Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, tekan saja salah satu tombol ini!

Sign In with Facebook Masuk dengan Google Masuk dengan OpenID Masuk dengan Twitter
Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!


Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Contact us at admin@boyzforum.com





Si Perjaka dan Si Playboy [End]

[b]Sinopsis:[/b] Julian mengklaim bahwa dirinya seorang bottom, meskipun ia belum pernah sama sek…
santaysantay Posts: 2,632
edited August 2013 in BoyzStories
Sinopsis:
Julian mengklaim bahwa dirinya seorang bottom, meskipun ia belum pernah sama sekali melakukan hubungan seks. Tapi ia yakin akan hal itu dan telah lama berencana untuk melepas keperjakaannya, lalu bergabung dengan orang lain yang ia kenal di dunia perkencanan. Sebab setiap bergabung bersama teman-teman dan mendengar pengalaman seks mereka yang hebat, ia hanya seperti seorang idiot saja. Malu pada kondisi yg dialaminya, ia akhirnya membuat janji dengan KencanButa.com untuk bertemu dengan pria asing yang tampan untuk berkencan satu malam tanpa komitmen, tanpa harus mengakui bahwa ia belum pernah bercinta sebelumnya.

Mike adalah satu-satunya pria single yang tersisa diantara teman-temannya. Ia terkenal memiliki banyak teman kencan dan selalu menerbitkan rasa iri setiap ia bercerita tentang pengalaman liarnya diatas ranjang. Partisipasinya dalam KencanButa.com dikarenakan suatu taruhan, dan dia tidak tahu siapa pasangan kencannya...

Mereka belum pernah bersua tapi memiliki tujuan yang sama yakni berkencan, dan akhirnya keduanya bertemu di sebuah hotel mewah. Sejak awal sudah menggelikan karena mereka bingung bagaimana memulainya, namun setelah satu ciuman sepertinya semuanya berjalan lancar karena ternyata mereka memiliki ketertarikan yang kuat satu sama lain...

Bagaimana kisah Si Perjaka dan Si Playboy selengkapnya?

***
·
«1345678

Komentar

  • santaysantay Posts: 2,632
    Chapter One

    Julian menarik napas dalam-dalam dan melihat sekeliling lobi. Ada rasa deg-degan menghimpit dadanya. Terasa ragu untuk melanjutkan rencana "gilanya". Dia berhasil melalui perguruan tinggi seiring suksesnya ia menjaga keperjakaannya, dan dia sudah sangat muak menunggu untuk mendapatkan pria yang sempurna, yaitu prince charming, untuk menyerahkan dirinya seakan-akan hal itu sebuah kado. Kini tiba waktunya untuk bercengkrama dengan seks yang katanya sangat menggairahkan itu. Jantungnya seolah berdegup ingin melompat dari dadanya, ia meremas jari-jemarinya dan merasakan telapak tangannya berkeringat. Huffh. Saatnya menuju meja pendaftaran.

    Menemukan KencanButa.com secara online bagaikan jalan pencerahan bagi Julian. Membayangkan menghabiskan satu malam dengan orang yang benar-benar asing, memenuhi dirinya yang belum pernah terjamah lalu bergabung kembali dengan orang 'normal' lainnya. Dia siap untuk berkencan dengan para pria dan melompat dari tempat tidur satu ke tempat tidur lainnya seperti semua teman-temannya lakukan. Lantas berbagi pengalaman seks satu sama lain.

    Keputusan telah dibuat, dia menghubungi Ses Anna dan memberikan informasi yang diperlukan. Semua tetek-bengeknya telah dibuat. Julian Atlindo, bersiap menyerahkan keperjakaannya dan resmi menyandang predikat---bottom.

    ***

    Di kamar hotel, Mike berjalan mondar-mandir berkali-kali selama lima belas menit terakhir sehingga ia sampai hafal pola karpet di bawah kakinya. Dia masih belum mempercayai bahwa saat ini ia ada di sini, dan akan menghabiskan malam dengan pria yang belum pernah ia temui. Bukankah ini sama halnya dengan membeli kucing dalam karung? Bagaimana jika si pussy itu berkaki buntung? Oke, mungkin ia terlalu berlebihan, tapi tetap saja...

