BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Selamat Datang!

Belum jadi anggota? Untuk bergabung, klik saja salah satu tombol ini!



Pendaftaran member baru diterima lewat Facebook , Twitter, atau Google+!
Anggota yang baru mendaftar, mohon klik disini.

Best Of

  • Re: Share Your Instagram Photos

    8a1362121e0202cfdb92ccb924b061.jpg
  • Re: Bukan Lawan Jenis [TAMAT]

    Kami tiba di villa nggak barengan. Mobil Papa yang penumpangnya terdiri dari gw, Rizky, Mama, Papa dan Bik Tatik tiba lebih dulu. Sementara Mobil Bang Albert yang ditumpangi Mbak Aline dan Mbak Vida belum nyampe juga. Ternyata setelah papa telepon, mereka menjemput Kak Fredo dulu.
    "Fredo ikut juga?" tanya Rizky.
    "Aku aja baru tahu."
    Rizky mangut-mangut.
    "Kenapa? Udaahhh, tenang aja. Aku gak bakal dekat-dekat dia. Aku selalu sama kamu," kata gw.
    "Kalo dia yang nempel kamu?"
    "Dia gak bakal berani. Kalo pun masih nekat, kita bisa hajar dia barengan."
    "Gimana kalo aku pake aja?"
    "Kamu yang bakal aku hajar!"
    "Kan rugi sayang. Pantatnya Fredo lumayan montok lho..."
    "OOOO...JADI KAMU SUKA PANDANGIN PANTAT DIA?!"
    "Nggak diniatin, Sayang. Cuma kadang-kadang mata suka melihat tanpa sengaja..."
    "Awas aja kalo matanya masih nakal..."
    Rizky mendatarkan ekpresi wajahnya sambil geleng-geleng kepala dengan kuat.

    Tiba-tiba pintu kamar kami berdua diketuk. Saat dibuka, berdiri Mbak Vida dengan senyum cerianya.
    "Ganggu nggak?"
    "Kemana aja, Mbak? Kok lama amat nyampenya?"
    "Nunggu Edo."
    "Ooo..."
    "Jadi gimana? Ceritain dong kisah cinta kalian..." rengek Mbak Vida.
    "Wait, wait, Bang Bet gak tahu hobi unik mbak ini?"
    "Nggak."
    "Kalo dia tahu pasti dia larang habis-habisan."
    "Dia beneran homophobic?"
    "Banget. Dia menghalalkan segala cara untuk menentang hubungan gw sama cowok," terang gw.
    "Gitu ya? Uhmmm... Kalo yang lain gimana?"
    "Papa dan Mbak Aline mendukung gw dari awal gw ketahuan gay. Kalo Mama sempat melakukan penolakan. Tapi sekarang udah luluh..."
    "Dan kayaknya mereka menerima Rizky dengan baik ya?"
    "Iya."
    "Kewreeennn! Padahal Rizky masih SMA ya? Ih, gemes deh! Mbak bisa mimisaaann..."
    "Ehm!" tiba-tiba aja Bang Albert datang. Mukanya nampak kusut.
    "Kamu ngapain sih?" tanyanya dengan gusar ke Mbak Vida.
    "Pasangan cute kayak gini kenapa kamu gak suka sih, Yang? Mereka kawai lho..."
    "Ngomong apaan sih? Kamu makin lama makin gak jelas deh... Bantu Mama sana di dapur!"
    "Oke!" Mbak Vida mengacungkan jempolnya.
    "Al, Ky, Mbak ke dapur dulu yaaa?? Ntar cerita-cerita lagi. Oh ya! Mbak bawa kamera. Kalian maukan foto kayak di IG itu???"
    "VIDA!!!" bentak Bang Albert.
    Mbak Vida nyengir lalu ngibrit ke dapur.
    Gw dan Rizky terkekeh.
    "Apa?!" Bentak Bang Albert.
    "Pacar lu keren, Bang. Lu jago cari pacar. Harus dipertahankan!" kata gw.
    Bang Albert menggertakkan giginya.

