BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    Tanda kurang piknik: post gambar kurang piknik berkali2 for etensyen
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    a0d134ed7c5d3f72140cd2e44749ff.jpg
  • Re: Datang dan Pergi -THE END-

    keesokan harinya, hati rayan berbunga-bunga. Dengan bersiul kecil ia mengguyurkan air ke tubuhnya. Setelah itu mengenakan baju yang rapi dan berkali-kali mematut diri di cermin. Ia benar2 ingin terlihat memesona saat menemui diki nanti.
    "ehemm...mau kemanaaaa??"tegur neneknya yang melongok dari luar.
    Rayan menoleh.
    "mau kemana heh? Dari tadi bercermin terusss..."
    rayan terkekeh.
    "aku mau jalan2 keliling kampung nek..."
    "heehh? Sama siapa?"
    "sama diki..."
    nenek mengangguk-angguk.
    "tapi kok mau keliling kampung aja pakai gaya segalaa...gak bakalan ada yang lihat, yan..."kata nenek.
    "siapa tahu ada yang bening ntar nek, he..he..."kata rayan.
    Neneknya geleng-geleng kepala. "gadis kampung masih polos2. Jangan kamu racuni sama otak kotamu, eh?"
    "ha..ha...nenek sembarangan aja...rayan ini anak baik nek..."
    "he..he...siapa bilang kamu anak jahat?"
    rayan garuk2 kepala.
    "nanti diki yang jemput ya?"
    "nggak nek. Rayan yang ke sana..."
    "kalian kelilingnya pake apa? Jalan kaki?"
    "Engg...eh, sepeda papa dulu masih ada kan?"
    "ada tuh di gudang..."
    "masih bagus kan?"
    "masih kayaknya. Itu sepeda gak pernah di pakai..."
    "biar rayan cek dulu deh.."
    "he-eh..."
    rayanpun segera pergi ke gudang yang terletak di belakang rumah. Sepeda milik papanya itu tak ada yang rusak sama sekali. hanya debu saja yang hampir satu centi membalut permukaannya.
    Rayan lantas mengambil serbet dan mengelapnya hingga mengkilap kembali.
    "yes!!"seru rayan puas sambil menggiring sepedanya keluar lalu mengendarainya.
    "cak mano? (gimana?) masih bagus, yan?"tanya sang nenek.
    "masih nek...rayan langsung pergi ya?"
    "yaa...hati2..!"
    "ya nek..."balas rayan.
    sesampainya di rumah diki, pemuda itu tengah memindahkan kayu bakar dari samping rumah ke belakang rumah. Rayan sempat terpaku melihat tubuh sempurna rayan saat otot-otot kekarnya yang bagaikan hasil bentukan fitness itu tergelar di hadapannya. Rayan sangat beruntung datang lebih awal saat diki sedang bekerja dengan bertelanjang dada.
    "tiap hari nih kayak gini?"tanya rayan.
    "apanya?"
    "engg...mindahin kayu bakarnya..."
    "nggak lah. Kalo kayunya ada aja...kalo udah dipindahin, apa yang mesti diangkat, eh? Hehehe..."
    rayan ikutan ketawa.
    "kirain tiap hari..."gumam rayan.
    "emang kenapa kalo tiap hari?"
    "eh? Gak apa2!"jawab rayan cepat. "maunya gue sih tiap hari biar bs lihat tubuh six-pack lu..."sambung rayan dalam hati.
    "mau pergi sekarang?"tanya diki.
    "gak ada kerjaan lain?"
    "gak ada."
    "oke, let's go!"
    "sip! Aku pakai baju dulu ya..."kata diki setengah berlari masuk ke dalam rumah.
    "hheehhh...gak usah pake baju aja bro..."kata rayan pelan.

