oen berteman dengan Blaine sudah begitu menyenangkan. Lol. Meski ia bersyukur pernah menempati ruang hati Blaine dengan segala kegilaan yang dia punya.

    Oen dan teman-teman sedang beristirahat dan berkumpul di depan pelataran sambil bercengkrama. Tata yang sibuk dengan tugasnya sebagai sekretaris, sedang mendata anggota yang hadir. Tiba-tiba Tata berteriak dengan keras memanggil nama Oen.

    “Kak Ow!!!!! Astaga!!!” Tata berteriak dari kejauhan.

    “Ada apa Ta?” Oen langsung mendatangi Tata dengan berlari kecil.

    “Tuh!” Tata menunjuk kea rah sesuatu.

    “Astaga! Dia!” Oen langsung membalikkan badannya, berharap sosok tampan yang pernah ia temui di Mall itu tidak melihatnya.

    “Kak? Dia berjalan kea rah sini. Astaga!” Tata berdesis hampir berteriak.

    “Hai…?” Seseorang menyentuh pundak Oen.

    “I……ii…..yaaaa?” Oen tergagap dengan sempurna.

    “Kalian latihan di sini juga?” Tanya sosok itu.

    “Ya, kami latihan di sini. Kau jarang terlihat, apa kau anggota baru breakers?” Tata dengan begitu lancar bertanya tanpa basa basi. Oen hanya menjadi pendengar setia dengan wajah yang merona merah.

    “Bukan, aku memang anggota breakers di depan sana. Beberapa bulan ini aku sedang sibuk dengan urusan perkuliahan. By the way, perkenalkan nama ku Anjas.” Anjas mengulurkan tangannya kea rah Oen.

    “Oen…” Jawabnya dengan nada yang hampir tak terdengar.

    “Siapa Tadi?” Anjas mendekatkan wajahnya kea rah Oen. Membuat Oen tergagap kembali.

    “O…Oeennn.” Sahut Oen dengan wajah yang terasa sedikit panas.

    “Oaaahh,, kalau nona cantik ini?” Anjas menjabat tangan Tata.

    “Aku Tata yang selalu cantik jelita.” Jawab Tata bersemangat.

    “Dasar wanita Genit..” Oen mencubit pinggang Tata.

    “Biarin…” Sahut Tata berbisik.

    “Okay, saatnya aku untuk latihan. See you.” Anjas beranjak dari hadapan Oen dan Tata.

    Oen langsung kembali ke meja di mana laptopnya berada, dan menelungkupkan kepalanya. Oen merasa sedikit pusing akibat perkenalan sesaatnya tadi. Tata yang melihat hal itu hanya bisa tertawa dan menatap heran dengan kelakuan Oen yang sedikit berlebihan.

    Mereka kembali latihan setelah beberapa menit beristirahat. Mereka menari dengan khidmat, sampai-sampai Oen kembali tidak memperhatikan bahwa ada dua pasang mata yang memperhatikannya, siapa lagi kalau bukan Blaine dan Anjas. Anjas begitu terpukau dengan kelincahan Oen menari. Entah apa yang ada dipikiran Anjas, tapi Anjas memang benar-benar menikmati sajian tarian yang ditampilkan Oen dan kawan-kawan. Blaine tetap dengan senyumnya yang menawan, menonton Oen dan teman-teman menari.

    Sampai pada suatu saat, ketika Oen memimpin teman-teman yang lain berlatih, Anjas dengan sengaja duduk tepat di depan Oen, sambil menatap Oen dengan seksama. Oen masih membelakangi para breakers. Sedangkan teman-teman Oen bertingkah aneh dengan raut wajah tersenyum yang tidak jelas. Ini membuat Oen menjadi bingung dan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi.

    Melihat gelagat tidak benar yang terjadi di belakang Oen, dengan melihat arah pandangan teman-teman yang ada di hadapan Oen, maka ia segera berbalik dan mendapati seekor anak kucing sedang duduk manis di dekat kakinya yang sedang berdiri. Lol.

     Dia Anjas, yang membuat teman-teman yang lain tersenyum tidak jelas. Anjas duduk di lantai tepat di belakang Oen. Posisi Oen sendiri berada tepat membelakangi dari lantai Anjas dan kawan-kawan berlatih, sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di belakangnya. Setelah menyadari sosok “kitty eyes” yang sedang bersimpuh di dekat kakinya. Oen langsung menggeser tempat berdirinya sekarang.

    “Astaga!! Apa yang kau lakukan di sini?” Oen sedikit melangkah mundur.

    “Tidak ada. Aku hanya sedang memperhatikan kalian latihan. Bagus.” Anjas memuji dengan mengedipkan salah satu matanya, dan itu membuat para penari menjerit tertahan.

    “Hoorrghhh, sepertinya tidak harus sampai seperti itu. Kau merusak konsentrasi mereka.” Oen menggerutu.

    “Lucu ya.” Anjas terkekeh. Ketika Oen melihat itu, Oen merasa ada yang terbang di dalam perutnya. Oen berkata di dalam hatinya bahwa Anjas terlihat sangat manis kalau seperti itu.

    “Apanya yang lucu? Lebih baik kamu lanjutkan latihannya. Dasar menyebalkan.” Oen menggembungkan pipinya dan itu membuat Anjas tertawa dan menggapai pipi Oen untuk dicubit.

    “Aww, sakit… Beraninya kamu mencubit pipi ku!!” Oen langsung berlalu sambil memegang pipinya yang memerah.

    Anjas langsung tergelak dan kembali ke barisan teman-temannya untuk melanjutkan latihannya yang ia sengaja tunda untuk menjahili Oen. Blaine dan teman-teman yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

    Anjas memang tipe anak yang begitu terang-terangan mengekspresikan sesuatu. Ini terkadang membuat orang-orang yang ada di dekatnya bisa merasa senang bahkan kesal sekaligus. Lol. Dan sekaligus membuat orang-orang berpikiran aneh.

    “Haduuh, berani sekali dia mencubit pipi ku!” Oen masih menggerutu sendiri.

    “Sudah lah kak, terima saja. Itu hasil kejahilan anak tampan di daerah sini.” Sahut Tina, terkekeh.

    “Iya, menggerutu mu itu seperti membuang waktu. Padahal kau menikmatinya kan?” Tata menambahkan dan langsung berlari.

    “APA! Dasar kaau Tata genit!! Itu fitnah!” Oen langsung menghentak-hentakkan kakinya di lantai.

    Hari ini berlangsung begitu saja, dengan berbagai macam-macam kekonyolan yang terjadi secara spontan. Terkadang Anjas menari tidak jelas di depan teman-teman yang lainnya hanya karena mengikuti irama dari musik tari yang Oen perdengarkan.

     Tiga jam berlalu latihan yang begitu padat untuk persiapan penampilan di sebuah acara. Para penari pun sudah bersiap-siap pulang dan merapikan segala peralatan yang telah mereka gunakan.

     Oen segera mengambil jaket yang ia simpan di dalam loker dan segera menuju motor yang ia parkirkan di dekat deretan motor anak-anak breakers. Belum sampai ia bergerak menjauh dari loker, sesaat membalikkan badan ia menabrak tubuh seseorang.

    “Aduh, maaf…” Oen mendongak dan melotot. “Blaine…”

    “Hahaha, aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

    “Apa itu?” Oen sedikit penasaran.

    “Kau hari ini benar-benar memukau…” Kata Blaine.

    “Ahhh, sudahlah jangan lagi membuatku merasa aneh. Sudah pergi sana, mereka sedang memperhatikan kita.” Oen sedikit risih.

    “Hahaha, biarkan mereka. Aku sedang kangen dengan mu.” Blaine berdiri di samping Oen.

    “Sudahlah, jangan menggombal. Ini sudah hampir senja. Nanti bisa saja hujan turun.” Oen terkekeh.

    “Aku masih suka dengan tawa mu.” Blaine berujar.

    “Hah?” Oen melotot dan membulatkan bibirnya.

    “Ya sudah, Aku ngumpul dulu ya. See you.” Blaine berlalu setelah mencolek dagu Oen.

    Oen hanya bisa tersenyum tipis melihatnya. Di kejauhan sana, terlihat Anjas yang sedang memperhatikan Oen dan Blaine yang asyik berbincang. Anjas sedikit merasa iri. Entah apa yang dirasakan oleh Anjas, ia merasa sedikit kagum atau entah apa itu namanya dan yang pasti ia merasa ada sesuatu yang terbang di dalam perutnya.

