BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Bukan Lawan Jenis

    Pulang dari rumah Rizky, Bang Albert langsung menyambangi gw di kamar.
    "Ada perlu apa? Mau minjam apa?" tanya gw.
    "Gw cuma mau bilang tolong jangan umbar aib lu kemana-mana."
    "Aib? Maksudnya apa nih?"
    "Lu nggak usah ngebanggain di depan orang lain kalo lu homo."
    "Lu kenapa sih? Tiba-tiba datang marah-marah..."
    "Lu gak perlu mamerin pasangan homo lu itu ke teman gw. Jijik tahu nggak?!"
    Gw menghela nafas dan berusaha tahan emosi.
    "Gw gak paham sama yang lu omong. Gw pamer kesiapa? Teman lu yang mana...?"
    "Tadi sama Edo."
    "Perasaan gw gak pamer..."
    "Lu bilang mau jalan sama Rizky. Gak usah lu kasih tahu. Maksud lu apa?"
    "Gak ada maksud apa-apa. Lu aja yang negative thinking. Kak Fredo juga gak bakal macam-macam. Parno banget!"
    "YA, gw parno. Gw takut banget mulut lu keceplosan bilang soal penyakit lu itu yang bakal bikin malu gw!"
    "Haish! Lu itu gak tahu apa-apa. Silahkan lu mau bilang gw apa. Lu gak tahu apa-apa tentang orang-orang terdekat lu. Karena apa? Karena lu terlalu sibuk sama ketakutan lu."
    "Hah! Ngomong apa sih lu? Gak jelas. Udah! Gw ingetin, bersikap kayak cowok tulen kalo di depan teman gw!"
    "Ya kali, teman lu cowok tulen..." cemooh gw. "Dia aja gak masalah. Malah nyuruh gw have fun, wkwkwkwk...!" ledek gw.
    "Gw hajar lu!" geram Bang Albert.
    "Ngoookkk..."

    ***

    Bang Albert gak henti-hentinya nyerang gw. Ngata-ngatain gw seenak jidatnya. Bilang gw bukan cowok tulen hanya karena suka cowok. Dasar otak udang! Karena cowok suka cowok bukan berarti dia bukan cowok tulen, bego! Orientasi seks seseorang gak bisa dijadikan patokan seorang cowok tulen apa kagak. Banyak cowok melambai yang justru mereka suka cewek, dan begitu juga sebaliknya banyak cowok bertampang maskuline, bulu dimana-mana, laki banget, tapi demennya yang ganteng. Emang sih Albert rada-rada bloon deh. Udah kerja masih aja kayak anak-anak. Kalo marah kata-kata gak disaring. Gak ada bijak-bijaknya. Cih! Ngejudge gw, padahal dia sendiri gak tahu sohib dekatnya sendiri demen laki juga. Lihat aja, tunggu aja tanggal mainnya. Gw bakal bungkam mulut dia. Biar dia tahu, dia jijik sama gay, dia mencemooh kaum LGBT, berarti dia bukan cuma nyakitin gw, tapi juga nyakitin teman dekatnya sendiri!!!

    Oh, iya, satu lagi. Selama ini gw masih menghormati Bang Albert dengan cara gak pernah ngajak Rizky main ke rumah. Karena dia pasti eneg banget. Tapi sekarang gw gak mau peduli. Dia gak menghargai gw, gw juga gak bakal sungkan-sungkan lagi sama dia. Gw bakal ajak Rizky ke rumah, makan malam bareng Mama, Papa dan Mbak Aline. Bahkan bila perlu gw bakal kissing di depan dia biar dia muntah darah sekalian, hahaha.

    "Mbak, hari ini Rizky gw suruh ke rumah," kata gw ke Mbak Aline.
    "Tapi Albert ada di rumah."
    "Biarin!"
    "Lho, kamu bilang kalo ada Albert gak bakal ngajakin Rizky..."
    "Itu dulu. Sekarang bodoh amat."
    "Kamu gak takut mereka berantem?"
    "Biarin aja berantem. Brondong gw pasti gak bakal kalah. Dia kan jago bela diri..."
    "Ya udah, terserah. Itu kan peraturan kamu sendiri yang buat..."
    "Ya udah, gw mau telepon Rizky dulu."

    Gw akhirnya menghubungi Rizky.

    "Sayang, kamu lagi apa?"
    "Gak ada. Kamu jam berapa ke sini? Aku sendirian ini, kecepiaaannn..." Rizky sok manja.
    "Kamu aja ke sini."
    "Emang boleh? Abang Albert ada di rumah kan?"
    "Ada."
    "Kamu bilang jangan---"
    "Itu peraturan yang buat. Jadi kapan aja bisa aku cabut."
    "Emang gak apa-apa? Ntar timbul masalah lagi," Rizky khawatir.
    "Nggak kok. Kalopun ada masalah, aku yakin itu bukan dari kamu. Jadi aku bakal dukung kamu."
    "Oke. Aku perginya sekarang nih?"
    "Iya. Emang nunggu apa lagi?"
    "Aku berangkat sekarang."
    "Oke. Take care...!"

    Sekitar lima belas menit kemudian, Brondong gw datang dengan kantong plastik di tangannya.
    "Apaan itu?" tanya gw.
    "Kue Bika."
    "Pake beli kue ..."
    "Gak enak datang cuma pake tangan kosong..." katanya.
    "Seharusnya sih bukan bawa kue..."
    "Apaan?"
    "Bawa Ayah-ibumu untuk melamar aku, xoxoxox..." gw menyikut lengan Rizky.
    "Katanya nunggu aku tamat sekolah duluuu???" balas Rizky. "Udah gak sabar pengen MP ya sama brondong kece?" bisik Rizky.
    Gw langsung menggertakkan gigi.
    "Uhm! Om sama Tante mana? Mbak Aline juga gak ada..." Rizky langsung mengubah topik pembicaraan.
    "Mbak Aline lagi di dapur. Lagi eksperimen kue sama Bik Tatik. Mama lagi di taman...biasaaa. Papa...? Papa dimana ya? Pergi mungkin. Eh, kamu gak nanya Bang Bet?"
    "Calon Abang Ipar dimana?"
    "Di kamar. Mau nemuin dia nggak?"
    "Boleh."
    "Serius? Emang kamu gak jiper?"
    "Dikit sih..."
    Gw terkekeh.
    "Masa pendekar takutan?"
    "Takut itu manusiawi..."
    "Ya udahlah, gak usah urusin dia. Nah, sekarang kamu mau kemana? Ketemu Mama, Bantu Mbak Aline masak atau kita kelonan di kamar?" gw ngedipin mata.
    Rizky terkekeh.
    "Udah pasti dong yang mana! Aku gak bakal milih opsi terakhir!"
    Pupil mata gw membesar. Gak salah dengar nih gw? Dia nolak kelonan?

    "Nomor tiga kelonan lho..." gw menekankan.
    "Emang aku budeg apa..."
    "Tumben gak mau?"
    "Eh, kalo lagi di sini aku itu pengen dekat dan berbaur sama calon keluarga. Kalo lagi berduaan di rumah aku, baru deh urusan ini..." Rizky tiba-tiba meraih tangan gw dan menempelkannya ke selangkangannya.
    Gw langsung menggeram.
    Rizky terkekeh.
    "Lagian kok jam segini kamu ngajak kelonan? Lagi horny?"
    "Eh, dengar dulu ya penjelasannya. Kelonan yang aku maksud, kita berdua ke kamar, terus nonton berdua---"
    "Porno?" potong Rizky.
    "No! Film biasa. Atau kita baca cerita bareng---"
    "Stensilan?"
    "Humor. Atau nge-youtube atau sekedar ngobrol sambil tiduran..."
    "Dan ujung-ujungnya kita saling...?" Rizky mengangkat sebelah alisnya.
    "Saling terdiam dan ketiduran!" jawab gw enteng.
    "Ketiduran atau saling nidurin?"
    "See? Siapa yang lagi horny?"
    "Namanya lagi puber..."
    "Heeeh!!!" gw langsung meninggalkan Rizky.
    "Emang masa puber kamu gak gitu ya?" Rizky mengekori gw.
    "Nggak."
    "Boong. Eh, eh---Kuenya di taruh di mana?"
    "Kasih ke Mbak Aline!"
    Rizky setengah berlari menuju dapur.

    "Ma, Papa kemana?" tanya gw sambil berjalan mendekati Mama yang lagi sibuk menyiangi pangkal tanaman bunga yang gw gak tahu namanya.
    "Tadi sih di rumah. Emang mobilnya nggak ada?"
    "Nggak ngecek garasi sih..."
    "Mama juga nggak tahu..."

    "Tanteeee...!"
    Gw dan Mama menoleh ke arah sumber suara.
    "Eh, Rizky....!!" Mama sedikit mengangkat topi capingnya.
    Rizky langsung menghampiri Mama.
    "Wah, Tante punya Melati Holand juga?"
    "Iya. Tante surprise lho, kamu tahu namanya..."

    Oohh, namanya Melati Holand, gumam gw dalam hati.

    "Hehehe... Melati Belanda ini udah jarang ya, Tante? Bahkan selama di sini baru kali ini lihat lagi..."
    "Iyaaa... Tante aja mesannya ke Puncak lho..." Mama antusias banget ngejawabnya.
    "Jauh juga..."
    "Iya. Tante pesan sama Tantenya Al yang jalan-jalan ke Puncak."
    "Baru ya? Perasaan waktu aku ikut bersih-bersih belum ada..."
    "Baru tiga bulanan..."
    "Pantesan..."
    "Waktu tante beli belum berbunga. Harganya satu pot satu juta..."
    "Tapi emang cantik sih..."
    "Hehehe..." Mama ketawa puas.
    "Kalo bunga yang aku kasih dulu gimana Tante?"
    "Mawar hadiah ultah...??? Ya ampuuunnn... Lebat banget bunganya. Benar banget kata kaliaaaannn! Bunganya bisa macam-macam warna dalam satu pohon. Teman-teman Tante yang datang pada minta..."
    "Hehehe..."
    "Karena itu spesial makanya Tante taruh di taman depan. Kamu nggak lihat?"
    "Belum..."
    "Ntar kamu lihat sendiri..."

    Gw cuma planga-plongo aja dengar percakapan mereka berdua. Kalo mereka berdua udah ngobrol, gw bakal dicuekin. Gw gak dikasih kesempatan interupsi barang sejenak. Kalo udah gini, gw biasanya balik lagi ke rumah. Biarin aja mama dan calon menantu-nya itu sibuk sama tanaman.

    Akhirnya gw pergi menemui Mbak Aline yang masih berkutat sama bahan-bahan kue di dapur.
    "Rizky tadi mana? Kue Bikanya nggak dibawa..." kata Mbak Aline sambil menunjuk kue bika yang sudah ditaruh di dalam piring.
    "Ada di taman."
    "Terus ngapain kamu di sini? Dicuekin ya? Hahaha..."
    "Heeh. Pacarku diculik sama Mama."
    "Ya udah mendingan kamu bantu Mbak aja. Buat kue buat pacarmu itu."
    "Nggak bisa. Gw bantu nyicip aja ntar."
    "Hihhh..." gerutu Mbak Aline.
    "Papa kemana sih, Mbak?"
    "Di sumur."
    "Mancing ya?"
    "Iya. Kalo Papa tahu Rizky di sini pasti udah diajakin mancing juga..."

    FYI, kalo gak sempat keluar, papa emang suka mancing di sumur. Mancing lele yang emang sengaja dilepas dan dipelihara di sana. Biasanya kalo lelenya dapat sama papa dilepas lagi ke sumur, gak pernah benar-benar diambil. Alhasil, lele-lele yang ada di dalam sana udah pada gede-gede. Bahkan ada yang udah segede Tukul Arwana. Hihihi. Becanda. Seingat gw Papa pernah dapat lele yang segede betis orang dewasa. Sama Mama ikan itu dipotong dan dibagikan ke tetangga.

    Umur panjang, yang lagi kami omongin nongol juga.

    "Udah bantu mamanya?" tanya gw.
    "Udah..." jawab Rizky seraya mengelap keringat.
    Gw berinisiatif menuangkan air putih dan menyodorkan ke Rizky.
    "Makasih sayang..." kata Rizky.
    "Aiihh... Co cweeettt" goda Mbak Aline.
    Gw tersipu malu.
    "Om mana?" tanya Rizky.
    "Di sumur lagi mancing. Coba kamu cek gih..." kata gw.
    "Mancing...?"
    "Heeh..."
    "Kesana ah...!" Rizky langsung bangkit dari duduknya.

    ***

    Menjelang siang, Papa dan Rizky berhenti mancingnya. Mereka berdua nampak puas banget. Beberapa ekor ikan lele seukuran dua jari orang dewasa hasil tangkapan diambil sama papa buat digoreng.
    "Kayaknya puas banget..." kata gw.
    "Iya. Asyik banget mancingnya..."
    "Kayaknya sih gitu... Sampai-sampai lupa kamu kesini buat ngapelin siapa," sindir gw.
    Rizky terkekeh.
    "Udah. Buruan bersih-bersih dulu. Kamu bau lele..."
    "Hehehe... Iya... Iya..."

    Gak berapa lama kemudian, Rizky kembali menemui gw di kamar.
    "Yang, tadi aku ketemu sama Bang Albert," beritahu Rizky.
    "Oh, iya? Terus gimana reaksinya dia?"
    "Kayaknya sih dia gak suka sama aku..."
    "Sama aku aja dia gak suka, apalagi sama aku. Jadi santai aja."
    "Iya..."
    "Kamu gak diapa-apain sama dia kan?" gw meneliti tubuh Rizky dari ujung rambut sampai ujung kaki.
    "Nggak..."
    "Dia nggak ngacam kamu kan?"
    "Nggak. Dia cuma nanya kenapa aku di sini. Tapi rada sinis sih..."
    "Dasar tuh orang..."
    "Gak apa-apa sih. Namanya aja orang nggak suka..." Rizky menenangkan gw. Ia mencium pipi gw.
    "Ya. Yang penting Mama-Papa suka sama kamu."
    "Iya..." Rizky merebahkan tubuh ke ranjang.
    Gw ikut-ikutan merebahkan tubuh di sampingnya.

    Kita berduapun ngobrol tentang apa saja sembari menunggu panggilan untuk makan siang...

    ***
  • Re: AFTER YOU GO

    Part 18

    Nada dering ponsel membangunkanku dari tidur. Dengan mata terpejam, aku berusaha meraba-raba nakas yang ada disampingku, mencari keberadaan ponselku yang tetap terus berdering itu.

    Setelah menemukan benda persegi panjang yang sering berbunyi itu, aku langsung mengangkat panggilan dari seseorang yang tidak tahu waktu itu dengan mata yang masih terpejam.

    "Hallo," jawabku malas, "Ini siapa ya?" tanyaku tanpa basa basi.

    "Halo dek." Terdengar suara seorang pria yang terdengar tidak asing di seberang sana. Aku membuka mata sambil melihat layar ponselku, memastikan siapa yang telah menelponku semalam ini.

    "Hallo, masih di sana?" ujarnya lagi, membuatku kembali mendekatkan ponselku ke telinga. Tidak lupa aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar sebelum menjawab pertanyaannya.

    "Eh iya halo," jawabku sambil memperbaiki posisi tidurku. Sejak kapan Gaga pergi dari kosanku.

    "Udah bangun kan dek?"

    "Mmm..., aku belum bangun nih kak, masih di alam mimpi," jawabku yang membuat pria yang tengah menghubungiku itu terkekeh. Aku lalu melirik jam yang tergantung di dinding kamar, "Kakak sih nelpon jam segini, ayam jantan aja juga belum bangun."

    "Maaf ya dek, kakak cuma mau mastiin kamu nggak kenapa-kenapa kakak tinggal."

    "Emang kenapa aku harus dipasiin banget kak?"

    "Ya, mana tahu siap adek kakak tinggal, adek di apa-apain sama hantu kan," ujarnya disertai tawa di ujung perkataannya tadi. Aku mendengus menggerutu dalam hati dengan perkataanya yang seolah menyindirku secara tidak langsung.

    "Kakak sih, pulang nggak bilang-bilang. Kalau adek kenapa-kenapa, kakak mau tanggung jawab?"

    "Maaf ya dek, kakak ada kuliah pagi, jadi dengan terpaksa kakak harus pulang tadi malam. Lagian kamu juga tidurnya nyenyak banget, jadinya kakak nggak enak buat bangunin adek."

    Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. "Jadi kakak yang mindahin aku ke atas kasur?"

    "Nggak dek," Gaga menahan perkataannya, "Tadi malam ada hantu ganteng yang mindahin kamu dari meja ke kasur dek," jawabnya geli. Aku tidak bisa menahan senyumku mendengar jawabannya yang nyeleneh itu.

    "Oh ya? Kok aku nggak yakin ya?"

    "Adek saja sedang tidur, mana tahu di gedong sama hantu ganteng."

    Pernyataan Gaga membuatku tidak sanggup untuk tidak tersenyum. Aku tahu bahwa yang dia maksud hantu ganteng itu adalah dirinya sendiri. Pria itu sangat percaya diri dengan kegantengannya -yang memang aku akui itu. Wajahnya sangat tampan, setampan Reza yang dulu berhasil memabukkan hatiku. Wajah dan postur mereka yang mirip, bahkan sifat mereka yang mirip. Aku seperti menemukan sosok Reza di dalam sosok Gaga yang cepat akrab denganku itu.

    "Halo dek?"

    Aku terkesiap sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku harus ingat, Gaga dan Reza itu adalah orang yang berbeda. Aku tidak boleh menyamakan mereka, terlebih ketika aku sedang berusaha untuk melupakan Reza yang terus menghantuiku saat ini.

    "Eh ya kak," jawabku terbata-bata.

    "Kok diem sih? Ada apa?"

    "Eh nggak ada kak, aku cuman ngebayangin seganteng apa hantu yang menggendongku tadi malam," jawabku asal. Gaga terdengar terkekeh di seberang sana sebelum dia berdehem sejenak.

    "Nggak usah di bayangin dek, hantunya mah kalah ganteng sama kakak. Jadi kalau ingin tahu kayak apa hantunya, liat aja wajah kakak."

    Aku memutar bola mataku. Pria ini lama-lama dapat membuatku tersenyum lebar dengan tingkat percaya dirinya yang diatas rata-rata.

    "Jangan tersenyum ya dek."

    "Nggak kok kak, aku nggak tersenyum kok," kilahku sambil menahan tawa. Dia terdengar tertawa di seberang sana.

    "Tapi ketawa kan?" tebaknya yang membuatku terkikik.

    "Dasar hantu," aku menggigit bibirku gemas, "tahu aja."

    Gaga terdengar bergumam di seberang sana.
    "Oh ya kak, makasih udah bangunin aku ya. Aku bisa ngeprint tugas Pak Syamsul."

    "Tugas kamu sudah kakak print loh dek."

    Aku mengerutkan kening sambil melirik mesin pencetak tua yang aku beli di pasar loak setahun yang lalu. "Oh ya kak?"

    "Udah kakak jilid malah. Coba deh kamu lihat di meja belajar kamu, ada nggak?" ujar Gaga sehingga aku lalu menoleh ke arah meja belajar. Makalah bersampul ungu nampak terletak rapi di atas laptopku. Aku lalu menuju ke arah meja belajar dengan senyum simpul terpatri di wajahku.

    "Maaf ya kak, udah repot-repot memprint dan menjilid segala."

    "Nggak apa-apa kok dek. Dari pada kamu keteteran untuk menjilidnya pagi, mendingan kakak tolong aja sekalian."

    Aku tersenyum simpul, "makasih ya kak."

    "Don't mention it dude. Lagian juga kertas penjilidnya juga ada, ya sekalian aja kakak jilid. Bay the way mau buka bisnis fotocopy ya?"

    "Sebenarnya iya sih kak, mulai dari jilid makalah dulu. Tapi sayang nggak ada modal untuk beli mesin fotocopy ," selorohku sambil menahan tawa. Aku lalu membalik-balik makalahku sambil berseloroh kepada pria FE itu. "Jilidnya rapi ya kak, bisa dong jadi karyawanku nanti."

    Gaga terdengar tertawa di seberang sana, "terima kasih untuk pujiannya," ujarnya. Dia terdengar terdiam sebelum menarik nafas dalam. "Mmm..., Kamu kuliah pagi dek?"

    "Mmm... Iya kak."

    "Kakak jemput ya?"

    Aku terdiam sejenak memikirkan tawaran seorang Gaga Fernando Januar. Mungkin sebaiknya aku menerima tawarannya itu, untuk menghemat waktu dan uang tentunya. Sayang sekali apabila tawaran tersebut aku tolak.

    "Gimana dek?"

    "Oke kak, jam setengah tujuh ya. Aku tunggu loh di kosan."

    "Oke, setengah tujuh kakak jemput adek ya."

    ---

    Ponselku kembali berdering ketika aku tengah bersiap-siap pergi ke kampus. Aku yang sedang mematut diri di depan kaca, serta merta menyambar ponsel yang tidak jauh dari jangkauanku. Si pemanggil yang tertampang di layar ponselku membuatku mengerutkan kening. Tumben sekali beliau menelponku sepagi ini. Aku lalu mengangkat panggilan tersebut dengan berhati-hati, setelah merasakan sesuatu yang tidak beres dari panggilan telepon itu.

    "Hallo Bu De?" tanyaku sambil melirik kalender di meja belajar. "Ada apa ya Bu De?"

    "Kamu sekarang lagi dimana ganteng?" tanya beliau dengan nada ramah. Berarti biaya kosku yang dikirim ibu bulan ini sudah sampai ke rekening beliau.

    "Di kamar Bu De, ada apa ya?"

    "Kamu udah makan nak?"

    Aku kembali mengerutkan kening sambil menggaruk tengkuk kepala. Tumben-tumbenan ibu kosku menanyakan hal seperti ini kepadaku. "Belum Bu De."

    Ibu kosku itu terdengar berbicara dengan orang lain. Terdengar klasak klusuk tidak jelas sebelum wanita berbadan tambun itu berdehem lalu melanjutkan perkataannya. "Kamu makan bareng Bu De ya di bawah. Kebetulan Bu De masak lebih, sekalian ada yang ingin Bu De bicarakan dengan kamu," ujar beliau.

    Aku melirik jam dinding, lalu mengiyakan ajakan langka dari ibu kosku itu. Wanita itu terdengar sangat senang sambil menutup panggilannya. Aku mengangguk-garuk tengkukku kebingungan dengan tingkah ibu kosku yang mendadak aneh.

    Aku lalu mengemasi barang-barang yang akan aku bawa ke kampus nanti. Tidak lupa makalah setebal 29 halaman beserta cover, tugas dari Pak Syamsul Bahri aku masukkan kedalam ranselku. Aku juga memeriksa dompetku, memeriksa uang kosanku yang mulai menipis itu.

    Setelah memastikan kamarku terkunci rapat, aku lalu turun ke lantai dasar sambil menuju ruang makan Bu De. Fikiranku masih menerawang dengan kemungkinan yang terjadi nanti. Mungkin Bu De hendak menaikan tarif sewa kamar kos, atau yang lebih ngeri lagi berniat hendak mengusirku dengan cara mengajakku untuk sarapan bersama terlebih dahulu. Aku kembali menggeleng mengenyahkan pikiran buruk tersebut dari fikiranku. Bu De mungkin saja sedang mengadakan syukuran sehingga mengundang anak kosnya. Ya pasti itu, bukan yang lain. Aku harus bergegas sebelum sarapan yang disiapkan Bu De tandas oleh penghuni kos yang lain.

    Aku mengucapkan salam kepada keluarga kecil tersebut. Nampak sepi. Hanya ada Pak De yang tengah membaca koran. Lalu Sarah, anak Bu De -yang sepertinya sedang menunggu kedatanganku. Ekspresinya langsung berubah ketika aku muncul dari pintu sambil membaca salam. Dan Bu De yang tengah menyiapkan hidangan, nampak tersenyum gembira dengan kedatanganku. Tidak ada penghuni kos yang lain di ruang makan. Mengetahui kedatanganku, wanita berdaster loreng macan dan rol rambut di kepalanya itu langsung menyambutku dan menyuruhku untuk duduk.

    "Kamu suka telur dadar atau mata sapi, ganteng?" tanya Bu De yang kembali berkutat dengan wajan penggorengannya.

    "Telur dadar saja Bu De," jawabku salah tingkah. Tidak lupa, aku melirik Sarah yang nampak seperti hendak membrondongku dengan pertanyaan.

    "Bang," panggil Sarah sambil memutar-mutar ujung rambutnya yang tergerai itu. Dia seperti mengetahui bahwa aku sedang mengawasinya saat ini. "Yang semalam itu siapa abang sih?" tanyanya menatapku penuh rasa penasaran.

    Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan gadis kelas XII SMA tersebut. Aku mulai mengerti sekarang. Jadi ini alasan Bu De memanggilku makan bersamanya pagi ini, tanpa mengajak penghuni kos yang lain. Bu De hendak menginterogasiku rupanya. Sama kejadiannya ketika Reza datang pertama kali ke kosanku beberapa tahun yang lalu.

    Aku menggigit bibir bawahku sambil tersenyum jahil ke arah gadis baru gede itu. "Dia pacar abang dek," jawabku.

    Sarah langsung melipat tangannya sambil menatapku jengah. Nampaknya guyonanku itu tidak mempan lagi untuk keluarga ini seperti setahun yang lalu, saat mereka menanyakan siapa cowok yang menginap di kosanku malam itu. Pak De tersedak dengan minumannya, Sarah yang melongo panjang, dan Bu De yang hampir pingsan di buatnya. Syukurlah Reza saat itu juga turut makan bersama kami berhasil menenangkan suasana dengan mengatakan bahwa apa yang aku katakan, bahwa aku dan Reza berdua berpacaran, itu hanyalah sebuah candaan.

    "Jangan becanda ganteng," ujar Bu De sambil meletakan sepiring nasi goreng di hadapan suaminya. Wanita tambun itu duduk di sampingku sambil menyendoki beberapa sendok nasi goreng ke piring, "Cowok semalam siapa ganteng?" tanya ibu kosku itu penasaran. Beliau lalu menjejali piringku dengan sayuran dan sebuah telur dadar besar yang baru keluar dari penggorengan. "Ini di makan."

    "Terimakasih Bu De." Aku menerima sepiring nasi goreng tersebut dengan senyum sumringah. Nampaknya beliau sangat penasaran sehingga kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk yang kedua kalinya.

    "Dia teman aku Bu De," jawabku disertai cengiran. Wanita tambun itu melongo panjang dengan mata menerawang. Mungkin memikirkan pertanyaan lanjutan.

    "Anak Psikologi juga?" tanyanya lagi sambil mengisyaratkanku untuk memulai makan. Sarah yang sedang menyendok nasi gorengpun nampak antusias.

    "Nggak Bu De, dia anak Fakultas Ekonomi. Kita saling kenal saat menemani Doni ke kota sebelah," jawabku seadanya. Wanita itu mengangguk-angguk dengan senyum puas.

    "Namanya siapa bang?" tanya Sarah yang hendak menyendok nasi ke dalam mulutnya. "Semester berapa?"

    Aku memandangi gadis itu sejenak. "Namanya Gaga Fernando Januar dek. Kita satu tahun masuk," jawabku.

    "Tapi teman abang itu terlihat kebih dewasa deh," Sarah mengecilkan volume suaranya, menatapku berhati-hati, " kalau di banding abang," ujar gadis berambut panjang terurai itu, sehingga sang ibu lalu nempelototinya.

    Aku tidak ambil pusing dengan ucapan Sarah tadi. Apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya juga. Gaga terlihat lebih dewasa dibanding aku maupun Doni. Walaupun secara kelahiran, dia memang lebih tua daripada diriku 72 hari.

    "Emang dia semalam bertemu dengan Bu De?" Aku menoleh ke arah ibu kosku.

    "Iya ganteng, semalam sekitar jam dua belasan, anak itu...," Bu De seperti berfikir keras, "siapa namanya?"

    "Gaga Bu De," jawabku.

    "Ah ya, nak Gaga itu mengetuk pintu rumah mohon izin untuk pulang. Bu De sempat pangling lihat wajahnya sebelum sadar ada orang asing di depan pintu. Bu De lalu memanggil Sarah. Anaknya rupanya ramah dan sopan, meminta Bu De untuk mengunci pintu kamar kamu. Tidak lupa dia juga mengangkat kamu dari meja ke atas kasur. Huh setia kawan sekali kawan kamu itu nak," ujar Bu De sambil menerawang menatap meja.

    "Dia perhatian banget sama abang, sampai nyelimutin abang segala. So sweet banget," ujar Sarah sambil bertopang dagu dengan mata menerawang entah kemana. Kedua wanita yang ada di samping dan depanku itu nampak sibuk dengan khayalannya masing-masing. "Temannya aja perhatiannya kayak gitu, apalagi kalau pacar ya," gumam gadis itu lalu terkikik menutup wajah.

    Aku hanya bisa melongo, lalu menoleh ke arah Pak De yang sedang menikmati makanannya. Beliau seperti tidak terganggu dengan sikap anak dan istrinya yang mendadak aneh itu.

    "Eh ganteng, mobil itu punya dia ya?" Bu De mencubit lenganku dengan semangatnya. Sambil mengelus-elus lenganku yang sakit aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu De tadi. Bu De nampak senang sambil melirik anaknya yang sedang menatapku itu.

    "Berarti nak Gaga anak orang kaya ya?"

    Aku mengedikkan bahu, "nggak tahu juga sih Bu De, tapi nampaknya iya deh."

    Mata kedua anak beranak itu kelihatan berbinar-binar. Sarah yang aku tahu sudah mempunyai pacar brondong itu menatapku malu-malu sambil menggigit bibir bawahnya. Tidak lupa memprlintir-plintir ujung rambutnya. "Anu bang. Bang Gaga itu udah punya pacar belum?" tanyanya malu-malu. Pertanyaanya membuatku sedikit kaget. Aku berfikir sejenak sembelum tersenyum ke arahnya.

    "Gaga kalau yang kakak tahu udah punya pacar deh Sar," ujarku sambil memegang tangannya. Gadis itu kelihatan kecewa, berbeda dengan hatiku yang mendadak senang setelah melihat ekspresi anak ibu kosku itu.

    Ibu kosku mengibas-ngibaskan tangannya. "Udah, nggak usah di fikirkan. Bisa aja salah kan," tukas Bu De yang mungkin bermaksud menghibur anaknya. Wanita itu menoleh ke arahku, "cowok ganteng yang kemarin-kemarin kemana nak? Kok nggak di ajak ke sini lagi?"

    Suapanku terhenti mendengar pertanyaan Bu De. Aku tahu pasti yang beliau maksud adalah Reza, karena selain Doni, hanya Rezalah yang pernah aku bawa ke kosanku."

    Aku melirik Bu De sekilas, sambil melanjutkan suapanku yang terhenti tadi. "Maksud Bu De Doni?"

    "Bukan nak Doni. Tapi siapa itu, teman kamu yang pakai motor gede itu, yang pernah nginap di kosan kamu itu. Ah lupa Bu De namanya."

    "Reza maksud Bu De?"

    "Ah iya, kenapa dia nggak ke sini lagi?" tanya Bu De.

    Aku terdiam cukup lama, saking lamanya, Pak De yang tidak suka ikut campur urusan orang itu juga menatapku. Aku menarik nafas panjang sambil berusaha mengulum senyum. "Doi sibuk sekarang Bu De, maklumlah mau akhir semester. Kebetulan juga dia udah punya pacar baru juga," jawabku sambil menekan kata pacar baru.

    "Mungkin pacarnya itu nggak seperti dia harapkan nak," ujar Bu De yang dengan telak berhasil menohokku secara tidak langsung.

    Aku tertunduk sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di depanku. Nafsu makanku tiba-tiba hilang akibat pernyataan ibu kosku itu.

    "Lah loh kok kamu yang sedih sih ganteng?" tanya Bu De membuatku menatap wanita itu lekat-lekat.

    "Nggak kok Bu De," elakku.

    "Walaupun udah punya pacar baru, sekali-kali ajak juga lah temanmu ini ke sini."

    Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. Bu De lalu tersenyum sambil melanjutkan makan beliau. Permintaan Bu De terdengar mustahil di fikiranku, setelah apa yang telah di lakukan mantanku itu padaku.

    "Tapi yang jelas, bang Gaga sering di ajak ke sini ya bang. Sarah ingin kenalan sama dia," ujar gadis itu bersemangat. "Sekalian pengen di ajakin oleh teman kakak itu jalan-jalan sama mobilnya," ujar gadis itu, sambil menutup wajahnya yang memerah dengan tangan. Bu De nampak mempelototi anak gadisnya yang kegatelan itu.