    ***
    rayan dan diki bersepeda santai menyusuri jalan. Angin sepoi-sepoi memanjakan mereka. Di kiri-kanan jalan yang mereka lalui terhampar bentangan sawah yang menghijau. Bulir-bulir padi yang sebentar lagi masak menerbitkan harapan. Sesekali mereka berdua melewati aliran sungai nan jernih. Terlihat dua-tiga orang yang tengah duduk sabar dengan mata pancing mereka. Rayan tersenyum melihat kekhasan desa. Semuanya permai dan seimbang.
    "hidup di desa menyenangkan ya..."gumam rayan.
    "masa?"
    "iya. Selama aku di sini, gak ada yang bikin tensi darah aku jadi naik, he..he..."
    diki tersenyum.
    "gak kayak di kota, adaaaaa aja yang bikin kesel.."
    "lama2 juga pasti ada kok..."
    "he..he...aku harap sih gak ada ya...aku pengen persepsi aku tentang desa gak berubah..."
    diki lagi2 tersenyum.
    Mereka terus bersepeda menyusuri jalan. Sesekali mereka harus terhenti dengan serbuan segerombolan bebek yang berlenggak lenggok di jalanan.
    "aku yakin kalo di kota gak pernah lihat bebek yang ikut meramaikan jalankan?? Hehe.."canda diki.
    "hahaha..! Anjing kurap yang banyak!"kata rayan.
    "kalo di sini mah bebek, anjing, kerbau, sapi...semua tumpah ruah di jalanan..."
    "itu uniknya desa...semuanya menyatu..."kata rayan.
    Mereka kemudian berhenti sebentar di dekat sebuah bangunan semen di dekat jembatan.
    "berhenti dulu ya..."kata diki.
    Rayan mangguk.
    Mereka memarkirkan sepeda di tepi jalan lalu duduk bersebelahan di atas bangunan semen itu. Mereka menghadap ke aliran air jernih yang suaranya gemericik.
    "ini aliran air sungai yang di sawah itu ya?"tanya rayan.
    Diki mengangguk.
    "kalo kamu gak dapetin topi aku waktu itu, pasti topinya lewat sini yah..."
    "kalo gak nyangkut sih iya..."
    "he..he..."
    "berapa lama kamu liburan?"tanya diki.
    "nggak tahu..."
    "lho kok..."
    rayan tersenyum simpul. Ia kembali teringat kejadian yang meluluhlantakkan perasaannya sesaat sebelum ke sini.
    "masih lama..."
    rayan mangguk2.
    "kok milih kampung sih? Bukannya masih ada tempat keren lainnya?"
    "aku pengen men..."
    tiba2 ponsel rayan berbunyi. Ia buru2 merogoh ponsel di kantong jeansnya. Tidak keluar nama dari sang penelpon.
    "bentar ya..."kata rayan.
    Diki mengangguk.
    "halo?"sapa rayan.
    "halo...rayan..."
    "ya, ini gue. Siapa nih?"tanya rayan.
    "masa sih kamu gak inget dengan suara aku, say?"
    rayan mengernyitkan dahinya.
    "sory, gue benar2 gak tau. Lagian nomor lu gak ada di list gue.."
    "kamu masih marah sama aku ya?"
    "marah? Kenapa marah? Kenal juga nggak..."
    "masa sih kamu gak inget dengar suara aku, beib..."
    rayan tersentak sambil menoleh ke diki. Diki diam saja.
    "yan? Rayan??"
    "i..iya..."
    "ingatkan sayang?"
    rayan menghela nafas berat.
    "mau apa lagi lu nelpon gue?"tanya rayan tiba2 dengan nada ketus. Diki yang mendengarnyapun langsung menoleh.
    "kamu masih marah ya?"
    "mau apa lu hubungi gue?!"tanya rayan lagi.
    "yan...aku masih cinta sama kamu..."
    "shit! Gak usah ngomong itu lagi deh...muak gue dengernya..."
    "plissss...aku pengen berubah yan. Aku nyesel udah ngelakuin hal sejahat itu sama kamu..."
    "udahlah. Dulu mungkin gue percaya. Tapu sekarang? Sama siapa aja lu ngomong manis begitu??"semprot rayan.
    "sayang..."
    "udahlah. Urus aja itu...gacoan baru lu...siapa tuh namanya..."
    "yan, aku sama fandi gak serius..."
    "sama gak seriusnya lu ama guekan?!"potong rayan.
    Lagi2 diki menoleh mendengar suara histeris rayan.
    Rayan yang merasa tak enak dengan diki langsung melompat turun dan sedikit menjauh.
    "yan..pliss...kasih aku kesempatan lagi..."
    rayan menggertakkan giginya kesal. Ia muak mendengar suara memelas tomy.
    "jangan hubungi gue lagi!"teriak rayan sambil merejek panggilan tomy. Tidak hanya itu, ia langsung mematikan ponselnya dan mengeluarkan kartu SIMnya setelah itu membuangnya ke rerumputan.
    "mampus!!"seru rayan dengan suara tertahan.
    Diki yang melihat kejadian itu langsung mendekati rayan.
    "yan..., kamu gak apa2?"
    rayan geleng kepala. "aku gak apa2. Kita pulang yuk!"ajak rayan sambil mendekati sepedanya. Tanpa meminta persetujuan dari diki dulu, ia langsung menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya kencang menuju ke rumah.