    Anjas sebenarnya ingin mendekati Oen sebelum ia pulang tapi sudah didahului oleh Blaine, dan ia mengurungkan niatnya. Mungkin besok ia akan mencoba untuk berbicara dengan Oen.

    ###

  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    Seperti biasa sesampainya di rumah Oen segera mandi untuk menyegarkan badannya. Selesai dari membersihkan diri Oen segera turun dari lantai dua menuju meja makan. Tapi ia melihat seseorang di depan rumahnya. Seseorang itu sedang duduk di teras depan rumah Oen. Karena rasa penasaran Oen keluar dan mendapati Anjas.

     “Anjas?” Oen terheran-heran.

     “Oh, aku pikir kau akan lama. Hampir saja aku memutuskan untuk pulang.” Anjas berdiri dan terlihat kikuk.

     “Ya sudah, silahkan masuk dulu. Siapa yang membukakan kamu pintu?” Oen bertanya sambil memegang perutnya.

     “Ibu mu, beliau tadi berpesan untuk menunggu mu di teras dan beliau sedang pergi ke rumah tetangga.”

     “Baiklah. Silahkan duduk dulu. Aku mau ke dalam sebentar.” Oen mempersilahkan Anjas duduk di ruang tamu.

     “Okay..”

     Oen segera berlari ke dapur dan bersandar di dinding.

     “Astaga, dari mana dia bisa tahu rumah ku? Apakah Blaine yang memberi tahunya? Ada apa sebenarnya ini?”

     Oen segera menyiapkan minuman dingin untuk Anjas. Kedatangan Anjas begitu membuat Oen sedikit terkejut. Karena baru kali ini orang yang ia kenal bertamu ke rumahnya. Biasanya ia akan membawa seseorang ke rumahnya jika memang menurutnya sudah cukup akrab dan lumayan lama mengenalnya.

     Oen kembali ke ruang tamu dan mendapati Anjas tertidur. Oen kebingungan dengan keadaan ini. Setelah meletakkan cangkir minuman. Oen hanya bisa memandangai makhluk Tuhan yang ada di hadapannya ini.

     Satu kata yang pantas untuk menggambarkannya, Indah. Ya, Oen terkagum-kagum dengan perpaduan arab yang ada di wajah Anjas. Anjas adalah Zayn Malik yang tertunda. Lol. Oen sendiri begitu mengidolakan Zayn, dan sekarang ia seperti bertemu dengan sosok Zayn.

     Beberapa saat tidak ada tanda-tanda bahwa Anjas akan bangun, Oen memberanikan dirinya menyentuh lutut Anjas, ia sepertinya tidak bergeming dengan sentuhan Oen. Kemudian Oen mencoba untuk menyentuh lengan  Anjas, tapi hanya hembusan nafas berat yang didapati oleh Oen.

     Oen bimbang, apakah ia harus menyentuh wajah Anjas untuk membangunkannya. Anjas begitu nyaman tertidur dengan posisi kepala sedikit mendongak dan tubuhnya bersandar dengan kuat.

     Tangan Oen mendekat dan menyentuh pipi Anjas, sentuhan pertama Anjas tidak merespon, sentuhan kedua Anjas memalingkan wajahnya ke arah tangan Oen, tapi ia tidak membuka matanya. Anjas terlihat seperti menikmati elusan di wajahnya dengan menaik-turunkan wajahnya di tangan Oen. Ketika Oen merasakan keanehan yang begitu nyata, Oen langsung mengangkat tangannya dan di tahan oleh tangan Anjas.

     Mata Anjas terbuka.

     “Jangan jauhkan tangan lembutmu dari wajahku. Lakukan seperti tadi.”

     Oen hanya bisa terdiam dan mengikuti kehendak Anjas, yang kembali meletakkan tangan Oen di pipi kanannya.

     “Tanganmu lembut sekali. Aku suka. Harum.” Anjas mencium tangan Oen dan Oen refleks menarik tangannya.

     “Anjas, kau sedang meracau.”

     “Stttt, jangan bicara, aku benar-benar merasa aneh sekarang.” Anjas mendekat dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Oen.

     “Ya kau benar-benar aneh. Kau belum pulang ke rumah sejak latihan tadi. Kau mengikuti ku Anjas?” Oen bertanya.

     “Kau tak perlu tahu. Aku hanya ingin melihat mu dari dekat.”

     “Anjas kau kenapa?” Oen merasa sedikit khawatir dengan anak laki-laki ini.

     “Biarkan aku tidur sebentar.” Anjas beranjak dari tempatnya dan bergeser lebih dekat kea rah Oen dan meletakkan kepalanya di atas paha Oen. Oen pun terlonjak tapi tidak sempat menghindar karena sudah terbebani dengan berat kepala Anjas.

     Untung saja ibu Oen sedang tidak ada di rumah, bisa saja ia akan menanyai Oen macam-macam.

     Anjas begitu nyenyak, sepertinya memang terlihat kelelahan. Oen memberanikan diri mengelus rambut Anjas. Beberapa menit kemudian Oen merasa kakinya mati rasa, dan perlahan memindahkan kepala Anjas dari pahanya. Tepat setelah menurunkan kepala Anjas, Ibu Oen datang dan melihatnya.

     “Oen, temanmu tertidur. Kenapa kamu biarkan saja di sini. Lebih baik kau pindahkan dia ke kamar mu” Ibu Oen memberikan saran yang membuat Oen pusing.

     “Iya bu, nanti akan aku bopong dia.”

     “Ya, Ibu akan siapkan makan malam, sekarang ajak dia pindah ke kamar kamu dulu.”

     “Iya bu.”

     Oen kebingungan, bagaimana cara ia memindahkan pria di depannya ini. Badannya memang lebih kurus tapi dia lebih besar dan tinggi. Oen menggoyang tubuh Anjas, dan matanya pun terbuka.

     “Anjas kau bisa menginap di kamar ku. Ibu ku yang menyuruhmu. Kau sepertinya kelelahan.”

     “Apakah boleh?” Tanya Anjas kembali.

     “Ya, ayo kita segera pindah ke kamar ku. Kau bersihkan badan mu dan bersiap untuk makan malam bersama.”

     “Sepertinya aku akan merepotkan. Aku pulang saja.” Anjas hendak beranjak tapi Ibu Oen melihatnya.
     “Anjas, kau bisa menginap di sini sampai besok. Kebetulan kan kamu bisa menemani Oen .”

     “Maafkan saya. Mungkin saya akan merepotkan.” Anjas tertunduk.

     “Tidak apa-apa, Ibu tidak merasa kerepotan. Sudah, kalian ke kamar, dan setelah itu turun untuk makan malam.”

     “Baik bu,” Jawab Anjas dan Oen berbarengan.

     Oen berjalan di depan Anjas. Saat itu Anjas tidak berkata apapun. Ia hanya mengikuti Oen dari belakang. Setelah sampai di kamar Oen. Anjas kemudian meminta ijin untuk mandi. Anjas sama sekali tidak ada persiapan, ia tidak membawa baju atau pun pakaian lainnya yang digunakan untuk menginap. Sehingga Anjas terpaksa menggunakan pakaian Oen.

     Oen dengan sabar menunggu Anjas yang sedang mandi. Tanpa disadari Oen, telah ada seseorang yang berdiri di belakang Oen. Karena pada saat itu, ia sedang berada di meja belajarnya. Sedangkan kamar mandi terletak di sisi lain kamar. Oen bergidik dan membalikkan badannya, tepat setelah itu wajah Oen bertemu dengan wajah Anjas dan hanya beberapa senti. Oen tidak bernafas, ia merasa nafasnya tercekat dengan sangat kuat. Anjas yang dengan sigap menangkap wajah Oen, yang hendak ia mundurkan.

     Oen sendiri kembali teringat dengan kejadian bersama Blaine dulu. Meski tempat dan suasananya sangat-sangat berbeda. Tapi seperti inilah kecanggungan yang terjadi. Oen merasa sedikit ngeri dengan apa yang dilakukan Anjas. Tidak tahukah dia bahwa yang dihadapannya sekarang ini bisa saja melahap Anjas dengan beringas. Tidak tahukah Anjas bahwa Oen memiliki perbedaan yang sangat mencolok.

     Tidak takutkah Anjas dengan keadaan seperti ini. Tetapi Anjas sepertinya begitu menikmati keadaan ini.

