BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Datang dan Pergi -THE END-

    keesokan harinya, hati rayan berbunga-bunga. Dengan bersiul kecil ia mengguyurkan air ke tubuhnya. Setelah itu mengenakan baju yang rapi dan berkali-kali mematut diri di cermin. Ia benar2 ingin terlihat memesona saat menemui diki nanti.
    "ehemm...mau kemanaaaa??"tegur neneknya yang melongok dari luar.
    Rayan menoleh.
    "mau kemana heh? Dari tadi bercermin terusss..."
    rayan terkekeh.
    "aku mau jalan2 keliling kampung nek..."
    "heehh? Sama siapa?"
    "sama diki..."
    nenek mengangguk-angguk.
    "tapi kok mau keliling kampung aja pakai gaya segalaa...gak bakalan ada yang lihat, yan..."kata nenek.
    "siapa tahu ada yang bening ntar nek, he..he..."kata rayan.
    Neneknya geleng-geleng kepala. "gadis kampung masih polos2. Jangan kamu racuni sama otak kotamu, eh?"
    "ha..ha...nenek sembarangan aja...rayan ini anak baik nek..."
    "he..he...siapa bilang kamu anak jahat?"
    rayan garuk2 kepala.
    "nanti diki yang jemput ya?"
    "nggak nek. Rayan yang ke sana..."
    "kalian kelilingnya pake apa? Jalan kaki?"
    "Engg...eh, sepeda papa dulu masih ada kan?"
    "ada tuh di gudang..."
    "masih bagus kan?"
    "masih kayaknya. Itu sepeda gak pernah di pakai..."
    "biar rayan cek dulu deh.."
    "he-eh..."
    rayanpun segera pergi ke gudang yang terletak di belakang rumah. Sepeda milik papanya itu tak ada yang rusak sama sekali. hanya debu saja yang hampir satu centi membalut permukaannya.
    Rayan lantas mengambil serbet dan mengelapnya hingga mengkilap kembali.
    "yes!!"seru rayan puas sambil menggiring sepedanya keluar lalu mengendarainya.
    "cak mano? (gimana?) masih bagus, yan?"tanya sang nenek.
    "masih nek...rayan langsung pergi ya?"
    "yaa...hati2..!"
    "ya nek..."balas rayan.
    sesampainya di rumah diki, pemuda itu tengah memindahkan kayu bakar dari samping rumah ke belakang rumah. Rayan sempat terpaku melihat tubuh sempurna rayan saat otot-otot kekarnya yang bagaikan hasil bentukan fitness itu tergelar di hadapannya. Rayan sangat beruntung datang lebih awal saat diki sedang bekerja dengan bertelanjang dada.
    "tiap hari nih kayak gini?"tanya rayan.
    "apanya?"
    "engg...mindahin kayu bakarnya..."
    "nggak lah. Kalo kayunya ada aja...kalo udah dipindahin, apa yang mesti diangkat, eh? Hehehe..."
    rayan ikutan ketawa.
    "kirain tiap hari..."gumam rayan.
    "emang kenapa kalo tiap hari?"
    "eh? Gak apa2!"jawab rayan cepat. "maunya gue sih tiap hari biar bs lihat tubuh six-pack lu..."sambung rayan dalam hati.
    "mau pergi sekarang?"tanya diki.
    "gak ada kerjaan lain?"
    "gak ada."
    "oke, let's go!"
    "sip! Aku pakai baju dulu ya..."kata diki setengah berlari masuk ke dalam rumah.
    "hheehhh...gak usah pake baju aja bro..."kata rayan pelan.