    Diki mengerutkan keningnya melihat sikap rayan yang tiba-tiba berubah. Ia yakin telepon tadi adalah penyebab kemarahan rayan. siapa sih penelepon itu? Kenapa rayan bisa sekesal itu?
    Diki menyondongkan badannya ke jalan untuk melihat apakah rayan kembali lagi atau tidak. Ternyata rayan sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.
    Diki berjalan ke arah rayan membuang kartu SIM-nya tadi. Ia bukannya mau ikut campur, tapi ia penasaran dengan si penelepon Itu.
    Dikipun mencari kartu SIM itu diantara rerumputan. Untung rayan tidak membuangnya terlalu jauh, sehingga diki dengan mudah bisa menemukannya.
    Diki menggenggam kartu SIM itu dengan kepala penuh tanya. Tanpa buang waktu ia segera memacu sepedanya menuju arah yang berlawanan dengan jalan rumahnya. Tujuannya bukan mau pulang, melainkan pergi ke rumah pamannya untuk meminjam ponsel beliau sebentar untuk mengaktifkan kartu itu untuk menuntaskan rasa penasarannya.
    ...

    Hampir saja diki tidak bisa bertemu dengan pamannya. Sebab saat ia tiba, pamannya itu baru saja hendak pergi ke ladang.
    "mang...!"seru diki.
    "heh? Ngapo Ki? (heh? Np Ki?)"tanya pamannya sambil mengunci pintu.
    "minjam HP mang..."jawab diki.
    "hp? Ndak ngapo? (mau apa?)"tanya pamannya sambil menyodorkan ponsel seri Nokia 1100.
    "ambo ndak ngecek kartu nih...(aku mau lihat kartu ini...)"jawab diki sambil menunjukkan kartu SIM di tangannya.
    "baru beli?"
    diki geleng kepala. "dak e. punyo kawan..."
    "yo udah. pakailah dulu. Sore gek antar ke rumah be yo? Mamang ndak pegi...(ya sudah. Pakai saja dulu. Sore nanti antar saja ke rumah. Paman mau ke ladang...)"
    "yo mang. Gek aku antar...(y paman. Nanti aku antarkan...)"kata diki sambil mengangguk. Sementara pamannya langsung berjalan ke ladang.
    Diki duduk di teras rumah pamannya yang kosong. Ia tak sabar ingin mengetahui penyebab kemarahan rayan tadi, meskipun hatinya terus bertanya-tanya kenapa ia begitu usil dengan masalah ini?
    Baru beberapa menit Ponsel dinyalakan, berturut-turut nada pesan Ponsel berbunyi. Diki geleng-geleng kepala sambil menghitung jumlah pesan singkat yang masuk. Hampir sepuluh buah pesan singkat yang masuk.
    "yak, banyaknyo seh...(waduh, banyak amat...)"gumam diki.
    Dikipun membukanya satu per satu. Pertama ada pesan dari "papa" yang isinya minta nomor rekening rayan. Sepertinya papa rayan ingin menstrasfer sejumlah uang buat anak semata wayangnya itu. Kemudian ada pesan dari "amelia" dan "wanto" yang menanyakan bagaimana kabar rayan. Selebihnya adalah pesan dari seseorang tanpa nama. diki satu persatu membaca isi pesan singkat itu. Nada kalimatnya hampir sama yakni meminta maaf pada rayan dengan kata-kata mesra. Sepertinya seseorang yang mengirim ini adalah pacar yang selingkuh dan ketahuan sama rayan. Diki yakin orang inilah yang menelepon rayan tadi.
