BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Share Your Instagram Photos

    3e940cab2434901fa9800c07c10cba.jpg
  • Re: TEBING TERJAL



    Pertemuan kita kali ini terasa lebih spesial dengan kehadiran orang-orang yang juga spesial dalam cerita ini. Saling menguatkan pendapat adalah ciri khas dari cerita ini. Siapa nih yang pertama muncul hari ini ? Lebih asik kalau Rusli saja yang duluan, lalu diperjelas oleh yang lain. Ya kita serahkan saja waktu dan kesempatan yang ada. Asalkan cerita ini tetap akan berlanjut menemani bro semua.


    P. O. V. dari RUSLI

    Selamat pagi siang sore dan malam om-tante, abang/mas/uda/kakak, uni-mbak, dan rekan seperjuangan, semoga semua baik ya. Amin !
    Aku hadir lagi nih untuk meneruskan perahu kita melaju kian jauh.
    Sebagai kilas balik dari cerita kemaren, aku menjalankan kegiatan sehari-hari di rumah bapak tepatnya di tebing seberang. Besok aku ada janji dengan nenek di kota Jambi sehingga aku biasanya akan menitipkan kegiatan di dusun ini pada bang Mustafa. Nanda yang menjahit di kota muaro tebo akan kembali ke dusun berkumpul dengan anak-anaknya kala weekend begitu. Jadi, aku ada waktu yang luang untuk bertemu keluarga di kota Jambi. Kegiatan lain adalah memantau kondisi bang Ulzam dan menyemangatinya untuk selalu fokus dalam menjalani pengobatan.

    Hari jum'at pagi adalah hari yang spesial di dusun kami. Anak-anak lebih melakukan aktivitas fisik di sekolah. Anak kak Anisa sedang menjalankan masa sekolah di SD. Satu orang anak Nanda juga begitu, satu yang kecil masih TK sama halnya dengan anak bang Mustafa. Jadi aku memanggil yang TK ini dengan istilah si kecil. Gadis-gadis cantik ini tidak banyak bicara, tapi lebih banyak tersenyum dengan ikhlas. Mereka mengerti dengan kalimatku. Kalimat yang ku sampaikan juga tidak memancing untuk berbantahan. Aku kasihan sama mereka, pada sosok mereka tercermin kisahku yang tidak beruntung pada masa kecil.

    "kami berangkat ya om" senyum mereka

    "iyo, sebentar lagi hujan tuh, kalau dapat bajunyo dak basah dan kotor, biar mamak kau gampang cuci nyo" argumenku yang sederhana tapi mendidik dengan tegas sebab akibat perbuatan

    "beres om" janji dari mereka

    "salamualaikum" kataku

    mereka melambaikan tangan

    Masa ini mereka masih beraktivitas seputar tebing seberang, masuk SMP mereka akan banyak naik perahu nuju jejak langkahku dulu.
    Hmmmm sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, tidak ada kepikiran membangun SMP disini. Padahal penduduknya sudah semakin banyak.
    Sepertinya aku harus menyampaikan pendapat pada dinas pendidikan kabupaten ini. Semoga, dalam waktu dan kesempatan yang pas.

    Dari kejauhan aku tatapi punggung mereka yang menghilang dari sebelah rumah orang tua Wulan. Sejak tamat kuliah dan kembali ke dusun ini aku belum pernah ketemu Wulan. Berdasar info dari orang tuanya, Wulan baik-baik saja dengan suaminya di Muaro Bungo.

    Rumah papa Ridwan dekat SMP itu masih terawat dengan baik. Penduduk kepercayaan nenek dan Uwo senang hati merawanya, dan mereka dapat imbalan materi yang memuaskan setingkat kehidupan dusun. Pembaca akan paham ya apa Nanda tinggal disana ? tentunya tidak. Nanda terlalu takut dengan tatapan mata nenek dan Uwo akan jalan salah mama dan ayuk Anisanya pada bapakku dan papa Ridwan. Nanda hanya weekend datang ke rumah bapak dimana anak-anaknya ku rawat. Jelas itu lebih baik dan jauh dari gunjingan orang karena di rumah bapak juga ada bang Mustafa dan istrinya. Rumah bapak sekarang sudah sangat layak untuk dihuni dengan renovasi besar oleh papa Ridwan.

