BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    kalau matinya suah tua dan pada waktunya bukan pertanda apa apa
  • Re: Bukan Lawan Jenis

    Tengah malam gw dibangunkan sama Rizky.
    "Ada apa?" tanya gw langsung duduk.
    "Aku mau minum..."
    Gw langsung geregetan menahan kesal. "Itu air ada di atas meja. Tinggal ambil aja. Kenapa mesti bangunin aku segala...?!"
    "Aku kan sakit..."
    "HEI! Emang situ sakit keras apa?!"
    "Aduhhh...aduuhhh....kepala aku pusing bangett..." keluh Rizky tiba-tiba.
    "Nggak ada! Nggak ada! Boong...!"
    "Hufhh..."
    "Sakit aja masih bikin orang sebel kamu ya..." gerutu gw.
    "Eehh, kamu itu di sini ditugaskan buat jagain aku. Bukannya tidur..."
    "Ini bukan adegan drama romantis yang aku harus duduk di sebelah kamu semalaman sambil genggam tangan kamu ya!"
    "Terus tujuan kamu di sini apa? Cuma mau tidur bareng aku doang?"
    "Aku bisa pulang sekarang juga kalo kamu mau!"
    "Kok kamu yang marah sih?"
    "Siapa yang marah?"
    "Kamu."
    "Kamu sih kurang kerjaan ketimbang mau minum aja mesti bangunin..."
    "Ya udah maaf..." Rizky bangkit dan mengangkat teko.
    "Biar aku aja," cegah gw buru-buru melompat dari ranjang dan meraih gelas di atas meja. "Sia-sia aku bangun kalo akhirnya kamu juga yang ngambil minumnya..."
    Rizky mangut-mangut.
    "Mau sekaligus diminumkan?" gw mendekatkan gelas ke bibir Rizky.
    Rizky pun minum.
    "Segelas aja?"
    "Iya..."
    Gw menempelkan tangan ke keningnya. Suhu tubuhnya udah normal.
    "Udah enakan?"
    "Udah..." jawab Rizky sambil kembali berbaring.
    "Jadi besok udah bisa sekolah la---"
    "Kayaknya kepala aku masih berat deh!" potong Rizky cepat.
    "Ish!"
    "Bed rest dulu sehari sayang. Lusa baru sekolah lagi..."
    "Terserah kamu lah..." timpal gw sambil naik keranjang lagi.

    Setelah sama-sama berbaring, kami bertatapan. Nggak berapa lama kemudian, Rizky angkat bicara,

