<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
      <title>BoyzStories - BoyzForum!</title>
      <link>http://boyzforum.com/categories/boyzstories/feed.rss</link>
      <pubDate>Wed, 23 May 2012 02:06:04 +0000</pubDate>
         <description>BoyzStories - BoyzForum!</description>
   <language>en-CA</language>
   <atom:link href="http://boyzforum.com/categories/boyzstories/feed.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
   <item>
      <title>I am Your Kitty :3 (Chapter 7 Fearless)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734017/i-am-your-kitty-3-chapter-7-fearless</link>
      <pubDate>Tue, 10 Apr 2012 10:45:19 +0000</pubDate>
      <dc:creator>steverahardian</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734017@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Prolog<br />
<br />
I am Your Kitty adalah serial ketiga dari teenlit I’ll Be Your Heart. Hanya saja pembawaan cerita ini lebih eksentrik dan nakal. Berbeda dengan kedua serial sebelumnya, kali ini penulis akan membawa sebuah cerita yang lebih fun, seru dan naughty. Tapi tetap mengusung isi cerita I’ll Be Your Heart yang lebih mengedepankan perasaan sebuah hubungan. Ini juga sebagai ganti cerita On My Radar yang aku hentikan serialnya.<br />
<br />
Kisah ini berawal dari tokoh utama awalnya yang hanya suka menggoda teman satu kelasnya, berubah menjadi sebuah perasaan penuh terpesona. Andi, sesosok pria muda yang memiliki semuanya, bertampang yang tampan, penampilan yang gaul, pintar dan disukai banyak orang yang akhirnya bisa jatuh cinta dengan teman yang dia goda bersama ganknya. Bagaimana ceritanya? Don't miss it guys/gals.<br />
<br />
Rating : Adult<br />
Premiere : 11.04.2012<br />
<br />
OST : dressin' up by Katy Perry<br />
<br />
FB : facebook.com/steverahardian (terblokir)]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>TIME MACHINE and''(ONE MISTAKE)''</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734600/time-machine-andone-mistake</link>
      <pubDate>Tue, 08 May 2012 05:34:47 +0000</pubDate>
      <dc:creator>LEO_saputra_18</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734600@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[   Setelah hampir satu bulan aku melakukan godbye stage melalui ''Pagi berselimut mendung'', sekarang aku melakukan Comeback stage dengan cerita terbaru ku ''TIME MACHINE and''(ONE MISTAKE)'' , aku harap selama masa promosi satu minggu penuh, kalian tetap setia membaca cerita ku,, terimakasih <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
<br />
Part 1<br />
<br />
Langit terlihat muram, angin seakan ingin menyapu yang di lewati nya, semua orang yang berdagang di pinggir Jalan Lintas Sumatera mulai sibuk membereskan dagangan mereka untuk berkemas pulang karena hari yang sudah mendung.<br />
<br />
Ia berdiri di pinggir jalan itu, memakai Baju yang sama seperti waktu itu, Raut muka yang datar,Pucat pasih, dan hal itu yang membuat setiap pengendara mobil atau motor yang berlalu di depan nya , terus memperhatikan nya.<br />
<br />
Namanya Leon, lelaki keturunan Chinese yang tepat hari ini berumur 24 Tahun, dengan kulit putih serta mata yang sedikit sipit, Leon adalah mahasiswa lulusan terbaik di universitasnya, setelah lulus kuliah, ia memutuskan pulang ke desa dan menghabiskan hari-hari nya hanya  di Desa ini. Tak jauh berbeda di universitas, di desa pun ia termasuk lelaki tampan karena wajahnya yang chinese Indo.<br />
<br />
Ia memandang terus ke seberang jalan dengan tatapan Kosong. Air mata nya mulai menetes seakan tak terhentikan lagi, gejolak dalam diri tak mampu menerobos keluar dan mengexpresikan apapun karena ia tetap berwajah datar. Perlahan Hujan Mulai Turun, seakan mengurung kesedihan hati Leon dengan mengkamuflasekan air mata nya. Udara yang semakin dingin Serta angin yang menusuk tubuh Tak membuat ia berteduh atau menghangatkan dirinya. Terlihat pengemudi yang berlalu semakin cepat memacu kendaraan mereka. Leon seperti pilar di pinggir jalan, tanpa goyah sedikitpun ia terus menatap ke seberang jalan itu.<br />
<br />
Leon menghela nafasnya '' Hari ini ulang tahun ku, dan tepat hari ini Tahun kedua kejadian itu, apakah kamu masih mendengar ku Die ?  Kamu tahu, Hingga saat ini aku sangat membutuhkan Mesin Waktu agar kita bisa seperti dulu'' Leon menggenggam gelang pemberian Adie.<br />
<br />
Adie adalah seorang pria berumur 27 tahun, Ia bekerja di Bank swasta di Kota Bengkulu, Leon dan adie bertemu pada  bulan Januari 2 tahun yang lalu, dan memutuskan merajut kasih seminggu setelahnya, masa PDKT yang singkat namun semua begitu berarti, berjalan 4 bulan hubungan mereka sangatlah harmonis. Leon yang masih berstatus mahasiswa di Kota bengkulu, tak merasa canggung untuk memanjakan dirinya bila berada di samping Adie yang Notabene lebih tua dari nya. Kebahagian terus mereka rasakan karena rasa untuk saling melengkapi begitu besar, hingga kejadian yang berujung maut, membuat semuanya retak dan hancur. Sesaat setelah wisuda, Leon dan Adie memutuskan untuk berlibur ke Desa kelahiran Adie dan Leon yang kebetulan di lahirkan di satu desa.<br />
<br />
'' Die, aku berdiri di sini untuk melihatmu, menunggu mu seperti waktu itu, jika bisa ku hapus bagian menyakitkan itu, aku ingin sekali menghapus nya dari memory ku agar aku hanya mengingat yang indah-indah bersama mu, bisakah kamu mendengarku ? melihat ku ? bahkan memeluk ku ? aku kedinginan die'' Leon Berucap dengan bibir yang gemetar karena  hujan disertai badai yang terus menghujam tubuhnya.<br />
<br />
<br />
''Bersambung''<br />
<br />
<br />
Part 2<br />
<br />
'' Wah hujan nya bakalan lama nih berhentinya'' komentar galang yang melihat ke arah langit dari jendela kamar Vino<br />
<br />
Berbicara mengenai Gw, nama Gw Vino, umur gw 20 tahun, gw sekarang tercatat sebagai mahasiswa di universitas ternama di Kota bengkulu, Meski bisa di bilang gw terlahir di keluarga kaya namun hidup gw amburadul, tapi semenjak gw kenal febby gw jadi lebih sedikit adem hehehehe <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" />  sekarang-sekarang ini gw lagi di sibukan oleh tugas kuliah gw yang mengharuskan gw buat ngeriset langsung ke lapangan mengenai prilaku menyimpang yang mulai di lakukan masyarakat pedesaan.<br />
<br />
Hari ini sehusnya Gw, galang and Febby pergi desa itu buat riset, tapi karena cuaca yang gak ngedukung, akhirnya kami bertiga tertahan di rumah gw tuk sementara waktu.<br />
'' Sabar Bro, bentar lagi juga reda'' Vino berusaha menenangkan teman nya itu yang tak sabar lagi untuk menuju tempat observasi di Desa taba penanjung.<br />
''Iya nih, dari tadi lo grasak-grusuk ajah ni lang'' tambah Febby yang sedang menyiapkan teh hangat untuk Vino.<br />
<br />
<br />
perlahan Hujan mulai menunjukan tanda-tanda akan berhenti, matahari perlahan mulai menunjukan diri nya meski masih malu-malu dan bersembunyi di balik awan yang mulai memutih. Nyok kita pergi, gw udah ga sabar nih pengen segera  ke desa itu, katanya di sana cewek-cewek nya cantik-cantik. Vino menjitak kepala Galang sembari menuju Mobil ''Ah, dasar kegatelan lo, cewek muluk di fikirin, tugas nih di fikirin ntar di omelin Dosen baru tahu lo''<br />
<br />
mereka bertiga memulai perjalanan menuju desa Taba penanjung yang berjarak 52Km dari Kota bengkulu.<br />
<br />
''Eh bagi dong lang snack nya'' Teriak Febby dari kursi belakang ''Emang lo ga takut gendut apa ? makan cemilan beginian, kalo lo gendut Vino mana mau lagi sama lo, ya gak mamen ?  Vino yang sedang menyetir hanya tersenyum.<br />
<br />
Memasuki jalan lintas, Tiba-tiba hujan kembali mengguyur mereka, membuat Vino menjadi lebih waspada selama menyetir ''parah nih cuaca, masa sebenta-sebentar hujan, sebentar-sebentar berhenti, wahh Ababil nih cuaca'' galang berkicau terus-menerus di dalam mobil yang membuat Vino dan febby tertawa. sesaat setelah ketawa lepas, Vino merasakan ada yang berbeda dengan mobilnya'' wah man, kayak nya Ban nya kempes nih'' Febby panik berlebihan '' hadohhhhhhh sayang, kok kamu gak cek dulu sih sebelum pergi, sekarang gimana dong, mana kita di jalan lintas begini'' Vino berusaha menenangkan Febby<br />
<br />
Galang yang mengawasi sekitar area,melihat seseorang tak jauh dari posisi mobil mereka yang berhenti di tengah hujan lebat tersebut ''eh, lihat, di depan sana ada orang, gimana kalo kita tanya tempat pengisian angin'' Vino membuka pintu mobilnya dan mengambil jaketnya ''biar gw yang turun lo jagain febby di mobil'' galang mengangguk di ikuti dengan febby.<br />
<br />
Hujan semakin lebat, seakan langit sedang memuntahkan apa yang di kandung nya selama beberapa saat.<br />
<br />
''permisi, gw mau numpang tanya, lo tahu tempat pengisian angin ga? kebetulan mobil saya ban nya kempes'' Vino yang sudah basah kuyup tak di hiraukan oleh Leon yang tetap saja berdiri memandang ke sebarang jalan '' wey, gw nanya nih, lo tahu kagak? '' Vino tak kunjung mendapatkan respon apa-apa, ia pun membalikan bahu Leon, sehingga leon berhadapan dengan Vino '' apa yang lo lihat di sana? toh juga gak ada apa-apa ? jadi sekarang gw minta jawab pertanyaan gw? Leon hanya terdiam dan membuat Vino bingung atas sikap Leon.<br />
<br />
<br />
''' Bersambung ''''<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733989/aku-bisa-membuatmu-jatuh-cinta-kepadaku-meski-kau-tak-cinta-kepadaku</link>
      <pubDate>Sun, 08 Apr 2012 15:32:15 +0000</pubDate>
      <dc:creator>zalanonymouz</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733989@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[salam.<br />
aku masi newbie nih, jadi tolong bimbingannya. hehe.. judulnya mungkin terlalu panjang n sudah pasaran, tapi mungkin itu judul yang paling mengena buat novelet asal"anku ini. yap, langsung aja, selamat menikmati..<br />
<br />
<br />
“Dimana si..?!” gerutu Esa, sudah dari tadi dia berpetualang di seluruh penjuru sekolah, tapi sosok yang ia cari tak kunjung ia temui. Tidak biasanya sosok yang ia cari hilang seperti ini, biasanya pulang sekolah ia menunggu esa di kursi taman sekolah, tapi kali ini dia tidak ada disana. Esa sudah mencari di kelasnya, sudah kosong, dan seluruh sudut sekolah telah ia susuri namun tetap nihil. Huuftt,,, esa sudah kelelahan sekarang, ia pun duduk di kursi taman, tempat biasanya ia bertemu dengan orang yang ia cari kini, ia tundukkan wajah sejenak sambil mengatur nafasnya.. ia kesal, tau begini dia mending sms Pak Ujang buat jemput, tapi apa daya. Hapenya mati, lupa charge tadi pagi dan dia sudah bilang pada Pak Ujang untuk ga jemput, pikirnya ia bisa pulang bareng dia.. eh taunya, dianya ga ada.. T_T. Disaat Esa sibuk menyesali nasib tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang, serentak esa tersadar dan berbalik, berharap yang menepuk pundaknya adalah dia yang ia tunggu-tunggu. “Sa? kamu masih disini?” tanyanya pada esa, wajah esa yang sedikit berpeluh kini  mulai melengkungkan senyumnya,”hehe,, iya, gue nyariin kamu, lagi! Kemana aja Ram?”, “hehe,, sorry Sa, tadi aku diminta tolong Pak Samsul bawain kardus-ga tau isinya apa, beliau naik sepeda motor jadi susah bawanya” katanya. esa mangut-mangut mengerti. “jadi, sekarang kamu mau pulang?” kata Rama sambil membenarkan posisi tasnya, “ya lah,,! Aku dah daritadi nih nungguin kamu, laper!” protes esa,”ohh.. mang kamu  ga dijemput, Sa?”, “nggak,, hape ku mati, mau jalan sendiri juga kan ga enak, ga ada temennya” jelas esa, rama hanya tersenyum kecil “ya dah, ayo jalan!”. Esa tersenyum lebar dan beranjak dari kursi taman, semangatnya kembali setelah Rama datang dan merekapun berjalan meninggalkan sekolah yang sudah sepi.<br />
***<br />
Yap, namaku Esa Pramanda Aryadhani, hehe.. panjang ya? Maknanya dalem tauk! Sampe-sampe aku aja bingung apa artinya. Banyak yang bilang aku cakep, hehehe.. meskipun akhirnya aku merasa begitu biasa setelah aku bertemu dengan rama, pujaan hatiku. Kulit putih bersih, rambut lurus dan mata –bisa dibilang- sipit, yah.. aku keturunan chinese gitu lah. aku baru 3 bulan di sini, Malang. Asalku si dari Bandung tapi berhubung urusan pkerjaan bokap ‘terpaksa’ deh pindah kesini. Umurku sekarang 16 tahun dan sekolah di SMA X di Malang (nama instansi disamarkan, hehehe) kelas 11. Awalnya canggung juga si, namanya juga siswa pindahan. Ini pertama kalinya aku ngerasain, didepan kelas, berdiri, diliatin puluhan pasang mata, dan ngenalin diri “nama saya Esa Pramanda Aryadhani, mohon kerjasamanya”. Yaa.. begitulah.. singkat dan tanggung, hehehe.. saat bu guru-namanya Bu Aini- mempersilahkanku buat milih tempat duduk mataku langsung menyapu seluruh isi kelas, apa ada yang kosong. Ada 2 kursi yang masih kosong, mataku terhenti pada sebuah kursi di sudut ruangan, sebenarnya pandanganku ga ke kursinya si, tapi lebih ke orang yang duduk dikursi sebelahnya, sosok yang mencolok perhatianku, tapi saat aku ingin kesana, eh taunya cowok yang duduk di kursi kosong satunya-di depan dekat pintu- melambaikan tangannya dan menunjuk kursi di sebelahnya . sungkan aku mau nolak, akhirnya aku-pun duduk di kursi itu dan berkenalan dengan anak pengganggu itu, “kenalin, aku Sandi” kata anak itu sambil mengulurkan tangannya, kubalas tangannya “Esa,,”jawabku singkat, eitz,, jangan lupa, senyum.. <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" />. “hehe.. kamu dari Bandung ya, eh Bandung itu apanya Jakarta ya?”, “ee...” aku  ga tau musti jawab gimana, bodoh banget pertanyaannya buat sebuah perkenalan, pengen si aku jawab ‘oh, sodaranya kok’ tapi berhubung kedengarannya agak kasar dan meremehkan juga, akhirnya kujawab saja “ee... bisa dibilang ‘tetangga’nya”sebuah jawaban yang cukup konyol untuk pertanyaan yang bodoh, eitz.. jangan lupa, tetep senyum <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" />. Kulihat sandi mangut2, entah ia mengerti atau tidak tentang permisalan yang kuungkapkan tadi tapi beberapa saat kemudia dia menengokku lagi “eh tapi bandung itu kan..” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya – syukurlah- bu Aini menegurnya “hushh,,! Kenalannya nanti saja! Sekarang waktunya pelajaran!” tegur beliau dengan nada agak jengkel, sandi pun mengangguk sambil meringis dan kembali pada posisinya semula, sementara aku hanya tersenyum geli. Saat bu Aini kembali menjelaskan mengenai prinsip Manajemen dan pandangannya beralih ke papan tulis, kusempatkan menengok ke arah belakang, ke arah sudut ruangan. Sesosok lelaki, yang menurutku, begitu berbeda, entah kenapa. aku jadi ingin berkenalan dengannya. Istirahat nanti bakal ku coba kesana n kenalan dengannya, hehe.. sippp.<br />
(jam istirahat)<br />
Aku masi duduk manis di kursiku, lebih tepatnya kaku gelisah tak menentu. Sandi dan murid2 lainnya pergi ke luar dengan urusannya masing-masing, kebanyakan keluar mencari makan siang. Di kelas hanya ada aku dan dia. Dia duduk dan kepalanya ia sandarkan pada sudut tembok, matanya terpejam. Keinginanku yang menggebu2 untuk berkenalan dengannya hilang entah kemana, yang ada sekarang malah grogi, kesana, enggak, kesana, enggak...  yah, kuakui kalau aku berbeda dengan lelaki pada umumnya, aku punya ketertarikan khusus dengan cowok, ehemm.. yah kalian pastinya sudah tahu, ga usa dibahas lagi. Tapi selama ini ga ada cowok yang bisa bikin aku sampai begini groginya, apakah ini cinta? Wekk... kayaknya terlalu cepat klo dibilang cinta, mungkin ini ketertarikan biasa. Soalnya dia dimataku begitu..... sempurna.. (ala andra n the backbone). Kulitnya putih, hidungx mancung, bibir tipis, rambut lurus n sudah agak panjang si, sekilas mirip steven william deh, hehe.. kecuali mungkin alisnya sdkit lebih turun, jadi wajahnya tampak sedikit sendu-sendu memelas gimanaaaa gitu, cakep dah pokoknya! Kukumpulkan seluruh keberanianku dan kubulatkan tekad untuk duduk disampingnya, namun ketika aku akan beranjak dari kursi ini, sandi dan beberapa teman-temannya masuk kedalam kelas, akupun kembali duduk dan menggerutu dalam hati ‘buangsaatt,,!!’. Sandi duduk disebelahku sambil membawa seplastik gorengan”mau?”, “aku menggeleng dan tak lupa, senyum. “loh,, kamu ga laper?” tanyanya lagi, “nggak kok, tadi dah makan roti dari rumah”, “ooh.. ya dah, aku makan ya..”, “hmm.. silahkan..” tak lama kemudian beberapa siswa lain menghampiri bangku kami, dan akupun berkenalan dengan mereka satu persatu, ada Melani, Juna, Cika, Dewi, Surya, Nara, Afan dan Dika. Selang beberapa lama kami sudah mulai akrab, mereka banyak bertanya tentang kota tempat aku dulu tinggal, sesekali mereka bercanda dengan menggunakan bahasa jawa yang sama sekali tidak aku mengerti. Dan disela-sela keramaian itu, aku kembali menengok cowok itu. Setelah istirahat, ternyata jam kosong, alhasil murid2 nganggur di dalam kelas dan melupakan tugas yang diberikan guru piket. Satu hal yang esa tidak pahami adalah cowok itu tetap sendiri, keramaian dan hiruk pikuk murid2 seakan tidak mampu menarik perhatiannya, tetap sendiri dan menulisi bukunya, tampaknya ia mengerjakan tugas itu. “eh, cowok yang di pojok itu siapa si? Kok diem aja daritadi” tanyaku pada Sandi dkk. “oh,, dia? Yang cakep itu yah? Namanya Rama Aditya Putra. Tau tuh.. sukanya sendiri.”kata melani yang kini menyandarkan tangannya pada pipinya, memandangi cowok yang namanya Rama itu. “kok gitu? Emang kalian ga ajak ngobrol ato main gitu?” tanyaku lagi, belum puas rasanya mengorek informasi tentang rama yang misterius itu, “udah kali, tapi kebanyakan anak-anak ga kuat sm diemnya, dia kalo ga ditanya ya ga ngomong,, itupun jawabnya ala kadarnya”kata dika, “iya,, dulu aja aku pernah duduk dibangkunya selama 1 jam pelajaran, mati bosen aku didiemin ma dia..! kayak duduk disamping balok es!”terang juna menggebu-gebu, sandi cekikikan mendengarnya, “ya kamunya si, ga pinter2 nyairin suasana! Anak kayak gitu msti terus diajak ngobrol biar dia bisa agak terbuka”jelas dewi sambil menggerak-gerakkan tangannya selayaknya guru keganjenan,hehe.. semoga dewi  ga bisa membaca kata hatiku ini.”lah, obos tok koe iki,wi’,,!” sentak juna dalam bahasa jawa yang aku tidak mengerti, Nara yang daritadi diam tiba-tiba angkat bicara”udah ah! Jangan gosipin dia mulu’,,!”, anak-anak cekikikan,”ciee... istrinya marah neh..”goda melani, aku agak terkejut mendengarnya,”istri?”gumamku pelan, tapi tampaknya cika mendengarnya”hehe... iya.. dia taksiranx Nara dari dulu tuh, Cuma diempet-empet,hahaha..”, mendengarnya, wajah Nara memerah, klihatannya kata-kata cika barusan tepat mengenai sasaran,”ah, apaan si! Sembarangan aja! Jangan bikin fitnah di depan anak baru donk..”protesnya sementara anak-anak lain masih ribut dengan kata ‘ciee...’nya, “eh, udah deh akuin aja,, ntar lama-lama kalo aku khilaf, aku ambil duluan loh!”ancam melani, entah itu semacam gurauan atau ancaman, yang jelas itu membuatku sedikit ga nyaman, sementara Nara tersenyum kecut,”pede amat! Emang dia mau ama situ?!” cibir dewi sambil sedikit memajukan bibir bawahnya, membuatnya tampak sangat menyebalkan,”eh eh eh,, ga percaya? Aku Cuma butuh timing yang tepat aja kok” dalih melani, meskipun sebenarnya dia tampak tersinggung juga. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka dan mencoba mencerna semua informasi yang aku terima hari ini. Setidaknya aku tau namanya dan sedikit tentang kelakuannya yang katanya ‘dingin’, hehehe... menarik. Bel pulang tak lama lagi berbunyi, tinggal 20 menitan. Murid2 kelas XI IPA2 yang kebetulan sedang jam kosong-pun langsung menyambar tas mereka dan pulang, hehe.. buat apa nunggu sampe bel bunyi, cabut aja kale! Sementara aku membereskan buku-bukuku kedalam tas dan begitu selesai, kupake dah itu tas n siap go home! Saat aku beranjak dari kursiku dan berjalan menuju pintu, dia berjalan didepanku, rama. Aku berhenti sejenak, membiarkan ia berjalan lebih dulu, jantungku berdegup kencang, dia semakin mendekat... dan saat dia sudah di depanku, dia sedikit menengok ke arahku, mata kami bertemu untuk sepersekian detik, dan dia mengalihkan lagi pandangannya, dan dia menghilang, sementara aku masih terdiam di sana. Aku tersenyum dan melangkahkan kakiku keluar, menuju mobil jemputanku.<br />
<br />
***<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>[MultiChaptered - IF I LOVE YOU TOO?] -Update part #7 ~ 220512-</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734592/multichaptered-if-i-love-you-too-update-part-7-220512</link>
      <pubDate>Mon, 07 May 2012 15:01:39 +0000</pubDate>
      <dc:creator>rieyo626</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734592@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[A/N : Just wanna sharing. It's pure my imagination. Not good enough, but semoga ada yang suka. Trims <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
IF I LOVE YOU TOO?<br />
By: Rieyo<br />
= = = = = =<br />
<br />
[#1 – Confession]<br />
<br />
“Gue suka sama lo, Niel”<br />
<br />
Tubuhku terasa membeku sesaat, setelah mendengar sebaris kalimat yang meluncur dari bibir Levi. Aku mengamatinya, melihat warna kemerahan yang menyemburat di kedua pipinya, membuat semakin manis wajahnya.<br />
<br />
Oh shit. He must be serious.<br />
<br />
But how come?<br />
<br />
Tanpa sadar, aku malah jadi bertanya-tanya sendiri dalam benakku dan tak memberikan respon berarti pada temanku ini. Yea, Levi atau Leviandra Hakim, adalah teman sekelasku di kampus. Aku memang bukan terkejut kenapa dia yang seorang laki-laki menyatakan perasaan padaku yang juga seorang laki-laki, tapi aku terkejut karena – kenapa bisa dia suka padaku?!<br />
<br />
Levi is gay. Semua orang di kelas sudah mengetahuinya, mungkin juga seluruh kampus. Tapi memang tak ada yang terlalu mempermasalahkannya, (walau kadang aku masih mendengar juga bisikan-bisikan di belakang).<br />
Hal itu bisa dibilang sudah menjadi rahasia umum. Lagipula, Levi memang tak pernah berbuat sesuatu yang merugikan siapapun. Di kelas, dia malah menjadi salah satu mahasiswa paling pintar yang bisa diandalkan. Karena itu, mengenai orientasi seksualnya, tentu saja bukan sesuatu yang perlu dicampuri. Itu hak dia.<br />
<br />
Dan kembali ke situasi sekarang, kenapa bisa dia suka padaku?<br />
<br />
“Niel…”<br />
<br />
“Hah?” cetus ku akhirnya, tak bisa menemukan kata-kata yang lebih baik. Aku mengerjapkan mataku, mengembalikan pikiranku pada kenyataan yang sedang berlangsung dan berhenti membuat monolog di dalam benakku.<br />
<br />
“Kenapa?” Levi bertanya lagi.<br />
<br />
Aku menggelengkan kepalaku pelan, lalu mengulas senyuman tipis yang masih terkesan ragu. Dengan gugup, aku juga mengusap-usapkan telapak tangan kananku ke belakang kepala.<br />
<br />
Damn, kenapa aku grogi?!<br />
<br />
“Lo denger kata-kata gue kan?” tanya Levi, agak hati-hati.<br />
<br />
“Ya”<br />
<br />
“Terus?”<br />
<br />
“Terus apa?” aku bertanya balik dengan bodohnya.<br />
<br />
Levi tampak mengerutkan keningnya. Aku rasa dia mulai menyadari kalau aku mendadak tidak berkonsentrasi atau mungkin dia baru sadar kalau ucapannya tadi bisa jadi tidak bagus dia ucapkan padaku.<br />
<br />
Ok, he’s gay and everyone knows it. Tapi dia juga tak bisa sembarangan menyatakan suka pada siapapun, bukan? Apalagi dengan alasan kalau teman-temannya akan memahami itu. Namun terlebih lagi, kenapa aku? Apa aku tampak gay di matanya? Oh please.<br />
<br />
“Sorry” gumam Levi setelah beberapa detik kita malah jadi saling memandang, canggung.<br />
<br />
Dan tanpa menungguku berkata dulu, dia cepat berbalik, bermaksud meninggalkanku sendirian di taman belakang kampus ini. Tadi sekilas aku bisa melihat raut wajah manisnya yang berubah. Tidak lagi merah merona, tapi lebih terlihat seperti merah padam. Entah dia marah atau sangat malu.<br />
<br />
“Tunggu Lev!” panggilku, setelah beberapa saat aku terpekur memperhatikan dia yang semakin menjauh.<br />
<br />
Levi menghentikan langkahnya, kemudian berbalik perlahan. Aku sedikit bergerak maju, hingga jarak kami tidak begitu jauh dan aku bisa melihat lagi bagaimana raut wajah manisnya sekarang.<br />
<br />
“Tadi lo bilang—“<br />
<br />
“Oh nggak, lupain aja” potongnya, sebelum aku sempat berkata. Dia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.<br />
<br />
Aku jadi merasa bersalah. Padahal terus terang, aku bukannya benci, hanya terkejut dan… yah aku bingung. Perasaanku diantara tak percaya karena ternyata seorang cowok manis dan pintar seperti Levi bisa suka padaku (that means, aku ternyata tidak hanya bisa menarik perhatian perempuan saja. lol) juga perasaan sebal karena… am I really looks like gay?<br />
<br />
“Kenapa lo bisa suka sama gue?” tanyaku, tak mempedulikan elakkannya. Dia tampak terpaku beberapa detik, dan senyuman penuh paksaan di bibirnya memudar berganti jadi senyuman gugup.<br />
<br />
“Lo baik” jawab Levi.<br />
<br />
“Cuma itu?”<br />
<br />
Levi agak mengernyitkan keningnya, dia seperti kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Mungkin ini yang biasa orang-orang bilang bahwa menyukai seseorang terkadang tak membutuhkan alasan. Tapi bagi ku rasanya ini absurd. Aku dan Levi memang berteman, tapi kami tidak bersahabat dan kami jarang sekali kemana-mana bersama. Hubungan kami hanya baik dengan seadanya, dan menurutku tidak begitu cukup untuk Levi sampai bisa berpikir bahwa dia menyukaiku.<br />
<br />
Aku baik? Semua orang juga baik padanya. Ini kurang masuk akal untukku. Terlebih lagi, setahuku, mendengar dari gosip-gosip anak perempuan disini, Levi sudah banyak menjalin hubungan dengan cowok-cowok yang luar biasa. Beberapa dari temanku pernah memergoki Levi sedang bersama cowok-cowok tampan yang tampak sepadan dengannya (dan jelas sesama gay).<br />
<br />
Come on, I’m so confused over here.<br />
<br />
“Gue udah lama suka sama lo, Niel. Tapi gue baru berani bilang sekarang. Lo itu tipe gue banget”<br />
<br />
Wajah merah merona itu lagi. Levi bahkan sampai tak bisa mengangkat wajahnya. Dia tidak mungkin berpura-pura mengatakan itu.<br />
<br />
“Pokoknya gue suka sama lo, dan gue gak bisa menjelaskannya kenapa…”<br />
<br />
That’s it.<br />
<br />
“Maaf ya…” kata Levi lagi, dan sebelum aku sempat menyahut, dia kembali bersiap untuk pergi. Reflek, aku semakin maju, lalu mengulurkan tangan untuk menahannya. Tanganku memegang tangannya begitu saja.<br />
<br />
“Terus? Tadi lo nanya ‘terus’ kan ke gue?” kata ku. Aku tak mau kalau pembicaraan ini hanya jadi menggantung dengan aku yang tahu tentang perasaannya, padahal aku tahu kalau dia menginginkan kelanjutan.<br />
<br />
“Uhm…” Levi bergumam gugup, dan masih tak bisa mengangkat wajahnya.<br />
<br />
“Lo mau gue jawab perasaan lo? Lo mau kita…” kataku lagi, sengaja menggantungkan kalimat ku.<br />
<br />
Levi pun memandangku. Mata kami saling bertabrakan. Ada harapan yang terpancar di sepasang mata besarnya.<br />
<br />
Astaga. Aku sendiri padahal tak tahu apa yang aku inginkan. Aku hanya merasa excited. Ini pertama kalinya bagiku mendapat pernyataan dari seorang cowok, apalagi Levi bukan cowok yang bisa diabaikan. Kalau saja dia tidak gay, aku yakin dia akan mendapat antrian panjang dari cewek-cewek sekampus dan pasti aku akan semakin iri mati-matian padanya.<br />
<br />
Dan sekarang, cowok yang sudah pasti akan diinginkan semua orang cewek ini – menyatakan perasaan padaku, mengatakan menyukaiku dan mungkin ingin menjalin hubungan denganku, apa bisa aku menolaknya? Apa bisa aku mengacuhkannya? Lagi pula sudah hampir setengah tahun ini, aku memang tidak mendekatkan diri dengan cewek manapun. Aku bisa dibilang sedang berada dalam titik jenuh untuk berpacaran. Tapi yang satu ini rasanya unik, bisa memberi warna dalam hidupku. Who knows.<br />
<br />
“Gue emang berharap lo mau jadi pacar gue” cetus Levi akhirnya setelah beberapa saat kami terdiam.<br />
<br />
Aku mengedipkan kedua mataku, sekali.<br />
<br />
“Ok” bibirku tiba-tiba seperti bergerak sendiri, mengikuti apa yang diperintah oleh otakku begitu saja, tanpa berpikir terlalu panjang.<br />
<br />
“Hah?” Levi tercengang.<br />
<br />
Aku mengangguk agak kaku.<br />
<br />
“Gue mau jadi pacar lo” aku menegaskan.<br />
<br />
Levi masih terlihat tak percaya, sampai beberapa detik – entah apa yang sudah dia temukan di mata ku, dia pun mengembangkan senyuman lagi di bibirnya dan kali ini ditambahi dengan gerakan tubuhnya.<br />
<br />
Dia mendekat, memelukku – membenamkan wajahnya di bahu kiri ku. Tubuhnya yang lebih sedikit kecil dan pendek dari ku, terasa menggoda untuk aku peluk kembali. Belum lagi ada wewangian yang menyeruak dari tubuhnya ditambah harum shampoo di rambut halusnya.<br />
<br />
Wanginya seperti bayi. Hangat, lembut, menenangkan pikiran dan jiwaku.<br />
<br />
Tanpa sadar aku pun jadi memejamkan mata, dengan agak ragu, tanganku menyentuh kedua pinggang rampingnya.<br />
<br />
Then we’re lovers since now, aren’t we?<br />
- - - - -<br />
<br />
Mataku mulai agak memberat ketika ku sadari sudah hampir satu jam aku duduk di sini dengan sebuah buku ensiklopedia terpampang di hadapanku. Aku pun menggerakkan tubuhku, sedikit menggeliat untuk menghilangkan pegal, kemudian seperti biasa tanganku mengacak-acak rambut spike ku. Itu pertanda kalau aku sudah mulai bosan.<br />
<br />
“Niel?” sapaan seseorang yang cukup aku kenal membuat aku tak jadi menguap. Aku menoleh dan melihat Dara, temanku yang datang. Cewek cantik itu memandangku dengan tatapan takjub sekaligus mengejek. Aku tahu, dia pasti tak percaya melihat aku ada di perpustakaan disaat jam kuliah sudah usai seperti ini.<br />
<br />
“Eh elo” ujarku sambil menutup buku ensiklopedia yang sebenarnya tadi memang hanya iseng aku baca untuk membunuh waktu.<br />
<br />
“Gak salah, gue lihat lo disini?” ujar Dara. See? Like I thought. Dara duduk di depanku dan masih mengamatiku dengan aneh.<br />
<br />
Aku memutarkan bola mataku.<br />
<br />
“Kenapa dah? Gue juga kan mahasiswa disini, emang gak boleh gue maen di perpus?!” sahutku acuh.<br />
<br />
Dara tertawa pelan. Dia mengulurkan tangannya dan merapikan rambut spike-ku yang agak berantakan.<br />
<br />
“Lo pasti cuma numpang tidur” ledeknya.<br />
<br />
Kami memang berteman cukup akrab. Aku mengenal Dara dari sejak kami ospek. Waktu itu kami satu kelompok di ospek universitas, tapi kemudian ternyata kami satu kelompok lagi di ospek fakultas – hingga ternyata kami juga satu kelas. Jodoh memang tak pernah ada yang tahu.<br />
<br />
“Ngapain lo disini?” Dara bertanya pula, karena aku tak menggubris ledekannya.<br />
<br />
“Baca” lagi-lagi aku menjawab pendek saja.<br />
<br />
Dara mulai mengeluarkan buku catatan dan pulpen nya.<br />
<br />
“Lo ngerjain apa?” aku balik bertanya, penasaran.<br />
<br />
“Ini, nyalin tugasnya Levi” jawab Dara sambil tersenyum tanpa dosa, dia menunjukkan sebuah kertas fotokopian. Buku tugas Levi memang laku sekali di fotokopi oleh anak-anak sekelas, karena Levi biasa langsung mengerjakan tugas setelah mata kuliahnya selesai.<br />
<br />
“Nyontek aja lo” aku balas meledek, padahal aku juga berencana untuk menyalin tugas dari pacarku itu nanti malam.<br />
<br />
Ah iya, aku sudah punya pacar lagi sejak seminggu yang lalu. Tapi tak ada yang tahu. Hanya aku dan Levi saja yang tahu. Aku jelas tak siap kalau sampai orang-orang tahu kalau sekarang pacar Levi adalah aku. Aku masih tak bisa membayangkan bagaimana mereka akan shock. Pasti tak ada yang menyangka kalau Adniel Prawira, yang selama ini mereka tahu biasa dekat dengan para gadis, sekarang berpacaran dengan seorang laki-laki. Sudah pasti mereka akan langsung men-judge kalau aku juga adalah gay… dan apakah sebenarnya aku ini gay atau bukan? Oh shit, whatever.<br />
<br />
Jujur saja sejak hari itu ketika aku mengiyakan untuk mau menjadi pacar Levi – aku merasa menjalani hidupku seperti mimpi. Setiap hari Levi akan mengirimiku sms-sms yang penuh perhatian dan semangat, beberapa malam juga dia kadang meneleponku. Aku tidak risih, tapi masih ada perasaan aneh. Mungkin aku perlu bicara dengan seseorang yang juga sedang menjalani keadaan sepertiku, tapi siapa? Aku hanya punya beberapa orang teman dekat yang bisa aku share tentang apa yang aku alami (baca: teman curhat). Salah satunya cewek yang berada di depanku ini, tapi apa aku bisa bercerita pada Dara tentang hubunganku dengan Levi? Walau selama berteman aku memang tak pernah canggung menceritakan apapun padanya, tapi aku merasa yang sekarang ini terlalu beresiko.<br />
<br />
“Heh, hape lo tuh!” sebuah sentilan kecil di kening, membuatku tersadar, aku memang jadi termangu dengan dagu di atas meja dan mata ku keasikan mengamati gerakan tangan Dara yang sedang menyalin.<br />
<br />
Aku nyaris tak merasakan ada getaran dari ponsel yang aku simpan di atas meja. Dara sudah akan mengambilnya, tapi beruntung aku lebih cekatan. Dia langsung menekuk bibirnya karena aku sedikit menepis tangannya. Memang gawat, mulai sekarang temanku ini tak boleh sembarangan lagi memainkan handphone-ku.<br />
<br />
Aku membaca ada sebuah sms, dari Levi tentu saja.<br />
<br />
Sender: Levi<br />
0856xxxxxxxx<br />
<br />
Aku udh di parkiran, kmu nunggu dmn?<br />
<br />
Cepat-cepat aku beranjak dari kursi sambil membawa tas ku. Dara berhenti menulis dan melihat ke arahku.<br />
<br />
“Mau kemana?” tanyanya.<br />
<br />
“Pulang”<br />
<br />
“Lho, kenapa gak nungguin gue? Gue mau nebeng”<br />
<br />
“Ye, biasanya juga lo pulang sama si Zaki kan?”<br />
<br />
“Nggak. Gue mau pulang sama lo sekarang, tungguin ya Niel, bentar lagi kok!” sahut Dara, terlihat risih begitu aku menyebut nama cowok yang aku tahu beberapa minggu ini sedang dekat dengannya. Dan aku belum tahu ada hal apa kalau memang sekarang Dara sudah tak mau dengan Zaki lagi.<br />
<br />
“Aduh, gue buru-buru. Dadah!” ujarku, menahan diri untuk peduli dengan raut merajuk di wajah cantiknya. Aku mengacak poni di keningnya sebelum berlalu dari sana. Dia sepertinya ingin meneriaki ku, tapi karena ini di perpustakaan, Dara pun hanya melihat ke arahku dengan sebal.<br />
<br />
Sorry Ra, now I’m not alone anymore.<br />
+ + + + +<br />
<br />
Gw kesitu skrg.<br />
<br />
Send.<br />
<br />
Delivered.<br />
<br />
Aku menyimpan kembali handphone-ku ke dalam saku celana setelah mengirimkan balasan singkat pada Levi. Aku melangkahkan kaki ku ke arah parkiran fakultas yang berada sedikit ke samping dari gedung fakultas ku. Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat Levi sedang menunggu disamping motorku. Beruntung, parkiran fakultas memang selalu sepi. Jarang ada anak-anak yang nongkrong disana karena tempatnya yang tak begitu luas.<br />
<br />
“Hey” aku menyapanya setelah mendekat. “Udah beres?” tambahku, menanyakan tentang rapat yang tadi dia jalani. Benar, selama sejam aku berada di perpustakaan memang untuk menunggunya yang sedang rapat bersama para senat mahasiswa. Entah apa yang merasuki ku, tapi untuk pertama kalinya lagi aku mau berkorban untuk seseorang seperti itu. Menghabiskan waktu sejam di perpustakaan, sungguh itu bukan tipe ku – tapi aku mau melakukannya demi Levi. Lucu sekali.<br />
<br />
“Aku keluar duluan” jawabnya. Wajah manisnya terlihat lelah dan tak nampak senyuman seperti biasanya.<br />
<br />
“Lho, emang boleh?”<br />
<br />
“Ah bodo amat lah. Pusing aku denger mereka ngedebatin hal yang gak perlu” ujar Levi. “Yuk, pulang yuk?” ajaknya pula, lalu memakai helm yang sejak tadi sudah dipegangnya.<br />
<br />
Aku tak mau banyak bertanya lagi, tampaknya Levi sedang bad mood. Tapi itulah, kenapa aku juga tak mau terlibat dengan urusan senat mahasiswa. Mereka terlalu banyak bergaya dan malah mendebatkan hal yang tak penting. Aku cukup jadi mahasiswa biasa saja, paling aku hanya mengikuti unit kegiatan Basket untuk mengisi waktu luangku. Tapi aku juga paham kenapa Levi harus berada disana, bagaimanapun, dia salah satu mahasiswa yang cukup berpengaruh di kampus ku.<br />
<br />
Baru aku menstarter mesin motor ku, tangan Levi sudah melingkar di pinggangku dan perlahan aku merasakan badannya yang merapat ke punggungku. Aku jadi mengedarkan pandanganku kesana-kemari, thanks God, tak ada siapapun. Aku pun segera memacu motorku, keluar dari area parkiran dan terus keluar menjauhi kampusku.<br />
<br />
. . . . .<br />
<br />
Kening Levi masih berkerut, dan tangannya memainkan kaleng minuman cola yang tadi sengaja aku belikan di mini market. Wajah manisnya benar-benar terlihat kusut. Aku mendekat dan berdiri di sampingnya, ikut menyandar pada pagar taman di belakang kami.<br />
<br />
“Di minum dong” kata ku, setelah meneguk minumanku sendiri. Levi tak menyahut dan hanya melirikku sekilas. Aku pun menawarkan kaleng minuman ku yang sudah terbuka, Levi ternyata menerimanya dan minum dengan perlahan. Ciuman tak langsung. Itu memang bukan hal yang luar biasa, aku sudah biasa berbagi minuman atau makanan dengan teman-teman cowokku, tapi karena posisi kami sekarang bukanlah sekedar teman – rasanya jadi canggung juga. Aku jadi salah tingkah sendiri setelah Levi mengembalikan kaleng minuman ku.<br />
<br />
“Maaf ya Niel, aku bikin suasana kita jadi gak enak gini” kata Levi akhirnya mau berbicara lagi.<br />
<br />
“Hm, nggak kok. Kalo lo perlu cerita, cerita aja sama gue, meski ya gue gak begitu ngerti urusan organisasi” sahutku.<br />
<br />
Levi memandangku beberapa detik sampai kemudian mengulas senyumannya yang sejak tadi belum aku lihat. Dia juga menggelengkan kepalanya, pelan.<br />
<br />
“Aku mau cerita yang seneng-seneng aja sama kamu” katanya, manis. Aku balas tersenyum. Dalam hati sangat gugup, tapi mati-matian aku menutupinya. Aku mengalihkan perhatian dengan meminum minumanku lagi, menghabiskannya begitu saja.<br />
<br />
“Eh, mau nonton gak?” tawarku setelah minum, mendadak terbersit ide untuk mengajaknya refreshing.<br />
<br />
Levi agak melebarkan mata besarnya.<br />
<br />
“Kamu ngajak aku kencan?” katanya, tampak gembira sekaligus tak percaya.<br />
<br />
Dengan gugup, aku kembali berpura-pura minum padahal kalengnya sudah kosong. Aku sama sekali tak sadar kalau ajakanku bisa disebut kencan. Dan memang selama satu minggu ini kami belum pernah benar-benar pergi berdua, kalau bukan hanya karena pulang kuliah bersama.<br />
<br />
“Aku mau. Sabtu besok ya?” tambah Levi cepat.<br />
<br />
“Ok” sahutku setelah berhasil mengendalikan diri. Levi semakin mengembangkan senyumannya, ia kemudian melihat ke sekeliling – sebelum tiba-tiba melancarkan satu kecupan ke pipi kiri ku.<br />
<br />
Aku terkejut lagi, dan disitu aku baru merasakan debaran aneh yang menyenangkan… namun agak menyesakkan.<br />
<br />
Argh.<br />
<br />
- - - - -<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>CINTA , masihkah sama seperti saat pertama ?</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733992/cinta-masihkah-sama-seperti-saat-pertama</link>
      <pubDate>Sun, 08 Apr 2012 20:02:29 +0000</pubDate>
      <dc:creator>adacerita</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733992@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Cerita ini akan di buat seperti cerita sinetron, jadi nga usah kecewa atau bahkan berharap cerita ini enak dan masuk logika.<br />
<br />
LANGSUNG AJA KE TKP]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Hanya Satu Bintang</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734918/hanya-satu-bintang</link>
      <pubDate>Mon, 21 May 2012 16:47:11 +0000</pubDate>
      <dc:creator>iimmlf</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734918@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Cerita Pendek<br />
Cerita ini hanya imajinasi penulis, jika ada kesamaan nama penulis mohon maaf.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Love Storm (About Love And Friendship PART 2)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732228/love-storm-about-love-and-friendship-part-2</link>
      <pubDate>Thu, 24 Nov 2011 04:25:32 +0000</pubDate>
      <dc:creator>arcclay</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732228@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[~Clay Pov~<br />
Ehm…ketemu lagi dengan clay si penulis yang tidak bisa membuat ending bagus (ngomong dengan lemah lesu…). Di sini saya punya cerita baru yang lumayan lama. Baru karena emang ini cerita baru, lama karena cerita ini masih ada hubungannya dengan cerita pertama saya yang judulnya ‘About Love and Friendship’. Tapi tenang saja. Bagi teman-teman yang tidak membaca ataupun yang belum membaca cerita saya dulu tidak perlu di baca karena crita saya dulu masih sangat jelek dan jauh dari layak…lagipula crita saya ini punya permasalahan dan konflik yang berbeda dari cerita saya yang pertama itu. Adapun cerita yang sudah saya buat ada 4 cerita dan semuanya gagal (terutama di endingnya), di antaranya adalah:<br />
<br />
1.	“About Love And Friendship” (masih jelek sekali)<br />
2.	“Good Boy Or Bad Boy?? Hmmmm…” (gagal endingnya)<br />
3.	“The Memories Of Him” (parah sekali endingnya)<br />
4.	“Butterfly” (Cerpen coba-coba. Benar-benar hancur)<br />
<br />
Di antara ke 4 ceritaku di atas, no 1-3 itu berkaitan. Tapi sekali lagi saya tegaskan, bagi teman-teman yang tidak membaca ataupun yang belum membaca cerita saya dari awal, tidak perlu di baca karena crita saya dulu masih sangat jelek dan jauh dari layak…lagipula semua crita saya punya permasalahan dan konflik yang berbeda dari cerita yang lainnya.<br />
<br />
Sedangkan cerita saya kali ini berkaitan dengan cerita pertama.<br />
<br />
<br />
Lalu saya sebagai penulis abal-abal meminta maaf kalau anda-anda kecewa dengan ending cerita yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari “The Memories Of Him”. Sebenarnya saya sudah mempersiapkan ending ke dua setelah melihat anda-anda sekalian berprotes ria. Tapi sewaktu saya mau mengganti endingnya…banyak di antara kalian yang tidak setuju...tapi di sisi lain banyak juga yang meminta ganti endingnya..jadi saya benar-benar tidak bisa untuk memutuskan baiknya bagaimana.<br />
<br />
DEMIKIAN PIDATO SINGKAT DARI SAYA SI PENULIS ABAL-ABAL INI…KALAU ADA KATA YANG SALAH DAN KATA YANG KURANG PANTAS, SAYA MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA.<br />
<br />
SALAM…… CLAY<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
(Wkwkwkwkwkwk…sekalian belajar bikin proposal XD)<br />
(NB…biarpun ada 5 character, tapi aq cm pakai 2 sudut pandang dan sisax dari sudut pandang penulis… ^^)<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Rey~<br />
Cinta itu rumit. Lebih rumit dari matematika, kimia dan fisika.<br />
<br />
~Kevin~<br />
Cinta itu manis. Cinta suci nggak seperti permen karet yang manisnya di awal saja. Sama seperti cintaku yang manis..manis yang tiada habisnya. Cintaku semanis madu.<br />
<br />
~New Character 1~<br />
Cinta itu menarik. Aku akan mencintai orang yang menarik.<br />
<br />
~New Character 2~<br />
Cinta itu harus egois.<br />
<br />
~New Character 3~<br />
Cinta itu butuh pengorbanan dan ketulusan. Cinta nggak boleh egois.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Author Pov~<br />
Duk…duk…duk…duk…duk…sssrrreeetttt….pppllaaaazzzzz….<br />
<br />
Sebuah bola baru saja di lempar ke dalam sebuah ring oleh seorang cowok berwajah cool yang yang terkesan imut (kek gmn ya??). Cowok itu sudah menghabiskan 2 jam di lapangan terbuka itu. Sudah berkali-kali dia berlari ke sana kemari dengan men’dribble bolanya kearah ring, lalu dengan lincahnya dia meloncat dan memasukkan bola itu. Akhirnya setelah beberapa kali memasukkan bola ke ring, dia berhenti untuk istirahat. Di topangkannya ke dua tangannya ke lututnya sambil berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Dari kepala, wajah, leher serta seluruh tubuhnya terlihat basah terkena keringat yang terus keluar. Keringat itu akan jatuh ke lantai setelah menggantung beberapa detik di dagunya yang ramping itu.<br />
<br />
“Rey minum dulu!!” seru seorang cowok yang daritadi hanya duduk di tepi lapangan.<br />
<br />
Cowok yang di panggil Rey tadi akhirnya berjalan ke tepi lapangan dan menghampiri cowok yang memanggilnya itu. Rey’pun langsung menerima botol berisi air mineral yang di sodorkan cowok itu. Dia meminumnya beberapa teguk lalu sisanya di tuang ke atas kepalanya sehingga membuat rambut dan kepalanya menjadi basah kuyup.<br />
<br />
“CK….AAAHHHHHH…BASAH KAN!!” teriak cowok yang duduk tadi dengan histeris saat Rey menggoyang-goyangkan kepalanya, membuat air yang berada di rambutnya memercik ke arah cowok itu.<br />
