<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
      <title>BoyzStories - BoyzForum!</title>
      <link>http://boyzforum.com/categories/boyzstories/feed.rss</link>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 22:22:00 +0000</pubDate>
         <description>BoyzStories - BoyzForum!</description>
   <language>en-CA</language>
   <atom:link href="http://boyzforum.com/categories/boyzstories/feed.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
   <item>
      <title>Season 1: Pengalamanku menjadi Gigolo ( Trey)+ season 2+ season 3</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733733/season-1-pengalamanku-menjadi-gigolo-trey-season-2-season-3</link>
      <pubDate>Mon, 19 Mar 2012 18:57:31 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>garykoolames</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733733@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Pengalamanku menjadi gigolo<br />
<br />
garykoolames<br />
<br />
Sebenarnya aku juga ngak nyangka , that one day, aku bakalan bisa jadi gigolo.<br />
Awalnya sih iseng-iseng doang. Kejadian itu berawal kira kira 2 tahun yang lalu, dan pencetus kejadian itu adalah saat itu aku hatiku hancur berantakan.<br />
Aku sudah pacaran dengan Jeff kurang lebih hampir 3 tahun, karena aku sangat yakin akan keutuhan hubungan kita,<br />
semua kulakukan dan kukorbankan untuknya, sampai aku harus tinggal bersama( kumpul kebo hehehe), come out ke keluargaku, apapun persyaratan dan keinginan jeff , selalu kuturutin.<br />
Tapi aku tak menyangka, saat cinta telah hilang, artinya cinta telah hilang. When it’s over , it ;s over.walaupun aku hampir bunuh diri/ suicidal , jeff juga tidak peduli,dia cuek aja.<br />
Aku juga rela untuk 3 some dengan siapapun yang dia mau, alasannya to spark our sex life. Walaupun itu menentang hati nuraniku, hal itu aku lakukan. Still all I did, nggak mencegah dia lari kelain hati.<br />
Hatiku hampa, hari hari kujalani seperti zombie. I need something untuk to fill my emptiness. Pelarian dari kenyataan pahit hidupku. Akhirnya aku jadi sering ke sauna, disauna aku tidak peduli dengan partner sexku , everyone is fine, semua oke , mau tua ,mau muda, mau jelek sekalipun,aku cuek aja.<br />
Walaupun kadang aku merasa mereka kejam dan egois, sudah crot , aku langsung dicampakan. TApi tidak semua egois, ada juga yg baik hati, menunggu sampe aku orgasme, . Tapi orgasme bukanlah tujuan utamaku. I just need someone, just need to feel and touch someone.<br />
Karena sangking sulitnya aku orgasme , sering aku merasa kasihan banget kalau aku jadi top. Yang jadi bot, selalu bertanya,”masih lama yah , keluarnya? Apa lagi kalau mereka sudah keluar duluan. SEring banget ke sauna,aku akhirnya cukup terkenal disana. SAmpai akhirnya aku mencapai titik jenih, ingin mengganti suasana.<br />
lama tidak ke sauna lagi dan tidak merasakan yang namanya belaian pria, aku sering melihat iklan pijat di koran. Suatu hari, kutelpon nomor itu, akhirnya aku janjian dengannya di suatu hotel murah di jakarta.<br />
Orangnya sih lumayan, umur 23 an, badannya atletis, something about his face, tatapan matanya terutama , yang I am not so sure. TApi karena udah horny, gua tetap melawan perasaan hati gua. Walaupun cakep, tapi resenya minta ampun deh. buka harga 1 juta, ampun deh, apa nggak salah???. The worst part, gua sial banget saat itu, orangnya memaksa banget, aku ada feeling dia ada masalah narkoba sedikit, dan aku mulai merasa nggak nyaman, dia mulai memaksa banget.aku sedikit mulai merasa takut.<br />
Aku bilang batal deh, tapi aku rela bayar 500ribu, tiba-tiba dia teriak teriak dan menelpon seseorang ,yang katanya aparat kepolisian . Aku juga heran , kenapa dia nafsu banget, dari tadi berusaha membuka celanaku . Aku mulai panic dan ketakutan. Dia sudah mulai telanjang, dan berteriak kalau dia dilecehkan.<br />
Tiba tiba aku teringat seseorang yaitu om dave,kutelpon om dave dan kuceritakan masalahku. Untung om dave segera datang katanya. Aku mulai tenang. Kukatakan kepada cowok anjing bajingan bahwa aku juga ada koneksi dan backing orang kuat dia pemerintahan.<br />
Dia masih teriak teriak. Dari percakapan telpon yang aku dengar, teman polisinya juga sudah dalam perjalanan menuju hotelku. Aku pingin keluar kamar, tapi dia menahan di pintu.<br />
Om dave akhirnya datang, dengan dua orang bodyguard berbadan tegap dan berambut cepak, tanpa kusadari mereka telah menyeret cowok jahanam itu, aku masih pucat pasi terkejut. Om dave berkata:’ kamu ke mobil saja, biar orang om yang beresin bedebah itu.”<br />
Om dave tersenyum melihatku dan lalu memelukku. Aku merasa sedikit lega. Aku mengenal Om dave dari sauna. Sebenarnya aku juga lupa awalnya bagaimana aku bisa berkenalan dengannya,tapi yang pasti kami lumayan sering ml di sauna, walaupun dia sudah hampir setengah abad lebih, badannya masih tegap, dan yang lebih penting dia tidak pernah memaksaku untuk bercinta dan dia selalu sangat lembut, membuatku nyaman dan betah berada disampingnya.<br />
Om dave lalu mengajakku pergi, dimobil ia menasehati untuk berhati-hati dalam hal hal beginian sudah banyak kasus pemerasan, dimana ketika kita memesan money boy, tiba tiba dikamar hotel, pintu kamar diketuk kencang , dan didobrak , dan tiba tiba ada yang mengaku aparat, tiba tiba langsung mengambil gambar, dan mengatakan kalau kita telah melakukan pencabulan dengan anak dibawah umur.<br />
Aku beruntung saat ini, karena sang pelaku sedikit fly karena pengaruh obat ,jadi rencana jahatnya tidak berjalan kurang lancer karena tidak terkoordinasi dengan baik . Biasanya partnernya udah stand by di hotel, dan dalam waktu singkat sudah bisa beraksi mendobrak pintu kamar.<br />
Aku masih shock dan tidak bisa berpikir. OM dave bertanya, dimana rumahku, tiba tiba aku bilang, bahwa aku mau tinggal di hotel aja. OM dave menelpon staffnya dan meminta dipesankan sebuah kamar di hotel berbintang 5. Aku diantarnya sampai dikamar. Sampainya dikamar, aku langsung mennciumnya.<br />
<br />
Aku memohon kepadanya jangan pulang dulu. Dalam posisi bersujud, kubuka tali pinggangnya. Aku sudah merasakan kontolnya yang mengeras, kubuka celananya dan langsung kukulum kontolnya. Om dave mulai membuka bajunya, tiba tiba dia mengangkatku, dan melemparkanku ke atas tempat tidur. Dibukanya bajuku satu persatu, dia mulai menjilati seluruh tubuhku. Dielus eluskan kontolnya ke mukaku. Aku mulai mengocok kontolku, aku sudah ngak tahan lagi, maklum aku hampir sebulan tidak onani. Setiap aku hampir mau keluar, om dave menahanku, diangkanya tanganku. Aku meraung,' om dave, aku ngak tahan lagi om , please, please biarin aku cum. Dia lalu mengisap kontolku tapi aku benar benar tidak tahan lagi, aku berkata, " om aku dan mau keluar.' tiba tiba spermaku keluar dimulut om dave, om dave menghisapku lebih kuat, aku serasa seperi meledak.<br />
<br />
Aku langsung lemas, lalu om dave menciumi , kurasakan spermaku dimulutnya, ia mengocok kontolnya yg besar, dan semakin bernafsu menciumi , sampai akhirnya ia keluar muncrat diseluruh tubuhku.<br />
Setelah itu , akhirnya kami mandi bersama, dan lanjut ngobrol, heran juga sih kehidupan di sauna, udah sering ml kok kagak pernah ngobrol. Ini pertama kalinya aku berbincang bincang dengan om dave. Walaupun kita sebelumnya udah tukaran pin bb, tapi hanya sekedar tukaran joke.<br />
Akhirnya ketahui, Om dave seorang pejabat Bumn, kisahnya klasik , tuntutan keluarga ia harus menikah, ia cukup bahagia dengan keluarganya, cuma karena memang karena tuntutan biologis, ia akhirnya ke sauna. Aku juga berterima kasih kepada OM dave, udah mau menolongku. Dia bilang pasti dia menolong aku, disauna itu, aku tuh termasuk orang yang baik. Kadang ada yang merasa kecantikan, dan please lah, if you have to reject someone , do it an a very humane way. Aku terkejut juga sih, OM dave merasa begitu, seorang yang menurutku lumayan cakep dan pejabat besar BUMN, bisa segitu vurnerablenya. Kuceritakan sedikit masalah dalam kehidupanku, bahwa gara gara aku yakin bener terhadap mantan exku, aku udah come out ke keluarga, dan karena naif cinta bisa mengalahkan segalanya, akhirnya malah aku diusir keluarga, dan plus broken heart. Terus om dave bertanya, mengapa aku kok sampean desperate ampe cari money boy, udah itu asal lagi. Untung katanya money boynya ngak bawa narkoba, kalau nggak, aku bisa dijerat pasal berlapis, narkoba, pencabulan dibawah umur. Aku tiba tiba memukul kepalaku, SHIT sambil berguman dalam hati what i have done to my self.<br />
OM dave terus ngomong, elo ini super super cakep , badan atletis, kok bisanya sampe desperate mau bayar, yang mau bayar kamu aja banyak.<br />
HAHAHA aku bercanda, beneran? hahha<br />
Aku terus bertanya disauna aja, orang udah males ama aku. OM dave tersenyum, ia banyak yang bete sama elo, hahahha karena elo selalu nggak mau cum hahaha, dan elo nggak pernah mau kissing. Aku terkejut : “ah yang bener” tanyaku. Aku bertanya ke om dave, " Om aku ada kan kiss om ?" Om Dave tertawa, u r a kind person.<br />
Akhirnya aku tertidur dipelukan om DAve. Ketika aku bangun, Om dave sudah tidak ada, tapi ada lagi, dia cuma menuliskan sebuah note, kalau breakfast included, dan hotel semua udah dibayarnya. Tiba tiba kulihat sebuah amplop berisi uang 3 juta rupiah, ditulis depannya UANG KAGET, aku tersenyum<br />
.<br />
OH NO, pasti om dave berpikir kalau aku kesulitan ekonomi, SHIT SHIT, buat malu aja .<br />
Kutelpon Om dave, Om kukatakan aku ingin mengembalikan uangnya. Tapi Om dave cuma berkata, minggu depan traktir dia, karena minggu ini dia harus ke Samarinda.<br />
Entah kenapa, bertemu dengan OM dave memberikanku secercah semangat kehidupan.<br />
Besoknya aku langsung ke butik Raol, yah amplop mahalnya, udah sale cuma dapat 2 kemeja, itu pun mesti nombok lagi.<br />
Setelah seminggu kami pun bertemu lagi, untuk dinner, kuhadiahkan kemeja itu, dan aku memaksa untuk mentraktirnya.<br />
Karena aku yakin dan percaya bahwa om dave orang yang baik, ku bawa om DAve ke apartemenku. Sesampainya dikamarku, ia cukup terkejut , bahwa kehidupan ekonomiku cukup lumayan , ia sedikit salah tingkah. Kubilang tenang aja, yang penting hari ini om Dave happy.<br />
Kusuruh Om dave untuk berbaring, kupijit tubuhnya dan kulumuri dirinya dengan massage oil, tiba tiba entah ide apa, ku rimming anusnya. ia keasyikan, dia berkata fuck me please<br />
dengan pelan pelan kumasukkan kontolku ke lobangnya, aku tidak akan menyakitinya. Dia mengeluarkan suara suara keasyikan, fuck me fuck me. pelan pelan ku sodok sodok lubang anusnya.<br />
<br />
Sambil ngefuck , om Dave mengocok kontolnya yang besar. OM dave meraung, fuck me harder harder, Eh tiba tiba om dave udah muncrat. Gila Bt banget, kok cepat banget muncratnya. Om dave membiarkanku untuk tetap mengfucknya, tapi aku bisa melihat kalau ia meringis kesakitan, aku nggak sampai hati. Kucabut kontolku dari pantatnya. Ia lalu menciumku, tiba tiba aku berkata, OM dave i love you. Dia tidak menjawab, lalu kita mandi bersama, ku gosok tubuhnya dengan sabun, Oh its so romantic. Dengan mata berbinar binar setelah mandi, aku bertanya kepada om DAve, will u be my boyfriend? Om dave mulai keliatan serius dengan raut muka tegang dan tak nyaman. I can feel it....FUCK FUCK I AM GOING TO BE REJECTED FUCK FUCK<br />
OH SHIT....OM dave merasakan mukaku memerah. Dia langsung memelukku, dia berkata, " Tidak ada orang normal yang ngak mau jadi pacarmu, u are perfect in every way." Aku langsung menjawab, perfect in all way Shit, everyone rejected me, including you . "<br />
Om dave kembali berkata,” Kamu harus mengerti dong, situasi om”. Om menjelaskan lebih lanjut kalau PAcaran itu membutuhkan komitment, gimana dia harus membagi waktunya untuk aku , dan dia harus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Aku sudah semakin sinis, Fuck lah, membagi waktu kesauna buktinya bisa. OM dave tiba tiba melihatku deep into my eyes,” The most important thing, i must protect my heart, I know many men like you, your heart keep on changing”. Om dave beralasan kalau dia hamper 30 tahun lebih tua dariku , soon dia akan menjadi sangat tua, keriput ,with aging , dia akan vulnerable.<br />
Om dave berkata ,” bila tiba tiba kamu meninggalkanku what become of me?" i need to protect my heart. Elo tahu kan sakitnya patah hati.”<br />
Aku menjawab,” But i will never leave u.i promise.”<br />
OM dave kembali menjawab, " Didn;t your ex say the same ?'...<br />
Aku terdiam.<br />
Di a kembali berkata, " kamu cakep, kaya, baik, intelligent, you deserve someone much much better "<br />
Aku berteriak, " I dont want someone better, i just want someone who really care ."<br />
OM dave berkata," Ask me anything? car , house or even money ? I will give you, please not my heart.”<br />
Hatiku hancur , air mata mengalir, aku tiba tiba dengan sinis berkata, “Om dave mendingan pulang aja deh, anak istri om pasti udah menunggu dirumah."<br />
Walaupun aku kasar terhadap om dave, om dave melihatku dengan penuh rasa kasihan, ia tahu kalau perasaanku terhadapnya tulus.<br />
<br />
Akhirnya om dave pulang, aku berteriak dalam hati, emangnya aku cowok matrek, dibayar dengan mobil atau materi. Tiba tiba aku berpikir, mungkin memang jalan hidupku jadi cowok bayaran.<br />
Kubuka websites manjam. Cepat cepat ku ambil digital cameraku, kutegangkan kontolku , kuambil gambar kontolku. lalu aku push up dan sit up masing masing 100 kali, kuambil juga gambar badanku, not bad...hmmmm....<br />
kutulis profile ku dimanjan, gigolo, servis memuaskan, jam terbang tinggi, only melayani di hotel bintang lima, price in US $, bla bla bla, dengan gambar kontolku yang tegang beserta my abs…not fully define six abs, tapi ada lah six absnya samar samar hahaha<br />
<br />
Oh my god, baru sehari di pasang, replynya super banyak,,,,banyak juga sih yang maki maki, belagu lah, bla bla ...NGACA lah, ampun deh....<br />
gile, gua super shock , kok orang pada sinis yah, mau iseng iseng cari kerjaan sampingan aja, kenapa pada emosi. Anjrittttttttt.....gua sampe nggak mood untuk lihat reply yang ada. Awalnya banyak yang iseng, tapi lama lama kok akhirnya jadi mengecam.<br />
Mau buka harga berapa, mau melayaninya dimana, kan suka suka gua.<br />
Emangnya gua ada menyakiti orang, ada membunuh orang.akhrinya gua cuma ngebaca dan ngedelete pesan pesan yang mas.<br />
tiba tiba ada satu pesan singkat yang menarik, diaccount manjam gua.<br />
When and where? how much ? Are you that good ?<br />
<br />
Aduh gila mau jawab apa yah ?<br />
gua iseng aja ah, emang tujuan gua cuma iseng iseng doang<br />
when: it;s your decision<br />
where : anywhere aslong it;s 5*hotel<br />
how much: negotiable<br />
are u that good: try me !<br />
<br />
reply reply yang lain kebanyakan iseng, paling serem yang mengecam ngecam, ampun deh, sesama binan kok bisa yah saling menghakimi. Mendingan jadi gigolo, dari pada selama ini gua di sauna,sex is for free, nggak ada benefitnya, malahan habis duit.mana tahu jadi gigolo profesional.<br />
I wish for more support than curse.<br />
<br />
besoknya dia reply:<br />
give me your number<br />
<br />
cepat cepat gua beli hp baru nomor baru, esia aja ,murah meriah hahahha(iklan gratis nih)<br />
gila hp baru gua norak banget hahhaha lampunya kelap kelip... gua reply balik nomor gua<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>MEMOIRS III (The Triangle)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734803/memoirs-iii-the-triangle</link>
      <pubDate>Thu, 17 May 2012 11:21:27 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>jay dody</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734803@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Guys ni adalah seri terakhir dari memoirs yg gw garap. Honestly, gw masih bingung mo bawa cerita ini kemana. Baru nulis dapet bbrp part. Jadi. . .  ga tau deh. Semoga aja ga mengecewakan.<br />
En buat temen2 yg ada 'perlu' dg cerita ini, gw minta hubungi gw dulu ya?<br />
thanks!<br />
<br />
<br />
REGHA<br />
<br />
Gila! Orang2 kota besar memang ngeselin! batinku saat kembali aku harus melayani salah satu customer warung Bu Indri. Emang mereka nggak bisa ya ngambil kotak tissue yang jaraknya cuman dua meter dari tempat mereka duduk itu sendiri? Ngapain pake tereak2 gitu sih?!<br />
Coba kalo uang kiriman dari Bapak dikampung cukup buat hidup disini, gerundengku. Nasib jadi mahasiswa perantauan emang gini. Aku harus bisa berusaha survive dengan cara apapun. Dengan kerja pagi di warung Bu Indri, selain bisa dapat makan gratis, aku juga mendapat uang. Tidak banyak, tapi kalau digabung sama uang kiriman bapak, cukuplah untuk membayar uang kuliah dan keperluan hidup lainnya disini. Kalo lebih jg cuma sedikit. Lagipula, jam kerjaku cuma dari jam 7 sampe jam 12 doang. Sementara kuliahku dimulai jam 1. Jadi tak terganggu.<br />
Cuman itu, kadang suka ada pelanggan yg rese. Bikin empet abis!!. Pertama kali tiba dikota Bandung ini aku sempat agak shock dengan perilaku penghuninya. Sumpah mampus aku pikir orang Bandung itu ramah2! Orang Sunda kalo di tv kan sepertinya ramah2 gitu. Ya Allah, ternyata. . .<br />
Bukannya nggak ada sih yang ramah. Ada juga satu dua, tapi banyakan yang nge-bete-in. Dulu waktu berhasil tembus ujian seleksi di Perguruan Tinggi tempat ku belajar, aku sempat excited banget. Bandung cuy! Kayaknya keren! Bisa hang out, ngumpul ma anak2 gaul, pacaran ma cewek cakep. Kedengarannya bakalan seru. Temen2 sekolahku aja banyak yg iri!<br />
Tapi kenyataan gak seseru itu.<br />
Disini orang lebih dilihat karena 3 hal. Money, performance and speak! Diskriminasi yang aku liat di film2 drama remaja produksi Amrik, ternyata berlaku disini. Para nerd berkumpul dengan nerd yang lain. Cewek2 dan cowok2 gaul, tajir plus cakep membentuk gank sendiri. Mereka seakan-akan membentuk gank exclusive dg anggota yg harus berstandar sama.<br />
Paling susah kalo yang kelompok abu2 kayak aku gini. Cakep nggak, gaul nggak, tajir nggak, pinter banget juga nggak. Bener2 biasa. Gaulnya juga sama anak2 biasa aja.  Habis gimana coba?<br />
Mau gaul ma anak2 pinter, jadi bengong gak ngeh ma pembicaraan mereka. Malah keliatan banget dongo nya. Mau gaul ma gank populer, nggak kuat ma gaya mereka. Baju bagus, bling2, tongkrongan keren plus hang out ke diskotik atau club2 yg cover charge nya bisa langsung bikin aku miskin!<br />
Sigh. . . !<br />
Bodo banget lah! Pada akhirnya aku harus mau memilih dan memilah. Juga harus sadar diri. Aku yang berasal dari keluarga yang serba nge pas, harus bisa bersyukur bisa kuliah disini. Harus berusaha sebisa mungkin untuk survive. Nggak usah mikirin hal yg neko2. Yang sederhana saja.<br />
<br />
Aku melihat jam sudah hampir jam 12. Sudah waktunya aku pulang dan bersiap-siap kuliah. Aku segera berpamitan pada Bu Indri.<br />
"Sudah mau pulang Gha?!" tanya Bu Indri. Wanita berusia akhir 40 an yang sangat baik. Beliau sendiri istri dari seorang pejabat daerah setempat. Sebenernya Bu Indri sendiri bisa saja diam santai dirumah tanpa perlu bekerja. Gaji suaminya lebih dari cukup bila sekedar untuk biaya hidup. Tapi Bu Indri sangat hobi memasak dan tidak suka duduk diam dirumah sendiri. Putra tunggal beliau, Mas Rizky kuliah kedokteran di UGM.<br />
Karena itu, iseng2 beliau membuka rumah makan kecil2an tak jauh dari rumahnya. Siapa sangka kalau usaha kecil2an beliau menjadi lahan bisnis yang berkembang pesat dalam hitungan bulan. Sekarang Bu Indri punya 5 cabang yg tersebar di beberapa tempat di Kota Bandung ini. Beliau sendiri lebih suka berada disini, rumah makan yang paling dekat dengan rumah beliau. Rumah makan yang pertama beliau buka. Disini juga pusat dari semua kegiatan rumah makan beliau dilakukan. Setiap pagi ada sebuah truk pick up yg khusus digunakan untuk mengantar bumbu2 ke cabang rumah makan Bu Indri yang tersebar.<br />
Ada sepuluh orang yang bekerja khusus untuk membuat bumbu disini. 3 orang memasak. Dan 12 orang pelayan, yg dibagi menjadi 2 shift. Aku sendiri boleh dibilang hanya sebagai tenaga pembantu. Ceritanya dulu aku nyari kerja part time selama liburan kuliah. Bu Indri menerimaku disini. Alhamdulillah nya beliau senang karena aku bisa membantu beliau dengan pembukuannya.<br />
Karena itu beliau mempertahankanku untuk bekerja disini. Meski aku hanya bekerja 5 jam sehari. Tapi seminggu sekali aku mengerjakan pembukuan usaha beliau.<br />
"Iya Bu! Siap2 kuliah," jawabku sembari melepas celemek putih yang kupakai.<br />
"Tadi Ibu bikin rendang kesukaanmu lho. Nih bawa!" kata beliau dan mengangsurkan rantang bersusun 3 padaku. Jelas isinya lebih dari sekedar rendang. Dan kalau Bu Indri masak rendang berarti. . . .<br />
"Mas Rizky datang Bu?" tanyaku antusias.<br />
Bu Indri tersenyum melihatku. "Iya! Tadi subuh! Sekarang mungkin masih tidur."<br />
"Tumben mendadak Bu?" gumamku pelan dan menerima rantang tadi.<br />
"Mungkin mau kasih surprise buat Ibu? Ibu aja kaget tiba2 nongol dirumah subuh tadi. Sekarang pasti masih kecapekan! Sudah cepet sana.Nanti terlambat kuliahnya!" kata Bu Indri mengingatkan.<br />
"Waduh!!! Iya Bu! Terimakasih! Mari! Assalamu'alaikum!" pamitku dan cepat2 ngacir. Hari ini aku banyak sekali tugas. Plus kegiatan di club jurnalistik yg ku ikuti. Issue bulan kemarin cukup mendapat perhatian anak kampus. Soanya kami membahas tentang cowok en cewek favorit di kampus kami. Redaksi akhirnya mengadakan polling, siapa aja cowok cewek yg dianggap paling keren sekampus, dan juara 5 besar akan diliput dalam majalah kami.<br />
<br />
Siapa sangka kalo animo mahasiswa kampus kami besar sekali dengan ide ini. Email club sempat membuat alis terangkat dengan suara2 yg masuk. Dimana-mana cowok en cewek cakep emang selalu jadi pusat perhatian ya?!<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
"REGHA!!!"<br />
Suara panggilan itu membuatku menoleh ke belakang. Alvin temanku satu jurusan melambaikan tangannya dari jarak sekitar 15 meter.<br />
"Sorry Vin! Gw keburu!" balasku tanpa menghentikan langkah. "Ada pertemuan di klub dan. . ."<br />
"GHAAAAA!!!!" Alvin berteriak ngeri dg tangan terulur seolah ingin meraihku. Hanya selisih beberapa detik kemudian aku mendengar decit ban dan makian keras seseorang.<br />
Aku terpaku kaku ditempatku berdiri!<br />
Karena ceroboh dan terburu-buru aku tak sadar kalo aku  sedang melintas di jalan raya kampus. Mobil yang datang dari arah samping kiriku tak kulihat. Untungnya si pengendara cukup sigap menginjak rem. Mobilnya terhenti hanya sekitar 10 senti dari tempatku berdiri.<br />
Kalau saja dia tak sigap. . . .<br />
Aku tak sanggup memikirkannya. Aku hanya berdiri bengong disana dengan lutut gemetar.<br />
Alvin berlari memburuku. Sementara pengendara mobil sedan itu keluar dengan umpatan keras.<br />
"BUTA LO?!!" bentaknya marah. "LO KIRA INI JALAN MOYANG LO APA?! MAU MATI HAH?!! PAKE TUH MATA KALO JALAN?!!"<br />
Aku hanya mampu diam memandangnya yang berdiri didepanku dg wajah merah marah. Sumpah! Aku nggak tahu harus bereaksi seperti apa, krn aku sadar kalau aku nyaris saja tergeletak dan kehilangan nyawa. Alvin sedikit menyeretku yg mirip orang linglung ke pinggir jalan sembari mengucapkan permintaan maaf pada orang tadi. Beberapa orang mulai mengerubungi kami.<br />
"Gha! Gha!!" Alvin memanggilku, mencoba menyadarkanku dari trans. Aku mendengarnya, tapi tubuh dan pikiranku ku yg kaget, menolak untuk bereaksi. "GHA!!!" panggil Alvin keras, diikuti oleh tamparan sedikit menyakitkan dipipiku.<br />
Mataku berkerjap kaget. Aku seakan-akan baru bangun dari mimpi buruk. "Vin. . . ," gumamku pelan dan meraba pipiku yg terasa panas.<br />
"Udah sadar?" tanya Alvin yg ku jawab dengan anggukan linglung.<br />
"Minum ini!" kata seseorang dan mengulurkan sebotol air mineral. Alvin yg cepat tanggap dan menerimanya. Dia segera membuka botol itu dan menyorongkannya padaku. Aku yg menurut, sadar kalo orang yang memberikan botol itu adalah si pengendara mobil tadi.<br />
"Temanmu yang idiot itu nggak apa-apa kan?" tanyanya lg. Sepertinya pertanyaan itu dia ajukan pada Alvin. Jadi, aku adalah si idiot yg dia maksud. Sial!!<br />
"Aku nggak apa-apa. Cuma kaget! Maaf!" kataku cepat, mencoba mengembalikan sedikit harga diriku yg tercecer.<br />
"Kalo jalan jangan meleng!" gerutunya kesal dan segera berlalu. Kembali ke mobilnya dan melesat pergi. Orang-orang yg berkerumun pun mulai pergi sembari bergumam. Beberapa diantaranya tampak tertawa kecil. Hebat! pikirku. Aku jadi badut dadakan.<br />
"Maaf Gha! Aku tadi manggil kamu!" pinta Alvin dan membantuku berdiri.<br />
"Nggak Vin!" sangkalku dan menggeleng. "Aku yg ceroboh gak liat jalan!"<br />
"Kamu tadi keburu mau ke. . . ," Alvin menggantungkan kalimatnya.<br />
"KLUB!!!" pekikku sadar dan segera ngacir.<br />
"WOYY!! GHA!!!" teriak Alvin.<br />
<br />
Aku hanya melambaikan tanganku tanpa menoleh padanya. Aku harus segera sampai ke kantor redaksi. Hari ini pengumuman hasil dari polling kami kemarin, sekaligus penunjukkan siapa aja yg bertugas mewawancarai para pemenang. Siapa tahu aku dapet tugas ngewawancarain si Emma. Cewek beken di kampus yg bikin aku ingat terus sejak pertama kali melihatnya setahun lalu.<br />
Suara Mas Angga, ketua redaksi telah kudengar pada jarak 5 meter dari gedung redaksi. Gawat! Gw telat! Aku kembali berlari kecil lalu segera mengetuk pintu sembari mengucap salam. Mas Angga yg menyahut hanya menatapku sedikit tajam. Aku nyengir kuda dan cepat2 duduk di bangku kosong. Sialnya, aku dapat tempat disebelah Vivi. Cewek bertubuh subur yg agak sinting, krn dia gemar banget dengan segala sesuatu yg berhubungan dengan dunia gay.<br />
<br />
Mana ada coba, cewek normal yg tertarik sama gay? Jelas2 yg namanya gay gak bakalan suka ma cewek. Tp cewek edan ini berkilah kalo dia adalah contoh nyata atas apa yg disebut dg fag hag! Apapun artinya itu.<br />
Dan disebelah kiri kursi kosong itu ada Regi! Cowok bertubuh langsing yg hobi banget ngomong pake bahasa banci salon. Bahasa tubuhnya yang melambai dan flamboyan sudah merupakan indikasi kalo dia 'sakit'. Tapi kadang kelakuannya suka rese. Gak liat2 tempat kalo lagi kumat ngondek dan latahnya. Kadang suka bikin tengsin kalo dia mulai nyerocos pake bahasa anehnya ditempat umum. Apalagi suaranya cempreng abis. Tanpa pake megaphone, orang se Mall pasti bisa denger suaranya. Tapi dia bisa membuat kita tertawa dengan tingkahnya.<br />
<br />
"Diem aja Kuntil!" umpatku pelan pada Vivi yg sudah hendak nyolot padaku. Dia cuma monyongin bibirnya.<br />
"Jij dari mandra ajijah sih Cin?! Sampe ngos2an gitu," tanya Regi.<br />
"Udah diumumin?" tanyaku pd Regi, tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.<br />
"Belanda!" jawab Regi yg berarti belum. Aku menarik nafas lega dan segera konsentrasi pada Mas Angga. Dia menjelaskan tentang issue yg bakal dikeluarkan untuk bulan depan. Regi yg kebagian fashion departement sudah menyampaikan idenya tentang Paris Fasion week. Vivi, psychology sudah siap dengan eating disorder dan penyimpangan sex di lingkungan remaja. Health department sudah siap pula dengan makanan bebas bahan kimia berbahan dasar sayuran yg serba organik. Aku yg kebagian sebagai jurnalis bebas tinggal nunggu saja tugas dari Mas Angga.<br />
"Ok! Sekarang tentang hasil polling kita. Ada result yg mengejutkan pada kategori cowok. Pemenangnya. . . . ," Mas Angga menarik nafas sejenak, seolah-olah sengaja membikin kami semua tambah tegang. "Zaki Christian Osmond! Dia mahasis. . . . . "<br />
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! IKKE MENAAAAAAAANNGG!!!!" jerit Regi beberapa detik kemudian mengagetkan kami semua. Dia jingkrak2 kegirangan sembari langsung joget ngebor ditempat. Dia lalu berkacak pinggang dan menoleh ke beberapa orang. "Jij! Jij dan Jij!!!" tunjuknya semangat pada Vivi, Anggi dan Dina. "Bayar ikke seratus ribu, em?!" tuntutnya girang.<br />
<br />
Hening!<br />
<br />
Suasana redaksi benar2 senyap. Semua terlalu kaget atas reaksi Regi yg tak terduga. Kami semua hanya mampu menatapnya bengong! Regi yg akhirnya sadar atas tingkahnya cuma bisa nyengir. Dengan malu dia berdehem pelan.<br />
"Maaf!" katanya pelan dan kembali duduk.<br />
Detik berikutnya tawa kami pun pecah!<br />
"OK SEMUA!!!! CUKUP!!!" potong Mas Angga pada kami semua yg masih terkekeh krn ulah Regi tadi. "Hasilnya memang sedikit mengejutkan. Semuanya menyangka kalo Alvian, ketua BEM kita yg bakal jadi pemenangnya. Siapa sangka kalau justru mahasiswa pindahan dari Australia, Zaki yg jadi pemenangnya," lanjutnya dan mengetik sesuatu dikomputernya. Pada layar putih dibelakangnya muncul lima gambar pemenang kategori cowok kami.<br />
<br />
Yang disebut Zaki pd urutan pertama. Alvian Reza Mahardika, ketua BEM kami yg terkenal cakep dan berprestasi pada posisi kedua. Ibrahim Ahmadi, ketua Rohis kampus kami (pasti yg milih para akhwat bin ikhwan nih! pikirku), pada posisi ketiga. Lucky Alamsyah, cowok yg pernah jadi bintang iklan diposisi ke empat. Dan terakhir, Dio Arwendra, kapten basket kampus kita yg tingginya hampir dua meter.<br />
Mataku langsung tertancap pada Zaki. Bukan karena wajahnya yg harus kuakui tampan dan agak bule, tapi karena mobil sedan yg ada dibelakangnya. Aku ingat jelas mobil itu. Mobil yg tadi hampir menabrakku!!<br />
"Dan Regha, kamu yg bertugas mewawancarai Zaki. Harus kuingatkan, ada rumor yg beredar kalau dia orangnya agak sulit. Jadi mungkin kau harus berusaha sedikit ekstra. Aku mau laporan perkembangannya minggu depan. Dan. . ."<br />
<br />
Aku sudah tak mendengarnya lg.<br />
<br />
APA????!!!!!!!!<br />
<br />
<br />
<br />
NOTE: Kamus kecil bahasa Banci Salon buat kalian.<br />
Jij (dibaca yey, berasal dari bahasa Belanda jij) = kamu<br />
Mandra = Mana<br />
Belanda = belum<br />
Ajijah = aja<br />
Ikke (jg berasal dari bahasa Belanda ik) = aku<br />
Em = singkatan dari emang/ember<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>0 ( Nol ) | Ch 4 [Flashback Kevin Story]| Last update page 33</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740004/0-nol-ch-4-flashback-kevin-story-last-update-page-33</link>
      <pubDate>Sat, 02 Mar 2013 12:02:55 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>akuinisiapa</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740004@/discussions</guid>
      <description><![CDATA["Kamu dimana onta ? " Tanya kevin dari ujung telepon sana<br />
"Aku disini, kamu disana kan mas ?" Jawabku asal...<br />
<br />
Yups, itu adalah sepenggal adegan yang nyeleneh yang ada di cerita ini.<br />
Berhubung saya masih newbie , jadi saya harap anda bisa menyimpulkan sendiri adegan yang akan ada di dalamnya.<br />
Mudah ditebak ??? Anda yakin ?<br />
Pasti gak ada sisi humor atau ceritanya datar ???  Ohhh tentu tidakkk... <img src="http://emoticoner.com/files/emoticons/crazy-monkey/crazy-monkey-emoticon-083.gif?1292792401" alt="crazy-monkey-emoticon-083.gif?1292792401" /><br />
<br />
Meskipun saya seorang newbie di dunia tulis-menulis ini, saya akan tetap berusaha membuat anda sekalian menikmati maju-mundur, asam pahitnya cerita hidup Kemal untuk mendapatkan cinta sejatinya ...<br />
<br />
So ... jangan lupa komentar dan kritikan nya yak <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
<br />
Selamat membaca <img src="http://emoticoner.com/files/emoticons/crazy-monkey/crazy-monkey-emoticon-105.gif?1292792407" alt="crazy-monkey-emoticon-105.gif?1292792407" /><br />
<br />
... Chapter 1 | <i>unexpected night</i> ...<br />
<br />
Wussss , wusssss . Satu persatu mobil melaju dengan kencang di malam yang dingin ini. Beberapa pengguna sepeda motor pun tak kalah antusiasnya ketika melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang "lumayan cepat". Hembusan angin makin memperparah dinginnya malam ini . Waktu sudah menunjukan pukul 22.05 , dan masih terlihat jelas gerombolan anak muda yang berlalu lalang di sekitar bangunan tua nan megah ini.<br />
<br />
18 km ke arah timur menuju Cileunyi , sedangkan 18km ke arah barat menuju padalarang . Titik "0" Kilometer Bandung. Begitulah orang-orang disini menamai tugu ini.<br />
<br />
Bandung 2013<br />
<br />
Ku mencoba mengubah posisi <i>off</i> menjadi <i>on</i> . Melakukan beberapa setelan pada kamera usang ini , dan Jepret!!!<br />
"Hey , jangan foto mendadak gitu dong!" seru seseorang yang sedari tadi bersandar di tugu ini.<br />
"Lah terus harus gimana ?" balas ku , aku pun menggelengkan kepalaku tak tahu apa yang harus aku lakukan.<br />
<br />
"Okay , siap yak , 1 , 2 , 3 " aku mencoba memberikan aba-aba ...<br />
"Weeekkkkkkk" dia mencoba mengubah pose mukanya menjadi lebih aneh !!! mengerutkan muka , memonyongkan bibir sambil memegang dua buah <i>smartphone</i> di tangan kanan dan kirinya<br />
Jepret!!! suara dari kamera yang menandakan moment <i>absurd</i> tadi telah terekam.<br />
"Ishh , kok gitu sih mas , jadi aneh . Tapi lucu &gt;.&lt; deng" Komentarku , dan aku pun tertawa melihat hasilnya<br />
<br />
"Coba - coba liat " dia menghampiri ku dan mencoba mengambil alih kamera.<br />
"Nih liat , tapi jangan di hapus yak , hohohoho " Aku membalikan kamera dan menunjukan hasil jepretan ku kepadanya.<br />
"HAHAHAHAHAHAHA, lucu juga , tapi jelek " dia tertawa melihat fotonya sendiri<br />
"<i>What another BAKA people</i> " gerutuku<br />
"????" dia mendengkak kan kepalanya saat mendengar perkataanku.<br />
"ehmm, <i>nothing <img src="/plugins/Emotify/design/images/10.gif" width="" height="" alt=":p" title=":p" /></i>" balasku<br />
<br />
Setidaknya aku terhibur dengan kelakuannya malam ini, ini tidak seperti malam-malam kemarin . Kehadirannya memberikan suasana baru pada malamku kali ini. Aku melamun sejenak , entah kenapa aku kembali berpikir ke era jahiliya sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu . Masa-masa kelam itu , masa-masa indah itu . Sudahkah aku lupakan secepat ini hanya karena dia berada disini ?<br />
<br />
"Hey , kok bengong ? " dia mencoba membuyarkan lamunanku<br />
"ehmm, gak apa2 kok mas :3 , <i>take a pict of me , pleaseeee </i>" pintaku padanya , dan aku pun memberikan kamera usang ini kepadanya.<br />
"Ok , dimana ? " dia bertanya dengan muka polosnya.<br />
"Di jekartahh sajahh mas .... disini lah -_-" , ditugu ini" aku membalas dengan nada sedikit naik.<br />
"hohoho , maksudnya di sebelah mana gitu mau di fotonya  " Dia tartawa melihatku yang agak "naik" pitam .<br />
<br />
"<i>Wait</i>, foto nya pas gue nyalahin rokok yak "<br />
akupun mengambil rokok Sempoa Mild dan korek gas yang berada tepat di saku sweater ku.<br />
"Harus yak ngerokok ? " kini terlihat dia menekukkan mukanya disaat aku mencoba membakar rokok.<br />
"Biar kayak anak gawl mas, hohohoho" Aku mencoba mencairkan suasana.<br />
"Yowis , sakarepmu wae lah ndes" dengan nada yang menurun , dan muka menyerah.<br />
<br />
Aku mencoba membakar rokok ini dan ternyata lumayan sulit dilakukan dengan keadaan cuaca Bandung pada malam hari ini , beberapa kali api dari korek gas ini hilang , terbawa kencangnya angin malam. Dan akhirnya asap keluar dari rokok ini .<br />
Jeprett!!!<br />
<br />
"Ok , sudah kan ? " dia berseru ke arahku.<br />
"Masa cuma 1 foto doang mas -_-" " rengekku kepadanya.<br />
<br />
Tidak, ini bukan karena aku seorang banci foto yang ingin selalu berfoto ria , ini lebih ke arah kesempatan yang ku pakai untuk melihatnya lebih jelas. Melihat wajah tampannya. Setidaknya disaat kita hendak berfoto , kita akan melihat ke satu titik , titik NOL , titik lensa itu berfokus . Dan tak akan pernah ku sia-sia kan waktu ku untuk melihatnya walau hanya sedetikpun .<br />
<br />
"Ok , gak masalah deh , 1 foto 5 ribu yak ? "<br />
"<i>What</i> ??? 5 ribu ??? Kenapa gak 10 ribu ajah mas ? "<br />
"Yaudah 25 ribu deh sekali jepret "<br />
"Plisss mass -_-"<br />
"Hahahahahaha " Dia pun tertawa soal bargain yang kita lakukan barusan<br />
Jepret!!!<br />
"Heyyy , itu gak adil !!! " aku pun berteriak .<br />