    "Mobilnya warna merah ya," Pak De terdengar bersuara dengan koran pagi yang terentang menutupi wajahnya. Kami bertiga serentak menoleh ke arah pria paruh baya tersebut dengan wajah penasaran.

    "Dari mana Papa tahu? Papa kan semalam udah tidur," tanya Sarah sambil menatap wajah ayahnya yang tertutup koran. Pria itu lalu menurunkan koran yang beliau baca dengan malas. Dengan isyarat mata, beliau menggiring pandangan kami kearah satu titik di luar sana. Mataku lalu tertuju ke arah halaman kosan yang tidak seberapa luas itu. Gaga, si pria FE itu nampak keluar dari mobil bewarna merahnya itu sambil menatap ke arah kamar kosanku.

    Aku hanya bisa menepuk jidatku sendiri ketika mendengar pekikan tertahan anak ibu kosku sendiri.
    Gaga menjemputku di saat yang tidak tepat rupanya.

    ---tbc
    R~
  • Re: Cerita Gue

    Introduksi


    Halo nama gue Andi. Sekarang gue udah semester enam di salah satu perguruan negeri di Depok. Semester enam ini bisa dibilang masa-masa kritis karena kita sebagai mahasiswa udah dianggap punya kemampuan yang kuat dan sebentar lagi bakalan ngalamin yang namanya skripsi atau tugas karya akhir. Tapi hal itu gak berlaku buat gue. Bisa dibilang gue salah jurusan. Semester yang makin tinggi ini, cuma bikin gue makin pusing karena tugasnya makin berat. Kalo sekedar tugas individu sih oke karena semuanya gue yang nanggung Tapi kalo udah tugas kelompok tuh, bisa gila woy. Apalagi kalo sekelompok sama temen yang ambi. Udah deh bawaannya pengen ilang aja.
    Ohya jurusan gue bisa dibilang jurusan paling prestisius yang ada fakultas. Gak cuma berisi dosen serta mahasiswa yang luar biasa jenius dan prestatif, mereka juga kaya. Apalah gue yang cuma anak orang miskin, jelek, bodoh, salah jurusan, homo pulak! Duh, hina banget gak sih. Untungnya gue bisa sedikit survive. Sampe sekarang IPK gue masih cumlaude coy! Ya walaupun bentar lagi bakal gak cumlaude kalo semester 6 ini gue jeblok lagi IPnya. Lol.

    Oke di sini gue bakal cerita tentang kehidupan gue sebagai Andi. Seorang cowok pendek homo yang sooo pribumi –berkulit cokelat- dan hidup di tengah hingar bingar perhomoan kota metropolitan. Bisa dibilang cerita gue lumayan macem-macem. Karena semenjak “pecah telor”, gue melakukan eksplorasi yang bisa dibilang beranekaragam. Udah banyak segala macem homo pernah gue temuin. Dan semuanya punya cerita. Haha
    So, ini lah cerita gue…






    Chapter 1: Boyzforum dan Awal Mula Pecah Telor


    Boyzforum bisa dibilang sarana yang cukup bikin hidup gue lebih berwarna sebagai homo. Di sini gue nemuin segala macem hal. Mulai dari hal sepele, hal nyeremin, hal aneh sampe yang bikin gue bertanya-tanya apakah itu beneran ada kejadiannya atau cuma khayalan para binan. Bagian favorit gue di boyzforum itu boyzstories (dulu masih nyatu,belom dipisah). Cerita apa aja ada. Dari yang bikin gue nangis, ketawa gak jelas, sampe crot diem-diem pun ada. Awalnya cuma main di bagian ini, tapi karena hampir semua cerita gue pernah pantengin dan banyak cerita yang gantung gegara penulisnya ilang, gue mutusin buat jalan jalan di bagian lain.
    Selagi jalan-jalan, ketemu lah sama thread yang isinya pin BB dari para user lain. Gue sebagai tipe orang yang excited kalo kenalan sama orang baru, mulai terpancing buat ngeadd. Gue add orang secara random. Sayangnya, karena waktu itu gue masih newbie dan masih ranum –belom tau apaapa dan belum pernah ngapainngapain- orang-orang yang udah masuk kontak BBM gue anggurin, yang paling say hi then over – delete contact-. Dari beberapa yang masih jadi kontak, ya gue perhatiin aja tingkah laku mereka dari update-an yang ada. Gue emang tipikal orang yang sukamerhatiin gerak-gerik dan perilaku orang lain jadi ya seneng aja liat RU diisi oleh update-an dari stranger. Hahaha.


    Ohya waktu itu gue masih kelas 3 SMA, sekitar awal semester dua. Dunia mulai kacau karena mesti siap-siap UN dan persiapan masuk kuliah. Suatu ketika gue nemu thread SNMPTN dan SBMPTN di boyzforum. Di sana ada yang ngajakin buat belajar bareng soal-soal SBM. Karena merasa tertantang, ya gue PM aja tuh orang yang ngajakin then si doi ngasih kontaknya. Setelah melalui proses chit-chat yang lumayan lama, ditetapkanlah jadwal belajar bareng kita pas hari pengumuman SNMPTN.
    Hari H tiba. Gue sebenernya agak males-malesan karena ketemuannya di restoran cepat saji. Gue tipikal orang miskin norak yang gak suka ketempat gituan karena mahal. Ya gue sih sadar diri aja. Lagian itu gak sehat kan ya. Wkwk. Karena males-malesan itu gue telat berangkat kesana. Group WA kelas yang heboh gegara ngecekin hasil SNM pun bikin gue terdistraksi, ya jadi makin mager gue buat berangkat. Padahal kita janjian ketemu jam 10 di tempat, tapi gue baru berangkat jam 9 yang mana jarak antara rumah sama tempat itu hampir dua jam. Belom lagi ditambah sama macet. Udah deh, gue sampe sana jam 12 lewat wkwkwkwk. Sebenernya kita juga janjian buat buka hasil SNM barengan. Tapi karena jam 12 pas pengumuman SNM gue masih di bus Transjakarta, jadilah gue stay dulu di haltenya. Ya untung aja keterima di tempat sekarang gue kuliah, seneng deh. Haha
    .


    Anw, kita ketemuan di Mcd Sarinah. Salah satu MCD paling hits sedunia perhomoan. Kwkwk. Pas masuk awalnya gue agak bingung di mana mereka duduk. Akhirnya setelah nengok-nengok gak jelas, ketemu tempat mereka duduk. Dan… ada yang ganteng wey. Wkwkwk. Sayangnya dari semua yang dateng yakni 4 orang cuma gue yang lulus SNM, sisanya 2 orang gak lulus dan satu orang ronin –jadi doi gak buka snm ah ya wkwk-. Jadilah gue dikucilin sebagai yang paling telat dan sebagai anak undangan. Huhuhu. Beberapa jam kemudian setelah lelah belajar SBM, akhirnya kita mulai ngobrol ngalor ngidul. Selain itu jumlah personilnya pun nambah. Koneksi gue pun bertambah. Anw, ini pertama kalinya gue meetup sama orang dari forum. Wkwkwk. Gegara pertemuan ini kita mutusin bikin group buat ngobrol. Dari situ kita ngerencanain pertemuan selanjutnya.


    Pertemuan selanjutnya kita janjian di salah satu tempat di Kuningan. Waktu itu yang pasti hadir cuma si pengajak belajar dan si ganteng, juga gue yang nyusul belakangan karena habis hunting buku di bookfair. Di sini kita mulai cerita banyak dan mulai terbuka satu sama lain. Eng.. ing.. eng.. ternyata si ganteng ini pernah ada di kontak BBM gue hasil ngeadd random dulu. Pantes mukanya gak asing. Sayang hp dia yang lama ilang, jadi kontak BBMnya gada yang ke save karena diapusin sama yang ambil. Huhu. Pas di Kuningan ini mereka juga ngenalin gue sama aplikasi dating. Dari sini lah, gue semakin “pecah” karena tau ada aplikasi begituan.


    Ya begitulah awal mula gue bisa pecah telor. Meetup sama orang asing pertama kalinya, bikin gue ketagihan buat ketemu sama orang asing lainnya. Di satu sisi ini baik, tapi disisi lain ini juga buruk. Oke sampe segini dulu ya.
  • Re: Bukan Sekedar Cinta

    Cerita Bukan Sekedar Cinta di post lagi di fp Cerita Dunia Pelangi dengan judul All My Love Is for You, dan disana penulisnya minyuu. aku pas tau sempet kaget dan kecewa karena dia mengklaim itu adalah ceritanya.
    miris ketika membaca komen dia bilang dia bekerja keras menulis semua itu.

    tapi... dia udah minta maaf dan menghapus cerita All My Love Is for You dari FP tersebut. cuma sebagai bukti rasa bersalah dan bertanggung jawabnya, aku minta dia buat pengumuman di wall FP tersebut kalau penulisnya itu VeneNara dan ternyata permintaanku direspon dengan berbagai alasan yang pada akhirnya akun pengguna FB nya ikut menghilang.
    so, aku tidak tau dia tulus atau tidak dengan permintaan itu.

    aku tidak bermaksud apa2 disini, anggap saja aku sedang curhat. curhat seorang penulis gila yang gilanya lagi kumat.

    Hadeehhh.....ternyata diplagiat itu emang ga enak banget ya rasanya. maafkan aku wahai para senior.

    untuk kamu yang sudah berbaik hati menyebar cerita ku meski bukan dengan judul aslinya, aku yakin kamu bisa membuat cerita yang lebih baik dari yang ku buat. so, cobalah.. karena rasanya akan lebih menyenangkan karena itu karya kamu seutuhnya.

    wokeh, makasih semua yang sudah mau baca cuap-cuap Nara.


    di FP Cerita Dunia Pelangi aku udah buat pengumuman juga, soalnya pada ngira cerita itu putus begitu saja seiring dengan menghilangnya minyuu.
    gak tau mereka baca ato gak, percaya ato gak sama aku.

    huufffttttt.....


    please somebody entertain me.
  • Re: Bukan Sekedar Cinta

    Cuap-cuap tengah malam...

    Bagi yg berharap ini updetan, maaf ini sama sekali bukan.
    Aku baru dapt berita yg mengejutkan (bahasanya) yg membuat aku berpikir 'sebaiknya aku lanjutin gak ya ini cerita?'
    Hohohoho...

    Aku benar2 terimakasih Buat kalian yg udh mau meluangkan waktu membaca cerita tidak seberapa ini. Terimakasih buat kalian yg udah mau sabar menunggu. Terimakasih buat kalian yg berbaik hati memberi masukan. Dan terimakasih buat kalian yg udah ngasih komentar dlm bentuk apapun.
    Aku tau aku masih banyak kurang jd g pernah masalah dg komentar kalian yg berusaha menegurku agar aku bisa lbh baik.

    Aku tdk pernah tau apa makna cerita ini untuk kalian. Krn spt kubilang tadi, cerita ini tidaklah seberapa.. tp anehnya kalian malah tetap mau baca wkwkwk. Cm aku benar2 berharap kalian bisa terhibur dg cerita yg ku buat. Kalian boleh percaya atau tdk, aku tulus menulis ini utk menghibur. Meski lelet, lamban, menyebalkan, membuat menunggu, tp saat kalian blg kalian suka. Aku senang. Berarti tdk sia2 aku begadang. Tidak sia2 aku Menyisih sedikit waktu sibukku untuk tetap menulis. Krn pd akhirnya tulisan yg lama ini bisa membuat kalian menikmatinya.

    aku tau kadang kalian kesal, tp mau bagaimana lagi kemampuanku cm segini. Dan seharusnya aku tetap pd rencana awal, mempost cerita ini saat sudah ending.
    Nasi telah menjadi bubur. Hiks

    Aku baru tau kalau cerita ini di post di tempat lain, dan bukan aku sbg pengarangnya. Dulu aku pernah memandang sebelah mata ts yg seakan kebakaran jenggot waktu tau tulisannya dicopas.
    Karma berlaku, skrg aku merasaknnya.

    Lebay banget ya, begini doang pake pengumuman segala.
    Tapi ya itu, gak enak aja rasanya.

    Aku berusah berpikir positif, berarti ceritaku diterima tp itu tdk ckup menghibur. Makanya aku cuap2 disini

    Nasib BSC kita lihat ntar. Aku mulai ragu, tp aku akan penuhi janji untuk tamatin ini cerita.
    Haduh bingung.

    Ngawurrrrr bahasanya.

    Maaf sodara2 TS lg galau, bahasanya jd g jelas gini.

    Tidur dulu deh ya, biar enak mikir besok.

    Bye bye...
  • Re: GETIR (BASED ON MY TRUE STORY)

    BEFORE MARRIED part 1


    Meski pernikahanku terbilang masih lumayan lama,tetapi pihak keluarga calon sudah nguber uber untuk nyicil persiapan dari sekarang.Otomatis hari hariku banyak dihabiskan bersama calon,hunting ini ngecek itu dsb.Dan fariz selalu saja menyuruhku brusaha menumbuhkan rasa pada calonku itu seiring kebersamaan yg intens tercipta bbrapa minggu belakangan ini.Oke,aku mencobanya.Di tiap makan bersama aku mulai lebih sering mau menatap muka calon pasangan hdupku,yg sblumnya aku sering pura pura sibuk memandang ke arah lain tiap dia mengajakku ngobrol.Di tiap jalan jalan ngecek persiapan nikah aku mulai banyak senyum yg kuusahakan tulus,yg mana sblumnya aku selalu memasang muka enggan disampingnya.

    Tapi sore itu mnjdi hari terkuaknya perasaan fariz yg sbnr2nya mengenai rencana pernikahanku.Fariz mengunjungi ibuku karna rindu pada wanita yg sudah berubah 180° itu.Fariz datang ketika aku shif malam,jdi aku tak berada di rumah saat pria yg juga berubah jd alim seprti ibuku datang ke kontrakan.Dan ketika aku pulang fariz sudah terlebih dlu pergi dari kontrkanku.Kata ibu fariz tak bisa menginap dgn alasan ada kawannya yg mau berkunjung ke kosannya.Ibu lalu bercerita padaku bahwa tadi ia mengungkapkan perasaannya pada fariz,kalau ibu sangat bahagia karna aku mau menikah.Malamnya Fariz mengirimkan pesan bbm padaku yg isinya agak membuatku terkejut.

    "Aku tadi lihat gmn ibu bahagia banget km mau nikah dit.Ibu semangat bgt nyeritain calon kmu.Ibu antusias dan meluap luap.Ibu begitu karna dia pikir karna rasa trauma akan perjalanan hidup kalian yg getir bisa buat km enggan menikah,makanya ketika km mutusin buat nikah,ibu bahagia sekali.Dan kamu boleh trtawa dit,aku yg selama ini dorong2 km buat belajar mencintai lawan jenis,msksa2 km buat nikah,lihat ibu sebahagia itu malah hatiku sakit sekali....baru terasa aku sbntar lagi kehilangan kamu,dit.Kehilangan ibu juga.Bodoh ya dit...maaf."

    Paginya ketika aku masuk shif pagi,dan fariz yg juga harusnya berada di kantor galery krna sbgai QC dia masuk pagi terus,tapi sampai jam makan siang pria itu tak nampak batang hidungnya .Aku gelisah mencari tahu.Bbm,line dsb tak dijawabnya.Lalu jam 12.30 dia baru membalas line ku.Dia bilang ingin sendiri dlu.Aku ancam dia klo ga mau ngasi tau dmn posisinya saat ini,aku batalkan pernikahanku.Great,cara itu sukses.Fariz menyebutkan sebuah nama pantai.Dan dgn gilanya aku bolos krja saat jam mkn siang usai,pdhl sedang bnyk tamu dari new york.Bodo amat!Aku langung nyusul fariz ke salah satu pantai di jogja.(fyi aku dan fariz sdh kmbali di jogja stlah job di tegal kelar).

    Aku melihat fariz menangis,untuk pertama kalinya sejak aku mengiyakan permintaanya untuk menikah.Dulu pria itu sendiri yg datang padaku mendorongku mengenal lawan jenis.Dia tak tahan melihatku terus mengharapkannya kembali disisinya sebagai kekasih.Sementara dirinya saat itu benar2 sudah lepas dari belenggu dunia pelangi.Benar benar sedang giat mendekatkan diri pada Tuhan dan melupakanku.Dan tiba tiba saja dikepalanya itu muncul ide gila untuk menghentikanku mengharapkan dirinya.Aku disuruhnya kawin!!!Dimintanya aku memikirkan ibuku yg sudah semakin tua,smntara aku belum juga menikah.Saat itu juga aku marah besar dan menolaknya mentah2.Hingga satu bulanan aku mendiamkan fariz,kesal dgn ide konyolnya itu.