    ***

    Malam harinya kami semua berkumpul di halaman depan. Menyalakan api unggun. Kita juga barbeque-an sambil diiringin petikan gitar Kak Fredo. Kita semua hanyut dalam kebersamaan. Berbagi tawa bersama dan melupakan ketegangan yang terjadi diantara kami barang sejenak.

    Menjelang pukul dua belas, Papa menyuruh kami masuk ke dalam kamar masing-masing. Gw sekamar sama Rizky, Bang Albert dengan Kak Fredo, Mama dengan Papa, Mbak Aline dan Mbak Vida, serta Bik Tatik mendiami kamar sendiri.

    "Pa, kok Almer dibiarin tidur sekamar sama Rizky?" protes Bang Albert ketika tinggal para cewek udah masuk ke kamar.
    "Emang kenapa? Biasanya juga mereka sekamar," jawab Papa.
    "Mereka kan pacaran..."
    "Eh! Gw sama Rizky kan cowok. Nggak apa-apa kalo sekamar. Lu, iri lu?! Pacaran sama cowok juga!" sambar gw.
    "Ssstt...!" Papa melirik Kak Fredo, bermaksud mengingatkan kami kalo yang kami debatkan gak sebaiknya dibicarakan sekarang.
    "Nggak apa-apa, Pa. Kak Fredo udah tahu gw gay," terang gw.
    "Ooo..... Iya, Bang. Adek sama Rizky kan cowok. Kalo sekamar gak masalah. Papa nggak mungkin ngizinin pasangan cowok-cewek sekamar kalo belum nikah," Papa mengiyakan.
    Bang Albert berdecak kesal.
    "Lagian Bang Albert bisa sekamar sama Kak Fredo," timpal Rizky.
    "Iya! Siapa tahu Kak Fredo mau pacaran sama lu!" gw sengaja nyindir Kak Fredo yang langsung mati kutu.
    "Udah, udah. Ayo masuk kamar!" pungkas Papa.
    "Ayo, Yang, ke kamar. Udah gak tahan..." ajak gw sengaja manas-manasin Bang Albert.
    "Gak tahan apaaa?"
    "Dilahap kamuuuu..."

    Plak! Plak!

    "Aduuhhh..." gw dan Rizky meringis sambil mengelus-elus kapala yang dikeplak Papa. Nggak kuat sih.

    "Masuk!" Papa melotot.
    "Ya, Om..." kata Rizky sambil meraih tangan Papa dan menciumnya.
    Gw terkikik. "Kamu ngapain? Kayak mau pamit sekolah..."
    "Pamit minta izin mau ngapa-ngapain anaknya..."
    "Anjiiirrr!" gw melayangkan tendangan ke pantat Rizky.
    "Om izinin. Tapi jangan kebangetan ngapa-ngapainnya. Masih polos."
    "YESSS!" Seru Rizky lantas ngakak.
    "DAMN! Papa sialan... Masa membiarkan anaknya dinodai..." umpat gw.

    Bang Albert memutar bola matanya dengan kesal mendengar percakapan kami bertiga. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung cabut meninggalkan kami diikuti Kak Fredo di belakangnya.

    "Udah, udah. Kalian masuk ke kamar. Di luar dingin," kata Papa.
    "Iya, Om. Malam, Om..." kata Rizky.
    "Malam, Boy. Besok kita mancing ya?"
    "Oke! Asyik tuh!"