Dan tak kusangka , teriakan ku cukup untuk mengambil alih pandangan orang-orang yang ada disekitar ku.<br />
"Udah ah mas , aku BT -_-a, mau ku foto pke <i>smartphone</i> mu ?" aku pun menawarkan kembali diriku menjadi <i>fotographer</i> nya.<br />
Dan untuk sekedar informasi , kemampuan ku sebagai <i>fotographer</i> jika di bandingkan dengannya bagaikan langit dan bumi . Selama ini aku belum pernah mengabadikan momen yang memiliki kesan "WAH" . Tidak seperti dirinya , selalu saja mendapatkan momen-momen yang bisa dibilang cukup indah , atau bahkan sangat indah . Dan hampir semua di abadikan dengan menggunakan <i>Smartphone</i> nya . <i>Oh Goshhh</i>....<br />
<br />
"Bentar-bentar , aku balas <i>line</i> dari  temanku dulu "<br />
"<i>Ok , no problem </i>"<br />
"Nih , ini tombol buat ambil gambarnya , ini buat zoom in - zoom out , ini buat ... "<br />
"Hey , gue juga gak se-kuno itu mas" protesku terhadap penjelasannya<br />
"Hahahahahaha" dia pun tertawa kembali mendengar protes ku.<br />
"Satuuu , Duaaaa , tiiiiiiiiii dak jadi :3" Aku mencoba memberi aba-aba.<br />
Dan , Jepret!!!<br />
<br />
"Wowww , foto yang kali ini keren loh mas..." Aku mencoba menyemangati diri sendiri<br />
"Coba - coba liat ...."<br />
"Nih , lihat ajah ... hahahaha "aku pun memberikan kembali <i>smartphone</i> nya.<br />
"Ah jelek ... terlalu <i>mainstream</i>"<br />
"Ihhh bagus tauuuu"<br />
"Bagus dari mana coba ???"<br />
"Lah kan di foto ada kamunya , jadinya bagus deh <img src="/plugins/Emotify/design/images/5.gif" width="" height="" alt=";;)" title=";;)" /> "<br />
".................." dia pun diam mendengar kata-kata ku barusan.<br />
<br />
Dan akhirnya kami pun mengambil beberapa foto , lebih tepatnya , aku sibuk mendapatkan foto <i>Panning</i> . Cukup sulit bagiku melakukan foto <i>Panning</i> di malam hari , karena cahaya kurang dan alasan yang paling kuat adalah , aku tidak terlalu mengerti menggunakan kamera ini. Hohohoho .<br />
Ku mencoba melihat waktu yang di tunjukan oleh arloji tua yang menempel di tangan kanan ku. "<i>it's about 10.40 PM, God Damn It </i>" gumamku dalam hati.<br />
"Mas cabs yuk , udah malem ini , besok gue masuk pagi ..."<br />
"wah iya , anak kuliah yang merangkap jadi anak SMA <img src="/plugins/Emotify/design/images/21.gif" width="" height="" alt=":))" title=":))" /> <img src="/plugins/Emotify/design/images/24.gif" width="" height="" alt="=))" title="=))" /> "<br />
"Eh kampret , kok lw jadi songong gitu mas "<br />
"Hahahahaha" dan kami pun tertawa bersama<br />
<br />
Dan kami pun kembali ke parkiran motor yang terletak tidak jauh dari tugu yang dari tadi aku jadikan objek foto-foto pada malam hari ini.<br />
<br />
"Kamu yang bawa motor yak mas ?"<br />
"Enggak ah , males , dinginnnn , brrrr"<br />
"Salah sendiri kenapa gak pake jaket -_-"  "<br />
"Kan tadi BABE keburu tutup "<br />
"Wah iya yak , hohoho , pegangan mas ..."<br />
"Ogahhh..... "<br />
"Okeh <i>fine!!!</i>"<br />
<br />
Aku menekan <i>starter</i> pada motorku ini , lebih tepatnya motor temanku ini . Dan berbalik arah , lalu membelokan stir ke arah kiri menuju jalan Homman.<br />
"Mas liat tuh , banyak mba-mba <i>gawl</i> " seruku kepadanya<br />
"Apaan <i>gawl</i> , mba-mba aneh gitu u,u" dia membantah penyataan absurd ku.<br />
<br />
Dan karena kesal aku pun melajukan motor ini dengan kencang , Dalem Kaum , lalu berbelok ke arah kanan ke jalan Lengkong Besar , lalu berbelok ke arah jalan cikawao , jalan buah batu . setelah melewati beberapa jalan dan stopan a.k.a Lampu Merah red . Kami tiba di kostan ku.<br />
"Kamu duluan ajah mas ke atas , aku mau masukin motor dulu , nih kuncinya " Aku pun menyerahkan kunciku kepadanya .<br />
"OK " dia menyanggupinya.<br />
<br />
Dan dia pun langsung menuju kamarku  . Setelah menaruh motor pada posisinya , aku pun bergegas menuju lantai 2 , tepat dimana kamarku berada. Dan dia sudah membaringkan tubuh nya di atas kasur ku , kasur yang sangat kecil pikirku .<br />
<br />
"Kamu mau langsung tidur mas ?" Tanyaku kepadanya .<br />
"Sepertinya iya nih , lumayan lelah juga , hehehe"<br />
"Duduk manis dimotor ajah capek -_-""<br />
"Capek ngasih tahu jalan tukang ojeknya nih. hahahaha"<br />
" ( #｀Д´) , kamprettttttttttttttttttttt lw mas "<br />
<br />
Memang aku adalah satu dari sekian orang yang tidak tahu jalan-jalan yang ada di bandung ini , toh selama ini kalau jalan sama temen-temen juga , tinggal duduk manis , dan sampai deh ke tempat tujuan , hehe . Dan ledekan dia malam ini pun terasa sangat menyedihkan . hahaha #lebay mode on.<br />
<br />
Aku pun melepas celana panjang ku , sweater  dan m menggantungkannya di henger , lalu melepas helm yang sedari tadi masih aku kenakan. Dan tanpa pikir panjang , aku pun menjatuhkan diriku tepat disampingnya , di kasur yang sempit ini tentunya , hohohoho<br />
<br />
Aku mencium baju yang dia kenakan , wangi ini , wangi yang membuatku selalu rindu kepadanya . Sekarang dia sedang berada di sisiku . Tak akan ku sia-sia kan malam ini  . Ku genggam erat tangan kirinya . Sedangkan tangan kanannya sedang sibuk ber BBM ria dengan fans-fans nya yang lain . Bukan fans  selebriti pada umumnya , aku hanya menjuluki teman-teman di kontak BBMnya sebagai fans nya , entah karena jealous atau karena sesuatu hal lain. Setidaknya aku lebih beruntung ketimbang fans-fans nya yang lain.<br />
<br />
Aku mencoba mengelus-elus perlahan rambutnya , sekarang gantian rambutnya yang aku ciumi , lalu berganti ke telinganya , dan kini deru nafas ku pun menjadi tidak terkontrol , yha aku sedang "on" , ku ciumi telinganya lebih lama , lalu bergerak turun ke arah tengkuk . Dan tanpa kusadari dia sudah menaruh BB nya , dan ...<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>DUA SISI WAJAH</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740345/dua-sisi-wajah</link>
      <pubDate>Tue, 02 Apr 2013 02:54:11 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Edmun_shreek</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740345@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[<br />
Dua Sisi Wajah (1)<br />
<br />
<br />
Pangkalpinang<br />
<br />
FERRY<br />
<br />
<br />
# Insiden<br />
<br />
<br />
“mau pulang sekarang fer?” aku menoleh<br />
dan menghentikan sejenak kesibukanku<br />
menyusun buku buku ke dalam tas. dion<br />
sahabatku sesama guru TPA di masjid al-<br />
hikmah berdiri dibelakangku sambil<br />
tersenyum.<br />
“iya nih.. soalnya masih ada sedikit tugas<br />
yang belum selesai, kamu mau bareng?”,<br />
tanyaku sambil berdiri dan<br />
menghampirinya.<br />
“duluan saja, masih mengajar anak tingkat<br />
dua menghafal doa doa singkat..!”, jawab<br />
dion sambil duduk di bangku panjang dari<br />
papan yang ada diruangan khusus mentor<br />
di TPA ini.<br />
“kalau gitu aku duluan ya, tadi aku sudah<br />
kasih tau fatma buat gantikan aku<br />
sementara<br />
di kelasku, sampai jumpa kamis…<br />
"assalamualaikum…”<br />
“waalaikumsalam, hati hati dijalan…”<br />
dion mengantarku hingga di depan pintu<br />
perpustakaan masjid. aku berjalan menuju<br />
pekarangan masjid tempat aku memarkir<br />
motor, sebuah motor yang walaupun sudah<br />
tua tapi masih cukup<br />
terawat. motor yang setiap hari setia<br />
menemaniku kemana-mana. pagi<br />
mengantarkan koran lokal kerumah rumah<br />
disaat masih gelap, setelah itu<br />
mengantarkan ibu ke pasar pagi untuk<br />
membeli kebutuhan sehari hari serta alat<br />
alat toko yang stoknya sudah hampir habis.<br />
untuk menambah penghasilan dirumah,<br />
ayah membuka toko kecil kecilan, yang jaga<br />
ibuku, terkadang dibantu kak topan dan<br />
adik perempuanku mardiana.<br />
aku naik keatas motor dan menyalakannya,<br />
beberapa anak anak menunduk hormat saat<br />
berpapasan denganku. aku membalas<br />
tersenyum pada mereka, jiwa jiwa polos<br />
yang masih harus dibentuk agar bisa<br />
menjadi pribadi yang lebih baik dimasa<br />
mendatang, dan tugas kami sebagai<br />
pembimbing mereka diluar keluarga dan<br />
sekolah, meskipun hanya sekedar TPA kecil,<br />
aku yakin akan membawa kebaikan pada<br />
mereka. rata rata temanku yang mengajar<br />
disini adalah tetangga dan beberapa teman<br />
sekolah yang cukup akrab, kami merasa<br />
terpanggil untuk membina anak anak agar<br />
lebih dekat mengenal agama.<br />
semua atas dasar keikhlasan, kami tak digaji<br />
dan tak pernah berharap untuk itu.<br />
meskipun kami<br />
memberlakukan iuran bulanan yang kami<br />
namakan infaq, tetap saja kami<br />
pertimbangkan agar tak memberatkan para<br />
orangtua mereka yang rata rata berasal<br />
dari keluarga sederhana. dan infaq yang<br />
terkumpul itu kami gunakan untuk membeli<br />
sarana mengajar seperti kapur, buku buku,<br />
serta bangku tambahan. untung saja teman<br />
temanku memiliki visi yang sama denganku,<br />
kadang aku merasa kuatir ada diantara<br />
mereka yang bosan.<br />
Seminggu lima kali harus datang ke masjid<br />
untuk mengajar, bukanlah hal yang mudah,<br />
mereka harus mengeluarkan uang beli<br />
bensin dari kocek sendiri, ada yang harus<br />
berjalan kaki, dan ada yang pake sepeda.<br />
Dion teman sekolahku, tinggalnya sekitar<br />
sepuluh kilometer dari masjid ini, ia<br />
lumayan berada karena bapaknya seorang<br />
kepala bagian di kantor timah, mereka<br />
menempati rumah dinas cukup bagus di<br />
kompleks perumahan pejabat timah,<br />
terkadang ia mengajar diantar jemput naik<br />
mobil.<br />
Fatma, dia tetanggaan denganku, rumahnya<br />
cuma berjarak enam rumah dari rumahku.<br />
setiap pagi kami berangkat sekolah sama<br />
sama, ibunya sudah meninggal, ia tinggal<br />
bersama bapaknya dan tiga orang<br />
saudaranya yang semuanya perempuan.<br />
Robi, dia mentor idola.. memiliki wibawa<br />
yang sangat kentara meskipun usianya baru<br />
18 tahun. wajahnya agak ketimur tengahan,<br />
memiliki kulit putih dan hidung yang bikin<br />
orang lain jadi merasa pesek bila<br />
berdekatan dengannya. bicaranya teramat<br />
santun dan teratur. orangtuanya cukup<br />
terpandang di Pangkalpinang, mereka<br />
punya butik pakaian muslim dan muslimah<br />
yang<br />
cukup besar.<br />
Uci, yang paling dewasa diantara kami,<br />
usianya 22 tahun, dia pembimbing sekaligus<br />
ketua kami, memakai jilbab dan baju<br />
muslimah yang serba tertutup. tak pernah<br />
tampil modis. kami semua sangat<br />
menghormatinya.<br />
Rinto, beda sekolah denganku, tinggal tak<br />
jauh dari masjid ini. tapi cukup akrab<br />
denganku sejak kami masih di sekolah<br />
dasar.<br />
Nita setahun lebih tua dariku, sudah lulus<br />
smu hampir setahun, mau melanjutkan<br />
kuliah tak ada biaya. jadi untuk mengobati<br />
kerinduannya akan sekolah, ia bergabung<br />
bersama kami mengajar disini. masih ada<br />
beberapa lagi teman temanku yang lain<br />
yang nanti akan aku perkenalkan pada<br />
kalian seiring cerita ini mengalir.<br />
aku mengendarai motor dengan kecepatan<br />
sedang meninggalkan pekarangan masjid.<br />
sekarang sudah pukul empat kurang<br />
duapuluh menit, aku janji sama ibu<br />
mengantarnya ketempat bibiku jam empat.<br />
sepupuku yulita minggu ini menikah dengan<br />
pemuda dari kalimantan. jadi ibu mau<br />
membantu dirumah bibiku. aku tersenyum<br />
sendiri membayangkan sepupuku yang dulu<br />
sering aku ganggu kalau lagi main<br />
kerumahku. kadang aku tarik kuncirnya<br />
hingga ia kesal dan mengejarku. tak jarang<br />
ibu menjewerku karena kenakalanku itu,<br />
begitu cepat waktu berlalu tanpa terasa<br />
dan sekarang ia akan menikah dan menjadi<br />
ibu rumah tangga, rencananya aku bersama<br />
teman temanku di TPA akan jadi panitia<br />
pada pesta pernikahannya.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Project Dua</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740873/project-dua</link>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 08:57:20 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>autoredoks</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740873@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[basa basi dulu yaaaa..<br />
makasih buat bang <a rel="nofollow" href="/profile/rivengold">@rivengold</a> buat kepercayaannya kepada gw buat ngepost lagi ceritanya di forum ini..<br />
cerita ini gak sepanjang AAC tapi gak kalah ngeri dari AAC..<br />
enjoy bungkusan pertamanya dan silakan di kepo-in]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Coklat Rasa Cinta</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740848/coklat-rasa-cinta</link>
      <pubDate>Mon, 20 May 2013 07:55:27 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>dhiezra</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740848@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia. jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kamu benar-benar mencintai. melainkan berjuanglah demi cintamu. itulah cinta sejati.<br />
kulihat langit menaburkan salju diatas padang dan lembah, dilapisi warna putih kidung dari bunga lili yang membeku.<br />
aku lepaskan kehausan dan nafsuku memenuhi segenap relung hatinya. dia melembutkan suaraku dan mereda gelora di dada.<br />
cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan abad.<br />
<br />
kata-kata tidak mengenal waktu, kamu harus mengucapkanya atau menuliskanya dengan menyadari akan keabadianya.<br />
<br />
kutipan cerpen ini membuatku sadar akan kehilangan seseorang, secara logika aku yang telah membunuhnya. sungguh malang nasibnya.<br />
<br />
mungkin sudah 5 bulan aku kehilangan sosok yang indah itu, dia tak pernah hilang dari pikiranku. dia lah cinta pertamaku, mungkin menjadi cinta terakhirku.<br />
<br />
"baang, baang" suara cempreng itu mengoyahkan lamunanku.<br />
<br />
"apaan de abang lg ngerjain tugas" jawabku ngasal.<br />
<br />
"tuh dipanggil papa, mobilnya udah siap katanya."<br />
<br />
waduh sampe lupa kalo sore ini aku harus kebandung lg,<br />
<br />
"iya de, abang siap" dulu. "<br />
ade ku pun pergi. tanpa menjawab, sesegera mungkin aku menyiapkan barang bawaanku. udah ga sabar rasanya ke bandung lg.<br />
<br />
drrrrrrt.drrrrrrt. ada yg telpon. aku lihat dilayar  rudi yg telpon.<br />
<br />
aku : halo rud. tumben lo telpon. ada apa?<br />
<br />
rudi : bang, beneran lo mau balik ke bandung?<br />
<br />
aku : iye, emang nya nape? sore ini gua brangkat!<br />
<br />
rudi : sip dah, ga ada lo ga rame brad, syukur dah lo balik.<br />
<br />
aku : bisa aja lo rud, gw mau brangkat skrng nih. udah dulu ya, salam buat temen"<br />
<br />
rudi : oke deh. hati" bro<br />
<br />
tuuttt....<br />
<br />
sepertinya banyak temen" yang ngarepin aku kembali. yap makin semangat nih buat ke bandung.<br />
<br />
setelah perlengkapan siap. aku pun keluar dari kamarku yg berada di lantai 2, segera mungkin aku menuju garasi,<br />
<br />
sesampainya di garasi, udah ada papa aku yg lg masukin barang" ku yg lain.<br />
<br />
papa : udah siap?<br />
<br />
aku : udah, adel mana pa?<br />
<br />
papa : ke kamarnya dulu, katanya mau ngasih hadiah buat kamu.<br />
<br />
aku : alah paling dalem nya jebakan betmen pah.<br />
<br />
papa : yang penting kan adik km peduli. itu tandanya dia sayang sama kamu! kamu yakin bang ga mau ditemenin papa ke bandung?<br />
<br />
aku : ah ga usah pa, lagian kasian dong adel sendirian di rumah. besok kan dia sekolah.<br />
<br />
papa : papa cuma khawatir aja bang, semenjak kejadian itu. kamu ga pernah mau tuh bawa mobil jauh", tumben banget kamu mau ke bandung lg bang.<br />
<br />
aku : udah pa ga usah khawatir, bambang bakalan baik" aja, kan  bambang harus kuliah juga pah. masa harus diem di rumah terus.<br />
<br />
papa : nah gitu , kamu harus ada kemajuan. bukan papa yg nentuin masa depan kamu. harus berjuang sendiri.<br />
<br />
ceramah orang tua memang membosankan pikirku. tp mungkin memang benar, sudah saat nya aku bangkit dari masa laluku, memulai hidup baru mungkin menyenangkan.<br />
saatnya berangkat ke bandung nih, bambang is come back!!!! <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
to be continue.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>GARA-GARA KONTOLKU PANJANG</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739868/gara-gara-kontolku-panjang</link>
      <pubDate>Mon, 18 Feb 2013 19:20:15 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>seno</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739868@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Kututup pintu kamar keras dan kulempar tas punggungku di sudut kamar.<br />
Sekedar menumpahkan kekesalanku.<br />
Kesal….dongkol dan marah menyatu, pengen rasanya aku berteriak atau membanting semua yang ada di depanku…<br />
Hari ini hari yang bikin aku muak di sekolah..<br />
Masak hanya masalah sepele saja dita cewekku,harus memutuskan hubungan…<br />
Sepelee..<br />
Uhhh, cewek memang begitu.<br />
Dan …ini semua tak lepas dari ulah wahyu cs yang bikin gosip murahan di sekolah hingga bikin aku malu luar biasa.<br />
<br />
Sebenarnya kejadian ini tak lepas dari minggu lalu ketika semua kelas 11 study tour ke Bali.<br />
Sebenarnya bukan study, tapi tour saja sih.<br />
Kami menginap di penginapan di daerah sanur.<br />
Kukatakan penginapan karena bentuknya gedung memanjang mirip gedung sekolah .<br />
Tiap kamar berisi enam orang.<br />
Dan sial….<br />
Kami berlima, aku ,wahyu, deni, ridwan dan hari tidak kebagian tempat.<br />
Sempat kulihat beberapa guru dan panitia dari pihak biro, agak bingung juga mengurus kami berlima.<br />
<br />
Akhirnya…<br />
Kami jadi satu menginap dengan para guru di hotel dekat penginapan tersebut.<br />
Mirip villa…<br />
villa ini terdiri dari banyak bangunan kecil dengan taman rimbun di depannya<br />
Tiap bangunan terdiri dari dua kamar.<br />
Wowww…kutepuk pundak wahyu, “yuk, kadang sengsara membawa nikmat hahahaha”<br />
Kami semua tersenyum melihat villa kami.<br />
Sebuah bangunan kecil yang terpisah dari bangunan lain.<br />
Dan…<br />
Kuintip kamar satu-satunya di samping kamar kami, gelap dan kosong.<br />
Woww…berarti praktis bangunan ini hanya di diami kami berlima untuk beberapa hari ke depan.<br />
Bebas…kami bisa bebas semaunya, toh bangunan ini jauh dari pengawasan semua guru dan teman-teman.<br />
<br />
Pertama lihat bangunan kamar, aku sudah suka, sebuah kamar yang luas terdiri dari dua bed besar.<br />
Muatlah kalau sekedar untuk tidur berlima.<br />
<br />
Kami sampai di hotel ini sudah malam dalam keadaan kecapekan setelah perjalanan dari jawa dan beberapa obyek wisata.<br />
Sudah malam..<br />
Dan kami langsung tertidur, tanpa sempat mandi.<br />
Akhhh…toh kami sama-sama tak peduli dengan bau badan, tadi kan sempat mandi di pantai kuta.<br />
<br />
“tok…tok…tok…” pintu kamar terketuk dan langsung terbuka.<br />
Woww…sudah sangat terang,sudah pagi, kulihat sudah jam 7.15 pagi<br />
Pak rudi yang tinggi besar berdiri berkacak pinggang dengan wajah seram.<br />
“heyyyy..kalian belum bangun, lihat yang lain sudah siap di bis dan sudah sarapan, kuberi waktu lima belas menit, kalau telat kutinggal ke obyek selanjutnya!” suara pak rudi dengan teriakan kencang.<br />
Kami berlima loncat dari tempat tidur….<br />
<br />
“gila! Mosok dari sekian nggak ada bangun pagi” ridwan panik.<br />
“udaahh…yang penting cepetan, waktu kita nggak banyak!” ujarku<br />
“aku mandi duluan yaaa…..” deni melompat menuju kamar mandi<br />
“woyyyy…bentar den” wahyu berteriak<br />
Deni terbengong di depan kamar mandi.<br />
“kita mandi bareng saja, kalau gantian nggak cukup waktu neh” wahyu usul.<br />
Kami saling berpandangan.<br />
“okeee…” suara kami kompak sambil cepat mencari peralatan mandi.<br />
<br />
Semua teman sudah masuk kamar mandi.<br />
Aku masih ngubek-ubek isi tas, mencari facial scrub, akhhh akhirnya ketemu juga.<br />
Dengan cepat aku masuk kamar mandi….<br />
Seumur-umur aku belum pernah mandi bareng-bareng.<br />
Mungkin kelihatan aneh juga sih.<br />
Tapi yang bener, aku tuh minder….<br />
Aku beda..<br />
Sebagai cowok keturunan arab, aku beda dengan teman-temanku.<br />
Tubuhku jauh lebih jangkung, tinggi terakhir saat kuukur sudah 178.<br />
Dan…<br />
Yang bikin aku minder, rambut sudah tumbuh di mana-mana.<br />
Dada, putting susuku, janggut, perut, kumis, apalagi bulu ketiak dan kemaluan, sudah sangat lebat.<br />
Aku minder…<br />
Rata-rata temenku belum sedemikian tumbuh bulu.<br />
Masih kuingat beberapa hari lalu, purnomo ketika ganti kaos olah raga di kelas di kerumuni teman-temannya.<br />
Ketika aku mendekat, kulihat purnomo dengan bangganya memamerkan bulu ketiaknya yang mulai tumbuh.<br />
Aku tersenyum…dalam hati aku bilang ‘itu belum seberapa purrr….”<br />
Memang semua temenku tak tahu kalau aku sudah berbulu, karena setiap ganti pakaian olah raga aku di kamar ganti.<br />
Sangat tertutup…minder, karena aku merasa beda saja.<br />
<br />
“luthfiiiiii…..cepetannn…”kudengar deni berteriak memanggilku dari dalam kamar mandi<br />
“okeeee….”  Aku berlari masuk kamar.<br />
Kulihat ke empat temenku sedang mandi..<br />
Semua bugil…<br />
Tiba-tiba aku terbengong.<br />
Aku bingung<br />
“woyyy…bengong malah, cepetan…airnya entar habis lho diminum ridwan hahahah” wahyu tertawa lepas sambil bergoyang-goyang kesenangan.<br />
<br />
<br />
Aku masuk…<br />
Kusembunyikan rasa gugupku<br />
Dan dengan cepat kucopot semua yang melekat di badanku.<br />
Dan aku berusaha bertindak sewajar mungkin….<br />
Toh semuanya laki-laki, apa peduliku.<br />
<br />
Dan…tiba-tiba semua aktifitas temanku terhenti<br />
Semua terbengong tanpa kata memandang tubuhku<br />
Aku juga terhenti kikuk…<br />
“napa?” aku keheranan.<br />
Semua mendekatiku…<br />
“woww…gila mennnnn…..” wahyu mendesis.<br />
Semua melotot memandang sekujur tubuhku<br />
Aku semakin bingung.<br />
“woyyy kalian ngapain? Ada yang aneh?” aku keheranan.<br />
“fii…kamu wowww..” wahyu masih melotot melihatku.<br />
“apaan sih” kudorong tubuh wahyu<br />
Aku tersinggung berat.<br />
Aku paham..mereka semua kaget dengan bulu-bulu yang tumbuh di sekujur badanku.<br />
“gila! Kamu pake obat apa fii?”<br />
“obat? Apaan? Ya nggak lah, ini dari sononya, aku tak pakai obat penumbuh rambut” ujarku mantap.<br />
<br />
Semua mengamatiku<br />
Dan…<br />
Aku baru sadar mereka semua tidak hanya melihat badanku.<br />
Tapi melotot melihat kemaluanku.<br />
Aku menunduk..melihat kontolku…akhhh emang ada yang salah?.<br />
Kulihat kontol milik temenku juga akhirnya.<br />
“nggak Cuma itu fii…woww..kontolmu gede bangeett, gila menn…coba bandingin dengan milikku apalagi milik hari tuh kayak biji salak saja hahahha”wahyu nyeletuk.<br />
“apaa?” hari tak terima<br />
Aku Cuma terbengong…<br />
Dan benar…<br />
Kontolku tak wajar<br />
Jauh lebih panjang dan besar di banding milik ke empat temenku.<br />
Kuamati semua kontol disini.<br />
Kecil-kecil dan tertutup jembut yang baru mulai tumbuh.<br />
“fii…kamu ke mak erot ya?” ridwan mengerling<br />
“gila semua kamu, udah ahhh ayo mandi, cepetan’<br />
Aku menyibak ke empat temenku.<br />
Dan mulai mengambil air pakai gayung<br />
Kusiram badanku<br />
Segar….<br />
“fii…tau nggak, kalau aku punya kontol sepanjang milikmu, uhhh udah kupamerin ke seluruh temen” hari nyeletuk.<br />
Aku Cuma diam…<br />
Dalam hati terselip rasa bangga juga.<br />
Kusambuni badanku…<br />
Dan sekali lagi kulihat kontolku…<br />
Aku baru sadar sekarang, aku memang beda….<br />
Apalagi kontolku…. sangat jauh beda dibanding yang lain<br />
Berwarna hitam, panjang dan di sela jembutku yang sudah sangat lebat.<br />
Selama ini kupikir aku normal, tapi ternyata aku baru sadar, kontol temen-temenku yang normal untuk ukuran orang indonesia.<br />
Aku merasa…akhhh…aku merasa tidak normal.<br />
(bersambung)<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Cinta gw, sobat, kakak dan adek (update dengan indeks)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek-update-dengan-indeks</link>
      <pubDate>Tue, 02 Apr 2013 03:56:41 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>pendatangbaru</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740346@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Sebenarnya aku ga tahu mau masukin post ini ke boyzstories atau boyzlove, karena ini adalah kisah nyataku dengan beberapa detail yang diganti (for discret reason). Dan juga karena aku masih menjalaninya hingga saat ini. Dan aku juga sebenarnya perlu masukan dari para member tentang permasalahan dan hal yang kualami, so aku memutuskan untuk memasukkannya disini.<br />
<br />
Ok then, lets get started<br />
<br />
O ia, cerita disini adalah cerita dari kehidupan yang kujalani, hanya sedikit perbedaan untuk menutupi detail biar ga ketahuan siapa orang aslinya ahahaha<br />
<br />
<br />

<hr />
<br />
edited:<br />
<br />
Berhubung bikinnya ga bisa pake judul chapter, banyak yang bingung kalau misalnya mau back ke bagian tertentu karena kurang jelas atau gimana<br />
<br />
Akhirnya aku coba membuat indeks dari semua posting kisah yang sudah kutulis sebisanya, yah point-pointnya paling tidak, sehingga lebih mempermudah navigasinya<br />
<br />
Semoga membantu <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
<br />
Daftar indeks<br />
<br />
Prologue, Aku dan Zen, SMP Story<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek</a><br />
<br />
Prologue, Aku dan ipan<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p5" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p5</a><br />
<br />
Aku, ipan and grandmother<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p6" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p6</a><br />
<br />
Aku dan zen, posessive<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p8" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p8</a><br />
<br />
Aku dan Zen, SMA Story<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p9" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p9</a><br />
<br />
Zen side story 1, Escape From Prison<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p14" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p14</a><br />
<br />
Flash Back, Sebuah memori untuk koko, Prologue<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p17" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p17</a><br />
<br />
Flash Back, First Meeting with ipan<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p17" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p17</a><br />
<br />
Flash Back, Meeting First Meeting with ang<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p18" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p18</a><br />
<br />
Flash Back, My First Kiss<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p20" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p20</a><br />
<br />
Flash Back, Final Farewell to ang<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p22" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p22</a><br />
<br />
Zen Side story 2, The (pretend) samurai gangster<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p24" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p24</a><br />
<br />
Flash Back, Meeting with koko<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p25" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p25</a><br />
<br />
Flash Back, Me and koko<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p28" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p28</a><br />
<br />
Flash Back, Part way with koko<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p29" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p29</a><br />
<br />
Flash Back, Resolve, sebuah keputusan untuk masa depan<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p31" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p31</a><br />
<br />
Flash Back, Sebuah memori untuk koko, end<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p32" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p32</a><br />
<br />
Ang Closure, Sepiring lotek dan sebungkus rokok<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p34" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek/p34</a><br />
<br />
Sebuah perjalanan yang panjang<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek-update-dengan-indeks/p39" target="_blank" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16740346/cinta-gw-sobat-kakak-dan-adek-update-dengan-indeks/p39</a><br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>ANTOLOGI - LIST OF STORIES on page 28. Please vote! :)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734564/antologi-list-of-stories-on-page-28-please-vote</link>
      <pubDate>Sun, 06 May 2012 13:58:51 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Abiyasha</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734564@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[                                                            YANG TAK TERKATAKAN<br />
<br />
<br />
Suara dentuman musik yang sedang dimainkan oleh DJ masih memenuhi indera pendengaranku lima belas menit sejak aku memasuki La Barca. Aku tidak terbiasa ke tempat seperti ini dan rekor clubbingku bisa dibilang memalukan untuk ukuran orang yang sudah berdiam di Bali selama hampir dua tahun. Jika bukan karena Tristan, aku lebih memilih untuk menghabiskan malamku ini dengan memandangi langit yang cerah malam ini sambil menikmati rokokku di hammock yang tergantung di luar rumah kontrakanku ditemani lagu-lagi favoritku. Tapi, Tristan tiba-tiba ingin bertemu denganku karena besok dia harus terbang ke Perth. Profesinya sebagai pilot memang membuat kami jarang bertemu.<br />
<br />
Aku memandang layar ponselku, menunggu pesan dari Tristan karena sudah lebih dari lima menit dia belum juga muncul. Tristan adalah salah satu dari sedikit teman –meski aku lebih suka menyebutnya pacar yang belum bisa kumiliki- yang jarang telat, mengingat juga profesinya yang selalu menghargai waktu, aku selalu khawatir jika Tristan telat.<br />
<br />
Ponselku bergetar dan aku melihat satu pesan dari Tristan<br />
<br />
Km dimana?<br />
<br />
Jariku sudah menekan virtual keypad untuk membalas pesannya ketika sebuah tepukan di bahuku membuatku membatalkan niatku.<br />
<br />
“Apa kabar Vian?”<br />
<br />
“Heh! Tumben telat?”<br />
<br />
Yang ditanya hanya menunjukkan seringaiannya sebelum kami berpelukan. Ini adalah salah satu saat dimana aku bisa merasakan tubuh Tristan bersentuhan dengan tubuhku, meskipun pelukan ini hanyalah sebuah pelukan pertemanan.<br />
<br />
“Sopir taksinya sempet kesasar dikit tadi. You look great!”<br />
<br />
Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Tristan meskipun sebenarnya, akulah yang harus mengucapkan kalimat itu untuknya. Meskipun hanya mengenakan polo shirt berwarna kuning gading dan celana jins hitam, sosok Tristan tetap membuatku kesulitan untuk mengatur nafasku. Lima tahun tidak membuatku imun terhadap pesonanya. Semakin bertambah usianya, Tristan terlihat semakin dewasa, matang dan juga semakin menarik.<br />
<br />
“Nggak usah nyindir deh, bilang aja elo pengen gue bilang kayak gitu buat tampilan elo malam ini.”<br />
<br />
Tristan tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya yang sangat rapi dan terawat. “Bingo!” ucapnya kemudian mengedarkan pandangannya ke pantai. “Mau ngobrol di pantai?”<br />
<br />
“Mending di rumah kontrakan gue aja kalo mau ngobrol.”<br />
<br />
“Tapi sayangnya, rumah kontrakan kamu nggak ada pantainya.”<br />
<br />
“Sialan! Ya udah, cari spot sana. Gue beli bir dulu,” ucapku sambil melangkahkan kakiku menuju ke bar namun pandangan Tristan menghentikan langkahku. Meskipun cahaya disini tidak terlalu terang, namun masih cukup buatku untuk melihat ekspresi wajah Tristan saat aku melangkahkan kakiku ke bar.<br />
<br />
“Sejak kapan kamu minum bir, Vian?”<br />
<br />
“Emang penting nanya kayak gitu?”<br />
<br />
“Hehehe. Aku satu ya?”<br />
<br />
Sekarang, ganti aku yang memandang Tristan dengan tatapan tidak percaya. “Elo? Minum bir? Sejak kapan?”<br />
“Penting ya nanya kayak gitu?”<br />
<br />
Belum sempat aku membalas pertanyaanku yang diulanginya, Tristan sudah lebih dulu kabur. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku heran lalu melanjutkan langkahku menuju ke bar. Aku hanya minum bir jika ingin dan keinginan itu bisa dibilang jarang muncul, Tristan, juga tidak bisa dibilang penikmat bir. Jadi, kami berdua sebenarnya sama-sama terkejut bahwa malam ini, bir menjadi pilihan teman nongkrong kami di pantai.<br />
<br />
Begitu aku berhasil memgang dua bir di kedua tanganku, aku segera mencari sosok Tristan yang tidak sulit untuk ditemukan karena selain hubungan pertemanan kami –betapa aku sangat membenci istilah itu- perasaanku terhadap Tristan juga membuatku ingat setiap hal yang berhubungan dengannya, bahkan jika Tristan sendiri tidak ingat pernah memberitahuku. Aku menghampiri Tristan yang entah sedang memikirkan apa hingga tidak menyadari kehadiranku di sisinya.<br />
<br />
“Ngelamunin apaan sih?” tanyaku sambil mengulurkan tangan kananku untuk menyodorkan birnya. Tristan hanya tersenyum lalu meraihnya, seolah senyumannnya itu menjawab pertanyaanku.<br />
<br />
“It’s always hard to leave Bali,” ucapnya setelah mengosongkan seperempat botol birnya. Pandangannya seperti terkunci ke arah gulungan ombak di hadapan kami sementara aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memandangi wajahnya meskipun hanya cahaya remang-remang yang ada di sekitar kami.<br />
<br />
Entah sudah berapa kali kami duduk seperti ini, bersisian dan sudah tidak terhitung berapa kali aku harus menahan lenganku agar tidak terulur untuk menyentuh pipinya atau meraih kepalanya untuk bersandar di bahuku. Seharusnya, aku mengubah perasaanku ke Tristan menjadi perasaan yang harusnya dimiliki oleh dua orang teman karena tahu dan sadar bahwa kalaupun Tristan tahu, dia tidak akan pernah membalas perasaanku kepadanya. Namun, aku tidak mampu melakukan itu. Perasaanku terhadap Tristan justru semakin kuat dan sekuat apapun aku berusaha untuk mengalihkannya –seperti mencoba untuk mencintai pria lain- perasaanku ke Tristan tidak bisa aku alihkan.<br />
<br />
“Elo bakal kesini lagi bulan depan, Tristan. Udah deh, nggak penting jadi sok melodramatis gitu,” gurauku karena setiap kali dia akan meninggalkan Bali, Tristan selalu bilang seperti itu padahal dia pasti juga akan kembali kesini.<br />
<br />
“Well, kamu nggak pernah tahu kan apa yang bisa terjadi di udara? Bisa aja besok pesawatku jatuh dan nggak ada lagi yang bakal nemuin kamu disini,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang dibuat sedramatis mungkin. Ciri khas Tristan. Banget!<br />
<br />
Aku cuma mencibir kalimat yang baru diucapkannya sebelum membasahi lagi tenggorokanku dengan bir di tanganku. “Heh, temenku bukan cuma elo ya? Udah deh, ngomongin yang lain. Bosen gue denger elo ngomong gitu terus tiap kali mau ninggalin Bali.”<br />
<br />
Kali ini, tawa Tristan menyelinap diantara suara gemuruh ombak dan dentuman musik yang masih terdengar begitu jelas di sekeliling kami. Bukan suara tawa itu yang membuat aku tertegun, namun ekspresi tawanya yang selalu membuatku seperti tertarik magnet seorang Tristan Suryapradja.<br />
<br />
“Ke Eropa yuk!”<br />
<br />
Aku menaikkan kedua alisku sambil memandang Tristan setelah dia menyelesaikan kalimatnya. Ke Eropa? Tumben-tumbenan nih ngajak ke Eropa, batinku.<br />
<br />
“Naik sepeda ya? Elo pikir gue punya tabungan satu miliar sampe elo ngajak ke Eropa segala? Kalo gratis gue mau.”<br />
<br />
“Itu gampang lah. Urusan tiket serahin aja ke aku, kayaknya bulan depan aku mau ngajuin cuti. Udah lama juga nggak ke Eropa, kangen banget jalan-jalan diantara bangunan-bangunan tua disana,” ucapnya dengan nada antusias. “Mau kan?”<br />
<br />
“Ini serius elo mau ngajakin gue?” tanyaku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.<br />