    "ummm...jadi iko masalahnyo...dio diselingkuhi...pasti gara2 iko pulo nyo pai ke sini...(umm..jadi ini masalahnya...dia diselingkuhi...pasti gara2 ini juga dia berlibur ke sini...)"gumam diki.
    "maso sih lanang elok kek kayo cak itu disia-siakan...cari apo lagilah tino tuh...(masa sih cowok cakep dan kaya kayak rayan disia-siakan...mau apa lagi tuh cewek...)"gerutu diki sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu beranjak pergi meninggalkan rumah pamannya.
    Di tengah perjalanan pulang, tiba-tuba ponsel diki berbunyi. Diki sedikit terkejut. Dengan cepat ia mengambil ponsel itu lalu melihat siapa yang memanggil. Nama sang penelpon tidak keluar. Diki berpikir sejenak. Apakah ia harus mengangkat panggilan ini atau tidak? Tapi akhirnya ia angkat juga.
    "hal..."
    "yan!"potong suara di ujung sana cepat.
    Diki mengernyitkan dahinya mendengar suara keras sang penelpon.
    "halo..."sapa diki lagi.
    "yan! Kok tadi HPnya kamu matiin sih? Plis beib, jangan siksa aku kayak gini..."
    diki terperanjat.
    suara yang ia tangkap jelas-jelas adalah suara lelaki. Tapi kok dia manggil rayan dengan sebutan "beib"?
    "ambo yang salah dengar atau...(aku yang slah dengar atau...)"gumam diki dalam hati.
    "sayang...kamu denger aku kan??"seru lelaki itu lagi. "tolong jangan diemin aku kayak gini, yan...aku sungguh2!! Suer...!!"
    diki geleng2 kepala.
    "benar! ambo dak salah dengar..."gumamnya lagi.
    "yaann...heiii...yaan...kamu masih di sana kan? Kamu denger aku kan? Aku masih cinta sama kamu...cuma kamu...fandi itu gak ada apa2nya dibanding kamu..."

    "fandi? nyo selingkuh kek fandi? Fandi itukan namo lanang? Bingung...apo sih nih...(fandi? Dia selingkuh sama fandi? Fandi itukan nama cowok? Bingung...bagaimana sih ini...)"lagi-lagi diki diliputi kebingungan.

    "yan..beib...sayang...kamu di mana? Kemarin aku ke rumah kamu...kata bik lastri kamu ke kampung. Aku susul ya?"

    tut!

    Diki dengan tangan agak gemetaran langsung mematikan sambungan telepon.

    "gilo! Gilo tobo koh! Rayan metean kek lanang? Apo itu artinyo dio homo? Iww...(gila! Gila mereka semua! Rayan pacaran sama cowok? Apa itu artinya dia homo? iww...)"seru diki bergidik.

    Ponsel di tangan diki kemudian berbunyi lagi. Sederet angka di layar ponsel menunjukkan nomor yang sama seperti yang menelpon tadi.