“Hujan local,” desis Rey sambil mendudukkan pantatnya di samping cowok itu.<br />
“Hujan local…hujan local apanya!! Sengaja kan?!” dengus cowok itu sambil membersihkan wajahnya dari percikan air tadi, sedangkan Rey cuma tersenyum samar di bibirnya yang tipis itu.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Kevin Pov~<br />
Bener-bener deh dia ini. Bikin kaget aja bisanya.<br />
<br />
“Mana?” tanya Rey sambil menyodorkan tangannya ke arahku.<br />
<br />
Aku yang tahu apa yang dia maksud, langsung menyerahkan hp beserta headset ke arahnya.<br />
<br />
“Jangan berkomentar dan jangan memasang wajah aneh!!” kataku cepat saat melihatnya mulai memakai headset ke telinganya.<br />
<br />
Sedetik kemudian dia langsung melihat ke arahku. Nggak lama setelah itu dia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Seketika itu juga rasa malu langsung menyergapku. Aku yang malu akhirnya cuma bisa menolehkan kepalaku kearah yang berseberangan dengannya. Karena dia ada di samping kananku, jadi aku menoleh ke samping kiri. Aku lakukan itu untuk menghindari tatapan matanya.<br />
<br />
Ah…harusnya aku nggak memberikan rekaman itu padanya.<br />
<br />
Sewaktu aku sibuk dengan pikiranku, aku mulai merasakan dia mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik….“Too,” tepat di telinga kananku. 1 kata yang nggak jelas maknanya itu sudah bisa membuat jantungku berdetak kencang. Dia sukses membuatku jadi salah tingkah lagi dan lagi.<br />
<br />
“Ki…kita pulang aja. Besok kan hari pertama kita kuliah. Aku nggak mau kalau sampai telat,” kataku sambil beranjak pergi meninggalkannya.<br />
<br />
Aku terus berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi. Tapi aku tau kalau Rey sedang mengikutiku, karena terdengar pantulan bola dari arah belakangku.<br />
<br />
Rey…dia adalah pacarku..BF ku. Kami berpacaran sudah hampir 2 tahun ini. Hubungan kami terjalin ketika kami masih kelas sebelas. Dan selama itu hubungan kami ini selalu adem ayem. Yach…biarpun kami pernah bertengkar, tapi pertengkaran itu nggak sampai membuat runyam hubungan kami. Sebenarnya hubungan kami ini sudah lumayan jauh…Yaaaahhhh…tau sendirilah apa maksudku dengan ‘lumayan’ hahahahahaha… Tapi biarpun begitu, aku masih sering merasa malu dan merasa aneh jika sudah berhadapan dengannya. Apalagi kalau dia sudah mulai kumat usilnya.<br />
<br />
“Sampai kapan mau dengerin itu?” sindirku saat melihat Rey belum melepas headsetnya.<br />
“Sampai aku puas,” jawab Rey sambil terus men’dribble bolanya.<br />
<br />
Sekarang dia sudah berjalan di sampingku.<br />
<br />
“Tapi itu cuma bikin aku malu tau,” dengusku salah tingkah.<br />
“…”<br />
<br />
Merasa nggak mendapat respon yang berarti aku mulai melirik ke arahnya. Terlihat Rey sedang menatap lurus ke depan sambil terus tersenyum samar.<br />
<br />
Tadi iseng-iseng, aku merekam suaraku di hpnya. Hal ini sudah aku lakukan dari beberapa bulan yang lalu. Ya itung-itung untuk menghilangkan kebiasaannya mendengarkan headset kosongnya itu. Tapi bedanya, kalau yang lalu-lalu itu aku merekam sesuatu yang bisa menyemangatinya dalam berbagai hal, sedangkan rekaman tadi tentang perasaanku padanya. Padahal nggak sekali dua kali ini aku bilang ke dia kalau aku ini menyukai dan mencintainya, tapi nggak tau kenapa saat bilang seperti itu, aku tetap aja malu. Aneh kan hehehehe….<br />
<br />
Akhirnya kami berdua sampai juga di kost-kost’an yang letaknya masih satu kompleks dengan lapangan umum tadi. Kami berdua terpaksa kost karena tempat kuliah kami ini cukup jauh dari rumah. Sebenarnya aku kurang suka ngekost di sini. Para penghuninya benar-benar nggak bisa bersosialisasi dengan baik. Semua penghuni kost ini selalu jarang ada di kost karena sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, setelah pulangpun mereka akan langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci diri mereka di ruangan yang lebarnya nggak seberapa itu. Kalaupun nggak sengaja bertemu, pasti cuma saling melempar senyum satu sama lain aja. dan parahnya di kost ini nggak ada yang bisa di buat cuci mata hehe..semua penghuninya jelek-jelek atau di bawah rata-rata. Cuma ada mahasiswa abadi yang tubuhnya gemuk, bapak-bapak setengah baya yang profesinya sebagai guru, seorang karyawan kantoran yang berbadan kurus kerontang, dan seorang anak sekolahan yang masih SMP dan kelihatan sangat culun banget. Tapi karena kost ini pilihannya Rey, aku akhirnya nurut aja. Aku nggak mau kalau sampai di bilang bawel sama Rey gara-gara kebanyakan milih. Asal ada dia di sampingku itu sudah cukup.<br />
<br />
“Kamu mau langsung tidur?” tanya Rey saat melihatku langsung masuk ke dalam kamarku.<br />
<br />
Biarpun kami sepasang kekasih, tapi kami masih tetap menyewa dua kamar. Karena kalau satu kamar nggak akan cukup untuk kami berdua. Tempat tidurnya memang di rancang untuk satu orang dan lebar ruangannya cuma beberapa inci saja hehe…<br />
<br />
“Iya, aku udah ngantuk banget soalnya,” jawabku sebelum menguap lebar, “kamu cepet mandi dan tidur. Besok kita mesti bangun pagi buat ke kampus. Aku nggak mau hari pertama telat.”<br />
“Hmm…”<br />
<br />
Baru saja aku masuk kedalam kamar dan menutupnya terdengar ketukan di pintu kamarku.<br />
<br />
“Ada apa Rey?” tanyaku sambil membuka pintu kamarku lagi.<br />
<br />
Tapi tiba-tiba…<br />
<br />
CUP…<br />
<br />
Rey mengecup bibirku. Singkat tapi cukup membuat rasa ngantukku hilang entah kemana.<br />
<br />
Perlahan-lahan Rey mulai melepas ciumannya. Dari jarak yang sangat dekat ini, dia memandangiku dengan sangat lekat. Membuat dadaku kembali berdebar.<br />
<br />
“Good night,” desis Rey sambil membelai bibir bawahku dengan jari-jarinya.<br />
<br />
Nafasnya yang berbau mint langsung menerpa wajahku karena jarak kami yang hanya beberapa mili itu. Setelah itu dia langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya yang ada tepat di samping kiri kamarku. Meninggalkanku yang masih mematung karena kaget. Tiba-tiba aku seperti tersadar dari sesuatu dan langsung melongokkan kepalaku ke depan kamar. Menengok ke kiri dan ke kanan. Sepi. UNTUNG &gt;&lt;. Setelah itu aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya.<br />
<br />
Dasar Rey..ulahnya selalu aja bikin aku kaget. Gimana kalau tadi ada yang memergoki kami?? Bisa bahaya kan. Dasar. Dia itu..hhhaaaaahhh…<br />
<br />
Aku langsung menghela nafas untuk menenangkan jantung yang berdetak nggak normal ini.<br />
<br />
“Awas..kapan-kapan bakal aku balas,” dengusku, “ka…kalau berani,” desisku lagi sambil meraba bibirku.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Author Pov~<br />
Di tempat lain….beberapa meter dari tempat kost Rey dan Kevin terdapat sebuah café yang di penuhi dengan pengunjung. Café itu sebenarnya nggak terlalu mewah, tapi karena desain nya yang unik dan sangat menarik membuatnya hampir nggak pernah sepi dengan pengunjung. Sekilas café ini nampak seperti café khusus pria penyuka sesama jenis. Hal itu terjadi karena sebagian besar pengunjung memang seorang gay. Tapi sebenarnya itu cumalah café biasa yang juga ada pengunjung heteronya. Jadi nggak semua pengunjung adalah pasangan gay.<br />
<br />
“Udah hampir jam 12, kamu nggak pulang?” tanya seorang cowok yang masih sibuk membuat minuman pesanan pelanggannya.<br />
<br />
Cowok yang usianya sudah mendekati kepala 3 itu mempunyai wajah yang hmm…gimana ya..ehm..enak di pandang. Dari wajahnya terlihat kalau dia adalah orang yang sabar dan kalem (bhs indox kalem apa ya??hehe). Sikapnya selalu tenang, membuat orang yang berada di dekatnya menjadi nyaman. Rambutnya dipotong ala emo. Jadi rambut bagian atasnya pendek seperti potongan cowok pada umumnya, sedangkan rambut yang bagian dalamnya panjang hingga sepinggang dan selalu di kuncir. Sekilas jadi terlihat seperti ekor kuda. Di tangan kiri cowok itu terlihat tattoo naga dan ular yang saling melilit dari siku sampai punggung tangannya. Kepala naga dan ular itu saling berhadapan di punggung tangannya, seolah-olah ingin menerkam satu dengan yang lainnya.(ugh..dri dl aq pngn tattoo ini..hiks..tp g di bolehin ama kakakq.pdhl dia sendiri dah pnya tattoo di mana2 &gt;&lt;). Dialah pemilik café itu. Namanya Diaz.<br />
<br />
“Masih males,” jawab cowok yang duduk di depannya.<br />
<br />
Jarak mereka hanya terpisah oleh meja yang berbentuk huruf L tanpa siku-siku (bayangkan meja yg ada di cafe2 atau di club mlm. Yg ada bartenderx itu loh ^^).<br />
<br />
“Besok bukannya kamu harus ke kampus buat ngospek anak baru?” tanya Diaz sambil memberikan minuman yang dia bikin tadi ke Tommy, salah satu pegawainya.<br />
“Aku masih malez Di,” jawab cowok yang memakai bandana hitam di kepalanya.<br />
<br />
Eeiiittzzz…bukan seperti yang kalian pikirkan. Dia memang memakai bandana di kepalanya, tapi dia bukanlah seorang cowok yang suka berdandan. Bandana hitam itu di pakainya untuk menyingkirkan rambut depannya yang selalu menutupi sebagian matanya. Selain itu dia memakai bandana itu karena sudah menjadi kebiasaannya. Lagipula bandana itu tipis, jadi nggak terlalu terlihat mencolok mata. Sebenarnya wajahnya ya rata-rata wajah orang Indonesia biasa, tapi karena penampilannya yang selalu terlihat keren membuatnya jadi punya nilai plus di mata orang-orang. Nama cowok itu adalah Miko.<br />
<br />
“Hmm..ya udah terserah. Tapi jangan nyalahin aku kalau kamu bangun kesiangan besok.”<br />
“Nggak. Palingan cuma menuntut.”<br />
“Enak aja.”<br />
“Hehehehe…”<br />
<br />
Akhirnya ke dua cowok itu terus terlibat obrolan ringan. Mereka bahkan lupa kalau hari sudah berganti karena jam sudah melewati angka 12.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
~Clay Pov~<br />
Hehehehe…gmn? Lanjut? Apa ada yg penasaran ama sudut pandang k 2 nya?? hahahaha…]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>A Competition</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734939/a-competition</link>
      <pubDate>Tue, 22 May 2012 20:06:02 +0000</pubDate>
      <dc:creator>lockerA</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734939@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[insomnia gw kambuh lagi. Hufhh...<br />
Daripada begong mending tuangin ide di kepala...<br />
<br />
Ada yang msh terjaga???]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Without Sunshine</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733061/without-sunshine</link>
      <pubDate>Sat, 04 Feb 2012 07:43:53 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Pieterrr</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733061@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[                                                                        PROLOG<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Karena, ada sebuah ruang kosong dihatiku, tepatnya sebuah ruangan kecil yang diisi oleh Petra. Aku tau, sangat tau, bahwa aku juga..<br />
<br />
Aku juga mencintai Petra.<br />
<br />
Ruangan kecil itu, kini membuatku teringat kembali akan masa-masa pertama saat aku jatuh cinta pada Petra, jatuh cinta pada pandangan pertama.<br />
<br />
Tapi, aku sedikit ragu akan perasaan itu. Petra hanya sebagian kecil. Oscar memilki ruang yang lebih luas. Oscar memiliki hampir seluruh hatiku. Oscar, sama seperti namanya ‘Sunshine’ yang selalu menghangatkanku dan meyinariku didalam naungan cintanya. Petra adalah Moonlight , yang selalu memberikan Cahaya kepada bumi saat bumi kehilangan Cahaya Matahari ‘Sunshine’.<br />
<br />
Petra menjadi cahaya bulan, saat aku benar-benar kehilangan cahaya hari-hariku. Oscar menghangatkanku dengan cintanya, tapi Petra mendinginkanku dengan pesonanya.<br />
<br />
Petra, bila itu yang membuatmu marah padaku, aku minta maaf. Tapi, cintaku lebih besar kepada Oscar, sang cahaya itu.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Part 1<br />
<br />
<br />
Satu hal, mungkin satu, ah tidak... aku tidak mau mengingatnya lagi. tahukah kalian gerimis? Yes, gerimis. Proses kondensasi langit ini, sangat membuatku terpukau, seuatu hal yang terkadang harus membuatku meraung-raung karena saat melihatnya, aku selalu terbayang akan cinta ayahku kepadaku, Chazoun Koroun<br />
Papa sudah meninggalkan kami selama 1 tahun lamanya. Saat itu papa hendak akan pergi konser diSpanyol, ya, Papaku adalah seorang pianist hebat. Namun naas, pesawat yg Papa tumpangi tak mampu Landing dengan sempurna. Sudah laahh, lupakan semua itu….<br />
Papa menganugerahi aku sebuah talenta yg luar biasa, seperti yg Papa punya. Sampai sekarang aku masih, dan akan selamanya menjadi seorang pianist.<br />
Kami sangat beruntung, walaupun ditinggal Papa, tapi materi sangat melimpah yg Papa tinggalkan untuk kami, bahkan bisa dibilang mampu menafkahi kami sampai keturunan ke5. Hahahha …<br />
Mama dulu adalah seorang penyanyi Jazz yg terkenal di Jakarta. Kata Mama, dulu Mama bertemu dgn Papa di sebuah Café. Hahha, mereka begitu sempurna….<br />
Papa asli keturunan Manado, kalau Mama itu keturunan Jawa. Hmmmm…. but, kami tinggal di Medan. apakah itu terdengar sedikit Weird???<br />
<br />
--oOo--<br />
<br />
Tit-Tit-Tit<br />
Ada messenger dari Dharma.<br />
Dharma Koroun: Dave, tolongin kakak…<br />
<br />
“Hmmm, tumben2an Dharma minta tolong”, pikirku dalam hati<br />
<br />
Dave Koroun : minta tlg apaan Dhar??<br />
Kebiasaanku dari dulu, aku tak pernah memanggil dia dengan sebutan kakak. Hahaha , padahal dia adalah kakak kandungku .<br />
<br />
5 menit sudah, tapi tak kunjung dibalas oleh  Dharma<br />
Dave Koroun : PING!!!<br />
<br />
30 menit sudah aku seperti orang bodoh yang menatap kosong kearah HP batangan ini. Dharma belum juga membalas pesan itu. Heh?! Tunggu! Bukannya dia tadi yg ingin meminta bantuaan, kok justru saya yg malah menanti-nanti jawaban dari Photograper gadungan itu?!<br />
Dharma sangat menyimpang dari jalur hidup kami, hahaha, tau knp?! Dia seorang Photograper!! Sangat tak ada hubungannya dengan darah yg kluarga kami anut!<br />
Temen2, hati2 yaa ama si Dharma! Dia PLAYBOY!! Si Photograper ini mempunyai pesona dan karisma yang , Beh, begitu memuakkan untukku, tau knp? Karena, semua cewek2, wanita2, tante2, emak2, nenek2 dan para banci2 akin terklepek-klepek melihat siGila satu ini! Itu sangat membawa petaka untukku! Hah?! Seharusnya Papa juga memberikan soft copy wajahnya padaku, bukan si Gila! Aku harus dapat bersyukur dgn wajah Mama ini, wkwkwk, kalem, teduh, dan menghanyutkan!<br />
Tok, tok , tok<br />
“ Masuk Ma, Ga dikunci”, seruku sambil melongok kearah pintu. Aku yakin itu Mama, karena sekarang hanya aku dan Mama tinggal dirumah Gede ini. Sedangkan Dharma? Dharma lebih memilih untuk tinggal di Apertementnya sendiri. Mungkin dia melaksanakan kegiatan kumpul kebo disana, mungkin!<br />
“ Udah bobok Dave?”, tanya Mama sembari duduk disampingku  yg sedang berbaring diatas  tempat tidur. “ ahh, tentunya belum” lanjut Mama.<br />
“ Kenapa emangnya Ma?”<br />
“ Hmm, gini, Mama mau mindahin kamu dari sekolah kamu, Mama udah nemuiin sekolah yg TOP buat kamu! Kamu pasti suka, karna Mama pengen kamu bisa lebih mengembangkan bakatmu disekolah itu”<br />
“ okedeh Mam, tapi apa gak terlalu cepat untukku? Secara, aku baru satu<br />
semester di sekolah ini?” tanyaku. Mama hanya menggeleng dan mengecup kepalaku dan berlalu begitu saja. Aku tak akan membantah apa kata mama. Mama pasti memberi yg terbaik untukku.<br />
Hoaaammmm,udah jam 11 malam.  Nite Pap, Mam, and bye SMAN 4.<br />
<br />
--oOo--<br />
New school….<br />
“ Hai smua, perkenalkan nama saya Dave Koroun, saya pindahan dari SMAN 4. Mohon bantuannya”, kataku seraya memperhatikan seluruh penghuni ruangan. Widih, ini sekolah atau apaan sih? Kok smua pada cakep2 ya? Sangat malah! Bisa betah nih! Ada banyak siswi yg tersenyum dan melambai kearahku, dan kubalas dengan sebuah senyuman simpul.<br />
“ okay Dave, Bapak ucapkan, SELAMAT DATANG DI SMA PELITA BANGSA II. Hmm, tapi maaf Dave, disini bangku yg tersisa hanya bangku disebelah Oscar, apa kamu tak keberatan jika duduk bersebelahan bersama dia?”<br />
“ gak papa pak, saya senang malahan” seruku ke Pak Guru yg belum kuketahui namanya itu.<br />
“ ok Dev, silahkan duduk nak”<br />
“ sipp pak” jawabku sambil berjalan menuju bangku baruku. “awwww” lenganku sepertinya ada yg men cubit, dan itu benar adanya, karna ada anak siswi yg men cubit  lenganku.  Cantik, rambutnya bergelombang, tampaknya dia keturunan Chinesse<br />
“ Jeniffer, panggil Jeje aja” sapanya memperkenalkan diri. Aku hanya tersenyum seadanya.<br />
Akhirnya sampai juga aku ketempat yg kutuju. “ Boleh duduk disini?”, tanyaku kepada anak siswa yg sangat tampan itu, wajahnya sangat sempurna. Bibir tipis dan merah menempel diwajahnya. Hidungnya yg mancung. Hahha jadi  teringat salah satu personil Suju yg ganteng,  Sii Won (betul ga penulisannya?) Dia tak bergeming . Tanpa menunggu persetujuan darinya aku lansung saja duduk. “ hei, namaku Dave? Kamu?” dia hanya menoleh sebentar kearahku dengan air muka yg datar, dan lansung membuang muka, tanpa menggubris pertanyaanku.<br />
Ahh, percuma ganteng, tapi sombongnya ntu selangit! Padahal , jarang banget orang yg aku sapa duluan! Ahh.<br />
Sebenarnya aku tau namanya, karna tadi sempat di kasih tau ama Bapak Guru itu. Oscar. Tapi aku penasaran juga dengan nama lengkapnya. Sidikit kucuri-curi pandang kearah tempat namanya “ OSCAR ADITYA” namanya bagus. Dia harum skaliiiii. Huaaaa!!!!!! Wanginya begitu maskulin, jarang aku mencium wangi parfum yg seperti ini. Kalah deh wangi parfum gue.<br />
Aku terus mencium wanginya yg begitu….  “ hooiii! Ngapain loe?”<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Permainan Terlarang</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734141/permainan-terlarang</link>
      <pubDate>Tue, 17 Apr 2012 06:21:12 +0000</pubDate>
      <dc:creator>xchoco_monsterx</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734141@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Author Note:<br />
Cerita ini hanya fiktif belaka kalau ada nama atau tempat yang mirip dengan kenyataan itu cuma kebetulan belaka. Selamat menikmati^_^.<br />
<br />
<b>Honeymoon bagian 2</b><br />
<br />
Sorry baru posting lagi soalnya lagi keenakkan honeymoon hehe:). Kita sekarang ada di Paris udah nyampe 3 hari lalu. Wuiih gila keren banget yang namanya Paris gak salah lah kalau Paris tuh disebut ibukotanya fashion dan seni. Ngeliat kekiri dan kekanan penuh dengan keindahan. Sorry sekali lagi gue gak bisa kasih detail hihi, kalau mau detail lebih lanjut masuk aja ke blognya siMiki and tumblrnya.<br />
<br />
Tapi bener deh siMiki gak ada capeknya, gue terseret kesana-kemari sama dia alhasil gue gak ngeh kemana aja ini kaki berpijak. Gak apa-apalah namanya juga cinta I will do anything for you MY LOVE.<br />
<br />
Oh, ya sekarang kita nginep dirumahnya Francis dan Rene sesama teman blogger. Rumahnya diluar Paris nama tempatnya? aduh susah gue ngetiknya susah banget namanya takut salah, udah yah mending ke Miki aja biar jelas.<br />
<br />
Mereka baik banget deh udah jadi tur guide kita, ditraktir makan mulu dan yang terakhir diajak nginep dirumah mereka, jadi terharu:'). Dirumah mereka kita diajak keliling soalnya rumahnya berada dipedesaan gitu terus sore harinya kita ngobrol, bikin makan malan, makan malam dan ngobrol lagi.<br />
<br />
Ini hasil obrolan kita. Francis senang banget sampai jejingkrakan(gak juga deng:D) karena katanya impian dia buat ketemu kita tercapai. Halah, si Francis bisa aja. Dia bilang dia senang ada pasangan kayak kita dan salut banget dengan keberanian gua dan Miki untuk mengambil keputusan menikah walau dengan semua cemoohan yang ada.<br />
<br />
Terima kasih Francis meskipun cemoohan dan hinaan itu datang bertubi-tubi tapi kita pantang surut karena masih ada orang-orang seperti Francis dan Rene yang selalu setia kasih dukungan dan kepercayaan, buat gua dan Miki cukup itu yang terpenting.<br />
<br />
Francis juga bilang gak nyangka udah 18 tahun sudah gue menulis blog nemenin dia pas pertama kali dia datang ke Indonesia sampai akhirnya dia balik lagi.<br />
<br />
Haha..., iya yah udah 18 tahun gile lama banget dari yang awalnya cuma iseng doang, dipikir ga ada yang baca eh taunya ratusan yang baca. Udah pindahan blog ampe 3 kali, pernah kena somasi dan lain sebagainya. Kira-kira kebo yang culun itu kebayang gak yah bisa ampe begini.<br />
<br />
Duh Mikiku yang sedang tertidur pulas disebelah gue kamu nyangka gak beib kalau kita bisa begini. Capek banget kayaknya sibebeb ini. Selamat malam beib mimpiin aku yah beib (cium keningny Miki, tarik selimut, peluk Miki seerat-eratnya).]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>cowok keripik jengkol (the gossip boy) CountDown to Sheet 26</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732314/cowok-keripik-jengkol-the-gossip-boy-countdown-to-sheet-26</link>
      <pubDate>Sat, 03 Dec 2011 00:12:05 +0000</pubDate>
      <dc:creator>be_biant</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732314@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Sheet 1;<br />
<br />
Inilah gambaran sebuah sekolah swasta termiskin seantero kota Palembang; biaya SPP paling murah, fasilitas serta mempunyai kelas yang terbatas, kebutuhan pokok dan property ala kadarnya, sumber ilmu berdasarkan kurikulum yang terbit berkisar lima tahunan silam, lapangan berumput multifungsi mulai di gunakan sebagai upacara sampai olahraga. Kalo hujan, pasti becek, gak ada ojek…<br />
<br />
Siapa menyangka, siapa menduga kalo sekolah seburuk itu punya siswa yang paling nyebelin, sombongnya amit-amit. Tak ada siswa laen yang pernah ngaku sekedar deket dengannya, apalagi denger curhat masalah pribadi hidupnya. Bibirnya beku, bicara sekedar menjawab pertanyaan penting menurutnya, dan terkadang membantah!<br />
<br />
Sirat matanya penuh rahasia, wajah cute nya selalu mengundang tanda tanya, banyak orang yang tertipu oleh muslihatnya. jika berada disampingnya akan merasakan dingin yang mematikan, tak ada yang mau bertahan lama dengan makhluk seperti manekin itu. Warna kulitnya putih bersih, seragam sekolah yang dikenakannya tidak pantas, seperti baju dan celana bekas. Minusnya, dia pendek. Jika tinggi sedikit saja, ia pasti jadi seorang artis terkenal. Tambah di idolakan banyak orang, dan tambah congkak tentunya…<br />
<br />
Inilah alasan kenapa ia disebut keripik, ia kriuk banget, serta nge gemesin. Cemilan berkelas yang punya cita rasa. Sayangnya, rasa itu kayak jengkol. Setelah tau rasa itu tak nyaman, sebagian besar orang menghindarinya, punya gengsi sendiri menyadari kalo kita suka. So, apa pendapat kamu soal keripik jengkol?? Itulah dia!<br />
<br />
Cowok keripik jengkol itu mengenakan tag name Rakha Pramadhan di baju sekolahnya, ia duduk di bangku kelas sepuluh bareng tiga7 siswa laennya. Waktu MOS kemaren, dia paling kalem, nurut, namun agak lemot. Belom jadi senior aja, sifat aslinya udah ketauan. Nyesek di dada sih, pas tau orangnya kayak gitu. Tapi apa boleh baut,…<br />
<br />
Sebagian waktunya dihabiskan untuk menyendiri, tanpa berinteraksi. Hobinya menggambar manga, hasil karya tangannya halus, ia lebih suka nulis di papan ketimbang nyatet di buku. Warna kesukaannya putih, musik kegemarannya semua suka, kecuali dangdut, ia bukan asli keturuanan kerajaan Palembang, tapi jajanan favoritenya “Mpek-mpek empat, sama cuko” setiap kali jam istirahat<br />
<br />
Menurut desas desus yang beredar, Rakha itu sosok yang pernah berprestasi di SMP nya, mimpinya pengen masuk sekolah bergengsi punya, tapi sayang, bonyoknya gak sanggup bayar admin nya, jadi terkarau di SMA pedalaman. Gosipnya, dia sengaja sekolah disini karena “Terpaksa!”<br />
<br />
Jreeeeeeeeeeeenggg!!!..... All crew shock….  “APAA??!!”<br />
<br />
Rakha benci sekolah disini, ia benci semua yang ada di sekolah ini. Termasuk Kepala sekolahnya, Gurunya, Temennya, bahkan termasuk penjaga sekaligus perawat sekolah ini yang suka bersih-bersih. Pedagang kaki lima, warung makan (lebay kalo disebut kantin, cuz menu jualannya gak komplit-komplit amat.) lalu yang jual empek-empek itu juga gak kalah nyebelin, udah beberapa minggu jadi langganan, tetep! Gak bisa ngutang!<br />
<br />
***<br />
<br />
Jam istirahat kali ini, Rakha mutusin gak mo jajan mpek-mpek lagi. Bukan karna ia merasa kenyang atau gak nafsu makan, cowok yang kira-kira baru berusia  lima belas tahunan ini tidak dikasih jatah sama nyokapnya, mereka miskin sekali.. bokapnya pengangguran sejak dia tamat sekolah tingkat SMP nya, nyokapnya buruh cuci dua rumah sekaligus. Tentu pendapatan segitu tidak akan memenuhi kehidupan mereka, apalagi menghidupi empat anaknya, termasuk Rakha, anak ketiga dari mereka. Ngeselin, curhat tentang ini!<br />
<br />
Di kelas 2belas IPA, seorang wanita berperawakan manis menyambut hangat kedatangan cowok cute ini. Rakha sendiri telah lupa, bagaimana mereka bisa berteman sebelumnya? Meski wanita ini kontras sekali terlihatnya, namun bagi Rakha dialah satu-satunya paling special di sekolah ini. Bukan alasan Rakha jatuh cinta sama dia. Tapi, jika sudah berada di sampingnya dan sedikit bercerita, maka Rakha akan merasa lega. Tidak seperti penduduk lainnya yang sedang menuntut ilmu disini, bisanya hanya bergossip!<br />
<br />
Harus Rakha presentasikan siapa wanita ini, namanya Vidya. Rakha memanggilnya “Ayuk” itu sebutan kakak perempuan bagi orang Palembang. Ia pernah mengatakan minder ketika Rakha berusaha ingin mengajaknya kewarung sekedar jajan es. Yang jadi masalahnya, kulit Vidya nampak hitam kelam sedang Rakha putih sekali. Sesungguhnya, itu tidak jadi masalah. Yang bermasalah itu, mereka yang secara diam-diam sedang mengatakan “kalo tinta diatas kertas sedang berjalan.” Itulah, kenapa dibilang kontras!<br />
<br />
Kali ini, kedatangan cowok keripik jengkol ini tidak untuk mengajaknya keluar kelas dan ngebikin heboh masyarakat setempat. Ia hanya ingin duduk santai, apalagi kelas 2belas IPA dikenal sangat nyaman untuk istirahat. Angin disini sepoi-sepoi, AC alami. Walaw panas membakar sekalipun.<br />
<br />
“Dimana kak Joe?” suara merdu Rakha terngiang memecahkan kesunyian. yang lainnya bukan tidak ada, hanya saja rata-rata kakak kelas disini mengisi kekosongan jam istirahat mereka dengan tidur bermalas-malasan. Jadi suasananya tetap sepi.<br />
<br />
Joe, ialah sosok cowok resminya Vidya. Namun, ia tau… dan tidak merasa cemburu ataupun terganggu jika pacarnya,.. Rakha pinjem sebentar. Malah setiap jam kosong, Joe mempercayakan pada Rakha untuk pacarnya dititipkan. Ya iyalah, mana mungkin Rakha mau… pacaran sama sahabat sendiri, apalagi sama pacar sahabat sendiri!<br />
<br />
“Kakak, lagi beli sesuatu untuk bisa kita makan..” ujarnya tak kalah lembut. Bukan sok imut, tapi di area sini kudu control suara. “Harap maklum dan tenang” begitu yang tertulis di Papan. “mpek-mpek!” lanjut Vidya menerangkan<br />
<br />
Dalem hati Rakha seneng gila, ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya sampe empat jam pelajaran berikutnya.<br />
<br />
“Gimana belajarnya? Gurunya nyaman gak?”<br />
<br />
Vidya paling tau apa yang sering di keluhkan Rakha. Pertama, pelajaran ekonomi akutansi, Pak Deny yang ngajar itu tidak memberikan soal. Tapi malah menyuruh semua muridnya mengumpulkan uang jika mau nilai mata pelajarannya besar. Yang berikutnya, Ibu Virgo dengan pelajaran fisikanya yang gak pernah bisa kompromi dengan angka, salah sedikit, maen cubit di bagian perut,.. sakit banget, asli! Ada yang suka ceramah bikin ngantuk, ada yang langsung ujian harian, padahal sekolah aja baru berapa minggu. Gak nyangka, sekolah jelek-jelek gini masih banyak kurangnya..<br />
<br />
Rakha menghela nafas sesaat, perjalanan dari kelasnya cukup melelahkan. Ia lalu terperosot disalah satu bangku deket Vidya.<br />
<br />
“Gue gak pernah nyangka, nilai gue ternyata paling buruk hari ini! Tapi apa yang musti dibanggain kalo punya nilai besar, Cuma gak punya uang…”<br />
<br />
Vidya tersenyum, mencairkan suasana. “Jadi, uang problema kamu?? Orang kaya sekalipun juga punya problema,.. artinya, setiap manusia memang tak jauh dari masalah.” Alihnya dengan nada santai, ciri khasnya. Rakha sempet manyun “Jangan berkecil hati, Tuhan tidak pilih kasih. Tidak selalu orang miskin yang dapat cobaan,.. kita harus belajar merasa cukup, dan selalu berdo’a”<br />
<br />
Tak lama kemudian, makanan yang di singgung Vidya datang. Kak Joe membawanya begitu banyak, ada mpek-mpek, kroket, bakwan berikut dengan 2 gelas es jeruk. Joe terkejut kalo Rakha maen dikelasnya, ia menyesal hanya membelikan yang ada. Meski kata mereka Rakha sombong, nyatanya ia tidak seperti itu. Ia amat tau diri, malah mereka bertiga minumnya Joint an.<br />
<br />
“Ada siswa baru di kelas kamu ya, Ka?” Tanya Joe sambil mulutnya tak berhenti mengunyah, aroma cukanya sedikit mengundang yang tidur jadi kelaparan, bahkan ada yang sempet terbangun sekedar nyicip beberapa item.<br />
<br />
“Iya!” jawab Rakha pasti dan ringkas<br />
<br />
“Dari SMA mana tadinya?”<br />
<br />
“Gak tau!” pikir Rakha gak peduli, emang dia siapa? Orang pentingkah?<br />
<br />
Joe, cowok casual ini agak sedikit memahami karakter Rakha dari pacarnya, jadi sebaiknya ia tidak banyak tanya tentang siapapun, bahkan tentang Rakha sendiri.<br />
<br />
“Oh, iya.. kamu pulang sekolah punya kerjaan apa?”<br />
<br />
“Emang kenapa?” Rakha balik nanya ke Joe<br />
<br />
“Maksud Kakak, kalo kamu gak ada kerjaan, kamu mau gak ikut Kakak kerja”<br />
<br />
“Dimana? Kerja apaan?”<br />
<br />
“Di jalan R.E Martadinata, ada rumah makan tenda. Sebagai pemula, paling kamu ditempati buat Bantu-bantu dulu.. kalo udah mantep, misalkan kata Bos Kakak Kamu layak ikut serta, nanti kita bisa bagi-bagi tugas..”<br />
<br />
“Wah, asik dengernya,.. Trus??”<br />
<br />
Keadaanpun mulai larut terhipnotis oleh topic pembicaraan, namun dari kelas 2belas IPA ke kelas Sepuluh yang jaraknya berkisar dua puluh meter. Ada anak baru yang tadi sempet di singgung mereka bertiga, cowok ini masih terlihat kalem diantara gerombolan siswa yang rada brutal. Tubuhnya tidak terlalu tinggi,, sekitar seratus 6lima keatas, beratnya ideal. Orangnya terlihat cukup cakep dengan memiliki warna kulit kecoklatan, ia sangat di kagumi cewek-cewek setempat. Rakha gak pernah tau, takkan pernah menyangka kalo suatu saat cowok itu akan menjadi soulmatenya, meskipun sekarang ia tak mengenalnya sama sekali.<br />
<br />
Di seragam  putihnya di bagian dada sebelah kanan terjahit sebuah kain yang warna tintanya hitam mencolok bertuliskan nama,… Biant.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>&gt;&gt; Flash Fiction &amp; Fiksi Mini</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732203/flash-fiction-fiksi-mini</link>
      <pubDate>Mon, 21 Nov 2011 18:46:23 +0000</pubDate>
      <dc:creator>gr3yboy</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732203@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[FLASH FICTION adalah karya fiksi pendek yang jauh lebih pendek dari cerpen. Biasanya antara 250 - 1000 kata. Namun sering juga dibatasi cuma 100 kata.<br />
<br />
Pada Flash Fiction (FF) penulis dituntut bisa menyampaikan isi cerita dengan keterbatasan kata. Dengan kata terbatas pembaca dapat memahami karakter baik tersirat maupun tersurat.<br />
<br />
Flash Fiction sudah mulai marak sekarang. Sudah banyak event yang menghadirkan lomba ini.<br />
<br />
FISKI MINI karya fiksi pendek, cerita hanya dengan maksimal 140 karakter. Sudah termasuk judulnya. Dari 140 karakter kita dituntut menghadirkan certa yg tuntas dan kadang penuh misteri.<br />
<br />
wanna try?]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>GODBYE 4EVER IN BOYZFORUM</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734929/godbye-4ever-in-boyzforum</link>
      <pubDate>Tue, 22 May 2012 04:06:47 +0000</pubDate>
      <dc:creator>LEO_saputra_18</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734929@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[ seperti yang kalian ketahui semua, jika para ANTIS cerita ku terus menjatuhkan ku di berbagai tread, sebagai penyetujuan dari ANTIS cerita ku,aku yakin ini adalah kerjaan oknum tertentu<br />
<br />
aku tidak akan menulis cerita di forum ini lagi, meski mereka membenci ku karena cerita dan tanggapan ku, tapi mereka tidak akan mampu membuatku berhenti menulis di forum lain ,, terimakasih karena telah mengikuti cerota ku dari debut hingga sekarang, kita bertemu di forum2 berbeda<br />
<br />
Cowok ala spaghetti, Pagi berselimut Mendung, Time machine and one mistake<br />
semoga 3 cerita yang pernah ku berikan, telah dapat membuat kalin senang, baik ANTIS ataupun yang suka dengan cerita ku ,,<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>ANTOLOGI - MALAM TERAKHIR</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734564/antologi-malam-terakhir</link>
      <pubDate>Sun, 06 May 2012 13:58:51 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Abiyasha</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734564@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[                                                            YANG TAK TERKATAKAN<br />
<br />
<br />
Suara dentuman musik yang sedang dimainkan oleh DJ masih memenuhi indera pendengaranku lima belas menit sejak aku memasuki La Barca. Aku tidak terbiasa ke tempat seperti ini dan rekor clubbingku bisa dibilang memalukan untuk ukuran orang yang sudah berdiam di Bali selama hampir dua tahun. Jika bukan karena Tristan, aku lebih memilih untuk menghabiskan malamku ini dengan memandangi langit yang cerah malam ini sambil menikmati rokokku di hammock yang tergantung di luar rumah kontrakanku ditemani lagu-lagi favoritku. Tapi, Tristan tiba-tiba ingin bertemu denganku karena besok dia harus terbang ke Perth. Profesinya sebagai pilot memang membuat kami jarang bertemu.<br />
<br />
Aku memandang layar ponselku, menunggu pesan dari Tristan karena sudah lebih dari lima menit dia belum juga muncul. Tristan adalah salah satu dari sedikit teman –meski aku lebih suka menyebutnya pacar yang belum bisa kumiliki- yang jarang telat, mengingat juga profesinya yang selalu menghargai waktu, aku selalu khawatir jika Tristan telat.<br />
<br />
Ponselku bergetar dan aku melihat satu pesan dari Tristan<br />
<br />
Km dimana?<br />
<br />
Jariku sudah menekan virtual keypad untuk membalas pesannya ketika sebuah tepukan di bahuku membuatku membatalkan niatku.<br />
<br />
“Apa kabar Vian?”<br />
<br />
“Heh! Tumben telat?”<br />
<br />
Yang ditanya hanya menunjukkan seringaiannya sebelum kami berpelukan. Ini adalah salah satu saat dimana aku bisa merasakan tubuh Tristan bersentuhan dengan tubuhku, meskipun pelukan ini hanyalah sebuah pelukan pertemanan.<br />
<br />
“Sopir taksinya sempet kesasar dikit tadi. You look great!”<br />
<br />
Aku hanya tersenyum mendengar pujian dari Tristan meskipun sebenarnya, akulah yang harus mengucapkan kalimat itu untuknya. Meskipun hanya mengenakan polo shirt berwarna kuning gading dan celana jins hitam, sosok Tristan tetap membuatku kesulitan untuk mengatur nafasku. Lima tahun tidak membuatku imun terhadap pesonanya. Semakin bertambah usianya, Tristan terlihat semakin dewasa, matang dan juga semakin menarik.<br />
<br />
“Nggak usah nyindir deh, bilang aja elo pengen gue bilang kayak gitu buat tampilan elo malam ini.”<br />
<br />
Tristan tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya yang sangat rapi dan terawat. “Bingo!” ucapnya kemudian mengedarkan pandangannya ke pantai. “Mau ngobrol di pantai?”<br />
<br />
“Mending di rumah kontrakan gue aja kalo mau ngobrol.”<br />
<br />
“Tapi sayangnya, rumah kontrakan kamu nggak ada pantainya.”<br />
<br />
“Sialan! Ya udah, cari spot sana. Gue beli bir dulu,” ucapku sambil melangkahkan kakiku menuju ke bar namun pandangan Tristan menghentikan langkahku. Meskipun cahaya disini tidak terlalu terang, namun masih cukup buatku untuk melihat ekspresi wajah Tristan saat aku melangkahkan kakiku ke bar.<br />
<br />
“Sejak kapan kamu minum bir, Vian?”<br />
<br />
“Emang penting nanya kayak gitu?”<br />
<br />
“Hehehe. Aku satu ya?”<br />
<br />
Sekarang, ganti aku yang memandang Tristan dengan tatapan tidak percaya. “Elo? Minum bir? Sejak kapan?”<br />
“Penting ya nanya kayak gitu?”<br />
<br />
Belum sempat aku membalas pertanyaanku yang diulanginya, Tristan sudah lebih dulu kabur. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku heran lalu melanjutkan langkahku menuju ke bar. Aku hanya minum bir jika ingin dan keinginan itu bisa dibilang jarang muncul, Tristan, juga tidak bisa dibilang penikmat bir. Jadi, kami berdua sebenarnya sama-sama terkejut bahwa malam ini, bir menjadi pilihan teman nongkrong kami di pantai.<br />
<br />
Begitu aku berhasil memgang dua bir di kedua tanganku, aku segera mencari sosok Tristan yang tidak sulit untuk ditemukan karena selain hubungan pertemanan kami –betapa aku sangat membenci istilah itu- perasaanku terhadap Tristan juga membuatku ingat setiap hal yang berhubungan dengannya, bahkan jika Tristan sendiri tidak ingat pernah memberitahuku. Aku menghampiri Tristan yang entah sedang memikirkan apa hingga tidak menyadari kehadiranku di sisinya.<br />
<br />
“Ngelamunin apaan sih?” tanyaku sambil mengulurkan tangan kananku untuk menyodorkan birnya. Tristan hanya tersenyum lalu meraihnya, seolah senyumannnya itu menjawab pertanyaanku.<br />
<br />
“It’s always hard to leave Bali,” ucapnya setelah mengosongkan seperempat botol birnya. Pandangannya seperti terkunci ke arah gulungan ombak di hadapan kami sementara aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memandangi wajahnya meskipun hanya cahaya remang-remang yang ada di sekitar kami.<br />
<br />
Entah sudah berapa kali kami duduk seperti ini, bersisian dan sudah tidak terhitung berapa kali aku harus menahan lenganku agar tidak terulur untuk menyentuh pipinya atau meraih kepalanya untuk bersandar di bahuku. Seharusnya, aku mengubah perasaanku ke Tristan menjadi perasaan yang harusnya dimiliki oleh dua orang teman karena tahu dan sadar bahwa kalaupun Tristan tahu, dia tidak akan pernah membalas perasaanku kepadanya. Namun, aku tidak mampu melakukan itu. Perasaanku terhadap Tristan justru semakin kuat dan sekuat apapun aku berusaha untuk mengalihkannya –seperti mencoba untuk mencintai pria lain- perasaanku ke Tristan tidak bisa aku alihkan.<br />
<br />
“Elo bakal kesini lagi bulan depan, Tristan. Udah deh, nggak penting jadi sok melodramatis gitu,” gurauku karena setiap kali dia akan meninggalkan Bali, Tristan selalu bilang seperti itu padahal dia pasti juga akan kembali kesini.<br />
<br />
“Well, kamu nggak pernah tahu kan apa yang bisa terjadi di udara? Bisa aja besok pesawatku jatuh dan nggak ada lagi yang bakal nemuin kamu disini,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang dibuat sedramatis mungkin. Ciri khas Tristan. Banget!<br />
<br />
Aku cuma mencibir kalimat yang baru diucapkannya sebelum membasahi lagi tenggorokanku dengan bir di tanganku. “Heh, temenku bukan cuma elo ya? Udah deh, ngomongin yang lain. Bosen gue denger elo ngomong gitu terus tiap kali mau ninggalin Bali.”<br />
<br />
Kali ini, tawa Tristan menyelinap diantara suara gemuruh ombak dan dentuman musik yang masih terdengar begitu jelas di sekeliling kami. Bukan suara tawa itu yang membuat aku tertegun, namun ekspresi tawanya yang selalu membuatku seperti tertarik magnet seorang Tristan Suryapradja.<br />
<br />
“Ke Eropa yuk!”<br />
<br />
Aku menaikkan kedua alisku sambil memandang Tristan setelah dia menyelesaikan kalimatnya. Ke Eropa? Tumben-tumbenan nih ngajak ke Eropa, batinku.<br />
<br />
“Naik sepeda ya? Elo pikir gue punya tabungan satu miliar sampe elo ngajak ke Eropa segala? Kalo gratis gue mau.”<br />
<br />
“Itu gampang lah. Urusan tiket serahin aja ke aku, kayaknya bulan depan aku mau ngajuin cuti. Udah lama juga nggak ke Eropa, kangen banget jalan-jalan diantara bangunan-bangunan tua disana,” ucapnya dengan nada antusias. “Mau kan?”<br />
<br />
“Ini serius elo mau ngajakin gue?” tanyaku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.<br />
<br />
“Kalau nggak serius, ngapain juga aku bilang ke kamu. Ini lebih dari sepuluh rius, Vian. Mau ya?”<br />
<br />
Aku mengurangi lagi isi botol birku mendengar permintaan Tristan. Ini diluar kebiasaan Tristan, biasanya, setelah cutinya habis dan dia sudah melaksanakan niatnya untuk jalan-jalan kemanapun yang dia mau, baru dia memberitahuku. Hanya untuk membuatku iri karena tempat-tempat yang dikunjunginya biasanya adalah tempat-tempat yang akupun rela menjual jiwaku ke iblis untuk sampai kesana. Maka, aku hanya mengabaikan ucapannya sambil memenuhi indera penglihatanku dengan kepekatan serta gulungan ombak dihadapanku.<br />
<br />
“Emang elo mau kemana sih? Perasaan Eropa udah elo jelajahin semua deh.”<br />
<br />
“Aku pengen ke Budapest trus ke Burgundy, liat vineyard disana, kali ini lebih pengen ke daerah-daerah pinggiran. Udah bosan liat kota terus.”<br />
<br />
“Lah, Budapest itu kan kota?”<br />
<br />
“Ya, kecuali itu lah. Semut juga tahu kalau Budapest itu kota,” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.<br />
<br />
“Emang mau cuti berapa lama sih?”<br />
<br />
“Yah, tiga minggu cukup lah. Sekalian mau introspeksi diri.”<br />
<br />
Kali ini aku tidak menanggapi kalimat Tristan karena dari nada suaranya, dia tidak sedang ingin bercanda. Jadi, aku meminum birku lagi sementara pikiranku membawaku ke pertemuan kami sebulan lalu ketika Tristan bercerita bahwa dia mulai lelah jadi pilot. Bukan fisik yang dikeluhkannya namun mentalnya yang terus-terusan diuji hingga dia sampai pada satu titik dimana untuk pertama kalinya sejak dia menjadi pilot, dia ingin berhenti. Mungkin, Tristan memang butuh cuti, tapi kalau dia ingin introspeksi, kenapa aku diajak?<br />
<br />
“Eh, kalo elo mau introspeksi, ngapain ngajakin gue? Yang ada malah elo bukannya introspeksi.”<br />
<br />
Tristan kemudian menghabiskan birnya lalu menatapku. Aku menelengkan kepalaku menunggu jawabannya namun yang aku dapatkan adalah sebuah senyuman. Aku benar-benar tidak mengenal sisi Tristan yang malam ini sedang duduk di sebelahku ini.<br />
<br />
“Because I you’re a part of my introspection also.”<br />
<br />
Kali ini, kerutan di dahiku seperti berlipat mendengar kalimat yang baru diucapkan Tristan. “Maksud elo apaan sih Tan? Yang jelas deh ngomongnya, nggak usah pake muter-muter kayak ghini,” ucapku menggunakan nama panggilan itu untuknya, yang khusus aku gunakan kalau aku sedang bingung atas sikap Tristan. Malam ini adalah saat bingung itu. Tristan tidak pernah suka dipanggil hanya dengan Tris atau Tan, harus Tristan, makanya biasanya dia langsung menjelaskan padaku kalau aku sudah memanggilnya dengan sebutan itu.<br />
<br />
“Aku udah nyangka kalau kamu pasti nggak sadar. Vian….”<br />
<br />
Sekarang, Tristan mengulurkan tangannya  kepadaku dan otakku sepertinya masih berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya yang sama sekali tidak aku mengerti itu. Biasanya, aku langsung menggodanya atau menganggap setiap sikapnya ini sebagai lelucon, namun entah kenapa, malam ini, semuanya terasa seperti sebuah adegan dalam film yang telah di-skenario-kan hingga aku pun tidak mampu melontarkan lelucon ataupun bersikap seperti normalnya seorang Vian.<br />
<br />
Aku hanya diam sebelum akhirnya meraih tangannya namun bukan dalam posisi menggenggam, tapi seperti seorang peramal yang mengambil tangan orang yang ingin diramalnya. Aku meletakkan telapak tanganku di bawah telapak tangannya.<br />
<br />
“Baiklah nak, mari saya lihat garis tanganmu,” ucapku kemudian yang disambut Tristan dengan tawa lalu menarik tangannya kembali begitu aku menyentuhnya.<br />
<br />
“Serius lah Vian, ini nih susahnya ngomong sama orang yang suka nganggep remeh omongan-omonganku,” ucapnya sebelum bangkit lalu kembali mengulurkan tangannya kepadaku. “Kita jalan aja yuk?”<br />
<br />
“Tadi ngajakin duduk, sekarang ngajakin jalan, ntar awas ya kalo elo ngajakin lari?” sungutku sambil meraih tangannya untuk membantuku berdiri. Ketika aku sudah berada sejajar dengannya, bahkan berdiri tepat di hadapannya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapan Tristan.<br />
<br />
“Boleh kan malam ini aku nginep di tempat kamu?”<br />
<br />