    ***

    Sesampai di kamar, gw duduk di tepi ranjang sambil main HP. Ada beberapa pesan dan notifikasi media sosial yang mau gw baca. Gw juga lagi ngasih tahu ke Azzam dan Hanta kalo gw dan Rizky udah baikan. Tapi tiba-tiba Rizky naik ke atas pangkuan gw. Ia dengan seenaknya merebus HP gw dan menaruhnya ke ranjang. Setelah itu mendongakkan wajah gw dan memagut bibir gw.
    Karena gw kesal sama tingkahnya, gw langsung mencubit pinggangnya. Rizky terperanjat dan melepaskan pagutannya.
    "Mau ngapain? Gak sopan...!" kata gw sambil mendorong tubuhnya dari atas pangkuan gw.
    "Kamu bilang kita mau honeymoon..." Rizky kembali naik ke atas pangkuan gw. Kedua lengannya di lingkarkan ke leher gw. Dan sekarang ia mulai menggerakkan pantatnya maju mundur di atas pangkuan gw. Membuat junior gw terbangun karena gesekan pantat kenyalnya.
    "You like it, Beib?" Rizky menggoyangkan tubuhnya lebih cepat.
    "Shit..." desis gw.
    Rizky merunduk dan mencoba meraih bibir gw.

    "AL!" tiba-tiba pintu kamar dibuka. "Puny---uhm, sorry..." Kak Fredo berdiri di depan pintu kamar dengan kikuk. Gw yang kaget spontan mendorong tubuh Rizky dari pangkuan gw sampai brondong gw itu terjungkal ke lantai. Rizky meringis kesakitan.
    "Maaf ganggu. Punya charger laptop gak? Kakak lupa bawa..." terang Kak Fredo.
    "Nggak ada. Coba tanya Mbak Aline," jawab gw.
    "Oh...Oke..." Kak Fredo mundur selangkah sambil menarik gagang pintu.
    "Tunggu!" tahan Rizky. Ia berdiri sambil memegangi pinggangnya yang mungkin terasa sakit.
    Kak Fredo urung menutup pintu.
    "Gw mau ngomong sebentar ama lu, Kak," kata Rizky. "Al udah cerita ke gw semua tentang apa yang udah lu dan Bang Bet lakukan. Gw gak nyangka lu tega begitu. Kami berdua ini teman lu. Tapi sudahlah. Yang udah, biarin berlalu. Gw gak mau memperpanjang masalah. Toh gw dan Al sekarang lagi happy. Tapi, kalo lu coba-coba mau merusak hubungan kami berdua lagi, gw gak bakal tinggal diam. Gw bakal hajar lu. Lu tahu, gw juga lagi butuh seseorang untuk mempraktekkan jurus pencak silat terbaru gw!" kata Rizky dengan gaya santai namun tegas.
    "Tenang, Bro. Aku gak bakal ganggu lagi. Aku janji. Kalian bisa pegang omongan aku..." jawab Kak Fredo.
    "Oke! Maaf ya, Bang kalo omongan gw gak sopan. Gw doain lu cepat dapat pacar biar bisa ngelakuin apa yang barusan kita lakukan tadi..."
    Kak Fredo tersenyum terpaksa. Ia langsung menutup pintu.
    Rizky berbalik ke arah gw dan tersenyum lebar.
    "Kunci pintunya," kata gw.
    Rizky balik badan dan mengunci pintu. "Beres, Yang..." katanya sambil berjalan menghampiri gw.
    "Ya udah, yuk tidur. Ngantuk," kata gw.
    "Eits! Nanti dulu doonggg..." tahan Rizky.
    "Apalagi?"
    "Main pedang-pedangan dulu dong."
    "Kamu main solo aja ya."
    "Enak aja! Lha, kamu buat apa?"
    "Aku ngantuk."
    "Kalo udah kena sentuhan magis aku kamu gak bakal bisa tidur..." Rizky duduk di samping gw.
    "Bodoh ah!" gw melompat ke tempat tidur dan langsung rebahan.
    Rizky naik ke ranjang dengan santai. Sesantai saat selanjutnya ia menaiki tubuh gw.
    "Satu ronde aja, Yang..." rengeknya.
    "Dua ronde aja gimana?" goda gw.
    "Tiga."
    "Satu."
    "Empat."
    "Satu."
    "Oke deh, Dua."
    "Satu."
    "Iya, iya. Satu."
    "Nggak ah. Nggak jadi."
    "Satu!"
    "Kalo sampai pagi gimana?"
    "Hayooo! Siapa takut?!"
    "Oke. Do it. Now!"
    "Yeay!"