    "Kamu masih marah?"
    "Aku nggak marah, cuma kesel."
    "Sekarang masih kesal?"
    "Uhmmm...sedikit."
    "Kesal kenapa?"
    "Pake nanya! Udah deh, jangan bikin aku tambah kesal."
    "Hehehe...oh, iya, Kak Fredo bakal pulang."
    "Oh ya?"
    "He-em."
    "Kamu tahu dari mana? Dia kasih tahu kamu?"
    "Dari status facebooknya."
    "Oohhh..."
    "Gimana menurut kamu?"
    "Gimana apanya? Dia punya rumah di sini. Wajar dong kalo dia pulang..."
    "Iya. Kalo dia pulang kamu gak bakal CLBK lagi kan sama dia?"
    "Tergantung sih..."
    "Tergantung apanya?"
    "Gimana penampakan dia sekarang. Kalo dia berubah jadi keren maksimal, kenapa nggak?"
    "Ooh, jadi gitu? Dasar murahan..."
    "Apa kamu bilang?!"
    "Kamu gampangan banget. Cinta kok berlandaskan penampilan fisik doang..."
    "Harus dong. Gak bisa dipungkiri, rasa cinta itu tumbuh berawal dari tatap. Dari mata turun ke hati. Dari apa yang kita lihat... Aku gak percaya kalo orang suka seseorang tanpa melibatkan wujud ragawinya..."
    "Tapi bukan berarti kita harus jatuh cinta ke setiap orang yang lebih keren secara penampilan dari pada pasangan kita kan?"
    "Ya nggak lah!"
    "Tapi tadi kamu bilang kamu bakal CLBK atau nggak tergantung gimana penampilan Kak Fredo sekarang. Itu sama aja kalo kamu---"
    "Habis kamu nyebelin. Kenapa mesti nanya-nanya apa aku bakal CLBK atau nggak? Kamu gak percaya sama aku? Kamu masih mikir kalo aku masih nyimpan rasa suka sama Kak Edo?"
    "Tujuan aku tadi cuma bercanda sih..." gumam Rizky pelan.
    "Gak lucu!"
    "Kamu serius banget sih? Aku percaya kok sama kamu. Aku cuma mau ngasih tahu aja kalo Kak Fredo bakal balik..."
    "Biar ajalah dia pulang. Gak ada urusannya sama aku."
    "Iya, iya. Kamu gampang banget sewot kalo ngomongin dia..."
    "Iya. Karena dia seharusnya gak pernah ada dalam hidup aku. Mencintai dia suatu kesalahan."
    "Segitunya sih... Apa aku juga bakal kamu giniin nantinya?"
    "Maksud kamu apa? Kita harus putus dulu kalo kamu mau tahu bagaimana aku mengenang kamu nanti."
    "Amit-amit..."
    "Makanya gak usah mikir macam-macam. Satu macam aja, cukup aku."
    Rizky terkekeh.
    "Aku serius. Cukup mikirin aku. Sama kayak aku yang cuma mikirin kamu..."
    "Gombalannya luar biasa..."
    "Aku serius. Dan sekarang masih tengah malam. Kita harus tidur lagi," pungkas gw.
    "Ok."
    "Kamu nggak mau minum lagi?"
    "Nggak. Kembung ntar."
    "Atau kamu ngompol."
    "Iya, ngompolin kamu. Eh, ada kan genre film biru yang dikencingin itu? Namanya apa?"
    "Nggak tahu. Kenapa? Kamu suka? Ish!"
    "Nggak. Aku suka yang normal-normal aja."
    "Masa?"
    "Hu-um. Yang lembut dan romantis...liar sedikit gak apa-apa sih..."
    "Liar sedikit itu kayak apa sih?"
    "Mau aku coba?"
    "Hmmm...jebakan."
    Rizky terkekeh.
    "Udah ah. Ayo tidur..." gw menepuk-nepuk pelan pipi Rizky.
    Rizky menangkap tangan gw. Lantas ia mendaratkan ke bibirnya sebelum akhirnya melabuhkan ke dadanya. Ia menggenggam tangan gw sampai kami tertidur...

    ***
  • Re: AFTER YOU GO

    Part 16

    Aku termenung memandang sebuah foto yang terpajang di feed Instagramku. Foto Reza dengan gagahnya berhasil membuat wajahku memerah, berpose keren membelakangi air terjun yang ada kabupaten sebelah. Walaupun begitu, hatiku hancur saat menyadari bahwa Reza pasti ke sana bersama Alvin selingkuhannya, bukan bersamaku. Reza, cowok yang telah mengisi hatiku, dia kelihatan kurus sekarang, ditambah dengan rambut yang mulai memanjang.

    "Bro, lo di panggil Pak Samsul tuh," bisik seseorang cowok yang ada di sampingku. Aku terkesiap sambil buru-buru memasukkan ponsel ke dalam kantong celana. Aku melirik Pak Samsul yang menatapku dari mejanya. Aku meneguk ludah, lalu bangkit dari kursi menuju depan kelas. Saat ini adalah penentuan nasibku untuk malam nanti.

    "Kamu ada masalah?" ujar Pak Samsul dengan suara pelan, memandangku dengan penuh selidik sesampai di depan beliau. Aku menggeleng sambil melirik tugasku yang ada di tangannya. Beliau mengangguk-angguk percaya, "lalu kenapa mata kamu memerah begitu?" tanya beliau selanjutnya membuatku sontak terkejut dengan dosenku yang satu ini. Dari bahasa tubuhku saja, beliau sudah tahu bahwa aku tengah dirundung masalah. Beliau memang sangat cocok untuk menjadi seorang dosen psikologi.