    "mandilah Rus, tu dah ayuk buatkan sarapan pagi" kata istri bang Mustafa

    "iyo ayuk, ini aku beresi dulu daftar setoran minggu lalu dari pekerja nenek"

    "mandi dulu lah Rus, agek abang tolong ngetiknyo. oh yo bahan ceramah sholat jumat disiapkan jugolah Rus" saran si bang Mustafa

    "ok bang, tolong ketikin angka-angka ini pada kolom nomor duo dan tigo yo bang usahakan jangan salah" ...

    "yo sanolah mandi" persetujuan si abang

    Aku bersegera mandi dan membuat penampilan ini agak beda, karena ini hari jumat saat aku ceramah di hadapan jamaah jum'at.
    Setelah berpakaian rapi aku menuju meja makan

    "ehem Rus, makin hari makin cihui bae penampilan kau" kata si ayuk

    "apo tuh cihui yuk" aku berlagak tanya-tanya

    "cihui tuh guaaannteng" balas si ayuk

    "hahahha kau ini, iyolah cihui pak Mansur kan ganteng jugok" ...

    "hadoh abang nie, lihat yang abang ketik ? " aku alihkan senyam-senyum mereka

    "hahaha malu dia bang" ledek si ayuk

    "hihihi kalian ini, tapi ok tuh yang abang ketik" kata ku

    "cak yang penting bae" ledek si ayuk pada suaminya

    "eeeee ayuk, coba yang setor satu juta lima ratus, lebih satu nol, jadi lima belas juta, kasihan pak kebon nyolah yuk, dari mano lima belas juta itu" ...

    "hahaha anak akuntansi" ledek si abang

    "itu benaran loh bang, kami biaso teliti dengan jumlah angka nol" ...

    "emang angko nol berarti ?????" canda si ayuk lagi

    "hahahah ayuk ndak pecayo " senyumku yang segera menyuap sarapan pagi

    Si ayuk kemudian pamit untuk memulai cucian, ini waktu untuk dia mencuci pakaian. Biasanya jam-jam segini aku dikusi dengan bang Mustafa segala hal. Hal-hal yang menimpa pekerja. Ada hal baik yang mneimpa, ada hal buruk juga tentunya, atau mencari solusi untuk membuat nenek jadi tenang. Yang terpenting ya ini nenek sebenarnya yaitu mamak dari bapakku serta mammak kandungku dengan pak etek.
    om-tante, abang/mas/uda/kakak, uni-mbak, dan rekan seperjuangan merasa kali ya aku meninggalkan mereka ? tidak begitu, aku tidak seperti itu. Mereka yang ga mau aku ganggu, nenek muaro tembesi ok lah tapi beliau juga dapat pengaruh dari bibik dan suami bibik yang jualan di pasar muaro tembesi itu.

    "lumayan bagus Rus perkembangan jualan mamak dan pak etek kau" ...

    "ya baguslah bang, tanyo aku dak mamak dan pak etek ?" ...

    "idak, hahahhaha" kata si abang, santai amat abang ini, mamak kandung loh bang ga cukup dengan hahahahah begitu

    "napo abang tertawa ? apa itu lucu ?" ...

    "aduuuh maaf Rus, bukan maksud abang begitu" ...

    "iyo bang, carikan bang bahan sayuran yang bagus dari kerinci, abang agak bersuara saja, ehhh sayuran mamak segar dan agak murah, insyaallah akan di dengar pembeli. Itu ilmu dagang bang" ...

    "kau serius Rus ?" ...

    "untuk mamak dan pak etek harus serius lah" ...

    "kalau gitu kato keponakan ku yo laksanakan" ...

    "masih cukup yang ditabungan abang ?" ...

    "lancar Rus kiriman dari pak Ridwan, yo agek aku bilang Rusli ngasih mamaknyo" ...

    "mokasih yo bang" ...

    "duuh kau nih Rus, moga mereka secepatnyo nerimo kau" ...

