BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!

Jika ada pelanggaran Aturan Pakai, klik di "Laporkan" pada pesan tsb.



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

KERAJAAN PELANGI (Fantasy Story) ~ TAMAT

danielsastrawidjayadanielsastrawidjaya ✭✭✭ Gold
edited December 2014 in BoyzStories
Halo teman-teman. Ini cerbung keempat yang ku posting. Akan diupdate bersamaan dengan ALL ABOUT HIM yang lanjutannya ditunda. Cerita ini menurutku aneh dan gak masuk akal. Sekali-sekali boleh dong iseng buat cerita fantasi. Cerita ini kubuat tuk lucu-lucuan aja, walaupun ceritanya gak lucu. Hehe...

Kalau gak suka gak perlu dibaca. Silahkan memberi saran atau kritik yang membangun. Sorry kalau ada kesamaan nama tokoh dan lainnya yang tidak berkenan di hati teman-teman. Happy reading...

Panduan :
Page 1 : Pelangi I
Page 2 : Pelangi II
Page 4 : Pelangi III
Page 6 : Pelangi IV
Page 8 : Pelangi V
Page 9 : Pelangi VI
Page 12 : Pelangi VII
Page 14 : Pelangi VIII
Page 15 : Pelangi IX
Page 16 : Pelangi X
Page 17 : Pelangi XI
Page 19 : Pelangi XII
Page 21 : Pelangi XIII
Page 21 : Pelangi XIV
Page 22 : Pelangi XV
Page 23 : Pelangi XVI - Ending






PELANGI I


Seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu. Wajahnya sangat pucat. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. “Kenapa aku bisa mimpi aneh lagi?” Batinnya berbisik.

Bayangan-bayangan itu kembali muncul dalam pikirannya. Dia sangat bingung karena mimpi itu telah dua kali mengganggu tidurnya. Kerajaan Pelangi? Siapa Pangeran Pelangi? Mengapa Pangeran Pelangi memintanya menjadi Pelindung Pelangi? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak pemuda itu.

“Apa aku harus mempercayai mimpi itu?” Gumamnya setelah sedikit tenang. “Tapi mimpiku gak masuk akal. Mana mungkin aku seorang Pelindung Pelangi yang punya kekuatan super. Aneh banget.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia kembali hanyut dalam lamunannya. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Terkadang dia tersenyum. Tiba-tiba dia bisa tertawa, bergidik ngeri, geleng-geleng dan lainnya silih berganti.

“Aghhh... Edan.” Dia mengacak rambutnya yang sangat berantakan. “Untuk apa dipikirin. Anggap aja cuma bunga tidur.” Dia mengusap wajahnya. Namun dia tak mampu menghilangkan bayang-bayang mimpi itu.

Pemuda itu segera turun dari ranjang dan melangkah cepat ke arah kamar mandi. Dia harus mempersiapkan diri secepat mungkin kalau tidak ingin melewatkan sesuatu yang penting untuknya.

Tak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan rutinitas membersihkan diri. “Pagi Mi, Pi...” Ucapnya saat mendekati meja makan.

“Pagi sayang.” Sahut kedua orang tuanya secara bersamaan. Mami tersenyum saat mendapat ciuman di pipi. “Loh loh... Kenapa gak sarapan?” Protes mami ketika melihat anak semata wayangnya tidak duduk melainkan hanya mengambil sebuah apel.

“Lagi males Mi. Nanti aja Andra sarapan di sekolah.” Andra menjawabnya dengan santai.

“Liat tu Pi... Anakmu paling males kalo disuruh makan. Persis kayak papi!” Andra dan papi hanya senyam-senyum mendengar omelan mami.

“Namanya juga anak papi, ya mirip papi lah. Mosok mirip supir kita.” Papi mengerling pada Andra. Sementara Mami semakin mesam-mesem.

“Tos dulu dong pi...” Mereka tos dengan sangat kompak.

“Anak sama bapak sama aja.” Mami sewot.

“Andra berangkat ya... Da Mami cantik...” Andra kembali mencium pipi mami lalu segera melangkah cepat sambil menggigit apel.

“Hati-hati. Jangan ngebut!” Mami pun kembali tersenyum memperhatikan punggung Andra.

Andra celingak-celinguk ke arah gerbang rumahnya yang telah terbuka lebar. Matanya sedang mencari seseorang yang menghuni rumah tepat di depan rumahnya. “Apa Agung udah berangkat?” Gumamnya. Andra tak tenang. Sedari tadi dia mondar-mandir di dekat motor CBR yang mesinnya sedang dipanaskan.