    Teman-temannya sudah mendesaknya untuk mencoba KencanButa. Ini karena ulahnya sendiri, selalu membuat iri teman-temannya tentang kencan dengan wanita yang berbeda setiap minggu sehingga melampaui batas. Ketika ia menolak untuk mendaftar, teman-temannya menantangnya. Dia tidak pernah bisa menolak tantangan, dan mereka semua tahu itu, sialan mereka. Tadinya ia pikir mereka hanya bergurau, dan setelah mentari yang baru muncul, mereka akan melihat betapa konyolnya ide tersebut dan mereka akan membiarkannya lolos dari jebakan tantangan tersebut, tetapi hal itu tidak terjadi.

    Tidak.

    Sebaliknya, mereka lebih gigih dari sebelumnya, lebih bersemangat, dan malah merencanakan semuanya. Dia bahkan hampir tidak bisa menghentikan mereka untuk pergi ke hotel beramai-ramai.

    Akhirnya, ancamannya untuk membatalkan tantangan tersebut berhasil membuat mereka mundur dan berjanji untuk menunggu kedatangannya kembali dari kencan dan menunggu laporan adegan satu malam itu.

    Setelah bujukan demi bujukan dari teman-temannya, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan dan bersedia bertemu bottom itu. Jika si bottom tampak seperti The Beast, yang ia harus lakukan hanyalah melakukan yang terbaik. Toh, ia bisa menyuruh si bottom membelakanginya dan memasukinya dengan ganas. Bahkan bila perlu sambil menutup mata. Akh, begitu banyak tekanan menjadi seorang playboy dalam groupnya, pria single yang berkencan hanya dengan para pria seksi. Teman-temannya terpesona pada cerita-ceritanya, dan dia menikmati melihat kecemburuan di mata mereka. Itu bukan salahnya kalau mereka semua menjadi iri, karena mereka yang membiarkan diri mereka sendiri terikat dalam hubungan. Hanya berkencan dengan orang itu saja setiap minggu? Apa tidak jenuh???

    Jadi, di sinilah Mike sekarang. Berakhir di sebuah kamar hotel mewah. Mondar-mandir sambil sesekali menatap pintu. Sebentar lagi, pria bottom itu akan berada di sini. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan?

    ***

    Julian mendekati meja dan menunggu, sementara petugas resepsionis menyelesaikan check in sepasangan suami-istri (mungkin) yang nampak mesra. Atau barangkali mereka juga pelakon kencan buta?

    "Ada yang bisa saya bantu, Mas?"

    Dia mengamati raut wajah pemuda itu—resepsionis---apakah pemuda itu menyadari maksud kedatangannya?

    "Ya, saya perlu nomor kamar Lingga Rahardian," suara Julian pecah, kembali nervous.

    "Oh, Anda pastinya Billy Davidson?" Dia melihat ke bawah pada monitornya, dan kemudian kembali menatapnya, dengan eskpresi yang menyenangkan, tidak menghakimi, dia memutuskan. "Mas Lingga sudah menunggu anda di kamar 99."

    Julian tersenyum kecil. Nama samaran yang terdengar cukup "muscle". Pipinya dibanjiri rasa panas. Terdengar cukup familiar? Yeah, itu memang nama seorang aktor sinetron muda pendatang baru. Nama itu tak sengaja terbaca di teve saat ia membuat reservasi semalam. Menggunakan nama pemain sinetron bertampang "bening" dan membuat lapar mata...dan ia berharap teman kencannya juga merasakan hal yang sama saat bertemu dengannya nanti.

    Oh, iya, Apa yang sudah Ses Anna katakan tentang nama asli pria tersebut? Oh, benar. Mike.

    "Terima kasih." Dia menerima kartu kunci yang diserahkan petugas lalu berbalik untuk mencari lift. Dia melihat ada dua lift. Yang mana?

    Seorang pria tegap lewat berhenti di sampingnya, tersenyum. "Butuh bantuan, Mas?"

    "Uhm, ya, sepertinya begitu," jawab Julian, pipinya memerah dibawah tatapan bermata gelap itu.

    Apakah ini pria tampan kencannya? Ini akan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

    "Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ekspresi menyenangkan.

    "Tolong tunjukan lift mana yang menuju ke kamar nomer 99?"

    Pria itu memegang pundak Julian dan berbalik menunjukan arah lift terdekat. "Yang itu, Mas."