    "aiiih abang neh, anak kandung yo diterimo lah bang, waktunyo yang belum pas, jadi dak biso kito pakso" ...

    si abang termenung
    dia memandangiku dalam mengunyah sarapan pagi
    mungkin si abang tidak ada pengalaman dibuang oleh mamak kandung. Tapi itu bang, yo jalan hidup sendiri-sendiri.
    kami terperangkap oleh suasana hening dan berfikir sesuai dengan apa yang kami masing-masing rasakan.

    "boleh dak seskali abang bawa mereka kesini ?" ...

    "oooo nanti mereka merasa punya rumah ini, lalu abang diusir pak etek hahahaha" sekarang giliranku guyonin si abang, dari tadi aku terus yang dimainin

    "yo.... ndak apo, kini kau yang ketawo" dia tersungut-sungut

    "abang mau tinggal di mesjid lagi ? hahahahha" ....

    "napo tidak Rus ? ini kan bukan rumah abang" kata dia mantap

    "asik jugolah bang, kalau benaran itu ide abang, pasti papa Ridwan pulang kampung, dan meninju pak etek dan papa segera berdamai dengan nenek, wahahah" aku begitu bahagia dengan hayalanku

    "banyak mimpi kau nih, masa caronyo kasar begitu, ndak enak samo nenek kau" ...

    "hahaha kan aku meneruskan ide abang" ...

    "kalau cak itu, lupokan ide itu" ...

    "iyo betul itu, aku jugok dak galak mereka kesini senyum-senyum setelah dulu mereka pergi dan membiarkan rumah bapak tak berpenghuni" ...

    bang Mustafa mengerlingkan alis matanya dan berfikir.
    Aku masih asik dengan sarapan yang enak buatan istri bang Mustafa. Lagian ide aneh memang. Kalo aku sekedar berkunjung dan pura-pura senyum di muaro tembesi ya ok lah,
    kalo mereka yang kesini dan mengusik ketenangan itu tidak benar.
    Ada harapan anak kecil yang tidak berdosa akan mereka renggut. Ujung-ujung mereka akan berkata usir mereka dari sini, padahal anak anal kecil ini masih akan terus bersekolah.
    yah .... om-tante, abang/mas/uda/kakak, uni-mbak, dan rekan seperjuangan makin paham alasanku untuk bertahan di susun ini.
    Nenek juga selalu berkata begitu di telpon, tapi selalu bisa aku damaikan.
    Hingga bang Jasri selesai spesialisnya dan ada kemampuan untuk mendidik keponakannya. Jika itu sudah sampai masanya, firasatku mengatakan bahwa Nanda juga akan segera pergi menghadap Tuhan dengan tenang menyusul mamak dan ayuk Nisa nya. Hingga saat ini Nanda masih bertahan dan masih bersemangat hidup sambil menunggu abang Jasrinya.

    Kalau tidak sabar, maka menitik air mata ini memikirkan nasib Nanda ditambah lagi nasib bang Ulzam. Tetapi aku sadar titikan air mata tidak memecahkan masalah. Aku berusaha senyum, mudah-mudahan mereka juga senyum semua, dan suatu hari nanti keluarga Jambi, keluarga muaro tembesi, dan keluarga muaro tebo benaran tenang tanpa gejolak api dalam sekam.
    Dari luar, masyarakat melihat titisan keluarga kami begitu damai, kalau diselami lebih dalam, hmmm masyarakat tidak pernah tahu.

    "yo lah Rus, habis setoran agek, kami mau belanja-belanja ke muaro tebo ye sambil ketemu Nanda, kau jadi subuh besok ke Jambi ? " ...

    "iyo jadi bang, aku lah janji samo nenek, iyo happy-happy sajolah abang dan anak-anak belanjo" ...

    "ayo Rus, kito bersih-bersihkan mesjid" ...

    "ayo bang" ...

    Tak lama kemudian kami sudah berada di depan mesjid, melihat itu anggota masyarakat juga berdatangan untuk membantu.
    Kami berame-rame di halaman mesjid dan kami kipaskan debu-debu di karpet, menjemurnya sementara waktu mumpung hujan belum turun.
    Yang lain mengepel lantai mesjid dengan leluasa karena karpetnya sedang kami serfis di halaman. Ada juga memenuhkan air pada bak wudhuk.
    Bahkan ada juga yang membersihkan kamar mandi.