Hati Andra tak akan tenang jika dia tak melihat Agung walau hanya sehari. Agung adalah sosok yang telah merebut perhatian dan cinta Andra. Entah sejak kapan Andra mulai menyukai Agung yang lebih muda setahun darinya. Perasaan itu muncul begitu saja dan semakin lama semakin besar.

Hingga saat ini Andra belum berani mengungkapkan cintanya pada Agung. Dia takut Agung akan menjauhinya jika dia menyatakan cintanya. Andra lebih memilih tetap menjaga hubungan pertemanan mereka yang sudah terjalin hampir 7 tahun.

Masih jelas dalam ingatan Andra ketika Agung dan keluarganya pindah ke rumah itu. Pembawaan Agung yang periang dan mudah bergaul membuat Andra merasa nyaman. Demikian pula kakak dan adik Agung yang memiliki sifat tak jauh berbeda dengannya.

Senyum langsung terkembang di bibir Andra saat melihat sosok yang dinantikannya. Seperti biasa, Agung selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda kesayangannya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Agung sejak dia masuk SMA hampir setahun lalu. Bukannya keluarga Agung tak mampu membelikannya kendaraan yang lebih bagus, tetapi Agung lebih senang naik sepeda. Lagi pula jarak sekolahnya hanya beberapa kilometer, berbeda dengan sekolah Andra yang cukup jauh.

“Pagi Gung...” Andra mengendarai CBRnya pelan agar bisa sejajar dengan sepeda Agung.

“Hi Dra. Semangat amat?” Agung silih berganti melihat jalan dan Andra.

“Iya dong. Aku kan gak mau kalah sama kamu.” Andra tersenyum manis. Agung pun membalas senyuman Andra dengan senyuman terindah menurut pandangan Andra. “Gung... Nanti sore gak ada acara kan? Kita nonton yuk...” Ajak Andra sangat antusias.

“Hmm... Sorry Dra. Aku gak bisa.”

“Kenapa gak bisa? Kita dah lama loh gak nonton bareng. Mau ya...” Andra berusaha membujuk dengan wajah memelas.

“Aku dah ada janji sama anak-anak. Kalo ku batalkan bisa-bisa leherku digorok. Hiii...” Agung bergidik ngeri.

Andra tertawa kecil melihat ekspresi Agung yang lucu. Tapi tiba-tiba raut wajah Andra berubah. Sepertinya dia menyadari sesuatu. Wajahnya menjadi tak bersemangat. “Bareng Dika?” Ucapnya pelan. Andra selalu saja kesal jika mengingat Dika. Dia tak menyukai kedekatan Agung dan Dika. Walaupun dia tau bahwa mereka sudah bersahabat sejak kecil, jauh lebih lama sebelum dia mengenal Agung.

“Yupp... Kayak biasalah sama cecunguk-cecunguk yang lain juga. Oh iya... Gimana kalo kamu ikut kami?” Agung sangat bersemangat.

Andra berpikir sejenak. “Nggak dech. Lain kali aja.”

“Kenapa? Karna ada Nadia ya?” Agung menggoda Andra. “Nadia kan baik. Cantik lagi. Aku dukung loh kalo kalian sampe jadian.” Wajah Andra nampak memerah karena olokan Agung. “Cie cie...” Agung semakin mengejeknya.

Andra kesal karena dia tak pernah menyukai tindakan Agung yang beberapa kali berusaha menjodohkannya dengan Nadia. Hati Andra hanya untuk Agung. Dia berharap Agung akan menyadari hal itu. “Aku gak suka cewek genit.” Ucapnya ketus. “Berhenti nyomblangi kami! Ngerti!” Kata-katanya tegas.

“Ngapain senyam-senyum?” Andra menghardik Agung yang cengengesan.

“Muka kamu lucu. Hahaha...” Agung tertawa sambil mempercepat laju sepedanya.

Andra mengerem motornya. Wajahnya kembali memerah. Kali ini dia merasai senang karena ucapan Agung. Jarang-jarang Agung memujinya. Memuji? Andra menganggap seperti itu.
u
Dia masih saja mengulum senyum saat menyadari Agung agak jauh meninggalkannya. Semangat Andra kembali membara. Dia buru-buru mengejar Agung yang sudah sampai di pintu masuk komplek perumahan mereka. “Hei... Tunggu.”

Agung menghentikan sepedanya cukup jauh dari pos satpam. “Apa lagi?”

“Jadi kapan kita nonton bareng? Ada film keren loh...”

“Makanya cari pacar supaya ada yang diajak nonton. Jangan ngajak aku mulu, emangnya aku pacar kamu.” Agung mencibir.