    "Terima kasih," kata Julian mengakhiri percakapan, pria itu menjawabnya dengan menepuk lembut pundaknya dan menjauh. Wow, jika semua orang di hotel tampak seperti dia, dia mungkin akan sering-sering pergi ke sini, hanya untuk melihatnya lagi.

    Julian mengawasinya berjalan pergi, berhenti sesaat untuk ngobrol ringan dengan beberapa tamu lain lalu ia pergi. Baju yang pria itu kenakan bukan seragam hotel. Julian terus menatapnya sampai ia menghilang dari pandangan. Setelah itu berjalan sedikit tergesa menuju lift yang hanya beberapa meter jauhnya. Akh, hatinya kembali deg-degan lagi.

    Julian menekan tombol, pintu pun terbuka dan ia hendak masuk ke dalam lift, tapi ia melihat sepasang kekasih yang saling berpelukan. Si wanita semlohay tampak bernafsu sepertinya dia akan merobek baju pasangannya dan mata Julian melebar. Julian bergeser dan menjauh dari pintu lift. Apakah hotel ini dirancang untuk menyalurkan birahi?

    Di dalam lift, ia menggunakan waktu untuk menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan hatinya. Pasangan bergairah yang baru saja keluar telah mengingatkannya pada apa yang akan ia temui malam ini.

    Angka-angka di atas pintu menyala pada gilirannya, lalu bunyi ping terdengar—apakah dia harus turun? Atau mungkin tinggal di lift, dan kembali ke lobi. Pintu mulai menutup lagi, dan ia mengulurkan tangan dan menahan pintu lift terbuka. Pikirannya ragu. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?

    Julian menghela nafas dan kembali meremas jemarinya. Dia melangkah melewati lorong dan meneliti setiap nomer kamar yang ia lewati. Nah, ini dia. Jadi ia lagi-lagi mengambil napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan bersiap untuk memenuhi nasibnya.

    ***
    ·
  • santaysantay Posts: 2,632
    Chapter Two

    Mike terkejut mendengar ketukan di pintu kamar. Teman kencannya seharusnya memiliki kunci sendiri, jadi kemungkinan besar itu petugas hotel, atau barangkali petugas layanan kamar dengan minuman yang ia telah pesan. Namun sebaliknya, ia menghadapi pria ramping namun berisi, berwajah cute, berpenampilan dewasa meskipun tak mampu menyembunyikan sorot mata kekanakannya dan dengan tangan terangkat seolah ingin mengetuk lagi. Dia mengamati sosok pria di hadapannya yang memikat, berambut hitam kecokelatan yang dipangkas rapi, dan oh, tentu saja mata kekanakan nan cemerlang yang menatap penasaran ke arahnya.

    "Kupikir kau bukan dari bagian house keeping, benarkan?"

    Sebuah kerut terbentuk antara alis lurusnya.

    "Bukan, apakah penampilanku seperti petugas house keeping?" pria yang terbilang mungil itu menjorokkan dagu ke arahnya dan menjatuhkan tangan yang masih tergantung di udara.

    "Sama sekali tidak," katanya, melihat ke sepanjang lorong. "Aku telah memesan beberapa handuk tambahan..." Dia terhenti, dan hening sesaat ketika mereka saling memandang. Saat sang pria cute tidak mengatakan apa-apa, dia tersenyum dan berkata, "Aku Mike dan kau adalah...?"

    "Julian." Dia berbicara begitu pelan sehingga Mike harus mendekat untuk mendengarnya.

    Julian tak bisa berlagak seakan sudah terbiasa mendaftarkan diri untuk kencan semalam dengan seseorang yang asing. "Hanya untuk memastikan—apakah Ses Anna yang mengirimmu?" Julian mendongak dan bertemu dengan mata Mike. "Kurasa begitu. Oke, bolehkah aku masuk?"

    "Tentu saja, silahkan." Mike melangkah mundur untuk membiarkan pria itu lewat, mengikutinya dengan matanya saat Julian nampak meremas jemarinya dan berjalan ke jendela.

    Julian melempar pandangan keluar jendela, membelakangi Mike.

    "Tidakkah kau mendapatkan kunci juga?"

    Berdiri di antara tirai, Julian mengangkat kunci untuk diperlihatkan pada Mike. "Yup. Aku hanya merasa lucu menggunakannya ketika kau sudah di sini".

    Mike bergabung dibelakangnya dan ikut melihat keluar jendela melalui bahu Julian. Julian membeku saat Mike berdiri begitu dekat di belakangnya. Itu adalah kejutan.