    ***
    rayan dan diki bersepeda santai menyusuri jalan. Angin sepoi-sepoi memanjakan mereka. Di kiri-kanan jalan yang mereka lalui terhampar bentangan sawah yang menghijau. Bulir-bulir padi yang sebentar lagi masak menerbitkan harapan. Sesekali mereka berdua melewati aliran sungai nan jernih. Terlihat dua-tiga orang yang tengah duduk sabar dengan mata pancing mereka. Rayan tersenyum melihat kekhasan desa. Semuanya permai dan seimbang.
    "hidup di desa menyenangkan ya..."gumam rayan.
    "masa?"
    "iya. Selama aku di sini, gak ada yang bikin tensi darah aku jadi naik, he..he..."
    diki tersenyum.
    "gak kayak di kota, adaaaaa aja yang bikin kesel.."
    "lama2 juga pasti ada kok..."
    "he..he...aku harap sih gak ada ya...aku pengen persepsi aku tentang desa gak berubah..."
    diki lagi2 tersenyum.
    Mereka terus bersepeda menyusuri jalan. Sesekali mereka harus terhenti dengan serbuan segerombolan bebek yang berlenggak lenggok di jalanan.
    "aku yakin kalo di kota gak pernah lihat bebek yang ikut meramaikan jalankan?? Hehe.."canda diki.
    "hahaha..! Anjing kurap yang banyak!"kata rayan.
    "kalo di sini mah bebek, anjing, kerbau, sapi...semua tumpah ruah di jalanan..."
    "itu uniknya desa...semuanya menyatu..."kata rayan.
    Mereka kemudian berhenti sebentar di dekat sebuah bangunan semen di dekat jembatan.
    "berhenti dulu ya..."kata diki.
    Rayan mangguk.
    Mereka memarkirkan sepeda di tepi jalan lalu duduk bersebelahan di atas bangunan semen itu. Mereka menghadap ke aliran air jernih yang suaranya gemericik.
    "ini aliran air sungai yang di sawah itu ya?"tanya rayan.
    Diki mengangguk.
    "kalo kamu gak dapetin topi aku waktu itu, pasti topinya lewat sini yah..."
    "kalo gak nyangkut sih iya..."
    "he..he..."
    "berapa lama kamu liburan?"tanya diki.
    "nggak tahu..."
    "lho kok..."
    rayan tersenyum simpul. Ia kembali teringat kejadian yang meluluhlantakkan perasaannya sesaat sebelum ke sini.
    "masih lama..."
    rayan mangguk2.
    "kok milih kampung sih? Bukannya masih ada tempat keren lainnya?"
    "aku pengen men..."
    tiba2 ponsel rayan berbunyi. Ia buru2 merogoh ponsel di kantong jeansnya. Tidak keluar nama dari sang penelpon.
    "bentar ya..."kata rayan.
    Diki mengangguk.
    "halo?"sapa rayan.
    "halo...rayan..."
    "ya, ini gue. Siapa nih?"tanya rayan.
    "masa sih kamu gak inget dengan suara aku, say?"
    rayan mengernyitkan dahinya.
    "sory, gue benar2 gak tau. Lagian nomor lu gak ada di list gue.."
    "kamu masih marah sama aku ya?"
    "marah? Kenapa marah? Kenal juga nggak..."
    "masa sih kamu gak inget dengar suara aku, beib..."
    rayan tersentak sambil menoleh ke diki. Diki diam saja.
    "yan? Rayan??"
    "i..iya..."
    "ingatkan sayang?"
    rayan menghela nafas berat.
    "mau apa lagi lu nelpon gue?"tanya rayan tiba2 dengan nada ketus. Diki yang mendengarnyapun langsung menoleh.
    "kamu masih marah ya?"
    "mau apa lu hubungi gue?!"tanya rayan lagi.
    "yan...aku masih cinta sama kamu..."
    "shit! Gak usah ngomong itu lagi deh...muak gue dengernya..."
    "plissss...aku pengen berubah yan. Aku nyesel udah ngelakuin hal sejahat itu sama kamu..."
    "udahlah. Dulu mungkin gue percaya. Tapu sekarang? Sama siapa aja lu ngomong manis begitu??"semprot rayan.
    "sayang..."
    "udahlah. Urus aja itu...gacoan baru lu...siapa tuh namanya..."
    "yan, aku sama fandi gak serius..."
    "sama gak seriusnya lu ama guekan?!"potong rayan.
    Lagi2 diki menoleh mendengar suara histeris rayan.
    Rayan yang merasa tak enak dengan diki langsung melompat turun dan sedikit menjauh.
    "yan..pliss...kasih aku kesempatan lagi..."
    rayan menggertakkan giginya kesal. Ia muak mendengar suara memelas tomy.
    "jangan hubungi gue lagi!"teriak rayan sambil merejek panggilan tomy. Tidak hanya itu, ia langsung mematikan ponselnya dan mengeluarkan kartu SIMnya setelah itu membuangnya ke rerumputan.
    "mampus!!"seru rayan dengan suara tertahan.
    Diki yang melihat kejadian itu langsung mendekati rayan.
    "yan..., kamu gak apa2?"
    rayan geleng kepala. "aku gak apa2. Kita pulang yuk!"ajak rayan sambil mendekati sepedanya. Tanpa meminta persetujuan dari diki dulu, ia langsung menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya kencang menuju ke rumah.

