BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Semua Tentang Kita

    “Kamu kenapa?”

    “Enggak”

    “Ya udah aku minta maaf”

    “Buat apa? Kak Ardit gak salah, kok!”

    “Gak salah tapi ngomongnya ketus gitu”

    “udah ah, mending Kak Ardit pulang udah malam”

    “Oh jadi kamu ngusir aku?”

    “Bukannya gitu, abis Kak Arditkan kesini buat nemuin aku. Tapi malah ngobrolnya sama keluargaku”

    “Jadi kamu cemburu sama keluargamu sendiri?”

    “Siapa yang cemburu? Aku gak cemburu”

    “Aduuh Al..Al... Ia deh aku minta maaf sekali lagi, kamu jangan marah gitu”

    “HemzzzzzzZ”

    “Oke, apa yang bisa buat kamu gak marah?”

    “Eumzzz” aku memikirkan apa yang aku inginkan saat ini, namun aku sedang tidak ingin apa-apa. Mendengar permintaan maaf dari Kak Arditpun sudah membuatku senang.

    “Aku tidak mau apa-apa” jawabku fix.

    “Bener??”

    “Iyaaaaa”

    “Tapi kamu gak marah kan?”

    “Enggak” jawabku sambil mengedip-ngedipkan mata.

    “Ya sudah, aku pulang ya”

    “Lo kenapa pulang?”

    “Tadikan kamu yang suruh aku pulang”

    “Tapi kan tadi aku lagi marah”

    “Berarti bener dong tadi kamu marah?”

    “Iiiiiiiih Kak Ardiiiiiit” ucapku sambil mencubit perut Kak Ardit. dan Kak Ardit hanya tertawa.

    Cukup lama aku dan Kak Ardit mengobrol dan sambil bercanda canda, meski kebanyakan aku yang bercerita dan Kak Ardit seperti biasa menanggapi ceritaku dengan umpatannya ataupun candaannya. Tapi aku suka itu, aku gak merasa sepi sekarang.

    Malam sudah larut dan Kak Arditpun pulang setelah sebelumnya ia berpamitan kepada semua anggota keluargaku (sebagian karena yang lain nya sudah tidur). Akupun masuk ke rumah dan langsung ke kamar untuk tidur.
    ***
  • Re: Semua Tentang Kita

    “Disana katanya ada siswa yang kesurupan pas tadi jeritan malam. Ada 2 orang satu cewek satu cowok” Ucap Kak Ardit, aku menoleh kearahnya sambil mengangguk. Mendengar kata kesurupan, bulu kudukku sedikit merinding dan sadar atau enggak, aku melangkahkan kakiku lebih dekat dengan Kak Ardit tanpa melihat kearahnya. Sengaja atau enggak, aku merasakan tangan Kak Ardit memegang tanganku mungkin karena dia kedinginan dan dengan berpegangan akupun bisa mendapatkan kehangatan. Aku menoleh ke arah Arsya, dia tengah ngobrol dengan peserta lain yang tak ku kenali. Tak lama menunggu api di nyalakan, akhirnya ada beberapa orang tepatnya 10 orang memasuki lapangan sambil satu orang yang paling depan membawa obor yang menyala dan yang lainnya hanya membawa obor yang tak dinyalakan. Mereka berlari kecil mengitari daerah kayu bakar yang membentuk kerucut itu. Lalu mereka membacakan kalimat-kalimat yang ada di dasa darma pramuka diselingi saling menyalakan obor yang mereka pegang secara bergantian. Tak lama mereka menaruh obor itu di gundukan kayu bakar dan tak lama apipun mulai membesar membentuk api unggun yang sangat besar. Sebagian dari siswa ada yang melangkah mundur karena kepanasan. Setelahnya beberapa orang yang bawa obor tadi pergi keluar lingkaran.

    Sejenak para siswa/i menikmati kehangatan dari api unggun di hadapan kami. Tak lama Kak Erwan masuk lapangan dan berdiri di depan kami di samping api unggun itu.

    “Selamat malam semua nya?” Ucap Kak Erwan dan kami semua menjawab sapaannya. “Tadi sebelum tidur sudah kami informasikan bahwa setiap regu wajib mengirimkan perwakilannya untuk menunjukan sebuah penampilan seni dalam bentuk apapun, entah itu nyanyian, puisi, tarian atau lain sebagainya. Untuk itu silahkan untuk regu satu persiapkan penampilan kalian dan yang lainnya mohon menyimak” Ucap Kak Erwan. Aku yang mendengar itu langsung terkejut karena aku gak tahu apa yang akan kelompokku persiapkan untuk penampilan nanti. Aku mencari anggota kelompokku dan mereka ada di seberang tempatku berdiri sekarang. “Baiklah, kalian boleh duduk, dan saya persilahkan untuk sangga satu untuk kedepan dan menampilkan kemampuan seninya. Beri tepuk tangan untuk sangga satu” Lanjut Kak Erwan mempresent sangga yang akan tampil dan kami semua bertepuk tangan.