    Lampu yang ada di bawah semuanya berkelap-kelip, keindahan lampu-lampu neon. Aroma lembut shampoo dari rambut Julian menarik perhatian Mike. Ia melirik ranjang dan pria yang berada di depannya bergantian. Bagus. Ia sangat menginginkan pria mungil nan cute itu. Mike mengangkat tangan untuk menyentuh dan kemudian berhenti, mengejutkan dirinya sendiri karena keragu-raguannya. "Aku suka lampu-lampu di sini," desisnya kemudian.

    Ketika Julian berbalik untuk menatapnya, Mike mengerti mengapa dia menarik dirinya kembali.

    Julian benar-benar berbeda dari pria (gay) lain yang menghabiskan akhir pekan dengannya. Dan itu bukan hanya karena perawakan mungilnya, atau cahaya matanya yang cemerlang. Ada sedikit gemetar di bibir bawahnya yang penuh saat Julian berdiri di bawah pengawasan Mike. Ada daya tarik yang kuat di diri Julian. Seluruh tubuh Julian membuat Mike sulit bernapas, dan untuk pertama kali dalam kehidupan playboy-nya yang liar, ia tidak tahu harus berkata apa. Atau bagaimana untuk memulai.

    ***

    Julian tertegun. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Ses Anna akan mengirimkannya seorang pria yang membuatnya meneteskan air liur karena pria ini layak menjadi model cover sebuah majalah. Dia tinggi, kokoh dan tampan. Entah karena berjemur atau memang warna kulit alami Mike adalah emas pucat, sangat kontras dengan sepasang bola matanya yang hitam pekat, dinaungi oleh sepasang alis yang hitam lagi tebal. Sangat menggoda. Pernah melihat deretan pria tampan dari Brazil? Julian rasa Mike adalah salah satu dari mereka yang terdampar di negeri ini.

    Tatapan mata Julian turun ke bawah; membayangkan perut six-pack di depannya. Pipinya kembali panas ketika ia memandang gundukan dalam celana panjang Mike yang sangat pas dengan tubuhnya. Pemandangan itu begitu menarik mata untuk di lihat. Ia tak mampu berpaling dari aset yang ada di bawah pinggang Mike!

    Ya, Tuhan, cukup. Mata Julian perlahan-lahan kembali naik dan naik, memandangi dada bidang dan dagu indah, bibir penuh dan menuju mata elangnya. Pria di lobi tadi memang tampan, tapi Mike lebih lagi, dia seperti mendapatkan jackpot. Ses Anna benar-benar ahli.

    Julian bahkan tidak pernah memimpikan prince charming se-charming Mike dalam kotak mimpinya.

    "Apa yang kau pikirkan?"

    "Aku...itu, aku berpikir kau sangat tampan."

    Dia menghembuskan napas.

    Bagus.

    "Terima kasih." Suara Mike merendah, mengirimkan kegembiraan menuju tepat ke jatung hatinya. Apa yang Mike pikirkan tentang diri Julian? Tubuh mungil Julian ingin cepat-cepat ia banting ke ranjang empuk di seberang sana.

    Hening cukup lama ketika mereka berdiri saling berhadapan. Jarak yang terentang hanya kurang dari satu kaki yang memisahkan mereka secara fisik. Akhirnya, Julian tak tahan lagi. Ia tak ingin membuang waktu dan melangkah mendekat lalu berjinjit untuk mencium lembut bibir Mike. Hal itu jelas memecahkan kebekuan. Mike merengkuhkan lengannya di tubuh Julian dan menarik pinggulnya rapat, membungkuk untuk melanjutkan ciuman yang lebih intens. Julian tentu saja pernah berciuman sebelumnya. Dan Julian cukup pengalaman untuk mengetahui bahwa Mike pencium ulung. Julian melingkarkan lengannya di leher Mike dan menyerahkan keraguan terakhirnya.

    Bibir Mike tegas dan mendesak. Ketika Julian membuka bibirnya, Mike mengambil kesempatan untuk menjarah mulutnya. Dunia Julian seakan digoncang hanya dengan ciuman itu, gigitan kecil Mike di bibir bawahnya, ujung lidah Mike menggoda dan membelai miliknya sampai lututnya terasa lemas dan memberikan sensasi yang memabukkan. Mike memeluk Julian erat, dan tangannya meluncur ke bawah untuk menangkup bokongnya, lantas meremasnya kuat.