    Diki mengerutkan keningnya melihat sikap rayan yang tiba-tiba berubah. Ia yakin telepon tadi adalah penyebab kemarahan rayan. siapa sih penelepon itu? Kenapa rayan bisa sekesal itu?
    Diki menyondongkan badannya ke jalan untuk melihat apakah rayan kembali lagi atau tidak. Ternyata rayan sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.
    Diki berjalan ke arah rayan membuang kartu SIM-nya tadi. Ia bukannya mau ikut campur, tapi ia penasaran dengan si penelepon Itu.
    Dikipun mencari kartu SIM itu diantara rerumputan. Untung rayan tidak membuangnya terlalu jauh, sehingga diki dengan mudah bisa menemukannya.
    Diki menggenggam kartu SIM itu dengan kepala penuh tanya. Tanpa buang waktu ia segera memacu sepedanya menuju arah yang berlawanan dengan jalan rumahnya. Tujuannya bukan mau pulang, melainkan pergi ke rumah pamannya untuk meminjam ponsel beliau sebentar untuk mengaktifkan kartu itu untuk menuntaskan rasa penasarannya.
    ...

    Hampir saja diki tidak bisa bertemu dengan pamannya. Sebab saat ia tiba, pamannya itu baru saja hendak pergi ke ladang.
    "mang...!"seru diki.
    "heh? Ngapo Ki? (heh? Np Ki?)"tanya pamannya sambil mengunci pintu.
    "minjam HP mang..."jawab diki.
    "hp? Ndak ngapo? (mau apa?)"tanya pamannya sambil menyodorkan ponsel seri Nokia 1100.
    "ambo ndak ngecek kartu nih...(aku mau lihat kartu ini...)"jawab diki sambil menunjukkan kartu SIM di tangannya.
    "baru beli?"
    diki geleng kepala. "dak e. punyo kawan..."
    "yo udah. pakailah dulu. Sore gek antar ke rumah be yo? Mamang ndak pegi...(ya sudah. Pakai saja dulu. Sore nanti antar saja ke rumah. Paman mau ke ladang...)"
    "yo mang. Gek aku antar...(y paman. Nanti aku antarkan...)"kata diki sambil mengangguk. Sementara pamannya langsung berjalan ke ladang.
    Diki duduk di teras rumah pamannya yang kosong. Ia tak sabar ingin mengetahui penyebab kemarahan rayan tadi, meskipun hatinya terus bertanya-tanya kenapa ia begitu usil dengan masalah ini?
    Baru beberapa menit Ponsel dinyalakan, berturut-turut nada pesan Ponsel berbunyi. Diki geleng-geleng kepala sambil menghitung jumlah pesan singkat yang masuk. Hampir sepuluh buah pesan singkat yang masuk.
    "yak, banyaknyo seh...(waduh, banyak amat...)"gumam diki.
    Dikipun membukanya satu per satu. Pertama ada pesan dari "papa" yang isinya minta nomor rekening rayan. Sepertinya papa rayan ingin menstrasfer sejumlah uang buat anak semata wayangnya itu. Kemudian ada pesan dari "amelia" dan "wanto" yang menanyakan bagaimana kabar rayan. Selebihnya adalah pesan dari seseorang tanpa nama. diki satu persatu membaca isi pesan singkat itu. Nada kalimatnya hampir sama yakni meminta maaf pada rayan dengan kata-kata mesra. Sepertinya seseorang yang mengirim ini adalah pacar yang selingkuh dan ketahuan sama rayan. Diki yakin orang inilah yang menelepon rayan tadi.
    "ummm...jadi iko masalahnyo...dio diselingkuhi...pasti gara2 iko pulo nyo pai ke sini...(umm..jadi ini masalahnya...dia diselingkuhi...pasti gara2 ini juga dia berlibur ke sini...)"gumam diki.
    "maso sih lanang elok kek kayo cak itu disia-siakan...cari apo lagilah tino tuh...(masa sih cowok cakep dan kaya kayak rayan disia-siakan...mau apa lagi tuh cewek...)"gerutu diki sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu beranjak pergi meninggalkan rumah pamannya.
    Di tengah perjalanan pulang, tiba-tuba ponsel diki berbunyi. Diki sedikit terkejut. Dengan cepat ia mengambil ponsel itu lalu melihat siapa yang memanggil. Nama sang penelpon tidak keluar. Diki berpikir sejenak. Apakah ia harus mengangkat panggilan ini atau tidak? Tapi akhirnya ia angkat juga.
    "hal..."
    "yan!"potong suara di ujung sana cepat.
    Diki mengernyitkan dahinya mendengar suara keras sang penelpon.
    "halo..."sapa diki lagi.
    "yan! Kok tadi HPnya kamu matiin sih? Plis beib, jangan siksa aku kayak gini..."
    diki terperanjat.
    suara yang ia tangkap jelas-jelas adalah suara lelaki. Tapi kok dia manggil rayan dengan sebutan "beib"?
    "ambo yang salah dengar atau...(aku yang slah dengar atau...)"gumam diki dalam hati.
    "sayang...kamu denger aku kan??"seru lelaki itu lagi. "tolong jangan diemin aku kayak gini, yan...aku sungguh2!! Suer...!!"
    diki geleng2 kepala.
    "benar! ambo dak salah dengar..."gumamnya lagi.
    "yaann...heiii...yaan...kamu masih di sana kan? Kamu denger aku kan? Aku masih cinta sama kamu...cuma kamu...fandi itu gak ada apa2nya dibanding kamu..."