Untuk kesekian kalinya, Tristan kembali mengejutkanku dengan ucapannya. Selama llima tahun, belum pernah sekalipun Tristan menginap di tempatku, baik saat aku masih tinggal di kos maupun saat aku sudah punya rumah kontrakan meskipun aku akan sangat tidak keberatan jika dia mau menginap. Jadi, aku hanya menatap Tristan dengan pandanngan menelisik, seolah menganggap ucapannya itu sebuah candaan.<br />
<br />
“Eh, Tristan, elo kesambet apaan sih? Malam ini elo aneh banget deh. Gue berasa kayak ngobrol ama orang asing. Tristan yang gue kenal jarang bahkan bisa dibilang nggak pernah ngomong hal-hal kayak gitu. Elo nggak ngelakuin yang aneh-aneh kan sebelum dateng kesini?”<br />
<br />
Lagi-lagi, ucapanku itu disambut tawa olehnya. “Udah ah, jalan yuk!”<br />
<br />
Tanpa menunggu persetujuanku, Tristan sudah melangkahkan kakinya untuk meninggalkanku hingga aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya meskipun dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benakku mengenai ucapan-ucapan Tristan malam ini. Kami berjalan bersisian dalam diam selama beberapa menit dan aku tidak mampu menahan diriku untuk tidak memperhatikan Tristan. Semuanya masih sama seperti saat terakhir kali aku bertemu dengannya, hanya sikapnya agak sedikit aneh menurutku malam ini. Semoga Tristan tidak sedang mempersiapkan sesuatu yang buruk untuk aku dengar.<br />
<br />
“Kira-kira, kalau aku berhenti jadi pilot, kerjaan apa yang cocok buatku ya?”<br />
<br />
“Elo serius mau berhenti jadi pilot?”<br />
<br />
Tristan mengangkat kedua bahunya. “Masih belum yakin, tapi nggak ada salahnya kan nyiapin diri sendiri? Jadi aku punya gambaran kira-kira apa yang bisa aku lakuin kalo akau udah nggak jadi pilot lagi.”<br />
<br />
Aku membiarkan pecahan ombak terakhir membasahi sandalku karena membawa bir di tangan kanan sementara tangan kiri membawa sandal terdengar tidak praktis dan merepotkan untukku jadi, aku membiarkan sandalku basah.<br />
<br />
“Mungkin nggak elo kerja di office nya? Jadi masih nggak jauh-jauh dari dunia elo sekarang. Tapi, kalo elo mau jadi model, masih ada kesempatan kok,” ucapku yang kemudian disambutnya dengan sebuah senyuman. Dari dulu, aku selalu menggodanya bahwa kalau dia mau, dia bisa jaid model terkenal karena posturnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang model. Aku juga beberapa kali ingin mengambil fotonya secara profesional namun dia selalu menolak. Jadi, aku tidak pernah berhenti menggodanya tentang hal itu.<br />
<br />
“Hmmm, nggak tahu juga sih. I’ll find out later. Tentang model, kayaknya aku mulai berubah pikiran nih. Boleh deh, kapan-kapan kamu ambil fotoku secara profesional. Itung-itung buat pajangan di apartemenku ntar.”<br />
<br />
“Nude?”<br />
<br />
“Eh, jangan mentang-mentang aku udah bersedia trus kamu mau bikin foto dengan pose yang macem-macem yah?”<br />
<br />
Kami berdua pun tertawa. Aku juga tidak akan keberatan untuk memotretnya tanpa busana karena selama ini, aku hanya mampu melihat Tristan dalam balutan celana renang. Tristan punya tubuh yang proporsional dan wajah Indonesia-Thailand nya itu sudah cukup menjual. Aku tersenyum membayangkan melihat Tristan berdiri kikuk tanpa busana sementara aku fokus di balik lensa kameraku untuk mendapatkan gambar yang sempurna.<br />
<br />
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”<br />
<br />
“Suka-suka gue lah, elo kan nggak perlu tahu apa yang sedang gue pikirin,” ucapku seelum menjuluurkan lidahku. Biasanya, Tristan akan menanggapinya dengan balik menjulurkan lidahnya, namun kali ini, dia menghentikan langkahnya dan menatapku.<br />
<br />
“Vian, bisa nggak sih kita ngomong serius?”<br />
<br />
Aku sudah hampir kembali menggodanya namun mendengar nada suaranya, aku mengurungkan senyum yang sudah siap terpasang di wajahku.  Susah untuk bersikap serius jika menghabiskan waktu bersama Tristan, kalaupun bisa, hanya berlangsung beberapa menit saja. Namun sepertinya, kali ini permintaan Tristan untuk berbicara serius denganku akan berlangsung lebih dari beebrapa menit.<br />
<br />
“Mau ngomong apa?”<br />
<br />
“Udah berapa lama kita temenan?”<br />
<br />
“Lima tahun?”<br />
<br />
Trsitan mengangguk. “I’m gay.”<br />
<br />
Hanya dua kata memang, namun aku seperti merasa mendapatkan bogem mentah tepat di wajahku. Ini…pasti salah satu gurauan Tristan. Did he just say that he’s gay? Aku menggelengkan kepalaku tanda tidak percaya.<br />
<br />
“No, you’re not Tristan.”<br />
<br />
“I am, Vian. I’m gay.”<br />
<br />
Sebuah tawa meluncur dari mulutku, bukan untuk menertawakan fakta –yang masih belum aku percayai sebagai fakta- yang diberitahukan Tristan kepadaku, namun lebih untuk menertawakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari bahwa Tristan gay? Aku tidak pernah gagal menilai seseorang jika mereka gay atau bukan dan meskipun pernah terlintas di pikiranku, berharap bahwa Tristan adalah seorang gay dan kami kemudian saling menjalani hubungan, seperti pasangan gay pada umumnya, namun pikiran itu segera tergantikan oleh hal lain. Tristan tidak mungkin gay.<br />
<br />
“Apa ada yang lucu, Vian?”<br />
<br />
Menyadari bahwa mungkin Tristan akan berpikiran aku tertawa karena mengetahui dia gay, aku menghentikan tawaku lalu menatapnya. Aku menangkap raut muka sebal di wajahnya namun ekspresi itu berubah ketika kami saling bertatapan dan aku memberinya tatapan minta maaf meskipun jika dia tahu, dia pasti akan menertawakanku juga.<br />
<br />
“It’s just me, Tristan. It has nothing to do with you. I’m sorry.”<br />
<br />
“Will you still be my friends?”<br />
<br />
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Apakah dia berpikir bahwa hanya karena aku mengetahui bahwa dia gay, aku akan berhenti jadi temannya? Apakah dia berpikir pikiranku sesempit itu?<br />
<br />
Aku tersenyum lalu mengangguk. “I’m not a homophobic, Tristan.Kita udah temenan lima tahun, trus cuma karena gue tahu elo gay, gue bakal ninggalin elo, gitu?” aku menggelengkana kepalaku. “Gue bakal tetep jadi temen elo.” Karena gue juga gay dan gue suka ama elo sejak lima tahun lalu.<br />
<br />
Aku berharap mampu mengatakan lanjutan kalimat itu di hadapan Tristan namun, aku tidak ingin dia berpikiran bahwa aku mengambil keuntungan darinya. Sekarang, aku akan lebih punya banyak kesempatan untuk mengubah status Tristan dari hanya sekedar teman menjadi seorang kekasih? Mungkin yang aku butuhkan saat ini hanyalah kesabaran. Aku tidak mungkin secara terang-terangan menunjukkan perhatianku kepadanya namun Tristan bukan pria bodoh. Suatu hari nanti, dia akan mengetahui bahwa aku ingin menjadi lebih dari seorang teman untuknya.<br />
<br />
“Thank you, Vian,” ucapnya sambil kemudian merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Kali ini, aku berharap Tristan akan memeluk tubuhku lebih lama dari biasanya. Aku memejamkan mataku, seperti ingin menikmati momen ini selama mungkin. Parfum beraroma Woody yang selalu dipakainya memenuhi indera penciumanku hingga aku kemudian tersenyum.<br />
<br />
“Elo pake parfum apaan sih? Gue suka prfum elo yang ini.”<br />
<br />
“Ntar kalau aku ke Bali lagi, aku bawain."<br />
<br />
*****<br />
<br />
Tristan tidak pernah kembali lagi ke Bali.<br />
<br />
Aku sedang berdiri di depan nisan bertuliskan Tristan Suryapradja, hanya 31 tahun umur yang diberikan Tuhan untuk pria yang selama lima tahun begitu menguasai hatiku. Cuaca panas kota Surabaya seperti tidak membuatku bergeming untuk beranjak dari pusara tempat Tristan beristirahat untuk yang terakhir kalinya. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini karena sesungguhnya aku tidak peduli. Tanganku masih memegang secarik kertas yang tertempel di asramanya di Perth dan aku tidak mampu menahan air mataku ketika membacanya, di ruangan tempat Tristan menghabiskan waktunya setiap kali berada di Perth.<br />
<br />
THINGS TO DO : VIAN<br />
<br />
-	Aku suka dia<br />
-	Aku pengen jadi lebih dari sekedar temen buat dia<br />
-	Ngajak dia ke Eropa, terutama ke vineyard paling bagus se-Prancis<br />
-	Semoga Vian tetep mau jadi temenku kalao dia nggak mau jadi lebih dari temen<br />
<br />
Itulah tulisan yang setiap hari dibaca Tristan setiap kali dia bangun dari tidurnya. Namaku. Aku tidak henti-hentinya menyesali setiap kesempatan yang aku miliki bersamanya, kesempatan untuk mengatakan bahwa aku juga menyimpan perasaan yang sama untuknya. Kesempatan untuk menjalani sebuah hubungan dengannya. Hanya itu yang aku sesalkan. Kenapa semua harus terungkap lewat cara seperti ini?<br />
<br />
Masih lekat dalam ingatanku ketika keesokan harinya, setelah aku menghabiskan malamku bersama Tristan, aku mendapat kabar dari keluarga Tristan bahwa mobil yang dikendarai Tristan menjadi salah satu korban tabrakan beruntun dan Tristan menjadi salah satu dari sepuluh korban yang meninggal di tempat. Aku ingat bahwa tubuhku lemas seketika, bahkan, Didi, teman sekantorku, sampai perlu mengambil alih ponsel dari genggamanku. Beberapa hari kemudian, aku sudah berada di asrama Tristan untuk mengemasi barang-barangnya untuk dikirim kembali ke Surabaya karena kedua orang tua Tristan terlalu terpukul untuk melakukannya.<br />
<br />
Mike, teman semaskapai Tristan, kemudian memberiku sebuah notes, yang selalu dibawanya kemanapun dia terbang, dan hanya dua foto yangtersimpan disana. Fotonya bersama Papa dan Mamanya, serta foto kami berdua ketika kami menghabiskan dua minggu di New Zealand. Mike bilang bahwa sudah sejak lama dia ingin bilang kepadaku tentang orientasi seksualnya namun dia terlalu takut aku akan berhenti jadi temannya jika aku tahu. Setiap detik yang aku lewati bersama Tristan malam itu kembali muncul seperti slide show yang diputar di hadapanku. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya malam itu ternyata sebuah pertanda, bahwa dia tidak akan mampu lagi menghabiskan waktunya denganku. Aku benar-benar seperti berada di dua dunia, dunia ketika Tristan masih hidup dan kematiannya hanyalah seperti mimpi dan dunia yang mengingatkanku bahwa Tristan memang sudah berada di dunia lain.<br />
<br />
Dua bulan sudah berlalu sejak kematian Tristan namun, aku masih belum merasakan kebosanan untuk mengunjunginya setiap sebulan sekali. Di pemakaman inilah, aku selalu bertemu dengannya, berbicara dengannya, menggodanya bahkan menangis di hadapannya. Aku tahu Tristan bisa melihatku hingga aku tidak memiliki keraguan sedikitpun bahwa dia mengabaikanku. Aku hanya tidak mampu mendegar suaranya, melihat senyumnya ataupun ekspresi yang selalu ditunjukkannya padaku setiap kali aku menggodanya. Semua itu hanya tersimpan di memoriku. Disanalah aku menyimpan semua tentang Tristan.<br />
<br />
“Gue bakal tetep dateng kesini meskipun gue tahu, elo bakal nggak suka. Kali ini, elo nggak bisa larang gue, Tristan. Kalaupun sampe ada yang liat dan pikir gue pantes dimasukin RSJ, gue tahu elo bakal bantuin gue. Elo lebih suka liat gue disini daripada di RSJ kan?” Aku tersenyum tipis sebelum membungkukkan badanku agar mampu menyentuh batu nisannya. “Elo nggak bosen kan liat gue? Lima tahun aja elo nggak pernah protes kan? Gue yakin elo pasti seneng gue temenin.”<br />
<br />
Aku kemudian mencium batu nisan Tristan, satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa begitu dekat dengannya dan berusaha untuk menahan air mataku agar tidak menetes diatas pusaranya. Namun, air mataku terlalu cepat untuk aku tahan hingga kemudian aku menegakkan tubuhku kembali dan menyeka air mataku.<br />
<br />
“Gue sayang elo Tristan, gue cuma pengen elo tahu itu. Mustinya gue bilang malam itu juga kalau gue sayang ama elo biar elo tahu. Gue emang goblok ya? Gue pulang dulu, bulan depan gue balik lagi kesini. Doain gue supaya bisa dipindah ke Surabaya ya? Biar gue bisa lebih sering nengokin elo. Tristan, elo baik-baik ya disana? Jangan sok gaya atau narsis disana, elo nggak ada apa-apanya dibanding James Dean. Gue pasti bakalpengen balik lagi kesini begitu gue nyampe Bali.”<br />
<br />
Aku terdiam beberapa saat sambil membiarkan mataku menatap tempat peristirahatan Tristan tanpa henti sebelum akhirnya aku membalikkan tubuhku untuk meninggalkan area pemakaman. Sekuntum bunga kamboja tiba-tiba jatuh tepat di saku kemeja yang aku kenakan hingga terlihat seperti seseorang sengaja menaruhnya disana. Aku menghentikan langkahku lalu meraih bunga kamboja itu dan menciumnya.<br />
<br />
“Nggak usah khawatir gitu, Tristan. Gue bakal kesini lagi kok.”<br />
<br />
Aku tahu, Tristan bersamaku saat ini maka aku pun memandang sekelilingku lalu tersenyum sebelum kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti tadi.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>RAFFA + EVAN | Chapter 17 [Sabtu, 26 Mei 2012]</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16730638/raffa-evan-chapter-17-sabtu-26-mei-2012</link>
      <pubDate>Wed, 29 Jun 2011 04:59:25 +0000</pubDate>
      <dc:creator>bibay007</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16730638@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Ini Kisah tentang Persahabatan Gua dengan Evan...<br />
Ini Kisah tentang Gua dan Evan...<br />
.....................<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Copyright © Raffa + Evan<br />
<br />
2011 by bibay007 | All rights reserved | Seluruh tulisan dan cerita pada serial ini merupakan hasil tulisan sendiri, dan jika ada kesamaan nama atau karakter dan lain sebagainya, itu merupakan kebetulan. Segala bentuk penggandaan untuk kepentingan komersial, pengakuan sebagai hak milik, klaim dan lain sebagainya atas serial ini adalah ilegal dan tidak diizinkan.<br />
<br />
Foto RAFFA (Kiri) &amp; EVAN (Kanan)]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>The Dancers</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734072/the-dancers</link>
      <pubDate>Fri, 13 Apr 2012 20:00:32 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Monster26</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734072@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[hai semua BFers, ini cerita perdana ku yang baru aja aku siapin, semoga cerita ini bisa menghibur,maaf kalo ada kata-kata yang salah dalam cerita, ataupun kurang menarik, karena aku masih baru di dunia cerita,selamat membaca;<br />
<br />
<br />
*Scene 1*<br />
<br />
Aku sangat senang sekali menuangkan cerita-cerita yang berlalu lalang dipikiranku kedalam bentuk tulisan.Hingga muncul ideku untuk menyebarkan karyaku melalui dunia maya agar dapat di baca oleh seluruh peselancar dunia maya.Cerita pendek ku pernah ku muat didalam sebuah website yang isinya menampilkan cerita-cerita dari penulis-penulis ternama,berawal dari iseng belaka,aku mendapatkan sebuah kejutan kecil dari website tempat aku menumpangkan cerita pendek yang ku tulis,komentar-komentar dari para pembaca membanjiri kolom komentar,jujur saja, aku sangat senang dengan hal ini.Dan di dalam kotak masuk, banyak sekali para pembaca yang ingin mengenalku lebih dekat.<br />
Itu artinya,karyaku sangat diterima baik oleh para peselancar dunia maya yang senang membaca cerita.Dari kegiatan membalas setiap pesan yang masuk itu,aku berkenalan dengan seorang pria yang dengan sengaja merahasiakan identitas dirinya.<br />
Sebenarnya jika ia tidak merahasiakan identitas dirinya pun,tidak menjadi suatu masalah bagiku,tapi yang cukup menganggu adalah,hampir setiap hari ia menghubungiku melalui sebuah jejaring sosial,yang diawal perkenalan sempat aku berikan kepadanya.Maksud ku hanya ingin lebih dekat dengan para penggemar ceritaku.Ternyata dugaan ku salah,pria tanpa identitas ini selalu menggangguku.<br />
Aku pun memilih untuk vakum dari dunia maya dan juga dengan sangat terpaksa meninggalkan penggemar ku untuk beberapa saat.Satu minggu kemudian,aku mulai kembali aktif,komentar dari para pembaca ceritaku meningkat banyak,kotak pesan juga dipenuhi oleh pesan,aku sibuk membuka dan membaca satu per satu isi pesan.<br />
Satu pesan yang sangat menarik dan juga aneh bagiku,siapa lagi kalau bukan dari pria tanpa identitas,yang isinya;<br />
<br />
Anonimous :<br />
aku ingin kau datang ketempat ku,Bali.Segala yang kau butuhkan akan kupenuhi,aku harap jika kau membaca pesanku ini,segeralah untuk menghubungiku.<br />
<br />
Thx<br />
<br />
Aku mengerutkan alis ketika membaca pesan dari pria tanpa indentitas tersebut,aku tidak mengerti apa yang ia inginkan dariku,tiba-tiba saja aku berpikiran yang aneh-aneh,apalagi beberapa waktu ini,berita di televisi sering menyiarkan berita-berita kriminal tentang pembunuhan yang marak di berbagai daerah.<br />
<br />
Aku	:<br />
Maaf,aku sibuk,aku tidak dapat memenuhi keinginan anda,lagipula,aku belum mengenal jauh tentang anda,<br />
Dan aku mohon kepada anda,jangan terus menerus mengangguku,karena aku juga memiliki kesibukan<br />
Thx.<br />
Benar saja, setelah ku kirim pesan terakhir ku kepadanya, pria tanpa identitas itu,sudah tidak lagi menghubungi melalui pesan di kotak masuk,ataupun ruang obrolan di situs jejaring sosial milikku, meskipun ID jejaring sosialnya selalu aktif.Sedikit penyesalan menyambangiku,seharusnya aku tidak membalas pesannya dengan nada kasar,seharusnya aku dapat menjawab nya dengan lebih halus, bagiku, meskipun cukup mengganggu,pria tanpa identitas ini termasuk salah satu penggemar ceritaku, aku pun mengalah,dan aku menyapanya di ruang obrolan,<br />
“hi”kirimku,<br />
Cukup lama tidak ada balasan darinya,dan selama itu, aku sangat merasa bersalah,ku alihkan kursor ku untuk membuka halaman website lainnya,tapi didalam hati,sangat menunggu-nunggu balasan dari pria tanpa identitas.Setiap bunyi tanda pesan masuk dari jejaring sosial berbunyi,aku dengan girangnya membuka,tapi sama sekali bukan balasan dari pria tanpa identitas,melainkan dari penggemar ku yang lain.Kali ini,bunyi tanda pesan masuk, berbunyi untuk yang kesekian kalinya,aku pun dengan malas-malasan membuka nya.Mataku terbelalak ketika melihat pesan masuk tersebut dikirim oleh pria tanpa identitas,<br />
“hai,maaf jika aku baru membalas obrolanmu,aku cukup sibuk hari ini,apa kabar?apakah kau baik-baik saja?”<br />
Aku tersenyum sumringah untuk sesaat,dari balasan yang ia kirim padaku,menandakan ia tidak marah kepadaku,jemari ku pun mulai mengetik huruf-huruf padanya,<br />
“ah...terima kasih,aku disini baik-baik saja dan kabar ku sangat baik,maaf jika aku mengganggu waktumu”<br />
“tidak apa-apa,it’s okay dude ”<br />
“mmm...aku mau meminta maaf padamu”ketikku<br />
“hm?meminta maaf?atas hal apa?”<br />
Aku mengerutkan alis ketika membaca balasannya,<br />
“tentang perkataan ku yang waktu itu di pesan masuk”<br />
“ah...aku tidak pernah mempermasalahkan itu,aku sadar jika aku terlalu egois,memaksamu untuk datang kemari yang notebene kita belum berkenalan terlalu jauh ”<br />
Aku terdiam dengan jemari siap-siap mengetik balasan,sialnya,aku tak tahu harus membalas apa,<br />
“apakah kau masih disitu?penulis?”balasnya tiba-tiba,<br />
“ah.. ya,aku masih disini”<br />
“hmm...aku pikir kau sudah meninggalkan mejamu,dan tak ingin berbicara lagi denganku ”<br />
Aku merasakan wajahku merah padam,karena disinggung seperti itu,<br />
“hehehehe”<br />
“kapan kau akan menulis cerita baru?aku selalu menanti ceritamu lho”<br />
Senyuman kecil kembali menghiasi kedua sudut bibirku,ternyata dia memang penggemar berat cerita-cerita yang ku muat,jemari ku kembali mengetik setiap kata-kata balasan untuknya,<br />
“terima kasih karena telah menunggu ceritaku,sedang dalam proses”balasku,<br />
“lantas,kapan akan kau terbitkan?apakah kau mau membuat setiap penggemarmu termasuk aku merasa kecewa”<br />
Aku menghela nafas sejenak didepan laptop ku,dengan alis terangkat,aku membalas pesannya kembali,<br />
“sebenarnya...aku ingin sekali membuat cerita baru”<br />
“lalu?”<br />
“tapi...aku kehabisan ide cerita”,ketika aku selesai membalas,pria tanpa identitas cukup lama tidak membalas,<br />
Mungkin sedang sibuk,pikirku.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>berkilaulah cinta</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731183/berkilaulah-cinta</link>
      <pubDate>Sat, 20 Aug 2011 13:57:09 +0000</pubDate>
      <dc:creator>ferlyadiyatama</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731183@/discussions</guid>
      <description><![CDATA["perhatian,  selamat datang di SMA Harapan. kalian semua di sini adalah calon-calon keluarga besar SMA Harapan. sebelum kalian resmi menjadi siswa baru di sini, kalian diharuskan mengikuti acara bimbingan dan perkenalan untuk mengetahui segala sesuatunya tentang sekolah ini. kami akan membimbing kalian selama tiga hari kedepan sampai kalian resmi menjadi keluarga SMA ini. oleh karena itu, setiap apa yang diperintahkan sudah selayaknya lah dipatuhi dan dikerjakan...."<br />
<br />
aku tidak tertarik mendengarkan ocehan ketua korlap tersebut, bagiku acara MOS (Masa orientasi siswa) ini adalah acara yang membosankan. Tujuannya sih untuk memperkenalkan segala sesuatu tentang sekolah dan membimbing siswa baru agar tahu semua itu. tapi kenyataan yang ada kadang malah disalah gunakan, dipake ajang balas dendam seniorlah. menurutku acara kaya gini tuh kagak ada manfaatnya sama sekali. sebenernya malas ikut kegiatan seperti ini, tapi katanya di SMA ini wajib mengikutinya, kalo tidak kita tidak akan medapatkan sertifikat yang nantinya juga sebagai persyaratan kelulusan. hmmm... tiga hari kedepan aku harus menghadapi penderitaan. pasti disuruh bawa ini itu yang menurutku tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar nantinya.<br />
<br />
teman sebelahku menyikut tanganku. "husss, kamu dipanggil kakak senior tuh!." sontak aku kaget. tampak dua orang, cewek dan cowok bermuka garang menghampiriku.<br />
"Nama?"<br />
badanku gemetar, dadaku dag-dig-dug, takut. aku ga berani menjawab<br />
"hei kamu putra, kamu ditanya? kalau  ditanya tuh jawab" bentak cewek dengan judenya.<br />
"Kamu tuli? saya tanya nama kamu siapa?" bentak si cowok<br />
aku hanya menunduk, aku tak berani menatap mereka.<br />
"oh, bisu ya? kamu ga bisa ngomong? JAWAB" bentak si cewek<br />
"Rendi" jawabku pelan.<br />
"YANG KERAS!"<br />
"RENDI" teriakku spontan.<br />
si cewek berdiri di depanku dan melihatku dengan sinis, "Kamu nantangin kita? berani? mau sok jagoan? kalo jawab tuh yang sopan ga usah teriak teriak."<br />
nampaknya semua siswa baru menunduk ketakutan. aku melihat kiri kanan.<br />
"Ga usah liat kiri kanan, kamu ke depan!"<br />
aku berjalan ke depan tepat disamping korlap.<br />
"oke teman-teman, lihatlah. jika kalian melanggar maka kalian akn bernasib seperti teman kalian yang bernama "Rendi putra natalia". oke, sebagai hukumannya maka dia harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 putaran. baiklah, semuanya calon siswa SMA Harapan, dipersilahkan memasuki Aula.<br />
***<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Drama Curhat Serem</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732209/drama-curhat-serem</link>
      <pubDate>Tue, 22 Nov 2011 02:26:46 +0000</pubDate>
      <dc:creator>maboyz</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732209@/discussions</guid>
      <description><![CDATA["Jangan sentuh aku!",<br />
"Mengapa? km kan gay?<br />
"tidak! Plis deh ih!!, aku sudah maskeran dari tadi tunggulah tiga menit!"<br />
"Aku suka kamu, aku sayang sama kamu." jawabnya<br />
"Tapi kamu straight, kata orang kalo gay suka straight rasanya kaya ngupil pake beling...!"<br />
"That's not true, beib, aku straight terus belok kanan terus dipertigaan belok kiri, mundur dikit, nyampe deh di hatimu hhe. Asal km tau beib, aku tidak bisa menjadi bf dari seorang pria yang beristri. Jadi aku suka yg pure original muach... muach... ky km beib." balasnya.<br />
"Sebenernya waktu aku pertama kali bertemu kamu di perempatan jalan itu, aku merasa ada rasa yang tidak biasa dan entah mengapa..." terangku menjelaskan.<br />
"Itu mungkin, tanda-tandanya kamu suka aku sayang, (sambil ngedepin mata)." ucapnya.<br />
"benarkah itu, sayang? Apakah km bersungguh-sungguh suka padaku? Kapan kamu pertama kali suka padaku?"<br />
"Ia, sayang, aku suka padamu. Km sprtinya tdk butuh mengetahui sesuatu yg seharusnya tidak perlu, yg jelas aq skg suka padamu." jelasnya.<br />
"Aku juga sayang."<br />
"Maukah kau jadi pacarku selamanya?"<br />
"(aduh... gimana nih gw ditembak pake kata selamanya lagi, GALAU TO THE MAX!)"<br />
"Sayang... sayang..." sapanya keheranan.<br />
"ia... ia..."<br />
"gini sayang... jadi gay adalah sebuah pilihan jadi..."<br />
"ok... aku mgkn ga yakin akan hal itu..., ngomong2 maukah km bersabar sbentar saja menunggu jawabanku? (kalo ga pake kata selamanya gw terima deh nih ganteng)." kataku.<br />
"ok, sayang... akan kutunggu jawabanmu (sambil mengedipkan mata..)" jawabnya<br />
"terima thankyou... eh, mau denger ga curhat serem aku yang... pokoknya sesuatu banget deh...(sambil benerin bulu mata anti badai)." jelasku<br />
"ok...  penasaran, ky apa ceritanya." terangnya.<br />
"Gue tuh yah, sebenernya suka sama laki geto. Gue ketemu diee pertamakali, di pertigaan jalan deket rumah gue geto... Diee tuh yee... bawa mobil mercedes tipe N91 geto... Terus ye... diee ngjajak kenalan ma gue geto. Minta nomor segala hape geto. And then, dia nanya dimana bengkel sekitar sini geto, soalnya seh yah, mobilnya perlu di servis geto. Terus... gue kasih tau deh tuh bengkel deket rumah angker geto. dia bilang terima thankyou, geto. Lalu dia cpet2 deh kebengkel geto. Malemnya... dia smsan ma gwe geto. Gw minta kita ktemuan geto... di rumah angker geto... Awalnya dia ga mao geto, tapi gw janjiin mau beliin hp baru canggih cakep geto. Ya udah deh katanya geto. Pas di rumah angker, dia liat Mister Pocong makan burger geto. Terus dia ngrasa kaget dan takut banget. Gue sih biasa aja geto. Secara gue ga liat apa2 geto. Abis geto geto, dia liat Misiz Kuntai lagi bawa belanjaan baju baru geto. Dia jadi nangis2 ngajakin pulang geto. Gue bilang sabar... sabar... secara gue ga liat apa2. 30 menit berlalu, dia udah liat 30 hantu. Tapi gue belum liat hantu sama sekali geto. Lama2 gue sebel ga bisa liat apa2... dan gue sendiri yg minta cabut geto.<br />
Pas dirumah gue geto..., dia tanya, knapa sih tu masker ga dibuka2 dari pertama masuk tu rumah angker sampe sekarang.<br />
Terus gue jawab kalo tu masker buat ngerawat kegantengan gue. Pas dia mau lepas tuh masker, gue cegah geto karena tu masker harus tunggu 3 menit lagi setelah 3 jam dipake geto... selesai deh."]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Angkot Cinta</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734901/angkot-cinta</link>
      <pubDate>Mon, 21 May 2012 03:40:28 +0000</pubDate>
      <dc:creator>xchoco_monsterx</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734901@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[<b>Prologue</b><br />
<br />
Saat ini gue lagi ada masalah yang besar.<br />
Apa masalah gue? Gue sedang jatuh cinta.<br />
Sama siapa? Supir angkot.<br />
Ya. Gue Marvin Mahendra Putra, mahasiswa jurusan Broadcasting tahun kedua jatuh cinta dengan supir angkot.<br />
<br />
Fuck My Life.<br />
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~<br />
<br />
Woohoo new story <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
Ampun dah yang atu belum kelar yang laen udah muncul...<br />
Cuma bisa berdoa semoga choco dikasih badan yang kuat <img src="/plugins/Emotify/design/images/63.gif" width="" height="" alt="[-O&lt;" title="[-O&lt;" /><br />
<br />
Selamat menikmati <img src="/plugins/Emotify/design/images/5.gif" width="" height="" alt=";;)" title=";;)" /><br />
<br />
xoxo<br />
<br />
choco ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Season 1: Pengalamanku menjadi Gigolo ( Trey)+ season 2+ season 3</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733733/season-1-pengalamanku-menjadi-gigolo-trey-season-2-season-3</link>
      <pubDate>Mon, 19 Mar 2012 18:57:31 +0000</pubDate>
      <dc:creator>garykoolames</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733733@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Pengalamanku menjadi gigolo<br />
<br />
garykoolames<br />
<br />
Sebenarnya aku juga ngak nyangka , that one day, aku bakalan bisa jadi gigolo.<br />
Awalnya sih iseng-iseng doang. Kejadian itu berawal kira kira 2 tahun yang lalu, dan pencetus kejadian itu adalah saat itu aku hatiku hancur berantakan.<br />
Aku sudah pacaran dengan Jeff kurang lebih hampir 3 tahun, karena aku sangat yakin akan keutuhan hubungan kita,<br />
semua kulakukan dan kukorbankan untuknya, sampai aku harus tinggal bersama( kumpul kebo hehehe), come out ke keluargaku, apapun persyaratan dan keinginan jeff , selalu kuturutin.<br />
Tapi aku tak menyangka, saat cinta telah hilang, artinya cinta telah hilang. When it’s over , it ;s over.walaupun aku hampir bunuh diri/ suicidal , jeff juga tidak peduli,dia cuek aja.<br />
Aku juga rela untuk 3 some dengan siapapun yang dia mau, alasannya to spark our sex life. Walaupun itu menentang hati nuraniku, hal itu aku lakukan. Still all I did, nggak mencegah dia lari kelain hati.<br />
Hatiku hampa, hari hari kujalani seperti zombie. I need something untuk to fill my emptiness. Pelarian dari kenyataan pahit hidupku. Akhirnya aku jadi sering ke sauna, disauna aku tidak peduli dengan partner sexku , everyone is fine, semua oke , mau tua ,mau muda, mau jelek sekalipun,aku cuek aja.<br />
Walaupun kadang aku merasa mereka kejam dan egois, sudah crot , aku langsung dicampakan. TApi tidak semua egois, ada juga yg baik hati, menunggu sampe aku orgasme, . Tapi orgasme bukanlah tujuan utamaku. I just need someone, just need to feel and touch someone.<br />
Karena sangking sulitnya aku orgasme , sering aku merasa kasihan banget kalau aku jadi top. Yang jadi bot, selalu bertanya,”masih lama yah , keluarnya? Apa lagi kalau mereka sudah keluar duluan. SEring banget ke sauna,aku akhirnya cukup terkenal disana. SAmpai akhirnya aku mencapai titik jenih, ingin mengganti suasana.<br />
lama tidak ke sauna lagi dan tidak merasakan yang namanya belaian pria, aku sering melihat iklan pijat di koran. Suatu hari, kutelpon nomor itu, akhirnya aku janjian dengannya di suatu hotel murah di jakarta.<br />
Orangnya sih lumayan, umur 23 an, badannya atletis, something about his face, tatapan matanya terutama , yang I am not so sure. TApi karena udah horny, gua tetap melawan perasaan hati gua. Walaupun cakep, tapi resenya minta ampun deh. buka harga 1 juta, ampun deh, apa nggak salah???. The worst part, gua sial banget saat itu, orangnya memaksa banget, aku ada feeling dia ada masalah narkoba sedikit, dan aku mulai merasa nggak nyaman, dia mulai memaksa banget.aku sedikit mulai merasa takut.<br />
Aku bilang batal deh, tapi aku rela bayar 500ribu, tiba-tiba dia teriak teriak dan menelpon seseorang ,yang katanya aparat kepolisian . Aku juga heran , kenapa dia nafsu banget, dari tadi berusaha membuka celanaku . Aku mulai panic dan ketakutan. Dia sudah mulai telanjang, dan berteriak kalau dia dilecehkan.<br />
Tiba tiba aku teringat seseorang yaitu om dave,kutelpon om dave dan kuceritakan masalahku. Untung om dave segera datang katanya. Aku mulai tenang. Kukatakan kepada cowok anjing bajingan bahwa aku juga ada koneksi dan backing orang kuat dia pemerintahan.<br />
Dia masih teriak teriak. Dari percakapan telpon yang aku dengar, teman polisinya juga sudah dalam perjalanan menuju hotelku. Aku pingin keluar kamar, tapi dia menahan di pintu.<br />
Om dave akhirnya datang, dengan dua orang bodyguard berbadan tegap dan berambut cepak, tanpa kusadari mereka telah menyeret cowok jahanam itu, aku masih pucat pasi terkejut. Om dave berkata:’ kamu ke mobil saja, biar orang om yang beresin bedebah itu.”<br />
Om dave tersenyum melihatku dan lalu memelukku. Aku merasa sedikit lega. Aku mengenal Om dave dari sauna. Sebenarnya aku juga lupa awalnya bagaimana aku bisa berkenalan dengannya,tapi yang pasti kami lumayan sering ml di sauna, walaupun dia sudah hampir setengah abad lebih, badannya masih tegap, dan yang lebih penting dia tidak pernah memaksaku untuk bercinta dan dia selalu sangat lembut, membuatku nyaman dan betah berada disampingnya.<br />
Om dave lalu mengajakku pergi, dimobil ia menasehati untuk berhati-hati dalam hal hal beginian sudah banyak kasus pemerasan, dimana ketika kita memesan money boy, tiba tiba dikamar hotel, pintu kamar diketuk kencang , dan didobrak , dan tiba tiba ada yang mengaku aparat, tiba tiba langsung mengambil gambar, dan mengatakan kalau kita telah melakukan pencabulan dengan anak dibawah umur.<br />
Aku beruntung saat ini, karena sang pelaku sedikit fly karena pengaruh obat ,jadi rencana jahatnya tidak berjalan kurang lancer karena tidak terkoordinasi dengan baik . Biasanya partnernya udah stand by di hotel, dan dalam waktu singkat sudah bisa beraksi mendobrak pintu kamar.<br />
Aku masih shock dan tidak bisa berpikir. OM dave bertanya, dimana rumahku, tiba tiba aku bilang, bahwa aku mau tinggal di hotel aja. OM dave menelpon staffnya dan meminta dipesankan sebuah kamar di hotel berbintang 5. Aku diantarnya sampai dikamar. Sampainya dikamar, aku langsung mennciumnya.<br />
<br />
Aku memohon kepadanya jangan pulang dulu. Dalam posisi bersujud, kubuka tali pinggangnya. Aku sudah merasakan kontolnya yang mengeras, kubuka celananya dan langsung kukulum kontolnya. Om dave mulai membuka bajunya, tiba tiba dia mengangkatku, dan melemparkanku ke atas tempat tidur. Dibukanya bajuku satu persatu, dia mulai menjilati seluruh tubuhku. Dielus eluskan kontolnya ke mukaku. Aku mulai mengocok kontolku, aku sudah ngak tahan lagi, maklum aku hampir sebulan tidak onani. Setiap aku hampir mau keluar, om dave menahanku, diangkanya tanganku. Aku meraung,' om dave, aku ngak tahan lagi om , please, please biarin aku cum. Dia lalu mengisap kontolku tapi aku benar benar tidak tahan lagi, aku berkata, " om aku dan mau keluar.' tiba tiba spermaku keluar dimulut om dave, om dave menghisapku lebih kuat, aku serasa seperi meledak.<br />
<br />
Aku langsung lemas, lalu om dave menciumi , kurasakan spermaku dimulutnya, ia mengocok kontolnya yg besar, dan semakin bernafsu menciumi , sampai akhirnya ia keluar muncrat diseluruh tubuhku.<br />
Setelah itu , akhirnya kami mandi bersama, dan lanjut ngobrol, heran juga sih kehidupan di sauna, udah sering ml kok kagak pernah ngobrol. Ini pertama kalinya aku berbincang bincang dengan om dave. Walaupun kita sebelumnya udah tukaran pin bb, tapi hanya sekedar tukaran joke.<br />
Akhirnya ketahui, Om dave seorang pejabat Bumn, kisahnya klasik , tuntutan keluarga ia harus menikah, ia cukup bahagia dengan keluarganya, cuma karena memang karena tuntutan biologis, ia akhirnya ke sauna. Aku juga berterima kasih kepada OM dave, udah mau menolongku. Dia bilang pasti dia menolong aku, disauna itu, aku tuh termasuk orang yang baik. Kadang ada yang merasa kecantikan, dan please lah, if you have to reject someone , do it an a very humane way. Aku terkejut juga sih, OM dave merasa begitu, seorang yang menurutku lumayan cakep dan pejabat besar BUMN, bisa segitu vurnerablenya. Kuceritakan sedikit masalah dalam kehidupanku, bahwa gara gara aku yakin bener terhadap mantan exku, aku udah come out ke keluarga, dan karena naif cinta bisa mengalahkan segalanya, akhirnya malah aku diusir keluarga, dan plus broken heart. Terus om dave bertanya, mengapa aku kok sampean desperate ampe cari money boy, udah itu asal lagi. Untung katanya money boynya ngak bawa narkoba, kalau nggak, aku bisa dijerat pasal berlapis, narkoba, pencabulan dibawah umur. Aku tiba tiba memukul kepalaku, SHIT sambil berguman dalam hati what i have done to my self.<br />
OM dave terus ngomong, elo ini super super cakep , badan atletis, kok bisanya sampe desperate mau bayar, yang mau bayar kamu aja banyak.<br />
HAHAHA aku bercanda, beneran? hahha<br />
Aku terus bertanya disauna aja, orang udah males ama aku. OM dave tersenyum, ia banyak yang bete sama elo, hahahha karena elo selalu nggak mau cum hahaha, dan elo nggak pernah mau kissing. Aku terkejut : “ah yang bener” tanyaku. Aku bertanya ke om dave, " Om aku ada kan kiss om ?" Om Dave tertawa, u r a kind person.<br />
Akhirnya aku tertidur dipelukan om DAve. Ketika aku bangun, Om dave sudah tidak ada, tapi ada lagi, dia cuma menuliskan sebuah note, kalau breakfast included, dan hotel semua udah dibayarnya. Tiba tiba kulihat sebuah amplop berisi uang 3 juta rupiah, ditulis depannya UANG KAGET, aku tersenyum<br />
.<br />
OH NO, pasti om dave berpikir kalau aku kesulitan ekonomi, SHIT SHIT, buat malu aja .<br />
Kutelpon Om dave, Om kukatakan aku ingin mengembalikan uangnya. Tapi Om dave cuma berkata, minggu depan traktir dia, karena minggu ini dia harus ke Samarinda.<br />
Entah kenapa, bertemu dengan OM dave memberikanku secercah semangat kehidupan.<br />
Besoknya aku langsung ke butik Raol, yah amplop mahalnya, udah sale cuma dapat 2 kemeja, itu pun mesti nombok lagi.<br />
Setelah seminggu kami pun bertemu lagi, untuk dinner, kuhadiahkan kemeja itu, dan aku memaksa untuk mentraktirnya.<br />
Karena aku yakin dan percaya bahwa om dave orang yang baik, ku bawa om DAve ke apartemenku. Sesampainya dikamarku, ia cukup terkejut , bahwa kehidupan ekonomiku cukup lumayan , ia sedikit salah tingkah. Kubilang tenang aja, yang penting hari ini om Dave happy.<br />
Kusuruh Om dave untuk berbaring, kupijit tubuhnya dan kulumuri dirinya dengan massage oil, tiba tiba entah ide apa, ku rimming anusnya. ia keasyikan, dia berkata fuck me please<br />
dengan pelan pelan kumasukkan kontolku ke lobangnya, aku tidak akan menyakitinya. Dia mengeluarkan suara suara keasyikan, fuck me fuck me. pelan pelan ku sodok sodok lubang anusnya.<br />
<br />
Sambil ngefuck , om Dave mengocok kontolnya yang besar. OM dave meraung, fuck me harder harder, Eh tiba tiba om dave udah muncrat. Gila Bt banget, kok cepat banget muncratnya. Om dave membiarkanku untuk tetap mengfucknya, tapi aku bisa melihat kalau ia meringis kesakitan, aku nggak sampai hati. Kucabut kontolku dari pantatnya. Ia lalu menciumku, tiba tiba aku berkata, OM dave i love you. Dia tidak menjawab, lalu kita mandi bersama, ku gosok tubuhnya dengan sabun, Oh its so romantic. Dengan mata berbinar binar setelah mandi, aku bertanya kepada om DAve, will u be my boyfriend? Om dave mulai keliatan serius dengan raut muka tegang dan tak nyaman. I can feel it....FUCK FUCK I AM GOING TO BE REJECTED FUCK FUCK<br />
OH SHIT....OM dave merasakan mukaku memerah. Dia langsung memelukku, dia berkata, " Tidak ada orang normal yang ngak mau jadi pacarmu, u are perfect in every way." Aku langsung menjawab, perfect in all way Shit, everyone rejected me, including you . "<br />
Om dave kembali berkata,” Kamu harus mengerti dong, situasi om”. Om menjelaskan lebih lanjut kalau PAcaran itu membutuhkan komitment, gimana dia harus membagi waktunya untuk aku , dan dia harus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Aku sudah semakin sinis, Fuck lah, membagi waktu kesauna buktinya bisa. OM dave tiba tiba melihatku deep into my eyes,” The most important thing, i must protect my heart, I know many men like you, your heart keep on changing”. Om dave beralasan kalau dia hamper 30 tahun lebih tua dariku , soon dia akan menjadi sangat tua, keriput ,with aging , dia akan vulnerable.<br />
Om dave berkata ,” bila tiba tiba kamu meninggalkanku what become of me?" i need to protect my heart. Elo tahu kan sakitnya patah hati.”<br />
Aku menjawab,” But i will never leave u.i promise.”<br />
OM dave kembali menjawab, " Didn;t your ex say the same ?'...<br />
Aku terdiam.<br />
Di a kembali berkata, " kamu cakep, kaya, baik, intelligent, you deserve someone much much better "<br />
Aku berteriak, " I dont want someone better, i just want someone who really care ."<br />
OM dave berkata," Ask me anything? car , house or even money ? I will give you, please not my heart.”<br />
Hatiku hancur , air mata mengalir, aku tiba tiba dengan sinis berkata, “Om dave mendingan pulang aja deh, anak istri om pasti udah menunggu dirumah."<br />
Walaupun aku kasar terhadap om dave, om dave melihatku dengan penuh rasa kasihan, ia tahu kalau perasaanku terhadapnya tulus.<br />
<br />
Akhirnya om dave pulang, aku berteriak dalam hati, emangnya aku cowok matrek, dibayar dengan mobil atau materi. Tiba tiba aku berpikir, mungkin memang jalan hidupku jadi cowok bayaran.<br />
Kubuka websites manjam. Cepat cepat ku ambil digital cameraku, kutegangkan kontolku , kuambil gambar kontolku. lalu aku push up dan sit up masing masing 100 kali, kuambil juga gambar badanku, not bad...hmmmm....<br />
kutulis profile ku dimanjan, gigolo, servis memuaskan, jam terbang tinggi, only melayani di hotel bintang lima, price in US $, bla bla bla, dengan gambar kontolku yang tegang beserta my abs…not fully define six abs, tapi ada lah six absnya samar samar hahaha<br />
<br />
Oh my god, baru sehari di pasang, replynya super banyak,,,,banyak juga sih yang maki maki, belagu lah, bla bla ...NGACA lah, ampun deh....<br />
gile, gua super shock , kok orang pada sinis yah, mau iseng iseng cari kerjaan sampingan aja, kenapa pada emosi. Anjrittttttttt.....gua sampe nggak mood untuk lihat reply yang ada. Awalnya banyak yang iseng, tapi lama lama kok akhirnya jadi mengecam.<br />
Mau buka harga berapa, mau melayaninya dimana, kan suka suka gua.<br />
Emangnya gua ada menyakiti orang, ada membunuh orang.akhrinya gua cuma ngebaca dan ngedelete pesan pesan yang mas.<br />
tiba tiba ada satu pesan singkat yang menarik, diaccount manjam gua.<br />
When and where? how much ? Are you that good ?<br />
<br />
Aduh gila mau jawab apa yah ?<br />
gua iseng aja ah, emang tujuan gua cuma iseng iseng doang<br />
when: it;s your decision<br />
where : anywhere aslong it;s 5*hotel<br />
how much: negotiable<br />
are u that good: try me !<br />
<br />
reply reply yang lain kebanyakan iseng, paling serem yang mengecam ngecam, ampun deh, sesama binan kok bisa yah saling menghakimi. Mendingan jadi gigolo, dari pada selama ini gua di sauna,sex is for free, nggak ada benefitnya, malahan habis duit.mana tahu jadi gigolo profesional.<br />
I wish for more support than curse.<br />
<br />
besoknya dia reply:<br />
give me your number<br />
<br />
cepat cepat gua beli hp baru nomor baru, esia aja ,murah meriah hahahha(iklan gratis nih)<br />
gila hp baru gua norak banget hahhaha lampunya kelap kelip... gua reply balik nomor gua<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>DUA JIWA</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734812/dua-jiwa</link>
      <pubDate>Fri, 18 May 2012 02:49:07 +0000</pubDate>
      <dc:creator>ularuskasurius</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734812@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[PROLOG!<br />
<br />
Malam terus merambat menjemput kesunyian. Semilir angin berhembus dingin membekukan. Sesekali terdengar gesekan dedaunan dan patahan ranting kering yang terinjak binatang malam. Suara jangkrik ikut memeriahkan suasana malam yang memang terasa sangat mencekam. Sepi! Tidak pernah ku lalui malam yang sangat tidak ada rasa seperti malam ini. Ku coba untuk menghibur diri dengan tetap mendengarkan musik di laptop, walau niat untuk mendengarkan lagu gembira, tapi aku tidak bisa mendustai diriku kalau hatiku lagi sedih.<br />
<br />
Entah kenapa, semua terasa begitu aneh dan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ku jawab. Pikiran dan hatiku mengelana di pekatnya malam. Mencoba mencari jawaban di langit sana, ada apakah gerangan dengan hidupku? Kenapa terasa begitu kosong? Sungguh sakit ketika mengetahui keberadaanku sudah tidak dianggap. Aku sudah dianggap sepi, sesepi malam ini. Aku tidak pernah meminta, tetapi kenapa aku selalu diberikan sesuatu yang tidak bisa kupahami dengan akal dan pikiranku. Aku tidak pernah berharap, tetapi kenapa malam-malamku selalui dihantui ketakutan-ketakutan yang aku sendiri tidak tahu darimana datangnya. Aku tidak pernah menduga kalau semua perjalanan hidupku ini hanya dipenuhi dengan kesia-siaan. Aku lelah dan aku capek dengan semua omong kosong hidup ini. Ketakutan-ketakutan yang tanpa alasan yang selama ini memenjarakan hatiku, membuatku tidak mampu menatap dunia dengan kepala tegak dan bahu berdiri. Hidup yang hanya dipenuhi dengan hinaan demi hinaan yang harus aku tanggung.<br />