<br />
“Kalau nggak serius, ngapain juga aku bilang ke kamu. Ini lebih dari sepuluh rius, Vian. Mau ya?”<br />
<br />
Aku mengurangi lagi isi botol birku mendengar permintaan Tristan. Ini diluar kebiasaan Tristan, biasanya, setelah cutinya habis dan dia sudah melaksanakan niatnya untuk jalan-jalan kemanapun yang dia mau, baru dia memberitahuku. Hanya untuk membuatku iri karena tempat-tempat yang dikunjunginya biasanya adalah tempat-tempat yang akupun rela menjual jiwaku ke iblis untuk sampai kesana. Maka, aku hanya mengabaikan ucapannya sambil memenuhi indera penglihatanku dengan kepekatan serta gulungan ombak dihadapanku.<br />
<br />
“Emang elo mau kemana sih? Perasaan Eropa udah elo jelajahin semua deh.”<br />
<br />
“Aku pengen ke Budapest trus ke Burgundy, liat vineyard disana, kali ini lebih pengen ke daerah-daerah pinggiran. Udah bosan liat kota terus.”<br />
<br />
“Lah, Budapest itu kan kota?”<br />
<br />
“Ya, kecuali itu lah. Semut juga tahu kalau Budapest itu kota,” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.<br />
<br />
“Emang mau cuti berapa lama sih?”<br />
<br />
“Yah, tiga minggu cukup lah. Sekalian mau introspeksi diri.”<br />
<br />
Kali ini aku tidak menanggapi kalimat Tristan karena dari nada suaranya, dia tidak sedang ingin bercanda. Jadi, aku meminum birku lagi sementara pikiranku membawaku ke pertemuan kami sebulan lalu ketika Tristan bercerita bahwa dia mulai lelah jadi pilot. Bukan fisik yang dikeluhkannya namun mentalnya yang terus-terusan diuji hingga dia sampai pada satu titik dimana untuk pertama kalinya sejak dia menjadi pilot, dia ingin berhenti. Mungkin, Tristan memang butuh cuti, tapi kalau dia ingin introspeksi, kenapa aku diajak?<br />
<br />
“Eh, kalo elo mau introspeksi, ngapain ngajakin gue? Yang ada malah elo bukannya introspeksi.”<br />
<br />
Tristan kemudian menghabiskan birnya lalu menatapku. Aku menelengkan kepalaku menunggu jawabannya namun yang aku dapatkan adalah sebuah senyuman. Aku benar-benar tidak mengenal sisi Tristan yang malam ini sedang duduk di sebelahku ini.<br />
<br />
“Because I you’re a part of my introspection also.”<br />
<br />
Kali ini, kerutan di dahiku seperti berlipat mendengar kalimat yang baru diucapkan Tristan. “Maksud elo apaan sih Tan? Yang jelas deh ngomongnya, nggak usah pake muter-muter kayak ghini,” ucapku menggunakan nama panggilan itu untuknya, yang khusus aku gunakan kalau aku sedang bingung atas sikap Tristan. Malam ini adalah saat bingung itu. Tristan tidak pernah suka dipanggil hanya dengan Tris atau Tan, harus Tristan, makanya biasanya dia langsung menjelaskan padaku kalau aku sudah memanggilnya dengan sebutan itu.<br />
<br />
“Aku udah nyangka kalau kamu pasti nggak sadar. Vian….”<br />
<br />
Sekarang, Tristan mengulurkan tangannya  kepadaku dan otakku sepertinya masih berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya yang sama sekali tidak aku mengerti itu. Biasanya, aku langsung menggodanya atau menganggap setiap sikapnya ini sebagai lelucon, namun entah kenapa, malam ini, semuanya terasa seperti sebuah adegan dalam film yang telah di-skenario-kan hingga aku pun tidak mampu melontarkan lelucon ataupun bersikap seperti normalnya seorang Vian.<br />
<br />
Aku hanya diam sebelum akhirnya meraih tangannya namun bukan dalam posisi menggenggam, tapi seperti seorang peramal yang mengambil tangan orang yang ingin diramalnya. Aku meletakkan telapak tanganku di bawah telapak tangannya.<br />
<br />
“Baiklah nak, mari saya lihat garis tanganmu,” ucapku kemudian yang disambut Tristan dengan tawa lalu menarik tangannya kembali begitu aku menyentuhnya.<br />
<br />
“Serius lah Vian, ini nih susahnya ngomong sama orang yang suka nganggep remeh omongan-omonganku,” ucapnya sebelum bangkit lalu kembali mengulurkan tangannya kepadaku. “Kita jalan aja yuk?”<br />
<br />
“Tadi ngajakin duduk, sekarang ngajakin jalan, ntar awas ya kalo elo ngajakin lari?” sungutku sambil meraih tangannya untuk membantuku berdiri. Ketika aku sudah berada sejajar dengannya, bahkan berdiri tepat di hadapannya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapan Tristan.<br />
<br />
“Boleh kan malam ini aku nginep di tempat kamu?”<br />
<br />
Untuk kesekian kalinya, Tristan kembali mengejutkanku dengan ucapannya. Selama llima tahun, belum pernah sekalipun Tristan menginap di tempatku, baik saat aku masih tinggal di kos maupun saat aku sudah punya rumah kontrakan meskipun aku akan sangat tidak keberatan jika dia mau menginap. Jadi, aku hanya menatap Tristan dengan pandanngan menelisik, seolah menganggap ucapannya itu sebuah candaan.<br />
<br />
“Eh, Tristan, elo kesambet apaan sih? Malam ini elo aneh banget deh. Gue berasa kayak ngobrol ama orang asing. Tristan yang gue kenal jarang bahkan bisa dibilang nggak pernah ngomong hal-hal kayak gitu. Elo nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan sebelum dateng kesini?”<br />
<br />
Lagi-lagi, ucapanku itu disambut tawa olehnya. “Udah ah, jalan yuk!”<br />
<br />
Tanpa menunggu persetujuanku, Tristan sudah melangkahkan kakinya untuk meninggalkanku hingga aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya meskipun dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benakku mengenai ucapan-ucapan Tristan malam ini. Kami berjalan bersisian dalam diam selama beberapa menit dan aku tidak mampu menahan diriku untuk tidak memperhatikan Tristan. Semuanya masih sama seperti saat terakhir kali aku bertemu dengannya, hanya sikapnya agak sedikit aneh menurutku malam ini. Semoga Tristan tidak sedang mempersiapkan sesuatu yang buruk untuk aku dengar.<br />
<br />
“Kira-kira, kalau aku berhenti jadi pilot, kerjaan apa yang cocok buatku ya?”<br />
<br />
“Elo serius mau berhenti jadi pilot?”<br />
<br />
Tristan mengangkat kedua bahunya. “Masih belum yakin, tapi nggak ada salahnya kan nyiapin diri sendiri? Jadi aku punya gambaran kira-kira apa yang bisa aku lakuin kalo akau udah nggak jadi pilot lagi.”<br />
<br />
Aku membiarkan pecahan ombak terakhir membasahi sandalku karena membawa bir di tangan kanan sementara tangan kiri membawa sandal terdengar tidak praktis dan merepotkan untukku jadi, aku membiarkan sandalku basah.<br />
<br />
“Mungkin nggak elo kerja di office nya? Jadi masih nggak jauh-jauh dari dunia elo sekarang. Tapi, kalo elo mau jadi model, masih ada kesempatan kok,” ucapku yang kemudian disambutnya dengan sebuah senyuman. Dari dulu, aku selalu menggodanya bahwa kalau dia mau, dia bisa jaid model terkenal karena posturnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang model. Aku juga beberapa kali ingin mengambil fotonya secara profesional namun dia selalu menolak. Jadi, aku tidak pernah berhenti menggodanya tentang hal itu.<br />
<br />
“Hmmm, nggak tahu juga sih. I’ll find out later. Tentang model, kayaknya aku mulai berubah pikiran nih. Boleh deh, kapan-kapan kamu ambil fotoku secara profesional. Itung-itung buat pajangan di apartemenku ntar.”<br />
<br />
“Nude?”<br />
<br />
“Eh, jangan mentang-mentang aku udah bersedia trus kamu mau bikin foto dengan pose yang macem-macem yah?”<br />
<br />
Kami berdua pun tertawa. Aku juga tidak akan keberatan untuk memotretnya tanpa busana karena selama ini, aku hanya mampu melihat Tristan dalam balutan celana renang. Tristan punya tubuh yang proporsional dan wajah Indonesia-Thailand nya itu sudah cukup menjual. Aku tersenyum membayangkan melihat Tristan berdiri kikuk tanpa busana sementara aku fokus di balik lensa kameraku untuk mendapatkan gambar yang sempurna.<br />
<br />
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”<br />
<br />
“Suka-suka gue lah, elo kan nggak perlu tahu apa yang sedang gue pikirin,” ucapku seelum menjuluurkan lidahku. Biasanya, Tristan akan menanggapinya dengan balik menjulurkan lidahnya, namun kali ini, dia menghentikan langkahnya dan menatapku.<br />
<br />
“Vian, bisa nggak sih kita ngomong serius?”<br />
<br />
Aku sudah hampir kembali menggodanya namun mendengar nada suaranya, aku mengurungkan senyum yang sudah siap terpasang di wajahku.  Susah untuk bersikap serius jika menghabiskan waktu bersama Tristan, kalaupun bisa, hanya berlangsung beberapa menit saja. Namun sepertinya, kali ini permintaan Tristan untuk berbicara serius denganku akan berlangsung lebih dari beebrapa menit.<br />
<br />
“Mau ngomong apa?”<br />
<br />
“Udah berapa lama kita temenan?”<br />
<br />
“Lima tahun?”<br />
<br />
Trsitan mengangguk. “I’m gay.”<br />
<br />
Hanya dua kata memang, namun aku seperti merasa mendapatkan bogem mentah tepat di wajahku. Ini…pasti salah satu gurauan Tristan. Did he just say that he’s gay? Aku menggelengkan kepalaku tanda tidak percaya.<br />
<br />
“No, you’re not Tristan.”<br />
<br />
“I am, Vian. I’m gay.”<br />
<br />
Sebuah tawa meluncur dari mulutku, bukan untuk menertawakan fakta –yang masih belum aku percayai sebagai fakta- yang diberitahukan Tristan kepadaku, namun lebih untuk menertawakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari bahwa Tristan gay? Aku tidak pernah gagal menilai seseorang jika mereka gay atau bukan dan meskipun pernah terlintas di pikiranku, berharap bahwa Tristan adalah seorang gay dan kami kemudian saling menjalani hubungan, seperti pasangan gay pada umumnya, namun pikiran itu segera tergantikan oleh hal lain. Tristan tidak mungkin gay.<br />
<br />
“Apa ada yang lucu, Vian?”<br />
<br />
Menyadari bahwa mungkin Tristan akan berpikiran aku tertawa karena mengetahui dia gay, aku menghentikan tawaku lalu menatapnya. Aku menangkap raut muka sebal di wajahnya namun ekspresi itu berubah ketika kami saling bertatapan dan aku memberinya tatapan minta maaf meskipun jika dia tahu, dia pasti akan menertawakanku juga.<br />
<br />
“It’s just me, Tristan. It has nothing to do with you. I’m sorry.”<br />
<br />
“Will you still be my friends?”<br />
<br />
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Apakah dia berpikir bahwa hanya karena aku mengetahui bahwa dia gay, aku akan berhenti jadi temannya? Apakah dia berpikir pikiranku sesempit itu?<br />
<br />
Aku tersenyum lalu mengangguk. “I’m not a homophobic, Tristan.Kita udah temenan lima tahun, trus cuma karena gue tahu elo gay, gue bakal ninggalin elo, gitu?” aku menggelengkana kepalaku. “Gue bakal tetep jadi temen elo.” Karena gue juga gay dan gue suka ama elo sejak lima tahun lalu.<br />
<br />
Aku berharap mampu mengatakan lanjutan kalimat itu di hadapan Tristan namun, aku tidak ingin dia berpikiran bahwa aku mengambil keuntungan darinya. Sekarang, aku akan lebih punya banyak kesempatan untuk mengubah status Tristan dari hanya sekedar teman menjadi seorang kekasih? Mungkin yang aku butuhkan saat ini hanyalah kesabaran. Aku tidak mungkin secara terang-terangan menunjukkan perhatianku kepadanya namun Tristan bukan pria bodoh. Suatu hari nanti, dia akan mengetahui bahwa aku ingin menjadi lebih dari seorang teman untuknya.<br />
<br />
“Thank you, Vian,” ucapnya sambil kemudian merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Kali ini, aku berharap Tristan akan memeluk tubuhku lebih lama dari biasanya. Aku memejamkan mataku, seperti ingin menikmati momen ini selama mungkin. Parfum beraroma Woody yang selalu dipakainya memenuhi indera penciumanku hingga aku kemudian tersenyum.<br />
<br />
“Elo pake parfum apaan sih? Gue suka prfum elo yang ini.”<br />
<br />
“Ntar kalau aku ke Bali lagi, aku bawain."<br />
<br />
*****<br />
<br />
Tristan tidak pernah kembali lagi ke Bali.<br />
<br />
Aku sedang berdiri di depan nisan bertuliskan Tristan Suryapradja, hanya 31 tahun umur yang diberikan Tuhan untuk pria yang selama lima tahun begitu menguasai hatiku. Cuaca panas kota Surabaya seperti tidak membuatku bergeming untuk beranjak dari pusara tempat Tristan beristirahat untuk yang terakhir kalinya. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini karena sesungguhnya aku tidak peduli. Tanganku masih memegang secarik kertas yang tertempel di asramanya di Perth dan aku tidak mampu menahan air mataku ketika membacanya, di ruangan tempat Tristan menghabiskan waktunya setiap kali berada di Perth.<br />
<br />
THINGS TO DO : VIAN<br />
<br />
-	Aku suka dia<br />
-	Aku pengen jadi lebih dari sekedar temen buat dia<br />
-	Ngajak dia ke Eropa, terutama ke vineyard paling bagus se-Prancis<br />
-	Semoga Vian tetep mau jadi temenku kalao dia nggak mau jadi lebih dari temen<br />
<br />
Itulah tulisan yang setiap hari dibaca Tristan setiap kali dia bangun dari tidurnya. Namaku. Aku tidak henti-hentinya menyesali setiap kesempatan yang aku miliki bersamanya, kesempatan untuk mengatakan bahwa aku juga menyimpan perasaan yang sama untuknya. Kesempatan untuk menjalani sebuah hubungan dengannya. Hanya itu yang aku sesalkan. Kenapa semua harus terungkap lewat cara seperti ini?<br />
<br />
Masih lekat dalam ingatanku ketika keesokan harinya, setelah aku menghabiskan malamku bersama Tristan, aku mendapat kabar dari keluarga Tristan bahwa mobil yang dikendarai Tristan menjadi salah satu korban tabrakan beruntun dan Tristan menjadi salah satu dari sepuluh korban yang meninggal di tempat. Aku ingat bahwa tubuhku lemas seketika, bahkan, Didi, teman sekantorku, sampai perlu mengambil alih ponsel dari genggamanku. Beberapa hari kemudian, aku sudah berada di asrama Tristan untuk mengemasi barang-barangnya untuk dikirim kembali ke Surabaya karena kedua orang tua Tristan terlalu terpukul untuk melakukannya.<br />
<br />
Mike, teman semaskapai Tristan, kemudian memberiku sebuah notes, yang selalu dibawanya kemanapun dia terbang, dan hanya dua foto yangtersimpan disana. Fotonya bersama Papa dan Mamanya, serta foto kami berdua ketika kami menghabiskan dua minggu di New Zealand. Mike bilang bahwa sudah sejak lama dia ingin bilang kepadaku tentang orientasi seksualnya namun dia terlalu takut aku akan berhenti jadi temannya jika aku tahu. Setiap detik yang aku lewati bersama Tristan malam itu kembali muncul seperti slide show yang diputar di hadapanku. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya malam itu ternyata sebuah pertanda, bahwa dia tidak akan mampu lagi menghabiskan waktunya denganku. Aku benar-benar seperti berada di dua dunia, dunia ketika Tristan masih hidup dan kematiannya hanyalah seperti mimpi dan dunia yang mengingatkanku bahwa Tristan memang sudah berada di dunia lain.<br />
<br />
Dua bulan sudah berlalu sejak kematian Tristan namun, aku masih belum merasakan kebosanan untuk mengunjunginya setiap sebulan sekali. Di pemakaman inilah, aku selalu bertemu dengannya, berbicara dengannya, menggodanya bahkan menangis di hadapannya. Aku tahu Tristan bisa melihatku hingga aku tidak memiliki keraguan sedikitpun bahwa dia mengabaikanku. Aku hanya tidak mampu mendegar suaranya, melihat senyumnya ataupun ekspresi yang selalu ditunjukkannya padaku setiap kali aku menggodanya. Semua itu hanya tersimpan di memoriku. Disanalah aku menyimpan semua tentang Tristan.<br />
<br />
“Gue bakal tetep dateng kesini meskipun gue tahu, elo bakal nggak suka. Kali ini, elo nggak bisa larang gue, Tristan. Kalaupun sampe ada yang liat dan pikir gue pantes dimasukin RSJ, gue tahu elo bakal bantuin gue. Elo lebih suka liat gue disini daripada di RSJ kan?” Aku tersenyum tipis sebelum membungkukkan badanku agar mampu menyentuh batu nisannya. “Elo nggak bosen kan liat gue? Lima tahun aja elo nggak pernah protes kan? Gue yakin elo pasti seneng gue temenin.”<br />
<br />
Aku kemudian mencium batu nisan Tristan, satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa begitu dekat dengannya dan berusaha untuk menahan air mataku agar tidak menetes diatas pusaranya. Namun, air mataku terlalu cepat untuk aku tahan hingga kemudian aku menegakkan tubuhku kembali dan menyeka air mataku.<br />
<br />
“Gue sayang elo Tristan, gue cuma pengen elo tahu itu. Mustinya gue bilang malam itu juga kalau gue sayang ama elo biar elo tahu. Gue emang goblok ya? Gue pulang dulu, bulan depan gue balik lagi kesini. Doain gue supaya bisa dipindah ke Surabaya ya? Biar gue bisa lebih sering nengokin elo. Tristan, elo baik-baik ya disana? Jangan sok gaya atau narsis disana, elo nggak ada apa-apanya dibanding James Dean. Gue pasti bakalpengen balik lagi kesini begitu gue nyampe Bali.”<br />
<br />
Aku terdiam beberapa saat sambil membiarkan mataku menatap tempat peristirahatan Tristan tanpa henti sebelum akhirnya aku membalikkan tubuhku untuk meninggalkan area pemakaman. Sekuntum bunga kamboja tiba-tiba jatuh tepat di saku kemeja yang aku kenakan hingga terlihat seperti seseorang sengaja menaruhnya disana. Aku menghentikan langkahku lalu meraih bunga kamboja itu dan menciumnya.<br />
<br />
“Nggak usah khawatir gitu, Tristan. Gue bakal kesini lagi kok.”<br />
<br />
Aku tahu, Tristan bersamaku saat ini maka aku pun memandang sekelilingku lalu tersenyum sebelum kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti tadi.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Pelangi di Putih Abu-Abu: The Series (Oh, Seperti Ini Sakitnya?)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16736112/pelangi-di-putih-abu-abu-the-series-oh-seperti-ini-sakitnya</link>
      <pubDate>Sun, 08 Jul 2012 05:17:31 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>_imbaim</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16736112@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Ini pengalaman pertama saya menulis, semoga tidak mengecewakan. Para tokohnya di bawah yak...<br />
<br />
<br />
Namaku Ibrahim Alfisyahril. Anak terakhir dari dua bersaudara. Bener, aku memang dimanja oleh Abi sama Umi. Sampai diusia ku menginjak 15 tahun, masih saja Ubi (Umi Abi) over protective sama aku. Tapi itu semua nggak bikin aku menjadi anak yang nggak bisa apa-apa tanpa campur tangan Ubi. Karna nggak selamanya Ubi ada di rumah. Sebagai pekerja kantoran, mereka nggak bisa 24 jam penuh kasih perhatian sama anak-anaknya. Keduanya bekerja di dinas pertanian. Mereka harus berangkat pagi dan pulang sore atau bahkan malam. Tak jarang pula keduanya keluar kota untuk beberapa hari.<br />
Justru hari-hari ku lebih banyak bersama kakak satu-satunya, namanya Basith Aidil. Kalo kalian bertanya kenapa nama kita islamic banget? Jawabannya karna kita memang terlahir dikeluarga yang religius. Aku ada keturunan Arab dari Abi. Dan aku bersyukur terlahir seperti ini. Dengan tinggi 167cm dan berat 49kg, berkulit putih bersih dan hidung mancung. Namun aku kurang percaya diri, karena aku kurus dan tidak memiliki otot yang kuat seperti Bang Aidil. Bang Aidil lebih tua 2 tahun dari ku.<br />
“Cing, sampai kapan lo mau bengong di depan laptop gitu?”<br />
Suara itu membuatku buru-buru mengklik icon save lalu tanda silang di pojok kanan atas laptopku. Siapa lagi yang manggil aku ‘Cing’ (kepanjangannya ‘Kucing’) selain Bang Aidil. Entah sejak kapan Bang Aidil berada di kamarku. Jangan tanya kenapa dia manggil aku begitu, alasannya nggak banget dan bikin malu. Alasannya karna aku jarang mandi kalo lagi libur sekolah. Selain itu kumis tipis dibibir ku juga menguatkan julukan itu. Aku sendiri manggil Bang Aidil ‘Monyet’ karna bulu ditubuhnya yang lebat. Walaupun aku juga sih.<br />
“Ngapain sih lo nyet, masuk kamar orang nggak diketuk dulu?” menunjukkan ekspresi jengkel di raut mukaku<br />
“Eh, sejak kapan ada peraturan seperti itu? Lo juga sering nyelonong aja ke kamar gue?” protesnya sambil rebahan di kasur.<br />
“Sejak gue udah gede dong.”<br />
“Iya-iya yang mau masuk SMA, besok ujian masuknya kan? Kok nggak belajar? Malah nonton bokep”<br />
“Enak aja, Aim tadi habis liat soal yang kemarin Aim download tau’!”<br />
“Besok mau gue anter nggak?”<br />
“Nggak usah, Aim bawa motor sendiri aja.”<br />
“Ya udah, mau ikut cari makan siang nggak? Ubi pulangnya maleman, ntar kelaperan kalo nunggu mereka pulang.”<br />
“Siap nyet, Aim mau ganti baju dulu.”]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>The AMERICANS -  DARK SIDE of HOLLYWOOD ~ Actor, Model &amp; Pornstar SCANDAL</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740585/the-americans-dark-side-of-hollywood-actor-model-pornstar-scandal</link>
      <pubDate>Mon, 29 Apr 2013 13:19:05 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>YuriAddict</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740585@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[UPDATE!! CHAPTER 8. SEX FOR MONEY (HOT!)<br />
Wade syuting scene porno pertamanya bersama bintang porno yang amat populer bernama Jake tapi apakah sukses dan Wade menyukainya?<br />
<br />
~||~<br />
Hey everyone, it's been a long time since the last time i'm posting a story here.. terakhir kali di Male Models Life (Diary) biarpun peminatnya banyak tapi gue menganggap itu ceritanya jelek dan kurang seru jadi mau buat spin-off dari cerita Male Models Life, dengan tokoh utama Marshall, Wade, Nick dan Daniel.<br />
<br />
<br />
Prologue<br />
<br />
Nama gue Marshall, Lahir di Los Angeles. Orang tua gue sendiri adalah pendiri salah satu perusahaan terkemuka di Amerika dan banyak membantu keuangan negara. Rambut gue berwarna blonde, mata gue biru laut dan tubuh gue atletis. Mungkin karena pengaruh gue ikut olah raga American Football dan karena Ibu gue adalah mantan supermodel top di Amerika. Sekarang gue seorang senior di Beverly Hills High School. Gue sendiri masih bingung dengan orientasi seksual gue, gue punya pacar cantik yang bernama Nicole, dia sendiri kapten cheerleaders di High School gue tapi tetap aja gue sangat mengagumi seorang adam. Gue tertarik dengan body dan wajah para kaum adam tapi gue juga cinta mati dengan pacar gue. Gue rasa gue seorang bisexual tapi i'm not sure juga. Perasaan gue kepada Nicole mulai menghilang saat gue bertemu dengan sahabat sahabat gue ini, Wade, Nick dan Daniel. Mereka adalah sahabat dekat gue. Kita sendiri bromance banget bahkan kita sudah seperti saudara. Bedanya kita sering berbagi hasrat satu sama lain, tapi cuma sebatas onani aja sih. Gue sendiri sudah beberapa kali modelling tapi hanya untuk koleksi pribadi bukan untuk public dan saat memulai modelling di Hollywood lah hidup gue berubah 180 derajat. Here's My Adventure<br />
<br />
Cerita ini hanya fiktif tetapi beberapa informasi tentang hollywood sendiri yang akan gue ceritakan benar adanya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Models-Actor-Pornstar and all things about Hollywood<br />
<br />
<br />
SEASON 1: DARK SIDE OF HOLLYWOOD<br />
<br />
*(....) = Look alike<br />
<br />
MAIN CAST:<br />
<br />
Wade Sullivan - Pornstar (Philip Fusco)<br />
Marshall McJohnson - Model (Trevor Donovan)<br />
Nick Abbey - Actor (Alex Pettyfer)<br />
Daniel Montgomery - No Occupation (Justin Deeley)<br />
Nicole Cosgrove - Model/Hollywood Bad Girl (Candice Swanapoel)<br />
Cody - Pornstar (Joshua Bowman)<br />
Chris - Model (Bernardo Velasco)<br />
<br />
Recurring Cast:<br />
Mr Trenton - Teacher (Matt Bomer)<br />
Ted - Pornstar studio owner (Hugh Jackman)<br />
Marshall Mother (Charlize Theron)<br />
Jake - Pornstar (Joel Evan)<br />
John - Ted Assistant (Owen Wilson)<br />
Don - Wade Brother (Lucas Gil)<br />
Sandra - Nicole BFF (Erin Heatherton)<br />
<br />
Guest Cast:<br />
Jennifer (Amanda Seyfried)<br />
Travis (Benjamin Godfre)<br />
Eric - Photographer (Joe Manganiello)<br />
<br />
<br />
<br />
Another Cast soon TBA<br />
(Untuk gambar bayangan cast nya sihlakan search google sesuai dengan nama didalam (.....)]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Rico from House 18 - Case 2: First Love</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740410/rico-from-house-18-case-2-first-love</link>
      <pubDate>Tue, 09 Apr 2013 04:49:31 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>zuyy18</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740410@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Halo gays...<br />
Newbie ijin bergabung ya. Mohon kritik dan sarannya. <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
<br />
<b> Case 1 : His name is Rico</b><br />
Fanfiction from <i>203 Goushitsu No Jinco-San by Nari Yamada</i><br />
Modified by <b>Zuyy18</b><br />
<br />
<img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
* * * * * *<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
“Bukan<br />
Kau sudah mati,<br />
Terimalah hal itu dan tolong jangan datang kesini lagi..”<br />
Aku duduk bersila di atas ranjangku dan memandang jengah pada sosok di depanku.<br />
<br />
“Jadii akuu benarr benarr sudahh matii ya... Tuann Micoo...”<br />
Sosok itu memandang sayu kepadaku. Berbicara dengan suara yang dalam dan berat.<br />
<br />
“Hadeh..bukan Mico.. tapi ‘Rico’...” aku menggaruk belakang kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal.<br />
<br />
<br />
Cklek!<br />
<br />
<br />
Kami sontak menoleh ke arah pintu kamar yang mendadak terbuka.<br />
<br />
“Rico, cepat tidur! Besok terlambat sekolah lho!”<br />
<br />
“Iya ma..”<br />
<br />
Sejenak mama tertegun melihat ke arahku.<br />
“Eh..<br />
Umm..<br />
Ya sudah, pokoknya jangan tidur terlalu larut!”<br />
<br />
“Iyaaa.......”<br />
<br />
<br />
Blamm!<br />
<br />
<br />
Hemmhh...<br />
<br />
Aku menoleh kembali ke arah sosok yang duduk di hadapanku.<br />
<br />
“Akuu mengertii.. ternyataa akuu memaangg sudahh matii..<br />
Selamatt tinggaall...”<br />
<br />
“Jangan ragu, pergilah ke alam baka dengan tenang”<br />
<br />
“Baikk...”<br />
<br />
“Jaga dirimu”<br />
Perlahan sosok itu terbang keluar jendela dan menghilang di pekatnya malam.<br />
<br />
Hemmmhh....<br />
<br />
Aku merebahkan badanku dan meletakkan kedua tanganku menyilang menutup mataku.<br />
<br />
<br />
<br />
* * * * * *<br />
<br />
(flashback)<br />
<br />
<br />
<br />
Sosok kecil berkuncir dua itu terus mendekatiku, dan ikut berjongkok disebelah kami yang sedang asik bermain pasir di bak pasir taman komplek rumah kami.<br />
<br />
“Bolehh..akuu ikutt mainn denganmuu..?”<br />
<br />
“Kau sudah mati, kita gak bisa main bersama”<br />
<br />
Aku menoleh pada sosok kecil yang sepertinya sebaya dengan kami.<br />
Dia menunduk sendu menatap ember dan sekop warna-warni yang kami pakai membangun istana pasir.<br />
<br />
“Hei! Rico! Kamu ngomong sama siapa? Jangan ngomong sendiri lagi deh!<br />
Serem banget kamu ini!”<br />
<br />
Ferro , teman sepermainanku sedari TK ini menghardikku yang lagi-lagi mendadak berbicara sendiri.<br />
Ya mau gimana lagi, mungkin dia tidak bisa melihat anak itu, yang sudah melayang meninggalkan kami. Entah kemana perginya anak itu. Aku hanya bisa menatap langit biru cerah ke arah perginya anak perempuan berkuncir dua itu.<br />
<br />
“Hei Rico! Jangan melamun! Nanti kau menghancurkan istana kita!”<br />
<br />
Aku menoleh pada Ferro dan tersenyum padanya yang selalu bersungut-sungut.<br />
<br />
“Kenapa senyum-senyum? Dasar gila...”<br />
<br />
Sambil terus menggerutu dia menepuk-nepuk pasir dihadapannya.<br />
Aku tetap tersenyum, karna aku tau dia tidak marah, karena setelah itu dia menyunggingkan bibirnya sedikit setelah aku tersenyum padanya tadi dan pipinya bersemu merah.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
* * * * * *<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Nyamm..nyamm..nyamm..<br />
<br />
“Hei Rico! Pagi!”<br />
<br />
Aku menoleh ke belakang.<br />
<br />
“Pagi Ferro, mau?” aku menyodorkan kantung plastik berisi makanan.<br />
<br />
“Ish kau ini! Selalu makan sambil jalan! Tapi boleh deh...”<br />
Aku memutar bola mataku melihatnya nyengir dan mengambil satu bungkus snack dari sekantung plastik snack yang kubawa.<br />
<br />
“WAAAA...!!!!”<br />
<br />
“Uhukkk”<br />
<br />
Hampir saja Ferro tersedak snack yang dimakannya karena tiba-tiba saja ada cowo berkacamata bingkai tebal mendadak muncul di tikungan yang berteriak dan mengacungkan telunjuknya ke arahku.<br />
<br />
“KAU!! Kalau berada di dekatmu selalu jadi menggigil seperti ini..!” ujar cowo itu sambil menggigil memeluk tubuhnya sendiri.<br />
<br />
“Eh?”<br />
<br />
“Aku tau! Kau pasti manusia salju kan! Sana kembali ke alam mu!!”<br />
Cowo itu kemudian berjalan cepat meninggalkan kami yang masi terbengong karena kemunculannya yang mendadak.<br />
<br />
“Apa-apaan si culun itu? Dasar culun aneh....” Ferro terus menggerutu dan kembali berjalan di sisiku sembari kembali memakan snacknya yg baru habis setengahnya.<br />
Aku hanya berjalan dan memakan rotiku sembari melirik dua fans hantu yang melayang dibelakangku sedang terkikik geli.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
* * * * * *<br />
<br />
<br />
<br />
“Heh...untung bel masuk belum bunyi, ayo cepat kita ke kelas!<br />
Hei Rico! Sedang apa kamu..?”<br />
<br />
Ferro menoleh ke belakang mendapati aku yang ternyata sudah tidak berjalan di sebelahnya tadi.<br />
Aku hanya berdiri diam tertegun melihat ke arah lantai dua bangunan sekolahku.<br />
Semenjak tadi masuk ke dalam gerbang SMA ku ini aku melihat ada dua sosok hitam bertudung yang melayang di dekat balkon lantai dua.<br />
<br />
Auranya hitam gelap dan membentuk bayang-bayang samar di sekitarnya.<br />
<br />
Sosok apa mereka itu...<br />
<br />
Dan aku bergidik ngeri saat kedua sosok hitam itu menolehkan mukanya kearahku.<br />
<br />
“Rico! Cepet! Kamu liat apa sih?!”<br />
<br />
Ferro menarik lenganku dan menyeretku dari alam yang terkadang membuatku sejenak melupakan dunia fana ini.<br />
Aku hanya diam membiarkan lenganku diseret dan mengikuti langkah Ferro dalam diam.<br />
<br />
Hemmmhh...<br />
<br />
Semoga tidak terjadi sesuatu yang menyusahkan.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
* * * * * *<br />
<br />
Bersambung....<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>BELENGGU HATI (Cinta, Obsesi dan Dendam)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16738278/belenggu-hati-cinta-obsesi-dan-dendam</link>
      <pubDate>Tue, 30 Oct 2012 10:29:58 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>danielsastrawidjaya</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16738278@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Belenggu Hati adalah cerbung kedua yang ku buat. Sebenarnya ada beban waktu mau buat cerita ini karena takut mengecewakan, takut tidak lebih bagus dari Kisahku dan takut tidak disukai. Hahaha.. Takut melulu ni.<br />
<br />
Cerita ini hanya karangan dan fiktif belaka. Jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, karakter dan lainnya mohon dimaafkan.<br />
<br />
Amankan lapak dulu ya.. Nanti malam baru dipost... Hehe]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Bianglala Satu Warna</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16738886/bianglala-satu-warna</link>
      <pubDate>Mon, 10 Dec 2012 13:56:55 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>santay</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16738886@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Chapter I<br />
<br />
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Itu berarti genap tiga puluh menit keterlambatan Mam Nining hadir ke kelas untuk memberikan Les tambahan dalam rangka persiapan menghadapi UN bagi siswa SMA.<br />
<br />
Para siswa mulai terbawa suasana yang bebas. Bergerak ke sana-kemari, mengunjungi bangku teman-teman mereka. Bercanda, tertawa, bergosip dan segudang kegiatan lain khas anak remaja SMA.<br />
<br />
"Mam nggak masuk ya?"tanya salah seorang siswi.<br />
"Nggak tahu nih. Udah setengah jam lebihkan??"timpal yang lain.<br />
"Moga aja dia nggak masuk. Biar kita bisa pulang cepat, hihihi..."sambung siswa yang berkuncir ekor kuda.<br />
"Aminnn. Gue capek banget. Pengen cepat pulang, pengen tiduuurrr..."sahut teman sebelahnya.<br />
"Kalo gitu kita pulang aja, yuk?"ajak si ekor kuda.<br />
"Ayuk! Mau nggak? Mau nggak?"teman sebangkunya memprovokasi yang lain.<br />
Tanpa argumen, sekumpulan siswi itu mengangguk. Lantas tanpa komando, mereka semua langsung kembali ke bangku masing-masing dan mengemasi seluruh<br />
peralatan sekolah beserta alat kecantikan mereka.<br />
<br />
"Yuk! Kita cab---"<br />
"Good day, Everybody! Sorry, I'm late..."tiba-tiba sebuah suara meluncur dari ambang pintu.<br />
<br />
Serentak seluruh siswa menoleh. Seorang pria muda berkemeja putih dengan dua kancing atas terbuka dipadu celana jeans dan sepatu pantofel berdiri di sana sambil tersenyum.<br />
"Ini ruang 3C bukan?"Ia kembali membuka suara sambil mendongak ke atas, mencari-cari tulisan yang mengindikasikan bahwa ia tidak salah masuk ruangan.<br />
"Iya, Bang..."serentak semua siswa menjawab. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melangkah menuju meja guru diikuti puluhan pasang mata para siswa yang penasaran akan sosok dirinya.<br />
"Let me introduce myself. My name is Jo, Johan. I'll teach you to replace your teacher, Miss Nining who gave birth,"katanya memperkenalkan diri.<br />
Terdengar koor"ooo"yang meluncur dari bibir para siswa.<br />
"Okey, do you have any questions?"Para siswa terdiam.<br />
Beberapa siswi mulai bersikap genit dan saling berbisik dengan teman sebangku mereka.<br />
"Okey, Kalo nggak ada, kita langsung ke materi. Sudah sampai di mana materi pelajarannya?"tanya Mr. Jo lagi.<br />
"Uhmmm... Ntar dulu dong, Mister..."sebuah suara manja terdengar dari deretan bangku belakang.<br />
"Ya?" Mr. Jo memandang ke arah sumber suara. Seorang siswi ber-make-up lumayan tebal menegakkan bahunya.<br />
"Mr. Jo, How old are you?"tanya si pemilik make-up tebal dengan lantang.<br />
"Moduuussss...!!!"tiba-tiba sebuah celetukan meluncur dari deretan bangku tengah. Timpalannya langsung disambut gelak tawa oleh seisi ruangan sambil menoleh ke arah si pemilik make-up tebal.<br />
Mr. Jo tersenyum simpul."I am 21 years old, Lady. What's else?"<br />
"Wah, just 3 years old jarak kita, Mister..."balas si pemilik make-up tebal seraya tersipu malu. Sontak jawabannya langsung dihadiahi sorakan"huuu..."dari teman-temannya.<br />
"Uhmm... Sweet seventeen, eh? What's your name, Lady?"<br />
"Mad girl! Cewek stress, Mister!"celetuk siswa bertampang cuek di seberangnya.<br />
"Kenanga, Mister..."jawab si pemilik make-up tebal dengan lembut. Tapi sejurus kemudian langsung memasang tampang galak saat menjulurkan lidah ke arah siswa bertampang cuek.<br />
"Kebagusan! Seharusnya bunga bangke nama elu!"celetuk siswa dari deretan depan. Celetukannya disambut gelak tawa.<br />
"Eee... Sirik aja elu semua!"balas Kenanga."<br />
"Kenanga cantik kok. Orang sama namanya memang pas," komentar Mr. Jo. Kenanga tersipu malu.<br />
"Itu fitnah! Fitnah!"sahut yang lain. Mr. Jo tersenyum.<br />
"Any question, boys and girls?"tanya Mr. Jo lagi seraya menyapu seisi kelas dengan pandangannya. Para siswa terdiam dan menatap satu sama lain.<br />
"Nggak ada lagi?"Tiba-tiba dari bangku deretan kedua dari belakang, seorang siswa yang sedari tadi luput dari pandangan Mr. Jo mengacungkan tangannya.<br />
"Yes. What's your question?"<br />
"Eng, no, mister. Saya mau izin ke luar..."balasnya dengan mimik wajah geli bercampur malu. Balasannya langsung disambut gelak tawa. Tak terkecuali Mr. Jo, yang menyunggingkan senyum geli.<br />
"Yup. Please..."Siswa itu mengangguk lalu berjalan keluar.<br />
"Yang lain, apa masih ada pertanyaan?"<br />
"Mikir dulu, Mister. Apa yaa???"siswa yang tempat duduknya terdekat dengan Mr. Jo menjawab.<br />
Mr. Jo tersenyum."Oke, silahkan pikirkan dulu pertanyaannya. Sekarang kita kembali ke materi. Sampai di mana terakhir pembahasan kalian?"<br />
"Sampai Jenis-jenis teks, Mister."<br />
"Text genre?"<br />
"Yes, Mister."<br />
<br />
***<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Aku, Dia, dan Dirinya</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739613/aku-dia-dan-dirinya</link>
      <pubDate>Thu, 31 Jan 2013 13:04:16 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Han_Gaozu</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739613@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Ini adalah kisah fiksi yang hanya ada dalam pikiran penulis. Penulis menulis ini dengan sudut pandang orang pertama sehingga kisah ini seolah-olah nyata. Kisah ini dibuat dengan tujuan menghibur para pembaca semua. Semoga tulisan pertama penulis ini bisa menginspirasi. (formal banget sih)<br />