    Aku menggaruk tengkukku dengan senyum terpaksa "Saya ada sedikit masalah Pak," jawabku sejujurnya. Aku memang tidak dapat menipu seorang ahli kejiwaan seperti beliau ini. Beliau lalu mengangguk-angguk sambil menatap tugasku yang beliau pegang. Begitupun aku yang juga mengikuti arah mata beliau menatap tugasku.

    "Baiklah, selesaikan semua masalahmu sebelum ujian minggu depan." Pak Samsul Bahri menyerahkan tugasku sambil tersenyum. Tidak lupa beliau menepuk lenganku memberikanku semangat. Sambil membalas senyum beliau, aku mengucapkan terima kasih. Dari gelagat beliau, nampaknya tidak ada masalah dengan makalah yang telah ada di tanganku. Berarti aku dapat bernafas lega karena terbebas dari revisi yang sangat aku takutkan. Aku lalu berjalan menuju kursiku kembali dengan senyum mengembang, diikuti dengan tatapan penasaran dengan teman sekelasku.

    "Bagaimana?" tanya cowok -yang membisikkan aku tadi-, sambil menatap tugasku lebih tepatnya. Aku tersenyum lebar sambil meletakkan makalahku tersebut di atas meja. Cowok tadi langsung merebut makalahku, membuat beberapa gadis yang juga hendak melihat makalahku di belakang merengut. Dia membalik-balik halaman tugasku sambil berdecak-decak.

    "Gila, nasib kita sama saja," racaunya sambil membalik-balik makalahku. "Revisi juga," ujarnya tertawa masam. Mataku terbelalak mendengar pernyaannya. Setelah merebut makalah itu dari tangan cowok tadi, aku membalik-balik makalahku yang penuh dengan coretan Pak Samsul Bahri. Aku meringis sambil menoleh ke arah dosenku yang sedang mengembalikan tugas kepada mahasiswa yang ada di depan beliau. Aku tertipu dengan wajahnya yang bersahabat. Rupanya, nasibku dan nasib makalahku sama tragisnya dengan nasib Samsul Bahri di roman Sitti Nurbaya. Aku harus kembali merevisi dan menyerahkan tugas itu kembali besok pagi, atau tidak dapat mengikuti ujian minggu depan. Berarti ini maksud dari kata semua masalah yang beliau ucapkan tadi.

    Beberapa gadis di belakangku terdengar terkikik di belakang sana. Aku mendesah sambil meremas rambutku. Penulisan kata, pemakaian tanda baca, kata baku dan kurangnya daftar pustaka menjadi sorotan pacar Siti Nurbaya itu dalam coretannya. Aku memasukkan makalahku itu ke dalam tas dengan muka masam. "Lagaknya tadi kayak orang yang nggak revisi, rupanya... revisi juga," ejek gadis-gadis di belakang yang membuat mukaku tambah memerah. Aku tertipu di tempat yang terang.

    Aku merogoh ponsel yang ada di kantong celanaku. Mataku kembali tertuju pada foto Reza di Instagram yang belum sempat aku keluarkan. Aku menatap foto itu sekali lagi. Wajahnya, matanya, hidungnya, pipinya membuat jantungku berdegup kencang, walau ada rasa sesak di dada. Aku menggigit bibirku sambil mengetuk layar ponselku dua kali. Sedang apa Reza sekarang, apakah dia sudah makan, kenapa dia bisa kurus seperti ini, dan puluhan pertanyaan tentang Reza berkecamuk di fikiranku.

    "Ye elah, bermenung lagi, ntar kesambet baru tahu rasa lo," ujar cowok di sampingku. Aku langsung menoleh kearahnya kaget. "Lagi mikirin apaan sih? Tugas tadi?"

    Aku menggeleng sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Seperti mengetahui isi fikiranku, cowok yang telah berdiri dari kursinya itu menatapku, "semua udah pada keluar, lo aja yang keasyikan melamun," ujarnya.

