BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Mimpi apakah kamu waktu tidur barusan?

    Mimpi dirangkul ama mas2 bewokan dan hairy :flushed:
  • Re: Mr.Cupid

    mention
    @amira_fujoshi @3ll0 @arifinselalusial @Beepe @Wook15 @kiki_h_n @reenoreno @Adityaa_okk @Gabriel_Valiant @animan @elul @TigerGirlz @bumbu @loafer_boy @diditwahyudicom1 @RegieAllvano @congcongcongcong
    @rebelicious @d_cetya

    Chapter 4 ‘’This Love?”

    KRIIIIIIIIIIINGGGGGGGGG...

    Telepon di rumah Maya berdering nyaring.

    “Ya, halo?”

    “May, gue nih.” Terdengar suara Yuda di seberang sana.

    “Hoaaaahhmmm... oh lo, Yud. Apaan sih, siang bolong gini nelepon? Gue lagi tidur siang, tau.”

    “Yeee... hari Minggu dipake tidur. Gembrot lo ntar, tau rasa. Trus kalo lo sibuk diet gue juga yang susah. Masa lo yang diet gue ikutan nggak boleh makan,” cerocos Yuda.

    Maya terkekeh. “Iya, iya, cerewet. Ada apa?”

    “Lo mau ikutan nggak sore ini?”

    “Kemana?”

    “Latihan jadi suporter tim sepak bola sekolah. Mereka kan mau ikutan liga.”

    “Kok suporter latihan?”

    “Usulnya Bu Dini tuh. kan kaptennya Sandy, jadi dia pengen dukungannya seheboh mungkin. Kita bakal latihan bikin ombak-ombak gitu deh. Sama yel-yel. Yuk, kelas kita wajib lho,” Yuda menjelaskan panjang-lebar.

    Maya memuntir-muntir kabel telepon. Sebenarnya hari ini dia mau berleha-leha sampai siang. Rese banget sih Bu Dini. Ganggu hari libur orang aja.

    “Yah... kalo gitu sih jawabannya musti iya dong,” jawab Maya.

    “Emang.”

    “Tio ikut?”

    “Ya ikut. Dia kan kegatelan. Biar latihan suporter doang, kan lumayan tuh buat cowok narsis kayak dia. Biar cewek-cewek pada nempel kali,” sungut Yuda.

    Maya tertawa geli. “Dia tuh suporter sejati. Lagian lo sewot amat si Tio doyan tampil gaya?”

    “Tampil gaya? Tampil heboh kali. Eh, kok lo belain dia sih? Emang lo suka ya sama si Tio?” pancing Yuda usil. Kali aja misinya langsung berhasil.

    “HAH?” pekikan Maya bikin Yuda nyaris budek. “Kok lo nanyanya aneh gitu sih? Masa gue naksir Tio? Lagian siapa yang belain? Lo ngaco banget sih, kayak baru kenal Tio aja. Dia kan emang gitu bawaannya,” cerocos Maya.

    “Iyaaaa... iyaaaa... kan siapa tau. Iseng aja gue nanya. Jadi intinya lo nggak naksir Tio, kan?”

    “Yuda!”

    “Iyaaa... iyaaa... ya udah. Jadi, lo jemput gue jam berapa?”

    Maya melotot. “Kok gue yang jemput? Kan lo yang ngajak?”

    Yuda cekikikan kayak kuntilanak. “Abis si Kuning dipake nge-date lagi sama Dika. Gue sumpahin mogok!”

    Maya menghela napas. Kelakuan. “Ya udah, jam setengah empat.”

    “Siiiipp. Udah ya? Mata nyokap gue udah mau keluar tuh, kebanyakan melototin gue. Bye.”

    Maya buru-buru lari ke kamarnya. Secepat kilat dia mengeluarkan baju-bajunya dari lemari. Nggak boleh saltum, harus modis, harus keren. Jarang-jarang kegiatan sekolah bisa pakai baju bebas.

    Akhirnya pilihan Maya jatuh pada jins Levi’s warna biru tua belel yang superhipster, tank top putih bentuk singlet yang lagi ngetren dengan gambar apel di tengahnya. Sepatu sneakers-nya yang berwarna putih bersetrip hijau sudah nangkring di depan lemari.

    Rupanya kegiatan Maya pilih-pilih baju cukup lama. Diliriknya jam dinding pink yang menggantung. Sudah jam setengah tiga. Ia buru-buru mandi, dandan, dan melaju ke rumah Yuda dengan BMW putihnya.

    Ponsel Maya berbunyi. “Halo?”

    “Sampe mana nih, May?” rupanya Yuda.

    “Gue sebentar lagi nyampe di depan pager rumah lo. Itung mundur aja dari sepuluh,” jawab Maya.

    “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu...” dengan tololnya Yuda nurut.

    “Mana???”

    “Kan gue bilang itung mundur dari sepuluh. Gue nggak bilang sampe berapa, kan?” Maya tersenyum penuh kemenangan.

    “Oke... min satu, min dua, min tiga...” lanjut Yuda. Tiio

    “Bloon! Nih gue udah sampe!” Maya cekikikan mendengar kelakuan sobatnya.

    Dilihatnya Yuda berlari-lari kecil menuju mobilnya. Yuda mengenakan T-shirt hijau, upeti dari Ike. Celana jinsnya model kebanjiran dengan sepatu boxing berwarna putih setrip hijau-hitam. Yuda itu memang cute, kayak orang Jepang.

    “Hehe... lo terlambat minus tiga detik,” celetuknya begitu masuk mobil.

    “Lol!”

    “Dari salon, May? Rambutnya lurus bener.”

    “Sirik. Rambut gue kan emang selalu indah,” canda Maya sambil mengibaskan rambutnya, lalu menjawil rambut Yuda. “Abis duduk dalam pesawat jet, Ka? Kok rambutnya berdiri semua?” balasnya.

    Yuda ngakak. “Rambut gue kan selalu berdiri. Melambangkan kemerdekaan,” jawabnya asal.

    Maya kembali memacu mobilnya menuju rumah Tio. Cowok itu dengan segala usaha juga minta dijemput. Kalau jalan sendiri naik bus takut keringetan katanya. Dasar.

    Rumah Tio lumayan jauh dari rumah Yuda, tapi memang searah menuju lapangan sekolah. Di depan pagar rumahnya Tio tampak sudah nangkring dengan manis. Bibirnya komat-kamit kepanasan.

    DIIIIIIIIIIINNNNN!

    “Eh, copot, lepas, copot...!” jeritnya latah.

    “Buruan naik,” ledek Yuda sambil membukakan pintu belakang.