Ini adalah kisah Aku. Aku adalah seorang yang sangat biasa. Aku mempunyai keingin tahuan yang lebih tentang dunia sesama jenis hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke sebuah forum online bernama Boyz Forum.<br />
Dulu aku adalah lelaki yang masih mencintai wanita. Namun belakangan aku lebih mengenal dunia tersebut, dunia pecinta sesama jenis yang aku kira adalah dunia yang penuh dengan romantisme yang bahkan melebihi dunia biasa.<br />
Tapi semua berubah ketika aku mulai mengenal lebih dalam lagi dunia tersebut. Kisah aku, dia dan dirinya ini terinspirasi dari banyak cerita dan curhatan para penghuni BF.<br />
<br />
Selamat menikmati. <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
*nb : karena penulis masih baru tolong di komentari dan dikasih masukan ya. Kalo banyak typo harap dimaklumi.<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Kak Lihatlah Aku Sekali Saja</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740606/kak-lihatlah-aku-sekali-saja</link>
      <pubDate>Wed, 01 May 2013 01:05:16 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Dan1_shy</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740606@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[PROLOG<br />
<br />
<br />
"kakak... Apa kau mencintaiku?"<br />
- ranu<br />
<br />
"tentu. Aku mencintaimu seperti adikku."<br />
- vino<br />
<br />
"apa kau mau melakuan sesuatu untukku?"<br />
- Ranu<br />
<br />
"tentu saja, apa itu?"<br />
-vino<br />
<br />
"tinggalkan pacarmu dan cintailah aku"<br />
- ranu<br />
<br />
<br />
<br />
**************]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>PERVERT COUSIN IN MY ROOM</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740844/pervert-cousin-in-my-room</link>
      <pubDate>Mon, 20 May 2013 02:36:18 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Dan1_shy</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740844@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[DON'T LIKE DON'T TELL ME. COZ I.D.C<br />
<br />
<br />
author : (hidden)<br />
<br />
<br />
<br />
seorang pemuda tengah sibuk dengan kerajaannya, ia berusaha keras agar tetap fokus<br />
sepupunya terus mengawasinya di ujung mejanya<br />
ia menghembuskan nafas panjang<br />
<br />
"bisa tidak kau cepat pergi dari sini kalau tidak ada urusan lagi denganku!" bentaknya<br />
<br />
sepupunya mempunyai rambut yang sama coklat gelap sepertinya dan seluruh kerabat-kerabatnya, tinggi mereka hampir sama<br />
ia berumur 20 sedang sepupunya 25<br />
sepupu laki laki satu satunya yang  hobi mengganggunya<br />
<br />
"apa salahnya? sudah lanjutkan saja, biasanya juga kau tidak peduli ai ♥"<br />
<br />
"apa kau tidak ada kerjaan lain huh? kau sangat mengganggu"<br />
pemuda itu berbicara ketus sambil terus memeriksa berkas berkas yang menumpuk dimeja kerjanya<br />
<br />
sepupunya menghampirinya dengan kursi beroda yang sejak tadi ia duduki<br />
<br />
"a a apa!??" ujar pemuda itu gagap ketika sepupunya sudah duduk disampingnya, tapi ia masih bergeming dengan kerjaannya<br />
<br />
secara cepat sepupunya mencium bibirnya, sontak pemuda itu melotot dan meremas berkas yang tengah ia pegang<br />
<br />
dikeluarganya memang menerima ciuman sebagai sebuah tanda kedekatan, itulah sebabnya disetiap pertemuan antara sanak keluarga, ia tak jarang mendapat ciuman dari paman, bibi, sepupu,ipar,kakak dll yang masih sedarah dengannya, tak peduli laki laki atau perempuan tapi itu hanya kecupan sekilas<br />
<br />
tapi sepupu gilanya yang ini berbeda, hanya dia yang memasukan lidah saat berciuman dengannya atau meremas pantatnya saat berpelukan<br />
<br />
sepupunya mengikutinya setiap saat, ia tau sepupunya gay, ia sering bersama dengan laki laki berambut pirang panjang yang perawakannya seperti perempuan yang ia duga adalah pacarnya<br />
lantas kenapa dia masih menggodanya!!?<br />
<br />
ia mengurut keningnya yang agak sakit karena terus berfikir<br />
<br />
"kau tau kan ai, aku sangat mencintaimu....kenapa kau selalu menolakku sih?"<br />
<br />
"kau sakit!! kita ini sedarah bodoh dan berhenti memanggilku 'ai'. itu menjijikan!" rutuknya, ingin rasanya ia membanting apa saja yang ada disana atas ke-keras kepalaan sepupunya itu, tidak terhitung sudah berapa kali ia mengatakannya<br />
<br />
"aku tidak peduli, aku akan mengatakannya setiap hari sampai kau juga mengakui bahwa kau juga mencintaiku" sepupunya masih berkeras<br />
<br />
"kau kesurupan, aku tidak akan pernah"<br />
<br />
sepupunya memasang tampang kesal, ia tidak kesurupan dan juga tidak gila ia hanya mencintai pemuda dihadapannya, apanya yang salah<br />
<br />
lantas ia bangun dari bangkunya dan melingkarkan lengannya pada leher sepupu mudanya<br />
<br />
"apaan sih kau! lepaskan!!" ujar pemuda itu gusar mencoba melepas lilitan tangan sepupunya yang serasa mencekik lehernya<br />
<br />
"kau harus tau kau selalu ada di pikiranku, setiap malam aku selalu membayangkan kita bercinta, atau saat aku masturbasi aku akan membayangkan wajahmu, kau ada di mimpi mimpiku, ketika berendam aku selalu membayangkan tubuhmu dan impianku adalah melihat tubuh polosmu yang sedang bercumbu denganku" turur sepupunya tanpa jeda<br />
<br />
ia mengeratkan gigi-giginya demi menahan luapan amarahnya, tubuhnya memanas dan wajahnya mungkin sudah berubah warna mendengar penuturan sepupunya<br />
<br />
"itu tidak akan pernah terjadi, sepertinya kau mengalami gangguan jiwa, kita sedarah dan kau tau itu. hubungan sesama laki laki sangat dilarang"<br />
<br />
"aku bilang, aku tidak peduli" gertaknya<br />
lingkaran di leher pemuda itu semakin kuat<br />
tangannya pelan pelan turun dari lehernya, menelusuri kemejanya dan mendarat di sela sela ikat pinggang pemuda itu<br />
<br />
<br />
"jangan coba coba kau!" ancamnya seraya menahan pergerakan tangan sepupunya<br />
<br />
saat itu terdengar suara langkah yang mendekati ruangannya, langkah itu semakin dekat<br />
<br />
sepupunya langsung menyelusup kebawah meja kerjanya bersamaan dengan suara ketukan pintu diseberang ruangan<br />
<br />
jantung pemuda itu berdegup, ia mencoba agar tetap santai<br />
<br />
"masuk.."<br />
<br />
CKLEK<br />
<br />
<br />
<br />
"permisi pak, saya tau anda sedang sibuk tapi ini berkas berkas yang anda minta tadi" kata seorang wanita berambut pendek yang berpakain rapi<br />
<br />
pemuda itu meneguk liurnya ketika sepupunya perlahan membuka ikat pinggangnya dan memelorotkan celananya perlahan<br />
<br />
"kau taruh saja emh...nanti ku urus"<br />
<br />
sepupunya menyentuh gundukan dibalik celananya dan meremasnya dengan gerakan sensasional<br />
<br />
tubuhnya langsung meriang tapi ia mencoba agar tetap relax<br />
<br />
"baik pak, maaf untuk jadwal pertemuan besok dengan pak rio, beliau minta agar diundur minggu depan karena-"<br />
<br />
"iya iya aku mengerti, bisa pergi sekarang" potongnya setengah berteriak, suaranya bergetar. ia sudah tidak kuat lagi ketika sepupunya sudah mengulum batang kemaluannya<br />
<br />
sontak wanita itu kaget dengan perkataan atasannya<br />
wanita itupun pergi setelah membungkuk sebentar<br />
<br />
pemuda itu memperhatikan kepergiannya, ia menutup pintu ruang kerjanya dan berlalu dari hadapan si pemuda<br />
setelah di rasa cukup jauh<br />
si pemuda segera menjauhkan dirinya dari sepupunya<br />
batang kemaluannya telah basah oleh liur<br />
<br />
"apa yang kau pikirkan brengsek!!"<br />
ia membetulkan celananya kembali<br />
<br />
"hahaha!! kau mengeras juga kan, aku tau kau pasti juga menginginkanku"<br />
<br />
wajahnya memerah antara kesal dan malu, pulpen yang ia pegang bergetar di atas kertas yang tengah ia kerjakan<br />
<br />
'tenang....dia tidak akan berani kalau aku mengacuhkannya seperti biasa' pikir pemuda itu meyakini<br />
<br />
lantas ia pun melanjutkan pekerjaannya seperti tak terjadi apa apa<br />
<br />
hal itu justru membuat sepupunya kesal, tanpa persetujuan ia meraup bibir sepupu mudanya dengan napsu<br />
pemuda itu tak berkutik untuk beberapa saat, sepupunya mencoba memasukan lidahnya tapi pemuda itu cepat menguasai diri dan mendorongnya jauh<br />
<br />
"kau!!" suaranya menggelegar sambil menunjuk sepupunya dengan jari telunjuknya, maksudnya sih memberi peringatan, alih alih takut sepupunya malah meraup telunjuknya dan melumatnya<br />
sebelum pemuda itu memprotes sepupunya meremas pundaknya dan mendorongnya jatuh dengan bunyi yang keras<br />
ia menindih sepupu mudanya dan terus melumat bibirnya, ia sudah sangat bernapsu, emosinya sudah tidak terbendung lagi. ia benar benar ingin menyalurkan hasratnya pada pemuda yang kini sedang dicumbunya<br />
<br />
"kau itu benar benar keras kepphh...ahh..."<br />
pemuda itu meringis saat sepupunya mengecup,menjilat,menggigit dan me-me lainnya bagian-bagian tubuhnya yang sensitif<br />
<br />
"sudahlah ai nikmati saja, apa susahnya sih" ujar sepupunya sambil terus mencium leher jenjangnya<br />
<br />
"hhh..terserahh..kau saja.." ujarnya setengah melenguh<br />
<br />
matanya berbinar, sepupunya menyeringai lebar seakan mendapat persetujuan<br />
ia menghentikan aktivisnya sejenak dan berlari ke arah pintu<br />
<br />
pemuda itu memperhatikannya, 'apa yang mau dia lakukan?' batinnya<br />
<br />
ternyata sepupunya hanya mengunci pintu ruang kerjanya dan kembali lagi dengan semangat<br />
<br />
ia kembali menindih sepupu mudanya, membuka kancing baju pemuda itu dengan tidak sabar kemudian menarik gesper yang melingkar dipinggangnya dan menurunkan celana hitam yang kini dikenakan sepupu mudanya<br />
<br />
ia langsung mengulumnya dengan napsu<br />
pemuda itu hanya merintih tertahan<br />
setelah agak lama diapun kesal<br />
<br />
"kalau ingin menusuk aku tusuk saja!! aku tidak suka pemanasan!" hardik pemuda itu<br />
<br />
sepupunya berhenti untuk sejenak mengerutkan alisnya dan memasang tampang horor<br />
<br />
"menusukmu??"<br />
<br />
" ya! itu kan tujuanmu" jawab pemuda itu gusar<br />
<br />
"aku tidak berniat untuk itu..."<br />
suaranya pelan dan perlahan<br />
<br />
pemuda itu mengerutkan alisnya, 'bukankah tadi ia begitu bernapsu?' batinnya<br />
<br />
"sejak tadi aku menunggumu untuk melakukan itu tapi kau hanya diam saja, kau tau aku tidak berbakat di 'atas'" ucapnya malu malu<br />
<br />
pemuda itu terbelalak, ia mulai mengerti....<br />
<br />
"shit! harusnya aku sudah tau dari awal!" umpatnya<br />
<br />
ia pun membalik posisinya dan gantian menindih sepupunya<br />
<br />
<br />
(this is translated story)<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Diary Gue</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739509/diary-gue</link>
      <pubDate>Sat, 26 Jan 2013 09:59:34 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>ularuskasurius</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739509@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Padang, 19 Jan 2013<br />
<br />
Lo pada tau ga'? Gueeee kagak jadi pulang kampongggggg!!! Asshole dah!!! Lubang ikua, lubang lancirit! Gara-gara bus ga' nyampe-nyampe sementara waktu udah jam 5 sore, udah sejaman gue nunggu dan gue masih harus nunggu lagiiii??? Ohhh God, bialah indak! Mending gue balik pulang dah ke kosan. Tidoooorrrr!!!<br />
<br />
"Uni, masih lama ya busnya?" Bibir gue udah dower 10 kilo saking kesalnya.<br />
<br />
"Iya dekkk! Masihhh lamaaa! Habis mo gimana lagi, macet di Silaiang!" Ujar uni gembrot itu dengan wajah memelas. Bukan salah dia juga sih, tapi otomatis donk gue ngeluh ke dia.<br />
<br />
"Ya udah deh uni, saya cancel aja keberangkatan hari ini. Besok aja ya uni saya berangkatnya!" Kata gue sambil menyerahkan karcis yang terlanjur ditulisi.<br />
<br />
"Okehhh dehhh! Jam berapa besok?"<br />
<br />
"Hmmm yang paling pageee aja uni! Jam berapa yang paling cepat berangkatnya?"<br />
<br />
"Jam 8 pagi! Deal?"<br />
<br />
"Deal uni!" Jawabku singkat. Si uni corat coret sedikit. Karcis gue  dicoret tanggalnya yang sekarang diganti dengan tanggal besok. Setelah terima revisi karcisnya gue langsung ngacrit dari pool bus itu.<br />
<br />
Gue nyeberang jalan yang di depannya berdiri megah gedung pemerintahan. Seumur-umur gue belum pernah masuk ke dalam tuh gedung. Kira-kira pigimini ya situasi di dalamnya??? Gimana mau masuk ya, gerbangnya aja di jaga oleh satpam bertampang sangar! Ane ga' tahu apakah itu satpam atau hansip atau satpol pp? Hihihi, ga' ngerti gue! Jadi gue hanya ngelewatin doang tuh gedung besar menyisiri jalan trotoar yang dinaungi tumbuhan rimbun. Adem, ayem, dingin, dan basah! Gimana ga' basah! Hujan coy! Jadi gue percepat aja langkah-langkah kaki gue. Tidak lama ane sampai di gedung kantor gue yang sangat megah! Cieee #nyombong!<br />
<br />
Di halaman kantor, Roni sedang chit chat dengan orang yang ga' gue kenal. Roni ini salah satu dari satpam gedung sebelah! Namun lumayan akrab dengan gue! Secara kosan gue dekat dengan rumahnya dia!  #rasanya ga' penting juga ya gue nyebutin ini, next!<br />
<br />
Gue lihat di kantor ada bang Purwan dengan customernya. Ajeeb, jadi CMO ga' ada liburnya. Tetap aja kerja! Lanjut bro, gue naik ke lantai dua. Nyampe di lantai dua gue langsung kabur ke kamar mandi, pipis gueeee! Ga' tahan boy!<br />
<br />
Kelar pipis, gue bingung! Mo ngapain gue nihhh??? Bunuh diri aja? Jangaaaannn! Ampun dah! Hmmm, itu di depan gue, ada sebuah kotak persegi panjang. Lebaaaaarrr! Hmmm, mungkin ini bisa menghibur gue! Gue obok-obok beberapa laci tempat uni Sinta (office girls) biasa menaroh paralon ehhh pipet minuman teh botol! Hmmm, kaga' ada, mungkin disimpan di laci uda Ardi secara pendahulu tuh benda ajaib pernah dicuri orang! Dan sampai sekarang, belum ditemukan dimana kkeberadaan benda tersebut. Tahukah ente itu apa? Remot! Yap remot tipi! Terpaksalah layar lebar berukuran 29 inch itu ane idupin pake jemari ane yang menurut sebagian orang masih mirip jemari manusia walau sebenarnya gue ini malaikat! Ihhh ngaku-ngaku!<br />
<br />
Gue cari chanel hbo, hmmm pilemnya brad pitt, ga' tau judulnya apa, tapi koboy2 gitu kayaknya, ga' suka gue! Gue pencet lagi, ada cewek-cewek sexy and cantik-cantik lagi bergoyang asoy! Ane pantengin tuh chanel! Hmmm cewek2 korea emang cakep-cakep! Sayang, ga' ada yang mau jadi bini gue! Okeee puas melihat mereka ngebor, gue pencet lagi siaran lainnya, hmmm, masih berbau korea, ini bapak2 dan abang2 nih lagi main kuis-kuisan. Siapa yang kalah harus tidur di luar. Di tenda gitu! Ternyata ada sekitar enam orang rivalnya yg kudu tidur di luar. Hujan, becek dan badai. Kasihan, ketika sedang ngantuk2nya, badai besar datang. Terpaksa dah mereka dipindahkan ke wisma. Baru dah bisa tidur tuh orang korea.<br />
<br />
Waktu udah pukul setengah enam. Time to pulang ke kos! Walo hujbad (hujan badai) gue tetap semangat empat lima pulang ke kos! Secara aneeee ngantuk berat pren! Hmmm, tapi lapar juga. Gue ngeliat ada nasi goreng sisa semalam! Oh ya, ini nasi goreng malam kemarin, dimana gue dan si Uput (tetangga kos)  terpaksa buat nasgor untuk mengganjal perut yang keroncongan karena ga bisa keluar nyari makan.<br />
<br />
Gue liat tu nasgor masih bagus warnanya, cuma ketika gue cium, baunya udah ga bersahabat. Secara gue lapar banget, dan malas banget keluar karena diluar masih hujan, gue nyalain kompor, gue goreng telur dadar, terus gue campurin nasi goreng yang berbau aneh tadi, after that (cieeee bahasa gue), gue ubek-ubek lagi nasi goreng itu dengan ditambah lagi bumbu gorengnya. Akhirnya nasi itu terlihat, terlihat ya, ane tegasin sekali lagi, terlihat bagus dan baru! Berasap-asap gitu! Namun baunya masih haw haw gitu, ga' enak banget di hidung. Namun karena gue udah kelaparan, dalam hitungan menit, akhirnya gue semaput! Hihihih, berakhir di kamar mandi dengan mencret-mencret kagak jelas! Padahal gue sedang nunggu-nunggu tampilnya Sandrina di IMB! Ya udah, sambil keciprit di kamar mandi, sambil beol gue nembak kesana kesini, prett prottt pretttt prottttt, ningkahin musik gamelan yang sedang ngiringin Sandrina berjaipong ria!<br />
<br />
Nyesal juga makan nasi goreng yang sebenarnya udah basi! Namun dengan gaya sok daur-daur ulang geto gue lahap sampai habis, akhirnya ngebom di toilet.<br />
<br />
Ya udah deh! Itu aje cerita gue hari ini! Mohon dikasih cendol donk gan! Hihihi!!!]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>RESIDIVIS</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740782/residivis</link>
      <pubDate>Wed, 15 May 2013 13:26:31 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>brownice</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740782@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Setelah beberapa lama jadi member BF, gw coba buat nulis juga. Sekedar sharing lah singkatnya. Gw juga ngarapin saran dan kritik dari teman2 semua.<br />
<br />
<br />
SEL 01<br />
<br />
Perkenalkan nama gw andi, 26 tahun dan stay di pondok indah. Kalau ditanya tentang perawakan, gw punya kulit yg eksotis. hahahah.. ga itam dan ga putih juga. Tinggi 183 cm dan berat badan 72 kg. Yups, secara fisik gw sempurna. Ini menurut teman dan pacar serta mantan2 gw.<br />
Saat ini gw bekerja di perusahaan keluarga yg cukup dikenal di bidangnya.<br />
Gw anak ke dua dari tiga bersaudara..<br />
kayaknya dah cukup sekilas tentang gw. Apa masih belum ya? 1 lagi, gw punya hobi yang menurut gw cukup unik. NGESEX. Unik banget kan  hobi gw?<br />
<br />
Dalam rangka menjalankan hobi gw ini pula lah saat ini gw ada disalah satu resto yg cukup terkenal seantero jakarta raya. hahaaha... lebay ya gw??<br />
Ga kerasa sudah 45 menit gw menunggu kedatangan teman kencan gw.<br />
<br />
Calon teman kencan gw kali ini adalah mahasiswi salah 1 PTS di jakarta. Anaknya gimana?? seksiiiii cuyyy. Dan yg buat gw lebih tertarik dan ngiler lagi adalaaaah... kayaknya tuh cewek masih perawan dah. Jangan ditanya gimana cara gw tau tuh cewek masih perawan ato janda. Feeling aja pokoknya, Mojitos gw dah masuk pesanan yg kedua, tapi si Arin sampai saat ini belom juga nunjukin batang hidungnya. Sempat kepikiran buat cabut dari tempat ini. Bayangin, gw dah nunggu sampai 1 jam, tapi tuh cewek ga datang2 juga.<br />
Iseng2 sambil ngisi waktu gw hubungi sekretaris gw dikantor sekedar cek warga.<br />
"siang ndah, Pak Guntur dah nyerahin laporan dinasnya belom?" tanya gw<br />
"selamat siang Pak, baru saja laporannya diserahkan ke saya. Kira2 Bapak ke kantor lagi atau tidak? atau apa seperti biasa saya antar ke rumah Bapak saja nanti malam??" sahut Indah dr seberang sana<br />
Sambil senyum2 ga jelas gw pun bilang ke Indah, kalau laporan pak Guntur akan saya periksa besok saja karna banyak urusan. Padahal cuma urusan nafsu doang..<br />
Wah jadi keingat nih malam2 yang gw jalanin sama indah. Ya guys, gw dan indah pernah sangat intim sebelumnya. Indah seksi, dan panasssss<br />
Tapi ya gitu, gw ga bisa tahan lama2 dengan 1 orang cewek. Bosan coyyy<br />
Saking asiknya ngingat keintiman gw dan Indah, gw ga sadar kalau Tempat duduk di depan gw dah di tempati orang.<br />
<br />
"sori, dah lama rin?" sahut gw<br />
"belom kok mas, belum 5 menit" kata arin<br />
"hahahaa... kalau dah 5 menit, dah exphired dong rin " canda gw<br />
Gw pun mempersilahkan arin untuk memesan makanan,,, sueerrrr nih anak cantik bangeeet. Ga menor sama sekali, tapi memukau. Kalian pasti tau apa yg gw maksud kan?<br />
sumpah, gw ga tahan dengan pesonanya arin. Kontol gw dah konak aja. Gw geser kursi gw kesebelahnya, Alamaaaak... wanginya bikin gw makin ngaceng. Nih anak emang mengangumkan dah. Ga tahan dengan semua sensasinya, gw pun mulai ngerangkul pinggangnya, rampiiiing banget. Untungnya Arin ga nolak sama sekali gw rangkul. Malah mukanya memerah.. Unyu nyaaaa..<br />
<br />
<br />
*ditunggu kritik dan saran teman2 semua. soalnya gw masih nubitol nih dalam hal tulis menulis.<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Adikku ALVIN CHRISTIAN (TAMAT page 104)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732542/adikku-alvin-christian-tamat-page-104</link>
      <pubDate>Sat, 24 Dec 2011 15:30:03 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>autoredoks</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732542@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[sebelumnya..<br />
gw dapat amanat dari temen buat posting cerita disini, alasannya karena dia gak bisa buka BF di komputernya.. sama dia masih malu2 kucing kawin kayaknya..<br />
<br />
okeh.. ceritanya tentang remaja (again) tapi dengan segala keegoisannya.. dan suasana muslim yang cukup kuat..<br />
<br />
gak usah banyak bcot lagi lah gw.. langsung kulum ajah ceritanya.. cekidot..<br />
<br />
======================================<br />
<br />
Sekilas..<br />
<br />
Namaku Aditya Firdaus, aku seorang siswa kelas enam yang berumur 11 tahun. Aku tinggal dengan Ibu yang seorang PNS, orang tuaku berpisah saat usiaku 5 tahun. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti perceraian dan hingga sekarang aku masih mencoba memahami keputusan kedua orang tuaku. Setelah perceraian tersebut ibuku memilih untuk tinggal di daerah Jakarta Timur. Meski telah berpisah ayah ibuku tetap akur tanpa ada adu mulut saat mereka bertemu. Ayahku rutin mengunjungiku setiap week end dan terkadang aku menginap di tempat ayahku. Kata teman-temanku, jika orang tua bercerai, sang ayah akan menikah lagi tapi hingga kini aku belum melihat tanda-tanda itu dan tak nampak ayah memiliki teman wanita. Paling sering teman-temannya yang mungkin teman kantor yang sering main ke rumah ayah.<br />
<br />
Meski pindah ke lingkungan baru dalam keadaan broken home, aku tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam bersosialisasi dengan anak-anak disini. Rumahku berada di antara dua teritorial, yang satu area kompleks yang terdiri anak-anak orang kaya dan yang seberangnya area pemukiman yang agak padat dan bisa dibilang kumuh. Tak banyak anak kompleks yang membaur dengan anak-anak yang dari pemukiman padat, mereka cenderung membentuk geng geng sendiri dan suka memamerkan kekayaan orang tua mereka, sedang anak dari pemukiman padat lebih welcome dan kompak meskipun bahasa yang mereka gunakan cenderung kasar dan ada kebiasaan-kebiasaan mereka yang kurang sopan. Kalau aku pribadi berteman dengan siapa saja.<br />
<br />
Dari berbagai teman-temanku yang berbagai macam rupa dan karakter yang mungkin akan sangat panjang jika kuuraikan. Dan pada cerita ini aku fokuskan kepada seorang bocah yang bernama Alvin, tetanggaku yang rumahnya di depan rumahku agak ke kiri sedikit. Bocah berumur 5 tahun itu sering bermain ke rumahku terlebih saat aku sudah pulang sekolah. Wajahnya bisa dibilang ‘imut’ dan agak bulat sehingga ia nampak manis dan menggemaskan. Aku sendiri suka mencubit-cubit pipinya. Apalagi di usianya yang saat itu dia sedang aktif-aktifnya dan pastinya sebagai anak laki-laki: sedang nakal-nakalnya tapi senakal-nakalnya Alvin tak sampai membuat naik darah, sebab ia pandai meminta maaf. Pernah suatu kali Alvin mencoret-coret bukuku, ia meminta maaf sambil memberikan semua permennya kepadaku dengan wajah memohon yang membuat siapapun akan luluh, dan saat permintaan maafnya ku-approve maka ia akan tersenyum berseri-seri.<br />
<br />
Sayangnya keaktifan dan kecerdikan Alvin ini tidak didukung dengan kehidupan yang layak untuknya. Ibunya sering kali mengabaikannya, ibunya lebih memilih tidur dan atau pergi entah kemana daripada bermain dengan Alvin. Sedang ayah tirinya yang entah-kerjanya-apa-tapi-di-rumah-melulu sering berbuat kasar kepada anak itu. Suatu ketika sudah sore, ayahnya menjemput paksa Alvin yang sedang main dengan teman-teman usia sebayanya dengan menjewer anak itu hingga ke rumah. Pernah di tengah malam aku mendengar Alvin menangis entah karena apa, suara itu terdengar memilukan. Jujur aku kasihan dengan anak itu namun aku bisa apa? Yang bisa kulakukan seperti mengajak Alvin bermain atau minimal aku akan ada untuknya, sebagai salah satu tanda bahwa aku peduli kepada Alvin. Oleh karena itulah Alvin dekat sekali denganku.<br />
Pernah kutanya kepada Ibu perihal Alvin tersebut, Ibu hanya mengelus kepalaku dan berkata “itu masalah pribadi orang lain, dit.” Aku tak pernah puas dengan jawaban Ibu itu, namun Ibu bertindak sama seperti aku, beliau sangat baik kepada Alvin. Ibu sering mengajak Alvin untuk makan siang bareng atau memberi Alvin bacaan anak-anak, karena ia sangat suka membaca.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Summer That Lasts</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739962/summer-that-lasts</link>
      <pubDate>Tue, 26 Feb 2013 08:56:36 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>sexiwon</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739962@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Hi guys, so this is my first short story and I'll write it in Bahasa Indonesia. About a complicated relationship between 2 high school boys, Ray &amp; Kai. The character "Kai" is inspired from a member of EXO-K (kpop group), Kai. So here it goes.. Enjoy<br />
<br />
<b>Pilot<br />
Finally!</b><br />
<br />
hari ini adalah hari pertama gw memulai summer school di seoul, korea. gugup memang, gw jg tinggal sendirian di dorm, walaupun katanya akan ada teman yang tinggal di kamar yang sama. sekarang gw lagi di depan gerbang sekolah, sendirian, malu masuk. mungkin karena keterbatasan bahasa ya? daritadi pingin nyoba bicara pake bahasa inggris aja tapi tidak berani. takut salah.<br />
<br />
Akhirnya, tidak terasa sudah jam istirahat. hari ini memang sedang panas sekali. sedang musim panas tepatnya. keringat membasahi tubuh gw. pingin rasanya buka baju aja tapi ga mungkin hahaha. tadi sudah sempat berkenalan dengan beberapa orang, namun rasanya belom ada yang klop juga, kebanyakan dari mereka sudah berkumpul dengan teman-teman dari negara yang sama sedangkan gw disini orang Indonesia sendirian. awalnya sempat stres juga, takut ga punya temen. lalu gw memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang sendirian, sambil mendengarkan musik di iPod, dan tiba-tiba seseorang duduk di sebelah gw.<br />
<br />
"Hi"<br />
"I'm sorry, what?" gw langsung mencopot headset gw agar bisa mendengar lebih jelas<br />
"I said, hi"<br />
Dari yang awalnya gw ga konsen, gw langsung merhatiin dia. Akhirnya!, ada orang yang mau memulai perkenalan dengan gw. Muka gw emg mungkin kurang menarik buat bule-bule. kulit gw yang agak tanned, hidung gw yg kurang mancung, dan badan gw yang ga se"built" orang-orang yang ngegym mungkin menjadi alasannya. walaupun, menurut gw untuk seumur gw badan gw lumayanlah, udah berotot dikit dan sixpack. terus tiap gw berenang temen-temen gw bilang pentil gw sexy, menarik buat cewek. halah! jadi narsis.<br />
"Oh hi! what's up?"<br />
"What's your name?"<br />
"Ray." Gw menjawab dengan agak gugup. Maklum, jarang ngomong langsung pake bahasa inggris sama temen. Di sekolah gw di Jakarta, semua pake bahasa Indonesia.<br />
"Oh cool! My name is Kai.. Frankly, it rhymes! haha"<br />
<br />
Oh, jadi namanya Kai. Kalau bukan karena gaya dan etnisnya, gw ga akan terlalu merhatiin dia. Kai berkulit agak coklat, badannya kurus, tapi sudah cukup berbentuk. kalo gw bukan cowok, pasti gw ud jatuh cinta sama dia. warna kulitnya sangat eksotis, dan senyumannya sangat manis. berhubung lagi summer, dia sekarang memakai shorts, sepatu converse, dan kaos sleeveless (tidak berlengan) &amp; low neck polos warna pastel. oh, dan dilengannya ada tato tulisan semacam quote, juga di dadanya. terlihat dari kerah bajunya yang rendah. gayanya sangat oke. membuat gw penasaran dia orang mana karena gayanya yang cukup "berani" ini. yang lebih bikin bingung lagi adalah dari mana asal dia. mukanya tidak seperti orang asia tenggara, orang korea, apalagi bule.<br />
<br />
"haha yeah! similar name. So Kai, where are you from?"<br />
"I'm from Indonesia. You?"<br />
"LAH lo orang Indonesia??" gw langsung ketawa. daritadi udah sok-sok berkenalan dengan bahasa Inggris ternyata dia adalah orang Indonesia. memang sih kulitnya seperti kulit orang Indonesia, tapi mukanya tidak.<br />
<br />
"...........Iya...........anjir lo juga ya....... pantesan, dari awal gw udah nebak, makanya gw ngajak kenalan hahahah sendirian gini gw, gw kira gw satu2nya orang Indonesia!"<br />
"Sama! abisan lo ga keliatan kayak orang Indonesia!!"<br />
"haha, iya nyokap gw soalnya orang korea, tapi gw ga bisa bahasa korea sama sekali makanya gw disuruh ikut summer course ini. Btw lo sendirian aja?"<br />
"Iya nih, aaaah untung nemu temen hahaha canggung gw mau kenalan sm orang.. mana gw sendirian di dorm"<br />
"haha yaudalah, lo mending sendirian ga keganggu, gw sama seseorang dari London, kerjaannya nonton bokep mulu di kamar! ganggu dasar mana ga ngajak2 gw! haha!" Kata Kai. Kemudian ia menegak air minumnya. memang, hari itu panas sekali dan bikin haus<br />
"haha sampis bgt lu!"<br />
<br />
Kemudian kita mengobrol panjang lebar, dan kita menjadi sering bersama kemana2]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>"LIK NO" by @seno (spesial untuk yang belum baca)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740505/lik-no-by-seno-spesial-untuk-yang-belum-baca</link>
      <pubDate>Sat, 20 Apr 2013 22:08:05 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>seno</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740505@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[selama aku fakum untuk beberapa hari ini, okelah untuk sementara aku tampilkan sebuah tulisanku dari forum sebelah.<br />
aku yakin, udah banyak yang baca judul ini, tapi jika ada yang belum baca atau yang udah baca mau baca lagi, silakan saja.<br />
sebagai penulis tulisan ini, terus terang aku paling suka judul ini dibanding judul yang lain.<br />
nggak tau kenapa, karena sampai saat ini aku masih sering ketemu galih, tokoh dalam cerita ini.<br />
seneng saja ...sehingga kalau aku kangen dia, lalu kubaca tulisan ini,hehehhehe.<br />
met membaca, mohon maaf jika tulisan ini hanya menjadi 'sampah' yang menuh-menuhi forum ini.<br />
trims]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Playboy Setengah Tulen</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740824/playboy-setengah-tulen</link>
      <pubDate>Sat, 18 May 2013 12:29:14 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Sam_Witwicky</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740824@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Sup brotha sista (:<br />
Mau mencoba share cerita lama gw yang sampe sekarang masih tersendat. Sengaja gw share disini supaya gw punya alasan/motivasi buat ngelanjutin cerita ini. Sekaligus gw mau denger...eh..baca pendapat dari orang lain selain sahabat gw.<br />
<br />
Cerita ini <i>based on my true story</i>, tapi gak <i>pure</i> sepenuhnya juga sih. Karna sedikit/banyak juga yang sengaja gw rubah disini, supaya lebih enak buat dibaca dan pastinya gak menyinggung pihak yg bersangkutan <img src="/plugins/Emotify/design/images/10.gif" width="" height="" alt=":p" title=":p" /><br />
<br />
Anyway, gw siap menampung saran dan kritikan dari kalian..karna jujur gw masih pemula dalam hal ini.<br />
And here we go......<br />
<br />
<br />
<br />

<div>
<b>PLAYBOY SETENGAH TULEN</b>
</div>
<br />
<br />
<br />
<b>I. ANAK BARU</b><br />
<br />
"Hoahmm...."<br />
Oke, ini sudah kesekian kalinya aku menguap. Dan kurasa, aku tak bisa menahan kantuk lebih lama lagi.<br />
<br />
<i>"Kayaknya mending izin kebelakang deh, daripada nanti kena ceramahnya Bu Susi"</i>, ideku dalam hati.<br />
<br />
Baru saja aku hendak mengangkat tangan untuk meminta izin, Bu Kartika <i>(Salah satu guru BP disekolahku)</i> masuk ke kelas kami dan langsung menghampiri Bu Susi yang tengah menulis di white board di depan kelas.<br />
Setelah berbicara sebentar dengan berbisik-bisik pada Bu Susi, lantas Bu Kartika pun keluar lagi dari ruang kelas. Tak lama kemudian, Bu Susi menghentikan kegiatan menulisnya di white board dan berdeham untuk meminta perhatian pada seisi kelas.<br />
<br />
"Anak-anak, barusan saja ibu diberitahukan oleh Bu Kartika, bahwa kelas kita kedatangan murid baru. Dan....."<br />
<br />
"WOOOOOOOO......" ,<br />
<br />
"Anak barunya cewek apa cowok bu?" ,<br />
<br />
"Cakep gak bu?" Kontan suara teman-teman memotong omongan Bu Susi, yang secara otomatis memancing amarahnya.<br />
<br />
"Saya belum selesai berbicara, tolong hargai saya!!"<br />
<br />
Cukup dengan perkataan seperti itu, Bu Susi, guru sejarah sekaligus wali dari kelas kami, yaitu kelas 1.1, mampu membungkam semua mulut diruangan ini. Ya, kami sebagai muridnya sudah sangat paham, kalau Bu Susi sudah mengeluarkan kata <i>"Saya"</i> bukan kata <i>"Ibu"</i> didepan kalimatnya, sudah dapat dipastikan kalau ia sedang marah.<br />
<br />
"Oke, Terima kasih. Romi, silakan masuk." Lanjut Bu Susi sambil mempersilakan anak baru itu masuk.<br />
<br />
"Silakan perkenalkan diri kamu ke teman-teman yang lain."<br />
<br />
"Hai, nama saya Romi Sugiharto. Biasanya dipanggil Romi. Saya siswa pindahan dari Semarang," jelas Romi si anak baru sambil tersenyum malu kearah kami. Kami yang sebenarnya sudah gatal ingin meledeki si anak baru, terpaksa menahan keinginan kami, karena takut dapat memicu amarah Bu Susi kembali.<br />
<br />
"Oke Romi, berhubung di kelas ini hanya tersisa satu bangku kosong, kamu duduk sama Ari di bangku belakang sana," Bu Susi berkata sambil menunjuk deretan meja tempatku duduk, tepatnya satu meja di depanku. Tak lama setelah Romi menempati bangku kosong disebelah Ari, Bu Susi pun melanjutkan pelajarannya.<br />
<br />
Aku yang tadinya sudah berniat untuk meminta izin ke toilet, terpaksa membatalkan niat. Karena mata ini sudah <i>full melek</i> akibat kegaduhan tadi. Lagipula, sebentar lagi jam pelajaran Sejarah juga mau selesai.<br />
<br />
<b>TETTT...TETTT..TETTTTT.....</b><br />
<br />
<i>"See? Benerkan?"</i><br />
<br />
Setelah menutup pelajaran dengan salam, Bu Susi pun meninggalkan kelas kami. Tak lama, kelas pun menjadi gaduh bak pasar kaget dipagi hari. Penyebabnya tak lain tak bukan, hampir separuh kelas telah mengerubungi meja Romi si anak baru.<br />
<br />
<i>"Hadehhh....dasar pada norak!! Kedatengan anak baru udah kayak ngeliat anak mas, mending kalo anak mas yang bisa dimakan,"</i> rutukku dalam hati.<br />
<br />
"Pan, mau kemana lo?" Teriakan Ari memanggilku yang hendak keluar kelas untuk menghindar dari keramaian yang menurutku tak penting ini. Karena posisi duduk Ari yang bersebelahan dengan Romi, mau tak mau Romi mendengar teriakannya dan mengikuti arah pandangnya yang sedang melihatku.<br />
<br />
"Ke Babeh atas bentar, lagian Pak Fajar kan datengnya telat," saat menjawab, mataku tak sengaja bertemu dengan mata Romi yang dengan cepat menundukkan wajahnya.<br />
<br />
<i>"Biasa aja ah, gak ada yang istimewa. Ngapain juga anak-anak pada ngerubungin dia?"</i> aku berpendapat dalam hati saat sepintas lalu melihat wajah Romi.<br />
<br />
"Pan, gue ikut.....tungguin gue!!" Bowo berteriak sambil mengekoriku dari belakang.<br />
<br />

<div>
* * * * * * * * * *
</div>
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Friends Around Me</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16738331/friends-around-me</link>
      <pubDate>Fri, 02 Nov 2012 12:46:45 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>totalfreak</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16738331@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Selamat Membaca!!<br />
<br />
Bagi yang baru baca dari awal ni daftar list page-nya :<br />