    Aku tersenyum, "thanks ya," ucapku berterima kasih. Dia tersenyum sambil mohon izin untuk duluan keluar kelas yang telah sepi. Aku mengemasi perkakasku sambil menatap ponselku yang tergeletak di meja. Aku menarik nafas panjang sambil keluar dari sosial media tadi.
    "Ingat lo harus move on," aku membatin.

    Aku lalu keluar dari kelasku yang telah kosong itu. Masih ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di koridor lantai tiga gedung ungu. Untuk mengefisienkan waktu, sebaiknya aku ke perpustakaan sekarang, mencari buku yang dapat aku masukkan ke dalam daftar pustaka.

    Aku berjalan menuju gerbang gedung FPsi yang megah itu. Dengan arsitektur modern, di padu padankan dengan kebudayaan lokal, menciptakan sebuah mahakarya gedung yang unik. Terlebih dengan trisula besarnya, menambah kesan bahwa ini loh, gedung psikologi kampusku itu.

    Mataku tidak sengaja mengarah ke arah parkiran kendaraan roda dua. Jantungku berdegup ketika mataku menangkap sebuah motor yang tidak asing lagi olehku. Aku mengucek mataku, memastikan sebelum mengedarkan pandanganku kesekitar. "Reza pasti ada di sini," batinku sambil berjalan menuju salah satu bangku yang ada di taman depan gedung. Hatiku ragu antara menghubungi Reza dulu atau berpura-pura acuh tak acuh dengan keberadaan motornya di gedung Fakultasku. Aku merogoh kantong celanaku, menimbang-nimbang ponsel yang telah ada di tanganku. Menelfonnya atau tidak.

    Seseorang seperti duduk di sampingku, membuatku menoleh ke arahnya. Aku tertegun sejenak, melihat pria yang telah berhasil membuatku merasakan apa itu cinta dan apa itu kehilangan, sedang duduk beberapa jengkal di samping kiriku. Reza nampak menatap ke depan tanpa mau memandangiku, dengan kedua tangan bertumpu pada bangku panjang yang tanpa sandaran yang dia duduki.

    Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam kantong celana. Rasanya sangat canggung sekali di saat dua orang pria dewasa duduk berdua diam-diaman di bawah pohon. Pandanganku menerawang ke arah depan tanpa berniat untuk memandang pria yang ada di sampingku.


    Pohon yang menaungi kita berdua dari teriknya panas siang hari, tidak mampu mengurangi hawa panas yang aku rasakan. Aku memperbaiki posisi kakiku, memberiku sedikit kenyamanan duduk di bangku besi tersebut, sehingga menghasilkan bunyi gemerisik pasir yang aku injak. Reza menoleh ke arah kakiku. Dia kelihatan terkejut sambil menatap ke arahku. Mungkin dia tidak menyangka bahwa aku masih memakai sepatu hadiah anniversary kita, pemberiannya tersebut. Aku langsung menyembunyikan kakiku ke dalam bangku besi, sehingga dia tidak melihatnya. Dia kembali menatap ke arah depan tanpa berkomentar sedikitpun, walau ada seulas senyum terpatri di bibirnya.

    Reza menjulurkan tangannya, menyerahkan flashdisk yang aku pinjamkan kemarin kepadanya. "Terima kasih dengan bantuannya," bisiknya.

    Aku menoleh ke arahnya, memandangi wajah Reza dan flashdisk tersebut bergantian. Dengan ragu-ragu, aku mengambil flashdisk tersebut dari tangannya. Tidak sengaja tanganku menyentuh tangannya, membuat jantungku berdesir. Aku langsung salah tingkah, membuat Reza terkekeh. Hati kecilku sangat senang karena dapat melihat senyum Reza kembali, walau akal sehatku beranggapan bahwa tidak sepantasnya pria ini tertawa di depanku setelah apa yang telah dia lakukan terhadapku.