    #The End#
  • Re: Tuangkan Isi Hatimu Saat Ini [NEW]

    Dan ada lakik yang sibuk nyocotin orang mulu
  • Re: Bintang di atas Pelangi

    Ini dia, Monster Day, hari dimana para pelajar mengikat tali sepatu mereka sambil menggerutu. Atau Money Day? untuk para Pekerja Teladan dan usahawan, yang menggebu-gebu jika itu soal mencari uang. Atau bisa juga Move-On-Day, untuk mereka-mereka yg baru putus dimalam minggu... Hhh
    Tapi bagiku, Monday adalah Monkey Day.
    "Jurus remass kelengkeng no jutsuuuuu" tiba-tiba kurasakan tangan besar meremas selangkanganku dari belakang..
    "athahh mas.. Sakit mas.. Lepas ah.. Aaarggggg.. Mas..."
    "ampun ngga?" kata Mas Adam.
    "Ayaaaaaaahhhhhh" teriakku..
    "adaammm!!!" tegas ayah pada mas Adam.
    Dia melepaskanku, pergi ke kamar mandi menenteng handuk dengan tawa cekikikan.
    See? Monkey Day, dimana pagi ku di kacau oleh raja dari semua monyet....
    Kuhampiri Ayah yang sedang membaca koran dimeja makan.
    "kenapa? Pagi-pagi kok udah teriak-teriak.. Ga enak sama tetangga" kata nya.
    "Mas Adam...." sambil kupegangi selangkanganku.
    "kenapa mas Adam?"
    Aku diam saja, tak kujawab pertanyaanya.
    "ya udah, sarapan. Ntar telat"
    Kuhabiskan nasi goreng di depanku untuk kemudian aku berankat sekolah.
    'Thiiinn Thiiinnn.....
    Terdengar suara klakson sepeda motor dari luar rumah. Sepertinya itu Alif, aku memang biasa berankat sekolah bersamanya. Tapi biasanya dia masuk dulu, tidak biasanya dia terburu-buru seperti ini.
    "Itu alif kayaknya yah, bintang berangkat ya" Kucium tangan Ayah.
    "Lho, itu Alif suruh sarapan dulu"
    "udah ga usah, buru-buru kayaknya. Assalamu'alaikum.."
    "Waalaikumsalam.."
    Kuhampiri Alif diluar. Diluar ternyata gelap sekali. Awan mendung datang dari langit utara..
    "Woy bro, sarapan dulu" tawarku.
    "langsung aja bro, mau ujan neh"
    "Oke dah"
    Kututup gerbang rumah, aku dan Alif melaju sangat cepat dan terburu-buru. Karena jika hujan turun sebelum kami sampai disekolah, habis sudah seragam dan buku-buku ini. Dalam setengah perjalanan, aku mulai takut sekarang. Cepat sekali dia mengendarai sepeda motor ini..
    "woy kutu jembut.. Jangan ngebut-ngebut goblok.. Lu kalo mau mati, mati aje ndiri.." bentak-ku..
    "wakakakak mau ujan bro..."
    "ngebut yg wajar-wajar aja, kayak gini mah cari mati.. Sayang buku apa sayang nyawa?"
    "hehehe oke-okee"
    Yang benar saja, Alif ini memang suka ugal-ugalan kalau naik motor. Tapi untuk kali ini, aku tidak bisa toleransi. Belok tikungan, nyelip mobil dijalan ( sejalan dua arah), TANPA menggunakan REM sedikitpun. Dia pikir dia siapa? Mark Marquez?