<br />
<span><b>Friends Around Me -  The Sacrifice (Bryan's Book - END)<br />
<br />
Page 1  : Part 1 - 6<br />
Page 2  : Part 7 - 8<br />
Page 3  : Part 9 - 10<br />
Page 4  : Part 11<br />
Page 5  : Part 12 - 13<br />
Page 6  : Part 14 - 19<br />
Page 11 :Part 20 - 24<br />
<br />
<span>Friends Around Me 2 - The Trust (Kristan's Book - END)<br />
<br />
Page 16 : Part 1<br />
Page 17 : Part 2 - 3<br />
Page 19 : Part 4 - 5<br />
Page 20 : Part 6 - 8<br />
Page 24 : Part 9 - 11<br />
Page 25 : Part 12 - 14<br />
Page 26 : Part 15 - 16<br />
Page 27 : Part 17<br />
Page 28 : Part 18 - 20<br />
<br />
<i>One Shoot</i><br />
<span>Pege 112 : Bryan's Book - Hidden Note<br />
<br />
<span>Page 33 : Part 21 - 22<br />
Page 36 : Part 23<br />
Page 37 : Part 24 - 25<br />
Page 38 : Part 26 - 27<br />
Page 41 : Part 28<br />
Page 44 : Part 29 - 30<br />
<br />
<span>Friends Around Me 3 - The Choices (Dharma's Book - END)<br />
<br />
Page 51 : Part 1<br />
Page 53 : Part 2<br />
Page 54 : Part 3<br />
Page 57 : Part 4<br />
Page 58 : Part 5<br />
Page 60 : Part 6<br />
Page 61 : Part 7<br />
Page 63 : Part 8<br />
Page 65 : Part 9<br />
Page 66 : Part 10<br />
Page 67 : Part 11 - 14<br />
Page 68 : Part 15 - 16<br />
Page 70 : Part 17<br />
Page 74 : Part 18 - 20<br />
Page 76 : Part 21<br />
Page 80 : Part 22<br />
Page 83 : Part 23<br />
Page 87 : Part 24<br />
Page 89 : Part 25 - 26<br />
<br />
<span>Friends Around Me 4 - The Conflict (Dharu's Book - Proses)<br />
<br />
<span>*Friends Around Me 5 - The Decision (Erfan's Book - Rencana)</span><br />
<br />
<br />
<br />
Proses penyelesaian masing-masing season lumayan lama, jadi kalau di masa yang akan datang forum dan niat menulis masih ada, moga bisa dilanjutin sampai tamat.</span></span></span></span></span></b></span>]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>T.R.O.U.B.L.E</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740631/t-r-o-u-b-l-e</link>
      <pubDate>Fri, 03 May 2013 11:43:49 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Procyon</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740631@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Title	    : Trouble<br />
Pairing : Damien Eastwood-Jun Goldstein<br />
Author : Procyon<br />
Rate     : Teen. Mature dikit.<br />
Genre   : pure/vanilla, hurt, comfort, romance<br />
Warning: Pertama kali bikin. Kalo kritik, saran, kurang berkenan mohon di review. typo, geje, garing English kacau apapun itu  Anda sudah diperingatkan .<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
PROLOG<br />
<br />
<br />
Aku mencari-cari sosoknya di bekas pabrik sepatu tua di jalanan Phoenix. Dasar Pengecut! Kalau mereka memang punya masalah denganku, harusnya mereka langsung mencari perhitungan denganku, bukan kepada dia!!!<br />
<br />
Aku sudah memberitahunya, menjadi sosok yang dekat denganku sama halnya menerjang bahaya. Dia bukan Sebastian yang akan selalu bersamaku dalam bahaya apapun karena fisik perkasanya, atau seperti Matt yang di dalam tubuh krempengnya sudah diasah bertarung ala jalanan sejak kecil. Dia itu rapuh, fisik dan mentalnya. Sosok yang minta dilindungi walau tak harus terucap. Aku tidak ingin dia masuk dalam putaran hidupku yang kacau balau. Tapi ternyata, justru aku yang membawanya masuk ke dalam hidupku.<br />
<br />
Dia sudah hidup dalam perasaanku.<br />
<br />
<br />
“SREEEK”<br />
<br />
<br />
Aku segera menoleh tajam ketika kudengar suara langkah terseok-seok. Aku hanya mampu menatap dengan tubuh terpaku, rasanya aliran darahku disetiap urat nadi membeku. Berjalan tertatih dari salah satu bekas ruang penyimpanan bahan; kotor, berdarah, lebam, dan ringkih. Namun tatapan penuh ketegaran. Mata yang biasanya takut-takut itu menatap tajam, mengeluarkan kekuatan yang tidak terlihat.<br />
<br />
“Jun…” tak terasa mulutku berujap lirih. Anak ini… tidak pernah gagal untuk membuatku terkejut. Sialan! Siapa yang berani membuatnya seperti itu?!<br />
<br />
“Hei,” balasnya. Suaranya serak. nyaris hilang. Suaraku malah sudah hilang.<br />
“Am I deserve to be with you?” tanyanya setelah melihatku diam saja. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku bergegas merangkulnya sebelum tubuh mungilnya jatuh ke tanah.<br />
<br />
“Am I…”<br />
<br />
“Yes, you are.” ujarku yakin, “I want you. Nobody’s else. Sekarang tolong jangan bergerak lebih jauh lagi! Kita ke paramedic!”<br />
<br />
Tapi tak ada jawaban. Aku segera melihat ke arahnya. Jun pingsan. Badannya dingin dan terlebih lagi ada cairan pekat berwarna merah kehitaman di punggungnya. Luka sayatan. Dammit!!!<br />
<br />
“JUN!” teriakku. Memecahkan kesunyian. Aku tidak peduli lagi tentang apapun selain Jun saat ini.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Love Storm (About Love And Friendship PART 2)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732228/love-storm-about-love-and-friendship-part-2</link>
      <pubDate>Thu, 24 Nov 2011 04:25:32 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>arcclay</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732228@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[~Clay Pov~<br />
Ehm…ketemu lagi dengan clay si penulis yang tidak bisa membuat ending bagus (ngomong dengan lemah lesu…). Di sini saya punya cerita baru yang lumayan lama. Baru karena emang ini cerita baru, lama karena cerita ini masih ada hubungannya dengan cerita pertama saya yang judulnya ‘About Love and Friendship’. Tapi tenang saja. Bagi teman-teman yang tidak membaca ataupun yang belum membaca cerita saya dulu tidak perlu di baca karena crita saya dulu masih sangat jelek dan jauh dari layak…lagipula crita saya ini punya permasalahan dan konflik yang berbeda dari cerita saya yang pertama itu. Adapun cerita yang sudah saya buat ada 4 cerita dan semuanya gagal (terutama di endingnya), di antaranya adalah:<br />
<br />
1.	“About Love And Friendship” (masih jelek sekali)<br />
2.	“Good Boy Or Bad Boy?? Hmmmm…” (gagal endingnya)<br />
3.	“The Memories Of Him” (parah sekali endingnya)<br />
4.	“Butterfly” (Cerpen coba-coba. Benar-benar hancur)<br />
<br />
Di antara ke 4 ceritaku di atas, no 1-3 itu berkaitan. Tapi sekali lagi saya tegaskan, bagi teman-teman yang tidak membaca ataupun yang belum membaca cerita saya dari awal, tidak perlu di baca karena crita saya dulu masih sangat jelek dan jauh dari layak…lagipula semua crita saya punya permasalahan dan konflik yang berbeda dari cerita yang lainnya.<br />
<br />
Sedangkan cerita saya kali ini berkaitan dengan cerita pertama.<br />
<br />
<br />
Lalu saya sebagai penulis abal-abal meminta maaf kalau anda-anda kecewa dengan ending cerita yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari “The Memories Of Him”. Sebenarnya saya sudah mempersiapkan ending ke dua setelah melihat anda-anda sekalian berprotes ria. Tapi sewaktu saya mau mengganti endingnya…banyak di antara kalian yang tidak setuju...tapi di sisi lain banyak juga yang meminta ganti endingnya..jadi saya benar-benar tidak bisa untuk memutuskan baiknya bagaimana.<br />
<br />
DEMIKIAN PIDATO SINGKAT DARI SAYA SI PENULIS ABAL-ABAL INI…KALAU ADA KATA YANG SALAH DAN KATA YANG KURANG PANTAS, SAYA MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA.<br />
<br />
SALAM…… CLAY<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
(Wkwkwkwkwkwk…sekalian belajar bikin proposal XD)<br />
(NB…biarpun ada 5 character, tapi aq cm pakai 2 sudut pandang dan sisax dari sudut pandang penulis… ^^)<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Rey~<br />
Cinta itu rumit. Lebih rumit dari matematika, kimia dan fisika.<br />
<br />
~Kevin~<br />
Cinta itu manis. Cinta suci nggak seperti permen karet yang manisnya di awal saja. Sama seperti cintaku yang manis..manis yang tiada habisnya. Cintaku semanis madu.<br />
<br />
~New Character 1~<br />
Cinta itu menarik. Aku akan mencintai orang yang menarik.<br />
<br />
~New Character 2~<br />
Cinta itu harus egois.<br />
<br />
~New Character 3~<br />
Cinta itu butuh pengorbanan dan ketulusan. Cinta nggak boleh egois.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Author Pov~<br />
Duk…duk…duk…duk…duk…sssrrreeetttt….pppllaaaazzzzz….<br />
<br />
Sebuah bola baru saja di lempar ke dalam sebuah ring oleh seorang cowok berwajah cool yang yang terkesan imut (kek gmn ya??). Cowok itu sudah menghabiskan 2 jam di lapangan terbuka itu. Sudah berkali-kali dia berlari ke sana kemari dengan men’dribble bolanya kearah ring, lalu dengan lincahnya dia meloncat dan memasukkan bola itu. Akhirnya setelah beberapa kali memasukkan bola ke ring, dia berhenti untuk istirahat. Di topangkannya ke dua tangannya ke lututnya sambil berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Dari kepala, wajah, leher serta seluruh tubuhnya terlihat basah terkena keringat yang terus keluar. Keringat itu akan jatuh ke lantai setelah menggantung beberapa detik di dagunya yang ramping itu.<br />
<br />
“Rey minum dulu!!” seru seorang cowok yang daritadi hanya duduk di tepi lapangan.<br />
<br />
Cowok yang di panggil Rey tadi akhirnya berjalan ke tepi lapangan dan menghampiri cowok yang memanggilnya itu. Rey’pun langsung menerima botol berisi air mineral yang di sodorkan cowok itu. Dia meminumnya beberapa teguk lalu sisanya di tuang ke atas kepalanya sehingga membuat rambut dan kepalanya menjadi basah kuyup.<br />
<br />
“CK….AAAHHHHHH…BASAH KAN!!” teriak cowok yang duduk tadi dengan histeris saat Rey menggoyang-goyangkan kepalanya, membuat air yang berada di rambutnya memercik ke arah cowok itu.<br />
“Hujan local,” desis Rey sambil mendudukkan pantatnya di samping cowok itu.<br />
“Hujan local…hujan local apanya!! Sengaja kan?!” dengus cowok itu sambil membersihkan wajahnya dari percikan air tadi, sedangkan Rey cuma tersenyum samar di bibirnya yang tipis itu.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Kevin Pov~<br />
Bener-bener deh dia ini. Bikin kaget aja bisanya.<br />
<br />
“Mana?” tanya Rey sambil menyodorkan tangannya ke arahku.<br />
<br />
Aku yang tahu apa yang dia maksud, langsung menyerahkan hp beserta headset ke arahnya.<br />
<br />
“Jangan berkomentar dan jangan memasang wajah aneh!!” kataku cepat saat melihatnya mulai memakai headset ke telinganya.<br />
<br />
Sedetik kemudian dia langsung melihat ke arahku. Nggak lama setelah itu dia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Seketika itu juga rasa malu langsung menyergapku. Aku yang malu akhirnya cuma bisa menolehkan kepalaku kearah yang berseberangan dengannya. Karena dia ada di samping kananku, jadi aku menoleh ke samping kiri. Aku lakukan itu untuk menghindari tatapan matanya.<br />
<br />
Ah…harusnya aku nggak memberikan rekaman itu padanya.<br />
<br />
Sewaktu aku sibuk dengan pikiranku, aku mulai merasakan dia mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik….“Too,” tepat di telinga kananku. 1 kata yang nggak jelas maknanya itu sudah bisa membuat jantungku berdetak kencang. Dia sukses membuatku jadi salah tingkah lagi dan lagi.<br />
<br />
“Ki…kita pulang aja. Besok kan hari pertama kita kuliah. Aku nggak mau kalau sampai telat,” kataku sambil beranjak pergi meninggalkannya.<br />
<br />
Aku terus berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi. Tapi aku tau kalau Rey sedang mengikutiku, karena terdengar pantulan bola dari arah belakangku.<br />
<br />
Rey…dia adalah pacarku..BF ku. Kami berpacaran sudah hampir 2 tahun ini. Hubungan kami terjalin ketika kami masih kelas sebelas. Dan selama itu hubungan kami ini selalu adem ayem. Yach…biarpun kami pernah bertengkar, tapi pertengkaran itu nggak sampai membuat runyam hubungan kami. Sebenarnya hubungan kami ini sudah lumayan jauh…Yaaaahhhh…tau sendirilah apa maksudku dengan ‘lumayan’ hahahahahaha… Tapi biarpun begitu, aku masih sering merasa malu dan merasa aneh jika sudah berhadapan dengannya. Apalagi kalau dia sudah mulai kumat usilnya.<br />
<br />
“Sampai kapan mau dengerin itu?” sindirku saat melihat Rey belum melepas headsetnya.<br />
“Sampai aku puas,” jawab Rey sambil terus men’dribble bolanya.<br />
<br />
Sekarang dia sudah berjalan di sampingku.<br />
<br />
“Tapi itu cuma bikin aku malu tau,” dengusku salah tingkah.<br />
“…”<br />
<br />
Merasa nggak mendapat respon yang berarti aku mulai melirik ke arahnya. Terlihat Rey sedang menatap lurus ke depan sambil terus tersenyum samar.<br />
<br />
Tadi iseng-iseng, aku merekam suaraku di hpnya. Hal ini sudah aku lakukan dari beberapa bulan yang lalu. Ya itung-itung untuk menghilangkan kebiasaannya mendengarkan headset kosongnya itu. Tapi bedanya, kalau yang lalu-lalu itu aku merekam sesuatu yang bisa menyemangatinya dalam berbagai hal, sedangkan rekaman tadi tentang perasaanku padanya. Padahal nggak sekali dua kali ini aku bilang ke dia kalau aku ini menyukai dan mencintainya, tapi nggak tau kenapa saat bilang seperti itu, aku tetap aja malu. Aneh kan hehehehe….<br />
<br />
Akhirnya kami berdua sampai juga di kost-kost’an yang letaknya masih satu kompleks dengan lapangan umum tadi. Kami berdua terpaksa kost karena tempat kuliah kami ini cukup jauh dari rumah. Sebenarnya aku kurang suka ngekost di sini. Para penghuninya benar-benar nggak bisa bersosialisasi dengan baik. Semua penghuni kost ini selalu jarang ada di kost karena sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, setelah pulangpun mereka akan langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci diri mereka di ruangan yang lebarnya nggak seberapa itu. Kalaupun nggak sengaja bertemu, pasti cuma saling melempar senyum satu sama lain aja. dan parahnya di kost ini nggak ada yang bisa di buat cuci mata hehe..semua penghuninya jelek-jelek atau di bawah rata-rata. Cuma ada mahasiswa abadi yang tubuhnya gemuk, bapak-bapak setengah baya yang profesinya sebagai guru, seorang karyawan kantoran yang berbadan kurus kerontang, dan seorang anak sekolahan yang masih SMP dan kelihatan sangat culun banget. Tapi karena kost ini pilihannya Rey, aku akhirnya nurut aja. Aku nggak mau kalau sampai di bilang bawel sama Rey gara-gara kebanyakan milih. Asal ada dia di sampingku itu sudah cukup.<br />
<br />
“Kamu mau langsung tidur?” tanya Rey saat melihatku langsung masuk ke dalam kamarku.<br />
<br />
Biarpun kami sepasang kekasih, tapi kami masih tetap menyewa dua kamar. Karena kalau satu kamar nggak akan cukup untuk kami berdua. Tempat tidurnya memang di rancang untuk satu orang dan lebar ruangannya cuma beberapa inci saja hehe…<br />
<br />
“Iya, aku udah ngantuk banget soalnya,” jawabku sebelum menguap lebar, “kamu cepet mandi dan tidur. Besok kita mesti bangun pagi buat ke kampus. Aku nggak mau hari pertama telat.”<br />
“Hmm…”<br />
<br />
Baru saja aku masuk kedalam kamar dan menutupnya terdengar ketukan di pintu kamarku.<br />
<br />
“Ada apa Rey?” tanyaku sambil membuka pintu kamarku lagi.<br />
<br />
Tapi tiba-tiba…<br />
<br />
CUP…<br />
<br />
Rey mengecup bibirku. Singkat tapi cukup membuat rasa ngantukku hilang entah kemana.<br />
<br />
Perlahan-lahan Rey mulai melepas ciumannya. Dari jarak yang sangat dekat ini, dia memandangiku dengan sangat lekat. Membuat dadaku kembali berdebar.<br />
<br />
“Good night,” desis Rey sambil membelai bibir bawahku dengan jari-jarinya.<br />
<br />
Nafasnya yang berbau mint langsung menerpa wajahku karena jarak kami yang hanya beberapa mili itu. Setelah itu dia langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya yang ada tepat di samping kiri kamarku. Meninggalkanku yang masih mematung karena kaget. Tiba-tiba aku seperti tersadar dari sesuatu dan langsung melongokkan kepalaku ke depan kamar. Menengok ke kiri dan ke kanan. Sepi. UNTUNG &gt;&lt;. Setelah itu aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya.<br />
<br />
Dasar Rey..ulahnya selalu aja bikin aku kaget. Gimana kalau tadi ada yang memergoki kami?? Bisa bahaya kan. Dasar. Dia itu..hhhaaaaahhh…<br />
<br />
Aku langsung menghela nafas untuk menenangkan jantung yang berdetak nggak normal ini.<br />
<br />
“Awas..kapan-kapan bakal aku balas,” dengusku, “ka…kalau berani,” desisku lagi sambil meraba bibirku.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Author Pov~<br />
Di tempat lain….beberapa meter dari tempat kost Rey dan Kevin terdapat sebuah café yang di penuhi dengan pengunjung. Café itu sebenarnya nggak terlalu mewah, tapi karena desain nya yang unik dan sangat menarik membuatnya hampir nggak pernah sepi dengan pengunjung. Sekilas café ini nampak seperti café khusus pria penyuka sesama jenis. Hal itu terjadi karena sebagian besar pengunjung memang seorang gay. Tapi sebenarnya itu cumalah café biasa yang juga ada pengunjung heteronya. Jadi nggak semua pengunjung adalah pasangan gay.<br />
<br />
“Udah hampir jam 12, kamu nggak pulang?” tanya seorang cowok yang masih sibuk membuat minuman pesanan pelanggannya.<br />
<br />
Cowok yang usianya sudah mendekati kepala 3 itu mempunyai wajah yang hmm…gimana ya..ehm..enak di pandang. Dari wajahnya terlihat kalau dia adalah orang yang sabar dan kalem (bhs indox kalem apa ya??hehe). Sikapnya selalu tenang, membuat orang yang berada di dekatnya menjadi nyaman. Rambutnya dipotong ala emo. Jadi rambut bagian atasnya pendek seperti potongan cowok pada umumnya, sedangkan rambut yang bagian dalamnya panjang hingga sepinggang dan selalu di kuncir. Sekilas jadi terlihat seperti ekor kuda. Di tangan kiri cowok itu terlihat tattoo naga dan ular yang saling melilit dari siku sampai punggung tangannya. Kepala naga dan ular itu saling berhadapan di punggung tangannya, seolah-olah ingin menerkam satu dengan yang lainnya.(ugh..dri dl aq pngn tattoo ini..hiks..tp g di bolehin ama kakakq.pdhl dia sendiri dah pnya tattoo di mana2 &gt;&lt;). Dialah pemilik café itu. Namanya Diaz.<br />
<br />
“Masih males,” jawab cowok yang duduk di depannya.<br />
<br />
Jarak mereka hanya terpisah oleh meja yang berbentuk huruf L tanpa siku-siku (bayangkan meja yg ada di cafe2 atau di club mlm. Yg ada bartenderx itu loh ^^).<br />
<br />
“Besok bukannya kamu harus ke kampus buat ngospek anak baru?” tanya Diaz sambil memberikan minuman yang dia bikin tadi ke Tommy, salah satu pegawainya.<br />
“Aku masih malez Di,” jawab cowok yang memakai bandana hitam di kepalanya.<br />
<br />
Eeiiittzzz…bukan seperti yang kalian pikirkan. Dia memang memakai bandana di kepalanya, tapi dia bukanlah seorang cowok yang suka berdandan. Bandana hitam itu di pakainya untuk menyingkirkan rambut depannya yang selalu menutupi sebagian matanya. Selain itu dia memakai bandana itu karena sudah menjadi kebiasaannya. Lagipula bandana itu tipis, jadi nggak terlalu terlihat mencolok mata. Sebenarnya wajahnya ya rata-rata wajah orang Indonesia biasa, tapi karena penampilannya yang selalu terlihat keren membuatnya jadi punya nilai plus di mata orang-orang. Nama cowok itu adalah Miko.<br />
<br />
“Hmm..ya udah terserah. Tapi jangan nyalahin aku kalau kamu bangun kesiangan besok.”<br />
“Nggak. Palingan cuma menuntut.”<br />
“Enak aja.”<br />
“Hehehehe…”<br />
<br />
Akhirnya ke dua cowok itu terus terlibat obrolan ringan. Mereka bahkan lupa kalau hari sudah berganti karena jam sudah melewati angka 12.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Clay Pov~<br />
Hehehehe…gmn? Lanjut? Apa ada yg penasaran ama sudut pandang k 2 nya?? hahahaha…]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Bright Day</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740014/bright-day</link>
      <pubDate>Sun, 03 Mar 2013 14:12:49 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>rendifebrian</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740014@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[#1 Hello, Indonesia!<br />
<br />
Entah kenapa aku akhirnya sangat menyesali keputusanku untuk pindah ke Indonesia. Walaupun sebenarnya aku masih bisa untuk kembali ke New York dan bercanda-ria dengan Dad-ku lagi. Hanya saja aku terlalu malu untuk membatalkan kepindahanku. Well, lagipula Mom sangat senang ketika tahu aku akan tinggal dengannya selama tiga tahun di Indonesia. Ya, aku menghabiskan masa high school-ku di Indonesia. Atau yang lebih tepatnya di Jakarta. Which is a bad city and had horrible temperature.<br />
<br />
Seperti biasa, tidak ada yang namanya pesawat yang tidak di delay. Pesawat yang akan membawaku ke Jakarta sudah telat setengah jam. Membuatku dan beberapa orang yang sedang menunggu menjadi sangat geram. Apa ya nama pesawatnya, oh, iya, Garuda Indonesia. Semoga saja tak lama lagi pesawat itu datang. Aku benar-benar sudah capek dan ingin segera tidur. Penerbangan dari New York sampai ke Singapura hampir menghabiskan sekitar 30 jam-an. Dan itu benar-benar sangat melelahkan.<br />
<br />
Aku memasang earphone ke telingaku lekat-lekat dan mengeraskan volume musik Two Door Cinema Club – I Can Talk sampai batas tertinggi. Suara ala-ala british memekik keras di telingaku dan aku sangat menikmatinya. Lagu ini mengingatkanku dengan Dadku yang pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya di New York.<br />
<br />
Ketika lagu sudah mencapai Intro, tiba-tiba aku flashback ke kenangan aku bersama Dad.<br />
<br />
“Are you sure you wanna move?” tanya Dadku, yang aku yakin sudah hampir ke dua ratus kali dalam satu hari ini.<br />
<br />
“Yes, Dad. I Miss Mom!” aku berujar pasti.<br />
<br />
Aku memang benar-benar kangen Momku. Sudah hampir empat tahun aku tidak melihatya. Dad dan Mom bercerai ketika aku berumur lima tahun. Aku tidak tahu alasan mengapa mereka bercerai. Disisi lain aku juga tidak ingin tahu tentang hal itu. Lalu hak asuhku jatuh di tangan Dad. Aku juga tidak tahu kenapa sampai Dad yang bisa memenangkan hak asuh tersebut. Lalu ketika umurku tujuh tahun, Dad mengajakku untuk pindah ke New York bersamanya. Setelah itu, hampir setiap musim panas Mom pasti akan mengunjungiku di New York dan kami akan menghabiskan liburan musim panasku di Las Vegas. Tetapi ketika aku memasuki umur dua belas tahun, Mom never come again. She tottaly disappear. Dad said; ‘Mom sibuk dengan pekerjaannya’.<br />
<br />
Marah. Sedih. Kangen. Itu yang kurasakan waktu ketika tahu Mom tidak pernah datang lagi ketika aku mendapatkan liburan musim panasku. But, tiba-tiba Mom menelponku dan meminta maaf karena tidak bisa datang karena dia—seperti yang Dad bilang—sibuk. Aku memaafkan Momku tentu saja. Dia harus mencari uang untuk dia makan bukan? Lagipula mendengar suara Mom sudah menghilangkan sedikit—tiny, actually—rasa kangenku padanya.<br />
<br />
Intro lagu I Can Talk kembali terdengar dan aku flashbak lagi ke kenanganku bersama dengan Dad.<br />
<br />
“WHAT?” Dad berteriak keras ketika aku memberitahunya kalau aku ingin pindah ke Indonesia. Ingin tinggal bersama Mom. Dan yang lebih buruk, meninggalkan Dad-ku yang ceroboh disini sendirian. “Sid, don’t make some ridiculous joke, rite now!”<br />
<br />
Aku memutar bola mata. “I’m not joking Dad,” aku meremas ujung selimutku. Dad memang suka sekali datang ke kamarku malam-malam untuk mengecek apakah aku sudah tidur apa belum. He think I’m still a kid. For Judas’s sake. Kadang hal itu sangat membuatku risih.<br />
<br />
Dad menatapku dengan mata disipitkan. “And you will leave me in here alone?” tanyanya, nada suaranya sedih.<br />
<br />
“You still have Mrs. Longbottom or Mrs. Hycinth. Our neighbors.” Aku tersenyum kecil ke arah Dadku. Mrs. Longbottom dan Mrs. Hycinth adalah kedua wanita janda yang sangat mengidolakan Dad. Setiap jam tujuh malam salah satu dari mereka akan datang dan membawakan kami lasagna yang rasanya sangat grisly.<br />
<br />
Kali ini Dad yang memutar bola mata. “Kenapa harus pindah sekarang?” tanya Dad, akhirnya dalam bahasa Indonesia. Aku tidak terlalu suka berbicara dengan Dadku menggunakan bahasa Inggris. Rasanya aneh saja. Kadang pembicaraanku dengan Dad malah suka ngelantur kemana-mana kalau menggunakan Bahasa Inggris.<br />
<br />
“Nggak tau,” kataku sambil menaikan pundak-ku tinggi-tinggi. “Kangen Mom, mungkin.”<br />
<br />
Dad kembali menatapku tajam. “Besok graduation junior high school Sid kan?”<br />
<br />
“Yep,” aku mengangguk. “Dan Dad harus datang!”<br />
<br />
“Dan, kamu mau menghabiskan masa SMA kamu disana?” tanya Dad mengalihkan pembicaraan. Dad sangat tidak suka mengunjungi tempat ramai seperti acara kelulusanku besok. Dia tidak sepertiku, aku malah sangat senang berkerumun di tengah orang banyak.<br />
<br />
Setelah aku berpikir sejenak, lalu aku hanya mengangguk sebagai jawaban.<br />
<br />
Dad mendesah letih. “Alright then, besok Dad langsung urus kepindahanmu ke Indonesia. Dan langsung Dad kasih tau Mom-mu buat ngurus kamu harus sekolah di mana di sana.”<br />
<br />
Aku kembali mengangguk untuk menjawab ucapan Dad barusan. Setelah itu Dad langsung menutup pintu kamarku dan aku membaringkan kembali tubuhku di kasurku yang empuk. Menjelajahi pikiranku sendiri. Aku memikirkan matahari Indonesia yang tottaly howt. Memikirkan bagaimana orang-orang yang ada disana. Memikirkan kota Jakarta yang suka sekali banjir dan macet. Well, aku tahu hal itu karena aku sering menonton acara berita dari salah satu saluran TV Indonesia yang tersedia disini.<br />
<br />
Tetapi—this is just my guess—Indonesia akan memberikan hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidupku. Lagipula apabila aku lama-lama di New York, bisa-bisa setiap hari aku akan saling bunuh dengan Mark, which is my bitch enemy. Dia adalah cowok dengan bintik-bintik terbanyak di wajahnya. Setiap hari yang dia lakukan hanya menggangguku dan mengatai-ngataiku. Dan dia pikir aku mau mengalah begitu saja. For hell’s sake. Tentu saja tidak. Well, tak perlu aku jelaskan bagaimana caraku dan Mark berkelahi dan saling mem-bully-kan.<br />
<br />
Terakhir kali aku berada di Jakarta ketika umurku masih tujuh tahun dan itu sembilan tahun yang lalu. Rumahku berada di salah satu perumahan elit yang ada di Jakarta Selatan. But, don’t ask! Aku lupa apa nama perumahannya. Di samping itu Mom juga sudah pindah ke Jakarta Pusat. Dia tinggal sendirian. Dan itulah yang membuatku berpikir untuk tinggal bersama Mom dan menghabiskan masa-masa SMA-ku disana. Aku juga kangen dengan masakan Momku. Makanan favoritku adalah… hmmm… wait! Apa ya namanya! Oh, yeah nasi kuning. LOL. Yeah, nasi kuning or yellow rice. Kenapa nasinya kuning. Tak perlu aku jelaskan lagikan.<br />
<br />
Tiba-tiba lagu I Can Talk berganti ke Dance Again yang dibawakan oleh Jennifer Lopez. Lagu ini juga langsung mengingatkanku dengan kedua sahabat karibku. Gawd, I miss them! Rasanya juga sangat sulit untuk pindah dan meninggalkan sahabat-sahabatku. Namun karena aku memang sudah bertekad untuk pindah—dan sekarang aku agak menyesalinya—ke Indonesia, jadi aku terpaksa harus merelakan kedua sahabatku untuk menjalani persahabatan kami ini hanya mereka berdua. Tanpa aku di dalamnya.<br />
<br />
Edmund dan Kim. Nama kedua sahabat karibku. Kami bertiga bisa bersahabat karena Edmund adalah anak Mrs. Longbottom dan Kim adalah anak Mrs. Hycinth. Which is my neighbors. Mereka adalah kedua janda yang sangat mengidolakan Dadku karena dia masih muda dan sangat tampan. Dan aku yakin ketampanan Dadku juga menurun padaku. Bukan bermaksud sombong, hanya saja memang banyak yang bilang kalau wajahku mirip sekali dengan Dadku.<br />
<br />
Pelukan erat dari Kim sangat membuatku terharu. “Goawdsss!” teriaknya histeris. “I will miss you so much. This time I’m already miss you so much, although you go yet!” Kim makin mengeratkan pelukan.<br />
<br />
Aku, Edmund, Kim dan Dadku sedang berada di JFK airport. Beberapa menit lagi pesawatku akan berangkat. Tiba-tiba kakiku rasanya sangat sulit untuk digerakan. “I will miss you too!” aku mengelus pundak Kim pelan untuk menenangkannya karena dia mulai terisak ringan.<br />
<br />
“Don’t forget to call me if you already arrive in Indonesia, ‘kay!” tutur Edmund. Matanya yang biru terang juga terlihat sama sedihnya sepertiku. Hanya saja mataku berwarna hitam legam. Aku sangat ingin mempunyai warna mata seperti Edmund. Warna matanya seperti ocean. Membuatku sangat iri. Banyak cewek yang menaksir dia karena matanya yang sangat menakjubkan itu. Akupun agak tertarik dengannya di awal-awal kami berteman. Tetapi aku mengurungkan niat itu karena aku tahu dia stright.<br />
<br />
“ ‘Kay, dude!” aku mencoba tersenyum simpul ke arahnya, tetapi ketika aku meihat pantulan diriku di kaca yang ada di belakang tubuh Edmund, aku malah melihat senyuman masygul di sana. Pity.<br />
<br />
Tuhan! Aku kangen kedua sahabatku! Aku kangen Dadku! Aku kangen my bitch enemy, Mark! Semuanya! Aku kangen dengan semua yang ada di New York. Suhunya. Makanannya. Manusia-manusia yang berlalu-lalang dengan sibuk. Aroma asap dan wangi makanan yang bertebaran di jalanan. Pokoknya, I miss all of them!<br />
<br />
Seseorang yang duduk disebelahku tiba-tiba mencolek-colek-ku. Padahal aku baru saja bisa menikmati musik yang mengalun rindang di earphone-ku. Aku membuka mataku dan melepaskan earphone dari telingaku. “Ya?” tanyaku ke laki-laki yang raut wajahnya mungkin akan memasuki umur ketiga puluh tahunnya tahun ini.<br />
<br />
“Pesawatnya sudah datang mas,” beritahunya kepadaku. Nada suaranya yang berlogat—kalau tidak salah—jawa itu hampir membuatku tertawa.<br />
<br />
“Oke. Thanks!” ujarku seadanya sambil tersenyum kecil.<br />
<br />
Aku langsung berdiri dan menyeret kedua koperku. Seorang pramugari menolongku menaruh kedua koperku ketika aku sudah berada di dalam pesawat Garuda Indonesia yang menurutku pesawat ini sangat tacky. Tidak seperti pesawat-pesawat yang kunaiki sebelumnya. Tetapi hanya pesawat inilah yang akan membawaku ke Indonesia. Jadi aku tidak boleh mengeluh.<br />
<br />
Kuhempaskan bokongku ketika sudah berada di kursiku. Untung saja aku duduk disamping jendela. Lagipula aku di VIP class, jadi tak ada siapapun yang duduk disebelahku. Aku yakin Dad pasti menghabiskan uang banyak untuk semua biaya keberangkatanku ini. Ya, as long as my Dad can do everything to me, why I have to deny it.<br />
<br />
Baru saja aku ingin memanggil pramugari karena kursi yang kududuki tidak bisa dimundurkan, agar aku bisa menjolorkan kakiku. Tiba-tiba tanda mengenakan sabuk pengaman sudah menyala. Aku menaikan kedua alisku tinggi-tinggi akan hal ini. Kupikir pesawat ini baru akan berangkat sepuluh atau lima belas menit lagi. Tetapi ternyata tidak. Aku buru-buru memasang sabuk pengamanku dan pesawatpun akhirnya mengudara.<br />
<br />
Selama pesawat lepas landas, aku memejamkan mataku. Aku memang sangat takut ketika pesawat akan mengudara. Sensasinya itu loh yang membuatku sangat membenci hal itu. Aku pasti akan memegang sisi kursi kuat-kuat karena aku takut kalau tiba-tiba nanti aku terjengkal ke belakang dan mempermalukan diriku sendiri. Padahal sebenarnya itu tidak mungkin karena aku mengenakan sabuk pengaman.<br />
<br />
Aku memejamkan mataku selama—kalau aku tidak salah menghitung—lima belas menit-tan. Dan ketika aku membuka mataku, suara yang berasal dari speaker yang berada di atas kepalaku terdengar. Isinya untuk memperintahkan kepada semua penumpang untuk duduk dengan manis dan kembali mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan mendarat.<br />
<br />
SHIT! Padahal aku baru saja membuka mataku dan ingin membuka sabuk pengaman untuk menikmati in-flight-meal-ku. Aku mengerang dalam hati. Ini adalah penerbangan paling singkat yang pernah terjadi di hidupku. Bukan singkat lagi. Tetapi, SHORTEST!<br />
<br />
Aku melirik keluar jendela. Melihat titik lampu yang berada di kejauhan yang kini makin mendekat. Baiklah! Now I’m coming Indonesia. Jangan sebut namaku Sid Kovlean kalau aku tidak betah tinggal di Indonesia! Memang seberapa buruk sih Indonesia itu? No, nothing bad in here! Although I’m really doubt about it.<br />
<br />
Ketika pesawat sudah benar-benar mengijakan rodanya di daratan dan pramugari sudah mengeluarkan koperku dari bagasi. Barulah aku melepaskan sabuk pengamanku. Aku meraih kedua koperku dan berjalan cepat menyusuri lorong kabin yang panjang dan sedikit agak temaram. Untung saja banyak orang yang berada di lorong kabin seram ini. Oke, aku mengaku sekarang. Aku benci gelap. Karena semua hal buruk terjadi pada saat gelap,<br />
<br />
Cahaya terang benderang langsung menerpa mataku. Finally! Aku langsung kembali melangkahkan kakiku cepat. Sambil mendorong dua koperku dengan kedua tanganku. Aku langsung menaruh kedua koperku di baggage claim lalu aku menyusurinya dan menunggu di sela-sela lansia yang sedang bertengkar tentang warna tas yang mereka bawa tadi. Yang satu sangat yakin kalau tas yang mereka bawa warna hijau. Yang satu lagi yakin kalau yang mereka bawa itu warna biru. Gawd! Apakah kalau aku tua nanti aku juga bakalan seperti kedua lansia ini. I hope not!<br />
<br />
Setelah aku menunggu tujuh menit, akhirnya kedua koperku datang juga. Dan, hanya untuk pemberitahuan, ternyata tas yang didebatkan oleh kedua lansia tadi bukan biru atau hijau. Melainkan merah muda. Or pink. Sekuat mungkin aku menahan diriku untuk tidak mengakak keras di hadapan kedua lansia pity itu.<br />
<br />
Saat aku sudah keluar dari pintu penerbangan Internasional, pertama kali yang kulakukan adalah mencari Momku. Aku yakin rupa Momku masih seperti empat tahun yang lalu. Iya, kan? Tidak mungkin dia operasi atau semacamnya. Hanya saja aku tidak kunjung jua menemukan sosok Momku yang jelita. Damn, where is she?<br />
<br />
Aku berjalan menuju ke kursi tempat orang-orang menunggu. Aku melihat banyak orang yang menaikan semua papan nama di atas kepala mereka. Hanya saja tak satupun dari mereka ada yang menulis namaku. Walau yang aku tahu itu memang mustahil. Karena kata Dad yang bakal menjemputku adalah Mom. Dan Mom hafal wajahku karena setiap hari dia memeriksa akun twitter dan facebook-ku. Padahal aku sendiri tidak tahu yang mana akun punya Momku.<br />
<br />
Kukeluarkan BlackBerry-ku dari dalam saku celanaku. Rencananya aku ingin menghubungi Momku. Aku mengganti profile flight mode ke general. Aku langsung mencari nama Momku di buku telpon yang ada di BlackBerry-ku. Namun baru saja aku ingin menekan tombol call, tiba-tiba BlackBerry bodohku menampilkan sesuatu di layarnya.<br />
<br />
Battery too low for radio use.<br />
<br />
Dan otomatis BlackBerry-ku menjadi off. Aku menggeram kesal. My shit day is today. Sungguh. Aku sudah benar-benar capek dan membutuhkan sosok Momku untuk datang sekarang juga dan membawaku pulang ke rumahnya. Yang menjadi rumahku juga saat ini. Kubanting pelan BlackBerry-ku di atas pahaku. Lalu kumasukan kembali ke saku celanaku.<br />
<br />
Jadi cara satu-satunya adalah memandang berkeliling untuk mencari sosok Mom. Kalau aku mau ke… apa ya namanya? Oh, iya, wortel… eh, wartel, ya? Iya deh itu. Pokoknya ada tel-tel-nya. Aku tidak mempunyai uang yang bernominal rupiah sekarang. Dan di bandara—aku melirik sekilas ke atas kepalaku untuk melihat papan nama bandara apakah ini—Soekarno-Hatta ternyata, tidak ada satu stand-pun yang membuka usaha money changer.<br />
<br />
Aku memicingkan mataku untuk lebih teliti mencari sosok Momku. Namun mata genitku malah menangkap sesosok cowok tampan dengan rambut spike sedang mengangkat nama i-don’t-know-who tinggi-tinggi. Raut wajahnya yang serius sangat membuatku terpesona. Matanya yang bergulir ke sana kemari untuk mencari sosok yang dia cari malah membuat dia makin cute like a baby. Aku terkikik kecil melihat tingkahnya. Padahal dari tingkahnya itu tidak ada yang lucu sama sekali.<br />
<br />
Oh, iya! Apakah aku sudah memberitahu kalau aku ini Gay. Atau Homo. Atau bahasa gaul di Indonesia yaitu maho. Well, I knew that word from Donny. Salah satu teman Skype-ku yang berasal dari Solo. Ya, dia mengajariku beberapa kata Indonesia yang gahol. Seperti, cius yang berarti serius. Atau miapa yang berarti demi apa. Pokoknya banyak. Dan semua kata-kata itu sangat norak. But creative and funny.<br />