     “Kau harum. Harum sekali aku suka.” Anjas menelusupkan wajahnya di antara leher Oen.

     “uuuu----uuuugghhhhh… jangan.” Oen mendesah tertahan, ia ingin berontak.

     “Aku suka melihat kamu seperti ini.” Menahan semuanya.

     “Anjas!! Cukup. Jangan lakukan!!!” Oen mendorong keras Anjas dengan keras. Membuat Anjas hampir terjengkang ke belakang.

     “Aaku….”

     Oen berlalu dan tidak menatap Anjas sedikitpun.

     “Cepat berpakaian, dan segera turun untuk makan malam.” Nada bicara Oen tegas dan sedikit geram.

     “Iya… Maafkan aku.” Anjas memelankan suaranya. Ia hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan gusar.

     Oen sendiri merasakan kegalauan. Mungkin lebih tepatnya sedikit marah. Beraninya Anjas yang baru ia kenal, dan sekarang menginap di rumahnya, tanpa diduga-duga. Kemudian mencoba mempermainkan perasaan Oen dengan hampir sukses.

     Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah ia kenal melakukan hubungan intim dengan sangat berani. Merendahkan harga diri Oen. Meski hanya berdua.

     Oen segera menuju meja makan dan menunggu Anjas turun. Sesaat kemudian Anjas terlihat dengan wajah sedikit bersalah. Mungkin sangat-sangat bersalah, terlihat begitu kacau sekali.

     “Silahkan disantap makanannya nak Anjas.”

     Oen hanya diam saja, Ibu Oen pun tidak begitu menggubris. Beliau hanya berlalu setelah menyiapkan makan malam untuk kedua anak tersebut.

     Selesai makan, Oen merapikan meja makan dan segera berlalu menuju kamarnya.

     Oen langsung duduk di meja belajarnya dan mengerjakan beberapa tugas kuliah untuk dikumpulkan besoknya. Terdengar suara pintu kamar yang dibuka dan Anjas pun segera mengambil posisi untuk menendang bola. Lol. Anjas duduk di sisi ranjang menghadap punggung Oen.

     “Own?” Anjas memulai menyapa.

     “…” tidak ada jawaban.

     “Aku tahu aku salah, maafkan aku lancang dengan mu. Sebagai orang yang baru kau kenal, aku memang kurang ajar. Oen katakan sesuatu.” Anjas memelankan suaranya, bahkan terdengar lirih. Rasa bersalah yang begitu besar tidak bisa ia tahan lagi.

     “…”

     “Oen bicaralah, aku mohon. Maafkan aku.”

     “…”

     “Baiklah, mungkin kau memang butuh waktu untuk sendiri. Maafkan aku mengganggu mu.”

     “…”

     “Terima kasih untuk tadi, sampaikan salam ku kepada ibumu.” Anjas beranjak dari ranjang, dan segera mengambil tasnya.

     Belum sempat ia membuka pintu. Anjas merasakan Oen berbalik menghadapnya. Anjas masih memunggungi Oen. Anjas menghadap pintu kamar.

     “Katakan sesuatu.” Anjas kembali memohon.

     “…”

     “Baiklah, sampai jumpa.”

     “Tinggallah, istirahat saja dulu. Bukan maksudku mengusirmu. Aku terima permintaan maaf mu.”

     “Tidak, lebih baik aku pulang saja.” Anjas melangkah.

     “Jangan. Menginaplah. Aku tahu kau kelelahan. Istirahatlah di sini. Besok pagi kau bisa pulang.” Oen menangkap tangan kiri Anjas dengan erat.

     Tanpa Oen ketahui Anjas tersenyum tipis. Anjas merasa bahagia sekaligus senang, bahwa Oen membutuhkannya.

     Anjas berbalik dan melangkah maju kea rah Oen. Oen terpaksa mundur.

     “Stop! Jangan maju lagi! Selangkah lagi kau mendekat seperti itu, maka Kursi ini akan melayang.” Oen mengancam.

     “hahahahaha Lucu sekali wajah ketakutan mu. Baiklah aku tak akan memperkosa mu, meski aku ingin.” Anjas mengedipkan matanya.

     “APA!!!!! Kurang ajar, dikasih hati malah minta jantung!” Oen merajuk dan segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Oen mengijinkan Anjas tidur di lantai dengan kasur seadanya.

     Anjas yang terbiasa tidur tanpa baju, kemudian dengan leluasa melepaskan pakaian yang ia kenakan. Oen melotot dan segera memalingkan wajahnya.

     “Hey, jika kau ingin memandanginya silahkan.”
    Anjas tertawa kecil.

     Tidak ada jawaban dari Oen. Karena sejak tadi Oen hanya merasakan jantungnya berdegup terlalu kencang.

     Anjas sudah merebahkan dirinya di atas kasur gelar yang diberikan oleh Oen. Mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lain setelah kejadian canggung tadi. Sampai akhirnya Oen terlelap.

    ###
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    edited September 2013
     Pagi sudah beranjak dari peraduannya. Cahaya matahari begitu menyilaukan. Oen terbangun dari lelapnya, dan mendapati dirinya dengan posisi tidak wajar. Oen merasakan bagian punggunya terasa sesak dan tertahan sesuatu. Oen langsung tersadar bahwa ada tangan yang menggantung di antara pinggangnya dan sebongkah kaki yang menindih kaki kirinya. Oen langsung menebak bahwa kemarin malam pada saat terlelap Anjas beranjak dari tempatnya dan tidur di sebelah Oen.

     Karena kesal dengan kelakuan Anjas, Oen langsung melayangkan bantal yang ada di sampingnya ke wajah Anjas. Anjas yang saat itu masih terlelap hanya bisa melenguh.

     “Ughhh, kucing.”

     “Harrghhhh.”

     Oen kembali menyerang Anjas dengan bantalnya. Sampai akhirnya Anjas terperanjat dan terduduk di ranjang Oen. Setelah mungkin tersadar dari jetlag nya. Anjas memalingkan wajahnya ke Oen dan menyeringai tidak jelas.

     Anjas langsung meraih pinggang Oen dan memberikan serangan seribu gelitikan. Oen merasa kegelian dan memohon untuk tidak melanjutkan lagi. Anjas terlihat sangat senang dengan itu. Ia merasa sudah bisa mengakrabkan dirinya dengan Oen.

     Setelah kegiatan melelahkan, Anjas pamit untuk pulang, kembali ke kos yang ia tempati. Tak cukup jauh dari rumah Oen, mungkin sekitar 500 meter. Tapi lumayan untuk berjalan kaki.

     Setelah sarapan pagi mereka berpisah. Hari ini adalah hari Sabtu dan mereka akan bertemu di Museum kembali untuk latihan.

    ###

     “Halo kak?” Tata menyapa di seberang sana.

     “Iya… Ada apa dek?” Oen yang sedang merapikan meja belajarnya.

     “Temani aku ke Mall. Aku ingin membeli roti di sana.”

     “Baiklah tunggu 10 menit lagi.”

     “Okay…”

     Oen segera mengganti pakaian dan menyiapkan kendaraannya. Ia tidak menggunakan mobilnya karena cuaca saat ini memang teduh, sedikit mendung tepatnya.

     “Hari ini kita akan latihan sendratari kembali.” Tata memulai pembicaraan.

     “Okay, We are ready for performing in The USA!!!”

     “Yup, materi sudah kakak berikan kemarin telah disampaikan dengan jelas. Penari sudah bisa mengambil beberapa bagian, serta koreo yang kakak berikan sudah beberapa diajarkan.”

     “Baguslah, Semoga selesai sampai waktunya.”

     “Kak?”

     “Ya…” Oen menatap heran Tata, karena nada suaranya tidak biasa. Sambil menyusuri Mall dan melihat-lihat beberapa toko.

     “Siapa yang kemarin malam di rumah mu?” Tata menyelidik.

     “WHAT! Kau?” Oen tersedak dan batuk-batuk.

     “Hahahaha iya. Kemarin malam aku ke rumah kakak. Sepertinya kalian sehabis makan malam. Aku mengantarkan kue untuk Ibu mu. Kau tidak melihat aku datang, kau sepertinya sudah berada di lantai dua.” Tata menghentikan pembicaraan karena handphone nya berdering.

     “Aku bertemu dengan seseorang yang sepertinya aku pernah lihat. Tapi aku lupa itu di mana.”