    Sangga demi sangga telah tampil dan aku belum tahu apayang akan sanggaku tampilkan nanti, karena tadi malam aku tidak tidur di tenda sanggaku. Sampai pada akhirnya Kak Erwan mempresent sanggaku dan tak ada satupun orang dari sanggaku yang berdiri. Aku melihat semua orang menatap kearahku, akupun kebingungan dengan apa yang terjadi, selanjutnya seseorang di sampingku melangkahkan kakinya kedepan, aku melihat Kak Ardit melangkah kedepan sambil membawa sebuah gitar, entah kapan dia membawa gitar itu, yang aku tahu tadi Kak Ardit memegang tanganku. Semua orang disini bertepuk tangan kecuali aku yang kebingungan, karena yang aku tahu di sanggaku gak ada yang namanya Ardit. Tapi ada satu orang yang bernama Reksa yang tak pernah aku tahu orangnya yang mana. Sepanjang kegiatan kemarinpun Kak Ardit gak terlihat bersama sanggaku. Entahlah.....
  • Re: Semua Tentang Kita

    “Al, ko kamu melamun?” Tanya Arsya saat melihatku terdiam setelah sekian lama masuk di tenda dan malah duduk diam menatap kedepan. Aku yang sedang melihat kedepanpun melirik kearahnya, dia tengah berbaring hendak tidur.
    “Gak, apa-apa ko, Sya” jawabku sambil tersenyum. Aku membaringkan badanku disebelah Arsya. Aku menjadikan tanganku sebagai bantalan kepala, berbaring menyamping kearah Arsya. Dia menolehkan kepalanya menghadapku dan tesenyum.
    Cukup lama kita saling bertatapan, aku menatap wajah tampannya, sejenak aku berpikir saat pertama kali aku melihatnya betapa kagumnya aku sama sosok Arsya, setiap melihat senyumannya membuat detak jantungku berdegup kencang. Tapi kali ini hatiku telah berkhianat, jujur saja selama aku menjauhi Kak Ardit, aku malah jadi sering memikirkan dia, mulai dari tingkah lakunya, penampilannya, omongannya juga tatapannya yang terkadang terdapat suatu yang disembunyikan dibalik mata tajamnya itu. Jantungku yang dulu sering meloncat bila dekat si Arsya, sekarang beralih sama Kak Ardit. Semakin aku berusaha membenci Kak Ardit, semakin pula aku memikirkan semua tentang dia.
    Aku memejamkan mataku mencoba memasuki alam bawah sadarku hingga aku terlelap dalam kediaman berdua bersama sang bintang sekolah tahun ini.
  • Re: Semua Tentang Kita

    Jangan lupa like and comment yaa
    @lulu_75 @gelandangan @cevans @o_komo @awi_12345 @bayu15213 @gravitation @Aurora_69 @Cleisso @Gabriel_Valiant juga @Riyand