    "mas Rusli" sapa seorang bapak. Bapak ini adalah pekerja yang rajin yang di datangkan nenek untuk membantu membuka kebon sawit dan karet di hutan belakang. Ya baru, saat dulu aku masih berdiam di Padang untuk kuliah.

    "oh iya pak" balasku

    "jarang ketemu" kata dia khas logat jawanya yang sopan

    "yah bapak berkebon, tapi hari ini sepertinya jumat spesial" ...

    "hahah bisa aja mas Rusli, kebetulan subuh tadi bapak jual karet ke jembatan gantung" ...

    aku mengerutkan kening, karena biasanya ada yang menjemput dan membeli ke kebon

    "capek kali pak kalo jauh ke jembatan gantung" pancinganku untuk mengorek sesuatu" ...

    "ini ada teman saja yang lagi butuh banyak karet, jadi bapak tolong" ...

    ooooo begitu

    "berarti hasil minggu ini berlimpah ya pak, alhamdulilah" sindirku mancing juga sih hahaha

    "ya bagus hasilnya mas, ini kalo bisa langsung bapak setor" ....

    "hahaha jangan pak, di rumah bang mustafa saja ya pak habis jumat nanti" ... hihi secara mereka tahu itu adalah rumah bang mustafa yang merenofasi

    "baiklah mas Rusli" ...

    "Yo, oh pak, tadi kue-kue lengkap dak si warung samping jembatan ?"...

    "kalo hari jum'at yo lengkap kue nya mas" ...

    "kalo begitu, ini duit belilah semua untuk kue dan air minum, biar habis kerja bakti nih ada yang bisa kita makan" aku keluarkan beberapa lembar uang

    Bapak itu segera memacu motornya dan membeli kue-kue itu.
    Aku lanjutkan dengan mencabuti rumput-rumput kecil di halaman mesjid mumpung tanahnya masih gembur oleh air hujan, jadi mudah mencabutnya.

    "Rus, dah kering nie lantainyo, kito angkat karpet ?" kata tetangga yang nolong pembersihan ini

    "boleh pak, ayo kita angkat rame-rame" saranku

    Penduduk lain segera menuju halaman
    Hanya sebentar kalau dikerjakan rame-rame. Karpet bersih dari debu, maka penyebab batuk dan alergi berkurang, itu bagus untuk musim penghujan dalam hal kenyamanan beribadah. Terkadang tidak hanya materi dakwah yang harus dipersiapkan, kondisi sarana dan prasarana saat berdakwah juga sangat menopang.

    Selesainya kami menjalankan ibadah, kami balik ke rumah masing-masing.
    Di dalam rumah, biasanya kalau hari jumat anak-anak kecil dengan bahagia kami pulang sholat dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Ini salah satu didikan bang Mustafa yang teramat baik. Dulu anak nanda dan kak anisa tidak merasakan ini karena mereka tidak punya bapak. Ayuk sudah masak gulai telor dan goreng ikan nila, oh sedapnya ketika dipadu dengan nasi mengepul dan sambel ijo.

    Kami makan bersama di meja makan, bahagianya melihat keluarga besar ini, kalau ada nenek sekarang, mungkin akan menyentuh sisi hati terdalam dari nenek

    "om ado PR bahasa Inggris, kata anak kak Nisa" ...

    "ado pulo anak SD blajar bahasa Inggris" guyon bang mustafa

    "oi adolah, pacak bae kau nih, zaman kito yo dak ado, sekarang lain" kata istrinya

    "hee bapak pacak omong bule ?" tanya anak yang satu jagoan karena yang lain adalah gadis cantik hahahah

    "pacak aku oh yes oh no i lope yuuu" candanya makin jadi

    "hahahah" sorak para anak kecil tapi istrinya tersungut-sungut merasa anaknya diajarin ga benar

    "dah kalian tuh, belajarnyo minta om Rusli bae" ...

    "iyo mak" jawab anak-anak

    "agek malam belajarnyo, kito ke pasar dulu" ingatan dari anak bang Mustafa hahahah bisa saja.