     “Oh ya? Mungkin perasaan mu saja.” Oen bingung harus berkata apa.

     “Ibu bilang itu teman mu. Dan ia akan menginap!! Oh  My Goodness… bagaimana bisa makhluk Tuhan paling seksi itu berada di rumah mu!!!!” Tata histeris dan menjadi pusat perhatian beberapa penjaga counter.

     “SSttt pelankan suara mu. Nanti kau akan tahu sendiri siapa dia. Ayo cepat. Kita pulang sebentar lagi kita akan kembali ke museum untuk latihan.”

     “Okay, jangan lama untuk menahan ceritanya. Aku pe-na-sa-ran.”Tata menekankan pada kata tersebut.

     “ya… ya…” Oen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

     Satu jam ber ada di Mall tersebut membuat kaki Oen sedikit keram. Sesampai drum ahah, Oen langsung merapikan belanjaannya dan segera mandi kemudian berangkat ke Museum.

    ###

  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
     Sekarang sudah menunjukkan  pukul 3 sore. Oen sudah siap sedia menunggu penari-penari lain berdatangan. Selagi sedang asyik mengatur daftar lagu yang akan dimainkan. Oen dikejutkan oleh kedatangan Blaine.

     “Sore Oen…”

     “Sore juga Blaine… Tidak biasanya seorang Blaine datang lebih cepat?”

     “Tidak bolehkah aku datang lebih cepat?”

     “Boleh, tapi itu tidak biasa.” Jawab Oen sambil mengotak-atik laptop nya.

     “Uhm, Aku ke sana dulu. Kau tunggu lah pangeran mu datang sebentar lagi.”

     “What?! Pangeran, ieeuuhh.” Oen mendongakkan kepalanya dan memperagakan seolah-olah dirinya akan muntah.

     “Hahahahaha…” Blaine tertawa sambil berlalu.

     Oen yang mendengar itu terasa mual. Ia teringat dengan kejadian kemarin malam di rumahnya. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepala Oen.

     Secara tidak sadar Oen kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Namun seseorang kemudian menyapanya dan membuat Oen terkesiap.

     “Kenapa kamu?”

     “Haaaahhhhh!!!! Oh My Goodness..! I thought that you were a ghost.” Oen meracau. Anjas dengan begitu gagahnya berdiri di depan Oen. Tampan. Itulah kata yang bisa menggambarkan dirinya saat ini.

     Dengan tatanan rambut yang Anjas rapikan kea rah kanan dan rambutnya sedikit basah, membuat Oen harus menahan diri agar tidak menggerakkan tangannya merapikan beberapa helai rambut yang jatuh tepat di dahi Anjas.

     “Ada apa kau memandangi ku seperti itu? Apa aku terlihat sangat tampan.” Anjas merapikan rambut yang berjatuhan di wajahnya.

     “Hahahahahaha. Sinting.” Oen mengibaskan tangannya yang ditangkap oleh Anjas.

     “Sekali lagi aku meminta maaf atas kelancangan ku kemarin malam. Terima kasih atas semuanya.”

     “Ya, aku sudah memaafkan mu dan lepaskan tangan ku sebelum seseorang….” Kata-kata Oen terputus karena ada seorang datang dan berdehem.

     “Ehem, Check!!” Tata berdehem nyaring.

     Oen dengan cepat menghempaskan tangan Anjas, tapi tidak berhasil lepas. Melihat itu Tata langsung bertindak.

     “Ka Anjas… lepasin dong tangan Oen. Mau berapa lama lagi kau menggenggamnya.” Tata mendekati Anjas dengan mata yang begitu genit. Anjas terlihat bergidik dan segera berlari.

     “Hahahahaha.lol. Dasar wanita penggoda. Menggoda seperti itu bukannya orang akan tertarik mendekat, tapi tertarik untuk lari.” Oen masih terbahak.

     “Habisnya dia betah sekali menggenggam tangan mu. Seharusnya tanganku lah yang harusnya ia genggam.”

     “Shit! What are you talking about?” Oen menatap heran dengan Tata. Percaya diri sekali wanita satu ini.

     “Hahaha. Aku serius Oen. Tapi jika dilihat-lihat ia sepertinya sedang suka dengan mu?”

     “Cukup! Jangan bahas masalah jatuh cinta atau apapun. Dia memang tampan, tapi dia belum bisa meruntuhkan benteng pertahanan ku.”

     “Ya, mungkin saja nanti dia akan menembakmu dengan cara yang sedikit gila.”

     “Simpan saja khayalan mu itu ki sanak.” Oen terkekeh.

     “Aku akan pimpin pemanasan dulu. Kau curang karena sudah melakukan pemanasan terlebih dahulu.” Gelak Tata sambil berlari menjauh kea rah pelataran depan.

     “Dasar stress!”

     Oen kembali berkonsentrasi dengan susunan lagu yang akan dimainkan. Dan kebetulan hari ini mereka harus berlatih ekstra karena sendratari yang Oen garap harus segera rampung dalam waktu dekat.

     Para penari lain sudah dalam barisan dan seperti biasa Oen mengarahkan penari untuk mempelajari beberapa gerakan ragam tari baru yang akan dibawakan dalam sendratari.

     Penari lain berusaha menyimak dengan serius. Tapi Oen sesekali mendapat gangguan yang benar-benar membuatnya sedikit terganggu. Posisi Oen sekarang adalah berada ditengah-tengan para penari. Oen sedang duduk menghadap pelataran yang biasa digunakan oleh para breakers. Sedangkan penari membentuk setengah lingkaran dengan dua shaf menghadap Oen. Sesekali Oen melihat kea rah brekaers dan saat itu pula Anjas mengedipkan matanya.

     Berulang kali kejadian itu berlangsung, Oen yang tidak tahan dengan kelakuan Anjas, dilemparlah sandal yang ada di dekat Oen, dan mengenai kaki Anjas. Anjas hanya menjerit sedikit dan kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Penari yang lain sontak melihat kea rah para breakers.

     “Sudah,, jangan melihat kea rah sana, perhatikan kembali Kakak memperagakan gerakan selanjutnya.” Oen sedikit tegas. Membuat penari lain langsung mengarahkan pandangan kembali ke Oen.

     Latihan berlangsung selama 1 jam dan selama itu Oen merasa sedikit bebas karena tidak ada gangguan dari Anjas. Hanya terkadang Anjas yang jahil, ia duduk dengan sengaja memperhatikan Oen melatih penari lain. Itu membuat Oen harus mengejar Anjas karena konsentrasinya pecah terberai ke segala arah.

     Saat ini sedang istirahat, para breakers pun sedang beristirahat pula. Oen yang duduk dipelataran sendirian, diambil kesempatan oleh Anjas untuk mendekatinya dan berbincang sedikit.

     “Hai, manis. Kenapa sendirian?”

     “Hah? Sepertinya ada yang berbicara?” Oen memalingkan wajahnya ke segala arah. Berpura-pura untuk tidak melihat.

     “Hei, aku di sini.” Anjas memalingkan wajah Oen dengan tangan kanannya.

     “Isshhh, jangan sentuh!” Oen menepis tangan Anjas.

     “Cieeeeee,, Sepertinya ada yang sedang bermesraan. Sepertinya kita hanya menganggu saja.” Sorak Tina, Rina, dan Tata

     “Berisik kalian…!”

     “Ampun kakak…” Sahut Tata sambil tergelak.

     “Sudah sana kalian, biar aku dan Oen bermesraan selagi istirahat.” Anjas menggeser tubuhnya mendekat ke Oen.

     “Iyeeeeee!!! Kakak!!!!! Kyaaaaaa!!!!!” Tina jejeritan tidak jelas sambil berguling-guling.

     “Berisik kalian!!!” Oen geram. “Dan kau, pergi sana dengan teman-teman mu. Kenapa kau malah duduk dengan ku.”

     “Oh, aku tidak akan meninggalkanmu tuan putri. Aku terpesona dengan kecantikan mu.”

     “Kamu sepertinya sudah gila.”

     “Iya aku tergila-gila dengan kecantikan mu.”

     “Aku bukan cantik!!!!!!!!!” Oen memukul kepala Anjas tapi tidak keras. Memukul dengan pukulan cinta. Lol.

     “Aww,, sakit sayang.” Anjas bermanja-manja.

     Oen langsung beranjak dari tempat duduknya mengambil air minum. Kemudian ia kembali duduk di samping Anjas. Oen menumpahkan sedikit air yang ada di dalam botol minuman itu lalu mencipratkannya ke wajah Anjas.