<br />
Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke bumi ini. Dan aku tidak pernah menyalahkan tuhan atas semua yang terjadi dalam hidupku. Karena apapun yang terjadi dan yang akan terjadi di diriku semuanya itu tidak lepas dari kehendaknya. Aku selalu diberi dua jalan yang harus ku pilih. Dua jalan yang selalu membuatku bimbang dan ragu-ragu dalam melangkah. Dua jalan yang tidak aku ketahui apakah akan berakhir bahagia atau derita. Dua jalan yang akan bisa membuat hidupku senang atau susah. Dua jalan yang menunjukkan aku ke arifan dan kemunafikan. Dan, aku selalu salah dalam meilih jalan. Sehingga aku selalu terpuruk dan terdampar di tepi jalan yang dipenuhi dengan lumpur kotor. Jalan yang dipenuhi anggur ternyata memabukkan, jalan yang dipenuhi dengan kesenangan ternyata hanya tipu daya semata. Jalan-jalan yang membuatku harus membusuk di neraka.<br />
<br />
Aku tidak pernah menjadi diriku sendiri. Aku selalu menjadi orang lain. Orang yang aku sendiri tidak aku kenali siapa. Sesosok jiwa yang bersembunyi di dalam jiwa. Dua jiwa di dalam satu tubuh. Dua jiwa yang membuatku terlihat aneh. Dua jiwa yang sudah ku miliki sedari kecil dulu. Dua jiwa yang menurut mereka bukanlah jiwa yang baik. Dua jiwa yang sebenarnya harus aku singkirkan salah satunya. Dan hanya aku yang tahu jiwa mana yang seharusnya tidak ada dalam tubuhku. Mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dengan diriku. Batin yang sering terluka, batin yang sering kecewa dan batin yang selalu mengharapkan sebuah. pengakuan. Pengakuan akan sesosok jiwa yang terjerat di dalam tubuhku. Jiwa yang ingin memberontak dan menunjukkan kalau makhluk seperti dia benar adanya. Sosok yang terus meraung dalam gelap malam minta dilepaskan dahaganya akan sesosok tubuh.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>♥˜”*°•¸Cium Gue Lagi! (Part 9 B - The Premonitions♥)¸•°*”˜♥</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733851/cium-gue-lagi-part-9-b-the-premonitions</link>
      <pubDate>Thu, 29 Mar 2012 10:59:55 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Foreill_V</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733851@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[By : Kiki Welliansyah]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Akhir Cinta di Ufuk Khatulistiwa Season ll</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732749/akhir-cinta-di-ufuk-khatulistiwa-season-ll</link>
      <pubDate>Tue, 10 Jan 2012 15:13:27 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Ian_sunan</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732749@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[               AKHIR CINTA DI UFUK KHATULISTIWA<br />
<br />
*Proloog*<br />
<br />
Sore itu Seorang Pria sedang Berjalan Menaiki Anak tangga pesawaat....<br />
Pria itu tertunduk lemas sambil Menangis sedih karena harus meninggalkan dan merelakaan Kekasih hatinya untuk waktu yang lama...<br />
Berat beban itu ia harus hadapi,demi Cita-citanya untuk Meraih masa depan..<br />
<br />
Dalam hatinya berkata....<br />
"Sayang....maafkan aku..aku akan kembali dan kita akan bersama lagi...<br />
Kenangan bersamanmu akan selalu membekas dihati sampai kapan pun.."<br />
<br />
Lain halnya Di pelataran parkir Bandara seorang pria tak kalah sedihnya,di dalam hatinya Ia tetap Menunggu kekasihhnya akan pulang Setelah menyelesaikan Study d luar negeri.....<br />
<br />
<a rel="nofollow" href="http://boyzforum.com/profile/ian_sunan">@ian_sunan</a><br />
Salam kenal semua teman-teman BoyzForum terutama di BoysStories.<br />
Perkenalkan aku Ian...dr judul cerita ini pasti kalian tau Aku berasal darimana....!!!<br />
pingin dari dulu nulis cerita2...tapi gaak bisa...<br />
Sekarang aku coba aja...kali aja cerita ini bisa membuat teman2 senang...coz cerita pertama ini memang terjadi secara nyata....semoga perkenalan singkat ini kita bisa saling bersilaturahmi dan saling mengenal.....<br />
Mohon Kritik dan sarannya ya....<br />
Xieixie nimen.<br />
<br />
<br />
*Kampus Widya Dharma<br />
<br />
"Astaga..kok bisa telat sie....mati aku..telat lagi...Jam Weker kok gak Nyala ya....mana hari ini Mata kuliahan si dosen Kribo lagi...!!! Aaaaaaaaaaaa ", ku cepatkan langkah kakiku memasuki pelataran parkir kampus yang terkenal satu-satunya dengan kampus lift yang ada di kota ini.<br />
<br />
Sesampainya di Depan Pintu Ruangannya  Dia ragu Akan masuk....<br />
<br />
"Aduuh...Si Rambut Kreboo udah masuk lagi...bisa2 aku mati berdiri di Plototinnya...."<br />
<br />
Ku beranikan jari-jari tanganku untuk Membuka Gagang pintu tsb.....lalu....<br />
Tak berapa lama Smua mata tertuju padaku....(hahahhhahah.....kayak Miss Indonesia aja)<br />
Tak terkecuali Si Dosen Sangaaar itu...<br />
<br />
"Mu Shunan...Wei shenme jintian ni chidao...??"<br />
("Mu Shunan...kenapa hari ini kamu telat...??")<br />
Kata si guru Sangar tsb memecah kesunyian....<br />
<br />
"Oooo..Laoshi....Duibuqi...."<br />
(Oooo...guru....maaf...) Ak menjawab...<br />
<br />
"Haoba.....meiguanxi....qingzuo"<br />
(Oke ‎​&gt;̴̴̴̴̴͡.̮Ơ͡ ....bailah....tak ap2...silahkan duduk)<br />
Guru itu meneruskan percakapannya...<br />
<br />
"Tumben Laoshi hari ini ƍäª maarah....ud dapat gaji x....heehehe...." batinku tersenyum....<br />
<br />
Hari ini Kuliah berjalan lancar seperti biasanya.....<br />
Setelah pulang kuliah Andika pulang ke Kostan nya....biasalah... Ia hidup d kota ini sendirian....<br />
Rumahnya lumayan jauh dari kota khatulistiwa ....itu menyebabkan dia harus ngekost...<br />
<br />
<a rel="nofollow" href="http://boyzforum.com/profile/Ian_Sunan">@Ian_Sunan</a><br />
Oh ya....Si andika ini sebenarnya ǝĸƲ..cuma ga enak aja pake nama sendiri...hhihihihi....<br />
Aku Kuliah jurusan  bahasa Mandarin..d salah 1 kampus d Kalimantan Barat.....<br />
Ya sebagai penjelsan saja supaya teman2 gak bingung...aku muslim...tapi campuran melayu+chinaa....<br />
Ok deh....sampe disini dulu....nanti aku lanjutin updatenya...<br />
Tolong kasih Kritik dan Sarannya yaaaa............<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>SI COWOK HUJAN (PART 9, 16 DESEMBER 2011, Page 2)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732307/si-cowok-hujan-part-9-16-desember-2011-page-2</link>
      <pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:25:12 +0000</pubDate>
      <dc:creator>LinuxRulz</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732307@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Maaf buat semuanya yang sudah menunggu kelanjutan ceritaku. kemarin sempat ada masalah dengan account gmail-ku dan gak bisa kebuka lagi jadi terpaksa harus membuat account gmail baru.  untuk selanjutnya cerita SI COWOK HUJAN akan di update menggunakan account saia yang baru.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>love, never end...</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731312/love-never-end</link>
      <pubDate>Wed, 31 Aug 2011 01:33:06 +0000</pubDate>
      <dc:creator>nativiere85</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731312@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Sangat sulit sekali mendiskripsikan diriku sendiri seperti apa, yang pasti aku tidak gagah, aku tidak ganteng, aku tidak putih dan aku tidak kaya...aku hanya lelaki biasa tdk punya kelebihan secara fisik seperti cerita2 gay yang lainnya...bahkan aku hanya berasal dari kampung yg sengaja untuk melanjutkan studi di kota kecil juga ( buka megapolitan ataupun metropolitan )...<br />
Panggil aku HAN...<br />
Nama ini merupakan sepenggal dr nama lengkapku, yang sebenarnya banyak juga teman2ku yg memanggil dengan sebutan HAN, kdng klo teman2ku lg iseng, mereka sering memanggilku HANTU, hahaha...<br />
<br />
Cerita ini bermula saat aku kuliah dan sudah semester 6 ( sedikit lupa ), aku hanya ingat saat itu baru tahun ajaran baru sekitar th 2006, dan anak2 kuliah yg baru masuk juga udah mulai hunting tempt kos...<br />
Saat itu aku tdk libur kuliah, krn aku sendiri kuliah di PTSn sedangka PTN sudah mulai registrasi buat MABA...<br />
<br />
Siang itu saat aku tidur2an di kamar kosku ( temen2 yg lain ada sebagian yg udah pulang krn liburan, ada juga yg tidurr siang )..sengaja pintu kamar aku buka sedikit, krn memang siang itu panas sekali, dan di dalam kamarpun panasnya Naudzubillah..<br />
Tiba2 diluar terdengar suara orang2 yg ngobrol dengan ibu kos, dr suaranya yg berisik saya yakin orang diluar itu banyak...<br />
Awalnya aku sih diam aja dikamar, dan aku pikir mungkin anak MABA yg cari tempat kos, dan memang ditempatku ada yg kosong...<br />
Sekitar 10 menit, pintuku ada yg ngebuka, aku kaget minta ampun..aku langsung bangun dr tempat tidurku lalu aku melihat siapa yg buka pintuku..<br />
Ternyata seorang ibu2, dan tanpa sungkan ibu trsebut bilang ke sodaranya<br />
" Oh seperti ini ya kamarnya ", sambil melongok ke kamarku dan ibu itu tersenyum ke aku..<br />
Aku hanya tersenyum dan sangat malu,krn saat itu aku cuma pakai celana pendek dan telanjang dada,dan kondisi kamarku berantakan kas anak cowok yg jorok...]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Love Love Love ^_^ - First Story</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734801/love-love-love-_-first-story</link>
      <pubDate>Thu, 17 May 2012 06:58:51 +0000</pubDate>
      <dc:creator>alby_unyu2</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734801@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Memori SMA ^^<br />
<br />
Aku sangat bahagia bisa diterima di sekolah favoritku yang merupakan sekolah paling bermutu en bergengsi di kotaku.<br />
Saat itu sebenarnya aku sudah merasa ada yang ga beres dengan diriku selama ini. Kayaknya aku koq lebih seneng merhatiin co daripada ce. Wekss!! Itu bukan brarti aku jadi bergaya sissy, kemayu en kaya banci gitu deh. Gayaku asli normal co lah 100%. Di SMP juga pernah punya pacar ce koq, mesti mata ga ikutan lepas juga ngecengin co-co keren yang dirumpiin temen-temen ce SMP ku dulu. Ha Ha.., paling nga ngerekam wajah keyen mereka diotakku deh. Wait!! Kalo aku nga nyombong, kayanya co-2 keren itu masa SMP itu termasuk aku!! Katanya aku masuk kategori co yang berwajah innocent en senyumnya imut-2 (ciee… ge-er banget deh gw), dengan kulit putih He He.. Cuman ukuran badanku agak kecil bila dibandingkan temen-temen sebayaku saat itu. Tapi tamat SMU kita bubaran karena dia mo lanjut ke Ibukota en ga mau long distance relationship. Aku sih oke-2 aja.. meski sedih juga siihh pisah…<br />
Tapi aku berusaha keras untuk melawan kelainanku ini. Aku tak pernah dan selalu menghindar untuk berhubungan dengan dunia yang satu ini. Jadi, aku tidak pernah pacaran dengan sesama jenisku, sebelumnya.<br />
<br />
Kurasa diriku sudah bisa dikatakan berhasil untuk normal kembali sebagai lelaki sejati karena kupikir aku telah sukses melawan kelainanku tersebut. Tapi aku tak kuasa ketika akhirnya aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang cowok. Dia adalah siswa sekolahku juga. Kakak kelasku yang telah duduk dikelas III. Ben namanya, seorang ketua umum siswa dari seluruh kelas. Disekolahku memang ada jabatan khusus untuk mengetuai seluruh siswa semacam ketua OSIS juga. Jabatan tersebut sangat bergengsi disekolahku.<br />
================<br />
<br />
Wokeh deh aku coba flash back ke pertama kali kenal Ben yah. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. SMU, sekolah baru pula. Slama ini aku bangun always aga ksiangan karena terbiasa sejak SMP, jarak SMPnya deket rumahku. Jadi aku suka santai-2 aja ga perlu buru-2. Lagian aku selalu bawa honda tigerku kesekolah, jadi tambah irit waktu. Tapi kali ini kayaknya sial deh. Aku bangun siang banget. Tadi malam kepake begadang nonton bola, selain emang suka bola, juga demen liat para pemainnya yg ganteng-2. Huahahah.. Mulanya sih masih pengen geliat-geliat lama-2 sampai teringat kalo hari ini hari pertamaku SMU, dan sekolahku kali ini cukup jauh dari rumah. Ya Amplop !!Langsung aku lompat dari tempat tidur, menyambar handuk dan cibang-cibung mandi. Untung tadi malem baju udah disuruh strikain ama Bibik. Maklum, lagi norak-2nya anak baru masuk SMU, jadi rajin deh persiapan, ngurus baju, tas en buku-2 hehe..<br />
Langsung kustarter honda tiger ku setelah dipanaskan sebentar dan melesat kejalan.<br />
<br />
Sambil jalan, pake acara ngebut-2an, kucoba mencium aroma hawa pagi yang lumayan segar menerpa wajah. Kemudian aku hampir tiba di sekolah baruku itu. Ya, udah keliatan dari jauh gedungnya, aku makin semangat memacu tigerku, ketika tiba-tiba……..<br />
CCCIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT !!!!! GUBRAKKKKKKKKSSSSS !!!!!!<br />
Tiba-2 aja dari belokan jalan itu nongol sebuah sedan metalik, dan aku ampir nyerempet tuh mobil. Aku ngerem mendadak en setelahnya badanku mencium aspal dengan sukses. Persis aku tergeletak disebelah mobil itu yg juga berhenti.<br />
Aku terduduk en mencoba untuk memeriksa apa seluruh tubuhku masih ok ? Ga ada yang patah or luka ? Deuh, untung gw pake helm deh..<br />
Pintu mobil disamping aku terduduk terbuka, pemilik mobil keluar. Aku mendongak. Sosok itu menunduk memandangku, hanya berdiri sambil menunduk, tidak berlutut untuk ikutan memeriksa atau apalah sekedar perhatian.<br />
Dia adalah seorang cowok dan berseragam SMU. Aku melihat bed lengannya, benar dugaanku, anak SMU ku juga.<br />
« Makanya kalo jalan lihat-2. Jangan sembarangan ngebut aja. Kalo udah gini, siapa ntar yang disalahain kalo nga kendaraan yang lebih besar. Padahal elonya yang jalan kaya gitu, »<br />
Gile benerr !! Berani bener nih co. Mentang-2 deket sekolah dia. Udah orang ampir tabrakan gini, dia malah sok nasehatin kayak bapak-2. Padahal kecelakaannya sama dia lagi. Shit !!<br />
Aku berdiri dan kini kami berhadapan. Dia tinggi banget rupanya. Pegel-2ku akibat jatuh (untung aku ga kenapa-napa deh) makin terasa aja, ditambah kesebalanku sama cunguk satu ini. Bukannya minta maaf malah mandang sinis begitu.<br />
« Lo juga kalo mo belok, please pake mata yah. Harusnya kan lo bisa ati-2 pas ada tikungan gini, jangan asal masuk aja, » bales gw sok sinis juga. Abis udah kepalang sebel. Pengen rasanya ngguyur dia pake air es berember-ember, kalo ga dijadiin umpan hiu, sebell deh.<br />
Dia masih mandang aku dingin, lalu melihat badge lenganku.<br />
« Oh.. anak baru.. » gumamnya pelan, tapi aku denger.<br />
« Tau darimana lo gw anak baru ? » serang gw nyombong. Abis masa seh dia tau ribuan mahluk se SMU itu semuanya.<br />
Dia pura-2 ga denger. Kemudian ngambil langkah buat balik kemobilnya.<br />
« Ntar nyampe sekolah, kalo ada yang sakit, periksa aja ke UKS, » ucapnya, kedengaran sperti perintah dikupingku.<br />
Lalu dia berlalu begitu saja dengan mobilnya. Tanpa minta maaf. Tanpa senyum. Tanpa bantuin diriin tigerku lagi. Siall banget !! Shit !! Shit !! Kenapa dia bisa satu sekolah ama aku ? Hmh.. liat ntar deh kalo dia anak baru juga, tau rasa. Makiku dalam hati, sambil diriin tigerku lagi lalu memacunya kesekolah. Aku asli sudah telat !!<br />
Sampe sekolah para siswa udah mulai baris, gerbang aja udah ditutup. Aku aga bingung juga, si sombong yang naek sedan tadi cepet juga melesat. Sementara aku harus berurusan lagi ma satpam agar dapat dibukain gerbang. Setelah nanya ma satpam tempat parkir motor, aku segera markirin tiger en bergabung ama barisan anak baru. Mulanya bingung juga sih, yang mana ya yang anak baru semua ? Untung ada anak kelas tiga yang ternyata salah satu dari guide-2 yang ditugaskan mengatur barisan siswa.<br />
Setelah mengikuti upacara dan salam perkenalan dari Kepsek, anak baru mulai diatur kelasnya. Sebenarnya maren udah datang buat liat aku ditempatkan dikelas berapa. Kelas I7. Total ada lima belas kelas untuk anak kelas baru.<br />
Aku clingak-clinguk kesana kemari. Aku mencari cowok sombong yang nabrak aku tadi. Mana seh ? Bukan anak baru ya dia ? Oo, jadi anak kelas atasku lagi ? Huh, mangnya gw takut ?<br />
Hingga barisan kami diperintah masuk kelas, aku gak bisa nemuin sisombong itu.<br />
=========<br />
<br />
Hmmm.. sejauh ini, kayanya kelasku asyik deh anak-2nya. Baru beberapa jam seh, kenalan.. tapi kami udah serasa akrab en becandaan mlulu bawaannya.<br />
Schedule mata pelajaran dibagikan. Aku langsung memeriksa kapan saja mata pelajaran fav-ku, matematika dan fisika, nongol.<br />
Kelas lagi ga ada guru, jadi kami asyik ngobrol. Tau deh, apa memang sengaja untuk dikasi kebebasan sejenak agar dapat berinteraksi dengan temen sekelas.<br />
Aku langsung critain ttg co sekolah ini tadi yang ampir nabrak aku tadi pagi. Critanya kubumbu-bumbui lagi biar seru, hehe.. Kesimpulannya aku buat crita tuh biar yang denger mandang kalo si co sombong emang bersalah banget, ha ha.. rasain !!<br />
« Hmm.. naek Baleno metalik ya, Bel. Platnya ..…. Ya ? » Wisnu, yang berdiri diseberang nanya dengan tampang srius.<br />
Aku tertegun, « kayanya aku ga hapal en ga liat plat mobilnya saat itu »<br />
« Oh.. saya kira yang itu.. » gumam Wisnu.<br />
« Mang napa Nu, kalo yang platnya kaya yang kamu maksud? » tanya si Gendut Hady.<br />
« Kalo yang itu gw kayanya tau orangnya. Dia seangkatan kaka gue, anak kelas tiga. Ketua Siswa disini.. » sahut Wisnu.<br />
« Ooooo » kami ber oo ria.<br />
Aku mulai sebel. « Gak ! Gak ! Bukan yang lo maksud. Masa Ketua Siswa kelakuannya tercela gitu. Salah lo Wis,bukan itu deh pokoknya. Orangnya serem » bantahku.<br />
Ya, aku sendiri takut, takut kalo memang ucapan Wisnu benar. Bukan takut apa, maksudnya mau bales dendam kedia jadi agak susah donk kalo dia siswa berpengaruh disekolah ini.<br />
« Serem kata lo ? Mang tampangnya gimana ? » tanya yang laen. Aku terdiam lagi. Sejujurnya aku ga gitu merhatiin wajahnya tadi kecuali tatapan matanya yang tajam en sinis padaku.<br />
« Hee.. oragnya tinggi, skitar 180an… trus, matanya.. matanya » aku tergagap.<br />
« Matanya kenapa Bel ? » tanya temen-2ku penasaran.<br />
« Kaya hantu.. » bisikku dengan suara seperti orang tercekik dan dgn tampang pura-2 ketakutan.<br />
Yang laen bengong sejenak, lalu ngikik abis. Aku juga. Jadi ga srius lagi deh, abis.. aku mang dah lupa ma tampang tu orang.<br />
Dan kemudian aku mendapatkan kejutan dahsyat…….. selajutnya !!!!<br />
Kelas yang riuh mendadak sepi ketika tiba-2 aja seorang guru dan dua orang kakak kelas lainnya, nongol dikelas kami. Mereka datang meninjau setiap kelas baru dan memberikan beberapa informasi kepada siswa baru seperti kami.<br />
Aku ga gitu perhatian, malah asyik gambar-2 kartun dibuku tulisku, en buku si Wisnu, temen sebangkuku hehe..<br />
“Bel” Wisnu memanggilku sambil berbisik, pelan. Saat itu kelas hening, guru yang datang sedang berceloteh dikelas kami, menerangkan ttg peraturan en tata tertib sekolah, padahal tadi pas upacara juga udah disampein Kepsek. Bete deh..<br />
“Paan?” jawabku berbisik pula, aga terganggu konsentrasiku gambar.<br />
“Berenti dulu donk gambarnya. Lo diliatin tuh.. Ga enak Bel,” bisik Wisnu lagi.<br />
“Ma sapa?” aku masih keras kepala.<br />
“Sama Ketua Siswa sekolah ini”<br />
“Biarin. Rese..” balesku<br />
“Dia ngeliatin terus Bel. Kayanya nga suka karena lo ga merhatiin guru..”<br />
Akhirnya dengan kesal aku angkat muka, mau liat sapa yang mlototin, dan wowwwwww…… asli aku kaget abis!!!<br />
Didepan itu, satu dari dua kakak kelas yang datang bersama guru tersebut, tengah memandangku tajam banget. Cowok itu menatapku tajam tanpa ampun. Semua orang sekelas sekarang tau deh siapa yang jadi fokus tatapannya. Memang sial banget. Sekarang aku jadi inget deh wajah menyebalkan itu. Sosok yang tadi pagi ampir nabrak aku ditikungan jalan. Sosok menyebalkan itu. DIA KETUA SISWA SEKOLAH INI!!!!<br />
Kleng-klong-kleng-klong….. mendadak palaku jadi rame bunyi-bunyian gene. Tau deh ekspresi wajahku saat itu pas liat dia. Mungkin bengong, mungkin menyeringai.. atau apalah aku bener-2 nga tau. Kaya rohku lagi ga ditempat waktu itu. Ngilang beberapa saat.<br />
“Itu dia..” tanpa sadar keluar dari bibirku, meski berbisik, dengan mata masih melihatnya. Kaya terhipnotis. Gila.. betah banget dia mandangin gw dengan tatapan kaya pembunuh sadis gitu, batin gw.<br />
“Apanya Bel? Itu dia.. maksud lo yang nabrak lo tadi pagi ya?” tanya Wisnu yang rupanya mendengar bisikanku.<br />
Aku jadi nyesal kelepasan ucap, tapi aku diam aja ga bantah. Aku diem aja. Sosok itu ga ngeliat aku lagi. Mungkin dah cukup puas kali dia, kini dia sedang bercakap-2 dengan teman yang berdiri sebelahnya.<br />
Pemilihan ketua kelas dan antek-2nya dimulai (hehe). Setelah itu. Si mata sinis itu mulai ngomong, ngasi kata sambutan.<br />
“Selamat siang adik-adik. Selamat datang disekolah kita tercinta. Nama kakak Benjamin bla-bla-bla (dah lupa gw, tapi cukup panjang nama belakangnya). Tapi cukup panggil Ben aja. Saya merasa bersyukur memeperoleh jabatan yang cukup bla..bla..bla.. Intinya dia mo bilang jabatan Ketua Siswanya itu lah. Males aku denger. Orang kayanya ditujukan keaku gito biar gak macem-macem. He he.. gw sensian yah…..)<br />
Hmm.. jadi nama si sinis itu Ben.<br />
Saat itulah aku mulai meperhatikannya sungguh-2, meski dengan rasa benci. Aku memperhatikan cewek-cewek dikelasku bagai ingin keluar semua matanya melihat sosok Ben yang gagah, dengan tinggi 180 an, kulit bersih khasnya indo bule. Seragam SMU yang dipakainya tampak begitu bagus dibadannya yang tegap dengan dada bidang itu. Tampaknya dia indo, terlihat dari wajahnya yang kebulean, dan rambut serta bola mata yang kecoklatan. Tapi Ben ternyata tipe cowok cool. Tak tampak sebersit senyum pun dilontarkannya sebagai salam perkenalannya pada kami. Parasnya dingin, kaku en cuek abis. Matanya menyorot tajam dan berkesan sinis, (kuakui disini central ke-khasan seorang Ben) meski sangat indah sekali. Bibirnya bagus tidak terlalu tipis atau tebal, tapi hanya terkatup rapat. Namun justru keseluruhan sosok dan sikap dinginnya itu yang membuat temen-2 ce ku tuh kesengsem, en gak disangka beberapa temen co juga kagum en menaruh segan ama dia.<br />
Hmm.. diam-diam hatiku gak bisa berbohong untuk setuju kalo co yang satu ini keyeeennn abisss!!!! Cuma tadi pagi napa gue ga nyadar yah??<br />
Rasa benci gue aga mencair dikit.<br />
“Yang perlu diingat..” lanjutan petuah Ben.<br />
“Salah satu yang membuat sekolah kita beda adalah peraturan-2 unik seperti yang udah dijelaskan Bapak Agus tadi. Mengenai buku hitam siswa. Untuk ini saya ingin menguji adik-2 apakah benar-2 sudah menyerap penjelasan Bapak Agus. Untuk itu saya minta yang sebelah sana memberi penjelasan”<br />
Haahh!!!<br />
Gak salah neh? Dia menunjuk kebarisan kami. Aku masih ga nyadar. Yang laen ngliatin aku, wisnu memandangku.<br />
“Kamu Bel. Dia nanya kamu. Tuh kan, gw bilang jg apa..” kata wisnu.<br />
Aku bengong. Asli gw ga tau, orang gw ga nyimak. Apes deh.<br />
“Ya kamu. Jelaskan..”<br />
Aku melihat sinar kemenangan dimatanya. Sialll.. pengen kucolok rasanya tuh mata. Barusan juga aku udah aga bekurang benci ke dia, eh skarang malah nambah lagi neh.<br />
“Yah… maap.. gw gak bisa jelasin. Gw belom denger..”<br />
Hening.<br />
Aku masih ga ngerti napa hening. Biasanya kan kelas pada celutukan kalo ada anak yg gak bisa jawab, alias dijailin gitu, tapi sekarang kaya ada apaaa… aja..<br />
Aneh deh.<br />
“Well..” katanya akhirnya, gantung.<br />
Ben meraih sebuah buku hitam ukuran buku saku.<br />
“Satu kali kesalahan untuk anak baru karena ga bisa jelasin pertanyaan saya...” dia menuliskan sesuatu.<br />
“Dan satu kali lagi karena tidak sopan mengganti kata saya dengan gw, untuk berbicara dalam bahasa formal kepada kakak kelas.”<br />
Aku makin bengong, ga ngerti.<br />
“Oke, agar kamu ngerti, coba adik yang duduk disebelahnya menjelaskan.”<br />
Wisnu mengangguk. “Buku hitam siswa, adalah buku catatan kesalahan setiap siswa yang bersikap ga sopan atau diluar etika kepada kakak kelas, guru, dan orang-2 yang lebih tua dilingkungan sekolah ini. Buku tersebut dapat membawa kita pada masalah nilai-2 akademis nantinya, bila kita banyak mengumpulkan kesalahan. Bila lebih dari 5 kesalahan tertulis dibuku hitam, harus melapor kepada Ketua Siswa untuk meminta keringanan. Untuk itu Ketua Siswa akan memberikan keputusan. Lalu bila lebih dari 5, bahkan bila hampir sepuluh kesalahan kita terdapat dalam buku hitam dalam 1 caturwulan, kita bisa diskors. Buku hitam dipegang oleh setiap kakak kelas tiga saja, yg nanti melaprokannya pada Ketua Siswa. Untuk buku hitam setiap kelas, akan diberikan pada ketua kelas, lalu dilaporkan setiap minggunya pada Ketua Siswa. Demikian penjelasan dari saya,” terang Wuisnu dengan sopan. Aku memperhatikan. Wisnu betul-2 sopan, nga dibuat-2 gara-2 buku hitam tersebut.<br />
Ben mengangguk.<br />
“Makasih dik” lalu dia menatapku.<br />
“Kamu ngerti sekarang kan?”<br />
“Enggak..”<br />
Kelas melongo lagi. Ben tampak tertegun. Wah.. kayaknya slama ini blom ada yg brani nglawan dia neh. He he..<br />
“Maksud kamu.. kamu bukan mau bilang kalo telinga kamu mendadak tuli atau daya ingat kamu melemah kan?”<br />
Shit!!<br />
Dia sedang mengejekku, tapi dengan kata-2 yang tajam begitu.<br />
Aku diem dengan wajah kesal.<br />
“Tolong jelaskan arti kata ‘enggak’ kamu barusan” perintah Ben dingin, Dasar tukang perintah.<br />
“Enggak. Alias saya gak terima tuh peraturan aneh kamu. Pak…,” saya menoleh ke Pak Guru yang sedari tadi diam ga brusaha menengahi apa yang sedang terjadi.<br />
“Masa sekolah trima sih peraturan aneh kaya gitu. Sekolah laen aja ga ada. Kayanya kurang kerjaan deh Pak. Trus, masa Bapak biarin seorang siswa melebihi guru wibawanya. Kayaknya ga gitu fair deh Pak..”<br />
Aku melihat pipi putih Ben aga bias merah. Matanya juga mendadak menyorot tajam kearahku lagi.<br />
“Nak..” jawabnya dengan sorot wajah kebapakan.<br />
“Memang peraturan itu sudah ada dari dulu. Lagipula itu mendatangkan efek positif bagi siswa juga sekolah. Kita jadi lebih menghargai etika, sopan santun. Mengenai siswa kelas tiga, kita sengaja menumbuhkan calon-2 seperti Ben dan teman-2nya yg lain, agar mereka sadar akan kedewasaan mereka dan beban yang mereka bawa setelah keluar dari sekolah ini. Kamu akan mengerti sendiri nanti. Dan menyadari keuntungannya dalam jangka panjang..”<br />
Bull shit!! Keuntungan apaan? Aku mulai menyesal kenapa jadi masuk kesekolah ini…<br />
======<br />
<br />
Hari ini aku sukses mencatat 4 kesalahan yang terpampang manis didalam buku hitam Ben, sang Ketua Siswa yang disanjung-2 itu.<br />
Huh.. Sebelnya amit-2 deh!! Satu harian aku jadi bete dirumah.. kemana-mana juga males. Dan kalo inget besok harus masuk lagi.. wadoh!!! Rasanya mo pindah aja deh dari sekolah neraka itu..<br />
Hari kedua sekolah. Saat markirin tiger-ku, aku baru ngerasa kalo hari-hariku disini akan berlalu lama dan panjang sekali. Huh!!<br />
Dikelas en dikalangan para anak kelas satu aku jadi terkenal, karena menjadi siterlalu-pemberani yang pada hari pertama udah dapat 4 catatan di buku hitam siswa dan nekat mlawan Ketua Siswa. Tapi herannya, mereka koq ga pada protes sih sama tuh peraturan, malah patuh gitu. Dan mereka juga ga benci ama Ben. Apa Cuma gw sorangan wae yang benci dia disekolah ini?<br />
Eksul yang tersedia disekolah ini lumayan banyak. Setiap siswa baru diwajibkan mengambil pelajaran eksul yg disukainya. Hmm.. aku suka basket, volli, baseball. Eh, fotografi atau gambar juga oke deh kayanya. Hmm.. aku mikir-2 lalu mulai menuliskan pelajaran eksul yg disukai di kertas untuk didaftarkan ke sekretariatnya.<br />
“Bel! Lo pilih apa?” tanya temen-2.<br />
“Tau nih, bingung. Asyik-2 semua. Kalian?”<br />
“ Baseball ya Bel? Gw baseball juga ..” kata wisnu saat melihat kertasku.<br />
“Sama donk kita. Asyik!!” teriakku senang.<br />
“Iya. Baseball asyik.. Yang ngajar juga kakak kelas kita koq..”<br />
“Oya? Sapa?” tanyaku masi semangat.<br />
“Ben. Ketua Siswa kita. Dia mang jago banget maen baseball. Kelas dua maren kelas kita kan menang pas tanding nglawan Smu Bintang, berkat Ben lho..” celoteh wisnu semangat.<br />
Dan aku Cuma bisa bengong. Semangatku langsung down denger nama itu disebut-2, apalagi dia pelatihnya. Aku ga bisa bayangin daftar namaku di buku hitamnya nanti, bisa beratus-ratus mungkin, hehe…<br />
“Lho.. koq diapus Bel? Ga jadi pilih baseball yah, Yaaa. Elo..” Wisnu kecewa ngeliat aku tiba-2 ganti eksulku dikertas.<br />
Abis sapa suruh lo nurunin smangat gw dengan nyebut nama dia gitu, batinku..<br />
“Basket kayanya lebih asyik deh..” gumamku.<br />
“Iya sama ma gw..” kata Agus. “Lagian banyak tuh milih basket”<br />
“Yang ngajar?” tanyaku waspada.<br />
“Yg ngajar ya banyak laa..”<br />
“Si Ketua Siswa itu termasuk?”<br />
“Mm.. iya katanya. Tapi ga sesering baseball. Lagian dia juga tim inti disekolah ini. Aneh aja kalo dia ga ikutan ngajar adik-2 kelasnya..”<br />
Busyet dah!! Di basket juga dia ada. Aku jadi curiga jangan-2 disemua eksul dia ada.<br />
“Eksul memang sebagian besar kebijaknnya ditimpakan ke kakak kelas Bel, makanya Ben hampir ada disetiap eksul, karena dia kan harus memantau setiap kegiatan siswa disekolah ini”, terang wisnu seperti tau pikiranku.<br />
Aku meneguk ludah. Ben ada dimana-mana ternyata, dan aku bisa dengan mudah bertemu dengannya. Gawat juga, padahal aku ogah brurusan dengan cunguk yang mulai kutau reputasinya disekolah ini.<br />
Akhirnya kupilih voli aja karena kudengar sepak terjang Ben kurang dibidang ini. Padahal voli ga gitu hobi dibanding basket or baseball. Tapi apa boleh buat, aku benar-2 benci ma cunguk yg namanya Ben.<br />
Hari-hariku berjalan terus di SMU ini. Mau tak mau info tentang mahluk bernama Ben selalu sampai ketelingaku karena temen-2 ce ku selalu ngomentarin dia bak Raja. Pacar si Ben pun aku sampe tau, padahal udah usaha ga mo tau apapun tentang dia. Pacarnya primadona sekolahku juga. Mereka memang pasangan serasi dan « selebritis » ngetop sekolah kami, hingga para siswinya gak pernah kehabisan bahan obrolan hangat buat ngobrolin mereka. Carmen nama ceweknya, model remaja cukup terkenal dikotaku yang pernah masuk final salah satu lomba ajang pemilihan model sampul majalah remaja ibukota. Pokoknya mereka dah kayak Prince and Princess-nya siswa SMU ku deh.<br />
Huh pantes deh, sok perfect tuh co. Gila kayaknya cuma aku sorangan wae yang benci dia !!!<br />
==================<br />
Gak terasa udah ampir sbulan juga aku disekolah itu. Co or ce baru udah mulai incar gebetan, hehe.. malah ada yang dah jadian. Kakak-kelas juga pada gebetin adik-2nya. Haha.. aku diam-2 sibuk merhatiin kakak kelasku yang co yang ternyata keyeen keyeeenn !! Haha.. terutama anak baseball ma basketnya. Sayang ada si cunguk, kalo gak aku dah ikutan dua ekskul tersebut. Kalo Ben, walo cakep, gak masuk itungan deh. Meski kuakui gaya maennya dia sip banget. Asyik deh ngeliat dia maen. Tanpa sadar kalo lagi ekskul gito aku nontonin, soalna aku ngrasa pengen banget ikutan, tapi gengsi en juga malas urusan ma si Ben.<br />
Suatu hari pulang sekul aga telat, pas lewat lapangan basket ada bola nganggur. Dengan semangat kumainkan en ku shoot ke ring. Siip deh. Aku maen terus, hingga tanpa kusadar ternyata aku udah ada yang nglawanin. Bolaku direbut dengan sukses, dan dimasukin dengan indah ke ring. Aku bengong.<br />
Ben !!<br />
« Gaya maen kamu bagus. Napa ga masuk ekskul basket ? » tanya Ben tenang sembari menoleh padaku. Sikapnya kaya ga terjadi apa-apa aja antara dia ma aku. Huh !!<br />
« Gak. Males aja.. » sahutku asal sambil sok sibuk dribble bola.<br />
« Hmm.. sikap lo salah, kalo hanya karena malas lo ga mau masuk.. »<br />
Yee… mulai petuah dia, gw bakal lari deh, batinku.<br />
« Aku juga sering liat kamu nontonin anak baseball, » sambung Ben lagi masih dengan sikap tenangnya.<br />
Woww… dia merhatiin ternyata, gawat juga neh.. tindak tandukku diperhatikan sama dia.<br />
« Kamu suka kan ? tapi napa gak mau masuk ? »<br />
Aku diem aja. Gak mungkin aku bilang gara-2 ada elo disono makanya aku ogah masuk, bisa-2 namaku tercatat lagi dengan sukses di buku hitamnya.<br />
« Kamu boleh benci dengan seseorang, tapi bukan brarti harus menjauhi diri gara-2 gak suka orang itu berada satu tempat dengan hal-2 yang ingin kamu masuki »<br />
Siaul !! Aku tercekat. Nih orang tau alesanku. Yah, kayanya wajarlah dia tau. Tanpa terasa mukaku aga merah juga.<br />
« Yep. Udah kan nasehatnya. Gw mo balik dulu.. » kataku sok cuek.<br />
Ben mengantongi tangannya disaku celananya. Gayanya cool, tapi sok wibawa deh kayanya hihi.. Tapi emang keren !!<br />
« Kalo udah brubah pikiran kamu silahkan masuk ke baseball atau basket.. » kalimat terkahir Ben.<br />
Selama ada elo kayanya enggak deh, batinku seraya pergi tanpa mengucapkan apa-apa.<br />
=========<br />
<br />
Di voli lumayan asyik juga lama-lama. Ada satu yang kayanya merhatiin aku terus. Kakak kelas. Dia tim inti voli sekolah. Namanya Rino, anak II.<br />
Terakhir pas abis latihan dia ngajak aku ngobrol. Buntutnya kami jadi akrab aja. Padahal gak gitu banyak persamaan atau hobi yang ada di kami berdua. Paling cuma sama-2 hobi nonton.<br />
Suatu hari kelas disibukkan dengan kesibukan anak-2 ttg catatan kesalahan di buku hitam.<br />
« Ada apa nih ribut-2 ? » tanyaku sambil ngeletakin tas ke meja.<br />
« Nah ini dia neh biangnya.. » Hady ketawa-2 sambil ninju bahuku.<br />
« Eh, Bel.. lo dah mutihin daftar kesalahan lo belon ke Ketua Siswa ? »<br />
« Mang napa ? »<br />
« Lha, ntar lagi mo ujian mid cawu, loe bisa ga ikut lho, kalo ga diurus tuh daftar.. »<br />
Wekss !!! Aku bengong.<br />
Aku baru inget. Aku udah punya 6 daftar item. 4 dibuat Ben saat hari pertama masuk sekolah dulu. 2 lagi dibuat kelas gara-2 aku bolos pelajaran ama pernah 3 kali berturut-2 telat masuk kelas. Hihi.. badung juga gw..<br />
« Mang harus ke si Ben, gitu ? » tanyaku enggan, pura-2 bolot.<br />
« Yeah, dari dolo udah tau juga, nanya lagi. Buruan gih. Senin dah ujian lho !! » temenku ngingetin.<br />
Well, mau gak mau nih… dalam hatiku kesel, terpaksa juga brurusan dengannya. Kebayang deh tatapan tajamnya. Wah, apalagi ntar kalo gw datang ke dia, dah kaya pembesar aja dia, ngerasa menang banget pasti dia !! Aku berdebat sendiri dalam hatiku, bener-2 gak tenang.<br />
Mau gak mau terpaksa deh aku niatin ntar pulang sekul mo jumpai so cunguk itu. Denger-2 dia pulang sorean, makanya aku males nyamperin pas istirahat, biar nanti pas pulang aja.<br />
Bel pulang aku bergegas keluar. Dengan sok PD mo kekelas si Ben ditingkat dua.<br />
« Kak, liat Ben gak ? » tanyaku sama seorang cewek yang papasan.<br />
« Wah.. adik yang manis. Manggil kakak kelasnya dengan nama aja ya ? » kakak cewe yang cantik itu mainin bola matanya.<br />
Glek.. aku nelan ludah, teringat kalo setiap anak kelas tiga punya buku hitam. Gawat neh.<br />
« Eee.. hehehe.. bcanda aja kok mbak. Maksud saya Kak Ben, ketua siswa kita. » jawabku sambil cengar-cengir.<br />
« Mmm… ntar yah saya pikir-pikir dulu.. » lalu dia sok mikir lama..<br />
Yeee… lama banget, makiku dalam hati kesel. Ngerjain nih ce.<br />
« Mbak.. tolong donk.. ada pesan penting nih yang harus disampaikan.. »<br />
« Apaan ? Surat cinta dari temen ce kamu ya ? »<br />
Weks !!! Dikerjain abis deh gw, maki gue dalam ati.<br />
« hehehe.. » akhirnya aku pasrah aja.<br />
Setelah bbrapa menit dikerjain baru deh dia kasi tau.<br />
« Biasanya kalo pulang kul gini dia suka ke Ruang OSIS atau Labor. Coba liat aja.. » akhirnya.<br />
Huh.. ngomong gitu aja susah banget. Mana ga akurat lagi, kemungkinan.. alias ga pasti.. brarti gw musti nyari-2 lagi, sama aja boong.<br />
Aku dah mau pamit ketika cewe itu menahan.<br />
« Say ‘thank you’ nya mana ? »<br />
walah, ditagih.<br />
« Makasih yah mbak yang cantik.. » kuberikan senyumku yang paling manis, musti hati dongkol.<br />
« Iya, aku emang cantik koq. Awas jangan mpe naksir yah.. »<br />
Siaul !! Aku langsung beranjak dari situ dan pergi ke ruang OSIS.<br />
<br />
Sampe ruang OSIS keliatannya sunyi, ga ada sapa-sapa. Aku ga yakin ada si Benjol didalam, tapi coba aku cek aja.<br />
Aku cuek aja membuka pintu OSIS yang kuyakini banget gak ada orang didalamnya tanpa mengetuk dulu, seperti perintah yang tertulis didepan pintu.<br />
<br />
Tapi aku cuma bisa bengong kayak patung ketika melihat sosok cowok sedang duduk disalah satu kursi disana. Diruangan ini hanya ada dia. Pantes dari luar kliatan sunyi.<br />
Dia sedang asyik menulis sesuatu, dan terkejut saat melihat kehadiranku. Dia adalah Ben! Kakiku lemas sekali dan jantungku serasa melorot ke perut takala matanya memandangku tajam dan angkuh. Aku bagai ditelanjangi oleh sinar matanya yang sinis (namun indah itu, belakangan aku mujinya, hehe).<br />
“Kamu nggak bisa baca tulisan dipintu, ya? Kamu buta huruf ?” tanyanya dingin.<br />
Sebelku langsung mencuat dengar suaranya, lebih-2 apa yang diomonginnya barusan. Enak aja bilangin orang buta huruf, dia tuh yang buta huruf.<br />
Sebenarnya aku dah mau balas bentak, tapi mengingat misi-ku menemuinya terpaksa kuurungkan, aku cuma bisa sabar.<br />
“Gw.. eh, saya.. mo ada perlu..” kataku kikuk. Soalnya ga biasa ramah ke dia, hihi..<br />
Dan Ben tau maksudku, ujung bibir kanannya membentuk senyum sekilas, dan itu kutangkap. Sial deh !!<br />
Lalu dia kembali menekuni kerjaannya.<br />
« Gw lagi sibuk, » jawabnya dingin dan nyuekin aku yg berdiri dihadapannya.<br />
Nah, bener lho.. Aku garuk-2 pala, sebel campur bingung.<br />
« Tapi saya perlu, karena mendesak. Masalah daftar kesalahan saya dibuku hitam.. » aku menelan ludah. Aduh, bener-2 ga nyaman deh. Berasa menang abis dia. Pokoknya gw benci banget, tapi kepaksa.<br />
« Hmm… nanti gw lihat.. » dia masih cuek, nunduk liat tulisannya, sama sekali ga ngeliat ke aku.<br />
« Tapi harus sekarang, soalnya Senin kami udah ujian… » suaraku kedengaran kaya ngerengek waktu itu. Aku sendiri benci banget kenapa nada suaraku saat itu kaya gitu.<br />
« That’s not my problem… »<br />
Siaall !!! Pengen gw gebuk deh nih cowok.<br />
« Sok kuasa banget sih.. » gumamku pelan..<br />
« What ? »<br />
Aku kaget sendiri. Ben ternyata denger. Makin rumit nih.<br />
Dia mendongak ngeliat aku. Matanya udah ga tajam lagi, aku ngeliat ada sinar nakal disana. Aku agak tertegun juga. Mata Ben kliatan bagus banget saat itu.<br />
« Ben.. kalo.. eh maksud saya Kak Ben.. »<br />
Mati deh gw ! salting abis.<br />
Ben terus ngeliat aku, seolah-2 lagi nunggu kata-2 terakhir napi sebelum kena hukuman mati, kaya gitu kali dipikirannya.<br />
« Hmm.. apa saya ga salah denger ? Kamu manggil saya apa barusan ? »<br />
Walaaahhhhhh…… Mukaku langsung panas.<br />
« Kkkakak… hehehe.. » jawabku grogi.<br />
<br />
« Oh.. » balasnya pendek. Dia mengangguk-angguk sok ngerti.<br />
Aku makin merana.<br />
« Beg.. begini Kak. Saya, hehehe… mau minta diputihin daftar nya gitu. Biar bisa ikut ujian.. » pintaku tapi suaraku masih bernada gengsi.<br />
« Hmm…. » Ben ber-hmm…. Sengaja banget deh dia. Sebel gw.<br />
« Ntar gw liat dulu.. » gumamnya sambil meraih ranselnya.<br />
Dia akhirnya ngeluarin buku itu dari ranselnya. Horeeee !!!!<br />
Tapi gayanya sungguh-2 memuakkan deh saat itu, menurutku. Tau napa, kali karena aku benci abis.<br />
« Nama kamu ? » tanyanya sambil bolak balik bukunya.<br />
« Lha.. lo kan sudah tau ? Ups.. maksud saya, Kakak pasti sudha tau.. »<br />
« Gak tuh ! Saya gak tau nama kamu.. »<br />
Gemes banget gw.<br />
« Abel, Kak. Dari kelas I7.» jawabku mulai kesel. Tapi Ben terus senyum-2.<br />
« Abel yah ? kenapa nama lo bisa Abel ? Apa tuh artinya ?» tanyanya. Kayanya ngajak canda. Soalnya meski nunduk, senyumnya masi kliatan.<br />
« Wah.. saya gak tau kak. Perlu saya hubungi mami saya dulu buat nanyanya ? » balasku pura-2 ngluarin ponsel dari saku.<br />
Dia makin senyum, padahal nada suaraku terdengar kesal en aku memang lagi gak canda koq.<br />
Senyumnya cute banget, tanpa sadar hatiku muji.<br />
« Wah.. wah.. ada enam. Belum lagi satu caturwulan.. hmmm… » Ben naikin alisnya.<br />
Aku diem aja. Pasrah.<br />
« Well.. » Ben ngangguk-2.<br />
Kaya bapak-2 deh lo, makiku dalam ati saat liat gayanya yg sok wibawa gito.<br />
Dia diam, kayaknya sedang mikir-2 apa tugas yang harus aku lakukan buat nebusin en mutihin tuh buku. Tapi aku yakin dia pasti jauh hari sudah merencanakan apa yang harus aku lakukan, karena dia toh kenal aku, dan dia pasti nantiin buat ngehukum aku. Sial deh !!!<br />
Gw sibuk membayangkan tugas terburuk yang akan diberikannya. Jaga parkiran sekolah slama seminggu ? Nyuci tiolet sekolah sebulan ? Bawain sampah sekolah ke truk sampah ?<br />
« Ada beberapa hal yang harus kamu lakukan kalo emang mau daftarnya putih lagi…. »<br />
Aku nunggu deg-degan.<br />
« First… » Ben menggantung kalimatnya.<br />
Aku nunduk, kaya terdakwa yang sedang divonis aja.<br />
« Kamu harus masuk ekskul baseball atau basket.. atau boleh dua-2nya.. »<br />
Weksss !!!<br />
Aku melongo. Ini sih lebih buruk dari perkiraanku.<br />
« Tttapi.. » aku mau protess, tapi lidahku kelu.<br />
« Ya ? » Ben nunggu protesku. Wajahnya kian lama tampak kian keyen aja dipenglihatanku, dan itu buat aku salting berat. Pdahal kan aku benci banget.<br />
« Then.. » lanjut Ben karena aku diem aja.<br />
« After this kamu enggak boleh sinis lagi dan bersikap ga ramah<br />
sama Ketua Siswa sekolah ini.. »<br />
Aku makin bengong. Kulihat wajahnya, kali tampangku bloon banget deh saat itu.<br />
Ekspresi Ben biasa aja saat menatapku. Senyumnya masih ada, meski tampaknya dia serius.<br />
« Bisa ? »<br />
Aku tersentak. « Eh.. apanya ? » tanyaku bolot.<br />
« Tugas yang no.2 ? »<br />
Yang no.1 aja aku masih mikirin, batinku.<br />
« Tapi kan.. ? » aku mikir-2 mo lanjutin apa egak protesku.<br />
« Tapi apa ? » suara Ben terdengar lembut, ga kedengaran sinis or jutek kaya biasanya.<br />
Aku tertegun. Bisa lembut juga ngomongnya,, en itu ngebuatku agak nyaman.<br />
« Tapi kan kamu yang selalu sinis ke aku en ngeliatin aku dengan pandangan kayak aku bandit besar gitu.. » lanjutku lugu, hihihi..<br />
« Hehehe… »<br />
Baru kali ini aku denger nih cunguk ketawa.<br />
« Masa sih ? » tanyanya setelah ketawa.<br />
Busyet, masa dia ga nyadar sih ?<br />
Tanpa sadar mukaku cemberut, soalnya aku kesel merasa dipermainkan ma nih cunguk.<br />
« Ya udah cepetan, tugas ketiga.. » alihku mengingat masih ada sisa tugas-2 lainnya. Satu tugas untuk satu kali penghapusan. Kalo ada 6 kesalahan brarti ada 6 tugas menantiku.<br />
« Hmm.. tugas ketiga menjawab pertanyaan gw, »<br />
Busyet !! Pertanyaan ? Apa tuh maksudnya.<br />
Ben memandang aku lurus.<br />
« Pertanyaannya : Kenapa sih lo benci banget ama gw ? »<br />
Gubrakss !! jantungku srasa nyosor ke perut.<br />
Pertanyaan aneh dan ga pernah aku sangka sebelumnya.<br />
Aku bingung jawabnya. Disatu sisi, tebakannya tepat aku mang lagi benci ma dia. Tapi napa itu harus jadi masalah sih buat dia ? Itu kan ga punya pengaruh apa-2 ma nih cunguk.<br />
« Mang tau darimana saya benci kamu ? » lha, gantian gw yang ber saya kamu, hihi..<br />
« Yeahhh.. taulah… .. » Ben senyum. Gila, senyumnya maut juga.<br />
« Face kamu yang nunjukin. Kalo liat gw langsung masam gitu. »<br />
Aku diem aja, emang bener.. hehe..<br />
« Mau loe.. eh mau kakak saya bersikap bagaimana ? » tanyaku sebel.<br />
« Kaya yang saya bilang di tugas no.2 »<br />
« Iya, maunya situ kalo sikap ramahnya yang kaya mana ? »<br />
« Hehehe… » Ben terkekeh lagi. Menang deh lo, maki gw dalam ati.<br />
« Lo ga pernah senyum sama gw… »<br />
Aku tertegun. Mang urusan apa aku harus senyum or enggak ama nih cunguk. Kenalan pertama aja dia udah ngajak perang, batinku.<br />
« Masih ga bisa lupain kejadian tabrakan itu ya ? » tanyanya lembut.<br />
Aku tertegun. Wow.. rupanya dia inget juga. Kirain amnesia.<br />
« He-eh. Abisan kamu bukannya bantuin gw or minta maaf kek, malah sok nasehatin segala.. » keluar deh uneg-2ku. Biarin sekalian topiknya ini, hihi.. Biar dia tau pangkal benci gw ke dia.<br />
« Oh.. jadi itu penting ya buat kamu ? »<br />
Gile benerrr !!! Jadi mnurut dia ga penting apa?<br />
« Bukan masalah penting enggaknya setidaknya lo punya perhatian kek, bukannya minta maaf malah nuinggalin gw gitu aja. Mending waktu itu lo ga usah turun aja, jadi gw kan ga kenal elo » omelku. Hhehehe, puas juga ngomeli Ketua Siswa. Wekss !! Jangan-2 malah nambahin daftar gw ?<br />