    Kita semua beristirahat sebentar sebelum nantinya akan melakukan upacara pembukaan acara perkemahan ini. Aku selonjoran di bagian paling ujung di tenda, hingga ada seseorang masuk. Aku menoleh kearahnya dan ternyata dia Kak Ardit. Dari tadi aku gak melihat dia membangun tenda, entah dia dikelompok mana, sepanjang perjalanan menyusuri jalan kecil tadipun, dia lebih banyak ngobrol sama Pak Adi. Akupun tak begitu mempedulikan dia, aku hanya asyik becanda sama Arsya.
    “Al” seru Kak Ardit, kita semua yang ada di tenda menoleh kearahnya, dia menatap lurus kearahku. Aku balas tatapannya dan menunggu apa yang akan dia bicarakan selanjutnya. “Lo ikut gue” perintahnya, dan aku hanya diam tak menggubris permintaannya, emangnya dia siapa merintah-merintah aku. Aku mengabaikan dia dengan memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur. Namun sebuah tangan menarikku dengan paksa, sontak aku membuka mataku dan melihat Kak Ardit sedang mencoba menarikku keluar dari tenda, semua orang yang ada di tenda itu hanya diam, tak berani menolongku, karena mereka takut sama Kak Ardit yang notabene preman sekolah. Aku meronta mencoba melepaskan diri dari Kak Ardit, namun tenaga dia lebih kuat hingga tiba diluar tenda, ada seseorang menahan Kak Ardit dan menghentikan langkahnya, aku melihat ke orang itu ternyata Arsya.
    “Lepasin Al” ucap Arsya, namun Kak Ardit mengabaikan permintaan Arsya dan terus menarikku. Aku agak terseret oleh Kak Ardit, hingga sebuah tangan lagi memegang tanganku yang satunya, Arsya. Kemudian mereka menarik-narik tubuhku hingga aku seperti tambang dalam permainan tarik tambang. Aku bingung dengan tingkah mereka berdua, kayak anak kecil. Emang aku mainan yang mesti diperebutkan gini. Arsya lagi menarik tanganku dengan kasar, alhasil kedua tanganku sakit.
    “STOOOOOP” akhirnya kata itu terucap dari mulutku. Aku menarik tanganku dari keduanya. “Kalian apa-apaan, sih?” tanyaku dan tanpa menunggu jawabanku aku langsung melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Aku terus berjalan entah mau kemana, yang penting aku gak ketemu dua makhluk rusuh itu. Entah kenapa kalau ada Kak Ardit, Arsya jadi kasar, emosian dan gak terkendali. Hari ini dia menyakiti tanganku, besok mungkin dia bisa mematahkan kepalaku. Pikirku sambil terus berjalan entah kemana. Aku juga tak menghiraukan seruan dari Kak Ardit ataupun Arsya. Aku hanya terus berjalan tak tentu arah dengan umpatan2 untuk mereka berdua.
    Semakin jauh aku berjalan tanpa tujuan, sampai aku sadar kalau aku tiba di tempat yang entah dimana, ini jauh dari tempat perkemahan dan aku fikir aku tersesat. Aaaaaaaaaaaaaah aku panik. Aku menoleh kesana kemari aku hanya melihat pohon-pohon tinggi. Aku mencoba mengingat arah jalan yang tadi aku lalui, namun aku gak ingat. Ini semua gara-gara aku emosi saat berjalan tadi jadi aku tak begitu memperhatikan apa yang aku lalui. Aku terus berjalan mengingat jalan yang aku lalui, namun hasilnya nol. Sekarang sudah fix kalau aku tersesat. Hari sudah mulai sore, hatiku gak karuan antara takut dan kesal sama diriku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di bawah pohon berharap ada orang yang nyariin aku. Tak terasa air mataku keluar, aku menangis sambil menunduk dan memeluk kakiku. Pikiranku penuh dengan hal-hal negatif yang mungkin akan terjadi.
  • Re: Semua Tentang Kita