    "ampun, idak eh...(ampun, gak ah...)"kata diki sambil merejek panggilan lalu langsung mematikan ponsel dan mengeluarkan kartu SIM-nya.
    "dak sangko ambo rayan tuh homo...(gak nyangka aku kalau rayan itu homo...)"desis diki.
    ...
  • Re: Datang dan Pergi -THE END-

    sesampainya di rumah, rayan mendapati neneknya tengah menyantap makan siang.
    "ayo makan!"ajak neneknya.
    "ya nek...rayan laper.."
    "kenapa gak makan bareng kakek aja di sawah? Makan di tengah sawah itu nikmat banget yan..."kata sang nenek sambil mengambilkan nasi.
    "malu ah nek..ntar nasinya kurang lagi, hehehehe..."
    "hehehe...gak lah yan. Nenek udah perkirakan kok.."
    rayan terkekeh.
    "itu topi kamu basah karena keringat atau apa?"tanya sang nenek sambil menunjuk topi yang rayan taruh di atas meja.
    "jatuh ke sungai tadi nek. Hampir aja gak dapet..untung ditemui sama orang...aduuhh..luar biasa nek...rayan mesti ngejar nih topi cukup jauh mengikuti sungai..."cerita rayan.
    "makanya hati2..."
    "tadi itu diterbangkan angin nek..."
    "siapa yang nemuin? Kok bisa ditemuin?"tanya sang nenek.
    Rayan kembali teringat dengan wajah cakep pengendara sepeda ontel itu.
    "gak tahu namanya nek..lupa tadi kenalan...dia lagi mandi tuh...kebetulan lihat ada topi yang hanyut katanya..."
    "aduh, kamu gimana sih yan? Gak nanya nama orang yang udah nolong?"
    "lupa nek..dia itu sebaya sama rayan kayaknya. uhmm..waktu rayan jalan ke sini, rayan ketemu juga...dia pake sepeda ontel..."
    "diki mungkin? Kalo yang sering pake sepeda dan masih muda kemungkinan sih itu diki..."
    "diki..."gumam rayan.
    "kayaknya sih dia...dia itu anak yang baik yan...rajin juga. dia seumuran kamu, tapi setamat SMA dia gak sekolah. Kekurangan biaya..."terang nenek.
    Rayan mangguk2.
    "kasihan juga ya nek.."
    "makanya kamu itu harus bersyukur karena dikasih rezeki melimpah...bisa mengecap sekolah tinggi..."pesan nenek.
    "ya nek..."
    "ya udah makan dulu. Nanti ceritanya..."pungkas nenek.
    Rayan mangguk lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.
    ...

    ***
    "yan...! Rayan...!!"
    rayan yang tengah santai sambil mendengar mp3 dr ponselnya langsung keluar kamar saat mendengar seruan neneknya.
    "rayaann..!!"
    "ya..ya..! Kenapa nek?"
    "kamu mau nggak bantu nenek beli kacang tanah di pekan?"
    "di mana nek? Rayan blm tau..."
    "kamu jalan keluar gang. Jalan arah ke ujung kira2 melewati enam buah rumah ada tanah lapang di sana...nanti kalau di sana kamu tahu sendirilah..."
    "iya deh...."
    "ini duitnya..."
    "pake duit rayan aja nek.."kata rayan sambil berjalan masuk ke kamar lagi.
    "sekarang rayann.."
    "yaa...rayan sisiran dulu.."
    "udah tampan..."
    rayan terkekeh.
    ...