    Hingga sampailah kami disekolah. Beruntung gumpalan awan mendung itu masih setia diatas sana.
    Kutinggalkan Alif yang hendak memarkirkan motornya. Langsung saja aku menuju ruang kelasku. Aku dan Alif sekarang berbeda kelas, biasanya kita akan kumpul dengan Robi dan yangg lainnya saat istirahat saja.
    "ezz ayang bebeb datang juga akhirnyaa.." sambut Robi sambil merangkulku.
    "Astaghfirullah, gimana kita mau buat keturunan, ya tuhan.." sahut Sani.
    Dia salah satu teman perempuanku disekolah. Meskipun
    tingkahnya rada lemot, tapi dia lumayan akrab dengan genk-ku dan Robi. Dia lebih suka berbaur dengan anak laki-laki dibanding sesama perempuan.
    "ihh gengges deh. Jangan coba-coba rebut cowok gue ya?" balas Robi dengan logat yg dibuat-buat seperti banci.
    "Amin ya allah.." timpal Ajeng.
    "Aamiin.."
    "Amiin..."
    "Amiin tuhan..." balas teman-teman seisi lainnya.
    Mereka semua meng-aminkan Robi supaya jadi banci beneran.. Hehe aamiin aja lah..
    "Woy amit amit woy.. Becanda kale ah" teriak Robi sambil mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya.
    "Eh Bin, dari pada sama Robi, mending sini sama gue aja" ujar Indah dengan tanpa malu nya.
    "wuuuuuuuuuuuu" sontak seisi kelas menyoraki nya.
    Indah memang seperti itu. Entah saat dalam pelajaran atau saat santai seperti ini, selalu saja ada bahan becandaan dia yg menyangkut pautkan namaku. Seperti sekarang ini. Ini bukan kali pertama dia bilang suka padaku dimuka umum. Dari gelagatnya yg kutangkap hanya bercanda saja, sebab itulah aku tak begitu mempedulikannya.
    "Ya ampun Ndah, gue tau elu ga laku. Tapi ya, mbok jangan di obral banget napa?" sahut Maria.
    "wakakak Di obral! Pakean bekas kali ah" celetuk Robi.
    Aku sendiri geleng-geleng kepala saja mendengar celotehan mereka.
    "eh lagian gue ngga rela kali Ndah..." timpal Anggi.
    Sontak seisi kelas langsung gemuruh dengan semua siulan dan godaan-godaan lainnya.
    "wohooooo"
    "oooohhhhhhh jleb banget tuh"
    "ah soweeeeettt wkwk"
    "cieeee cieeeee"
    Seperti yang kubilang, aku memang tak begitu mempedulikan omongan Indah. Tapi Anggi berbeda. Omongan Indah selalu dimasukannya ke dalam hati. Aku yakin saat tadi dia bilang 'tidak rela'. Sesungguhnya itu benar-benar dari hatinya. Dan bukannnya sekedar bercanda saja..
    "eheeemmm" terdengar suara parau yang berdehem dari bibir pintu.
    Seisi kelas yang tadi nya ramai langsung senyap seketika.
    Dialah guru kami. Pak Abidin, guru matematika dan killer guys.. Mata pelajaran hari ini memang mata pelajarannya. Tapi, kenapa dia sudah masuk kelas? Padahal bell masuk belum berbunyi...
  • Re: Bukan Lawan Jenis [TAMAT]