    "fandi? nyo selingkuh kek fandi? Fandi itukan namo lanang? Bingung...apo sih nih...(fandi? Dia selingkuh sama fandi? Fandi itukan nama cowok? Bingung...bagaimana sih ini...)"lagi-lagi diki diliputi kebingungan.

    "yan..beib...sayang...kamu di mana? Kemarin aku ke rumah kamu...kata bik lastri kamu ke kampung. Aku susul ya?"

    tut!

    Diki dengan tangan agak gemetaran langsung mematikan sambungan telepon.

    "gilo! Gilo tobo koh! Rayan metean kek lanang? Apo itu artinyo dio homo? Iww...(gila! Gila mereka semua! Rayan pacaran sama cowok? Apa itu artinya dia homo? iww...)"seru diki bergidik.

    Ponsel di tangan diki kemudian berbunyi lagi. Sederet angka di layar ponsel menunjukkan nomor yang sama seperti yang menelpon tadi.

    "ampun, idak eh...(ampun, gak ah...)"kata diki sambil merejek panggilan lalu langsung mematikan ponsel dan mengeluarkan kartu SIM-nya.
    "dak sangko ambo rayan tuh homo...(gak nyangka aku kalau rayan itu homo...)"desis diki.
    ...
  • Re: TANYA balas JAWAB

    ya gitu

    pernah dirawat di rumah sakit? sakit apa?
  • Re: cerita gua... ( Happy New Year all )

    @dantososo haha iya deh mulai sekarang jangan terlalu ngarep :)
  • Re: Datang dan Pergi -THE END-

    "Aaakkhhh...."desah Rayan lepas. Ia menggenggam jari-jemari kekasihnya, Tommy dengan erat.
    Jari-jemari mereka yang saling bertaut terasa lekat karena keringat.
    Tommy merunduk dan mencium bibir Rayan yang basah.
    "I love you, beib..."bisik Tomy mesra di telinga Rayan.
    "I knoww...eeenngg...aahhh..."
    Tomy menyentakkan tubuhnya ke depan lebih keras.
    "Aakhhh...!!"
    "Aku beruntung mendapatkan beiby se-perfect kamu, sayang..."kata Tomy mesra.
    Rayan tersenyum bahagia mendapat pujian dari sang pacar. Hatinya terbang membubung sampai ke langit.
    "Aku ingin keluar say..."desis Tomy sambil memejamkan mata dan menjauhkan tubuhnya dari bukaan paha Rayan.
    "Do it now, honey..."kata rayan sambil terlentang pasrah di ranjang.
    Tomy mendekati dan berdiri di bawah muka Rayan.
    Rayan menunggu.
    Cairan hangatpun membasahi mukanya.
    Tomy melenguh panjang. Ia kemudian jongkok di depan wajah Rayan. Ia membungkuk. Rayan mengangkat kepalanya. Bibir mereka saling memagut.
    "It's amazing beiby..."kata Rayan.
    "kamu selalu luar biasa Beib..."kata Tomy sambil mengulum daun telinga Rayan.
    Rayan tersenyum geli.
    "Always love u, Beib..."bisik Tomy sambil bangun dan mengambil pakaiannya di ujung ranjang.
    "Kamu langsung pulang?"tanya Rayan.
    "Ya sayang. Tomy harus kuliah sore nih..."
    "Moo gitu. Ya udah, belajar yang rajin yaa..."
    Tomy mengangguk lalu melangkah ke luar kamar. Sementara itu, Rayan yang msh terlentang di ranjang menarik selimut sampai ke dada dan memejamkan mata dengan tentram...
    ...