    Aku dengan cepat memasukkan flashdisk yang aku pegang ke dalam kantong celana, sambil menggeser posisi dudukku menjauhinya. Tawa Rezapun hilang setelah melihat reaksiku.

    Dia kembali menatap ke depan. Hanya bunyi jangkrik dan suara teriakan mahasiswa yang masuk ke dalam indra pendengaranku. Kita berdua sama-sama diam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan, ataupun berinisiatif untuk menyudahi pertemuan yang tidak aku sangka ini.

    Reza menoleh ke arahku yang menatap pasir di tanah. Aku diam kaku tidak bergerak. Reza tersenyum lalu menjulurkan tangannya hendak mengelus rambutku, sebelum dia mengurungkan niatnya. Dia mengambil nafas berat sambil kembali bertumpu ke bangku menghadap ke depan.

    "Terima kasih, kamu udah tetap perhatian sama aku, udah mengingatkan aku untuk makan," gumamnya. Aku tersentak. Reza tahu bahwa aku hanya pura-pura salah kirim pesan padanya. "Terima kasih," ujarnya lagi.

    Aku bergeming.

    "Maaf untuk semuanya," ujarnya sambil bangkit dari bangku yang ia duduki. Reza memandangiku yang masih merunduk tanpa mau memandanginya. Ia kembali menghela nafas, seraya berlalu pergi menuju parkiran.

    Aku lalu menoleh ke arahnya, menatap punggungnya yang meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus ungu.
    "Aku memaafkanmu Za," batinku menatap Reza yang meninggalkanku sendiri.

    --- tbc
    R~

  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    bukan nggak ngerti toleransi sih menurutku
    tapi pemahaman toleransinya aja yang beda
    yang satu memahami definisi toleransi dari kamus kbbi
    yang satu memahami definisi toleransi dari Al-Qur'an
    :smile:
  • Si Imut++ ( Tamat )

    Heaaaaaaaaaa ! Ketemu lagi sama postingan gw ! Hahahahaha, sesuai status gw kemaren, gw bakal posting di hari gw ultah ! Dan sekarang gw posting deh. Hmmmmm kayanya gak usah pake prolog - prologkan deh ! Gw gak jago buat gituan, gw mah jagonya buat masalah, hahaha. Ok kita langsung aja ke tempat yg di tuju ! Yup kita mau ke mana ? Ke gunung ! Kita mau kemana ? Ke gunung ! Hahahaha becanda guys ! Selamat membaca !


    *******************

    "Oh god!" 5 huruf yg keluar dari mulut gw selepas melihat mahluk ciptaan Tuhan yg begitu indah untuk di pandang. Gak tau kenapa mahluk satu ini begitu sempurna di mata gw ! Sesuatu di dada gw berasa ingin keluar dan meledak. Getaran - getaran entah yg dari mana berasal memenuhi seluruh tubuh gw, apa ini cinta ? Gw gak tau ! Gw udah puluhan kali pacaran tapi gak pernah merasakan yg se dahsyat ini. Beneran deh, ini dahsyat banget ! Bukan acara pagi yg alay + joget - joget gak jelas gitu ! Gak tau kenapa tubuh gw jadi kaku, come on ! Lo cowo nomor 1 di sekolah ini ! Gak ada yg bisa menolak pesona lo !

    But, gak tau kenapa gw masih kaku. Yaampun, ini kalo sampe si jabbar liat gw begini bisa di cengin nih ! Ok ok, sekarang lo harus rileks, pertama - tama tutup mata, tarik napas, buang, tarik lagi buang. Ok sekarang gw udah rada tenang, gw buka mata gw perlahan.

    "Loh ?" Tiba - tiba tuh cowo imut++ hilang dari pandangan gw. Gw perhatikan sekeliling kantin mana ? Mana ? Mana ? Itu dia ! Loh, bentar - bentar, jangan pergi dulu. Gw pun bergegas bangkit dari meja untuk segera mengejar si imut++ tapi sebuah tangan menepuk pundak gw.