    Seperti petunjuk sang nenek, rayan berjalan menuju ke ujung jalan besar. Setelah melewati beberapa rumah rayan akhirnya menemukan sebuah tanah lapang yang dipenuhi pondok2 tempat pedagang berjualan.
    Rayan langsung mencari pedagang yang menjual kacang tanah. Ia membeli setengah kilo kacang tanah sesuai pesanan neneknya. Setelah itu ia langsung pulang.
    Di pinggir jalan, tepatnya tak jauh dari gang menuju rumahnya, rayan melihat seorang ibu-ibu sangat kerepotan dengan barang bawaannya. Sepertinya ibu2 setengah baya itu baru saja dari pekan. Rayan kasihan melihatnya. Ia akhirnya menghampiri ibu2 itu.
    "maaf bu..."tegur rayan.
    Ibu setengah baya itu menoleh.
    "yo nak? Ado apa?"
    "ibu pulang ke mana?"
    "napo (knp?)? rumah ibu masuk di gang di depan..."
    "sama kalo gitu. Kalau gak keberatan sini aku bantu barang bawaannya..."kata rayan menawarkan bantuan.
    "eh...?"
    rayan langsung mengambil plastik besar hitam yang dibawa sang ibu.
    "mokasih nak...sapo namo kau ni? Baru ibuk tengok...(makasih nak..siapa nama kamu? Ibu baru lihat..)"
    "aku rayan buk, cucu wak haji..."
    "lhaa...cucung nyo? (oohh..cucunya?)"seru ibu itu.
    Rayan mangguk.
    "kapan ke sini?"
    "udah dua hari di sini buk..."
    si ibu mangguk2.
    sudah setengah jalan masuk gang, si ibu mengingatkan rayan, "nak, rumah ibu masuk gang di depan..."katanya sambil menunjuk sebuah gang kecil yang disampingnya terdapat bunga terompet.
    Rayan mangguk.
    Si ibu berjlan di depan dan rayan mengikuti.
    Tidak terlalu jauh dari gang, si ibu berhenti di depan sebuah rumah sederhana.halaman rumah itu hampir tak ada isi. Hanya ada sebatang pohon nyiur hibrida.
    "inilah rumah ibu...buruk..."kata sang ibu sambil berjalan naik ke teras. Setelah itu ia mengetuk pintu dan keluarkan seorang anak kecil berusia berkisar 9 tahun.

    "emak la balik? (emak sdh pulang?)"sapa perempuan kecil itu.
    "he-eh. Itu ambik barang kek kakak rayan nih...(he-eh. Itu ambil barang sama kakak rayan..)"jawab ibunya.
    Anak kecil itu bergegas menghampiri rayan.
    "sapo kakak ni mak? (siapa kakak ini mak?)"tanya sang anak itu.
    "dio nih kak rayan, cucung wak haji...(dia ini kak rayan, cucunya wak haji..)"terang sang ibu.
    Si anak mangguk2.
    "abang mano? (abang mana?)"tanya si ibu.
    "ado di belakang mak...Abaaanggg...!!"jawab si anak kemudian langsung teriak memanggil sang abang.
    "yoooo..!!"jawab seseorang dari arah belakang.
    "masuk dulu nak rayan. Ibu ambikkan air dulu yo?(masuk dulu nak rayan. Ibu ambilkan air dulu ya?)"kata si ibu pada rayan.
    "gak usah repot2 bu..."
    "idak...justru ibu nyo merepotkan kau...(gak..justru ibu yang sdh merepotkan kamu..)"
    rayan tersenyum.
    "bentar yo...(sebentar ya..)"kata si ibu lagi sambil masuk ke dalam.
    Bertepatan dengan masuknya si ibu, keluarlah seorang lelaki yang mungkin dipanggil abang tadi.
    "ngapo fir? (kenapa fir?)"tanya lelaki itu sambil menoleh ke arah rayan.
    Rayan tersentak sedikit dengan mulut terbuka.
    "lho..llu...kamu?"seru rayan.
    "cucu wak haji kan?"lelaki di depan rayan balik bertanya.
    "he-eh. Jadi ini rumah kamu?"tanya rayan.
    Pemilik rumah yang tak lain pengendara sepeda ontel dan penolong rayan di sungai beberapa waktu lalu itu mengangguk.
    Rayan tertawa.
    "lucu ya! Kita ketemu mulu...!"seru rayan heran bercampur senang.
    lelaki itu tersenyum.
    "nah, karena kita terus2an ketemu..., kayaknya kita harus kenalan dulu deh..,"kata rayan. "aku rayan.."sambung rayan sambil menyodorkan tangannya.
    "aku diki,"jawab sang pemuda itu sambil menyambut tangan rayan.
    "diki..berarti tebakan nenek aku benar..."
    "heh?"
    "iya...waktu aku pulang dr sawah itu, aku cerita ke nenek kalo ada yang nolongin nyelametin topi aku..tapi aku bilang ke nenek gak tahu namanya...kata nenek mungkin itu kamu.."
    "ooohh...gitu...maaf, kok kamu bisa sampai ke sini? Dari mana??"tanya diki.
    "dio nih yang bantu ibu bawa belanjaan, ki...(dia ini yang bantu ibu membawa belanjaan ki..)"timpal sang ibu sambil menaruh air putih dan sirsak ke atas meja.
    "ooo...makasih ya..."kata diki.
    "sama2. Kamu juga udah nolongin aku...kita seri sekarang he..he..."canda rayan.
    "nolong apo?"tanya sang ibu.
    "aku la nolong dapatkan topinyo yang anyut...(aku sudah menolong mendapatkan topinya yang hanyut)"jawab diki.
    "oooo...."
    "aku minum ya airnya..."kata rayan yang memang kehausan.
    "minumlah...minum...kami koh dak ado apo2 nak. Cuma ado air putih kek sirsak nilah...(minum..minum..kami ini gak punya apa2. Cuma ada air putih dan sirsak saja...)"kata ibu diki.
    "aku ke sini juga bukan mau minta macam2 kok buk, hehehe..."canda rayan lagi.
    "kalo ndak, biar ibu gorengkan ubi kayu ndak?"si ibu menawarkan.
    "boleh tuh mak..."kata diki.
    "gak usahlah bu..ngerepotin..."cegah rayan.
    "ah. Idak...tunggu sini yo...ibu gorengkan dulu..."kata ibu diki sambil berjalan ke dalam lagi.