    Tomy melihat jam di arloji. Sekarang baru saja pukul 15.00. Ia tersenyum dan mengambil ponsel di kantong kiri celana jeansnya.
    "Halo sayang...lagi apa nih?"sapa Tomy mesra.
    "Sayaangg...kok baru hubungi aku sekarang??"tanya suara di seberang sana dengan manja.
    "Biasa sayang, Tomy kan harus menenangkan dia dulu..."
    "Ugh! Bete deh. Dia lagi, dia lagi!! Aku selalu jadi nomor dua!!"
    "Bebeib, jangan ngambek dong...kamukan udah tahu konsekwensinya kalo jadi yang kedua??"
    "YA! Tapi aku capek deh selalu ngalah sama dia..."
    "Yang terpentingkan aku lebih sayang sama kamu dari pada dia..."
    "GOMBAL!!"
    "Beneraann..."
    "Apa buktinya?"
    "Apa selama ini kasih sayang aku ke kamu kurang heh??"
    "KURANG!!"
    "Ya udah, ntar aku ke sana ya...kita memadu kasih sepuasnya...tapi sekarang Tomy mesti kuliah dulu ya..."
    "Iya sayang, aku tunggu ya..."
    "Ya.. Dadah bebeib!"
    "Dadah sayang..."
    Tomy tersenyum dan mengecup ponselnya dengan bangga.
    "Sip! Dua-duanya udah gue tanganin!"kata Tomy dengan wajah cerah.
    ***

    Rayan yang lagi enak tidur tiba-tiba dibangunkan oleh ketukan di pintu kamar.
    "Siapaa??"tanya Rayan dengan nada malas.
    "gue Yan, Fandi!!"
    Rayan menarik nafas sebentar sambil menyibakkan selimutnya.
    Fandi adalah sahabat dekatnya.

    Tok..tok..!!

    "Bentar Fan! Gue pake celana dulu!"
    "Ngapain lu di dalam?"tanya Fandi.
    Rayan tak menjawab. Setelah memakai boxer-nya, ia langsung membuka pintu.
    "Lagi ngapain lu?"tanya Fandi.
    "Tidurrr..."
    "Jam segini tidur...hadeeehhh.."gumam Fandi sambil geleng-geleng kepala.
    "Dari pada ngosong..."
    "Si Tomy nggak ke sini?"
    "Baru aja satu jam-an dia dr sini..."
    "Sekarang di mana dia?"
    "Noh...ada di kolong ranjang!"jawab Rayan smbl menunjuk ke bawah ranjang.
    "Serius lu?"
    "Bego! Ya pulang lah! Ngapain dia ngumpet di sini??"
    Fandi nyengir kuda.
    "Heehhh...enaknya yang punya pacaarr..."gumam Fandi.
    "Makanya lu buruan pacaran juga dong...gak bosan lu nge-jombo terus?"
    "Belum ada yang 'klik' bro..."
    "Masa sih dari sekian banyak cowok yang suka sama lu gak ada yang menggetarkan hati lu? Asrul itu cakep lho, anaknya juga baek..."
    "Justru itu! Wajahnya itu kayaknya soleh banget. Gue gak tega menjerumuskan dia ke dunia abu-abu ini..."
    "Jiaahhh...!"
    Fandi terkekeh.
    "Tipe lu emangnya kayak gimana?"
    "Kayak lu atau Tomy juga boleh..."jawab Fandi lantas tergelak.
    Rayan ketawa ngakak.
    "Serius kok!"
    "Gue mau jadi pacar ban serep dari kalian..."
    "Percuma lu punya wajah cakep kalo cuma jadi ban serep, Fandiii..."
    "Gak apa-apa, asal bahagia, he..he..he.."
    "Emang saraf lu ya!"kata rayan sambil menjitak kepala fandi. "Wake up! Jadi ban serep mana bisa bahagia!!!"
    "Apaan sih?? Sakit tau..."gerutu Fandi.
    "Wake up!!"

    ***
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    Tanda kurang piknik: post gambar kurang piknik berkali2 for etensyen
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    17883496_1494014660720966_8958879210586117326_n.jpg?efg=eyJpIjoidCJ9&oh=4b21dc41f6cbf0242d16ffffdd5a0816&oe=598932F5
  • Re: gedein penis

    Suruh si Iyan ngisap, makin besar mungkin.
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    a0d134ed7c5d3f72140cd2e44749ff.jpg