    Tapi lalu takdir mempertemukanku lagi dengan dimas,rekan kerjaku di future distro pada suatu malam di sebuah undangan pernikahan tmn kami.Dimas yg biasa kmi sebut dimas ngondek karna gaya bicaranya yg kemayu itu mengejutkanku dengan kabar dirinya yg sudah menikah bahkan istrinya sudah hamil 4 bulan.Dimas,yg kmi tau tak trrtrik dgn mahluk berjenis kelamin perempuan,yg saat krja dlu berpacaran dgn sesama pria,toh nyatanya mau ngawinin cewe juga.Saat kutanya alasanya,jawabanya membuatku antara tertawa dan salut.Because religion.Seorang Dimas yg dulu enggan menjalani khdupan bragama dgn alasan dirinya kotor krna penyimpanganya,karna brtrmu dgn gadis baik nan muslimah yg membantunya sembuh,dia membuat keputusan besar dlm hdupnya,menikah.Dengan gadis alim itulah rekanku itu menikah.Karna gadis itu bilang menikah adalah separuh ibadah,menyempurnakan ibadah.Karna menikah adalah wajib bagi yg sudah mampu.Dimas memilih jalan itu.Jalan yg mnurutnya paling benar.Jalan itu pula lah yg akhirnya membuka mata hatiku.Bahwa Tuhan menuliskan dalam surat cintanya yakni Alqur'an,tentang lelaki yg berpasangan dgn perempuan.Bukan antara yanto dan bambang.Tapi Adam dan Hawa.Aku tersadar kemudian.Aku harus mengenal lawan jenisku.Aku tak boleh selamanya dibayangi hasrat akan diri fariz.
    Aku lalu dikenalkan dgn calonku itu oleh perantara seorang kawan.
  • Re: GETIR (BASED ON MY TRUE STORY)

    SURAT UNTUK FARIZ part 2

    Riz...malam itu hujan deras sekali beserta angin,kilat dan petir kencang.Ibuku dari dulu takut akan hujan hebat beserta rombonganya(kilat angin petir).Hampir setiap hujan deras ibu tak pernah lupa meneleponku sekedar bilang "dit,udane deres banget ning kene,gludug'e medeni,koe diokehi istigfar yo,"
    Ibu menelepon tujuannya untuk menenangkan perasaanya yg kalut melihat hujan dan kawan2.Tak peduli aku sedang meeting dgn relasi bos ku pokoknya hp ku itu tdk boleh off.Bahkan aku pernah ditegur seorang relasi bule yg menyayangkan kinerjaku yg minus sprti itu.Dan kamu tau Riz,fitri membuatku terkagum kagum karna upayanya menenangkan ibuku saat hujan angin hebat melanda jogja sore itu.Trnyata dia tau segala hal yg disukai ibuku maupun yg ditakuti beliau.Entah bgmna dia menyelidikinya aku tak habis pikir.Fitri datang ke kontrakan ibu dlm keadaan hujan besar beserta angin kencang,hanya untuk menemani ibuku,calon mertuanya.

    Riz...gadis itu sekarang sering mengunjungi ibu.Mendengarkan ibu berkisah,menemani ibu memasak etc.Ibu rindu kamu riz,tpi kamu tak pernah datang lagi.Alasanmu memang bisa kuterima.Perasaanmu sakit tiap ibu berapi api semangat menceritakan ttg fitri.Ibu begitu bahagia mendapatkan menantu sebaik dia.Ibu sangat bangga pada calon menantunya.Sungguh Riz ,atas nama ibu aku minta maaf atas perasaan terlukamu karna sikap ibu yg berlebihan mengungkapkan suka citanya padamu.AKU MINTA MAAF RIZ.MAAFKAN IBUKU JUGA.

    Riz...aku menemuimu malam itu di kosanmu.Kamu murung dan tak menyentuh tongseng kesukaanmu yg kubeli untukmu.Kudekati kamu,kubelai kepalamu dgn getir.Aku diam kau pun apalagi.Lima belas menit berlalu dan aku mengeluarkan sebaris pertanyaan;

    "Kau mau aku meninggalkan fitri?"

    Kau tak menjawab.Namun butiran air bening meleleh turun dari kedua sudut matamu perlahan lahan.Kau menangis tanpa suara.Kau menangis tanpa memandangku.Tatapanmu kosong ke luar jendela.Aku mendekapmu.Perasaanku hancur.Kau bukanlah orang selemah itu jika bukan bnr2 terpuruk.Kau mengkhianati perasaanmu sendiri Riz.Aku menangis keras di punggungmu.Kau akhirnya membuka mulut;

    "Jgn pernah lepaskan fitri,kau mungkin tdk akan diberi kesempatan kedua mendapatkan wanita sebaik dia.Jangan pikirkan aku lagi.Aku memang manusia paling gagal di dunia ini.lupakan aku."

    Riz...minggu kemarin adalah hari ulang tahun fitri.Dan dgn bodohnya aku memintamu menemaniku mencari kado untuk calonku itu.Kau yg memilihkan kado tsb untuk fitri.Sebuah dress mocca cantik yg sangat pas dan manis dikenakan gadis itu.Kau ikut tersenyum puas saat melihat dia mengenakan pilihanmu.Malam itu aku dan fitri berangkat untuk dinner dari kosanmu Riz.Kau melambaikan tangan dan tersenyum manis pada fitri.Tapi kau tak memandangku sama sekali.Aku sempat kepikiran saat mkn mlm romantis dgn calonku itu di sebuah resto.Tentu aku memikirkan kamu Riz.Aku tak sanggup membayangkan sakit di batinmu saat kmi berpamitan tadi.Tapi itu hanya sebentar.Fitri membuatku melupakanmu sejenak riz.Sikapnya yg penuh cinta kasih,menceritakan kegiatan2nya bersama ibuku,membuatku jatuh sayang pada sosoknya.Dia lembut dan hangat,seperti kamu riz.Dia sabar dan pemaaf,seperti kamu riz.Dia adalah kamu versi perempuan.Aku takjub dan senang,berpikir pasti lebih mudah menumbuhkan perasaan cinta pada fitri dgn kemiripan karakter sepertimu sperti itu.Dan terdorong rasa senang itulah aku menciumnya riz.....mencium lawan jenis untuk pertama kalinya.Benar2 ciuman tulus yg hangat,lembut dan sopan.Aku hanya melumat bibirnya perlahan tanpa rasa nafsu berlebihan.Setelah itu kami pulang dgn perasaan bahagia riz.Aku lupa kamu,aku terbuai rasa senangku setelah romantic date di hari ultah calonku malam itu.Semalaman aku chat dgn fitri dgn ungkapan2 mesra.Bahkan ketika fitri mengunggah foto kami berdua saat mkn malam tadi di akun instagram nya(yg kmrin2 dia blum berani upload),aku membalasnya dgn menjadikan foto mesra itu sebagai display picture line dan bbmku.

    Riz...baru bbrapa menit aku memajang dp bersama fitry,line dan bbku langsung ramai dgn chat chat dari kawan2ku.Aku senyum2 seperti anak SMP yg sedang di cie cie oleh tmn2 sekolahnya karna baru jadian.Dgn perasaan membuncah aku membalas chat chat yg mayoritas berisi kalimat mainstreem "cieee radit ciee" itu di media chat ponselku.Tapi perasaan suka citaku tak berlangsung lama riz.Saat bbrapa kawan sesama pelakon lgbt kita,agung,roy,wikan mengomentari dp line dan bbmku.

    "Dit?sapa tuh?mesra amat fotonya,cewe lu?jadi lu udh tobat bnran bro?"

    "Wah jadi issue lu sama fariz udh insyaf itu bukan hoax dit?congrattts yee dittt!"

    "Dit??pantesss lu sama bf lu si fariz udh ga pernah nongki2 sama kita2,taunya udh pada lurus toh?piye dit enak konto* apa meme* ?"

    "Tak pikir koe arep ngehombreng forever dit?secara mukakmu itu homoable bingit wkwkwk,selamat ya dit!"
    (Yg chat gini dlu ank bf ini juga tp skrng udh out sedang dlm masa insyaf ).

    Jlebbbb.Pikiranku langsung ke kamu riz.Secara mereka aslinya adalah kawan2 komunitas lgbt mu di jogja.Aku langsung buru2 chat kmu tanpa menggubris chat2 homo2 tmn2mu itu.Sejam,dua jam,tiga jam bahkan sampai pagi kau tak membalas chatku.Tak mengangkat teleponku.Again,kamu terluka.Paginya kamu tak masuk kantor.Jam makan siang aku langsung mendatangi kosmu.Kamu..menyedihkan riz..meringkuk dgn tatapan kosong namun matamu sembab seperti habis menangis semalaman.Aku guncang2 tubuhmu kau tetap tak mau bergeming.Aku tak tahan lagi riz.Aku lepas kontrol.Aku teriak teriak bak orang kesetanan di depanmu yg terbaring diam tak menggubrisku.

    "KAMU ITU MAUNYA APA SIH ,RIZ??!!KAMU YG NYURUH AKU NIKAH!KAMU YG NYURUH AKU KENAL LAWAN JENIS!AKU MENGIKUTI KEMAUANMU!DAN AKU HAMPIR BERHASIL!!!AKU MULAI BISA MENERIMA FITRI ,RIZ!APA LAGI??KENAPA KAMU SEKARANG MALAH BEGINI??SEAKAN KM GA RELA,KMU GA IKHLAS AKU SAMA FITRI!YAWIS LAH AKU MATI AJA,AKU GA USAH NIKAH!GA USAH SAMA KAMU JUGA!!BIAR AKU MATI AJA DRIPDA NYAKITIN KAMU ATAUPUN FITRI!!"

    Aku histeris menjerit2 sprti orang ga waras sambil memukul2 dadaku dgn kencang dan membentur benturkan kepalaku ke tembok kamar fariz.Kupikir adegan sprti itu hanyalah drama yg ada di ftv atau sinetron indonesia,trnyta aku sndri mengalaminya!!!
  • Re: MY BELOVED ASKAR

    Mengundang,
    @Daser @freeefujoushi @Sho_Lee @mustajab3 @JoonHee @lulu_75 @JimaeVian_Fujo @PCYXO15 @Tsunami @ricky_zega @Agova @jimmy_tosca @rama_andikaa @LostFaro @new92 @Otsutsuki97S @billyalatas18 @delvaro80 @ramadhani_rizky @Valle_Nia @diccyyyy @abong @boygiga @yuliantoku @ardi_yusman @fian_gundah @Lovelyozan @Rabbit_1397 @Tsunami @Adiie @sn_nickname @Gabriel_Valiant @happyday @Inyud @akhdj @DoojoonDoo @agran @rubi_wijaya @putrafebri25 @Diansah_yanto @Kim_Hae_Woo679 @Vanilla_IceCream @shandy76 @bram @black_skies @akina_kenji @abbyy @abyyriza @05nov1991 @1ar7ar @kaha @blasteran @BN @dian_des @Pyromaniac_pcy @melkikusuma1 @asik_asikJos @opatampan @The_jack19 @ori455 @lukisan_puisi @usernameku @dadanello @boncengek3 @earthymooned @gaybekasi168 @jimmy_tosca @handikautama @OkiMansoor @Ninia @ananda1 @kikirif @satriapekanbaru @o_komo @SyahbanNa @Denial_person @arya_s @imanniar @raito04 @AgataDimas @Harris_one @duatujuh @M_imamR2 @josiii @viji3_be5t @Firman9988_makassar @amostalee @ocep21mei1996_ @Chi_dudul @Pranoto @renataF @liezfujoshi @Niel_Tenjouin @Prince_harry90 @raden_sujay @bagas03 @Joewachecho @Obipopobo @M_Rifki_S @febyrere @Viumarvines @adrian69 @vane @kangbajay @AndikaRiskiSya2 @DafiAditya @Nino6 @wisnuvernan2 @Riyand @askar_12 @babikapeler @dewa_ramadhanna @yogan28 @the_angel_of_hell @KuroZet @Reyzz9 @RivaldyMyrus @Algibran26 @UiOOp @ktp23 @Apell @Abdulloh_12 @QudhelMars @Rama212 @CouplingWith @Virusku @riordanisme @Mr27

    Mohon vote n komentarnya serta bagi teman2 yang nggak mau diseret lagi, bilang ya ... Thanks.


    Cerita sebelumnya ...

    Adrian dan Askar bertemu di belakang sekolah lalu berciuman panas. Setelah diantar pulang oleh Askar ke rumah, Adrian mendapat teror dari anonymouse yang mengancam telah mengirimkan foto ciuman Adrian dan Askar ke Mama. Sebelum Adrian selesai menelpon Aldi untuk melaporkan ancaman anonymouse, Mama memanggil Adrian dari bawah.



    Part 48

    Semua doa yang gue hafal telah gue rapalkan semenjak dari kamar gue tadi hingga sekarang, berdiri mematung dengan tungkai lemas dan badan menggigil di depan Mama yang memandang ke arah layar laptop dengan wajah poker face beliau. Gue bisa mendengar detak jantung gue yang berdegup kencang. Mama yang tanpa ekspresi tersebut, sukses membuat tangan gue bergetar mengeluarkan keringat dingin, serta lutut gue semakin goyah berlama-lama berdiri akibat efek dari ketakuatan mendera. Gue berdehem sehingga Mama mengisyaratkan gue duduk di kursi rotan yang ada disamping beliau.

    “Ada apa Ma?” tanya gue berhati-hati, berpura-pura tidak tahu, setelah pantat gue sempurna mendarat di kursi rotan hadiah Nenek beberapa tahun yang lalu.

    Mama berdehem, “Tolong jelaskan ini ke Mama!” ujar beliau menyodorkan laptop bewarna hitam itu ke arah gue. Gue memandang laptop dan mata beliau bergantian sebelum menerima laptop tersebut dengan was-was sambil meletakkannya di pangkuan gue. “Ceritakan ke Mama maksud dari foto itu!” titah beliau lagi.

    Gue menoleh sejenak kearah Mama sambil menelan ludah yang telah terkumpul di ujung kerongkongan gue sejak tadi. Gue lalu menutup mata, membaca Al-Fatihah supaya gue diberikan pertolongan oleh Yang Maha Esa untuk mengatur kata-kata yang tepat sehingga Mama dapat mencerna penjelasan gue nanti dengan lapang dada. Jika kalian semua berfikir gue balakan mencari kata-kata untuk mengelak, kalian salah. Gue sudah tertangkap basah dan tidak mungkin gue merancang alasan yang akan membuat semua bertambah buruk.

    Gue lalu menarik nafas sambil membuaka mata, menatap layar e-mail Mama yang menampilkan layar berlatar belakang ladang tulip yang ditutupi oleh layar putih transparan dengan foto romantis gue berdua dengan seseorang. Gue terkesiap dengan foto yang terpampang jelas di layar kaca laptop Mama hingga otomatis gue mengucek mata beberapa kali, sebelum gue melirik Mama yang berlipat tangan menunggu jawaban dari anak tunggalnya ini. Darah gue yang tadi menggelegak tiba-tiba mereda. Begitupun jantung gue telah kembali berdetak normal.

    “Siapa cewek itu?” tanya Mama tanpa ekspresi.

    Gue meneguk ludah mengatur kata-kata yang pas dalam menjawab pertanyaan Mama. “Ng..., Teman Adrian Ma.”

    “Teman atau temen?”

    Gue menundukkan kepala gue, “Ha... hanya sekedar temen kok Ma,” jawab gue ragu-ragu tanpa mau melirik Mama. Tubuh gue yang panas dingin dengan ancaman anonymouse tadi tiba-tiba kembali normal seperti biasa. Bahkan rasanya tubuh gue seperti ditutupi awan di tengah padang pasir (walaupun gue belum pernah ke padang pasir) setelah melihat sang pengirim foto. Ini pasti kerjaan Aldi, ya si Edogawa Conan gue. Rencana yang telah kami susun dengan matang berhasil. Gue kembali melirik layar laptop Mama, menampilkan foto gue sepayung berdua dengan Tia. Dikirim atas akun pribadi Bunda.