    "iyo agek malam, ajak bunda Nanda jalan-jalan jugo yo" nasehatku

    "iyo om" kompak mereka

    Tak lama kemuadian bapak yang rajin tadi di mesjid dan beberapa penduduk yang dipekerjakan nenek sudah masuk rumah untuk setoran. Tapi sebelumnya mereka makan karena belon makan siang. Nanti balik ke rumah hari sudah sore

    "yo lah mokasih yo Mustafa dan Ana makan siang nyo, kami mau jalan-jalan ke pasar" kata mereka

    "wahaha katanya mau balik pulang ? kalo gitu makan di pasar bae" senyumnya bang Mustafa

    "jadi kau dak ikhlas ??" ...

    "hahahah ikhlas kok pak, jangan ambil hati, bang mustafa becanda" aku segera mendamaikan dalam tawa, emang lucu mereka ini.

    Masih banyak penduduk yang silih berganti untuk setoran

    Ada juga yang belum

    Ada juga yang nitip

    Total seluruhnya adalah 50 pemegang. nenek yang punya lahan mereka membantu kelola, nenek hanya minta 50% mereka 50% banyak di sini pengusaha berani paling hanya 60% 40%, ya beda dengan tingkat kemampuan nenek, secara nenek dikata pengelola kampung halaman jadi tanggapan masyarakat akan beda dibandingin pengusaha pendatang. Banyak dari pengsaha itu nenek yang menolong, toh hasilnya juga masuk ke pabrik pengolahan milik nenek. itu saling menguntungkan secara hukum ekonomi.
    Jadi aku masih nunggu beberapa orang lagi berdasarkan kesibukan, bahkan ada juga pas magrib nanti baru datang.

    Jam 4 sore selepas sholat ashar aku lepas anak-anak, ayuk, dan bang Mustafa menyeberang sungai nuju tebing SMP untuk lanjut ke kota muaro tebo. Lengkap persiapan mereka terutama payung menyambut hujan yang bisa saja kapan-kapan turun.

    "pegangan yang kuat dek, jangan goyang-goyang" kalimatku

    "hahah goyang-goyang" mereka tertawa sambil menggoyangkan badan

    "eeehh jangan gitu, ntar jatuh" aku agak khawatir

    barulah mereka berhenti ketika mesin perahu nyala

    "asalamualaikum om" sorak mereka

    "alaikum salam, sampai ketemu nanti" kataku

    "kami jalan dulu yo Rus" abang dan istrinya juga pamit

    aku lambaikan tangan untuk mereka, semoga menyenangkan sore kalian ini. Keudian aku kembali menatap tangga di tebing, sudah semakin kokoh
    Ada arti sendiri bahwa aku akan lancar menaiki tebing ini, dulu tebing ini begitu terjal. Hingga aku harus e Padang untuk menghindari efek terjalnya.
    Semoga tidak ada lagi tebing terjal yang lain, amiiinnn
    Doaku serasa disambut Allah dengan semilir angin menerpa rambutku, adem sekali. Dari atas tebing aku lihat perahu itu dengan wajah penuh senyum di atas nya.
    Makin lama perahu itu makin kecil hingga mencapai tebing sana.
    Indah sekali.
    bapak apa senyum saja dalam alam kuburya ? ini kondisinya jauh lebih baik bapak, dibandingin waktu aku SMP dulu.

    Barisan kedondong jantan ini begitu rapat, meskipun tidak diharapkan untuk berbuah, tapi kedondong ini telah kuat memagari agar tanah tebing ini tidak longsor, inilah nasib kedondong jantan, seperti sindiran bagi nasibku, yah kedondong jantan !

    Mataku tak lekang menatap pemandangan indah, tampak atap SMP di seberang sana, dimana aku bersekolah dulu.
    Bapak dulu juga sering memandangiku dari kejauhan saat aku berjalan berdua Wulan menuju sekolah itu.
    Tenyata nasib bapak tak jauh dari nasib anak, maka sebelum ini berakhir aku ingin sesuatu yang berubah.
    Sifat mengalah bapak yang santun akan aku poles jadi sifat penuh strategi. Tidak mengajak musuh terang-terangan, tapi aku belokkan musuh untuk menatap kebenaran dengan santun.
    Kehandalan ini telah aku asah bertahun-tahun selama di Padang dulu, selama aku dididik oleh dosen-dosen kampus, dan buya di perguruan agama.