    Dandanan Tio heboh berat. Kaus kutung warna merah bertuliskan “I’m the one you love” berwarna ungu tua. Celananya dong. Celana jins pipa ala Tao Ming Tse warna hitam, ikat pinggang paku-paku, dan... sepatu model Doc Mart. Rambutnya? Pakai bandana Tao Ming Tse juga. Ya ampuuuuuuunn...

    Pertahanan Maya menahan tawa jebol. “Hahahha... lo mau kemana sih, Yo? Heboh banget. Pesta kostum?” jerit Maya histeris.

    Yang disindir cuma mendelik.

    “Kalo gue keren yang untung kan kalian-kalian juga,” ucap Tio akhirnya.

    “Iya nih, Maya. Sirik aja kalo Tio mau ikutan lomba mirip Tao Ming Tse,” timpal Yuda ngakak nggak kalah geli. “Masa lo nggak sadar Tio mirip banget Tao Ming Tse sih, May? Lo nggak sadar Tio keren banget?”

    Tio melotot galak. Katanya mau bantuin. Kok ekstrim gitu.

    “Tao Ming Tse, mei youw la... hahahah!” Yuda lebih histeris lagi.

    Tio bersungut-sungut kesal. Dasar nggak setia kawan. “Udah diem! Gue turun nih!” rajuknya.

    “Daaaaaaaaaahhh...!” Maya dan Yuda berbarengan bikin Tio tambah kesel.

    *****

    “Tuh si Kevin. Rajin juga tuh anak baru,” tunjuk Tio ke luar jendela.

    “Hah, mana?” jawab Yuda ogah-ogahan.

    Maya masih berkutat parkir paralel. Dia paling benci parkir paralel. Kayaknya Maya udah pernah nabrak lima kali waktu lagi parkir paralel.

    “Tuh, tuh...” tunjuk Tio lagi.

    Yuda mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Tio. Dilihatnya Kevin dengan pakaian kasual sedang melangkah menuju stadion. Rambutnya tetap tersisir rapi seperti biasa. Kacamatanya juga bertengger manis di hidung mancungnya.

    “Lo berdua kenapa sih? Kan wajar banget Kevin disini. Pertama, dia anak kelas kita. Kedua, apa anehnya anak cowok main di stadion?” selidik Maya usul.

    “Tau nih, Yuda.”

    “Yeee... kok gue sih?” Yuda sewot.

    Maya cuma geleng-geleng melihat dua makhluk ajaib itu.
    “Udah nih, parkirnya?” tanya Yuda saat mobil Maya benar-benar berhenti.

    “Udah deh, nggak usah kurang ajar.” Maya memasang kunci setir dan merapikan dandanannya lewat spion.

    “Maksud Yuda, parkirnya kok nggak bunyi, May? Tumben,” sambung Tio serasa dapat angin.
    Maya melotot dan buru-buru keluar dari mobil diikuti Yuda dan Tio.

    Dari kejauhan Yuda masih bisa melihat sosok Kevin berjalan santai menuju lapangan. Dia terlihat berbeda dengan baju bebas. Celana jins gombrongnya terlihat begitu pas dengan T-shirt merah marun yang ia kenakan.

    “Ternyata si Kevin modis juga ya, Yud?” ucap Maya seperti membaca pikiran Yuda.

    Yuda mengangguk serius. Biarpun tidak melepas kacamatanya, Kevin tetap terlihat lain tanpa seragam sekolahnya.

    “Yo, ampun deh. Jangan melongo gitu. Terpesona sih terpesona, kesambet baru tau!” Yuda menepuk tangan Tio.

    Pastinya Tio bukan terpesona. Tapi waspada terhadap ancaman. Kayaknya Kevin berpotensi jadi saingan baru nih.
    Di dalam arena sepak bola yang berbentuk stadion itu sudah penuh sesak. Sebagian besar bergaya pol-polan agar terlihat mencolok.

    “Tau nggak lo? Ini kalo burung udah kayak musim kawin. Liatin aja pada heboh gini. Betina menarik perhatian sang jantan... kuurrr... kuurrrr...” celoteh Yuda sambil melihat ke sekelilingnya.

    Pandangannya tertuju pada Kevin yang ternyata duduk tiga baris di depannya. Dia terlihat asyik sendiri memandang ke arah lapangan. Pasti dia sendirian karena Obuet ikut main dalam tim dan Sandy belum datang. Atau mungkin dia melamun karena ingat masa jayanya waktu di Amrik. Segala kemungkinan itu mengusik pikiran Yuda yang selalu ingin tahu.

    “Kok si Kevin bawa gembolan sih? Dia mau ikut main kali ya?” ucap Maya sambil dengan anggun—seperti biasa—menyibakkan rambut.

    “Nggak mungkin,” jawaban Yuda terdengar pasti, ia masih ingat obrolan tiga cowok itu tentang kaki Kevin yang terkilir.

    “Tuh, buktinya dia duduk di kursi penonton kayak kita,” tunjuk Yuda.

    “Iya sih... tapi kali aja dia cadangan,” Maya masih ngotot.

    “Neng, di mana-mana cadangan duduknya juga bareng tim yang lain di lapangan. Masa di kursi penonton? Kayak lagi nyamar aja. David Beckham iya nyamar, nah Kevin?” Yuda merepet dengan tampang sok jenius.

    Tak lama kemudian terlihat Bu Dini melangkah dengan gaya Miss World ke depan tribun. Tangannya memegang tongkat konduktor paduan suara. Gayanya pol abis.

    “Busyet, dikira kita mau paduan suara buat world choir, kali ya?” bisik Yuda ke kuping Maya.

    “Hihihi... gue rasa ini yel-yel berirama klasik. Aliran Pavarotti gitu.”

    “Heh lo berdua! Mending pada diem deh, ntar dibikin malu lagi kayak si Yuda. Di depan kelas lumayan, nah ini di depan stadion. Gosipnya bisa nyampe satu kelurahan.” Tio menyikut Maya dan Yuda. Ini anak memang kadang suka hiperbolis.

    Terlihat Bu Dini memegang pengeras suara alias toa dan siap-siap berkoar.

    “Anak-anakku sekalian...” mulainya dengan suara menggelegar. “Seperti kalian tahu, minggu depan tim kita akan ikut liga SMA. Untuk mendukung mereka, kita pun harus berlatih menjadi suporter yang baik agar mereka bersemangat.”

    Suara Bu Dini berapi-api sambil mengepalkan tinju ke udara. Semangat apa ngajak berantem sih sebenarnya?

    “Bagaimana, kalian sudah tau teksnya?”

    “SUDAH, BU...” jawab anak-anak serempak.

    Akhirnya, dengan segala daya dan upaya mereka berlatih gerakan-gerakan ajaib yang diminta Bu Dini. Bagaimanapun juga, ini toh untuk tim sekolah mereka juga.