     “Kau sedang kerasukan.”

     “hahahahaha Aku kerasukan cinta mu!!!” Anjas berteriak dan semua mata mengarah kepada mereka.

     “SINTING!”

     Oen segera mengomando penari-penari untuk berkumpul dan kemudian melanjutkan latihan yang tertunda karena istirahat. Oen tidak menghiraukan panggilan Anjas yang meminta maaf.

     “Kak sepertinya kau harus mendengarkan dia. Kasihan sekali dia.” Rina berujar.

     “Baiklaaahhh,” Oen dengan malas-malasan mendekati Anjas yang berdiri di pembatas antara tempat mereka berdua latihan.

     “Maafkan aku tadi. Aaku hanya ingin bercanda.”

     “Iya. Tapi candaan mu itu terlalu mengada-ada. Dan itu membuat mereka semua menjadi aneh.”

     “Baiklah, maafkan aku sekali lagi.” Anjas mengulurkan tangan.

     “Kau sepertinya tidak pernah menyesal berbuat salah, dan tidak pernah bosan pula untuk meminta maaf.” Oen menyambut jabatan tangan Anjas. Tapi itu tidak seperti yang Oen harapkan. Anjas menarik tangan Oen, otomatis tubuh Oen terdorong kea rah Anjas, dan Anjas memanfaatkan itu untuk memeluk Oen.

     “Kyaaaaaa!!!!!” Tina dan Tata menjerit dengan histeris dan heboh, sampai tiang-tiang penyangga gedung terangkat. Lol.

     “Kamu selalu harum.”

     “GILA!” Oen mendorong Anjas.

     Anjas hanya bisa tertawa dengan lepas melihat wajah Oen yang memerah akibat perlakuannya.

     Oen langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak penari. Mereka begitu penasaran dengan kedekatan yang terjadi antara Anjas dan Oen. Sepengetahuan mereka Oen dan Anjas tidak pernah mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa mereka bisa dekat dan bahkan terlihat akrab, sedangkan mereka saja baru kenal.

     Mungkin jika mereka tahu bahwa Anjas sudah pernah menginap di rumah Oen, karena Anjas menguntit Oen sepulang latihan kemarin jumat, itu bisa saja menggemparkan seluruh penghuni museum, bahkan patung-patung pun ikut terkejut. Lol

     “Kakak pernah kenal sebelumnya dengan Anjas?”Tanya Tina penasaran.

     “Belum.”

     “Kenapa kakak bisa begitu akrab dengan Anjas?  Sedangkan Anjas baru kenal dengan kakak? Begitu sebaliknya?” Tanya Rina.

  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
     “Mungkin karena kejahilannya jadi terlihat akrab, padahal tidak?”

     “Menurut kakak Anjas itu tampan atau tidak?” Tina mengeluarkan pertanyaan yang membuat Oen melotot.

     “Mungkin?”

     “Menurut kakak Anjas itu romantic tidak?” Tanya Rina kemudian.

     “Hoorrghhh kalian ini ada apa? Banyak sekali pertanyaan kalian yang membuat ku pusing.”

     “Ya kami kan hanya ingin tahu kebenaran bahwa Anjas suka dengan kakak?” Tata membekap mulut Tina dan Oen segera memicingkan matanya kea rah Tata dan Tina. Tata hanya bisa menyengir kuda. Tertangkap basah bahwa mereka menyimpan gosip hangat.

     “Dari maka kalian dapat gosip itu?” Oen menyelidik.

     “Tidak dari mana-mana. Hanya kami yang mempertanyakan dari tadi. Karena melihat tingkah kakak yang begitu berubah ketika berdekatan dengan Anjas. Manja.” Tina mendapatkan pukulan kecil di kepalanya oleh Tata.

     “Haaaghhh kalian ini benar-benar pengintai ya? Terus kalian ingin tahu apa saja? Ingin tahu bahwa ia sudah menginap di rumah ku semalam?” Ups! Oen menutup mulutnya, dengan cepat Ia menatap Anjas, dengan muka merah ia memalingkan wajahnya kea rah Tina, Rina dan Tata.

     Mereka melotot dengan sukses dan hampir mengeluarkan bola mata mereka sendiri dari rongganya.

     “KAKAK!!!! Apa yang sudah kalian lakukan?!!!!” Tata begitu histeris mendengar kecerobohan Oen.

     “Ka…ka…mi tidak melakukan apa-apa. Dan kalaupun dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, mungkin dia tidak akan masuk hari ini, karena sudah pasti dia akan dipukuli oleh Kak Fadly.”

     “Tapi bagaimana bisa ia menginap di rumah mu kakak??”

    Tina begitu histeris.

     “Ceritanya begitu panjang sayang. Lebih baik kita lanjutkan dulu latihan kita. Sudah terlalu lama waktu istirahat kita.” Oen beranjak dari tempat duduk dan kemudian mengumpulan beberapa penari untuk sedikit pengarahan kembali.

     “Jangan lupa ceritakan selengkapnya.” Kata Tata, Tina dan Rina.

     “OK.” Oen sudah terlanjur berucap.

     Para penari sudah kembali berlatih dan Oen memimpin segala pengarahan mengenai materi demi materi sendratari yang akan dibawakan nanti di USA.

     Hari sudah menunjukkan pukul 18.15 mereka harus beristirahat dan memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin melaksanakan ibadah sholat maghrib.

     Para breakers yang latihan di depan mereka ini sudah berkurang, bahkan Oen tidak melihat lagi Blaine dan Anjas di sana. Mungkin saja mereka sudah pulang. Memang tidak seharusnya mereka pamit. Karena tidak ada kewajiban sedikitpun atas Oen.

     Selepas maghrib mereka berkumpul di pelataran dan menyantap makan malam bersama sebelum mereka memulai latihan kembali.

     Selama setengah jam mereka bercengkarama dan saatnya mereka harus kembali latihan. Namun latihan kali ini bukan menambah materi tari, tapi hanya mengulang seluruh alur cerita serta memperhalus gerakan yang sudah dipelajari sebelumnya.

     Di tengah-tengah latihan mereka, datanglah seseorang. Karena daerah parkiran motor tersebut sedikit gelap, sehingga mereka harus menebak siapakah yang datang itu. Dengan penasaran penari lain juga mengarahkan pandangan mereka kea rah sosok itu, dan mendapati Anjas lah yang sedang berjalan menuju kerumunan mereka.

     “Hai…” Anjas menyapa penari. Para penari hanya kegirangan dan sedikit berbisik-bisik.

     “Hufff…” Oen hanya bisa menghembuskan nafas berat.

     “Aku ke sini ingin menemani mu dan melihat mu latihan.” Anjas yang mendekatdan membisikkan kalimat itu di telinga Oen. Oen melotot dan disambut dengan hysteria dari para penari lain. 

     “Merepotkan saja.” Oen berdecak.

     Oen memanggil para penari untuk berkumpul dan kemudian melanjutkan latihannya. Oen membiarkan Anjas yang sendirian duduk di atas kursi sembari memainkan handphone nya. Oen tak ingin sedikitpun menyapa Anjas. Malas sekali baginya untuk memulai. Membiarkannya seperti itu mungkin akan membuatnya bosan dan memutuskan untuk pulang.

     Pada kenyataannya adalah tidak. Anjas bertahan tanpa ada sedikitpun rasa bosan dan lelah. Bahkan semakin malam teman-temannya kembali berdatangan. Oen sempat heran, apakah mereka juga akan latihan malam-malam.

     “Aku akan menunggu mu sampai pulang.”

     “Untuk apa?” Oen bersungut.

     “Aku ingin mengajak kau jalan-jalan.”

     “Tapikan…?” Kalimat Oen terputus karena disanggah oleh Anjas.

     “Tidak ada tapi-tapi. Kau ikut dengan ku. Lagipula kau kan tidak membawa motor. Kau tadi diantar oleh kakak mu kan?”

     Oen merutuk dirinya sendiri. Anjas tahu dari mana bahwa dia tidak membawa motor. Oen lalu mengarahkan pandangannya ke Tata, dan ia kemudian menyeringai tidak jelas. Jelas sudah bahwa biang kerok dari kejadian ini adalah Tata. Tata lah yang memberitahu Anjas.

     “Terserahlah…” Oen menyerah.

     “Okay, bilang saja padaku jika kalian sudah selesai latihan.”