    Gue tersenyum melirik Mama sekilas, gue harus membalikkan keadaan sehingga Mama tidak terlalu kepo dengan foto ini. “Emang kenapa Ma?” pancing gue menatap Mama lekat-lekat membuat beliau tergagap menjawab pertanyaan gue yang menjebak. Ekspresi Mama langsung berubah. Mungkin karena gue berhasil membalikkan keadaan sehingga kejadian yang beliau manfaatkan menjadi latihan drama beliau jadi gagal gara-gara pertanyaan gue.

    “Mama tidak pernah melihatnya sebelumnya, jadi Mama nanya sama kamu nak. Temen sekolah Adrian kah?”

    “Iya, dia teman sekolah Adrian. Namanya Tia, anak IPS, sekarang Sekretaris OSIS,” jawab gue lugas.

    “Pantesan Mama nggak pernah melihat dia.”

    Gue terkekeh dengan jawaban Mama yang sedikit aneh. “Ya iyalah Ma. Adrian kan nggak pernah ngajak cewek ke rumah ini,” ujar gue tersenyum. Gue tahu kemana arah tujuan pembicaraan Mama sekarang. Ada udang dibalik bakwan rupanya.

    Gue menyerahkan laptop Mama kembali. Beliau kembali memperhatikan layar laptopnya secara seksama dan selama-lamanya sebelum menatap gue pasti. “Sekali-sekali ajaklah dia kemari.”

    Gue hanya bisa tersenyum masam sambil melempar pandangan ke taman. Nampak bunga kertas yang baru beberapa minggu yang lalu di pangkas Mama, mulai mekar bewarna merah dihinggapi seekor kupu-kupu cantik. Gue mendesah. Ah... Andai gue bisa mencintai Tia.

    ---

    Gue merebahkan badan sambil meraih handphone gue yang terletak di nakas, menampilkan beberapa buah pemberitahuan di layar. Gue lalu memutar-mutar handphone gue dengan malas tanpa berniat untuk membuka pemberitahuan itu. Perkataan Mama terakhir masih terngiang-ngiang jelas di telinga gue. “Adrian, Mama tidak menuntutmu Nak, tapi apabila engkau ingin mencari pasangan, carilah seperti wanita yang ada foto itu Adrian. Mama belum mengenalnya, tapi yakinlah Ian, penglihatan seorang ibu tidak akan salah,” ujar Mama penuh keyakinan, seyakin Mama mengatakan bahwa gue adalah anak kandung beliau 10 tahun yang lalu.

    Jam menunjukan pukul lima kurang lima sore, ketika gue yang hampir terlelap tidur dikejutkan dengan getaran yang berasal dari handphone buntut gue. Sial, mengganggu tidur gue aja. Sambil mengucek-ngucek mata, gue menyipitkan mata menatap layar handphone yang berkedip-kedip menampilkan nama Dwi disana. Tumben nih anak menelfon gue jam segini. Biasanya sih malam, buat nanyain jawaban peer untuk besok pagi. Lagian juga, besok nggak ada peer. Gue mengangkat panggilan Dwi tersebut sebelum getarannya semakin mengganggu telinga gue.

    “Halo?”

    “Lo dimana sekarang?” terdengar suaranya yang terburu-buru dengan latar belakang bunyi deru kendaraan yang berlalu lalang di belakangnya.

    “Gue ada di rumah sekarang? Kenapa?”

    “Lo ganti pakaian sekarang dan keluar dari rumah sekarang juga. Oh ya, bilang ke Mama kalau lo agak pulang malam karena ada ada hal yang penting yang perlu diselesaikan,” istruksinya di seberang sana. Nampaknya ada sesuatu yang sangat emergency telah terjadi.

    “Oke-oke gue ganti pakaian sekarang. Emang ada-“

    “Nggak usah banyak tanya sekarang. Lo ganti baju sekarang dan tunggu gue di depan rumah! Gue lagi otw ke rumah lo,” perintahnya tegas sambil menutup telpon gue sepihak.
    Dasar anak aneh.

    Setelah gue berganti pakaian, guepun turun ke lantai dasar yang disambut oleh Mama yang sedang asyik nonton drama India. Mata melotot kearah layar televisi sambil memasukkan beberapa butir kacang hijau kedalam mulut beliau tanpa berkedip sedikitpun.

    “Ma, Adrian pergi dulu sebentar Ma,” ujar gue sambil merapikan baju menatap Mama yang khusuk menonton drama India.

    “Kemana Nak?” tanya beliau tanpa menoleh kearah gue.

    “Mmmm..., ada hal penting yang harus Adrian selesaikan Ma. Mungkin Adrian pulang agak malam. Sebentar lagi Dwi bakalan menjemput,” jawab gue sambil menekankan kata ‘Dwi bakalan menjemput’ supaya Mama memberikan izin.

    “Hmmm, okelah. Jangan malam-malam ya Nak. Hati-hati di jalan.” Beliau tiba-tiba menoleh kearah gue sambil tersenyum jahil, “selesaikan masalahmu dan bawa dia kesini oke.”

    Gue hanya tersenyum penuh paksaan dengan perkataan Mama yang penuh sindiran. Jelas sekali kalau beliau masih belum bisa move on dari topik yang di teras tadi. “Iya Ma,” jawab gue canggung. Gue menoleh kearah luar saat bunyi klakson motor Dwi terdengar seperti pengendara di lampu merah. Gue berjalan kearah Mama sungkeman sambil berceletuk, “Sudah nonton film Indianya Ma, udah jam berapa nih. Nggak mau masak?”
    “Iya-iya, Mama lagi latihan ini, melihat ekspresi pemainnya yang hebat-hebat,” tukas Mama sambil mengibas-ngibaskan tangan beliau meminta supaya gue nggak mengganggu ritual baru beliau yang baru muncul belakangan ini. “Baru juga jam lima.”

    “Iya deh, jangan salahkan Adrian kalau Papa cari yang baru karena masakan Mama kurang yahud ntar,” seloroh gue bercanda lalu berlari keluar rumah, setelah Mama melihat gue dengan pandangan mata menusuk. Syukur saja beliau hanya memegang bungkusan kacang, bukan pisau atau benda keras lainnya. Kalau iya, bisa dilempar oleh Mama sambil berteriak kencang, “bedebah punya budak!”

    Setelah menutup pintu, gue lalu berjalan ke arah Dwi yang sudah nggak sabaran sambil menghentak-hentakkan helm yang dia pegang. Tak lupa kening berkerut yang menandakan bahwa ada hal emergency yang telah terjadi. Gue lalu mengambil helm bewarna putih itu sambil meliriknya sekilas. Sambil memakai helm, gue lalu naik keatas motor. Naas bagi pantat gue yang belum sempurna mendarat di jok motor Dwi, pengendara motor ini tanpa memberi aba-aba sebelumnya langsung berbalik dan meninggalkan rumah gue dengan kecepatan motor yang lumayan kencang. Sial dah nih anak.

    “Ada apa sih Wi?” tanya gue sambil mengeratkan pegangan gue ke tepi bajunya. Dwi terdengar berdecak sambil tetap fokus memandang kearah depan menyalip beberapa kendaraan dengan kecepatan yang lumayan kencang seperti Valentino Rossi kw 7. Terdengar beberapa kali umpatan pengendara lain yang disalib oleh Dwi sang pembalap kita.

    Gue mendengus sambil melempar pandangan kearah jalanan. “Segitu amat sih,” gumam gue.

    Dwi terdengar menghela nafas sambil menaikkan kaca helmnya, melirik gue dari kaca spion. Dia juga turut menurunkan kecepatan motornya, sehingga suaranya terdengar memasuki indra pendengar gue. “Liat aja ntar,” jawabnya lalu menatap jalanan yang cukup rame.

    Gue hanya menghembuskan nafas berat, melemparkan pandangan kearah jalan raya.

    Setelah beberapa menit perjalanan, Dwi membelokkan motornya kearah jalanan sempit kearah bangunan yang terbengkalai. Rencananya bangunan ini akan dibuat sebuah mall besar. Tapi apa daya, semua terhenti saat krisis moneter menyerang belasan tahun yang lalu, membuat mall itu terhenti pembangunannya.

    Motor kita tetap terus berjalan melintasi bangunan 6 lantai yang dinding-dindingnya telah ditumbuhi lumut sehingga sampai ke sebuah gudang besar dibalik mall tak jadi itu. Kita lalu masuk ke dalam gudang yang rupanya telah terparkir beberapa buah motor disana. Ada motor Askar dan Aldi juga. Dwi lalu memarkirkan motornya dekat motor Aldi lalu menyeret gue dengan langkah tergesa menuju sebuah pintu yang gue yakini menuju sebuah ruangan.

    Gue memasuki ruangan remang-remang minim cahaya tersebut sambil menutup hidung. Ruangannya sedikit berdebu dan tercium bau yang sedikit aneh. Ntahlah, gue sampai pusing mencium bau ruangan yang pasti sudah lama di tinggalkan itu. Gue melirik ke Dwi yang nampak menahan emosi sekilas sebelum kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang luas itu.

    Ada sebuah meja besar di tengah-tengah ruangan dengan kursi di didepannya. Ada seseorang yang sedang duduk di kursi tersebut, dia terikat dengan mulut disumpal. Bukan hanya orang itu, ada beberapa orang lain lagi di dalam ruangan itu. Sekitar lima hingga enam orang, menatap gue di dalam gelap. Ada pula seseorang yang duduk bertopang kaki di sudut ruangan seperti memperhatikan gerak gerik gue. Gue menoleh ke arah Dwi meminta penjelasan sehingga anak itu menyuruh gue maju. Dengan langkah penuh keraguan, gue melangkah mendekati meja besar itu sebelum suara familiar terdengar di indra pendengaran gue.

    “Lo udah sampai Rian?” tanya sipunya suara tersebut sambil mendekati gue dari sebelah kanan. Sayup-sayup gue bisa melihat senyum puasnya laksana baru mendapatkan perhargaan nobel Kimia tiga kali berturut-turut.

    “Kok gelap banget sih?” tanya gue sambil mengelus kuduk gue. Gila bro, kesannya horor banget nih. Gue laksana tukang jagal atau dukun sakti bin mantraguna yang telah lama di tunggu hadirin di ruangan untuk mengorbankan orang yang sedang duduk terikat itu untuk dijadikan tumbal penggandaan eh salah, tumbal vudoo. “kita mau bikin film horor ya?” celetuk gue yang disertai kekehan Aldi. Dia lalu mengisyaratkan seseorang untuk menghidupi lampu ruangan yang entah kenapa berkedip-kedip ketika dihidupkan.

    “Sengaja, biar dia nggak kabur,” jawabnya sambil melirik orang yang terikat tadi. Otomatis, mata gue mengikuti pergerakan mata Aldi menoleh kearah seseorang yang terikat di kursi. Darah gue berdegup kencang melihat orang itu secara langsung. Nafas gue tertahan. Dia nampak kacau, dengan beberapa luka memar di wajahnya. Terlebih beberapa tetes darah di sudut bibirnya menandakan bahwa dia sudah dijahar oleh masa sebelumnya.

    Gue melirik Aldi meminta kepastian apakah dia anonymouse. Aldi yang sepertinya dapat membaca fikiran gue, mengangguk sambil mendorong gue mendekati seseorang yang menatap gue dengan pandangan keputusasaan, bukan pandangan kebencian yang sering dia tampilkan ke gue.

    “Aldo,” desis gue menatapnya tidak percaya. Diakah? Apa salah gue ke dia sehingga sebegitu bencinya dia ke gue sehingga dia tega buat meneror gue selama ini? Gue meneguk ludah menatap mata coklatnya, lalu melirik Askar yang sedang duduk bertopang kaki di sudut ruangan yang menatap Aldo penuh benci. Kaki tangan dari Askar itu telah berubah babak belur sekarang.

    Gue lalu menarik salah satu kursi tua reot hampir patah yang berada dalam jangkauan gue, lalu duduk menghadap Aldo yang membuang muka. Gue menarik nafas dalam, menetralkan suasana hati gue walau udara ruangan ini sangat pengap dan kelihatan tidak sehat.

    “Do...,” lirih gue, “kenapa lo ngelakuin ini ke gue, kenapa? Apa salah gue ke elo...?”

    Dia masih bergeming tanpa mau menatap gue. “kenapa Do?”

    Dwi yang sendari tadi berdiri di belakang gue tidak mampu lagi untuk menahan emosinya. Dia terdengar menggeram, lalu menarik kerah seragam Aldo yang sudah awut-awutan. “Kalau orang nanya dijawab! Lo punya mulut nggak sih?” teriak Dwi dengan mata nyalang. Begitupun Aldo yang menatap Dwi tak gentar sedikitpun hingga suasana mulai memanas.

    “Stop!” teriak gue sambil berusaha melepaskan cengkraman Dwi dari seragam Aldo. Gue menatapnya dengan pandangan memohon supaya Dwi nggak main kasar dengan Aldo. Begitupun Aldi yang sudah sigap memegangi Dwi sebelum emosinya semakin tidak tekontol. Seorang Dwi yang biasanya tenang, sampai terbawa emosi seperti ini, luar biasa. Aldi lalu seperti membisikkan sesuatu ke Dwi, hingga cengkraman itu melunak dan Dwi menghentakkan seragam Aldo sambil menggembrak meja meluapkan emosinya. Tak lupa umpatan kekesalan keluar dari mulutnya itu.

    Gue kembali menatap Aldo yang tidak memandangi gue sedikitpun. Dia nampak gelisah, tidak nyaman dengan kehadiran gue. Gimana bakalan nyaman kalau orang yang lo teror sekarang ada di depan lo saat ini. Gue harus bisa mengontrol emosi gue saat ini. Ya, harus.

    “Do, kenapa lo ngelakuin ini?” tanya gue lirih. “Kenapa?”

    “Gue suka sama lo,” jawabnya datar. Askar yang duduk di sudut ruangan tersentak mendengar pernyataan kontroversional Aldo tadi. Dia bangkit dengan mata nyalang menatap Aldo dari belakang. Begitupun gue yang sangat terkejut dengan jawabannya itu.

    “Apa lo bilang!?” teriak Askar.

    Aldo menatap gue getir. “Gue cinta sama lo sejak lama Adrian. Tapi sayang, gue keduluan sama Askar,” jawabnya lagi.

    “Anjing lo!” teriak Askar di belakang sana. Matanya memerah, seperti hendak melumat Aldo saat ini juga. Syukurlah Evan dan beberapa anggota Yakuza Junior langsung memegangi ketuanya yang tengah kalap itu. “Lo bilang neror itu karena lo cinta? Lo udah hampir mencelakakan pacar gue bung! Itu yang lo namakan cinta?” teriak Askar lagi.

    Aldo terkekeh sambil menatap gue, lebih tepatnya mencibir Askar. “Pacar? Lo udah pacar Askar sekarang Rian? Kapan jadiannya?”

    Gue meneguk ludah. Pertanyaannya yang dilematis membuat gue ragu untuk menjawabnya.

    “Diamnya lo, menandakan kalau lo belum jadian dengan Askar,” tebaknya dengan senyum penghinaan. Askar nampak tidak dapat menahan emosinya lagi.

    “SIALAN LO BANGSAT!!!” teriak Askar sambil melayangkan tinjunya kearah muka Aldo dari samping hingga anak itu tersungkur ke lantai. Darah bercucuran dari hidungnya. Askar yang telah kalap lalu menelentangkan Aldo dan menghajarnya berkali-kali. Aldi lalu dengan sigap memegangi lalu menarik Askar menjauhi Aldo yang masih tetap tersenyum mengejek.

    “Seseorang yang tempramental seperti lo tidak cocok untuk Adrian!” ejeknya dengan senyum kemenangan.

    “Sudah cukup!” potong gue sambil menatap Aldo. Gue mengambil sapu tangan yang ada di kantong gue lalu duduk disamping Aldo yang terlentang, menyapu pelan-pelan darah yang bercucuran di hidungnya. Mulutnya masih berkomentar sarlas disaat kondisi payah seperti ini.

    “Andai lo bisa menjadi pacar gue,” gumamnya dengan mata sendu sambil mengelus pipi gue lembut. Hati gue bergetar sambil menatap mata coklatnya yang penuh keputusasaan itu.

    “Hati tidak bisa dipaksanan Do,” jawab gue diplomatis.

    “Gue hanya keduluan saja oleh Askar, gue terlampau berlama-lama dalam keraguan untuk memiliki lo seutuhnya,” ujarnya menerawang. “Gue cinta sama lo,” desisnya.