    Latihan suporter tersebut berlangsung kira-kira satu jam. Bibir mereka nyaris bengkak permanen akibat terlalu sering teriak-teriak.

    “Duh, bibir gue perih nih. Jontor, lagi,” keluh Yuda sambil mengusap bibirnya.

    “Bagus, kan, kayak Angelina Jolie,” sahut Maya nggak penting. Angelina Jolie apaan, kayak kesengat tawon iya. Bengkak gini.

    “Yo, bibir lo aman-aman aja?” Yuda melirik bibir Tio. Yang punya bibir malah sibuk sok ngulum-ngulum bibir.

    “Oi! Gue pengen liat bibir lo.” Jari telunjuk Yuda menusuk pinggang Tio.

    “Auwwwwww...”

    “Ahahaha-hahahah... bibir paling parah. Parah!” Yuda tergelak geli melihat bibir Tio yang manyun gede banget kayak baru ditonjok Mike Tyson.

    “Tuh, kan... udah liat malah dihina,” rajuk Tio pasrah.

    Dengan bibir manyun semua ketiganya menuju mobil Maya. Mereka mau buru-buru pulang sebelum Bu Dini tiba-tiba dapat ide gila yang lain lagi. Ih, no way. Nehi.

    “Coffee Bean, yuk?” ajak Maya. Ia memasukkan kunci kontak mobil. Hari ini memang cerah banget, rugi kalau langsung pulang. Apalagi salah satu hobi Maya memang nongkrong di kafe.

    “Yah... sayang banget, May. Hari ini budget gue cuma cukup buat beli batagor.” Yuda mengeluarkan beberapa lembar ribuan dari kantongnya.

    “Gue lupa bawa dompet. Lagian gue lagi nabung,” sambung Tio.

    “Buat kawin lari?” tanya Yuda jail.

    “Ya udah, ya udah. Gue yang bayar, gimana? Tapi gue yang order. Kalian tinggal pasrah doang. Oke, nggak?” tawar Maya bagai hujan di musim kemarau buat kedua temannya.
    Kepala cepak Yuda dan kepala berambut Hua Zhe Lei Tio mengangguk bareng.

    “Tapi pasti ntar gue ganti uang lo, May. Atau gue traktir lo balik bulan depan. Beneran deh, gue traktir lo bulan depan. Beneran deh, gue lupa bawa dompet. Bukannya gue lagi nggak punya uang lho.” Mati-matian Tio ngeles. Gila apa, kepergok bokek di depan kecengan?

    Yuda melirik sambil cekikikan.

    “Nyantai aja, lagi, Yo. Lo kok panik gitu sih? Emangnya kalo lo lagi nggak punya duit kenapa?” Maya menghidupkan mesin dan berusaha keluar dari posisi parkir paralelnya.

    “Here we go again....” Yuda memasang sabuk pengamannya, lalu bersandar tegang.
    Tio yang panik langsung ikut tegang.

    “Huh! Mana sih orangnya? Kok belum balik? Susah, kan, ngeluarin mobilnya,” rutuk Maya putus asa. Jeep double cabin di depannya benar-benar mepet. Buat orang normal jarak segitu masih bisa maju-mundur keluar dari parkir. Tapi Maya? Boro-boro maju-mundur, nginjek gas aja nggak berani.

    “Mana bannya gede-gede, lagi. Mobil gue bisa gepeng,” lanjutnya sambil tetap tidak tega menginjak gas.

    “Ada yang mau ngeluarin, nggak?” ia menawarkan pada kedua penumpangnya.

    “Nggak deh, kalo nabrak ntar gue yang disemprot, lagi. Mana tu mobil serem gitu. Yang punya kayaknya lebih serem lagi,” tolak Yuda.

    Maya menoleh pada Tio.

    “May, lo bukannya tau kendaraan paling canggih yang bisa gue setir baru sampe tahap motor bebek? Itu aja sering kecebur got.”

    “Gimana lo mau ngajak Maya kencan... auw!” pekik Yuda waktu Tio menjewer kupingnya. Yuda menyipitkan mata ketika di kaca spion dilihatnya Kevin datang ke arah mereka.

    “Ada Kevin tuh.”

    “Terus kenapa? Lo naksir dia, Ka? Kok tau aja dia dateng?” selidik Maya.

    “Yeee.... curigaan aja. Gue kan berusaha cari bala bantuan. Lo minta aja dia ngeluarin mobil ini. Masa dia nggak bisa nyetir sih? Atau minta tolong aja dia dorongin tu mobil gajah, masa nggak kuat. Lagian kan ada Tio.” Ada-ada saja ide Yuda waktu lagi mepet begini.

    Emang dasar anak ajaib, waktu Kevin sampai, dengan cuek Yuda membuka jendela dan melongok keluar.

    “Vin! Vin! Vin! Hei,!” panggilnya setengah berteriak.

    Kevin menoleh ke arah Yuda dan melempar senyum misteriusnya seperti biasa.

    “Ada apa?” tanya Kevin sopan sambil menghampiri Yuda. Gayanya ya biasa, cool and confident.
    Dalam hati Yuda bertanya-tanya usil. Kevin sebenarnya emang ramah dan cool atau jaim sih? Jadi orang kok tenang bener.

    “Vin, tolongin kita-kita dooongg,” rengeknya nggak tahu malu. Jelas-jelas mereka nggak akrab bicaranya sok manja gitu. Genit.

    “Mogok?” tanya Kevin simpatik.

    “Bukan. Hehee... nggak biasa parkir paralel. Nggg... nggak bisa keluar. Dia lho, dia,” jelas Yuda sambil menunjuk Maya yang merengut.

    Yuda menggaruk kepala. “Jadi, bisa keluarin mobil ini atau dorong mobil gajah itu biar menjauh?” pintanya dengan sangat malu. Hari gini masa Maya nggak becus parkir paralel. Dasar SIM tembak.
    Kevin mengulum senyum. “Bisa,” jawabnya santai.

    Yuda memekik kegirangan. Coffee Bean, here we come!

    “Eh, Vin... perlu gue bantuin dorong?” tanya Yuda antusias dan langsung melompat turun dari mobil.

    “Nggak usah, lo duduk di mobil aja.”

    Dengan santai Kevin berjalan ke arah mobil raksasa itu.

    “Wah, turunan Hercules nih. Dorong mobil segede mushola sendirian,” celetuk Yuda takjub melihat Kevin berjalan menuju Jeep itu dengan heroik. Tapi... tapi... lho? Lho?

    Pip, pip. Kevin mengarahkan remote kunci ke arah mobil itu. tangannya bersiap meraih handel pintu.

    “Sori banget ya, jadi ngalangin jalan,” ujarnya kalem sambil mengangguk berpamitan.