“Aku jomblo. Kamu juga jomblo. Jadi anggap aja kita pergi kencan.” Andra mengedipkan matanya. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Entah dari mana dia mendapatkan keberanian seperti itu.i

“Idih... Amit-amit. Udah ah. Pegi sono! Jangan gangguin aku terus. Awas kalo aku sampe telat. Kamu pasti kena bogem!” Agung mengepalkan tangannya ke arah Andra.

Andra cengengesan memamerkan gigi-gigi putihnya. “Gung...” Ucap Andra lirih saat melihat Agung mulai mengayuh sepedanya. Namun Agung tak menggubris.

Andra menstarter motor sambil manyun. Dia tak menyalahkan sikap Agung padanya. Dia hanya menyesali kecerobohan telah mengucapkan kata-kata bodoh itu.

“Dra...” Jeritan Agung membuat Andra menoleh. “Besok sore jemput aku jam 5. Awas kalo sampe telat!” Agung kembali mengayuh sepedanya dengan cepat setelah mengatakan kata-kata yang membuat Andra kembali tersenyum.

“Oke bro.” Andra berteriak. Rasanya dia sangat ingin jingkrak-jingkrak untuk mengekspresikan kegembiraan. Namun dia mengurungkan niatnya. Bisa-bisa dia dikira orang gila.

Andra memandang Agung yang melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Lalu Andra memutuskan melajukan motor setelah punggung Agung hampir tak terlihat lagi. Semangat Andra kembali membara dan senyuman terus terukir di bibirnya selama perjalanan menuju sekolah.

Seandainya saja sekolah mereka sama atau paling tidak searah, pasti akan lebih menyenangkan untuk Andra. Dulu Andra sempat marah pada Agung saat Agung lebih memilih mendaftar di sekolahnya yang sekarang dari pada sekolah Andra. Bahkan Andra tak mau berbicara pada Agung selama seminggu karena Agung tak mau mengubah keputusannya.

Tapi mana bisa Andra berlama-lama mendiamkan Agung. Senyuman Agung bagaikan energi untuknya. Seminggu tanpa melihat senyuman Agung adalah masa-masa yang sangat menyakitkan untuknya. Wajah Agung yang cute bagaikan candu yang membuat Andra ingin selalu melihat wajah itu. Sepertinya Andra sudah cinta mati pada Agung.

***

“Hi guys...” Agung menyapa tiga orang sahabatnya yang telah berkumpul di kelas X 1.
“Lama banget lu. Ditelpon kagak diangkat. Cari mati hah?” Dika tiba-tiba berdiri dan berkacak pinggang.

“Lo kenapa sih? Lagi dapet ya? Aneh banget. Tumben lo cepat datang. Biasanya juga suka telat.” Agung meletakkan tasnya di meja.

“PR gua belum siap. Elu sih ditungguin lama banget.” Dika kembali duduk dan cepat-cepat menyalin PR dari buku Nadia.

“Kok gue gak disalahin. Itu sih salah lo sendiri.” Agung mencibir. “Makanya kalo nger__”

“Berisik.” Sahut Dika.

Bukannya diam, Agung malah ingin menjahili Dika. “Nad... Elo nyium bau gak sedap gak sih?” Agung mengendus-ngendus seperti mencari sumber bau. Dia juga mengedip ke arah Nadia yang duduk di depannya.

Nadia awalnya tidak mengerti dengan maksud Agung. Namun akhirnya dia paham setelah melihat gerakan kepala Agung yang menunjuk ke arah Dika. “Kayaknya dari belakang dech...” Ucapnya manja.

“Iya Gung. Kayaknya dari arah meja kalian.” Sahut Julian yang duduk di sebelah Galang. Sedangkan Bella masih saja diam seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya.

“Masak sih?” Agung pura-pura bingung. Dia mendekatkan hidungnya ke arah Dika lalu tiba-tiba memencet hidungnya sendiri. “Baunya dari badan lo, Ka. Pasti elo gak mandi.” Agung tau kebiasaan Dika yang sering tak mandi jika sedang terburu-buru.

“Prak...” Dika memukul wajah Agung dengan buku dan sukses membuat Agung meringis. Nadia dan beberapa teman mereka yang lain hanya cekikikan melihat tingkah kedua sahabat itu.

“Resek banget sih lo. Sakit tau.” Agung merajuk.

“Makanya jangan jahilin orang!” Dika melotot.

“Gak asik lo. Gitu aja u__”

“Be-ri-sik!” Dika kembali melotot dan berkacak pinggang.

“Huh... Gak seru lo. Gak bisa diajak bercanda. Gue duduk di belakang aja.” Agung mengambil tasnya. Dia bermaksud untuk duduk di bangku kosong karena penghuninya telah pindah ke luar kota.