    Sembari menunggu gorengan singkong si ibu diki masak, rayan dan diki mengobrol banyak di teras. Mereka dengan cepat bisa akrab, layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu tapi akhirnya dipertemukan kembali. Obrolan mereka berdua mengalir lancar sambil sesekali diselingi gelak tawa.
    "btw, kamu ada berapa saudara, dik?"tanya rayan.
    "aku punya tiga orang adik. Aku anak tertua..."
    "wah, berarti adik kamu masih kecil2 dong?"
    "iya.."jawab diki sambil mengangguk. "duo orang baru duduk di kelas 6 SD dan si bungsu safira, yang tadi..."
    rayan mangguk2.
    "kalo kamu?"tanya diki.
    "aku anak tunggal. the one and only..."
    "asik dong yah? dapat kasih sayang yang melimpah..."
    "hehe...tapi kesepian! Apalagi ortu gue...itu suka sibuk. gu..aku, maaf, sering ditinggal sendiri di rumah!"
    diki tersenyum.
    "aku pengen banget bisa punya adik atau kakak gitu, bisa buat diajak main..gila2an bareng...."
    "enak sih kalo hdp berkecukupan! Kalo kayak aku? Itu jadi beban, yan. Apa2 harus mendahulukan kepentingan adik dulu. Mana sempat buat main dan gila2an? Ini aja terpaksa gak melanjutin kuliah...harus ngalah sama adik...kasihan kalo aku harus mengorbankan mereka. Mereka harus sekolah tinggi. Aku untuk sementara cukuplah tamat SMA...kalo aku paksakan, sama aja aku menyiksa emak sama bak(bapak). Gak tegalah rasanya tiap lihat emak harus upahan merumput atau menyabit di sawah orang...apalagi kalo lihat bak yang tiap hari masuk keluar hutan cari kayu..."terang diki dengan pandangan menerawang.
    Rayan menetap lekat bola mata diki. Ada sepercik kepedihan di sana. Rayan sangat trenyuh. Ia tak pernah memikirkan ada orang yang harus mengalah demi kebahagiaan orang lain seperti diki. Sementara selama ini rayan sendiri selalu mementingkan ego-nya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
    "gimana rasanya duduk di bangku kuliah? Seru ya?"tanya diki.
    "eh? Biasa kok..."jawab rayan. Ia gak mau membuat perasaab diki makin terluka.
    "pastilah menyenangkan. Apalagi kalo aku lihat teman2 satu angkatan sama aku. tiap libur semester mereka pulang, pake kemeja atau kaos, sepatu bawa tas...berjalan mantap sambil tersenyum. wajah mereka makin bersinar, kelihatan intelek dan kulit mereka terjaga..."kata diki dengan nada teriris.
    "Ya Allah..."seru rayan dalam hati, "kenapa gue harus dengar pernyataan begini dari mulut diki? Sedih banget gue dengernya..."
    "mereka dielu-elukan sama warga kampung. Calon sarjana..."