    Tio di mobil Maya cuma bisa melongo menyaksikan kejadian tadi. Nggak nyangka, Kevin si kalem mobilnya sangar banget.
    Kevin menstarter mobilnya dan keluar dari parkiran. Tampangnya jadi sedikit beda di belakang kemudi mobil macho itu. Keren.

    “Nggak nyangka gue, dia bawa mobil begituan,” celetuk Maya.
    Yuda manggut-manggut setuju. “Iya. Gue pikir paling sangar mobilnya van doang.”

    “Itu sih di mana sangarnya? Mobil keluarga sih iya.” Yuda yang memang buta mobil cuma cengegesan.

    “Akhirnya...” Dengan lega Maya menginjak gas dan maju dengan lancar.

    “Emang dasar nggak pro. Masa ada orang nyetir nggak bisa parkir,” ledek Yuda.

    “Khusus parkir paralel doang! Parkir normal gue bisa, lagi!” balas Maya ketus

    *****

    SETUMPUK bendera warna-warni dan spanduk raksasa tergeletak di atas meja Yuda. Sore ini hari H-nya liga SMA yang bikin heboh itu. Sialnya, Yuda dapat tugas jadi koordinator suporter kelas mereka.

    “Gila, kenapa musti gue, coba? Emang gue ada tampang suporter sejati? Emang gue punya tampang maniak bola? Mana ni bendera bau, lagi. Bekas kali!!!!” Mulut kecil Yuda merepet persis petasan banting. Berisik banget.

    Rambut cepaknya jadi kusut karena keseringan digaruk-garuk pake tangan dibantu dengan tenaga dalam.

    Tio buru-buru ambil tindakan bantu-bantu Yuda, sebelum mejanya yang nempel sama meja Yuda ikut diobrak-abrik.

    “jangan ngamuk gitu dong. Sini, sini gue bantuin. Lagian ada untungnya lho dapet kepercayaan gini...” ujar Tio sok bijak.

    Tangannya sibuk memilah bendera-bendera kecil untuk dibagi-bagikan.

    Yuda melotot sampai matanya jadi gede banget. “APA? Ayo sebutin satu keuntungannya... SEBUTIN!!!”

    Tio jadi gelagapan. “Em... anu... untungnya... untungnya... satu ya?”

    “Apa hayo, apa???” cecar Yuda rese.

    “Yeee... kok jadi marah sih? Kan gue cuma berusaha menghibur.”

    Bibir Yuda makin manyun. Tangannya kembali sibuk mengobrak-abrik bendera-bendera suporter yang menggunung di mejanya.

    Maya akhirnya datang sambil melenggang santai. Dia tampak bingung melihat Yuda dan Tio sibuk dengan setumpuk kain warna-warni di depan mereka.

    “Woi! Pada ngapain sih? Sumbangan buat korban banjir ya?” tanya Maya polos dengan suaranya seperti biasa, lembut dan mendayu-dayu. Tapi kalimatnya bikin Yuda dan Tio melongo.

    “Hah? Pertanyaannya ada yang lebih intelek nggak? Masa iya kain-kain nggak jelas bentuknya gini buat korban banjir? Mau buat apaan? Ngepel?”

    Yuda darah tinggi. Tio yang sesak napas mencium bau tumpukan kain di depannya sudah nggak bisa ngomong lagi, cuma bisa mengangguk penuh semangat.

    “Lho, kok jadi darah tinggi gitu? Gue kan cuma nanya. Lagian ini apaan sih?”

    “Bu Dini, wali kelas kebanggaan kita itu, tiba-tiba memercayakan tugas mulia ini ke gue. Ternyata hukuman gara-gara gue terlambat belum berakhir,” keluh Yuda panjang-lebar.

    “Tugas mulia apa?” Maya masih belum mengerti juga.

    “Jadi koordinator suporter kita yang heboh itu,” jawab Yuda putus asa.

    “Lo nggak ada niat bantuin kita, May? Cuma mau nonton doang?” tanyanya lemas.

    Maya meletakkan tas di bangku Tio dan langsung ikut sibuk sebelum rambut Yuda tambah jigrak karena meledak marah.
    Tiba-tiba sepasang tangan lain ikut membantu.

    “K-Kevin...?” saking kagetnya, Yuda cuma bisa bilang begitu, mirip adegan sinetron. Norak banget.

    “Kalo bertiga doang, kapan beresnya?” jawab Kevin pendek dan terus bekerja sambil diam.

    Pekerjaan memilah-milah bendera berlangsung hening. Yuda yang paling nggak bisa diam mulai jebol pertahanannya. Kalau semua pada ikut diam gara-gara Kevin, bisa-bisa jadi bisu beneran.

    “Vin, mobil lo gede banget ya? Nggak berat tuh?” Yuda memulai pembicaraan dengan topik yang sangat tidak penting. Memangnya mobil buat diangkat-angkat, apa?

    “Nggak berat kok, mobil gede gitu enak, mantep. Tapi gue lebih suka kalo setirnya agak berat,” jawab Kevin sambil terus menatap bendera-bendera di tangannya dari balik kacamatanya.

    “Kok gitu?” Maya ikut nimbrung.

    “Kalo buat gue, mobil Jeep gitu lebih enak sedikit berat. Biar nggak oleng.”

    “Lo suka Jeep ya?” tanya Yuda masih penasaran.

    Kevin mengangguk. “Gue suka banget offroad,” jawabnya sambil tersenyum, tampak senang dengan pertanyaan Yuda.
    Hah? Offroad? Yuda terkaget-kaget dalam hati. Si pendiam satu ini penuh kejutan juga. Pemain sepak bola, offroader. Yuda jadi mulai kagum sama Kevin. Tanpa sadar pipi Yuda bersemu merah. Aduuuhhh... kok jadi kagum sama Kevin? Masa naksir sih? Yuda menggeleng-geleng tak percaya.

    “Yud, Yud... lo kenapa? Pusing ya? Pusing?” Tio panik melihat Yuda geleng-geleng kepala.

    “Lo mau gue anter ke UKS? Lo kebanyakan nunduk kali, Yud.”
    Duh, Kevin ikut-ikutan, lagi. Yuda geleng-geleng tambah kenceng. Jelek banget. Mana muka Kevin deket banget, lagi.

    Deg! Deg!! Deg!!!

    Wuih... sepasang mata di balik kacamata minusnya ternyata keren juga. Mampus gue, masa sih gue beneran naksir Kevin? Ucap Yuda dalam hati.

    Maya mengguncang-guncang bahu Yuda tiba-tiba, ngeh kalau Yuda mulai kehilangan kewarasannya. Hehehe.

    “Lo kenapa sih?”