    Mike melerai ciuman dan menatap Julian, mata gelapnya nampak begitu tajam dan penuh nafsu. Sebelum Julian bertanya-tanya apa yang mungkin akan dilakukan selanjutnya, terdengar ketukan di pintu diikuti oleh suara mengumumkan, "Layanan kamar."

    Ketika Mike melepaskan pelukan Julian, Julian meremas kedua tangan di jendela di belakangnya dan melihat Mike beranjak ke pintu dan mempersilakan pelayan dengan nampan minuman dan piring dengan penutup perak masuk. Mike bercakap-cakap sejenak dengan pria itu, suaranya terdengar santai dan seperti halnya mereka sedang duduk di ruangan berbeda yang berseberangan untuk membicarakan cuaca. Julian kecewa sampai ia melihat bahu Mike bergoyang saat Mike menarik napas dalam-dalam sebelum kembali padanya. Mike memiliki kontrol diri yang besar, seakan tak terpengaruh oleh ciuman mereka barusan.

    Ketika Mike berbalik ke arah Julian, ia menarik kemejanya di atas kepalanya. Senyum kebanggaan terlihat saat Mike melemparkan kemejanya ke sudut, menghilangkan kesan tenang yang baru saja ia tunjukkan. Tapi sebelum Julian bereaksi apa-apa, Mike menurunkan tangannya ke ikat pinggangnya. Julian terpaku. Masih diam, Mike melonggarkan kepala ikat pinggangnya, menariknya keluar melalui lubangnya, dan kemudian mulai menurunkan restleting celana jinsnya.

    Mark pindah ke tempat tidur, ia duduk untuk melepas sepatu kulit hitam mengkilatnya. Ia melepaskan satu sepatu dari tangannya dan menatap Julian.

    "Apakah kau tidak akan melepaskan pakaianmu?"

    "Oh, ya, tentu saja." Julian tersenyum dan mencoba untuk terlihat percaya diri, tapi kehangatan yang ia rasakan sebelumnya berubah menjadi ketakutan. Ia teringat, ketika dia mendaftar untuk kencan semalam, dia tidak benar-benar jujur. Dalam mengisi dokumen, ia menuliskan bahwa tingkat pengalaman seksnya adalah "sedang". Julian takut teman kencannya akan menolaknya, dan kemungkinan seorang perjaka itu tidak memenuhi syarat untuk kebijakan kencan semalam.

    Mike jelas tidak tahu apa yang ia hadapi, tapi bahkan dengan ketidak-pengalamannya, Julian mengharapkan rayuan yang bisa membangkitkan gairahnya.

    Untuk pengalaman pertamanya ini, Julian tak mau terburu-buru. Ia ingin mendapatkan pengalaman seks pertama yang spesial.

    Julian menyipitkan matanya, mengawasi Mike. Menghela nafas, Julian berusaha tersenyum berharap senyumnya nampak sensual di wajahnya. Apa yang sebenarnya Mike harapkan? Oh, ya. Apakah Julian akan menanggalkan pakaian.

    "Aku berharap kau akan melakukannya untukku, Mike." Julia berucap lirih. Klise? Biarlah.

    Kilatan di mata Mike menyiratkan ketertarikan pada rencana Julian.

    Julian menghampiri Mike untuk menunjukkan deretan kancing di sepanjang Kemeja biru muda yang ia kenakan. "Tolong? Bukakan untukku..."

    ***

    To be continue...
    ·
  • LittlePigeonLittlePigeon Posts: 13,382
    Jangan gantung ga jjelas membangkai kayak gazda sange ato apalah itu ya!!!!
    Kadang, harus ada yang terluka agar mata bisa terbuka.

    Sampai kapanpun, waktu itu maju, bukan sebaliknya.
    ·
  • bi_ngungbi_ngung Posts: 1,833
    Tolong bukakan bajuku juga dong
      Choose the right direction in your life  
    ·
  • maybellinemaybelline Posts: 274
    Meninggalkan jejak
    ·
  • caetsithcaetsith Posts: 361
    Cerita baru lagi?? Lalalayeyeyeye.... 

Pinter bgt bang mutus'y, bikin nanggung ajaaaaa.....
    