    PROLOG:

    Hubungan gw dan Brondong Mateng lebih mesra dan intim setelah kesalahpahaman yang berujung pertengkaran itu. Kami berdua nggak bakal terpengaruh lagi sama hasutan-hasutan dari luar yang ingin merusak hubungan kami. Cukup sekali aja deh gw ngerasain betapa menyiksa kehilangan Rizky. Gw gak mau kehilangan brondong nakal itu untuk kesekian kalinya.
    Malam ini Rizky menginap di rumah gw. Kebetulan dua hari ke depan, yakni Sabtu dan Minggu libur nasional. Jadi gw culik dia ke rumah. Mama dan Papa juga setuju meskipun gw tahu sebenarnya mereka punya agenda lain (Mama mau ngajakin Rizky hunting bunga dan berkebun, sementara Papa ngajakin mancing). Terlepas dari itu keluarga gw memang menyayangi Rizky, minus Bang Albert tentunya.
    Oh, iya, mengenai Bang Albert, pasti kalian ingin mengetahui kabarnya. Abang gw yang tampan tapi super nyebelin itu, masih benci sama Rizky. Well, gw udah gak perduli sih. Itu masalah dia. Yang penting sekarang kebencian itu dia telan sendiri. Dia gak berani buat terang-terangan melakukan aksi jahatnya buat menghancurkan hubungan kami berdua. Gw rasa dia menganggap serius ancaman gw mengenai penculikan dan sodomi itu, hihihi. Padahal gw gak sejahat itu kali. Gw aslinya berhati bersih. Kalian tahukan gw tokoh utama di cerita ini? Hati gw sebaik hatinya Bawang Putih, tauk!
    "Sayaannggg..." Rizky mengubah posisi tidurnya miring menghadap gw. Jaraknya kami yang cukup jauh, membuat kakinya yang bermaksud pengen nindih gw, cuma berakhir menindih guling---yang entah sejak kapan sudah--- tergeletak di antara kami. Oh, iya, apa gw harus kasih tahu juga kalo saat ini pantat kanan Rizky tersingkap dari selimut yang terangkat karena pergerakannya tadi?
    "Sayaaaangggg...." Rizky merengek lagi.
    Gw beringsut bergeser mendekatkan diri. "Uhhhmmm? Udah pagi, Ky..." terang gw sambil membetulkan letak selimutnya.
    "Ya," jawabnya singkat sambil menjatuhkan tangannya ke dada gw berikut kakinya yang menindih paha gw.

    Tiba-tiba pintu diketuk. Gw turun dari ranjang, mengambil boxer yang tergeletak di lantai dekat kaki ranjang.

    Pintu diketuk lagi.

    "Sebentar..." jawab gw sambil menarik cepat boxer ke atas dan berhenti di pinggang. Setelah itu gw berjalan cepat untuk membukakan pintu.

    Ternyata Bang Albert.
    "Ada apa?" tanya gw.
    Bang Albert gak segera menjawab. Ia justru menguliti tubuh gw dari ujung kaki sampai ujung kepala lewat tatapan matanya. Tidak hanya itu, ia juga sedikit memanjangkan lehernya untuk mencuri pandang ke dalam kamar gw.
    "Nyariin Rizky? Tuh ada di dalam," gw membuka pintu kamar lebih lebar. "Masih tidur."
    "Ngapain juga gw nyari dia," bantah Bang Albert. "Mama nyuruh lu siap-siap."
    "Siap-siap apanya?"
    "Mama ngajakin liburan ke villa."
    "Serius?!"
    Bang Albert menatap gw kesal.
    "Oke. Thanks!" seru gw dengan perasaan bahagia.
    "Gw harap sih lu gak ikut," kata Bang Albert dengan nada dingin.
    "Mendingan lu aja yang gak ikut. Ntar lu muntah lihat kemesraan gw sama Rizky."
    Bang Albert memasang tampang jijik lalu pergi meninggalkan gw.
    "Yihaaaa!!!" teriak gw kemudian berlari menghampiri ranjang.
    "Kyyyyy!!! Banguuunnn....!" gw mengguncang-guncang tubuh Rizky.
    "Enggg..."
    "Bangun, Yang. Kita liburan..." bisik gw.
    "Iya, hari ini libur..."
    "Iya. Kita liburan. Ke vila. Honeymoon..." goda gw.
    "Eh?" Rizky langsung membuka matanya.
    "Ayo, wake up!"
    "Tadi kamu bilang apa?" tanya Rizky sambil menggeliat.
    "Mama ngajakin kita liburan ke villa."
    "Bukan itu."
    "Apaan sih...?"
    "Sebelumnya. Kalimat sebelumnya... Honey---honey apa?"
    "Hmmm... Bulan madu."
    "Kita berdua?"
    "Iya. Tapi perginya rame-rame."
    "Sekarang?"
    "Sekarang atau kamu mau nunggu mempersunting aku dulu?"
    "Kelamaan sayang. Pejuh aku keburu banjir."
    "Mesum!"
    Rizky terkekeh.
    "Buruan ah!"
    "Ya Sayang..." jawab Rizky sambil mengelus-elus bawah pusarnya.