    ###

     Sekarang Oen sedang berada diboncengan Anjas. Setelah latihan tadi Oen tidak sempat berpamitan dengan penari lainnya. Ia sudah ditarik oleh Anjas dan segera melajukan motornya ke suatu tempat.

     “Kita akan pergi ke mana, A” Ujar Oen.

     “Apa kau bilang? ‘A’ ahahaha kau membuat ku geli. Tapi kenapa jantung ku berdegup kencang ketika kamu sebut aku dengan ‘A’?” Tawa Anjas di sela perjalanan.

     Oen menepuk dahinya sendiri. Sepetinya ia menyadari bahwa ia salah berkata-kata.

     “Kita akan pergi sebuah restoran. Kau tadi tidak menghabiskan makan mu kata Tata. Jadi aku akan membawa mu ke sebuah restoran.”

     “Astaga! Apa yang kau pikirkan? Aku sudah terlalu kenyang Anjas?”

     “Kita hanya mencicipi cemilannya, aku tidak akan memaksamu untuk makan makanan besar.”

     “Huugghh terserahlah.” Oen pun kembali menyerah.

     “Nah gitu dong sayang.”

     “Jangan panggil aku sayang!!” Oen menggerutu.

     “Tapi kau sebentar lagi akan menjadi ‘sayang’ ku.”

     “Hahaha, bermimpi kau! Kau akan menyesali segala ucapan mu itu, anak muda.”

     “Aku sudah memikirkannya sejak kemarin, dan mala mini akan aku buktikan.”

     Oen terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa. Ia sendiri memikirkan sesuatu yang membuatnya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Memikirkan kata-kata yang dikeluarkan oleh Blaine. Ia merasakan perutnya sakit dan sedikit mual. Oen yang sibuk dengan pikirannya tidak menyadari bahwa kepanya telah bersandar di pundak Anjas. Anjas pun hanya tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Oen.

     Setelah setengah jam mereka menempuh perjalanan, mereka tiba di sebuah restoran sederhana, tapi cukup terlihat mewah jika dilihat dengan seksama.

     Anjas kemudian menanyakan meja yang sudah ia pesan sebelumnya. Dan pelayan pun langsung menunjukkan tempat yang Anjas pesan. Oen hanya mengikuti Anjas dan pelayan tersebut membawanya.

     Ketika tiba di sebuah teras kecil, Oen terkesiap dengan pemandangan di sekitarnya. Ia bisa melihat kota kecil yang ada di sekitarnya hanya dengan berdiri di teras ini. Indah dan menakjubkan. Oen benar-benar takjub. Ia tersadar setelah Anjas menggapai tangan kanan Oen untuk duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan. Memang terkesan begitu absurd. Karena ada sepasang laki-laki yang makan bersama ditemani oleh seonggok lilin. Dan ini benar-benar diluar akal sehat. Tapi tidak aka nada yang dapat melihat mereka karena posisi mereka berlainan satu dengan yang lainnya. Anjas sendiri duduk berseberangan dengan Oen.

     “Indah sekali…” Oen hanya berbisik sedikit.

     “Memang. Keindahan ini juga menggambarkan dirimu yang setiap kali menari, membuatku selalu tersenyum.”

     “Baiklah Mr. Gombal. Cukup sekian dan terima kasih.”

     “Aku berkata jujur, Oen. Kau indah dan sangat indah. Menari ataupun tidak kau menghipnotis ku.”

     Oen hanya terdiam. Ia sedang asik menikmati pemandangan yang benar-benar menakjubkan di sekeliling restoran ini.

     Tak lama terdengarlah sebuah lagu yang dialunkan oleh pengeras suara. The Corrs dengan lagunya “Runaway”

     “Aku suka lagu ini. Ini lagu favorit ku.” Anjas berucap. “Dan ini mewakili perasaan ku saat ini, mungkin.”

     Oen hanya menatap Anjas, melihat dari kedua bola matanya. Meniti dalam setiap tatapan Anjas. Apakah Anjas benar-benar serius dengan perkataanya atau tidak. Dan Oen tidak mendapatkan kebohongan itu. Anjas menyampaikan sesuai dengan apa yang ia katakan. Matanya seakan berbicara bahwa Anjas memang telah jatuh cinta kepada Oen. Oen sempat begidik. Ia kembali merasakan apa yang ia rasakan saat Blaine mengutarakan perasaannya. Dan ini berbeda. Romantis.

     “I love you, Ow. I don’t know how to say. There’s no reason why I love you so much. This heart always says your name. My head always draws your face. This is crazy. May be, these words have been told by Blaine. And now I am in trouble. I am in love with you. I want to be your guardian.”

     “I don’t have any ideas. Because we had just met. I don’t know you well. But, how can you love me? As long as I know that you just know a little about me.”

     “Aku tahu ini aneh, tapi aku tidak bisa mendustakan hatiku sendiri. Ini benar-benar gila. Dan diluar akal. Aku bahkan tidak bisa mengontrol diriku sejak melihat mu. Aku selalu membayangkan mu.”

     “Aku ingin kau memikirkannya kembali Anjas. Kau tahu itu. Kau tidak seperti aku. Aku bukan lah yang kau cari. Jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri dan menyakiti perasaan ku. Cukup satu kali aku merasakannya saat bersama Blaine.”

     “Maafkan aku jika ini terdengar seperti memaksamu, tapi setidaknya aku sudah bisa mengungkapkan perasaan ku.”
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
     Anjas mengulurkan tangannya dan meraih pipi Oen. Mengusapnya dan membuat Oen memejamkan matanya. Kelembutan yang Anjas berikan tidak ia dapatkan sebelumnya. Anjas seakan menyalurkan segala energi positifnya kepada Oen. Oen merasakan sentuhan tangan Anjas yang bergetar. Ya, Anjas saat ini sedang berperang dengan dirinya, ia mencintai Oen tapi akalnya terkadang tidak bisa menerimanya. Tapi Anjas merasa nyaman. Anjas ingin sekali menjadi pelindung bagi Oen. Anjas ingin sekali memanjakan Oen yang terlihat polos. Anjas mencintai Oen tanpa memikirkan dirinya sendiri yang sebelumnya sangat berbeda dengan Oen. Sebagai seorang straight ini adalah hal langka yang pernah terjadi, terlebih pada dirinya sendiri.

     Oen memegang tangan Anjas yang masih dipipinya.

     “Pikirkan lah lagi. Jika kau benar-benar siap dengan segala resikonya akan aku tunggu kamu dengan segala bukti bahwa kau akan mencintaiku. Tetapi, jika kau bisa mengalahkan logikamu, maka pergilah dari diriku. Karena aku tak ingin tersakiti untuk kesekian kalinya.”

     “Baiklah Aku akan memikirkannya. Maafkan aku jika ini memberatkan mu.”

     “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku khawatir dengan mu. Pikirkan lah baik-baik. Ini juga untuk kebaikan kita berdua.”

     Tak berapa lama, pelayan datang membawakan beberapa desert yang mereka pesan. Dan mulai menyantapnya dengan lahap, sambil sesekali bercengkarama, tanpa menyinggung hal mengenai perasaan.

    ###

     Oen sudah sampai di rumah. Anjas mengantarkan Oen sampai rumahnya dengan selamat. Selama di perjalanan mereka tidak banyak berbincang. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Oen hanya bisa menunggu Anjas untuk tetap memikirkannya, karena memang hal itulah yang harus dilakukan oleh Anjas. Dia harus memikirkan kembali segala apa yang sudah ia katakan. Karena bagi seorang Anjas itu sangat beresiko. Bagi Oen itu tidak masalah karena dia memang sudah cukup bisa diterima, itupun bagi yang sudah tau. Bagi yang tidak tahu? Untuk apa dipikirkan. Lol.

     Oen merebahkan tubuhnya. Malam itu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ibu Oen sempat bertanya kenapa mereka pulang terlambat, namun Oen menjelaskan bahwa Anjas mengajaknya makan malam. Ibu Oen sedikit terkejut karena tidak biasanya orang baru dikenal oleh Oen sudah mengajak jalan. Ibu Oen sedikit protektif namun tidak membatasi apa-apa yang ingin dilakukan oleh Oen.

    ###

     Hari ini adalah hari minggu hari termalas bagi Oen. Seharian Oen hanya ingin di rumah bersama sang ibu. Sedangkan sang kakak sudah berangkat ke lapangan basket sejak pagi-pagi sekali bersama teman-teman di lingkungan rumah.