    "Sorry Vin gw lama" shit ! Dia udah nge gas motor matic nya

    "Plak" refleks gw keplak pala si jabbar

    "Heh pea ! Gara - gara lu si imut++ gw keburu pergi" ucap gw seraya menunjuk cowo imut++.

    "Sorry - sorry gw gak tau, emang tadi siapa ?"

    "Gw juga gak tau ! Dan gara - gara lo gw juga gak bisa tau !"

    "Yeeeeee lebay lo !"

    "Wah udah mulai berani lo bar ?"

    "Emang lo siapa harus gw takut in ?" Jawabanya dan langsung aja gw piting dia di ketiak gw dan gw jitak berkali - kali sampai dia minta ampun.

    ~~~~~~~~~~~~~~

    Gw masih aja kepikiran cowo imut++ tadi. Gw sampe gak fokus selama pelajaran hari ini gara - gara tuh cowo. Pokoknya gw harus cari tau, dan itu secepatnya !

    Sebenernya gw mau langsung latihan basket, jam sudah menunjukan pukul 15.00 dimana waktu eskul gw mulai, tapi tenggorokan gw berkata lain, so gw putuskan untuk kekantin dulu buat beli beras, eh maksud gw air minum.

    Pas gw sampe lapangan, orang - orang udah mulai latihanya sementara gw masih duduk dan minum es kelapa. Kaya nya gw males banget buat latihan hari ini, di tambah lagi jabbar tadi gak tau pergi kemana sambil lari - lari bawa bunga mawar. Gw sih bisa tebak paling an dia mau jualan bunga hahahaha.

    Lagi asik - asik nya bayangin wajah si cowo imut++ gw ngeliat jabbar keluar dari loby sekolah dengan wajah muram, apa jangan - jangan pembalutnya tembus ? Eh tunggu, Dia kan cowo ! Hahahaha, tapi di lihat dari ekspresi nya sih ini masalah berat. Langsung aja gw panggil nama dia dan memberikan isyarat untuk temenin gw duduk di sini.

    "Lo kenapa ?"

    "Gw di tolak"

    "Hahahaha" langsung aja gw reflek ketawa, baru di tolak 1 kali aja nih orang langsung down ?

    "Gak lucu ! Jangan ketawa woi"

    "Ya gw sih gak tau rasanya di tolak, soalnya semua orang yg gw tembak, baik itu cewe or cowok selalu terima. So how do you feel ?"

    "So bad ! Very very bad !"

    "Hmmmmm, gw sih bukan mario teguh yg bisa motivasi lo dengan kata - kata bijak. Jadi sorry gw gak bisa nolong lo"

    "Temenin gw di sini aja Vin, temenin gw ber galauria"

    "Gw sih ok aja selama gak sampe jam 5 sore, soalnya gw harus balik ke rumah sebelum magrib. Soalnya momy gw hari ini balik dari belanda"

    "Lo sama temen sendiri gitu banget Vin"

    "Iya - iya bawel ! Lagian siapa sih yg nolak lo?" Saat gw berujar demikian, mata jabbar terlihat sayu dan memandang ke arah loby. Gw pun menelusuri apa yg di lihat jabbar, dan hasilnya WOW ! Ada cewe cantik meeeen !

    Jalanya anggun banget, kalem - kalem gimana gitu, dan gak tau kenapa orang - orang yg dia lewati memberikan salam dan hanya di balas dengan anggukan kecil dan seutas senyuman tipis. Dari cara jalan dan semuanya gw bisa ambil keputusan dia itu cewe dalam artian yg sesungguhnya ! Gak kaya cewe jaman sekarang yg kelakuannya ngobral aurat dan kalo naik motor ber 3, gw suka bingung itu motor apa banana boat ? Ok balik lagi ke cewe tadi, sekarang dia lagi jalan kearah kita, pas hampir sampai mata jabbar dan cewe tadi bertemu jabbar cuma bisa tersenyum pasrah sementara si cewe menunduk dengan ekspresi yg susah gw arti in.