Lanjut lanjut!!
    ·
  • @santay
    Errrrrr...
    ·
  • SyeoullSyeoull Posts: 228
    Wahhhh.....
    ·
  • cassieputcassieput Posts: 2,530
    Halah malah dipotong ceritanya,
    Lanjut ah
    ·
  • yubdiyubdi Posts: 401
    aw d post d sini juga ... crita yg im your slave keren tu om santay lanjutannya gk ad y?? maap oot xD
    ·
  • Kim_KeiKim_Kei Posts: 309
    wkwkwk.. Akhirnya ni cerita dimunculin juga di bf sama si abang.. *kunyah popcorn*
    ·
  • JonatJcoJonatJco Posts: 6,828
    duh ashantay bikin cerita mas anang
    Pin BB : 3rr0r
    ·
  • santaysantay Posts: 2,632
    @LittlePigeon iya deh! Janji!!!

    @bi_ngung ish, ikutan aja deh!

    @maybelline tak pikir meninggalkan bedak, LOL

    @caetsith cerita lama kok, :P

    @MikeAurellio knp mesti 'errr...' knp bukan 'esss...'

    @Syeoull wihhh...

    @cassieYJS itu di bawah lanjutanny

    @yubdi ada sih, tp blm kelar, hehe

    @Kim_Kei itu popcorn gue!!! *rebut*

    @JonatJco gue bkn ashantay, tapi syahrinay. Yuuk!

    =

    Chapter Three

    Mulut Mike kering. Dia mendongak menatap Julian, menelan ludah berkali-kali sehingga jakunnya naik turun.

    Mike belum pernah membuka kancing partner kencannya, dan tak pernah menginginkan itu. Ia selama ini tak suka melakukan hal-hal sekecil itu untuk pasangannya, walaupun itu mungkin sangat romantis dan mesra. Tapi malam ini ia sangat antusias untuk melakukannya. Tangan Mike meraih punggung Julian, dan ia menyelipkan tangan untuk membuka satu demi satu kancing kemeja cowok itu. Matanya terfokus untuk menggodanya, ia membungkuk untuk menekan bibirnya di atas perut mulus Julian ,menghirup lembut, aroma parfum yang lembut tapi maskulin semakin membuat pikirannya liar. Aroma itu hanya Julian yang memilikinya. Ini melampaui dari apa yang ia harapkan.

    Minggu demi minggu, Mike pergi berkencan dengan pria-pria seksi dari klub. Mereka semua menawan, dan memiliki perut six-pack, diperoleh melalui diet dan rutinitas latihan yang ketat. Mike membelai perut Julian, ia mengusap perutnya dengan lapar mata. Pria-pria sebelumnya nampak mirip satu dengan lainnya, tapi perut Julian yang tidak seberapa six-pack, kencang dan hangat membuatnya tidak merasakan apapun kecuali nafsu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

    Mike menarik Julian mendekat lagi, melingkarkan lengan dipinggulnya dan membuka kancing terakhir. Ia melepas kemeja dari bahu Julian. Lantas ia kembali menyusupkan jemarinya ke sela-sela singlet Julian, mengusap perut dan dadanya. Setelah itu menarik singlet itu ke atas dan melepaskannya lewat kepala. Oke, sekarang tinggal celana lagi yang menghalangi mereka.

    Mike menghela nafas. Mendongak dan menatap Julian menggoda. Julian menggigit tangkup bibir bawahnya. Mike membuka ikat pinggang, membuka restleting dan menarik turun celana Julian dengan gerakan serba cepat. Celana itu meluncur turun dan jatuh ke lantai. Julian menatap celananya yang terlepas, dan ketika kedua matanya kembali naik, Julian bergidik, hanya melihat cara Mike menatapnya. Bisakah Julian melihat rasa laparnya?

    Mike kini fokus kembali menyelesaikan membuka kancing celana jinsnya sendiri, mendorong mereka ke lantai dan melangkah keluar dari celana jinsnya. Mike mengenakan celana pendek ketat—yang menurut begitu banyak teman kencannya nampak seksi. Apakah begitu juga menurut Julian? Mereka begitu dekat, tapi sekali lagi akal sehat telah meninggalkan dirinya.

    Mike tidak pernah ragu-ragu dalam kamar tidur. Dia tidur dengan pria yang berbeda setiap minggu. Begitu juga sekarang, ia meraih lengan Julian tapi sesuatu di wajah pria itu menghentikannya. Matanya lebar dan penuh nya, bibir bawah bergetar sedikit. Begitu juga tangan Julian, ketika ia mengangkatnya ke pipinya.