Ben diam saja. Lalu katanya, « Jadi.. kamu mau aku minta maaf nih ? »<br />
Lha nih orang, minta maaf pake nanya-2 segala. Kliatan banget ga iklasnya..<br />
« Maap ya Bel.. » Si Ben nyodorin tangannya.<br />
Hekk !!<br />
Becanda ga sih ni orang. Tapi kujabat juga tangannya, aku jadi kaya salting abis, soalnya jadi kaya childish gitu sikapku didepannya. Sial deh !!<br />
« Eee.. hehehe.. maksudku ya udahlah. Kejadiannya kan udha lewat, » kataku kemudian, agak sungkan. Aku jadi salting asli.<br />
« Kalo enggak kamu ntar benci terus ma aku, » Ben senyum lagi. Wajahnya full senyum hari ini. Tatapan tajamnya ilang entah kemana, ganti ma sinar mata yang bersinar-sinar bandel. Sialan !!<br />
« Ya udah, kita kenalan ulang deh.. pura-2 kejadian waktu itu. »<br />
Ben nyodorin tangannya lagi.<br />
« Hai.. jatuh ya ? Ada yang terluka. Oya, kamu anak SMU sama ma gw juga. Nama kamu ? »<br />
« Hehehe….. » akhirnya aku tersipu. Asli mokal deh.<br />
« Udah deh.. tugas selanjutnya » alihku buat ngatasin keusilannya.<br />
« Mau temenan ama gw.. »<br />
« Yee… ini srius gak siih ? Yang bener donk, Ben. » protesku kesekian kalinya, abis nih anak tambah lama tambah ga srius.<br />
« Srius kok. Hehehe.. »<br />
« Yeeeeee….. » salting deh.<br />
« Iya… »<br />
« ya udah.. terus ? »<br />
« Habis »<br />
« Haa ? Habis ? Kayanya belum deh.. »<br />
« Iya, abis. Cuma segitu aja koq. Emang loe mau ditambah lagi tugasnya? »<br />
Aku garuk-2 pala lagi. Ini mah bukan tugas !<br />
« Oya, satu lagi » kata Ben tiba-2<br />
Wekss !!<br />
« Gw pengen liat elo senyum sama gue sekarang ini. »<br />
Haaaa ?????<br />
Tapi muka Ben kliatan srius, apa disriusin ?<br />
« Mana bisa senyum dipaksa ? Orang lagi gak mau senyum..» elakku.<br />
« Ahh bisa. Masa ga bisa siih ? » suaranya jail banget.<br />
Paan sih nih orang. Rese bener.<br />
Akhirnya, mau gak mau aku terpaksa senyum juga. Tapi bukan senyum dipaksa, melainkan emang karena geli aja ngeliat tingkah sicunguk ini. Permintaannya aneh-2 gitu.<br />
« Hehehe.. thanks yah » kata Ben akhirnya.<br />
« Hehehe… » aku ikutan kekeh juga.<br />
« Mmmm.. udah selesai kan ? »<br />
« Apanya ? »<br />
« daftar di buku itam udah dihapus ? »<br />
« Kalo lo mau ikutin tugas yang gw suruh.. »<br />
« Iiiya.. diusahain »<br />
« Harus !!! »<br />
« Iya deh.. Sekarang gw boleh pamit kan ? »<br />
« Ntar dulu.. »<br />
« Pa lagi ? »<br />
« Ga laper ? »<br />
« Laper. Makanya mo pamitan. Mo pulang »<br />
« Iya sama. Barengan aja pulangnya. Gw mo nraktir elo makan ? Mau ?»<br />
Aku terheran-heran.<br />
« Ngapain traktir ? »<br />
« Kan temen ? »<br />
« Hehehe…. Iya deh.. » suka-2 dia deh.. takut ntar kalo ditolak bisa barabe.<br />
Akhirnya siang itu kami pulang bareng. Aku naek boil dia, kebetulan tadi mang ga naek tiger, naek angkot. Pas makan mie ayam, kita ngobrol seru, serasa temen lama. Padahal baru beberapa jam baekan. Aku juga heran koq bisa secepat itu akrab ma nih cowo. En diem-2 mulai tertarik pula. Abis keren banget siih.. Hehehe… gawat deh.<br />
Abis itu dia nganter aku, alesan mo tau rumah. Lumayan tumpangan gratis sekalian berlama-2 dengannya. Hehehe…<br />
Jadi critanya aku dah baekanlah ama si Ben. Dan diem-diem nyimpen harapan ama dia. Harapan ? Iye, harapan buat di-yayangi- hehehe, boleh kan ?<br />
Harapan semu, abis dianya kan kaga suka ma laki, nga kaya aku.<br />
<br />
Yang aku tau Ben itu orangnya mang cuek abis. Aku aja sering jadi pameran kecuekannya. Kalo hari ini akrab, besok bisa tiba-2 dia nyuekin aku abis, kaya ga kenal gitu. Mulanya kaget juga sih digituin, tapi lama-lama kebiasa juga. Ben ini emang pribadi susah ditebak. Sok misterius, hehehe……<br />
Pas gw tanya napa sih suka cuekan gitu, dia bilang kalo dia tuh mang moody orangnya. Kalo lagi mood gaul ma gw ya maen, tapi kalo lagi ga pengen ya cuek. Wowwwww….. awalnya panas juga seh digituin, mang gue robot kali yah, suka-2nya dia ajah kapan mo temenan kapan kaga’. Tapi ya itu tadi, gw dah suka siih, jadi kecewa-kecewa ditutupinlah, daripada keilangan beneran !!!<br />
Hihihi.. dah kena karma deh. Dulu bencinya setengah mati, sekarang cinta abis !!! Hahahaha….<br />
========<br />
<br />
Beberapa bulan kemudian persahabatanku dengan Ben tetap asyik-2 aja. Disekolah Ben udah gak begitu dingin dan kaku lagi bila bertemu denganku. Dia sudah mulai mau menyempatkan diri untuk ngobrol bila kebetulan bertemu denganku di koridor. Teman-temanku lumayan kagum juga melihatku yang bisa berhasil menjadi salah seorang yang cukup akrab dengan Ben, karena cowok itu emang T O P. Tapi dampaknya gw malah jadi tukang pos anak-2 cewek kelas I. Ben Cuma ketawa kalo aku datang buat ngasiin surat pink dan harum titipan mereka. Dia tidak pernah mau menerimanya apalagi membacanya. Lha wong dia punya Carmen, hehehe….<br />
Sayang surat mereka ga dibales, kalo iseng malah aku yg suka balesin, tapi isinya kubuat ancur banget, abis emang ga bakat bikin surat cinta. Mereka seneng banget, tapi pas tau yang bales itu aku langsung deh gw kena dikeroyok abis-an. Ada yg nimpuk ada yang nyubit, ada yang malah balik naksir ke aku, hehehe… Lha, ga mo trima kasih, dah syukur dibalesin juga..<br />
Aku kesal karena siang ini bus kota sangat penuh dan padat, jadinya pas dikode sopirnya cuek aja, jual mahal. Hari ini mang ga bawa tiger. Padahal perutku sudah keroncongan, dan aku tadi kena hukum guru sejarah karena kemarin bolos itu. Aku ditahan untuk menjawab soal sejarah yang banyaaaak sekali dan harus diserahkan hari itu juga. Wajar kalo aku kesal sekali sekarang.<br />
<br />
Tiba-tiba Escudo item berhenti didepanku yang sedang menunggu bus.<br />
Ben.<br />
Wah.. dah ada semingguan juga nih ga ketemuan ma dia. Gw kalo ditanya sih kangen, tau dianya. Padahal satu sekolah gene bisa seminggu ga ketemuan. Gw sih gak pernah brani mo nanya lagi, soalnya takut jawabannya lagi bad mood atao lagi ga pengen gaul ma gue, kan sebell. Jadi ya kutan cuex juga.<br />
“Masuk yok, gw anterin..”<br />
Tanpa disuruh dua kali aku langsung masuk ke dalam tuh mobil.<br />
“Telat banget lo Bel, pulangnya?” tanya Ben sambil menjalankan mobilnya.<br />
« Iya, gw biz ngedate ma si Badak (guru sejarah gw, mang panggilan kesayangan kita ke dia ya badak itu, hihi..)» Aku ceritain hukumanku, dan Ben senyum-2.<br />
Diem-2 aku nglirikin face dia dari samping, bis kangen sih smingguan ga liat wajah keren dia, hehe..<br />
Tiba-2 Ben noleh mpe aku kaget berat.<br />
“Eh.. thanks lho, mo numpangin gw pulang gene, mana bus tadi padat banget, hehe…,” celotehku buat nutupin kekagetanku.<br />
“Napa lo? Biasa juga pulang bareng gw. Haha.. baru semingguan ga ketemu juga dah ada sintingnya dikit nih orang..” Ben ketawa’an geli.<br />
“Hehehe…” balasku still grogi. Pufff!! Mpir aja ketauan, kalo tadi dia nanya napa lo ngeliatin gw, bisa kaya kepiting rebus nih wajah gw.<br />
<br />
Beberapa saat kami saling diem dalam mobil itu. Mobil berjalan lambat, abis macet. Lalu lintas lagi jam padatnya.<br />
<br />
“Eh.. lo ga nanyain kabar gw, kan dah seminggu ga ketemuan,” kata Ben tiba-2, ngebuat aku kaget. Tumben nih anak minta ditanya. Biasa kalo ditanya malah dijutekin gw.<br />
“Lha.. ngapain ditanya. Kan gw dah tau jawabannya..”<br />
“Oya? Apa?”<br />
“Loe lagi males gaul ma gw..”<br />
“Hehe.. gak juga. Bukan itu..” Ben senyum-2.<br />
Aku bengong. Ooh salah ya.. wah brarti ada kamus baru lagi nih selain bad mood or malez gaul ma gue.<br />
“Jadi apa?”<br />
”Gak lah. Kapan-2 aja gw bilangin. Ben still senyum.<br />
Siaul! Gw dikerjain deh.<br />
“Sekarang donk.. Paan seh lo, pake rasiaan segala. Kalo ga mo ngomongin ya ga usah dibilangin tadi..” gw rada-2 ngambek, sebel. Orang dah semangat-2, malah ditunda bilangnya.<br />
“Hehe hehe… okelah, ntar gw bilangin. Biz makan yah” seraya masukin mobilnya keparkiran Pizza Hut.<br />
Restoran itu cukup ramai. Saat kami masuk beberapa pasang mata seketika melihat kearah kami, tepatnya kearah si cute disebelahku Ben. Kalo aku sih, nga dipandang, dipicing kali ngliatnya, hehe, abis kliatan jadi short kalo dah jalan bareng Ben. Selintas ada pikirian nakal dipalaku, aku jadi mengkhayal nikmatnya dipeluk oleh Ben. Weks!!!<br />
<br />
Kami makan dengan lahap. Ben mentraktirku. Kami pun ngobrol seru sambil makan.<br />
“ Mana neh yang tadi” tanyaku setelah loyang pizza ukuran sedang en makanan laennya ludes masuk keperut.<br />
“Apanya?” Ben belagak cuek sambil nyeruput coke-nya. Malas. Kenyang kayanya dia.<br />
“Jawabannya..”<br />
“Oh.. iya ya..”<br />
Ben ngatur duduknya yang agak males-an jadi tegak.<br />
“Gini, Bel.. Gw sengaja seminggu full ga jumpain lo karena gw..”<br />
“Sibuk. Basi mah. Lo mang supersibuk..” potongku sok tau.<br />
“Huaaa!!! Orang lom selese ngomong koq dah dipotong,” Ben aga kesel. Kayanya dia mo sriusan. Oke deh gw srius juga.<br />
Ben menatap gw.<br />
“Gw pengen tau… sebenarnya perasaan gw gmn sama lo”<br />
Haaaa??? Apa tuh maksudnya?<br />
Aku bengong.<br />
Kleng-klong-kleng-klong<br />
Apa ini pertanda Ben demen ma aku juga. Jangan-2 dia mo ngungkapin disini. Huaaa, ga sesuai banget tempatnya..<br />
“Iya.. gw ada rasa miss nga gitu.. Hehe..”<br />
Aku makin deg-2an. Padahal ekspresi Ben still cuek.<br />
“Ternyata ada.. Hehe..”<br />
Tuh kan. Mati deh.. bisa pingsan gw!! Pingsan kesenangan maksudnya. Bakal mimpi ke Hawaii deh ntar malam, hehehe…<br />
“Baru yakin ma prasaan gw ndiri, kalo gw tuh nganggep lo lebih dari teman biasa…”<br />
Addduuhhhh Makkkkk!!!! Denger tuh… kalimatnya dah menjurusss-jurus kesono…<br />
Badanku mendadak panas dingin, jantung berdebar kencang.. en nafas ngos-2an (hehehe, ga lah, mangnya bis lari, ngos2an). Hehe…. Pasti deh dia mo ngomongin itu. Tapi.. kok dia kepedean banget yah? Mang yakin bakal gw terima alias dia tau who am I? Wong slama ini aku nga pernah kasitau sapa-2 koq en kehidupanku juga normal-2 aja.<br />
So????<br />
“Karena itu.. Bel.. eh, sebenarnya, gw pengen jadiin elo adik gue. Mau kan lo jadi adik gw? Yaahhh.. soalnya lo tau posisi gw sbg anak tunggal, lagian ortu sibuk, gw sibuk, gw rindu sodara, dan itu ada didiri elo. Gw ngerasa srasi aja. Pas liat lo jadi anak baru disekolah… tau deh.. kayanya hati gue bilang ‘ini dia anaknya’. Maksud gw.. ini dia orang yang pengen gw jadiin sodara gw.. ade gw.. Makanya gw pengen banget lo always deket ma gw.. gito.. Hehehe…” Ben masih cengengesan.<br />
Kleng-klong-kleng-klong<br />
Ternyata sodara-2……!!!!<br />
Gw dah salah tanggap… hehehe, kecewa deh. Kirain….<br />
Nafas yang tadi gw tahan akhirnya terhembus. Tau deh terhembusnya karena kesel ato lega.<br />
“Hahaha…” aku ketawa, masih agak kaget. Plus kecewa berat. Sialan deh. Kirain.. Huh!!<br />
“ Itu aja pake bilang-2. Ya udah, gw ade loe..”<br />
“Bener nih?” Ben kliatan ga gitu kaget, kliatan dah tau kalo aku pasti ga nolak. Huhh!!<br />
“Thanks brother..” ada binar sekilas dimata Ben, tapi abis itu dia buang muka ke samping.<br />
Aga heran juga aku, napa sih mahluk satu ini aga susah ngungkapin perasaannya secara terbuka… Kalo seneng ya nga usah pake acara buang muka kesamping gitulah.<br />
Yap, ini salah satu sifat Ben yang aku bongkar disini.<br />
<br />
Ben is too perfect and too far buat dijangkau.<br />
Aku cuman cengengesan. Kecewa. Hehehe……<br />
<br />
=========<br />
<br />
Wah ga terasa dah mo deket aja nih ujian kenaikan kelas. Tinggal beberapa bulan lagi. En aku jadi anak kelas dua. Hehe, padahal awal-2 sekolah dah niat banget mo merengek ma bokap minta dipindahin ke sekolah laen, tapi akhirnya jadi betah.<br />
<br />
Lucunya hubungan gw dengan Ben, setelah permintaanya ke gw untuk jadi adenya, malah aga ngebetein. Pasalnya kita jadi malah jarang ketemu or jalan-2 bareng. Si Ben alesannya sibuukkk mlulu.. Ya memang sih. Soalnya sekolah kita ada rencana mo gelar acara ultah sekolah yang super heboh. Jadi ya, dia en yang dikepanitaan sibuk ngurusin itulah. Jadi gw yang sering smsin ato HP-in, tuk nanya kabar en ngobrol-2 dikit, buat nanyain kabar. Dan kalo di-telepon-in dia malah suka jutek, jawabnya rada malesan. Trus kalo dismsin paling bales sekali dua, bis itu ga bales. Boro-2 sms yang dari dia, always gw yang sms.<br />
Tapi kalo dia lagi niat telepon gw, bisa jam 3 or 4 pagi tuh HP gw bunyi, sekedar denger curhatnya dia. Pa ga sebel. Mana suka lama lagi kalo dah curhat. Paling banyak sih dia curhat kalo dia sering berantem ma si Carmen. Katanya tuh ce manjalah, keras kepalalah, ga mo ngertiin ksibukan dialah, dll. Dalam ati gw udah mao bilang putusin aja Ben, biz tuh kita jalan.. hehe, ga mungkin kan. Bisa-2 si Ben ga mo temenan ma gw, rugi donk!! Hmm.. rugi ga ya.. pikir gw lama-2.<br />
Lagian hati gw jadi jelesan.. karena abis ngomong gitu dia balik muji kebaikan si Carmen, trus dia nga mau ngelepasin tu ce, ngejarnya aja dulu susah, katanya.. trus dia masi sayang ma Carmen.. Mpe nguap-2 gw dengernya. Pokoknya jeles abis deh.. tapi gw tahanin.<br />
Pokonya suka-2nya dialah.<br />
<br />
Aku tau dia cape banget. Nyiapain acara, Ketua Siswa, juga harus blajar buat EBTANAS. Dasar terlalu aktif ya begitu. Udah tau mau EBTANAS tapi masih haus sama kegiatan-2 ekskul. Kadang kasian juga liatnya, abis kalo pulang suka mpe sore.. kaya kerja kantoran aja.. padahal masih SMU gitu.<br />
<br />
==========<br />
<br />
Kesibukan dan kecuekin Ben ama gw ngebuat gw jadi kesepian. Saat itulah Rino, anak kelas II yang pernah gue jelasin awal-2 cerita, jadi deket ama gw. Tadinya sih gw cuek-cuek aja, nga gitu ngeladeni kalo dia sok akrab gitu ma gw, soalnya gw lagi asyik ma Ben. But now, akhirnya perhatian gw mulai beralih perlahan ke Rino, soalnya dia gigih banget, usaha banget agar bisa akrab en jadi temenan ma gw. Tau deh napa segitu semangatnya.<br />
Hingga ada satu kejadian yang ngebuat kgw en Ben bertengkar en makin renggangin hubungan. Waktu itu Ben en aku dah janjian kalo hari ini tanggal segini kita mo jalan be-2. Soalnya Ben ngrasa bersalah dah lama ga gaul bareng aku lagi (istilah dia).<br />
Pas hari yang dimaksud, aku dah siap-2 neh.. katanya si Ben mo jemput. Tiba-2 telpon bunyi.<br />
“Den Abel, dari temennya nih..” bibikku nyerahin telepon ke aku.<br />
“Bel..” panggil Ben diseberang sana saat mendengar suaraku.<br />
“Iya.. gw dah siap koq. Tenang aja. Lo lagi dimana Ben?” sahutku semangat.<br />
“Kita ga jadi aja..”<br />
Hah??!!<br />
Aku ternganga. Lagi-2 dia mutusin secara sepihak. Dia memang sering suka batalin janji. Tapi kali ini aku sungguh-2 kecewa berat.<br />
“Kk-kkenapa?” tanyaku tergagap.<br />
“Gw mo jalan bareng Carmen..”<br />
“What??? Tapi kan lo bisa bilang kalo lo dah ada janji Ben? Apa lo yang lupa yah, hingga buat janji doble pada tgl ys sama?”<br />
“Enggak. Tadi gw dah mo brangkat. Trus Carmen telepon ngajak pergi. Tau napa, hati gw kayanya lagi sreg mo jalan ma dia aja..” jawabnya santai diseberang sana tanpa mikirin perasaanku.<br />
Tau deh gmn perasaanku saat itu. Rasanya kalo ada Ben disini sekarang dah pengen digebokin aja rasanya. Sakit banget ati gw. Alesannya itu lho.. jahat banget kan?<br />
Aku diem aja. Udah males gw.<br />
“Ntar malem aja kita perginya ya..” Ben coba bujuk saat sadar aku pake aksi diem gitu.<br />
“Hmm.. gak deh. Gak usah..”<br />
“Ya udah..”<br />
“Ya udah..”<br />
tut-tut-tut<br />
Telepon diputus.<br />
Aku bengong sejenak. ‘Biz itu aku lari kekamar. Kubanting pintunya. Kemarahan dah diubun-2 kepala nih. Kamar gw acak-2, apa aja aku tendangin, abis berserakan kaya kapal pecah deh kamar gw. Pengen tereak kenceng-kenceeeengggg banget!!! En aku ga sadar kalo aku nangis saat itu. Aku nangis!!! Padahal dah lama aku ga pernah keluar air mata. Aku juga ga tau napa segitu marahnya saat itu. Mungkin kekecewaan gw ma si cunguk itu dah klimaksnya. Pokoknya saat itu dah niat banget ‘ga akan mau kenal en tau lagi ama mahluk yg namanya Ben!!!’ Huh!!! Disekolah sok wibawa banget tuh orang, tapi ternyata kepribadiannya minus. Nga cocok jadi Ketua Siswa orang sesadis itu, pikiran aku sambil gambarin muka dia jeleeekkkk banget di kertas gambar gw (mpe sekarang gambarnya yang gw gambar dulu masih ada gw simpen) Emang aku hobinya gambarin kalo lagi marah. Ekspresi rasa kesel gw.<br />
Setelah kejadian aku bertekad ga mau deket-2in Ben lagi (tapi kalo dideketin.. ntar dolo!! Hehehe..). Lucunya Ben juga seolah tau aku bepikiran gitu, jadi berubah dingin en cuek abiss, kalo kebetulan ketemuan. Jadi makin sebell deh. Maunya aku dia tuh ngebujuk gitu kek, aturan kalo aku lagi ngambek. Hehehe… Meski aku tau pasti si keras kepala itu nga akan pernah mau lakukan yg aku maksud, mpe kita cape sendiri musuhin. Dasar gengsian tuh orang.<br />
<br />
Kaya sekarang ini aku ma anak-2 lagi makan dikantin, di meja ujung sana ada gank-nya Ben ama ce dia, Carmen. Ben ama Carmen kliatan mesra tuh duduk deket-2an. Siaul, aku aga jelesan, hihi.<br />
Tiba-2 bahuku ditepuk dari belakang.<br />
“Woi..!!” sapaku pas tau sapa yang nepok.<br />
Rino nyengir.<br />
“Bel.. ntar siang pulang sekolah lo kemana?”<br />
“Ga ada kmana-mana kayaknya. Napa?”<br />
“Ke rental VCD yok?!”<br />
“Boleh.. tapi nontonnya dirumah gw aja ya, soalnya dipesenin jaga rumah nih, nga ada orang, ortu jenguk nenek dikampung” terangku.<br />
“Siip!!”<br />
Abis itu Rino berlalu buat balik kekelasnya.<br />
“Lo temenan juga ama Rino ya, Bel?” tanya Aji yang duduk didepanku.<br />
“Iya, napa?”<br />
“Ga papa lagi. Cuma lo kayanya mudah akrab yah ma anak yang lebih tua. Contohnya, lo juga akrab ma Ben,” jawabnya.<br />
“Hehehe.. ga lah. Biasa aja.”<br />
“Kalo si Rino gw heran juga, koq bisa sih lo akrab ma dia?” kata Wisnu tiba-2.<br />
“Lho.. mangnya napa?” aku balas nanya balik. Heran.<br />
“Iya.. soalnya kata kakakku (kakaknya kelas III) dia aga’ aneh gitu. Yaaah.. agak tertutuplah. Trus pendiem. Makanya heran juga napa bisa temenan ama elo, gimana prosesnya gitu.”<br />
“Ooohh.. hehehe, aku kenalnya di ekskul voli dulu. (Sekarang aku dah keluar dari tuh ekskul, masuk ke ekskul basket ma baseball).”<br />
Memang sih, menurut aku Rino tuh memang pendiem anaknya, kalo aku lagi jalan ma dia ya kita banyak diemnya. Lagian aku tuh ma dia kalo ngomongin sesuatu juga suka nga nyambung… tau’lah, rasanya nga asyik aja gitu.<br />
<br />
Pulang sekul, aku en Rino boncengan pake tiger-ku ke rental EZY Video. Tadi pas digerbang sekolah sempat papasan ma mobil si Ben. Kaget juga sih, tringat kisah tabrakan dulu. Gak sengaja mataku bersirobok ama Ben yang lagi dibelakang setir. Carmen ada disebelahnya.<br />
Wekss!! Aku langsung buang muka en ambil langkah kabur, ngelariin tigerku. Huh!!! Sempet juga kebayang tadi pas liat-2an, mata Ben tajam banget ngeliatin aku.<br />
Mpe di EZY langsung ngubek-2 tuh rental, nyari-2 VCD. Film yang new release yang aku cari pada keluar semua, jadi tanpa semangat aku cuma ngekorin langkah Rino yang lagi asyik nyariin VCD yang mo disewain dia.<br />
<br />
Abis nyewain, kita balik kerumahku. Sebelumnya aku ngajak makan warung makan langganan deket rumah, soalnya perut dah keroncongan gini.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Because I' m a Man</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731986/because-i-m-a-man</link>
      <pubDate>Fri, 04 Nov 2011 02:33:04 +0000</pubDate>
      <dc:creator>lockerA</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731986@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Ini proyek cerbung locky selanjutnya.. Tp belum tahu kapan realisasinya, moga2 mood-ku tetap terjaga. Yang pasti setelah ELU berakhir...]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Galau karena masih mencintaimu...Part 10 : bolehkah aku melamarnya?</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734059/galau-karena-masih-mencintaimu-part-10-bolehkah-aku-melamarnya</link>
      <pubDate>Fri, 13 Apr 2012 09:20:14 +0000</pubDate>
      <dc:creator>metropolichz</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734059@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Karya ke-2  (metropolichz), smoga ini bisa jadi karya yang banyak di minati juga seperti " Dokter... season 1 &amp; 2" , kritik dan saran tetap di tunggu banget, agar semangat menulis tetap terjaga...<br />
<br />
Part 1 : Warming Up<br />
<br />
Malam ini keadaan kamar terlihat gelap, listrik dimatikan di seluruh kamar kosan yang ada di rumah besar ini. Pak Gatot, bapak kost di rumah ini yang menginstruksikan tuk mematikan listrik di seluruh kamar kost yang berjumlah 20 buah selama 2 jam… katanya mau mengikuti kegiatan yang di himbau sama gubernur DKI yang disebut  Earth Hour.<br />
<br />
“Lho…bukannya Earth Hour itu 1 jam saja pak ?” kata Agus teman kosanku yang banyak ngomong menanggapi instruksi Pak Gatot<br />
“ kalo 1 jam itu gak berasa dek…” sahut Pak Gatot<br />
“ gak berasa gimana pak ? ” tanya teman kosanku yang lainnya<br />
“ yaa gak berasa tagihan listriknya lah…hahahaha..kalau 2 jam kan bisa lebih hemat”<br />
<br />
Ah, si bapak ada ada saja, tapi yaaa bagus juga beliau mengadakan kegiatan ini di rumah kosannya sendiri, bisa lebih hemat tagihan listriknya dan membantu juga program penghematan energi.<br />
<br />
Lilin kecil ku nyalakan di kamarku yang cukup mungil ini, kamarnya Cuma sebesar 2x3 m tapi sudah mempunyai banyak kenangan dalam perjalanan hidup selama hampir 4 tahun di ibukota yang keras ini. untung saja aku bisa bertahan hidup, padahal banyak warga pendatang yang langsung kalah mengadu nasib di kota pusat segalanya ini. aku sendiri datang beberapa tahun yang lalu dari kampung halamanku di Jawa Barat.<br />
<br />
“Aaah panas sekali”,<br />
<br />
Ku kipas-kipas tubuhku dangan kertas, ku mainkan api lilin kecil yang bergoyang di atas meja, kupandangi cahayanya yang lembut. Sesaat lamunanku melayang, membayangkan kesendirianku selama ini, belum ada seorang perempuanpun yang bisa menarik perhatianku. Keseharianku selalu diiringi dengan sendiri saja, kadang teman-temanku menyodor-nyodorkan kenalannya padaku, tapi selalu saja ku merasa tidak sreg dengan pilihan mereka.<br />
<br />
kipas angin tak bisa dinyalakan,  jendelapun tak ada di kamar ini, hanya ada pintu yang  menjadi keluar masuknya angin dan kini pintu itu ku buka lebar-lebar.<br />
<br />
“ kenapa Dam? Gerah yo…sabar yo…bentar lagi nyala kok..” suara Pak Gatot terdengar dari arah pintu<br />
“ eh bapak…iya nih gerah banget…nyalain donk pak…udah 2 jam kan ?”<br />
“ belum…masih kurang 10 menit lagi…” balasnya sambil ngeluyur pergi<br />
<br />
" huu dasar ...perhitungan banget nie..." sahutku dalam hati<br />
<br />
Pak Gatot memang terlihat sexy berotot, di usianya yang menginjak 45 tahun, tubuhnya masih tegap dan sekel, kumis tebalnya juga masih melingkar menghiasi wajahnya membuat siapapun yang melihatnya pasti bilang..woww!, termasuk penghuni kosan yang rada kemayu.<br />
<br />
Aku bingung apa yang akan ku lakukan dengan keadaan yang gelap gulita ini, mau bergabung mengobrol dengan teman-teman di luar rasanya malas, aku tak minat tuk bercuap-cuap kosong, lebih baik aku ada di kamar.<br />
<br />
Akhirnya ku pilih tuk memejamkan mata saja karena besok pagi ku akan kembali kerja dan kebetulan masuk shift pagi. Aku harus istirahat karena pekerjaanku akan melelahkan besok.<br />
Pintu kamar sudah kukunci, Autan sudah ku oleskan dan kipas angin telah ku pencet  tombolnya walaupun masih belum bisa berputar tapi yang pasti nanti setelah listrik menyala, kipas akan berputar sendiri.<br />
<br />
********<br />
<br />
Happy Morning<br />
<br />
Aku berjalan masuk melewati pintu utama gedung perkantoran di mana restoran tempatku bekerja berdiri, sambil melewati tiang pengamanan aku menyapa salah satu security yang berjaga di depan pintu..<br />
<br />
“ Selamat pagi pak Harry!” aku menebar senyum kecil padanya<br />
“ Pagi Dam..!”<br />
<br />
Beberapa security memang sudah ku kenal dekat hingga mereka tau namaku. Jika waktu break tiba, terkadang ku berkumpul dengan mereka di pos security dekat parkiran motor.<br />
<br />
Hanya 20 meter jarak untuk menuju resto, terlihat pintu resto sudah terbuka, teman-temanku ternyata sudah berdatangan di resto tapi mereka masih terlihat santai dan belum melakukan aktifitas apa-apa.<br />
<br />
“ Assalamu’alaikum..” sapaku agak keras<br />
“ Wa’alaikum salam…” sahut mereka yang duduk di coffee shop bagian depan resto<br />
<br />
Setelah absen, aku bergabung dengan teman-teman laki-laki yang sedang merokok..<br />
“ rokok gak lo?” kata temanku Dena yang keturunan Betawi<br />
“ gak …” sahutku<br />
“gw liat  lo kagak pernah ngerokok ye Dam?”<br />
“ enggak…emang kenapa?”<br />
“ pantes bibir lo merah cuy..hahaha”<br />
<br />
Aku menanggapinya dengan senyuman, sudah biasa temanku melontarkan kata-kata ledekan seperti itu, , kadang mereka juga menyebutku raja minyak karena cewek-cewek karyawan resto yang semuanya berjumlah 6 orang selalu saja berusaha mendekatiku dan merayu-rayu karena suatu hal yang membuat mereka…mmh klepek..klepek, ..itu kata teman-teman…tapi aku tak pedulikan itu sama sekali bahkan aku merasa risih jika tiba saatnya di kerubungi.<br />
<br />
Bagiku saat ini kerjaan adalah yang terpenting, maklum umurku masih 20 tahun, masih harus berjuang membangun masa depan, ku harus berusaha bekerja sebaik-baiknya agar peluang karirku terbuka lebar.<br />
<br />
“ halo sayank…kamu udah sarapan belum ?” tiba-tiba Siti menghampiriku dan melingkarkan tangannya di pundak.<br />
<br />
Siti ini anaknya paling heboh di antara karyawan perempuan, mulutnya bisa dibilang paling nyablak dan sering ceplas ceplos kalo bicara, kadang omongannya itu membuat panas kuping orang yang sedang di omongkan<br />
<br />
“ udah mbak..” sahutku<br />
“ aduh …pliss deh Dam…don’t call me “Embak” …kesannya tuaaaa banget deh guwee..” bibirnya nyerocos dan membentuk gaya Fitri Tropica sang komedian di TV<br />
“ yaa..habisnya mau dipanggil apa? tante? Embah ? “ tanyaku dengan mimik wajah agak datar<br />
“  Siti dooonk…ato ato… Ca..yank…!”<br />
<br />
“ Cayaaank….udah ah  jangan ganggu Adam…sarapan dulu sanah pasti kamu belum kaaan ?!” sahut Dena dari sampingku<br />
“ idih amit-amit deh di panggil Cayank sama elu…gak sudi…gak level…..”<br />
“ tuuu kaaan jaim di depan orang, kalo kita berdua doank kamu ngomongnya lain lagi “<br />
“ iiih apa siih abaang…tapi eh ngomong-ngomong ..bener ada sarapan buat guwe bang?” Si Siti langsung mendekati Dena dengan ganjen<br />
“ adaa …ada tai ayam spesial tuw..”<br />
“ hahaha kurang asem lu…gw kira beneran…...abaaang …traktirin sarapan dooonk”<br />
“ Ogah…sape elu..? tadi bilang gak sudi gak level”<br />
“ katanya tadi cayaaank…!”<br />
“ malesss….kalo ada maunya aja lo deketin gue…”<br />
<br />
Siti memukul Dena dengan cukup keras. “ Adoouu sakit tau..awas lo yaa” pekik Dena<br />
“ coba aja kalo berani sini!”<br />
<br />
Ah…mereka memang selalu seperti itu hampir setiap hari, kelihatannya mereka pasangan yang klop<br />
<br />
****<br />
Lunch Time<br />
<br />
Hari ini resto tak begitu ramai, pada saat jam makan siang kali ini tamu masih belum nampak banyak mengisi penuh meja-meja makan yang semuanya berjumlah 50 buah. Hanya beberapa saja yang terisi dan pesanan makanan mereka pun tak terlalu banyak, paling hanya minum atau pesan cemilan. Kalau sudah begini, aku sebagai pelayan di sini merasa makan gaji buta saja, karena tak melakukan kerja apa-apa.<br />
<br />
Teman-temanku juga jadi lebih banyak mengobrol satu dengan yang lainnya, sementara aku tak ingin berdiam diri saja, sebisa mungkin ku selalu bergerak mencari-cari kerjaan. Aku mencoba mencuci piring-piring kotor di dapur coffe shop, membantu menyapu resto yang seharusnya itu kerjaan cleaning service ataupun mengelap furnitur-furnitur.<br />
<br />
Tamu-tamu yang datang ke restoku sebagian besar berasal dari orang-orang kantor yang bekerja di sekitar komplek perkantoran dimana restoku berdiri. Biasanya kalau sedang ramai, bisa-bisa tak tersisa lagi meja di dalam resto, tapi kali ini sedang sepi, mungkin karena ada sebuah resto yang baru buka di sebelah resto kami dan ini sedikit banyak mempengaruhi jumlah pengunjung yang datang.<br />
<br />
Harga makanan dan minuman di sini relatif mahal buatku yang hanya seorang pelayan,  tapi cukup murah untuk kantong para eksekutif yang berdatangan ke sini. Keragaman kuliner yang ditawarkan resto juga cukup banyak seperti dari masakan Indonesia, Jepang, Western ataupun chinese,  makanya banyak orang menjadikan resto ini sebagai pilihan.<br />
<br />
****<br />
<br />
Jam Pulang<br />
<br />
“ Adam…!” terdengar suara Siti memanggilku saat ingin keluar pintu utama gedung<br />
Aku menoleh ke belakang<br />
“ lo buru-buru aje, tuw cewe lo ditinggalin sendiri..gimana sih” Siti menyodorkan tangan Farah teman wanitaku yang juga pelayan<br />
<br />
Farah yang ditarik seperti itu merasa malu, mulutnya manyun pada Siti tanda tak setuju di perlakukan seperti itu<br />
“ Ih …apaan sih lo…emangnya gw apaan?!” katanya<br />
“ lo katanya mau pulang bareeeng..!” sahut Siti<br />
“ yeee sapa bilang gitu…ngarang aja lo”<br />
<br />
Muka Farah langsung merah, ia memang pemalu sekali, walaupun sudah 5 bulan bekerja, ia masih saja ragu-ragu berada dekat denganku, mungkin karena omongan teman-teman se resto waktu dulu bahwa ia yang paling cocok jalan denganku<br />
<br />
“ Adaaam…!” pekik Laura dari kejauhan, yang satu ini bahkan lebih agresif mendekatiku, dia selalu memberikanku sesuatu hampir setiap hari<br />
aku melihat ke arahnya yang sedang berlari kecil<br />
“ ini sandwich bikinan gw, dimakan yaaa…buat makan siang lo”<br />
“ ooh…. makasih..!” aku menerimanya dengan wajah datar<br />
<br />
“ ih ngapain sih lo Dam terima hadiah melulu dari die?…deh buang aje…kagak lepel gw mah di kasih gituan doank..” kata Siti dengan mimik wajah sinis setelah Laura pergi menjauh.<br />
“ udah ya  gw mau balik…cape nih”<br />
“ eh eh Dam.. tunggu..” akhirnya Farahpun buka mulut<br />
“ iya ..kenapa?”<br />
“ ini ada oleh-oleh dari Jogja, kemarin Om Farah dateng ke rumah…”<br />
“ tuh…gedean mana deh sekarang hadiahnye…si nenek lampir itu atau Farah ?!” tanya Siti berusaha merasuki pikiranku<br />
“ mmh iya…makasih banget ya Far ..oleh-olehnya gede banget” ku pergi dengan bergegas, karena jika tak menghindari Siti, ku gak akan pulang-pulang.<br />
<br />
****<br />
<br />
Home<br />
<br />
“Aaah…lelah sekali hari ini” keluhku dalam hati<br />
<br />
Kosanku yang lumayan sempit ini masih terlihat rapi, tadi pagi ku sudah membereskannya terlebih dahulu, ku tak ingin kamar kost yang ku diami setiap hari terlihat berantakan apalagi jika ada tamu yang datang, tak ada satupun barang yang tergeletak sembarangan. Beginilah hidup sendiri tanpa pacar ataupun istri, semua harus dilakukan sendiri, masak, cuci, setrika ataupun beres-beres.<br />
<br />
Ku membaringkan tubuh besarku di atas kasur yang tergeletak di lantai keramik putih, memejamkan mata sebentar dan mengatur nafas perlahan-lahan memulihkan tenaga yang telah terbuang .<br />
<br />
Terbayang di pikiran tentang masa depanku sekilas, mau kemana aku melangkah nanti sedangkan hidup masih seperti ini berjalan di tempat. Memang pekerjaan sekarang sebagai pelayan ini bisa memberikan peluang karir yang bakal lumayan cerah , karena pemilik resto di tempat ku bekerja mempunyai rencana jangka panjang tuk melebarkan sayap perusahaannya ke banyak Mall di Jakarta, sedangkan aku termasuk generasi pertama yang menjadi karyawannya.<br />
<br />
Dulu, kumengirim berkas-berkas lamaran karena melihat lowongan dari iklan yang tercantum di koran , beberapa minggu kemudian akhirnya di panggil, di wawancara dan tak lama diterima. Pada awal-awal hari kami di training terlebih dahulu,  aku bertemu dengan orang-orang yang sekarang sudah menjadi rekan kerjaku selama  2 tahun di resto ini<br />
<br />
Salah satunya adalah sang supervisor, Pak Alex namanya. Sejak pertama kali melihatku di hari-hari awal pelaksanaan training serasa tatapannya selalu tajam menusuk ke dalam, seakan ada sesuatu denganku.<br />
<br />
Sampai  selama 2 tahun ini, Pak Alex masih selalu menatapku dengan tajam kalau berbicara dekat, dari gerak-geriknya terlihat sekali jika ia memperhatikanku lebih.., ada saja perintahnya yang ditujukan padaku setiap hari, padahal anak lain juga bisa di suruh.<br />
<br />
“ Dam…saya minta tolong donk…bawain ini makanan ke kantor ibu (owner resto)…sekalian bareng saya mau ke sana juga..” katanya tadi siang<br />
“ Lho kenapa gak yang lain aja pak… saya lagi siapin VIP room buat meeting tamu nanti..” sahutku protes karena heran kenapa aku terus yang harus di suruh sementara anak yang lain santai-santai.<br />
“ udah gapapa, biar captain aja nanti yang ngurus…sekarang cepetan bawa nih”<br />
<br />
Yaa ya yaaa, berapapun kalimat yang ku proteskan, tetap saja dia yang akan menang, karena dia atasanku, tapi berapa kali pun dia menyuruhku tak sedikitpun aku berusaha menjauhinya karena kesal.<br />
<br />
Tok tok tok<br />
<br />
Aku menoleh ke arah pintu dan bertanya-tanya siapa yang bertamu di siang hari begini, jarang-jarang ada temanku yang datang mengganggu istirahatku, segera saja ku bangkit dan membuka pintu yang tidak ku kunci.<br />
<br />
Kreeeek…..suara berdenyit engsel pintu yang kering membuatku ngilu<br />
<br />
Di balik pintu sudah berdiri sosok tampan dan rapi, tingginya sekitar 175 cm, sama denganku, dia mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jaket hitam, berdiri tersenyum manis…sangat manis hingga senyumnya berhasil membunuhku sesaat.<br />
<br />
“ hey Dam…udah tidur ya?”<br />
“ mmh belum pak…kok…tumben ke sini siang-siang..?”<br />
“ belum tidur ? ya udah kebeneran…saya minta tolong donk…bisa gak ?”<br />
“ yaa kasih tau dulu lah mau minta tolong apa, baru saya bilang sanggup atau enggak..”<br />
“ anter saya ke toko bunga buat acara gathering Pak Seno besok minggu…”<br />
“ lho…kenapa bapak ngajak saya? Kan masih banyak anak di resto !” sahutku agak terdengar kesal<br />
“ yang lain susah di ajaknya, banyak aja alasannya, lagian kan kamu yang tau toko bunga langganan ibu (owner) …!”<br />
“ aduh pak…gak bisa ..ini kan udah bukan jam kerja saya…kenapa bapak tega motong jam istirahat saya?”<br />
<br />
Pak Alex terdiam dan memandangi arah lain, sepertinya dia kecewa dengan penolakanku. Sebenarnya aku mau-mau saja membantunya dan ikhlas membantu pekerjaan resto, tapi kalau diluar jam kerja seperti ini sih namanya udah gak bener.<br />
<br />
“ Mmmh oke deh…kamu istirahat aja, kasian kamunya…saya pergi sendiri aja deh…tolong kamu sms in alamatnya, nanti saya cari sendiri !” katanya<br />
<br />
Aku melihatnya menjauh meninggalkan kamar kosan, kasian juga melihatnya pergi sendiri di siang hari bolong begini.<br />
<br />
“ Pak…tunggu …saya ikut…!”<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>A youghurt LOVE //</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731973/a-youghurt-love</link>
      <pubDate>Wed, 02 Nov 2011 21:08:02 +0000</pubDate>
      <dc:creator>_izumiii</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731973@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[huhuhu.......<br />
permisi permisi..<br />
mau coba ikutan menyalurkan keisengan, dengan menerbitkan Ff ini hoho.<br />
dibuat'a juga krna gak sengaja<br />
mungkin kurang bagus tp seenggaknya bisa ngisi waktu luang haha...<br />
<br />
oke w ceritain summary dulu yaaaahhh<br />
sebenernya ini kisah pribadi yang w alami..<br />
namun nama n latar'a w gantii biar seru dikit ahhahaaaii..<br />
cast Imii disini itu sebernya w..<br />
dan Hero itu Rivaldi ato valdi..<br />
karaktek disini sebener'a gak terlalu banyak w rubah nanti takut ilang natural'a haha..<br />
Valdi itu lebih muda dari w..  tp pemikirannya lebih dari w #WOW<br />
namun kedekatan kita selama ini membuat w merasa beda.. dengannya...<br />
<br />
mau tau selanjutnya cekidot]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>No Country For Gay Man (UPDATE on page 3)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731781/no-country-for-gay-man-update-on-page-3</link>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2011 01:57:13 +0000</pubDate>
      <dc:creator>blu.blad</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731781@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[I wanna  try to make a story. A fiction story.<br />
It’s not just about love. It’s not just about passion. It’s not just about happiness. But u can’t tell its just about pain. Coz i’ll try to mix it. Then u can laugh, smile, feel  embarrassed, said “that’s just like me”, or even..cry. But the most important is, u can enjoy it.<br />
<br />
My first debut.<br />
<br />
Best regards<br />
blu.blad<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>AYAH</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734904/ayah</link>
      <pubDate>Mon, 21 May 2012 09:48:24 +0000</pubDate>
      <dc:creator>lee-</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734904@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[ak sedang kangen sama ayah....]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>LITTMANN MEETS HUGO ^^end</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732640/littmann-meets-hugo-end</link>
      <pubDate>Sat, 31 Dec 2011 15:06:35 +0000</pubDate>
      <dc:creator>mllowboy</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732640@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[-IDENTITAS-<br />
<br />
01:45<br />
<br />
Angka-angka ini adalah angka-angka terakhir yang kulihat di jam tanganku sebelum aku mencoba memejamkan mataku. Aku baringkan kepalaku beralaskan tas ransel yang dari kost telah ku isi 1 kemeja, 1 celana panjang, perlengkapan mandi,dan beberapa buku. Cukub nyaman. Aku mengambil tempat di sudut ruangan,badanku dan lantai hanya dibatasi pakaianku.<br />
<br />
<br />
TEEETTT.....!<br />
<br />
<br />
Suara keras ini menggema di seluruh ruangan 6 mx6 m itu. Mataku terbuka spontan,rasa sakit menyerang kedua mataku seketika, seperti tanpa peduli dengan rasa sakit itu tubuhku segera bangun dan kakiku berlari kearah depan. Masih tidak seimbang sehingga beberapa kali hampir jatuh,tetapi tubuhku benar-benar sudah terlatih untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu untuk menjaga tubuhku tidak jatuh. Dari tempatnya ku tarik sebuah berangkar mendorongnya ke arah belakang ambulan yang baru saja terparkir. Pintu belakangnya sudah terbuka. Ku lihat ke dalam, seseorang berbaring dengan colar neck terpasang melilit lehernya dan face mask menutupi hidung dan mulutnya. Tampak bajunya berlumuran darah.<br />
<br />
02:12<br />
Kulirik jam tanganku sebentar,angka-angka ini yang tertera disana. Kepalaku terasa sakit. Tetapi kantuk ku hilang seketika setelah melihat keadaan orang yang datang itu.<br />
<br />
Dua temanku,dengan seragam yang sama denganku, menyusul dari belakang memberikanku sepasang saputangan karet,aku segera memakainya. Mata mereka tampak merah,salah satunya masih memegang kepalanya,mungkin dia merasa sakit kepala.<br />
<br />
" giliran siapa sekarang?" tanya Rani,saat kami bertiga sedang memindahkan pasien dengan tandenscop.<br />
" gue." jawabku pendek.<br />
"sesuai aba-aba gue, Satu... Dua... Tiga..."perintah gue. Kami mengangkat pasien,gue ada di posisi kepala. kami memindahkan pasien ke berangkar yang sudah dialasi papan keras terbuat dari kayu.<br />
" BAPA! Bapa! Bisa dengar suara saya?" terik ku di dekat telinga pasien,pasien tidak menjawab. Rani dan Cipro membantu mendorong berangkar. Seorang petugas ambulan memegang tabung kecil yang dihubungkan dengan selang ke face mask.<br />
<br />
"Resus!"perintah Cipro,ketua malam ini.<br />
<br />
" Pak buka matanya pak! Coba buka matanya." terikku sambil menepuk-nepuk punggung pasien.<br />
<br />
" bau alkohol!" kata Rani mengendus mulut pasien.<br />
"pemabuk bodoh lainnya yang mengendarai motor disaat mabuk" ujarku sinis ke arah Rani dan Cipro. "dibuka matanya pak!" perintahku lagi pada pasien. Agak kuguncang tubuhnya.<br />
<br />
Dia membuka matanya.<br />
<br />
Kami bertiga saling melirik.]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>"Tom needs Jerry" (cerpen pertama gue)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16730990/tom-needs-jerry-cerpen-pertama-gue</link>
      <pubDate>Thu, 04 Aug 2011 06:53:32 +0000</pubDate>
      <dc:creator>ILOVEU123</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16730990@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Hai boyzforum. Ini pertama kali nya gua post disini, tp gw udah tau lama tentang BoyzForum. Gw rasa forum ini bagus buat share dan berkarya. Ini cerpen pertama gua,Tema nya tentang percintaan. maaf kalo rada aneh dan ngga nyambung, but enjoy it! <img src="/plugins/Emotify/design/images/1.gif" width="" height="" alt=":)" title=":)" /><br />
<br />
-Chapter 1-<br />
" new school "<br />
Nama gua Jerremia. Panggil gua Jerry. Gw lahir di kalangan orang menengah keatas. jadi jangan heran kalau tiap hari gw selalu naik mobil ke sekolah. Postur tubuh gua berisi, dengan tinggi badan yang standart di Indonesia, 169 cm, muka Indonesia. gw bawel di kelas, rusuh sama temen-temen cowo. Tapi di lubuk hati gua yang terdalam, gw ini Rapuh. Ya, gw gapernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Kadang di sekolah gua sering iri sama temen-temen lain yang di anter jemput sama pacarnya, nonton bareng dan diperhatiin sama pacar mereka. Jujur, dari kelas 1 SMP sampe sekarang gua udah SMA, gua gapernah dapet sosok yang pas sama gua. Gw udah mencoba mendekati seorang cewek, bahkan sampai dating dan sebagainya. Belum keburu gw tembak, gw tinggalin dia, karena gw merasa ga nyaman sama cewek.<br />
Cerita di mulai saat gw baru masuk di kelas 1 SMA. Anak baru menghiasi mata gw. Gaada yang menarik di mata gua. waktu pembagian kelompok MOS, gue pun mulai berkenalan dengan seorang cowok Chinesse, yang ramah dan cool banget.<br />
" Hey Kenalin,  Rey " sahut Rey sambil menjabatkan tangannya.<br />
" Jerry " jawab gua sambil tersenyum terpanah.<br />
" Papan nama kamu mana? "<br />
" Di atas nih rey, kenapa? "<br />
" Hm ketinggalan pasti, yuk ambil sama aku ke atas ! " Ajak Rey.<br />
Aku pun langsung ke atas bareng dia dengan wajah memerah. Mungkin karena dia memakai "aku kamu" dan kharisma nya, yang aku impi-impikan dari dulu. Sejak pertama berkenalan, gw udah melting sm dia.<br />
Di perjalanan kita melakukan obrolan singkat.<br />
" Kamu dr SMP mana? " Tanya Rey.<br />
" Dari SMP ***** " jawab gw<br />
" Wah aku deket situ loh rumahnya. Km rumahnya dimana? "<br />
" Aku di ****** , knp ? "<br />
" Wahhh aku bisa anter kamu dong pulang, rumahku disitu juga"<br />
Sumpah demi apa gua gapernah kenal cowok sebaik dia. Gw seneng banget nanti di anter sama dia. Jadi sopir gua ga perlu capek anter jemput gua.<br />
Dan bell pun berbunyi , waktu untuk pulang pun tiba.<br />
" hey pangeranku, silahkan naik, keburu ujan nih " ajak Rey sambil tersenyum<br />
Gua pun segera naik dengan wajah memerah.<br />
( Bersambung ke Chapter 2 ) ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Sorry Girls, I'm a Gay (Untold Story)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734860/sorry-girls-im-a-gay-untold-story</link>
      <pubDate>Sat, 19 May 2012 19:19:29 +0000</pubDate>
      <dc:creator>kokochan</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734860@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[CHAPTER ONE<br />
“COUPLES”<br />
<br />
Derap langkah kaki mempercepat waktu agar sampai tujuan, mendekati pintu gerbang yang akan ditutup oleh satpam.<br />
“Pak! Tunggu sebentar”, tepat waktu sebelum pintu gerbang ditutup.<br />
Berjalan melewati koridor sekolah dan terdengar alunan-alunan do’a yang disenandungkan, tanda sebelum dimulainya belajar mengajar di sekolah.<br />
“Niko!” terdengar suara yang memanggil namanya dari kejauhan, tampak seorang perempuan yang duduk menunggu di luar kelas.<br />
“Kenapa ga masuk kelas?” Tanya Niko<br />
“Gak boleh, disuruh nunggu di luar sampai do’anya selesai”<br />
“Oh telat juga ya” Basa-basi dengan salah tingkah.<br />
Niko hanya tersenyum duduk disebelahnya, siapa yang tidak suka dengannya. Captain Cheerleader, cantik, tinggi, putih, berambut panjang dan beruntung bisa sekelas dengannya.<br />
“Do’anya sudah selesai tuh, yuk masuk” ajaknya.<br />