    Yuda tersadar dan langsung malu. “Ah... eh... nggak, nggak. Gue nggak pa-pa. Tau-tau gue kayak terbayang-bayang lagunya Maroon 5, This Love. Tau, kan... This love..” begitu sadar Yuda jadi tolol dan nyanyi Maroon 5 sambil cengengesan.

    Maya menatap Yuda curiga. “Lo kebayang Maroon 5 atau house music? Kok gedek-gedek gitu, kayak orang tripping,” selidiknya.

    Kevin dan Tio cengengesan bingung. Aneh banget sih.
    Mereka mulai sibuk lagi. Tapi sekarang benar-benar dalam diam. Yang lain diam kebingungan, Yuda diam melamun. Wah, kayaknya dia bener-bener suka.

    Ah, kenapa musti Kevin sih? Cowok gagu gitu. Mana mungkin gue yang nyatain duluan? Lagian PDKT-nya mau sampe kapan? Mending kalo dia juga suka sama gue. Orang dia baik banget sama semua orang. Ramah sama semua orang, biarpun dengan gayanya yang dingin itu. Yang paling penting emang dia suka cowok kayak gue?

    Jangan – jangan dia straigt? siapa tahu dia udah punya cewek. Ah, pendiam begitu mana mau pacaran? Lupain aja deh, Yuda ngedumel bimbang dalam hati.Yuda membalas tatapan Tio yang dari tadi melirik ke arahnya. Tiomendelik-delik memberi kode “lo kenapa sih?”

    “Beressss...” Sambil merentangkan tangannya Yuda berteriak lega.

    “Busyeeetttttttttt, tangan gue bau banget. Gue cuci tangan dulu, ya,” Tio melesat ke kamar mandi.

    “Iya nih, bau banget. Gue juga ah.” Maya ikut-ikutan.

    “Kayaknya kalian musti lari deh. Bentar lagi Pak Dave masuk,” Yuda mengingatkan sambil memasukkan bendera-bendera tadi ke kardus mie instan.

    “Lo nggak cuci tangan?” tanya Kevin.

    “Nggak ah. Males gue. Ntar aja kalo gue udah megang bendera-bendera bau ini sepuluh kali, baru gue cuci tangan,” jawab Yuda asal.

    Kevin nyengir. Dasar gokil. “Ya udah, gue balik ke bangku gue dulu,” katanya sambil melengang pergi.

    “Thanks ya, Vin...” Yuda melambaikan tangan lemas. Jantungnya sudah normal kembali. Pasti tadi cuma karena muka Kevin terlalu dekat, dan cowok itu ngomongin hal-hal keren yang bisa bikin cewek berimajinasi yang keren-keren pula.

    “Fiuuuuhh... ternyata tadi perasaan doang.” Yuda membuang napas lega.
  • Re: Mr.Cupid

    summon!!!
    @amira_fujoshi @3ll0 @arifinselalusial @Beepe @[email protected]_h_n @reenoreno @Adityaa_okk @Gabriel_Valiant @animan @elul @TigerGirlz @bumbu


    Chapter 3 “Looking At You”

    HARI INI Yuda datang kecepatan. Kapok rupanya kena marah Bu Dini. Yuda mencoret-coret halaman belakang bukunya. Order lagi sepi nih, belum ada klien baru setelah Ike yang happy ending sama Si Judes.

    “Pagi, Yud...” rupanya Tio si cowok gaya.

    “Yo, kok sepi sih?”

    “Yeee... kita aja kali yang kerajinan. Biasanya jam segini mah emang sepi,” tukasnya sambil sesekai mengusap rambutnya yang rapi dengan jemarinya.

    “Nah, lo ada apa datang pagi banget?” Yuda mengeluarkan sebatang cokelat.“Mau?”

    “Nggak ah. Gue lagi persiapan kasting iklan jamu pinter buat pelajar. Gue nggak mau dong ada jerawat yang nongol pas gue kasting.”

    Yuda cengengesan.“Iklan jamu anti bolot maksud lo?”
    Tio mencibir.“Jamu pinter buat pelajar.”

    “Yaaahh, terserah lo deh. Tapi kalo lo jerawatan kan bisa sekalian main iklan jamu untuk jerawat dan bisul. Ya, nggak?” Tio cemberut. Dasar sadis sobatnya yang satu ini.` Beda banget sama Maya yang baik dan lemah lembut. Dia udah naksir Maya sejak SMP. Dan untungnya, berkat makhluk tengil bernama Yuda, dia jadi bisa bersahabat dengan Maya.

    Biarpun mereka bertiga dikenal sebagai tiga sahabat, Tio tetap memendam rasa suka buat Maya. Biarpun Maya nggak sadar dan cuek gonta-ganti pacar. Tio yakin, suatu saat, apalagi kalau dia sudah jadi artis terkenal, Maya pasti berpaling padanya. Jadi, bisa aja kan iklan jamu pinter buat pelajar ini menjadi gerbangnya menuju kesuksesan karier dan cinta?

    “Eh, Yo, ngapain lo dateng pagi-pagi? Kok nggak jawab? Sebelum lo nanya, kalo gue males kena semprot bu Dini.Tengsin.”

    Tio terkikik. “Lumayan, kan, duduk di meja guru. Kapan lagi coba?”

    “Sialan lo.”

    “Yuda, gini lho, gue punya misi buat lo. Kebetulan lo datang pagi.”

    Alis Yuda bertaut bingung.“Misi?”

    “Iya... misi. Mau ya, terima misi gue?”Tio setengah memaksa.

    “Eits, eits.Tunggu, tunggu. Lo mau make jasa mak comblang gue? Mau nyoba panah asmara gue?!” Yuda histeris.“Lo naksir cewek??? Horeee...!!!

    Boleh, boleh. Who’s the lucky girl, my man?” Yuda menepuk-nepuk punggung Tio heboh. “Nggak nyangka prinsip playboy cap eceng gondok lo luntur juga. Jadi akhirnya hati lo terpaut satu cewek nih?”

    Yuda terdiam ketika melihat Tio menatapnya dengan pandangan please-deh-Ka-gue-belum-selesai-ngomong. Yuda malah bikin Tio makin grogi.Siapa yang nggak grogi, coba? Jelas-jelas selama ini Tio sok berikrar nggak mau terikat pada satu cewek. Apalagi saat ia menapaki jalan emas menuju ketenaran.

    “Oke, oke. Cerita, cerita. But still... I’m very happy for you. Hehe.”Yudatidak bisa menahan girang karena Tio naksir seseorang. Tio menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan slow motion Tio meraih tanganYuda.

    “Lo nggak naksir gue, kan, Yo?” bisik Yuda panik.
    Tio melotot.Gerakan dramatisnya gagal. “Ya nggak lah, mimpi apa gue naksir lo?”