     Sejak Oen bangun, tidak terlihat tanda-tanda bahwa kesibukan di rumahnya sedang berlangsung. Oen kemudian menuju ke ruang keluarga dan tidak mendapati seorangpun di sana. Oen baru teringat bahwa Ibunya hari ini ada undangan di acara perkawinan.

     Beberapa saat setelah ia merasakan empuknya kursi sofa ruang tamu, handphone Oen bordering.

     “Ya, Ada apa Ta?” Sapa Oen.

     “Kak, temani aku ke Mall lagi ya, hari ini aku disuruh Ibu untuk membeli bahan-bahan kue.”

     “Sekarang masih jam 9 pagi. Jam 11 nanti saja ya? AKu masih menunggu Kak Fadly pulang latihan basket.”

     “Okay, aku tunggu ya.” Jawab Tata.

     “See ya, just wait me.”

     Telepon terputus dan Oen kembali disibukkan dengan kegiatannya menonton televisi.

     Setengah jam berlalu, Kak Fadly sudah muncul di halaman rumah. Oen mendengar sedikit perbincangan kakaknya dengan teman-temannya sebelum mereka berpisah menuju rumah masing-masing.

     “Jangan lupa, kita besok kembali latihan di sini.” Teriak Kak Fadly.

     “Okay, Bro!”

     “Hei, Anjas jangan lupa bawa bola mu lagi.”

     “Siap!” Anjas menyahut dengan nyaring.

     Oen yang samar-samar dengan suara perbincangan itu mendengar nama Anjas disebutkan. Oen berpikiran apakah benar itu Anjas? Setahu Oen, kos Anjas terletak 500 meter dari rumahnya. Kenapa dia bermain basket di lapangan sekitar rumahnya? Apakah ada temannya di sini? Mungkin saja? Atau ini adalah Anjas yang lain, yang mempunyai nama sama.

     Kemudian munculah Kak Fadly dari balik pintu depan.

     “Own, teman mu tadi titip salam. Anjas namanya.”

     “Ya,,,, “ Benar saja dugaan Oen. Anjas yang mana lagi kalau bukan dia.

     “Kakak kenal dengan Anjas dari mana? Apakah dia sering bermain basket bersama kakak?”

     “Aku baru mengenalnya 4 hari yang lalu, ia sudah bergabung latihan bersama di sini 2 kali. Sejak itu dia sering kembali latihan di sini.”

     “Anjas itu siapa mu? Pacar ya? Hahahaha” Kak Fadly mulai dengan kelakuan aslinya.

     “Bukan! Kenapa Kakak bisa berkata seperti itu. Dia hanya teman satu tempat latihan. Dia biasa latihan juga di Museum.”

     “Dia keturunan Arab yang sempurna. Wajahnya tampan.” Kata Kak Fadly yang juga ikut duduk di sofa tapi sambil mengedipkan matanya kea rah Oen.

     “Hooorghh,,, tidak usah mengedipkan mata seperti itu.”

     “Dia bilang pernah menginap di rumah? Kenapa aku tidak tahu?” Kak Fadly penasaran.

     “Ya, tidak tahu. Tiba-tiba saja suatu hari dia ke rumah bertamu. Tapi kemudian dia ketiduran, hasilnya Ibu menyuruhnya menginap dan dia mau?”

     “Oh, begitu ya? Apa saja yang kalian lakukan selama menginap?” Kak Fadly menaik-naikkan alisnya dan membuat Oen jengah.

     “Jangan berpikir macam-macam, atau Kakak akan mendapatkan genggaman tangan di ‘anu’ kakak!” Ancam Oen yang sudah siap-siap menangkap sang burung kepunyaan kakaknya.

     “Jangan! Ampun! Baiklah aku mandi saja, semoga kalian menjadi pasangan. Anjas adalah anak yang baik!! Hahahaha” Kak Fadly berteriak sambil berlari menuju lantai 2.

     “Berisik!” Oen berteriak dengan kencang.

     Kak Fadly sudah mengetahui latar belakang Oen sebenarnya. Awalnya memang cukup sulit bagi Kak Fadly menerima sang adik menjadi berbeda dengan orang lainnya. Tapi Kak Fadly berusaha berbesar hati dan menerima keadaan Oen dengan kuat dan sabar. Mungkin menurut Kak Fadly, Oen kurang kasih sayang dari seorang Ayah. Ayah mereka sudah meninggal sejak Oen masih berumur 9 tahun. Kak Fadly mungkin bisa memaklumi hal itu. Sangat mencolok sekali keadaan dulu dan sekarang.

     Oen hanya bisa menggerutu akibat ulah kakaknya sendiri. Oen sedang menikmati cemilan yang ada di depannya.

     Setelah melangsungkan beberapa ritual Oen bersiap-siap menjemput Nyi Blorong di Pelabuhan Ratu, maksudnya menjemput Tata yang seperti mak lampir bukan Nyi Blorong karena beliau terlalu cantik. Lol.

    ###
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
     “Hei, kita ke toko sepatu dulu. Aku membutuhkan sepatu untuk acara malam penggalangan dana nanti.” Tata berlenggak-lenggok di koridor mall.

     “Okay, kebetulan aku juga sedang ingin mencari sepatu, tepatnya hanya sekedar melihat-lihat saja.”

     Oen dan Tata sudah hampir setengah jam berada di toko sepatu itu. Menimbang-nimbang mana sepatu yang cocok untuk dikenakan oleh Tata pada acara nanti. Terlalu banyak model sepatu yang bagus menurut mereka, atau memang mereka lah yang lapar mata dengan sepatu-sepatu yang terpajang dengan indah di beberapa rak.

     Setelah puas menjelajah sepatu untuk Tata, mereka melanjutkan perburuan ke toko roti. Setelah itu mereka beristirahat sekedar melepas penat di lantai 4 food court.

     “Kenapa kakak tidak membeli sepatu tadi?” Tata memulai pembicaraan.

     “Aku belum membutuhkannya. Nanti saja aku kembali lagi.”

     Oen yang mempunyai kebiasaan menyisir tempat yang sering ia singgahi dengan penglihatannya yang tajam, melihat sosok penampakan yang begitu buram. Ia masih mencoba memastikan siapakah orang itu. Setelah beberapa menit mengamati dan orang itu semakin dekat ternyata dia adalah Blaine. Blaine yang mengenali Oen dan Tata langsung menghampiri mereka. Blaine sedang bersama sang pacar. Terlihat banyak sekali barang belanja yang mereka bawa, terlihat dari besarnya kantung plastik yang ada di masing-masing tangan.

     “Hei! Kalian sudah lama?” Blaine membuka pembicaraan. Ia tidak duduk, hanya berdiri di antara Oen dan Tata.

     “Lumayan sekitar 15 menit yang lalu.” Tata menjawab.

     “Kalian hanya berdua.” Oen akhirnya bertanya.

     “Tidak, kami bersama Anjas dan temannya, setahuku itu pacarnya.”

     “Oh ya?” Raut wajah Oen langsung berubah dan Tata membaca situasi tersebut.

     “Baiklah, aku rasa kita harus pulang.”Tata menggamit tangan Oen dengan paksa.

     “Kenapa terburu-buru?” Tanya Blaine heran.

     “Kami sedang ada janji dengan orang lain. Lain kali kita kumpul bersama lagi. Bye.” Tata langsung mengambil langkah seribu. Tata melihat Oen yang sudah siap dengan air matanya yang akan bercurai.

     Blaine sendiri dengan tampang heran menempati meja yang Tata dan Oen duduki sebelumnya. Bersamaan itu pula, Tak sengaja Oen memalingkan wajahnya kea rah pemesanan makanan, Anjas dan Oen bertatapan. Oen sudah bersiap menangis dan Tata langsung membawa Oen lari tunggang langgang untuk bersembunyi.

     “TUNGGU!” Anjas berteriak. Tapi tidak sempat, Ia sudah berusaha mengejar tapi Oen dan Tata sudah lenyap entah ke mana.

     “Kak… Maafkan aku kalau situasinya begini.”

     “Hei! Ini bukan lah salahmu. Hanya saja memang waktu yang membuatnya seperti ini.” Sambil mengucurkan air mata di sela-sela toko yang mereka pergunakan untuk bersembunyi dari kejaran Anjas.

     “Kau tidak apa-apa?”