Niko, seorang pelajar SMA semester 2 yang akan mengalami masa-masa pendewasaannya. Pengalaman yang akan mengajarkan dirinya untuk memilih tujuan hidupnya akan dimulai dari sini. Tidak ada keanehan dalam diri Niko, tetapi sikap dan pergaulan yang akan membuka jati diri seorang Niko.<br />
Bunyi bel sekolah berbunyi, tanda istirahat untuk para pejalar sekolah. Seperti biasanya, Niko membawa bekal dari rumah. Sembari memakan bekalnya, Niko melirik Debby, melihatnya sedang bercanda tawa dengan teman-temannya di dalam kelas.<br />
“Niko gak ke kantin?” Tanya Debby membuat kaget Niko dan salah tingkah kembali.<br />
“Ngga Deb, bawa bekal dari rumah”<br />
“Oh.. gtu” Debby tersenyum dan keluar bersama teman-teman lainnya, mungkin ke kantin, pikirnya.<br />
Beberapa saat kelas menjadi kosong, hanya Niko seorang diri, kemudian ada yang memanggilnya kembali.<br />
“Ko” sapanya dari jendela kelas, seorang perempuan berjilbab masuk ke kelas sambil tersenyum.<br />
“Dewi?” Niko kaget, “Pakai jilbab sekarang?”<br />
“Iya, cocok ga?” Tanyanya sambil tertawa kecil.<br />
“Cocok aja, alesannya?” Tanya Niko.<br />
“Memang gue pengen pake jilbab. – Eh iya, lu dah tau kan cowo gue?”<br />
“Eh, kapan lo jadian?” Tanya Niko penasaran.<br />
“Baru minggu ini dan dia anak baru di sekolah kita”<br />
“Cepet banget lu jadiannya?!”<br />
Niko pun heran melihat teman baiknya secepat itu mempunyai status. Bagaimana dengan dirinya? Hanya bisa mengagumi tanpa bertindak bahkan lebih parah tidak tahu apakah orang yang disukainya sudah punya pacar atau belum.<br />
“Nanti gue kenalin sama pacar gue, namanya Radit”<br />
“Oke, congrats ya Dew, jangan lupa Pajaknya” canda Niko.<br />
Bel kembali berbunyi, tanda kelas sudah dimulai kembali. Dalam sesi pelajaran, Niko kembali berpikir penasaran untuk menanyakan status hubungan si Debby. Niko melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari orang yang tepat untuk bertanya. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain teman sebangkunya – khususnya untuk pelajaran jam sekarang, tempat duduk diatur oleh guru – Niko sebangku dengan teman yang suka membully dirinya akan sikapnya yang menurut mereka seperti cewek.<br />
“Mbul, boleh Tanya?”<br />
“Apa?” jawabnya ketus.<br />
“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya”<br />
“Jangan minta tolong ajarin gmana jadi cowo tulen ya” jawabnya ketus kembali.<br />
“Bukan, memangnya gue separah itu ya? – Eh serius, mau tanya si Debby sudah punya pacar belum?”<br />
Mereka perpandangan beberapa saat,<br />
“Lu suka sama Debby?” tanyanya.<br />
“Suka” jawabnya polos.<br />
“Sudah punya pacar kok dia” jawabnya dan kembali memperhatikan guru yang menerangkan.<br />
“Iya gtu?” jawab Niko dengan nada kecewa<br />
Raut wajah Niko memancarkan rasa keputus asaan yang berat, seperti menarik semua harapan dan rasa bahagia setiap kali dia melihat Debby.<br />
Sepulang sekolah, Niko berpapasan dengan Debby. Debby menyapanya, Niko tetap menunduk seakan-akan dirinya tidak melihat Debby. Debby hanya melihat Niko keheranan dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.<br />
<br />
** **<br />
Keesokan harinya, Niko tetap terdiam melihat Debby. Debby tetap bersikap biasa terhadap Niko.<br />
“Nik” sapa Dewi<br />
“Nanti pulang sekolah ikut gue ke rumah Radit, hari ini dia ga masuk karena sakit, gue mau jenguk”<br />
“Radit siapa?” tanya Niko<br />
“Cowo gue, gue takut sendirian ke rumahnya, ga enak sama bonyoknya”<br />
“Boleh” jawabnya memelas.<br />
“Lo kenapa?” tanya Dewi yang sadar Niko melihat kearah dua orang di depan mereka yang sedang bersenda gurau. Debby dan Mbul.<br />
“Gak ada apa-apa”<br />
“Daritadi ngeliatin mereka bedua, mereka berdua kan pacaran?<br />
“Masa?!” Niko terhenyak kaget<br />
“Makanya, jangan di dalam kelas mulu, keluar kelas, gabung sama yang lain”<br />
Niko terdiam, merasa dirinya mulai terbebani dengan pergaulan yang dialaminya. Merasa dirinya tidak pede dihadapan teman-teman lainnya.<br />
Bel Sekolah tanda selesainya pelajaran berbunyi, Dewi mengajak Niko ke rumah pacarnya.<br />
“Di sini rumahnya? Tanya Niko, melihat rumah yang cukup lumayan megah.<br />
“Nomor rumahnya benar, sebentar gue sms”<br />
Beberapa saat kemudian, pembantu rumah tersebut membukakan pintu dan mereka berdua dipersilahkan masuk ke rumah. Cidera mata dari berbagai negara terpampang di ruang tamu. Foto keluarga besar lalu foto-foto anak-anak mereka serta foto perkawinan. Seorang pria berbadan tinggi datang menyambut kita berdua.<br />
“Dit” Dewi memanggil pacarnya.<br />
“Makasi ya datang jenguk”<br />
“Dit, kenalin ini teman gue, Niko”<br />
“Niko” Niko bersalaman dengan malu-malu<br />
Radit menyuruh Niko dan Dewi ke kamar Radit. Kamar yang penuh dengan poster pemain basket.<br />
“Ternyata hobi basket juga?” timpal Niko<br />
“Iya Nik, suka basket juga?” tanya Radit<br />
“Ngga kok” jawab Niko dengan salah tingkah<br />
Dewi dan Radit berbincang berdua, sedangkan Niko sibuk memperhatikan isi kamar Radit. Niko terfokus dengan foto Radit. Diperhatikannya foro tersebut, tiba-tiba ada rasa kagum yang muncul dalam dirinya melihat raut muka Radit.<br />
“Itu foto gue waktu di Jerman” jawab Radit, memberitahu.<br />
“Oh, Bokap lu diplomat?”<br />
“iya Ko”<br />
Niko memperhatikan mereka berdua saling bercengkrama tetapi menjadi beralih melihat raut senyum Radit. Rasa menganggumi tersebut perlahan-lahan mulai timbul. Niko dan Dewi menyempatkan diri untuk makan di rumah Radit, berbekal keahlian masak dari ibunya, Radit membuat masakan untuk Niko dan Dewi. Niko melihat Radit menyuapi Dewi lalu menyibukkan diri agar tidak terlihat iri oleh mereka berdua.<br />
Sesampainya di rumah, Niko melewatkan makan malam bersama ibu dan ayahnya.<br />
“Kenapa gak makan?” tanya ibunya.<br />
“Makan di rumah teman Bu” jawab Niko sembari mengambil segelas susu.<br />
Niko merebahkan dirinya di kasur, lalu beranjak kembali mengambil segelas susu. Tiba-tiba ada sms masuk di handphone-nya.<br />
Isinya, “thanks ya, sudah mau temenin Dewi ke rumah”<br />
“Radit?” jawab Niko dipikirannya lalu niko membalas sms tersebut dengan singkat.<br />
“No prob Dit”<br />
Beberapa saat kemudian, rasa penasaran muncul ketika sms terakhir yang dikirimnya tidak dibalas kembali. Niko mencoba mengirimkan kembali.<br />
“Tau dari mana no. gue?” sent success<br />
Niko menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada jawaban. Raut wajah Radit dalam foto yang dilihatnya kembali muncul, membuat dirinya tertidur dalam perasaan yang tidak diketahui.<br />
<br />
** **<br />
Keadaan tidak berubah, seperti biasanya, duduk sendiri di dalam kelas sembari menikmati bekal makan siang.<br />
“Di, boleh pinjam handphone-nya? Mau sms, pulsa gue habis” pinta Niko.<br />
“Boleh Ko”<br />
Niko meminjam handphone milik temannya untuk mengabari ibunya untuk meminta diisikan pulsa. Rasa penasaran Niko muncul setela melihat isi folder yang berisikan sms dari Mbul. Dirinya memberanikan diri dengan lancang membuka sms tersebut. Rasa marah dan kecewa muncul setelah melihat sms berisikan ancaman untuk tidak memberitahu tentang Debby dikarenakan Debby sudah berstatus dengan Mbul sebagai pacarnya. Niko memberanikan diri menghampiri Mbul dan Debby,<br />
“Ko, mau ke mana?” sapa Dewi yang sedang bersama Radit, lalu bergegas mengikuti Niko.<br />
Dihadapan teman-teman lainnya yang sering mem-bully, Niko tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, yang hanya dipedulikan adalah kebenaran untuk dirinya.<br />
“Mbul, kenapa lo sms ke anak-anak seperti ini?” Niko menunjukkan handphone milik Adi. Mbul ingin merebutnya tetapi tidak berhasil. “Lo pasti tau isi sms-nya apa?”<br />
Debby hanya bingung memandang Niko, sementara Dewi yang ingin membantu tetapi ditahan oleh Radit.<br />
“Gue memang suka sama Debby, tapi gue tidak serendah itu merebut pacar orang, gue tau diri” timpalnya.<br />
Niko beranjak pergi dari tempat tersebut. Debby terdiam melihat Mbul dengan raut wajah keheranan seperti mengisyaratkan “lo habis ngapain?”. Sementara Dewi tetap ditahan oleh Radit untuk tidak mencampuri urusan Niko dan untuk pertama kali Radit melihat sesuatu yang menarik dalam diri Niko.<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Pacar Dari Internet</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734834/pacar-dari-internet</link>
      <pubDate>Fri, 18 May 2012 17:56:47 +0000</pubDate>
      <dc:creator>lee-</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734834@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[ini cerita saya.<br />
true story deh. ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Penasaran Cinta</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732768/penasaran-cinta</link>
      <pubDate>Thu, 12 Jan 2012 11:35:57 +0000</pubDate>
      <dc:creator>pokemon</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732768@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Malam ini suasana di kafe ini lumayam meriah. Ada acara nonton bareng liga inggris kayaknya jadi suasananya ramai.<br />
<br />
Aku duduk sambil menungu temenku yang janji datang setengah jam yang lalu. Dasar sarap tu anak, suka banget namanya jam karet. Bikin bete aja nunggu gak jelas kayak gini.<br />
<br />
Akhirnya ku telpon dia, tapi dirijek. Kurang ajar bener tu anak, udah nelat datang, ditelpon malah dirijeck. Akhirnya ku sms aja<br />
<br />
&lt;Nyet, lama amat, lg dmn&gt;<br />
<br />
&lt;msh di jln tunggu 15 menit lg. gak bs angkt tlpn&gt;<br />
<br />
Dasar pembohong, gak bisa angkat telpon tapi malah bisa bales sms. Akhirnya aku panggil waiter dan memesan orange juice dan waffel sambil menunggu si monyet.<br />
<br />
Mungkin karena ada acara nobar banyak cowok cowok keren pada datang (apa hubungannya kali), mata ini serasa full dengan vitamin A. Ada yang putih tinggi, Ada yang bodynya wow, ada yang hidungnya mancung, ada yang ganteng, ada yang unyu unyu. OMG segala jenis ada, mau dong satu batinku. Aduh malam ini sambil menunggu si monyet, aku bahagia bisa melihat pemandangan pemandangan indah.<br />
<br />
Sudah hampir tandas ni waffel ke perutku tapi belum ada tanda tanda si monyet akan datang. Bete ah, bete banget. Jadi pengen marah. Yaudah iseng iseng dengerin musik aja deh di HP, pasang headset dan putar mp3. Lagunya kali ini 2 PM hands up terdengar merdu di telingaku.<br />
<br />
Yah kalau dengerin lagu ngebit gitu ya tangan ikut ikutan diangkat angkat dong. Pokoknya sesuaai irama lagu.<br />
<br />
Tiba tiba ada seseorang menepuk pundaku dari belakang, aku terkejut seolah melihat malaikat turun dari surga (lebai deh ya) dan tiba tiba yang lebih mengejutkanku dia mencium pipiku sambil bekata “I love you”.<br />
<br />
Aku kaget setengah mati dan hanya bisa melongo. Kemudian dia pergi meninggalkan ku sambil tersenyum manis serasa senyum dari surga. Kejutku ditambah dengan tepukan seseorang dan kotelahkan kepalaku<br />
<br />
Ternyata bukan malaikan lagi tapi si Monyet<br />
<br />
“Jo, siapa yang tadi menciummu” tanya si monyet<br />
<br />
“Aku gak tahu” jawabku<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Hot Adventures in Apartment (NEW UPDATE: PAGE #5)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16715011/hot-adventures-in-apartment-new-update-page-5</link>
      <pubDate>Thu, 24 Sep 2009 11:55:44 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Bang_Jo</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16715011@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[<span><span>Gw mau 'bangkitin' thread cerita gw yang sempet tenggelam karena gak gw <i>update</i> lagi<br />
<br />
Oke deh!<br />
<i>Happy reading!<br />
Feel free to post your comment!</i> :wink:</span></span>]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Antara Boss dan Gw</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731488/antara-boss-dan-gw</link>
      <pubDate>Tue, 13 Sep 2011 06:14:04 +0000</pubDate>
      <dc:creator>Arya22</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731488@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Gw kerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang outsourching. Setahun sudah gw menjadi bagian dari hari-hari kantor yang menyewa sebuah rumah 2 tingkat di sebuah komplek perumahan.<br />
<br />
Sebut saja gw Arie, 25 thn. Teman-teman kantor menyebut gw cwo berkacamata dan smart. Entahlah, mungkin karena pekerjaan administratif bisa gw handle dengan baik, atau bisa jadi karena kacamata gw yang sebenarnya sih biasa aja, yang menyebabkan mereka menilai gw cwo kutu buku. Back to kacamata, kacamata gw cuma minus satu setengah, dan gw sangat nyaman dengan kacamata berframe tebal tp bentuknya kecil. Tapi meskipun kcamata gw cukup tebal, hobby gw adalah futsal!! Catet Futsal. Hehehe..<br />
<br />
Well, di kantor ini gw punya boss. Sebut saja namanya Pak Robby. Usianya masih 31 tahun, masih muda kan? Pak Robby ini sudah menikah dan memiliki satu anak berumur 3 tahun. Fisiknya jangan tanya, tidak terlalu tinggi sih, tapi badannya berisi dan GANTENG-nya poll !! Cwe2 di kantor aja pada ngefans, bahkan si Chika ampe nyimpen photo si boss di dompetnya.<br />
<br />
Trus apa yang unik? Nah, selama setahun gw bekerja di bawah instruksi langsung boss gw ini, gw dan dia selalu tidak akur. Contoh kasus: Dia tuh beda banget merintah ke gw dengan ke yang lain. Klo ke gw, suka banget pake urat, sama suka banget nyalah-nyalahin kerjaan gw, padahal udah gw pastiin kerjaan gw se-perfect mungkin, tapi selalu saja ada yang dikomplain, ampe titik aja pernah dia komplain. Awal-awal kerja di sini gw banyakan ngangguk-ngangguk aja, tapi lama-lama ya gerah juga. Gw mulai berani pasang opini, dan membalikkan statement dia. Well, dia mulai agak segan juga sih sekarang-sekarang.<br />
<br />
Yang gw gak ngerti, meski dia kaya gitu ke gw, tapi ada aja hal-hal kecil seperti bentuk perhatian yang mungkin kebanyakan orang ga ngeuh. Kaya, komplain tentang rambut gw yg panjang ga cocok ama muka, atau pakaian gw yang ga matching. Lah, gw pikir ni orang aneh bener. Emang sih komplainan seperti itu cuma dia sampaikan klo kebetulan tidak orang lain di deket kita. Gw sempet nanya temen gw, apa dia diperlakukan sama kaya gw? Dia malah ketawa cekikikan. Gw ampe dibilang stres, karena si pak Robby ga mungkin kaya gitu katanya. AKhirnya gw juga jadi malas nanya-nanya lagi.<br />
<br />
Pendapat pribadi nih ya, boss gw ini agak rasis ama gw gara-gara gw ganteng kali yah? Kacamata yg gw pake emang keliatannya agak2 ganggu, tapi potongan body gw yang ideal, 173 68, dan dandanan gw yang ga kampungan, plus wajah gw yang di atas rata2 mungkin yang bikin dia ngiri sama gw, itu pendapat gw aja yah, so, lu jangan buang muka kaya gitu.<br />
<br />
Ok..ok.. Gw mulai ke inti nih. Suatu hari, gw menerima kabar klo boss gw ini akan dipindahkan ke cabang lain. Sejak mendengar berita itu perasaan gw kaya senang dan sedih gitu, ga karuan lah pokoknya. Lu tau pasti lah napa gw senang ga ada dia, tapi yang bikin sedih ini yg gw kagak ngarti, kok bisa ya? Gw mulai urut2 kejadian demi kejadian gw ama dia, beneran ga ada yang bikin gw respect kecuali pesonanya sama status dia sebagai boss aja.<br />
<br />
Oh ya gw lupa, gw bukan gay, pada saat itu. Bahkan gw ga pernah kepikiran untuk ada di dunia kaya gini. Bahkan ampe 3 bulan yg lalu gw masih punya pacar cwe yang sayangnya kita harus putus karena satu dan lain hal (ga usah diceritain, ga penting jg).<br />
<br />
BTT, Sejak gw tau boss gw mau pindah kerja, gw ngeliat dia seperti agak murung, kaya ada sesuatu yang susah dia tinggalkan di sini. Padahal klo menurut gw, dia kan ga akan nemuin gw lagi, musuh bebuyutannya. So, harusnya dia senang donk.<br />
<br />
Hari itu H-2 dia pindah, karena statusnya masih boss gw, maka beberapa surat penting masih tetap harus ada tanda tangan dia. Jam menunjukkan pukul 17.15, sebagian besar temen2 gw udah pada pulang. Yaahhh, paling tinggal satu dua, itu pun mereka terlihat sedang beberes. Boss gw masih terlihat ada di ruangannya. Gw bawa beberapa surat penting itu menuju ruangannya. Sikap dan perasaan gw kaya mau wawancara kerja aja, ampir ngetuk, batal lagi, mundur lagi, maju lagi, ampir ngetuk lagi, gitu dan gitu terus, ampe gw ga ngeuh klo boss gw juga merhatiin. Waktu gw mau ngetuk pintu, jrengg pintu terbuka. Gw kaget, spontan tangan gw lipat ke belakang sambil sedikit senyum. Untuk pertama kalinya boss gw tersenyum ke gw, dan ya ampun, pesonanya emang luar biasa boo!! Wajah tampan dengan senyum manis..ckckck.. Eit, itu pendapat gw sekarang ya, waktu itu sih biasa aja.. Heuheu.<br />
<br />
Boss : Ada apa Rie?<br />
GW : Ini boss ada beberapa surat yang harus ditandatangani.<br />
Boss : Trus napa gak langsung masuk?<br />
Gw : Gpp boss, cuma takut ganggu aja.<br />
Boss, Ya ganggu lah, kan soal kerjaan. AYo masuk.<br />
<br />
Gw pun masuk, dan boss menutup pintu. Boss langsung duduk di bangkunya, gw pun duduk di depannya sambil menyodorkan berkas-berkas yang harus ditandatangani. Urusan pun selesai, gw mohon diri dan beranjak dari kursi, tapi tiba2 boss memanggil...<br />
<br />
Boss : Rie...<br />
Gw (Berbalik) : Iya boss?<br />
Boss : Emm.. Bentar, saya bisa ngobrol dengan kamu sebentar?<br />
GW (heran) : Tentu boss. (Sekalian gw mau minta maaf klo punya salah kan, kali-kali aja ga ketemu lagi).<br />
<br />
Boss menatap gw yang makin heran. Ditatap seperti itu gw ngerasa awkward, setelah ada jeda sekitar 20 detik, gw pun coba nyairin suasana.<br />
<br />
Gw : Ada apa ya Boss?<br />
Boss : Oh maaf (kaget), kamu buru2 pulangnya?<br />
GW : Ada janji sih, tp masih 2 jam lagi. (bohong)<br />
Boss : Takutnya kamu buru2, soalnya hal yg mau saya obrolkan ini sangat penting.<br />
Gw : Tentang apa ya?<br />
Boss : Tentang kita. (ragu)<br />
<br />
Hah? Kita? Lu aja kali, gw nggak? hahaha... Gw asli kaget!! Emang sih selama ini masalah di antara gw ama dia kan bejibun. Apa dia mau minta maaf ya?<br />
<br />
Gw : Kita boss? Ada apa yah?<br />
<br />
Boss menuju pintu dan membukanya, kemudian keluar seperti memastikan sesuatu. Trus dia masuk lagi sembari menutup dan mengunci pintu dari dalam.<br />
<br />
Boss : Ternyata sudah tidak ada siapa2.<br />
Gw : Udah pada pulang semua kayanya.<br />
Boss : Iya (menatap gw lagi).<br />
Gw : Trus..<br />
Boss : Gini Rie... Emm.. Saya ga tau mesti mulai ngomong dari mana, tapi yang jelas, sebelum saya pergi saya ingin sekali menyampaikan ini ke kamu.<br />
<br />
Boss mengambil gelas dan meneguk airnya sedikit serta meletakkannya kembali. Terlihat nervous sih, aneh.. <img src="/plugins/Emotify/design/images/4.gif" width="" height="" alt=":D" title=":D" /><br />
Gw ga mau motong, biarin aja dia ngomong ampe selesai, pikir gw.<br />
<br />
Boss : Kamu tau kenapa selama ini saya bersikap aneh ke kamu? (Gw mulai mikir, dan boss mulai menceritakan secara detail pertengkaran demi pertengkaran yg sebetulnya ga penting klo diingat).<br />
<br />
Busyettt pikir gw, bisa2nya dia ingat semuanya...Ckckck.. Salut, salut dah....Tapi apa maksudnya yah? Gw makin bertanya2.<br />
<br />
Boss : Saya tidak tau persis kenapa sikap saya cuma aneh ke kamu saja, sementara ke yg lain wajar. Saya mulai berpikir apa yg terjadi pada saya setelah 3 bulan sejak kamu datang. Sy menghubungi psikolog dan surprise! Jawaban dia ternyata...<br />
<br />
Tiba2 suara ringtone HP nya berbunyi..<br />
<br />
Boss : Sebentar ya...<br />
<br />
Gw nunggu, sepertinya pembicaraan penting entah dari siapa. Sembari nunggu, gw juga coba mainin BB gw. 5 menit berlalu, 10 menit telpon boss juga belum kelar. Gw masih sabar nunggu sampai akhirnya...<br />
<br />
Boss : Sepertinya saya harus pergi, gpp yah ceritanya pending.<br />
<br />
Gw bengong, loh trus tadi gw nunggu ngapain donk? Ckckck, ini boss minta digebog kali ya?? Esmosi!!<br />
<br />
Boss : Maaf karena mendadak tadi ada telpon penting, jadi harus pergi. Atau begini saja, kita ketemu lagi 2 jam ke depan di suatu tempat.<br />
<br />
Nah gt donk, jgn nanggung2 klo cerita, kan gwnya enak kagak penasaran. Klo dibawa ke kosan bisa2 gw mati penasaran.. Ckckck... AKhirnya kita pun deal ketemu 2 jam lagi di sebuah tempat, dan you know dimana? Kosan gw !!. Entahlah, tiba2 terpikir kosan gw sebagai tempat ketemuan begitu saja, karena mungkin tadi terbersit gw males klo cerita nanggung trus pulang ke kosan dengan penasaran. Gw pun pulang seperti biasa mengendarai motor gw, sementara si boss langsung pergi mengendarai mobilnya.<br />
<br />
Oh ya lupa, gw emang tinggal sendiri sebagai anak kosan yg gak jauh dari kantor.<br />
<br />
Selang 2 jam, gw udah nunggu aja dari tadi. Semakin dekat dengan waktu yg ditentukan, semakin resah pula gw. Ada apa ini? Ga biasanya? pikir gw. Jam pun sudah menunjukkan waktu yg ditentukan tapi boss gw ga nongol jg. 5 menit OK, 10 menit mulai aneh nih perasaan, 15 menit, 20 menit, setengah jam mulai ga lucu. Bener deh ni si boss minta gw marahin. Tiba2 sebuah mobil Avanza hitam parkir depan kosan, dan gw tau itu boss gw. Dia mendekat dengan tersenyum, gw pasang muka jutek, beneran deh gw udah nunggu setengah jam, dan gw ga suka.<br />
<br />
Boss : Kok kamu di luar? Nungguin yah?<br />
GW : Lagi kebetulan aja di luar. Nungguin? Mending jg cuci piring di dalam (ketus).<br />
<br />
Jawaban berani pertama gw ke boss loh, abis kesel sih. Boss gw, dia sih malah senyum.<br />
<br />
Boss : Maaf ya, tadi mampir dulu beli J.Co buat kamu nih, antrinya panjang bener. Sampai saya kesemutan..Hehehe..<br />
<br />
Gw speechless.. Segitunya kah? Bukannya dia selama ini benci gw yah? Well, lupakan. Akhirnya gw ajak boss gw masuk dan mempersilakannya duduk seadanya di kamar sempit 2,5x3 meter. Dia terlihat menyisir jengkal demi jengkal kamar kemudian menatap gw sambil tersenyum. Sumpah gw makin bingung dengan perubahan sikapnya hari ini, tapi jujur gw suka. Yah perasaan gw kaya ga musuh gitu deh, berasa aman tentram. Gw menyiapkan teh buat dia dari dispenser gw dan menyerahkannya.<br />
<br />
Boss : Terima kasih (tersenyum)<br />
<br />
Haddeeuuhh boss napa sih?? Gw makin heran, tp anehnya gw merasa nyaman diperlakukan seperti itu. Boss gw mulai minum teh dan sekali lagi matanya berkeliling.<br />
<br />
Boss : Kamu betah di sini?<br />
Gw : Lumayan boss, udah hampir setahun kan disini trus. Lagian udah kenal sama tetangga2 jd udah enak.<br />
Boss : Ohh.. Jangan panggil saya boss donk, ini bukan kantor kan, lagipula sebentar lagi kan saya sudah bukan boss kamu lagi.<br />
Gw : Ya gpp donk boss, saya kan nyaman2 aja manggilnya begitu.<br />
<br />
Entahlah, panggilan boss terdengar seksi aja di telinga..hehe.. Boss gw sekali lagi tersenyum.<br />
<br />
Boss : Iya gpp klo itu membuat kamu nyaman (dia meletakkan gelas)<br />
Gw : Jadi, lanjutannya gimana boss?<br />
Boss : Oh iya, tadi sampai mana yah? *Keningnya berkerut*<br />
Gw : Sampai mana yah? Emmm... (mengingat)... Oh sampai psikolog!<br />
<br />
Terang aja gw ingat wong gw sengaja mengingatnya, yg tadi keliatan sedang mengingat itu cuma akting..hahaha<br />
<br />
Boss : Sampai situ yah? Iya jawaban psikolog cukup mengagetkan. Dia bilang klo saya punya perasaan khusus ke kamu. Saya coba menyangkalnya, dan berbulan2 trus menerus berpikir dan menyangkal. Tapi anehnya semakin disangkal semakin kepikiran kamu trus. Kadang saya sering curi pandang kamu untuk memastikan. Tp sekali lagi, saya ga bisa bersikap baik di depan kamu, karena saya memang payah. Saya ga bisa mengontrol emosi saya, dan malah menyembunyikannya dalam teriakan depan kamu.<br />
<br />
Hah?! What?! Jadi...... Maksudnya.....<br />
<br />
Boss : Dan sebulan kemarin saya baru mengerti klo apa yg saya rasakan ini adalah rasa sayang. Kamu tahu, waktu kamu sakit di rumah sakit sebulan yg lalu? Kamu kaget karena biaya rumah sakit ternyata ada yg bayar, dan sekantor ikut heboh? Itu saya yg melakukan. Saya minta maaf karena telah melakukannya tanpa izin, tp murni saya melakukannya karena saya kepikiran kamu dan entah harus melakukan apa. Menjenguk kamu rasanya gengsi. Saya bahkan pernah sudah sampai depan kamar tempat kamu dirawat, tp kemudian saya mondar mandir tak karuan dan akhirnya mengurungkan niat untuk kemudian pulang. Dan kamu mungkin pernah menerima sebuah kado berisi sepatu futsal, itu juga dari saya. Itu karena waktu kejuaraan futsal di kantor saya melihat sepatu kamu sudah tidak bagus lagi, dan saya pun mencarikan sepatu yg mirip dengan yg kamu pakai... Entahlah, semua yg saya lakukan itu selalu spontan. Pernah suatu malam, sekitar 2 minggu yg lalu saya pulang malam2 dan istri saya marah. Saya bilang ada meeting, tp ternyata istri saya mengecek ke kantor dan ternyata memang tidak ada meeting. Yah, malam itu saya hampir duduk di dalam mobil di seberang jalan, karena hanya ingin melihat kamu meski dari kejauhan. Dan saya sangat yakin dengan perasaan saya sekarang, kalau saya sayang sama kamu, Arie. Saya sudah memikirkannya masak2 klo saya harus ngomong ini ke kamu, dan saya pikir ini waktu yg tepat sebelum saya pergi.<br />
<br />
Gw terdiam sambil menahan entahlah ini marah atau apa, tapi gw pengen banget marah!!! Dia seenaknya mainin gw kaya gt, pura2 bentak2 gw, ampe gw nunduk2, trus bayarin rumah sakit gw. What the hell?! GW saat ini cuma nunduk. Boss gw? Masih terus ngomong yg udah ga mau gw denger lagi...<br />
<br />
Gw : Keluar !!!!! (Gw berdiri)<br />
Boss : Arie? (kaget dengan reaksi gw)<br />
GW : Gw bilang keluar !!!<br />
Boss : Tapi Rie...????<br />
<br />
Gw udah ga mau denger apapun, gw dorong-dorong dia keluar. Badannya emang berisi tp sepertinya dia cuma pasrah. Mata gw udah berkaca2, dia melihat gw dengan, yah tanpa senyum, tapi mukanya seperti benar2 tulus sayang.<br />
<br />
Boss : Ok ok ok.. Maaf klo saya lancang ya. Tapi apa yg saya katakan tadi benar adanya. Terserah kamu mau menolak saya atau menyebarkannya. Saya sekarang sudah lega menyampaikan hal ini.<br />
<br />
Telunjuk gw tetap mengarah ke luar, menandakan agar boss gw segera pergi. Boss gw ga sanggup berkata2 lagi, dia cuma bilang permisi sambil tersenyum untuk kemudian pergi.<br />
<br />
Semalam gw ga bisa tidur, gw benar2 marah. Enak aja dia memperlakukan gw dan hidup gw seperti itu. Klo maksud dia adalah untuk mempermainkan hidup gw, dia udah sukses.<br />
<br />
<br />
Bersambung.......]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Him? Him? or Him?</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734800/him-him-or-him</link>
      <pubDate>Thu, 17 May 2012 06:55:13 +0000</pubDate>
      <dc:creator>ElninoS</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734800@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Nino POV<br />
<br />
Nama gw Elnino Satria. Umur gw 16 di pertengahan september nanti. Sekarang gw kelas 1 SMA di salah satu SMA di Jakarta Barat. Kata orang-orang gw punya muka yang polos dan bisa dibilang cukupcute diantara anak-anak cowo lainnya di sekolah gw. Walaupun polos gini otak gw ga sepolos tampang gw, otak gw sama aja kayak anak cowo lainnya walaupun gw 'agak' berbeda dengan remaja cowo lainnya.<br />
<br />
Semenjak gw kelas 2 smp gw baru nyadar kalau gw ternyata emang bisex. Awalnya emang berat ngejalanin semua ini. But i can do it now. Beberapa sahabat gw juga bisa nerima keadaan gw yang sekarang. Cukup sekian kenalannya, lanjut ke cerita.<br />
<br />
Pagi itu gw berangkat sekolah dianter sama bokap, maklum lah anak kesayangan belom boleh bawa motor sendiri hehehe. Hari ini gw make batik dan celana abu-abu, gak lupa gw juga make kaca mata yang bikin gw nambah cute (kata orang loh).<br />
<br />
Sesampainya di sekolah gw langsung minjem bukunya Dini buat ngerjain pr matematika. Maklum deh gw ketiduran abis les jadi ga sempet ngerjain pr.<br />
<br />
"Thanks ya din." Ucap gw singkat sambil ngasih bukunya ke dia.<br />
<br />
"Sama-sama Nin, lo kerjain sendiri dong. Gw tau lo kan bisa ngerjain soal kayak gini doang." Gerutunya.<br />
<br />
"Iya iya... Abis semalem ketiduran hehe." Gw cuma bisa nyengir aja. Ya emang kenyataannya sih gw termasuk 10 besar di kelas. Otak gw terbilang encer di kelas. Bulan lalu aja nilai uts b.inggris, kimia, sama fisika gw paling tinggi satu angkatan.<br />
<br />
Ga berasa bel masuk sekolah gw udah berkicau. Dan tandanya jam pelajaran seni musik dimulai. Guru yang mengajar super wuper duper mega ultra giga killer! (lebay) emang agak berlebihan sih, but the fact said so. Example, dari kelas gw aja yang ga remed ulangan harian seni musik cuma gw sama 3 orang temen gw. Itu pun dengan nilai pas KKM alias 75!<br />
<br />
DRTTT... DRTTT...<br />
<br />
Gw lirik dakota kesayangan gw dan gw lihat ada message di situ. Dari nomernya ini nomer asing buat gw. Pas gw baca sms itu...<br />
<br />
From: +628158446xxxx<br />
<br />
wkwkwkwk... Cakep2 ternyata maho, ga nyangka gw. Kalo anak2 kelas pada tau gimana ya?<br />
<br />
DEG!<br />
<br />
Anjrit! Siapa nih? Nomernya ga pernah gw liat. Oke deh gw bales aja dulu.<br />
<br />
To: +628158446xxxx<br />
<br />
Lo siapa? Maen fitnah aja. Jangan2 lo lagi yg homo.<br />
<br />
Sip! Udah ke send. Ga berapa lama orang itu sms lagi.<br />
<br />
From: +628158446xxxx<br />
<br />
Pake ngeles. Gw ada bukti kali postingan lu di forum maho. Wkwkwk..<br />
<br />
Oh God! Save me now. Baru beberapa hari gw daftar di boyzforum udah ada terror kayak gini. Gw nya juga bego sih make naro foto asli. Pokoknya gw tenang dulu. Siapa tau aja ini orang cuma ngibul, atau ini malah nomer baru Nita si fudanshi itu. Mending gw sms lagi deh.<br />
<br />
To: +628158446xxxx<br />
<br />
Sorry gw bukan maho. Dari pada fitnah kayak gini, mending face 2 face aja sama gw. Itu pun kalo lo berani.<br />
<br />
Yep gw bukannya muna disini. Gw emang bukan pure gay 100% but gw ini bisex. Jadi ga salah dong gw ngomong kayak gitu?<br />
At last sampe pelajaran seni musik selesai orang itu ga sms gw lagi. Setelah gw dari ruang seni musik gw langsung ke kelas. Dan lewatin lapangan basket, gw liat anak-anak kelas 11 ips 3 lagi pada maen basket. Tau kenapa gw tau itu ips3? Karena dikelas itu ada orang yag bisa bikin dag dig dug seeerrr... gw berenti sebentar buat liat ips3 maen sebentar. Terutama liat Aldy. Lengkapnya Aldyansyah Ibrahim Novalino . Dia kapten basket sekolah gw. Dia masih keturunan arab, tapi ada indonya juga. Mukanya putih bersih. Body cukup muscle lah untuk ukuran anak sma. Lebih tinggi dia beberapa cm dari gw. mungkin tingginya 177. Tiba-tiba…<br />
<br />
<br />
<br />
BUGH….<br />
<br />
<br />
Karena keasikan liat anak basket pada maen, ternyata ada bola yang ngarah ke gw dan sukses bikin kepala gw benjol + jatoh.<br />
<br />
“Aww...” Asli sakit banget kepala gw. Kayanya agak memar nih.<br />
<br />
”Sorry ga sengaja. Lo gapapa kan?” Tanya cowo itu. Lalu mulai banyak yang ngerumunin gw, nafas gw jadi sesak dan semuanya jadi gelap.<br />
<br />
<br />
<br />
-<br />
<br />
-<br />
<br />
-<br />
<br />
<br />
Normal POV<br />
<br />
Di ruangan itu terbaring seorang laki-laki dengan perban dikepalanya. Sepertinya lemparan bola yang tadi cukup untuk membuat kulitnya terluka. Perlahan-lahan ia membuka matanya.<br />
<br />
”Gw dimana?” Gumamnya. Lalu dari arah pintu keluar lah seorang laki-laki yang masih memakai seragam olahraga sekolah itu.<br />
<br />
”Lo udah sadar? Sorry tadi gw ga sengaja ngelempar bola ke arah lo.”<br />
<br />
”Iya gapapa, gw nya juga yang salah pake bengong hehe.” Nino mulai agak salting karena orang yang melempar bola itu  ternyata kakak kelas yang ia suka selama ini.<br />
<br />
’Demi apa ini orang yang ngelempar bolanya? Kalo dia sih sampe 100 kali juga gapapa deh.’ batin Nino.<br />
<br />
Hening sesaat menyergapi mereka berdua. Nino bingung juga mau ngomong apa lagi sama orang ini. But berkat bola laknat itu akhirnya Nino bisa liat Aldy lebih deket. Lalu Aldy mengulurkan tangannya ke Nino.<br />
<br />
”Gw Aldy 11 Ips3 , lo siapa?”<br />
<br />
”Gw Nino kak kelas X-3.” Jawab Nino kalem.<br />
<br />
”Lo Nino yang anak BD (Break Dance) itu kan?” Tanya Aldy.<br />
<br />
”Iya kak hehe.” Jawab Nino sambil cengengesan, sepertinya kepalanya sudah tidak terlalu sakit.<br />
<br />
”Pantes muka lo ga asing buat gw. Eh sorry kayanya gw ga bisa lama-lama. Gw harus balik ke kelas. Bye.” Ujar Aldy sambil mengedipkan mata kirinya sebelum ia menghilang di pintu.<br />
<br />
Nino masih mematung dengan sikap Aldy yang seperti itu.<br />
’Bola basket, pingsan, kedipan mata....’<br />
<br />
”I must get him.” Seringai licik terkembang di bibir tipis Nino dan ia meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke kelasnya.<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>MEMOIRS III (The Triangle)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734803/memoirs-iii-the-triangle</link>
      <pubDate>Thu, 17 May 2012 11:21:27 +0000</pubDate>
      <dc:creator>jay dody</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734803@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Guys ni adalah seri terakhir dari memoirs yg gw garap. Honestly, gw masih bingung mo bawa cerita ini kemana. Baru nulis dapet bbrp part. Jadi. . .  ga tau deh. Semoga aja ga mengecewakan.<br />
En buat temen2 yg ada 'perlu' dg cerita ini, gw minta hubungi gw dulu ya?<br />
thanks!<br />
<br />
<br />
REGHA<br />
<br />
Gila! Orang2 kota besar memang ngeselin! batinku saat kembali aku harus melayani salah satu customer warung Bu Indri. Emang mereka nggak bisa ya ngambil kotak tissue yang jaraknya cuman dua meter dari tempat mereka duduk itu sendiri? Ngapain pake tereak2 gitu sih?!<br />
Coba kalo uang kiriman dari Bapak dikampung cukup buat hidup disini, gerundengku. Nasib jadi mahasiswa perantauan emang gini. Aku harus bisa berusaha survive dengan cara apapun. Dengan kerja pagi di warung Bu Indri, selain bisa dapat makan gratis, aku juga mendapat uang. Tidak banyak, tapi kalau digabung sama uang kiriman bapak, cukuplah untuk membayar uang kuliah dan keperluan hidup lainnya disini. Kalo lebih jg cuma sedikit. Lagipula, jam kerjaku cuma dari jam 7 sampe jam 12 doang. Sementara kuliahku dimulai jam 1. Jadi tak terganggu.<br />
Cuman itu, kadang suka ada pelanggan yg rese. Bikin empet abis!!. Pertama kali tiba dikota Bandung ini aku sempat agak shock dengan perilaku penghuninya. Sumpah mampus aku pikir orang Bandung itu ramah2! Orang Sunda kalo di tv kan sepertinya ramah2 gitu. Ya Allah, ternyata. . .<br />
Bukannya nggak ada sih yang ramah. Ada juga satu dua, tapi banyakan yang nge-bete-in. Dulu waktu berhasil tembus ujian seleksi di Perguruan Tinggi tempat ku belajar, aku sempat excited banget. Bandung cuy! Kayaknya keren! Bisa hang out, ngumpul ma anak2 gaul, pacaran ma cewek cakep. Kedengarannya bakalan seru. Temen2 sekolahku aja banyak yg iri!<br />
Tapi kenyataan gak seseru itu.<br />
Disini orang lebih dilihat karena 3 hal. Money, performance and speak! Diskriminasi yang aku liat di film2 drama remaja produksi Amrik, ternyata berlaku disini. Para nerd berkumpul dengan nerd yang lain. Cewek2 dan cowok2 gaul, tajir plus cakep membentuk gank sendiri. Mereka seakan-akan membentuk gank exclusive dg anggota yg harus berstandar sama.<br />
Paling susah kalo yang kelompok abu2 kayak aku gini. Cakep nggak, gaul nggak, tajir nggak, pinter banget juga nggak. Bener2 biasa. Gaulnya juga sama anak2 biasa aja.  Habis gimana coba?<br />
Mau gaul ma anak2 pinter, jadi bengong gak ngeh ma pembicaraan mereka. Malah keliatan banget dongo nya. Mau gaul ma gank populer, nggak kuat ma gaya mereka. Baju bagus, bling2, tongkrongan keren plus hang out ke diskotik atau club2 yg cover charge nya bisa langsung bikin aku miskin!<br />
Sigh. . . !<br />
Bodo banget lah! Pada akhirnya aku harus mau memilih dan memilah. Juga harus sadar diri. Aku yang berasal dari keluarga yang serba nge pas, harus bisa bersyukur bisa kuliah disini. Harus berusaha sebisa mungkin untuk survive. Nggak usah mikirin hal yg neko2. Yang sederhana saja.<br />
<br />
Aku melihat jam sudah hampir jam 12. Sudah waktunya aku pulang dan bersiap-siap kuliah. Aku segera berpamitan pada Bu Indri.<br />
"Sudah mau pulang Gha?!" tanya Bu Indri. Wanita berusia akhir 40 an yang sangat baik. Beliau sendiri istri dari seorang pejabat daerah setempat. Sebenernya Bu Indri sendiri bisa saja diam santai dirumah tanpa perlu bekerja. Gaji suaminya lebih dari cukup bila sekedar untuk biaya hidup. Tapi Bu Indri sangat hobi memasak dan tidak suka duduk diam dirumah sendiri. Putra tunggal beliau, Mas Rizky kuliah kedokteran di UGM.<br />
Karena itu, iseng2 beliau membuka rumah makan kecil2an tak jauh dari rumahnya. Siapa sangka kalau usaha kecil2an beliau menjadi lahan bisnis yang berkembang pesat dalam hitungan bulan. Sekarang Bu Indri punya 5 cabang yg tersebar di beberapa tempat di Kota Bandung ini. Beliau sendiri lebih suka berada disini, rumah makan yang paling dekat dengan rumah beliau. Rumah makan yang pertama beliau buka. Disini juga pusat dari semua kegiatan rumah makan beliau dilakukan. Setiap pagi ada sebuah truk pick up yg khusus digunakan untuk mengantar bumbu2 ke cabang rumah makan Bu Indri yang tersebar.<br />
Ada sepuluh orang yang bekerja khusus untuk membuat bumbu disini. 3 orang memasak. Dan 12 orang pelayan, yg dibagi menjadi 2 shift. Aku sendiri boleh dibilang hanya sebagai tenaga pembantu. Ceritanya dulu aku nyari kerja part time selama liburan kuliah. Bu Indri menerimaku disini. Alhamdulillah nya beliau senang karena aku bisa membantu beliau dengan pembukuannya.<br />
Karena itu beliau mempertahankanku untuk bekerja disini. Meski aku hanya bekerja 5 jam sehari. Tapi seminggu sekali aku mengerjakan pembukuan usaha beliau.<br />
"Iya Bu! Siap2 kuliah," jawabku sembari melepas celemek putih yang kupakai.<br />
"Tadi Ibu bikin rendang kesukaanmu lho. Nih bawa!" kata beliau dan mengangsurkan rantang bersusun 3 padaku. Jelas isinya lebih dari sekedar rendang. Dan kalau Bu Indri masak rendang berarti. . . .<br />
"Mas Rizky datang Bu?" tanyaku antusias.<br />
Bu Indri tersenyum melihatku. "Iya! Tadi subuh! Sekarang mungkin masih tidur."<br />
"Tumben mendadak Bu?" gumamku pelan dan menerima rantang tadi.<br />
"Mungkin mau kasih surprise buat Ibu? Ibu aja kaget tiba2 nongol dirumah subuh tadi. Sekarang pasti masih kecapekan! Sudah cepet sana.Nanti terlambat kuliahnya!" kata Bu Indri mengingatkan.<br />
"Waduh!!! Iya Bu! Terimakasih! Mari! Assalamu'alaikum!" pamitku dan cepat2 ngacir. Hari ini aku banyak sekali tugas. Plus kegiatan di club jurnalistik yg ku ikuti. Issue bulan kemarin cukup mendapat perhatian anak kampus. Soanya kami membahas tentang cowok en cewek favorit di kampus kami. Redaksi akhirnya mengadakan polling, siapa aja cowok cewek yg dianggap paling keren sekampus, dan juara 5 besar akan diliput dalam majalah kami.<br />
<br />
Siapa sangka kalo animo mahasiswa kampus kami besar sekali dengan ide ini. Email club sempat membuat alis terangkat dengan suara2 yg masuk. Dimana-mana cowok en cewek cakep emang selalu jadi pusat perhatian ya?!<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
"REGHA!!!"<br />
Suara panggilan itu membuatku menoleh ke belakang. Alvin temanku satu jurusan melambaikan tangannya dari jarak sekitar 15 meter.<br />
"Sorry Vin! Gw keburu!" balasku tanpa menghentikan langkah. "Ada pertemuan di klub dan. . ."<br />
"GHAAAAA!!!!" Alvin berteriak ngeri dg tangan terulur seolah ingin meraihku. Hanya selisih beberapa detik kemudian aku mendengar decit ban dan makian keras seseorang.<br />
Aku terpaku kaku ditempatku berdiri!<br />
Karena ceroboh dan terburu-buru aku tak sadar kalo aku  sedang melintas di jalan raya kampus. Mobil yang datang dari arah samping kiriku tak kulihat. Untungnya si pengendara cukup sigap menginjak rem. Mobilnya terhenti hanya sekitar 10 senti dari tempatku berdiri.<br />
Kalau saja dia tak sigap. . . .<br />
Aku tak sanggup memikirkannya. Aku hanya berdiri bengong disana dengan lutut gemetar.<br />
Alvin berlari memburuku. Sementara pengendara mobil sedan itu keluar dengan umpatan keras.<br />
"BUTA LO?!!" bentaknya marah. "LO KIRA INI JALAN MOYANG LO APA?! MAU MATI HAH?!! PAKE TUH MATA KALO JALAN?!!"<br />
Aku hanya mampu diam memandangnya yang berdiri didepanku dg wajah merah marah. Sumpah! Aku nggak tahu harus bereaksi seperti apa, krn aku sadar kalau aku nyaris saja tergeletak dan kehilangan nyawa. Alvin sedikit menyeretku yg mirip orang linglung ke pinggir jalan sembari mengucapkan permintaan maaf pada orang tadi. Beberapa orang mulai mengerubungi kami.<br />
"Gha! Gha!!" Alvin memanggilku, mencoba menyadarkanku dari trans. Aku mendengarnya, tapi tubuh dan pikiranku ku yg kaget, menolak untuk bereaksi. "GHA!!!" panggil Alvin keras, diikuti oleh tamparan sedikit menyakitkan dipipiku.<br />
Mataku berkerjap kaget. Aku seakan-akan baru bangun dari mimpi buruk. "Vin. . . ," gumamku pelan dan meraba pipiku yg terasa panas.<br />
"Udah sadar?" tanya Alvin yg ku jawab dengan anggukan linglung.<br />
"Minum ini!" kata seseorang dan mengulurkan sebotol air mineral. Alvin yg cepat tanggap dan menerimanya. Dia segera membuka botol itu dan menyorongkannya padaku. Aku yg menurut, sadar kalo orang yang memberikan botol itu adalah si pengendara mobil tadi.<br />
"Temanmu yang idiot itu nggak apa-apa kan?" tanyanya lg. Sepertinya pertanyaan itu dia ajukan pada Alvin. Jadi, aku adalah si idiot yg dia maksud. Sial!!<br />
"Aku nggak apa-apa. Cuma kaget! Maaf!" kataku cepat, mencoba mengembalikan sedikit harga diriku yg tercecer.<br />
"Kalo jalan jangan meleng!" gerutunya kesal dan segera berlalu. Kembali ke mobilnya dan melesat pergi. Orang-orang yg berkerumun pun mulai pergi sembari bergumam. Beberapa diantaranya tampak tertawa kecil. Hebat! pikirku. Aku jadi badut dadakan.<br />
"Maaf Gha! Aku tadi manggil kamu!" pinta Alvin dan membantuku berdiri.<br />
"Nggak Vin!" sangkalku dan menggeleng. "Aku yg ceroboh gak liat jalan!"<br />
"Kamu tadi keburu mau ke. . . ," Alvin menggantungkan kalimatnya.<br />
"KLUB!!!" pekikku sadar dan segera ngacir.<br />
"WOYY!! GHA!!!" teriak Alvin.<br />
<br />
Aku hanya melambaikan tanganku tanpa menoleh padanya. Aku harus segera sampai ke kantor redaksi. Hari ini pengumuman hasil dari polling kami kemarin, sekaligus penunjukkan siapa aja yg bertugas mewawancarai para pemenang. Siapa tahu aku dapet tugas ngewawancarain si Emma. Cewek beken di kampus yg bikin aku ingat terus sejak pertama kali melihatnya setahun lalu.<br />
Suara Mas Angga, ketua redaksi telah kudengar pada jarak 5 meter dari gedung redaksi. Gawat! Gw telat! Aku kembali berlari kecil lalu segera mengetuk pintu sembari mengucap salam. Mas Angga yg menyahut hanya menatapku sedikit tajam. Aku nyengir kuda dan cepat2 duduk di bangku kosong. Sialnya, aku dapat tempat disebelah Vivi. Cewek bertubuh subur yg agak sinting, krn dia gemar banget dengan segala sesuatu yg berhubungan dengan dunia gay.<br />
<br />
Mana ada coba, cewek normal yg tertarik sama gay? Jelas2 yg namanya gay gak bakalan suka ma cewek. Tp cewek edan ini berkilah kalo dia adalah contoh nyata atas apa yg disebut dg fag hag! Apapun artinya itu.<br />
Dan disebelah kiri kursi kosong itu ada Regi! Cowok bertubuh langsing yg hobi banget ngomong pake bahasa banci salon. Bahasa tubuhnya yang melambai dan flamboyan sudah merupakan indikasi kalo dia 'sakit'. Tapi kadang kelakuannya suka rese. Gak liat2 tempat kalo lagi kumat ngondek dan latahnya. Kadang suka bikin tengsin kalo dia mulai nyerocos pake bahasa anehnya ditempat umum. Apalagi suaranya cempreng abis. Tanpa pake megaphone, orang se Mall pasti bisa denger suaranya. Tapi dia bisa membuat kita tertawa dengan tingkahnya.<br />
<br />
"Diem aja Kuntil!" umpatku pelan pada Vivi yg sudah hendak nyolot padaku. Dia cuma monyongin bibirnya.<br />
"Jij dari mandra ajijah sih Cin?! Sampe ngos2an gitu," tanya Regi.<br />
"Udah diumumin?" tanyaku pd Regi, tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.<br />
"Belanda!" jawab Regi yg berarti belum. Aku menarik nafas lega dan segera konsentrasi pada Mas Angga. Dia menjelaskan tentang issue yg bakal dikeluarkan untuk bulan depan. Regi yg kebagian fashion departement sudah menyampaikan idenya tentang Paris Fasion week. Vivi, psychology sudah siap dengan eating disorder dan penyimpangan sex di lingkungan remaja. Health department sudah siap pula dengan makanan bebas bahan kimia berbahan dasar sayuran yg serba organik. Aku yg kebagian sebagai jurnalis bebas tinggal nunggu saja tugas dari Mas Angga.<br />