    Susah payah Yuda menahan tawa.“Oke.Oke. Ulang, ulang. Pegang tangan gue lagi.” Yuda meletakkan tangan Tio di tempat semula.

    Tio manyun.“To the point aja deh.”

    “Bagus, Siapa?”Yuda mencondongkan kepalanya.

    “Gue... suka sama... si... -Maya,” ucap Tio sambil berbisik, lalu meringis.

    “HAH?” Yuda histeris. Jadi selama ini...

    “Sssst...” tangan Tio dengan cepat membungkam mulut ember Yuda.

    “Jangan ngejerit dong ah.”

    Tiba-tiba sosok Kevin terlihat memasuki kelas. Mereka berdua langsung terdiam.

    “Oke, Tio. Ini masalah serius buat profesi gue, juga persahabatan kita bertiga. Kita obrolin nanti, pas istirahat. Di Suman aula, oke?” desis Yuda di kuping Tio.

    Tio mengangguk-angguk. Matanya menatap kagum ke arah Maya—yang baru datang dan kini asyik membolak-balik PR nya—malah kelihatannya sebentar lagi ngiler. Ih.

    “Tio, entah cuma perasaan gue, atau emang dari tadi lo ngeliatin gue? Mau pinjem PR, ya?” Maya yang tiba-tiba berbalik membuat Tio serasa kepergok nyolong ayam di halaman tetangga.

    “Eh, nggak. Emangnya gue nggak boleh liat ke sana?” elaknya asal.

    Yuda cekikikan. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Kevin, yang sedang tenang meletakkan buku-bukunya di meja. Dia terlihat menulis sesuatu di bukunya. PR kali. Seminggu sudah Kevin jadi anak baru, tapi sepengetahuan Yuda, Kevin belum banyak teman. Cuma Sandy dan Ray yang duduk di Sumannya terlihat agak akrab dengannya. Kacamata minus Kevin yang berbingkai kotak memang mewakili otaknya yang cemerlang.
    Dia begitu dingin, Lempeng, Cuek, Atau pemalu ya?

    *****

    “Kira-kira jadi saingan lo nggak tuh anak baru?” goda Yuda sambil menyikut Tio.

    “Maksud lo?” Tio menyibakkan poni Hua Ce Lei-nya.

    “Maksudnya, ada kemungkinan dong fans-fans lo beralih ke dia. Anak baru lho, dari Amrik, lagi.” Yuda makin jail. Dia tau banget Tio paling takut kehilangan fans. Apalagi kalau sampai kalah tenar.

    Tak lama kemudian Maya beranjak dari bangkunya. Rambutnya diikat tinggi, langkahnya anggun menghampiri bangku Yuda dan Tio.

    “Tuh, buruan lo dateng.”

    “Jangan ngeledek terus dong, Yud. Mana lo mau pake acara nyidang gue di Suman aula segala, lagi. Biar gue menikmati kecantikan Maya kek. Bosen gue liat duri landak di kepala lo.”
    Yuda mendelik sewot.

    “Pokoknya awas kalo Maya sekarang sampe curiga,” ancam Tio.

    “Pada gosip apa sih?” Maya duduk nyempil di bangku Yuda.

    “Mamat,” Tio asal sebut. Entah apa yang lewat di kepalanya sampai-sampai ia menyebut nama Mamat.

    “Mamat? Siapa Mamat? Anak baru lagi?” Maya sibuk mencari-cari di sekeliling kelas. “Mana?”

    Tio menatap Yuda panik. Matanya berkedip-kedip hebat minta bantuan.

    “Mamat tuh kembaran lo,” tambah Yuda. Maya tambah bingung.

    Yuda menahan tawa melihat Maya kebingungan, hidungnya kembang-kempis. Dia tahu Maya paling nggak tahan kalau tahu Yuda punya rahasia sama orang lain.

    “Serius deh, Yud,” sungut Maya sambil merengut. Kayak belalang sembah.

    “Nggak! Nggaaaak...! Lo gampang banget diboongin, lagian makhluk satu ini aja lo percaya. Maklum, ada anak baru, cowok keren pula. Berpotensi banget buat menandingin popularitas abang satu ini hehehe...”

    Mendengar jawaban Yuda, sepotong penghapus Pelican melayang ke jidatnya.

    “Aduhhh! Tio, awas lo...”

    “Hihihi...”

    Kevin masih tampak tenang dan hening di seberang sana. Mulutnya tampak mengunyah permen karet. Jarinya memutar-mutar pensil.

    “Vin ! Lagi bikin PR, ya?Mau nyontek punya gue? Atau punya Tio? Dia jago fisika lhooo...” teriak Yuda tiba-tiba.

    “Auw!” jemari raksasa Tio mencubit lengan Yuda.
    Kevin menatap Yuda dan tersenyum tipis.

    “No, thanks... Yuda,” jawabnya kalem.

    “Ah, menurut gue dia biasa-biasa aja. Nggak keren-keren amat. Kayaknya

    bukan tipe yang bakal digila-gilai cewek,” bisik Tio sirik.
    “Kevin, katanya Tio... Hmphhh.

    Yuda terempas keras ke kursi ketika Tio membekap mulutnya

    “Ugh! Tio... lo pikir lo mafia Italia ya, pake bekep-bekep mulut orang! Tangan lo... aduuhhh. Berapa bulan purnama nggak lo cuci, hah?!”Yudabersungut-sungut sambil mengusap pantatnya yang linu.

    Kevin menatap sebentar insiden lucu itu. Lagi-lagi tersenyum sekilas, lalu kembali asyik dengan buku PR-nya.

    “Brrr... dingiiiiiiinn. Cool banget yeee boowww?” celetuk Maya cuek.

    Satu per satu penghuni kelas II E berdatangan. Kevin tampak mulai berbaur dengan cowok-cowok di sekitarnya, terutama dengan Sandy dan Ray. Dua cowok ini termasuk deretan papan atas cowok most wanted di sekolah. Tentunya juga termasuk deretan saingan terberat Tio.

    Sandy kapten tim basket sekolah merangkap wartawan mading. Badannya tinggi banget, 180 centimeter. Buat Yuda, Sandy tu persis raksasa. Dengan body-nya yang cuma 160 centimeter pas, Yuda bisa sakit leher tiga hari tiga malam kalau ngobrol berlama-lama dengan Sandy.

    Terus ada Ray. Dia kapten kesebelasan sepak bola sekolah. Tampangnya cool, kulitnya cokelat terbakar matahari. Tingginya sih cuma 168 centimeter, tapi buat cewek-cewek, Ray itu seksi. Pokoknya harus menyaingi cowok dua ini, Tio harus modal dandan habis-habisan. Berpenampilan dan bergaya seperti model catwalk papan atas.