    "semua orang punya garis tangan masing2 bro!"potong rayan. Ia gak mau diki makin terhanyut dalam kesedihannya. "orang yang kuliah gak serta merta hidupnya atau masa depannya akan sesempurna apa yang kamu lihat saat ini...banyak kok contoh orang terkaya di dunia bisa mematahkan persepsi dan cemoohan orang2. Mereka bisa bercokol dan menggenggam dunia meskipun gak tamat sekolah...jadi gak usah sedihlah bro...nasib bukan tergantung dari kuliah atau nggaknya...yang menentukan itu Tuhan dan kerja keras kita..."kata rayan berusaha menghibur.
    "ya..yan...makasih. Mungkin aku cuma..yaa...kamu ngertilah perasaan aku..."
    "ya,ya..aku ngerti banget. Membantu orang tua sepuluh kali lipat lebih mulia dibandingkan kuliah menghamburkan uang tanpa ada hasilnya, right?"
    diki tertawa. "kamu bisa aja..."
    "he..he..."
    "ngobrol apo nih? Sampai2 bunyi tawonyo sampai ke dapur...(ngobrol apa nih? Sampai2 tawanya sampai ke dapur...)"tegur bu diki yang baru saja datang dari belakang sambil membawa sepiring ubi goreng yang masih hangat.
    "gak kok bu..."jawab rayan sambil menatap wajah teduh penuh guratan yang menandakan kesulitan hidup itu. Dari sudut matanya yang keriput rayan bisa menangkap kulit sembab bekas air mata.
    "apa mungkin beliau mendengar percakapan kami barusan??"gumam rayan dalam hati.
    "dimakan nak..."kata ibu diki.
    "ya bu..."
    bu diki kembali ke dalam.
    Rayan menatap lekat wajah diki.
    "kenapa?"tanya diki.
    "apa mungkin ibu kamu tadi dengar percakapan kita?"
    diki mengangkat bahunya tanda tak tahu.
    rayan menghela nafas.
    "maafin aku dik..."kata rayan kemudian.
    "buat apa?"
    "udah bikin kamu sedih...mungkin juga ibu kamu..."
    diki tersenyum tipis.
    "udah, gak usah dibahas. Nikmatin aja ubi gorengnya..."
    rayan mengangguk.
    Mereka kemudian berdiam diri sejenak.
    Tiba-tiba datang perempuan berseragam SD masuk ke rumah. dia adik diki yang baru pulang sekolah.
    "ngapo cepat balik fit?"tanya diki.
    "guru2 rapat kak..."jawabnya.
    diki mangguk2.
    "ini punyo sapo kak?(ini punya siapa kak?)"tanya adik diki itu sambil melirik plastik hitam yang tergeletak di dekat kursi.
    rayan langsung menepuk jidatnya.
    "ups! Duh, aku lupa! Itu kacang tanah pesanan nenek! Weewww...gara2 ngobrol jadi kelupaan! Pasti nenek udah ngomel2 nunggu aku! gue pulang ya!"seru rayan sambil bergegas mengambil kantong plastiknya.
    "gak mau ambil ubinya lagi?"tanya diki.
    "gau usah! Thanks ya! Bilang sama ibu kamu makasih juga!"
    diki mangguk.
    "kapan2 ke sini lagi ya?"
    "gantian kamu lagi ke rumah..!"seru rayan sambil berjalan melintasi halaman.
    "besok gimana kalo kita jalan2 aja? Mau gak?"ajak diki.
    "kemana?"
    "keliling2 kampung...."
    "umm..."
    "pake sepeda!"sambung diki lagi.
    "sip! Besok aku ke sini!"
    "ya..."
    rayan mengangguk kemudian berlari menuju rumah neneknya.
    ...