    ***

    Ternyata saat liburan ke villa bang Albert ngajakin Mbak Vida juga. Dia sepertinya gak mau kalah sama gw dan Rizky. Dan sekarang kami lagi nunggu kedatangannya dia.
    "Mbak kenapa gak ngajakin Bang Geri juga?" tanya gw ke Mbak Aline selagi nunggu Mbak Vida di halaman.
    "Abangnya di luar kota."
    "Yaaahh, kasihan manyun dong liat kita," ledek gw.
    "Lihat aja, kalian bakal Mbak ganggu biar gak bisa mesra-mesraan..." ancam Mbak Aline.
    "Coba aja!"
    "Beneran ya???"
    Gw nyengir.

    Beberapa saat kemudian, yang ditunggu pun datang. Dengan diantar ojek online, Mbak Vida tiba dengan satu buah koper ukuran sedang warna pink.
    "Belum telatkan?"
    "Nyaris. Tiga detik lagi kita mau berangkat," jawab Mbak Aline.
    "Ya kali dihitung ampe perdetik..." komen Mbak Vida sambil masukin koper ke bagasi.
    "Vidanya udah datang?" tanya Papa.
    "Udah, Om!" Mbak Vida sendiri yang jawab.
    "Ya udah, kalo gitu panggil Mama dan Rizky di dalam, Al. Kita berangkat!"
    Gw setengah berlari ke dalam rumah. Gw mendapati mereka berdua di dapur. Eh, nggak ding! Ada Bik Tatik juga rupanya. Gw hampir lupa sama si bibik jelmaan kucing mesir ini.
    Ngomong-ngomong soal ketajaman indera pendengarannya itu, gw udah nanya dan beliau jawab hal itu karena ia bekerja menjadi asisten rumah tangga sudah sejak lama. Bahkan sebelum Mbak Aline baru berumur dua tahun. Jadi beliau bukan hanya sigap dan cekatan dalam bekerja, tetapi juga selalu menajamkan pendengarannya agar tidak salah mendengar setiap perintah majikan. Kesigapan ditambah ketajaman pendengaran itu menjadi kombinasi sempurna bagi Tatik agar bisa selalu stand by melayani kami meskipun tanpa diminta. So, jangan berpikir ke arah hal mistis dulu ya. Beliau manusia biasa, bukan titisan kucing mesir sama sekali.
    "Papa ngajak berangkat, tuh," beritahu gw.
    "Oh, ya? Vida udah nyampe?"
    "Udah. Ayo!"
    "Sebentar, sebentar. Nih, kamu bawa ini!" Mama memberikan sebuah bungkusan plastik besar ke gw. Gw menerimanya.
    "Yang ini dibawa juga ya, Tan?" tanya Rizky sambil menunjuk satu buah lagi kantong plastik.
    "Iya."
    "Emang ini apa aja sih? Banyak amat yang dibawa..." tanya gw.
    "Bahan makanan," jawab Mama.
    "Udah, ini aja?" Rizky bertanya lagi.
    "Ya. Ini aja," jawab Mama. "Ayo, ayo kita berangkat sekarang! Biiikkk, biiikkk....! Ayo berangkat!"
    "Ya, Buuu..." jawab Bik Tatik dari belakang rumah.
    Setelah Bik Tatik muncul dari belakang, kami berempat langsung bergegas menuju halaman. Kami kesana menggunakan dua buah mobil. Mobil Papa dan Mobil Bang Albert. Kedua mobil itu sudah dinyalakan mesinnya, tinggal berangkat.
    Saat bergabung, Mbak Vida tiba-tiba langsung mengarahkan telunjuknya ke arah Rizky.
    "Kamu....Kamu.... teman Rizky?!" suara Mbak Vida terdengar antusias.