    Kevin tampak lucu berkumpul akrab dengan mereka. Kevin berkulit putih (kelamaan kena salju, kali), tinggi juga sekitar 175 centimeter, body-nya ramping berisi, istilah Maya sih body cowok gaul zaman sekarang. Kacamatanya itu lho, bikin dia terlihat serius dan jarang olah raga (sok tahu banget).

    “Vin, lo tau nggak, bakal ada kompetisi fisika antar sekolah?” tanya Sandysambil sibuk menyalin PR.

    “Tau,” jawab Kevin pendek.

    “Vin, Vin... maksud si Sandy, lo nggak minat ngikut?” sambung Ray yang juga sedang menyalin PR dengan gerakan superkilat. Kadang-kadang dia meringis kesakitan karena tiba-tiba jarinya keram dan nggak bisa ditekuk.

    “Oh. Mau, kayaknya. Tapi gue rada males ikut prosedur pendaftarannya. Mana pake interview segala.”

    “Wah, gile, kepinteran tingkat tinggi nih. Kayaknya udah nyaris level olimpiade,” gumam Yuda yang menguping sedari tadi. Maya yang masih nyempil di sebelah Yuda, mengernyit.

    “Kok lo usil ke si Kevin sih? Ada klien yang suka? Atau... lo naksir dia?” bisik Maya jail.

    Mata Yuda kontan melotot mendengar ucapan Maya.“Enak aja. Batu es gitu, bisa beku gue dicuekin. Cinta perlu kehangatan, tau!” semprot Yuda.

    Maya cekikikan geli. “Sok tau ya lo, kayak pernah jatuh cinta aja.”

    Kontan tangan Yuda yang lincah menjambak kucir kuda Maya.

    “Eh, woi, bisa tenang nggak seeeeeeeehh???” kata Tio.

    “Diem lo,” balas Yuda dan Maya kompak, lalu tertawa berbarengan.

    Sementara itu Kevin, Sandy, dan Ray masih sibuk berdiskusi tentang kompetisi fisika, walaupun sebenarnya di antara mereka cuma Kevin yang mengerti apa itu fisika.

    *****

    Akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Biarpun bunyi bel yang bernada lagu Kuch Kuch Hota Hai itu benar-benar bikin malu (bayangin apa kata sekolah sebelah), tapi bunyi bel itu tetep bikin seisi sekolah melek lagi. Apalagi Yuda. Akibat kehiperaktifannya, dia paling nggak tahan disuruh duduk diam.

    “Tio, buruan ikut gue.”

    “Iya, iya. Nggak sabaran amat sih.” Dengan malas-malasan Tio bangkit dari kursinya.

    Yuda dan Tio berjalan tergopoh-gopoh ke arah taman di Suman aula.

    “Jalannya cepetan dikit dooong. Lelet banget sih, kayak orang kebelet pipis,” sungut Yuda kesal sambil menyeret Tio. Ini anak apa nggak bisa gesit semenit pun, ya?

    Akhirnya mereka sampai di bangku besi di bawah pohon beringin. Napas Tio tersengal-sengal akibat diseret-seret Yuda. Dasar tukang dandan.Giliran disuruh olahraga malesnya minta ampun.

    “Oke, Tio. Lo udah gila ya, naksir Maya?” cecar Yuda to the point.

    “Yeee... kok malah dimarahin? Hak asasi dong, Ka, gue naksir Maya. Emang apa salahnya?

    Yuda geram dan mencubit tangan Tio. “Iya, gue ngerti, tapi lo udah gila ya?” semprot Yuda lagi. “Dia kan sahabat kita.”
    Tio mengangkat kedua tangannya. “So?”

    “So, gue nggak mau. Nggak mau. Titik. Berarti selama ini lo ada maksud terselubung dong deket-deket Maya? Berarti selama ini persahabatan kita nggak ikhlas dong? Berarti kalo kalian pacaran gue sendirian? Kambing congek? Nggak, nggak! Lagian masa sih Maya harus gue relain sama cowok narsis kayak lo sih? Gue udah tau lo luar-dalem atas-bawah kanan-kiri, tiiiiiiiiiiioooooooooooo...”

    “Yaaaa... Yuda.Bantuin dong. Lagian apa salahnya sih sahabat jadi pacar? Malah bagus, kan? Kita udah saling kenal. Pasti malah jadi tambah klop,” Tio maksa.

    “Nggak, Ini udah nggak lucu lagi,” Yuda berkeras.

    “Lho, emang siapa yang ngelucu? Ini serius, Yud. Cinta itu serius. Sekalipun buat gue si petualang cinta,” kata Tio sok yakin.

    “Tapi...”

    “Tolong deh, Yudayyyyy, masa orang laen lo bantuin gue nggak.Ya, Yud?Gue kasih upeti deeeeehh, lo mau apa aja, tinggal sebut.”

    Mendengar kata “upeti”, Yuda langsung nyengir.“Hmm... kaos kaki garis-garis yang kemaren gue liat di Sox World. Tapi gue nggak janji lo pacaran lho. Gue cuma janji lo jadi lebih deket sama Maya. Gimana? Kalo mau lebih, lo usaha aja sendiri.”

    “Oke, siippp.”

    Setelah bersalaman ala penjabat dapat tander, mereka langsung menuju kantin. Wajah Maya pasti sudah membentuk seribu tekukkan, saking bete-nya ditinggal.

    *****

    Benar saja. Di kantin Maya duduk di Suman warung Mang Sum. Mukanya menekuk, bibirnya manyun, dan jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan kesal. Saking kerasnya ketukan Maya, mangkuk bakso di Sumannya bergetar kecil terkena gempa bumi lokal.

    “Bagus ya... main rahasia-rahasiaan? Dari mana lo? Ngaku!?” dampratnya judes.

    “Nggg...” Tio tergagap-gagap.

    “Dari aula,” sahut Yuda.

    “Alasan?” cecar Maya.

    “Tio pengen e’ek. Tapi malu di WC Suman, makanya di WC belakang aula.”

    Tio melotot. Alasan apaan tuh? Bikin malu aja.

    “Nah, lo ngapain? E’ek juga?” desis Maya pelan.

    “Ya nggak lah... kebetulan gue perlu ke WC juga. Ternyata WC-nya penuh, jadi gue kudu ngantre. Mana yang masuk kayaknya pada pipis seliter gitu...”

    Sikut Tio menghantam punggung Yuda. “Penjelasannya nggak perlu sedetail itu kali,” umpatnya kesal.

    “Oke, reason accepted. Tapi kalo rahasia-ra-ha-siaan lagi, gue bawa lo ke salon,” ancam Maya.

    “Kok ke salon?”Yuda dan Tio berbarengan.

    “Rambut lo pada mau gue botakin!!!”