<br />
Aku masih menatap cowok tampan itu dengan tatapan terpana. Well, he so sexy and tall. Membuat libidoku naik. LOL. Haha. Di sisi lain, wajahnya mengingatkanku dengan seseorang. Yaitu Dad. Bukan berarti aku naksir Dadku. Yikes! I will never like my own Dad. That gross and disgusting. Cowok itu pokoknya sangat mirip dengan Dadku. Tetapi cowok itu lebih sexy and cool than my Dad. Sorry Dad!<br />
<br />
Untuk informasi lagi, Dadku tahu aku Gay. Ya, aku akan menceritakannya.<br />
<br />
Hari itu Dad baru saja pulang dari kantornya. Dia menonton acara berita di TV yang menyiarkan berita tentang telah dilegalkannya gay marriage di United States. Aku berjalan pelan ke arah Dadku. Ketika aku sudah berdiri di sampingnya, aku langsung duduk disebelahnya dan pura-pura ikut menonton acara berita yang ada di TV itu.<br />
<br />
“Nonton apa Dad?” tanyaku agak bodoh. Padahal aku sudah baca title berita yang sedang disiarkan itu. Tetapi, tahukan yang namanya basa-basi.<br />
<br />
“News,” ujar Dadku sambil dia menyeruput kopinya. “Sudah belajar?”<br />
<br />
Aku hanya mengangguk. “Dad, gimana kalau aku kayak orang yang ada di TV itu? Menikah sesama jenis, atau gay,” aku tidak berani sama sekali melirik Dadku.<br />
<br />
“No problem,” tutur Dadku singkat.<br />
<br />
“Really?” kataku agak terkejut. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke Dadku.<br />
<br />
Dad menatapku dengan mata disipitkan. “Ya,” ujar Dadku dengan nada yakinnya. “Dad lebih senang punya anak gay daripada pencuri. Atau pemakai narkoba. Atau pembuat malu orang tua.” Dadku masih saja menatapku dengan mata disipitkan. “Are you gay?” tanya Dadku akhirnya. Well, aku memang sudah menunggu-nunggu Dad akan bertanya hal itu. Toh, aku yakin Dad tidak akan marah-kan jika aku mengaku gay.<br />
<br />
Untuk beberapa detik—atau beberapa jam yang mencekik—atau malah beberapa hari yang cerah—aku hanya menatap ujung gelas kopi Dadku. Dengan keputusan bulat yang aku memang sudah sepakati dengan diriku sendiri, akhirnya aku menjawab pertanyaan Dadku; “Ya, Dad.” Wajahku memerah dan takut untuk melihat Dadku yang agak sedikit menegang disebelahku. Puh-lease gawd! Don’t make him anger to me!<br />
<br />
“Hmmm…” aku mendengar Dad bergumam disebelahku. “So, do you have a boyfriend now?” tanya Dadku, membuatku terperanjat.<br />
<br />
Aku menoleh cepat ke arahnya dan melihat dia tersenyum lebar ke arahku sambil dia menaikan kedua alisnya tinggi-tinggi. Seakan-akan dia sedang menggodaku. Thanks gowd! “Well,” kataku agak malu-malu “yes!”<br />
<br />
Dad memekik kecil disebelahku seperti para cheerleader di sekolahku saat mereka tahu kalau mereka memenangkan perlombaan cheer. “Bring him to me tomorrow!” seru Dadku antusias.<br />
<br />
Ya, saat aku memberitahu Dadku kalau aku adalah gay, aku memang punya pacar saat itu. Tetapi ketika besoknya aku ingin mengajak my boyfriend ketemu Dadku, kami malah putus. Tahu kenapa! Because, when we wanna doing oral sex, dia mengeluarkan adiknya dari celananya dan bentuk adiknya itu sangat bigger. Baru saja adiknya itu di dalam mulutku, aku langsung mual dan ingin muntah. Lalu aku menolak untuk melakukan oral sex dengannya. Dan, ya, terjadilah insiden break up. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk tidak mau mempunyai boyfriend yang adiknya sangat besar. Lagipula kalau adiknya menebus my butt, bisa-bisa rongga my sweet anusku jadi melebar. Gowd! No way!<br />
<br />
“Jadi, Sid sudah putus sama pacarnya?” tanya Dadku tak percaya ketika aku memberitahunya kalau pacarku tidak akan datang karena kami sudah putus.<br />
<br />
Aku hanya mengangguk.<br />
<br />
“What happen?” suara Dadku meminta penjelasan.<br />
<br />
“B’cause something Dad,” aku memberitahunya malas. “Dan Dad juga tidak mau mendengar penjelasan intinya. Mengerikan pokoknya Dad.”<br />
<br />
Dadku kembali menggunakan kekuatan mata disipitkannya itu. “Do you want I tell you about sex education?” tanya Dadku tiba-tiba. Wajahnya agak memerah karena malu.<br />
<br />
Sama halnya sepertiku. Aku juga terperanjat dan wajahku langsung memerah. Siapa sih yang tidak canggung berbicara tentang sex dengan orang tuanya. Topik seperti ini adalah topik sensitif. “No, Dad!” seruku. ”No need to tell me about it, kay!”<br />
<br />
“Yes, I think so too.” Dadku mengambil tas kerjanya dan menatapku agak tajam. “Dad hanya ingin memberitahumu kalau kamu punya pacar, cobalah untuk serius. Ok!”<br />
<br />
Kayak Dad mengerti situasiku saja. “Ok!” sambutku asal. Kayak aku akan mendengarkan perintahnya saja. Punya banyak pacar dan pacaran sebentar saja itu bisa meningkatkan pengalaman yang sangat indah. Lagipula, aku bisa melihat banyak bentuk adik yang unik-unik. Uhhh… But, still, pokoknya aku harus serius dan setia kalau sudah punya someone special in my heart.<br />
<br />
“SIDDDDDD!” lamunanku langsung buyar ketika aku mendengar teriakan nyaring dari seorang wanita yang berjarak delapan meter dari tempatku duduk. Wajahnya yang dihiasi make up tipis tersenyum lebar ke arahku. Setelah empat tahun tidak ketemu Momku, ternyata dia memang sudah berubah sekarang. Badannya lebih langsing. Cara jalannya lebih girly. Wajahnya lebih jelita dan senyumannya tidak sesedih dulu lagi.<br />
<br />
Aku berdiri ketika Momku sudah hampir didepanku. “Halo, Mom!” sapaku pelan sambil tersenyum. Tetapi bukannya membalas sapaanku, Momku malah langsung menarik-ku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat. Seperti pelukan Kim. Tetapi ini lebih erat daripada Kim. Oh, ya, aku kangen wangi bunga poppy yang menyeruak dari tubuh Mom. Dengan sama eratnya, aku membalas pelukan Momku.<br />
<br />
“Mom kangen banget sama kamu!” serunya dengan suara tercekat. “Mom happy banget tau nggak pas kamu mutusin untuk pindah kesini,” Momku kini melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang mau minta dibelikan permen.<br />
<br />
Aku hanya tertawa pelan dan mengelus pundak Momku. Dia akhirnya melepaskan pelukan dan menatap wajahku selama hampir satu menit penuh. Tangannya yang lentik dan kecil mengelus-ngelus wajahku. Matanya yang hitam seperti mataku menatapku lekat-lekat dengan tatapan memuja. Well, aku sebenarnya tahu kalau Momku sampai sekarang masih sangat mencintai Dad. Aku hanya menebaknya sih. Tetapi aku yakin memang seperti itu perasaan Mom terhadap Dad. Wajahku yang hampir mirip dengan Dad membuat rasa kangennya terhadap Dad menjadi sedikit agak berkurang. I’m guess it anymore.<br />
<br />
“Ayo, pulang!” seru Momku sambil menarik kedua koperku. Aku hanya mengikutinya saja dari belakang. Ketika aku sudah berada di arena parking, aku akhirnya baru bisa menghirup udara asam negri Indonesia ini.<br />
<br />
***<br />
<br />
“Gimana selama perjalanan, dek?” tanya Momku ketika kami berada di mobil Mazda 2 merah mencolok Momku. Oh, iya, Momku memberikan nickname kepadaku yaitu dengan sebutan dedek atau dek. Ketika aku mendengar Momku mengucapkan nickname-ku itu, rasa kangenku menyeruak kembali ke udara di rongga paru-paruku.<br />
<br />
“Nothing special, Mom,” ujarku apa adanya. “Banyak pesawat yang di delay.”<br />
<br />
Momku tertawa merdu. “Tentulah di delay. Dari rambut Mom lurus sampe sudah bisa jadi keriting kayak gini, pesawat itu wajib di delay.” Momku kembali tertawa yang tak perlu.<br />
<br />
Aku tidak mengubris perrkataan atau candaan Momku. Lagipula aku sedang konsen untuk melihat suasana kota Jakarta yang aneh. Banyak gedung tinggi yang bentuknya sangat janggal. Terus mereka saling berdempetan lagi. Bukan berarti di New York tidak. Tetapi gedung-gedung tinggi itu terlalu over berdekatannya. Jika di New York, kalau ada gedung yang saling berdempetan, dia akan digusur. Seperti gedung New York Times dan Starlight.<br />
<br />
Terus aku masih melihat ada kendaraan aneh dengan roda tiga yang berada di pinggir jalan. Apa ya namanya. Oh, iya. Bajaj. Damn. Kupikir kendaraan itu akhirnya sudah punah. Tetapi sampai sekarang bajaj masih ada dan bertahan lama juga.<br />
<br />
“Oh, iya,” kata Momku membuka percakapan kembali “Besok dedek langsung masuk sekolah loh.”<br />
<br />
Aku agak terkejut mendengar hal ini. “Oh, ya?” nada suaraku yang kaget memang tidak bisa disembunyikan. “Bukannya masih ada waktu dua bulan lagi untuk masuk semester awal high school ya?”<br />
<br />
Momku mengernyit kecil. “Kayaknya nggak deh. Kan sekolah sudah dimulai semenjak dua bulan yang lalu.”<br />
<br />
WHAT!! DON’T SILLY ME!!<br />
<br />
“Kok bisa sih Mom?” tanyaku heran.<br />
<br />
“Lah, kan memang begitu dek. Setiap bulan juni, juli atau agustus sekolah sudah mulai masuk,” ujar Momku menjelaskan.<br />
<br />
“Tapi sekarangkan masih summer. Jadi, bukannya sekarang lagi holiday?”<br />
<br />
Momku malah ketawa ketika mendengar pertanyaanku. “Astaga! Mom lupa kalau kamu ingetnya tahun ajaranmu di Amerika sono!” Momku lagi-lagi ketawa yang tidak perlu. “Di Indonesia dek, gak ada yang namanya liburan musim panas. Setiap hari disini adalah musim panas. Atau musim kemarau.”<br />
<br />
Jadi sekarang aku bakalan di cap sebagai new student. Oh, no! aku paling malas kalau di cap seperti itu. Nanti pasti di setiap lorong sekolah ataupun di sudut manapun yang ada di sekolah itu akan ada seorang pecundang yang akan menunjuk-nunjuk-ku dan berkata sambil berbisik: itu tuh yang murid baru! Grrrr… shit… shit… jerk!<br />
<br />
“Nama sekolah kamu Dominiquert International School” beritahu Momku.<br />
<br />
Ya, lagi-lagi juga aku kembali terkejut. Kupikir aku akan masuk sekolah yang bertaraf nasional. Dengan menggunakan baju berwarna putih-abu yang membosankan. Tetapi nyatanya aku kembali masuk ke sarang orang-orang yang pasti ada saja foreign-nya. Terus mengerikan dan sombong-sombong. Walaupun tidak bisa dipungkiri lagi aku juga adalah salah satu orang sombong yang pernah ada di Delwere junior high school New York.<br />
<br />
Baiklah, aku mengaku. Sebenarnya alasan aku pindah ke Indonesia karena reputasiku yang semakin jelek di sana. Itu karena tingkahku yang sombong dan suka mencekal. Dan aku tidak mau Dadku mengetahui tentang hal itu. Kenapa? Tentu saja seperti yang pernah dia katakan padaku: “Lebih baik aku punya anak gay daripada pencuri. Atau pemakai narkoba. Atau PEMBUAT MALU ORANG TUA.” Yep, aku gay dan bakalan akan membuat malu orang tuaku jika aku tetap diam di New York. Gawd! Aku tidak mau membuat Dadku kecewa. Maka daripada itu lebih baik aku pergi dan tinggal dengan Momku saja. Yang lebih simpel dan efisien.<br />
<br />
Momku juga sudah tahu kalau aku gay. Dan dia tidak mempermasalahkannya. Karena saudara kembar Mom, Uncle Haris, dia adalah seorang gay juga. Jadi, Momku tahu bagaimana perasaan seorang gay. Cailah. Hahaha!<br />
<br />
Dan Momku tidak membuat semacam peraturan tentang; kau harus menjaga kesombonganmu! Kau jangan making love dengan siapa saja yang menyukaimu! Kau jangan… bla… bla… bla… etc. Tidak. Momku hanya menerapkan beberapa kalimat koleris dan tegas kepadaku: “JADILAH DIRIMU SENDIRI DAN LAKUKAN APA YANG KAU SUKA. TETAPI INGAT! KAU HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN APA YANG KAU LAKUKAN!”<br />
<br />
Yeps, my Mom said like that to me when Dad called her to tell about my sex orientation.<br />
<br />
“Kok bukan high school biasa aja sih Mom?” tanyaku kemudian dengan nada memelas. Aku malas masuk ke sekolah yang seperti itu lagi. Entahlah. Aku hanya merasa malas saja dengan sekolah yang bertaraf Internasional. Gawd! Menjijikan. Ku-ulangi; men-ji-ji-kan!<br />
<br />
“Ijazah kamu itu bertaraf Internasional dek, jadi susah masukin kamu ke sekolah biasa-biasa aja. Cuma sekolah bertaraf Interasional aja yang bisa nampung ijazah kayak punyamu itu.” Momku kembali menjelaskan. “Lagipula sekolah yang kayak gitu lebih bagus loh.”<br />
<br />
Bagus dari mana! For kentut’s sake! Itu nggak bagus sama sekali. Banyak orang sombongnya. Dan aku paling nggak suka sama orang yang bisa lebih sombong dari pada aku. Gawd, being arrogant is my motto. “Ok. Whatev aja deh,” kataku malas.<br />
<br />
Ini dia! Ternyata tebakanku salah. Indonesia sepertinya tidak akan membuahkan hasil yang bagus untuk-ku sampai tiga tahun kedepan. Ditambah lagi, sepertinya Indonesia tidak akan menghasilkan hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidupku. Malah sekarang aku sudah optimis dan sangat yakin kalau aku bakalan punya banyak musuh disini. Damn it!!!!!!<br />
<br />
-Bersambung ke Chapter 2-<br />
<br />
NB: bagi yang nunggu cerita Dev, sabar ya. Blm rampung soalnya ceritanya.<br />
buat yang baru ikutan baca tulisan aku, baca juga 12 Hours dan 7200 Minutes ya. <img src="/plugins/Emotify/design/images/3.gif" width="" height="" alt=";)" title=";)" /> Thanks]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>_TAKDIRQ MENJEMPUT KEPAHITAN BUKAN KEBAHAGIAAN_</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740785/_takdirq-menjemput-kepahitan-bukan-kebahagiaan_</link>
      <pubDate>Wed, 15 May 2013 15:08:01 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>GroBaniTes</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740785@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[_Kendal,15 Mei'13_@21.35<br />
<br />
Hingga malam ini,sudah hampir dua bulan_<br />
sejak aq tau kebenaran itu_<br />
kebenaran klo dia telah menduakan,membohongi,membodohi dn menghianati_<br />
kepercayaanQ dn cintaQ......<br />
rasanya masih sama_msih teramat sakit dn perih.<br />
dia laki_laki yg teramat aQ cintai.<br />
dia laki_laki yg pertama aQ titipin hati.<br />
dn dia adlh laki_laki yg berhasil mengambil smua cinta dlm diriQ_melebihi apapun dlm hidupQ<br />
lebay memang_tp itulah yg terjdi_<br />
kl kata org cintai itu tk pakai logika_<br />
ya memang_krn itulah yg berlaku diaQ.<br />
dalam mencintainya.....<br />
<br />
_PERKENALANQ_<br />
<br />
Dalam penantianQ dn PencarianQ_<br />
sosok laki"yg akan aq jdikan teman hidup_<br />
dn berbagi_sungguh melalui proses yg teramat panjang_30thn.<br />
rentang waktu itu sungguhlah amat panjang bagi kebanyakan gay dlm mencari dn menentukan pasanganya.<br />
ya selama itu pula_aq menunggu_dn menunggu.<br />
hingga,pada bulan september 2011 aq melihatny.<br />
sosok laki_laki yg kelak,akan banyak mengukir kenangan"manis,skaligus pahit dihidup aq kedepan.<br />
namany Dika_gay asal kota Parahiyangan Bandung.<br />
aQ melihatnya diwall fb salah satu gay disemarang,sebutlah Aji_yg saat itu menjadi Couple dia.<br />
Aji memposting foto kebersamaany dialbum foto FB_nya.<br />
waktu itu pertama kali Aji mempost kedatangan Dika yg pertama kesemarang dlm album_<br />
LAWANG SEWU.<br />
ketika aQ melihatny_ntah ada perasaan aneh dn yakin_kl Dika suatu saat akn menjadi ssorg yg bgitu deket berdiri disampingku_<br />
sbuah firasat dn keteguhan yg bgtu saja datang tertanam dihatiku_<br />
ntah .....perasaan apa ini.aQ jg tk tau.<br />
senyumny sungguh menawanQ_<br />
pesonanya teramat memikatQ_<br />
dn tatapanya serasa memanggil cintaQ u/menjemputny....<br />
gila memang_tp itulah yg terjdi.<br />
dn kelak smua akan menjdi sbuah kisah nyata.<br />
bener"riil _dika dn aQ _akan menjadi sepasang couple yg bgtu deket,intim dn mengikat komitmen yg sngat indah.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>P R O M I S E ?</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740549/p-r-o-m-i-s-e</link>
      <pubDate>Thu, 25 Apr 2013 04:39:08 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>bengkulustory</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740549@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Part 1<br />
<br />
Pagi itu Begitu cerah, suasana Pagi di sebuah kota Besar terasa sangat bising ketika pagi seakan tak memberi kesempatan bagi alam untuk memberikan udaranya yang segar karena di tutupi semua asap kendaraan pengendara.<br />
<br />
di pinggiran kota, tepatnya di perumahan yang sedikit kumuh, terlihat sebuah rumah yang sangat kotor.<br />
Rumah yang di tempati oleh seorang remaja laki-laki yang tepat hari ini berumur 23 tahun, ia telah menjadi yatim piatu semenjak SMP, dan sejak saat itu ia berjuang untuk hidup nya terutama pendidikannya hingga ia berhasil mendapatkan gelar S1.<br />
Nama nya Ferry hari ini menjadi hari yang special untuk nya, karena selain hari ini adalah hari ulang tahunnya, hari ini juga adalah hari dimana ia..........&gt;&gt;&gt;&gt;<br />
<br />
<br />
''Terlambat !!!<br />
Ferry dengan segera melepaskan baju tidur nya dan menuju ke kamar mandi nya.<br />
hari ini adalah hari dimana Ferry mengikuti interview di sebuah perusahaan di pusat kota,.<br />
<br />
Tak lama berselang, Ferry keluar dari kamar mandi nya dengan masih menggunakan handuk, ia terlihat pusing karena baju kemeja yang ingin ia kenakan tak terlihat.<br />
<br />
suasana kamar yang berantakan dan kumuh menambah panas udara di kamar itu.<br />
<br />
''Baju,baju,baju kemana kamu, jangan hilang sekarang, please'' sembari berceloteh Ferry terus berusaha mencari baju kemeja nya di balik tumpukan-tumpukan baju-baju lainnya.<br />
<br />
Sementara itu di tempat dan suasana berbeda,,,<br />
<br />
''Ma, baju kemeja papa mana ?<br />
<br />
Terlihat kesibukan terjadi di rumah mewah itu, Semua pembantu yang berada di rumah itu juga sedang sibuk mempersiapkan semua keperluan majikan mereka di rumah itu.<br />
<br />
''Pa,jangan lupa nanti jemput Via di sekolah ya''<br />
Tio menganggukan kepala nya menegaskan bahwa ia menyetujui untuk menjemput anak semata wayang nya itu di sekolah.<br />
<br />
Tio menju mobil nya yang sudah terparkir di halaman rumah nya.<br />
<br />
Nama nya Tio Nugraha, Ia adalah direktur yang baru saja di angkat di perusahan milik ayah nya di karenakan ayah nya yang semakin tua.<br />
usia nya baru menginjak 25 tahun tak menghentikan langkah nya untuk berkarier di perusahaan.<br />
ia banyak di gemari oleh karyawati di perushaaan nya, selain muda,intelektual,dan arif dalam memimpin perusahaan, ia juga memiliki wajah yang tampan, namun bagi nya hanya ada 3 wanita yang mampu mengisi hati nya,Ibu,istri dan si kecil 7 tahun''Via''.<br />
<br />
sementara itu di rumah Ferry <img src="/plugins/Emotify/design/images/2.gif" width="" height="" alt=":(" title=":(" /><br />
<br />
''Huaaaaaaaaaa, akhirnya baju ini ketemu juga'' Feery dengan sigap mengenakan baju itu dan mulai berdiri di depan kaca, terlihat wajah nya yang tampan.<br />
feery di anugrahi wajah yang tampan,bersih serta bibir yang sangat merah.<br />
<br />
''Ayo ferry,tunjukan ketampananmu pada gadis-gadis di sana, serta pada wanita yang akan meinterview mu'' Feery menujuk ke arah cermin itu. Namun tak berapa lama ia kembali tersadar ketika melihat jam dinding di atas cermin itu.<br />
<br />
''Terlambatt'' !!!<br />
<br />
Ferry mulai memacu sepeda motor butut nya menuju  perusahaan itu yang berjarak cukup jauh dari pemukimannya.<br />
<br />
tak lama berselang,<br />
<br />
Mobil Tio terlihat mulai memasuki area parkir.<br />
<br />
''selamat pagi pak tio'' sapaan itulah yang selalu ia dengan selama perjalanan menuju ruangannya.<br />
Tio hanya membalas dengan senyum manis nya.<br />
<br />
sementara itu di pos satpam.<br />
Kring,kring,kring<br />
''selamat pagi dengan securty pintu utama''<br />
''Ini Dony pak dari personalia, saya mau tahu apakah anak yang ingin di interview itu sudah datang''<br />
satapam mulai menjawab dengan sedikit trebata-bata ''belum pak dony''<br />
dony segera menutup telp nya dan mengucapkan terimakasih atas informasi yang di berikan oleh satpam itu.<br />
<br />
''permisi pak, saya ada interview hari ini'' Ferry mengjutkan dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba<br />
satpam itu mulai melotot kek arah Ferry seakan ingin memakannya ''wah,ternyata kamu  yang di tanya sama pak Dony, baru interview saja sudah terlambat''<br />
satpam itu segera mengantar Ferry menuju ruang tunggu.<br />
<br />
sepanjang perjalanan menuju ruangan Dony, Ferry mulai bertanya-tanya dalam hati nya.<br />
''pak? Berarti yang menginterview aku adalah cowok, hadehhh coba aja cewek'' Ferru memukul kepalanya.<br />
<br />
<br />
sementara itu di ruangan Direktur, Tio sedang sibuk menandatangani semua laporan dengan di temani sekretarisnya.<br />
''pak tio sebentar lagi ada rapat mengenai invansi ke jepang pak dan penujukan karyawan yang akan pergi ke jepang''<br />
<br />
Tio hanya menganggu dan memberikan senyumnya.<br />
<br />
''permisi pak Dony, Ini anak yang ada jadwal interview dengan bapak''<br />
satpam itu dengan segera pergi Dari ruangan itu, meninggalkan Dony dan ferry yang hanya menundukan kepalanya.<br />
<br />
<br />
''Ferry irawan, nama yang bagus, saya lihat nilai-nilai kamu juga standard,umur kamu juga tak terlalu jauh dengan saya. (Dony yang berusia 24 tahun) ''saya mau tahu apa tujuan kamu masuk perusahaan ini ?''<br />
<br />
Ferry mulai menjawab dengan terbata-bata.<br />
''sa,sa,saya'' ferry mulai kebingungan dan mulai menatap ke semua arah.<br />
Dony mulai mendekatkan wajah nya ke arah Ferry ''saya mau jawaban yang jelas''<br />
ferry semakin menundukan kepalanya.<br />
<br />
setengah jam dan tak mendapatkan jawabannya, Dony mulai terlihat kesal ''kamu benar-benar tak ingin menjawab pertanyaan saya ?<br />
ferry menghela nafas nya.<br />
<br />
Dony meletakan berkas milik feery '' baiklah, terimakasih atas kehadirannya seperti nya kamu tidak co''<br />
ferry menyela perkataan dony.<br />
''meski nilai saya standard, tapi saya rasa saya memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain, dan meski saya tidak sepintar yang lain, tapi saya akan berusaha keras untuk perushaan ini, saya rasa itu saja pak''<br />
<br />
tak lama setelah itu Ferry mulai keluar dari ruangan Dony, dengan wajah yang kusut, ia menuju lift.<br />
<br />
''lantai berapa ?<br />
''satu?<br />
''aku ingin ke lantai 41, aku duluan ya''<br />
''terserah''<br />
<br />
ferry tak memperhatikan orang yang mengajaknya berbicara yang berda di sebelahnya.<br />
pintu lift mulai tertutup<br />
<br />
ferry mulai berbicara dalam hati kecilnya ''ferryyyyyyy kamu memang bodoh, bodoh,bodoh, lepas sudah pekerjaan mu di perusahaan besar ini, hancur sudah karier mu.<br />
<br />
ferry menggelengkan kepalanya seakan-akan benar kesal atas kelakuannnya sendiri.<br />
<br />
tak lama berselang, handphone Tio berdering.<br />
<br />
''iya ma, sehabis rapat, papa akan jemput via di sekolah''<br />
''papa juga sayang mama'' akhirnya istri tio menutuo telp nya dan tio kembali menunggu hingga tiba di lantai 41.<br />
<br />
Ferry mulai tersadar akan lamunannya.<br />
Ferry melirik ke arah handphone miliki Tio ''wah istri nya yah, senang nya masih muda sudah menikah, tungu,tunggu jangan-jangan Via itu anak nya yah'' Ferry tersenyum-senyum sendiri dan di balas senyuman oleh tio dan menatap ferry.<br />
<br />
''ha ha ha iya, yang telp tadi istri saya, dan yang akan saya jemput adalah istri saya, kamu sendiri ada urusan apa di sini ,sepertinya aku tidak pernah melihat kamu ?''<br />
ferry mulai terdiam dan tertunduk kembali ''aku sudah hancur, benar-benar bodoh'' ferry menghujani kepala nya sendiri dengan pukulan-pukulan kecil.<br />
<br />
Tio mulai menepuk pundak Ferry ''kamu kenapa dek'' apa kakak salah bertanya ?<br />
<br />
Ferry hanya menggelengkan kepalanya dan kembali tertunduk.<br />
<br />
sementara itu di ruangan personalia, Donny terlihat galau mengingat perkataan dari ferry<br />
''anak itu benar-benar membuat aku emosi pagi-pagi begini''<br />
Donny kembali melirik berkas milik ferry<br />
''tapi kamu punya semangat tinggi,AH !! benar-benar membuat aku bingung''<br />
<br />
pintu lift terbuka dan akhirnya Tio tiba di lantai yang ia inginkan<br />
''kakak permisi duluan, maaf jika kamu jadi ikut ke lantai atas, karena kakak mau ikut rapat pagi ini'' tio menundukan kepalanya dan meninggalkan ferry di dalam lift.<br />
<br />
''Langkah perushaan untuk kedepannya adalah melakukan invansi ke jepang, oleh karena itu kita akan mengirimkan tim untuk melakukan riset hal apa saja yang sedang di sukai oleh masyarakat jepang secara langsung''<br />
<br />
kita akan membuat cabang properti di sana, meski sulit untuk menembus pasar di sana tapisaya yakin dengan kerja keras, saya rasa kita bisa bertahan di sana'' Tio mengakhiri rapat nya kali ini.<br />
<br />
Tak lama Tio keluar dari ruang rapat dengan di ikuti staff-staff nya<br />
''pak untuk pembentukan tim minggu depan, apakah kita mengirim tenaga-tenaga handal kita, atau lulusan-lulusan terbaik dari semua universitas terbaik pak ?<br />
Tio hanya tersenyum manis, tak memberikan tanggapan sang sekretaris.<br />
<br />
saat menuju mobil nya untuk menjemput via, tio tertahan oleh kedatangan donny<br />
''permisi pak, aku hanya ingin memberitahukan bahwa 3 orang telah di terima pak, dan mereka bisa mulai bekerja lusa pak, apakah bapak bisa membuka rapat untuk pembekalan kepada mereka pak''<br />
tio kembali tersenyum ''Baik, saya akan hadir di ruang rapat lusa, terima kasih Donny, saya percaya orang-orang pilihan mu''<br />
<br />
Tio kembali masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan donny yang sedikit menundukan kepalanya.<br />
<br />
Sementara itu di rumah derita ferry... <img src="/plugins/Emotify/design/images/2.gif" width="" height="" alt=":(" title=":(" /><br />
<br />
ferry terlihat duduk di dan menunggu handphone nya yang ia letakan di atas meja yang tepat berada di depan muka nya<br />
<br />
''kenapa tak kunjung di kabari hingga sekarang, benar-benar tidak akan di panggil''<br />
ferry terus mengeluh dan menghela nafas nya<br />
<br />
<br />
ferry mulai menyerah dan mulai menuju ke tempat tidur<br />
namun saat ia mulai beranjak...<br />
<br />
handphone nya berdering,dengan sekejap ferry mengangkat nya<br />
''selamat sore, dengan saudara ferry irawan?<br />
ferry menjawab dengan penuh kegembiraan<br />
''iya, saya sendiri''<br />
namun raut wajah nya langsung berubah muram<br />
''hey kelinci yang tak bisa melompat, ini aku yang menginterview mu tadi, besok kamu sudah bisa masuk kerja, baiklah terimakasih dan selamat bergabung''<br />
<br />
ferry bingung akan perasaan nya (senang dan bingung).<br />
<br />
Bersambung,,,''''''<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Melody of War (Genre:Romance Fantasy)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740842/melody-of-war-genreromance-fantasy</link>
      <pubDate>Sun, 19 May 2013 18:15:31 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>yudhaArt</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740842@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Apa dunia akan terus terusik dengan dinginnya belati?<br />
Membawa kesedihan di bawah kolong langit<br />
Apakah ada orang yang peduli dengan merah diatas rerumputan?<br />
Membuat enggan setiap kaki tuk berpijak<br />
Hanya berlari dan terus melangkah<br />
Berharap tak seekor semutpun melihat<br />
Bahkan gurauan takkan lagi dapat menahan suara dentuman<br />
Dan suara perak dan baja terus berkelebat<br />
Memberi rasa hambar untuk setiap udara yang terhirup<br />
Adakah cahaya di kegelapan ini?<br />
Cahaya yang akan menyudahi makian dan amarah...<br />
Hanya menunggu hingga saatnya tiba...<br />
<br />
(Dilanjut di Part 1: A Piece of Peace)<br />
<br />
NB: Ini masih bagian pembukaan ^^<br />
jangan mengharap cerita diluar dunia fantasy ya? ataupun mengharap ini bakal jadi adegan percintaan antara sepasang PLU, ini bakal jadi cerita tentang peperangan dimana kumpulan remaja akan berusaha bangkit melawan nasib dan kekuasaan, dam disitulah hal yang dinamakan cinta akan muncul dengan mungkin dapat dikatakan agak rumit... ^^<br />
watch it out till the first chapter come...^^<br />
<br />
~Greetings from the Author~]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>the 'G' hotel</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740228/the-g-hotel</link>
      <pubDate>Tue, 19 Mar 2013 17:33:12 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>be_biant</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740228@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Nih dia, satu lagi cerita yang bakal menemin hari hari lo semua yang lagi suntuk, jadi berantakan gak karuan. haha ha...Suntik dikit, yah? biar gak sakit, lol...<br />
Hehe.. biar kagak ditunggu, ceritanya masih tetep di lanjut, cock!, oops.. (⊙o⊙)？<br />
<br />
ni, tangan ma pikiran gue udah rada gatel kepengen bikin gebrakan baru, cerita baru yang mohon ampuuuun,.. semua isi dan lirik dari cerita ini hanyalah fiktif belaka, tidak berniat menyinggung siapapun dan bukan pula kisah nyata pribadi gue. namanya, ngarang bebas, maklum pikiran gak tenang, gini deh efeknya..., ya.. ngisi waktu luang sambil nunggu gaji bulanan. Hohoho.. ; )<br />
<br />
Misalkan, ada kesamaan dari segi cerita, demi apapun, gue gak sengaja.. lucu lucuan aja, semua hanya lintasan kisah yang udah permanent diotak sebelah kiri gue, dan otak yang sebelah kanan udah parah cacatnya, sih.. belom operasi.<br />
<br />
NNNAAAHHH!!.... Jadi, udah baca judulnya kan? mudah mudahan bisa menarik perhatian Khalayak pemirsa semua pecinta karya tulis. Dari judulnya saja, bisa kalian tebak tema nya apa? yups.. tentang jenis jenis makanan dan masakan khas Nusantara! hehe bukan ding,.. It's all about hotel, of course.<br />
<br />
Dari Initial nama "G" disitu bukan nama hotel yang sebenarnya, gue ralat sekali lagi biar jelas, supaya gak ada yang berprasangka bla bla bla, bahwa "G" disitu kagak punya sangkut paut dengan inisial nama hotel, ya? Meski emang udah terlalu banyak nama nama hotel yang berawalan "G". namun bacaan sebenarnya yang dimaksud adalah The Gay's Hotel. Dan gak ada hubungannya juga sama "Cowok keripik jengkol"<br />
<br />
Haha.. Meskipun kalian pernah denger atau bahkan pernah baca, atau ngingetnya rada susah, dimanaa lo pernah ngerasa cerita itu Ada, lupain aja deh.. gak penting lagi dibahas, atau gini yee.. gue ulas dikit, kalo cowok keripik jengkol emang termasuk karya gue yang pertama dan satu satunya karya  yang ancur, ancur banged.. paling ancur sedunia, mana alurnya ribet Lagi!. perlu konsentrasi tinggi kalo mo mencernanya. Bagi yang gak nalar, berasa gak nyambung bacanya. apalagi bagi yang bacanya setengah setengah langsung protes, seakan dia sendiri yang bisa nebak ceritanya  hehe, cuape deee.. suka suka aja, namanya juga bukan penulis sungguhan. jadi, wajaaaaaaarr... kalo baca yang ni juga, bakal sama aja.. wkwkwk..<br />
<br />
Parahnua lagi, gue tambahin dikit!, sampe ada yang komentar jelek soal karya gue, kayak orang yang koment hehe tapi gak papa, yang beda tetep yang asik, koq. sekalian curhat nih.<br />
<br />
Ngerti banged kalo mereka berlomba sekedar mengkritik bahkan mencaci maki dan berusaha mengganti karya orang jadi semaunya alias jadi lebih baek, eheheh makaciii.. buat namanya yang gak bisa disebutin satu persatu. Emang banyak yang salah koq, tapi yang udah tersiar biarlah tersiar.. Maka itu, demi kembali menaikkan rating agar bisa kembali jadi sasaran paparazi, jadi gue ngebuat segebrak mungkin dan serba sensasional. padahal, karya yang ini bahkan lebih parah ancurnya.. wkwkwk.. #terpingkal pingkal ampe celana melorot.. eitzzz.. mumpung belom sempet dijepret ama fotographer dan disorot reporters gue buka sekalian ma celana dalemnya... #ciluuuuukkk bwaaaa...<br />
<br />
Cerita ini masih mengangkat serial drama coffeelate eh, complicated. Ribet, awut awutan, acak acakan, kiloan, literan, bijian??? Hehe.. biar gak kaget kalo bacanya bisa bikin gemes, pengen nyubit pengarangnya.. haha,.. ngarang lagi  Sorry, bagi yang gak tahan.. tinggal lambaikan tangan lalu pestanya bubarrrr ..  hehe  cuma ini yang bisa semaksimal gue bikin, biar yang baca juga bisa merasakan ekspresinya kalang kabut, marah marah, gerem, gemetar, menggigil, gila!!!<br />
<br />
Beda sama cerita cowok keripik jengkol, pokoknya beda deh,.  yang emang Disini planningnya bakal ngasih bumbu kaldu rada semi dikit, prono dikit ma nguji daya khayal kamu juga.. biar makin kenceng kocokannya... makin semangat delapan enam,yaaaaahhh.... Apaaa, coba?! ngocok telur maksudnya, sambil baca sambil ngidangin sarapan.. hehe.. menu enaknya pagi ini, mie rebus ma telor dadar. Kebayang gak? mm.. biasa aja kalee.. b(*¯︶¯*)d<br />
<br />
bisa dilanjut?? buat yang penasaran, tolong disimak ceritanya yah.. kalo gak ngerti,boleh nanya.. dan jangan lupa siapin juga keripiknya, buat cemilan. Asal jangan keripik jengkol deh, bau soalnya. Celananya juga, Jangan ampe basah.. soalnya, lagi musim ujan. Takutnya, pas dicuci malah gak kering, padahal besok.. celananya udah mo dipake lagi, kan? just Kidd, koq. gue tau persediaan celana lo kelewat banyak.. jadi Jangan ngembel yah... hihi.. egh jangan ngambek maksyudnyuuuaaa...<br />
<br />
Trus bagi komentnya yang wenak wenak, akan gue undang jadi pembaca pertama.. (ngancem secara halus) boleh, suka suka lo aja, mo ngomong apa? Ngomong jorok juga, its okay... okey cuy? walau kita udah kenal, yuuuk kenalan lagi.... Ha ha!<br />
<br />
Sok atuh, diantoooeess nyeeeaaaakkkk..<br />
<br />
Mohon perhatian, *ala operator bioskop* pintu theater 2 akan segera dibuka.. siapkan mata anda, bilamana terpejam.. tidur, namanya...<br />
<br />
Ni sekedar cuplikan, isi dan lirik bisa berubah dikit maupun drastis...<br />
<br />
***<br />
<br />
pernah kepikiran kah? kepingin jadi salah satu bagian dari perhotelan. Bukan orang yang kebagian saham, tapi bekerja dihotel berbintang seperti yang diharapkan seorang cowok bernama Noval. Tempat kerjanya digedung bertingkat, ber Ac, berfasilitas lengkap dan super wah. yang jelas, selalu sejuk, ramai akan pengunjung, para pekerjanya berpakaian rapih, professional, murah senyum, murah sapa, seakan menemukan kenyamanan disetiap sela tempatnya.! Kalo butuh apa apa, tinggal bilang aja, semua ada tarifnya.. nanya pun, kudu ada uang tipsnya!<br />
<br />
eeiiittt,... kata siapa? View keindahan yang selalu kalian liat dari luar, tentu tak seindah aslinya. Pakaian itu hanya sebatas penutup luka didalem. Mo ngerasain jadi si Noval??<br />
<br />
Nih si "Opel", begitu nama panggilannya. Seperti apa wujudnya? standard cowok idaman lah.. tubuhnya proposional. Berkulit putih, (semenjak kerja dihotel, katanya kulitnya makin berkilau). Jiaah, kilahnya aja. Tapi emang bener, kalo ngeliat dia gak dandanpun, udah keliatan banged aura keartisannya. Kepengen?? itu kan bawaan dari lahir, kalo kalian udah jelek.. ya, pede aja lagi!<br />
<br />
Dan yang namanya Opel ini, sama sekali gak bisa mengukur betapa bangga setengah mati seluruh anggota keluarganya di desa. Mulai dari si Emak, Abah, Dedek yang masih sekolah dasar kelas tiga.. Mereka bercerita ketetangga tetangga kalo si Opel berhasil kerja dihotel berbintang. Pamer, gitu. Padahal, Opel bukan anak orang kaya yang ngerti tentang bersosialisai didunia yang berkelas, ia bukan tamatan perhotelan, ia juga bukan backing an dari siapa kek, gak ada.. dia ngelamar kerjaan disegala bidang, cuma kalo diliat dari tampang.. jadi model, lumayan. dan kalo jadi bagian dari hotel, whay not tadinya.. gak Ada salahnya nyobain keberuntungan ini. ia seolah menang undian dari ribuan pelamar yang kalah telak keberuntungan darinya<br />
<br />
"Kalo elo mentingin diri lo sendiri, mending lo pulang sekarang dan gak usah balik kesini lagi. Inget, kalo lo resign.. masih ada ribuan berkas yang ngantri pengen masuk sini." Bentak Supervisornya dengan nada yang penuh percaya diri beserta dengki.<br />
<br />
Asli, Opel rada keki pas dicaci begitu. Sumpah, rasanya pengen berlari. Dikira kerja dihotel enak?? kerja rodi lebih dari delapan jam sehari, Serta gak ada uang weleh weleh ataupun uang walah walah.. sama aja, kesannya lebih diperlakukan kasar, lebih dari babu yang terhormat. Wow! funtastic...<br />
<br />