“Eit... Jangan ngambek dong...” Dika memegang pundak Agung dan agak memaksanya untuk duduk.

“Siapa juga yang ngambek.” Agung sewot.

“Sakit ya?” Dika berkata lembut. “Mana yang sakit?” Dika berhasil memegang kepala Agung walaupun Agung sudah berusaha menghindar. Dan... Cup. Tiba-tiba Dika mencium kening Agung.

“Dika!!!” Agung berteriak hingga menggemparkan seisi kelas. Dika segera berlari menjauh dari Agung sambil tertawa keras. Terjadilah kehebohan di dalam kelas karena aksi kejar-kejaran mereka.

Tak ada satupun teman sekelas yang merasa janggal dengan ciuman itu. Bagi mereka hal itu hanya sebuah keisengan dua sahabat yang sudah sering saling menjahili. Mereka sudah terbiasa melihat keusilan Agung dan Dika yang terkadang terlihat seperti anak-anak.

***

“Hormat kami Yang Mulia.” Astarte dan Astaroth menundukkan badan ke arah Dewi Kegelapan. Mereka berdua terlihat sangat menawan dengan riasan gotik, namun terlihat tak bersahabat. Keduanya adalah pengikut setia Dewi Kegelapan yang berusaha membangkitkan kekuatannya.

Astarte adalah seorang wanita cantik yang terlihat seksi. Matanya berwarna hitam pekat senada dengan rambut panjangnya yang terurai. Pakaiannya sangat minim. Dia memakai rok mini ketat berwarna hitam. Sedangkan buah dadanya mengintip di balik kain hitam yang lebih mirip sebuah kutang. Terlihat banyak tattoo di dekat pusar, dada dan beberapa bagian tubuhnya yang lain.

Sedangkan Astaroth adalah pemuda yang sangat tampan. Bermata biru dengan rambut yang sedikit kecoklatan. Dia nampak sangat macho dengan tubuh yang sempurna. Otot-ototnya nampak indah, tak terlalu besar namun sangat proporsional. Tubuhnya hanya ditutupi celana panjang hitam yang transparan dan ketat, namun tidak demikian daerah segitiga emas miliknya yang tertutup tanpa celah. Sedangkan tubuh bagian atasnya tak tertutupi sehelai benang pun.

“Kalian harus bergerak cepat sebelum kesejajaran planet tiba. Waktunya hanya beberapa bulan lagi. Kumpulkan sebanyak-banyaknya jiwa pemuda pelangi yang belum ternoda.” Perintah Dewi kegelapan yang nampak menyeramkan. Wajahnya pucat dan berkeriput. Kepalanya dihiasi banyak ular, seperti Medusa dalam mithologi Yunani.

“Baik Yang Mulia.” Jawab mereka berdua.

“Maaf Yang Mulia. Sekarang sudah muncul seseorang yang berusaha menghalangi usaha kami. Sudah beberapa kali Pelangi Api mengganggu dan menggagalkan rencana kami.” Ucap Astarte.

“Benar Yang Mulia. Pelangi Api benar-benar merepotkan.” Sahut Astaroth.

“Kalian harus bisa mengatasinya. Kalian pasti bisa mengatasi Pelangi Api. Kalian juga harus bersiap-siap menghadapi para Pelindung Pelangi. Aku yakin mereka akan segera muncul. Aku tak ingin melihat kegagalan. Apa kalian mengerti!”i

“Mengerti Yang Mulia.”

“Bagus. Sekarang pergilah.”

“Baik Yang Mulia.” Dalam sekejap Astarte dan Astaroth sudah menghilang dari hadapan Dewi Kegelapan.

Dewi Kegelapan tersenyum sinis. “Tunggulah kebangkitanku! Kau... Pangeran Pelangi akan menerima pembalasan dendamku. Kerajaan Pelangi akan hancur. Dan tak akan pernah muncul lagi selamanya. Jiwamu dan seluruh jiwa kaummu akan menjadi budakku. Hahaha...” Tawa Dewi Kegelapan menggelegar dalam ruangan yang serba hitam itu.

***
Bersambung


Aneh ya? Ditunggu komennya. Kalo banyak yang suka pasti akan dilanjut. Kalo banyak yang ngejek, pasti akan dihentikan. Kalo banyak yang bingung, sama dong kayak aku. Wkwkkk..

Tokoh yang telah muncul: Agung, Andra
Sahabat Agung di sekolah : Dika, Julian, Galang, Bella dan Nadia.
Tokoh Antagonis : Dewi Kegelapan, Astarte dan Astaroth.

«13456725

Komentar

«13456725
Sign In or Register to comment.