    Sejenak gue terdiam tidak berani menatap matanya. Rasa ini kembali terasa, perasaan dimana seseorang yang mencintai lo menyatakan perasaannya ke lo, tapi lo tidak mencintainya. Rasa sesak memenuhi dada gue. Terlebih perlakuannya selama ini ke gue, membuat gue masih setengah tidak percaya jikalau dia menyukai gue lebih dari seorang sahabat atau teman satu sekolah.

    Mata gue memanas, meneteskan air mata gue satu persatu ke baju biru muda yang gue kenakan. Gue hanya bisa mengungkapkan semua melalui air mata yang terus mengalir dari mata gue. Aldo mengangkat dagu gue, lalu dengan jempolnya, dia menyapu bawah mata gue yang telah basah dengan air mata.

    “Jangan menangis,” bisiknya.

    Gue melepaskan tangannya dari wajah gue sambil menggeleng. “Gue nggak menangis kok.”

    “Andaikan lo milik gue,” racaunya. “Gue nggak akan membuat lo sampai menangis kayak gini. Tapi sayang, sudah kepunyaan orang lain.”

    “Lo tahukan kalau Adrian kepunyaan orang lain, lalu kenapa lo tetap ngejar-ngejar Adrian? Berusaha ngerebut Adrian dari Askar dengan cara neror-neror gini. Kayak nggak ada cowok maho yang lain aja,” ujar Dwi sarkas berlipat tangan di ujung ruangan. Dia masih nampak kesal.

    Aldo terkekeh. “Gue nggak berusaha ngerebut Adrian dari Askar. Tapi Askarlah yang merebut Adrian dari gue,” jawabnya sambil menerawang menatap loteng. “Gue hanya berusaha mengambil kembali Adrian saja,” lanjutnya dengan senyum getir terpatri di bibir.

    “Dengan cara meneror Adrian kayak gini?” kejar Aldi.

    Aldo membuang muka, “kadang gue harus bersikap jahat kepada orang yang gue cintai supaya dia berpisah dengan orang lain.” Dia melirik gue, mengelus pipi gue, “Gue sudah melakukan apa yang bisa gue lakukan untuk memisahkan lo dengan keparat itu. Tapi...” air matanya mengalir dari pelupuk matanya, “...gue gagal.”

    “Huh syukurlah kalau lo gagal,” perkataan Askar terdengar sarkas di telinga gue.

    “Gue sudah banyak melakukan semua hal untuk lo Adrian,” ujar Aldo menatap mata gue lekat-lekat. Dia nampak putus asa, mengenang semua yang telah dia lakukan. “Gue berusaha supaya Askar nggak macam-macam sama lo. Gue berusaha mempengaruhi Askar supaya tidak menghabisi lo dengan sikap terjang lo ke Yakuza Junior. Tapi cara gue salah, gue malah membuat kalian berdua menjadi lebih dekat,” ujarnya.

    Gue tertegun. Pantesan Yakuza Junior tidak pernah mengusik gue di saat gue lagi menggencarkan kampanye pembubaran organisasi meresahkan di sekolah. Berarti ini semua karena Aldo. “Gue menyukai lo karena keberanian lo yang berani menentang kami,” tandas Aldo tersenyum menatap gue.

    “Kami? lo bukan bagian Yakuza Junior lagi,” ujar Askar di belakang dengan nada dingin. Gue menoleh ke arah Askar yang menatap Aldo nyalang sebelum kembali memandanginya.

    Aldo tersenyum kecut menatap gue. “Jangan khawatir, gue nggak apa-apa kok. Gue juga berencana hendak keluar dari sana setelah rencana ini berhasil. Tapi...,” dia terkekeh, “rencana gue gagal.”

    Askar menggeram sambil memukul dinding. “Gue nggak nyangka orang yang gue berusaha lindungin, menusuk gue dari belakang seperti ini.” Askar menekurkan kepala menahan emosinya. Gue bisa merasakan Askar yang sangat kecewa dengan kenyataan yang harus dia terima.

    “Maaf Kar, dunia memang kejam. Siapa yang cerdik dia yang menang,” ujar Aldo, membuat gue tertegun dengan kata-katanya.

    “Tapi sayang, kecerdikan lo tidak berhasil Do. Lo kalah,” sahut Aldi tersenyum puas menatap Aldo yang terlentang di lantai.

    “Gue kalah oleh kecerdikan kalian semua. Kalian berhasil memperbodohi gue dan menangkap gue disaat gue menyangka gue telah menang.” Aldo menatap Aldi. “Bagaimana cara kalian tau bahwa gue adalah anonymouse?”

    “Itu mudah.” Aldi tersenyum puas. “Gue sengaja memancing Adrian untuk menyebutkan e-mail nyokapnya di kantin, karena kebetulan orang yang gue curigai ada di sana. Gue sengaja menyusupkan mata-mata gue secara tidak langsung untuk melihat ponsel kalian yang gue dugai sebagai anonympuse. Fandi gue tugaskan sebagai mata-mata Tia dan Nathan, serta Evan,” Aldi melirik Evan sekilas,” memata-matai lo. Dan rupanya gayung bersambut, sang anonymouse kembali meneror Adrian dengan ancaman e-mail nyokap Adrian yang jarang digunakan itu.” Aldi tersenyum kearah gue. “Syukur dia menyebutkan e-mail nyokapnya yang lain sehingga kita bisa dengan mudah memantau.

    Trus selama lo meneror Adrian, kita bergerak mencari tahu fakta-fakta yang mengungkap siapa anonymouse sesungguhnya. Hingga lo kepancing dengan Adrian dan Askar yang mesra-mesraan tadi, dan lo tidak tahan lagi untuk tidak mengirimkan foto ancaman itu ke nyokap Adrian. Disaat itulah, kami dengan mudah menangkap basah lo.”

    Aldo tersenyum getir. “Apa bukti yang membuat lo yakin kalau anonymouse itu adalah gue?”

    “Mudah saja,” Aldi tersenyum sambil menaikan kacamatanya yang melorot. He is like a Edogawa Conan now. “Anonymouse pasti menggunakan ponsel kedua atau nggak aplikasi Line Lite ketika meneror Adrian. Tapi gue lebih yakin jikalau anonymouse memakai aplikasi Line Lite untuk meneror Adrian. Pertama, anonymouse meneror Adrian juga di sekolah, dan kalian bertiga tidak membawa dua ponsel. Palingan ponsel buntut pelempar anjing yang tahan banting itu,” sindir Aldi ke gue. “Dan setelah di periksa, ternyata aplikasi Line lite hanya ada di ponsel lo saja hingga menguatkan dugaan kalau lo adalah anonymouse.

    Setelah itu, disaat anonymouse mengirimkan foto ke e-mail nyokap Adrian. Dari ketiga orang yang gue curigai, hanya lo yang posisinya tidak jauh dari rumah Adrian disaat foto itu sampai. Lo bisa memantau nyokapnya Adrian lagi ngapain, sama persis dengan anonymouse yang tahu sedang ngapain nyokap Adrian sekarang. Jadi kami berkesimpulan bahwa lo adalah anonymouse. Syukurlah lo segera mengaku pas kami grebek, sehingga tidak memakan banyak tenaga.”

    Aldo tersenyum sambil menatap Askar yang menatapnya garang. “Lo beruntung punya orang-orang seperti mereka. Tapi sayang lo nggak akan beruntung kali ini. Lo ingat ini hari apa huh? Bonyok lo... Lo ingat? Minimal gue bisa memisahkan kalian berdua walau gue nggak bisa memiliki Adrian.” Terdengar tawa jahat Aldo, seperti tokoh antagonis di film-film.

    Askar terkesiap sambil melirik jam tangannya. Dia menatap gue sejenak, “Gue ada urusan yang sangat penting, Tolong jaga Adrian,” ujar Askar sambil memakai jaketnya. Dia mendekati gue sambil membelai wajah gue dengan senyum yang dipaksakan. “Gue pergi ya, jangan nakal,” ujar Adrian sambil berlalu keluar dari ruangan. Aku terdiam menatap kepergiannya yang mendadak itu.

    “Apa yang lo lakuin ke nyokap dan bokapnya Askar?” tanya gue getir ke Aldo. Dia nampak menantang gue, membuat gue semakin jengkel dengannya. “Apa yang telah lo lakuin?” ulang gue lagi sambil mengguncang badannya yang terlentang. Emosi gue sedikit tersulut dengannya. Cukup hanya gue, dan jangan orang lain.

    “Gue nggak apa-apain bonyok dia kok. Memang bonyoknya aja yang pengen berpisah. Gue ambil kesempatan aja untuk menghasut nyokap Askar untuk membawa Askar ke Surabaya,” ujarnya penuh kemenangan.

    Gue meremas rambut sambil menatapnya. Pengen rasanya gue meninju mukanya itu, sebelum gue sadar bahwa semua itu nggak akan menyelesaikan masalah. Gue harusnya mendoakan semoga Askar berhasil menyatukan kedua orang tuanya, bukannya menghabiskan tenaga untuk memukuli Aldo. Gue mendesah sambil bangkit dari posisi gue. Gue menatap Aldi dan Dwi bergantian, meminta mereka supaya menemani gue keluar dari ruangan pengap ini. Faham dengan pandangan gue, Aldi lalu menoleh ke arah Evan, “gue serahin semua ke lo Van,” ujar Aldi sambil merangkul gue. Gue sebaiknya tidak melihat anak itu lagi supaya emosi gue nggak semakin tersulut.

    “Lo nggak usah khawatir. Semua udah berakhir. Anonymouse udah ke tangkap dan kita hanya tinggal berharap semoga bonyok Askar tidak memindahkannya ke Surabaya,” ujar Aldi membarut punggung gue. Dwi tersenyum sambil menepuk pundakku. Aku mengangguk, sambil duduk di salah satu motor yang terparkir di gedung tua tersebut. Entah kenapa perasaanku berubah tidak enak sejak keluar dari ruangan tadi.

    “Lo nggak apa-apa kan?”Aldi merangkul gue, “lo nggak sakit kan?”.

    Gue menggeleng, “nggak kok,” jawab gue, “gue cuman syok sama kebawa emosi aja tadi,” jawab gue sambil melepaskan rangkulan Aldi. Gue jadi nggak bersemangat saat ini.

    “Yaudah, gue masuk dulu,” Aldi melirik Dwi yang nampak sibuk dengan handphonenya. “Wi, tolong jaga Ian ya,” ujarnya yang dibalas Dwi dengan anggukan. Aldi lalu meninggalkan kita ke dalam ruangan.

    “Lo nyemasin Askar?”

    Gue menoleh ke arah Dwi. Gue menggigit bibir bawah gue sambil mengangguk. “ntah kenapa perasaan gue jadi aneh gini pas dia pergi tadi. Gue takut kalau ada masalah sama bonyoknya.”

    “Nggak usah di fikirin juga, lo terlampau terbawa perasaan aja. Gue yakin dia bisa nyelesein masalah dia sama keluarganya,” ujar Dwi. Aku mengangguk-angguk sambil menatap langit yang telah menjingga. “Nyari makan yuk! Gue lapar nih,” ajak Dwi yang gue balas dengan anggukan. Mungkin dengan keluar sebentar bisa menenangkan kekhawatiran gue tentang Askar.

    Jadilah kita berdua putar-putar kota sambil menghabiskan waktu sore tersebut. Dwi yang terkenal perhitungan itu akhirnya mentraktir gue makan nasi goreng di warung pinggir jalan yang terkenal di seantero kota gue. Bukan hanya kita berdua, ada beberapa orang mahasiswa, anak sekolah yang belum pulang ke rumahnya, serta keluarga besar turut meramaikan warung tersebut. Sayang sekali Aldi nggak sempat ikut sehingga gue nggak sempat mengabadikan momen kita bertiga sebagai sodara.

    Gue merogoh celana gue, meraih handphone untuk menelpon Askar. Sudah beberapa kali panggilan gue tidak di jawab oleh si kampret Askar itu. Aku jadi kesal sendiri sambil memandangi fotonya dari layar handphoneku. Dwi seperti mengetahui kecemasan gue, sehingga anak itu membarut-barut punggung gue.

    “Lo nampaknya butuh istirahat deh. Lo mau gue antar pulang atau nginap di rumah gue dulu?” tanyanya. Gue berfikir sejenak sambil menimbang baik-buruknya. Aku mendesah sambil menatapnya.

    “Gue pulang aja deh, gue nggak mau ngerepotin. Lagian besok juga sekolah dan gue nggak bawa seragam,” jawab gue yang disertai senyuman Dwi.

    “Yang mana yang buat lo nyaman deh. Gue antar lo pulang, tapi kita ke tempat tadi ya.”

    “Terserah lo dah, gue nurut aja.”

    Setelah Dwi membayar makanan, kita berdua langsung menuju ke gedung tua yang tidak selesai di bangun tersebut untuk memberi tahu Aldi dan juga Evan. Nggak enak juga ceritanya, gue tanpa permisi udah pulang duluan. Emang benar apa yang di katakan Dwi. Mungkin gue terbawa cemas oleh masalah Askar dan keluarganya serta gue yang syok dengan pengakuan Aldo tadi, membuat gue jadi rada aneh dengan perasaan yang nggak nyaman.

    Motor Dwipun sampai di gedung tua tersebut. Ada Aldi dan Evan di sana nampak menatap gue cemas. Dengan segera, gue lalu turun dari motor Dwi dengan perasaan bersalah karena tidak mengabari mereka dulu.

    “Dari mana tadi?” cowok berkacamata itu mendekati gue dengan ekspresi campu aduk laksana gado-gado.

    Sorry, gue nggak bilang-bilang tadi. Gue sama Adrian tadi jalan keluar sebentar, sekaligus cari makan,” jawab Dwi. Aku menoleh ke arah saudaraku itu sebentar sebelum menatap Aldi dan Evan yang mendadak aneh gitu.

    “Kita harus ke rumah sakit sekarang.” Aldi bersuara.

    “Kenapa? Lo apain si Aldo sampai dia sampai harus di bawa ke rumah sakit segala?”

    Evan menepuk pundakku sambil menggeleng, “Ini bukan tentang Aldo...” dia menatapku lekat-lekat. Jantungku berdegup kencang sebelum Evan mengatakan hal yang berhasil membuatku terdiam.
    “Ini tentang Askar. Dia kecelakaan.”

    --- tbc
    R~

    Halo minna, setelah 4 kali purnama gue nganggurin nih cerita, akhirnya setelah melewati perjuangan berat yang tak kalah dari perjuangan Mimi Perih dari Kayangan buat menjaga keperawanan abadinya, gue akhirnya bisa update juga malam ini. Gue minta maaf kepada antum semua karena gue udah seperti menelantarkan nih cerita, termasuk nggak membalas komentar-komentar antum semua dan terkesan lebih fokus ke cerita gue yang lain (walaupun sebenarnya iya sih). Walau nggak bisa di pungkiri kalau gue udah menggantung cerita ini sekian lama. Gue mohon maaf, sebelas sama kepala.