    Keep reading @lulu_75 @awi_12345

    Pembagian raport sudah selesai, semua siswa diperbolehkan pulang. Aku menyusuri tangga naik untuk menemui Kak Ardit. Semenjak kejadian di UKS, aku dan Kak Ardit jarang ketemu, bahkan saat bertemupun tak ada obrolan yang berarti, bahkan dia kembali cuek seperti dulu saat pertama aku lihat dia. Aku tak tahu apa yang terjadi, dia seakan menjauh, padahal yang seharusnya marah adalah aku, disini aku yang menjadi korban, tapi malah dia yangb seolah menjauhiku. Aku harus minta penjelasan dari dia. Aku menuju kelasnya, gx banyak siswa yang ada di sekolah, sebagian besar sudah pada pulang. Aku berada didepan kelas Kak Ardit, sebelum aku buka pintunya, aku mendengar suara orang berbicara dan aku tahu itu suara Kak Ardit. Aku menyiapkan diriku sampai akhirnya aku mendengar mereka menyebut-nyebut namaku.Aku urungkan niatku membuka pintu.aku ingin dengar pembicaraan mereka dulu.
    “Untuk kesekian kalinya Lo memenangkan taruhan ini, Dit” ucap seseorang yang aku yakin itu suara Kak Lukman.
    “Iya, Lo berhasil buat bikin si culun itunurut sama lo dan mau Lo cium” Ucap seorang lagi, Kak Dedi.
    “Gimana rasanya ciuman sama cowok? Hati-hati jangan-jangan Lo beneran suka sama dia. Inget, kita hanya taruhan. Maen-maen bray, jangan sampe lo beneran belok kayak dia”
    “Ya enggaklah.mana mungkin aku suka sama anak culun macam si Al” kali ini Kak Ardit mengeluarkan suara yang buat aku bener-bener syok, aku terpaku di depan pintu kelas Kak Ardit. Aku mendengar mereka semua tertawa. ‘jadi selama ini Kak Ardit hanya jadiin aku bahan taruhan?’ air mataku mengalir aku melangkah mundur dan lari dari tempat itu. Pikiranku sangat kacau, aku terus berlari hingga seseorang menahanku dan menarik tubuhku masuk ke salah satu kelas yang kosong. Aku menatap orang itu yang ternyata Dadan. Dia menatap tajam kearahku dengan tatapan marah,
    “Puas Lo?” tanya dia yang aku gak ngerti maksudnya apa. Aku hanya diam, hatiku sedang kacau dan si Dadan malah marah-marah gak jelas. Aku makin gak suka sama dia. “Puas Lo buat Arsya sakit hati dengan ini?” Lanjutnya sembari memberikan HP yang di dalamnya ada Foto saat Kak Ardit menciumku. Aku syok melihat foto itu, aku gak tahu kapan foto itu diambil, dan darimana Dadan dapat foto itu. Aku menatap Dadan gak percaya. “Denger ya Al, Arsya hanya mencoba ngelindungin Lo. Dia mau lo terhindar dari taruhan sialannya si Ardit, tapi yang Lo lakuin apa? Lo malah membawa Ardit ke UKS dan mempermudah usahanya buat menangin taruhan sialan itu” aku melongo saat mendengar kata-kata si Dadan, darimana dia tahu tentang taruhan? Apa disini hanya aku yang bodoh dan gak tahu apa-apa. “Oke, gue akan jelasin ke Lo semuanya” dia tarik nafas dan mulai menjelaskan semua yang ia ketahui. Mulai dari pertama taruhan itu dibuat, terus Arsya mengetahui soal taruhan itu dan meminta Kak Ardit membatalkan taruhan itu, Kak Ardit menolak dan malah menantang Arsya untuk bertanding Badminton, jika Arsya menang badminton, Kak Ardit bakalan batalin taruhan itu. Hingga saat Kak Ardit menang dan Arsya memukul Kak Ardit. dan dengan begonya aku malah membawa Kak Ardit, bukannya membantu Arsya. “Sekarang Lo tahu? Tadi pagi si Ardit mengirim foto ciuman menjijikan itu ke Arsya dan membuat Arsya gak berbicara satu katapun. Pas lo keluar kelas buat nemuin si Ardit, Arsya langsung pulang” aku menunduk memikirkan semua yang terjadi. Aku berjalan gontai keluar kelas meninggalkan Dadan sendirian dan pulang ke rumah.
  • Re: Semua Tentang Kita