    "Aku Rizky," jawab Rizky.
    "Yang di foto itukan...???!"
    "Foto yang mana?"
    "Uhm, kenalan dulu kaliiii..." gw angkat bicara.
    "Oh, iya, aku Vida. Temannya Bang Albert," Mbak Vida mengulurkan tangannya.
    "Pacarnya Bang Albert," gw memperjelas.
    "Ooohhh.... Pacarnya Bang Bet. Salam kenal, Mbak. Aku Rizky, temannya Almer," Rizky menjabat tangan Mbak Vida.
    Gw gak perlu memperjelaskan omongan Rizky barusan?
    "Iya. Iya. Nama kamu Rizky juga? Foto yang Mbak maksud itu yang di instagram Rizky. Kenalkan sama Rizky? Anak Smanda---"
    "Iya, iya. Anak Pencak silatkan?"
    "Iya! Dia satu kompleks sama rumah, Mbak," terang Mbak Vida.
    "Ooohhh... Aku baru kok kenal sama Rizky, sewaktu lomba."
    "Masa sih? Tapi kok kalian mesra---(Mbak Vida melirik ke arah kami semua). Aku suka foto kalian."
    Gw menyipitkan mata, mencerna ucapan Mbak Vida barusan. Rizky melirik gw. Gw melirik Bang Albert. Bang Albert nampak mengerutkan keningnya.
    "Maksud Mbak? Suka fotonya gimana?"
    "Suka aja... Gimana ya... Uhm, konsepnya bromance..."
    "Mbak suka bromance? Mbak fujoshi?" tanya Rizky tanpa mengecilkan volume suaranya.
    "Kok kamu tahu fujoshi?"
    "Tahulah. Cewek yang suka ngelihat pasangan gay..."
    "Hehehe...aneh ya..." Mbak Vida nampak salting.
    Sontak gw kaget. Gw langsung menatap Bang Albert yang sama kagetnya dengan gw.
    "Wah, kok bisa ya? Tapi aku gak ada hubungan apa-apa sama Rizky, Mbak. Cuma foto doang. Kebetulan pacarnya Rizky fujoshi juga..." terang Rizky.
    "Yaaahhh, kirain kalian... Padahal serasi ih..."
    "Tenang aja, Mbak. Aku punya pacar yang jauh lebih keren dari Rizky," Rizky tiba-tiba merangkul gw. "Gimana? Lebih serasikan?"
    Mbak Vida tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya. Matanya membelalak dan mulutnya menganga.
    "What?! Kalian berdua...? Kalian..."
    "Yup. Kami couple!" gw mengedipkan sebelah mata.
    "Oh my god, Mbak mau pingsan. Kalian serius???" Mbak Vida mengedarkan pandangan ke arah kami semua.
    Mbak Aline mengangguk.
    "Kok Bang Albert gak pernah cerita?" Mbak Vida menatap Bang Albert kesal. "Kamu kok gak cerita?!"
    "Buruan ah! Jadi gak berangkat gak nih?! Gak penting banget!" kata Bang Albert kesal.
    "Dia sensian, Mbak. Dia homophobic," terang gw.
    "Ooo..." Mbak Vida mangguk-mangguk.
    "Yuk, berangkat yuk? Di villa aja nyambung ngobrolnya," pungkas Mama.
    "Iya, iya... Mbak masih pengen dengar banyak. Oh my god! It's amazing! I love u both..." Mbak Vida meniupkan ciuman jarak jauhnya berkali-kali ke kami berdua seraya menuju mobil.
    Gw dan Rizky berpandangan.
    "Seru ya? Nggak nyangka kalo pacarnya Bang Bet ternyata fujoshi..." kata Rizky.
    "He-eh. Karma tuh orang!" sambung gw.
    Kita berdua terkekeh.

    ***