    Ikeh, gue mungkin nggak banyak komen untuk part ini. Gue harap antum semua suka. Gue juga mohon do’anya supaya dapat melanjutkan cerita gue sehingga dapat berbarengan tamat dengan sinetron terpanjang di Indonesia nanti. Aamiin... wkwkw. Gue belum tahu kepastian kapan gue bakalan update part 49, disebabkan otak gue lagi terbagi-bagi saat ini, + problematika abege yang tak ada habis-habisnya. Oh ya, jangan lupa yes, baca cerita kedua gue, After You Go yang udah tayang di Boyzstories TV semenjak November kemarin. Silahkan di baca, n gue mohon vote n komentar antum semua yes. Gue juga mohon vote n komentar dari teman-teman semua yes buat cerita kita. Selamat malam, selamat bermalam minggu. Yang punya pacar silahkan berpacaran n yang jomblo silahkan main sabun. Hehehe (jangan tanya aku yang mana).
    Good night n sunt. (

    Salam
    R~
  • Re: MY BELOVED ASKAR

    Mengundang,
    @Daser @freeefujoushi @Sho_Lee @mustajab3 @JoonHee @lulu_75 @JimaeVian_Fujo @PCYXO15 @Tsunami @ricky_zega @Agova @jimmy_tosca @rama_andikaa @LostFaro @new92 @Otsutsuki97S @billyalatas18 @delvaro80 @ramadhani_rizky @Valle_Nia @diccyyyy @abong @boygiga @yuliantoku @ardi_yusman @fian_gundah @Lovelyozan @Rabbit_1397 @Tsunami @Adiie @sn_nickname @Gabriel_Valiant @happyday @Inyud @akhdj @DoojoonDoo @agran @rubi_wijaya @putrafebri25 @Diansah_yanto @Kim_Hae_Woo679 @Vanilla_IceCream @shandy76 @bram @black_skies @akina_kenji @abbyy @abyyriza @05nov1991 @1ar7ar @kaha @blasteran @BN @dian_des @Pyromaniac_pcy @melkikusuma1 @asik_asikJos @opatampan @The_jack19 @ori455 @lukisan_puisi @usernameku @dadanello @boncengek3 @earthymooned @gaybekasi168 @jimmy_tosca @handikautama @OkiMansoor @Ninia @ananda1 @kikirif @satriapekanbaru @o_komo @SyahbanNa @Denial_person @arya_s @imanniar @raito04 @AgataDimas @Harris_one @duatujuh @M_imamR2 @josiii @viji3_be5t @Firman9988_makassar @amostalee @ocep21mei1996_ @Chi_dudul @Pranoto @renataF @liezfujoshi @Niel_Tenjouin @Prince_harry90 @raden_sujay @bagas03 @Joewachecho @Obipopobo @M_Rifki_S @febyrere @Viumarvines @adrian69 @vane @kangbajay @AndikaRiskiSya2 @DafiAditya @Nino6 @wisnuvernan2 @Riyand @askar_12 @babikapeler @dewa_ramadhanna @yogan28 @the_angel_of_hell @KuroZet @Reyzz9 @RivaldyMyrus @Algibran26 @UiOOp @ktp23 @Apell @Abdulloh_12 @QudhelMars @Rama212 @CouplingWith @Virusku @riordanisme @Mr27

    Mohon vote n komentarnya serta bagi teman2 yang nggak mau diseret lagi, bilang ya ... Thanks.


    Part 47

    Dengan langkah tergesa-gesa, gue lalu keluar dari ruangan rapat OSIS sambil melirik jam yang melingkar di tangan kanan gue. Gue baru saja menghadiri rapat persiapan class meeting yang molor sekitar setengah jam dari jadwal yang telah direncanakan. Ditambah lagi banyak anggota OSIS yang datang terlambat membuat rapat terakhir itu semakin alot. Syukurlah, sang ketua panitia dapat menghandle anggotanya sehingga rapat selesai jam dua sore lewat dua puluh lima menit. Satu jam kurang lima menit dari perkiraan gue sebelumnya. Pasti Askar sudah lama menunggu di danau belakang sekolah.

    “Adrian tunggu!” teriak Ridho sambil menarik gue dengan kuat. Bersama Sandi, dia lalu mendudukan gue di salah satu bangku di depan ruang OSIS sambil menatap gue penasaran. Gue berusaha berontak hendak melepaskan diri, tapi apa daya kekuatan gue yang tidak sebanding dengan mereka membuat seorang Adrian Aditya terpaksa terduduk di depan meja interogasi.

    Caca dan Vivi lalu duduk di depan gue sambil menopangkan kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada meja, laksana interrogator FBI yang ada di film-film. Syukurlah tidak ada lampu gantung diatas kepala kami, sehingga dapat menambah kesan dramatis kejadian ini, mengingatkan gue dengan salah satu adegan di film kartun dari negeri jiran.

    “Gue ada urusan penting nih,” gue berontak berusaha melepaskan kedua tangan gue dari Ridho dan Sandy. “Please Dho, San, tolong gue...” pinta gue memelas.

    “Jangan biarkan dia sampai lolos Dho, Ndi!” ujar Caca laksana ketua interrogator kali ini. Caca lalu melirik gue ganas “Lo harus menjelaskan berita panas lo, sehingga berita gue up to date.”

    “Ini bukan menjelaskan bego!” bentak gue yang geram dengan kelakuan mereka, “ini pemaksaan tau nggak. Gue ada urusan penting nih.” Gue berontak lagi.

    “Terserahlah apa namanya, kita nggak butuh itu. Yang penting lo mengklarifikasi tentang foto yang jadi viral saat ini,” Vivi bersuara dengan muka senyam senyum nggak jelas.

    Sialan. Kalau tahu bakalan kayak gini, gue pasti akan mangkir dari nih rapat. Udah ngabisin waktu, terus pakai acara di sandera para perompak berita ini pula. Apes banget dah gue hari ini.

    “Foto apa?” tanya gue berlagak pilon.

    “Ini, foto lo yang sepayung berdua tadi pagi,” ujar Vivi sambil menyodorkan layar handphonenya ke depan muka gue. Gue meneguk ludah menatap foto yang terpampang jelas menampilkan gue yang sepayung berdua dengan Tia, yang pasti dibagikan oleh salah seorang bocah yang menfotoi gue tadi pagi.

    “Oke, gue jelasin, tolong lepasin gue Dho, San! Gue nggak bakalan lari.”

    Ridho dan Sandy lalu melepaskan pegangan mereka sambil nyengir ke gue, yang hanya gue balas dengan dengusan. Begitupun dengan Vivi dan Caca yang nampak sumringah. Maaf ya Kar, lo harus nunggu lama lagi gegara empat celurut ini.

    “Gue mulai dari mana nih?” tanya gue dengan nada bosan. Tak lupa tangan tertopang dan telunjuk mengetuk-ngetuk meja.

    Caca menjentikkan jarinya. “Gimana hubungan lo dengan Tia sekarang?”

    “Biasa aja.”

    “Hey, hey, lo udah nembak dia belum?” Ridho kini bersuara.

    “Belum, gue belum ada sampai kefikiran kesana,” jawab gue dingin.

    Pertanyaan Ridho melemparkan gue ke kejadian tadi pagi. Tia menangis tersedu-sedu sampai Aldi dan Dwi masuk kedalam kelas tanpa permisi. Dwi yang hiperbolis sempat syok dan heboh, menanyai Tia apakah gue melakukan hal-hal yang tidak senonoh kepadanya. Tak lupa menuduh gue yang melakukan hal yang macam-macam terhadap Tia. Please deh, hal yang paling lancang yang telah gue lakukan kepada Tia, adalah memeluknya erat. Itu saja, tidak lebih. Begitupun Aldi yang sempat bingung, sebelum dia melihat bunga mawar serta kartu yang tergeletak di meja membuat dia faham dengan sendirinya, mengajak Dwi yang rempong itu keluar dari kelas meninggalkan gue dan Tia berdua.

    “Woi bengong aja lo Rian, lo nggak denger gue ya?” ujar Caca membuyarkan lamunan gue. Dia melambai-lambaikan tangannya sambil sesekali bertepuk di depan muka gue.

    “Apa?” tanya gue ketus.

    “Ish..., mikirin Tia segitu amat sih,” goda Ridho sambil menyenggol bahu gue dengan bahunya. “Mikirin cara nembaknya ya?”

    “Eh tau aja lo,” jawab gue pura-pura tertarik dengan perkataannya. Ridho terlihat senang. Gue emang harus berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya saat ini, supaya mereka nggak mengendus hal-hal yang bakalan buat sekolah jadi gempar karena gue.

    “Tau dong,” Ridho menyombongkan diri, “lo cepetan dong nembak Tianya, jangan lama-lama gantungin anak orang tanpa tali. Ntar ditikung orang baru tau rasa lo.”

    Gue tersenyum masam mengingat kejadian tadi pagi. Mengingat ekspresinya saat dia pergi ke kelasnya dengan penuh kekecewaan, membuat jantung gue tiba-tiba kembali terasa sakit.

    “Atau Tia buat gue aja,” seloroh Sandy sambil cengengesan. Vivi dan Caca langsung bereaksi dengan perkataan Sandy. Mereka tampak geram sambil memukul kepala Sandi dengan tas dengan ganasnya, bagaikan Sandy telah membongkar aib mereka berdua.

    “Tia udah cocok sama Adrian, jangan lo ganggu pula,” cerocos Vivi dengan muka sangar tanda tidak terima. “Mending lo sama Ibeth gih, dia jomblo tuh.”

    Sandi menoleh kearah Vivi dengan muka kaget tidak percaya, lalu memandangi kami bergantian sambil bergidik ngeri seperti membayangkan Ibeth seorang pocong berkafan polkadot warna-warni yang ngesot di perempatan jalan pas malam minggu kliwon.

    “Kenapa lo, kayak gitu amat sih?” tanya Caca memandang aneh si Sandy. “Ada masalah sama Ibeth?”

    “Nggak deh, makasih,” jawab Sandy mengangkat kedua tangannya, “Tia aja gue cukup.”

    “Tia untuk Andrian bego!” teriak Vivi memukuli Sandi dengan tasnya lagi, “lo nggak usah tikung-tikung sahabat lo sendiri, cowok macam apa lo yang suka nikung teman sendiri,” cibirnya, “potong aja tuh barang lo.”

    “Iya deh, iya.” Sandi memutar matanya jengah sambil melipat kedua tangannya di dada. “Atau gue sama lo aja Vi, gimana?” celetuknya.

    Vivi tiba-tiba bergidik ngeri memandangnya nista, “Ish, najis dah. Gini-gini gue milih-milih keles. Gue hanya buat Aldi seorang tau tak.”

    “Terus Caca gimana?”

    “Kalau Aldi, kami rela berbagi kok,” jawab Caca sambil menjulurkan lidahnya ganjen, lalu tertawa cekikikan dengan Vivi menutupi kegembiraan mereka. Dasar cewek-cewek aneh. Gue malah mual sendiri membayangkan kalau Aldi gue yang ganteng itu dibagi oleh mereka berdua. Threesome dong. Otomatis tubuh gue menggeliat geli.

    Ridho terkekeh melihat ekspresi gue. “Fokus-fokus, jangan ngambang, kembali ke topik,” ujarnya.

    “Okeh,” Caca memperbaiki tatanan rambutnya, lalu menatap gue intens. “Jadi, yang tadi pagi itu apa?”

    Gue kembali ke mode awal.
    “Gue hanya kebetulan seangkot sama dia. Trus karena hujan lebat, dan dia nggak tega melihat gue yang ganteng ini basah-basahan, jadilah dia menawarkan gue buat barengan, sepayung sama dia.”

    “Yakin nih, nggak ada apa-apa? Kalian nampak romantis deh tuh di foto,” tanya Caca mangut-mangut.

    “Yakin gue, seribu kali yakin malah. Gue nggak ada apa-apa sama Tia,” ujar gue menatap mereka bergantian. “Mungkin fotografernya yang hebat,” ujar gue lagi sambil melempar pandangan ke lapangan.

    Ridho menepuk pundak gue, “Makanya lo cepetan tembak si Tia supaya semua jelas, supaya kita nggak kepo lagi. Lagian lo ganteng kan, masak nembak cewek aja nggak sanggup sih,” sindirnya sambil senyam-senyum.

    Gue hanya mendengus sambil melirik kearah jam tangan gue. Sial udah jam tiga kurang seperempat aja nih. Pasti si Askar udah lumutan tuh nungguin gue berjam-jam di belakang sekolah.

    “Jadi sampai saat ini lo sama Tia belum jadian ya? Dan kejadian tadi pagi hanya kebetulan saja?” jelas Caca sambil memegang handphonenya.

    Gue mengangguk mengiyakan perkataan Caca tadi.

    Setelah topik pembicaraan berganti menjadi masalah class meeting, Vivi dan Caca lalu mohon izin untuk pergi ke kantin beli minum meninggalkan kita bertiga duduk di bangku teras ruang OSIS yang telah sepi. Tak lupa si Ridho dan Sandy nitip dibawakan minuman isotonic kepada duo cewek bahenol itu.

    “Mmm..., nggak ada yang lain yang perlu di tanyakan lagi kan?” tanya gue bersiap-siap hendak pergi, sebelum Ridho mencegat gue dengan tangannya menyuruh gue untuk duduk kembali. Ridho menatap gue intens seperti hendak mencipok gue eh menanyakan sesuatu yang penting kepada gue.

    “A..., ada apa ya Dho? Lo kok gitu amat sih?” Mendadak gue jadi khawatir jikalau dia menanyakan hal yang aneh-aneh atau melakukan hal yang aneh-aneh ke gue.

    Dia terkesiap sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Rian lo ada rasa kan sama Tia?” tanyanya tanpa basi, membuat gue tercekat dengan pertanyaannya itu.

    Gue menggigit bibir bawah gue, memandang mata hitamnya yang bakalan membuat cewek mabuk kepayang itu. “Mmmm..., ada. Kenapa?” tanya gue balik penuh ragu.

    “Nggak ada,” dia tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. “Cuman pengen tahu aja.”

    Gue cuman ber-o ria sambil mengangguk-angguk tidak jelas melemparkan pandangan kearah lapangan yang kering. Cuaca hari ini emang gaje banget, pagi hujan lebat, siangnya panas terik membuat lapangan gue yang tadinya basah menjadi kering kerontang kayak gini.

    “Satu lagi Rian,” kini Sandy buka suara, membuat pandangan gue beralih kearahnya. Sandy mendekatkan mukanya kearah gue, menyusun kata-kata dengan hati-hati. “Kemarin lo coli di sekolah ya?”

    Gue hanya bisa tertawa masam.
    Sial!

    ---

    Sambil melirik jam yang melingkar di tangan gue, gue sekuat tenaga berlari kearah belakang sekolah yang asri. Seperti yang udah gue ceritain sebelumnya, belakang sekolah gue itu terdapat sebuah danau kecil yang indah yang membuat kami dan lo semua betah berlama-lama di sini. Bukan hanya dijadiin buat latar belakang selfie anak sekolah gue, tapi juga anak sekolah tetangga yang berhasil menyelinap ke dalam sekolah untuk sekedar mendapatkan latar belakang foto yang keren. Saking indahnya, salah satu maskot sekolah gue adalah danau kecil ini.

    Gue membungkukkan badan sejenak, mengatur nafas -karena berlari tadi- sambil menatap Askar yang nampak berdiri memandang jauh kearah danau. Memakai jaket kulit hitam dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Serta rambutnya yang terterpa angin membuat kadar kegantengannya semakin bertambah berkali-kali lipat.

    Setelah berhasil mengatur nafas gue yang nggak karuan tadi, gue pelan-pelan berjalan mendekatinya. Nampaknya dia tidak mengetahui kedatangan gue, terbukti dengan dianya yang masih diam menerawang memikirkan sesuatu.

    “Ehm,” gue berdehem, “liatin asrama cewek segitu amat sih?” sindir gue ke Askar sehingga si tampan gue menoleh kearah gue terkejut. Sebelum dia kembali menatap kearah asrama cewek AkPer diseberang danau. Gimana nggak terkejut, lagi asik-asiknya melamun, tiba-tiba ada seseorang di belakang lo mengajak bicara.

    “Daripada bosan kelamaan nunggu, lebih baik gue cari kesibukan sendiri kan.” Jawabnya tak acuh.

    Gue merengut menggembungkan mulut, melipat kedua tangan sambil melemparkan pandangan kearah lain, membuat Askar menoleh kearah gue. Askar lalu terkekeh sambil mengacak-acak rambut gue gemas. Terakhir dia lalu menarik gue mendekati badannya lalu merangkul gue kuat.

    “Tapi semua teralihkan disaat lo ada di sisi gue,” gombalnya, melirik gue sekilas dengan senyum yang sangat indah, lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Argh... Dia pasti sangat senang karena sukses membuat muka gue ini bersemu merah karena gombalannya itu. Emang sialan benar si Askar.

    “Baru juga nyampe udah di gombalin. Dasar buaya,” cibir gue.

    “Buaya-buaya gini, lo suka kan?”

    “Mmm..., gimana ya?” gue mengetuk-ngetukkan dagu dengan telunjuk. “Anggap aja lo lagi beruntung sekarang,” kilah gue dengan muka memerah menahan malu. Gue malas untuk meladeni gombalannya karena bisa berbuntut panjang nantinya, merembet entah kemana-mana.

    “Emang. Kita sama-sama lagi beruntung deh sekarang.”

    Gue mengernyitkan dahi, “kita?”

    “Iya, lo dan gue. Gue lagi beruntung, dan lo juga lagi beruntung sekarang, iya kan?”

    “Nggak juga, emang gue beruntung kenapa?”

    Dia mengedipkan sebelah matanya, “lo beruntung karena lo bisa dekat-dekat sama gue sekarang.”

    Gue langsung berdecih memutar bola mata berpura-pura jengah dengan gombalannya itu. Okay, lo semua tahu gue harus jaga image juga dong. Dia nggak boleh tahu kalau gue melting gara-gara gombalan mautnya itu. Bisa jadi bulan-bulanan gombalan Askar deh gue nantinya, dan jujur gue nggak sanggup.