    Babak kedua sedang berlangsung, aku duduk di bagian pojok lapangan menatap kedua lelaki yang sedang memperjuangkan kelas mereka. Aku bisa lihat bagaimana Arsya dan Kak Ardit mempertahankan posisi mereka. Keringat bercucuran di antara mereka, sorak para penonton juga memenuhi sekitar lapangan. Aku melihat papan skor, disana terpampang jelas kalau Kak Ardit mendapatkan skor yang lebih banyak dari pada Arsya. Jika saja pada pertandingan kali ini Arsya kalah, maka sudah di pastikan bahwa Kak Ardit menang tanpa harus melalui babak ketiga. Aku masih berharap agar Arsya bisa menang, tapi dilihat dari skor nya, sepertinya Arsya akan tertinggal.
    Sampai akhir babak kedua, Kak Ardit bertahan dengan memimpin skor, dan otomatis dia memenangkan pertandingan badminton. Aku melihat wajah kekecewaan dari Arsya, dia terlihat sangat menyesal dan marah.
    “Segitu kemampuan, Lo?” Ucap Kak Ardit menatap tajam Arsya, “Sekarang, gue akan menerima apa yang mestinya gue terima” Lanjutnya diselingi seringaian. Kak Ardit berbalik ke arahku dan melangkah mendekatiku, mataku tak lepas dari Arsya yang mengepalkan tangannya, sesuatu akan terjadi, aku mendekati mereka, namun terlambat. Sebuah hantaman keras pada punggung Kak Ardit berhasil membuat Kak Ardit tersungkur, lututnya terlihat mengeluarkan cairan merah. Semua orang yang ada di lapangan berteriak histeris melihat kejadian itu termasuk aku. Tak lama Kak Ardit bangun dan hendak membalas pukulan Arsya, aku segera menahan Kak Ardit dan memeluknya dari belakang, aku juga melihat beberapa orang menahan Arsya agar tak menyerang Kak Ardit kembali. Aku menarik tubuh Kak Ardit kebelakang.
    “Cukup, Kak.” Teriakku di belakang Kak Ardit yang membuatnya melemaskan semua otot-otot yang barusan sudah tegang. Aku melepaskan pelukanku dan menggandeng Kak Ardit menuju UKS. Suara teriakan orang-orang masih menghiasi sekitaran lapangan, aku menoleh kebelakang, Arsya tengah menatap tajam kearah aku dan Kak Ardit. aku sedikit kecewa sama Arsya, karena tingkahnya yang gak bisa menerima kekalahan dan malah memukul Kak Ardit saat Kak Ardit lengah.
    Tiba di UKS, aku menyuruh Kak Ardit duduk di kasur dan membuka kotak obat mengambil obat merah, kapas juga perban. Aku keluar sebentar untuk membawa air bersih yang akan membasuh luka di kaki Kak Ardit. Aku masuk kembali ke UKS dan membasuh lutut Kak Ardit dengan air yang aku bawa. Setelahnya aku mengoleskan obat merah pada lukanya dan menutup lukanya dengan kapas dan perban. Entah prosedurnya benar atau tidak, namun yang aku lihat di tv sih seperti itu. Tak ada perbincangan selama aku mengobati kaki Kak Ardit, dia juga diam saja. Aku bisa lihat dari ujung mataku bahwa Kak Ardit menatapku. Setelah mengobati Kak Ardit, aku memberaskan semuanya dan duduk di samping Kak Ardit.
    “Makasih, ya”
    “Hmz” ucapku menganggukan kepala. Aku menatap ke arahnya yang sedang menatapku juga. “Maaf ya atas perlakuan Arsya sama Kak Ardit” Ucapku karena merasa bersalah sama Kak Ardit atas kelakuan Arsya yang gak nerima kekalahannya dan malah mukul Kak Ardit.
    “Gak apa-apa. Aku juga pasti bakalan marah kalau aku di posisi dia.”
    “tapi gak sepantasnya dia mukul Kak Ardit kayak gitu” Ucapku menundukan kepalaku, hingga sepasang tangan menyentuh pundakku dan menariku agar menghadapnya. Kak Ardit menatapku lekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku, tubuh Kak Ardit semakin mendekat, hingga tak ada jarak lagi diantara kami. Aku memejamkan kedua mataku dan merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirku, aku membuka mataku perlahan, wajah tampan Kak Ardit berada jelas di hadapanku, wajah kita saling berdekatan, dan bibir kita saling menempel, entah mengapa aku tak menolak apa yang dia lakukan padaku, aku hanya diam tanpa kata. Tak lama Kak Ardit membuka matanya dan melepaskan pagutan bibirnya dari bibirku. Dia tersenyum dan lekas pegi meninggalkanku sendiri di UKS.
    #flashback off
  • Re: Semua Tentang Kita