    "Sabar ya !" Ucap gw sembari mengelus - elus pundak jabar

    "Lu liat kan ?"

    "Ia lah, cewe cantik dan anggun kaya tadi masa gak keliatan"

    "Nah itu dia Vin, dia tuh sempurna banget dimata gw"

    "Justru itu, dia terlalu sempurna buat lo" ucap gw nge ledek

    "Plak!" Sebuah pukulan mendarat di kepala gw

    "Bukanya hibur temanya malah jelek - jelekin !"

    "Yaampun Bar, gak usah mukul kan bisa. Lagian lo gak usah di jelek - jelekin juga udah jelek"

    "Sialan ! Udah ah gw mau pulang aja, cape ngomong sama lo"

    "Gih sana pulang"

    "Anterinlah !"

    "Lah ?"

    "Lo kan tau motor gw tadi masuk bengkel dan gw ke sekolah naek go jek"

    "Yaudah balik naek go jek lagi aja"

    "Ini gw lagi runding harga sama abang go jek nya" ucapnya seraya tertawa

    "Sueee ! Kalo gw jadi go jek 1 hari aja udah bisa beli mobil, bayaran go jek yg ganteng kan mahal" ucap gw membanggakan diri

    "Yaudah ganteng, anter aku pulang yuk"

    "Yaudah" ucap gw pasrah dan si jabbar masih senyum walau ada guratan kesedihan di dalamnya.

    ~~~~~~~~~~~

    Gw lagi di jalan arah pulang ke rumah, jam juga udah menunjukan 17.05 ini gara - gara si jabbar minta di anter pulang, gw rasa momy sama daddy udah sampai, pasti sampe rumah nanti gw di semprot gara - gara pulang telat dan ada beberapa jalan yg sedang dalam perbaikan, otomatis cuma setengah jalur ajar yg bisa di lewatin. Di tambah gw naik mobil, otomatis gw gak bisa menyalip, tau gitu tadi mendingan gw pake motornya pak barjo satpam rumah gw, eh tapi entar orang - orang shock lagi kalau liat gw pake motor pak barjo ? Kan motornya dia udah matic warnanya pink lagi ! Hahahaha tar yg ada rakyat sekolah gw pada heboh gara - gara liat idol sekolahnya pake motor pink.

    Tinggal beberapa belokan lagi gw bakal sampe di gerbang perumahan gw, tapi gw melihat 2 sosok yg gw kenal sedang ada di pinggir jalan menghadang pengendara motor matic berwarna merah. Eh tunggu - tunggu, kayanya gw kenal deh sama itu motor. Aaaaaa ! Itukan si cowo imut++ yg tadi pagi gw liat di kantin,,, aha ! Gw punya ide, gw bakal nyelametin dia dan bakal jadi hero dia, pasti dia nanti bakal terima kasih sama gw dan terpesona sama gw, gw langsung aja ngaca di spion mobil gw buat rapihin rambut dan ngecek ada belek or kotoran lain di wajah gw.

    Setelah gw rasa gw udah keren maksimal gw pun turun dari mobil buat berlaga jadi hero pangeran gw yg imut++ tapi semua berubah saat gw liat Andi dan Teo terkapar di jalanan sambil pegangin perut mereka, apa jangan - jangan pangeran imut++ gw ketakutan terus langsung tancap gas di motornya dan menabrak 2 cecunguk itu ? Yaaaaahhh ! Gagal deh gw jadi hero nyah -_- tiba. - tiba mood gw merosot anjlok banget, sampe - sampe kadar kegantengan gw menurun 10% gw sih masa bodo sama 2 cecunguk itu, gw langsung aja masuk mobil dan langsung tancap gas ke rumah gw.

    ~~~~~~~~~~~~~~

    Sekian dulu :) gw mau makan siang dulu !
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    0129203_PE283223_S5.JPG

    Yg dulu heboh nyari2 mods sapa yaw X/
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    79a5b0e48e411c9f3baf6f5b1a5718.jpg

    2da9bbb1dd46008de44df2b2360c33.jpg