"Ok! Sekarang tentang hasil polling kita. Ada result yg mengejutkan pada kategori cowok. Pemenangnya. . . . ," Mas Angga menarik nafas sejenak, seolah-olah sengaja membikin kami semua tambah tegang. "Zaki Christian Osmond! Dia mahasis. . . . . "<br />
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! IKKE MENAAAAAAAANNGG!!!!" jerit Regi beberapa detik kemudian mengagetkan kami semua. Dia jingkrak2 kegirangan sembari langsung joget ngebor ditempat. Dia lalu berkacak pinggang dan menoleh ke beberapa orang. "Jij! Jij dan Jij!!!" tunjuknya semangat pada Vivi, Anggi dan Dina. "Bayar ikke seratus ribu, em?!" tuntutnya girang.<br />
<br />
Hening!<br />
<br />
Suasana redaksi benar2 senyap. Semua terlalu kaget atas reaksi Regi yg tak terduga. Kami semua hanya mampu menatapnya bengong! Regi yg akhirnya sadar atas tingkahnya cuma bisa nyengir. Dengan malu dia berdehem pelan.<br />
"Maaf!" katanya pelan dan kembali duduk.<br />
Detik berikutnya tawa kami pun pecah!<br />
"OK SEMUA!!!! CUKUP!!!" potong Mas Angga pada kami semua yg masih terkekeh krn ulah Regi tadi. "Hasilnya memang sedikit mengejutkan. Semuanya menyangka kalo Alvian, ketua BEM kita yg bakal jadi pemenangnya. Siapa sangka kalau justru mahasiswa pindahan dari Australia, Zaki yg jadi pemenangnya," lanjutnya dan mengetik sesuatu dikomputernya. Pada layar putih dibelakangnya muncul lima gambar pemenang kategori cowok kami.<br />
<br />
Yang disebut Zaki pd urutan pertama. Alvian Reza Mahardika, ketua BEM kami yg terkenal cakep dan berprestasi pada posisi kedua. Ibrahim Ahmadi, ketua Rohis kampus kami (pasti yg milih para akhwat bin ikhwan nih! pikirku), pada posisi ketiga. Lucky Alamsyah, cowok yg pernah jadi bintang iklan diposisi ke empat. Dan terakhir, Dio Arwendra, kapten basket kampus kita yg tingginya hampir dua meter.<br />
Mataku langsung tertancap pada Zaki. Bukan karena wajahnya yg harus kuakui tampan dan agak bule, tapi karena mobil sedan yg ada dibelakangnya. Aku ingat jelas mobil itu. Mobil yg tadi hampir menabrakku!!<br />
"Dan Regha, kamu yg bertugas mewawancarai Zaki. Harus kuingatkan, ada rumor yg beredar kalau dia orangnya agak sulit. Jadi mungkin kau harus berusaha sedikit ekstra. Aku mau laporan perkembangannya minggu depan. Dan. . ."<br />
<br />
Aku sudah tak mendengarnya lg.<br />
<br />
APA????!!!!!!!!<br />
<br />
<br />
<br />
NOTE: Kamus kecil bahasa Banci Salon buat kalian.<br />
Jij (dibaca yey, berasal dari bahasa Belanda jij) = kamu<br />
Mandra = Mana<br />
Belanda = belum<br />
Ajijah = aja<br />
Ikke (jg berasal dari bahasa Belanda ik) = aku<br />
Em = singkatan dari emang/ember<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>GODBYE AGAIN ''TIME MACHINE AND ONE MISTAKE  27 MEI 2012</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734874/godbye-again-time-machine-and-one-mistake-27-mei-2012</link>
      <pubDate>Sun, 20 May 2012 07:10:44 +0000</pubDate>
      <dc:creator>LEO_saputra_18</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734874@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[wahhh !!! tak terasa sudah 2 minggu yang lalu aku Comeback dan promosi di berbagai situs online<br />
<br />
ternyata hasil dari cerita ''Time machine and one mistake'' sangat memuaskan<br />
<br />
Ending nya akan terselesaikan 27 mei mendatang sekaligus menutup rangkaian promosi ku<br />
<br />
aku akan comeback Juni 2012 mendatang dengan cerita baru<br />
<br />
terimakasih telah memberi ku banyak cinta selama promosi ku:)<br />
dan sedikit mengenai ku, aku upload foto terbaru ku  he he he he  narsis sedikit gpp kan ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Mimpi ataukah Kenyataan</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734760/mimpi-ataukah-kenyataan</link>
      <pubDate>Tue, 15 May 2012 05:40:37 +0000</pubDate>
      <dc:creator>revian97</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734760@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[cerita ini cuma fiksi semata, bila ada kesamaan itu hanya kebetulan semata......  ]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>You Are My Rainbow(Volume 1)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731706/you-are-my-rainbowvolume-1</link>
      <pubDate>Sat, 08 Oct 2011 01:51:30 +0000</pubDate>
      <dc:creator>xchoco_monsterx</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731706@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Author note:<br />
<br />
Halo semuanya di boyzforum salam kenal, aku choco newbie nih^_^.<br />
aku disini mau berbagi cerita-cerita boyxboy yang aku tulis sendiri.<br />
sebenernya aku pernah beberapa kali "mencoba" menulis tapi karena nggak pede jadinya selalu berhenti ditengah jalan.<br />
jadi sekarang aku mencoba nulis lagi dan Insya Allah sampai tuntas, Amieenn.<br />
dan inilah persembahan pertama aku di boyzforum.<br />
<br />
oh iya ini loh pertama kalinya aku nulis boys love dan <b>You Are My Rainbow</b> adalah ide cerita boys love pertama yang terbesit dipikiran aku, cuma karena aku bingung mau taruh nih cerita dimana soalnya kan ide ceritanya agak luar biasa hihihi. eh, tak disangka bisa ketemu nih forum dan yang bikin aku seneng ternyata ada kategori <b>boyzstories-nyah</b>.<br />
<br />
aku juga udah mampir ke lapak2 lainnya dan sumpah bagus2 banget ceritanya sampai jadi minder sendiri. oh yah buat yang ngeh sama judul cerita aku sama lapak yang digawangi oleh <a rel="nofollow" href="http://boyzforum.com/profile/aries">@aries</a> sedikit mirip sumpah ini mah kebetulan. aku aja baru ngehnya pas udah baca tuh cerita(klepak kepala sendiri oon bener yakz) tapikan yang pentingkan isinya beda dan berhubung karena ide ceritanya tuh udah lama bersarang diotak aku begitu pula dengan judulnya yang udah lengket banget, jadinya susah banget kalau harus cari judul baru. so emsoray buat kemiripan judulnya.<br />
<br />
You Are My Rainbow terbagi menjadi 3 volume. kok banyak yah? iya soalnya emang udah begonoh dari sonohnya tapi tenang aja kok gak bakal kayak cinta fitri atau pun sejenisnya(secara aku gak suka juga sih).<br />
so for the last word<br />
silahkan <b>MEMBACA, MENIKMATI LALU MENGKRITISI</b>.<br />
<br />
xoxo<br />
<br />
<br />
xchoco_monsterx<br />
<img src="http://static-cl1.vanilladev.com/boyzforum.vanillaforums.com/uploads/FileUpload/16/ffd5a874ce3f463c276089a332e0fe.jpg" alt="ffd5a874ce3f463c276089a332e0fe.jpg" />]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Sweet and Bitter Of Love &amp; Life (Update Part 25. Breeze before Storm)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732644/sweet-and-bitter-of-love-life-update-part-25-breeze-before-storm</link>
      <pubDate>Sun, 01 Jan 2012 11:00:44 +0000</pubDate>
      <dc:creator>pokemon</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732644@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Manis dan Pahit pasti ada dalam hidup, Dengan tahu pahit itu seperti apa, maka rasa dari manis yang sesungguhnya baru dapat dirasakan.<br />
<br />
Ini hanya fiksi saja, gak ada hubungan dengan kisah nyata (moga moga ya)<br />
<br />
Ini cerita ketigaku, moga dinikmati dan dikomen
<hr />
<br />
Kulangkahkan kakiku kedalam rumah, sepulang dari kerja yang menguras tenaga dan konsentrasi. Waktu sudah lumayan sore, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Seperti inilan rutinitas yang telah kujalani selama hampir 4 tahun, walaupun melelahkan taki bagiku kurasa cukup menyenangkan.<br />
<br />
Badan dan pikiran Capek, Seperti itulah kalau habis menjalankan rutinitas dari jam 8 sampai jam 5 sore plus perjalanan pulang yang memakan waktu satu jaman akibat kemacetan yang luar biasa yang pasti terjadi setiap petang waktu pada pulang kerja. Untung tadi aku sempat membeli makan buat aku makan dirumah, rasanya males banget mau masak lagi.<br />
<br />
Setelah mandi, kubawa makanan yang berisi nasi dan ayam goreng serta se cup lemon tea. Makanan yang simple tapi bagiku enak dan cukup untuk mengganjal perutku. Sambil makan kunikmati acara berita di tv, lumayan lah daripada nonton sinetron yang geje dan gak jelas gitu.<br />
<br />
Berita yang terpampang di di TV lumayan saat ini bikin aku kaget, ada pembunuhan anak sekolah, masih muda berusia 15 tahun, masih kelas 1 smu, dibunuh dengan sadis. Aku bergetar dan ingatanku mulai terbuka dan perlahan lahan air mata meleleh di pipi. Sesak hati ku dan rasa sesal yang tiada terkira.<br />
<br />
Tertegun, kanya tertegun saja, gak tahu gimana dan bagaimana, seolah dunia terasa berhenti dan semuanya gak berjalan lagi, udara seakan2 terhenti sehingga aliran ke paru paru seakan tidak berfungsi lagi. Otak seakan berhenti bekerja, badan tidak bisa digerakkan. Syaraf syaraf tubuh seakan menjadi tidak berfungsi dan tubuh menjadi mati rasa. Bagiku dunia seakan menelan diriku dalan sebuah kesedihan, kegalauan dan keputus asaan.<br />
<br />
Aku gak tahu seberapa lama diriku dalam keadaan seperti itu. Berita di TV yang sangat menguncang hati, perasaan yang dulu terkuak lagi, dan sakitnya menjadi semakin besar.<br />
<br />
“Oh God, when this pain will gone”<br />
<br />
Aku hanya bisa berharap, berharap yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Sakit yang kurasakan gak akan hilang, aku pesimis sakit ini akan hilang dari diriku.<br />
<br />
” Apakah benar bahwa setiap sakit ada obatnya?”<br />
<br />
Saat ini aku tidak bisa mempercayai hal itu. Walaupun logikaku masih bisa berpikir bahwa setiap masalah, setiap penyakit pasti aka nada penyeleseiannya, pasti ada obatnya, tapi pada saat ini aku tidak mengetahui apa yang harus aku lakukan.<br />
<br />
Dalam ke “mati rasa”anku, aku masih mendengar berita bahwa mayat pemuda berusia 15 tahun itu dibuang di semak semak. Dibunuh dan dibuang seakan tidak ada harganya, seakan nyawa hanya merupakan hal sepele yang kalau hilang sudah gak berguna dan cukup menjadi sampah.<br />
<br />
Oh tuhan, kenapa ada orang yang bisa melakukan hal hal seperti itu, menyakiti seseorang, bahkan seorang yang masih sangat muda. Seorang yang masih punya masa depan yang jika diteruskan hidupnya bisa menggantikan dan menjadi pemimpin. Seorang yang akan sangat berguna bagi masyarakat. Tapi itu semua terenggut seketika.<br />
<br />
Keluarga yang ditinggalkan, gimana rasanya? Apakah mereka senang? Atau sedih?<br />
<br />
Apakah pemuda itu dimata keluarganya pemuda yang baik baik baik? Atau pemuda pemberontak yang mencemarkan “nama baik” keluarga? Apakah yang dia lakukan sehingga pantaskah dia menerima hal tersebut?<br />
<br />
Seberapapun salahnya, apakah seseorang yang bahkan belum menikmati hidup mendapat balasan seperti itu? Apakah semua itu adil? Siapa yang salah?<br />
<br />
“Mati rasa” tubuh ini, mati rasa otak ini, dunia menjadi berhenti, atau bahkan dunia menjadi berputar putar tanpa kendali. Perasaan sakit, perasaan tersiksa, perasaan marah, perasaan sedih, perasaan putus asa berkumpul bercampur menjadi satu. Semuanya bergolak dan pengen dilepaskan dari tubuh ini. Tapi yang terjadi adalah tubuh menjadi mati rasa, dan tiba tiba kepala menjadi pusing, perut seperti diaduk aduk, penglihatan yang dari tadi sudah seperti hilang fungsi menjadi seperti ribuan bintang yang gak Cuma berputar puta r tapi seperti menhujam kepala dan menghukun diriku, menjadikan kepalaku pusing yang sangat sangat besar, dan tiba tiba perut menjadi seperti diaduk aduk, seperti ada sesuatu yang memaksa keluar dan memaksa untuk dimuntahkan. Dan muntahlah diriku, muntah dengan semua perasaan yang ikut didalamnya. Memaksa tubuh ini menjadi hilang dan pelahan lahan semua menjadi putih, putih dan semua tidak ingat lagi<br />
<br />
Dan dalam gelap kuucapkan satu nama “Ji, Maafkan Aku”<br />

<hr />
<br />
Aku merasakan handuk basah di dahiku, kuterbangun dengan lemas. Kurasakan ada tangan penuh kasih sayang yang sedang mengelap handuk basah ke keningku.<br />
<br />
Kubuka mata, dan kurasa ada sebuah mata air dan keteduhan disana, keteduhan yang memberikan diriku sebuah kekuatan. Kekuatan untuk menghadapi semua yang ada di dunia ini.<br />
<br />
Langsung aku bangunkan badn dan kupeluk dia, serasa ada sihir didalam dirinya, sihir yang mengembalikan waktu, yang mengalirkan kembali aliran udara di dalam duniaku. Kupeluk dan kurasakan sebuah damai.<br />
<br />
“Kenapa sayang, kok jadi kayak gini. Kamu kenapa” katanya<br />
<br />
Aku tidak bisa menjawab, tangisku pecah di dalam pelukannya. Kurasakan elusan dipunggungku, kurasakan ciuman dikepalaku. Dia berusaha menenangkanku.<br />
<br />
Setelah beberapa lama akhirnya bisa menggunakan otakku kembali, setelah beberapa saat mati rasa, fungsi syaraf syaraf di tubuhku mulai bekerja kembali. Semua kembali lagi dan akhirnya waktu berjalan.<br />
<br />
Lega, itulah yang kurasakan.<br />
<br />
“Aku ingat Aji dik” kataku<br />
<br />
“Emang tadi lagi ngapain, kok jadi kacau begini” katanya<br />
<br />
Akhirnya kulepaskan pelukannya dan aku duduk di sofa ruang tv, dia kemudia tiduran dan meletakkan kepalanya pada pangkuanku. Aku usap rambutnya.<br />
<br />
“Tadi aku melihat di TV, ada pembunuhan anak 15 tahun dan mayatnya dibuang dipinggir jalan”<br />
<br />
“Owwwwww, ya sudah. Aji sudah damai di sana. Sayang jangan menyalahkan diri terus. Sekarang yang perlu dilakukan adalah gimana kedepannya, jangan sampai terulang lagi” Katanya<br />
<br />
“Iya dik, adik ada disampingku terus kan. Terus jagain aku”<br />
<br />
“Itu janji Agus. Tapi Damar sayang tetep semangat ya”<br />
<br />
<br />
Ya, sudah 2 tahun ini Agus menemaniku, menemaniku hidup bersama. Aku jaga dia dan dia selalu mensuport diriku.<br />
Aku Damar umur 25 tahun, bekerja di salah satu perusahaan Besar di Jalan Sudirman Sebagai Senior Manager. Sedangkan Agus berumur 23 tahun, sekarang masih kuliah semester 4 di sebuah perguruan tinggi swasta. Yup, ada kisah kenapa dia bisa terlambat kuliah dan itu lain kali aja diceritain.<br />
<br />
<br />
“Mas, tadi makan  ayam goreng ama nasi ini doang ya” tanyanya<br />
<br />
“Iya, tapi kayaknya tadi aku muntahin semua deh. Kita makan diluar aja yuk?” kataku<br />
<br />
“Ya udah, udah jam 8 ni, masih bau tu akibat muntahan tadi. Mandi dulu sana?” katanya<br />
<br />
“Halah kamu juga baru balik, belum mandi juga kan?”<br />
<br />
“hahahahahah, tapi tetep ganteng kan” sanggahnya<br />
<br />
Ku acak acak rambutnya. Dia akhirnya bangkit dan bilang “sapa dulu yang mau mandi”<br />
<br />
“bareng bareng aja yuk” candaku<br />
<br />
“Ogah ah, mas omes deh. Nanti malah jadi bisa lama kalau mandinya barengan gitu. Setelah itu lemes lagi, gak jadi keluar nanti” jawabnya sambil berlalu<br />
<br />
“Aku duluan ya sayang yang mandi. Jangan ngintip ya. Mending liat aja langsung daripada ngintip hahahahhahaha”<br />
<br />
“Dasar dik, ternyata kamu omes juga” kataku sambil tersenyum<br />

<hr />
<br />
Jam sudah menunjukkan jam 9 malam, daripada pakai mobil mending pake motor aja deh. Berhubung gue gak bisa naik motor (how pitty it is) ya terpaksa gue yang dibonceng Agus.<br />
<br />
Kita mau nyari makan aja deh di daerah Benhil, ada seafood enak disana. Setiba disana kita pesen udang dan ikan bakar sama nasi plus lemon tea. Lumayan rame juga dan lumayan enak, yang penting bisa ngobrol sambil santai<br />
<br />
“Gimana hari ini kuliahnya, hari ini full ya dari pagi ampe sore” tanyaku<br />
<br />
“Ya gitu deh, capek seh. Capek banget malah” jawabnya<br />
<br />
“tadi siang makan apa dik”<br />
<br />
“Yah, mas ini gimana sih, malah nanyain makan apa tadi siangnya apa? Harusnya aku yang ditanyain gimana, tadi siang masih banyak yang lirik gak gitu” gerutunya<br />
<br />
“Ada ada aja dik dirimu, mas kan khawatir dirimu sih sering telat kalau makan, Tahu deh ajaran siapa ngeyelnya gitu. Susah kalau dibilangin soal makan”<br />
<br />
“Yang pasti ajarannya mas, mas juga gitu kalau siang juga sering lupa makan. Ngaku aja deh?”<br />
<br />
“hahahahahha, iya seh. Orang sifat jelek kok diikuti. Back to topic, makan apa tadi siang dan jam berapa?” tanyaku lagi<br />
<br />
“jam berapa ya, sekitar jam dua  setelah keluar kelas, makan bareng teman teman ada Jimmy dan Putra. Makan nasi bakar tadi mas” jawabnya<br />
<br />
“O ya udah, gimana kulih hari ini? Aman terkendali kan?”<br />
<br />
“Iyalah mas, aman terkendali. Tapi hari ini gila bener 2 matkul ngasih tugas bikin paper dikumpul minggu depan. Begadang lagi deh”<br />
<br />
“hahahahah, ya namanya juga mahasiswa begitu deh. Yang penting dikerjain sendiri, jangan nyontek tapi hasilnya harus maksimal”<br />
<br />
“Menurut mas lebih baik nyontek dapat A atau kerjain sendiri dapat B”<br />
<br />
“What? Pertanyaan apaan tu?” karena gemas kuacak acak rambutnya<br />
<br />
“Jawab aja deh ah, mas tinggal jawab pilih yang mana gitu?” sambil memonyongkan bibirnya<br />
<br />
Hahahahahah, Agus memang lucu dan bisa membuatku tertawa. Bisa membuatku senang dan yang pasti merasa dibutuhkan.<br />
<br />
“Udah ah, ni jawaban mas, Gak Nyontk Tapi Dapat A”<br />
<br />
“Ih, itu kan bukan pilihannya” katanya<br />
<br />
“Titik gak pake koma gak pake ngeyel gak pakai sanggahan. Itu jawaban final!” kataku<br />
<br />
“Huuuuuu” sambil meletin lidahnya<br />
<br />
“Janji ya gak nyontek nyontek” kataku dengan pandangan tajam<br />
<br />
Agus memangdangku. Dan dia tahu aku serius<br />
<br />
“Iya mas, janji jani. Tapi kasih hadiah ya kalau semester ini A semua”<br />
<br />
“Pasti, count of me”<br />
<br />
“hihihihi” senyumnya<br />
<br />
Aku gembira melihat Agus yang yang seperti ini. Setelah puas makan kita balik kerumah, lumayan juga malam malam naik sepeda motor, menghirup debu dan udara berpolusi kota jakarta.<br />
<br />
Jam 11 kita sampai dirumah (muter muter dulu acaranya, have fun lah. Cukup dengan muter2 berdua cukup membuat hati gembira. Gak ada momen yang tergantikan deh<br />
<br />
Sampai rumah langsung deh capeknya. Aku ngantuk tapi agus malah buka laptop<br />
<br />
“Mau ngapain sayang buka leptop. Tidur lah dik”<br />
<br />
“Besok free mas, mau maen game ah. Kemaren baru donload game baru” jawabnya<br />
<br />
“Udah sikat gigi dulu yuk” ajakku<br />
<br />
“Nanti deh mas, maen dulu ah” jawabnya<br />
<br />
“Ngeyel  bener deh. Ayo ikut” kataku sambil seret tangannya dan bawa ke kamar mandi<br />
<br />
“Iya iya” jawabnya sambil cemberut<br />
<br />
“Itu leptop kan butun butuh waktu buat loading. Udah jangan cemberut”<br />
<br />
Ya akhirnya kami berdua ke kamar mandi buat sikat gigi dan cuci tangan dan kaki sebelum aku tidur. Agus kayaknya mau begadang deh. Biarin deh, dilarang juga gak ada gunanya, yang penting dia tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya.<br />
<br />
Setelah selesai aktifitas kamar mandi (hahahahha bahasanya) aku yang memang sudah ngantuk tidur deh, sedang Agus ada dikamar juga sih, maenin laptop. Acara maen game kesukaan dia, Kesukaan yang gak bisa diganggu gugat. Sampai dikamar aku mau merebahkan tubuhku buat tidur, Agus langsung memeluk diriku. Lalu cium pipi dan terakhir light kiss on the lips. Yang ciuman ringan tapi sangat berkesan.<br />
<br />
“I love you mas”<br />
<br />
“I love you too dik, minum susu ya nanti, biar efek begadagnya gak terlalu besar” kataku<br />
<br />
“Iya mas, pesan mas pasti aku turuti” katanya<br />
<br />
“Ya udah, mas bubu dulu”<br />
<br />
Kulepaskan pelukanku, dan kurebahkan tubuhku di kasur. Agus langsung pasang selimut, nyalain AC dan kecup keningku.<br />
<br />
Yah, hari ini diakhiri dengan hal yang indah. God, thank to you. Ameen<br />

<hr />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Jejaka's Blog : I'm not Phedofil (3)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734296/jejakas-blog-im-not-phedofil-3</link>
      <pubDate>Mon, 23 Apr 2012 13:17:36 +0000</pubDate>
      <dc:creator>jejakasby</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734296@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Dia lelaki paling atraktif yang pernah kulihat di jalan ini.<br />
<br />
Dia terlihat  sedang bersandar di sudut pagar besi taman kota.  Lampu taman kota yang redup tak sanggup menyembunyikan keseksiannya.  Tubuhnya tinggi atletis, kulitnya sawo matang, rambutnya keriting kecil-kecil dengan tatapan mata tajam.  Kedua alisnya yang tebal membuatnya terlihat kian sangar.  Sepertinya dia ini orang-orang dari Timur sana.  Mungkin orang Timor atau Ternate.<br />
<br />
Aku segera menghentikan motorku beberapa meter saja darinya.  Aku ingin tahu bagaimana tindak tanduknya selama berada di lokasi ini.  You know, ini tempat lokalisasi pria yang paling terkenal di Surabaya.  Ada bermacam-macam pria penghibur disini.  Tapi yang paling ‘available’ malam ini ya hanya si Timor ini. Kalau ada pria-pria gay yang kesepian dan butuh hiburan, pasti tempat ini yang menjadi jujukan. Dan malam ini aku memang sedang kesepian.<br />
<br />
Gue bukan sedang tak ada kencan.<br />
<br />
Masih ada jadwal kencan dengan beberapa teman.  Tapi aku sedang malas menghubungi mereka.  Aku sedang ingin bercinta dengan sang profesional.  Kebanyakan teman-temanku itu memang lelaki yang kurang berpengalaman dalam bercinta.  Aku sedang ingin bercinta dengan panas.  Bukannya harus merendahkan diriku sendiri untuk menenangkan hati teman-teman kencanku itu.  Gue sudah kehabisan energy untuk itu.<br />
<br />
I want sex quickly now.<br />
<br />
Sepuluh menit sudah berlalu.  Aku masih berdiri  beberapa meter dari tempatnya berdiri.  Aku tahu dia mulai memperhatikan aku.  Aku tak berusaha jaga image.  Aku juga sedang menatapnya dengan tajam.  Sesekali pandangan kami bertemu.  Aku tak melempar senyum.  Dia juga tak melempar senyum.  Dia hanya balas menatapku.  Tatapan ramah, bukan tatapan permusuhan.<br />
<br />
Kuhitung sudah dua kali dia menolak tamu yang datang menghampirinya.  Kutaksir mereka itu lelaki parobaya dengan tampilan yang cukup ‘wah’.  Tak jelas memang, karena mereka masih mengenakan jaket dan kain penutup muka.  Hhhh ... sungguh tak sopan! Aku bisa melihat kekecewaan yang terlihat dari gesture tubuh mereka saat meninggalkan si Timor.<br />
<br />
See ... money can’t buy anything!<br />
<br />
<br />
**<br />
<br />
“Mas yang namanya Andik?”<br />
<br />
Aku terkaget.  Tadi pikiranku sempat melayang entah kemana, hingga tak sempat memperhatikan bahwa si Timor ini sudah berada di  belakangku persis. Aku segera berusaha menguasai sikapku kembali.  Kubuka helmku dan kumatikan musik player dari handphoneku.  Aku mulai memperhatikannya.<br />
<br />
“Bukan.  Aku Arik. Kamu?” kataku seraya memperhatikannya dengan seksama.  Pandangan mataku ternyata tak salah.  Dari jarak yang sangat dekat, aku bisa melihat betapa gagahnya dia.  Eksotis, tepatnya. Rambutnya, alisnya dan bulu-bulu tangannya itu membuatku merinding.  Pengen segera ada dalam dekapannya dan membelai bulu-bulunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.<br />
<br />
“Aku  Iyan, mas” katanya mengulurkan tangan ke arahku.<br />
<br />
Aku membalas uluran tangannya.  Kugenggam rapat jabatan tangannya.  Kusebutkan ulang namaku.  Biar dia bisa mengingatnya dengan baik.  Ini sungguh tak relevan.  Apa arti sebuah nama?  Nama aslinya pasti bukan Iyan.  Mana ada sih Orang Timor bernama Iyan? Kebanyakan orang sana menamai anaknya dengan nama-nama barat macam Michael, Philip, Thomas, Rikas dan sebagainya.  Atau jangan-jangan dia bernama asli Berlian?<br />
<br />
Entahlah, yang jelas dia memang sedang bersinar seperti berlian malam ini.<br />
<br />
“Aku nunggu tamu, mas”<br />
<br />
“Aku tahu. Terus?”<br />
<br />
“Mas nunggu siapa?”<br />
<br />
“Nunggu kamu”<br />
<br />
“Hahaha ...” dia tergelak sambil menepuk-nepuk pundakku,”Mas bisa aja”<br />
<br />
“Tadi itu tamu?”<br />
<br />
“Ya mas”<br />
<br />
“Kenapa ditolak?”<br />
<br />
“Males mas.  Udah orangnya jelek, minta nembak, eh mau bayar murah lagi”<br />
<br />
“Kamu maunya berapa?”<br />
<br />
Dia menyebutkan tarifnya tanpa basa-basi.  Tak terlalu mahal, memang.  Tapi kupikir orang-orang itu kadang keterlaluan.  Mereka mau service bagus, barang bagus dengan harga murah.  Mana ada sih barang murah dengan kualitas bagus?  Mana ada service bagus kalau bayarnya saja murah?  Padahal secara tampilan, mereka itu oke banget lho.  Bawaannya aja mobil bagus.<br />
<br />
“Kalau aku yang booking, kamu minta berapa?”<br />
<br />
“Terserah mas aja”<br />
“Hei ... kamu itu jualan, kan”<br />
<br />
“Iya”<br />
<br />
“Profesional dikit, dong”<br />
<br />
“Maksudnya?”<br />
<br />
“Penjual selalu menyebut harga. Bukan tergantung pembeli.”<br />
<br />
“Oke ... oke,” katanya dengan terbata-bata.<br />
<br />
“Aku  bayar kamu  *****”<br />
<br />
”Mas mainnya gimana?”<br />
<br />
“Aku mau main romantis”<br />
<br />
“Mas mau nembak aku?” tanyanya dengan pandangan cemas.<br />
<br />
Guys, gue pengen ketawa lebar-lebar.  Dia ini kucing bodoh atau kucing yang sedang mabuk?  Mana ada sih pria Jawa berhidung pesek punya penis gede?  Paling mentok ukuran penis orang jawa itu 14 sentimeter. Apa yang dia takutkan?  Apa penis  seukuran  itu bakal merobek anusnya?  Nggak mungkin banget, kan? Kakek-kakek amnesia aja tahu itu!<br />
<br />
“NO!”<br />
<br />
“OKELAH. MAS.  Sekarang ya ...”<br />
<br />
“Enggak.  Tahun depan aja” kataku mencandainya.<br />
<br />
“Hahahaha ... Ayolah mas sekarang aja.  Nggak sabar nih,” katanya<br />
<br />
Lho-lho-lho ... kog yang nggak sabar itu malah dia?  Harusnya gue dong yang pengen segera menelanjanginya.  Harusnya gue dong selaku  customer yang ngebet ingin segera menidurinya.  Lha kog ini malah kebalik.<br />
<br />
Oalah Kucing-kucing ...<br />
<br />
**<br />
<br />
“Kamu biasa ML dimana?”<br />
<br />
“Di PB aja mas, murah. Tapi ada tempat yang deket”<br />
<br />
“Dimana?”<br />
<br />
“Di belakang Gubeng. Paling cuma setor 20 ribu aja”<br />
<br />
“OK. Kamu kenal baik sama pemiliknya, kan?”<br />
<br />
“Udah langganan, mas”<br />
<br />
“Ya udah kesana aja”<br />
<br />
Kami berdua segera menuju ke tempat yang diceritakan si Iyan.  Sepanjang perjalanan, Iyan berlaku begitu mesra.  Dadanya menempel erat di punggungku.  Tangannya melingkar di perutku, tanpa rasa sungkan sama sekali.  Yah, namanya juga ‘kucing’.  Ini pasti caranya untuk memikat tamu.<br />
<br />
Butuh waktu hanya 10 menit saja untuk mencapai tempat  tujuan.  Tempatnya masuk ke dalam kampung yang sempit dengan jarak antar rumah yang saling berhimpitan.  Terlihat beberapa orang kampung yang masih cangkrukan di depan gang.<br />
<br />
“Masuk aja mas ...” kata Iyan saat kami sudah sampai ke depan pintu kamarnya.  Kupikir, ini memang kamar kost si Iyam.  Bukan tempat sewa seperti yang dibilangnya tadi.  Kamarnya memang kecil, mungkin hanya berukuran 3X2,5 meter saja.  Tapi cukuplah kalau hanya untuk tempat esek-esek.<br />
<br />
Aku segera selonjor di atas kasur yang diletakkannya di lantai.<br />
<br />
Iyan langsung membuka baju, celana dan celana dalamnya.  He’s totally naked now.  OMG ... I cant breath.  He’s really sexy.  Gurat-gurat ototnya terpahat dengan jelas di  perutnya.  Nggak seperti perut pria-pria L-Men memang.  Tapi cukup seksi untuk seorang amatir.<br />
<br />
Kuamati ada satu tato bergambar perempuan berambut terurai di punggungnya.<br />
<br />
“Itu gambar siapa?” tanyaku sambil mengamati punggungnya dari dekat.<br />
<br />
“Istriku, mas”<br />
<br />
“Wow ... kamu cinta dia?”<br />
<br />
“Iya mas”<br />
<br />
Aku terdiam.  Ada sedikit rasa bersalah melihatnya bersedih begitu.  Aku menyesal kenapa bertanya tentang tato berwujud perempuan di punggungnya itu.  Harusnya aku diam saja.  Pura-pura tak tahu saja.<br />
<br />
“Kog diem mas? Kita mulai sekarang ya?” katanya sambil mendekat ke arahku.<br />
<br />
“Bentar. Aku pengen selonjoran dulu. Lima menit saja”<br />
<br />
“Ya udah, kalo gitu aku ngerokok dulu ya mas ...” katanya sambil mengambil sebatang rokok filter di celananya  yang tadi di kenakannya.  Dengan santai dia mulai merokok.  Sungguh pemandangan yang teramat seksi.  Lelaki telanjang dengan sebatang rokok di tangannya.  Bisa kucium bau rokoknya yang terhempas ke wajahku.<br />
<br />
Iyan menyedot rokoknya dengan nikmat.<br />
<br />
Aku mendekat dan segera ku cium bibirnya.  Dia gelagapan.  Aku memeluknya dan menenangkannya.  Aku ingin turut menghisap asap yang ada di dalam mulutnya itu.  Iyan mengerti apa yang kumaksudkan.  Dia menghembuskan nafasnya ke dalam mulutku.  Asap mberpindah.   Kulepaskan bibirku dari bibirnya dan kuhembuskan balik asap yang ada di dalam mulutku.  Iyan ngakak!<br />
<br />
“Hahaha ... trik darimana itu?”<br />
<br />
“Dari Film-film.  Kamu suka nonton film?”<br />
<br />
“Nggaklah mas.  Boro-boro ...”<br />
<br />
“Kamu sibuk cari duit terus ya ...”<br />
<br />
Iyan tak menjawab.  Dia berdiri, mematikan rokoknya di asbak yang terletak di atas meja kecil di sudut kamarnya.  Terlihat penisnya yang besar menggantung dengan indahnya.  Belum mekar sempurna, memang.  Alamak ... sepertinya aku sudah tak sabar lagi.<br />
<br />
“Sekarang, Yan ...” aba-abaku pada Iyan.  Aku segera melepas semua kain yang melekat di tubuhku, dan langsung berbaring telentang di atas kasur.<br />
<br />
Iyan langsung menindihku.  Bibirnya dengan mesra melumat bibirku. Bibirku basah oleh kecupan bibirnya.  Air liurnya membasahi mulutku.  Terasa dingin dan segar.  Kulumat balik bibirnya.  Dari atas ke bawah, bawah keatas.  Seperti memainkan harmonika. He’s a good kisser.  I like how the way he kiss me.  Ciumannya seperti ciuman kekasih yang lama tak bertemu.  Hangat dan penuh gelora nafsu. Aku merasa tersanjung.<br />
<br />
Iyan mulai menyerbu leherku.  Dijilatnya lapisan kulit bawah telingaku hingga ku ujung leherku.  Aku menggelinjang geli.  Lidahnya begitu liar menelusuri permukaan kulitku.  Kalau ada di hotel pasti aku langsung teriak-teriak kesetanan.  Tapi ini sedang di kamar kost.  Tak boleh ada satu suarapun yang keluar dari mulutku.  Aku hanya boleh melenguh pelan sambil menggaruk-garuk punggung Iyan.<br />
<br />
Aku kian kesetanan saat Iyan mulai menghisap putingku dengan begitu bernafsu.  Sesekali digigitnya hingga terasa sakit. Aku memukul-mukul punggungnya dengan keras saat kurasa dia mulai gemas dengan kedua putingku.  Mungkin dia pikir putingku ini puting istrinya.  Sialaaaaaannn!!!!<br />
<br />
Aku tak sudi diperlakukan seperti istrinya.<br />
<br />
Malam ini akulah yang berkuasa atas tubuhnya.  Aku berhak atas dada Iyan.  Aku berhak atas bahu kekarnya.  Aku berhak atas puting Iyan.  Dan aku juga berhak atas penis Iyan yang sepertinya mulai terasa tegang dan keras luar biasa.  Penisnya yang keras da kaku mulai menyodok-nyodok bagian bawahku.  Aku terprovokasi.  Nafsuku kian membuncah.  Kubanting tubuh Iyan ke bawah.<br />
<br />
Kuputar tubuhku membentuk posisi 69.<br />
<br />
Aku mulai menghisap dan menjilat seluruh permukaan penis Iyan yang tegak membentuk sudut 90 derajat.  Benar-benar penis yang powerful.  Iyanpun tak mau kalah aksi.  Dia balas menghisap penisku.  Sedotan da jilatannya benar-benar profesional.  Aku kian bernafsu ingin membuatnya muncrat!<br />
<br />
“Addduuhh mas ... mau keluar ... mas ... jangan ...” erangnya pelan.<br />
<br />
Aku segera menghentikan  hisapanku pada penisnya.  Iyan menyerah dengan sedotanku. Dia pasti takut tak bisa memuaskanku kalau muncrat duluan.  Dia segera berdiri dan mengambil  kondom di atas meja.  Di sarungkannya ke dalam penisnya yang terlihat merah dan besar.<br />
<br />
Aku terkesiap.  Antara ragu dan ingin merasakan kelezatan penisnya itu.  Bukan rahasia lagi, penis pria Timor itu punya kekuatan dan rasa yang berbeda jika di bandingkan dengan penis pria jawa.  Menurut mitos yang kudengar, Penis Pria Timor itu kuat dan tahan lama.<br />
<br />
Usai memasangkan kondom itu, dia segara mendekat sembari memberikan pelicin.<br />
<br />
Aku bergeming.  Masih bingung.  Tak begini yang kumau.  Aku hanya ingin merasakan kemesraan seorang pria malam ini.  Tapi kalau tidak dituntaskan secara klimaks, pasti aku akan menyesal.  Lagian nafsu dan birahiku sudah membuncah.  Aku tak sanggup berpikir normal lagi.  Yang ada dalam pikiranku adalah aku harus mencapai klimaks malam ini.<br />
<br />
“Pelan aja kog mas ...” bisik Iyan di telingaku.  Dia mencium bibirku dua kali.  Ciumannya itu bagai sihir yang sanggup membuatku melakukan apa saja.  Aku menatap ke dalam matanya.  Ada  pandangan yang aneh.  Entahlah, apakah itu pandangan cinta atau hanya pandangan nafsu birahi.  I can’t see it clearly.<br />
<br />
Iyan mulai menindihku.  Dia membuka kedua kakiku dan mulai mengarahka penisnya ke dalam lubangku.  Sssrrrtttt ... ssrrrtt ... penisnya mulai masuk ke dalam lubang anusku dengan gerakan perlahan.  Iyan tahu persis bagaimana cara ‘menembak’ tanpa rasa sakit.   Ada sedikit rasa sakit memang.  Tapi sakitnya itu segera berganti dengan kenikmatan yang amat luar biasa.<br />
<br />
Iyan mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.  Penisnya bergerak dengan lincahnya, keluar masuk ke dalam dan keluar anusku.  Gerakannya berirama.  Aku merasakan nikmat yang teramat dasyat.  Apalagi ketika dia mulai menghunjamkan penisnya hingga mentok ke dalam anusku, sementara bibirnya melumat habis bibirku.<br />
<br />
Aku tak sanggup bersuara lagi.<br />
<br />
Iyan kian ganas menggoyang-goyangkan pantatnya.  Gerakannya sudah seperti tukang becak yang sedang menggenjot becak.  Tubuhku habis di tekuk-tekuknya.  Kami mirip seperti pemain sirkus.  Kepala siapa dan kaki siapa tak jelas.<br />
<br />
“Arrrhhh masss ... enak sekali ...” erang Iyan di telingaku.<br />
<br />
Aku kian memaksimalkan gerakan anusku mencengkeram penis Iyan.  Biar penis Iyan terasa seperi dipijat-pijat massager di panti pijat plus-plus itu.<br />
<br />
“Maasss ... aku nggak kkuuuaatt lagi ...” teriak Iyan.<br />
<br />
Hah ... kucing cemen!<br />
<br />
Aku segera mengambil pelicin dan mulai mengocok penisku sendiri.  Gerakan keluar masuk penis Iya di pantatku kian cepat dan kian keras.  Akupun mulai limbung.  Rasaku sudah melambung kelangit ke delapan.  Nikmat dan sakit yang menjadi satu.  Itu luar biasa.<br />
<br />
“Arrrgggg ... aku keluarr Yaaaann ...” teriakku lirih.<br />
<br />
“Yaaaa   aku   jjjuuugggaaa  mas ,,,,,”<br />
<br />
Tanganku mencengkeram pantat gempal Iyan kuat-kuat.  Aku muncrat.  Iyan menghentikan gerakannya.  Nafsnya terhenti di telingaku.  Dia klimaks juga.  Bisa kudengar nafasnya yang berpacu seperti pelari sprinter.  Aku menghela napas dalam.  Kucium pipinya.  Kubiarkan dia menunggu hingga penisnya keluar dari dalam lubangku.<br />
<br />
“God ... kamu hebat mas”<br />
<br />
“Kamu juga”<br />
<br />
Iyan menciumku.  Aku membalas ciumannya. Itu sekedar ucapan terima kasih.  Terima kasih telah membuatku merasakan klimaks yang sesungguhnya.  Terima kasih telah membuatku merasa menjadi lelaki paling seksi sedunia.<br />
<br />
Yeah ... I’m sexy and I know it!<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Between You and Him - REUPLOADED !!!</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16732955/between-you-and-him-reuploaded</link>
      <pubDate>Thu, 26 Jan 2012 16:53:33 +0000</pubDate>
      <dc:creator>ry_Yohanis</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16732955@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Between You and Him [1]<br />
By : R.Y.R<br />
Chapter 1 : You and Him<br />
#####<br />
<br />
"jongkok semua ! Jalan jongkok kalian sampai ke lapangan !"<br />
"mau jadi apa kalian hah ! Baru calon siswa aja udah hobby datang telat !"<br />
"dasar anak kecil ! Kalian bukan murid smp lagi, jangan tunjukan sifat ke-kanak2-an kalian, belajar dewasa disini, lekas jalannya lama banget sih !"<br />
<br />
+++<br />
<br />
hufftthh... Sabar.. Sabar..<br />
batin gw. Sudah sejak awal masuk halaman sekolah tadi, para kakak senior ga henti2nya bentak2 kita. Ah.. Mau gimana lagi, yang kaya gini udah jadi budaya di seluruh penjuru indonesia. Ajang unjuk gigi para senior yang haus darah, halah.. Lebay. Ini juga sih, pake acara datang telat segala, makin mumet kan urusannya.<br />
<br />
"heh ! Ngapain lo bengong di situ"<br />
sebuah suara membuyarkan gw.<br />
"hah ?"<br />
"hah ho hah ho ! Lo liat sekarang lo di mana ! Temen2 lo udah pada di sana !"<br />
"APA!!!"<br />
"woy ! Kurang ajar banget lo bentak senior ! Push up lo ! 30 kali "<br />
"yah kak, maaf !"<br />
"nggak ada cerita, give thirty now !!!" bentak si senior cewe setres.<br />
Hufth, nambah lagi deh derita gw.<br />
***<br />
akhirnya slesai juga, 30 push up buat si nona hitam manis yang belagunya anjisss. Yah gempor gempor dah ni tangan.<br />
<br />
"yaudah masuk lo sana !" bentak si cewe kemudian berlalu dari gw.<br />
<br />
Dengan gusar gw kemudian menuju kerumunan siswa baru di lapangan. Duh.. Pasti deh kena lagi.<br />
<br />
"heh kamu ! Sini !" sergah seorang kakak cowo. Tuh kan.. ahhh.. Mama tolong vicky T.T<br />
"i..iya kak.." sahutku pelan.<br />
"kamu kenapa telat!" tanya si kakak cowo tadi.<br />
"t..tadi di cegat di depan kak, di hukum"<br />
"karena telat kan? Kenapa telat !"<br />
"ee..ee.. kesiangan kak"<br />
"huh klasik, scotjump ! 30 !"<br />
"hah ?"<br />
"40 !"<br />
"apa!!!"<br />
"50 !"<br />
"aduuh..."<br />
"en.."<br />
"iya.iya ampun kak, 50 aja, iya , he-eh"<br />
<br />
tuhaaaaaaannnnnn.... ampuni mereka ini karena mereka tak tau apa yang mereka lakukan pada diriku ini, hiks <img src="/plugins/Emotify/design/images/20.gif" width="" height="" alt=":'(" title=":'(" /><br />
"1..2..3..4......25..26..27..28......48..........49..............50!!!"<br />
BUGGG ! badan gw terjatuh, gw terbaring, perlahan semua gelap, gelap.. Makin gelap..<br />
sayup-sayup terdengar..<br />
"woy bangun kamu ! Woy........." lalu hilang
<hr />
<br />
+++<br />
<br />
hnggkkhh... perlahan kesadaran gw pulih, nyawa gw kembali terkumpul, pandangan mulai jelas.. Putih, seisi ruangannya putih.. Di mana ini ? Surgakah ? Ya Tuhan !!!<br />
<br />
"hey jangan gerak dulu ! Kamu masih sakit" sebuah suara terdengar seraya tangannya membaringkan gw kembali ke kasur, kepala gw masih pusing rasanya.<br />
"kak silau..."sahut gw lemah, lampunya terang banget, buat kepala gw sakit.<br />
"oh, oke.." si kakak berjalan ke arah saklar lampu lalu mematikannya, seketika seisi ruangan jadi temaram, cuman sinar matahari pagi dari jendela kecil yang jadi penerang.<br />
"kamu tadi mimisan trus pingsan, nama kamu siapa ?" tanya kakak itu, yang ini beda sama yang hukum gw tadi, sama2 ganteng sih, tapi yang ini kalem, wajahnya putih mulus, rambut spike, pake kacamata, lesung pipit menggoda, duhhh #gayradarturnedon<br />
"hey?kok bengong ? Nama kamu?" tanyanya pelan sambil tersnyum, membuyarkan lamunan gw. Duh meleh dah liat tu senyum.<br />
"eh, iya aduh maaf kak, nama aku vicky kak, vicky budiman william"<br />
"vicky... Vicky Budiman William, gugus 5 yah ? Oh kamu..." gumamnya pelan.<br />
"kenapa kak ?"<br />
"kamu yang punya asma itu yah?"<br />
"iya kak" aku menunduk.<br />
"dasar teledor.. Pasti mereka nggak ngecek dulu.."ujarnya sebal.<br />
"kenapa kak ?"<br />
"itu, mereka pasti nggak ngecek data murid baru sebelum ngasih hukuman, oke kamu udah mendingan kan sekarang?"<br />
"i..iya kak udah bisa jalan pasti kak, aku mau gabung lagi sama yang lain"<br />
"aduh nggak usah dulu deh, biar udah mendingan kamu istirahat lagi sampe pulih benar, kamu ikut pemberian materi aja, ospeknya nggak usah" ujarnya seaya tersenyum sambil mengacak pelan rambutku.<br />
Tanpa menunggu jawaban gw dia berlalu begitu aja. OMG ! demi jambul syahrini ! ganteng bangetttttt....! Ga henti2nya gw bayangin wajahnya, senyumnya, semuanya sempurna bgt!!!<br />
duh, bego bgt sih gw nggak nanya namanya.. errrggghhh....<br />
*****<br />
MOS hari ke dua...<br />
<br />
haha.. Kali ini gw nggak telat, gw dateng tepat waktu, masih ada waktu buat nyerahin tugas2 ke kakak senior. Dengan santai gw berjalan menuju lapangan. Di sana sudah ada beberapa anak baru yang lagi ngumpulin tugas2 yang di suruh bawa kemarin. Gw langsung di sambut kakak yg kemarin. Gw udah kenalan, namanya Ramadirga Prasetya, di panggilnya rama, tapi beberapa temennya yang udah akrab panggil dian dirga, gw ga berani. Anaknya emang baik banget, supel, ramah, dan mudah bergaul sama siapa aja, dia ternyata wakil ketua osis di sekolah ini. Sekarang baru naik kelas sebelas, xi ipa 1, kelas 11 ipa binaan khusus, keren deh.. kemarin gw beruntung juga pingsan, karena seharian gw di pantau terus ma kak rama, bahkan di anter pulang ke rumah, ya ampun baik bgt tu anak.. Errr...<br />
senengsenengseneng<br />
<br />
+++<br />
<br />
"gimana vick ? Udah mendingan kan ?" sapa kak rama sesuai namanya, ramah.<br />
"iya kak, udah fit lagi sekarang"<br />
"nggak lupa bawa inhaler lagi kan ?"<br />
"nggak dong kak, yakin deh vicky nggak lupa apapun hari ini"<br />
datanglah pengacau hari gw.<br />
"heh di taro aja tugasnya ! Ngobrol aja !" bentaknya seraya mengambil bungkusan berisi tugas2 dari tangan gw.<br />
Yap ! Benar sekali, dialah kakak belagu yg hukum gw kemaren ampe pingsan. Namanya Martin Sinengkeian. Dia asli manado katanya. Kata kak rama dia emang sifatnya gitu, tempramen, perfeksionis, agak manja, dan cenderung arogan. Mungkin karena kebiasaan dari orang tuanya yang selalu menuruti apapun permintaannya. Dia anak seorang pengusaha paling terkenal di kota ini. Yah klasik lah orang kaya tabiatnya kaya gitu, udah nggak heran. Dan satu lagi, dia juga wakil ketua osis di sini, sma ini mempunyai ketua osis cewe dengan dua wakil cowoknya rama dan martin. Yah gw akui sih, kak martin tuh nggak kalah cakepnya sama kak rama, tapi yang bikin ngedrop ya itu tuh, sifatnya yang super duper menjengkelkan. Kemarin aja aku di uber2 terus ama dia, kalo nggak ada kak rama bisa abis gw.<br />
<br />
+++<br />
<br />
"hari ini kita akan mengadakan kegiatan bersih2 sekolah, murid baru akan di bagi sesuai gugus, dan masing2 gugus sudah mendapat lokasi masing2 untuk di bersihkan, kalian akan di tuntun kakak gugus kalian ke lokasi masing2" ujar kak melisa, ketua osis, sekaligus ketua panitia mos kali ini.<br />
<br />
+++<br />
<br />
kami pun mengikuti instruksi kak melisa, gugus kami di tuntun oleh kak dito, kakak gugus kami ke lokasi jatah kami. Lokasinya tepat di taman samping gerbang sekolah. Asiiikk.. Selain relatif kecil, tempatnya adem dan rumputnya nggak tinggi2, beruntung deh dapet tempat ini.<br />
"hehe, enak kan kalian semua, gw susah payah loh booking tempat ini, oke kalo gitu kita kerja yang semangaaaattt!!!" seru kak dito memicu semangat kami.<br />
"SEMANGAT!!!"<br />
dengan semangat kami pun mulai bekerja membersihkan tanaman2 itu, mulai dari mencabuti rumput2 liar yg tumbuh, mencabut daun2 bunga yang udah layu, memunguti daun2 kering yang berserakan dan terakhir menyapu remahan2 rumput yang kami cabut.<br />
<br />
+++<br />
<br />
nggak terasa 2 jam berlalu. Capek juga ternyata, tapi gw dan teman2 segugus sangat puas dengan hasilnya. Kami tersenyum melihat taman hasil garapan kami yang udah bersih total. Tertata rapi dengan bunga2 yang bermekaran, keren.<br />
"oke, sekarang kita istirahat, istirahatnya satu jam, kalian bisa makan di kantin ato di koperasi sekolah, sama2 enak kok" ujar kak dito seraya menjinjing dua buah karung berukuran sedang berisi rerumputan yang kami bersihkan tadi. Beruntung kami punya kakak gugus kayak dia. Baik banget.<br />
"udah selesai yah, nih!" suara di belakang mengagetkanku, aku menoleh, kak rama.<br />
"eh kak rama, iya udah kak, aduh, ngerepotin nih kak"<br />
"udah ambil aja, nih.." ia menyodorkan sebotol mizone dingin padaku, pas sekali untuk melepas dahaga.<br />
"makasih yah kak" ujarku yang hanya di balas senyumannya.<br />
"eh, ikut aku yuk!" ujarnya seraya menarik tanganku.<br />
"udah ikut aja.."<br />
<br />
+++<br />
<br />
ia membawaku ke ruang osis. Di sini kosong, tak ada siapapun, hanya ada tumpukan snack dan air minum untuk kami makan di saat pemberian materi sebentar. mau apa nih si kakak, bikin mikir deh, huss !<br />
Ia terlihat membuka sebuah tas, mungkin tasnya. Ia mengeluarkan sebuah rantang, bentuknya bundar dan ada 2 susun. Setelah di buka gw takjub liat isinya. Nasi goreng seafood, my favorite ! Tapi gw berusaha jaim, malulah ketauan mupeng, hehe...<br />