    “Lo ngapain disini?” tanya Kak Ardit.
    “Diem, Kak. Sambil nonton pertandingan” jawabku menatapnya sebentar dan fokus pada pertandingan. Aku melihat ke kanan/kiri. ‘Arsya gak ada di lapangan, kemana dia?’
    “Lo nyari siapa?” Kak Ardit lekas duduk disampingku, tepat di tempat Kak Erwan tadi.
    “Bukan siapa-siapa” tanpa menatap kearahnya. Kak Ardit kemudian memegang bahuku dan menyuruhku menatap ke arahnya. Aku menatap kedua matanya. Kak Ardit ini tergolong siswa yang tampan, kulitnya putih, hidung mancung, wangi, meski pakaian yang ia pakai tak sesuai standar sekolah, tapi dia tetap jadi siswa yang digemari oleh para siswi di sekolah, bahkan dia adalah student of the year tahun lalu. Aku gak bayangkan bagaimana bisa dia dapat predikat itu sedangkan penampilannya aja kayak preman. Aku gak tahu apa yang dinilai dari seorang Kak Ardit Dirganitra ini.
    “Al, gue pengen nanti pas gue tanding badminton, Lo dukung gue. Lo semangatin gue dan Lo jangan pernah dukung lawan gue” pintanya, aku lihat kedua matanya dan tak tersirat sedikitpun kebohongan dari sana. Dia serius dengan ucapannya. Tapi mengapa dia pengen aku mendukungnya? Bahkan aku tak sekelas dengan dia. Aku juga bisa dibilang bukan temannya. Tapi dilihat dari keseriusannya, entah mengapa aku malah menganggukan kepala, dan dia tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Hatiku berdegup kencang saat melihat senyumnya itu, senyuman yang jarang aku lihat dari seorang Kak Ardit, senyuman tulus yang membuat aku meleleh.
    Aku tersadar dari lamunanku saat seseorang dengan sengaja menepuk bahuku. Aku menolah kearahnya, dia tersenyum. Aku bisa mendengarkan hembusan nafasnya kaena kecapekan. Arsya kemudian menarikku untuk berdiri dan menariku, aku jalan mengikutinya. Tangan kami masih menyatu dan aku enggan melepaskannya. Kita sampai di kantin dan dia nyuruh aku duduk di salah satu kursi yang ada di kantin itu.
    “Kenapa kamu ngajak aku kesini?”
    “Karena aku haus, dan kamu gak punya minuman untuk aku minum. Jadi aku membawamu kesini”. Aku menganggukan kepala tanda mengerti ucapannya bahwa lain kali kalau Arsya selesai bertanding, aku harus menyiapkan air minum buat dia. ‘eh, kenapa harus aku?’ pikirku. “sekarang kamu pesenin minuman buat aku, ini uangnya kamu kalau mau pesen aja sekalian, sekalian makanannya ya.” Perintahnya sambil nyodorin uang dua puluh ribuan dan aku mengambilnya. Aku beranjak menuju penjual makanan dan minuman, cukup lama aku menunggu karena disana banyak siswa/i yang memesan menu yang sama. Setelah mendapatkan pesananku, aku kembali ke tempat Arsya berada, namun disana ada banyak sekali siswi yang berkerumun mengelilingi Arsya, ada yang memberinya minum, makanan, tisu bahkan ada yang ngipas-ngipas tubuh Arsya. Aku mendekati mereka dan saat aku sampai, semua mata tertuju padaku, aku sempat grogi karena di tatap seperti itu, aku lekas menaruh makanan dan minuman di meja dan langsung pergi meninggalkan Arsya dan para fans nya itu. Aku sempat mendengar Arsya memanggilku, namun aku gak menolehnya dan malah terus berjalan ke tempat awal tadi aku duduk. Aku kesal, kenapa Arsya diam saja saat para penggemarnya itu seenaknya nempel-nempel sama Arsya.
  • Re: Semua Tentang Kita

    Dikelas aku tak banyak bicara, semua siswa menatapku sambil bisik-bisik dengan temannya, entah apa yang mereka bisikan, aku gak begitu peduli dan duduk di kursiku. Aku teringat kata Kak Erwan kalau Arsya yang sudah kasih tau rencana Erik ke dia, aku harus berterimakasih sama Arsya, aku mencari sosok Arsya, aku lihat dia sedang duduk di kursinya dan asyik dengan teman-temannya, disana juga ada si Dadan. Aku beranikan diri menghampiri mereka dan mereka hanya menatapku dengan tatapan bingung.
    “Sya, boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?” tanyaku ke Arsya, yang di balas dengan anggukan olehnya. Aku kemudian membalikan kursi yang ada di depan meja Arsya supaya aku bisa menghadap ke arahnya, si Dadan hanya diam melihatku berani berada di dekat mereka, aku menelan ludah dan mencoba menenangkan diri, karena ini kali pertama aku berani menghampiri mereka.
    “Lo mau ngomong apa?” tanya si Dadan, aku hanya menatapnya sebentar dan kemudian menatap ke arah Arsya.
    “Aku mau ngucapin terimakasih sama kamu, karena kamu udah menyelamatkan aku 2 kali, tadi pagi sama barusan” ucapku yang kemudian menundukan kepala, aku gugup setengah mati. Dadan menatap Arsya yang dibalas dengan senyuman sama Arsya.
    “Lo gak perlu terimakasih sama gue, gue hanya ngelakuin sesuatu yang seharusnya dikakuin sama seorang teman, ya kan?” ucapnya. Aku terkejut saat dia bilang bahwa dia menganggapku temannya. Aku bahkan tak pernah saling berbicara sekalipun dengan dia, bagaimana mungkin dia menganggapku seorang teman? “Al??” tanya Arsya yang melihat aku melamun
    “i..iya”
    “Lo baik-baik saja, Kan?” tanya dia, aku hanya menganggukan kepala dan beranjak dari dudukku untuk menuju kursiku kembali.