    "Kau kedinginan?" tanya Mike. "Suhu AC diatur cukup rendah, biarkan aku menaikkan suhunya."

    "Tidak," Julian memindahkan tangannya dari wajahnya sendiri dan meletakkannya pada bahu Mike. "Aku tidak kedinginan." Wajahnya mendongak menatap Mike, dan Mike membungkuk untuk menangkap bibirnya, menikmati kelembutannya, dan aroma memabukkan saat ia bergerak untuk memperkecil jarak antara mereka. Kejantanannya mendorong celana boxernya, sehingga celananya semakin ketat.

    Mike melangkah mundur dan meraih tangan Julian, menariknya ke arah tempat tidur dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. Dia menciumnya lagi, lembut, mengangkat kaki Julian ke atas kasur dan meletakkan bantal lembut di bawah kepalanya.

    "Apakah kau merasa nyaman?"

    "Hmmm?" Julian menatap Mike, tetapi kelopak matanya setengah tertutup dan napasnya terdengar tertahan. "Oh, ya, sangat nyaman." Julian mengangkat tangan dan meletakannya di lengan Mike, kuku jemari Julian bermain dipergelangan tangan Mike.

    Mike memperhatikan teman kencan semalamnya. Julian tampak seperti pahatan seniman ulung.

    ***

    Julian seorang perjaka, menggelinjang merasakan antara bernafsu dan kengerian pada setiap sentuhan Mike. Tangannya mengirimkan sensasi baru yang berlomba didalam tubuhnya. Dia memang pernah disentuh sebelumnya dengan seorang pria. Tapi ada sesuatu tentang cara Mike menyentuh dan menatapnya yang membuat hatinya berdegup dan mulutnya kering.

    Mungkin itu disebabkan karena Julian berencana untuk tidur dengannya. Tidak ada bagian yang dilarang untuk di pegang—Julian menginginkan semuanya. Dan dia tidak memberitahu Ses Anna karena dia tidak ingin menghadapi orang iseng yang sedang mencari perjaka untuk menambah koleksi untuk ditaklukan.

    Julian menyandarkan kepalanya di bantal lembut dan memungkinkan Mike untuk memimpin. Mike merangkak naik disampingnya, anggun, seperti kucing hutan, dan berbaring disampingnya, telanjang. Julian bisa melihat celana dalamnya di lantai di samping tempat tidur. Dia menjulurkan lehernya untuk mencoba untuk melihat ke bawah Mike untuk melihatnya tetapi sudutnya salah. Beberapa menit lagi, kado spesial bakan ia berikan. Julian memejamkan matanya erat, rasa takut lebih membanjir daripada hasratnya, menunggu langkah Mike berikutnya.

    "Lihatlah aku," kata Mike, dan Julian membukanya matanya lagi.

    Julian terjebak dalam tatapan tajam mata elang Mike, memperhatikan panjangnya bulu mata Mike. Jari-jari Julian menyusuri kekerasan tulang pipi Mike, dan ia mengusap telapak tangannya di wajahnya, menyukai gelitik bulu-bulu kecil yang tumbuh di wajah Mike. Julian bertanya-tanya bagaimana rasanya bulu-bulu itu menyentuh bibirnya, dan Julian mengangkat kepalanya untuk mencari tahu.

    Pipi Mike yang kasar terasa nikmat, dan Julian mengusap bibirnya bolak-balik, menikmati sensasinya. Mengapa ia tidak pernah mengambil kesempatan sebelumnya untuk menjelajahi pria-pria yang pernah menjadi pacarnya? Pasti dia akan kehilangan keperjakaannya bertahun-tahun yang lalu. Atau mungkin perasaan itu hanya ada pada Mike?

    Aroma tubuh Mike tercium di hidung Julian, liar, panas dan jantan.

    Mike memutar kepalanya dan menciumnya lagi. Bibir sedikit terbuka, mereka menghembuskan napas masing-masing, lambat, manis, memabukkan. Ujung lidahnya membelai bibir Julian dan pria itu mendesah sebelumnya dengan takut-takut menjulurkan lidahnya sendiri untuk menyentuh lidah Mike, terpaut dalam gerakan rumit nan erotis. Julian menggeliat, merasa rentan ketika kedua belah kakinya terbuka dan terjepit diantaranya paha berotot.