"ini aku lo yang buat, kamu cobain yah, kita makan bareng"<br />
"hah? Tapi kak.." jaim mode on<br />
"udah makan aja.. Aku sengaja lebihin buat kamu, yuk" ia menyodorkan susunan rantang yang pertama, isinya sama banyak dengan punyanya.<br />
'yes..yes..yes.. Makan gratis ma cwo ganteng!!! Kapan lagi' batin gw menggila, dasar maho! Haha bodo!<br />
"makasih ya kak" ujarku sungkan, dia hanya menjawab dengan senyuman. Kamipun makan bareng siang itu, berasa candlelight gimana gitu.. soalnya ruangannya mendukung gitu, agak temaram, cuman dengan lampu lima belas watt. So sweet dah, menurut gw tentunya. Ah kak rama, you got me !<br />
"gimana ? Enak nggak ?" tanya kak rama.<br />
"enak lah kak, enak banget, kakak jago masak juga ternyata, hehe"<br />
"haha, bisa aja kamu, aku masih belajar kok, kebetulan papaku seorang chef"<br />
"hmm, emang buah jatuh nggak jauh dari pohonnya yah, makasih sekali lagi yah kak"<br />
"sama2, yaudah kita balik yuk, udah mau masuk materi nih"<br />
"oke kak"<br />
<br />
+++<br />
<br />
kak rama pun nganter gw ke aula, gabung sama siswa baru lainnya. Duh, asiknya jadi gw, mesti makasih nih sama si martin jutek itu. Kalo gw ga pingsan gara2 dia. Ga bakal kayanya gw akrab sama kak rama, hehe.<br />
Materi kali ini di berikan oleh seorang guru wanita, namanya Silvia Anita Putri, akrabnya di panggil bu Silvi, beliau adalah guru BK (bimbingan konseling) sekaligus merangkap pimpinan organisasi BK di sekolah. Hmm.. Dari namanya pasti kita mikirnya dia tuh cantik banget, anggun. Tapi jangan salah, bu silvi adalah salah satu guru paling senior di sekolah ini. Tubuhnya agak tambun, tinggi besar, berkacamata, ukuran t***ts 'giga' dan yang paling serem dia punya kumis yang lumayan panjang memahkotai bibirnya, nggak kalah sama kumis pak santoso, kepala sekolah kami. Kak rama udah sempat cerita, kalo sebenarnya bu silvi tuh orangnya baiiiiiikkk banget, bagi yang udah bisa akrab dengan dia, dia tuh bisa jadi tempat curhat dan pencurahan uneg2 para siswa yang sangat bisa di andalkan. Kak rama juga gitu katanya. Agak bingung sih, soalnya kalo lihat dari outlooknya. Penjelasan kak rama agak kurang meyakinkan, tapi akan gw coba deh, kata kak rama dia cuma galak sama anak2 yang susah di atur, aku kan anak manis, lucu lagi, halahh <img src="/plugins/Emotify/design/images/10.gif" width="" height="" alt=":p" title=":p" /><br />
<br />
+++<br />
<br />
"gimana ? Bu silvi nggak se galak yang kalian kira kan?" ujar kak rama.<br />
"iya kak" ujar kami gugus lima bersamaan.<br />
"kalian cuma perlu jaga sikap kalian, tunjukin citra dan jati diri kalian betul2 sebagai seorang siswa, jangan kaya kakak gugus kalian ini" candanya seraya menjitak kepala kak dito.<br />
"hahaha emang kak dito kenapa kak ?" tanyaku.<br />
"kalian tahu dia pernha di hukum hormat bendera seharian sampe pingsan gara2 berantem rebutin cewe, udah muka babak belur abis berantem dapet bonus lagi, betul begitu saudara dito"<br />
"ah elu dir, buka2 kartu gw aja, hehe.."<br />
"nah ini contoh yang harus bener2 kalian hindari, nggak patut di contoh."<br />
kak dito memang kocak, dia selalu bisa buat kita segugus ketawa, dan ceria menjalani hari2 mos yang melelahkan. Ga tau kenapa tapi gw ngerasa dia tuh tipe cowo penyayang banget, sempet ada temen se gugus kita yang cewe pingsan karena kecapean, kak dito yang panik setengah mati ngeliatnya. Trus pas ortu lily (cwe yg pingsan) datang, kak dito yang minta maaf terus ama mereka, dia kayak menyesal banget ada adik kelas tanggung jawabnya yang sakit. Padahal dia nggak kenal lily sama sekali. Gugus2 laen sampe pada iri kami punya kakak gugus sebaik dia.<br />
Jam menunjukkan pukul 12 siang, snack time ! Ini adalah waktu pembagian snack untuk siswa baru. Tiap siswa mendapat seplastik snack yang isinya 2 kue basah dan satu air mineral gelasan. Kue2 yang di kasih enak2 loh, biarpun semuanya jajanan pasar tapi tetep enak<br />
eit jangan salah, kami nggak bole langsung makan begitu dapetin kuenya, ada 'ritual'nya.<br />
"oke, seperti biasa... Angkat kue pertama di tangan kanan, tepat di depan mulut kalian ! anghkat... Angka... Angkat..." ujar kak melisa.<br />
"masukan ke mulut kalian ! Lekas masukan... Eit ! Jangan di gigit dulu.. Diamkan di mulut jangan digigit!!!" bentaknya keras.<br />
Bagian ini yang paling nyebelin, masa ia kue segede gini di tahan di mulut nggak di kunyah, pegel kan -,- mana udah mau ileran juga...<br />
"sekarang gigit sekali, gigit yang besar ! Jgn kecil2 ! Yang besar gigitnya ! Iya.. Kayak gitu, pokoknya setengah dari kue itu harus masuk dalam gigitan pertama, kakak2 tolong cek semuanya.."<br />
"heh, setengah ! Masa secuil upil lu gigit.. Nih, gitu!" gw cuma bisa natap pasrah temen di depan gw yang di paksa gigit kue gede itu ampe setengah sama si martin setres itu, ckckck.<br />
"oke.. Kunyah sekarang ! Kunyah yah, jangan di telan dulu ! Kunyah ! Awas jangan di telan dulu, kakak2 awasin mereka!" ini nih bagian menjijikannya, gw sempet muntah kemaren, bayangin aja di suruh kunyah kue sampe lima belas menit, udah disgusting banget tu kue baru di suruh telan, ya gw muntah lah, moga2 kali ini gw nggak muntah deh =.=<br />
"oke... Sekarang telaaaann, telan perlahan dan bayangkan dengan seksama detail bentuk makanan yang kalian telan.. Iya..." ujar kak melisa dengan dramatisasi menjijikan, di susul suara2 orang muntah dari kakak2 yang lain.<br />
"hueeeekkk, hueeeekkkk, huueeeeekkkk" iyaks ! Gw cuman bisa tutup mata nahan rasa mual biar nggak muntah. Sumpah deh , seenak apapun makanannya kalo kaya gini ga guna juga, brrrr...<br />
*****<br />
akhirnya hari yang melelahkan berakhir juga, ospek hari kedua berlangsung hingga pukul 3 sore, di akhiri dengan retreat rohani sesuai agama yang di anut. Gw beserta temen2 umat kristiani lainnya di bawa ke sebuah ruang kelas yang letaknya di lantai tiga. Di sana udah ada beberapa kakak senior yang udah nunggu. Juga ada seorang pendeta. Kayaknya ini semacam acara siraman rohani gitu deh. Kami di suruh duduk lesehan di atas karpet yang sudah di gelar. Acara di mulai dengan berdoa. Lalu menyanyikan beberapa lagu rohani. Satu aja yang bikin spesial acara ini dan sekaligus bikin gw kaget adalah martin, si kakak kelas yang jutek dan ngeselin itu, ternyata bisa juga yah nyanyiin lagu2 rohani, sambil main gitar pula. Duhh.. Pandangan gw ke dia sedikit banyak berubah, dia kelihatan begitu menawan saat mainin alat musik petik itu sambil nyanyiin lagu2 rohani dengan suara yang yah harus gw akui hampir sempurna. Ga nyangka gw di balik tingkahnya yang menyebalkan ada jiwa religius yang dalem di dirinya. Huh... bahkan yang bikin gw amaze lagi adalah, gw liat dia nangis, walau nggak terisak sih, gw cuman liat dia meneteskan airmata saat sesi refleksi rohani, pendeta emang membawa kita pada suasana yang begitu menyentuh. Inilah yang sangat merubah mindset gw tentang seorang martin.<br />
<br />
+++<br />
<br />
selesai retreat kami kembali di kumpulkan di lapangan untuk mendengarkan tugas buat besok. Yah seperti biasa, kembali bentak membentak mewarnai sesi ini. Huh terserahlah.. Gw sempet melihat kak martin sama kakak2 senior cowo lainnya lagi ketawa2 bercanda, lucu juga ternyata dia yah, kulitnya nggak kalau putih dari kak rama, garis mukanya juga tegas, alis tebal dan rambut yang agak cepak, gw baru sadar kalo dia juga gnteng banget (hallahh), walau nggak punya lesung pipit tapi senyumnya itu menghanyutkan tau, mengekspose deretan giginya yang indah, terutama dengan kumis tipis yang memahkotai bibirnya yang errr... duh gw kenapa sih, ah lucuan kak rama juga #-# udah ah ngomong martinnya, sekarang tugas buat besok udah di baca semua, seorang siswa baru maju mimpin doa lalu kemudian kami bubar, hufth slesai penderitaan hari ini, 3 hari lagi, sabaaarrrr =.=<br />
<br />
+++<br />
<br />
"duh ga dateng2 sih" gumam gw saat menunggu bis di halte dekat sekolah. Udah setengah jam gw nunggu bis tapi nggak nongol2 juga.<br />
"hey!" sebuah motor berhenti tepat di depan gw, 'penunggang'-nya melepas helm.<br />
"kak rama"<br />
"iya, kamu nunggu bis yah?"<br />
"iya kak, udah setengah jam tapi nggak muncul2 juga"<br />
"mungkin karena demo yang tadi"<br />
"yah, masi lanjut juga yah duh"<br />
"yaudah aku anter aja"<br />
"hah? Aduh nggak usah kak, ngrepotin lagi nih"<br />
"udah nggak apa2, lagian udah sore nih, kamu pasti udah capek"<br />
"nggak usah kak, aku naik taksi aja"<br />
"duh kamu bawel yah, aku maksa ! nih" dia menyodorkan helm ke gw, no reason to deny, akhirnya gw ambil juga tu helm, gw pake, lalu naik ke boncengannya, kami pun berangkat.<br />
gw sempat lihat kak martin lewat dengan mobilnya, menatap dingin ke gw lalu melajukan mobilnya melambung aku dan kak rama, what do u think ? nothing !<br />
<br />
+++<br />
<br />
"pegang yang erat vick, aku mau ngebut dikit udah mau ujan nih" ujar kak rama sedikit berteriak.<br />
"iya kak" teriakku. Dengan risih gw eratin pelukan gw di pinggangnya.<br />
"hwaaa!!!" sergah gw saat motor sedikit terhentak saat di gas kak rama, automaticly-dramaticly-sinetronaly pelukan gw makin erat ke tubuhnya, gw bisa merasakan lekuk punggungnya yang cukup kekar. oh Tuhan.. Godaan ini betul-betul luar biasa.<br />
"oh iya, kok ampe lupa yah, rumah kamu di mana, hehe" teriak kak rama.<br />
"hah ! Oh, jalan pemuda kak, nomor 7"<br />
"sip, udah dekat berarti yah"<br />
"i..iya kak" belum hilang juga ke saltingan gw memeluk kak rama.<br />
'haha mimpi apa gw semalem bisa punya momen peluk kak rama kayak gini, seneng.seneng.seneng  ' batinku menggila, lagi.<br />
<br />
+++<br />
<br />
"oke sampai besok yah ?" ujarnya seraya menerima helmnya yang gw pakai tadi.<br />
"oke kak, sekali lagi makasih yah"<br />
"duh iya vicky, aku baru ketemu kamu dua kali tapi udah dapet segudang terima kasih dari kamu, hehe, aku pulang yah, inget besok jangan telat siap2nya, aku jemput kamu"<br />
"hah ! Jemput kak!"<br />
"iya, nggak boleh nolak, pokoknya besok aku jemput kamu, da vicky"ujarnya sambil tersenyum seraya meninggalkan gw dengan motornya.<br />
"i-iya kak" hanya itu yang bisa keluar dari mulut gw.<br />
Kyaaaaaa!!!<br />
durian runtuh! Langit runtuh! Ahh.. Meleleh gw liat senyumnya. Aneh nggak sih, perhatiannya itu loh, rada-rada gitu yah, ah bodo amat dah, yang penting gw nikmatin itu, haha<br />
sambil jingkrak2 dan siul2 sendiri gw masuk ke rumah, hilang sudah letih gw karena kegiatan mos hari ini. Mama dan papa menatap gw bingung.<br />
"sore ma, pa!"<br />
"udah pulang nak? Kenapa sih , seneng banget kayanya" ujar mama yang sdang sibuk menggoreng pisang, gw comot satu yang udah selesai.<br />
"ga pa-pa kok ma, vicky ke kamar yah" jawab gw sekenanya. Mama cuman bisa tersenyum sambil geleng kepala memandangi gw.<br />
Once more ! Kak rama ! You really got me !!! &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt; see you next part^^<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>ANGKLUNG SMA – Chapter 3 : Buku Pelajaran Biologi</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16731500/angklung-sma-chapter-3-buku-pelajaran-biologi</link>
      <pubDate>Wed, 14 Sep 2011 23:33:20 +0000</pubDate>
      <dc:creator>sea_blueboy</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16731500@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Pernah ngebayangin jadi pemain musik tradisional? Perform di depan orang banyak? Nerima riuhnya tepuk tangan penonton? Atau mungkin ngalamin kisah indah di balik musik? Sama, saya juga belum pernah sebelumnya. Sampai tiba saatnya saya mengenakan putih abu-abu.<br />
<br />
***<br />
<br />
Chapter 1 : Alat Musik Baru<br />
<br />
“Selamat Datang di SMA Belitung 8 Kota Bandung. Knowledge is power, but character is more.” Kata-kata itu sering banget diulang waktu orientasi siswa baru, sampe rada eneg lama-lama dengernya. Yak, inilah saatnya saya melanjutkan masa remaja di sekolah yang ternyata gak boleh telat meski cuma 5 menit, gak bisa kalo gak dapet nilai 10, dan gak mungkin kalo gak denger ta’lim tiap pagi hari. Hufffft..cape emang. Tapi biar lah, asal indung bapa (=ibu-bapak; sunda) seneng wae. Sebagai solusinya, harus pinter-pinter cari kesenangan di sekolah ini. Cari kegiatan yang bisa membayar kejenuhan di dalam kelas.<br />
<br />
“Daftar ekskul yuk!” seorang cewek periang berambut ikal berkata begitu keluar pintu kelas.<br />
“Emang kamu teh mau ikutan apa?” teman cewek lain menanggapi dengan nada kesundaan.<br />
<br />
Saya sedang berdiri di depan pintu kelas, tak sengaja mengamati percakapan dua orang teman baru. Cewek periang kemudian segera menarik tangan temannya sambil menunjukkan sesuatu. Ia memegang sebuah bros, terbuat dari dua batang bambu bulat dan ada bilah-bilah yang mengubungkan keduanya. Dibalik bros terdapat carik kertas bertuliskan: “ngiringan urang yuk!”(=mari ikuti kami).<br />
<br />
Benda itu adalah miniatur alat musik tradisional Jawa Barat, yang bernama Angklung. Terbuat dari bambu, dan dimainkan secara tim dalam jumlah personil yang cukup banyak, bisa 20 hingga 50 orang. Untuk mempermanis penampilan lagu, angklung biasa dimainkan dengan diiringi dengan alat-alat musik lain, seperti bass, perkusi, piano, atau xylophone.<br />
<br />
“Katanya kalo ikut angklung bisa ke Eropa euy!” cewek periang menambahkan dengan sangat antusias.<br />
“Euleuh, bener gituh?” seorang cowok datang tiba-tiba dari sebelah saya dan menanggapi, “Paling juga isinya awewe (=perempuan) semua.”<br />
<br />
“Engga kok, lalaki juga ada yang ikutan. Main bass kalo engga perkusi.” Lalu si periang mendekat ke telinga teman ceweknya, “Dan lagi katanya, kakak senior lalakinya cute-cute!” sambil setengah berbisik dan tersenyum.<br />
<br />
Sejujurnya, saya juga pingin punya banyak teman dengan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Kebetulan melihat omongan dua cewek ini, saya jadi penasaran dan tertarik untuk mencoba mendaftar. Syukur-syukur bisa pergi ke Eropa, tapi kalo pun enggak, ya lumayan kan dapet temen-temen yang cute. Siapa tahu bisa ketularan..hehe.<br />
<br />
Saya Arman Nafian. Sebenernya saya orang yang gak terlalu pandai mencari teman, cenderung pemalu dan introvert. Padahal kalo mau pede dan sedikit luwes, penampilan saya lumayan mendukung. Tinggi badan 174 cm, kulit sawo matang, perawakan sedengan (cenderung kurus sih), rambut ikal, hidung mancung, dan mata besar. Kalo orang bilang saya kayak keturunan Arab..huahaha. Padahal mana ada,... Oke, udah ah narsisnya, malu.<br />
<br />
***<br />
<br />
Saya melihat ke sekeliling ruang kelas, ada banyak teman yang sedang asyik dengan alat musik yang kayaknya untuk sebagian besar ini adalah kali pertama mereka memegangnya, walau mungkin sudah sering lihat pertunjukannya di stasiun TV lokal. Saya berdiri dengan tangan sedikit terangkat. Saya memegang sebuah angklung di tangan kiri, sementara tangan kanan memegang bagian bambu yang mendatar pada angklung tersebut, sambil menggetarkannya beberapa saat. “krek..krek..krek..” kok kayaknya gak enak banget ya suaranya?<br />
<br />
“Eeh, bukan gitu atuh cara megangnya!” seorang cowok tiba-tiba menegur saya.<br />
<br />
Agak terkejut, saya pun menoleh. Ternyata ada yang sedang memperhatikan percobaan bunyi angklung saya toh..<br />
<br />
“Kasih tau Tra, jangan dimarahin wae!” hoo..ternyata ada temannya yang lain juga sedang memperhatikan. Jadi grogi nih. Biasa saya emang agak canggung kalo bergaul, apalagi sama cowok.<br />
<br />
“Kamu balik coba. Seperti saya pegang ini niih.” ia berkata seraya berisyarat dengan tangan yang satu, sementara yang lain juga memegang angklung.<br />
<br />
Saya coba perhatikan cara dia memegang, tapi malah jadi bingung, sebelah mana yang harus di balik dan bagaimana??? Cowok itu sudah berulang kali mengulang isyarat tangan sampai kemudian temannya mendorong pelan pundak cowok itu ke arah saya. Ia pun membalikkan angklung saya dan mengembalikannya sambil memegangi tangan saya, maksudnya supaya angklung tidak jatuh. Saya terus memperhatikan proses tadi dengan serius. Maksudnya biar tahu dan gak salah lagi, eh, tapi seneng juga waktu tangan saya disentuh..hehe<br />
<br />
Perhatian banget nih orang, padahal kenal nama juga belom.<br />
<br />
“Getarin pake tangan yang satunya.” ia lanjut berkata.<br />
<br />
Alhasil terdengarlah suara, “kruluuuung...” Nah, bener ternyata, sekarang bunyinya lebih baik dibanding trial and error saya tadi. Saya pun tersenyum pada cowok itu, “Makasih ya.”<br />
<br />
Haha..lucu! Belum pernah saya main alat musik dari bambu kayak begini.<br />
<br />
Di tengah pembicaraan kita dan keasyikan percobaan membunyikan angklung di kelas itu, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang mengatasi semuanya,<br />
<br />
“Baik! Sekarang semua mata tertuju pada tangan saya. Perhatikan angka yang ada di angklung kalian. Saat saya tunjuk suatu angka di papan, maka pemegang angklung dengan angka tersebut harus membunyikannya.”<br />
<br />
Saya dan dua orang cowok tadi berdiri agak di belakang, sebuah ruangan kelas yang biasanya kita duduk memandangi buku dan guru mengawasi di depan, kali ini pemandangannya agak berbeda karena kita berdiri sambil memegang dan membunyikan angklung, dengan seorang pelatih di depan sambil menunjuk nada-nada di papan. Kami membunyikan angklung secara bergantian, dan ternyata setelah didengarkan dengan saksama, suara angklung yang kami mainkan adalah melantunkan lagu “Burung Kakak Tua”. Yak, begitulah kira-kira cara tim angklung memainkan lagu. Saya juga baru pertama kali mengetahui dan melakukannya.<br />
<br />
Oh ya, pembicaraan dengan dua cowok tadi sebenernya ingin sekali saya coba lanjutkan. Tapi, ternyata gak ada kesempatan. Saya juga sih yang masih agak malu. Hingga akhirnya sesi latihan angklung perdana pun berakhir.<br />
<br />
***<br />
<br />
(bersambung ke Chapter 2...)<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Living With My Cousin : E-Book Re-Release [Juni 2012]</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/7836949/living-with-my-cousin-e-book-re-release-juni-2012</link>
      <pubDate>Fri, 07 Nov 2008 04:45:30 +0000</pubDate>
      <dc:creator>bibay007</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">7836949@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Iga + Rafael + Jhosua + Kiddo + Arga [Karakter Baru] akan kembali lagi!<br />
<br />
<br />
_____________________________________________________________]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>My Autumn Lessons (Part 1)</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16734158/my-autumn-lessons-part-1</link>
      <pubDate>Tue, 17 Apr 2012 15:48:38 +0000</pubDate>
      <dc:creator>princeWorthies</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16734158@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Uhmmmmm…..this is my first story, lebih tepatnya cerita pertama yang coba-coba gw buat…moga bias jadi bahan bacaan yang menarik buat sobat semua,,,,,just information, cerita ini gw mix dari pengalaman sebenarnya dan fiktif, intinya sebuah pengalaman yang sedikit gue kasih tambahan biar lebih menarik.<br />
Well, gue Chan…..itu nama yang biasa temen-temen gue panggil buat gue, dari nama gue aja udah jelas kan? Yaaa,,,gue anak blesteran, seperti anak mix lainnya, gue juga punya tampang yang boleh di bilang lumayan, punya badan yang tinggi, mata sipit, putih, jaim, arogan juga agak susah diatur. Yeah,,,its me. Gue keras kepala dan agak nakal, tapi hal demikian malah buat gue jadi tambah menarik (kata mereka). Tapi dibalik itu semua, gue punya masa lalu yang selalu gue tutup-tutupin sampai sekarang, cerita dan kejadian yang buat gue paham bahwa gue adalah orang yang gagal. Setidaknya gagal menjadi orang yang seharusnya, dan tak kalah bodohnya,,,,,gue gak pernah menyesal dengan semua ini. Itulah sedikit Introducing dr gue dan selebihya bisa kalian bayangkan sendiri gimana wujud gue. ^^<br />
Inikah Broken Heart?????<br />
Gue tertegun memandang kertas biru muda yang tergeletak di atas meja, gue udah tau itu isinya apa cuman melihat dari luar, dan gue tau….isinya gak seindah penampilannya. Selama beberapa waktu gue blank, ya,,,,gue blank mengartikan penghinaan ini, kenapa tadi gue mau aja nerima ni kertas?? Kenapa gue mesti denger temen gue manggil-manggil nama gue?Kenapa gue harus dapat kertas ini??emosi gue gak karuan, tapi gue malah bisanya cumin diem di sudut kamar, dan sekarang gue paham, wanita itu makhluk yang paling berbahaya dan brengsek.<br />
Gue beranjak keluar dari kamar gue ke pekarangan belakang, gue bakar kertas biru itu, hal terakhir yang bisa gue baca adalah kalimat membunuh yang berbunyi “PERNIKAHAN ANAK KAMI RISCHA AMANDA DEWI DENGAN INDRA AGUNG SETIAWAN”. Gue bakar undangan sialan itu bersama hati gue buat cewek itu, gue bakar semua hal-hal tentang dia, pengorbanan, harapan, usaha, kesetiaan, semua gue bakar. Bahkan barang-barang tentang dia pun juga habis semua gue bakar. Gue cuma bisa berharap hal ini bakalan hilang bersama abu-abu seperti barang-barang kenangan dia yang gue bakar. Seharusnya gue tau, bahwa sakit hati itu gak seperti kertas yang bisa dibakar. Tapi bullshitt lah, sebisa mungkin gue membuang semua hal-hal tentang dia.<br />
Rischa adalah cewek gue, walaupun lebih tua dari gue 2 tahun, tapi dialah yang berhasil mengubah gue jadi cowok baik-baik. Gue kenal dia waktu masuk SMA, dan waktu itu dia sudah kelas 3, dan gue rasa,,,,gue waktu itu fallin in the first meet. Tiap ketemu dia senyum, padahal kita gak saling kenal dan kita juga beda sekolah. Dialah yang mengubah sikap gue dari playboy menjadi serius. Dialah yang ngajarin dan ngarahin gue buat jadi cowok yang baik. Sementara gue gak tau, bahwa hati cewek itu kayak air di daun keladi. Bisa berubah 180 derajat, dan gue yang bodoh adalah salah satu orang yang sekarang bisa paham siapa cewek itu sebenarnya.<br />
Dalam kekalutan itu, gue berusaha bersikap sabar, meski sabar adalah sesuatu yang sangat susah bagi anak seperti gue yang merupakan salah satu to the points boy. Gue sadar bahwa gue sekarang sedang dikasih ujian (dan ujian dan ujian) oleh Tuhan. (So thanks God, it means You care bawt me  ). Satu hal yang gue ingat bahwa segalanya tentang gue dan dia sudah berakhir sekarang.<br />
…<br />
So it’s over now we’re through, so I’ll unfriend you<br />
You’re the best I ever knew, so I’ll unfriend you<br />
Because I should have known, right from the start<br />
I deleted you right from my heart<br />
Now it’s over my last move is to unfriend you<br />
I thought in time that you could change<br />
Time and love would heal the pain<br />
I didn’t want this day to come<br />
I believe you that’s all I know<br />
Gue putuskan buat menghilangkan stress ini dengan dugem bareng temen-temen gue, back to nature. Kembali menjadi gue yang ‘night boy’. Sejenak gue lupa sama masalah-masalah gue oleh efek pil-pil ‘heaven’ yang biasa gue konsum.<br />
Inikah yang namanya Broken heart???????<br />
]]></description>
   </item>
   <item>
      <title>Love Monkey</title>
      <link>http://boyzforum.com/discussion/16733622/love-monkey</link>
      <pubDate>Tue, 13 Mar 2012 05:49:04 +0000</pubDate>
      <dc:creator>alabatan</dc:creator>
      <guid isPermaLink="false">16733622@/discussions</guid>
      <description><![CDATA[Sampurasun.....<br />
Lagi iseng” bikin cerita nih. Aku newbie, bikin cerita dah lama, tapi belom pernah ada yang ku posting. Kalo mau ngritik sepedas”nya, mangga. Sukur” kalo dipuji, hehe. Okelah, gak mau panjang lebar. cekidot ajah.<br />
*******<br />
Love MONK-key<br />
<br />
Part 1<br />
“Rrttt..rrrttt...” hapeku yang sengaja ku setting silent seperti itu bergetar di saku celanaku. Aku senyum-senyum sendiri sembari mengawasi apa Pak Unsur mendengar. Tentu saja aku tak mau guru killer itu merampas hapeku dengan alasan mengganggu proese belajar mengajar. Kubuka pesan di hapeku,<br />
“Mangy km tw rmahq?”, begitulah bunyi SMS-nya.<br />
Senyumku makin lebar.<br />
“Tentu saja,” pekikku dalam hati.<br />
SMS yang dikirim oleh gadis tomboy yang sudah dari kelas satu SMP jadi gadis impianku telah beratus-ratus memenuhi inbox-ku. Sudah seminggu aku dan dia aktif berkomunikasi lewat SMS. Tapi hingga saaat ini dia masih belum tahu dengan siapa dia ber-SMS. Yang dia tahu hanyalah aku adalah teman SMP-nya.<br />
Besok adalah hari ulang tahunnya. Namanya Bayu. Jangan heran kenapa namanya seperti nama anak lelaki. Sebenarnya namanya Yulandari, tapi karena sikapnya yang menyerupai lelaki maka di kesehariannya dia lebih dikenal dengan nama Bayu.<br />
Aku sudah janji padanya bahwa aku akan datang ke pesta kecil-kecilan yang dibuat oleh orangtuanya. Dan ketika aku sedang khusuk mengetik untuk membalas SMS-nya, tiba-tiba aku merasa ada orang yang berdiri dibelakangku. Mampus pikirku. Ternyata benar,  Pak Unsur sang suhu pelajaran kimia sedang tersenyum memperhatikanku dari belakang.<br />
Sebenarnya beliau bernama Undang Suryana, tapi karena beliau adalah suhu pelajaran kimia yang salah satu babnya mengajarkan unsur-unsur kimia, bergelarlah Mister Unsur. Mu gkin juga merupakan akronim dari namanya yang aduhai itu. Dengan gerakan secepat kilat tangannya menyambar hapeku dan langsung berjalan ke depan kelas. Suasana menjadi sunyi. Seluruh siswa diam dan sebagian menundukan kepala. Akupun hanya melongo ketika hapeku dirampas. Wah, bencana. Aku hanya bisa senyum getir membayangkan apa yang akan terjadi. Aku celingukan menengok kanan kiri, tapi teman-temanku memandang iba padaku. Mulai terbayang apa sanksi yang akan ku terima, hape ditahan, angka raport merah, dijemur, diskors, semakin parah lagi diarak keliling sekolah. Arrgght...makin sadis saja hukuman yang kubayangkan.<br />
Aku mencoba berdiri hendak bernegosiasi dengan beliau. Tapi belum tegak kakiku, telunjuk beliau bergerak turun mengisyaratkan agar aku duduk kembali. Aku melihat beliau menaikkan kacamatanya yang melorot, lalu tersenyum sinis dan melirik ke arahku sebentar. Aku mulai panik dan perasaanku jadi gak enak. Beliau berjalan mondar-mandir di depan. Aku yakin dia sedang membaca semua pesan masuk dan keluarku. Kurang ajar pikirku. Setahuku, etika dalam teknologi informasi dan komunikasi kita dilarang keras membaca pesan keluar masuk punya orang lain, dosanya setingkat dengan mengintip seorang nenek yang sedang mandi di sungai. Tapi aku yakin, beliau tak tahu soal peraturan baru yang entah ada atau tidak itu, dan kalaupun beliau tahu, pasti beliau akan masa bodoh. Kadang kala jenjang hierarkhi adalah hal yang paling ku benci. *(Kenapa kita harus tetap menghormati orang yang lebih tua, padahal orang itu suka berkata cabul, atau kenapa guru wanita boleh berdandan menor sedangkan setiap minggu ada razia bedak untuk siswa putri, atau kenapa guru boleh merokok ketika mengajar dikelas sedangkan siswa kena skors saat ketahuan merokok secara sembunyi-sembunyi di WC. Memang tidak adil. Okeh, kembali ke benang merah. ) Jantungku berdetak lebih dari sepuluh kali perdetik dan degupannya hampir mengalahkan bunyi bedug saat malam lebaran. Aku mencium ada rencana jahat. Tiba-tiba dengan suara lantang beliau membaca salah satu isi SMS-ku.<br />
“Ah..yang bener...emang sejak kapan kamu suka aku?..” katanya dengan suara dihalus-haluskan dimirip-miripkan suara imut perempuan, yang menurutku kedengarannya lebih rombeng dari suara kaleng butut diikat tali dan ditarik oleh seekor kucing pasar.<br />
Kulihat sekeliling teman-temanku menahan tawa sambil tertunduk dan memegangi mulut atau perut mereka. Mukaku terasa panas, dan mungkin kalau aku lihat mukaku dicermin, mungkin mukaku akan mengalahkan warna merah terasi. Sumpah, ini kejadian paling memalukan yang pernah aku alami. Dan terdengar lagi suara rombeng itu lagi,<br />
”Aku tuh sebenernya suka kamu dari pertama liat kamu di kebon ubi waktu nyari jangkrik...”..<br />
Hah..aku terperangah. Dan kini suara tawa tertahan itu meledak. Suasana menjadi riuh-gemuruh. Kurang ajar betul, dengan sengaja dia merubah isi pesanku yang sangat gombal-romantis menjadi kata-kata yang memalukan. Mukaku semakin panas. Diam-diam aku berdo’a kurang ajar, semoga atap kelas roboh dan menimpanya, tapi ternyata tuhan tidak mengabulkan do’a jelek itu. Sumpah, kalau aku bisa berubah jadi cacing, aku akan masuk kelubang.<br />
“Masa sih...kamu pasti yang waktu itu pakai celana kedodoran, ingus meler, yang rupawan itu kan..?”..<br />
Semakin kurang ajar saja. Jelas-jelas Pak Unsur memang harus segera memeriksakan matanya pada spesialis di Amerika sana. Ini sangat jauh melenceng dari konteks. Semua murid terpingkal-pingkal mendengarnya, bahkan si Didit, yang duduk di sampingku sampai meneteskan air mata terharu sambil tangannya memukul-mukul meja saking gelinya. Yang lain bahkan ada yang minta izin ke toilet karena gak kuat pengen kencing, tapi rasakan olehmu hai kawan durjana, Pak Unsur tak memberikan izin, dan cer...kencing di celana. Semakin riuhlah suasana kelas.<br />
Aku yang sedari kecil memang diajarkan untuk berjuang mati-matian mempertahankan harga diriku, berdiri dan dengan lantang berkata dengan tegas walau malu setengah mati<br />
“ Pak..” kataku ragu.<br />
Suasana menjadi hening seketika. Semua memandang ke arahku dengan roman ngeri. Tentu saja, mereka pasti berpikir aku cari mati dengan berkata seperti itu. Aku memang terkesan menantang Pak Unsur. Tapi aku tak rela harga dirikku yang tak terlalu mahal ini diinjak-injak. Pak Unsur menatap dengan tajam ke arahku. Pikirankku berkecamuk, antara mempertahankan harga diri dengan melanjutkan pertempuran atau bertekuk lutut memohon kekonyolan ini dihentikan.<br />
“ Apa?” pertanyaan simpel tapi ngena.<br />
Aku gelagapan mencari jawaban. Kucoba dengan rumus phitagoras, tak mungkin, rumus aljabar, pasti ngawur.<br />
Hemm..” eu..eu anu Pak..” kataku gelagapan.<br />
Ternyata nyaliku menciut, sialan.<br />
“ Anunya kamu kenapa?” kata beliau (*masih pantaskah kusebut beliau?) .<br />
Kutengok kiri kanan masih ada yang cekikikan, sebagian lagi menunduk khidmat, sebagian lagi sumringah, mungkin menantikan pertempuran sengit antara Rama dan Rahwana yang buruk rupa ini.<br />
“Kamu ini, bukannya belajar malah asik-asikan SMS-an, mau jadi apa kamu?” omelan standar, aku mulai menunduk.<br />
”yang parahnya lagi, sayang-sayangan sama anak laki-laki..” deg, nha lho, kok?<br />
Aku terperanjat. Semua siswa pun terperangah.<br />
“ Bapak tahu sekolah ini tu gersang, hanya ada 20 anak perempuan, tapi...” menggantung..<br />
”Bapak tidak menyangka anak sealim kamu itu..jeruk makan jeruk..”<br />
Deg, aku merasa seperti kejatuhan durian, benar-benar durian yang mateng nimuk kepalaku. Wah, aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini. Aku melihat sekeliling, semua temanku memandangku risih, bahkan jijik.<br />
“Pak..” baru terucap tiga hurup langsung dipotong,<br />
“ Jadi selama ini kamu ikut Rohis hanya untuk menutupi ini? Ckckck, dosa sangat besar, apa Pak Karman tidak mengajarkan akan hukumnya menyukai sesama jenis? Ingat kisah nabi Luth...kaumnya diazab dengan hujan batu. Kamu mau azab itu terulang lagi?”<br />
Wah, makin parah. Mimpi apa aku semalam. Aku bertekad akan menglarifikasi sebelum semua siswa mempercayai persepsi itu. Ketika beliau hendak melanjutkan ceramahnya aku langsung berkata dengan ditegas-tegaskan<br />
” Pak, ini tuh gak seperti yang Bapak pikirkan. Namanya memang nama laki-laki, tapi dia itu perempuan, tulen.” kataku sambil terengah-engah menahan malu, emosi dan perasaan yang campur aduk.<br />
“Lagipula apalah arti sebuah nama...” kataku dramatis.<br />
“Yang penting berlubang?” celetuk Didit, temanku itu langsung menutup mulutnya dengan tangannya karena Pak Unsur langsung menatap tajam kearahnya seakan hendak memakannya.<br />
“Widi, Dian, Tata, itu nama-nama yang binomial, bisa dipake oleh semua gender..” aku menggunakan kata-kata ilmiah yang sebenarnya aku sendiri tak begitu paham.<br />
Kelas masih hening. Tiba-tiba beliau berjalan meninggalkan kelas. Aku terpaku, tak tahu harus berbuat apa. Didit memberi isyarat agar aku mengejarnya dan meminta maaf. Lalu aku berlari mengejarnya. Tapi kemana beliau? Di ruangannya gak ada. Aku menenyakan pada semua guru yang aku temui dan hanya gelengan kepala yang kudapat. Waduh, mampus gue. Akupun berniat kembali ke kelas dengan langkah gontai. Ketika kakiku baru melangkah ke pintu kelas, semua langsung mengerubutiku seperti lalat mengerubuti sampah dengan masing-masing mengajukan minimal tujuh pertanyaan yang tak satupun ku jawab.<br />
Arrgghhtt....sial....dan akhirnya bel istirahatpun berbunyi. Ketika yang lain langsung berhamburan keluar aku menjatuhkan kepalaku ke meja. Kepalaku terasa pusing sekali.<br />
Ketika aku melangkah menginjakkan kantin karena cacing di perutku protes, semua orang memandangku aneh seperti melihat zombie. Ada apa lagi ini? Mereka memandangku lalu berbisik-bisik tetangga. Sialan, pasti ini gara-gara tadi. Berita hangat seperti ini pasti langsung meledak seperti mercon. Tapi kenapa seisi sekolah langsung tahu dalam hitungan menit? Aku melihat sekeliling dan mendapati si Hilceu yang bernama asli Hilman itu dengan mulut monyongnya dengan gesture tukang gosip handal berbisik-bisik pada si Januar. Sialan, pasti ketua geng Cumi Girl, geng cowok-cowok tomboy se-STM, yang menyebar isu. Nafsu makanku langsung sirna, dan aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Dan ketika aku berjalan di koridor menuju ruang kelasku, diam-diam aku merasakan kalau Ragiel, yang sekarang duduk di kelas tiga tersenyum padaku. Aku jadi salah tingkah. Lalu aku melanjutkan langkahku, dan lagi-lagi aku berpapasan dengan dua orang cowok yang kalau gak salah dia itu anak kelas dua, dia berjalan sambil melirik-lirik ke arah saku depan celanaku yang agak menonjol, dan lebih ngerinya lagi ku dengan dia setengah berbisik pada temannya bahwa dia mengagumi pantatku yang tepos. Haduh...apa lagi sih..<br />
Bahkan ketika memasuki kelaspun kelas yang tadinya riuh langsung sepi. Tiba-tiba Didit datang menghampiriku.<br />
“Bener?” katanya dengan mimik penasaran.<br />
Langsung aja kujitak kepalanya yang plontos.<br />
“Sial, emangnya gua cowok apakah..” kataku kesal.<br />
“Jadi..lo..nggak..masih..”katanya gelagapan.<br />
Saking kesalnya kujawab aja ngasal<br />
“ Kalo iya emangnya kenapa? Lo naksir ma gua?” kataku setengah berteriak.<br />
Semua menoleh ke arahku. Upss, salah lagi.<br />
“Eng..eng..nggak ko, gua cuma bercanda. Elo sih Dit” kataku sambil mengepalkan tangan kearahnya. Tiba-tiba hapeku yang lain berbunyi. Aku emang bawa dua hape ke sekolah, yang satu GSM yang satu lagi Esia. Maklum, dulu kan belum ada hape dualsim. Ku langsung buka isi SMS-ku.<br />
“ehm..hi there...ketemuan yuk bis skul, w tngg y d ptung kuda. Dont miss it!! Daniel”.<br />
“Brak”..anjrit, kaget. Ternyata si Didit mengintip dan membaca SMS ku dan saking kagetnya dia terlonjak dan menggeser kursinya dan menabrak meja di belakang. Mukanya yang polos terperangah, tapi aku melihat ada raut sumringah di mukanya.<br />
“Kaget gua, apaan sih Dit...” kataku sambil menjatuhkan badan ke senderan kursi.<br />
Kalau gak salah Daniel itu anak kelas tiga yang katanya seorang model sampul. Tak berselang lama hapeku bunyi lagi dan tak tanggung-tanggung, 5 pesan masuk dari nomer gak dikenal yang ternyata isinya gak jauh beda, dating. Dari Jefry si anak menteri, Angga anak basket, Ceuceu yang bernama asli Cepi anggota Sekertaris Umum Cumi Girls, Farid dan satu lagi Jamal. Sial, gak tanggung-tanggung, ajakan dating dari enam orang. Terbersit sedikit rasa bangga bahwa ternyata aku cowok idaman juga, tapi kenapa jadi cowok idaman pria? Halah, aku menampar-nampar pipiku sendiri.<br />
“ Napa lo Bob? Stres lo?” kata Didit sekenanya.<br />
“ Hajuh..ini mimpi kan?” kataku sambil mengacak-acak rambutku yang plontos.<br />
“Hahaha..sabar. Lo mestinya bangga, hal-hal tersebut diatas itu menunjukkan bahwa anda itu orangnya berkharisma, memiliki aura seorang...”menggantung..<br />
”...gigolo...hahahaha” katanya sambil tertawa lebar memamerkan rentetan giginya yang amburadul. Langsung saja kujitak kepalanya.<br />
“Seneng lo ya temen menderita..? Apalah artinya persahabatan kita yang telah kita bina dari orok wahai sahabatku yang durjana?” dramatis.<br />
“Lo bantuin gua ngapa, nyari solusinya..” kataku sambil garuk-garuk pantat.<br />
“Hmmm...gua punya ide..” katanya pasti dengan mata berbinar. Sontak akupun seperti mendapat cahaya lilin di dalam gua hantu.<br />
“Apa?” tanyaku penasaran.<br />
“Lo jabanin aja semuanya bro, lumayan kan? Daripada lo jomblo dari orok, hahaha..” katanya sambil berlari keluar.<br />
Sialan, kukejar dia. Ternyata arah larinya ke perpus. Kukejar terus dia dan kulihat dia mengendap-ngendap dibalik rak buku.<br />
“Heh, kagak bisa baca lo ya?”<br />
Astaga, Bu Hesti, penjaga perpus yang gembrot memarahiku. Aku cuma hahahehe sambil berjalan kembali ke luar dan melepas sepatu, aku lupa bahwa alas kaki wajib hukumnya dilepas, seperti mau sholat di mesjid aja, pikirku.<br />
“Mau ngapaen lo kemari?  Bikin rusuh aje..” kata dia dengan logat Betawinya yang kental.<br />
Sambil garuk-garuk kepala aku berdalih, “Anu Bu, saya ada tugas Kimia, Pak Unsur nyuruh nyalin Susunan Berkala Unsur-Unsur alias S-B-U..” kataku.<br />
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sentuhan tangan dipundakku. Sontak aku menoleh ke belakang dan deg, mampus gua,<br />
“ Gua punya, mau gua pinjemin?” kata orang yang menepuk pundakku.<br />
Aku paksakan tersenyum, “ Gak usah, Kak, gua nyalin aja”<br />
Hajuh, kenapa Jamal ada di sini? Apa dia dari tadi ngikutin kemana aku pergi? Halah..jadi repot begini. Kulihat Didit cekikikan melihat tingkahku. Tiba-tiba bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bersyukur dan berterima kasih pada pasapon yang tidak pernah lupa nyeting bel.<br />
Akhirnya aku terbebas dari Jamal. Tapi sebelum pergi dia membisikan sesuatu ke telingaku,<br />
“Besok ya..” katanya sembari tersenyum yang ku yakin itu senyum paling maksimal. Aku hanya melongo dan tiba-tiba dikagetkan oleh bisikan yang sudah tak asing lagi,<br />
“ Besok jangan lupa ya sayang..” sialan, Didit mengejekku sembari keluar buru-buru memakai sepatu. Kalau saja bukan diperpus, sudah ku timpuk kepalanya dengan buku paket.<br />
****<br />
Sepanjang pelajaran aku tidak bisa konsentrasi. Kepalaku terasa nyut-nyutan memikirkan kejadian hari ini. Mulai dari Pak Unsur yang sampai sekarang tak tahu kemana rimbanya, SMS dari para fans, dan hadiah untuk ulang tahun Bayu. Dan setelah bel pulang, aku langsung berlari keluar segera menuju ke tempar motorku diparkirkan. Ketika aku mulai menyalakan motorku, tahu-tahu ada yang naik di jok belakangku. Ku toleh ke belakang, hemmm..Didit..<br />
” Woy, ngapain lo? Bukannya lo bawa motor? Sono, gua lagi buru-buru nih.” Kataku.<br />
Dia malah merangkulkan tangannya memelukku dari belakang.<br />
“ Motor aku mogok Beb, jadi hari ini aku mau ikut kamyu..” katanya dengan nada manja.<br />
Sial, makin menjadi-jadi aja ni bocah.<br />
“Dableh, lo itu kan anak otomotif, benerin lah, praktekin tuh ilmu-ilmu yang telah ditransfer oleh Bapak Profesor Insinyur Doktor Juned MBA, MNC, Mber “ kataku.<br />
“Ah..entar tangan akyu kotor..hahaha” katanya makin parah.<br />
“ Huh sarap” gerutuku.<br />
“Emang lo mau kemana sih Bob?” katanya penasaran.<br />
“ Pengen tau aja urusan anak gede. Bocah kaya lo mah ada ingus, usap, jilat sekalian..” kataku.<br />
“Sialan lo” katanya sambil menjitak palaku yang berhelm.<br />
“ Ayo Beb, tancap..” katanya semangat sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal. Dasar bocah.<br />
Dan ketika melewati anak-anak yang baru bubar, Didit memelukku dengan erat dan semua anak menyoraki kami berdua. Didit emang anak yang konyol, gokil abis tapi menyenangkan. Dia anak seorang polisi. Sebenarnya minatnya itu adalah Seni Rupa, tapi karena dirasa ayahnya hal itu kurang gentelment, ayahnya memaksanya masuk jurusan otomotif yang dia sama sekali gak ngerti. Kalaupun motornya rusak, paling langsung ditinggal di bengkel. Dasar.<br />
“Lo sebenernya nyari apaan si Bob?” katanya penasaran ketika kami sudah sampai di toko maianan.<br />
Aku tersenyum menggodanya sambil menaik-turunkan alisku ala shahrukh khan, bermaksud membuatnnya penasaran.<br />
“Eh..dableh, ditanya malah senyum-senyum..”<br />
Aku masih saja menaik-turunkan alisku menggodanya.<br />
“Gua kasih tau, tapi gua pinjem duit lo dulu ya, duit gua ketinggalan..” kataku merajuk.<br />
Mulutnya bersungut-sungut. “Dasar lu, tapi apaan dulu..?”.<br />
Aku nyengir kuda, aku tau kalo dia gak seret kalo urusan duit.<br />
“Boneka.” Kataku pasti.<br />
Dia kaget sambil gigit jari, “Ow eM Ji, yey nyari boneka? Ih..to tweet banged ciy..hahaha” katanya sambil tertawa memegangi perutnya<br />
. “Eeeee...malah ketawa, gua serius nih..bukan buat gua dableh..” kataku sambil berkacak pinggang.<br />
“Terus buat siapa?” katanya sambil menikmati sisa tawanya.<br />
“Buat Bayu” jawabku.<br />
Dia langsung terdiam.<br />
“Napa lo? Kesambet?” kataku.<br />
“Jadi lo bener-bener...jeruk..?” kata dia terbata-bata.<br />
Aku langsung menepuk jidatku, “Adduh, kan udah gua bilang, apalah arti sebuah nama. Lo inget ga Yuliarti, dia kan panggilannya Bayu..” kataku agak kesal.<br />
Dia lalu menarik nafas lega sambil mengusap dada. “Syukurlah...terus?” katanya bingung.<br />
“ Ya gua mau nyari boneka buat hadiah ulang tahunnya besok...tapi ngasih boneka apa ya?” kataku sambil berlagak mikir.<br />
“Boby..., dia itu tomboy, masa lo ngasih boneka. “ kata dia.<br />
“ Terus ngasih apa dong? Gua juga bingung” kataku.<br />
“Memang hadiah buat cewek kayak dia tuh susah-susah gampang. Dikasih boneka takutnya gak suka. Dikasih bola, ntar nyangkanya gimana. Terus, lo tau gak kesukaannya apa, ato cita-citanya apa..” kata dia berlagak seperti seorang yang cool.<br />
Aku berpikir sejenak, lalu aku ingat kalau gak salah salah satu hal yang paling dia suka adalah nonton Discovery Channel. Dan karena jiwanya adalah jiwa petualang, aku langsung kepikiran sama Cimcim, monyetnya Tarzan. Dan kalo gak salah Si Buta dari Goa Hantu juga miara monyet.<br />
“Monyet” kataku pasti.<br />
“ Lo dong, hahaha” kata dia.<br />
“Sial, iya gua mau beliin dia boneka monyet. Okeh?” kataku sambil mengacungkan jempol.<br />
Akhirnya, setelah menjelajah beberapa toko maianan dan boneka, sebuah boneka monyet ukuran sedang kugondol pulang.<br />
******<br />
Keesokan harinya.<br />
“Yakin lo tw rmah w? w kn udh pindh bln lalu..” begitulah sms dari Bayu.<br />
Langsung ku balas, “ ydh, almty dmn?”<br />
Langsung dia SMS-kan alamatnya. Akupun langsung menarik gas kecepatan penuh menuju alamat yang dia SMS-kan. Sesampainya di perum tempat tinggalnya aku menanyakan ciri yang lebih spesifik mengingat kondisi rumah di perumahan sama semua, “cat ijo” dan aku mendapati rumah di ujung gang berwarna hijau dan ada beberapa motor dan mobil terparkir semrawut. Aku rapikan baju, kusisir rambut plontosku, dan kurapikan tentenganku, dan akupun berjalan dengan gerakan lambat diiringi angin yang sepoi-sepoi. Halah, kayak di pelm-pelm. Lalu ketika aku membuka pintu pagar dan hendak mengucapkan salam, aku terkejut seperti disengat lebah.<br />
“Boby?” suara itu tak asing bagiku, dengan nada yang sangat tidak enak didengar. Mataku tak berkedip. Sosok yang tadi malam membuat aku tak bisa tidur sedang berdiri di hadapanku.<br />
“ Pak Un..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku yang terbata-bata, muncullah dari belakang yang membuat aku kaget setengah mati.<br />
“Boby?” berbeda dengan suara yang satu ini. Dia memanggil namaku sambil tersenyum senang. Tapi sebaliknya bagiku, aku seperti tersambar listrik elektromagnetis.<br />
“ Kamu..” katanya. Pak Unsur yang tadinya seperti mau memuntahkan kalimat-kalimat cercaan dan sejenisnya terperangah.<br />
Ternyata pak unsur diundang juga? Kok?<br />
“Boby?” pekik seorang gadis yang tak kalah kagetnya.<br />
“ Jadi selama ini yang...kamu..ah..ternyata..” katanya sambil menghampiriku.<br />
“ Bay...” kataku berusaha tersenyum meski perasaan terkejut masih melanda. Melihat aku yang kebingungan dia langsung tersenyum geli.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
   </item>
   </channel>
</rss>