pas jam sepuluh malem lewat, Opel langsung melangkahkan kakinya ke loker. itupun, pake acara kabur. Percuma minta izin,paling disuruh setting lagi ruangan seluas lapangan bola itu, disulap jadi wedding party buat besok. Dianggap binatang, kali!<br />
<br />
"Hei, lo dewe udah berapa lama?" Tanya karyawan senior pada salah satu pegawai yang baru beberapa hari kerja. sok nya minta diterjang deh, gatel nih kaki..<br />
<br />
Si anak baru tak langsung menjawab malah di injek sama orang stres ini.<br />
<br />
"Kerja, dong. Baru jam segini udah istirahat.. lo bayangin bulan desember bentar lagi, BEO udah ngantri ampe selesai taon baru, ampe January juga, acara wedding masih waiting list. Gue yakin elo gak bakal lolos jadi karyawan kalo ternyata gini kerjaan lo tiap hari"<br />
<br />
enough! kesabaran Opel udah habis, emosinya pun reflek meninggkat drastis.<br />
<br />
"Apalagi sih, mau kalian?? Mereka capek! Duit yang dihasilin pekerja baru kayak kita mana bisa disamain kayak kalian yang kerjanya sok ngebos! Kita tuh masuk dari jam enam pagi. Ampe jam segini, nasib kita<br />
masih terlantar. Lu mah, enak. Enggak kerjapun, lo masih tetep gajian dua kali sebulan. tau gak? sebagian gaji yang lo makan tuh, banyakan hasil dari keringet kami para dewe. Gak usah belagu lo! masih beruntung, lo masuk sini lebih dulu.."<br />
<br />
"Baru tau lo, ya.. haha!" Ledeknya terang terangnya.<br />
<br />
Sumpah, mukanya bikin Opel eneg dan berang. "Buk!.." satu pukulan keras menghantam kemukanya.. Poin emas buat Opel #tepuk tangan... sementara tereakan si lawan ini malah mengundang semua orang masuk keruangan berukuran luas dan sunyi tadinya, mendadak ramai.<br />
<br />
"kenapa? ada apa disini???"<br />
<br />
kemudian muncullah salah satu MOD alias manager of duty yang bertugas malam itu. Damn! Opel langsung kena sanksi.<br />
<br />
***<br />
<br />
Sialnya,... lo musto nunggu ampe jengoedan...... Gue bersemedi duloe sambil cari cari inspirasi.. ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>▲ STUDENT BEDROOM ▲</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739181/student-bedroom</link>
      <pubDate>Sun, 30 Dec 2012 22:18:02 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>maximilian_s</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739181@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[▲
<hr />
▲
<hr />
▲
<hr />
▲
<hr />
▲
<hr />
▲
<hr />
<br />
<br />
Hello! It's Maximilian, Salam Kenal semuanya!!! hohoho<br />
Ini gay story pertama yang saya buat sekitar akhir 2010 kemarin, dulu udah pernah di post di forum sebelah, tapi sayangnya forumnya sempet ditutup jadi cerita ini juga ikut ngilang deh.<br />
Berhubung ini cerita panjang pertama yang saya buat jadi pasti masih jauh dari kata sempurna, jadi mohon saran, kritik dan commentnya yaaa... tapi kritiknya jangan pedes2 banget yaaa... hahaha<br />
<br />
Oh iya, kenapa saya memutuskan buat ngepublish cerita ini lagi, soalnya saya mau bikin lanjutannya... hehehe, tapi berhubung ceritanya keburu hilang jadi mungkin masih banyak yang kurang familiar sama cerita "Student Bedroom" ini, <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
Commentnya ditunggu ya, thankyou!!!<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>PPL</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16737056/ppl</link>
      <pubDate>Sat, 25 Aug 2012 15:20:47 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>mumura</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16737056@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[<br />
<br />
<br />
Liburan lebaran bentar lagi  usai berarti bakalan masuk kuliah lagi nehh hufftt ... kenalin nama gua iyat alamsyah semester akhir jurusan keguruan udahh tau donk kalo bau bau semester akhir pasti ada yang namanya PPL.. i cant imagine god..  gua bentar lagi bakalan menjadi seorang guru hahaha. Aslinya si gua gag begitu interest masuk keguruan tapi gemana lagi udah jalan takdir kali.<br />
<br />
“aduhh mana yahh nama gua koq gag ada di papan pengumuman”.  #gua melihat draft   nama gua di    papan dimana bakal aku di tempatin ntar.<br />
<br />
“guss guss loe dmn bro?” katak gua sambil mencolek si agus.<br />
<br />
“ ehh yat gua di sma tunas bangsa nih.. loe dimana?<br />
<br />
“belon lihat tuhh tolong liatin donk please.. gag keliatan tuh penuh banget.. #gua ngeliat berjubell manusia melihat nasib mereka di sebuahh papan pengumuman. Ehhh kayaknya gua kenal siapa dah di depan itu..<br />
<br />
“ hy cantik.. di tempatin dimana loe?..<br />
<br />
“idihh genitt gag sembuh sembuhh di SMA 1 nehh yat..<br />
<br />
“ohhh.. hmmm”<br />
<br />
<br />
“ ohh ya kayaknya loe di SMK tujuh lima dehh yat tadi gua liat nama loe.. selamat yahh di situ banyak kimcil kimcil.. nina njelasin sambil ketawa terkekeh<br />
<br />
<br />
“haissss mulutnya lucakk yahh kamyu...”<br />
<br />
<br />
“idihh amit amit dahh masihh aja alaynya..”<br />
<br />
<br />
“biarr alay tetep kece kann beibss...” gua ngedepin mata ke nina..<br />
<br />
<br />
“iyatt!!!!!”.. nina berteriak sambil memukul kepalaku<br />
<br />
<br />
“Hahaahha....   enak yahh jadi cewek kebagian di dalam kota.. lah gua?? Jauhh ntar kalo ke kampus jauhh banget.. kata gue sambil menghembuskan nafas<br />
<br />
<br />
“ teruss gue haruss bilang WOWWW!! Gt liat penderitaan loe?.. nina berlalu meninggalkan gue<br />
<br />
<br />
Huft dasar cewe!!!.... melihat pembagian penempatan antara gag rela dan rela tapii gemana lagi kita gag bisa nolak lagian juga udah di bagi ama fakultas gitu aja rempott...<br />
<br />
<br />
Setelahh seluruh administrasi di kumpulkan baik itu surat ijin dari jurusan dan membayar 200.000 akhirnya hari peperanganpun akan segera di mulai.. yaa mulai hari senen besok gua harus semangat apapun yang akan terjadi jangan sampai gua mati kutu di depan anak didik gua ntar kan gag lucu.<br />
Sore harinya setelah semua beres i decided to go to barber.. gilakk panas banget mamen!! bener bener fanasss sepanass hatiku yang galau gag berujung halahh malahh curhat..<br />
<br />
<br />
“ selamat sore mas.. sapa mba” penjaga salon<br />
<br />
<br />
“ya tau mba ini sore.. mau potong rambut mba masih lama gag?<br />
<br />
<br />
“hmmm masihh 5 menit lagi gmn mas??<br />
<br />
<br />
“ okelahh mba aku tunggu<br />
<br />
<br />
Untung adem neh salon coba kalo gag adem huhh ngab ngaban nehh kepala.. hahaha.. gua liat ke cermin ehh itu anak siapa yahh koq kayak artis korea mukanya imut imut gemana gitu, tapi keknya indo indo chinese gitu dahh jadi lucu keliatannya.. aisss gag bisa liat barang bagus aja nehh gua..<br />
<br />
“ mas silahkan duduk.. kata mas mas yang mau cukur<br />
<br />
<br />
“ mau model apa mas??<br />
<br />
<br />
“cepakin aja mass anuu buatt PPl jadi gag usah di macem macemin..<br />
<br />
<br />
<br />
“sippp<br />
<br />
<br />
<br />
Grrrr ngantuknyo sambil bobo aja dah daripada lama nungguin masnya motong mending tinggal bobo aja..<br />
<br />
<br />
Gag berasa akhirnya selesai juga potong rambutnya, agak sedikit shock juga sehh ngeliat rambut sekarang agak sedikit garang berasa mau daftar akpol beda banget ama penampilan gua yang dulu.. okee cusss akhirnya gua bayar ke kasir dan pulang ke rumah tante desy dulu karena gua di sini ngikut tante..<br />
<br />
<br />
#sesampainya di rumah<br />
<br />
<br />
<br />
“assalamualaikum tante..<br />
<br />
<br />
“waalaikum salam... ehh siapa yah??<br />
<br />
<br />
<br />
“ tanteee!! Ini iyattt masak lupa?? Astaga..<br />
<br />
<br />
“ ya ALLAH iyat... tante ampe pangling liat kamu cukur gundul, tante pikir siapa, cukur gitu donk jadi keliatan rapi mosok calon guru rambutnya awur awuran gitu.<br />
<br />
<br />
“iya tante siapa dulu.. iyattt<br />
<br />
<br />
“ehh yatt kamu di tempatin dimana sayang??<br />
<br />
“ iyat di smk tujuh lima tante..<br />
<br />
“hahh?? Seriusann?? Ya ALLAH dapet jakpot banget yahh kamu di situ.. hahaha... terdengar tante ketawa ngakak denger smk tujuh lima.<br />
<br />
<br />
Sebel sihh sebenarnya gag tante gag nina sama aja puas banget ngetawain aku sebenarnya ada apa sih di sma tujuh lima, maklum gua kan baru di kota ini jadi gag begitu tau seluk beluk smk di sini.<br />
<br />
<br />
<br />
#malam harinya..<br />
<br />
<br />
Okee fine ...  gua udahh siapin semua materi buat besok gua harus tampil wibawa di depan murid murid gua kalo gag gitu bakalan di remehin gua. Hoamssss ngantukk bobo dulu ahh moga aja besok bakalan menjadi hari spesial di hari pertamaku menjadi seorang guru bahasa inggris.<br />
<br />
i hope...<br />
<br />
<br />
<br />
~~~~~~~~~To be continued~~~~~~~<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>His Brown Eyes</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740865/his-brown-eyes</link>
      <pubDate>Wed, 22 May 2013 06:09:22 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>demensiated</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740865@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[hai all. i just want to share mine. gue mau bagi 1 cerita yg bkin gue ngegantung ( yg ngalamin gue jd cuma gue yg ngerasa ).. semoga ceritanya bagus.-Nyata
<hr />
<br />
Kamis, 16 mei 2013-<br />
<br />
Hari itu dimana gue harus latihan band sama 4 tmen gue, Dirga (guitar), Hilman(bass) Pico(keyboard) dan Randy(drum), sementara gue vokalis.<br />
<br />
sekitar 4 jam-an kita main sampe akhirnya jam nunjuk angka 3 sore.<br />
yang lain pulang kerumah masing masing sedangkan gue sama Dirga harus buru" ke Riung Bandung ( rumah Dirga ) soalnya gue tau jam setengah 4 pasti bkal ujan gede.<br />
kenapa gue gak pulang ke rumah gue? gak bisa, gede bage klo udah ujan pasti banjir apalagi gue harus lewat pasar dulu.<br />
<br />
Bener aja jam 4 ujan gede banget + angin gelebug. untungnya gue udah nyampe d rmah dirga setengah jam yg lalu.<br />
"dy, bntar ya gue bkinin coklat panas dulu " Dirga nyoba yakinin gue kalo dia punya coklat panas dan bener aja..<br />
" nih dy, coklat panasnya.. "<br />
"woi ga, apaan yg coklat panas?, bajigur panas iye!" ngarep gue<br />
"hihihi, sorry deh sorry gue cuma ada bajigur instant ini doang.. "<br />
"iya gpp kalem aja.. lagian ujan ujan gini enak juga minum bajigur.. apa lagi d tmenin aa tercinta wkwk " gue emg sering bercandain si Dirga kya gtu tp dia nanggepinnya biasa aja.<br />
<br />
Jujur Dirga itu orangnya baik bgt.. bnyk yg bilng muka dia mirip ricki harun.<br />
tp yg bkin gue tertarik sama dia adalah kebaikan dia dan matanya..<br />
God, klo udh natep gue daleeeemmm bgt.....<br />
matanya coklat terang.. wah pokoknya melting gue.<br />
Bajigur tinggal setengah lagi sementara gue sama Dirga asik ngomongin pacar.<br />
<br />
"oh ya ga, lo udah nemu cewe yg klop blom? " gue berharap dia jawab blom.<br />
"gak tau ah, capek gue. gk ada yg bkin greget gtu dy"<br />
" oh y udh nanti gue bantu car.. " omongan gue d potong.<br />
" gak gak, gk mau ah dy, lo gk ush nyariin gue cewe. cukup gue aja yg nunggu orang itu.."<br />
"siapa? si Ayu? ih lo mah mksa.. dia udh punya pacar bro.." ngotot gue. Ayu itu temen sekelas kita.<br />
"bukan tedy, bukan si ayu. adalah pokoknya.. orangnya baik, suka bercanda tp tomboy...<br />
"Hah? tomboy? bkannya wktu itu lo bilang gk suka yg tomboy?" gue yakin bgt dia boong.<br />
"itu dulu dy, semenjak temenan ama dia, gue yakin dia yg gue cari"<br />
patah hati gue denger gitu.., pupus sudah harapan gue.. y udh gue putus aja percakapan ini.<br />
" terserah deh, Eh ga, pinjem komputer ya, mau buka twitter..."<br />
"oh sok aja, gue mau tduran dulu. masih capek"<br />
<br />
komputer si Dirga itu posisinya dket sama kasur. selama gue internetan gue ngerasa ada yg ngeliatin gue. pasti Dirga<br />
siapa lagi coba? d rumah ini cuma ada gue ama dirga. orang tua dia kerja, kakaknya kerja d kaltim, makanya knp gue sering nemenin dia.<br />
"ehem, ada yg ngeliatin nih... "<br />
sindir gue sambil baca timeline<br />
"yee geer lo, siapa yg ngeliatin"<br />
"hehehe, loh kan gue gk blang lo yg ngeliatin hayoo"<br />
"ngeselin dasar, ted bntar ya mau ambil sesuatu"<br />
20 menitan ada kali ya gue penasaran kan, gue putuskan untuk sign out dri twitter gue.<br />
"ga, lo dmna sih..? lama amat gue pulang aja ya.." triak gue dri dalem kamar.<br />
"lah jgn pulang dulu... masih ujan. bntar lg gue ke kmar"<br />
"oh iya masih gerimis" gue nongol dari jendela kamar dirga.<br />
"ga, pinjem speaker ya, mau nyetel lagu..."<br />
Intro musik Destiny child-Brown eyes terdengar mengalun d kamar ini.<br />
tiba-tiba dirga dateng bwa balok huruf tulisan " dety ". sementara gue lgsung beranjak dari rnjang.<br />
"itu apaan ga? dety siapa? " tanya gue<br />
"dety itu nama orang yg gue suka"<br />
jleb, gue lgsg down bgt denger gtu... buat apa coba dia nunjukin nama itu?<br />
"oh. kirain apa. udah ah gue.."<br />
tiba tiba tangan  kiri dia megang tangan kiri gue untuk nahan gue pergi.<br />
"apaan sih? gue mau pulang ah..."<br />
"lo cemburu?"<br />
"cemburu? gila lo!" terpaksa deh gue boong.<br />
"klo hurufnya gue susun gini...lo msh cemburu?"<br />
duarr shock bgt gue kya kena bom. dia nyusun huruf itu jadi tulisan tedy.<br />
"apaan nih?"<br />
dia lgsg ngelepas balok huruf itu dan meluk gue erat.<br />
wah lo tau kn perasaan gue]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>COWOK RASA APEL (a GAY-THEMED TEENLIT, originally by Noel)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731004/cowok-rasa-apel-a-gay-themed-teenlit-originally-by-noel</link>
      <pubDate>Fri, 05 Aug 2011 11:45:18 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Solitude</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731004@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Salam teman-teman semua...<br />
<br />
Cerita 'Cowok Rasa Apel' sebenarnya sudah pernah dimuat di Boyzforum, tapi di situsnya yang lama. Sedangkan di situs yang baru ini data-data tentang CRA telah terhapus hampir tanpa sisa. Meskipun cerita ini sudah pernah dipost sampai tamat dan para pembaca dari Boyzforum mungkin juga banyak yang sudah membacanya, tapi karena request dari beberapa teman akhirnya cerita ini dimuat lagi. Semoga berkenan.<br />
<br />
Bagi pembaca baru, selamat membaca dan berkenalan dengan Dimas dkk. Semoga cerita ini menghibur.<br />
<br />
Buat pembaca lama, kalau masih sudi membacanya... ya silahken saja. Hehehe...<br />
<br />
Terima kasih. Salam...]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>BDSM STORY : My Prisoner (sex scene-Soon)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740681/bdsm-story-my-prisoner-sex-scene-soon</link>
      <pubDate>Mon, 06 May 2013 13:32:48 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Azkaban</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740681@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Juni, 1943<br />
<br />
Keadaan masih dalam kondisi kacau balau, meski dua tahun telah berlalu pasca penyerangan Jepang terhadap militer Amerika, tragedi Pearl Harbor 7 Desember 1941 masih berdampak pada aktivitas dunia. Dentuman suara bom yang ditembakkan, desingan peluru dan suara pesawat tempur yang mengudara hampir tiap menit terjadi, menggantikan kicauan burung yang seharusnya diatas langit merekalah yang berkuasa merajai udara, bukannya burung besi dengan desingan yang memekakkan telinga.<br />
<br />
-Ruang bawah tanah pangkalan militer US-<br />
<br />
Dentuman suara ledakan masih terjadi di atas sana, bahkan getarannya masih terasa hingga di ruangan bawah tanah yang gelap dan dingin ini. Hanya beberapa obor dan lilin yang menerangi ruangan berdinding dan berlantai batu ini.<br />
<br />
Klanngg!<br />
<br />
Suara rantai besi beradu dengan porosnya, saat seorang pria muda bergerak meronta. Seragam military hitamnya nampak lusuh, kedua tangannya terbentang, terikat ke atas pada besi horisontal berborgol.<br />
<br />
<br />
Crank! Crank! Crank!<br />
<br />
<br />
“Hoi! Lepaskan aku!”<br />
<br />
Pria muda itu meronta-ronta, menimbulkan berisik bunyi rantai.<br />
<br />
Di hadapan pria berambut hitam legam yang sedang terikat itu tampak seorang lelaki berambut pirang yang sedang duduk bersandar di kursi kayu berlengan, memperhatikan ekspresi tawanannya yang sedang terbelenggu. Sesekali dia tersenyum saat melihat alis sang tawanan mengernyit menahan sakit di kedua pergelangan tangannya yang sedang terborgol.<br />
<br />
Dengan tenang lelaki berambut pirang itu mengamati lelaki muda berwajah oriental di hadapannya, sambil sesekali mengelus cambuk yang dibawanya. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri sang tawanan.<br />
<br />
<br />
Tap!<br />
<br />
Tap!<br />
<br />
Tap!<br />
<br />
<br />
“Engh! Hoi kau brengsek! Lepaskan aku!” mendengar ada suara langkah kaki mendekat sang tawanan mengangkat kepalanya berusaha waspada. Matanya yang tertutup kain hitam membuatnya semakin awas akan apa yang akan terjadi.<br />
<br />
“Akhirnya, kami berhasil juga menangkapmu, namamu sudah menjadi legenda disini..<br />
Fujima Yamamoto san..” lelaki berambut pirang itu melangkah perlahan mendekati si pria Jepang.<br />
<br />
Pria Jepang itu terhenyak sesaat, mengetahui jati dirinya terbongkar bukanlah masalah yang sepele. Namun dengan cepat ia berusaha menguasai dirinya.<br />
<br />
“Siapa kau? Apa maumu?” dalam kegelapan yang menyelimutinya, pria muda itu masih berusaha waspada, tubuhnya menegak dan kepalanya mendongak mencari fokus suara orang asing itu berasal.<br />
<br />
“Hahaha.. Mayor Jenderal yang baru dua tahun lalu memiliki andil besar menghancurkan pangkalan militer Amerika kini dalam keadaan tidak berdaya, sungguh menggelikan” si Lelaki pirang mengelus pipi putih Fuji dengan ujung cambuknya.<br />
<br />
“Jangan sentuh aku dasar brengsek!” Fuji memalingkan mukanya.<br />
<br />
“Hahaha.. ternyata mayor jenderal kita ini emosian juga orangnya. Santai saja.. kau akan aman selama berada dibawah penangananku Fuji-san” Lelaki pirang itu beranjak ke belakang tubuh Fuji.<br />
<br />
“Enghh..” Fuji terhenyak saat tiba-tiba saja lelaki di belakangnya menjilat daun telinganya.<br />
“Apa yang kau lakukan!”<br />
<br />
<br />
Slapp..!<br />
<br />
<br />
Fuji mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan yang remang saat mendadak kain penutup matanya dilepas.<br />
<br />
“Kau?!” mata Fuji membelalak terkejut mengetahui lelaki yang kini tengah berdiri di hadapannya.<br />
“Jenderal.. Henry...”<br />
<br />
“Ahh.. sebuah kehormatan.. ternyata kau mengenalku..” Henry menyeringai dan maju mendekati Fuji yang memalingkan mukanya dari sorotan mata Henry.<br />
“Sejak kau menghancurkan basis militer kami, bagaimana seharusnya aku balas memperlakukanmu? huh?” Henry mencengkeram dagu Fuji dan mengangkatnya, memaksa Fuji untuk menatap mata biru elangnya.<br />
“Oke.. kita bicarakan hal yang lebih berguna..<br />
Dimulai dari strategi militer negaramu.. dan target seranganmu berikutnya mungkin?”<br />
Henry menegakkan badan jangkungnya, seragam putih dengan jubah panjangnya nampak membuat dirinya semakin kokoh, badge kuning dengan tiga bintang di kedua bahunya menegaskan bahwa dia adalah sosok  yang berpengaruh dalam dunia militer.<br />
<br />
“Cih! Apa kau berpikir aku akan menjawab pertanyaanmu itu?” Fuji dengan sorot mata menantang memandang Henry.<br />
<br />
“Tentu saja, jika kau tau apa yang terbaik buatmu, Fuji-san”<br />
<br />
“Angghh!” Fuji mengerang saat Henry menjambak rambut legamnya, membuatnya mendongak paksa.<br />
<br />
“Kalau melawan, mungkin hal menyakitkan itu bisa menghampirimu”<br />
<br />
<br />
Slashhh!<br />
<br />
<br />
Ctarrr!<br />
<br />
<br />
“Aggghhhh...!!!”<br />
<br />
<br />
Klangg..! Klangg..!"<br />
<br />
<br />
Tubuh Fuji terayun sempoyongan, bertahan pada kedua tangannya yang terbentang terikat pada besi diatasnya saat Henry mengayunkan cambuk pada pahanya.<br />
<br />
“Ughhh...” Fuji menunduk meringis merasakan panas dan perih pada paha putihnya, sayatan pada celananya menampakkan kulit yang memerah akibat cambukan itu.<br />
<br />
“Aku bisa menjadi sangat brengsek, kau tahu?” Henry mencengkeram rahang Fuji.<br />
“Pipi yang lembut eh? Apakah kau benar-benar seorang mayor jenderal? Wajahmu terlalu manis untuk itu...” Henry menyeringai kecil sembari menjilat perlahan pipi Fuji.<br />
<br />
“Agghhh..!” Fuji kembali mengerang saat dengan sengaja Henry meremas bekas luka cambukan pada pahanya, matanya memejam dan alisnya bertaut menahan pedih, tangannya yang terborgol di atas membuatnya semakin terlihat tidak berdaya.<br />
<br />
“Ahhh... sungguh ekspresi yang erotis.. eranganmu sungguh mempesona Fuji-san, membuatku ingin melihat lebih banyak lagi ekspresi itu..” Henry menyeringai puas, menjilat bibirnya seolah melihat santapan nikmat di depan mata.<br />
<br />
“Kau... brengsek gila... hajar aku semaumu.. lebih baik lagi bila kau langsung menggorok leherku..”<br />
Fuji mengangkat kepalanya dengan angkuh, tersenyum mengejek pada Henry.<br />
<br />
"Kehormatan buatku, mayor jenderal Yamamoto..<br />
Tapi aku tidak akan bertindak sejauh itu, dan terburu-buru tidak akan memberikan kenikmatan apapun.." Henry berjalan perlahan ke belakang tubuh Fuji.<br />
"Aku masih ingin menikmati tubuh ini.." ia memeluk pinggang ramping Fuji dari belakang dan mengecup tengkuk jenjang si pria asia.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Gazdă Sânge (Tuan DarahKu)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739693/gazda-sange-tuan-darahku</link>
      <pubDate>Wed, 06 Feb 2013 01:38:21 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>santay</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739693@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[One shoot and this story contains bloody scene.<br />
<br />
============<br />
<br />
Saraswati.<br />
<br />
<i>Dia.</i> Saraswati mengumpat pelan. Lelaki muda yang berjalan gontai berjarak beberapa meter dari tempatnya berada sekarang kembali meningkatkan emosinya. Darahnya menggelegak. Kematian tragis kedua orang tuanya beberapa tahun silam kembali berpusar di benaknya.<br />
<br />
<i>Sekarang kau mendapat bagianmu,</i> gumamnya lagi sembari mengayunkan langkah secepat angin.<br />
<br />
***<br />
<br />
Syahkuntala.<br />
<br />
Bayu malam berhembus semilir. Ia mengusap tengkuknya. Dingin. Malam ini terasa berbeda dari biasanya. Entah apa hanya perasaanya saja. Namun alam bawah sadarnya meminta ia untuk waspada.<br />
<br />
Ia mempercepat langkah di bawah bayangan bulan yang bersinar pucat.<br />
<br />
Wuzzz.<br />
<br />
Angin dingin berhembus keras melewati sisi kirinya. Dingin yang tak biasa. Menusuk sampai ke tulang. Bulu kuduknya meremang. Aroma ketakutan semakin kental. Ia semakin mempercepat langkahnya.<br />
<br />
DZIG!!!<br />
<br />
Beberapa langkah di depannya, sesosok wanita muncul tiba-tiba seperti kabut. Gaun merahnya berkibar ke belakang seiring ayunan langkah gemulainya menghampiri Syahkuntala.<br />
<br />
Seluruh tubuhnya bergetar hebat melihat sosok wanita misterius yang tiba-tiba muncul menghalangi jalannya. Siapa dia? Tetes keringat ketakutan berjatuhan dari pelipisnya, terlebih-lebih saat tubuh wanita itu ditimpa cahaya bulan. Syahkuntala bisa melihat wajahnya yang cantik. Sangat cantik, tetapi pucat.<br />
<br />
Aroma ketakutan menguar ke udara, membungkus tubuhnya yang terpaku tak berdaya.<br />
<br />
***<br />
<br />
Saraswati.<br />
<br />
Tatapan tajamnya seakan mampu menguliti tubuh yang menghantarkan aroma ketakutan dari lelaki muda yang hanya beberapa langkah lagi di hadapannya.<br />
<br />
Ia menyukai mimik ketakutan dari lelaki itu. Ia menikmatinya. Darahnya kembali menggelegak. Nafsunya membuncah tak tertahankan ingin menancapkan taringnya ke kulit lembut lelaki itu. Rasa manis dari darah hangat lelaki itu serasa sudah di ujung lidahnya.<br />
<br />
Ia berjalan gemulai melawan arus angin, sehingga ujung gaun merah berbelahan dada rendah yang membalut lekuk tubuh sempurnanya itu berkibar.<br />
<br />
Ah, desahnya. Semakin ia mendekat, aroma manis yang mengalir di balik kulit lelaki itu menggoda indra penciumannya. Kerongkongannya serasa terbakar. Ia menyeringai, memamerkan sepasang taringnya yang tajam.<br />
<br />
Sebentar lagi, sebentar lagi. Nikmati dulu mimik ketakutannya, bisik hati Saraswati mecoba menenangkan setan dari dasar hatinya.<br />
<br />
***<br />
<br />
Syahkuntala.<br />
<br />
Gusti, wanita penghisap darah! Pekik hati kecil Syahkuntala, saat sepasang taring tajam menyembul dari bibir merah wanita cantik nan menyeramkan itu.<br />
<br />
LARI! Hati kecilnya menjerit.<br />
<br />
Tanpa pikir dua kali, Syahkuntala berbalik arah dan mengayunkan kedua kakinya dengan kecepatan maksimal.<br />
<br />
Zeetttzz!<br />
<br />
Langkah Syahkuntala terhenti. Wanita itu secara ajaib sudah berada di hadapannya lagi! Dan sekarang tatapannya semakin tajam. Sepasang bola matanya berubah merah. Tangkup bibirnya mengeras.<br />
<br />
Tidak seperti tadi, wanita itu dengan mimik wajah gusar berjalan cepat menghampirinya.<br />
<br />
Hati kecil Syahkuntala memperingatkan kalau ia lagi dalam bahaya.<br />
<br />
Grap.<br />
<br />
Secepat kilat dan luput dari tatapannya, tangan wanita itu sudah mencengkeram lengannya kuat.<br />
<br />
"S-siapa K-kau?" Syahkuntala terbata.<br />
<br />
Wanita itu mengusap wajah Syahkuntala cepat. Kulit wajahnya seketika tersapu oleh rasa dingin yang sedingin es.<br />
<br />
Syahkuntala tumbang.<br />
<br />
***]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Piece of Unfinished Melody</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739782/piece-of-unfinished-melody</link>
      <pubDate>Tue, 12 Feb 2013 16:14:03 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Silverrain</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739782@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Note By Silver<br />
Hallo!<br />
Maaf ya baru satu selesai udah maen post lagi.<br />
Tapi ini cerita udah lama di kepala minta dikeluarin.<br />
Ini prolog nya dulu, ceritanya aku bakal post entah kapan<br />
<img src="/plugins/Emotify/design/images/10.gif" width="" height="" alt=":p" title=":p" /><br />
Hahahahaha!<br />
Panggil Pasukan Neon<br />
<a rel="nofollow" href="/profile/kikipajama">@kikipajama</a> <a rel="nofollow" href="/profile/yuzz">@yuzz</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/Just_PJ">@Just_PJ</a> <a rel="nofollow" href="/profile/adhiyasa">@adhiyasa</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/princeofblacksoshi">@princeofblacksoshi</a> <a rel="nofollow" href="/profile/littlebro">@littlebro</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/danielsastrawidjaya">@danielsastrawidjaya</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/hwankyung69">@hwankyung69</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/ularuskasurius">@ularuskasurius</a> <a rel="nofollow" href="/profile/rulli">@rulli</a> arto<br />
<a rel="nofollow" href="/profile/congcong">@congcong</a> <a rel="nofollow" href="/profile/Dhika_smg">@Dhika_smg</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/seventama">@seventama</a> <a rel="nofollow" href="/profile/prince17cm">@prince17cm</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/rarasipau">@rarasipau</a> <a rel="nofollow" href="/profile/catalysto1">@catalysto1</a> <a rel="nofollow" href="/profile/fian_pkl">@fian_pkl</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/marvinglory">@marvinglory</a> <a rel="nofollow" href="/profile/chachan">@chachan</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/idhe_sama">@idhe_sama</a> <a rel="nofollow" href="/profile/totalfreak">@totalfreak</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/rarasipau">@rarasipau</a> <a rel="nofollow" href="/profile/bb3117">@bb3117</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/sigantengbeud">@sigantengbeud</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/adywijaya">@adywijaya</a> <a rel="nofollow" href="/profile/adinu">@adinu</a> <a rel="nofollow" href="/profile/dewaa91">@dewaa91</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/nero_dante1">@nero_dante1</a> <a rel="nofollow" href="/profile/003xing">@003xing</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/reyputra">@reyputra</a> <a rel="nofollow" href="/profile/masdabudd">@masdabudd</a><br />
<a rel="nofollow" href="/profile/FeRry_siX">@FeRry_siX</a><br />
DIAPDETT<br />
<br />
Marco's View<br />
<br />
"Ga kerasa, sudah enam tahun ya, semenjak aku masuk kedokteran...?"<br />
Aku berbisik padanya, sambil mengelusnya lembut.<br />
Aku memejamkan mataku, kemudian kembali menatapnya.<br />
"Sekarang kamu sudah bisa panggil aku Dokter Marco! Akhirnya setelah begitu lama semuanya selesai...! Janjiku padamu sudah kupenuhi kan! Sekarang kamu ga bisa cerewet bilang aku bodoh lagi!"<br />
Aku tertawa senang, kemudian kembali menatapnya.<br />
"Hei, hei! Rocky! Berhenti menggigiti leherku!"<br />
Aku mengebas, berusaha menyingkirkan makhluk yang sedaritadi mengunyah leherku sambil menggaruk rambut cepakku.<br />
Aku membetulkan kacamataku, kemudian menunduk, mengambil sebuah seruling besi berwarna keemasan dari dalam kotaknya.<br />
"Yujii, kamu memberiku tugas yang menyusahkan! Kamu ga tau kalau aku kuliah dokter? Dan kamu menyuruhku mempelajari lagu ini! Tapi biarlah, toh sekarang aku sudah lancar! Kamu dengar ya!"<br />
Aku memicingkan mataku, meletakkan bibir seruling itu di ujung bibirku, dan memainkan nada nada merdu memenuhi sekelilingku.<br />
Aku menutup mataku semakin rapat, menikmati permainanku, dan memutar kembali ingatanku ke saat pertama kali kami bertemu.<br />
=========================to be continued===========================]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>PELANGI DILANGIT BANGKA (KISAH RIO)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16721346/pelangi-dilangit-bangka-kisah-rio</link>
      <pubDate>Tue, 23 Feb 2010 23:53:09 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Edmun_shreek</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16721346@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Musim Ketiga]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>CINTA BERSEMI Dengan seorang Taruna</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16738090/cinta-bersemi-dengan-seorang-taruna</link>
      <pubDate>Fri, 19 Oct 2012 05:32:41 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>kevin_ok26</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16738090@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Perkenal kan  Nama saya Rifki Prasetio, kalau dari nama mungkin semua tahu aku berasal dari belahan tenggah pulau jawa. tepatnya di daerah dinggin Magelang .<br />
<br />
Sekarang aku duduk di kelas XII di salah satu SMU yang cukup terkenal di kota ku.<br />
<br />
Pagi itu  setelah menyelesaikan sarapan pagi ku, yang memang sudah di siapkan oleh Bunda ku. aku bergegas mengambil sepedah motor ku dan mulai menyalakanya.<br />
<br />
"le mau kemana pagi pagi begini sudah mau jalan,<br />
bukan kah kamu masuknya jam 7 pagi" teriak ibuku dari dalam rumah.<br />
<br />
Perlu di ketahu sejak aku masuk smu aku mempunyai kebiasaan aneh aku gemar banggun pagi pagi hanya sekedar untuk menyaksikan para taruna  berlatih di lapangan.<br />
Sungguh kepuasan tersendiri dapat menyaksikannya.<br />
Seperti sekarang ini aku langsung memacu motor ku . ke tempat lapangan tersebut membelah  dinginnya pagi hari di kota ku tercinta magelang.<br />
<br />
Dengan hanya menempuh waktu 10 menit aku sudah tiba di lokasi. Wah kebetulan sekali pagi itu para taruna- taruna  sedang berlatih fisik kata ku dalam hati, sungguh pemadangan yang sayang untuk di lewatkan.<br />
<br />
Sepitas aku lirik jam tanggan ku masih menujukan jam 6.00 WIB. wah masih lama masih sekitar 45 menit aku bisa menyaksikan pemadangan ini.<br />
<br />
Dari kejauh aku dengar mereka berlari dengan kompoknya menyanyikan lagu lagu yang membakar semanggat. ttp aneh ditelingga ku lagu lagu itu membuat nafsu birahi ku bertaba. Padahal kalau di pikir pikir gak ada bagusnya nadanya. Tetapi dapat menghipnotis ku "uhhh"<br />
guman ku dalam hati yang beranggan angan ingin mempunyai pacar seorang taruna.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>ARNAWARNA</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740745/arnawarna</link>
      <pubDate>Sat, 11 May 2013 15:50:36 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>Chocolate010185</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740745@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Hai pembaca yang budiman dan berbudaya. Sudah lama juga ngga pernah buka Boyzforum, karena terlalu sibuk dengan rutinitas. Kali ini aku mau posting sebuah cerpen, yang pernah terpilih sebagai nominasi Antologi Boyzforum. Namun karena berbagai hal pertimbangan, aku mengundurkan diri.<br />
Saat ini juga sedang menggarap cerbung berjudul "KETIKA DUKUN BERBICARA" yang akan diposting di boyzforum. Tapi sabar ya, bukan dalam waktu dekat postingnya. Ini sedikit cuplikannya....<br />

<hr />
Kemudian Pak Randy menjelaskan tentang update market, aku bersama keempat temanku menyimak dengan seksama. Sebisa mungkin aku rangkum apa yang diterangkan oleh Pak Randy. Setelah selesai menjelaskan, saatnya pertanyaan yang akan meluncur kearah kami.<br />
<br />
“Isa,  jelaskan akibat dari data manufakturing Cina yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar ?” Dengan sukses pertanyaan pertama langsung meluncur kearahku, menembus jantungku, sehingga membuat badanku langsung terasa kaku.Butuh waktu beberapa saat untuk membuka mulutku agar aku bisa menjawab pertanyaan dari Pak Randy.<br />
<br />
Tiba-tiba aku tersentak karena pahaku ada yang mencengkram, hampir saja aku terlonjak dari kursi ini. Langsung kulihat siapa pemilik tangan misterius ini. Dia adalah Indah Pertiwi, salah satu seniorku disini.<br />
<br />
“Jawab” Kata Indah dengan suara berbisik sambil merapatkan gigi atas dan gigi bawahnya.<br />
“Indah...Biarkan Isa menjawab pertanyaan saya, jangan membuat dia semakin grogi.” Kata Pak Randy.<br />
<br />
“Iya Pak Randy, saya hanya gemes aja sama orang yang mudah grogi.” Jawab Indah tanpa melepaskan tangannya dari pahaku.
<hr />
<br />
Jika ada yang pernah baca cerita sebelumnya, pasti ingat salah satu karakter dalam cuplikan tersebut. Oh iya, ada cuplikan lainnya di chap selanjutnya.<br />

<hr />
Sesampainya disana, kulihat ada wanita muda seumuran Indah, melambaikan tangannya kepada kami. Indah pun membalas lambaian tangan wanita itu. Aku dan Indah berjalan menuju mejanya yang berada di sudut kiri resto ini.<br />
<br />
“Hai Beib...Sudah lama ya?” Tanya Indah kepada wanita yang belum kuketahui siapa namanya. Penampilannya sangat menarik dan anggun. Wanita ini menggunakan baju batik terusan dengan balutan selendang sutra berwarna biru laut. Mereka saling menyodorkan pipi selayaknya wanita jika bertemu dengan wanita.<br />
<br />
“Cyynn...Ini suami yey yang baru? Yang ada di path yey waktu itu emm ? Ternyata ganteng banget. Sama seperti suami-suami yey yang dulu emm. Eike Tasya...”Cerocos wanita yang bernama Tasya sambil menyodorkan pipinya ke pipiku. Ya ampun, ternyata dibalik keanggunannya, Tasya lebih banci dibanding banci sejati. Jika bicara, mulutnya melenyot-melenyot dengan nada naik turun penuh penekanan.<br />
<br />
“Halo...Isa.”Kataku sambil tersenyum.<br />
<br />
“Eh ganteng, yey sudah berapa lama kerja bareng Indah ? Asal yey dari mana Cyynn ? Umur berapa sekarang ? Tinggal dimana ? Betah ngga tinggal di Jakarta ?” Tanya Tasya tanpa henti. “Oh iya, yey sudah punya pacar ? Eh katanya, yey masih perjaka tingting emm ? Kalau yey horny pelampiasannya sama sapose ?” Lanjut Tasya tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk menjawab. Aku hanya bisa terpana melihat mulut Tasya yang sakti banget.<br />
<br />
“Sudahlah beib...Yey juga tau jawabannya emm..”Kata Indah sambil menarikku untuk duduk disampingnya.