     “Entah kenapa, ketika aku bisa membuka perasaan ku terhadap orang lain, tapi kenyataan pahit datang dan aku belum siap menerimanya.” Oen tersedu, Ia terduduk di masih di sela-sela toko tadi.

     “…” Tata hanya bisa terdiam.

     Tata masih membiarkan Oen menangis, setelah 5 menit kemudian mereka melanjutkan untuk pulang ke rumah dan mengistirahatkan isi kepala mereka masing-masing.

    ###

     “Oen maafkan aku. Bukan maksud ku untuk menyembunyikan atau apapun. Yang kamu lihat di mall tadi bukan lah yang sebenarnya. Jangan percaya dengan kata-kata Blaine. Ia tidak tahu apa-apa. Maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah.”

     Oen membaca isi pesan singkat yang dikirim oleh Anjas, tapi tidak ada sedikitpun Oen ingin membalas pesan itu. Sampai akhirnya Oen merasa kantuk terlalu besar menguasai dirinya. Dan Oen terlelap.

    ###

     Hari ini adalah hari Gladi bersih tahap 1 yang akan dilaksanakan di Museum. Oen sebenarnya sangat-sangat malas untuk bertemu dengan Anjas. Karena mereka selalu latihan setiap hari.

     Dengan langkah berat ia menjalankan motornya menuju Museum. Sepuluh menit ia menuju Museum, terlihat sudah beberapa pemain gamelan dan penari-penari yang sedang melakukan pemasanan.

     Oen hari ini harus tetap bersemangat agar teman-temannya tidak kecewa dengan hasilnya.

     “Kakak!! Kau baik-baik saja?” Tata menatap dengan khawatir.

     “Tenang saja bebeb.” Jawab Oen sambil tertawa-tawa.

     “Oke deh, ayo kita latihan bersama. Kakak pemanasan sendiri saja.” Tata kembali ke barisan depan dan mengatur komposisi musik bersama Pembina dan pemain gamelan.

     Oen sedang pemanasan di bagian belakang. Tapi tanpa ia ketahui tangannya diseret seseorang dan orang itu adalah Anjas. Anjas sedang bersama dengan wanita yang ia lihat di Mall pada saat itu.

     Oen memejamkan matanya sesekali agar air matanya tidak tumpah.

     “Maafkan aku.”

     “…”

     “Baiklah, aku ingin memperkenalkan kepada mu ini adalah saudara sepupu ku. Anggie. Blaine tidak tahu apa-apa tentang Anggie.”

     “Anggie.” Wanita ini mengulurkan tangannya.

     “Oen…” Sedikit tercekat dengan perkataannya sendiri.

     “Anggie tinggalkan kami sebentar.”

     “Okay Bro. Good Luck.”

     “Cepat, aku akan GR hari ini.” Oen mengeluh.

     “Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku siap menjadi pengisi hati mu. Jadi jangan cemburu dengan Anggie. Percayalah padaku. Sekarang aku sudah memutuskan untuk tetap bersama mu. Karena jika aku disuruh untuk memikirkan yang lain aku sudah tidak bisa.”

     “…”

     “Jawablah, katakanlah sesuatu.” Anjas yang mencoba mengelus pipi Oen, tapi Oen menepis dengan menjauhkan wajahnya. “Kenapa?”

     “…”

     “Jawablah Oen jangan siksa aku.”

     “…”

     “Kalau kau tidak menjawab, maka aku akan menembak mu di depan teman-teman.”

     Oen tersenyum, dari nada yang ia dengar dari mulut Anjas, ia memang bersungguh-sungguh. Oen tersenyum lebar dan memajukan bibirnya ke depan dan menjulurkan lidahnya.

     “ahahahahahaha”Oen terbahak-bahak.

     Anjas menatap Oen heran, dan karena gemas, Anjas langsung mencium bibir Oen dan menangkap tubuh Oen ke dalam pelukannya.

     “Puas mengerjai diriku? Sekarang kita satu sama.”

     “Sekali lagi kau sama bodohnya dengan Blaine dulu.”

     “Jangan sakiti aku lagi,”

     “Aku berjanji, dan aku tidak akan sama seperti Blaine.”

     “Jangan bahas dia, Blaine adalah yang terbaik untuk saat ini.”

     “Akan aku buktikan dia kalah dariku.” 

     “Sombong sekali kau.” Oen terbahak. Dan saat itu juga Anjas kembali mencium bibir Oen.

     “Aku akan menjadi kekasih mu yang benar-benar menjagamu dan akan benar-benar melindungi mu.”

     “Polisi kali!!!!!!!!” Oen dengan bahasa gaulnya yang aneh sambil melepaskan dekapan Anjas yang lengah ia berlari tunggang langgang ke pelataran depan.

     Oen langsung bergabung dengan penari lain dan ia sempat melihat Anggie yang duduk di sudut taman, dan tersenyum. Oen melambaikan tangan dan mengucapkan ‘Thank You’ tanpa bersuara.

     “Terlihat senang? Sudah jadian dengan Anjas ya.” Tata yang dengan sengaja berbisik membuat Oen melotot dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata. “Aku sudah tau dari Anggie. HAahahahahaha.” Tata tertawa lebar.

     “Dasar kau!!! Wanita genit! Penguntit!!” Oen langsung menjitak kepala Tata.

     Anjas sudah bergabung kembali latihan bersama-sama teman-temannya. Sesekali Anjas mendekati Oen dan mengucapkan kata ‘I love you’ dan itu membuat Oen merinding. Lol.

     Tata akan selalu mendukung apapun yang Oen lakukan. Anjas pasti akan bisa menjaga Oen. Dan sekali lagi Tata sangat heran, bisa-bisanya seorang Anjas yang memang benar-benar straight bisa takluk di hadapan Oen. Dan Oen akhirnya bisa move on dari temannya sendiri Blaine. Dan mendapatkan orang terdekat Blaine juga. Yaitu Anjas si Zayn Malik.


    ### ending of chapter 2 ###
  • Ricky89Ricky89 ✭✭ Silver
    edited September 2013
  • Ricky89Ricky89 ✭✭ Silver
    wah aq baru baca part diawal td, pas refresh ternyata panjang, hihi sori koment di atas, start bc dr sekarang.
  • Ricky89Ricky89 ✭✭ Silver
    aaaaah. beneran manis bgt si anjas, gw ngerasa kyk alber treats me like that bro. hahahaha

    anjas gak pernah nyerah yah. hahha... mention meh bro,
  • bagus critanya...tp mnrtku diliat dr usia mereka yg kuliah, kyaknya sikap mereka terlalu abg, msh kurang dewasa. dan sikap di museum jg trlalu mesra karna dliat bnyak org. jd sdkit janggal aja.
    oiya kalo bisa critanya tiap part jdika 1 thread aja biar gk kepisah2.
    maaf kalo gk berkenan, hanya saran. salam.
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    Ricky89 menulis: »
    aaaaah. beneran manis bgt si anjas, gw ngerasa kyk alber treats me like that bro. hahahaha

    anjas gak pernah nyerah yah. hahha... mention meh bro,

    yup,,, hahahaha refresh berkali2 lgsg dehh jdi end chapter...

    alber? hahahaha ternyata msh sejalan sama alber,,, soalnya alber aq banget dh,.. #narsis
  • greenbublesgreenbubles ✭✭ Silver
    Ozy_Permana menulis: »
    bagus critanya...tp mnrtku diliat dr usia mereka yg kuliah, kyaknya sikap mereka terlalu abg, msh kurang dewasa. dan sikap di museum jg trlalu mesra karna dliat bnyak org. jd sdkit janggal aja.
    oiya kalo bisa critanya tiap part jdika 1 thread aja biar gk kepisah2.
    maaf kalo gk berkenan, hanya saran. salam.

    sekali lgi aq ucapin terima kasih sdh membca,,,
    terima kasih jg buat sarannya n komennya

    utk karakter oen mmng bgitu,,,
    dan karakter itu ada pada aq juga hahaha,,,
    mmg bgini koq keadaannya,,, :)
    based on true story jdi inilh hasilnya..
    tpi skli lgi makasih....

    klo yg mesra2an mmng utk yg ini agak sdkit mencolok utk t4 sprti museum... :)

    dan utk thread selanjutnya aq lanjut d sni koq,,
    ini iseng aja aq bkin baru... heeee

    sekali lgi thanks...
«13456789
Sign In or Register to comment.