    “Yaa... jangan dong. Udah Hua Zhe Lei gini. Kalo botak pasaran bisa turun.”

    Yuda cekikikan melihat kepanikan Tio.

    “May, Tio bentar lagi pingsan, lho. Lo sama aja nyuruh dia disunat dua kali kalo harus ngerusak rambutnya,” ucap Yuda sambil menahan tawa.

    Maya mencibir.“Dasar cowok narsis, nggak penting banget.”
    Tio cuma manyun dan menatap Yuda sebal. Apa sih isinya kepala Yuda? Kok bisa-bisanya ngomongin orang lagi ngebom di WC? Sama kecengannya, lagi. Mendadak Tio menyesal menceritakan rahasianya yang sudah disimpan bertahun-tahun itu. Dasar Yuda.

    Semenit kemudian Tio sudah sibuk meracik bumbu kuah baksonya.

    “Huh... hah... Mang Sum, ni sambel cabe rawitnya beli di neraka, ya? Pedes amattt...”

    “Sori, permisi.”Tiba-tiba pundak Tio ditepuk seseorang.
    Rupanya Kevin. Ia datang bersama Sandy dan Ray.

    “Eh... iya. Silakan, silakan. Nikmatilah hidangan bakso Mang Sum,”

    cerocos Tio kayak iklan. Sumpah malu-maluin. Padahal Tio nyaris berhasil menyembuhkan penyakit latahnya.
    Yang lain kontan cekikikan.

    “Vin, lo jangan ngaget-ngagetin si Tio. Tu anak rada jantungan,” goda Sandy.

    “Sialan lo,. Gue cuma beramah-tamah mempromosikan bakso Mang Sum yang tersohor di sekolah ini.” Tio makin ngelantur dan malu-maluin.

    “Tapi bener lho,Vin, bakso di sini uenak buanget. Cobain deh. Iya kan, May?” Yuda menimpali dengan sangat heroik.

    “Iya, iya. Murah, lagi,” sambung Maya. Nggak penting banget.
    Kevin cuma senyam-senyum canggung. Gara-gara Maya kali ya? Cowok mana sih yang nggak gemetar diajak ngomong Maya. Sandy dan Ray saja yang sudah hampir dua tahun sekelas masih tercengang-cengang.

    “Iya deh, gue coba. Thanks for the information, ya guys,” jawabnya ramah, tetapi tetap dingiiiiinn.

    Lalu mereka bertiga memesan bakso pada Mang Sum yang ternyata dari tadi ikut cekikikan. “Ternyata Mas Kevin grogian ya,” celetuknya jail.

    Maya, Yuda, dan Tio duduk di kursi luar kios bakso Mang Sum. Ini tempat paling enak. Meski bagian dalam kios ada kipas angin, kalau kepedesan tetap aja gerah banget. Yuda dan Maya sibuk melahap baksonya sambil ber-huhah-huhah. Tio menyeruput kuahnya sedikit-sedikit.

    Ketiga cowok tadi duduk di bangku dalam. Mereka juga tampak sibuk melahap bakso. Karena jarak mereka dekat, Yuda bisa mendengar percakapan cowok-cowok itu dengan cukup jelas. Maklum, sudah terlatih saat menjalankan misi, jadi walaupun pelan tetap terdengar oleh kuping Mr Cupid.

    “Lo nggak naksir si Maya itu, Vin? Number one in school tuh,” bisik Ray

    pelan. Terlihat Sandy mengangguk sekilas.Maya memang beruntung.Tiap cowok pasti jatuh hati melihatnya. Yudamembuang napas.

    “Kenapa, Yud?” tanya Maya heran.

    “Nggak, nggak. Tadi ngisep udaranya kebanyakan,” jawabnya asal, lalu buru-buru pasang kuping lagi.

    “Vin, menurut lo gimana si Maya itu?” desak Ray.

    “Cantik,” jawab Kevin pendek.

    “That’s it???” Sandy nggak puas.“Cuma cantik? Lo nggak naksir?”

    Kevin menyuap baksonya bulat-bulat. “Ya, that’s it. Naksir gimana, ngomong aja baru tadi,” jawabnya dengan mulut penuh. Hihi, lucu juga si Kevin ini, kenapa nggak jawab dulu baru nyuap sih?

    “Tapi ada kemungkinan naksir, kan? Dia kan ideal banget. Lagian lo kanudah ampir dua minggu lo di sekolah ini, masa nggak ada yang diincer?” korek Sandy.

    Kevin mengangkat bahu.“Maybe, Emang belum ada aja.”
    Sandy dan Ray mengangkat bahu bareng-bareng.
    Yuda menyeruput es jeruknya. Kupingnya masih siaga menunggu percakapan selanjutnya. Dipikir-pikir, ngapain sih dia kurang kerjaan memata-matai Kevin? Yang jelas bukan karena dia naksir. Yuda penasaran aja. Kok orang satu ini lempeng banget, nggak akrab-akrab sama seisi kelas sih? Pemalu atau kuper?

    “Vin, lo nggak minat ikutan klub?” tanya Ray lagi. Sandy seperti biasa, mengangguk setuju.

    “Pengen sih. Actually, di sekolah lama gue di Amrik gue ikutan klub soccer,” jawabnya. Bahasa Indonesia-nya yang campur aduk membuat kalimatnya jadi kedengeran keren. Dalam hati Yuda terheran-heran, benar apa nggak sih? Kok tampang Kevin kayak orang buta olahraga? Dia belum bisa buktiin, habis setiap jampelajaran olahraga Kevin belum pernah ikut. Kakinya sakit, katanya.

    “Oh ya?” respons Ray antusias. “Posisi lo apa?”

    “Kapten,” jawab Kevin, melafalkannya dengan bunyi “kepten”. Bule banget deh.

    “Serius?” Ray makin semangat. “Lo masuk tim kita deeeehhh...”

    “Nggak bisa.”

    “Why?” kali ini Sandy angkat bicara.

    “Kompetisi musim panas lalu kaki gue terkilir. Kata dokter, gue harus istirahat dua bulan.”

    Ray terlihat kecewa. Niatnya punya pemain asing di liga SMA dua minggu lagi pupus.

    “Berapa lama sisa waktu istirahat lo?” desak Sandy.

    Kevin tampak berpikir.“Kurang-lebih satu minggu lagi.”
    Lalu pembicaraan itu berakhir, karena mereka bertiga lalu kembali ke kelas sambil terus ngobrol. Mana mungkin Yuda nguntit di belakang.

    “Ka, cabut yuk.” Maya membuyarkan lamunan Yuda.

    “Yuk.”

    “eh..mana si cowok narsis” Tanya Yuda

    “Udah kabur, Mau ke WC katanya.”