<hr />
<br />
Segitu aja dulu cuplikannya, nanti kalau sudah jadi, aku posting disini. Sekarang baca yang ini dulu. Aku tunggu komentar, saran, kritik, makian atau apapun.<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Langgam Kisah Cintaku</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732928/langgam-kisah-cintaku</link>
      <pubDate>Tue, 24 Jan 2012 15:36:23 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>autoredoks</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732928@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Track 1<br />
<br />
BENGAWAN SORE<br />
<br />
Ning pinggiring bengawan <i>(di tepian bengawan)</i><br />
Tansah setyo ngenteni sliramu <i>(selalu setia menunggu dirimu)</i><br />
Eling-eling jamane semono <i>(ingat – ingat jaman dahulu)</i><br />
Wis ndungkap pitung ketigo <i>(sudah sampai tujuh kemarau)</i><br />
<br />
Ning pinggiring bengawan <i>(di tepian bengawan)</i><br />
Saben-saben mung tansah kelingan <i>(sewaktu- waktu cuma selalu teringat)</i><br />
Wus prasetyo ing janji kang suci <i>(sudah setia di janji yang suci)</i><br />
Ing lahir terusing ati <i>(dari luar terus ke hati)</i><br />
<br />
Senajan koyo ngopo manungso <i>(walaupun seperti apa, manusia)</i><br />
Mung biso ngreko lan njangka <i>(cuma bias mereka dan menjaga)</i><br />
Gusti kang paring idi lan pesti <i>(tuhan yang member ide dan takdir)</i><br />
Kito sak dermo nglampahi <i>(kita hanya menjalani)</i><br />
<br />
Ning pinggiring bengawan <i>(di tepian bengawan)</i><br />
Wayah sore, Tan saya kelingan <i>(waktu sore, semakin teringat)</i><br />
Gawang-gawang esemu, cah bagus <i>(simpul- simpul senyumu, anak ganteng)</i><br />
Gawe sedihing atiku <i>(membuat sedih dihatiku)</i><br />
<br />
Sore yang mendung ini lagi- lagi aku habiskan di bantaran sungai bengawan. Menikmati semilir angin yang menghempas ke tubuhku, juga menggerakkan daun- daun tebu yang semakin menambah suasana syahdu kegalauanku saat ini. Lagu bengawan sore yang sedari tadi aku senandungkan terasa semakin pas dengan suasana hatiku. Yaa, aku memang sedang merindukan seseorang. Seseorang yang menjadi tambatan hatiku.<br />
<br />
Namaku Wishang Agung Wiwaha. Umurku lima belas tahun. Baru kelas satu SMA dan sedang menikmati libur semester ganjil. Aku baru beberapa hari ini berpindah dari sebuah kota di jawa tengah, kota yang dikenal dengan sebutan “Spirit Of Java”, ke kota pecel. Yupz, Madiun. Entahlah alasan apa yang dibuat oleh bapak, sehingga aku mau tak mau ikut pindah ke kota ini. Aku sudah apatis terhadap bapak sejak “kejadian” itu. Meninggalkan semua kenangan dan “dunia’ku disana. Serta satu orang special dihatiku, seseorang yang telah mengucap janji <i>setya satuhu</i> bersamaku sejak aku masuk SMA kemarin, namanya Dimas Putra Suhendro.<br />
<br />
Memang, kami sangat ingin dia menjadi yang pertama dan terakhir untukku dan aku menjadi terakhir untuknya. Walaupun hal ini sangat sulit. Bukan hanya karena usia kita yang masih belia, tapi juga banyak faktor lain terutama fator lingkungan kita yang selama ini mengecam homoseksual. Entahlah, <i>whatever,</i> terserah, yang jelas aku hanya ingin bahagia dengan orang yang menjadi pilihan hatiku.<br />
<br />
Walaupun sekarang kami terpisah amat jauh, namun kedewasaannya mampu menenangkan hatiku lewat telepon dan sms. Walaupun suaranya gak setiap malam aku dengar dan smsnya gak setiap jam dating, namum Ia dating pada waktu yang tepat. Seperti beberapa saat lalu, saat aku sedang merasa galau yang kualami sudah mencapai “tingkat Propinsi”, dia datang menelponku dan bercerita tentang sungai bengawan.<br />
<br />
“Dek, kamu tau gak darimana hulu sungai bengawan?”<br />
“Embuh mas, gak ngerti aku, geografiku aja remidi. Hehe.” Jawabku cengengesan karena memang nilaiku kurang di mata pelajaran geografi.<br />
<br />
“Kowe iki lho dek, di ajak romantic kok gak bias. Hadeehh.” Jawab mas dimas geregetan.<br />
<br />
“Lha dimana to mas? Aku beneran gak ngerti ki lho”<br />
<br />
“Yaudah. Dengerin baik- baik tak ceritani” mas dimas mulai serius “tau gak kalau sungai bengawan tuh sebenarnya ada dua?”<br />
<br />
“Iya, satu yang sedang aku pandang ini, dan satunya yang mas pandang itu kan?”<br />
<br />
“Bener, tuh tau. Tau juga gak hulunya di mana?”<br />
<br />
“Nah kalo ini aku gak tau. Wong tadi cuma asal nebak. Hehe”<br />
<br />
“Sungai yang ada di depan kamu itu asal mata airnya dari Waduk Gajah Mungkur. Kamu udah pernah mas ajak kesana kan? Satunya lagi dari daerah pegunungan di Karanganyar”<br />
<br />
“Oww. Berarti deket ya mas? Satunya di Wonogiri, satunya di karanganyar”<br />
<br />
“Yupz, bener. Terus, dari dua tempat yang jauh itu mereka berpisah, satunya ke utara seperti yang sedang mas pandang sekarang. Satunya lagi ke selatan seperti yang kamu lihat itu. Akhirnya mereka bertemu di daerah Ngawi sana dan bermuara ke Laut Jawa di Gresik sana”<br />
<br />
“Terus yang jadi pertanyaan, kenapa mas cerita ini ke aku? Masak orang galau suruh dengerin pelajaran? Untung yang cerita cowok cakep yang paling aku sayang sedunia. Hehe. Kalo enggak udah aku tinggal tidur aja.” Jawabku cengengesan tak paham maksud mas Dimas.<br />
<br />
“ish. Kowe ki yaa. Mas serius nie. Ya udah, mas kasih tau maksudnya. Aliran sungai bengawan itu mas ibaratkan seperti cinta kita, berasal dari mata air yang tulus, bersih dan suci dan dari tempat yang dekat. Kemudian berpisah karena keadaan.”<br />
<br />
“kalo sungai bengawan solo dipisahkan sama gunung Lawu, kalo cinta kita dipisahkan sama keadaan, karena keangkuhan bapakku” selaku mulai terisak. Memikirkan kenapa keadaan tidak mau bersahabat dengan cinta kita. Kenapa juga bapak kudu selingkuh dan ketahuan ibu, hingga kita harus pindah buat memperbaiki keadaan rumah tangga.<br />
<br />
“Udah. Cup. Jangan nangis, tar kalo nangis makin unyu lho. Kan kasihan mas gak bisa mandangin kamu, dengerin mas dulu yaa. Mas gak pengen liat kamu sedih. Walopun dipisahkan, namun airnya terus mengalir. Walaupun banyak bendungan di sana sini. Mas anggap itu masalah yang mau gak mau kita hadapi. Juga aliran airnya makin banyak karena ditambah oleh aliran sungai kecil lain yang bermuara di sungai bengawan ini. Begitupun cinta mas sama kamu, makin lama mengalir cinta mas juga makin besar.”<br />
<br />
“Iyah. Aku udah gak nangis, malah <i>melting</i> sekarang gara- gara digombalin sama mas. Hehe”<br />
<br />
“Sopo sing ngombal dik? Beneran ini. Yaudah lanjut. Perjuangan aliran sungai tadi pun gak sia- sia karena akhirnya dapat bersatu. Bagitupun kita, semoga akhirnya dapat bersatu dan terus bersama sampai akhirnya bermuara di keabadian. Lautan cinta yang amat luas”<br />
<br />
“Nahh.. iki lagek gombal mukidin, Mas Dimas kumat. Apa ya ada to mas cinta sesama cowok yang bakal abadi? Dapet pengakuan dari masyarakat aja susahnya jabang bayi. Apalagi mas anak tunggal, pasti bakal dipaksa nikah buat nerusin garis keturunan”<br />
<br />
“lho. Justru mas pengene nikahe sama kamu lho dek. Biarpun mas dipaksa kawin, mas gak bakalan mau. Soale kenapa? Karena cuma kamu satu- satunya orang yang mas cintai. <i>nothing else.</i> Mas gak mau nyakitin wanita lagi. Cukup ibuku aja yang sakit karena kenakalanku dulu.”<br />
<br />
“Iya mas, aku tahu. Kan kita udah kenal dari aku masih kecil. Aku tahu sifat mas kayak apa.” Semoga saja mas. Kita Cuma bisa berdoa dan pasrah sama keadaan semoga cinta kita bias bersatu untuk selamanya. Lagian cinta kita masih amat panjang. Aku baru seminggu disini. Masih dua setengah tahun lagi buat aku nerusin SMA dan kuliah di UNS.”<br />
<br />
“Yaa. Kamu yang sabar aja ya dek, gak usah sedih. Hadapi dengan senyuman. Oke?”<br />
<br />
“Injih kangmas Dimas Putra Suhendro. Kula mesthi bakal ngugemi sumpah janji setya satuhu ingkang kawula damel ing bendungan Waduk Gajah Mungkur.” <i>(iya kangmas Dimas Putra Suhendro. Aku pasti bakal menepati janji setia selamanya yang kubuat di waduk gajah mungkur)</i><br />
<br />
“Tenan lho rayi Wishang Agung Wiwaha. Aku yo bakal ngugemi janjku mring slirammu limang sasi kepungkur. Wis ilang to galaune? Ojo kakean galau, mengko marai dadi atlet lompat galau. Hehe”<i>(bener lho adek Wishang Agung Wiwaha. Aku juga bakal menepati janjiku kepadamu lima bulan yang lalu. Udah ilang kan galaunya? Jangan kebanyakan galau, tar jadi atlet lompat galau. Hehe)</i><br />
<br />
“Udah kok mas, udah ilang mas. Makasih ya, kamu selalu ada saat aku sedang butuh kamu”<br />
<br />
“Yowis, telponnya kututup ya. Bye. Love you”<br />
<br />
“Bye. Miss you mas”<br />
<br />
===================================================<br />
<br />
komennya yaa.. kalo bagus tar dipertimbangkan buat dijadiin cerbung]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Beda Fakultas (TAMAT)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732000/beda-fakultas-tamat</link>
      <pubDate>Fri, 04 Nov 2011 15:18:04 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>veriyanStevan</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732000@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Halo, aku Stevanus, salam kenal semuaa. Mau sharing aja sih.<br />
Ini cerita wkt aku msh TPB (Tahap Persiapan Bersama) atau tingkat 1. Bisa disebut Diary juga sih nih..<br />
Aku kuliah di sebuah universitas di Bandung. Ga usah sebut lah yaa.<br />
Aku ikut unit dancing. Awalnya sih cuma coba2 aja. Lumayan senang ngedance juga sih. Tapi gak jago.<br />
Lumayan byk yg daftar unit ini di angkatan aku. Padahal sebenernya unit dance ini blm resmi jadi unit, karna baru didiriin. Angkatan atas aku yg ngediriin.<br />
Aku dpt teman baru di sini. Aku pikir unit dance bakal penuh sama perempuan dan sepi laki2, tapi ternyata, peminat cowok gak kalah kok sama peminat cewek, ya walaupun masih lbh byk cewek. Jadi, aku msh ada teman cowok lah di sini.<br />
Pertemuan pertama cuma perkenalan aja. Dari kakak2nya dan dari kami2 angkatan baru. Aku kenalan sama seorang dari angkatan aku dari fakultas yg berbeda.<br />
<br />
"Hey, aku stevan."<br />
"Gua davan."<br />
"Dari fakultas mana?"<br />
"*peep*."<br />
"Oh, aku dari *peep*."<br />
"Wah, fakultas lo kan byk cewek cantiknya tuh, bagi dong satu, hahaha."<br />
"Hahah ambil aja sana, byk stok kok. Fakultas km kebanyakan cowoknya sih."<br />
"Tau nih, hahaha."<br />
"Hahaha."<br />
<br />
Davan keliatannya sih anaknya rame, asik dan enak diajak ngobrol. Semoga aja dia bisa jadi temen deketku.<br />
<br />
Pertemuan kedua mulai dibagi jadi beberapa kelompok. Dan setiap kelompok harus nyiapin satu dance yang kami buat sendiri, lagunya pun kami mix sendiri. Nantinya akan ditampilin di depan kakak2nya. Ini merupakan tugas pertama kami dalam progam penerimaan anggota baru.<br />
Aku kebagian kelompok sama davan. Yah, langkah yg bagus buat semakin mengakrabkan kami sih haha.<br />
Setelah dibagi kelompok, kami disuruh menentukan ketua kelompoknya. Davan akhirnya dengan paksaan terpilih sebagai ketua kelompokku karena gak ada yang mau jadi ketua. Semua menunjuk dia dan dia gak bisa nolak lagi deh haha.<br />
Setelah itu, kami mulai mengonsep dance macam apa dan gimana yang bakal kami tampilin.<br />
Ada yang aktif dan ada yang cuma diem2 aja ikut apa kata yang lain. Banyak ide kreatif yang muncul di kelompok kami. Semakin banyak semakin bingung mau seperti apa dance yang akan kami bawain nanti. Davan nampaknya udah jago banget deh. Dia termasuk yang aktif dan banyak ngasih masukan.<br />
Akhirnya setelah menentukan konsep, kami bagi2 tugas. Ada yang milih2 lagu, ada yang mixing, dan nyari2 gerakan. Aku dan beberapa teman yg lain dapet tugas milih2 lagu, karena aku emang suka dengerin musik juga. Pertemuan hari ini sampai di sini aja. Kelompok kami janjian untuk ketemuan lagi besok.<br />
<br />
Besoknya, setelah pulang kuliah, kira2 jam 5 sore, kami ketemuan di selasar dalam gedung yang biasa dipake mahasiswa untuk belajar bareng atau sekadar duduk2 santai nunggu jam kuliah. Jam segini sih udah gak terlalu rame. Jadi kami gak terlalu keganggu dan gak malu juga kalau mau nari2 gak jelas haha.<br />
<br />
Waktu aku datang udah ada sebagian anggota kelompokku termasuk si Davan, ketua kelompokku. Ada yg masih kuliah ada yang juga yang ngaret. Aku juga rada ngaret sih hehe. Ya maklumlah budaya Indonesia.<br />
<br />
"Haay, sorry ya telat, hehe."<br />
"Iya gapapa, belum dateng semua juga kok." Kata Davan.<br />
"Iya, sini aja gabung." kata karin.<br />
"Oke, eh udah ngapain aja nih?"<br />
"Gue sama Karin sih udh dikit2 nyari gerakan. Tinggal entar dimasuk-masukin ke lagunya aja sih."<br />
"Iya, lo gimana stev, udah dapet lagu yang bagus?"<br />
"Baru beberapa aja sih, didengerin aja dulu. Gua banyak referensi nih." Gara2 mereka ngomong 'gue-lo', jadinya aku ikutan deh. Padahal waktu di SMA dulu kan seringnya pake 'aku-kamu'. Budaya remaja di Bandung sih kebanyakan gitu. Mereka sih kebanyakan dari Jakarta, jadinya aku yang kebawa. Awas aja nanti, aku buat mereka ngomong pake 'aku-kamu' hahaha.<br />
<br />
Sementara lagu masih dalam tahap pemilihan, gerakan udah mulai dikit2 diciptain. Davan, karin sama beberapa yang lain yang bikin gerakannya. Aku sih cuma ngomentarin, tapi kadang2 ya ngasih masukan gerakan juga.<br />
Dan ternyata Davan emang jago mampus. Tipe dancing dia tuh modern dance gitu, hip hop breakdance gitu deh. Keren abis. Parah. Ga ngerti lagi. Pokoknya waktu dia rada show off, semua langsung diem bengong ngeliatin dia. Gerakannya enerjik dan lincah banget. Kayaknya dia jago main DDR (Dance Dance Revolution) ato Pump It Up deh. Aku suka sih main itu, tapi gak jago haha. Entar ajak dia main deh.<br />
Aduh jadi semangat deh ngeliatinnya. Pasti kelompok kami bakal jadi yang paling bagus nih nanti. Gak salah masuk kelompok ini hehe.<br />
<br />
Pertemuan selanjutnya list lagunya udah fix. Dan beberapa anak yang jago mixing, ngemix lagunya. Motong2 lagu2nya di bagian2 yang pas dan enak. Konsep gerakan kami bakal ngebeat dan lincah gitu. Seru deh pokoknya. Gak sabar latihan bareng yang lain.<br />
Setelah musicnya udah jadi, kita kasih ke anak2 koreonya. Mereka dengerin dulu sampai habis sambil ada yang gerak2 dikit badannya. Davan dan yang lain mulai masuk2in gerakan ke musicnya. Asik banget deh ngeliat mereka gerak-gerak gitu. Jadi keikutan gerak-gerak deh.<br />
Anak-anak di kelompokku asik-asik ternyata. Rame deh. Banyak candanya, banyak ketawanya. Jadi gak nyesel masuk unit ini.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Kepak sayap hati di selasar CINTA ( sisi lain dari cinta terlarang)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740711/kepak-sayap-hati-di-selasar-cinta-sisi-lain-dari-cinta-terlarang</link>
      <pubDate>Wed, 08 May 2013 08:52:50 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>DavidLiu</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740711@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[maaf buat boys and guys yang mungkin eneg dengan story ini. mungkin akan banyak kendala dalam penyampaian. masih baru dalam hal tulis menulis ini.<br />
<br />
<br />
<br />
(Sayap1)<br />
<br />
<br />
Kau tahu..????<br />
Ini bukan rekaan seperti yang kau pikirkan selama ini. Tapi ini adalah kisah hidupku. Mencari cinta sesaat dan mendapatkan apa yang aku mau. Boleh saja kau mengatakan aku ini bodoh. Orang brengsek  dan segala macamnya. Tapi inilah aku, inilah hidupku. Kau tak mungkin bisa mengerti  aku karena kau bukanlah aku dan bukan pula bagian dari hidupku. Panjang lebar  aku memberi pengertian dan pada akhirnya kau hanye akan mengatakan satu kata “bulshit” karena sampai kapanpun kau takkan memahaminya karena otakku bukanlah milikmu dan otakmu bukan milikku.<br />
<br />
Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabar darinya. Sudah hampir tujuh tahun berlalu semenjak dia mengetahui oreantasi sex ku yang menyimpang. Aku enjoy karena inilah hidupku. Cukup sudah aku mencari jati diri dan lelah aku menyangkal keadaanku. Lebih baik aku berdamai daripada selamanya aku bersembuyi dibalik topeng kemunafkanh.<br />
Aku takkan berlari lagi dari diriku demi siapapun dan demi apapun juga. Aku tak menampik jika bayangan sering mampir dan hinggap dikala aku seorang diri. Tapi buat apa? Aku tak ingin mengejar impian kosong dan tak berujung.<br />
<br />
ooOoo<br />
<br />
<br />
Angin dingin menelusup lewat tirai jedela kamarku. Aku tahu ini sudah pagi tapi aku masih ingin menikmati hangatnya selimut.<br />
Semalam sampai jam tiga aku memeras hasrat yang terbendung selama seminggu ini. Aku tak ingin lebih lama lagi menahan siksaan yang tramat sangat.<br />
Ingatanku kembali mengembara disudut malam yang panas.<br />
“hai Rik” sebuah tepukan halus mendarat dipunggungku. Aku berusaha mengenali suara diantara bisingnya dentuman music live.<br />
Aku terkesiap mamandang sosok tinggi putih yang tak jua melepaskan senyum penuh magis di wajahnya. Aku terpesona oleh pandangan yang begitu menggoda dihadapanku. Senyum yang sekian lama mampir dikepalaku. Sejak lima bulan yang lalu kami berkenalan di pesta ulang tahun Doca. Aku mencari seseorang melewati bahunya yang kokoh. Jotha mengikuti arah pandanganku.<br />
“kau menunggu seseorang?” tukasnya setelah tak mendapatkan apa yang aku cari.<br />
“dia kemana?” Aku mencari sosok yang biasa sama dia. Karena selama ini yang aku tahu dimana ada dia selalu ada Rendy.<br />
“dia siapa?” Jotha balik bertanya. Aku kembali menatap wajahnya. Aku tak tahu harus ngomong apa lagi.<br />
“ohh…, dia. Sudah tiga bulan ini kami tak bersama lagi…” Aku lihat dia mencebikkan bibirnya yang merah. Sangat serasi dengan tampangnya yang memiliki rahang yang kokoh menggambarkan siempunya wajah benar benar jantan.<br />
“dia keluar negeri lagi?” Aku berusaha mencari Sesuatu diwajahnya. Tak munafik sejak bertatap matanya yang hitam dan tajam itu aku udah interest padanya. Tapi sayang dia sudah ada yang memiliki.<br />
“kami tak bersama lagi. Dan dia sudah memilih menempatkan hatinya pada orang lain” bisiknya seakan berkata dengan dirinya sendiri.<br />
“ohhh…” hanya itu yang bisa aku ucapkan.<br />
<br />
Tatapnya seakan menerawang menrobos melewati pintu diskotik dan menembus pekatnya malam. Aku tak tahu apa yang sdang dipikirkannya. Dan aku tak inin terlalu jauh bertanya lagi. Biarlah dia bermain dengan pikirannya. Jotha tiga tahun dibawahku, tapi soal pergaulan dia sangat luas dan memiliki jam terbang tinggi. Itu yag kudengar dari teman temanku. Semenjak itupula aku berusaha menyingkirkan juh jauh peikiranku untuk mendekatuinya. Tidak juga untuk berteman dengannya. Karna aku sadar jika aku telah memiliki respek yang berlebih tak kuasa aku menolak keinginan hati yang tru dan terus mengejar asa yang ada. Jalan satu satunya adalah menghindar untuk berkontak langsung atau tidak langsung dengan Jotha. Aku tak ingin larut dalam arus pesona yang dia miliki.<br />
“boleh aku mengajakmu kesuatu tempat malam ini…?”<br />
“apa?”<br />
“boleh aku mengajakmu kesuatu tempat malam ini?” menegaskan kata kata dia sebelumnya. Aku hanya diam dan memikirkan arah omongannya kemana.<br />
Kutatap lagi wajah yang memiliki alis yang lebat turunan dari bokapnya yang dari tanah Hindustan. Belum sempat aku menjawab dia sudah menrik tanganku.<br />
“masukkan dalam listku. Okey!” dia mencubit pipi Ryan yang jadi bartender malam itu. Aku bagaikan anak kucing yang digigit oleh induknya untuk mecari tempat yang lebih aman.<br />
<br />
<br />
Kami menerobos angin malam. Lampu lampu jalan telah jauh kami tinggalkan. Semenjak naik ke mobilnya belumm ada satupun kata yang terucap dari ibir kami berdua. Au tak ingin memulai pembicaraan. Karena dia yang memilki tanggung jawab untuk memulai pembicaraan. Meski demikian aku tetap merasakan penasaran apa yang dia inginkan dariku saat ini. Mengingatkan kami tak pernah menjalin komunikasi secara langsung. Hanya jika ada temannya atau temanku berbicara. Itupun sangat jarang terjadi.<br />
<br />
Lampu lampu diarea gunung Pandaan semakin terlihat jelas bagaikan kunang kunang mengitari malam yang kian lelah. Kami baru saja lewat orong malam hari yang terbebas dari kemacetan stelah semburan lumpur yang belum bisa dicarikan solusinya.<br />
<br />
ooOoo<br />
<br />
<br />
“Rik banguuuunnnn….” Suara cempreng berhasil merampas lelapku. Mataku terasa perih medapatkan paparan langsung dari matahari yang menerobos lewat jendela kamarku.<br />
“pa an sih lo” sentakku dan membuang selimut yang masih melilit badanku. Bukannya takut malah dia tertawa ngakak. Aku bingung dengan sikapnya.<br />
“diam goblok” teriakku.  Lintang malah keras tertawanya.<br />
“bi.. bik.. bikin kemah bro..” aku lari menuju jendela kamarku.  Melihat aktifitas yang sering dilakukan anak anak sekolah disaaat mendapatkan jatah libur akhir semester seperti saat sekarang ini. Tak ada apapun diluar sana. Suara tawa Lintang kian menjadi jadi. Aku semakin geram dibuatnya. Lintang menunjuk kearahku.<br />
“oh my god…” Aku cepat berlari dan memungut kembali selimut yang sepat aku lemparkan tadi. Aku tahu saat wajahku terasa terbakar mendapatkan diriku seperi ini. Aku lupa jika tak mengenakan selembar benangpun ditubuh. Sedangkan yuniorku dengan angkuhnya berdiri menantang apapun yang didepannya. Sial sial sial rutukku dalam hati. Cepat cepat aku beralih kekamar mandi.<br />
“jangan lupa mandikan yang bersih biar dia gak nakal lagi” Teriak Lintang masih tertawa ngakak. Aku hanya dia. Jika aku menjawabnya dia akan semakin puas mentertawakanku.<br />
<br />
Oh ya. Aku belum bercerita tentang Lintang kan?<br />
<br />
<br />
Lintang adalah sahabatku semenjak awal kuliah. Tepatnya seminggu setelah mos. Waktu itu inagurasi dengan senior dikampus. Sifatnya yang konyol dan periang membuatku terpikat untuk mengamatinya. Dia yang selalu membantuku karena kebetulan fak yang kami ambil sama. Lintang memiliki tekstur tubuh yang hanmpir sempurna kecuali codetnya yang memanjang dibawah dagunya. Dan itu mendapatkan kesan macho. Lintang pernah satu sekolahan denganku saat SMP tapi kami tak saling mengenal karena saat aku pindah ke Surabaya di baru pindah dari Banyuwngi ke Jember. Otomatis kami hanya tahu setelah kuliah. Awalnya kami tak satu kos, namun ditahun kedua kami berinisiatip untuk tinggal berama untuk menekan biaya kos yang terlalu mahal. Tentu saja setelah kami berdua akrab. Anehnya semnjak kami berkenalan dia belum pernah mebawa pacarnya ataupun mengenalkan secara langsung padaku.<br />
“suatu waktu kau akan kukenalkan dengannya Bro.” kalimat itu yang selalu menjadi pemungkas dari pembicaraan kami jika membahas masalah itu.<br />
<br />
<br />
ooOoo<br />
<br />
<br />
Aku meninggalkan lobby kantor sesaat setelah meeting usai. Sebenarnya ini bukanlah meeting untukku. Papa memberi kepercayaan karena ada keperluan mendadak ke Ausie. Tapatnya Brisbane.  Devon mengalami kecelakaan kerja saat memindahkan alat berat ksebuah lokasi proyek. Sebenarnya Devon bukanlah kakak kandungku, melainkan kakak angkat disaat bonyok ingin mendapatkan anak. Karena hampir tujuh tahun mereka nggak memiliki anak. Jadilah kak Devon menjadi anak pancingan. Itu menurut Oma waktu aku tanya mengapa kami tak pernah memiliki kesamaan fisik sama sekali. Devon memiliki garis wajah yang kuat dan terlihat laki banget. Sedangkan aku memiliki raut wajah yang cenderung cantik menurut tetangga dan teman temanku.<br />
<br />
Ada sesuatu yang bergerak dari kantong celanaku. Aku tahu itu phonselku yang sengaja ku buat silent profil agar tak mengganggu aktifitasku selama dikantor. Aku memang terlihat galak dimata karyawan papa.  Cenderung sombong dan angkuh. Tapi sebenarnya itu hanya terjadi saat kerja, diluaran dari semua itu aku memiliki sifat yang bertolak belakang cemnderung manja dan kolokan. Apalagi pada orang orang terdekatku. Maka dari itu aku dijuluki bunglon  oleh mereka.<br />
<br />
Ada sembilan SMS dan tiga panggilan tak terjawab. Dalah satunya dari Jotha. Aneh, paahal aku tak pernah memberikan nopeku padanya. Tapi aku mendapatkan nomernya pada Rifai sahabatku yang juga menjadi sahabatnya. Semua SMS aku baca. Mama yang slalu memonitor kegiatanku. Salsa yang manjanya minta ampun dan satu lagi dari lintang yang kadang bikin BETE sekaligus ngangenin.<br />
<br />
Aku keluar dari lift dan masuk kebasement lewat pintu samping. Kerena aku ingin menghindari pertemuanku dengan Salsa yang sengaja menungguku di lobby depan. Aroma kendaraan segera menyeruak dihidungku.<br />
<br />
Aku terkesiap melihat sosok yang hampir aku lupakan dalam kuburan hatiku. Dingin menerpa tubuhku.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>CERITA SECANGKIR KOPI by @caramel_machiatto (re-upload) - cerita berlanjut di page 36</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731939/cerita-secangkir-kopi-by-caramel_machiatto-re-upload-cerita-berlanjut-di-page-36</link>
      <pubDate>Sun, 30 Oct 2011 01:38:40 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>the_rainbow</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731939@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[suatu kehormatan untuk gue buat nge re-upload salah satu cerita terbaik yg pernah ada di boyzstories. thanks to <a rel="nofollow" href="/profile/caramel_machiatto">@caramel_machiatto</a> sang penulis yg udah ngabisin sebagian waktu luangnya buat menghibur para Bfers, makasih juga buat <a rel="nofollow" href="/profile/fansnyaAdele">@fansnyaAdele</a> yg ngasih softcopy cerita ini dan minta tolong di re-upload buat pada pengunjung boyzforum. 2388 halaman ms word berisi sebuah kisah hidup yg bikin emosi turun naik para pembacanya (termasuk gue yg dulu sering koar koar  minta lanjutannya cepet dibikin <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" />) gue upload disini tanpa ada pengurangan atau penambahan apapun,  so..... here we go ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>LOV's Blog,"The Sexiest Chef" @ 45</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16736909/lovs-blogthe-sexiest-chef-45</link>
      <pubDate>Sun, 19 Aug 2012 11:15:53 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>p3lilover</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16736909@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Aku tak pernah menyangka bahwa Bagas, lelaki yang kukenal dan aku kagumi itu  ternyata adalah seorang chief di salah satu restoran terkemuka di Surabaya<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
****<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Hari Sabtu yang menyebalkan. Badanku lelah.  Benar-benar lelah.  Aku butuh istirahat saja dan tak pergi kemana-mana.<br />
<br />
<br />
<br />
*******<br />
<br />
<br />
<br />
CLUBBING LAGI<br />
<br />
<br />
Pengen ketemu DJ WIZZNU!  Itu saja alasanku pergi clubbing kali ini.<br />
<br />
<br />
<br />
******<br />
<br />
<br />
Minggu, 17 Maret 2013 di Savana Hotel Malang<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
"Pengen ML di bawah shower ..."<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
++++++<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Sekilas tak ada yang istimewa dari sosok Ran.  Yang bisa kulihat, dia  ini muda, bertubuh kurus dan bergaya cool.  Siapa sangka bahwa dia ternyata seorang ...<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />

<hr />
<br />
IMBANG @ 38<br />
<br />
<br />
Bercinta dengan Hadi adalah satu percintaan yang tak pernah kuduga.  Dia muda, tampan dan penuh gairah!  Sumpah, dialah lelaki yang hampir-hampir membuatku menyerah kalah!<br />
<br />
<br />
<br />
__________________________________________________<br />
<br />
<br />
EROTIC MASSAGE @ 37<br />
<br />
<br />
Punggung, dada , perut hingga betisku terasa cekot-cekot. Terasa tak nyaman sama sekali.  Mungkin ini akibat nge-gym yang terlalu dipaksakan<br />
<br />

<hr />
<br />
COWOK BELAGU<br />
<br />
BBM-an terputus.  Tak ada komunikasi lagi diantara kami.  Aku nggak marah atau ngambek.  Aku cuma merasa sebel sama lelaki yang jual mahal begini.<br />
<br />

<hr />
<br />
SKANDAL ARDO<br />
<br />
Aku sedang mengidolakan Ardo, teman BBM-ku. Dia muda, manis, tinggi, langsing dan seksi. Sayang, kami lost contact gara-2 BB-ku hilang.  Pagi ini, aku menemukan foto-2 nudenya beredar luas di twitter. OMG ...<br />
<br />

<hr />
<br />
HAPPY NEW YEAR<br />
<br />
Besok tahun sudah berganti.  Banyak hal yang harus dimengerti dan dipelajari.  Keputusanku untuk meninggalkan Denmas Tenteng juga sudah bulat. Aku harus menjalani setahun ke depan  sendiri lagi, dengan penuh rasa ikhlas, sabar dan nerimo.<br />
<br />

<hr />
<br />
SANG PRAMUNIAGA<br />
<br />
<br />
Bahunya yang kekar jelas berbentuk di balik kaos kerjanya itu.  Putingnya nampak tercetak jelas diatas saku kaosnya itu.  Pahanya yang ketat jelas-jelas terpampang indah di balik balutan celana jeansnya itu.<br />
<br />
______<br />
<br />
<br />
<br />
Kutakkan pergi bila kau anggap aku ada.  Ku akan pergi, kau tak menginginkanku.  Kau lukai kebanggaanku, perasaanku dengan sadar menyakitiku.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*****<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Cerita cintaku dengan denmas dimulai! Cerita berawal dari pertemuan kami di hotel kecil di tengah kota.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
****<br />
<br />
<br />
THE NEW BEGINING ...<br />
<br />
<br />
Tak kukira bahwa lelaki yang sedang berkomunikasi denganku di pagi buta itu ternyata seorang tentara muda, manis dan bertubuh seksi!  Ya Tuhan, diakah utusan-MU untukku?<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*****<br />
<br />
MAN WITH A MOUSE IN HIS MOUTH (PAGE 15)<br />
<br />
<br />
Salah seorang sahabat  baikku, BAM, menyarankan agar aku pindah haluan.  Pindah haluan apa?  Kayak kapal aja ada haluan kanan dan haluan kiri.  Selama ini dia memantau perkembangan kisah cintaku.  Dia tahu persis siapa saja lelaki yang pernah menjalin cinta atau hanya sekedar lewat dalam penggalan kisah cintaku.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
******<br />
<br />
Quicky Sex Hotel (Tamat @ 14)<br />
<br />
<br />
“Hai Ganteng ...,” sapaku pada salah satu teman baru di BBM-ku.  Kuamati foto profil teman baruku ini.  Dia memang cakep.  Walau tak berpose seksi, aku tahu dengan pasti dia punya tubuh yang indah.<br />
<br />
<br />
<br />
*************<br />
<br />
<br />
KUPU-2 PEMIMPI<br />
<br />
<br />
Orang bilang aku mirip kupu-kupu.  Kupu-kupu itu suka menghisap sari madu dari satu bunga ke bunga yang lain. Mungkin aku memang seperti kupu-kupu itu.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
bersambung ...<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Entah kenapa ada sesuatu yang berbeda ketika aku melihat salah satu foto teman baru di BBM ku ini.  Dia sungguh berbeda dengan teman-temanku yang lain<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*****<br />
<br />
<br />
PADA SATU KAPAL<br />
<br />
<br />
Aku berharap akan terjadi percintaan yang unforgetable di kapal ini.  Tapi Andi bukanlah sosok yang memang kuidam-idamkan selama ini.<br />
<br />
<br />
*****<br />
<br />
<br />
MAGIC MIKE - THE MOVIE<br />
<br />
<br />
Semalam beli DVD MOVIE MAGIC MIKE yang dibintangi Channing Tatum.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*******<br />
<br />
HOT MALE MODEL<br />
<br />
Aku tak pernah menduga kalau lelaki galau yang sering menelponku tengah malam itu adalah seorang model!<br />
<br />
<br />
<br />
********<br />
<br />
CANDU TERONG HITAM<br />
<br />
<br />
Ada sesuatu yang mencurigakan! Lelaki itu mulai membuka ritsluitingnya dan mengeluarkan buah terong hitam dari balik celana dalamnya.  Ya Tuhan .... benarkah penglihatanku ini?<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*********************************************<br />
I WAS TRAPPED!<br />
<br />
<br />
Has mengutarakan rasa sayangnya. Aku tak percaya!  Apa benar dia memang sayang padaku? Atau itu hanya perangkap cinta (palsunya)?<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
BERAWAL DARI SATU POKE.<br />
<br />
Semua bermula dari satu poke di wall facebookku. Ada debar-debar di dadaku saat aku mulai mengamati profil FBnya.  Aku tahu, dia ini seorang aparat negara!<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
*****************************<br />
<br />
<br />
MALAM TAKBIRAN<br />
<br />
<br />
Ini malam Takbiran.  Besok sudah lebaran. Ada resah gelisah, senang dan sedih yang bercampur jadi satu.  Aku sendiri tak tahu apa yang menyebabkan semua rasa itu berkumpul jadi satu. Tahun-tahun yang lalu juga seperti ini.<br />
<br />
Guys, ini tak ada kaitannya dengan uang.<br />
<br />
Kucoba saja membunuh sepi dengan pergi ke WTC.  Siapa tahu aku bisa terhibur dengan melihat banyaknya produk-produk handphone yang dijajakan disana. Di WTC juga bisa sekalian cuci mata, cos banyak cowok-cowok cakep yang bertebaran di sana.<br />
<br />
Sialnya, WTC tutup!<br />
<br />
<br />
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Pataya saja.  Iseng-iseng saja sih, secara sudah lama sekali aku tak mengunjungi tempat ini.<br />
<br />
Pataya masih sama seperti yang dulu.  Pataya masih gelap, kumuh dan mengerikan. Kupikir sudah tak ada lagi lelaki (gay) yang datang berkunjung ke tempat ini.  As you know, sebagian lelaki di komunitas ini memutuskan untuk hang out di Taman Bungkul sana.<br />
<br />
Tapi dugaanku salah!<br />
<br />
Sepuluh menit kemudian, banyak lelaki berdatangan. Tidak berombongan.  Mereka datang satu persatu.  Ada yang sendirian, ada juga yang berboncengan dengan sepeda motor.  Ada juga lelaki straight yang berkunjung kemari.<br />
<br />
Kalian pasti tanya, bagaimana caraku membedakan lelaki straight atau gay disini?<br />
<br />
Caranya gampang.  kalau dia lewat disini dan matanya masih tengok kanan kiri, it means dia gay.  Tapi kalau lelaki itu lewat dan tak menoleh ke kanan da kekiri, dia pasti hanya sekedar lewat jalan ini.  Atau lelaki straight yang nyasar.<br />
<br />
<br />
*<br />
<br />
Aku mulai mencoba mencari ketenangan di tempat ini.  Kucoba menghirup udara dalam-dalam.  Kucoba mengendapkan semua permasalahan yang sedang menggumpal di dalam otakku.  Hhhh ... aku merasa agak sedikit tenang berada di tempat ini.<br />
<br />
Kucoba mengalihkan gelisahku dengan cara menghitung berapa jumlah kamar hotel di depanku.  Yang lampunya menyala, berarti kamarnya sudah terisi.  Tapi sepertinya semua kamar sedang terisi saat ini.  Kupanjatkan doa agar satu hari nanti aku bisa menempati salah satu kamar di hotel itu.<br />
<br />
Hal yang mustahil, ya!<br />
<br />
<br />
**<br />
<br />
Ketenanganku mulai terusik saat seorang lelaki dengan nekadnya datang mendekatiku.  Dia masih muda, pendek dengan wajah langsing ceking.  Mukanya tak ada menarik-menariknya sama sekali.  He's not my type.  Tapi aku harus menghormati keberaniannya mendekatiku.<br />
<br />
"Tom ..."<br />
<br />
"Lov ..."<br />
<br />
Kami saling berjabat tangan. Aku tak pernah melihat Tom sebelumnya.  Itu berarti dia anak baru. Dia mulai bercerita tentan dirinya.  Tentang seleranya, tengan idolanya dan tentang lelaki yang dikaguminya.  Aku tak tertarik sama sekali.  Tapi aku mencoba untuk bersikap sopan.  Aku hanya mendengarkannya bercerita tanpa menimpali kisahnya lebih jauh.<br />
<br />
Tiba-tiba saja dia mulai lancang!<br />
<br />
Tangannya bergerak dengan cepat ke arah selangkanganku.  Mungkin dia berpikir, kog aku ini lambat sekali!  Kebiasaan lelaki disini kan memang begitu.  Asal sentuh sentuh saja. Shit!  Dipikirnya aku ini I-PAD apa?<br />
<br />
<br />
bersambung ... ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>cerita ini bikin gue lupa segalanya..!</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16740835/cerita-ini-bikin-gue-lupa-segalanya</link>
      <pubDate>Sun, 19 May 2013 05:06:19 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>arixanggara</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16740835@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[ada yang tau gak, siapa pengarang cerita ini<br />
<br />
<a href="http://sisipelangi.wordpress.com/2012/11/28/sisi-pelangi/" target="_blank" rel="nofollow">http://sisipelangi.wordpress.com/2012/11/28/sisi-pelangi/</a><br />
<br />
Menurut gue ni orang smart banget bikin cerita kayak ini<br />
<br />
#maaf kalok salah room]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>sweetheart</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16739467/sweetheart</link>
      <pubDate>Wed, 23 Jan 2013 10:32:22 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>blue_shark</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16739467@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Part 1<br />
<br />
"Fairus P.O.V"<br />
<br />
<br />
"Aku mau kita putus" kalimat itu meluncur dengan santainya dari bibir manis andien pacarku, saat ini kami tengah berada di sebuah taman dekat sekolah  tempat yang sama saat aku menyatakan cintaku padanya, dan sekarang tempat ini juga yang menjadi saksi kandasnya hubunganku dengan nya yang terjalin selama 5 bulan terakhir sungguh ironis.<br />
"Tapi kenapa, apa aku berbuat salah padamu?" ku tanyakan alasan mengapa ia sampai mau mengakhiri hubungan ini<br />
"Tidak, kau bahkan tidak pernah membuat salah padaku" jawabnya sambil tertunduk<br />
"Lalu apa? Apa aku kurang perhatian atau aku kurang membagi waktuku denganmu. Aku janji aku akan membagi waktu ku agar aku bisa bersamamu lebih lama" aku lagi-lagi menanyakan alasan apa yang mebuat nya minta putus dariku<br />
"Bukan, bukan karna itu"<br />
"Lalu kenapa" aku mulai tak sabaran sekarang<br />
"Aku sudah tidak cinta padamu lagi" aku lemas seketika saat itu juga aku hanya bisa tertunduk lesu di hadapnya<br />
"Aku ingin kita menjadi teman saja, dan satu lagi aku sudah punya pacar"<br />
Setelah dia mengatakan bahwa dia sudah mempunyai pacar dia pergi begitu saja meninggalkan ku yang masih mematung di sini seorang diri, aku hanya bisa merenung dengan apa yang baru saja terjadi.<br />
<br />
<br />
Ku rebahkan tubuh ku diatas ranjang yang selalu setia menemani malamku, kejadian tadi siang masih berkeliaran di otak ku. "Hufftt" lagi-lagi aku menghela nafas panajng karna memikarkan putusnya hubunganku dengan andien.<br />
Tiba-tiba terdengar alunan musik milik Depapepe dari hp ku pertanda ada sms masuk, ku ambil hp ku yang tergeletak diatas meja belajar ku kemudian ku buka sms itu, rupanya ibu yang sms bahwa dia tidak akan pulang malam ini karna akan menginap di rumah tanteku dan akan pulang esok harinya, aku hanya mengiyakan saja karna suasana hatiku kurang begitu baik. Kembali ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk ini hingga aku terlelap.<br />
<br />
<br />
Huh! Dasar tokoh labil pake galau-galauan segala sampe lupa memperkenalkan diri sendiri kepada reader, saya sebagai author mohon maaf atas sikapnya yang kurang peka terhadap reader, ok Kita mulai!!! Yang lagi molor itu namanya Fairus Anggara ngakunya sih cowok paling ganteng satu sekolahan tapi malah di putusin apa jangan-jangan dia ngibul ya. Dia itu 2 bersaudara dia hanya tinggal dengan ibu dan adiknya yang bernama Ardiansyah Anggara, Fairus sekarang kelas 1 SMA dan 1 lagi info bagi kalian para reader sekarang dia jomblo loh yang mau daftar cepet ambil formulirnya di author heheehe.<br />
<br />
*********<br />
<br />
Aku terbangun ketika suara alarm di hp ku berbunyi, dengan sepersekian detik ku ambil hp ku lalu ku matikan alarm yang berdendang dengan riang nya kemudian ku lanjutkan tidurku aku masih capek tepatnya capek hati dan pikiran. Namun baru saja ku coba menutup mata lagi "Byuuurrr" aku tersentak kaget dan di saat bersamaan terlihat sosok Ardi di hadapanku dengan gayung yang sudah kosong isinya.<br />
"Ardi kamu apa-apaan HUH" ku bentak Ardi saat itu juga<br />
"Maaf bang, Ardi di suruh Ibu kalau bang Iyus belum bangun saat jam 6 Ardi harus nyirang bang Iyus" katanya polos di sertai senyuman andalannya.<br />
Aku hanya bisa menahan emosiku, rupanya Ibu sudah bersekongkol dengan Ardi, kali ini apa lagi yang di tawarkan Ibu untuk Ardi agar dia mau beroposisi dengannya.<br />
"Ardi memang Ibu ngasih kamu apa, sampai kamu mau menjalankan misi Ibu yang tertunda karna Ibu tidak ada dirumah" ya, Ibu punya misi agar anaknya yang satu ini mampu untuk bangun pagi dan tidak terlambat sekolah lagi, sungguh Ibu-ibu yang tangguh mulai sekarang aku harus selalu waspada.<br />
"Kata Ibu kalau Ardi bisa bikin bang Iyus bangun pagi dan nggak telat lagi, Ardi bakal dapet sepatu yang Ardi mau"<br />
"Bagaimana kalau di tambah CD terbarunya SISTAR, kalau Ardi mau tutup mulut soal yang tadi" ku coba sogok dia dengan menambahkan CD terbaru dari SISTAR karna dia juga terkena serangan demam korea.<br />
"Maaf bang Ibu juga akan membelikan CD itu jika Ardi menolak ajakan bang Iyus untuk bersekongkol, dan sekarang bang Iyus telah menambah daftar kesalahan abang hari ini karna telah menyogok Ardi dan siap-siap saja uang jajan abang akan di potong hehehe"<br />
"Dasar, Ibu sama anak sama saja suka menggangu kesenangan orang lain"<br />
"Loh bukan nya bang Iyus juga anaknya Ibu"<br />
"Sudah sana keluar, bang Iyus mau mandi katanya di suruh cepet"<br />
Mendengar hal itu Ardi langsung melenggang meninggalkan kamarku dengan senyum kemenangan,  kemudian ku ambil handuk dan pergi ke kamar mandi lagi asik-asiknya mandi wajah si Andien nongol lagi jadi kepikiran lagi deh, ku pukul kepalaku agar wajah Andien hilang dari pandanganku setelah itu dengan cepat aku tuntaskan mandi ku yang mungkin sudah mencapai rekor mandi terlama yang pernah di alami seorang Fairus Anggara dengan waktu 10 menit. Setelah mandi ku pakai seragam dan berkaca sebentar untuk memandang wajah gantengku ini, tapi aku heran kenapa Andien minta putus dari cowok seganteng aku.<br />
<br />
<br />
Setelah sarapan dengan Ardi ku pacu motor kesayanganku menuju ke sekolah Ardi (oh iya Ardi masih kelas 2 SMP pemirsa) lalu dengan gaya andaln Valentino Rossi aku melesat menuju sekolah ku, tiba di sana gerbang memang masih belum di tutup aku cukup bangga karna misi Ibu kali ini berhasil tapi baru saja memarkirkan motor sudah ada tangan seseorang yang bersemayam di bahu ku saat aku berbalik badan,,,, "mati gw" kalimat itu meluncur di sertai tatapan Bu Idah guru paling killer di sini, aku hanya bisa pasrah dengan nasibku pagi ini.<br />
"Siapa yang meninggal Fai" tanya bu Idah padaku, tatapanya mulai terlihat mengkhawatirkan kondisiku, bagus ini bisa jadi senjataku.<br />
"Saudara saya yang di Solo Bu" Dengan perpaduan mimik sedih serta kegantengan wajahku aku menjawab.<br />
"Inalilahi wa'inalilahi roji'un, Ibu turut berduka cita ya Fai sekarang kamu pulang saja nggak usah sekolah ya"<br />
"Nggak usah Bu, mending saya sekolah saja nanti kalau di rumah bikin saya tambah sedih" ku jawab dengan sesenggukan agar dia benar-benar percaya<br />
"Ya sudah mending kamu di UKS saja ya, Ibu mau kembali bertugas dulu" pamitnya padaku<br />
"Baik bu"<br />
Yes! Dasar emak-emak bisa aja di kibulin padahal kan aku nggak punya saudara di Solo, dari pada ke UKS mending ke kantin aja. Dengan langkah santai aku menuju kantin, saat aku melewati ruang UKS yang searah dengan kantin aku di kejutkan dengan pemandangan yang sangat memilukan hatiku, ku lihat Andien sedang berpelukan dengan sangat mesra bersama cowok yang ku ketahui adalah Alvian, anak IPA yang notabene sangat pendiam dan pintar tentunya. Hati ku mulai panas namun aku masih bisa mengendalikan emosiku, dia sempat melihatku dan aku bisa melihat ada raut ketakutan di wajah manisnya. Aku jadi tidak tega jika harus membuat tanda di wajah unyunya maka aku hanya bisa tersenyum lirih padanya, dia hanya melongo bingung dengan sikapku dan meninggalkanya begitu saja.<br />
Samapi di kantin aku masih ingat bagaimana ekspresi Alvian, lucu sekali dia sangat lucu malah aku jadi tersenyum sendiri mengingat ekspresinya itu. Sejenak aku sudah lupa dengan rasa kesalku mungkin aku harus merelakan Andien bersamanya.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>R A F F A + E V A N</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16730638/r-a-f-f-a-e-v-a-n</link>
      <pubDate>Wed, 29 Jun 2011 04:59:25 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>bibay007</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16730638@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Ini Kisah tentang Persahabatan Gua dengan Evan...<br />
Ini Kisah tentang Gua dan Evan...<br />
.....................<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Copyright © Raffa + Evan<br />
<br />
2011 by bibay007 | All rights reserved | Seluruh tulisan dan cerita pada serial ini merupakan hasil tulisan sendiri, dan jika ada kesamaan nama atau karakter dan lain sebagainya, itu merupakan kebetulan. Segala bentuk penggandaan untuk kepentingan komersial, pengakuan sebagai hak milik, klaim dan lain sebagainya atas serial ini adalah ilegal dan tidak diizinkan.<br />
<br />
Foto RAFFA (Kiri) &amp; EVAN (Kanan)]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Angkot Cinta (Update Page 65)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734901/angkot-cinta-update-page-65</link>
      <pubDate>Mon, 21 May 2012 03:40:28 +0000</pubDate>
      <category>BoyzStories</category>
      <dc:creator>xchoco_monsterx</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734901@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[<b>Prologue</b><br />
<br />
Saat ini gue lagi ada masalah yang besar.<br />
Apa masalah gue? Gue sedang jatuh cinta.<br />
Sama siapa? Supir angkot.<br />
Ya. Gue Marvin Mahendra Putra, mahasiswa jurusan Broadcasting tahun kedua jatuh cinta dengan supir angkot.<br />
<br />
Fuck My Life.<br />
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<br />
<br />
Woohoo new story <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
Ampun dah yang atu belum kelar yang laen udah muncul...<br />
Cuma bisa berdoa semoga choco dikasih badan yang kuat <img src="/plugins/Emotify/design/images/63.gif" width="" height="" alt="[-O&lt;" title="[-O&lt;" /><br />
<br />
Selamat menikmati <img src="/plugins/Emotify/design/images/5.gif" width="" height="" alt=";;)" title=";;)" /><br />
<br />
xoxo<br />
<br />
choco ]]></description>
   </item>
   </channel>
</rss>