    "Mas Rusli" lamunanku terkaget

    "oh ya Pak" ...

    "lagi natap apa ?" ....

    "hahahaha tadi bang Mustafa dan anak-anak menyeberang Pak, aku tatap" aku ngeles

    "hehe jadi ga enak mas Rusli ga pergi karena nunggu kami" kata istrinya

    "hahaha ga apa bu, itulah tugasku dari nenek" kataku senyum

    "neneknyo cantik cucunyo ganteng" kata istrinya lagi

    Anak mereka seumuran SMA senyum-senyum mandangku, hmmmm awas kau ku tendang, hahahaha. Sebelum itu kejadian hahahah aku ajak aja mereka ke rumah untuk pembukitian setoran.
    Kami berjalan dengan santai dalam suasana yang sangat sejuk karena dari pagi oiii mendung saja.

    "silahkan" kataku

    "asalamualaikum kata mereka ketika masuk rumah" ...

    "alaikum salam, ini ga sekolah ?" sapaku

    "lagi bantu mamak nimbangin karet kak" jawabnya

    "waaahhhh panen besar ya, rata-rata tadi juga begitu, alhamdulilah" ...

    "iya alhamdulilah berkat doa mas Rusli" ...

    "tapi alangkah baiknya jumat sabtu juga sekolah, SMA mano ?" tanyaku

    "hahah dia ini ga niru kak Ruslinyo" kata mamaknya sambil tertawa

    "hmm SMA muaro Tebo" ugghhh langsung saja aku teringat bang Sudi anak si etek yang pro nenek muaro tembesi

    "iyo muaro Tebo" kalimatku meluntur hilang

    "kak Sudi jugo SMA tebo" kata si anak, nah loh habis kau samo si Sudi

    "oh yo bang Sudi" basa-basiku

    "kakak daj kenal kak Sudi ?" ...

    "kenalah dulu waktu SMP aku pernah diajarnya jelang naik kelas" ...

    "oh akrab yo ?" sergah mamaknya, si bapak diam aja dari tadi banyak nyimak aja

    "dulu lumayan, tapi kakak pindah SMA di jambi samo nenek, dan kuliah di Padang" ...

    "iyo kak: jawab si anak

    "kuliah kemano dia nanti ini bu ?" ...

    "kalau biso cak kakak Ruslinyo" ...

    "hihihi yo OK, harus lebih rajin" sindirku, apa iya ??? hahahha

    "iyo kak" jawab asal dari si anak

    Lalu selelsailah acara setoran itu, bisa aku simpulin iyah panen lagi baik setelah setahun musim kemarau panjang, sekarang petani dapat karunia
    untuk pertanian tentu air hujan lebih baik dari pada musim asap kabut bakar-bakar.

    Pagi subuhnya, aku diantar bang Mustafa dengan motor lewat jembatan gantung nuju simpang jalan ngarah ke tembesi dan kota Jambi.
    Di simpang itu biasa aku ditunggu oleh supir papa Ridwan. Karena supir ini terlalu pro sama papa Ridwan, jadi dia tidak dipakai nenek, nenek mencari supir lain hahahahah, jadi yah dia lebih banyak di proyek dan di suruh papa untuk memantau kondisiku di dusun. Aku tambah pendapatannya dengan antar jemput kebutuhan adm dan yah itu menyerahkan pendapat Buya berupa tulisan untuk koran.

    "assalamualaikum Mustafa" kata sang supir

    "alaikum salam pak Hamid, hati-hati yo, nih neneknyo lah kangen ngajak bebala" canda si abang

    si supir senyum

    "Uni tuuuuh cak itulah, lah cukup sabar si Ridwan tu" pendapat dia yang benaran pro sama papa

    aku sergah

    "ohh sabar ? pak Hamid sudah berapa kali kena amuk ?" ...

    "hahahahah tapi lebih serem diamuk uni" ... dia manggil nenek dengan uni = kakak perempuan atau yang ditua kan

    "makanya pak Hamid ga usah muji-muji papa, mau kena amuk ? aku sih tenang bae" ...