    Askar menoleh kearah gue, “duduk yuk! Capek nih,” seraya menyeret gue menuju bangku besi yang terletak di tepi danau kecil itu. Mau nggak mau, gue terpaksa mengikutinya yang sangat bernafsu sekali menyuruh gue duduk. Dia lalu mendudukkan gue di bangku dan dia sendiri berjongkok di depan gue dengan senyum mengembang khas Askar. Dia menatap gue dengan intens sambil menggenggam kedua tangan gue membuat gue jadi salah tingkah.

    Gue lalu menekur menghindari tatapannya, mengontrol detak jantung gue yang berdetak kencang laksana genderang mau perang. Tidak berhasil, gue memejamkan mata sambil menarik nafas dalam berharap semoga jantung gue bisa kembali normal dan kupu-kupu di perut gue nggak berterbangan lagi.

    Masih dalam keadaan gue yang merem, sebuah jempol yang lebih besar dari jempol gue dengan lancangnya menyapu bibir gue lembut, membuat darah gue berdesir karena sudah lama nggak dibelai. Jantung gue berdetak lebih kencang setelah hormon adrenalin kampret terstimulus akibat sentuhan dari jempol Askar yang nakal. Bahkan nafas gue tertahan-tahan menunggu apa yang dilakukan Askar selanjutnya.

    1 detik...

    2 detik...

    3 detik...

    Argh... kok belum-belum juga sih. Gue masih menanti kecupan manis dari Askar yang belum juga mendarat di landasannya. Apa gue harus monyong dulu apa supaya gue mendapatkannya?

    Gue membuka mata saking gemasnya, menemukan Askar yang tersenyum mesum penuh kemenangan. Sial, gue kalah dalam permainannya. Gue ketahuan kalau lagi nungguin kecupannya yang memabukkan itu. Dia terkekeh melihat ekspresi gue (mungkin), lalu mengecup kening gue kilat. Zzzt... cuman di kening setelah sekian lama kita nggak bertemu, nggak bisa lebih apa?

    “Kok lama sih?” bisiknya kembali ke posisi semula, duduk bersisian di bangku menghadap danau.

    Gue menundukkan wajah, menatap sepatu gue yang telah patut untuk diganti. “Maaf ya, gue lama.”

    Dia mengangkat dagu gue, “sttt...” dia meletakkan telunjuknya di bibir gue. “Gue tahu lo sibuk saat ini. Gue Cuma mastiin aja.”
    “Gue tadi ada rapat terakhir class meeting. Gegara kita cepat pulang, jadinya jadwal kita berantakan dan ngumpulin anak-anak jadi susah,” jawab gue apa adanya.

    Kenapa gue bilang begitu, karena tadi ada rapat guru dalam mempersiapkan ujian kenaikan kelas, jadinya sebelum istirahat siang kita udah dipulangkan. Hal inilah yang membuat rapat OSIS itu jadi alot gegara banyak anak-anak yang pada mangkir dari kewajibannya sebagai badan eksekutif dan legislatif sekolah.

    “Ya gue tahu kok, lo pasti sibuk mempersiapkan class meeting kan,” ujarnya menggenggam tangan gue.

    Gue mengangguk sambil menatapnya penuh ragu.

    “Tadi pagi barengan sama siapa?” tanya Askar sambil mengusap rambut gue. Gue tercekat mendengar pertanyaannya yang menohok, membuat gue dalam posisi dilematis. Serba salah, laksana memakan buah simalakama. Kenapa pula si Askar nanya begituan. Apa dia tahu foto gue sama Tia tadi?

    “Gue bareng sama Tia,” jawab gue ragu-ragu tanpa mau menatap muka Askar. Suara gue terdengar seperti bunyi kentut kambing dari pada sebuah jawaban yang pasti. Tangannya tiba-tiba berhenti mengusap rambut gue lalu dia menghembuskan nafas berat.

    “Jadi foto yang tersebar itu benar ya?”

    “I... iya...,” jawab gue ragu-ragu. “Itu bukan seperti yang lo fikirin kar.” Gue memalun tangannya erat-erat.

    “Jadi?”

    “Gue emang kebetulan seangkot sama dia. Karena hujan, gue dan dia...” gue menggigit bawah gue, “ya seperti yang ada dalam foto. Nggak lebih nggak kurang. Gue nggak ada rasa sama dia.”

    Dia menghela nafas berat mengelus pipi gue lembut. “Gue harap lo nggak dekat-dekat sama dia,” ujarnya yang terdengar seperti kata perintah yang mesti gue laksanakan. “Gue nggak bermaksud untuk mengekang lo, tapi gue nggak mau aja kalau anak orang bakalan baper gara-gara lo.”

    “Gue kira dia cemburu,” gumam gue yang rupanya terdengar olehnya.

    Askar tertawa sambil memeluk gue gemas, tak lupa menciumi kepala gue saking gemasnya. Ah, mentang-mentang badan gue nggak sebesar badannya, sehingga dia bebas begitu aja meluk-meluk gue. “Gue nggak bakalan cemburu kok,” ujarnya. “Ngapain juga cemburu, kalau orangnya aja cinta mati sama gue.” Askar menaik-naikan alisnya menggoda gue.

    “Pede amat lo.”

    “Ya harus dong, kenyataan kan? Kalau cinta ya cinta.”

    “Sterah lo dah,” gue mengibaskan tangan gue di depan mukanya. Askar mulai lagi deh.

    “Iya deh. Jangan ngambek gitu dong. Ntar gantengnya ilang loh. Mau?”

    Gue menjulurkan lidah sambil mencubit hidungnya gemas sehingga kita berdua tertawa lepas. Gue menyilang-nyilangkan jari tangan kanan gue ke jari kiri Askar lalu menggenggamnya erat. “Gue akan tetap selalu mencintai lo apa yang terjadi,” gumam gue kepada diri sendiri, sebelum gue menoleh kearah Askar yang menatap gue.

    “Lo kemarin sakit ya?”

    Askar mengalihkan pandangannya sejenak, lalu mulai bersuara. “Nggak kok, gue lagi malas aja pergi ke sekolah.”

    “Kenapa?”

    “Gue lagi menenangkan diri.”

    “Karena...” gue menggigit bibir bawah gue sebelum melanjutkan kata-kata gue yang mungkin sensitif buatnya.

    “Adrian,” potong Askar. Dia mengelus pipi gue lembut, “Maafin keluarga gue ya. Maaf.”

    Yup betul, karena keluarganya.

    Gue menggeleng lalu meraih tangan kanannya dan menggenggamnya, “nggak ada yang perlu diminta maafkan Kar.”

    “Maaf kalau perlakuan keluarga gue udah nggak baik kemarin.”

    “Tiap keluarga itu punya cara tersendiri Kar.”

    “Maaf juga, karena keluarga gue yang broken, kita akan berpisah. Mama dan Papa tetap bersikukuh akan bercerai dan bakal menjual rumah,” dia menatap gue, “Mungkin semester depan gue nggak balakan ada disini lagi.”

    Perkataan terakhir Askar tepat mengena, membuat gue faham apa arti dari perkataannya. Bak api dalam sekam, gue berusaha tersenyum walau rasanya hati ini tidak rela jikalau dia bakalan pergi dari sisi gue.

    “Jadi lo nggak hadir... karena...”

    “Gue nggak bisa nerima ini semua. Gue udah berusaha buat menahan ini semua tapi kenyataannya nggak bisa. Gue kesal sama mereka yang egois yang ng-”

    “Sttt...” gue meletakkan telunjuk gue di bibirnya. Menatap matanya lekat-lekat. “lo nggak boleh seperti itu Kar. Ini semua sudah takdir yang digariskan Tuhan buat keluarga lo. Ingat itu. Lo tidak boleh marah sama mereka, karena mereka pasti juga menderita disini, bukan hanya lo saja.”

    “Tapi gara-gara mereka kita berdua...”

    “Hey, yang jelas lo ujian semester dulu, dapat sepuluh besar dan kita jadian. Soal LDR itu kita fikirin belakangan, masih banyak waktu yang dapat kita lakukan berdua,” potong gue optimistis.

    Dia mengangguk pasrah. “Gimana dengan anonymouse? Maaf gue nggak ngehubungi lo beberapa hari yang lalu.”

    “Ntahlah. Sekarang dia belum bertindak, mungkin lagi persiapan ujian kali,” seloroh gue. “Aldi lagi sedang mencari tahu siapa anonymouse yang sebenarnya. Oh ya, gue juga berterima kasih sama temen-temen Yakuza Junior yang udah turut membantu Aldi.”

    Askar mengangguk. “Mereka adalah orang-orang kepercayaan gue,” jawabnya menerawang.

    “Kemarin gue sempet cemas karna lo nggak ngehubungi gue. Tapi gue berfikiran positif aja kalau lo emang lagi butuh sendiri.”

    Dia mengelus pipi gue lagi, “maaf udah buat lo khawatir. Gue kemarin hanya pengen sendiri aja.”

    “Nggak apa-apa kok.”

    “Oh ya, gue ada sesuatu buat lo,” dia mengambil sesuatu dari kantong jaketnya.

    “Apa itu? Kondom?” seloroh gue dengan tawa kecil di akhir pertanyaan gue yang mesum itu.

    “Lebih dari itu,” jawab Askar sambil berjongkok di depan gue, mengeluarkan sebuah kotak warna merah lalu membukanya di hadapan gue.

    Gue nggak bisa meluapkan kegembiraan gue ketika melihat isi kotak tersebut yang ternyata sepasang cincin putih yang sangat cantik, polos tanpa hiasan apapun tersusun di dalam kotak tersebut.

    “Lo mau nggak memakai cincin ini?”

    “Gue mau.”

    “Gue pasangin ya?” tanya Askar hendak mengeluarkan salah satu cincin yang sedikit lebih kecil sebelum gue menahan tangannya. Askar sempat terkejut, sebelum dia tersenyum penuh arti. “Oke, saat kita udah resmi berpacaran ya?” tebaknya sambil menutup kotak itu kembali.

    Gue mengangguk, “Disaat Askar Bastian Putra dapat 10 besar...”
    “Dan disaat Adrian Aditya dapat juara umum,” lanjutnya sambil memasukkan kembali kotak itu kedalam jaketnya. “Gue pastikan cincin itu bakalan melingkar manis di jari lo,” ujarnya percaya diri.

    “Jadi lo semangat, nggak usah fikirin yang lain dulu. Fikirkan ujian kenaikan kelas yang nggak sampai seminggu lagi,” ujar gue.

    Dia tersenyum kecut sambil menekurkan kepalanya, “ya walau kita akan terpisahkan juga akhirnya.”

    “Hey hey, lo nggak boleh gitu Kar,” gue menepuk-nepuk kedua pipinya, “Semua sudah diatur sama Yang Maha Kuasa. Papa dan Mama pasti sudah memikirkan semua itu matang-matang, karena mereka pasti tidak ingin anak mereka bakalan menderita karena keegoisan mereka Kar. Tapi takdir harus berkata lain, mereka harus mengambil keputusan ini dengan alasan buat kebahagiaan lo juga Kar. Karena orang tua pasti akan ngelakuin apapun demi kebahagiaan anaknya. Apapun itu.”

    Askar tersintak dari lamunannya sambil menatap gue sejenak. Dia lalu tersenyum lalu bangkit menatap gue mesra. “Makasih ya beib. Makasih banget,” ujarnya genit.

    Gue tersenyum. “Gitu dong, seorang Askar nggak boleh putus asa kayak tadi. Harus optimis.”

    “Boleh gue cium lo nggak?” tanyanya tanpa ragu.

    “Eh?”

    ---

    Guepun melambaikan tangan kearah Askar yang berlalu meninggalkan gue di depan rumah. Sambil menyentuh bibir gue, gue senyum-senyum sendiri kayak orang gila mengingat kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu di halaman belakang sekolah. Askar mencium bibir gue mulai dari sangat lembut lalu berubah panas. Sehingga gue menghentikan permaian kita berdua, tersadar bahwa kita masih di lingkungan sekolah. Jikalau ada yang melihat, kita berdua terancam dikeluarkan dan ini lebih buruk dari teror yang anonymouse lakukan.

    Gue membuka pagar rumah, mendapati Mama yang sedang sibuk dengan laptopnya di kursi teras. “Assalamu’alaikum Ma,” ujar gue langsung menyalami Mama dan duduk disamping Mama. “Lagi liatin apa Ma? Lagian tumben jam segini udah pulang?”

    “Ini mama lagi cek e-mail Mama, Nak. Katanya Bunda mau ngirimin resep masakan terbaru sama Mama,” jawab Mama tanpa mengalihkan pandangan beliau dari laptop. “Tadi pekerjaan Mama udah selesai di kantor, jadi Mama cepat pulang deh,”jawab beliau lagi.

    Gue mengangguk-angguk sambil memperhatikan Mama yang sedang membuka email. “Kamu besok nggak sekolah?” celetuk Mama yang masih fokus ke layar laptop beliau.

    “Eh iya Ma, besok sekolah,” jawab gue sambil menggaruk-garuk tengkuk gue, “Rian keatas dulu Ma,” ujar gue seraya masuk kedalam rumah. Mama menyuruh gue untuk mengganti seragam dengan baju sehari-hari supaya seragam gue nggak kotor. Kebiasaan Mama yang ditularkan ke gue, sesampai di rumah seragam harus di ganti.

    Setelah bersih-bersih, gue lalu merebahkan diri gue ke kasur melepaskan semua kepenatan aktifitas sekolah dan aktifitas tambahan sepulang sekolah. Tak lupa gue kembali mengingat-ingat wajah askar yang membuat gue tidak tahan untuk menanyakan kabarnya. Gue meraih smartphone gue yang berada di nakas hendak mengirim pesan ke Askar serta menanyakan anonymouse ke Aldi

    Sebuah notifikasi Line masuk kedalam handphone gue disaat gue sedang berbalas pesan dengan Aldi. Gue lalu membuka aplikasi tersebut, menampilkan notifikasi akun anonymouse di layar handphone. Tiba-tiba perasaan gue tidak nyaman membuat gue semakin khawatir untuk membuka pesan dari anonymouse tersebut. Gue menggigit bibir gue, menimang-nimang apakah membuka pesan tersebut atau membiarkannya begitu saja. Gue menghembuskan nafas berat, lalu dengan tangan bergetar membuka notifikasi dari anonymouse.

    ‘Lo udah membuat kesabaran gue habis Adrian. Karena lo dan nyokap lo ada di rumah, selamat karena foto tersebut akan gue kirim ke e-mail nyokap lo’
    15.51


    Gue terpana membaca pesan dari anonymouse itu, tidak lupa dengan foto yang akan di kirimkan ke e-mail Mama. Gue langsung bangkit dari kasur lalu menghubungi Aldi dan Askar dengan telepon tiga arah memberitahukan bahwa anonymouse telah melancarkan serangan pamungkasnya ke gue sambil melirik Mama dari jendela yang sibuk dengan laptop beliau. Aldi terdengar kasak-kusuk diseberang sana, sedangkan Askar berusaha menenangkan gue, walaupun dari suaranya terdengar sedang menahan marah.

    Tepat ketika gue menutup panggilan, terdengar suara Mama dari teras. “Adrian! Kemari sebentar!” teriak Mama.

    Tuhan tolong hambamu ini ya Tuhan...

    --- tbc
    R~


    Hay... Malam menjelang subuh minna. Gue kembali update setelah sekian lama pula gantungin nih cerita. Jahatnya diriku.

    Okeh, gimana minna dg part ini. Gue harap antum semua suka sama part ini. Part yg gue buat pas keadaan mendesak. Tiba2 aj dpt ilham (bkn ilham si onoh yes, ilham dri Tuhan), trus ngetik pas lagi melemaskan diri dri kepepet buat makalah statistik. Nampaknya nih otak tiba2 encer gegara matematika. :lol: entahlah om, gue tidak tahu.

    Tapi yg jls gue ngucapin banyak terima kasih buat antum semua yg mau komentar n vote nih cerita sehingga gue ttp semangat buat namatin nih sinetron eh cerita. *Ketjup satu2*

    Ikeh2 kimochi. Kembali k yg sudah, gue mohon vote n komentarnya. Rasanya gue beruntung bngt punya antum semua.
    Bsok gue ad praktikum. So nggk pakai muqadimah, selamat membaca, n sunt. ;)

    Salam...
    4 Oktober 2016 - 00.08
    R~