    Mike melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan menjilat leher Julian, membuat pria itu ingin menjerit. Jilatan Mike terus turun menuju dadanya. Mike meniupkan udara dingin di nipple-nya yang menegang. Darahnya mengalir deras melalui pembuluh darahnya, dan dia merasa begitu hidup, dia hampir lupa bahwa dia bukan penggila seks seperti yang saat ini dia tunjukkan kepada Mike.

    Mike membasuh nipple-nya dengan lidah panasnya, satu per satu, sambil terkadang diselingi cubitan ringan di puting lainnya dengan ujung jarinya. Jari-jari Julian tersangkut di rambut Mike, kepala Julian terlemparkan kembali ke bantal dan matanya memejam rapat. Mike menjilat perlahan, mengambil setiap detik yang terasa lama untuk membuat setiap lingkaran di sekitar nipple, dan Julian berlaku pasrah disentuh oleh Mike dengan lidah kasarnya. Tiba-tiba, Mike mundur dan mendongak, membakar diri Julian dengan tatapannya, sebelum menjatuhkan kepalanya kembali dan menghisap nipple-nya ke dalam mulutnya, menggigit-gigit ringan, cukup untuk memberi sedikit rasa sakit dan kenikmatan yang berbaur yang membuat Julian meringkih.

    "Mike, oh Tuhan, di mana kau belajar melakukan itu?" ucapan konyol pertanyaannya terasa memukulnya ketika Mike tertawa. Getaran bibir Mike sementara nipple-nya masih berada di giginya mengirim Julian menuju batas. Julian merasakan orgasmenya, jemarinya menancap di kulit kepala Mike dan merasakan kontraksi otot di seluruh tubuhnya hingga ke jari-jari kakinya. Gelombang terus berlanjut, meninggalkan tubuhnya dengan lemas dan terengah-engah.

    Mike meliat ke arah wajah Julian. "Apakah kau selalu orgasme ketika seseorang mengerjai nipple-mu seperti ini?" tanyanya seraya memindahkan mulutnya ke nipple satunya dan menghisap ke dalam mulutnya, menggigit keras, memutar di antara giginya.

    "Tidak, aku—tidak pernah." Julian tidak pernah mengalami orgasme dengan seorang pria, sebelumnya. Sementara Mike mengisap nipplenya kuat, kelembaban antara kedua kaki Julian menjalar ke pahanya.

    "Apakah itu tidak biasa?" tangan Julian meninggalkan rambut Mike dan menyusuri bahunya yang bidang. Kulit Mike terasa hangat, dan Julian mendapati diriya ingin menggali jari-jarinya ke dalam otot-otot tegang di dasar lehernya.

    Mike melepaskan bibirnya dari nipple Julian dan mendorong dirinya pada sikunya. "Apakah kau serius?"

    Julian menarik napas gemetar. Jangan berkata jujur, Julian. Mike mungkin tidak menginginkanmu jika dia tahu betapa tidak berpengalamannya dirimu. "Ya—tidak, kukira tidak. Aku hanya tahu itu tidak pernah terjadi kepadaku sebelumnya."

    "Aku juga." Terpikat senyum lebar dan binar di mata Mike, dan Julian mengulurkan tangan ke pipi Mike, membimbing Mike untuk menciumnya. Mike berguling ke kanan, membawa Julian bersamanya sehingga Julian berada di atas. Julian mengangkangi pinggulnya dan sangat sadar ereksinya menekan di persimpangan paha Julian.

    ***

    to be continue...
    ·
  • caetsithcaetsith Posts: 361
    Cerita lama tp baru d post di sini? no problemo.. yg penting LANJUTT ampe tamat..
    ·
  • Kim_KeiKim_Kei Posts: 309
    akh! Hot! Hot! Hot! *ambil kipas dagang sate*
    Lanjut abang~ *rebut balik popcorn*
    ·
Sign In or Register to comment.
Mengapa saya GAY?
Say hello with BoyzChat!
Besarkan








*klik 'refresh' untuk lihat pesan baru


Hebohkan di Twitter :






 Langganan RSS


BoyzForum Hot Topics!

Kirim ke email saya


Kontak admin@boyzforum.com


Review http://www.boyzforum.com on alexa.com
Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.