    "wooooy kau nih, bukan cak itu" si supir ngomel komat-kamit wiwiwiiii

    "hahahah ya sudah lah, Rusli dak baik begitu" ultimatum si abang

    Datanglah tergopoh-gopoh mamak si bang Sudi dan jejeritan suara lengking king king merusak kekompakan kami hihihihi

    "ondeeehhh Hamid, baa kok dak ngopi di warung aku ????" ... jiaaah siapa yang mau, dulu etek ini baik loh, ga tahu aja suka nerima asutan

    dia tercekal ketika lihat sudah ada aku dalam mobil

    "ohhh Rusli, etek kok dak ditegur lagi" ...

    aku hanya senyum dan jawab penuh diplomatis

    "kan yang etek ajak biacra pak Hamid ? ntar aku dituduh campuri urusan keluarga etek" sambil senyum tapi sangat menusuk, bang Mustafa suiap-siap untuk hal yang tak enak

    "dah hebat kau ! tolong bilang ke papa kau, Sudi butuh toko buku yang dulu" ...

    dan ini giliran bang Mustafa

    "Bukannyo anak etek yang mau mandiri dulu, jauh dari pencemar kampung" ...

    semua terdiam

    "kalau pencemar kampung, yo terlalu mulut kau ! Waktu di Padang Rusli biaso-biaso sajo, malah belajar jadi imam di Padang Panjang" laporan pak Hamid

    mata si etek membelalak

    "ndak usah ang ikut-ikut, siapo tu pencemar ?, tadi aku mau ngasih sarapan pagi kini ndak jadi" orang aneh emang, mau ngasih tapi ndak ikhlas

    "yo sudah memang mulut etek bilang Pencemar, lagian mereka sudah dibekali bini ku, tenang bae si Ana ikhlas "

    dia terdiam

    "yolah ndak baik pagi-pagi ribut, aku jalan ke nenek dulu yo tek" aku pamit

    dia mendehem

    ya sudah aku ga mau ketular aneh wahahaha

    "salamualaikum bang" kataku

    terlihat dari jauh bang Mustafa membonceng paksa si etek, hahahaha, ngomong ga ya ke papa ? apa iya papa masih mau ngasih anaknya toko buku ? hmmm lalu aku terkaget

    "hoyyyy melamun bae kau" ...

    "heheh napo pak Hamid dak nunggu di warung etek, makonyo heboh" ...

    "duuuh ndak enak aku samo sikapnyo, ado apo sih Rus ? jadinyo lebih baik nunggu sini bae kato Mustafa" ....

    "ndak tahu tanyo sajo dia, aku merasa ndak ado masalah kok. Ini bibik muaro tembesi dulu yang cerita-cerita" jawabku

    "hmmm masalah keluarga ternyato" ...

    "yo Pak, masalah pencemar dulu, hingga pak Hamid ngantar nenek ke Padang, hahahahah" candaku

    "oh cak itu" ...

    "makonyo lebih baik tanyo etek itu sajo pak" ...

    "yolah, eh tapi hari kamis aku temu kawan kau waktu di padang dulu. Anak tu gawe di koran kau ngirim tulisan tiap seminggu" ...

    "yo iyo" ...

    "yo iyo apo ? masa sama teman wajah kau datar bae ????" ...

    "aku lah tahu, ditempon orang koran, yo aku bilang yo kawan" ...

    "tunjukkan orang Jambi tu Ramah Rus, sambutlah kawan rantau" ...

    "sudah, aku sudah telponan dengan dia hari itu" ...

    "telponan ????? terus ????" desak si bapak

    yaaaaaaaa terus yaaaaaa RAHASIA apa yang kami telponkan, seperti keinginan bang Fikri hahaha
    tunggu sambungannya sambil smile

  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    "butuh kaca?" kata seorang yang punya kaca tp gak pernah dipake, padahal jauh lebih membutuhkan dari orang yg dia tanyai.
    "sok tau", kata seorang yg bahkan gak mau tau padahal jauh lebih gak tau.
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    boyszki menulis: »
    Butuh ngaca gak? Aku punya kaca segedek tembok

    ngaca noh sama signature elo.

    gadaotak.png
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    bodohnya aku. signaturenya aja sudah deskriptif gitu. kok ya ditanggapi.